Anda di halaman 1dari 26

Munculnya Kesalahpahaman Komunikasi Bisnis Lintas Budaya

Pemilik perusahaan kayu Kalimantan yang memiliki latar belakang


orang Jawa Tengah akan bekerjasama dengan orang medan. Saat rapat
di ruangan negosiasi, direktur, manajer, dan calon investor orang
Batak ini saling berkomunikasi, namun dilihat dari logat bicara orang
Batak yang temperamen dan cenderung keras maka direktur pemilik
perusahaan kayu Kalimantan tersebut merasa tidak nyaman, dan
akhirnya kerjasama ini tidak dapat dilanjutkan lagi.
Dari contoh kasus tersebut dapat dilihat bahwa dalam sebuah
komunikasi antar budaya terjadi sebuah gangguan (noice) yang dapat
berakibat fatal. Sebenarnya tata bahasa yang dilakukan oleh orang
Batak tersebut biasa saja menurut mereka, namun untuk pemilik
perusahaan kayu Kalimantan yaitu orang Jawa Tengah yang
kebanyakan halus tutur katanya, bahasa orang Batak tersebut
dianggap kasar dan terlalu emosional. Hal tersebut sangat dipengaruhi
adanya perbedaan antara kultur budaya pada suatu daerah tertentu.
Apabila pelaku bisnis akan melakukan ekspansi bisnisnya ke daerah
lain atau negara lain, pemahaman budaya di suatu daerah atau negara
tersebut menjadi sangat penting agar tidak terjadi kesalahan fatal
yang dapat mengakibatkan kegagalan bisnis khususnya bidang
pertanian.
Memahami Budaya dan Perbedaannya
Definisi Budaya
Budaya dapat didefinisikan bermacam-macam tergantung pada sudut
pandang setiap ahli. Berikut ini adalah beberapa definisi tentang
budaya.
Menurut Lehman, Himstreet dan Baty. Budaya diartikan sebagai
sekumpulan pengalaman hidup yang ada dalam masyarakat mereka
sendiri. Pengalaman hidup masyarakat tentu saja sangatlah banyak
dan variatif, termasuk di dalamnya bagaimana perilaku dan keyakinan
atau kepercayaan masyarakat itu sendiri.
Menurut Hofstede, budaya diartikan sebagai pemrograman kolektif
atas pikiran yang membedakan anggota-anggota suatu kategori orang
dari kategori lainnya. Dalam hal ini yang menjadi kata kunci budaya
adalah pemrograman kolektif yang menggambarkan suatu proses yang
mengikat setiap orang segera setelah kita lahir di dunia ini. Sebagai
contoh, di Jepang karika seorang bayi baru lahir, untuk beberapa tahun
awal si bayi tidur di kamar orang tuanya. Sedangkan di Inggris dan
Amerika, bayi yang baru lahir ditempatkan di kamar yang berbeda
beberapa minggu atau bulan kemudian.

Menurut Bovee dan Thill, budaya adalah system sharing atas simbolsimbol, kepercayaan, sikap, nilai-nilai, harapan, dan norma-norma
untuk berperilaku.
Dalam hal ini, semua anggota dalam budaya memiliki asumsi-asumsi
tersebut. Beberapa budaya ada yang dibentuk dari berbagai kelompok
yang berbeda-beda dan terpisah, tetapi ada juga yang memiliki
kecenderungan homohgen. Kelompok berbeda (distinct group) yang
ada dalam wilayah budaya mayoritas lebih tepat dikatakan sebagai
subbudaya (subcultures). Indonesia adalah sebuah contoh negara yang
memiliki subbudaya yang sangat beragam baik etnis maupun agama.
Hal ini berbeda dengan Jepang yang hanya memiliki beberapa
subbudaya dan cenderung bersifat homogen.
Menurut Murphy dan Hildebrandt, budaya diartikan sebagai tipikal
karakteristik perilaku dalam suatu kelompok. Pengertian tersebut juga
mengindikasikan bahwa komunikasi verbal dan nonverbal dalam suatu
kelompok juga merupakan tipikal dari kelompok tersebut dan
cenderung unik atau berbeda dengan yang lainnya.
Menurut Mitchel, budaya merupakan seperangkat nilai-nilai inti,
kepercayaan, standar, pengetahuan, moral, hukum, dan perilaku yang
disampaikan oleh individu-individu dan masyarakat, yang menentukan
bagaimana seseorang bertindak, berperasaan, dan memandang
dirinya serta orang lain. Budaya suatu masyarakat disampaikan dari
generasi ke generasi dan aspek-aspek seperti bahasa,
kepercayaan/keyakinan, adat, dan hukum, akan saling berkaitan dan
membentuk pandangan masyarakat akan otoritas, moral, dan etika.
Pada akhirnya budaya akan bermanifestasi ke dalam bagaimana
seseorang menjalankan bisnis, menegosiasikan kontrak atau
menangani hubungan bisnis potensial.

Komponen Budaya
Menurut Lehman, Himstreet dan Baty, setiap elemen terbangun oleh
beberapa komponen utamanya, yaitu: nilai-nilai (baik atau buruk,
diterima atau ditolak), norma-norma (tertulis dan tidak tertulis),
simbol-simbol (warna logo suatu perusahaan), bahasa, dan
pengetahuan. Menurut Mitchell, komponen budaya mencakup anatara
lain: bahasa, kepercayaan/keyakinan, sopan santun, adat istiadat, seni,
pendidikan, humor, dan organisasi sosial. Menurut Cateora, budaya
memiliki beberapa elemen, yaitu budaya material, lembaga sosial,
sistem kepercayaan, estetika, dan bahasa.
Budaya material (material culture) dibedakan ke dalam dua bagian,
yaitu teknologi dan ekonomi. Teknologi mencakup teknik atau cara
yang digunakan untuk mengubah atau membentuk material menjadi
suatu produk yang dapat berguna bagi masyarakat pada umumnya.

Pendududk di negara maju dan mempunyai tingkat teknologi tinggi


akan lebih mudah mengadopsi teknologi baru dibandingkan penduduk
di negara dengan tingkat teknologi rendah. Ekonomi dalam hal ini
dimaksudkan sebagai suatu cara orang menggunakan segala
kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi
dirinya maupun orang lain. Termasuk di dalamnya adalah segala
bentuk kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa, distribusi,
konsumsi, cara pertukaran, dan penghasilan yang diperoleh dari
kegiatan kreasi.
Organisasi sosial (social institution) dan pendidikan adalah suatu
lembaga yang berkaitan dengan cara bagaimana seseorang
berhubungan dengan orang lain, mengorganisasikan kegiatan mereka
untuk dapat hidup secara harmonis dengan yang lain, dan mengajar
perilaku yang dapat diterima oleh generasi berikutnya. Kedudukan pria
dan wanita dalam suatu masyarakat, keluarga, kelas sosial, dan
kelompok umur dapat ditafsirkan secara berbeda/berlainan dalam
setiap budaya. Pada masa lalu dalam masyarakat tertentu, kaum
wanita cenderung memiliki posisi yang relatif lemah daripada pria.
Namun, kini tanggapan seperti itu sudah tidak berlaku lagi. Pria dan
wanita memiliki kedudukan yang seimbang dalam meniti karier
masing-masing.
Sistem kepercayaan atau keyakinan (belief system) yang dianut oleh
suatu masyarakat akan berpengaruh terhadap sistem nilai yang ada di
masyarakat tersebut. Keyakinan yang dianut oleh suatu masyarakat
juga akan mempengaruhi kebiasaan-kebiasaan mereka, bagaimana
mereka memandang hidup dan kehidupan ini, jenis produk yang
mereka konsumsi dan cara bagaimana mereka membelisuatu produk.
Bahkan jenis pakaian yang dikenakan, jenis makanan yang dikonsumsi,
dan bacaan yang dibaca setiap harinya, sebenarnya juga tidak lepas
dari pengaruh yang kuat atas keyakinan atau kepercayaan yang dianut
seseorang.
Estetika (aesthetics) berkaitan dengan seni, dongeng, hikayat, musik,
drama dan tari-tarian. Nilai-nilai estetika yang ditunjukkan masyarakat
dalam berbagai peran tentunya perlu dipahami secara benar, agar
pesan yang disampaikan mencapai sasaran secara efektif. Contoh
sederhana, di kalangan masyarakat Barat ada yang beranggapan
angka 13 adalah angka yang akan membawa kesialan sehingga angka
13 sering dilewati dan dijadikan 14A.
Bahasa (language) adalah suatu cara yang digunakan seseorang dalam
mengungkapkan sesuatu melalui simbol-simbol tertentu kepada orang
lain. Bahasa adalah suatu komponen budaya yang paling sulit
dipahami. Meskipun demikian, bahasa sangatlah penting untuk
dipelajari dan dipahami dengan benar sehingga melalui bahasa orang
dapat memperoleh empati dan simpati dari orang lain. Untuk dapat

memahami bahasa asing secara baik dan benar diperukan ketekunan,


kesabaran, dan latihan yang cukup.
Tingkatan Budaya
Menurut Murphy dan Hildebrandt, dalam dunia praktis terdapat tiga
tingkatan budaya, yaitu:
Formal
Budaya pada tingkatan formal merupakan sebuah tradisi satu
kebiasaan yang dilakukan oleh suatu masyarakat yang turun temurun
dari satu generasi ke generasi berikutnya dan hal itu bersifat
formal/resmi. Dalam dunia pendidikan, tata bahasa Indonesia adalah
termasuk salah satu budaya tingkat formal yang mempunyai suatu
aturan yang bersifat formal dan terstruktur dari dulu hingga sekarang.
Contohnya, sebuah kalimat sebaiknya terdiri dari subjek, predikat,
objek. Dimensi waktu yang diukur dengan satuan tahun, bulan,
minggu, hari, jam, menit, dan detik juga termasuk bagian dari budaya
tingkat formal.
Informal
Pada tingkatan ini, budaya lebih banyak diteruskan oleh suatu
masyarakat dari generasi ke generasi berikutnya melalui apa yang
didengar, dilihat, dipakai (digunakan) dan dilakukan, tanpa diketahui
alasannya mengapa hal itu dilakukan. Contoh, mengapa seseorang
bersedia dipanggil dengan nama julukan bukan nama aslinya, hal
tersebut dilakukan karena dia tahu teman-temannya biasa memanggil
dengan nama julukan.
Teknis
Pada tingkatan ini, bukti-bukti dan aturan-aturanmerupakan hal yang
terpenting. Terdapat suatu penjelasan yang logis mengapa sesuatu
harus dilakukan dan yang lain tidak boleh dilakukan. Pada tingkat
formal, pembelajaran dalam budaya mencakup pembelajaran pola
perilakunya, sedangkan pada tingkatan teknis,aturan-aturan
disampaikan secara logis dan tepat, seperti kapan suatu kegiatan
tertentu dapat diprediksi waktunya secara tepat, seperti kapan suatu
kegiatan peluncuran roket bisa dimulai. Pembelajaran secara teknis
memiliki ketergantungan sangat tinggi pada orang yang mampu
memberikan alasan-alasan yang logis bagi suatu tindakan tertentu.
Mengenal Perbedaan Budaya
Nilai-Nilai Sosial
Secara umum orang-orang Amerika berpandangan bahwa uang akan
dapat mengatasi berbagai masalah, kekayaan yang diperoleh dari
usahanya sendiri merupakan sinyal superioritas, dan orang yang

bekerja keras lebih baik daripada yang tidak bekerja keras. Mereka
juga benci terhadap kemiskinan dan menghargai kerja keras. Di
Indonesia, khususnya orang-orang yang tinggal di daerah pedesaan
masih memiliki nilai-nilai kebersamaan yang tinggi, sementara ada
kecenderungan bahwa nilai gotong royong mulai memudar di daerah
perkotaan, seiring dengan semakin tingginya sikap individualistis.
Peran dan Status
Budaya menuntun peran yang akan dimainkan seseorang, termasuk
siapa berkomunikasi dengan siapa, apa yang mereka komunikasikan,
dan dengan cara bagaimana mereka berkomunikasi. Sebagai contoh, di
negara-negara yang sedang berkembang peran wanita dalam dunia
bisnis marih relatif rendah. Sementara, di negara-negara maju seperti
Amerika Serikat dan Eropa, peran wanita di dunia bisnis sudah cukup
kuat.
Begitu pula dalam hal konsep status, yang cara pandangnya berbeda
antara negara yang satu dengan negara yang lain. Kebanyakan status
para eksekutif di Amerika Serikat dilihat dari simbol-simbol yang
bernuansa materialistik. Status sebagai seorang eksekutif ditandai
dengan ruang sudut kantor yang luas, karpet mahal, meja kerja
eksekutif, dan sejumlah aksesoris yang menarik. Di Indonesia, status
seorang eksekutif dapat dilihat dari penataan ruang kerja yang
terkesan luks dan seberapa mewah jenis kendaraan yang digunakan.
Pengambilan Keputusan
Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada, para
eksekutif selalu berupaya secepat dan seefisien mungkin dalam
mengambil suatu keputusan penting. Umumnya, para manajer puncak
berkaitan dengan suatu keputusan pokok atau utama, sedangkan halhal yang lebih rinci diserahkan kepada manajer yang lebih bawa. Lain
halnya di Amerika Latin dan Jepang, proses pengambilan keputusan
yang dilakukan oleh manajer puncak umumnya berjalan lambat dan
bertele-tele.
Konsep Waktu
Sebagian besar penduduk negara maju sudah menyadari bahwa waktu
sangatlah berharga. Untuk menghemat waktu, para eksekutif Amerika
Serikat dan Jerman membuat rencana bisnis secara efisien dengan
memusatkan perhatian pada tugas tertentu pada periode tertentu.
Oleh karena waktu sangatlah terbatas, dalam berkomunikasi mereka
cenderung langsung menuju pada pokok persoalan (to the point) dan
cepat. Hal ini berbeda dengan para eksekutif dari Amerika Latin dan
Asia, yang umumnya memandang waktu relatif luwes/fleksibel.
Menurut mereka, menciptakan dasar-dasar hubungan bisnis lebih
penting daripada sekedar dapat menyelesaikan suatu pekerjaan.

Konsep Jarak Komunikasi


Sebagaimana masalah waktu, menjaga jarak komunikasi juga berbeda
untuk budaya yang berbeda. Ketika melakukan pembicaraan bisnis,
para eksekutif Amerika Serikat dan Kanada menjaga jarak sekitar 5
feet dari lawan bicara. Namun, bagi para eksekutif Jerman atau Jepang,
jarak komunikasi tersebut dirasakan kurang dekat. Sementara itu, para
eksekutif dari negara Timur Tengah mempunyai kecenderungan untuk
melakukan pembicaraan bisnis dengan jarak komunikasi yang relatif
dekat
Konteks Budaya
Salah satu dari berbagai macam cara orang menyampaikan pesannya
kepada orang lain sangat ditentukan konteks budaya. Di dalam konteks
budaya tinggi seperti Korea Utara atau Taiwan, orang kurang
tergantung pada komunikasi verbal, tetapi lebih banyak tergantung
pada komunikasi nonverbal. Dalam melakukan percakapan mereka
cenderung menyampaikan pesan-pesan secara tidak langsung
(indirect) yang disertai dengan ekspresi ataupun geraka-gerakan
tubuh; dalam konteks budaya rendah, seperti Amerika Serikat dan
Jerman, orang sangat tergantung pada komunikasi verbal dan bukan
komunikasi nonverbal. Jadi, dalam melakukan pembicaraan mereka
cenderung langsung pada persoalan atau disampaikan secara eksplisit
tanpa basa basi.
Bahasa Tubuh
Perbedaan bahasa tubuh sering kali menjadi sumber kesalahpahaman
berkomunikasi lintas budaya. Sering kali orang perlu mewaspadai
antara kata yang diucapkan dengan gerakan-gerakan tubuhnya agar
dapat diketahui apa maksud yang sebenarnya. Contohnya, sinyal
Tidak orang Amerika Serikat dan Kanada dengan mengerakkan
kepala ke kiri dan ke kanan namun orang Bulgaria dengan
menganggukkan kepala ke atas dan ke bawah atau membungkukkan
badan yang dilakukan di Jepang dapat dipandang oleh orang Amerika
Serikat sebagai sikap menjilat.
Bantuk bahasa tubuh lainnya adalah kontak mata. Mata adalah salah
satu bagian tubuh yang sangat ekspresif. Orang-orang Mediterania
menggunakan mata untuk berbagai tujuan antara lain: membelalakkan
mata (menyatakan kemarahan), mata berkedip (menyatakan
persengkongkolan), bulu mata bergetar (untuk memperkuat rayuan).
Perilaku Sosial
Apa yang dianggap sopan di suatu negara bisa jadi dianggap kurang
sopan di negara lain. Contohnya, di negara-negara Arab memberikan
suatu hadiah kepada istri orang lain dianggap tidak sopan, namun
tidak demikian jika diberikan kepada anak-anaknya.

Perilaku Etis
Perilaku yang etis dan tidak etis antarnegara pun bisa berbeda. Di
beberapa negara, perusahaan diharapkan membayar sejumlah uang
secara resmi untuk persetujuan kontrak pemerintah. Pembayaran
tersebut dianggap sebagai hal yang rutin, namun di negara Amerika
Serikat dan Swedia hal tersebut dikategorikan sebagai bentuk suap
sehingga tidak etis dan ilegal.
Perbedaan Budaya Perusahaan
Budaya organisasi adalah cara perusahaan dalam melaksanakan
sesuatu. Dengan kata lain, budaya organisasi mempengaruhi cara
orang bereaksi dengan orang lain. Ia juga dapat melihat bagaimana
pekerja melakukan tugasnya, bagaimana mereka menafsirkan dan
bereaksi satu sama lainnya, dan bagaimana mereka memandang
perubahan. Saat ini, banyak perusahaan di Amerika Serikat mencoba
membuat aliansi strategis dengan perusahaan asing dan sebagian
mengalami kegagalan. Salah satu alasan kegagalannya adalah
pertentangan budaya antara satu perusahaan dengan perusahaan
lainnya.
Negosiasi Lintas Budaya
Moran, Stahl & Boyer Internasional, sebuah perusahaan yang bergerak
di bidang pelatihan lintas budaya (cross-cultural training),
membedakan budaya dalam dua kelompok yaitu budaya permukaan
(surface culture) seperti makanan, liburan, gaya hidup, dan budaya
tinggi (deep culture), yang terdiri atas sikap dan nilai-nilai yang
menjadi dasar budaya tersebut.
Orang yang berasal dari budaya yang berbeda sering kali mempunyai
pendekatan negosiasi yang juga berbeda. Tingkat toleransi untuk suatu
ketidaksetujuan pun bervariasi. Contohnya, negosiator dari Amerika
Serikat cenderung relatif impersonal dalam melakukan negosiasi.
Mereka melihat tujuan mereka dalam sudut pandang ekonomi dan
biasanya mereka menganggap unsur kepercayaan penting di antara
mereka. Sebaliknya, para negosiator dari Cina dan Jepang lebih suka
pada suasana hubungan sosial. Jika ingin berhasil bernegosiasi, Anda
sebaiknya bersikap bersabar dan menguasai bagaimana hubungan
personal (pribadi) di Cina. Anda harus dapat menumbuhkan hubungan
personal sebagai dasar membangun kepercayaan dalam proses
negosiasi.
Di Perancis, hubungannya relatif kurang personal dan menyukai
suasana yang formal dan dimulai dengan unsur ketidakpercayaan
kepada pihak lain.
Negosiator dari budaya yang berbeda mungkin menggunakan teknik
pemecahan masalah dan metode pengambilan keputusan yang

berbeda. Jika mempelajari budaya partner Anda sebelum bernegosiasi,


Anda akan lebih mudah dalam memahami pandangan mereka. Lebih
lanjut, menunjukkan sikap luwes, hormat, sabar dan sikap bersahabat
akan membawa pengaruh yang baik bagi proses negosiasi yang
sedang berjalan, yang pada akhirnya dapat menemukan solusi yang
menguntungkan kedua belah pihak.

Komunikasi seringkali terganggu atau bahkan dapat menjadi buntu


sama sekali. Faktor hambatan yang biasanya terjadi dalam proses
komunikasi, dapat dibagi dalam 3 jenis sebagai berikut :
- Hambatan Teknis
Hambatan jenis ini timbul karena lingkungan yang memberikan
dampak pencegahan terhadap kelancaran pengiriman dan penerimaan
pesan. Dari sisi teknologi, keterbatasan fasilitas dan peralatan
komunikasi, akan semakin berkurang dengan adanya temuan baru di
bidang teknologi komunikasi dan sistim informasi, sehingga saluran
komunikasi dalam media komunikasi dapat diandalkan serta lebih
efisien.
- Hambatan Semantik
Gangguan semantik menjadi hambatan dalam proses penyampaian
pengertian atau idea secara efektif. Definisi semantik adalah studi atas
pengertian, yang diungkapkan lewat bahasa. Suatu pesan yang kurang
jelas, akan tetap menjadi tidak jelas bagaimanapun baiknya transmisi.
Untuk menghindari mis-komunikasi semacam ini, seorang komunikator
harus memilih kata-kata yang tepat dan sesuai dengan karakteristik
komunikannya, serta melihat dan mempertimbangkan kemungkinan
penafsiran yang berbeda terhadap kata-kata yang digunakannya.
- Hambatan Manusiawi
Hambatan jenis ini muncul dari masalah-masalah pribadi yang dihadapi
oleh orang-orang yang terlibat dalam komunikasi, baik komunikator
maupun komunikan.
Menurut Cruden dan Sherman, hambatan ini mencakup :
Hambatan yang berasal dari perbedaan individual manusia, seperti
perbedaan persepsi, umur, keadaan emosi, status, keterampilan
mendengarkan, pencarian informasi, penyaringan informasi.
Hambatan yang ditimbulkan oleh iklim psikologis dalam organisasi
atau lingkungan sosial dan budaya, seperti suasana dan iklim kerja
serta tata nilai yang dianut .
Ditinjau dari aspek bisnis, organisasi adalah sarana manajemen (dilihat
dari aspek kegiatannya). Korelasi antara Ilmu Komunikasi dengan
Organisasi terletak pada peninjauannya yang berfokus kepada

manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi.


Dalam lingkup organisasi, tujuan utama komunikasi adalah
memperbaiki organisasi, yang ditafsirkan sebagai upaya yang
dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan manajemen. Komunikasi
organisasi terjadi setiap saat. Dan dapat didefinisikan sebagai
pertunjukan dan penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang
merupakan bagian dari suatu organisasi. Suatu organisasi terdiri dari
unit-unit komunikasi dalam hubungan hierarchies antara satu dengan
lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan.
Komunikasi bisnis adalah proses pertukaran pesan atau informasi
untuk mencapai efektivitas dan efisiensi produk kerja di dalam struktur
(jenjang / level) dan sistem organisasi yang kondusif. Dalam kegiatan
komunikasi bisnis, pesan hendaknya tidak hanya sekedar informatif,
yaitu agar pihak lain mengerti dan tahu, tetapi juga haruslah Persuasif,
agar pihak lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan atau
melakukan suatu perbuatan atau kegiatan.
Dalam proses komunikasi semua pesan atau informasi yang dikirim
akan diterima dengan berbagai perbedaan oleh penerima
pesan/informasi, baik karena perbedaan latar belakang, persepsi,
budaya maupun hal lainnya. Untuk itu, suatu pesan atau informasi
yang disampaikan hendaknya memenuhi 7 syarat atau dikenal juga
dengan 7 C, yaitu :
1. Completeness (Lengkap)
Suatu pesan atau informasi dapat dikatakan lengkap, bila berisi semua
materi yang diperlukan agar penerima pesan dapat memberikan
tanggapan yang sesuai dengan harapan pengirim pesan
2. Conciseness (Singkat)
Suatu pesan dikatakan concise bila dapat mengutarakan gagasannya
dalam jumlah kata sekecil mungkin (singkat, padat tetapi jelas) tanpa
mengurangi makna, namun tetap menonjolkan gagasannya.
3. Consideration (Pertimbangan)
Penyampaian pesan, hendaknya menerapkan empati dengan
mempertimbangkan dan mengutamakan penerima pesan.
4. Concreteness (konkrit)
Penyampaian pesan hendaknya disampaikan dengan bahasa yang
gambalang, pasti dan jelas.
5. Clarity (Kejelasan)
Pesan hendaknya disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti
dan mudah diinterpretasikan serta memiliki makna yang jelas.
6. Courtessy (Kesopanan)
Pesan disampaikan dengan gaya bahasa dan nada yang sopan, akan
memupuk hubungan baik dalam komunikasi bisnis.
7. Correctness (ketelitian)
Pesan hendaknya dibuat dengan teliti, dan menggunakan tata bahasa,
tanda baca dan ejaan dengan benar (formal atau resmi).

II. Pentingnya Kemampuan Komunikasi Bisnis


Tantangan seorang manajer di masa depan relatif akan semakin sulit,
yang menuntut kemampuan untuk mengkomunikasikan ide gagasan
dan tujuan dalam lingkungan organisasinya serta bagaimana
menyampaikan produk atau jasa yang dimilikinya kepada pelanggan.
Di sisi lain, proses manajemen, adalah suatu aktivitas komunikasi.
Terdapat 6 kendala yang mungkin muncul saat manajer
mengkomunikasikan bisnis organisasinya, yaitu :

a. Struktur komunikasi yang buruk


Struktur komunikasi adalah faktor esensial, yang menentukan baikburuknya komunikasi bisnis. Tidak penting apakah audiencenya hanya
satu orang atau ribuan orang dan sekalipun di tengah bisingnya
lingkungan bisnis dan pemasaran, pesan yang disampaikan haruslah
terdengar dan dimengerti. Struktur komunikasi yang baik, mengikuti
pola :
- pembukaan
- isi
- penutup
selanjutnya : Umum Detil Umum atau Global Detil Global

b. Penyampaian yang lemah


Tidak menjadi menjadi masalah, apakah pesan itu penting atau
impresif. Namun apabila disampaikannya tanpa sentuhan yang kuat,
hasilnya tidak akan dapat menyakinkan orang lain sesuai harapan.
Disamping itu, meskipun telah dilakukan sentuhan yang sudah tepat
ternyata seringkali juga masih memerlukan waktu untuk mendapatkan
respons. Dengan demikian, pesan yang kuat, tidak boleh seperti
lawakan yang tidak lucu. Pesan yang disampaikan haruslah
menyentuh secara kuat dan telak, tidak sekedar mengelus-elus atau
mengingatkan.

c. Penggunaan media yang salah


Perlu untuk mempertimbangkan siapa, dari kalangan atau status sosial
mana dan karakteristik unik lainnya dari sasaran yang kita tuju,
sehingga kita dapat memilih media yang tepat. Jika pesan yang
disampaikan sangat kompleks, berikanlah ruang agar audience kita
dapat mencerna pesan tersebut secara lebih leluasa, sesuai kecepatan
mereka, seperti di kamar tidur, kamar mandi, televise, radio, majalah,
koran dan lain sebagainya.

d. Pesan yang campur aduk


Pesan yang campur aduk, hanya akan menimbulkan kebingungan atau
bahkan cemoohan dari audience. Seperti, larangan untuk memberikan
hadiah kepada klien, tetapi pada saat yang sama memberikan
pengecualian untuk klien-klien baru atau pelanggan VIP yang
berpotensi besar pada bisnis perusahaan. Sementara, kriteria dari klien
potensial atau pelanggan VIP tersebut tidak dirinci secara jelas.

e. Salah Audience
Topik yang dipilih hendaknya relevan dan sesuai dengan ekspektasi

audience. Sebagai contoh, misalnya dalam event pertemuan antara


wakil dari Pemerintah dan Pengusaha, namun dalam presentasi
disajikan tentang analisis situasi politik dan pemerintahan, sedangkan
para pengusaha, sebenarnya lebih mengharapkan penjelasan
bagaimana tindakan atau langkah-langkah konkrit yang diambil
pemerintah untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif.

f. Lingkungan yang mengganggu


Lingkungan yang mengganggu jelas merupakan kendala dalam
komunikasi, sehingga pesan yang disampaikan tidak dapat diterima /
didengar secara optimal. Seperti Suara penyaji yang tidak cukup
terdengar oleh Audience, Suara keras dari luar ruangan, (seperti
raungan sirine ambulan atau suara lalu lintas yang padat ), Bunyi
handphone dari kantong audience, Interupsi, Sesi bicara yang
menegangkan, dsb. Oleh karena itu, perlunya pemilihan tempat yang
tepat serta upaya agar audience fokus dengan pesan yang
disampaikan.
Kendala komunikasi bisnis dapat bermacam-macam, namun dengan
kehati-hatian serta kecermatan, sebagian kendala tersebut akan dapat
diatasi. Presentasi yang disampaikan akan lebih bermakna dengan
kendala yang diminimalisir, sehingga pesan yang disampaikan dapat
memberikan efek yang diharapkan.
Seiring dengan perkembangan teknologi dan sistim informasi,
komunikasi berkembang menjadi suatu bisnis tersendiri.
Perkembangan sistim informasi dan teknologi mempercepat proses
Globalisasi, sehingga proses komunikasi terjadi setiap saat tanpa
berhenti dan berlangsung pada saat yang hampir bersamaan di
seluruh belahan dunia. Informasi dengan mudah dan cepat menyebar,
bahkan nyaris tanpa penghalang apapun .
Perkembangan teknologi yang semakin pesat, memungkinkan orang
untuk berkomunikasi melalui berbagai macam media. Tantangan ke
depan, bukan saja sekedar menjual produk & jasa perusahaan, tetapi
bagaimana menyampaikan pesan bahwa produk atau jasa yang
ditawarkan dapat memberikan manfaat kepada banyak orang dari
berbagai ragam budaya, latar belakang, dan sebagainya. Proses
penyampaian pesan atau informasi tersebut, dapat dilakukan secara
satu arah, seperti melalui media elektronik atau media cetak juga
dapat dilakukan secara dua arah (interaktif) melalui jaringan internet.

III. Komunikasi Bisnis dan E Commerce


Perdagangan sebenarnya merupakan kegiatan yang dilakukan manusia
sejak awal peradabannya. Sejalan dengan perkembangan manusia,
cara dan sarana yang digunakan untuk berdagang senantiasa berubah.
Bentuk perdagangan terbaru yang kian memudahkan penggunaannya
kini adalah e-commerce. Secara umum, e-commerce dapat
didefinisikan sebagai segala bentuk transaksi perdagangan atau
perniagaan barang dan jasa dengan menggunakan media elektronik..

Media elektronik yang popular digunakan saat ini adalah internet.


Perkembangan teknologi di masa mendatang, memberikan
kemungkinan yang terbuka untuk penggunaan media lain selain
internet.
Di dalam e-commerce, para pihak yang melakukan kegiatan
perdagangan / perniagaan hanya berhubungan melalui suatu jaringan
publik (public network) yang dalam perkembangan terakhir
menggunakan media internet. E-commerce adalah kegiatan-kegiatan
bisnis yang menghubungkan perusahaan, konsumen dan suatu
komunitas melalui transaksi elektronik serta perdagangan barang,
layanan dan informasi yang dilakukan secara elektronik.
E-commerce digunakan sebagai transaksi bisnis antara perusahaan
yang satu dengan perusahaan lainnya, antara perusahaan dengan
pelanggan (pelanggan), atau antara perusahaan dengan institusi yang
bergerak dalam pelayanan publik. Sistem E-commerce dapat
diklasifikasikan kedalam tiga tipe aplikasi, yaitu :
a. Electronic Markets (EMs), yaitu sebuah sarana yang menggunakan
teknologi informasi dan komunikasi untuk melakukan atau menyajikan
penawaran dalam sebuah segmen pasar, sehingga pembeli dapat
membandingkan berbagai macam harga yang ditawarkan. Dalam
pengertian lain, EMs adalah sebuah sistem informasi antar organisasi
yang menyediakan fasilitas-fasilitas bagi para penjual dan pembeli
untuk bertukar informasi tentang harga dan produk yang ditawarkan.
Keuntungan fasilitas EMs bagi pelanggan terlihat lebih nyata dan
efisien dalam hal waktu, sedangkan bagi penjual, ia dapat
mendistribusikan informasi mengenai produk dan service yang
ditawarkan dengan lebih cepat sehingga dapat menarik pelanggan
lebih banyak.
b. Elektronic Data Interchange (EDI), adalah sarana untuk
mengefisienkan pertukaran data transaksi-transaksi regular yang
berulang dalam jumlah besar antara organisasi-organisasi komersial.
Secara formal, EDI didefinisikan oleh International Data Exchabge
Association (IDEA) sebagai transfer data terstruktur dengan format
standard yang telah disepakati, yang dilakukan dari satu sistem
komputer ke sistem komputer lain dengan menggunakan media
elektronik. EDI sangat luas penggunaaanya, biasanya digunakan oleh
kelompok retail besar, ketika melakukan transaksi bisnis dengan para
supplier mereka. EDI memiliki standarisasi pengkodean transaksi
perdagangan, sehingga organisasi komersial tersebut dapat
berkomunikasi secara langsung dari satu sistem komputer ke sistem
komputer yang lain, tanpa memerlukan hardcopy atau faktur, sehingga
terhindar dari penundaan, kesalahan yang tidak disengaja dalam
penanganan berkas dan intervensi dari manusia. Keuntungan
menggunakan EDI adalah waktu pemesanan yang singkat, mengurangi
biaya, mengurangi kesalahan, respon dan pengiriman faktur yang
cepat dan akurat serta pembayaran dapat dilakukan secara elektronik.
c. Internet Commerce, adalah penggunaan internet yang berbasis
teknologi informasi dan komunikasi untuk aktivitas perdagangan.

Kegiatan komersial ini, seperti iklan dalam penjualan produk dan jasa.
Transaksi yang dapat dilakukan di internet, antara lain
pemesanan/pembelian barang dimana barang akan dikirimkan melalui
pos atau sarana lain setelah uang ditransfer ke rekening penjual.
Penggunaan internet sebagai media pemasaran dan saluran penjualan
terbukti memberikan keuntungan, antara lain :
untuk beberapa produk tertentu lebih sesuai ditawarkan melalui
internet;
harga lebih murah mengingat membuat situs di internet lebih murah
biayanya dibandingkan dengan membuka outlet retail di berbagai
tempat;
internet merupakan media promosi perusahaan dan produk yang
paling tepat dengan harga yang relatif lebih murah; serta
pembelian melalui internet selalu akan diikuti dengan layanan
pengantaran barang sampai di tempat pemesan.
Berbeda dengan transaksi perdagangan biasa, transaksi e-commerce
memiliki beberapa karakteristik yang sangat khusus, yaitu :
a. Transaksi tanpa batas : Sebelum era internet, batas-batas geografi
seringkali menjadi penghalang suatu perusahaan atau individu yang
ingin go-international, sehingga hanya perusahaan atau individu yang
bermodal besar saja yang dapat memasarkan produknya ke luar
negeri. Dewasa ini, dengan internet pengusaha kecil dan menengah
dapat memasarkan produknya secara internasional, cukup dengan
membuat situs web atau dengan memasang iklan di situs-situs internet
tanpa dibatas waktu (24 jam), dan tentu saja pelanggan dari seluruh
dunia dapat mengakses situs tersebut serta melakukan transaksi
secara on line.
b. Transaksi anonim: Para penjual dan pembeli dalam transaksi melalui
internet tidak harus bertemu muka satu sama lainnya. Penjual tidak
memerlukan nama dari pembeli sepanjang pembayarannya telah
diotorisasi oleh penyedia layanan sistem pembayaran yang ditentukan,
pada umumnya dengan kartu kredit,
c. Produk Digital dan Non Digital : Produk-produk digital seperti software
computer, musik dan produk lain yang bersifat digital, dapat
dipasarkan melalui internet dengan cara mendownload secara
elektronik. Dalam perkembangannya obyek yang ditawarkan melalui
internet juga meliputi barang-barang kebutuhan lainnya.
d. Produk barang tak berwujud; Banyak perusahaan yang bergerak di
bidang e-commerce menawarkan barang tak berwujud (intangible)
seperti data, software dan ide-ide yang dijual melalui internet.
Implementasi e-commerce pada dunia industri, semakin lama semakin
luas tidak hanya memberikan kemudahan dalam bisnis, tetapi juga
mengubah suasana kompetisi menjadi semakin dinamis dan global.
Perkembangan teknologi tidak hanya mendukung kelancaran dan
keberlangsungan suatu aktivitas bisnis, namun juga menciptakan
industri baru dalam komunikasi bisnis.
Penerapan e-commerce, telah menciptakan suatu komunitas tersendiri

yang dinamakan Komunitas Bisnis Elektronik (electronic business


community). Komunitas ini memanfaatkan cyberspace sebagai tempat
bertemu, berkomunikasi dan berkoordinasi secara intensif dengan
memanfaatkan media dan infrastruktur telekomunikasi serta teknologi
informasi dalam menjalankan kegiatannya seharai-hari. Seperti halnya
pada masyarakat tradisional, pertemuan antara berbagai pihak dengan
beragam kepentingan secara natural telah membentuk sebuah pasar
tersendiri tempat bertemunya permintaan (demand) dan penawaran
(supply). Dengan perkembangan teknologi e-commerce, maka
transaksi tadi dapat dengan mudah dilakukan, sekalipun kedua pihak
yang bertransaksi berada pada sisi geografis yang berbeda.
Banyak orang mengasumsikan, bahwa e-commerce dan e-bisnis adalah
sama. Istilah e-commerce dan e-bisnis terdengar hampir sama, tapi
secara teknis sebenarnya keduanya berbeda. E-commerce memiliki
pengertian yang lebih sempit dibandingkan e-bisnis, dimana ecommerce adalah sub perangkat atau bagian dari e-bisnis. E-bisnis
memiliki makna yang lebih luas dan menunjuk kepada penggunaan
teknologi untuk menjalankan bisnis yang memberikan hasil atau
dampak besar kepada bisnis secara keseluruhan.
Istilah e-bisnis mengcover semua area bisnis. E-bisnis terjadi ketika
perusahaan atau individu berkomunikasi dengan para klien atau
nasabah secara e-mail, Pemasaran dilakukan melalui internet, menjual
produk atau jasa melalui internet untuk promosi produk dan jasa, dan
sebagainya. Sedangkan E-commerce mengacu kepada penggunaan
internet untuk belanja on line, seperti belanja produk atau jasa melalui
internet. Sampel lainnya adalah ketika individu atau perusahaan
membayar sejumlah uang melalui internet.
Di era e-bisnis, Berbagai aktivitas, mulai dari sekedar pembicaraan
tekstual sampai dengan transaksi bisnis telah dilakukan melintasi
batas demi batas dan zona waktu yang hampir pada saat yang
bersamaan. Dalam situasi seperti ini, peluang untuk berbagai
kesempatan menjalin relasi bisnis, persahabatan ataupun lainnya
terbuka lebar.
Di Indonesia, internet belum terlalu popular digunakan menjadi media
interaktif bisnis, bukan hanya karena minimnya penetrasi infrastruktur
internet ke lapisan masyarakat, tetapi juga masih banyak pelaku usaha
yang belum memahami bagaimana mengkomunikasikan bisnis melalui
jaringan teknologi mutakhir ini. Hampir semua calon konsumen di
Indonesia masih memiliki keragu-raguaan (skeptis) untuk melakukan
transaksi di jaringan toko maya ini, yang antara lain disebabkan oleh :
a. Masalah Kepercayaan; Mayoritas konsumen di Indonesia masih belum
mempercayai kebenaran sistem penjualan on line, karena takut tertipu
disamping tidak melihat langsung produk yang ditawarkan.
b. Masalah Pembayaran; mayoritas konsumen meragukan keamanan
cara pembayaran yang dilakukannya melalui internet.
c. Masalah Info produk; Keraguan ini timbul, karena calon konsumen
tidak bisa melihat langsung barang yang dijual, sehingga selain tidak
yakin dengan kualitas produk yang ditawarkan juga meragukan

kebenarannya.
d. Mayoritas konsumen di Indonesia masih merasa lebih aman serta
nyaman dalam bertransaksi yang dilakukan dengan cara interaksi dua
arah secara langsung.
Bisnis di dalam era globalisasi akan diselenggarakan dalam dukungan
penuh suatu kerja tim yang memiliki kemampuan untuk memadukan :
1. Keuletan bernegosiasi dengan wawasan (vision)
2. Kesabaran dan keuletan hati (tenacity)
3. Fleksibilitas dengan fokus.
Bisnis dalam era globalisasi dilakukan dengan melintasi jarak,
keanekaragaman lingkungan dan waktu secara cepat dan mudah.
Untuk dapat bersaing dan berhasil dalam lingkungan global yang
dinamis, haruslah dibekali dengan kesungguhan, kemampuan dan
inovasi serta selalu siap dan waspada dalam menghadapi perubahan
lingkungan bisnis yang cepat.
Di era globalisasi ini, dunia bisnis menghadapi lingkungan persaingan
yang cenderung semakin turbulen. Peran komunikasi bisnis menjadi
semakin sangat penting, yaitu kemampuan membaca, menafsirkan
laporan dan informasi dari lingkungan. Disamping kemampuan
menyampaikan gagasan, baik lisan maupun tertulis secara sistematik.
Di era globalisasi, keterampilan lintas budaya menjadi tuntutan dan
persyaratan, berupa kemampuan berinteraksi dengan berbagai ragam
budaya, gaya manajemen / bisnis bangsa lain, maupun kerjasama tim,
baik intern maupun dalam suatu aliansi strategis dengan mitra bisnis.

III. Penutup
Komunikasi bisnis adalah proses pertukaran pesan atau informasi
untuk mencapai efektivitas dan efisiensi produk kerja di dalam struktur
dan sistem organisasi. Dalam kegiatan komunikasi bisnis, pesan
hendaknya tidak hanya sekedar informatif tetapi juga haruslah
Persuasif, agar pihak lain bersedia menerima suatu paham atau
keyakinan atau melakukan suatu perbuatan atau kegiatan.
Di era globalisasi ini, tantangan seorang manajer di masa depan relatif
akan semakin sulit, karena dunia bisnis menghadapi lingkungan
persaingan yang cenderung semakin turbulen. Para manajer perlu
membekali diri dengan keterampilan lintas budaya, berupa
kemampuan berinteraksi dengan berbagai ragam budaya, gaya
manajemen / bisnis bangsa lain, maupun kerjasama tim, baik intern
maupun dalam suatu aliansi strategis dengan mitra bisnis. Disini peran
komunikasi bisnis menjadi semakin sangat penting, yaitu kemampuan
membaca, menafsirkan laporan dan informasi dari lingkungan.
Disamping menyampaikan gagasan, baik lisan maupun tertulis secara
sistematik.
Di era e-bisnis, Komunikasi berkembang menjadi suatu bisnis
tersendiri. Perkembangan sistim informasi dan teknologi mempercepat
proses Globalisasi dan memberikan peluang bagi dunia usaha di
Indonesia untuk mengembangkan usahanya, melalui berbagai

kesempatan menjalin relasi bisnis, pemasaran produk ataupun lainnya.


Melalui e-bisnis, transaksi bisnis telah dilakukan melintasi batas demi
batas dan zona waktu yang hampir pada saat yang bersamaan.
Aktivitas e-bisnis di Indonesia, merupakan tantangan tersendiri bagi
para manajer untuk mengkomunikasikan bisnisnya kepada masyarakat
yang mayoritas skeptis terhadap sistem penjualan on line melalui
perbaikan sistem, pemupukan tingkat kepercayaan masyarakat serta
pemberian edukasi yang berkesinambungan.

Hambatan-hambatan dalam Komunikasi Antarbudaya


Hambatan- Hambatan dalam Komunikasi Antarbudaya terjadi karena
alasan yang bermacam-macam karena komunikasi mencakup pihakpihak yang berperan sebagai pengirim dan penerima secara bergantiganti maka hambatan-hambatan tersebut dapat terjadi dari semua
pihak antara lain :
Keanekaragaman dari tujuan-tujuan komunikasi. Masalah komunikasi
sering terjadi karena alasan dan motivasi untuk berkomunikasi yang
berbeda-beda, dalam situasi antarbudaya perbedaan ini dapat
menimbulkan masalah.
Etnosentrisme banyak orang yang menganggap caranya melakukan
persepsi terhadap hal-hal disekelilingnya adalah satu-satunya yang
paling tepat dan benar, padahal harus disadari bahwa setiap orang
memiliki sejarah masa lalunya sendiri sehingga apa yang dianggapnya
baik belum tentu sesuai dengan persepsi orang lain. Etnosentrisme
cenderung menganggap rendah orang-orang yang dianggap asing dan
memandang budaya-budaya asing dengan budayanya sendiri karena
etnosentrisme biasanya dipelajari pada tingkat ketidaksadaran dan
diwujudkan pada tingkat kesadaran, sehingga sulit untuk melacak asal
usulnya.
Tidak adanya kepercayaan karena sifatnya yang khusus, komunikasi
antarbudaya merupakan peristiwa pertukaran informasi yang peka
terhadap kemungkinan terdapatnya ketidak percayaan antara pihakpihak yang terlibat.
Penarikan diri komunikasi tidak mungkin terjadi bila salah satu pihak
secara psikologis menarik diri dari pertemuan yang seharusnya terjadi.
Ada dugaan bahwa macam-macam perkembangan saat ini antara lain

meningkatnya urbanisasi, perasaan-perasaan orang untuk menarik diri


dan apatis semakin banyak pula.

Tidak adanya empati, beberapa hal yang menghambat empati antara


lain:
1.
Fokus terhadap diri sendiri secara terus menerus, sulit untuk
memusatkan perhatian pada orang lain kalau kita berpikir tentang diri
kita secara terus menerus dan bagaimana orang menyukai kita.
2.

Pandangan-pandangan stereotype mengenai ras dan kebudayaan

3.
Kurangnya pengetahuan terhadap kelompok, kelas atau orang
tertentu
4.

Tingkah laku yang menjauhkan orang mengungkapakan informasi

5.

Tindakan atau ucapan yang seolah-olah menilai orang lain

6.
Sikap tidak tertarik yang dapat mengakibatkan orang tidak mau
mengungkapkan diri
7.

Sikap superior

8.
Sikap yang menunjukkan kepastian jika seseorang bersikap sok
tahu atau bersikap seolah-olah serba tahu maka kemungkinan orang
akan bersikap defensif terhadapnya
9.
Kekuasaan-kekuasaan digunakan untuk mengontrol atau
menentukan tindakan orang lain
10. Hambatan derajat kesamaan atau ketidaksamaan (homofily atau
heterofily), hambatan komunikasi antarbudaya dapat ditimbulkan oleh
masalah prinsip-prinsip komunikasi yang ditetapkan pada konteks
kebudayaan yaitu tidak memahami, menyadari atau memanfaatkan
derajat kesamaan atau perbedaan kepercayaan, nilai-nilai, sikap,
pendidikan, status sosial anatara komunikator dan komunikan.
11. Hambatan pembentukan dan pemrograman budaya, hambatan ini
terjadi dalam suatu proses akulturasi yang berlangsung antara imigran
dengan masyarakat pribumi. Masalah umum yang sering timbul adalah
hambatan stereotype dan prasangka yang biasanya berkembang sejak
semula pada saat kita melalui komunikasi antarpribadi ataupun
komunikasi massa.
Namun lain lagi menurut Barna, 1988 ; Ruben, 1985 dalam (Joseph A.
DeVito, 1997 : 488-491) hambatan-hambatan komunikasi antarbudaya
dibagi menjadi 5 yaitu :
Mengabaikan Perbedaan Antara Anda dan Kelompok yang Secara
Kultural Berbeda

Mengabaikan perbedaan Antara Kelompok Kultural yang Berbeda


Mengabaikan Perbedaan dalam Makna
Melanggar Adat Kebiasaan Kultural
Menilai Perbedaan Secara Negatif

Jenis-Jenis Hambatan Komunikasi Antarbudaya


Hambatan komunikasi dalam komunikasi antarbudaya mempunyai
bentuk seperti sebuah gunung es yang terbenam didalam air. Dimana
hambatan komunikasi yang ada terbagi dua menjadi yang diatas air
(above waterline) dan dibawah air (below waterline).
Faktor-faktor hambatan komunikasi antarbudaya yang berada dibawah
air (below waterline) adalah faktor-faktor yang membentuk perilaku
atau sikap seseorang, hambatan semacam ini cukup sulit untuk dilihat
atau diperhatikan. Jenis-jenis hambatan semacam ini adalah persepsi,
norma, stereotip, filosofi bisnis, aturan, jaringan, nilai dan grup cabang.
Terdapat 9 (sembilan) jenis hambatan komunikasi antarbudaya yang
berada diatas air (above waterline). Hambatan komunikasi semacam
ini lebih mudah untuk dilihat karena hambatan-hambatan ini banyak
yang berbentuk fisik, hambatan-hambatan tersebut adalah :[2]
Fisik (Physical). Hambatan komunikasi semacam ini berasal
dari hambatan waktu, lingkungan, kebutuhan diri dan media fisik
Budaya (Cultural). Hambatan ini berasal dari etnik yang
berbeda, agama dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya
satu dengan yang lainnya
Persepsi (Perceptual). Jenis hambatan ini muncul dikarenakan setiap
orang memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai suatu hal,
sehingga untuk mengartikan sesuatu setiap budaya akan mempunyai
pemikiran yang berbeda-beda
Motivasi (Motivational). Hambatan semacam ini berkaitan dengan
tingkat motivasi dari pendengar, maksudnya adalah apakah pendengar
yang menerima pesan ingin menerima pesan tersebut atau malas dan
tidak punya motivasi sehingga dapat menjadi hambatan komunikasi
Pengalaman (Experiantial). Experiental adalah jenis hambatan yang
terjadi karena setiap individu tidak memilikipengalaman hidup yang
sama sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan juga konsep
yang berbeda-beda dalam melihat sesuatu
Emosi (Emotional). Hal ini berkaitan dengan emosi atau perasaan
pribadi dari pendengar, apabila emosi pendengar sedang buruk maka

hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk
dilalui
Bahasa (Linguistic). Hambatan komunikasi yang berikut ini terjadi
apabila pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver)
menggunakan bahasa yang berbeda atau penggunaan kata-kata yang
tidak dimengerti oleh penerima pesan
Nonverbal. Hambatan nonverbal adalah hambatan komunikasi yang
tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi,
contohnya adalah wajah marah yang dibuat oleh penerima pesan
ketika pengirim pesan melakukan komunikasi. Wajah marah yang
dibuat tersebut dapat menjadi penghambatkomunikasi karena mungkin
saja pengirim pesan akan merasa tidak maksimal atau takut untuk
mengirimkan pesan kepada penerima pesan.
Kompetisi (Competition). Hambatan semacam ini muncul apabila
penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain sambil
mendengarkan, contohnya adalah menerima telepon selular sambil
menyetir, karena melakukan dua kegiatan sekaligus maka penerima
pesan tidak akan mendengarkan pesan yang disampaikan melalui
telepon secara maksimal.

Cara menghadapi Hambatan dalam KAB


Seseorang dapat dikatakan sukses sebagai manager bisnis
internasional budaya apabila ia mempunyai kemampuan untuk
merefleksikan seberapa besar kesungguhannya dalam aspek dibawah
ini :[3]
Social Competence : Kemampuan untuk membuat jaringan sosial,
pandai bergaul dan banyak temannya
Openness to other ways of thinking : keterbukaan untuk menerima
pikiran yang berbeda dari dirinya
Cultural Adaptation : Kemampuan seseorang menerima budaya baru
Professional Excellence : Mempunyai kemampuan yang handal dalam
bidang tertentu
Language Skill : Kemampuan mempelajari bahasa asing dengan tepat
Flexibility : Kemampuan dalam penyesuaian diri sesuai dengan
tuntutan keadaan
Ability to work in team : Kemampuan dalam mengelola dan
bekerjasama dalam satu tim
Self Reliance or independence : Percaya diri dan mandiri

Mobility : Lincah dan wawasannya luas


Ability to deal with stress : Mempunyai kemampuan untuk mengatasi
stress
Adaptability of the family : Keluarganya pandai menyesuaikan diri
dengan lingkungan baru
Patience : Ulet dan sabar
Sesivity : Peka terhadap sesuatu yang baru

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya


Hambatan komunikasi atau yang juga dikenal sebagai communication
barrier adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk
terjadinya komunikasi yang efektif. Contoh dari hambatan komunikasi
antabudaya adalah kasus anggukan kepala, dimana di Amerika Serikat
anggukan kepala mempunyai arti bahwa orang tersebut mengerti
sedangkan di Jepang anggukan kepala tidak berarti seseorang setuju
melainkan hanya berarti bahwa orang tersebut mendengarkan.
Dengan memahami mengenai komunikasi antar budaya maka
hambatan komunikasi (communication barrier) semacam ini dapat kita
lalui.
Jenis-Jenis Hambatan Komunikasi Lintas Budaya
Hambatan komunikasi (communication barrier) dalam komunikasi
antar budaya (intercultural communication) mempunyai bentuk seperti
sebuah gunung es yang terbenam di dalam air. Dimana hambatan
komunikasi yang ada terbagi dua menjadi yang diatas air (above
waterline) dan dibawah air (below waterline). Faktor-faktor hambatan
komunikasi antar budaya yang berada dibawah air (below waterline)
adalah faktor-faktor yang membentuk perilaku atau sikap seseorang,
hambatan semacam ini cukup sulit untuk dilihat atau diperhatikan.
Jenis-jenis hambatan semacam ini adalah persepsi (perceptions),
norma (norms), stereotip (stereotypes), filosofi bisnis (business
philosophy), aturan (rules),jaringan (networks), nilai (values), dan grup
cabang (subcultures group).
Terdapat 9 (sembilan) jenis hambatan komunikasi antar budaya yang
berada diatas air (above waterline). Hambatan komunikasi semacam
ini lebih mudah untuk dilihat karena hambatan-hambatan ini banyak
yang berbentuk fisik.
Hambatan-hambatan tersebut adalah:
1.

Fisik (Physical)

Hambatan komunikasi semacam ini berasal dari hambatan waktu,


lingkungan, kebutuhan diri, dan juga media fisik.
2.

Budaya (Cultural)

Hambatan ini berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga
perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu dengan yang
lainnya.
3.

Persepsi (Perceptual)

Jenis hambatan ini muncul dikarenakan setiap orang memiliki persepsi


yang berbeda-beda mengenai suatu hal. Sehingga untuk mengartikan
sesuatu setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbedabeda.
4.

Motivasi (Motivational)

Hambatan semacam ini berkaitan dengan tingkat motivasi dari


pendengar, maksudnya adalah apakah pendengar yang menerima
pesan ingin menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tersebut
sedang malas dan tidak punya motivasi sehingga dapat menjadi
hambatan komunikasi.
5.

Pengalaman (Experiantial)

Experiental adalah jenis hambatan yang terjadi karena setiap individu


tidak memiliki pengalaman hidup yang sama sehingga setiap individu
mempunyai persepsi dan juga konsep yang berbeda-beda dalam
melihat sesuatu.

6.

Emosi (Emotional)

Hal ini berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar.
Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi
yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.
7.

Bahasa (Linguistic)

Hambatan komunikasi yang berikut ini terjadi apabila pengirim pesan


(sender)dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa yang
berbeda atau penggunaan kata-kata yang tidak dimengerti oleh
penerima pesan.
8.

Nonverbal

Hambatan nonverbal adalah hambatan komunikasi yang tidak


berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi.
Contohnya adalah wajah marah yang dibuat oleh penerima pesan
(receiver) ketika pengirim pesan (sender) melakukan komunikasi.
Wajah marah yang dibuat tersebut dapat menjadi penghambat

komunikasi karena mungkin saja pengirim pesan akan merasa tidak


maksimal atau takut untuk mengirimkan pesan kepada penerima
pesan.
9.

Kompetisi (Competition)

Hambatan semacam ini muncul apabila penerima pesan sedang


melakukan kegiatan lain sambil mendengarkan. Contohnya adalah
menerima telepon selular sambil menyetir, karena melakukan 2 (dua)
kegiatan sekaligus maka penerima pesan tidak akan mendengarkan
pesan yang disampaikan melalui telepon selularnya secara maksimal.

B.

Cara Menghadapi Hambatan Komunikasi Lintas Budaya

Seseorang dapat dikatakan sukses sebagai manager bisnis


internasional budaya, apabila ia mempunyai kemampuan untuk
merefleksikan seberapa besar kesungguhannya dalam aspek di bawah
ini :
1.
Social Competence : Kemampuan untuk membuat jaringan sosial,
pandai bergaul dan banyak temannya
2.
Openness to other ways of thinking : keterbukaan untuk
menerima pikiran yang berbeda dari dirinya
3.
Cultural Adaptation :Kemampuan seseorang menerima budaya
baru
4.
Professional Excellence : Mempunyai kemampuan yang handal
dalam bidang tertentu
5.
Language Skill : Kemampuan mempelajari bahasa asing dengan
tepat
6.
Flexibility : Kemampuan dalam penyesuaian diri sesuai dengan
tuntutan keadaan
7.
Ability to work in team : kemampuan dalam mengelola dan
bekerjasama dalam satu tim
8.

Self Reliance or independence : percaya diri dan mandiri

9.

Mobility : Lincah dan wawasannya luas

10. Ability to deal with stress : mempunyai kemampuan untuk


mengatasi stress
11. Adaptability of the family : keluarganya pandai menyesuaikan diri
dengan lingkungan baru

12. Patience : Ulet dan sabar


13. Sesivity : Peka terhadap sesuatu yang baru

Mengapa antar Dua Perusahaan Dapat Gagal MenjalinKerja Sama?


Dalam melakukan suatu kerja sama, hal yang paling utama
harusdilakukan oleh sebuah organisasi atau perusahaan adalah
komunikasi bisnis.Apabila kerja sama tersebut merupakan kerja sama
antar perusahaan di dalamsatu negara, maka komunikasi yang
dilakukan tidak terlalu sulit, karena budaya,terutama bahasa, sama
dengan perusahaan tersebut. Akan tetapi, bagaimana jika perusahaan
tersebut ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan di
negara lainyang budaya dan bahasanya berbeda dengan negara
asalnya? Jawabannyaadalah dengan mempelajari komunikasi bisnis
lintas budaya. Secara sederhana,komunikasi bisnis lintas budaya
adalah komunikasi yang digunakan dalamdunia bisnis baik komunikasi
verbal maupun nonverbal dngan memperhatikanfaktor-faktor budaya
di suatu daerah, wilayah, atau negara.Yang menjadi pertanyaan
adalah, mengapa bisa terjadi kegagalan dalammenjalin kerja sama
antar dua perusahaan yang berbeda negara meskipun
sudahmempelajari komunikasi bisnis lintas budaya? Dalam era
globalisasi,
ketika banyak perusahaan asing yang melakukan kegiatan bisnis di sua
tu negara,diperlukan pemahaman yang baik dan benar terhadap
budaya negara tersebut.Hal ini sangat diperlukan untuk menghindari
kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa
kegagalan dalam menjalin bisniskerja sama adalah karena adanya
kesalahan dalam berkomunikasi antar perusahaan yang
bersangkutan.Perbedaan budaya dapat dilihat dari nilai sosial, peran
dan status,kebiasaan pengambilan keputusan, sikap terhadap waktu,
penggunaanruang/jarak, konteks budaya, bahasa tubuh, hukum,
perilaku etis, dan perbedayaan budaya perusahaan. Kemungkinan,
gagalnya pengajuan kerja sama

Page
11
of
12

tersebut disebabkan oleh penyimpangan terhadap beberapa faktor


yang telahdisebutkan sebelumnya.Misalnya, pandangan terhadap
peran wanita di dunia usaha. Di negara-negara yang sedang
berkembang, peran wanita dalam dunia bisnis masih relatiflemah dan
kurang diakui. Sementara itu, di negara-negara maju seperti
AmerikaSerikat an Eropa, peran wanita di dunia bisnis sudah cukup
kuat. Maka dari itu,apabila sebuah perusahaan A dari negara maju
dengan pemimpin seorangwanita ingin mengajukan kerja sama dengan
perusahaan B di
negara berkembang, ada kemungkinan pemimpin dari perusahaan B ku
rang bisamempercayai bahwa perusahaan A yang dipimpin oleh wanita
itu dapatmendatangkan keuntungan bagi perusahaannya. Bagi
mereka, peran wanitatidak sebaik peran kaum pria. Wanita dinilai tidak
dapat mengambil keputusandengan tegas. Kemudian masalah status
juga
demikian.Contoh lainnya adalah penggunaan bahasa tubuh. Perbedaan
bahasatubuh sering kali menjadi sumber kesalahpahaman
berkomunikasi
lintas budaya. Misalnya, di negara maju seperti Amerika Serikat, memb
ungkukkan badan merupakan sikap menjilat. Sedangkan bagi orang Jep
ang,membungkukkan badan merupakan sikap hormat kepada atasan.
Jika keduanegara mau menjalin kerja sama, namun tidak mengetahui
penggunaan bahasatubuh yang sesuai dengan budaya negara yang
bersangkutan, bisa saja timbulkesalahpahaman antar perusahaan.
Ketika orang dari perusahaan Jepang datangke perusahaan di Amerika
Serikat dan membungkukkan badan dengan maksudmenunjukkan rasa
hormat, akan dinggap sebagai tindakan menjilat yangmengharapkan
sesuatu. Hal ini dapat menyebabkan pengajuan kerja samamenjadi
gagal karena dianggap tidak sopan.Perilaku etis dan tidak etis pun di
setiap negara berbeda. Di beberapanegara, perusahaan diharapkan
membayar sejumlah uang secara resmi
untuk persetujuan kontrak pemerintah. Pembayaran tersebut dianggap
hal yang wajardan rutin. Sementara itu, di negara-negara seperti
Amerika Serikat dan Swedia, hal itu bisa dikategorikan sebagai bentuk
suap sehingga tidak etis dan ilegal.Sebagai contoh, perusahaan X ingin
menjalin kontrak kerja sama
dengan perusahaan Y dari negara lain. Perusahaan X sudah biasa mela
kukan pembayaran uang dalam menyetujui suatu kontrak. Sedangkan
perusahaan Ysebaliknya, menganggap hal itu tidak etis. Ketika
pemimpin perusahaan X dan perusahaan Y bertemu, dan
awalnya sepakat untuk menjalin kerja sama, namunkarena perusahaan
X tidak mengetahui akan hal etis yang berlaku di negaratersebut, ia
membayar sejumlah uang dengan maksud setuju terhadap kontrak.Hal
ini akan dipandang sebagai tindakan menyuap dan tidak etis
bagi perusahaan Y. Sehingga kontrak yang tadinya sudah disepakati
bisa dibatalkan.Masih banyak contoh lainnya. Kebanyakan kegagalan
yang terjadi adalahkarena kesalahan komunikasi (

miscommunication
). Ketidaktahuan
atas perbedaan budaya yang ada, dapat menjadi pemicu kegagalan ut
ama dalammenjalin kerja sama. Oleh karena itu, sebelum menjalin
kerja sama, sebaiknyakita mempelajari dahulu unsur-unsur budaya
negara asing yang bersangkutan.Jangan sampai ketika dalam proses
kerja sama, kita melakukan sesuatu yangmenurut kita etis, tetapi
dipandang tidak etis oleh lawan bicara kita.

Contoh Kasus Pentingnya Komunikasi Lintas Budaya dalam dunia Bisnis


Disney in France Disney sebagai perusahaan yang mengembangkan
konsep taman hiburan dalam bisnisnya telah berhasil meraih
keuntungan di Amerika Serikat dan Jepang. Langkah selanjutnya yang
dilakukan Disney adalah mencoba memasuki pasar Eropa, dalam hal
ini Paris sebagai target utamanya. Mengapa Paris yang dijadikan kota
yang akan dibangun taman hiburan berikutnya? Mengapa tidak
memilih kota yang lain? Disney berargumen bahwa Paris dipilih karena
beberapa alasan, pertama sekitar 17 juta orang eropa tinggal kurang
dari dua jam perjalanan menuju Paris, dan sekitar 310 juta dapat
terbang ke Paris pada waktu yang sama. Kedua, besarnya perhatian
pemerintah kota paris yang menawarkan lebih dari satu milyar dollar
dalam berbagai insentif, dan ekspektasi bahwa proyek ini akan
menciptakan 30000 lapangan pekerjaan. Namun apa yang
terjadi? Dalam pelaksanaanya Disney mengahadapi beberapa masalah
antara lain berupa boikot acara pembukaan oleh menteri kebudayaan
Perancis, dan kegagalan Disney untuk memperoleh target pengunjung
yang datang dan pendapatan yang diharapakan. Mengapa bisa? Hal ini
disebabkan karena Disney kesalahan asumsi terhadap selera dan
pilihan dari konsumen di Perancis. Ini disebabkan karena perbedaan
budaya, Disney menganggap pola budaya perusahaan yang telah
berhasil dijalankan di Amerika Serikat dan Jepang akan berhasil pula di
Perancis, ternyata tidak. Sebagai contoh,pertama, kebijakan disney
untuk tidak menyediakan minuman alkohol di taman hiburan, berakibat
buruk karena di Paris sudah menjadi kebiasaan untuk makan siang
dengan segelas wine. Kedua asumsi bahwa hari jumat akan lebih ramai
dari hari minggu, ternyata berkebalikan. Ketiga, Disney tidak
menyediakan sarapan pagi berupa bacon dan telur seperti yang
dinginkan oleh konsumen, tapi malah menyediakan kopi dan Croissant.
Begitu juga dengan model kerja tim yang diterapkan, disney mencoba
menerapakan model kerja tim yang serupa dilakukan di USA dan
Jepang, yang tidak dapat diterima oleh karyawan Disney di Paris. Juga
kesalahan perkiraan Disney bahwa orang Eropa akan menghabiskan
waktu lam di taman mereka, ternyata keliru. Kegagalan dan kesalahan
pola budaya perusahaan yang dilakukan Disney di Paris, disebabkan

oleh adanya kesalahan penafsiran budaya. Disney beranggapan bahwa


apa yang diterapakan dan sukses di USA dan jepang akan sukses pula
di Perancis. Disney seharusnya mengadakan riset dahulu tentang
bagaimana budaya orang Perancis agar pola budaya perusahaan dapat
disesuaikan dengan kultur setempat dan diterapkan di Perancis. Dan
setelah Disney merubah strateginya yaitu dengan merubah nama
perusahaannya menjadi Disney land Paris, merubah makanan dan
pakaian yang ditawarkan sesuai pola budaya setempat, harga tiket
dipotong sepertiganya, terbukti jumlah pengunjung Disney di Paris
mengalami kenaikan.