Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMASI FISIKA
Kelarutan Pengaruh Surfaktan
Disusun oleh:
Kelompok 2
Fitri Bella Mustika S.
Tia Fitriani Kusuma
Novia Andriani
Ramanani Febriani
Maulidina Sekar Ayu
Ghina Kholidaturizqi

(P1733511
4002)
(P1733511
4008)
(P1733511
4024)
(P1733511
4029)
(P1733511
4033)
(P1733511

Mutia Quratu Ayuni


Indah Putri P.
Nela Dwi Astuti
Hanifa Fauziyah
Febriana Yusni Dewi

4036)

Kelas : 2 A
Dosen pembimbing:
Hanifa Rahma, M.Si., Apt.

POLTEKKES KEMENKES BANDUNG


JURUSAN FARMASI

(P1733511
4046)
(P1733511
4049)
(P1733511
4054)
(P1733511
4059)
(P1733511
4064)

2015
A Tujuan Praktikum
1 Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif.
2 Menjelaskan pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat.
B Dasar Teori
Definisi Kelarutan
Kelarutan didefenisikan dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut
dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, dan secara kualitatif didefenisikan sebagai
interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk dispersi molekuler homogen.
Larutan dinyatakan dalam mili liter pelarut yang dapat melarutkan satu gram zat. Kelarutan
dapat pula dinyatakan dalam satuan molalitas, molaritas dan persen (Martin, A. N, 1969).
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut,
misal: terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang
saling bercampur (KEMENKES RI, 2015). Melarut tidaknya suatu zat dan besarnya kelarutan
sebagian besar tergantung pada sifat serta intensitas kekuatan yang ada pada zat terlarut,
pelarut, dan resultan interaksi zat terlarut-pelarut. Sifat energi interaksi ini, dan peran faktorfaktor elektronik serta sterik dalamn menentukan kelarutan zat-zat dalam berbagai golongan
pelarut .Larutan jenuh adalah suatu larutan di mana zat terlarut berada dalam kesetimbangan
dengan fase padat (zat terlarut) (Martin, A. N, 1969).
Tipe Larutan (Martin, A. N, 1969).
Zat Terlarut
Gas
Zat cair
Zat padat
Gas
Zat cair
Zat padat
Gas
Zat cair
Zar padat

Pelarut
Gas
Gas
Gas
Zat cair
Zat cair
Zat cair
Zat padat
Zat padat
Zat padat

Contoh
Udara
Air dalam oksigen
Uap Iodium dalam Udara
Air berkarbonat
Alkohol dalam air
Larutan Natrium Klorida dalam air
Hidrogen dalam Paladium
Minyak mineral dalam Parafin
Campuran emas-perak, campuran alum

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu zat adalah:


1. pH
2. Temperatur
2

3.
4.
5.
6.

Jenis pelarut
Bentuk dan ukuran partikel
Konstanta dielektrik pelarut
Adanya zat-zat lain, misalnya surfaktan pembentuk kompleks ion sejenis dan lainlain.

Surfaktan
Surfaktan

merupakan

suatu

molekul

yang

sekaligus

memiliki

gugus

hidrofilik dan gugus lipofilik sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari air
dan minyak. Surfaktan adalah bahan aktif permukaan. Aktifitas surfaktan diperoleh karena
sifat ganda dari molekulnya. Molekul surfaktan memiliki bagian polar yang suka akan air
(hidrofilik) dan bagian non polar yang suka akan minyak/lemak (lipofilik). Bagian polar
molekul surfaktan dapat bermuatan positif, negatif atau netral. Sifat rangkap ini yang
menyebabkan surfaktan dapat diadsorbsi pada antar muka udara-air, minyak-air dan zat padatair, membentuk lapisan tunggal dimana gugus hidrofilik berada pada fase air dan rantai
hidrokarbon ke udara, dalam kontak dengan zat padat ataupun terendam dalam fase minyak.
Umumnya bagian non polar (lipofilik) adalah merupakan rantai alkil yang panjang, sementara
bagian yang polar (hidrofilik) mengandung gugus hidroksil. (Jatmika, 1998)
Penambahan surfaktan dalam larutan akan menyebabkan turunnya tegangan
permukaan larutan. Setelah mencapai konsentrasi tertentu, tegangan permukaan akan konstan
walaupun konsentrasi surfaktan ditingkatkan. Bila surfaktan ditambahkan melebihi
konsentrasi ini maka surfaktan mengagregasi membentuk misel. Konsentrasi terbentuknya
misel ini disebut Critical Micelle Concentration (CMC). Tegangan permukaan akan menurun
hingga CMC tercapai. Setelah CMC tercapai, tegangan permukaan akan konstan yang
menunjukkan bahwa antar muka menjadi jenuh dan terbentuk misel yang berada dalam
keseimbangan dinamis dengan monomernya (Genaro, 1990).
Tween 80 dapat menurunkan tegangan antarmuka antara obat dan medium sekaligus
membentuk misel sehingga molekul obat akan terbawa oleh misel larut ke dalam medium
(Martinet al., 1993). Penggunaan surfaktan pada kadar yang lebih tinggi akan berkumpul
membentuk agregat yang disebut misel. Selain itu pada pemakaiannya dengan kadar tinggi
sampai Critical Micelle Concentration (CMC) surfaktan diasumsikan mampu berinteraksi
kompleks dengan obat tertentu selanjutnya dapat pula mempengaruhi permeabilitas membran
tempat absorbsi obat karena surfaktan dan membranmengandung komponen penyusun yang
sama (Attwood & Florence, 1985; Sudjaswadi,1991).
Salah satu sifat penting dari surfaktan adalah kemampuan untuk meningkatkankalarutan
bahan yang tidak larut atau sedikit larut dalam medium dispersi. Surfaktan pada konsentrasi
3

rendah, menurunkan tegangan permukaan dan menaikkan laju kelarutan obat(Martinet al.,
1993). Sedangkan pada kadar yang lebih tinggi surfaktan akan berkumpul membentuk agregat
yang disebut misel (Shargelet al.,1999).
Klasifikasi surfaktan berdasarkan muatannya dibagi menjadi empat golongan yaitu:
1. Surfaktan anionik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu anion.
Contohnya adalah garam alkana sulfonat, garam olefin sulfonat, garam sulfonat asam
lemak rantai panjang.
2. Surfaktan kationik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu kation.
Contohnya garam alkil trimethil ammonium, garam dialkil-dimethil ammonium dan
garam alkil dimethil benzil ammonium.
3. Surfaktan nonionik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya tidak bermuatan. Contohnya
ester gliserin asam lemak, ester sorbitan asam lemak, ester sukrosa asam lemak,
polietilena alkil amina, glukamina, alkil poliglukosida, mono alkanol amina, dialkanol
amina dan alkil amina oksida.
4. Surfaktan amfoter yaitu surfaktan yang bagian alkilnya mempunyai muatan positif dan
negatif. Contohnya surfaktan yang mengandung asam amino, betain, fosfobetain.
C Alat dan Bahan:
Alat:
-

Batang pengaduk
Kaca arloji
Timbangan analitik
Gelas ukur

Gelas kimia
Corong
Buret
Erlenmeyer

NaOH
Tween 80

Bahan:
-

Aquadest
Kertas saring
Asam benzoat
Fenolftalein

D Prosedur Kerja
:
1 Buatlah larutan dengan komposisi berikut dalam gelas kimia:
-

Bahan

W-

W-

W-

W-

Air

1
-

2
2 -

3
2 -

4
2 -

5
2 -

(ml)

Tween

80

,2

0 ,4

0 -

0 -

,6

0 -

,8

2
3

Aduk sampai homogen. Masing-masing gelas kimia diberi label.


Tambahkan asam benzoat sedikit demi sedikit ke dalam masing-masing larutan hingga

diperoleh larutan yang jenuh.


Kocok larutan dengan batang pengaduk selama beberapa menit. Jika ada endapan yang larut
selama pengocokan, tambahkan lagi asam benzoat sampai diperoleh larutan yang jenuh

5
6

kembali.
Larutan disaring menggunakan corong dan kertas saring.
Tentukan kadar asam benzoat yang terlarut dalam masing-masing larutan dengan cara titrasi
sebagai berikut. Pipet 5 ml larutan zat, tambahkan ke dalamnya 3 tetes indikator fenolftalein
lalu dititrasi dengan NaOH 0,1 N sampai timbul warna merah muda. Lakukan penetapan

duplo.
Buatlah kurva antara kelarutan asam benzoat dengan konsentrasi tween 80 yang digunakan.
-

E Data hasil pengamatan


-

Data hasil titrasi dengan penetapan duplo:


- -

Komp
osisi pada
wadah ke-

(0

Vo
-

,2
-

Volume titrasi (ml)

g/

Perub

ahan

Ind

Warn

a
(TAT)

Fen

Mera
h
muda

0
m
-

l)
2

(0

Fen

,4

Mera
h
muda

g/
2
5

0
m
-

l)
3

(0
,6

g/

Fen

Mera
h
muda

0
m
-

l)
4

(0
,8

g/

Fen

Mera
h
muda

0
m
-

l)
5

(1
g/

2
0

Fen

l)
Perhitungan

Kadar=

ml NaOH x N NaOH x BE Asam Benzoat x 100


Volume pemipetan x 1000

Diketahui: BE Asam Benzoate = 122,12 gr/mol


1. Wadah 1
-

Kadar W 1=

Mera
h
muda

2,3 ml x 0,1 x 122,12 x 100


5 x 1000
6

= 0,56%

2. Wadah 2
-

Kadar W 2=

Kadar W 3=

Kadar W 4=

Kadar W 5=

b
v

3,8 ml x 0,1 x 122,12 x 100


5 x 1000

= 0,93%

5. Wadah 5
-

b
v

3,35 ml x 0,1 x 122,12 x 100


5 x 1000

= 0,82%

4. Wadah 4
-

2,75 ml x 0,1 x 122,12 x 100


5 x 1000

= 0,67%

3. Wadah 3
-

b
v

b
v

4,8 ml x 0,1 x 122,12 x 100


5 x 1000

= 1,17%

b
v

Kurva

Konsentrasi Tween 80

Kelarutan Asam Benzoat

Pembahasan

Larutan adalah campuran homogen dari dua jenis zat atau lebih terdiri dari zat

terlarut (solut) dan zat pelarut (solven). Kelarutan atau solubility adalah Jumlah maksimum
zat yang dapat larut dalam sejumlah tertentu pelarut/larutan. Kelarutan suatu zat dapat
dipengaruhi oleh berbagai macam faktor dan dalam praktikum kali ini praktikan melakukan
percobaan mengenai pengaruh kelarutan suatu zat dengan faktor penambahan surfaktan.
-

Secara garis besar, percobaan diawali dengan melakukan pencampuran antara

air dan surfaktan dengan kadar yang berbeda, yakni 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5%. Perbedaan
konsentrasi surfaktan ini merupakan tolak ukur untuk melihat sejauh mana surfaktan
memiliki pengaruh terhadap kelarutan suatu zat. Setelah larutan selesai dibuat, maka ke
dalam masing-masing larutan tersebut ditambahkan sampel atau zat. Adapun surfaktan yang
digunakan dalam hal ini adalah Tween 80, sedangkan zat yang dilarutkan adalah Asam
benzoat. Asam benzoat ditambahkan hingga larutan mencapai titik jenuhnya. Larutan yang
telah jenuh ditandai dengan adanya partikel zat yang tidak dapat larut lagi meski telah
dilakukan pengocokan dengan kuat. Selain itu, larutan yang telah jenuh pun ditandai dengan
kekeruhan yang terbentuk pada larutan setelah dilakukan pengocokan, namun akan segera
hilang dan menimbulkan endapan. Larutan yang telah jenuh ini kemudian disaring untuk
selanjutnya dititrasi menggunakan NaOH 0,1 N sebagai titrat dengan indikator Fenolftalein
8

(PP). Larutan ini dititrasi untuk menentukan kadar zat atau Asam benzoat yang telah
ditambahkan tadi. Metode titrasi ini memiliki prinsip kerja menentukan kadar suatu larutan
dari suatu larutan lain yang telah diketahui konsentrasi ataupun kadarnya. Titrasi ini
dilakukan dalam suasana basa atau dikenal dengan Titrasi Alkalimetri, sebab larutan yang
akan ditentukan kadarnya termasuk ke dalam larutan yang bersifat asam, yaitu Asam
benzoat. Fenolftalein adalah salah satu indikator asam basa sintetik yang memiliki
rentang pH antara 8,00 10,0 dan memiliki pKa 9,4 (perubahan warna antara pH 8,4
10,4). Struktur fenolftalein akan mengalami penataan ulang pada kisaran pH tersebut karena
proton dipindahkan dari struktur fenol dari fenolftalein sehingga pHnya meningkat dan
terjadi perubahan warna (Sudjadi,2012). Pada larutan asam dan netral, fenolftalein tidak
berwarna. Sedangkan bila dimasukkan ke dalam larutan basa, warnanya akan berubah
menjadi merah, maka sangat cocok untuk dijadikan indikator dalam titrasi bersuasana basa.
Titrasi dilakukan hingga mencapai Titik Akhir Titrasi. Titik Akhir Titrasi ditandai dengan
perubahan warna yang stabil pada larutan yang dititrasi (titran) sebagai akibat dari
penambahan indikator.
-

Hasil pengamatan menunjukkan volume titrat atau volume NaOH 0,1 N yang

didapat dari titrasi berbeda-beda untuk setiap konsentrasi surfaktan, namun hasil data
volume NaOH 0,1 N ini terus meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi
surfaktan yang ditambahkan ke dalam larutan Asam benzoat yang jenuh tersebut. Artinya,
bahwa semakin besar konsentrasi surfaktan, maka semakin besar pula kelarutan Asam
benzoat dalam Air. Hal ini disebabkan karena surfaktan memiliki struktur berupa kepala
yang merupakan gugus polar dan ekor yang merupakan gugus non polar.
-

Apabila surfaktan didispersikan dalam Air pada konsentrasi rendah, maka

akan berkumpul pada permukaan dengan mengorientasikan bagian polar ke arah Air dan
bagian non polar ke arah udara membentuk lapisan monomolekuler di permukaan yang
memiliki mekanisme kerja menurunkan tegangan permukaan. Apabila surfaktan
didispersikan dalam jumlah tinggi hingga mencapai titik jenuhnya, maka surfaktan tidak
lagi berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan, namun berfungsi sebagai peningkat
kelarutan. Sebelum mencapai titik jenuhnya, surfaktan membentuk lapisan monomolekuler
di permukaan yang akan berubah ketika titik jenuhnya dicapai. Perlahan, molekul surfaktan
tidak lagi berada di permukaan, melainkan turun ke dalam larutan yang kemudian
membentuk agregat yang disebut misel dan menaikkan kelarutan. Konsentrasi saat misel
mulai terbentuk disebut Konsentrasi Misel Kritik atau Critical Miselle Consentration
9

(CMC). Ketika surfaktan yang ditambahkan tidak melebihi batas Konsentrasi Misel Kritik,
maka surfaktan akan berfungsi untuk menurunkan tegangan. Namun, ketika surfaktan yang
ditambahkan melebihi Konsentrasi Misel Kritik, maka fungsi surfaktan ini akan berubah
sebagai peningkat kelarutan. Misel ini berperan dalam proses solubilisasi miselar untuk
meningkatkan kelarutan zat yang agak sukar larut ataupun sukar larut dalam air.
G Kesimpulan
- Semakin besar konsentrasi surfaktan, maka semakin besar pula kelarutan Asam
benzoat dalam Air. Dengan demikian adanya surfaktan berpengaruh terhadap
kelarutan suatu zat.
H Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia edisi V,
Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Martin, Alfred, dkk. 1969. Farmasi Fisik Dasar-dasar Kimia Fisik dalam Ilmu
Farmasetik Edisi Ketiga Jilid Pertama. Pennsylvania : University of Texas
- http://ebook.sman1-slo.sch.id/Kimia/KIMIA%20XI%20PS/PDF/BAB%207.pdf
(diakses pada 12/09/2015 pukul 10.35 WIB)
-

10

- http://bisakimia.com/2013/11/09/indikator-asam-basa/

(diakses

pada

12/09/2015

pukul 10.35 WIB)


- http://shintarosalia.lecture.ub.ac.id/files/2012/09/KD-meeting-7.pdf
12/09/2015 pukul 10.35 WIB)

11

(diakses

pada

Anda mungkin juga menyukai