Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN

HIV AIDS
A. PENGERTIAN
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang m
elemahkan sistem kekebalan tubuh atau perlindungan tubuh manusia.
Virus

inilah

yang

menyebabkan AIDS (Acquired

Immune Deficiency

Syndrome) (Brooks, 2004).


HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang
menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan
AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang
bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut terutama limfosit
yang memiliki CD4 sebagai sebuah marker atau penanda yang berada
di permukaan sel limfosit. Karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh
manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit
yang seharusnya berperan dalam mengatasi infeksi yang masuk ke
tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai
CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem
kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai
CD4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa
kasus bisa sampai nol) (KPA, 2007).
AIDS

adalah

singkatan

dari

Acquired

Immuno

Deficiency

Syndrome, yang berarti kumpulan gejala atau sindroma akibat


menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi virus HIV.
Tubuh manusia mempunyai kekebalan untuk melindungi diri dari
serangan luar seperti kuman, virus, dan penyakit. AIDS melemahkan
atau

merusak

sistem

pertahanan

tubuh

ini,

sehingga

akhirnya

berdatanganlah berbagai jenis penyakit lain (Yatim, 2006).


B. ETIOLOGI
Penyebab AIDS adalah golongan retrovirus RNA yang disebut
Human Immunodeficiency Virus (HIV) Human deficiency Virus (HIV).
Ada dua tipe yaitu: HIV-1 dan HIV-2. Dalam bentuknya yang asli

merupakan partikel yang inerst, cukup tidak dapat berkembang atau


melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel
limfosit karena mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut
Cluster of Differentiation Four (CD.4). Virus HIV hidup dalam darah,
saliva, semen, air mata dan mudah mati di luar tubuh. HIV dapat juga
ditemukan dalam sel monosit, makrofag, dan sel gelia jaringan otak
(Agustina, 2004).
Walau sudah jelas dikatakan HIV sebagai penyakit AIDS, asal usul
virus ini masih belum diketahui secara pasti. Virus ini sebelumnya
dinamakan
kesehatan

Lymphadenopathy
Dunia,

World

Associated

Health

Virus

Organization

(LAV).

(WHO)

Badan

kemudian

memberikan nama HIV sesuai dengan hasil penemuan international


Committee on Toxonomy of Viruses pada tahun 1986 (Ratna, 2001).
HIV terutama menyerang sel limfosit T4 (herpes) yang memegang
peranan

penting

dalam

imunitas

seluler.

Selanjutnya

jika

HIV

mengadakan replikasi, maka HIV akan merusak limfosit T4 tersebut.


Pada infeksi yang lanjut, fungsi dan jumlah limfosit T4 akan berkurang.
Apabila penurunan jumlah sel cukup berat, terjadilah gangguan
imunitas seluler yang menyebabkan penderita mudah terkena infeksi
oportunistik atau keganasan tertentu (Ratna, 2001).
C. MANIFESTASI KLINIS
Penyakit ini disertai kumpulan gejala (syndrome) antara lain
gejala

infeksi

dan

penyakit

oportumistik

yang

timbul

akibat

menurunnya daya tahan tubuh penderita. Menurunnya kekebalan


menjadikan penderita rentan terhadap infeksi oportunitik dimana
infeksi mikroorganisme yang dalam keadaan normal bersifat apatogen.
Pada penderita AIDS mikroorganisme yang bersifat apatogen dapat
menjadi pathogen (Syamsuridjat, 2001).
Adapun yang termasuk gejala mayor yaitu:
a. Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan.
b. Diare kronik berlangsung lebih dari 1 bulan.
c. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan.
d. Penurunan kesadaran dan gangguan Neorologis.
e. Demensia atau HIV ensepalopati
Gejala minor :
a. Batuk menetap lebih dari 1 bulan.
b. Dermatitis generalisata yang gatal.

c.
d.
e.
f.
g.

Adanya Herpes Zoster Multisegmental dan atau berulang.


Kandidiasis orofariengeas
Herpes Simpleks kronik progresif.
Limfadenopati Generalisata (pembesaran kelenjar getah bening).
Infeksi jamur berulang pada alat kelamin. (Syamsuridjal, 2001).

D. CARA PENULARAN
HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang
berpotensial mengandung HIV adalah darah, cairan sperma, cairan
vagina dan air susu ibu (KPA, 2007c). Penularan HIV dapat terjadi
melalui berbagai cara, yaitu : kontak seksual, kontak dengan darah
atau sekret yang infeksius, ibu ke anak selama masa kehamilan,
persalinan dan pemberian ASI (Air Susu Ibu). (Zein, 2006)
1. Seksual
Penularan melalui hubungan heteroseksual adalah yang paling
dominan dari semua cara penularan. Penularan melalui hubungan
seksual dapat terjadi selama senggama laki-laki dengan perempuan
atau laki-laki dengan laki-laki. Senggama berarti kontak seksual
dengan penetrasi vaginal, anal (anus), oral (mulut) antara dua
individu. Resiko tertinggi adalah penetrasi vaginal atau anal yang
tak terlindung dari individu yang terinfeksi HIV.
2. Melalui transfusi darah atau produk darah yang sudah tercemar
dengan virus HIV.
3. Melalui jarum suntik atau alat kesehatan lain yang ditusukkan atau
tertusuk ke dalam tubuh yang terkontaminasi dengan virus HIV,
seperti jarum tato atau pada pengguna narkotik suntik secara
bergantian. Bisa juga terjadi ketika melakukan prosedur tindakan
medik ataupun terjadi sebagai kecelakaan kerja (tidak sengaja) bagi
petugas kesehatan.
4. Melalui silet atau pisau, pencukur jenggot secara bergantian
hendaknya dihindarkan karena dapat menularkan virus HIV kecuali
benda-benda tersebut disterilkan sepenuhnya sebelum digunakan.

5. Melalui transplantasi organ pengidap HIV.


6. Penularan dari ibu ke anak
Kebanyakan infeksi HIV pada anak didapat dari ibunya saat ia
dikandung, dilahirkan dan sesudah lahir melalui ASI.
7. Penularan HIV melalui pekerjaan: Pekerja kesehatan dan petugas
laboratorium
Terdapat resiko penularan melalui pekerjaaan yang kecil namun
defenitif, yaitu pekerja kesehatan, petugas laboratorium, dan orang
lain yang bekerja dengan spesimen/bahan terinfeksi HIV, terutama
bila menggunakan benda tajam (Fauci, 2000).
Tidak terdapat bukti yang meyakinkan bahwa air liur dapat
menularkan infeksi baik melalui ciuman maupun pajanan lain misalnya
sewaktu bekerja pada pekerja kesehatan. Selain itu air liur terdapat
inhibitor terhadap aktivitas HIV (Fauci,2000).
Menurut WHO (1996), terdapat beberapa cara dimana HIV tidak
dapat ditularkan antara lain:
1. Kontak fisik
Orang yang berada dalam satu rumah dengan penderita
HIV/AIDS, bernapas dengan udara yang sama, bekerja maupun
berada dalam suatu ruangan dengan pasien tidak akan tertular.
Bersalaman, berpelukan maupun mencium pipi, tangan dan kening
penderita HIV/AIDS tidak akan menyebabkan seseorang tertular.
2. Memakai milik penderita
Menggunakan tempat duduk toilet, handuk, peralatan makan
maupun peralatan kerja penderita HIV/AIDS tidak akan menular.
3. Digigit nyamuk maupun serangga dan binatang lainnya.
4. Mendonorkan darah bagi orang yang sehat tidak dapat tertular HIV.
E. PATOFISIOLOGI
Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans (sel imun)
adalah sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV )
dan terkonsentrasi dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human
Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lewat pengikatan
dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian

yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam
respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus (HIV) menginfeksi
sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel
T 4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam
usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi. Dengan menurunya
jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara
progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan
menurunnya fungsi sel T penolong.
Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV )
dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama
bertahun-tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari
sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi.
Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi (herpes
zoster dan jamur oportunistik) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun
akibat

timbulnya

berproliferasi.

penyakit

Akhirnya

baru

terjadi

akan

infeksi

menyebabkan
yang

parah.

virus

Seorang

didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200


sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau
dimensia AIDS.

F. KLASIFIKASI
Sejak 1 januari

1993,

orang-orang

dengan

keadaan

yang

merupakan indikator AIDS (kategori C) dan orang yang termasuk


didalam kategori A3 atau B3 dianggap menderita AIDS.
a. Kategori Klinis A
Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja
dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah
dapat dipastikan tanpa keadaan dalam kategori klinis B dan C.
1. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang simptomatik.
2. Limpanodenopati generalisata yang persisten (PGI : Persistent
Generalized Limpanodenophaty).
3. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut dengan
sakit

yang

menyertai

atau

riwayat

Immunodeficiency Virus (HIV) yang akut.

infeksi

Human

b. Kategori Klinis B
Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup :
1. Angiomatosis Baksilaris
2. Kandidiasis Orofaring/ Vulvavaginal (peristen, frekuen/responnya
jelek terhadap Terapi.
3. Displasia Serviks (sedang/berat karsinoma serviks in situ ).
4. Gejala konstitusional seperti panas (38,5o C) atau diare lebih dari
1 bulan.
5. Leukoplakial yang berambut.
6. Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda/terjadi pada
lebih dari satu dermaton saraf.
7. Idiopatik Trombositopenik Purpura.
8. Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo Varii
c. Kategori Klinis C
Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja
mencakup :
1. Kandidiasis bronkus, trakea/paru-paru, esophagus
2. Kanker serviks inpasif
3. Koksidiomikosis ekstrapulmoner/diseminata
4. Kriptokokosis ekstrapulmoner
5. Kriptosporidosis internal kronis
6. Cytomegalovirus (bukan hati, lien, atau kelenjar limfe)
7. Refinitis Cytomegalovirus (gangguan penglihatan)
8. Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency
Virus (HIV).
9.
Herpes

simpleks

(ulkus

kronis,

bronchitis,

pneumonitis/esofagitis ).
10. Histoplamosis diseminata/ekstrapulmoner ).
11. Isoproasis intestinal yang kronis.
12. Sarkoma Kaposi
13. Limpoma Burkit , Imunoblastik, dan limfoma primer otak.
14.
Kompleks
mycobacterium
avium
(M.kansasi

yang

diseminata/ekstrapulmoner).
15. M.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner/ekstrapulmoner).
16. Mycobacterium, spesies lain, diseminata/ekstrapulmoner.
17. Pneumonia Pneumocystic Cranii
18. Pneumonia Rekuren
19. Leukoenselophaty multifokal progresiva
20. Septikemia salmonella yang rekuren
21. Toksoplamosis otak
22. Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency Virus
( HIV).
G. KOMPLIKASI
a) Oral Lesi

Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral,


gingivitis,

peridonitis

Human

Immunodeficiency

Virus

(HIV),

leukoplakia oral, nutrisi,dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan


dan cacat.
b) Neurologik
Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human
Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan
kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia,

dan isolasi sosial.


Enselophaty
akut,

karena

reaksi

terapeutik,

hipoksia,

hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis/ensefalitis.

Dengan efek :
- Sakit kepala
- Malaise
- Demam
- Paralise
- Total/Parsial
Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler, hipotensi sistemik,

dan maranik endokarditis.


Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human

Immunodeficienci Virus (HIV)


c) Gastrointestinal
Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal,
limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat

badan, anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.


Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma, sarcoma Kaposi, obat
illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen,

ikterik, demam atritis.


Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi
perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit

dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.


d) Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus
influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas
pendek, batuk, nyeri, hipoksia, keletihan, gagal nafas.
e) Dermatologik

Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster,


dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan
dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar, infeksi skunder dan
sepsis.
f) Sensorik
Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan.
Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan
pendengaran dengan efek nyeri.
H. PENATALAKSANAAN
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan
pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah
terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan
dengan :
1. Melakukan abstinensi seks/melakukan hubungan kelamin dengan
pasangan yang tidak terinfeksi.
2. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan
seks terakhir yang tidak terlindungi.
3. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak
jelas status Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya.
4. Tidak bertukar jarum suntik, jarum tato, dan sebagainya.
5. Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.
6. Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka
terapinya yaitu :
a) Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan
infeksi

opurtunistik,

nasokomial,

atau

sepsis.

Tidakan

pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi


bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi
pasien di lingkungan perawatan kritis.
b) Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT
yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi
antiviral

Human

Immunodeficiency

Virus

(HIV)

dengan

menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk


pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia

untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif


asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3.
c) Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system
imun dengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai
reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :
- Didanosine
- Ribavirin
- Diedoxycytidine
- Recombinant CD 4 dapat larut
d) Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut
seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis
dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan
penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi
AIDS.
e) Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makanmakanan sehat,hindari stress,gizi yang kurang,alcohol dan obatobatan yang mengganggu fungsi imun.
f) Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan
sel T dan mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus
(HIV).

PATHWAY

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


HIV AIDS
A. PENGKAJIAN
1) Riwayat Penyakit
Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat
kelainan

imun.

Umur

kronologis

pasien

juga

mempengaruhi

imunokompetens. Respon imun sangat tertekan pada orang yang


sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus. Pada
lansia, atropi

kelenjar timus

dapat meningkatkan kerentanan

terhadap infeksi. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan


melemahnya fungsi imun. Diabetes mellitus, anemia aplastik, kanker
adalah beberapa penyakit yang kronis, keberadaan penyakit seperti
ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status
imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan hospes dan
penyakit serta terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes :

Kerusakan Respon Imun Seluler (Limfosit T )


Terapi Radiasi, Defisiensi Nutrisi, Penuaan,

Aplasia

Timik,

Limpoma, Kortikosteroid, Globulin Anti Limfosit, Disfungsi Timik

Congenital.
Kerusakan Imunitas Humoral (Antibodi)
Limfositik Leukemia Kronis, Mieloma,

Hipogamaglobulemia

Congenital, Protein-Liosing Enteropati (Peradangan Usus)


2) Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif)
Aktifitas/Istirahat
Gejala

: Mudah Lelah, Intoleran Activity, Progresi Malaise,

Perubahan Pola Tidur.

Tanda : Kelemahan Otot, Menurunnya Massa Otot, Respon


Fisiologi Aktifitas (Perubahan TD, Frekuensi Jantung dan
Pernafasan ).

Sirkulasi
Gejala : Penyembuhan yang Lambat (Anemia), Perdarahan Lama
pada Cedera.
Tanda : Perubahan TD Postural, Menurunnya Volume Nadi Perifer,
Pucat/Sianosis, Perpanjangan Pengisian Kapiler.

Integritas dan Ego


Gejala : Stress berhubungan dengan Kehilangan, Mengkuatirkan
Penampilan,

Mengingkari

Diagnosa,

Putus

Asa,dan

sebagainya.
Tanda : Mengingkari, Cemas, Depresi, Takut, Menarik Diri,
Marah.

Eliminasi
Gejala : Diare Intermitten, TerusMenerus, Sering Dengan atau
Tanpa Kram Abdominal, Nyeri Panggul, Rasa Terbakar Saat
Miksi
Tanda : Feces Encer Dengan atau Tanpa Mucus atau Darah, Diare
Pekat dan Sering, Nyeri Tekan Abdominal, Lesi atau Abses
Rectal,

Perianal,

Perubahan

Jumlah,

warna,

dan

Karakteristik Urine.

Makanan/Cairan
Gejala : Anoreksia, Mual Muntah, Disfagia
Tanda : Turgor Kulit Buruk, Lesi Rongga Mulut, Kesehatan Gigi
dan Gusi yang Buruk, Edema

Hygiene
Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS
Tanda : Penampilan tidak rapi, Kurang Perawatan Diri.

Neurosensoro

Gejala

Pusing,

Kerusakan

Sakit

Kepala,

Perubahan

Status

Indera,

Kelemahan

Status

Mental,

Otot,

Tremor,

Perubahan Penglihatan.
Tanda : Perubahan Status Mental, Ide Paranoid, Ansietas, Refleks
Tidak Normal, Tremor, Kejang, Hemiparesis, Kejang.

Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri Umum / Local, Rasa Terbakar, Sakit Kepala, Nyeri
Dada Pleuritis.
Tanda : Bengkak Sendi, Nyeri Kelenjar, Nyeri Tekan, Penurunan
Rentan Gerak, Pincang.

Pernafasan
Gejala : ISK Sering atau Menetap, Napas Pendek Progresif, Batuk,
Sesak pada Dada.
Tanda : Takipnea, Distress Pernapasan, Perubahan Bunyi Napas,
adanya Sputum.

Keamanan
Gejala : Riwayat Jatuh, Terbakar, Pingsan, Luka, Transfuse Darah,
Penyakit Defisiensi Imun, Demam Berulang, Berkeringat
Malam.
Tanda

Perubahan

Integritas

Kulit,

Luka

Perianal/Abses,

Timbulnya Nodul, Pelebaran Kelenjar Limfe, Menurunya


Kekuatan Umum, Tekanan Umum.

Seksualitas
Gejala : Riwayat berprilaku Seks Beresiko Tinggi, Menurunnya
Libido, Penggunaan Pil Pencegah Kehamilan.
Tanda : Kehamilan, Herpes Genetalia

Interaksi Sosial
Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh Diagnosis, Isolasi,
Kesepian, adanya Trauma AIDS

Tanda : Perubahan Interaksi


Penyuluhan / Pembelajaran

Gejala : Kegagalan dalam Perawatan, Prilaku Seks Beresiko


Tinggi,

Penyalahgunaan

Obat-obatan

IV,

Merokok,

Alkoholik.
3) Pemeriksaan Diagnostik
Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostik yang sebagian
masih bersifat penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium
digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus
(HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta responnya
terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
a. Serologis
Tes antibody serum
Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA.
Hasil tes positif, tapi bukan merupakan diagnosa.

Tes blot western


Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus
(HIV).

Sel T limfosit
Penurunan jumlah total.

Sel T4 helper.
Indikator system imun jumlah <200>.

T8 (sel supresor sitopatik).


Rasio terbalik (2:1) atau lebih besar dari sel suppressor pada
sel helper (T8 ke T4) mengindikasikan supresi imun.

P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus


(HIV ) )
Peningkatan

nilai

kuantitatif

protein

mengidentifikasi

progresi infeksi.

Kadar Ig
Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau
mendekati normal.

Reaksi rantai polimerase.

Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel


perifer monoseluler.

Tes PHS.
Pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin
positif.

b. Budaya
Histologis, pemeriksaan Sitologis Urine, Darah, Feces, Cairan
Spina, Luka, Sputum, dan Sekresi, untuk Mengidentifikasi
adanya infeksi : Parasit, Protozoa, Jamur, Bakteri, Viral.
c. Neurologis
EEG, MRI, CT Scan Otak, EMG (Pemeriksaan Saraf)
d. Tes Lainnya
Sinar X dada
Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap
lanjut atau adanya komplikasi lain

Tes Fungsi Pulmonal


Deteksi awal pneumonia interstisial

Skan Gallium
Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk
pneumonia lainnya.

Biopsis
Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi

Brankoskopi / pencucian trakeobronkial


Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan
kerusakan paru-paru

B. DIAGNOSA NANDA, NOC, NIC KLIEN DENGAN HIV/AIDS


N
O
1

NANDA

NOC

NIC

Resiko tinggi
infeksi b.d
kekebalan yang
diperoleh tidah
memadai,
pertahanan primer yang tidak
memadai
-

Status Imun
Memperoleh resistensi
tepat ditargetkan untuk
antigen internal dan
eksternal
Integritas Kulit Normal
Imunisasi berjalan
dengan baik
Fungsi pernafasan baik
Fungsi pencernaan baik
Suhu tubuh baik
Skrining untuk infeksi
berjalan dengan baik

Perlindungan Infeksi
Pencegahan dan deteksi
dini terhadap infeksi
pada pasien yang
berisiko
- Monitor tanda-tanda
sistemik dan lokal dan
gejala infeksi
- Pertahankan teknik
isolasi,
- Ajarkan pasien dan
keluarga bagaimana
menghindari infeksi
- Sediakan kamar
pribadi, sesuai
kebutuhan
- Pantau tanda-tanda
Vital

Kontrol Resiko
Pribadi tindakan untuk
mencegah,
menghilangkan, atau
mengurangi ancaman
kesehatan dimodifikasi
Pengawasan
- menyesuaikan strategi Tujuan akuisisi sedang
pengendalian risiko
berlangsung,
- memantau faktor
interpretasi, dan sintesis
risiko pribadi
dari data pasien untuk
- mengakui faktor risiko
pengambilan keputusan
- memodifikasi gaya
klinis
hidup untuk
- Tentukan risiko
mengurangi risiko
kesehatan pasien
- menggunakan sistem
- Minta pasien
dukungan pribadi
mengenai tandauntuk mengurangi
tanda, gejala, atau
risiko
masalah
- Pantau tanda vital
Kontrol infeksi :
- Mulai pengawasan
Proses Infeksi
kulit rutin pada pasien
Pribadi tindakan untuk
berisiko tinggi
mencegah,
- Pantau keadaan yang
menghilangkan, atau
berpeluang untuk
mengurangi ancaman
infeksi
infeksi
- mengakui
Peningkatan sistem
konsekuensi pribadi

yang terkait dengan


infeksi
mengidentifikasi
risiko infeksi dalam
situasi sehari-hari
mengidentifikasi
tanda-tanda pribadi
dan gejala yang
mengindikasikan
potensi risiko
mengidentifikasi
strategi untuk
melindungi diri dari
infeksi lain.
memelihara
lingkungan yang
bersih

Isolasi sosial b.d


penyakit,
kesedihan yang
mempengaruhi,
berusaha untuk
menyendiri.
Definisi :
kesendirian yang
dialami oleh
individu dan
dianggap
dipaksakan oleh
orang lain dan
sebagai keadaan
negatif atau
mengancam

Keterlibatan Sosial
Interaksi sosial dengan
orang-orang, kelompok,
atau organisasi
- berinteraksi dengan
teman-teman dekat
- berinteraksi dengan
tetangga
- berinteraksi dengan
anggota keluarga
- berpartisipasi dalam
kegiatan santai
dengan orang lain

dukungan
Fasilitasi pasien
dukungan oleh keluarga,
teman, dan masyarakat
Identifikasi tingkat
dukungan keluarga
Tentukan sistem
pendukung yang saat
ini digunakan
Tentukan hambatan
untuk menggunakan
sistem pendukung
Pantau situasi keluarga
saat ini
Jelaskan kepada orang
lain yang peduli
bagaimana mereka
dapat membantu
Nilai respon psikologis
untuk situasi dan
ketersediaan sistem
pendukung.
Kehadiran
Definisi : berada
bersama yang lain
baik secara fisik dan
psikologis, pada saat
kebutuhan
Tunjukkan sikap
menerima
Komunikasi secara
verbal, merasa empati
atau pahami
pengalaman pasien
Dengarkan kekhawatiran
pasien
Tawarkan untuk
menghubungi
dukungan lain, seperti
ustadz
Bangun kepercayaan dan
hal positif
Yakinkan dan membantu
orang tua dalam peran
pendukung mereka
dengan anak mereka

Dukungan Sosial
Mempercayai bantuan
orang lain
- disediakannya waktu
oleh orang lain
- tersedianya informasi
oleh orang lain
- adanya orang-orang
yang bisa membantu
sesuai kebutuhan
- adanya kontak sosial
yang mendukung
Konseling
- jaringan sosial stabil

konsekuensi
kecanduan Substansi
keparahan perubahan
status kesehatan dan
fungsi sosial akibat
kecanduan zat
tidak adanya perasaan
depresi
kesedihan dapat teratasi
kesedihan dapat teratasi
perasaan
ketidakberdayaan
teratasi
tidak merasa putus asa
rasa kesendirian teratasi
tidak adanya perasaan
takut kesendirian
perasaan merasa tidak
berharga tidak ada
-

Definisi: berHubungan
dengan proses
membantu yang
interaktif berfokus
pada kebutuhan,
masalah, atau
perasaan lain dari
pasien dan signifikan
untuk meningkatkan
atau mendukung
koping, pemecahan
masalah, dan
interpersonal
Tetapkan hubungan
terapi didasarkan pada
kepercayaan dan rasa
hormat
Tunjukkan empati,
kehangatan, dan
ketulusan
Tetapkan kontrak waktu
atau panjang nya
konseling
Berikan privasi dan
menjamin kerahasiaan
pasien
Dorong ekspresi
perasaan pasien
Bantu pasien untuk
mengidentifikasi
masalah atau situasi
yang menyebabkan
marabahaya
Tentukan bagaimana
perilaku keluarga
mempengaruhi pasien
verbalisasi perbedaan
antara perasaan pasien
dan perilaku
Terapi rekreasi
Definisi: penggunaan
tujuan rekreasi untuk
mempromosikan
relaksasi dan
peningkatan
keterampilan sosial
- Bantu pasien /

Ketidak
Status Nutrisi
seimbangan
Definisi : sejauh mana
Nutrisi : Kurang
nutrisi yang tersedia
dari kebutuhan
untuk memenuhi
tubuh b.d
kebutuhan
anoreksia dan
metabolisme
diare yang kronik - Asupan nutrisi baik
Definisi : Asupan - Asupan makanan baik
- Asupan cairan baik
nutrisi tidak
mencukupi untuk
Status Nutrisi :
memenuhi
Asupan makanan dan
kebutuhan
cairan
metabolic
Definisi : jumlah
makanan dan cairan
yang diambil ke dalam
tubuh selama periode
24-jam
- Asupan Makanan
secara oral baik
- Asupan dari tabung
pengisi baik
- Asupan cairan oral
baik
- Asupan cairan melalui
intravena baik

keluarga untuk
mengidentifikasi
defisit dalam
mobilisasi
- Bantu pasien untuk
memilih aktivitas
rekreasi sesuai
dengan kemampuan
fisik, psikologis, dan
sosial
- Bantu pasien untuk
mengidentifikasi
kegiatan rekreasi
bermakna
- Pantau emosional,
respon fisik, dan
sosial untuk kegiatan
rekreasi
- Berikan penguatan
positif untuk
berpartisipasi dalam
setiap kegiatan
Konseling gizi
Definisi :
Menggunakan proses
bantu yang interaktif
yang berfokus pada
kebutuhan modifikasi
diet/makanan
- Lakukan hubungan
terapeutik
berdasarkan
kepercayaan dan
kepedulian
- Tentukan asukan
makanan pasien dan
kebiasaan makan
- fasilitasi identifikasi
terhadap perilaku
makan yang harus di
ganti
- Gunakan standar gizi
yang sudah disetujui
untuk klien dalam
mengevalulasi
keadekuatan asupan
makanan
- Diskusikan makanan

Asupan nutrisi secara


parenteral baik
-

Status Nutrisi :
Asupan nutrisi
Definisi : Asupan
nutrisi untuk
memenuhi kebutuhan
metabolic
Asupan kalori memadai
Asupan protein cukup
Asupan lemak cukup
Asupan karbohidrat
cukup
Asupan serat cukup
Asupan vitamin cukup
Asupan mineral cukup
Asupan zat besi cukup
Asupan kalsium cukup
Asupan garam cukup

yang klien sukai dan


yang tidak disukai
Diskusikan arti dari
makanan kepada
pasien

Terapi Nutrisi
Definisi : administrasi
makanan dan cairan
untuk mendukung
proses metabolisme
pasien yang kurang
gizi atau berisiko
tinggi untuk menjadi
menjadi kurang gizi
- Lakukan penilaian gizi
dengan lengkap,
- Pantau cairan /
makanan yang ditelan
dan menghitung
asupan kalori harian
- Sediakan makanan
yang dibutuhkan
dalam batas diet yang
ditentukan
- Berikan pasien
dengan tinggi protein,
tinggi kalori, makanan
dan minuman bergizi
jari yang dapat mudah
dikonsumsi,
- Pilih suplemen gizi,
Manajemen
Cairan/Elektrolit
Definisi : Regulasi dan
Prevensi yang rumit
dari level cairan dan
elektrolit
- Pantau level serum
elektrolit yang tidak
normal
- Berikan Cairan, sesuai
keadaan
- Jaga laporan yang
akurat berkaitan
dengan asupan dan
keluaran

Bersihan jalan
nafas tidak efektif
b.d menurunnya
ekspansi paru dan
penumpukan
sekret
Definisi :
ketidakmampuan
membersihkan
sekresi atau
sumbatan dari
saluran
pernafasan untuk
mempertahankan
kebersihan jalan
nafas.

Status Pernafasan :
Kepatenan jalan Nafas
Definisi : Membuka,
membersihkan bagian
trakeobronkial untuk
pertukaran udara.
Tingkat pernafasan baik
Ritme pernafasan baik
Kedalaman iinspirasi
baik
Adanya kemampuan
untuk menghapus
sekresi
Tidak adanya suara
pernafasan yang tidak
disengaja
Klien tidak terengahengah
Tidak adanya dispnea
saat istirahat
Tidak adanya akumulasi
sputum
Tidak adanya dispnea
saat klien istirahat

Status Pernafasan :
Pertukaran Gas
Definisi : Pertukaran
alveolar dari karbon
dioksida dan oksigen
untuk
mempertahankan
konsentrasi gas darah
arteri
Tekanan parsial oksigen
dalam darah artrial
(PaO2) baik
Tekanan parsial karbon
dioksida dalam darah
arteri baik
pH arteri Klien baik
adanya Keseimbangan
perfusi pada ventilasi

Pantau tanda-tanda
vital
Pantau tanda dan
gejala terhadap
retensi cairan

Manajemen jalan
nafas
Definisi : Fasilitasi
patensi saluran udara
Buka jalan napas,
dengan angkat dagu
atau teknik dorong
rahang,
Posisikan pasien untuk
memaksimalkan
potensi ventilasi
Masukkan udara melalui
jalan napas oral atau
nasofaring,
Lakukan terapi fisik dada
Lakukan pernafasan
yang lambat dan
dalam, dan batuk
Instruksikan cara batuk
efektif
Monitor pernafasan dan
status oksigenasi
Berikan udara lembab
atau oksigen,
Auskultasi adanya
penurunan pada
ventilasi daerah yang
tercatat atau tidak ada
dan adanya suara
adventif
Reduksi Kecemasan
Definisi :
meminimalkan
ketakutan, firasat,
atau ketidaknyamanan
yang berhubungan
dengan antisipasi
sumber bahaya yang
tidak dikenal
Gunakan tenang,
pendekatan yang

- Tidak adanya sianosis

meyakinkan
- Nyatakan dengan jelas
harapan untuk perilaku
Status Pernafasan :
pasien
Ventilasi
Berusaha
untuk
Definisi : Perpindahan
memahami perspektif
udara untuk masuk
pasien dari situasi stres
dan keluar dari paru- Dengarkan dgn
paru
perhatian
- Tidak adanya retraksi
- Perkuat perilaku
dada pada klien
- Ciptakan suasana untuk
- Klien tidak bernafas
memfasilitasi
dengan mengerutkan
kepercayaan
bibir
- Identifikasi klien ketika
- Tidak adanya gangguan
tingkat kecemasan
vokalisasi pada klien
mengalami perubahan
- Tidak adanya gangguan
- Tentukan kemampuan
ekspirasi pada klien
pengambilan
- Tidak ditemukan
keputusan pasien
ekspansi dada yang
- Anjurkan pasien pada
tidak simetris pada
menggunakan teknik
klien
relaksasi
- Tidak terdengar suara
- Kelola obat untuk
yang terdistorsi pada
mengurangi kecemasan
saat aukultasi
- Nilai tanda-tanda verbal
dan nonverbal
Pencegahan aspirasi
kecemasan
Definisi : tindakan
Personal untuk
Terapi Oksigen
mencegah lewatnya
Definisi: Pemberian
cairan dan partikel
oksigen dan
padat ke dalam parupemantauan
paru
efektivitas
- Klien dapat
- Bersihkan Sekresi oral,
mengidentifikasi
hidung, dan trakea
faktor resiko
- Pertahankan patensi
- Klien dapat
jalan napas
menghindari faktor
- Siapkan peralatan
resiko
oksigen dan kelola
- Klien dapat
dengan sistem,
mempertahankan
dipanaskan
kebersihan oral
dilembabkan
- Klien dapat memilih
- Monitor liter aliran
makanan sesuai
oksigen
dengan kemampuan - Monitor posisi layanan
menelan
pengiriman oksigen
- Klien dapat memilih
- Pantau efektivitas terapi
makanan dengan
oksigen
konsistensi yang tepat - Monitor kecemasan yang

Klien dapat
menggunakan
pengental cairan
sesuai dengan
kebutuhan

berhubungan dengan
pasien

DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika.
Suzanne C. Smeltzer, Brenda G. Bare. 2001. Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Sudarth ed. 8. Jakarta : ECG.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media
Sculapius.
Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. Jakarta : EGC.

Doengoes, Marillyn, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman


Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi
3, alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S. Jakarta : ECG