Anda di halaman 1dari 7

A.

Asuhan Keperawatan Post Partum


Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan post partum adalah
sebagai berikut :

Nyeri berhubungan dengan trauma mekanis, proses involusi, dan luka


episiotomy
Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan
berlebihan (muntah, diaforesis, peningkatan haluaran urine dan hemoragi
Perubahan pola eleminasi BAK (disuria) b/d trauma perineum dan saluran
kemih.
Resiko Infeksi dengan trauma jaringan atau kerusakan kulit, dan prosedur
invasive
Perubahan pola eleminasi BAB (konstipasi) b/d kurangnya mobilisasi; diet
yang tidak seimbang; trauma persalinan.
Gangguan pemenuhan ADL b/d immobilisasi; kelemahan.
Resiko gangguan proses parenting b/d kurangnya pengetahuan tentang cara
merawat bayi.
Resiko perubahan peran menjadi orang tua b/d kurang dukungan diantara
orang terdekat tidak tersedianya model peran.

1. Perencanaan
Perencanaan dalam proses keperawatan lebih dikenal dengan rencana asuhan
keperawatan atau rencana keperawatan, yang merupakan tahap selanjutnya
setelah pengkajian dan penentuan diagnosa keperawatan. (Doenges, tahun 2001).
Rencana tindakan
keperawatan pada pasien dengan post partum
berdasarkan teori dari buku Mariilyn E. Dongoes, "Rencana Asuhan
Keperawatan Matemal/bayi, 2001 adalah sebagai berikut :
Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri berhubungan
dengan trauma
mekanis, proses
involusi dan luka
episiotomi

Tujuan dan Kriteria Hasil


Tujuan : Klien dapat beradaptasi
dengan, nyeri dan nyeri dapat
berkurang.
Kriteria hasil :
Klien mengungkapkan rasa
nyeri berkurang
Keadaan umum baik dan
klien rileks
Klien mampu menerapkan
intervensi khusus untuk
mengatasi ketidaknyamanan

Intervensi

1) Kaji tingkat kenyamanan.


Tentukan adanya lokasi
dan sifat
ketidaknyamanan.

2) Inspeksi perbaikan
perineum dan episiotomi.
Perhatikan edema,
ekimosis, nyeri tekan
local.

3) Kaji kontraksi uterus,


konsistensi dan frekuensi
after pain.

2. Resiko kekurangan
volume cairan
berhubungan dengan
kehilangan cairan
berlebih (muntah,
peningkatan haluaran
Urine dan hemoragi).

Tujuan : Volume cairan adekuat


Kriteria Hasil :
Masukan cairan dan haluran
seimbang
Tanda-Tanda vital dalam
batas normal

1) Kaji proses intrapartal,


penggunaan induksi
dan partus lama

2) Perhatikan adanya rasa


haus, berikan cairan
sesuai toleransi.
3) Dengan perlahan
massage fundus bila
uterus menonjol.

4) Kaji tekanan darah dan


suhu sesuai indikasi.

5) Evaluasi status kandung


kemih, tingkatkan
pengosongan bila
kandung kemih penuh.

6) Pantau pengisian

3. Perubahan pola
eleminasi BAK
(disuria) b/d trauma
perineum dan saluran
kemih.

Pola eleminasi (BAK) pasien


teratur.
Kriteria hasil: eleminasi BAK
lancar, disuria tidak ada, bladder
kosong, keluhan kencing tidak ada.

payudara dan suplai


ASI bila menyusui.

1) Kaji haluaran urine,

keluhan serta
keteraturan pola
berkemih.

2) Anjurkan pasien
melakukan ambulasi
dini.

3) Anjurkan pasien untuk


membasahi perineum
dengan air hangat
sebelum berkemih.
4) Anjurkan pasien untuk
berkemih secara teratur.

5) Anjurkan pasien untuk

minum 2500-3000
ml/24 jam.

6) Kolaborasi untuk

4. Resiko infeksi
berhubungan dengan
trauma jaringan,
kerusakan kulit dan
prosedur inpasif.

Tujuan :Infeksi tidak terjadi


Kriteria hasil :
Klien bebas dari infeksi
Luka bebas dari drainase
purulen.

melakukan kateterisasi
bila pasien kesulitan
berkemih.
1) Kaji catatan prenatal
dan intrapartal,
perhatikan frekuensi
pemeriksaan vagina dan
komplikasi seperti
persalinan lama,
hemoragi, dan
tertahannya plasenta

2) Pantau suhu, nadi

dengan rutin, catat


tanda-tanda menggigil,
anoreksia dam malaise

3) Kaji lokasi dan

kontraktilitas uterus,
perhatikan perubahan
involusinya atau adanya
nyeri tekan ekstrim.

4) Catat jumlah dan bau

lochea atau perubahan


pada kemajuan normal
dari rubra menjadi
serosa.

5) Evaluasi kondisi

putting, perhatikan
adanya pecah-pecah,
kemerahan dan nyeri
tekan.

6) Anjurkan klien mencuci


dengan bersih daerah
perineumnya setiap
sehabis BAK dan
kompres bethadine
pada perineum setiap
habis mandi dan rajin
mengganti pembalut.
7) Anjurkan untuk
mengkonsumsi
makanan tinggi protein,
vitamin C dan zat besi
serta minum sampai

5. Perubahan pola
eleminasi BAB
(konstipasi) b/d
kurangnya mobilisasi;
diet yang tidak
seimbang; trauma
persalinan.

Pola eleminasi (BAB) teratur.


Kriteria hasil: pola eleminasi
teratur, feses lunak dan warna khas
feses, bau khas feses, tidak ada
kesulitan BAB, tidak ada feses
bercampur darah dan lendir,
konstipasi tidak ada.

2000 ml/hari.
1) Kaji pola BAB,
kesulitan BAB, warna,
bau, konsistensi dan
jumlah.

2) Anjurkan ambulasi
dini.

3) Anjurkan pasien untuk


minum banyak 25003000 ml/24 jam.

4) Kaji bising usus setiap


8 jam.

5) Pantau berat badan


setiap hari.

6) Anjurkan pasien makan


banyak serat seperti
buah-buahan dan sayursayuran hijau.

6. Gangguan pemenuhan
ADL b/d immobilisasi;
kelemahan.

ADL dan kebutuhan beraktifitas


pasien terpenuhi secara adekuat.
Kriteria hasil:
Menunjukkan
peningkatan
dalam beraktifitas.
Kelemahan dan kelelahan
berkurang.
Kebutuhan ADL terpenuhi
secara mandiri atau dengan
bantuan.
frekuensi jantung/irama dan
Td dalam batas normal.
kulit hangat, merah muda dan
kering

1) Kaji toleransi pasien


terhadap aktifitas
menggunakan
parameter berikut: nadi
20/mnt di atas frek nadi
istirahat, catat
peningaktan TD,
dispnea, nyeri dada,
kelelahan berat,
kelemahan, berkeringat,
pusing atau pinsan.

2) Tingkatkan istirahat,
batasi aktifitas pada
dasar nyeri/respon
hemodinamik, berikan
aktifitas senggang yang
tidak berat.

3) Kaji kesiapan untuk


meningkatkan aktifitas
contoh: penurunan
kelemahan/kelelahan,
TD stabil/frek nadi,
peningaktan perhatian
pada aktifitas dan

perawatan diri.

4) Dorong memajukan
aktifitas/toleransi
perawatan diri.

5) Anjurkan keluarga
untuk membantu
pemenuhan kebutuhan
ADL pasien.

6) Jelaskan pola

7. Resiko gangguan
proses parenting b/d
kurangnya
pengetahuan tentang
cara merawat bayi.

Gangguan proses parenting tidak


ada.
Kriteria hasil: ibu dapat merawat
bayi secara mandiri (memandikan,
menyusui).

peningkatan bertahap
dari aktifitas, contoh:
posisi duduk ditempat
tidur bila tidak pusing
dan tidak ada nyeri,
bangun dari tempat
tidur, belajar berdiri dst
1) Beri kesempatan ibu
untuk melakuakn
perawatan bayi secara
mandiri.

2) Libatkan suami dalam


perawatan bayi.

3) Latih ibu untuk

perawatan payudara
secara mandiri dan
teratur.

4) Motivasi ibu untuk

meningkatkan intake
cairan dan diet TKTP.

5) Lakukan rawat gabung


sesegera mungkin bila
tidak terdapat
komplikasi pada ibu
atau bayi

8. Resiko perubahan

Tujuan : dapat memahami adanya 1)

Kaji kelemahan, usia,

peran menjadi orang


tua b/d kurang
dukungan diantara
orang terdekat tidak
tersedianya model
peran.

perubahan proses dalam keluarga.


Kriteria hasil :
Mengungkapan
masalah
dan pertanyaan tentang
menjadi orang tua
Secara
aktif
mulai
melakukan tugas perawatan 2)
bayi baru lahir dengan tepat

status perkawinan,
ketersediaan sumber dan
latar belakang.

Perhatikan respon
klien/pasangan terhadap
kelahiran dan peran
menjadi orang tua

3)

Kaji sifat dari orangtua


secara emosi dan fisik
yang pernah dialami
klien/pasangan selam
masa kanak-kanak

4)

Kaji keterampilan
komunikasi interpersonal
pasangan dan hubungan
mereka satu sama lain

5)

Berikan rawat bersama


dan privasi untuk kontak
diantara ibu, ayah, dan
bayi.

2. Implementasi
3. Perawat mengimplementasikan dari rencana keperawatan yang telah disusun
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien secara optimal. Implementasi keperawatan
terdiri dari 7 proses yaitu:
a. Bekerja sama dengan pasien dalam pelaksanaan tindakan Keperawatan.
b. Kolaborasi profesi kesehatan, meningkatkan status kesehatan.
c. Melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah kesehatan klien.
d. Melakukan supervisi terhadap tenaga pelaksanaan, tenaga keperawatan dibawah
tanggung jawabnya.
e. Menjadi coordinator pelayanan dan advokasi terhadap klien tentang status
kesehatan dan fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada.
f. Memberikan pendidikan kepada klien tentang status keluarga mengenai konsep,
keterampilan asuhan diri serta membantu klien memodifikasi lingkungan yang
digunakan.
g. Mengkaji ulang dan merevisi pelaksanaan tindakan keperawatan berdasarkan
respon klien.
4.
5. Evaluasi
6. Evaluasi klien terhadap asuhan yang diberikan dan pencapaian hasil yang
diharapkan (yang dikembangkan dalam fase perencanaan didokumentasikan dalam
rencana perawatan) adalah tahap
akhir dari proses keperawatan. Fase evaluasi
perlu untuk menentukan seberapa baik rencana asuhan tersebut berjalan, dan
bagaimana selama proses yang terus menerus. Revisi rencana perawatan adalah
komponen penting dari fase evaluasi.
7. Pengkajian ulang adalah proses evaluasi yang terus-menerus yang terjadi tidak
hanya bila hasil yang di harapkan terjadi pada klien ditinjau ulang atau bila keputusan
dibutuhkan apakah klien siap atau tidak untuk pulang. Sebaliknya hal ini adalah
pemantauan konstan terhadap status klien.
8.