Anda di halaman 1dari 10

BEDAH ORTHOGNATI

Bagian Bedah Mulut, FKG - Universitas Padjadjaran/RS Hasan Sadikin

PENDAHULUAN
Sistem Stomatognati meliputi beberapa subsistem dan melibatkan fungsi
fisik maupun psikologis serta merupakan peranan berbagai organ dan
jaringan. Semua organ/jaringan ini harus berfungsi dalam keadaan
keseimbangan (equilibrium theory). Apabila salah satu jaringan tidak
mendapat gaya yang seimbang maka terjadilah anomali (Moyers, 1966).
Salah satu kelainan dari sistem Stomatognati yang digolongkan ke dalam
kelainan pertumbuhan dan perkembangan adalah DISGNATI. Sebagai
batasannya dapat disebutkan bahwa disgnati adalah : Sindrom kelainan
pertumbuhan dan perkembangan dentoskeletal dimana hubungan rahang
beserta gigi antara rahang atas dan rahang bawah, dan/atau antara rahang
dengan tulang fasial, maupun jaringan lunak yang tidak seimbang secara
fungsional maupun estetik.
Kasus disgnati yang merupakan kelainan dentoskeletal yang ekstrim dan
sulit untuk dirawat dengan ortodonti saja harus dirawat secara kombinasi
antara orthodonti dan bedah orthodonti/orthognati.
BEDAH ORTHOGNATI didefinisikan sebagai perawatan kombinasi antara
perawatan dengan cara pembedahan dengan perawatan ortodontik dengan
tujuan untuk memperbaiki maloklusi (dental) dan kelainan fasial (skeletal)
yang disebabkan oleh kelainan yang parah dalam ukuran, bentuk, dan
hubungan antara kedua rahang dengan basis kranial. Perawatan ini juga
sering dilakukan untuk memperbaiki kelainan kongenital dan anomali yang
1

terjadi pada tulang skeletal dan kasus-kasus dengan pertumbuhan rahang


yang tidak harmonis (kraniomaksilofasial) (Jacobsen, 1985)
TUJUAN BEDAH ORTHOGNATI
Koreksi

melalui

Bedah

Orthognati

dimaksudkan

untuk

mencapai

:Keseimbangan fungsionil sistem stomatognati, keseimbangan dalam


estetik, keseimbangan psikologis serta kestabilan jangka panjang pada hasil
pembedahan (Henderson, 1985).
INDIKASI BEDAH ORTHOGNATI
Tuinzing (1990) membagi indikasi perawatan bedah orthognatik menjadi
tiga faktor, sebagai berikut :
1. Faktor somatik/ fungsional
2. Faktor nonsomatik/faktor estetik/ psikogen
3. Kombinasi kedua faktor tersebut seringkali ditemukan
Faktor fungsional terdiri dari : Gangguan oklusi dan fungsi pengunyahan.
Kelainan-kelainan sekunder yang dapat diakibatkan oleh disoklusi, misal
keluhan gastrointestinal. Trauma pada palatum dan jaringan periodontium
gigi anterior atas pada retrognati yang disertai palatal/deep bite. Asimetri
dan deviasi merupakan hal sering terjadi. Ketidak seimbangan rahang dan
relasi gigi juga dapat menyebabkan kelainan sendi temporomandibuler.
Pada prognati yang ekstrim pengucapan konsonan bilabial, labiodental dan
linguodental kurang sempurna. Pada orang tua yang lama tidak bergigi yang
menyulitkan pembuatan protesa penuh. Faktor psikologis merupakan hal
2

yang harus dianalisa dengan sangat hati-hati untuk menggali ekspektasi


pasien.
KONTRA INDIKASI
Proffit, White (1970), Caldwell (1976), Neuner (1976) dan Tuinzing
(1979) menyarankan syarat umur terendah pada perawatan bedah
orthognatik adalah 18 tahun.
ANALISA DAN DIAGNOSA
Untuk

mencapai

hasil

perawatan

yang

maksimal

maka

harus

dipertimbangkan tiga komponen utama dari kompleks fasial yaitu dental,


skeletal dan jaringan lunak. Untuk

mencapai hasil perawatan yang

maksimal analisis dilakukan secara masing-masing maupun dalam


hubungan antara ketiga komponen tsb.
A. ANALISA DENTAL :
Secara klinis dilakukan pemeriksaan gigi mengenai : Kerusakan dan
rencana perawatannya, jumlah gigi yang ada maupun yang impaksi,
keseimbangan bentuk dan ukuran gigi dengan lengkung. Apakah ukuran
gigi seimbang dengan lengkung. Kurva Spee diperlukan untuk kestabilan
hasil operasi dan fungsi TMJ yang normal. Analisa klinis ditunjang oleh
analisa ronsenologis.
B. ANALISA SKELETAL
Pemeriksaan klinis skeletal meliputi komponen-komponen tulang rahang
dan wajah termasuk rasio, simetri dan kesejajaran yang berimbang. Gejala
3

pada TMJ seringkali merupakan hal yang menonjol. Tetapi sebaliknya,


pembedahan dapat menimbulkan keluhan TMJ. Pemeriksaan
C.

ANALISA JARINGAN LUNAK

Ukuran dan dimensi jaringan lunak sangat berhubungan dengan rangka


tulang di bawahnya. Tentukan profil wajah apakah konkaf , konveks atau
straight. Bibir akan berubah pada pembedahan rahang terutama rahang atas.
Hidung harus dianalisa mengenai kemiringannya, lebar basis ala serta
bentuk dorsum hidung serta kedalaman sudut nasolabialis. Ukuran lidah
penting untuk diketahui.
2. ANALISA MODEL
Model diperlukan untuk model studi dan simulasi bedah (mock surgery).
Simulasi bedah dilakukan dengan memindahkan perhitungan sefalometri
pada model untuk menilai interdigitasi maskimal.
PERAWATAN DENGAN TEAM APPROACH
Kebanyakan perawatan kelainan yang mengenai skeletal atau fasial ini
bukan hanya perawatan yang merubah relasi gigi melainkan juga relasi
rahang, bahkan relasi kranial. Tidak kalah pentingnya adalah perbaikan
terhadap kontur dan keadaan jaringan lunak fasial.

Oleh karena itu

perawatan disgnati dilakukan oleh suatu tim yang terdiri dari SPESIALIS
ORTODONTI, BEDAH MULUT, PERIODONTI, PROSTODONTI DAN
PEDODONTI SERTA BEDAH PLASTIK DAN PSIKOLOG.

Seorang

SpKGA

sebaiknya

memantau

pertumbuhan

dan

perkembangan dentoskeletal pasien bila didapatkan kebiasaan buruk yang


sulit dihilangkan.
Maloklusi yang terjadi pada disgnati dapat disertai kelainan
periodontal berupa periodontitis dengan resesi gusi maupun kegoyangan.
Keadaan ini harus diperbaiki dulu oleh seorang spesialis periodonti sebelum
perawatan ortodonti dimulai
Seringkali gigi yang akan dirawat secara ortodontik mengalami
kerusakan yang cukup parah dan harus diperbaiki secara prostodontik
dengan jacket/crown, terutama pada pasien-pasien celah bibir dan langitlangit. Pasca bedah dan perawatan ortodonti biasanya akan didapatkan sisa
ruangan yang harus diisi oleh protesa.
Pasca bedah dapat terjadi perubahan-perubahan jaringan lunak yang
secara estetis kurang menguntungkan. Keadaan-keadaan ini dapat
diperbaiki melalui Bedah Plastik.
Apabila pasien merasa terganggu yang tidak sejalan dengan kadar
kelainan maka sebaiknya pasien tersebut ditangani psikolog dulu agar
keluhan dan keinginannya proporsionil.
Sebaiknya perawatan yang dilakukan pada penderita pada usia
pertumbuhan adalah perawatan dengan alat alat-alat yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan kraniofasial misalnya : Headgear, Facial Mask
atau Dellaire, dan berbagai macam alat fungsional.
Pada kasus disgnati yang tidak ekstrim terutama pada orang dewasa,
perawatan ortodonti ditujukan tidak untuk memperbaiki harmoni rahang,
hanya relasi gigi yang diperbaiki sehingga penampilan wajah terlihat lebih
baik (camouflage).
5

Pada perawatan bedah ortognatik, hasil yang baik dapat dicapai bila
ahli ortodonti dan ahli bedah mulut bekerja sama.
Catatan medik memuat kesehatan umum dan gigi dan dilengkapi
dengan catatan medik ortodontik, model studi, panoramic dan foto lateral
sefalometri (jika diperlukan foto frontal) dan foto intra/ekstra oral
(Tuinzing, 1990; Bunyan, 1991).

Hasil analisa ini disimpulkan dalam hubungannya dengan sudut bidang


mandibula sebagai berikut (Tuinzing, 1998):
A

Mandibular prognatism

B Mandibular prognatism dengan openbite


C

Mandibular retrognatism dengan sudut mandibula datar atau normal

D Relative mandibular retrognatism


E

Absolut mandibular retrognatism dengan sudut mandibula curam


(high mandibular plane/HMP)

F Laterognathic
KLASIFIKASI DAN RENCANA TERAPI BEDAH ORTHOGNATI
A.

RELASI DENTOSKELETAL KELAS I/NETROPOSISI :

Keluhan pasien dapat berupa : masalah dental saja seperti : gigi besar,
dental open bite/deepbite dan tidak didapatkan masalah rahang yang berat
baik relasi maupun fungsi. Masalah psikologis dapat ada ataupun tidak.
Umumnya bukan indikasi kuat untuk perawatan bedah.

Jenis pembedahan

dapat berupa anterior segmental osteotomi dan

genioplasti.

B. RELASI DENTOSKELETAL KELAS II/RETROGNATI :


Karena BO terutama mengoreksi kelainan skeletal maka terlebih dahulu
ditentukan kelainan skeletal yang ada, yaitu dalam relasi Antero-Posterior,
Supero-Inferior, Disgnati Medio Lateral dan kombinasi antara ketiganya.
C. RELASI DENTOSKELETAL KELAS III/PROGNATI :
Sama seperti pada relasi dentoskeletal Kl II maka komponen kelainan
skeletal pada Kl. III dapat mengenai relasi Disgnati Antero-Posterior,
Disgnati Supero-Inferior, Disgnati Medio Lateral serta kombinasi dari
ketiganya.
BEBERAPA TEHNIK BEDAH ORTHOGNATI :
1. Osteotomi maksila Le Fort I.
Pemotongan tulang maksila dilakukan untuk dapat menggeser maksila ke
ventral, superior dan inferior. Juga dapat dilakukan sedikit perputaran
sagital dan horizontal. Pergerakkan ke dorsal sulit tapi dapat dilakukan
tidak dimungkinkan.
2. Osteotomi segmental.
7

Diindikasikan pada kasus disgnati ringan atau hanya mengenai sebagian


rahang.
3. Osteotomi mandibula split sagital.
Tulang dibelah pada ramus secara sagital menjadi segmen lateral dimana
prosesus kondilus berada dan segmen medial dimana seluruh lengkung gigi
berada. Segmen medial ditarik ke ventral sesuai rencana dan difiksasi pada
tempatnya yang baru dengan sekrup.
4.Osteotomi ramus mandibula vertikal.
Tulang dipotong vertikal secara tuntas dari insisura mandibularis sampai
angulus mandibula. Segmen anterior didorong ke posterior sesuai hasil
analisa sehingga ramus menjadi 2 lempeng tulang yang berimpit. Fiksasi
dilakukan dengan intermaksilari dan skeletal.
5.Genioplasti/chinplasty.
Prosesus mentalis dipotong dan ukurannya dapat dikurangi , ditambah,
digeser ataupun diputar pada keadaan dagu asimetri atau deviasi.

KEPUSTAKAAN
1. Epker, B.N.,Fish, L.C. 1986 : Dentofacial deformities. Vol. II,The C.V.
Mosby C., St Louis.
2. Garliener, Daniel., 1976 : Myofunctional Therapy. W.B. Saunders Co.,
Philadelpphia
3. Henderson, Derek , 1985 : Orthognathic Surgery. Wolfe Medical
Publications Ltd., London.
4. Moyers, Robert E., 1988 : Handbook of Orthodontics. 4 th ed., Year
Book Medical Publishers Inc., Chicago, London.
5. Proffit, W.R., White Jr., R.P., 1991. Surgical Orthodontic Treatment. The
C.V. Mosby Co., St. Louis.
6. Sarver, David M., 1998. Esthetic Orthodontics and Orthognathic
Surgery. The C.V. Mosby Co., St. Louis.
7. Tuinzing,D.B., Greebe R.B., et.al. 1993 : Surgical Orthodontics. VU
University Press, Amsterdam.

BANDUNG, 16 AGUSTUS 2011

PREVIEW KULIAH BEDAH ORTHOGNATI DSP 9

10