Anda di halaman 1dari 44

BAB I

CASE
CASE 1
Saat anda sedang bertugas sebagai koass di RSPAD Gatot Soebroto,
datanglah seorang anak digendong ibunya, dengan keluhan kejang. Saat
ini kejang telah berhenti. Dari alloanamnesis, dikatakan bahwa kejang
terjadi di seluruh tubuh, kejang berlangsung selama sekitar 3 menit. Saat
kejang, mata anak tersebut melihat keatas. Setelah kejang, anak tersebut
menangis.
Riwayat Penyakit Sekarang
Anak tersebut bernama Mitta, berusia 2 tahun. Ia sudah sejak 4 hari
terakhir mengalami batuk dan pilek. Oleh ibunya, dibawa ke apotik dan
dibelikan obat sirup batu-pilek. Namun batuk dan pileknya tidak juga.
Semalam, suhu tubuhnya mulai naik, ibunya tidak memberikan obat
penurun panas, hanya dikompres dengan air hangat.
Riwayat Penyakit Dahulu
Sewaktu ia berusaha 1 tahun, pernah juga mengalami kejang di saat
panas.
Riwayat Keluarga
Ayahnya pun sewaktu kecil pernah mengalami kejang di saat panas.
Riwayat Perkembangan
Menurut ibunya mitta berbeda dari kakak-kakaknya, Mitta mulai bisa
duduk saat ia berusia 1 tahun, dan sampai sekarang mitta belum dapat
berjalan sendiri, masih berjalan digandeng ibunya. Ibunya tidak pernah
memeriksakan atau membawa mitta ke dokter anak dikarenakan anaknya
nanti juga akan bisa berjalan, sehingga tidak perlu dibawa ke dokter.
Riwayat Kelahiran
Mitta adalah anak ke lima. Saat melahirkan mitta, ibu mitta berusia
37tahun. Mitta lahir saat usia kandungan ibunya berusia 8 bulan, saat itu
ibunya tiba-tiba mengalami pecah ketuban. Berat mitta saat lahir adalah
2000 gram. Setelah dirawat beberapa minggu di Rumah sakit, akhirnya
mitta diperbolehkan pulang.
Riwayat Pengobatan
Semalam sudah diberikan obat penurun panas, saat anda lihat obat
tersebut bernama paracetamol sirup dengan dosis 120 mg/5ml.

Case 1Kejang Demam Tutorial B4

Page 1

Pemeriksaan Fisik
Kesadaran

: menangis, compos mentis

Vital sign
-

Heart Rate
Respiration Rate
Suhu

: 110x/menit
: 30x/menit
: 39oC (Axilla)

Berat Badan

: 15kg

Kepala

: Mesocephal, jejas (-)

Mata
-

Konjungtiva pucat
Sklera ikterik
Refleks cahaya langsung
Refleks cahaya tidak langsung
Pupil isokor (diameter 3mm/3mm)
Papillaedema

:
:
:
:

-/-/+/+
+/+

:-

Hidung
-

Nafas cuping hidung


Terdapat sekret cair, bening

: -/-

Telinga
-

Membran timpani intak


Tidak hiperemis
Tidak ada edema mukosa

Mulut
-

Faringitis hiperemis
Tonsil T1-T1 tenang

Cor/Pulmo

: normal

Abdomen
-

Supel
Bising usus (+) 6x/menit
Hepar & lien tidak teraba membesar
Ascites (-)

Ekstremitas

: normal

Pemeriksaan Neurologis
Meningeal sign

Case 1Kejang Demam Tutorial B4

Page 2

Kaku Kuduk
Brudzinsky I
Brudzinsky II
Kernig

: (-)
: (-)
: (-)
: (-)

Refleks Fisiologis

: normal

Refleks Patologis

: tidak ada

Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi
-

Hb
: 11,1 g/dl (N =
Ht
: 35%
(N =
Leukosit
: 16.000/ul (N =
Trombosit : 378.000/ul
Eritrosit
: 3,96 juta/ul
Diff Count
Eosinofil
: 0% (N =
Basofil
: 0%
Neutrofil
: 82% (N =
Limfosit
: 36% (N =
Monosit
: 2% (N =

Gula Darah Sewaktu

10,8 12,8)
35 43%)
5000 10000)
(N = 150.000 450.000)
(N = 3,90 5,30 juta/ul)
0 4)
(N = 0 1)
29 72)
36 52)
0 5)

: 100mg/dL

Elektrolit Darah
-

Natrium
Kalium
Kalsium

: 137 mmol/L
: 3,8 mmol/L
: 1,1 mmol/L

Mitta didiagnosis mengalami kejang demam sederhana yang


disebabkan oleh rhinitis dan faringitis, sehingga diberikan antibiotic dan
obat penurun panas.

Case 1Kejang Demam Tutorial B4

Page 3

BAB II
ISI

A. EMBRIOLOGI OTAK (SISTEM SARAF PUSAT)


-

Merupakan sistem yang dibentuk oleh jutaan sel saraf dan sel glia
beserta pembuluh darah dan sedikit jaringan ikat.
Komponen Sistem saraf pusat :
o Otak (ensefalon)
o Sumsum tulang belakang (Medula spinalis).
CNS terlihat pada awal minggu ke 3 yang tampak sebagai lempeng
saraf yang berasal dari ektoderm.
o M : Midbrain
o H : Hindbrain
o F : Forebrain

Case 1Kejang Demam Tutorial B4

Page 4

Tepi-tepi lempeng melipat, lipatan saraf saling mendekat satu sama


lain digaris tengah kemudian bersatu menjadi tabung saraf (neuron
tube)

Case 1Kejang Demam Tutorial B4

Page 5

Ujung cranial menutup kurang lebih pada hari ke-25, dan ujung
kaudalnya pada hari ke-27. SSP selanjutnya membentuk
sebuah struktur tubuler dengan bagian sefalik yang lebar, otak, dan
bagian kaudal yang panjang, medula spinalis.
Medulla spinalis membentuk ujung kaudal SPP dan ditandai dengan l
amina basalis yang mengandung neuron motorik; lamina alaris
untuk neuron sensorik; dan lempeng lantai serta lempeng atap
sebagai lempeng penghubung antara kedua sisi

Case 1Kejang Demam Tutorial B4

Page 6

Otak membentuk bagian cranial dari SSP, asalnya terdiri dari 3


bulges (primary vesicles) yang akan menjadi:
1 Forebrain (Prosencephalon)
Terbagi menjadi Diensefalon dan Telensefalon
2 Midbrain (Mesencephalon)
3 Hindbrain (Rhombocephalon)
Terbagi menjadi myelensefalon dan metensefalon

Case 1Kejang Demam Tutorial B4

Page 7

27 hari

32 hari

Case 1Kejang Demam Tutorial B4

Page 8

PROSENSEFALON
o Diensefalon
Merupakan bagian posterior otak depan
Terdiri atas sebuah lempeng atap tipis dan lamina alaris
yang tebal tempat berkembangnya thalamus dan
hypothalamus.

Case 1Kejang Demam Tutorial B4

Page 9

Diensefalon ikut berperan dalam pembentukan kelenjar


hipofisis, yang juga berkembang dari kantong ratkhe
membentuk adenohipofisis, lobus intermedius, dan pars
tuberalis, diensefalon membentuk lobus posterior yang
mengadung neuroglia dan menerima serabut-serabut
saraf dari hypothalamus.

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 10

Telensefalon
o Merupakan bulges otak yang paling rostral
o Terdiri dari :
Dua kantong lateral Hemisfer serebri,
Bagian tengah lamina terminalis.

Lamina terminalis ini digunakan oleh commissural


sebagai suatu jalur penghubung untuk berkasberkas serabut antara hemisfer kanan dan kiri.

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 11

Hemisfer serebri, yang semula berupa dua kantong


kecil, secara berangsur-angsur mengembang dan
menutupi permukaan lateral diensefalon, mesensefalon
dan metensefalon. Akhirnya, daerah-daerah inti
telensefalon sangat berdekatan dengan daerah-daerah
inti diensefalon.

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 12

MESENSEFALON
o Merupakan gelembung otak yang paling primitive dan sangat
mirip medulla spinalis dengan lamina basalis eferennya serta
lamina alaris aferennya. Lamina alarisnya membentuk
colliculus inferior dan posterior sebagai stasiun relai untuk
pusat reflex pendengaran dan penglihatan.

RHOMBOSEFALON
1 Myelensefalon yang membentuk medulla oblongata
(daerah ini mempunyai lamina basalis untuk neuron eferen
somatic dan visceral, dan lamina alarisnya mempunyai
neuron aferensomatic dan visceral.

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 13

2 Metensefalon dengan lamina basalis (eferen) dan lamina


alaris (aferen) yang khas. Selain itu,gelembung otak ini
ditandai dengan pembentukan serebelum, pusat koordinasi
sikap tubuh dan pergerakan, dan fons, jalur untuk serabut
serabut saraaf antara medulla spinalis dan korteks serebri
serta korteks serebeli.

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 14

2. ENSEFALITIS (RADANG OTAK)


-

Definisi
o Infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme.
o Pada ensefalitis terjadi peradangan jaringan otak yang dapat
mengenai selaput pembungkus otak dan medula spinalis.

Etiologi
o Mikroorganisme :
Bakteri
Protozoa
Cacing
Jamur

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 15

Spirokaeta
Virus (Penyebab tersering)
Infeksi virus dapat terjadi karena virus langsung
meenyerang otak atau reaksi radang akut karena
infeksi sistemik atau vaksinasi terdahulu.

Klasifikasi :
o A. Ensefalitis Virus
Virus yang bersifat epidemik :

Golongan Enterovirus (Poliomyelitis, virus


Coxsackie, virus ECHO)

Golongan virus ARBO (Western equine


encephalitis, Japanese B encephalitis, Eastern
equine encephalitis, dll)
Virus yang bersifat Sporadik:
Rabies
Herpes simpleks
Herpes zooster
Mumps
Limfogranuloma
Jenis lain yang dianggap disebabkan oleh virus
tetapi belum jelas.
o B. Ensefalitis pasca infeksi:
pasca-morbili,
pasca-varisela,
pasca-rubela,
pasca-vaksinia, dan
jenis-jenis yang mengikuti infeksi traktus respiratorius
yang tidak spesifik.
Gejala klinis
o Meskipun penyebabnya berbeda-beda, gejala klinis ensefalitis
lebih kurang sama dan khas, sehingga dapat digunakan
sebagai kriteria diagnosis.
o Secara umum :
Trias ensefalitis
1. Demam,
2. Kejang
3. Lesadaran menurun
Suhu yang mendadak naik, seringkali ditemukan
hiperpireksia (keadaan suhu tubuh di atas 41,10C).
Kesadaran yang cepat menurun.
Muntah.
Kejang-kejang, dapat bersifat umum, fokal atau
twitching saja (kejang-kejang di muka).

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 16

Gejala-gejala serebrum lain yang dapat timbul sendirisendiri atau bersama-sama, misal paresis atau paralisis,
afasia, dsb.
Patofisiologis

Virus tertelan

Sist.limfatik

Gigitan nyamuk

Peredaran darah

Infeksi Organ Stad. Ekstraneural: peny.sistemik

Infeksi SSP

Rx. Jar saraf thd Ag-Ab

destruksi langsung

Kerusakan neuron

Demyelinisasi, kerusakan p.d & perivaskuler

Gejala neurologis

3. MENINGITIS (RADANG SELAPUT OTAK)


-

Definisi

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 17

o Suatu sindrom infeksi virus susunan saraf pusat yang akut


dengan gejala rangsang meningeal, pleiositosis dalam likuor
serebrospinalis dengan diferensiasi terutama limfosit,
perjalanan penyakit tidak lama dan self-limited tanpa
komplikasi.

Etiologi
o Enterovirus (poliomyelitis, Coxsackie A dan B),
o echovirus,
o mumps,
o virus herpes simpleks,
o varisela,
o herpes zooster,
o arbovirus,
o virus hepatitis
o adenovirus.
Klasifikasi (Berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak) :
o A. meningitis serosa: radang selaput otak arakhnoid dan pia
mater yang disertai cairan otak yang jernih.
o B. meningitis purulenta: radang bernanah arakhnoid dan pia
mater yang meliputi otak dan medulla spinalis.
Patofisiologis

Mikroorganisme (Bakteri, Virus, Jamur, Protozoa)

Masuk melalui hematogen, per kontinuitatum, trauma, prosedur bedah


atau ruptur serebri

Inflamasi di piamater, arachnoid Hidrosefalus

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 18


Menyebar ke seluruh saraf kranial dan spinal

Kerusakan Neurologik

Gejala klinis
o Panas dan nyeri kepala yang mendadak disertai dengan kuduk
kaku.
o Nyeri tenggorok, mual, muntah, kesadaran menurun, nyeri
pada kuduk dan punggung, fotofobia, parestesia, mialgia.
o Timbul ruam dengan panas yang akan menghilang setelah 4-5
hari (bila penyebabnya echovirus atau virus Coxsackie).

4. EPILEPSI
-

Definisi
o Dorland
Setiap kelompok sindrom yang ditandai dengan gangguan
fungsi otak sementara bersifat paroksismal, yang
dimanifestasi berupa gangguan / penurunan kesadaran yang
episodik, fenomena motorik yang abnormal, gangguan
psikis/sensorik ; gejala-gejala disebabkan oleh kelainan
aktivitas listrik otak.
Etiologi
o A. Epilepsi Primer / Epilepsi Idiopatik
Tidak ditemukan kelainan pada jaringan otak
Diduga terdapat kelainan/gangguan keseimbangan zat
kimiawi dalam sel-sel saraf pada area jaringan otak
yang abnormal cetusan listrik abnormal
o B. Epilepsi Sekunder
Akibat adanya kelainan pada jaringan otak.
Diperiksa dengan CT-scan.
Adanya kelainan struktural pada otak, dapat disebabkan
dibawa sejak lahir/jaringan parut akibat kerusakan otak
waktu lahir/masa perkembangan anak.
Faktor Pencetus dan Ambang Rangsang Serangan
o Kurang tidur
Ganggu aktivitas sel-sel otak
o Stress emosional
o Infeksi

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 19

Infeksi biasanya disertai demam, demam dapat


mencetuskan terjadinya perubahan
kimiawi dalam otak.
o Obat-obat tertentu
Antidepresan trisiklik,
obat tidur
Penghentian obat secara mendadak dapat mencetuskan
kejang.
o Alkohol
Dapat menghilangkam faktor penghambat terjadinya
serangan.
o Perubahan hormonal
o Terlalu lelah
o Fotosensitif
Flashing lights 10-15Hz.
Klasifikasi Serangan Epilepsi
o 1. Serangan parsial (fokal, lokal). Kesadaran tidak berubah.
Merupakan perubahan-perubahan klinis &
elektroensefalografik yang menunjukan
aktivitas sistem neuron yang terbatas di salah satu
bagian otak.
Jenis serangan :
A. Serangan parsial sederhana (kesadaran tetap
baik)
Serangan bersumber pada 1 hemisfer.
1) Dengan gejala motorik
2) Dengan gejala somatosensorik/sensorik
khusus
3) Dengan gejala autonom
4) Dengan gejala psikis
B. Serangan parsial kompleks (kesadaran
menurun)
Serangan bersumber dari hemisfer bilateral
1) Berasal dari parsial sederhana dan
berkembang ke penurunan kesadaran
a) Tanpa gambaran lainnya
b) Dengan gambaran seperti A. 1-4
c) Dengan automatismus
2) Dengan penurunan kesadaran sejak
awitan
a) Tanpa gambaran lainnya
b) Dengan gambaran seperti A. 1-4
c) Dengan automatismus

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 20

Jenis
o
o

o
o

Serangan umum (konvulsif / non-konvulsif)


Awal serangan melibatkan hemisfer bilateral.
A. 1. Absence
2. Absence tak khas
B. Mioklonik
C. Klonik
D. Tonik
E. Tonik Klonik
F.Atonik
2. Serangan epilepsi tak terklasifikasi
Contoh : gerakan ritmis pada mata, gerakan mengunyah dan
berenang.
Serangan Epilepsi
Prinsip : serangan terjadi berulang kali dengan pola yang
sama.
Kejang
- Kejang fokal/lokal
- Kejang seluruh tubuh / epilepsi grand mal
Gangguan aktivitas dan gerakan abnormal
- Epilepsi petit mal / lena
- Sering jatuh tanpa sebab
- Anak yang suka memukul
- Mulut berkomat-kamit dan lidah berkecap-kecap
- Salam epilepsi
Gangguan/gerkan abnormal pada mata
- Kelopak mata berkedip-kedip secara tidak wajar, makin
lamamakin sering, kedipan makin kuat, mata terpejam.
Gerakan tersebut diikuti gerakan leher memutar ke satu
arah dan agak ke bawah.
Terjadi selama beberapa detik, terjadi berkali-kali dalam
sehari.
Kelopak mata tidak berkedip-kedip tetapi
ptosis(jatuhnya kelopak mata dikarenakan
paralisis/lemah) secara mendadak.
Nyeri
Ujung jari
Kepala
Punggung
Ulu hati
Gangguan berbicara
Halusinasi

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 21

Diagnosis
o Anamnesis lengkap
Gambaran serangan
o Pemeriksaan umum & neurologik
o EEG

Terapi

Nama
Obat

Jenis
Serang
an

Dosis
mg/kg/
hari

Kadar
dalam
serum
(ug/ml)

Wak
tu
paru
h
(jam
)

Efek Samping

Fenobarbit
al

P & KU

24

15 - 40

96

Ngantuk,
hiperaktif,
bingung

Fenitoin

P & KU

3-8

10 - 30

24

Ataksia, ruam
kulit, perubahan
kosmetika,
hiperplasia
gingiva

Karbamaz
epin

P & KU

15 - 25

8 - 12

12

Ataksia,
gangguan GI,
pandangan
kabur

Valproat

Semua

15 - 60

50 - 100

14

Gangguan GI,
hepatitis,
ataksia,
alopesia

Klonazepa
m

A&M

0.03
0.3

0.01
0.05

30

Mengantuk,
gangguan GI,
ruam kulit

Primidon

P & KU

10 - 20

5 - 15

12

Mengantuk,

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 22

hiperaktif

Prognosis
o Bergantung pada :
Jenis epilepsi
Faktor penyebab
Saat pengobatan dimulai dan ketaatan minum obat
o Epilepsi primer (kejang umum, serangan
lena/melamun,absence) prognosis baik.
o Epilepsi yang serangan pertamanya mulai pada usia 3 tahun
+ kelainan neurologik + retardasi mental prognosis relatif
jelek.

5. TETANUS
-

Definisi
o gangguan neurologis yang ditandai peningkatan tonus otot
dan spasme, yang disebabkan tetanospasmin dari Clostridium
tetani.
Etiologi
o tetanospasmin dari Clostridium tetani.
Epidemiologi
o Di seluruh dunia, terutama terutama negara iklim tropis dan
negara berkembang
o di pertanian, pedesaan, dan daerah beriklim hangat, selama
musim panas, dan penduduk pria
Klasifikasi dan gejala klinis
o 1. Tetanus generalisata
Merupakan tetanus yang paling umum terjadi.
Gejalanya :
1. peningkatan tonus otot
2. spasme generalisata.
Trias klinis gejala tetanus :
1. rigiditas,
2. spasme otot
3. apabila berat disertai disfungsi otonomik.
Gejala lain berupa Risus Sardonicus yakni spasme otototot muka, opistotonus ( kekakuan otot punggung),
kejang dinding perut.

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 23

Spasme dari laring dan otot-otot pernafasan bisa


menimbulkan sumbatan saluran nafas, sianose asfiksia.
Bila dijumpai hipertermi ataupun hipotermi, tekanan
darah tidak stabil dan dijumpai takhikardia, penderita
biasanya meninggal. Pasien dapat demam, walaupun
bnyk yg tidak. Sedangkan kesadaran tdk terpengaruh.

o 2. Tetanus neonatorum
Terjadi pada Neonatus usia di bwh 1 th dg riwayat
muntah, konvulsi dan tidak dapat menerima minuman.
Biasanya terjadi generalisata dan fatal bila tidak
diterapi.
Terjadi pada anak anak yang dilahirkan dari ibu yg tidak
diimunisasi secara adekuat, terutama setelah perawatan
bekas potongan tali pusat yang tidak steril.
Diantara neonatus yang terinfeksi, 90% meninggal dan
retardasi mental terjadi pada yg bertahan hidup.

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 24

o 3. Tetanus lokal
Merupakan bentuk yg jarang terjadi.
Manifestasi klinis terbatas pada otot-otot di sekitar luka.
Gejala bersifat ringan dan dapat bertahan sampai
berbulan-bulan.
Progresi ke tetanus generalisata dapat terjadi.
o 4. Tetanus sefalik
Merupakan bentuk jarang dari tetaanus lokal, yang
terjadi setelah trauma kepala atau infeksi telinga.
Masa inkubasi 2-1 hari.
Dijumpai trismus dan disfungsi satu atau lebih saraf
kranial.
Disfagia dan paralisis otot dapat terjadi.
Derajat keparahan
o 1. Klasifikasi menurut Ablett

Derajat 1 (ringan):
Trismus ringan sampai sedang
Spastisitas generalisata
Tanpa gangguan pernapasan
Tanpa spasme
Sedikit atau tanpa disfagia
Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 25

Derajat II (sedang):
Trismus sedang
Rigiditas nampak jelas
Spasme singkat ringan sampai sedang
Gangguan pernapasan sedang dg frekuensi pernapasan lebih dari
30 x/mnt
Disfagia ringan
Derajat III (berat):
Trismus berat,
Spastisitas generalisata
Spasme refleks berkepanjangan
Frekuensi pernapasan lebih dari 40 x/mnt
Serangan apnea
Disfagia berat
Takikardia lebih dari 120 x/mnt
Derajat IV (sangat berat)
Gejala sama dengan derajat III ditambah dengan gangguan
otonomik berat melibatkan sistem kardiovaskuler
Hipertensi berat diselingi dg hipotensi dan bradikardia, salah
satunya dapat menetap.

o 2. Tolak Ukur Philips

Masa
inkubasi

Tolak ukur
< 48 jam
2-5 hari
6- 10 hari
11-14 hari
Lebih dari 14 hari

Nilai
5
4
3
2
1

Internal/ umbilikal
Leher, kepala, dinding tubuh
Lokasi infeksi Ekstremitas proksimal
Ekstremitas distal
Tidak diketahui

5
4
3
2
1

imunisasi

10
8
4

Tidak ada
Mungkin ada/ ibu mendapat
Lebih 10 th lalu

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 26

Faktor yang
memberatka
n

Kurang 10 th
Proteksi lengkap

2
0

Penyakit/ trauma yg membahayakan jiwa


Keadaan yg tdk langsung membahayakn
jiwa
Keadaan yg tidak membahayakan jiwa
Trauma atau penyakit ringan
A.S.A

10
8
4
2
1

o Skor:
Tetanus ringan < 9
Tetanus sedang 9-16
Tetanus berat > 16
Diagnosis
o Diagnosis tetanus dapat diketahui dari pemeriksaan fisik
pasien, berupa :
1.Gejala klinik
Kejang tetanic,
trismus,
dysphagia,
risus sardonicus ( sardonic smile ).
2. Adanya luka yang mendahuluinya. Luka adakalanya
sudah dilupakan.
3. Kultur: C. tetani (+).
4. Lab :
SGOT meninggi
CPK meninggi
Myoglobinuria.
Diagnosis banding

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 27

Penatalaksanaan
o Prinsip pengobatan terdiri dari 3 upaya:
Mengatasi akibat eksotoksin yg sudah terikat pada SSP
Menetralisasi toksin yg masih beredar dalam darah
Menghilangkan kuman penyebab
o Penatalaksanaan umum
1. Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya,
berupa:
membersihkan luka,
irigasi luka,
debridement luka (eksisi jaringan nekrotik),
membuang benda asing dalam luka
kompres dengan H202 ,
dalam hal ini penata laksanaan, terhadap luka
tersebut dilakukan 1 -2 jam setelah ATS dan
pemberian Antibiotika. Sekitar luka disuntik ATS.
2. Diet cukup kalori dan protein,
bentuk makanan tergantung kemampuan
membuka mulut dan menelan.
Bila ada trismus, makanan dapat diberikan
personde atau parenteral.
3. Isolasi

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 28

untuk menghindari rangsang luar seperti suara


dan tindakan terhadap penderita
4. Oksigen, pernafasan buatan dan trachcostomi bila
perlu.
5. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.
o Penatalaksanaan intensif nonsuportif
Pemberian nutrisi seawal mungkin.
Ventilasi buatan sering diperlukan seama beberapa
minggu, trakeostomi biasanya dilakukan setelah
intubasi.
Pencegahan komplikasi respirasi
mencakup perawatan mulut secara cermat,
fisioterapi dada,
penghisapan trakeal secara teratur, terutama
karena salivasi &ekskresi bronkial sangat tinggi.
o Penatalaksanaan lain
Hidrasi ,
utk mengontrol kehilangan cairan yang mungkin
signifikan
Memenuhi kebutuhan kecukupan gizi yang meningkat
dg pemberian enteral ataupun parentral.
Fisioterapi utk mencegah kontraktur
Pemberian heparin dn antikoagulan utk mencegah
emboli paru
Fungsi ginjal, kandung kemih, dan saluran cerna harus
dimonitor.

PATOFISOLOGI TETANUS
Infeksi Spora (Ci-tetani)

Lingkungan anaerob

(jar.nekrotik,garam
kalsium,kuman piogenik)
Bentuk Vegetatif
Memblokade keluarnya
inhibisi Neurotransmiter

Eksotoksin (Tetanospamin)

Melekat pada sambungan Neuromuskuler


(Sifatnya Antigen, sangat mudah diikat oleh jaringan saraf)

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 29

Endositosis
Saraf Motoris

Diangkut secara Intraaxonal

Sumsum tulang
Otonom

Otak

Saraf

belakang

Tonus Otot
(Takikardi,Aritmia,

Menempel pada
Cerebral Ganliosides
Hipertensi labil)

Menjadi kaku

Kekakuan dan kejang

Hilangnya keseimbangan tonus otot

Kekakuan otot

Sistem Cerna
Wajah
-Gangg. Eliminasi

Sistem Nafas
- Gangg. Nafas

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 30

Sistem Urine

(Konstipasi)

- Gangg. Komunikasi verbal

-Gangg. Nutrisi

Spasme kandung kemih

Disuria

Spasme M.Masseter
muka dan mulut

Spasme otot

Trismus
Sardonikus

Risus

Penggunaan energi metabolik

Demam

6. KEJANG DEMAM

Definisi :
o Kejang yang terjadi pada suhu badan yang tinggi yang
disebabkan kelainan ekstrakaranial.
o Derajat tinggi suhu yang dianggap cukup untuk diagnosis
kejang demam adalah 380 celcius.
Etiologi :
o Semua jenis infeksi yang menimbulkan demam dapat
menyebabkan kejang demam.
Faktor Resiko :
o Kejang demam pada saudara kandung dan orangtua
menunjukkan kecenderungan genetic

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 31

o Produk toksin mikroorganisme terhadap otak (misal:


shigellosis, salmonellosis).
o Respon alaergi/keadaan imun yang abnormal oleh karena
infeksi.
o Perubahan keseimbangan cairan / elektrolit.
Epidemiologi :
o Tergantung umur.
o Jarang terjadi sebelum umur 9 bulan dan sesudah umur 5
tahun.
o Puncaknya sekitar 14-18 bulan.
o Insiden mendekati 3-4% anak kecil.
Klasifikasi KD (Kejang Demam) menurut Sub-Bagian Saraf Anak FKUI
ada 3 :
o 1. Kejang Demam Kompleks (KDK)
Diagnosis :
Umur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun.
Kejang berlangsung > 15 menit.
Kejang bersifat fokal/multiple.
Didapatkan kelainan neurologis.
EEG Normal.
Frekuensi kejang > 3 kali/tahun.
Temperatur < 390 C.
o 2. Kejang Demam Sederhana (KDS)
Diagnosis :
Kejadian antara usia 6 bulan - 5 tahun.
Serangan < 15 menit/singkat.
Kejang bersifat umum (tonik-klonik)
Tidak didapatkan kelainan neurologis sebelum dan
sesudah kejang.
Frekuensi kejang < 3 kali/tahun.
Temperatur > 390 C.
o 3. Kejang Demam Berulang (KDB)
Diagnosis :
Kejang demam timbul pada > 1 episode demam.

Patofisiologi Kejang :

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 32

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 33

Patofisiologi Kejang Demam :

o Penjelasan :
Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses
oksidasi di pecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh
suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam
adalah lipid dan permukaan luar adalah ionik.
Dalam keadaan normal, membran sel neuron dapat
dilalui oleh ion K, ion Na dan elektrolit seperti Cl.
Konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi
Na+ rendah, sedangkan di luar sel neuron terdapat
keadaan sebaliknya.

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 34

Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan


diluar sel maka terdapat perbedaan potensial yang
disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk
menjaga keseimbangan potensial membran ini
diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang
terdapat pada permukaan sel.
Perbedaan potensial membran sel neuron disebabkan
oleh :
1. Perubahan konsentrasi ion di ruang
ekstravaskular.
2. Rangsangan yang datangnya mendadak,
misalnya mekanis, kimiawi, aliran listrik dari
sekitarnya.
3. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri
karena penyait atau keturunan.
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 10 C akan
menyebabkan metabolisme basal meningkat 10%-15%
dan kebutuhan O2 meningkat 20%.
Pada seorang anak yang berumur 3 tahun sirkulasi otak
mencapai 65% dari seluruh tubuh sedangkan pada
orang dewasa hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu
tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan
dari membran dan dalam waktu yang singkat terjadi
difus dari ion kalsium maupun natrium melalui membran
tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik.
Lepas muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga
dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel
lainnya dengan bantuan bahan yang disebut
Neurotransmitter sehingga terjadi kejang.
Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda
dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang
seorang anak. Ada anak yang kejang telah terjadi pada
suhu 380 C, Sedangkan pada anaka dengan ambang
kejang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 400 C.
Manifestasi Klinik :
o Serangan kejang biasa terjadi dalam 24 jam pertsma sewaktu
demam.
o Singkat dan bersifat tonik-klonik, fokal atau akinetik.
o Kejang berhenti sendiri dan sejenak anak tidak berekasi
apapun.
o Setelah beberapa detik / menitanak terbangun dan sadar lg
tanpa defisit neurologis.
o Durasi kejang bervariasi beberapa menit sampai 30 menit.

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 35

o Frekuensi bisa < 4 kali dalam 1 tahun, bisa juga frekuensinya


> 2x/hr.
o Kejang > 15 menit: menunjukkan penyebab organik seperti
proses infeksi/toksik.

Diagnosis banding :
o Meningitis,
o Ensefalitis,
o Abses Otak.
Ketiganya harus diperiksa Cairan Serebrospinalnya.
Pemeriksaan Fisik dan Lab :
o KDS : Tidak ada kelainan fisik neurologis maupun lab.
o KDK : Dijumpai kelainan fisik neurologi berupa hemiplegi,
diplegi.
Terapi :
o Diazepam Oral untuk mengurangi resiko Kejang demam
berulang. 0,3 mg/kg/8 jam peroral (1 mg/kg/24 jam). Selama
sakit biasanya 2-3 hari. Efek samping : ringan, tapi gejala
kelesuan, irritabilitas dan ataksia bisa dikurangi dengan
menyesuaikan dosis.
Algoritma Talak Kejang Demam

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 36

7. GLASCOW COMA SCALE

Tingkat Kesadaran :
o Compos Mentis = 15
Reaksi segera, orientasi sempurna.
o Somnolen = 12-14
Keadaan mengantuk, kesadaran pulih bila dirangsang.
Kantuk yang dalam, rangsang kuat.
o Sopor = 8-11
o Coma = 3-7
Tidak ada gerak spontan.
Eye :
o 4 = Spontan
o 3 = Terhadap bicara
(suruh pasien membuka mata)
o 2 = Dengan rangsang nyeri (tekan pada saraf
supraorbita/kuku jari)
o 1 = Tidak ada reaksi (dengan rangsang nyeri pasien tidak
membuka mata)

Verbal :
o 5=
o 4=
o 3=
o 2=
o 1=

Baik dan tidak ada disorientasi


Kacau (confused)
Tidak tepat
Mengerang
Tidak ada jawaban

Motoric :
o 6 = Menurut perintah

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 37

o 5 = Mengetahui lokasi nyeri


o 4 = Reaksi menghindar
o 3 = Reaksi fleksi
o 2 = Reaksi ekstensi
o 1 = Tidak ada reaksi
Cara penilaian Skor Eye + Skor Verbal + Skor Motorik = Nilai
tingkat kesadaran

8. REFLEKS
-

Definisi :
o Jawaban atas rangsang (Neurologi FKUI)
o Aksi/gerakan yang dipantulkan (Dorland)
Jenis Refleks :
o 1. Fisiologis / Refleks Dalam
Refleks timbul oleh ragangan otot akibat rangsangan.
Refleks dalam dapat dinamai menurut otot yang
bereaksi / menurut tempat merangsang (insersio otot).
Contoh : refleks kuadriseps femoris/refleks patella
Jenis Pemeriksaan :
1. Refleks Biseps
- Pegang lengan pasien semifleksi
tempatkan ibu jari pemeriksa di atas tendon
otot biseps ibu jari diketok fleksi lengan
bawah.
- Pusat refleks : C5-C6.

2. Refleks Triseps
- Pegang lengan bawah pasien semifleksi
diketok pada tendon insersi m.triseps
(sedikit di atas olekranon) ekstensi.
- Lengkung refleks melalui nervus radialis,
pusatnya di C6-C8.

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 38

3. Refleks Kuadriseps Femoris / Patella


- KPR / Kniepeesreflex.
- Tungkai difleksikan & digantungkan (duduk
pada tepi tempat tidur) diketok pada
tendon m.kuadriseps femoris (di bawah
patella) ekstensi tungkai bawah.
- Lengkung refleks melalui L2, L3, L4.

4. Refleks Triseps Sure / Tendon Achilles


- APR / Achillespeesreflex.
- Tungkai bawah sedikit difleksikan kita
pegang kaki pada ujungnya untuk
memberikan sikap dorsofleksi ringan

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 39

tendon Achilles diketok kontraksi m.


triseps sure plantar fleksi.
Lengkung refleks melalui S1-S2.

o 2. Patologis
Refleks Babinski
Penderita berbaring & istirahat dengan tungkai
diluruskan pegang pergelangan kaki gores
perlahan dengan benda yang agak runcing
(telapak kaki bagian lateral, tumit-pangkal jari).
(+) : gerakan dorsofleksi ibu jari & gerakan
mekarnya jari lain.
Cara Chaddock : lateral maleolus
(+) : gerakan dorsofleksi ibu jari & gerakan
mekarnya jari lain.
Cara Gordon : pencet/cubit otot betis
(+) : gerakan dorsofleksi ibu jari & gerakan
mekarnya jari lain.
Cara Oppenheim : urut dengan kuat tibia dan otot
tibialis anterior (arah ke distal)
Cara Gonda : pencet/tekan satu jari kaki, lalu lepaskan
Cara Schaefer : pencet/cubit tendo Achilles

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 40

9. MENINGEAL SIGN
-

Kaku kuduk
o Cara pemeriksaan:
1. Tangan pemeriksa ditempatkan dibawah kepalapasien
yang sedang berbaring, kemudian kepaladitekukan
( fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai dada.
2. Selama penekukan diperhatikan adanya tahanan. Bila
terdapat kaku kuduk kitadapatkan tahanan dan dagu
tidak dapat mencapaidada. Kaku kuduk dapat bersifat
ringan atau berat

Kernig Sign.
o Cara pemeriksaan :
1. Pasien yang sedang berbaringdifleksikan pahanya
pada persendian panggul sampaimembuat sudut 90
derajat.

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 41

2. Setelah itu tungkaibawah diekstensikan


pada persendian lutut sampaimembentuk sudut lebih
dari 135 derajat terhadappaha.
3. Bila teradapat tahanan dan rasa nyeri
sebelumatau kurang dari sudut 135 derajat,
maka dikatakankernig sign positif

Brudzinski Sign.
o Jenis :
Tanda Brudzinski 1 ( Brudzinskis neck sign),
Pasien berbaring dalam sikap terlentang,
dengantangan yang ditempatkan dibawah kepala
pasienyang sedang berbaring , tangan pemeriksa
yang satulagi sebaiknya ditempatkan didada
pasien untukmencegah diangkatnya badan
kemudian kepalapasien difleksikan sehingga dagu
menyentuhdada.
Test ini adalah positif bila gerakan fleksi
kepaladisusul dengan gerakan fleksi di sendi lutut
danpanggul kedua tungkai secara reflektorik.
Tanda Brudzinski 2 ( Brudzinskis contralateral legsign)
dstnya.
Pasien berbaring terlentang. Tungkai yangakan
dirangsang difleksikan pada sendi lutut,kemudian
tungkai atas diekstensikan padasendi panggul.
Bila timbul gerakan secarareflektorik berupa fleksi
tungkai kontralateralpada sendi lutut dan panggul
ini menandakantest ini postif

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 42

Tanda Lasegue
o Untuk pemeriksaan ini dilakukan pada pasien yang
berbaringlalu kedua tungkai diluruskan ( diekstensikan ) ,
kemudian satutungkai diangkat lurus, dibengkokkan( fleksi )
persendian panggulnya.
o Tungkai yang satu lagi harusselalu berada dalam keadaan
ekstensi ( lurus ) .
o Pada keadaannormal dapat dicapai sudut 70 derajat sebelum
timbul rasasakit dan tahanan.
o Bila sudah timbul rasa sakit dan tahanansebelum mencapai
70 derajat maka disebut tanda Laseguepositif.
o Pada pasien yang sudah lanjut usianya diambilpatokan 60
derajat.

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 43

BAB III
DAFTAR PUSTAKA

Neurologi Dasar Dian Rakyat


Diagnosa Topik Neurologis Peter Duus
Neuroanatomi Snell
Anatomi Klinis Snell
Embriologi Langmann

Case 1Kejang Demam Tutorial B4 Page 44