Anda di halaman 1dari 75

HUBUNGAN ANTARA USIA, TINGKATAN KELAS, DAN

JENIS KELAMIN DENGAN KECENDERUNGAN


MENJADI KORBAN BULLYING DI
SD MUHAMMADIYAH 01 KUDUS
TAHUN 2015
Skripsi
Diajukan sebagian salah satu syarat untuk
Mencapai gelar Sarjana Keperawatan (S-1)

Oleh :
Nurifani Chaeru Nisa
NIM : III.11.3074
Pembimbing :
1. Indanah M. Kep. Ns, Sp. Kep. An
2. Anny Rosiana M. M. Kep.Ns, Sp. Kep. J

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH KUDUS
TAHUN 2015

HALAMAN PERSETUJUAN
Proposal skripsi dengan judul Hubungan Antara Usia, Tingkatan Kelas, dan
Jenis Kelamin dengan Kecenderungan Menjadi Korban Bullying di SD Muhammadiyah
01 Kudus Tahun 2015 telah mendapat persetujuan oleh pembimbing skripsi untuk
diajukan dihadapan tim penguji proposal skripsi pada :
Nama

: Nurifani Chaeru Nisa

NIM

: III.11.3074

Hari

: Jumat

Tanggal

: 13 Februari 2015

Menyetujui,
Pembimbing Utama

Pembimbing Anggota

Indanah M.Kep. Ns,Sp. Kep. An


NIDN.0022037501

Anny Rosiana M M.Kep. Ns,Sp. Kep. J


NIDN. 0616087801

Mengetahui,
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Kudus
Ketua

Rusnoto, SKM.,M.Kes. (Epid)


NIDN : 0621087401

ii

HALAMAN PENGESAHAN
Proposal skripsi ini dengan judul HUBUNGAN ANTARA USIA, TINGKATAN
KELAS, DAN JENIS KELAMIN DENGAN KECENDERUNGAN MENJADI KORBAN
BULLYING DI SD MUHAMMADIYAH 01 KUDUS TAHUN 2015 telah disetujui dan
diseminarkan dihadapan Tim Penguji proposal skripsi Jurusan Keperawatan Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Kudus, pada :
Nama

: Nurifani Chaeru Nisa

NIM

: III.11.3074

Hari

: Rabu

Tanggal

: 01 April 2015

Tim Penguji :
Penguji I

Penguji II

Sukarmin M. Kep. Ns,Sp. Kep. MB


NIDN. 0607057601

Anny Rosiana M. M.Kep Ns.Sp Kep.J


NIDN : 0616087801

Mengetahui,
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Kudus
Ketua

Rusnoto, SKM.,M.Kes. (Epid)


NIDN : 0621087401

iii

HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi dengan judul Hubungan Antara Usia, Tingkatan Kelas, dan Jenis
Kelamin dengan Kecenderungan Menjadi Korban Bullying di SD Muhammadiyah 01
Kudus Tahun 2015 telah mendapat persetujuan oleh pembimbing skripsi untuk
dipertahankan dihadapan tim penguji skripsi pada :
Nama

: Nurifani Chaeru Nisa

NIM

: III.11.3074

Hari

: Selasa

Tanggal

: 23 Juni 2015

Menyetujui,
Pembimbing Utama

Pembimbing Anggota

Indanah M.Kep. Ns,Sp. Kep. An


NIDN.0022037501

Anny Rosiana M M.Kep. Ns,Sp. Kep. J


NIDN. 0616087801

Mengetahui,
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Kudus
Ketua

Rusnoto, SKM.,M.Kes. (Epid)


NIDN : 0621087401

iv

HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini dengan judul HUBUNGAN ANTARA USIA, TINGKATAN KELAS,
DAN JENIS KELAMIN DENGAN KECENDERUNGAN MENJADI KORBAN BULLYING
DI SD MUHAMMADIYAH 01 KUDUS TAHUN 2015 telah disetujui dan diseminarkan
dihadapan Tim Penguji Skripsi Jurusan Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Muhammadiyah Kudus, pada :
Nama

: Nurifani Chaeru Nisa

NIM

: III.11.3074

Hari

: Rabu

Tanggal

: 01 Juli 2015

Tim Penguji :
Penguji I

Penguji II

Indanah M. Kep. Ns,Sp. Kep. An


NIDN. 0022037501

Supardi S. E, M. Kes
NIDN : 0615056902

Mengetahui,
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Kudus
Ketua

Rusnoto, SKM.,M.Kes. (Epid)


NIDN : 0621087401

PERNYATAAN

Yang bertandatangan dibawah ini

Nama

: Nurifani Chaeru Nisa

NIM

: III.11.3074

Menyatakan bahwa

Skripsi judul HUBUNGAN ANTARA USIA, TINGKATAN

KELAS, DAN JENIS KELAMIN DENGAN KECENDERUNGAN MENJADI KORBAN


BULLYING DI SD MUHAMMADIYAH 01 KUDUS TAHUN 2015 , Merupakan :
1. Hasil karya yang dipersiapkan dan disusun sendiri
2. Belum pernah disampaikan untuk mendapatkan gelar S1 Keperawatan
STIKES MUHAMMADIYAH Kudus
Oleh karena itu pertanggungjawaban proposal ini sepenuhnya berada pada diri
saya.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebesar-besarnya.

Kudus, Juli 2015

Nurifani Chaeru Nisa


vi

Institute of Health Sciences Muhammadiyah Kudus


Study Program S-1 Nursing
Nursing Essay, July 2015
ABSTRACT
THE RELATIONSHIP BETWEEN AGE, GRADE LEVELS, AND SEX
WITH TENDENCY TO BECOME VICTIMS OF BULLYING IN
MUHAMMADIYAH 01 KUDUS ELEMENTARY SCHOOL
2015
Nurifani Chaeru Nisa, Indanah, Anny Rosiana
vi+ 73 Page+11 Table+2 Image+Annex

Background : Increasing cases of bullying in the school during the year 2013-2014 by 26%
(KPAI). 7771 children in London bullied between the ages of 7-11 years, most victims of bullying
are in the grade levels 3 and 4 SD of 22% (Susan, 2013) and 14% of boys and 9% of girls in the
United States are involved either as a bully or a victim
Objective: To determine the relationship between age, grade level, and sex with a tendency to
become victims of bullying in SD Muhammadiyah Kudus 2015
Method: analytical correlation. Cross sectional method, a sample of 81 respondents out of 434
students in grade 1-6 with stratified random sampling technique with a questionnaire measuring
instrument.. Test research relationships using Chi Square
Result: The study of the relationship between age and the tendency of becoming victims of
bullying in SD Muhammadiyah 01 Kudus showed very weak correlation, (p.value: 0,375; : 0,05;
r: 0,154). The relationship between grade levels with a tendency to become victims of bullying in
SD Muhammadiyah 01 Kudus showed weak correlation(p.value;0.015; = 0,05; r: 0,262), and
research on the relationship between the sexes with a tendency to become victims of bullying in
SD Muhammadiyah 01 Kudus indicates the strength of the correlation is weak, (p.value: 0.013;
= 0.05; r=0,267).
Conclusion: There is no significant relationship between age and the tendency of becoming
victims of bullying in SD Muhammadiyah 01 Kudus .There is a relationship between class and
gender with a tendency to become victims of bullying in SD Muhammadiyah 01 Kudus.
Key Words
: Age, Grade Level, Sex, Victim, Bullying
Bibliography : 43 (2001 2014)
1 Student STIKES Muhammadiyah Kudus
2 Lecturer STIKES Muhammadiyah Kudus
3 Lecturer STIKES Muhammadiyah Kudus

vii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dunia pendidikan di Indonesia kembali tercoreng setelah sebuah
video yang menayangkan sejumlah murid Sekolah Dasar Trisula Perwari
Bukittinggi pada tanggal 18 September 2014 melakukan aksi bully terhadap
seorang teman beredar di dunia maya. Tentu saja fakta tersebut membuat
miris dan tidak sedikit yang menyalahkan sistem pendidikan di Indonesia
yang miris pengawasan menjadi penyebab maraknya aksi bully (Malik,
2014).
Menurut Aris Merdeka Sirait (2014), kejadian bully di Sekolah Dasar
seperti fenomena gunung es karena sedikit yang melaporkan. Berdasarkan
catatan Komnas Perlindungan Anak Indonesia di tahun 2013, KPAI
menerima 3.339 kasus pelanggaran terhadap anak dan 16% pelaku adalah
anak usia kurang dari 14 tahun. Jumlah ini meningkat menjadi 4.965 kasus di
tahun 2014, dimana pelaku bully meningkat menjadi 26%. Hal ini
menggambarkan bahwa lingkungan sekolah sudah tidak aman dari perilaku
kekerasan.
Bullying

adalah

pola

perilaku

agresif

yang

melibatkan

ketidakseimbangan kekuasaan dengan tujuan membuat oranglain merasa


tidak nyaman, takut, dan sakit hati yang sering dilakukan atas dasar
perbedaan pada penampilan, budaya, ras, agama, orientasi seksual dan
identitas gender orang lain (British Columbia, 2012). Hasil penelitian Sevda

(2012) mengenai bullying pada anak dan remaja di Turki dengan responden
sebanyak 1.315 siswa dari mulai SD hingga SMA , 20% siswa ditemukan
berada pada lingkaran bullying (5% sebagai pelaku, 8% korban, dan 7%
pelaku-korban).
Bullying bisa terjadi pada semua pelajar tingkatan sekolah mulai dari
TK sampai dengan SMA, bahkan sampai dengan Perguruan Tinggi.
Hubungan pelaku dan korban bullying biasanya merupakan hubungan
sejawat atau teman sebaya, misalnya teman sekelas, kakak kelas dan adik
kelas, senior dan yunior, atau rekan kerja (Sawitri, 2009.)
Bentuk perilaku bullying di sekolah, bermacam-macam mulai dari
bentuk, fisik, verbal, relasional, hingga cyberbullying dan dapat terjadi pada
berbagai setting, yang ada disekolah. Lokasi yang sering menjadi tempat
melakukan bullying diantaranya di koridor, ruang kelas, ruang ganti, di
belakang sekolah, toilet, atau di jalan menuju rumah (Donellan, 2006).
Kekerasan ini dapat dilakukan pada saat jam pelajaran di kelas, istirahat, jam
ekstrakurikuler, orientasi sekolah bagi siswa baru, bahkan ada pula yang
terjadi pada saat study tour (Sawitri, 2009).
Bullying melibatkan beberapa pihak. Pertama, tentu saja pelaku, yang
biasanya

bertujuan

untuk

mendapatkan

sesuatu

yang

diinginkan,

mendapatkan kepuasan setelah unjuk kekuatan, namun bisa juga tadinya ia


iseng, dan berhasil, sehingga ingin mengulang kembali keberhasilannnya
tersebut. Pihak selanjutnya, adalah korban. Korban biasanya memiliki
karakteristik tertentu yang menarik perhatian atau oleh pelaku dianggap
berbeda dibandingkan teman sebayanya, sehingga memicu pelaku untuk
melakukan bullying (Sawitri, 2009).

Bullying dapat mengakibatkan korban merasa cemas, mengalami


gangguan tidur, sedih berkepanjangan, dan menyalahkan diri sendiri. Terkait
dengan aktivitas sekolah, korban dapat pula sering absen, terisolasi secara
sosial, atau mengalami drop-out. Tidak hanya sampai di situ, bullying juga
meresahkan para orang tua dan masyarakat dan ketika terjadi di sekolah,
tingkat kepercayaan mereka pada institusi pendidikan menjadi menurun
(Sawitri, 2009).
Salah satu faktor yang mempengaruhi bullying adalah usia anak
sekolah (6-12 tahun), dimana pada periode ini anak mulai diarahkan keluar
dari kelompok keluarga dan mulai berinteraksi dengan lingkungan sosial
yang akan berdampak pada hubungan interaksi dengan teman sebaya. Para
peneliti dari Kings College, London, meneliti sekitar 7.771 anak-anak, dan
sekitar seperempat dari mereka (28 persen) ditindas atau di bully antara usia
tujuh dan sebelas tahun, dan hal tersebut terbawa hingga di usia 50 tahun
(Renny, 2014). Survey di berbagai belahan dunia menyatakan bahwa
bullying paling banyak terjadi pada usia 7 tahun, dan selanjutnya menurun
hingga usia 15 tahun. Studi lain menyatakan prevalensi bullying tertinggi
pada usia 7 tahun dan 10-12 tahun (KPA, 2007).
Astuti (2008) menyebutkan salah satu faktor penyebab perilaku
bullying adalah situasi sekolah yang tidak harmonis atau diskriminatif.
Sedangkan faktor lain diantaranya adalah perbedaan tingkatan kelas,
ekonomi, agama, rasisme, dan tradisi senioritas. Tingkatan kelas secara
tidak langsung berpotensi memunculkan perasaan senior lebih berkuasa dari
juniornya dan memanfaatkannya untuk bertindak bullying. Judarwanto (2011)
dalam penelitiannya menunjukkan bullying terjadi 17% pada siswa di kelas

dua dan 4,7% pada siswa kelas sembilan. Penurunan insidensi bullying ini
berkaitan dengan usia pada kedua jenis kelamin.
American Association of School Administrators (2009) menyatakan
faktor yang mempengaruhi terjadinya bullying diantaranya adalah faktor
individu yang meliputi jenis kelamin. Amanda (2014) menjelaskan bahwa
jenis kelamin berperan dalam kejadian bullying dan hubungan antara
pelecehan antar teman sebaya karena anak laki-laki lebih berpeluang untuk
melakukan bullying fisik. Sebaliknya anak perempuan cenderung untuk
terlibat dalam bullying sosial, atau inklusi dan eksklusi pada temantemannya. Sementara itu Judarwanto (2011) menambahkan bahwa, anak
laki-laki

umumnya

lebih

sering

terlibat

bullying

dibandingkan

anak

perempuan; 14% dari anak laki-laki dan 9% anak perempuan di Amerika


Serikat terlibat baik sebagai pengganggu atau korban.
Tisna (2010) menyimpulkan bahwa seorang anak yang menjadi target
korban bullying biasanya cenderung lebih kecil atau lebih lemah dari pelaku.
Selain itu, juga bisa dikaitkan dengan kecenderungan siswa senior terhadap
siswa junior di sekolah. Menurut Susanto (2010), ciri korban bullying
diantaranya adalah secara akademis korban terlihat kurang cerdas, dan
secara fisik korban adalah orang yang lemah. Korban laki-laki lebih sering
mendapat siksaan secara langsung, dan korban perempuan lebih sering
mendapat tindakan bullying verbal.
Dalam menghadapi fenomena bullying, tentu saja melibatkan banyak
pihak yang terkait terutama dari pihak orangtua dan sekolah. Hendaknya
orang tua dapat mencontohkan perilaku yang positif, besifat fleksibel, luwes
dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berlangsung karena
seringkali tindakan bullying terjadi akibat anak yang meniru tindakan

orangtua serta memahami anak yang sedang mengalami masa pertumbuhan


dalam berbagai segi, baik fisik maupun mental, menghargai anak,
mendukung, dan mengajari cara berteman yang baik kepada anak lain (Rida,
2012).
Bagi pihak sekolah penting untuk senantiasa menjaga sistem
kebijakan dan iklim sekolah

yang menurut Astor

R.A,

(2005) meliputi

school policy against violence that include clear, consist, and fair rules,
teacher support of students, and students participation in decision making
and in the design of intervention to prevent school violenece untuk
menetapkan aturan-aturan yang jelas mengenai bullyingdi ruang kelas dan di
lingkungan sekolah secara menyeluruh, keterlibatan guru Bimbingan
Konseling sangat penting untuk memperoleh informasi yang akurat
mengenai bullying sehingga dapat ditindaklanjuti dengan tepat. Hal ini
bertujuan untuk memutus rantai kekerasan (Rida, 2012).
Menurut hasil penelitian Fika (2012), yang dilakukan di Bogor
mengenai hubungan

karakteristik anak usia sekolah dengan kejadian

bullying di Sekolah dasar

menunjukkan

bahwa

65% anak pernah

mengalami kejadian bulying. Kejadian bullying diketahui tidak berhubungan


dengan usia (p = 0,386) maupun tingkatan kelas (p= 0,500), tetapi
berhubungan

dengan

perbedaan

jenis

kelamin

(p

0,011)

serta

kecenderungan anak dalam berkelompok (p = 0,05).


Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang telah peneliti lakukan
pada tanggal 08 Oktober 2014 dengan cara memberikan kuesioner terhadap
15 siswa-siswi kelas 3-5 di SD Muhammadiyah 01 Kudus, didapatkan data
bahwa 10 dari 15 anak pernah mengalami tindakan bullying dari siswa lain,
baik secara fisik seperti dicubit, didorong dan secara lisan seperti diejek dan

dipanggil dengan nama orangtua serta siswa perempuan lebih sering


mendapat perlakuan bullying dari siswa laki-laki dengan prosentase 40%
bullying verbal, 30% bullying fisik, dan sisanya 30% bullying psikologis.
Menurut Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 01 Kudus, tindakan bullying
kerap terjadi di kalangan siswa kelas senior seperti kelas IV, V dan VI
dengan korban bervariasi dari teman sekelas hingga adik kelas.
Berdasarkan berbagai penjelasan yang diatas, maka peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian terhadap hubungan antara usia, tingkatan kelas,
dan jenis kelamin terhadap kecenderungan menjadi korban bullying di SD
Muhammadiyah 01 Kudus tahun 2015.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dirumuskan masalah
penelitian sebagai berikut: Belum diketahuinya Hubungan Antara Usia,
Tingkatan Kelas, dan Jenis Kelamin dengan Kecenderungan Menjadi Korban
Bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015.
C. Pertanyaan Penelitian
Dari perumusan masalah diatas maka pertanyaan pada penelitian in
adalah: Apakah terdapat hubungan antara usia, tingkatan kelas, dan jenis
kelamin

dengan

kecenderungan

menjadi

korban

bullying

di

SD

Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015?


D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara usia, kelas, dan jenis kelamin
dengan kecenderungan menjadi korban bullying di SD Muhammadiyah
01 Kudus tahun 2015.
2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui karakteristik usia, tingkatan kelas, dan jenis kelamin


dengan

kecenderungan

menjadi

korban

bullying

di

SD

Muhammadiyah 01 Kudus tahun 2015.


b. Menganalisa hubungan antara usia dengan kecenderungan menjadi
korban bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus tahun 2015.
c. Menganalisa
hubungan
antara
tingkatan
kelas
dengan
kecenderungan menjadi korban bullying di SD Muhammadiyah 01
Kudus tahun 2015.
d. Menganalisa hubungan antara jenis kelamin dengan kecenderungan
menjadi korban bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus tahun 2015.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Masyarakat
Sebagai sumber informasi untuk para orang tua dan guru sekolah dasar
tentang karakteristik anak sekolah yang cenderung menjadi korban
bullying.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan referensi dan masukan bagi peneliti selanjutnya, agar
dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian dengan
variabel yang berbeda.
3. Bagi Institusi Kesehatan
Sebagai dokumen dan bahan perbandingan untuk peningkatan
penyuluhan dan pencegahan bullying.
4. Bagi Peneliti
Mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan dan
pengalaman nyata dalam melakukan penelitian.

F. Keaslian Penelitian
Penelitian dengan judul Hubungan Antara Usia, Tingkatan Kelas, dan
Jenis Kelamin dengan Kecenderungan Menjadi Korban Bullying di SD

Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015 belum pernah diteliti sebelumnya.


Berikut ini beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini:

Tabel 1.1
Keaslian Penelitian
N Judul Penelitian
Peneliti
o
1
2
3
1 Hubungan
Fika
. karakteristik anak Latifah
usia
sekolah
dengan kejadian
bullying di sekolah
dasar X di Bogor
Tahun 2012

2 Fenomena
Siswati
. Bullyingdi Sekolah
Dasar Negeri Di
Semarang Tahun
2009
3 Hubungan Antara Nurifani
Usia,
Tingkatan C N
Kelas dan Jenis
Kelamin dengan
Kecenderungan
Menjadi
Korban
Bullying di SD
Muhammadiyah
01 Kudus Tahun
2015.

Metode

Hasil

4
Deskrip
tif
korelatif

5
Hasil penelitian menunjukkan 65%
anak pernah mengalami kejadian
bullying. Kejadian bullying diketahui
tidak berhubungan dengan usia (p =
0,386) maupun tingkatan kelas (p=
0,500), tetapi berhubungan dengan
perbedaan jenis kelamin (p = 0,011)
serta kecenderungan anak dalam
berkelompok (p = 0,05).

Deskrip
tif

Hasil penelitian menunjukkan


37,55% siswa menjadi korban
bullying, 42,5% siswa mendapat
perilaku bullying secara fisik dan
34,06% dari non fisik.

Analitik
Korelatif

G. Ruang Lingkup
1. Ruang Lingkup Waktu
Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2015.
2. Ruang Lingkup Tempat
Tempat penelitian ini adalah di SD Muhammadiyah 01 Kudus.

3. Ruang Lingkup Materi


Masalah yang dikaji adalah mengenai hubungan antara Usia, Tingkatan
Kelas, dan Jenis Kelamin dengan Kecenderungan Menjadi Korban
Bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus.
H. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki keterbatasan antara lain:
1. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain Cross Sectional
yang hanya mengkorelasikan antara variabel dependen dengan
variabel independen dalam sekali waktu dan secara bersamaan tidak
longitudinal yang mengikuti kronologi waktu sehingga banyak faktor
yang dikesampingkan.
2. Instrumen penelitian merupakan modifikasi dari Olweous Bullying
Questionnaire, sehingga memerlukan berbagai uji validitas dan
reliabilitas untuk menjamin kesiapan instrument dalam sebuah
penelitian.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Bullying


1. Pengertian Bullying
Bullying berasal dari kata bully (bahasa inggris), yang berarti
menggertak atau menggangu (Savitri, 2014). Bullying adalah tindakan
berulang yang bertujuan menyakiti dan mengontrol orang lain dengan
kekuatan yang tidak seimbang antara pelaku dan korban (Lamb, Pepler,
and Craig 2009, Perry 2014).
Menurut Tisna (2010), bullying adalah perilaku yang bersifat agresif
atau menyerang yang dilakukan secara berulang kali serta adanya
ketidak seimbangan kekuatan antara kedua pihak. Bullying juga
didefinisikan sebagai perilaku permusuhan yang dilakukan dengan
sengaja baik secara fisik, psikologi, atau verbal serta bertujuan untuk
menyakiti dan menyebabkan ketakutan pada korban.(Hunt, 2014).
Sedangkan menurut situs Peduli Karakter Anak (PeKA), bullying diartikan
sebagai

penggunaan

agresi

dengan

tujuan

menyakiti

oranglain

(Tridhonanto, 2014).
The National Safe Schools Framework mendefinisikan bullying
sebagai tindakan berulang verbal, fisik, perilaku sosial atau psikologis
yang berbahaya dan melibatkan penyalahgunaan kekuasaan oleh
seorang individu atau kelompok terhadap satu atau lebih orang. Disebut

11

12

penyalahgunaan kekuasaan adalah dimana ada ketidak seimbangan


kekuatan satu orang atau kelompok yang memiliki keuntungan lebih atas
yang lain, dan jika kekuatan ini disalahgunakan, ini memungkinkan
mereka untuk memaksa atau menganiaya oranglain untuk tujuan mereka
sendiri. Dalam situasi bullying, ketidakseimbangan kekuatan ini mungkin
timbul dari konteks, aset atau dari karakteristik pribadi (Anonimity, 2013).
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan secara berulang
dengan niat menyakiti oranglain dan adanya ketidakseimbangan
kekuatan antar kedua pihak.
Terjadinya bullying di sekolah menurut Ehan (2007) merupakan
proses dinamika kelompok dan di dalamnya ada pembagian peran.
Peran-peran tersebut

adalah

bully, korban bully, asisten

reinfocer, defender, dan outsider.


a. Bully yaitu siswa yang dikategorikan

sebagai

bully,

pemimpin,

berinisiatif dan aktif terlibat dalam perilaku bullying.


b. Korban bully, yaitu siswa yang menjadi sasaran tindak intimidasi.
c. Asisten bully, juga terlibat aktif dalam perilaku bullying,
namun ia cenderung begantung atau mengikuti perintah bully.
d. Reinfocer adalah mereka yang ada ketika kejadian bullying
terjadi,

ikut

menyaksikan,

mentertawakan

korban,

memprofokasi bully, mengajak siswa lainuntuk menonton dan


sebagainya.
e. Defender adalah orang-orang yang berusaha membela dan
membantukorban,sering kali akhirnya mereka menjadi korban
f.

juga.
Outsider adalah orang-orang yang tahu bahwa hal itu terjadi,

namun tidak melaukan apapun, seolah-olah tidak peduli


2. Jenis jenis Bullying

13

Ada beberapa jenis bullying menurut Yayasan Semai Jiwa Amini SEJIWA
(2008):
a. Bullying fisik
Jenis bullying yang terlihat oleh mata, siapapun dapat
melihatnya karena terjadi sentuhan fisik antara pelaku bullying dan
korbannya. Contoh bullying fisik antara lain: memukul, menarik baju,
menjewer, menjambak, menendang, menyenggol dengan bahu,
menghukum dengan membersihkan WC, menampar, menimpuk,
menginjak kaki, menjegal, meludahi, memalak, melempar dengan
barang, menghukum dengan berlari lapangan, menghukum dengan
cara push up.
b. Bullying verbal
Jenis bullying yang juga bisa terdeteksi karena bisa terungkap
indra pendengaran kita. Contoh - contoh bullying verbal antara lain:
membentak, meledek, memaki-maki, menghina, menjuluki, meneriaki,
mempermalukan didepan umum, menyoraki, menebar gosip, dan
memfitnah.
c. Bullying mental atau psikologis
Jenis bullying yang paling berbahaya karena tidak tertangkap
oleh mata atau telinga kita apabila tidak cukup awas mendeteksinya.
Praktik bullying ini terjadi diam - diam dan diluar jangkauan
pemantauan

kita.

Contoh-contohnya:

mencibir,

memandang

sinis,memelototi, memandang penuh ancaman, mempermalukan di


depan umum, mendiamkan, meneror lewat pesan pendek, telepon
genggem atau email, memandang yang merendahkan.
Menurut Tridhonanto (2014), bentuk dari bully terbagi dua, tindakan
langsung dan tidak langsung. Tindakan langsung seperti menyakiti,

14

mengancam, atau menjelekkan anak lain, sementara bentuk tidak


langsung adalah menghasut, mendiamkan, atau mengucilkan anak lain.
Sedangkan berdasarkan tipe bullying ada tiga, yaitu bullying fisik, verbal,
dan social.
Menurut Quaker (2011) ada lima jenis bullying, yaitu :
a. Fisik, menggunakan kekuatan seperti menendang, mendorong untuk
menyakiti seseorang
b. Psikologis, menggunakan permainan pikiran yang berbahaya untuk
mengganggu mental korban
c. Verbal, menggunakan ucapan kekerasan dan nama panggilan yang
buruk
d. Cyberbullying, menggunakan teknologi seperti email, facebook, dan
media social lainnya untuk menjelekkan seseorang.
e. Mob-bullying, menggunakan geng atau kelompok untuk mengancam
oranglain.
Penelitian yang dilakukan Susan (2013) di United States mengenai
fenomena bullying di sekolah membagi tipe bullying menjadi 10 jenis,
yaitu:
1) Verbal: a student is called mean names or teased in a hurtful
way
2) Rumors:a student is the target of false rumors or lies.
3) Exclusion:a student is left out on purpose or completely ignored
4) Sexual:a student is bullied using words or gestures with a
sexual meaning.
5) Racial:a students race is the focus of the verbal bullying.
6) Physical:a student is hit, kicked, or pushed.
7) Threat: a student is threatened or forced to do things against his
or her will.
8) Cyber:a student is bullied via a cell phone or computer.
9) Damage:a student has personal property taken or damaged.
10) Another way: a student is bullied in any way not previously
discussed
3. Dampak Bullying

15

Tridhonanto (2014) menyebutkan dampak bagi korban bullying dapat


terlihat adanya:
a. Gangguan kesehatan

mental,

seperti

depresi,

kecemasan,

meningkatnya perasaan sedih dan kesepian, minder atau tidak


percaya diri, membentuk pribadi yang pemalu, penyendiri, dan
kehilangan minat dalam berbagai kegiatan karena takut.
b. Keluhan kesehatan, seperti perubahan pola tidur dan makan, menjadi
insomnia, dan malas makan.
c. Penurunan prestasi sekolah, seperti menurunnya nilai akademik,
mengganggu konsentrasi belajar, kurang aktif dalam mengikuti
pelajaran, dan kurang antusias dalam berpartisipasi di beragai
kegiatan sekolah. Mereka lebih cenderung ketinggalan, tidak naik
tingkat bahkan hingga putus sekolah karena menghindari temanteman di sekolahnya.
Sedangkan menurut hasil riset British Columbia (2012), efek dari
kejadian bullying dapat mengakibatkan trauma yang berkepanjangan,
Korban bullying dapat menunjukkan berbagai masalah emosional,
perilaku, fisik dan hubungan, dalam kasus ekstrim, bullying dapat
menyebabkan bunuh diri.
Eratnya hubungan antara kesejahteraan psikologis dan kesehatan
fisik

menyebabkan

gangguan
korban

pada

korban

fisiknya.

termanifestasi

bullying terkadang

Dampak

dalam

bentuk

juga

bullying pada
sakit

kepala

mengalami

kesehatan

fisik

(Williams dkk,

dalam Djuwita, 2005), sakit tenggorokan, flu, dan batuk (Wolke dkk,
dalam Riauskina dkk, 2005), bibir pecah-pecah dan sakit dada (Rigby
dalam Riauskina, 2005).

16

4. Faktor yang Mempengaruhi Bullying


Terdapat lima faktor yang mempengaruhi terjadinya
2008) yaitu:
1. Perbedaan tingkatan kelas (senioritas), ekonomi,

bullying (Astuti,
agama, jender,

etnisitas atau rasisme. Pada dasarnya, perbedaan (terlebih jika


perbedaan

tersebut

bersifat ekstrim)

individu

dengan

suatu

kelompok dimana ia bergabung, jika tidak dapat disikapi dengan


baik oleh

anggota

kelompok

tersebut, dapat

menjadi

faktor

penyebab bullying. Individu yang berada pada kelas ekonomi yang


berbeda dalam suatu kelompok juga dapat menjadi salah satu
faktor penyebab bullying. Individu dengan kelas ekonomi yang jauh
berbeda dengan kelas ekonomi mayoritas kelompoknya berpotensi
menjadi korban. Contoh kasus, pada tahun 2005 silam seorang siswa
13 tahun salah satu siswi SMP Negeri di Jakarta yang bunuh
diri karena malu sering diejek anak tukang bubur oleh temantemannya (SEJIWA, 2008).
2. Tradisi senioritas.
Senioritas yang salah diartikan dan dijadikan kesempatan atau
alasan untuk membully junior terkadang tidak berhenti dalam
suatu periode saja. Hal ini tak jarang menjadi peraturan tak
tertulis yang diwariskan secara turun temurun kepada tingkatan
berikutnya. Sebagai contoh, salah satu SMA di Jakarta memiliki
aturan

yang

tidak jelas alasannya, yaitu siswa kelas X dilarang

melewati daerah kelas Y. Jika, hal tersebut dilanggar, siswa yang


lewat tersebut akan dibentak. Siswa tak berani untuk melanggar
aturan

ini, karena

larangan tersebut telah

berlangsung

turun

17

temurun selama bertahun-tahun lamanya. Senioritas, sebagai salah


satu perilaku bullying seringkali pula justru diperluas oleh siswa
sendiri sebagai kejadian yang bersifat laten. Bagi mereka keinginan
untuk

melanjutkan

masalah

senioritas

ada

untuk

hiburan,

penyaluran dendam, iri hati atau mencari popularitas, melanjutkan


tradisi atau menunjukkan kekuasaan.
3. Keluarga yang tidak rukun.
Kompleksitas masalah keluarga seperti ketidakhadiran ayah, ibu
menderita depresi, kurangnya komunikasi antara orangtua dan
anak,

perceraian

atau ketidakharmonisan

orangtua

dan

ketidakmampuan sosial ekonomi merupakan penyebab tindakan


agresi yang signifikan.
4. Situasi sekolah yang tidak harmonis atau diskriminatif.
Bullying juga dapat terjadi jika pengawasan dan bimbingan etika
dari para guru rendah, sekolah dengan kedisiplinan yang sangat
kaku,

bimbingan

yang

tidak

layak dan peraturan yang tidak

konsisten.
5. Karakter individu/kelompok seperti:
a. Dendam atau iri hati.
b. Adanya semangat ingin menguasai korban dengan kekuasaan
fisik dan daya tarik seksual.
c. Untuk meningkatkan popularitas pelaku

di

kalangan

teman

sepermainannya (peers).
d. Persepsi nilai yang salah atas perilaku korban.Korban seringkali
merasa dirinya memang

pantas

untuk diperlakukan

demikian

(dibully), sehingga korban hanya mendiamkan saja hal tersebut


terjadi berulang kali pada dirinya
5. Kecenderungan Menjadi Korban Bullying
a. Definisi Korban

18

Korban adalah merupakan orang yang mengalami kerugian baik


berupa kerugian fisik, mental
mereka

yang

tindakan

orang

menderita
lain

maupun

kerugian

finansial

jasmani dan rohani sebagai

yang

mencuri

pemenuhan

atau
akibat

kepentingan

dirisendiri atau orang lain yang bertentangan dengan kepentingan


dan hak asasi yang menderita. Korban suatu kejahatan tidaklah
selalu harus berupa individu atau orang perorangan, tetapi bisa
juga berupa kelompok orang, masyarakat atau juga badan hukum.
Jadi dapat disimpulkan bahwa definisi kecenderungan

menjadi

korban bullying adalah seseorang yang mengalami situasi atau


kondisi dimana terjadinya penyalahgunaan kekuatan atau kekuasaan
yang

dilakukan

dikarenakan

oleh

orang

lain secara

terus

menerus

mereka cenderung lebih lemah dari teman mereka

(Novalia, 2013).
b. Karakteristik Korban Bullying
Susanto (2010) menyebutkan ciri-ciri korban bullying antara lain:
1) Secara akademis, korban terlihat lebih tidak cerdas dari
orangyang tidak menjadi korban atau sebaliknya.
2) Secara sosial, korban terlihat lebih memiliki hubungan yang erat
dengan orang tua mereka.
3) Secara mental atau perasaan, korban melihat diri mereka sendiri
sebagai orang yang bodoh dan tidak berharga. Kepercayaan diri
mereka rendah, dan tingkat kecemasan sosial mereka tinggi.
4) Secara fisik, korban adalah orang yang lemah, korban laki-laki
lebih sering mendapat siksaan secara langsung, misalnya
bullying fisik. Dibandingkan korban laki-laki, korban perempuan

19

lebih sering mendapat siksaan secara tidak langsung misalnya


melalui kata-kata atau bullying verbal.
5) Secara
antar
perorangan,
walaupun

korban

sangat

menginginkan penerimaan secara sosial, mereka jarang sekali


untuk memulai kegiatan-kegiatan yang menjurus ke arah sosial.
Anak korban bullying kurang diperhatikan oleh pembina, karena
korban tidak bersikap aktif dalam sebuah aktifitas
Sementara itu, Tisna (2010) menyimpulkan bahwa karakteristik
eksternal korban sasaran tindakan bullying adalah seorang yang
cenderung lebih kecil atau lebihlemah daripada teman sebayanya.
Dengan kata lain, ukuran badan yang lebih besar terutama di antara anak
laki-laki cenderung mendominasi dari teman sebayanya yang berbadan
kecil. Faktor lain yang berpotensi seseorang menjadi sasaran bullying
adalah siswa baru, anak dengan sosial ekonomi rendah, perbedaan
budaya atau agama serta kecerdasan intelektual yang rendah.
Anak-anak yang menjadi target bullying sering memiliki internalisasi
karakteristik seperti penarikan, kecemasan, depresi,dan rendah yang
mungkin membuat mereka menjadi sasaran empuk untuk bullying.
Korban bullying sering mengalami kesusahan psikologis seperti khawatir,
kesedihan, dan mimpi buruk serta dapat memiliki peningkatan perilaku
menyakiti diri, isolasi sosial, dan perilaku kekerasan (Arseneault, Bowes,
and Shakoor 2010, Perry 2014).
Menurut hasil riset dari British Columbia (2012), faktor resiko seorang
anak menjadi target korban bullying diantaranya adalah anak yang
dipandang berbeda dari rekan sebayanya, dianggap lemah atau tidak

20

mampu mempertahankan diri, harga diri rendah, dan memiliki orangtua


overprotektif.
B. Jenis Kelamin
1. Pengertian
Jenis kelamin (bahasa inggris: sex) adalah kelas atau kelompok yang
terbentuk dalam suatu spesies sebagai sarana atau sebagai akibat
digunakannya

proses

reproduksi

seksual

untuk

mempertahankan

keberlangsungan spesies itu agat tetap terjaga (Wikipedia, 2009).


Sedangkan menurut Hungu (2007), jenis kelamin (sex) adalah
perbedaan antara perempuan dengan laki-laki secara biologis sejak
sesorang lahir. Seks berkaitan dengan tubuh laki-laki dan perempuan,
dimana

laki-laki

memproduksi

sperma,

sementara

perempuan

menghasilkan sel telur dan secara biologis mampu untuk menstruasi,


hamil, dan menyusui.
Perilaku bullying dapat terjadi dikarenakan adanya faktor resiko yang
memicu perilaku tersebut. Faktor-faktor tersebut yaitu faktor individu yang
berasal dari dalam diri anak, keluarga, teman sebaya, dan lingkungan.
Faktor

tersebut

dapat

secara

tunggal

atau

secara

bersamaan

berpengaruh terhadap timbulnya perilaku bullying pada anak. American


Association of School Administrators (2009) menguraikan salah satu
faktor individu yang mempengaruhi anak untuk melakukan bullying
adalah jenis kelamin.
Jenis kelamin memainkan peran yang berbeda pada tindakan
bullying dimana anak laki-laki cenderung melakukan bullying secara fisik,
sedangkan anak perempuan lebih banyak terlibat pada bullying social
misalnya gossip dan bullying secara sexual (Beran, 2012).

21

Soedjatmiko (2013) memaparkan bahwa anak laki-laki memiliki


kecenderungan

melakukan

bullying

terhadap

anak

laki-laki

dan

perempuan, sedangkan anak perempuan melakukan bullying pada anak


perempuan lain. Suatu penelitian yang dilakukan pada 4092 siswa usia
10-12 tahun di 10 sekolah menengah pertama di Portugal memberikan
gambaran bahwa resiko tinggi menjadi korban bullying mengarah pada
siswa laki laki. Selain itu penelitian lain yang dilakukan terhadap anak
usia sekolah dasar (kelas 1-5) di 14 negara di dunia menunjukkan bahwa
prevalensi anak sekolah dasar yang menjadi korban bullying berkisar 11,
3% hingga 49,8% (Dake, Price, & Telljohan, 2003).
C. Usia
1. Pengertian Usia
Umur atau usia adalah satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan
suatu benda atau makhluk, baik yang hidup maupun yang mati. Semisal,
umur manusia dikatakan lima belas tahun diukur sejak dia lahir hingga
waktu umur itu dihitung (Wikipedia, 2013)
Usia dikelompokkan menjadi dua, yaitu usia kronologis dan usia biologis.
Usia kronologis ditentukan

berdasarkan

penghitungan

kalender,

sehingga tidak dapat dicegah maupun dikurangi. Sedangkan usia biologis


adalah usia yang dilihat dari jaringan tubuh seseorang dan tergantung
pada faktor nutrisi dan lingkungan, sehingga usia biologis ini dapat
2.

dipengaruhi (Lestiani, 2010).


Pembagian Usia
Sumiati Ahmad Mohamad, membagi periodisasi biologis perkembangan
manusia sebagai berikut :
a. 0 -1 tahun = masa bayi
b. 1 -6 tahun = masa pra sekolah.
c. 6 -10 tahun = masa sekolah.
d. 10 -20 tahun = masa pubertas.

22

e. 20 -40 tahun = masa dewasa.


f. 40 -65 tahun = masa setengah umur / Prasenium.
g. 60 tahun ke atas = masa lanjut usia / Senium (Mutiara, 2003).
Periode pertengahan pada masa kanak-kanak sering disebut sebagai
periode sekolah atau masa sekolah dasar. Periode sekolah ini dimulai
dari anak berusia enam tahun hingga dua belas tahun dan dibagi menjadi
tiga tahapan umur yaitu tahap transisi atau tahap primer (6-7 tahun),
tahap pertengahan (8-9 tahun), dan pra remaja (10-12 tahun) (Potter &
Perry, 2005)
Tanda dimulainya periode anak usia sekolah adalah sejak anak
masuk ke dalam lingkungan sekolah dasar pada usia enam atau tujuh
tahun hingga anak mengalami masa pubertas usia 12 tahun. Pada
periode sekolah ini, anak mulai diarahkan keluar dari kelompok keluarga
dan mulai berinteraksi dengan lingkungan social yang akan berdampak
pada hubungan interaksi anak dengan teman sebaya (Poter&Perry,
2005)
Borba (2009) menyebutkan salah satu faktor yang mempengaruhi
bullying adalah usia anak sekolah. Sebuah penelitian American
Psycologycal Association memperlihatkan bahwa 40% anak dari umur
sembilan sampai dengan tiga belas tahun mengakui melakukan tindakan
bullying.
D. Tingkatan Kelas
1. Pengertian
Kelas adalah sekelompok murid di tingkatan yang sama dalam
sebuah institusi ataupun sekelompok murid yang lulus dari lembaga
tersebut di saat yang sama. Dalam sistem pendidikan di beberapa
negara

(seperti Republik

Tiongkok),

kelas

dapat

merujuk

pada

pembagian murid di suatu bagian akademik, terdiri atas sekelompok

23

murid di tingkatan akademik yang sama.Di negeri seperti Republik


Irlandia, kelas dapat berarti tingkatan: kelas 1 untuk usia 4 dan 5 tahun,
kelas 2 untuk usia 6 dan 7 tahun, kelas 3 untuk usia 8 dan 9, kelas 4
untuk usia 9 dan 10, kelas 5 untuk usia 10 dan 11 tahun, kelas 6 untuk
usia 11 dan 12 tahun (Wikipedia, 2014).
2. Jenis Tingkatan Kelas
a. Tingkatan kelas rendah Sekolah Dasar (6 tahun sampai usia sekitar 8
tahun). Dalam tingkatan kelas di Sekolah Dasar pada usia tersebut
termasuk dalam kelas 1 sampai dengan kelas 3. Jadi kelas 1 sampai
dengan kelas 3 termasuk dalam kategori kelas rendah.
b. Tingkatan kelas tinggi Sekolah Dasar (9 tahun sampai kira-kira umur
12). Dalam tingkatan kelas di Sekolah Dasar pada usia tersebut
termasuk dalam kelas 4 sampai dengan kelas 6. Jadi kelas 4 sampai
kelas 6 termasuk dalam kategori kelas tinggi (Bojes, 2013).
3. Karakteristik Siswa
Pada masing-masing fase tersebut memiliki karakteristiknya masingmasing. Masa-masa kelas rendah siswa memiliki sifat-sifat khas sebagai
berikut :
a. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan kesehatan
pertumbuhan jasmani dengan prestasi sekolah
b. Adanya sikap yang cenderung untuk memenuhi peraturan-peraturan
permainan yang tradisional
c. Adanya kecenderungan memuji diri sendiri
d. Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain,kalau hal itu
dirasanya menguntungkan untuk meremehkan anak lain
e. Kalau tidak dapat menyelesaikan sesuatu soal, maka soal itu
dianggapnya tidak penting

24

f.

Pada masa ini (terutama pada umur 6-8) anak menghendaki nilai
(angka rapor) yang baik tanpa mengingat apakah prestasinya

memang pantas diberi nilai baik atau tidak


g. Hal-hal yang bersifat konkret lebih mudah dipahami ketimbang yang
abstrak.
h. Kehidupan adalah bermain. Bermain bagi anak usia ini adalah sesuai
yang dibutuhkan dan dianggap serius. Bahkan anak tidak dapat
i.

membedakan secara jelas perbedaan bermain dengan bekerja.


Kemampuan mengingat (memory) dan berbahasa berkembang
sangat cepat dan mengagumkan.

Sedangkan ciri-ciri sifat anak pada masa kelas tinggi di Sekolah Dasar
yaitu :
a. Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret;
hal ini menimbulkan adanya kecendrungan untuk membandingkan
pekerjaan-pekerjaan yang praktis;
b. Amat realistik, ingin tahu, dan ingin belajar;
c. Menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal atau mata
pelajaran khusus, para ahli yang mengikuti teori faktor ditafsirkan
sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor;
d. Sampai kira-kira umur 11 anak membutuhkan guru atau orang-orang
dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugasnya dan memenuhi
keinginannya; setelah kira-kira umur 11 pada umumnya anak
menghadapi

tugas-tugasnya

dengan

bebas

dan

berusaha

menyelesaikannya sendiri.
e. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran
f.

yang tepat (sebaik-baiknya) mengenai prestasi sekolah;


Anak-anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya,
biasanya untuk dapat bermain bersama-sama. Di dalam permainan

25

ini biasanya anak tidak lagi terikat kepada aturan permainan yang
tradisional; mereka membuat peraturan sendiri;
g. Peran manusia idola yang sempurna. Karena itu guru acapkali
dianggap sebagai manusia yang serba tahu (Sumanto, 2014).
Berdasarkan hasil penelitian Susan (2013) tentang bullying di United
States dengan sampel penelitian sebanyak 2000 siswa sejak Agustus
2011 hingga Juni 2012 melaporkan hasil bahwa terdapat hubungan pada
kejadian bullying pada kedua jenis kelamin. Korban bullying terbanyak
berada pada tingkatan kelas 3 dan 4 SD dengan presentase terbesar
sebanyak 22%, sedangkan dari sisi jenis kelamin hanya terdapat sedikit
perbedaan dalam prevalensi korban bullying pada setiap tingkat kelas
dengan perbedaan nilai 1% dari tiap tingkatan.
E. Pengaruh antara Usia, Tingkatan Kelas, dan Jenis Kelamin dengan
Kecenderungan menjadi Korban Bullying.
Hubungan sehari-hari dengan teman sebaya memberikan interaksi social
yang penting bagi anak dengan usia sekolah. Untuk pertama kalinya, anak
mulai bergabung aktivitas kelompok dengan tanpa ikatan dan berpastisipasi
penuh.

Anak

belajar

untuk

mengemukakan

argument,

kooperatif,

kesepakatan, dan berkompromi dalam pertemanan. Pada tahap ini, anak


akan mengalami proses penyesuaian diri dengan standar yang ditetapakan
oleh kelompoknya dimana anak mulai mengalihkan perhatiannya dari
keluarga menjadi perhatian terhadap kerja sama antar teman dalam
kelompok (Gunarsa, 2006).
Hubungan sosial pertemanan yang buruk dengan teman sebaya dan
ketidakpercayaan dapat berkotribusi kepada tindakan bullying. Anak yang
menjadi target bullying biasanya mempunyai karakteristik internal seperti
memiliki kepercayaan dan harga diri yang rendah yang membuat mereka

26

menjadi sasaran empuk para pelaku bullying (Perry, 2014). Tingkatan kelas
berperan dalam menentukan seseorang cenderung menjadi korban bullying
karena adanya perbedaan kelas dengan anggapan senioryunior, secara
tidak langsung
daripada

berpotensi memunculkan perasaan senior lebih berkuasa

yuniornya. Senior yang menyalah artikan tingkatannya dalam

kelompok,dapat memanfaatkannya untuk membully yunior (Astuti, 2008).


Sedangkan jenis kelamin memainkan peran dalam perbedaan bentuk
perilaku bullying yang diterima dimana jenis bullying yang sering ditemukan
pada anak laki-laki umumnya adalah bullying fisik, sedangkan pada anak
perempuan dilakukan secara tidak langsung melalui peer-group seperti
menyebarkan gossip, rumor, atau pengucilan (AASA, 2009). Anak laki-laki
memiliki kecenderungan berperilaku agresif secara fisik mengingat secara
fisik anak laki-laki lebih kuat dibandingkan dengan anak perempuan. Anak
laki-laki diketahui lebih fokus terhadap pencapaian individu yang didukung
oleh kekuatan fisik dan kurang tertarik pada tindakan pengucilan atau
bullying secara tidak langsung yang lebih sering dilakukan anak perempuan
(Field, 2009).
Pada usia 10,5 tahun, anak perempuan mengalami peningkatan
konsentrasi hormon, sedangkan pada anak laki-laki sedikit lebih lambat yaitu
pada usia 12,5 tahun, kematangan awal membuat anak perempuan lebih
rentan

terhadap

berbagai

masalah

perkembangan

kenakalan terhadap teman sebaya (Sumanto, 2014).

misalnya

dalam

27

F. Kerangka Teori

Faktor faktor yang mempengaruhi


terjadinya bullying :
Perbedaan tingkatan kelas

Bullying

Tradisi senioritas
Keluarga yang tidak rukun
Situasi sekolah diskriminatif
Faktor individu
Karakter
individu:

Jenis Bullying

Jenis Kelamin

Kecenderungan
Korban Bullying

Usia

Dampak Bullying
Keterangan :
: tidak diteliti
: diteliti

28

Gambar 2.1 Kerangka Teori


Sumber:(Astuti, 2008), Borba (2009), American Association of School Administrators
(2009),

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah ciri atau ukuran yang melekat pada objek
penelitian baik bersifat fisik (nyata) maupun psikis (tidak nyata) (Putra, 2012).
Pengertian lain menjelaskan bahwa variabel adalah segala sesuatu yang
akan menjadi objek pengamatan penelitian, faktor-faktor yang berperan
dalam peristiwa/gejala yang akan diteliti ditentukan oleh landasan teorinya
dan ditegaskan oleh hipotesis penelitiannya (Putra, 2012). Pada penelitian ini
terdapat dua variabel yaitu :
1. Variabel Independen (Bebas)
Variabel independen sering disebut sebagai variabel stimulus, predictor,
antecedent. Variabel ini merupakan variabel yang mempengaruhi atau
yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat (Putra,
2012). Variabel independen (bebas) dalam penelitian ini yaitu usia,
tingkatan kelas, dan jenis kelamin.
2. Variabel Dependen (Terikat)
Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang
menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Putra, 2012).Variabel
dependen (terikat) dalam penelitian ini yaitu kecenderungan menjadi
korban bullying.

31

32

B. Hipotesis Penelitian
Secara etimologi, hipotesis berasal dari bahasa Yunani: hypo = di
bawah; dan thesis = pendirian, pendapat yang ditegakkan. Artinya hipotesis
merupakan sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan
ilmiah dengan mengikuti kaidah-kaidah berpikir biasa, secara sadar, teliti,
dan terarah (Puta, 2012).Sedangkan menurut catatan Wikipedia (2014),
hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang
masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.
Hipotesis dalam penelitian iini adalah :
1. Hipotesa alternative (Ha)
Hipotesa alternatif biasa dinyatakan dalam kalimat positif.
Ha1: Terdapat hubungan antara usia dengan kecenderungan menjadi
korban bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus.
Ha2: Terrdapat hubungan antara tingkatan kelas dengan kecenderungan
menjadi korban bullying di SD Muhammadiyyah 01 Kudus.
Ha3: Terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kecenderungan
2.

menjadi korban bullying di SD Muhammadiyyah 01 Kudus


Hipotesa nol (H0)
Hipotesa nol dinyatakan dalam kalimat negatif
Ho1: Tidak terdapat hubungan antara usia dengan kecenderungan
menjadi korban bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus.
Ho2 : Tidak terdapat hubungan antara tingkatan kelas

dengan

kecenderungan menjadi korban bullying di SD Muhammadiyah 01


Kudus.
Ho3 : Tidak terdapat

hubungan

antara

jenis

kelamin

dengan

kecenderungan menjadi korban bullying di SD Muhammadiyah 01


Kudus.
C. Kerangka Konsep Penelitian
Variabel Independen (Bebas)

Variabel Dependen (Terikat)

Tingkatan kelas
Usia
Jenis Kelamin

Kecenderungan
menjadi korban bullying

33

Gambar 3.1 Kerangka konsep penelitian: hubungan antara usia, tingkatan


kelas, dan jenis kelamin dengan kecenderungan menjadi korban bullying di
SD Muhammadiyah 01 Kudus.
D. Rancangan Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik korelatif menurut
Saryono (2010) yaitu peneliti tidak hanya mendeskripsikan saja tetapi
juga menganalisis hubungan antar variabel. Penelitian ini bersifat
korelasional yang bertujuan mendapatkan gambaran tentang hubungan
antara dua atau lebih variabel penelitian (Putra, 2012).

34

2. Pendekatan Waktu Pengumpulan Data


Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional, yaitu data
yang dikumpulkan sesaat atau diperoleh saat itu juga. Cara ini dilakukan
dengan melakukan survey, wawancara, atau dengan menyebarkan
kuesioner kepada responden penelitian (Putra, 2012).
3. Metode Pengumpulan Data
a. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh dari sumber
pertama, atau dengan kata lain data yang pengumpulannya dilakukan
sendiri oleh peneliti secara langsung seperti hasil wawancara dan hasil
pengisian angket (kuesioner) (Widoyoko, 2012).
Data primer dari penelitian ini didapatkan secara langsung
dengan cara mengisi angket (kuesioner) yang diberikan pada siswasiswi SD Muhammadiyah 01 Kudus.
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber
kedua. Data yang dikumpulkan oleh orang atau lembaga lain, dengan
kata lain bukan data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti (Widoyoko,
2012).
Data

sekunder

dari

penelitian

ini

didapatkan

dari

pendokumentasian yang telah dilakukan oleh bagian kesiswaan SD


Muhammadiyah 01 Kudus berupa absensi dan jumlah siswa.
4. Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/ subyek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang telah ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya
(Saryono, 2010).

35

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 1 sampai 6 baik laki-laki
maupun perempuan di SD Muhammadiyah 01 Kudus, dengan jumlah
siswa pada tahun ajaran 2014 yaitu sejumlah 434 (terlampir).
5. Prosedur Sampel dan Sampel Penelitian
a. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang
dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar dan penelitian tidak
mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya
karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat
mengunakan sampel yang diambil dari populasi itu (Sugiyono, 2010).
Menurut Notoatmodjo (2010), dalam menentukan besar
sampel untuk skala untuk skala kecil (< 10.000) dapat menggunakan
rumus sebagai berikut ;
n

=
=
=
=
= 81,2 di bulatkan menjadi 81.
Maka besarnya sampel pada penelitian ini adalah sebanyak

81 responden.
b. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik sampling adalah cara menentukan sampel yang
jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan

dijadikan

sumber

sifat-sifat

data

sebenarnya

dengan

memperhatiakn

penyebaran populasi yang diperoleh sampel yang representative


(Setiawan & Saryono, 2010). Teknik pengambilan sampel yang

36

digunakan adalah sampel acak stratifikasi. Cara ini dilakukan jika


populasi mempunyai karakteristik heterogen (Putra, 2012).
Populasi penelitian ini sebesar 434 orang dengan tingkatan kelas
yang beragam, yaitu kelas 1A = 22 orang, 1B = 22 orang, 2A = 28
orang, 2B = 29 orang, 2C = 23 orang, 3A = 22 orang, kelas 3B= 26
orang, kelas 3C= 27 orang, kelas A4 = 36 orang,kelas 4B= 36 orang,
dan kelas 5A= 39 orang, kelas 5B= 39 orang, 6A = 28 orang, 6B = 29
orang, dan 6C = 28 orang. Guna mendapatkan sampel yang
proporsional,maka dilakukan pengambilan sampel secara stratifikasi,
dengan cara menggunakan rumus sebagai berikut :
Sampel strata =
Dengan menggunakan rumus tersebut, maka diperoleh hasil:
Kelas 1A =

= 4,1 dibulatkan menjadi 4 orang

Kelas 1B =

= 4,1 dibulatkan menjadi 4 orang

Kelas 2A =

= 5,2 dibulatkan menjadi 5 orang

Kelas 2B =

= 5,5 dibulatkan menjadi 6 orang

Kelas 2C =

= 4,2 dibulatkan menjadi 4 orang

Kelas 3A =

= 4,1 dibulatkan menjadi 4 orang

Kelas 3B =

= 4,8 dibulatkan menjadi 5orang

Kelas 3C =

= 5,0 dibulatkan menjadi 5 orang

Kelas 4A =

= 6,7 dibulatkan menjadi 7 orang

37

Kelas 4B =

= 6,7 dibulatkan menjadi 7 orang

Kelas 5A =

= 7,2 dibulatkan menjadi 7 orang

Kelas 5B =

= 7,2 dibulatkan menjadi 7 orang

Kelas 6A =

= 5,2 dibulatkan menjadi 5 orang

Kelas 6B =

= 5,5 dibulatkan menjadi 6 orang

Kelas 6C =

= 5,2 dibulatkan menjadi 5 orang

Total sampel = 81 orang


Dengan kriteria inklusi dan eksklusi sebagai berikut:
a. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian
dari suatu populasi target terjangkau yang akan diselidiki atau
karakteristik sampel yang layak untuk diteliti. Kriteria inklusi
dari penelitian ini adalah :
a) Siswa baik laki-laki maupun perempuan kelas 1 sampai 6
di SD Muhammadiyah 01 Kudus.
b) Siswa kelas 1 sampai 6 yang berusia 6 sampai 12 tahun.
c) Bersedia menjadi responden dan menanda tangani
b.

informant Consent.
Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah karakteristik sampel yang tidak dapat
dimasukkan atau tidak layak diteliti. Kriteria eksklusi dalam
penelitian ini adalah:
a) Siswa yang berusia kurang dari 6 dan lebih dari 12 tahun.
b) Siswa yang tidak bersedia menjadi responden atau tidak

mau menanda tangani informant Consent.


6. Definisi Operasional Variabel
Definisi Operasional Variabel adalah batasan yang digunakan untuk
membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel yang diamati

38

atau diteliti, definisi operasional ini juga bermanfaat untuk mengarahkan


kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang
bersangkutan serta pengembangan instrumen (alat ukur) (Notoatmodjo
S. , 2010).

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel


Variabel
Usia

Tingkatan
Kelas

Jenis
Kelamin

Korban
bullying

Definisi
Operasional
Ukuran waktu
yang dihitung
berdasarkan
tanggal lahir.
Tingkat
jenjang
pendidikan
yang sedang
ditempuh di
sekolah dasar
Perbedaan
responden
penelitian
berdasarkan
seks
Siswa yang
menjadi target
atau sasaran
perilaku
bullying di
sekolah.

Alat Ukur
Cheklist

Cheklist

Cheklist

Hasil Ukur

Skala

1. primer: 6-7
Nominal
2. pertengahan:
8-9
3. pra remaja:
10-12
1. kelas rendah: Nominal
1-3
2. kelas tinggi:
4-6
1. Laki laki
2. Perempuan

Kuesioner
1) kecenderungan
Modifikasi dari
menjadi korban
Olweous
bullying: Skor
Bullying
Mean
Questionnaire
2) tidak
cenderung
menjadi korban
bullying: Skor <
Mean.

Nominal

Nominal

39

7. Instrumen Penelitian dan Cara Penelitian


a. Instrumen penelitian
Instrumen penelitian adalah memperoleh data tentang status sesuatu
dibandingkan dengan standar atau ukuran yang telah ditentukan
(Notoadmodjo, 2010).
Instrumen penelitian yaitu suatu alat yang digunakan untuk mengukur
fenomena alam maupun sosial yang diamati (variabel penelitian)
(Sulistyaningsih, 2011).
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner,
kuesioner adalah seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis yang
ditujukan kepada responden untuk dijawabnya (Sulistyaningsih, 2011)
Instrumen penelitian dalam penelitian ini meliputi :
1) Identitas responden terdiri dari nama responden, dalam hal ini ditulis
inisial, umur serta jenis kelamin,tingkatan kelas, dan tanggal lahir.
2) Kuesioner bullying berisi 30 pernyataan tentang kecenderungan
korban bullying dengan pilihan jawaban Selalu (skor 4), Sering (skor
3), Jarang (skor 2), dan Tidak Pernah (skor 1).
Tabel 3.2 Tabel kisi kisi kuesioner kecenderungan korban bullying
Variabel

Indikator

Kecenderungan
menjadi Korban
Bullying

Kehidupan di
sekolah
Mengalami
bullying fisik dari
siswa lain.
Mengalami
bullying verbal
dari siswa lain
Mengalami
bullying
psikologis dari
siswa lain

Pernyataan
Positif
1,2

Pernyataan
Negatif
-

3,5,6,7,8,9,10,11
,12,13,14

21

15,16,17,18,19,
20

28

22,23,24,25,
26,29,30

40

Kuesioner

ini

merupakan

modifikasi

dari

Olweous

Bullying

Questionnaire (Olweous, 2003) sehingga memerlukan uji validitas dan


reliabilitas. Setelah kuesioner sebagai alat ukur atau alat pengumpul selesai
disusun, belum berarti kuesioner tersebut dapat langsung digunakan untuk
mengumpulkan data.Kuesioner dapat digunakan sebagai alat ukur
penelitian perlu uji validitas dan reabilitas (Notoatmodjo S. , 2010).
a.Uji Validitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benarbenar mengukur apa yang diukur. Demikian pula kuesioner sebagai
alat ukur harus mengukur apa yang di ukur. Untuk mengetahui apakah
kuesioner yang kita susun mampu mengukur apa yang akan diukur,
maka perlu di uji dengan uji korelasi antar skor (nilai) tiap-tiap item
(pernyataan) dengan total kuesioner tersebut (Notoatmodjo S. , 2010).
Teknik korelasi yang dipakai adalah teknik korelasi pearson product
moment yang rumusnya sebagai berikut:

rhitung=

Keterangan:
rhitung

= koefisiensi korelasi

Xi

= jumlah skor item

Yi

= jumlah skor total (item)

= jumlah responden

41

jika r hitung koefisien nilai tabel yaitu taraf signifikan 5 %, maka


instrumen yang diuji dinyatakan valid (Sugiyono, 2009).
Uji Validitas dan Reliabilitas dilaksanakan di SD Muhammadiyah
Pasuruhan Lor Kudus pada hari Kamis, 12 Februari 2015 pada 30
siswa kelas 1 sampai 6 yang diambil secara acak. Alasan
pengambilan lokasi di SD Muhammadiyah Pasuruhan Lor Kudus
adalah memiliki karakteristik yang hampir sama dengan SD
Muhammadiyah 01 Kudus selain itu juga masih dalam satu
Kabupaten yaitu Kabupaten Kudus. Hasil Uji Validitas dilakukan
mendapat rentang nilai rhitung sebagai berikut:
Kecenderungan Korban Bullying:
(1) Pernyataan 3: mendapatkan rhitung 0.442, jadi kesimpulanya
0.399 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.
(2) Pernyataan 4: mendapatkan rhitung 0.511, jadi kesimpulanya
0.486 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.
(3) Pernyataan 6: mendapatkan rhitung 0.393, jadi kesimpulanya
0.407 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.
(4) Pernyataan 10: mendapatkan rhitung 0.612, jadi kesimpulanya
0.580 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.
(5) Pernyataan 11: mendapatkan rhitung 0.424, jadi kesimpulanya
0.394 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.
(6) Pernyataan 13: mendapatkan rhitung 0.636, jadi kesimpulanya
0.600 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.
(7) Pernyataan 14: mendapatkan rhitung 0.617, jadi kesimpulanya
0.580 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.
(8) Pernyataan 15: mendapatkan rhitung 0.511, jadi kesimpulanya
0.488 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.

42

(9) Pernyataan 16: mendapatkan rhitung 0.451, jadi kesimpulanya


0.457 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.
10)
Pernyataan 17: mendapatkan rhitung

0.488,

jadi

kesimpulanya 0.445 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.


11)
Pernyataan 18: mendapatkan rhitung 0.410, jadi
kesimpulanya 0.445 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.
12)
Pernyataan 22: mendapatkan rhitung 0.678, jadi
kesimpulanya 0.642 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.
13)
Pernyataan 23: mendapatkan rhitung 0.753, jadi
kesimpulanya 0.710 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.
14)
Pernyataan 24 mendapatkan rhitung 0.649, jadi
kesimpulanya 0.605 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.
15)
Pernyataan 26 mendapatkan rhitung 0.511, jadi
kesimpulanya 0.463 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.
16)
Pernyataan 27 mendapatkan rhitung 0.681, jadi
kesimpulanya 0.637 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.
17)
Pernyataan 29 mendapatkan rhitung 0.773, jadi
kesimpulanya 0.790 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.
18)
Pernyataan 30 mendapatkan rhitung 0.622, jadi
kesimpulanya 0.579 > 0.361, maka pernyataan tersebut Valid.
Berikut adalah table kisi-kisi kuesioner setelah dilakukan uji:
Tabel 3.3 Tabel kisi kisi kuesioner kecenderungan korban bullying:
Variabel

Indikator

Kecenderungan
menjadi Korban
Bullying

Mengalami
bullying fisik dari
siswa lain.
Mengalami
bullying verbal
dari siswa lain
Mengalami
bullying
psikologis dari
siswa lain

Pernyataan
Positif
2

Pernyataan
Negatif
1,3,4,5,6,7

8,9,10,11

12,13,14,15,16,
17,18,19

43

b. Uji Reliabilitas
Menurut (Sugiyono,

2009)

reliabilitas

adalah

kesamaan

hasil

pengukuran bila fakta di ukur dalam waktu yang berlainan. Dalam


penelitian ini, peneliti menggunakan uji relibialitas Alpha Cronbach
yang rumusnya sebagai berikut:
ri =

Keterangan :
ri

= reliabilitas instrumen

= banyaknya item
= jumlah varian item

= varian total
Instrumen dinyatakan reliabel jika reliabilitas internal seluruh instrumen
sama dengan atau lebih dari 0.60 sampai mendekati angka satu dan
nilainya positif (Sugiyono, 2009). Hasil uji reliabilitas kecenderungan
menjadi korban bullying mendapat nilai alpha 0.838 hasil ini
menunjukkan bahwa instrument adalah reliable karena nilai alpha
0.838 > 0.60.
8. Teknik Pengolahan Analisa dan Cara Penelitian
a. Teknik Pengolahan Data
Dalam suatu penelitian, pengolahan data merupakan salah satu
langkah

yang

penting

(Notoatmodjo,

2010).Data

yang

telah

44

dikumpulkan masih dalam bentuk data mentah (raw data) harus


diolah sedemikian rupa sehingga menjadi informasi yang akhirnya
dapat digunakan untuk menjawab tujuan penelitian (Riyanto, 2010).
Menurut Notoatmodjo (2010) dan Riyanto (2010), pengolahan
data terdiri dari 5 tahap, yaitu :
1) Editing (Pemeriksaan Data)
Editing merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan
isi kuesioner sudah diisi lengkap, jelas jawaban dari responden,
relevan jawaban dengan pertanyaan, dan konsisten.
2) Coding (Pemberian Kode)
Coding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf
menjadi data berbentuk angka / bilangan. Tujuannya adalah
mempermudah pada saat analisis data dan juga pada saat
memasukkan data.
a) Variabel usia
(1) Usia primer
: kode 1
(2) Usia pertengahan : kode 2
(3) Usia pra-remaja
: kode 3
b) Variabel tingkatan kelas
Kelas rendah
: kode 1
Kelas tinggi
: kode 2
c) Variabel tingkatan kelas
Kelas rendah
: kode 1
Kelas tinggi
: kode 2
d) Variabel Jenis Kelamin:
Ya
: kode 1
Tidak
: kode 2
e) Variabel kecenderungan korban bullying:
Ya
: kode 1
Tidak
: kode 2
3) Scoring(Penilaian)
Kegiatan melakukan scoring terhadap

jawaban

dari

kuesioner.Pemberian skor atau nilai pada jawaban pertanyaan yang


telah diterapkan.
Pemberian skor dalam penelitian ini dikatakan sebagai
kecenderungan korban bullying jika :

45

a) Kecenderungan menjadi korban: memperoleh skor


Mean.
b) Tidak cenderung menjadi korban: memperoleh skor <
Mean.
4) Processing (Memasukkan Data)
Setelah merubah data menjadi angka, selanjutnya data dari
kuesioner dimasukkan ke dalam program computer.
5) Cleaning (Pembersihan Data)
Cleaning merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang
sudah dimasukkan, untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan
kode, ketidaklengkapan, kemudian dilakukan pembetulan atau
koreksi.
b. Analisa Data
Data yang

telah

diolah

tidak

akanada

maknanya

tanpa

dianalisis.Tujuan dari analisis data adalah untuk memperoleh gambaran


dari hasil penelitian yang telah dirumuskan dalam tujuan penelitian,
membuktikan hipotesis-hipotesisi penelitian yang telah dirumuskan, dan
memperoleh kesimpulan secara umum (Notoatmodjo, 2010).
Pada penelitian ini, data yang sudah diperoleh kemudian
dianalisis dengan :
1) Analisa Univariat
Menurut Notoatmodjo (2010) analisa univariat adalah analisa
yang dilakukan pada tiap variabel. Analisa ini menghasilkan data
numerik dan kategorik berupa distribusi frekuensi atau prosentase.
Adapun untuk skala data yang bersifat numerik akan menghasilkan
analisis deskriptif dalam bentuk sebagai berikut :
a) Mean
Menurut Sugiono (2007), mean adalah konstanta yang
paling banyak dipergunakan yang diperoleh dengan jalan

46

menjumlahkan semua nilai pengamatan dibagi jumlah semua


pengamatan dalam agregat. Rumusnya sebagai berikut ;
Keterangan :
n : Jumlah
X : Nilai rata-rata
x : Jumlah skor
Pada penelitian ini, Mean digunakan untuk menentukan
kategori hasil pada Definisi Opersional Variabel.
b) Median
Median merupakan nilai observasi yang terletak di tengah
setelah seri pengamatan diurutkan menurut besar-kecilnya (Array
data).
Rumusnya sebagai berikut :

Keterangan :
n : Jumlah
Me : Nilai Median
c) Modus
Modus adalah nilai yang memiliki frekwensi terbanyak atau
tersering muncul dalam kelompok tersebut. Rumus Modus dari
data yang telah dikelompokkan dihitung dengan rumus:
b1

Mo b p
b1 b 2
Keterangan :
Mo

: Modus

: Panjang kelas interval dengan frekuensi

terbanyak
p

: Panjang kelas interval dengan frekuensi

terbanyak

47

b1

: Frekuensi pada kelas modus (frekuensi pada

kelas interval terdekat sebelumnya)


b2

: Frekuensi kelas modus dikurangi kelas

interval berikutnya
d) Standar Deviasi (SD) atau Simpangan Baku
Menurut Sugiyono (2007) standar deviasi adalah akar
variasi

data

pada

untukmengetahui

kelompok

homogenitas

tertentu.Varian
kelompok

digunakan

dengan

cara

menjumlah kuadrat semua deviasi nilai individual terhadap ratarata kelompok. Rumus standar deviasi adalah sebagai berikut ;
S =
Keterangan :
x
: Data ke n
x bar
: x rata-rata = nilai rata-rata sampel
n
:banyaknya data.
2) Analisa Bivariat
Analisis bivariat adalah analisa pada dua variabel yang diduga
berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2010).
Analisa dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
hubungan antara usia, tingkatan kelas, dan jenis kelamin dengan
kecenderungan menjadi korban bullying di SD Muhammadiyah 01
Kudus yang diolah secara statistik menggunakan program komputer
dengan uji statistic chi-square.

Keterangan:

= chi kuadrat/ chi square

48

f0= frekuensi observasi


fh = frekuensi harapan
Aturan pengambilan keputusan:
a) Ha diterima dan H0 ditolak jika

hitung >

tabel, berarti ada

hubungan antara usia, tingkatan kelas, dan jenis kelamin dengan


kecenderungan menjadi korban bullying di SD Muhammadiyah
01 Kudus tahun 2015.
b) Ha ditolak dan H0 gagal ditolak bila

hitung <

tabel, berarti

tidak ada hubungan antara usia, tingkatan kelas, dan jenis


kelamin dengan kecenderungan menjadi korban bullying di SD
Muhammadiyah 01 Kudus tahun 2015.
Syarat chi-square yaitu:
a) Tabel kontingensi 2x2 dengan e tidak boleh <5
b) untuk table 2x3, 3x3, 3x4, dan seterusnya:
1) Jika nilai e < 1 tidak lebih dari 20% maka analisis dibaca
pada nilai signifikasi.
2) jika e < 1 lebih dari 20%, maka dilakukan penggabungan
sel sehingga terbentuk 2x2.
c) Tabel yang lebih besar asal e tidak boleh ada nilai , 1ndan
tidak boleh >20% pada seluruh sel,
d) Jika tabel 2x2 digunakan rumus

Yates

Correction

(Sugiyono,2007) :

=
Jika tidak memenuhi syarat diatas, maka tabel digabung
menjadi 2x2, hasil yang dipakai adalah kolom Fisher exact.
Untuk menguji kuat lemahnya hubungan maka digunakan
koefisien kontingensi, yaitu dengan melihat r hitung:
a) r hitung 0,000 - 0,200
: hubungan sangat lemah
b) r hitung 0,200 - 0,400
: hubungan lemah

49

c) r hitung 0,400 - 0, 600


d) r hitung 0,600 0,800
e) r hitung 0,800 1,000

: hubungan cukup kuat


: hubungan kuat
: hubungan sangat kuat

E. Jadwal Penelitian
Terlampir
F. Etika Penelitian
Pada penelitian ilmu keperawatan, hampir 90% subjek yang digunakan
adalah manusia, maka peneliti harus memahami prinsip-prinsip etika
penelitian (Nursalam, 2009). Menurut Hidayat (2008), masalah dalam etika
penelitian keperawatan yang harus diperhatikan adalah:
1. Informed consent (Lembar Persetujuan)
Merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan responden
penelitian

dengan

memberikan

lembaran

persetujuan.

Tujuan

Informent consent adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan


penelitian, mengetahui dampaknya.Jika subjek bersedia maka
mereka harus menandatangani lembar persetujuan, jika responden
tidak bersedia maka peneliti harus menghormati hak pasien (Hidayat,
2008).
2. Anomity (tanpa nama)
Masalah etika penelitian merupakan masalah yang memberikan
jaminan dalam penggunaaan subjek penelitian dengan cara tidak
memberikan atau tidak mencantumkan nama responden pada lembar
alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data
(Hidayat, 2008).
3. Confidentiality ( Kerahasiaan )
Merupakan masalah etika dengan menjamin kerahasiaan dari hasil
penelitian baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua
informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh

50

peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada


hasil riset (Hidayat, 2010).

BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Analisa Univariat
Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan antara usia, tingkatan
kelas, dan jenis kelamin dengan kecenderungan menjadi korban bullying yang
telah dilakukan di SD Muhammadiyah 01 Kudus maka didapatkan hasil sebagai
berikut:
1. Usia
Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia
di SD Muhammadiyah 01 Kudus
Tahun 2015 (N=81)
Usia
Frekuensi
Primer (6-7)
14
Pertengahan (8-9)
29
Pra Remaja (10-12)
38
Total
81
Sumber : Data Primer, 2015.

Prosentase (%)
17,3
35,8
46,9
100,0

Berdasarkan tabel 4.1 diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian


besar usia responden adalah kategori pra remaja (10-12 tahun) sebanyak
38 responden (46,9%), dan hasil terkecil adalah kategori usia primer (6-7
tahun) sebanyak 14 responden (17,3%).

53

54

2. Tingkatan Kelas
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkatan Kelas
di SD Muhammadiyah 01 Kudus
Tahun 2015 (N=81)
Tingkatan Kelas
Frekuensi
Kelas Rendah
37
Kelas Tinggi
44
Total
81
Sumber : Data Primer, 2015.

Prosentase (%)
45,7
54,3
100,0

Berdasarkan tabel 4.2 diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian


besar tingkatan kelas responden adalah tingkatan kelas tinggi (kelas 4-6)
sebanyak 44 responden (54,3%), dan sisanya adalah tingkatan kelas
rendah (kelas 1-3) sebanyak 37 responden (45,7%).
3. Jenis Kelamin
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di
SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015 (N=81)
Jenis Kelamin
Frekuensi
Laki-laki
37
Perempuan
44
Total
81
Sumber : Data Primer, 2015.

Prosentase (%)
45,7
54,3
100,0

Berdasarkan tabel 4.3 diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian


besar responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 44 responden
(54,3%), dan sisanya adalah laki-laki sebanyak 37 responden (45,7%).

4. Kecenderungan Korban Bullying


Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kecenderungan Korban Bullying
di SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015 (N=81)
Kecenderungan Frekuensi
Ya
36

Prosentase (%)
44,4

55

Tidak
45
55,6
Total
81
100,0
Sumber : Data Primer, 2015.
Berdasarkan tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa sebagian
besar responden sebanyak 45 orang (55,6%) tidak mempunyai
kecenderungan korban bullying dan sisanya mempunyai kecenderungan
menjadi korban bullying sebanyak 36 responden (44,4%).
B. Analisa Bivariat
1. Hubungan Antara Usia dengan Kecenderungan Menjadi Korban
Bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015.
Analisis bivariat dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
hubungan antara usia dengan kecendeungan menjadi korban bullying di
SD Muhammadiyah 01 Kudus tahun 2015. Untuk mengetahui hipotesis
diatas,

maka

diperlukan

uji

hipotesis

melalui

bantuan

program

komputerisasi. Setelah dilakukan uji hipotesis terdapat data sebagai


berikut:

Tabel 4.5
Distribusi Responden Berdasarkan Usia dan Kecenderungan
Menjadi Korban Bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun
2015 (N=81)
Usia

Primer
Pertengahan
Pra Remaja

Kecenderungan Korban Bullying


Kecenderungan Tidak
Kecenderungan
N
%
N
%
5 36
9
64
11 38
18 62
20 53
18 47

Total
N
14
29
38

p
%
100
100
100

0,375

56

Jumlah

36

45
Nilai r = 0,154

81

Sumber : Data Primer, 2015.


Tabel diatas menjelaskan tentang penyebaran data antara 2
variabel yaitu usia dan kecenderungan menjadi korban bullying yang
menunjukkan bahwa kecenderungan menjadi korban bullying ditemukan
pada semua kategori usia anak yang terlibat dalam penelitian. Dari 81
responden, kecenderungan menjadi korban bullying lebih banyak
menimpa anak yang berusia pra remaja (10-12 tahun) sejumlah 20 orang
(53%), sedangkan dari usia usia pertengahan hanya 11 orang (38%), dan
sisanya usia primer sebanyak 5 orang 36% (6-7 tahun).
Akan tetapi dari hasil Uji statistic chi-square didapatkan nilai p
sebesar 0.375 (> 0.05) dan hasil nilai korelasi r 0.154 maka Ho gagal
ditolak yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara usia
dengan kecenderungan menjadi korban bullying dengan kekuatan
hubungan sangat lemah di SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015.
2. Hubungan Antara Tingkatan Kelas dengan Kecenderungan Menjadi
Korban Bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015
Analisis bivariat dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
hubungan antara Tingkatan Kelas dengan Kecenderungan menjadi
Korban Bullying Di SD Muhammadiyah 01 Kudus Kudus Tahun 2014.
Untuk mengetahui hipotesis diatas, maka diperlukan uji hipotesis
melalui bantuan program komputerisasi. Setelah dilakukan uji hipotesis
terdapat data sebagai berikut:
Tabel 4.6

57

Distribusi Responden Berdasarkan Tingkatan Kelas dan


Kecenderungan menjadi Korban Bullying Di SD Muhammadiyah 01
Kudus Tahun 2015 (N=81)
Tingkatan
Kelas

Kecenderungan Bullying

p
value

Kecenderungan
Rendah
Tinggi
Jumlah

N
11
25
36

%
30%
57%

Tidak
Kecenderungan
N
%
26 70%
19 43%
45
Nilai r = 0.262**

Total

N
37
44
81

%
100%
100%

0.015

tingkatan

kelas

dengan

Sumber : Data Primer, 2015.


Hasil

uji

crosstabulasi

antara

kecenderungan menjadi korban bullying didapatkan hasil bahwa


kecenderungan menjadi korban bullying lebih banyak terdapat pada
tingkatan kelas tinggi (kelas 4-6) sejumlah 25 orang (57%) dan dari
tingkatan kelas rendah (kelas1-3) hanya 11 orang (30%).
Hasil uji statistik menggunakan chi-square diperoleh nilai p
sebesar 0.015 (< 0.05), dan hasil nilai korelasi r = 0,262 maka Ho ditolak
yang berarti ada hubungan yang signifikan antara tingkatan kelas dengan
kecenderungan menjadi korban bullying dengan kekuatan hubungan
lemah di SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015.
3. Hubungan Antara Jenis Kelamin dengan Kecenderungan Menjadi
Korban Bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015
Analisis bivariat dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
hubungan antara Jenis Kelamin dengan Kecenderungan menjadi Korban
Bullying Di SD Muhammadiyah 01 Kudus Kudus Tahun 2014. Untuk
mengetahui hipotesis diatas, maka diperlukan uji hipotesis melalui

58

bantuan program komputerisasi. Setelah dilakukan uji hipotesis terdapat


data sebagai berikut:
Tabel 4.7
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin dan
Kecenderungan menjadi Korban Bullying Di SD Muhammadiyah 01
Kudus Tahun 2015 (N=81)
Jenis
Kelamin

Kecenderungan Bullying
Kecenderungan Tidak
Kecenderungan
N
%
N
%
Laki-Laki
22
60
15 40
Perempuan 14
32
30 68
Jumlah
36
45
Nilai r = 0.267**
Sumber : Data Primer, 2015.

Total
N
37
44
81

p value
%
100
100

0.013

Hasil uji crosstabulasi antara jenis kelamin dengan kecenderungan


menjadi korban bullying dari 81 responden didapatkan hasil bahwa
kecenderungan menjadi korban bullying lebih banyak terdapat pada jenis
kelamin laki-laki sebanyak 22 orang (60%) dibandingkan dari jenis
kelamin perempuan yang hanya 14 orang (32%).
Hasil uji statistik menggunakan chi-square diperoleh nilai p

sebesar

0.013 (< 0.05), dan hasil nilai korelasi r = 0,267 maka Ho ditolak yang
berarti ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan
kecenderungan menjadi korban bullying dengan kekuatan hubungan
lemah di SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015.

BAB V
PEMBAHASAN

A.

Hubungan Antara Usia dengan Kecenderungan Menjadi Korban Bullying


di SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015
Hasil uji crosstabulasi pada tabel 4.5 didapatkan hasil kecenderungan
menjadi korban bullying ditemukan pada semua kategori usia anak yang terlibat
dalam penelitian. Dari 81 responden, kecenderungan menjadi korban bullying
lebih banyak menimpa anak yang berusia pra remaja (10-12 tahun) sebanyak
20 orang (53%), sedangkan dari usia pertengahan sebanyak 11 orang (38%),
dan sisanya usia primer sebanyak 5 orang (36%).
Erikson (dalam Sumanto 2014) menjelaskan bahwa anak usia 6-12 tahun
termasuk dalam tahap perkembangan industry versus inferiority (merasa
bangga atau puas dengan keberhasilan dalam tugas sekolah versus merasa
tidak kompeten). Pada tahap ini, anak-anak belajar untuk memperoleh
kesenangan dan kepuasan dari menyelesaikan tugas. Penyelesaian yang
sukses akan menciptakan anak bangga akan prestasi yang diperoleh, di sisi lain
anak yang tidak mampu mencapai apa yang diraih oleh teman akan merasa
inferior.
Keberhasilan atau kegagalan seorang anak dalam mencapai kompetensi
tersebut dapat memicu anak untuk melakukan tindakan bullying atau bahkan
menjadi sasaran tindakan bullying dari siswa lain, Rudi (2009) menguraikan
salah satu faktor yang juga berpotensi seorang anak menjadi sasaran tindakan
bullying adalah faktor intelektual dimana anak yang gagal dalam mencapai

60

61

kompetensi rentan mendapat perlakuan bullying dari siswa lain yang secara
intelektual lebih tinggi.
Anak usia 6-12 tahun juga termasuk dalam tahap laten dimana pada tahap
ini, anak lebih mengarahkan perhatiannya pada pergaulan atau sosialisasi
dengan teman sebaya yang berpotensi terlibat dalam lingkaran bullying (Freud
dalam Sumanto, 2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan
korban bullying lebih banyak menimpa anak usia pra remaja karena pada akhir
masa ini timbul sifat trotz atau keras kepala, anak mulai serba membantah dan
menentang orang lain yang merupakan akibat keyakinan yang dianggapnya
benar tetapi yang dirasakan sebagai guncangan (Oswald, dalam Sumanto
2014).
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Wolke (2001) mengenai prevalensi
korban bullying pada 3.915 anak sekolah dasar di Inggris dan Jerman
didapatkan data bahwa rata-rata 24% anak usia sekolah dasar di Inggris dan
sebanyak 8% di Jerman menjadi korban bullying hampir setiap minggunya,
senada dengan penelitian Fika (2012) tentang gambaran kejadian bullying di
sekolah dasar menunjukkan kejadian bullying paling banyak menimpa anak usia
11 tahun.
Penelitian lain mengenai fenomena bullying di sekolah dasar juga dilakukan
oleh Widayanti (2009) terhadap 78 anak usia 9-12 tahun menunjukkan bahwa
37,55% anak menjadi korban bullying baik secara fisik maupun non fisik. Studi
lain menyatakan prevalensi bullying baik sebagai pelaku maupun korban
tertinggi pada usia 10-12 tahun (Weir, 2001).
Soedjatmiko (2011) memaparkan hasil penelitiannya mengenai gambaran
bullying pada anak sekolah dasar dengan subyek sebanyak 76 anak usia 9-11
tahun di Jakarta mendapatkan hasil bahwa 89,5% anak terlibat dalam bullying.

62

Sedangkan prosentase korban bullying (korban dan korban sekaligus pelaku)


sebanyak 85,6% mengaku dibully setidaknya 2-3 kali dalam sebulan. Sebagian
subyek yang terlibat baik sebagai korban maupun pelaku berusia 10 -11 tahun.
Dari Hasil Uji statistic chi-square didapatkan nilai p sebesar 0.375 (> 0.05)
dan hasil nilai korelasi r 0.154 maka Ho gagal di tolak yang berarti tidak ada
hubungan yang signifikan antara usia dengan kecenderungan menjadi korban
bullying dengan kekuatan hubungan sangat lemah di SD Muhammadiyah 01
Kudus Tahun 2015.Tidak adanya hubungan yang signifikan kemungkinan terjadi
karena rentang usia anak yang terlibat pada penelitian ini berada pada tahap
yang sama yaitu tahap perkembangan anak usia sekolah.
B.

Hubungan Antara Tingkatan Kelas dengan Kecenderungan Menjadi


Korban Bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus.
Hasil uji crosstabulasi antara tingkatan kelas dengan kecenderungan menjadi
korban bullying pada tabel 4.6 didapatkan hasil bahwa kecenderungan menjadi
korban bullying lebih banyak pada tingkatan kelas tinggi (kelas 4-6) sebanyak
25 orang (57%), dan dari tingkatan kelas rendah (kelas 1-3) sebanyak 11 orang
(30%).
Menurut Sumanto (2014) ciri siswa pada tingkatan kelas tinggi timbul adanya
minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit, dan rasa ingin tahu
dan belajar amat tinggi. Pada masa ini, anak gemar membentuk kelompok
sebaya untuk bermain bersama. Dalam permainan itu mereka mulai tidak terikat
lagi dengan aturan permainan tradisional yang sudah ada. Hubungan sosial
pertemanan yang buruk dengan teman sebaya dan ketidakpercayaan dapat
berkotribusi kepada tindakan bullying. Anak yang menjadi target bullying
biasanya mempunyai karakteristik internal seperti memiliki kepercayaan dan

63

harga diri yang rendah yang membuat mereka menjadi sasaran empuk para
pelaku bullying (Perry, 2014).
Hasil penelitian tersebut senada dengan pendapat Rigby (2010) yang
menyatakan bahwa angka kejadian bullying mulai meningkat pada masa akhir
di sekolah dasar dan mencapai puncaknya saat anak masuk sekolah
menengah. Penelitian mengenai school bullying yang dilakukan oleh Fika
(2012) juga mendapatkan data bahwa kejadian bullying lebih banyak menimpa
anak di kelas 4 sebesar 72,7%.
Hal tersebut diperkuat dengan hasil laporan tahunan di United States yang
dilakukan oleh Susan pada tahun 2012 terhadap 2000 siswa pada tingkatan
kelas 3 SD hingga kelas 12 yang menunjukkan bahwa korban bullying
terbanyak berada pada tingkatan kelas 3 dan 4 dengan presentase sebesar
22%, mereka melaporkan sering mendapatkan perlakuan bullying dua sampai
tiga kali dalam sebulan atau lebih.

American Medical Association (AMA;

2002) menemukan bahwa 23% siswa pada tingkatan kelas 4-6 mendapat
perlakuan bullying selama 3 bulan dan 9% beberapa siswa menjadi korban
dengan frekuensi lebih dari sekali dalam seminggu.
Berdasarkan hasil wawancara kepada sejumlah siswa, mereka menuturkan
lebih sering mendapat perlakuan bullying dari kakak kelas yang notabene lebih
senior, hal ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan kekuasaan dimana
pelaku yang berasal dari kalangan siswa/siswi yang merasa lebih senior
melakukan tindakan tertentu kepada korban yang lebih yunior karena mereka
tidak dapat melakukan perlawanan. Sementara itu, Widayanti (2009) dalam
penelitiannya mengenai fenomena bullying di sekolah dasar menjelaskan
bahwa tingkatan kelas berpengaruh dalam kejadian bullying dimana pelaku
bullying antara lain adalah kakak kelas, hal ini sesuai dengan pengertian

64

bullying yaitu bahwa pelaku memiliki kekuasaan yang lebih tinggi sehingga
dengan demikian mereka dapat mengatur orang lain yang dianggap lebih
rendah. Korban yang sudah merasa menjadi bagian dari kelompok dan
ketidakseimbangan

pengaruh

atau

kekuatan

lain

akan mempengaruhi

intensitas perilaku bullying ini. Semakin subyek yang menjadi korban tidak
bisa menghindar tau melawan, semakin sering perilaku bullying terjadi.
Hasil uji statistik menggunakan chi-square diperoleh nilai p sebesar 0.015 (<
0.05), dan hasil nilai korelasi r = 0,262 maka Ho ditolak yang berarti ada
hubungan yang signifikan antara tingkatan kelas dengan kecenderungan
menjadi

korban

bullying

dengan

kekuatan

hubungan

lemah

di

SD

Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015.


C.

Hubungan Antara Jenis Kelamin dengan Kecenderungan Menjadi Korban


Bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015
Hasil uji crosstabulasi antara jenis kelamin dengan kecenderungan menjadi
korban bullying dari 81 responden pada tabel 4.7 didapatkan hasil bahwa
kecenderungan korban bullying lebih banyak terdapat pada jenis kelamin lakilaki sebanyak 22 orang (60%) dibandingkan dari jenis kelamin perempuan yang
hanya 14 orang (32%).
Perbedaan jenis kelamin juga diketahui sebagai salah satu faktor resiko yang
mendorong perilaku bullying (National Crime Prevention Center Canada, 2008).
Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa anak laki-laki lebih banyak
menerima perlakuan bullying karena

anak laki-laki memiliki kecenderungan

berperilaku agresif secara fisik, selain itu anak laki-laki lebih menunjukkan sikap
penerimaan terhadap perilaku bullying serta lebih sering terlibat dalam tindakan
bullying (AASA, 2009).

65

Berbeda dengan anak laki-laki, anak perempuan lebih sering dijadikan target
bullying oleh anak laki-laki maupun anak perempuan lain, hal ini sejalan dengan
pendapat Field (2009) yang menyatakan bahwa anak laki-laki umumnya
menjadikan anak laki-laki lain dan anak perempuan sebagai target, sedangkan
anak perempuan hanya memilih anak perempuan lain untuk menjadi target
bullying. Anak laki-laki diketahui lebih fokus terhadap pencapaian individu yang
didukung kekuatan fisik, sedangkan pada anak perempuan lebih memilih
melakukan tindakan bullying secara lembut dan tersembunyi sehingga tidak
nampak bahwa ia sedang melakukan bullying.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ediana (2013) mengenai analisis
faktor yang mempengaruhi perilaku bullying didapatkan hasil bahwa terbukti
perilaku bullying banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan
rata-rata melakukan bullying 17.29 lebih besar dari perempuan 16.04. Hasil
penelitian ini memiliki kesesuaian dengan dengan penelitian dari Nansel et al.,
2001 (dalam Milsom and Gallo, 2006), yang menyatakan bahwa terdapat
perbedaan perilaku bullying yang ditunjukkan oleh siswa laki-laki dan siswa
perempuan sekolah dasar, ia juga melaporkan bahwa anak laki-laki lebih sering
menjadi korban jika dibandingkan dengan anak perempuan. Weir (2001) dalam
penelitiannya juga mengungkapkan bahwa, The prevalence of bullying appears
to peak at ages 10 to 12 (although there is little known about the prevalence of
bullying among children too young to complete surveys. In general, boys are
more likely than girls to be victims or perpetrators, or both.
Susan (2013) dalam penelitiannya tentang bullying di United States
melaporkan bahwa terdapat hubungan pada kejadian bullying pada kedua jenis
kelamin. Jenis kelamin laki-laki menduduki level yang lebih tinggi terhadap

66

perlakuan tindakan bullying kepada siswa lain sebanyak 6% dibanding jenis


kelamin perempuan yang hanya 4-5%. Penelitian Fika (2012) tentang hubungan
antara karakteristik anak usia sekolah dasar dengan kejadian bullying juga
menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin
dengan kejadian bullying dengan hasil analisa menunjukkan anak laki-laki 5 kali
lebih berpeluang mengalami kejadian bullying dibandingkan anak perempuan
(nilai p= 0,011 < 0,05).
Hal ini diperkuat dengan hasil uji statistik menggunakan chi-square diperoleh
nilai p

sebesar 0.013 (< 0.05), dan hasil nilai korelasi r = 0,267 maka Ho

ditolak yang berarti ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan
kecenderungan menjadi korban bullying dengan kekuatan hubungan lemah di
SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015.
D. Keterbatasan Penelitian
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini memiliki banyak kekurangan dan
keterbatasan diantaranya adalah :
1. Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian kuesioner, sehingga
peneliti harus melakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap kuesioner
yang peneliti susun karena sebelumnya belum pernah dilakukan uji validitas
dan reliabilitas.
2. Peneliti hanya melakukan penelitian tentang usia, tingkatan kelas, dan jenis
kelamin di SD Muhammadiyah 01 Kudus, sebaiknya dilakukan penelitian
mengenai faktor faktor yang mempengaruhi kejadian bullying karena
banyak

faktor

yang

dapat

menyebabkan

kecenderungan menjadi korban bullying

seseorang

mempuanyai

67

3. Tempat penelitian berlokasi di SD Muhammadiyah 01 Kudus belum dapat


dijadikan kesimpulan karena belum mewakili keseluruhan anak yang
melakukan perilaku bullying di sekolah.
4. Peneliti dalam melakukan penelitian, khususnya penyebaran kuesioner
membutuhkan banyak bantuan dari pihak lain dikarenakan jumlah sampel
yang banyak, dan memerlukan teknik komunikasi yang lebih baik
dikarenakan sebagian responden masih berada dalam rentang usia muda
sehingga membutuhkan teknik komunikasi khusus.

BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan judul Hubungan
Antara Usia, Tingkatan Kelas, dan Jenis Kelamin Dengan Kecenderungan
Menjadi Korban Bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015. Maka
dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkatan
kelas dan jenis kelamin dengan kecenderungan menjadi korban bullying,
namun tidak ada hubungan antara usia dengan kecenderungan menjadi
korban bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus tahun 2015.
2. Kecenderungan menjadi korban bullying menimpa pada semua tingkatan
usia, kelas, dan jenis kelamin di SD Muhammadiyah 01 Kudus dengan
prosentase terbesar terdapat pada usia pra remaja (53%), tingkatan kelas
tinggi (57%), dan jenis kelamin laki-laki (60%).
3. Hasil analisis statistik pada bivariat pertama tentang hubungan antara usia
dengan kecenderungan menjadi korban bullying diperoleh hasil tidak ada
hubungan yang signifikan antara usia dengan kecenderungan menjadi
korban bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015 dengan
kekuatan hubungan sangat lemah (p.value: 0,375; : 0,05; r: 0,154).
4. Hasil analisis statistik pada bivariat kedua tentang hubungan antara tingkatan
kelas dengan kecenderungan menjadi korban bullying diperoleh hasil berarti
ada hubungan yang signifikan antara tingkatan kelas dengan kecenderungan

67

67

68

menjadi korban bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015 dengan


5.

kekuatan hubungan lemah (p.value;0.015; = 0,05; r: 0,262).


Hasil analisis statistik pada bivariat ketiga tentang hubungan antara jenis
kelamin dengan kecenderungan menjadi korban bullying diperoleh hasil ada
hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kecenderungan
menjadi korban bullying di SD Muhammadiyah 01 Kudus Tahun 2015 dengan
kekuatan hubungan lemah (p.value: 0.013; = 0.05; r=0,267).

B. Saran
1. Bagi masyarakat, keberadaan perawat di sekolah akan sangat membantu
dalam penanggulangan bullying di sekolah. Perawat sekolah dapat
melakukan intervensi dengan memberikan pendidikan kesehatan mengenai
bullying sehingga anak dapat mengetahui dampak dari bullying terhadap
orang lain dan tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan secara fisik
saja, akan tetapi juga meliputi aspek biopsikososiospiritual pada anak serta
diperlukan

kerjasama

antara

penyelenggara

pendidikan

di

sekolah,

komunitas, dan juga orang tua siswa untuk mengatasi permasalahan bullying
di sekolah dasar secara bersama. Bentuk kerja sama yang dapat dilakukan
melalui penyusunan program anti-bullying di sekolah. Penanganan bullying di
sekolah dapat dilakukan dengan pendekatan secara tidak langsung tanpa
menyalahkan siapapun (no blame approach).

Keberhasilan intervensi ini

perlu dukungan semua pihak sehingga dapat menurunkan angka kejadian


bullying di sekolah

69

2. Bagi institusi pendidikan, dapat dijadikan dasar untuk penelitian selanjutnya


dengan menggunakan sampel yang lebih besar dan variabel yang berbeda
serta mencakup seluruh tingkatan pendidikan dari SD sampai SMA sehingga
diperoleh gambaran kejadian yang lebih menyeluruh.
3. Bagi institusi kesehatan, materi bullying pada anak sekolah dapat dijadikan
terapi modalitas untuk membentuk konsep diri yang positif pada anak
sekolah sehingga dapat mengurangi angka kejadian bullying.
4. Bagi peneliti, hasil penelitian dapat dikembangkan lebih dalam dan terperinci
sehingga dapat menjadi dasar dalam penelitian selanjutnya.

70

DAFTAR PUSTAKA

American Association of School Administrators. (2009). Bullying at school and


online. Education.com Holdings, Inc.
Amanda. (2014). Bullying and Suicide: Get the Facts. Bullying and Teasing di akses
pada
09
Oktober
2014
dari:
http://www.education.com/reference/article/bullying-suicide-facts/
Astor R.A. (2005). The Effect of School Climate , Sosioeconomics, and Cultural
Factors on Student Victimization in Israel. Social Work Research, 29,3, 165180.
Astuti, P.R. (2008). Meredam Bullying: 3 Cara Efektif Menangulangi Kekerasan Pada
Anak. Jakarta: Grasindo.
Beran, Tanya Ph. D. (2012). Bullying: What are the Differences between Boys and
Girls?
di
akses
pada
09
Oktober
2014
dari:
http://www.education.com/reference/article/bullying-suicide-facts/.
Borba, Michele. 2009. The Big Book of Parenting Solutions. Bogor: PT. Grafika Mardi
Yuana
British Columbia. (2012). Bullying, Be in the Know. Di akses pada 23 Oktober 2014,
dari http://www.erasebullying.ca/bullying.php
Dake J.A., Price., J.H & Teljohan, S.K (2003). The Nature and Extent of Bullying at
School. The Journal of School Health,73, (3): 173.
Ediana, Asep. (2013). Analisis Faktor-Faktor yang Memperngaruhi Perilaku Bullying
Pada Peserta Didik Anak Usia MI/SD: Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah: Jakarta.
Ehan.

(2007).
Bullying
dalam
BIASA, 1957071121984032

Pendidikan.

FIF/JUR.

PEND. LUAR

Field, E. (2009). Gender Differences in Bullying. Diakses pada 02 Maret 2015


dari:http://www.essentialbaby.com.au/kids/caring-for-kids/gender-differencesin-bullying-20090402-9kkw.html
Fika. (2012). Hubungan Karakteristik Anak Usia Sekolah dengan Kejadian Bullying
di Sekolah Dasar X di Bogor.

71

Hungu. (2007). Demografi kesehatan indonesia. Jakarta: Grasindo


Hunt. (2014). Bullying: Bully No More. Rose Publishing Inc.
Hidayat. (2008). Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kuantitatif. Health Books
Publishing: Surabaya..
Judarwanto, Widodo. (2011). Bullying, Perilaku yang Berdampak Buruk pada Anak.
Diakses pada 05 November 2014. Diakses dari http://klinikanakonline.htm.
Malik, Aviani. (2014, Oktober, 17). Forum Indonesia: Stop Bullying. Indonesia. Metro
TV.
Mutiara, Erna. (2003). Karakteristik Penduduk Lanjut Usia di Sumatera Utara Tahun
1990
diakses
pada
11
Januari
2014
dari
http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-erna%20mutiara.pdf.
Notoatmojo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan Ed.3. Jakarta: Rineka Cipta.
Novalia. (2013). Perilaku Asertif dan Kecenderungan Menjadi Korban Bullying. JIPT
Vol 01,ISSN: 2301-8267.
Nursalam. (2009). Konsep dan Penelitian Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.
Potter, P.A& Perry, A.G. (2005). Fundamental Nursing: Concept, Proses, and
Practice. Sixth edition. St. Louis: Mosby Year Book.
Putra, Sitiatava. (2012). Panduan Riset Keperawatan dan Penulisan Ilmiah.
Yogyakarta: D-Medika
Rida, dkk. (2013). Tipe Pola Asuh Orang Tua yang berhubungan dengan Perilaku
Bullying di SMA Kabupaten Semarang. Ungaran: Tim Pengembang Jurnal
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
Riyanto. (2010). Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogjakarta: Nuha
Medika.
Saryono.(2010). Metodologi Penelitian Kebidanan. Jakarta: Nuha Medika
Sawitri, Dian. (2009). Bullying? Waspadalah. (Disertasi Doktoral, Universitas
Diponegoro
Semarang,
2009).
Diakses
dari:
http://www.eprints.undip.ac.id/8491/1/bullying_waspadalah.pdf
Savitri, Indri. (2014, Oktober ). Fenomena Bullying di Sekolah, Nyata, h.34..

72

Sevda., Vicoria Hallet., & Esref Akkas (2012). Bullying and Victimizations among
Turkish Children and adolescents: examining prevalence and associated
health symptoms. Eur J Pediatr, 171, 1549-1557.
Sirait, Aris Merdeka. (2014, Oktober, 17). Forum Indonesia: Stop Bullying. Indonesia.
Metro TV.
Soejatmiko, Nur Hamzah, & Anastasia. (2013). Gambaran Bullying dan
Hubungannya dengan Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak Sekolah
Dasar. Sari Pediatri, Vol. 15, No. 3.
Solberg EM, Olweus D.(2003) Prevalence estimation of school bullying with the
Olweus bully/victim questionnaire. Aggress Behav ;29:239-68.
Sugiyono. (2010). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta
Sumanto, M.A. (2014). Psikologi Perkembangan Fungsi dan Teori. Yogyakarta:
CAPS.
Sundayani, Renny. (2014). Anak Korban Bullying Berpotensi Bunuh Diri di Usia 50.
Di
akses
pada
05
November
2014,
dari
http://okezone.com/okezone.lifestyle.htm
Susan P. Limber, Ph.D., Clemson University Dan Olweous, Ph.D & Uni Health.
(2013). Bullying in U.S. School: 2012 Status Report. Hazelden Foundation.
Susanto, D. W. (2010). Fenomena korban perilaku bullying pada remaja Dalam
dunia pendidikan. Skripsi : Fakultas Psikologi Universitas Katolik
Soegijapranata: Semarang. Tidak Dipublikasikan
Tisna. (2010). Informasi Perihal Bullying. e-book @ Indonesian Anti Bullying. pdf
Tridhonanto, Al. (2014). Mengapa Anak Mogok Sekolah. Jakarta. Gramedia: PT Elex
Media Komputindo.
Weir. (2001). The Health Impact of Bullying. Can Med Assoc J; 165;1249.
Widayanti, Costrie. (2009). Fenomena Bullying di Sekolah Dasar Negeri di
Semarang: Sebuah Studi Deskriptif. Jurnal Psikologi Undip, Vol 5, No 2:
Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro: Semarang.
Widoyoko. (2012). Eko Putro Widoyoko. (2012). Teknik Penyusunan Instrumen
Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wolke, Woods, & Sarah. (2001). Bullying and Victimization of Primary School
Children in England and Germany: prevalence and school factor. British

73

Journal of Psychology; Nov 2001; 92, ProQuest Nursing & Allied Health
Source pg. 673
Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA). (2008). Bullying: Mengatasi Kekerasan di
Sekolah dan Lingkungan Sekitar Anak. Jakarta: Grasindo

Anda mungkin juga menyukai