Anda di halaman 1dari 3

Colok Dubur (Toucher rectal)

Untuk melakukan pemeriksaan pada daerah dubur sangat penting kita melihat jelas (inspeksi).
Sebaiknya penderita disuruh bersikap sujud dengan bertopang pada lutut dan siku diatas tempat tidur.
Dengan posisi ini, maka anus berada kira-kira setinggi mata kita. Untuk orang yang sakit serta orang yang
berusia lanjut, posisi terlentang merupakan posisi yanmg paling menyenangkan.
Ketentuan lain mengatakan sebelum melakukan colok dubur, harus dipastikan dahulu bahwa
kandung kemih penderita benar-benar kosong. Kandung kemih yang penuh akan merintangi colok dubur
yang harus kita lakukan serta akan memberikan tafsiran-tafsiran yang salah. Juga rectum bagian distal
harus kosong.
Inspeksi :
Perhatikan lebih dahulu kulitnya,untuk mencari kemungkinan adanya :
1.
2.
3.
4.
5.

Eksim
Bekas-bekas parut
Lubang-lubang fistel
Pembengkakan
Ulsera

Toucher (colok dubur)


Tindakan ini dapat memberikan keterangan-keterangan tentang rectum bagian distal (+/- 8cm),
prostat, vesikula seminalis, ekskavasio rektovesikalis pada pria dan partio, uterus dan ekskavatio
rektovaginalis pada wanita.
Teknik Colok Dubur :
Penderita harus kita tenangkan serta yakinkan lebih dahulu dengan cara menjelaskan kepadanya,
apa yang kita kerjakan, disertai suatu jaminan bahwa kita akan melaksanakan dengan hati-hati. Bukan
hanya jari kita yang memakai sartung tangan itu saja yang harus dilicinkan dengan mempergunakan
bahan pelican (vaselin dll) tetapi yang lebih penting adalah agar anus dan daerah sekitarnya, terutama
rambut yang terdapat disekitar anus, juuga harus dilicinkan dengan baik. Kemudian jari telunjuk yang
direntangkan kita letakan di tepi perineum, dengan ujung jari yang bersangkutan tepat berada setinggi
anus. Kalau kita sekarang menekan kuat dengan jari yang direntangkan itu maka muskulus sfingter ani
akan menurut dan membiarkan jari kita masuk ke anus.
Urutan sistematis bekerja dengan toucher :

1. Tentukan tonus muskulus sfingter 9lembek pada kelumpuhan, robekan atau homofili, kejang pada
fisura), parut-parut luka bekas pembedahan yang terdahulu, prolaps.
2. Lakukan penekanan dengan hati-hati dan berturut-turut pada semua arah. Tanda yang patognomis
suatu fisura adalah perasaan nyeri tekan selektif yang hebat, tepat pada bagian dorsal, pada
tempat dimana terdapat fisura yang praktis memang selalu terletak pada bagian dorsal.
3. Bila jari menggeser lebih jauh sedikit lagi kedalam dan tgentukan kedalaman selaput lender
rectum secara melingkar. Hemoroid interna tidak mungkin dapat diraba kecuali telah mengalami
thrombosis. Polip merupakan pembengkakan lunak yang licin,bertangkai. Karsinoma
merupakan pembengkakan yang amat padat, keras serta tidak rata, sering mempunyai dinding dan
kawah sentral.
4. Radang : dalam proses radang atau tumor daerah perineal, kita dapat mencoba untuk
melokalisasi infiltrate atau abses diantara ujung jari telunjuk yang berada dalam rfektum dan
ujung jari ibu yang berada diluar anus.
5. Prostat : dalam keadaan normal prostat ditemukan kurang lebih 2cm kranial dari tepi sfingter
pada pemeriksaan colok dubur, besarnya kira-kira sebesar buah kastanye dengan konsistensi
lunak atau kenyal lunak. Pada hipertrofi prostat : lekuk median sebagian besar menghilang dan
puncak prostat serta batas lateral prostat sulit atau tidak bias diraba.
6. Vesikula seminalis : dalam keadaan normal tidak dapat diraba. Pada proses infeksi alat kelamin
pria, vesikula seminalis ini mungkin teraba sebagai struktur yang nyeri.
7. Ekskavasio rektovaginalis dan eksavasio retrovesikalis : kedua struktur ini tepat dapat dicapai
oleh jari yang melakukan colok dubur. Maksud dari pemeriksaan ini adalah untuk menetapkabn
adanya peritonitis, suatu infiltrat atau suatu metastasis. Infiltrasi akan memperlihatkan dirinya
sebagai sesuatu massa yang menonjol, dan menimbulkan rasa nyeri yang menyeluruh. Metastasis
dapat kita raba sebagai benjolan-benjolan yang tidak rata, kadang-kadang hanya terdapat sebuah
saja, akan tetapi lebih sering dari sebuah.
8. Bila kita mengalami kesulitan uuntuk mencapai tempat kelainan yang berada dalam rectum,
sebaiknya suruh penderita jongkok diatas meja periksa dengan punggung menghadap kepada
pemeriksa dan lakukan colok dubur sekali saja.
9. Pemeriksaan raba bimanual, dengan jari telunjuk tangan kanan berada dalam rketum dan tangan
kiri diatas perut bawah, kadang-kadang dapat memberi keterangan tambahan yang berharga.
10. Ssebagai penurtup dari p[ada pemeriksaan colok dubur ini kita berusaha untuk mencapai, meraba
dengan jari kita, struktur bagian tulang panggul kecil.
11. Setelah selesai melakukan colok dubur, lihat apakah pada sarung tangan yang kita pergunakan
menempel darah, lender atau nanah. Jangan lupa memperhatikan warna dan konsistensi tinja
penderita.

Widjaja AR. Colok dubur (toucher rectal). Pemeriksaan dasar ilmu bedah. Jakarta: Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Trisakti;2012.p.51-4