Anda di halaman 1dari 5

Rahayu Sukma Dewi (021311133072)

1. Klasifikasi karies berdasarkan dalamnya struktur jaringan yang


terkena karies
Karies yang diklasifikasikan berdasarkan dalamnya struktur jaringan yang
terkena, yaitu karies superficial, media dan profunda (Dini, 2008).
1. Karies Superfisialis
Karies ini terjadi pada bagian enamel saja dan belum mencapai dentin.
Pada tahap ini, mengiritasi pulpa tetapi tidak menimbulkan rasa nyeri pada pasien.
2. Karies Media
Karies ini terjadi dimana sudah mengenai bagian dentin tetapi belum
melebihi setengah dari dentin (Tarigan, 1990). Karies menyebabkan hiperemi
pulpa. Nyeri akan terasa apabila ada rangsangan panas atau dingin dan nyeri akan
hilang bila rangsangan di hilangkan.
3. Karies Profunda (pulpa)
Karies ini terjadi dimana sudah mengenai lebih dari setengah bagian
dentin dan kadang-kadang sudah mengenai baian pulpa (Tarigan, 1990). Karies ini
dapat menimbulkan rasa nyeri spontan.

Gambar : Karies Berdasarkan Kedalamannya (Dini, 2008).

Karies profunda dapat dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu :


a. Karies profunda stadium I
Karies telah melewati setengah dentin, biasanya radang pulpa belum
dijumpai.

Gambar : Karies Profunda Stadium 1

b. Karies profunda stadium II. Masih dijumpai lapisan tipis yang


membatasi karies dengan pulpa

Gambar : Karies Profunda Stadium 2

c. Karies profunda Stadium III. Pulpa telah terbuka. Dijumpai bermacammacam radang pulpa.

Gambar : Karies Profunda Stadium 3

2. Klasifikasi karies berdasarkan tingkat progresivitas karies


1. Karies akut
Karies jenis ini berkembang dan memburuk dengan cepat yang terjadi
pada bagian pulpa oleh proses karies karena terbukanya tubulus dentin yang
terjadi pada anak-anak maupun dewasa (Chandra, 2008).
2. Karies kronis
Karies ini prosesnya berjalan lambat dengan warna kecoklatan sampai
hitam. Tipe ini berlangsung perlahan dan cenderung melibatkan pulpa lebih
sedikit dari karies akut. Karies ini paling sering terjadi pada orang dewasa. Hal ini
dikarenakan progresivitas dari proses karies memiliki cukup waktu untuk terjadi
dentin sclerosis dan pembentukan respon iritasi (Chandra, 2008).
3. Karies terhenti

Karies terhenti atau disebut Arrested Caries, termasuk lesi karies yang
tidak berkembang. Karies jenis ini bisa disebabkan karena perubahan dari
lingkungan. Karies tipe ini relatif jarang ditemukan karena tidak memiliki
kecenderungan untuk berkembang. Karies ini terjadi pada gigi sulung maupun
permanen. Karies terhenti didapatkan pada permukaan oklusal dan proksimal
yang ditandai oleh rongga terbuka yang besar (Chandra, 2008).
3. Klasifikasi karies menurut G.J Mount and WR.Hume (Mount, 2005).
a.

Berdasarkan site (lokasi).

Site 1
Site 2

anterior maupun posterior.


Site 3
:karies
terletak

:karies terletak pada pit dan fissure.


:karies terletak di area kontak gigi (proksimal), baik
di

daerah

servikal,

termasuk

enamel/permukaan akar yang terbuka.


b.

Berdasarkan size (ukuran), jika kavitas berkembang dari lesi bercak

putih menjadi kavitas berlanjut sehingga menghancurkan mahkota gigi.


Mahkota tersebut diklasifikasikan menjadi:

Size 0
Size 1

Kavitas yang masih minim dapat dilakukan perawatan remineralisasi.


Size 2
: ukuran kavitas sedang, dimana masih terdapat struktur

: lesi dini.
: kavitas minimal, melibatkan dentin namun belum terjadi.

gigi yang cukup untuk dapat menyangga restorasi yang akan

ditempatkan.
Size 3
: kavitas yang berukuran lebih besar, sehingga preparasi
kavitas di perluas agar restorasi dapat digunakan untuk melindungi

struktur gigi yang tersisa dari retak/patah.


Size 4
: sudah terjadi kehilangan sebagian besar struktur gigi
seperti cups/sudut insisal.

4. Klasifikasi karies menurut G.V Black (Lund, 1997).


a. Kelas 1 : Kavitas pada semua pit dan fissure gigi, terutama pada
premolar dan molar.
b. Kelas 2 : Kavitas pada permukaan approksimal gigi posterior yaitu
pada permukaan halus / lesi mesial dan atau distal biasanya berada

di bawah titik kontak yang sulit dibersihkan . Dapat digolongkan


sebagai kavitas MO (mesio-oklusal) , DO (disto-oklusal) dan MOD
(mesio-oklusal-distal).
c. Kelas 3 : Kavitas pada permukaan approksimal gigi- gigi depan
juga terjadi di bawah titik kontak, bentuknya bulat dan kecil.
d. Kelas 4 : Kavitas sama dengan kelas 3 tetapi meluas sampai pada
sudut insisal.
e. Kelas 5 : Kavitas pada bagian sepertiga gingival permukaan bukal
atau lingual,lesi lebih dominan timbul dipermukaan yang menghadap
ke bibir/pipi dari pada lidah. Selain mengenai email,juga dapat
mengenai sementum.
f. Kelas 6 : Terjadi pada ujung gigi posterior dan ujung edge insisal
incisive. Biasanya pembentukkan yang tidak sempurna pada ujung
tonjol/edge incisal rentan terhadap karies.
5. Klasifikasi karies berdasarkan tempat terjadinya karies (Widya,
2008).
Karies Insipiens
Karies yang terjadi pada permukaan enamel gigi, ciri - ciri karies insipies
adalah ada pewarnaan hitam atau coklat pada enamel yang terjadi pada permukaan
enamel gigi dan belum sakit.
Karies Superfisialis
Karies yang sudah mencapai bagian dalam enamel, ciri-ciri karies
superfisialis adalah terbentuknya rongga pada permukaan gigi yang mencapai
dentin dan ada pewarnaan hitam dan kadang-kadang terasa sakit ketika ketika
diminumi air dingin.
Karies Media
Karies yang sudah mencapai bagian dentin (tulang gigi ) atau bagian
pertengahan antara permukaan gigi dan pulpa, ciri-ciri karies media adalah adanya
rongga yang semakin besar dan dalam mencapai pulpa gigi dan rongga berwarna

hitam, gigi terasa sakit apabila terkena rangsangan dingin, makanan masam dan
manis.
Karies Profunda
Karies yang telah mendekati atau telah mencapai pulpa sehingga terjadi
peradangan pada pulpa. ciri-ciri karies profunda adalah biasanya terasa sakit
waktu makan dan sakit secara tiba-tiba, dapat pula terbentuk abes/nanah disekitar
ujung gigi, dan biasanya sampai pecah dan hilang karena gigi sudah mengalami
pengeroposan.

Daftar pustaka :
Baum Phillips Lund. 1997. Buku Ajar Ilmu konservasi Gigi, ahli Bahasa, Resinta tarigan, Ed.3,
Jakarta: EGC.
Chandra, B. 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : EGC.
Dini A, Erdaliza, Febry F, Laila A, Mohan SD, Riri J, et al. 208. Gigi dan mulut (tutorial)
Pekanbaru: FK UNRI. Pp : 3-7.
G.J. Mount, W.R. Hume. 2005. Preservation and Restoration of Tooth Structure. Mosby.
Tarigan, Rasinta. 1990. Karies Gigi. Jakarta: Hipokrates.
Widya, Y. 2008. Pedoman Perawatan Kesehatan Anak. Bandung: Yrama Widya.