Anda di halaman 1dari 14

Menentukan Umur Fosil menggunakan Radioaktif C-14

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Fisika Inti dengan dosen pengampu
Drs. Nendi Suhendi Syafe'i, M.S

Disusun oleh:
Febrian Alfandi
140310120016

PROGRAM STUDI FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

A. Reaksi Inti
Reaksi inti merupakan peristiwa perubahan suatu inti atom sehingga
berubah menjadi inti atom lain dengan disertai munculnya energi yang sangat
besar. Agar terjadi reaksi inti diperlukan partikel lain untuk menggoyahkan
kesetimbangan inti atom sehingga kesetimbangan inti terganggu. Akibatnya
inti akan terpecah menjadi dua inti yang baru. Partikel yang digunakan untuk
mengganggu kesetimbangan inti yaitu partikel proton atau neutron. Partikel
proton atau neutron yang berenergi ditembakkan pada inti target sehingga
setelah reaksi terjadi akan terbentuk inti atom yang baru disertai terbentuknya
partikel yang baru. Inti target dapat merupakan inti atom yang stabil, sehingga
setelah terjadi reaksi menyebabkan inti atom menjadi inti yang tidak stabil
yang kemudian disebut isotop radioaktif. Jadi reaksi inti dapat juga bertujuan
untuk mendapatkan isotop radioaktif yang berasal dari inti stabil.
Reaksi inti sangat berbeda dengan reaksi kimia, karena pada
dasarnya reaksi inti ini terjadi karena tumbukan (penembakan) inti sasaran
(target) dengan suatu proyektil (peluru). Secara skematik reaksi inti dapat
digambarkan :

Gambar 1. Reaksi Inti


B. Energi reaksi inti

Energi reaksi inti yang timbul diperoleh dari penyusutan massa inti,
yaitu perbedaan jumlah massa inti atom sebelum reaksi dengan jumlah massa
inti atom sesudah reaksi. Menurut Albert Einstein dalam kesetaraan antara
massa dan energi dinyatakan bahwa energi total yang dimiliki oleh suatu
massa sebesar m adalah E = mc2. Apabila semua massa inti atom dinyatakan
dalam sma (satuan massa atom), maka energi total yang dimiliki massa
sebesar 1 sma setara dengan energi sebesar 931 MeV (1 sma = 1,66 10 -27 kg,
c = 3 108 m/s dan 1 eV = 1.6 10 -19 Joule) Misalnya suatu reaksi inti
dinyatakan menurut persamaan :
A+aB+b+Q
Besarnya energi yang timbul dapat dicari dengan persamaan :
Q = {(mA + ma) (mB + mb)} 931 MeV
dengan :

(mA + ma) = jumlah massa inti atom sebelum reaksi


(mB + mb) = jumlah massa inti atom sesudah reaksi
Q = energi yang timbul selama reaksi terjadi
Dalam reaksi inti jika diperoleh Q > 0, maka reaksinya
dinamakan reaksi eksoterm yaitu selama reaksi berlangsung dilepaskan energi
sedangkan jika Q < 0, maka reaksinya dinamakan reaksi indoterm yaitu
selama reaksi berlangsung diperlukan energi. Reaksi inti dibedakan menjadi
dua, yaitu reaksi fisi dan reaksi fusi.
1. Reaksi Fisi
Reaksi fisi yaitu reaksi pembelahan inti atom berat menjadi dua inti
atom lain yang lebih ringan dengan disertai timbulnya energi yang sangat
besar. Misalnya inti atom uranium-235 ditembak dengan neutron sehingga

terbelah menjadi inti atom Xe-235 dan Sr-94 disertai dengan timbulnya 2
neutron yang memiliki energi tinggi. Reaksinya dapat dituliskan :
U235 + 0n1 54Xe235 + 38Sr94 + 20n1 + Q

92

Dalam reaksi fisi yang terjadi akan dihasilkan energi kira-kira sebesar
234 Mev. Dalam reaksi fisi ini timbul senyawa baru yang berenergi tinggi.
Neutron-neutron yang timbul akan menumbuk inti atom berat yang lain
sehingga akan menimbulkan reaksi fisi yang lain. Hal ini akan berlangsung
terus sehingga semakin lama semakin banyak reaksi inti yang dihasilkan dan
dalam sekejap dapat timbul energi yang sangat besar. Peristiwa semacam ini
disebut reaksi fisi berantai. Reaksi fisi berantai yang tidak terkendali akan
menyebabkan timbulnya energi yang sangat besar dalam waktu relatif singkat,
sehingga dapat membahayakan kehidupan manusia. Reaksi berantai yang tak
terkendali terjadi pada bom Atom. Energi yang timbul dari reaksi fisi yang
terkendali dapat dimanfaatkannya untuk kehidupan manusia. Reaksi fisi
terkendali yaitu reaksi fisi yang terjadi dalam reaktor nuklir (Reaktor Atom).
Di mana dalam reaktor nuklir neutron yang terbentuk ditangkap dan tingkat
energinya diturunkan sehingga reaksi fisi dapat dikendalikan.

Gambar 2.Reaksi Fisi

Pada umumnya untuk menangkap neutron yang terjadi, digunakan


logam yang mampu menangkap neutron yaitu logam Cadmium atau Boron.
Pengaturan populasi neutron yang mengadakan reaksi fisi dikendalikan oleh
batang pengendali yang terbuat dari batang logam Cadmium, yang diatur
dengan jalan memasukkan batang pengendali ke dalam teras-teras bahan
bakar dalam reaktor. Dalam reaktor atom, energi yang timbul kebanyakan
adalah energi panas, di mana energi panas yang timbul dalam reaktor
ditransfer keluar reaktor kemudian digunakan untuk menggerakkan generator,
sehingga diperoleh energi listrik.
2. Reaksi Fusi
Reaksi fusi yaitu reaksi penggabungan dua inti atom ringan menjadi
inti atom lain yang lebih berat dengan melepaskan energi.

Gambar 3. Reaksi Fusi

Misalnya penggabungan deutron dengan deutron menghasilkan triton


dan proton dilepaskan energi sebesar kira-kira 4,03 MeV. Penggabungan
deutron dengan deutron menghasilkan inti He-3 dan neutron dengan
melepaskan energi sebesar 3,3 MeV. Penggabungan triton dengan triton
menghasilkan inti He-4 dengan melepaskan energi sebesar 17,6 MeV,
yang reaksi fusinya dapat dituliskan :
H2 + 1H2 1H3 + 1H1 + 4 MeV

H2 + 1H2 2He3 + 0n1 + 3,3 MeV

H3 +1 H3 2He4 + 0n1 + 17,6 MeV

Agar dapat terjadi reaksi fusi diperlukan temperatur yang sangat tinggi
sekitar 108 K, sehingga reaksi fusi disebut juga reaksi termonuklir. Karena
untuk bisa terjadi reaksi fusi diperlukan suhu yang sangat tinggi, maka di
matahari merupakan tempat berlangsungnya reaksi fusi. Energi matahari yang
sampai ke Bumi diduga merupakan hasil reaksi fusi yang terjadi dalam
matahari. Hal ini berdasarkan hasil pengamatan bahwa matahari banyak
mengandung hidrogen (1H1). Dengan reaksi fusi berantai akan dihasilkan inti
helium-4. Di mana reaksi dimulai dengan penggabungan antar dua atom
hidrogen membentuk deutron, selanjutnya antara deutron dengan deutron

membentuk inti atom helium-3 dan akhirnya dua inti atom helium-3
bergabung membentuk inti atom helium -4 dan 2 atom hidrogen dengan
melepaskan energi total sekitar 26,7 MeV, yang reaksinya dapat dituliskan:
H1 + 1H1 1H2 + 1e0 + Q1

H2 + 1H2 2H3 + + Q2

H3 + 2H3 2He4 + 2 1H1 + Q3

Reaksi tersebut dapat ditulis:


4 1H1 2He4 + 2 1e0 + Q
C. Karbon-14
Karbon-14,

14

C,

atau radiokarbon,

radioaktif karbon dengan inti yang

mengandung

adalah isotop

6 proton dan

8 neutron.

6Terdapat tiga macam isotop karbon yang terjadi secara alami di Bumi: 99%
merupakan karbon-12, 1% merupakan karbon-13, sedangkan karbon-14
terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit, misalnya sejumlah 1 bagian-per
triliun (0,0000000001%)

dari

karbon

yang

ada

di

atmosfer. Waktu

paruh karbon-14 adalah 5.730 40 tahun. Ia meluruh menjadi nitrogen14 melalui peluruhan

beta. Aktivitas standar

radiokarbon

modern adalah

sekitar 14 disintegrasi per menit (dpm) per gram karbon. Massa atom karbon14 adalah sekitar 14,003241 sma.
D. Penentuan Umur dengan karbon-14
Penentuan umur dengan menggunakan radiokarbon bergantung pada
pembentukan karbon-14 di bagian atas atmosfer menurut reaksi berikut ini:

Menurut persamaan reaksi ini, terjadi konversi nitrogen biasa menjadi


karbon-14 yang bersifat radioaktif oleh neutron berenergi tinggi (yang

dihasilkan oleh radiasi kosmis). Karbon-14 memiliki waktu-paruh 5.730


tahun, atau, dengan kata lain, 1,0 gram karbon-14 akan berdekomposisi
menjadi tepat 0,5 gram dalam 5.730 tahun. Karbon-14 meluruh dengan
membebaskan partikel beta menurut persamaan berikut.

Atom-atom karbon tunggal yang dihasilkan di atmosfer bagian atas ini


bersifat sangat reaktif dan segera bergabung dengan oksigen untuk
membentuk karbon dioksida yang digunakan oleh tumbuh-tumbuhan.
Tumbuhan selanjutnya dimakan oleh hewan, sehingga masuklah karbon-14 ke
dalam rantai makanan. Penentuan umur dilakukan dengan mengasumsikan
bahwa persentase karbon-14 di atmosfer adalah konstan dan bahwa
radiokarbon dalam semua organisme hidup berada dalam kesetimbangan
dengan atmosfer. Jika asumsi-asumsi ini tepat, persentase karbon-14 dalam
organisme hidup akan sama dengan persentase karbon-14 di atmosfer. Ketika
tumbuhan dan hewan mati, kesetimbangan dengan atmosfer juga berhenti, dan
karbon-14 dalam tubuh organisme mulai meluruh. Jumlah karbon-14 yang
tersisa dapat digunakan untuk memperkirakan umur dari tumbuhan dan hewan
yang telah mati tersebut. Yang diperlukan untuk perkiraan umur tersebut
hanyalah pengukuran rasio
menggunakan

spektrometri

dan ini dapat dilakukan dengan mudah


massa.

Diagram

skematik

dari

spektrometer massa sederhana dapatl dilihat pada gambar berikut ini :

sebuah

Image Courtesy of Houghton Mifflin Company**


Permasalahan dari metode ini adalah proporsi karbon-14 dalam
keseluruhan karbon dioksida di atmosfer tidaklah konstan tetapi bervariasi
sedikit dari waktu ke waktu karena tidak konstannya produksi radiokarbon di
atmosfer dari tahun ke tahun. Laju produksi radiokarbon ini dipengaruhi oleh
perubahan ventilasi lautan (misalnya, permukaan laut yang lebih hangat
melepaskan lebih banyak karbon dioksida yang terlarut di dalamnya), atau
oleh variasi geomagnetik (neutron memiliki momen magnetik dan akan
dipengaruhi oleh perubahan siklis medan magnetik bumi). Faktor lain, seperti
adanya supernova (ledakan bintang di akhir usianya), dapat menyebabkan
perubahan fluks sinar kosmis (radiasi gamma). Sinar kosmis, ketika
berinteraksi dengan atom-atom di bagian atas atmosfer, menghasilkan neutron
dan proton, dan neutron yang dihasilkan kemudian dapat bereaksi dengan
nitrogen untuk membentuk karbon-14. Adanya variasi level karbon-14 di
atmosfer berarti bahwa kalibrasi diperlukan dalam hal penentuan umur.
Kalibrasi ini dilakukan dengan memanfaatkan objek lain yang telah diketahui
umurnya, sehingga dapat dilakukan koreksi terhadap rasio

hasil

pengukuran pada objek yang akan ditentukan umurnya. Dengan demikian,


pengaruh berubah-ubahnya laju produksi karbon-14 dapat dihilangkan. Cara

elegan untuk melakukan kalibrasi ini adalah dengan membandingkan umur


yang ditentukan oleh hasil pengukuran karbon-14 dengan usia pepohonan.
Usia pepohonan ditentukan dengan menghitung cincin pertumbuhan tahunan
pada pohon-pohon yang berusia sangat tua, seperti sequoia dan jenis pinus
tertentu (beberapa jenis pinus jerman berusia 10.000 tahun). Penentuan umur
dengan radiokarbon memberikan hasil yang akurat selama objek yang akan
ditentukan umurnya masih berada dalam kisaran 10.000 tahun yang telah
dikalibrasi. Pada dasarnya, dimungkinkan untuk menentukan umur objek
sampai dengan 50.000 tahun, tetapi dalam prakteknya, untuk umur yang lebih
tua daripada 10.000 tahun, tidak ada metode kalibrasi yang dapat digunakan,
sampai baru-baru ini setelah ditemukannya suatu metode baru. Sebelum itu,
kesalahan (error) dalam menentukan umur diperkirakan bisa mencapai 3000
tahun.
Metode kalibrasi terbaru tersebut dilakukan oleh Kitagawa dari
International Center for Japanese Studies dan van der Plicht di University of
Goningen, Netherlands. Mereka menganalisis lebih dari 250 contoh fosil yang
diambil dari deposit sedimen yang terbentuk lapisan demi lapisannya setiap
tahun di Danau Suigetsu di Jepang. Menghitung jumlah lapisan sedimen
analog dengan menghitung cincin pertumbuhan tahunan pada pepohonan.
Data yang diperoleh dari sedimen-sedimen berusia muda sangat cocok dengan
data yang diperoleh dari cincin pepohonan. Dengan menggunakan pengukuran
dari banyak percobaan berbeda, kedua peneliti ini mampu memplot kurva
kalibrasi yang membandingkan antara umur yang disimpulkan dari
pengukuran proporsi karbon-14 dengan umur yang disimpulkan dari sumbersumber lain. Secara umum, umur sebenarnya (actual age) dari sebuah objek
sedikit lebih kecil daripada umur yang diperoleh dengan metode karbon-14.
Perbedaan ini biasanya dapat diabaikan untuk periode yang tercatat dari
sejarah manusia, tetapi bisa berarti diperlukannya koreksi yang signifikan
untuk periode-periode sebelumnya. Kalibrasi ini hasilnya sama dengan hasil

dari usaha kalibrasi lain yang menggunakan data lebih sedikit, selain itu juga
memberi hasil yang sama dengan metode radioisotop lainnya (yang
menggunakan uranium dan thorium) dalam suatu penelitian untuk
mengestimasi umur karang laut.
Diperluasnya kalibrasi karbon-14 ini memiliki arti penting dalam
upaya memastikan akurasi penentuan umur bahan organik, dan juga, lebih
dari itu, memungkinkan kita untuk memperoleh pengertian yang lebih
mendalam tentang variasi lautan dan iklim planet bumi dihubungkan dengan
zaman es terakhir, tentang medan magnetik bumi, dan tentang fluktuasi dalam
produksi radioisotop di atmosfer.
E. Menentukan umur fosil mengunakan Carbon-14
Unsur C-14 yaitu dapat menghasilkan bahan radioaktif beta negatif
dan memiliki waktu paruh yang panjang yaitu 5.730. Sehingga hal ini bisa
digunakan untuk menentukan umur suatu fosil. Karena setiap mahluk hidup
mengandung unsur ini maka dapat digunakan untuk mengidentifikasi fosil.
Cara mengidentifikasi fosil tersebut ialah mengambil sampel dari mahluk
tersebut kemudian dilakukan dengan pencacahan untuk mengetahui jumlah
atom yang ada di mahluk tersebut yaitu dengan mengetahui jumlah atomnya
maka dapat menentukan waktu paruh dari unsur itu . Rumus untuk
menghitung berapa tua sebuah sampel dengan penanggalan carbon-14 adalah :
t = [ ln (Nf/No) / (-0.693) ] x t1/2
dimana ln adalah logaritma natural, Nf/No adalah persentase carbon-14 dalam
sampel dibandingkan dengan jumlahnya dalam jaringan hidup, dan t1/2
adalah waktu paruh carbon-14 (5.700 tahun).Jadi, bila ditemukan fosil dengan
10 persen carbon-14 dibandingkan sampel hidup, maka fosil itu akan berusia

t = [ ln (0.10) / (-0.693) ] x 5,700 tahun


t = [ (-2.303) / (-0.693) ] x 5,700 tahun
t = [ 3.323 ] x 5,700 tahun
t = 18,940 tahun
Sehingga dapat ditentukan umur suatu fosil.

Daftar Pustaka

Informasi pada: http://fisikazone.com/reaksi-inti/ diakses tanggal 3 mei 2015.


Kamen, Martin D. 1963. "Early History of Carbon-14: Discovery of this
supremely important tracer was expected in the physical sense but not in the

chemical sense".
Informasi pada: http://www.chem-is-

try.org/artikel_kimia/kimia_analisis/penentuan_umur_dengan_c_14/
Diakses tanggal 3 mei 2014
Aryanto.2011.Kegunaan Isotop C-14 untuk menentukan umur fosil.
http://aryanto.blog.uns.ac.id/2011/04/20/kegunaan-isotop-c-14-untukmenentukan-umur-fosil/ diakses tanggal 3 Mei 2015