Anda di halaman 1dari 188

PERATURAN DIREKTUR

KEBIJAKAN DIREKTUR
RS. AN-NISA
Nomor : / 8

11 / RSAN/2015
TENTANG

PELAYANAN MATERNAL DAN NEONATAL PADA RS. AN - NISA


TAHUN 2015
PIMPINAN RUMAH SAKIT AN - NISA,
Menimbang

a. bahwa Rumah Sakit AN - NISA wajib ikut berperan


serta dalam upaya Pemerintah menurunkan Angka
kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
b. bahwa Rumah Sakit AN - NISA merupakan bagian dari
sistem rujukan dalam pelayanan kedaruratan maternal
dan neonatal yang sangat berperan dalam menurunkan
angka kematian ibu dan bayi baru lahir.
c. bahwa penatalaksanaan kedaruratan maternal dan
neonatal di Rumah Sakit AN - NISA dilaksanakan
melalui
Program Pelayanan Obstetri Neonatal
Emergensi Komprehensif (PONEK) 24 Jam di Rumah
Sakit
d. bahwa dalam rangka pelaksanaan Program Pelayanan
Maternal Neonatal sebagai bentuk nyata dalam
perwujudan program PONEK.
e. bahwa untuk maksud tersebut perlu ditetapkan dengan
Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit AN - NISA.

Mengingat

1. Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun


2004 Tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun
2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran


Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
159.b/Menkes/SK/II/1988 Tentang Rumah Sakit;
4. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor :
1051/MENKES/SK/XI/2008
tentang
Pedoman
Penyelengaraan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi
Komprehensif (PONEK) 24 Jam di Rumah Sakit;
5. Peraturan Daerah Nomor
M E M U T U S K AN :
Menetapkan

KESATU

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT


Pelayanan Matrenal Neonatak

KEDUA

Rumah sakit melaksanakan program marenal dan neonatal


untuk
menurunkan
angka
kematian
bayi
dan
meningkatkan kesehatan ibu.

KETIGA

Tentang

Melaksanakan dan menerapkan standar pelayanan


perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna.
1. Mengembangkan kebijakan dan SPO sesuai dengan standar
2. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi
termasuk kepedulian terhadap ibu dan bayi.
3. Meningkatkan kesiapan rumah sakit dalam melaksanakan
fungsi pelayanan maternal dan neonatal
Segala pengeluaran yang diakibatkan oleh surat keputusan
ini dibebankan pada anggaran Rumah Sakit AN - NISA
tahun 2015.
KEEMPAT
Segala pengeluaran yang diakibatkan oleh surat keputusan ini
dibebankan pada anggaran Rumah Sakit AN - NISA tahun
2015.
KELIMA
Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan
ketentuan apabila ternyata di kemudian hari terdapat
kekeliruan dalam penetapan ini, akan diperbaiki sebagaimana

mestinya.
Ditetapkan di
Pada tanggal

: Tangerang
:

Pemimpin

Dr. Ediansyah, MARS

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semua wanita hamil beresiko komplikasi obstetri. Komplikasi yang
mengancam jiwa kebanyakan terjadi selama persalinan, dan ini semua tidak dapat
diprediksi. Prenatal screening tidak mengidentifikasi semua wanita yang akan
mengembangkan komplikasi.
Perempuan tidak diidentifikasi sebagai "berisiko tinggi" dapat dan
melakukan mengembangkan komplikasi obstetrik. Kebanyakan komplikasi
obstetrik terjadi pada wanita tanpa faktor risiko.
Penyebab kematian yang paling cepat pada neonatus adalah asfiksia dan
perdarahan. Asfiksia perinatal merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas
yang penting. Akibat jangka panjang, asfiksia perinatal dapat diperbaiki secara
bermakna jika gangguan ini diketahui sebelum kelahiran (mis; pada keadaan
gawat janin) sehingga dapat diusahakan memperbaiki sirkulasi/ oksigenasi janin
intrauterine atau segera melahirkan janin untuk mempersingkat masa hipoksemia
janin yang terjadi
Pada saat ini angka kematian ibu dan angka kematian perinatal di
Indonesia masih sangat tinggi. Menusut survei demografi dan kesehatan indonesia
(SDKI) tahun 2011 Angka Kematian Ibu (AKI) masih cukup tinggi, yaitu 228 per
100.000 kelahiran hidup, dan Angka Kematian Balita di Indonesia tahun 2007
sebesar 44/10.000 Kelahiran Hidup. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain,

maka angka kematian ibu di Indonesia adalah 15 kali angka kematian ibu di
Malaysia, 10 kali lebih tinggi dari pada thailan atau 5 kali lebih tinggi dari pada
Filipina.
Dari berbagai faktor yang berperan pada kematian ibu dan bayi,
kemampuan kinerja petugas kesehatan berdampak langsung pada peningkatan
kualitas pelayanan kesehatan maternal dan neonatal terutama kemampuan dalam
mengatasi masalah yang bersifat kegawatdaruratan. Semua penyulit kehamilan
atau komplikasi yang terjadi dapat dihindari apabila kehamilan dan persalinan
direncanakan, diasuh dan dikelola secara benar. Untuk dapat memberikan asuhan
kehamilan dan persalinan yang cepat tepat dan benar diperlukan tenaga kesehatan
yang terampil dan profesional dalam menanganan kondisi kegawatdaruratan
C. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan pedoman ini adalah untuk mengetahui
tentang konsep dasar Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal.

BAB II
KOMUNIKASI, HAK PASIEN, DAN DUKUNGAN
EMOSIONAL

Kehamilan merupakan saat yang menyenangkan dan dinanti-nantikan, tetapi juga


dapat menjadi saat kegelisahan dan kepihatinan. Pembicaraan secara efektif
kepada ibu dan keluarganya dapat membantu membangun kepercayaan kepada
petugas kesehatan.
KOMUNIKASI
Komunikasi yang baik akan sangat membantu terbinanya hubungan antarmanusia
yang serasi di antara pasien dengan penolong. Keserasian hubungan pasienpenolong, sangat diperlukan dalam memperoleh rasa saling percaya. Informasi
yang diperoleh penting untuk membantu menentukan diagnosis, menjalankan
proses, dan melakukan evaluasi hasil pengobatan.
Tingkat kesabaran yang tinggi dan teknik berkomunikasi yang efektif merupakan
syarat yang harus dimiliki oleh penolong atau petugas kesehatan dalam
menghadapi orang yang sedang sakit. Selainmengalami gangguan fisik, pasien
juga akan mengalami gangguan psikis atau ketegangan jiwa sehingga sebagian
besar dari mereka akan sulit melakukan komunikasi secara baik. Empati,
perhatian, dan perilaku positif penolong, dapat meringankan beban psikis pasien
selama proses komunikasi berlangsung.
Komunikasi juga merupakan salah satu bentuk kewajiban penolong terhadap hak
pasien untuk memperoleh informasi objektif dan lengkap tentang apa yang sedang
dialaminya, upaya yang akan atau sedang dilakukan oleh penolong, dan hasil
tindakan/pengobatan yang telah diberikan. Oleh sebab itu, komunikasi harus
selalu dilangsungkan dalam berbagai tahap, yaitu:

Sebelum pengobatan dilakukan,


Selama prosedur klinik,
Setelah tindakan atau pengobatan.

HAK-HAK PEREMPUAN (IBU)


Petugas kesehatan harus menyadari hak-hak ibu ketika menerima layanan asuhan
kehamilan, yaitu:

Setiap perempuan/ibu penerima asuhan mendapatkan keterangan mengenai

kesehatannya.
Setiap perempuan/ibu mempunyai hak mendiskusikan keprihatinannya di

dalam lingkungan di mana ia merasa percaya.


Setiap perempuan/ibu harus mengetahui sebelumnya jenis prosedur yang

akan dilakukan.
Prosedur harus dilaksanakan di dalam suatu lingkungan (misalnya kamar

bersalin) supaya hak ibu untuk mendapatkan privasi dihormati.


Setiap perempuan/ibu harus dibuat senyaman mungkin ketika menerima

layanan.
Setiap perempuan/ibu mempunyai hak untuk mengutarakan pandangan dan
pilihannya mengenai layanan yang diterimanya.

Petunjuk Berkomunikasi
Apabila petugas kesehatan membicarakan kepada ibu mengenai kehamilannya
atau komplikasi, ia harus menggunakan teknik komunikasi dasar. Teknik-teknik
ini membantu petugas kesehatan menegakkan kejujuran, perhatian dan hubungan
kepercayaan terhadap si ibu. Jika si ibu mempercayai petugas kesehatan,
kemungkinan besar ia akan kembali untuk melahirkan atau segera datang awal
jika terjadi komplikasi. Gunakanlah teknik komunikasi dasar berikut:

Beri salam dan perkenalkan diri Anda.


Panggil nama pasien atau keluarganya.
Lakukan kontak mata.
Jaga harkatdan martabat pasien.
Budayakan perilaku positif.
Gunakan teknik mendengar aktif, jangan menyela atau memotong
pembicaraan.

Beri kesan bahwa Anda sedang mendengar dan mencoba mengerti apa yang

telah dikatakan oleh pasien.


Jawablah pertanyaan pasien sesuai dengan apa yang ingin diketahuinya.
Beri penjalasan dengan Bahasa yang mudah dimengerti dan ringkas.
Jangan gunakan Bahasa medis atau istilah yang sulit dipahami.
Tunjukkan perhatian dengan isyarat, mendekat atau komunikasi nonverbal
lainnya.

Rasa Saling Percaya dan Privasi


Termasuk dalam rasa saling percaya di antara pasien-penolong adalah upaya
untuk menjaga kerahasiaan semua informasi yang hanya boleh diketahui oleh
penolong atau oleh pasien sendiri. Apabila diperlukan, komunikasi hanya
berlangsung di antara pasien-penolong saja. Keterbukaaan, rasa aman, dan
jaminan kerahasiaan informasi hanya mungkin dilaksanakan pada suasana yang
bersifat pribadi atau adanya privasi bagi pasien.

PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKASI DAN DUKUNGAN EMOSIONAL


Situasi

kegawatdaruratan

sering

kali

sangat

mengganggu

pihak

yang

berkepentingan dan dapat menimbulkan berbagai emosi yang menghasilkan


konsenkuensi yang signifikan. Komunikasi dan empati yang ikhlas kemungkinan
merupakan kunci yang paling penting untuk layanan yang efektif dalam situasi
kegawatdaruratan.
Saat terjadi

Dengarkanlah keluhan-keluhan mereka. Ibu atau pihak keluarga memerlukan

kesempatan untuk dapat membicarakan duka mereka.


Jangan ubah topik pembicaraan dan berpindah ke masalah yang lebih mudah

atau lebih tidak menyakitkan, tetapi tunjukkan empati Anda.


Beri tahu kepada ibu atau pihak keluarga mengenai apa yang terjadi sebanyak
mungkin

yang

Anda

dapat.

Pemahaman

mengenai

situasi

dan

penatalaksanaannya dapat mengurangi kecemasan mereka dan dapat

mempersiapkan diri untuk menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.


Jujurlah. Jangan ragu-ragu untuk mengakui bahwa Anda tidak tahu. Menjaga

kepercayaan lebih utama daripada mempertahankan sikap tahu segalanya.


Jangan mengalihkan masalah ke perawat atau dokter junior.
Pastikan bahwa ibu tersebut mempunyai pendamping yang ia sukai, dan jika
dimungkinkan mendapat petugas kesehatan yang sama selama persalinan.
Pendamping yang mendukung dapat membantu ibu tersebut untuk berani
menghadapi ketakutan dan rasa sakit, serta menghilangkan rasa kesepian dan

stress/
Bila memungkinkan anjurkan pendamping untuk mengambil peran aktif
dalam asuhan. Minta pendamping agar duduk di bagian atas tempat tidur
untuk memberi kesempatan pendamping menunjukkan perhatian serta kasih

kepada ibu tersebut.


Selama dan setelah kegawatdaruratan, berikan privasi sebanyak mungkin
kepada ibu dan keluarganya.

Setelah terjadi

Sediakan bantuan praktis, dukungan informasi dan emosional.


Hargai kepercayaan dan adat kebiasaan serta penuhi kebutuhan keluarga

sedapat mungkin.
Sediakan konseling untuk ibu tersebut dan keluarganya.
Jelaskan masalah yang ada untuk membantu mengurangi kecemasan dan
perasaan yang bersalah. Banyak ibu atau keluarga menyalahkan diri mereka

sendiri atas apa yang telah terjadi.


Dengar dan tunjukkan pengertian serta simpati terhadap perasaan ibu.
Komunikasi nonverbal kadang-kadang lebih bernilai daripada kata-kata.
Belaian lembut pada tangan atau raut wajah penuh perhatian dapat berarti

segalanya.
Ulangi informasi beberapa kali dan jika mungkin berikan informasi secara
tertulis, karena ornag yang merasakan suaty kegawatdaruratan tidak akan

mengingat apa yang dikatakan kepada mereka saat itu.


Penyedia layanan kesehatan mungkin merasa marah, bersalah, berduka, sakit
dan frustasi dalam menghadapi kegawatdaruratan sehingga mereka cenderung

menghindari ibu tersebut atau keluarganya. Tunjukkan bahwa emosi bukanlah

suatu kelemahan.
Ingatlah untuk menjaga perasaan staf lain yang mungkin pernah mengalami
perasaan bersalah, duka bingung, serta emosi lainnya.

MORTALITAS DAN MORBIDITAS MATERIAL


Mortalitas Maternal
Kematian seorang ibu dalam proses persalinan atau oleh akibat lain yang
berhubungan dengan kehamilan merupakan suatu pengalaman yang menyedihkan
bagi keluarga dan anak yang ditinggalkannya. Sebagai tambahan untuk prinsip di
atas, ingatlah hal-hal berikut ini.
Saat terjadi

Berikan dukungan psikologis selama ibu tersebut sadar atau bahkan pada saat
kesadarannya mulai turun mengenai apa yang terjadi dana pa yang mungkin

akan terjadi.
Jika kematian tidak dapat dihindarkan, lebih baik memberikan dukungan dari
sudut poerasaan dan spiritualnya daripada hanya memusatkan diri pada

asuhan kegawatdaruratan medik.


Berikan pengobatan dengan tetap selalu menjaga martabat dan kehormatan
ibu tersebut, meskipun ia sudah tidak sadar atau meninggal.

Setelah terjadi

Biarkan suami atau keluarga menunggu di dekat jenazah.


Bantulah keluarga untuk persiapkan pemakaman, dan pastikan apakah mereka

telah memiliki semua dokumen yang dibutuhkan.


Jelaskan mengenai apa yang terjadi dan jawablah semua pertanyaan,
tawarkan kesempatan kepada keluarga untuk kembali dan bertanya.

Morbiditas Maternal yang Berat


Persalinan kadang meninggalkan trauma baik fisik maupun mental kepada ibu
yang bersangkutan.

Saat terjadi

Jika memungkinkan libatkan ibu dan keluarganya dalam proses persalinan,

khususnya jika sesuai dengan adat setempat.


Jika memungkinkan pastikan bahwa stag lainnya memperhatikan perasaan
dan informasi yang dibutuhkan oleh si ibu dan suaminya.

Setelah terjadi

Jelaskan mengenai kondisi dan pengobatannya sehingga dapat dimengerti

benar oleh ibu tersebut dan suaminya.


Siapkan pengobatan atau rujukan jika mendapatkan indikasi.
Atur kunjungan berikutnya untuk melihat kemajuan dan mendiskusikan
pilihan yang ada.

MORTALITAS ATAU MORBIDITAS NEONATAL


Dalam praktek dukungan emosional bagi ibu yang tengah mengalami
kegawatdaruratan obstetric dan jika terjadi kematian bayi atau bayi lahir
abnormal beberapa faktor spesifik perlu dipertimbangkan.
Kematian Intrauterin atau Lahir Mati
Banyak faktor yang mempengaruhi reaksi seorang ibu terhadap kematian
bayinya, seperti:

Riwayat obstetrik sebelumnya serta riwayat hidup ibu tersebut.


Sampai sejauh mana ia menginginkan bayi tersebut.
Kejadian sekitar proses kelahiran dan penyebab kematian.
Pengalaman kematian sebelumnya.

Saat terjadi

Hindarkan penggunaan sedatif dalam membantu ibu menghadapi peristiwa


tersebut. Sedative akan menunda keikhlasan menerima fakta kematian dan
merasakan terkenang lagi nantinya merupaka bagian dari proses

penyembuhan emosi menjadi lebih sulit.


Biarkan pasien melihat usaha yang dilakukan oleh tenaga medis dalam
menolong si bayi.

Biarkan ibu atau suaminya untuk melihat dan memeluk bayinya dalam
mencurahkan rasa duka, kecuali jika ibu tidak tega melihat bayi dengan cacat

bawaan.
Siapkan orang tua untuk kemungkinan adanya keadaan yang mengganggu
atau sesuatu yang tidak diharapkan dari bayinya (merah, keriput, kulit
terkelupas). Bila mungkin, selimuti bayi tersebut sehingga tampak normal

pada pandangan pertama.


Jangan pisahkan ibu dengan bayinya terlalu cepat (sebelum ia siap), karena
hal ini dapat memngganggu dan memperpanjang proses berduka.

Setelah terjadi

Biarkan ibu atau keluarga bersama bayinya. Orang tua dari bayi yang

meninggal masih perlu mengenali bayinya.


Orang berduka dengan cara yang berbeda-beda, tetapi untuk banyak orang
kenangan adalah yang terpenting. Tawarkan pada ibu tersebut atau
keluarganya barang-barang kenangan seperti potongan rambut dan tanda

nama bayi.
Pada daerah di mana ada kebiasaan memberi nama bayinya pada saat lahir,
anjurkan orang tua untuk menamai bayi mereka sesuai dengan nama yang

mereka pilih.
Biarkan ibu tersebut atau keluarganya menyiapkan bayi untuk pemakaman

jika mereka menghendaki.


Anjurkan acara pemakaman sesuai dengan adat kebiasaan setempat dan

pastikan tindakan medis (seperti otopsi) tidak mengganggu mereka.


Atur diskusi dengan ibu dan suaminya untuk membicarakan kejadian ini dan
pencegahan yang perlu dilakukan untuk masa mendatang.

MORBIDITAS PSIKOLOGIS
Beban emosional pascalahir merupakan hal yang biasa ditemui setelah kehamilan.
Hal ini sangat bervariasi, mulai dari gangguan perasaan sendu yang ringan
(ditemui pada sekitar 80% ibu) sampai depresi postpartum atau psikosis. Psikosis
postpartum dapat menjadi ancaman bagi si ibu maupun bayinya.

Depresi Postpartum
Depresi postpartum mempengaruhi sekitar 15% ibu dan khususnya terjadi pada
minggu dan bulan-bulan awal postpartum dan dapat bertahan sampai satu tahun
atau lebih. Depresi bukan satu-satunya gejala yang ada meskipun biasanya jelas
terlihat. Gejala lainnya meliputi kelelahan, mudah marah, kesedihan, kurangnya
energy dan motivasi, adanya perasaan tidak mendapatkan bantuan dan putus asa,
hilangnya libido dan nafsu makan, serta adanya gangguan tidur. Skait kepada,
asma, nyeri punggung, adanya cairan dari vagina, dan nyeri abdomen juga dapat
ditemu. Gejala lain yang dapat timbul yaitu adanya pikiran obsessional, ketakutan
akan melukai diri sendiri ataupun bayinya, terpikir untuk bunuh diri, dan
depersonalisasi.
Prognasis untuk depresi postpartum cukup baik diatasi dengan diagnosis dini dan
terapi. Lebih dari dua pertiga ibu sembuh dalma satu tahun. Adanya orang yang
menemani selama proses persalinan dapat menghindarkan terjadinya depresi
postpartum.
Setelah pemulihan, ibu yang mengalami depresi postpartum membutuhkan
konseling psikologis dan bantuan praktis. Umumnya dengan cara:

Berikan dukungan psikologis dan bantuan nyata (pada bayi dan asuhan di

rumah).
Dengarkan dan berikan dukungan serta besarkan hati ibu.
Yakinkan si ibu bahwa pengalaman tersebut merupakan hal biasa dan banyak

ibu lain yang mengalami hal yang sama.


Bantulah si ibu untuk memikirkan kembali gambaran keibuan dan bantulah
pasangan ini untuk memikirkan peran masing-masing sebagai orang tua baru.
Mereka mungkin perlu untuk menyesuaikan apa yang diharapkan dan

kegiatan mereka.
Jika depresinya cukup parah, pertimbangkan pemberian obat-obatan anti
depresan jika ada. Perlu diperhatikan bahwa obat-obatan tersebut dapat
diberikan melalui air susu dan proses menyusui perlu dikaji ulang.

PENILAIAN AWAL
Dalam menilai kesehatan pasien perempuan dalam usia reproduksi harus segera
ditentukan derajat masalahnya.
Penilaian awal
Menilai

Tanda bahaya

Masalah

JALAN NAPAS

PERHATIKAN
-Sianosis
-Gagal napas

Anemia berat
Gagal jantung
Pneumia
Asma

PERIKSA

Sirkulasi
(tanda syok/renjatan)

PERDARAHAN PER VAGINAM


(Kehamilan muda atau lanjut, atau
setelah persalinan)

-Kulit : pucat
-Paru : suara napas, rhonkhi
PERIKSA

SYOK

-Kulit : dingin dan basah, turgor


-Nadi : cepat (> 110) dan lemah
-Tensi : rendah (sistolik < 90 mmHg)

TANYAKAN
-Hamil, usia gestasi
-Postpartum
-Plasenta sudah lahir

Abortus
Kehamolan ektopik terganggu
Mola hidatisoda

PERIKSA
-Vulva : jumlah darah, sisa plasenta luka jalan lahir
-Uterus : atonia
-Kandung kemih : penuh

Solusio plasenta
Rupture uteri
Plasenta previa

JANGAN PERIKSA DALAM


(bila kemungkinan plasenta previa)

TAK SADAR ATAU KEJANG

Robekan jalan lahir: serviks,

vagina,
Atonia uteri
Sisa plasenta
Inversion uteri

Eklampsia
Malaria
Epilepsy
Tetanus

Infeksi saluran kemih


Malaria

TANYAKAN:
-Hamil, usia gestasi

PERIKSA:
-Tensi : tinggi (diastolik > 90 mmHg)
-Suhu >38C

DEMAM

TANYAKAN :

-Lemah, lesu
-Frekuensi, kencing sakit
-Hamil, usia gestasi
-Ketuban pecah
-Postpartum
-Usaha aborsi

PERIKSA :
-Suhu 38
-Tidak sadar
-Kaku kuduk
-Paru : sesak, napas cepat
-Abdomen : nyeri tekan
-Vulva : lokia berbau
-Mamae : nyeri tekan

NYERI PERUT

TANYAKAN:
-Hamil, usia gestasi

PERIKSA
-Tensi : rendah (sistolik < 90 mmHg)
-Nadi cepat (> 110/mn)
-Suhu >38C
-Besar uterus

Endometritis
Abses pelvik
Peritonitis
Mastitis

Komplikasi postabortum

Pneumonia

Kehamilan ektopik terganggu


Apendistis
Kista ovarium putaran tangkai

partus atern/preterm
infeksi intrauterine
solusio plasenta
rupture uteri

Daftar ini tidak mencakup seluruh masalah yang mungkin dihadapi seorang ibu

dalam masa kehamilan atau persalinan. Tujuannya adalah untuk mengenali


masalah-masalah ibu tersebut pada risiko yang lebih besar atas morbiditas dan
mortalitas.
Seorang ibu juga perlu mendapat perhatian khusus jika ia mempunyai salah satu
tanda sebagai berikut.

Keluarnya lender darah yang disertai kontraksi yang dapat diraba,


Pecahnya selaput ketuban,
Pucat,
Kelemahan,
Pingsan,

Sakit kepala yang hebat,


Penglihatan memburuk,
Muntah,
Demam,
Gangguan pernapasan.

Ibu tersebut harus didahulukan dan ditangani dengan semestinya.

PENERAPAN SKEMA PENILAIAN AWAL YANG CEPAT


Penanganan awal yang cepat membutuhkan pengenalan segera untuk masalah
spesifik serta tindakan yang cepat. Hal ini dapat dilakukan dengan:

Melatih semua staf, termasuk staf administrasi, penjaga keamanan, penjaga


pintu atau operator telepon, agar dapat bereaksi dengan suatu cara yang
semestinya (bunyikan alarm, minta bantuan) saat seorang ibu datang ke
fasilitas dengan kegawatdaruratan obstetric atau komplikasi kehamilan, atau
sewaktu fasilitas tersebut mendapat pemberitahuan bahwa seorang ibu sedang

dirujuk ke tempat tersebut.


Latihan keterampilan klinis dan kegawatdaruratan melibatkan para staf untuk

memastikan kesiapan mereka pada setiap tahap.


Memastikan semua akses terbuka (di mana letak kunci lemari obat, kamar
tindakan, dll.) dan peralatan berfungsi dengan semestinya (cek harian) dan para

staf cukup terlatih untuk menggunakan peralatan tersebut.


Adanya prosedur tetap (dan tahu bagaimana menggunakannya) untuk
mengenali kegawatdaruratan yang sebenarnya dan tahu bagaimana bereaksi

secepatnya.
Mampu mengenali secara jelas seluruh ibu yang berada di ruang tunggu, ibuibu mana yang membutuhkan perhatian segera, meskipun mereka hanya
menungu konsultasi rutin, dan segera didahulukan antreannya (dengan
persetujuan bahwa ibu bersalin atau ibu hamil yang mempunyai masalah yang

terdapat pada tabel 2.1, sebaiknya segera diperiksa oleh tenaga medis).
Menyetujui dengan suatu perjanjian bahwa ibu dalam kondisi gawat dapat
diabaikan masalah pembayarannya, paling sedikit untuk waktu tertentu.

PRINSIP DASAR PENANGANAN KEGAWATDARURATAN


KEGAWATDARURATAN
Kegawatdaruratan dapat terjadi tiba-tiba, dapat disertai kejang, atau dapat timbul
sebagai akibat dari suatu komplikasi yang tidak ditangani atau dipantau dengan
semestinya.
1. Menghindari kegawatdaruratan
Sebagian besar kegawatdaruratan dapat dihindarkan dengan cara:

Perencanaan dengan seksama;


Petunjuk-petunjuk klinis diikut;
Pemantauan secara seksama terhadap ibu.

Reaksi Terhadap Suatu Kegawatdaruratan


Untuk bereaksi terhadap kegawatdaruratan secara benar dan efektif dibutuhkan
anggota-anggota tim medis yang mengetahui peranannya masing-masing dan
bagaimana suatu tim harus berfungsi untuk memberikan reaksi yang paling
efektif terhadap suatu kegawatdaruratan. Para anggota tim juga harus
mengetahui:

Keadaan klinis, diagnosis, dan penangannya,


Kegunaan, pemberian, dan efek samping obat-obatan,
Peralatan gawat darurat dan cara kerjanya.

Kemampuan suatu fasilitas untuk menangani suatu kegawatdaruratan


harus dinilai dan diperkuat dengan latihan-latihan kegawatdaruratan yang
berulang.

Penanganan Awal
Dalam menangani suatu kegawatdaruratan:

Tetaplah tenang. Berpikirlah secara logis dan pusatkan perhatian pada

kebutuhan ibu tersebut.


Jangan tinggalkan ibu tersebut tanpa ada yang menjaganya.
Ambillah tanggung jawab. Hindari kebingungan dengan menugaskan

seseorang sebagai penanggung jawab.


MINTA TOLONG. Mintalah satu orang untuk mencari pertolongan dan
orang lainnya untuk mengambil peralatan dan obat-obatan yang dibutuhkan

(seperti tabung oksigen dan peralatan kegawatdaruratan).


Jika ibu tersebut tidak sadar, nilai jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi.
Jika dicurigai terjadi syok, segera mulai penatalaksanaan syok. Meskipun
tanda-tanda syok tidak terlihat, tetap pikirkan syok sewaktu Anda melakukan
evaluasi lebih jauh pada ibu tersebut karena statusnya dapat memburuk
dengan cepat. Jika syokterjadi, sangatlah penting untuk segera memulai

penatalaksanaannya.
Letakkan ibu dalam posisi berbaring miring dengan sisi kirinya di bawah dan

kaki dinaikkan. Longgarkan pakaian yang ketat.


Bicaralah dengan ibu tersebut dan bantu ia untuk tetap tenang. Tanyakan apa

yang terjadi dan apa gejala yang ia alami.


Lakukan pemeriksaan secara cepat termasuk tanda vital (tekanan darah, nadi,
pernapasan, suhu tubuh) dan warna kulit. Perkirakan jumlah darah yang
hilang dan nilai tanda dan gejala yang ada.

PENCEGAHAN INFEKSI

Tujuan Utama
Tujuan utama pencegahan infeksi ialah:

Mencegah infeksi umum,


Meminimalkan risiko penyebaran penyakit yang berbahaya seperti hepatitis B
dan HIV/AIDS kepada pasien, kepada petugas kesehatan, termasuk petugas
kebersihan dan rumah tangga.

Prinsip Dasar
Prinsip dasar dalam pencegahan infeksi adalah sebagai berikut.

Setiap orang (pasien dan petugas pelayanan kesehatan) harus dianggap

berpotensi menularkan infeksi.


Cuci tangan adalah prosedur yang paling praktis dalam mencegah

kontaminasi silang.
Pakailah sarung tangan sebelum menyentuh setiap kulit yang luka, selaput

lender (mukosa), darah, dan cairan tubuh lainnya (sekret atau ekskret)
Gunakanlah pelindung (barrier) seperti kaca mata (googles), masker, celemek
(apron) pada setiap kali melakukan kegiatan pelayanan yang diantisipasi

dapat terkena percikan atau terkena darah dan cairan tubuh pasien.
Selalu melakukan tindakan/prosedur menurut langkah yang aman, seperti
tidak membengkokkan jarum dengan tangan, memegang alat medik dan
memprosesnya dengan benar, membuang dan memproses sampah medik
dengan benar.

Cuci Tangan

Seluruh permukaan kedua tangan dicuci dengan sabun selama 15 30 detik

dan dicuci dengan air yang mengalir.


Cuci tangan:
- Sebelum dan sesudah melakukan pemeriksaan atau setelah setiap kontak

langsung.
Setelah menyentuh darah atau cairan tubuh pasien walaupun telah

memakai sarung tangan.


Setelah melepaskan sarung tangan, karena ada kemungkinan kebocoran di

sarung tangan.
Selalu mencuci tangan sebelum melakukan tindakan bedah.
Untuk membudidayakan kebiasaan mencuci tangan, pengelola perlu berusaha
menyediakan sabun dan air bersih secara terus menerus, dapat dari keran atau
ember, serta penggunaan handuk sekali pakai. Untuk setiap petugas
digunakan satu handuk/lap bersih dan kering untuk mengeringkan tangan.

Cara Membersihkan Tangan Sebelum Tindakan Pembedahan

Lepaskan semua perhiasan (misalnya: cincin, gelang, dan jam tangan).


Posisikan tangan di atas siku, basahi tangan seluruhnya dan gunakan sabun.
Mulailah dari ujung jari, sampai berbusa, lalu bilas dengan menggunakan
gerakan memutar:
- Bilas di antara jari-jari,
- Gerakkan dari ujung jari menuju siku pada satu tangan dan kemudian

ulangi untuk tangan berikutnya.


Basuh setiap lengan secara terpisah, ujung jari lebih dahulu, jaga tangan

dalam posisi lebih tinggi dari siku.


Cuci selama 3-5 menit.
Gunakan handuk yang berbeda untuk mengeringkan setiap tangan. Keringkan

mulai dari ujung jari sampai siku kemudia buang handuknya.


Pastikan tangan yang telah dibersihkan tidak bersentuhan dengan barangbarang (seperti peralatan dan gaun pelindung) yang tidak didisinfeksi tingkat
tinggi atau disterilkan. Jika tangan menyentuh permukaan yang
terkontaminasi, ulangi membersihkan tangan dengan cara di atas.

SARUNG TANGAN

Pemakaian sarung tangan:


Apabila melakukan tindakan klinik (Tabel 4.1).
Apabila memegang alat medik dan sarung tangan.
Apabila membuang sampah medik (kapas, kasa, dan lain-lain)
Untuk setiap pasien harus digunakan sarung tangan yang berbeda guna

mencegah kontaminasi silang.


Apabila sarung tangan bekas pakai akan digunakan lagi:
- Didekontaminasi dengan merendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10
-

menit, kemudian dicuci.


Selanjutnya sarung tangan disterilisasi dengan otoklaf (alat sterilisasi) atau
didisinfeksi tingkat tinggi dengan menguapkan atau merebus.

Sarung tangan yang bocor/ berlobang tidak boleh dipakai

Baju pelindung (gaun) yang bersih, tetapi tidak perlu steril, digunakan selama
melakukan semua prosedur persalinan:
- Pada pemakaian baju bedah berlengan panjang, tepi sarung tangan harus
-

menutupi ujung lengan baju untuk menghindari kontaminasi.


Pastikan bahwa tangan yang telah memakai sarung tangan (yang telah
didisinfeksi tingkat tinggi atau steril) diletakkan lebih tinggi dari pinggang
dan tidak bersentuhan dengan baju pelindung.

Tabel : Kebutuhan sarung tangan dan baju pelindung/gaun untuk prosedur


obstetri
Prosedur

Sarung

tangan Sarung

tangan Baju

alternatifa

yang

pelindung/gaun

dibutuhkana
Pengambilan

darah, Sarung

memulai infus intravena

pemeriksaan

tangan Sarung
c

tangan Tidak perlu

pembedahan

dengan

didisinfeksi

tingkat

tinggi (DTT)d
Pemeriksaan pelvic

Sarung
pemeriksaan

tangan Sarung

tangan Tidak perlu

pembedahan

dengan

didisinfeksi

tingkat

tinggi (DTT)

Aspirasi vakum manual,

Sarung

tangan Sarung

dilatasi

disinfeksi

tingkat pemvedahan steril

dan

kolpotomi,

kuretase,

tangan Tidak perlu

penjahitan tinggi

robekan perineum dan


serviks
Laparotomi,
sesarea,

histerektomi,

penjahitan
uterus,

seksio Sarung
disinfeksi

tangan Sarung

tangan Bersih, DTT atau

tingkat pembedahan

dengan steril

robekan tinggi

didisinfeksi

salpingektomi,

pengikatan
uterine,
kompresi
uterus,

tingkat

tinggi (DTT)

arteri
persalinan,
bimanual
melahirkan

plasenta secara manual,


memperbaiki

inversi

uterus, kelahiran dengan


bantuan alat
Penanganan

dan Sarung

pembersihan alat

tangan Sarung

kerja (biasa)

pemeriksaan

tangan Tidak perlu


atau

pembedahan
Penanganan
tercemar

limbah

Sarung

tangan Sarung

kerja (biasa)

pemeriksaan

tangan Tidak perlu


atau

pembedahan
Pembersihan tumpahan Sarung

tangan Sarung

darah atau cairan tubuh kerja (biasa)

pemeriksaan

lainnya

pembedahan

tangan Tidak perlu


atau

INSTRUMEN TAJAM DAN JARUM


Kamar Operasi dan Kamar Bersalin

Jangan meletakkan instrumen tajam dan jarum di sembarnag tempat,

letakkanlah di bagian ruangan yang aman.


Beri tahu penerima instrumen sebelum menyerahkan instrument tajam.

Alat Suntik dan Jarum Hipodermik

Gunakanlah jarum dan semprit sekali pakai.


Jangan pisahkan jarum dengan alat suntik setelah dipakai.
Jangan menutup kembali, membengkokkan, ataupun mematahkan jarum

sebelum waktunya dibuang.


Masukkanlah jarum dan semprit habis pakai ke dalam tempat yang tembus

jarum.
Jarum habis pakai harus dibakar dalam incinerator.

Catatan: Pada fasilitas yang tidak mempunyai alat suntik sekali pakai dan
digunakan metode recapping, gunakan cara menutup dengan satu tangan:
-

Letakkan tutup pada permukaan yang keras dan rata,


Pegang alat suntik dengan satu tangan dan gunakan jarum untuk

mengambil tutup,
Sewaktu tutup suntik telah menutupi jarum seluruhnya, pegang bagian
dasar jarum dan digunakan tangan lain untuk mengunci tutup jarum.

PEMBUANGAN SAMPAH
Tujuan pembuangan sampah:

Mencegah penyebaran infeksi dan luka tusuk kepada petugas pelayanan

kesehatan yang menangani sampah,


Mencegah penyebaran infeksi ke masyarakat setempat.

Prinsip Pembuangan Sampah

Sampah yang tidak terkontaminasi (misalnya kertas administrasi) dibuang ke

tempat sampah biasa.


Sampah medik yang terkontaminasi darah atau cairan tubuh lainnya harus
diperlakukan sesuai dengan prosedur yang benar untuk meminimalkan
penyebaran infeksi kepada petugas maupun masyarakat setempat dengan cara
sebagai berikut:
- Memakai sarung tangan,
- Membawa sampah medik terkontaminasi ke tempat pemrosesan akhir
-

dengan menggunakan tempat sampah yang tertutup,


Seluruh instrument tajam habis pakai dimasukkan ke dalam tempat
yang tidak tembus tusukan,

Tuangkan secara hati-hati cairan buangan ke dalam saluran atau toilet

yang dapat disiram,


Sampah medik padat dibakar dalam insenerator atau dikubur,
Setelah membuang sampah yang berpotensi infeksi, tangan petugas,
sarung tangan, dan tempat sampah harus dicuci.

TRANSFUSI DARAH DAN INFUS CAIRAN

Asuhan obstetrik mungkin membutuhkan transfusi darah. Sangatlah penting untuk


mrnggunakan darah, produk darah, atau cairan pengganti yang sesuai dan
perhatikan prinsip-prinsip yang dibuat untuk membantu tenaga medis dalam
memutuskan kapan (dan kapan tidak) melakukan transfusi.
Penggunaan produk darah yang sesuai didefinisikan sebagai transfusi produk
darah yang aman untuk mengobati kondisi-kondisi yang akan mengarah
morbiditas dan mortalitas, yang tidak dapat dihaindarkan atau ditangani secara
efekti oleh cara lain.

Indikasi Transfusi

Perdarahan pascapersalinan dengan syok


Kehilangan darah saat operasi
Anemia berat untuk kelahiran lanjut ( Hb < 8g% atau timbul gagal jantung )

Catatan : Untuk anemia pada kehamilan awal, obati penyebab anemia dan
sediakan hematinik.
PENGGUNAAN PRODUK DARAH YANG TIDAK TEPAT
Jika digunakan secara tepat, transfusi darah dapat menyelamatkan jiwa dan
memperbaiki kesehatan. Namun, terapi ini juga dapat menimbulkan komplikasi
akut juga mempunyai risiko terjadinya transmisi zat-zat infeksius. Terapi ini
mahal dan sumber terbatas.
Transfusi sering tidak diperlukan karena:

Kondisi yang tampaknya membutuhkan transfusi, sering dapat dihindari

dengan pengobatan dini atau upaya pencegahan.


Transfusi darah lengkap, sel darah merah, atau plasma sering diberikan untuk
menyiapkan secara cepat seorang ibu untuk menjalani pembedahan yang
direncanakan, atau untuk memulihkan kondisi tubuh agar dapat keluar dari
rumah sakit secara lebih cepat. Terapi lain, seperti infus cairan, kadangkadang lebih murah, lebih aman, dan sama efektifnya.

Transfusi yang tidak tepat dapat :

Meningkatkan peluang ibu pada resiko-resiko yang tidak perlu.


Menyebabkan menipisnya persediaan produk darah untuk ibu-ibu yang benarbenar membutuhkan,sementara produk darah merupakan sumber daya yang
terbatas dan mahal.

RISIKO TRANSFUSI
Sebelum meberikan darah atau produk darah untuk seorang ibu, sangatlah penting
untuk mempertimbangkan risiko transfusi dibandingkan dengan risiko tidak
melakukan transfusi.
Darah Lengkap atau Transfusi Sel Darah Merah

Reaksi transfusi
Infeksi HIV, hepatitis B, hepatitis C, sifilis, malaria.
Kontaminasi bakteri lainnya jika dibuat atau disimpan secara tidak benar.

Risiko Transfusi Plasma

Infeksi seperti di atas


Reaksi transfusi
Sangat sedikit indikasi yang jelas dari transfusi plasma (seperti koagulopati)
dan bahkan risikonya sering melebihi keuntungan yang mungkin dirasakan
oleh ibu.

Upaya Mengurangi Risiko

Seleksi Donor Darah


Penapisan infeksi yang dapat ditularkan melalui transfusi (khususnya HIV-1,

HIV-2,HcV,HbsAg,Treponema pallidium)
Program menjaga mutu
Penanganan yang baik terhadap penentuan

golongan

darah,

tes

kompatibilitas, pemisahan komponen darah, penyimpanan, dan transportasi

produk darah.
Penggunaan darah dan produk darah secara tepat.

PRINSIP TRANSFUSI DARAH


Transfusi darah hanya merupakan satu elemen dari penanganan kasus
secara keseluruhan. Bila terjadi kehilangan darah dalam jumlah banyak dan
waktu singkat akibat perdarahan, pembedahan ataupun komplikasi dari
melahirkan, yang paling urgen adalah mengganti cairan yang hilang dengan
segera. Transfusi sel darah merah dapat menjadi penting karena akan
mengembalikan kapasitas pengangkutan O2 oleh darah.
Kurangi kebutuhan transfusi dengan:

Penggunaan cairan pengganti untuk resusitasi


Minimalkan pengambilan darah untuk kepentingan pemeriksaan darah.
Gunakan teknik anestesi dan bedah terbaik untuk meminimalkan kehilangan
darah selama tindakan

Pembersihan dan re-infus darah yang keluar selama prosedur (autotransfusi)


jika mungkin.

Prinsip-prinsip yang harus Diingat

Transfusi hanya merupakan satu bagian dalam penatalaksanaan seorang ibu.


Keputusan untuk memberikan transfusi harus didasarkan pada petunjuk
nasional mengenai penggunaan klinis dari darah, dengan mempertimbangkan

kebutuhan ibu itu sendiri.


Kehilangan darah harus diminimalkan untuk mengurangi kebutuhan ibu akan

transfusi.
Ibu yang kehilangan darah akut sebaiknya menerima resusitasi efektif (cairan
pengganti intravena, oksigen dan lain-lain) sementara kebutuhan transfusi

dipertimbangkan.
Kadar hemoglobin ibu, meskipun penting, sebaiknya tidak menjadi factor
penentu untuk memulai transfusi. Keputusan untuk melakukan transfusi
haruslah didukung oleh kebutuhan untuk menghilangkan gejala dan tanda

serta menghindari morbiditas dan mortalitas.


Klinisi seharusnya waspada terhadap risiko terkena infeksi yang ditularkan

oleh transfusi produk darah yang tersedia.


Transfusi sebaiknya diberikan hanya jika keuntungannya lebih besar bagi

ibu/pasien dibandingkan dengan kerugiannya.


Seorang yang terlatih sebaiknya memantau ibu yang mendapat transfusi dan

segera bereaksi jika ada efek samping yang timbul.


Klinisi sebaiknya mencatat alasan dilakukannya transfusi dan memeriksa efek
samping yang timbul.

MEMBERIKAN DARAH
Memberikan

darah

sebaiknya

berdasarkan

petunjuk

nasional

mengenai

penggunaan klinis darah, dengan mempertimbangkan kebutuhan ibu tersebut.


Sebelum memberikan darah atau produk darah, harap diingat hal-hal berikut:

Perbaikan yang diharapkan pada kondisi klinis ibu tersebut.


Metode untuk meminimalkan kehilangan darahuntuk mengurangi kebutuhan
akan transfusi.

Terapi alternative yang dapat diberikan, termasuk penggantian cairan


intervena atau oksigen, sebelum mengambil keputusan untuk melakukan

transfusi.
Risiko penularan HIV, hepatitis, sifilis, atau infeksi lainnya melalui produk

darah yang tersedia.


Keuntungan transfusi dibandingkan dengan risiko untuk ibu tertentu.
Pilihan terapi lain jika darah tidak tersedia pada saat itu.
Kebutuhan akan orang yang terlatih untuk memantau ibu tersebut dan segera
bereaksi jika timbul efek samping.

Pada akhirnya, jika berada dalam kebimbangan, tanyakan pada diri anda
pertanyaan berikut:

Jika darah ini dimaksudkan untuk diri saya atau anak saya, akankah saya
menerima transfusi pada kondisi demikian?

PEMANTAUAN PASIEN YANG DITRANSFUSI

Pemantauan dilakukan pada tahap:


- Sebelum transfusi dimulai
- Pada saat transfusi dimulai
- 15 menit sesudah transfusi mulai
- Setiap 1 jam selama transfusi
- Setiap 4 jam setelah transfusi selesai.
Periksa dan catat hal-hal berikut pada setiap tahap:
Pantau dengan ketat si ibu selama 15 menit pertama transfusi dan secara teratur
untuk mendeteksi tanda dan gejala awal reaksi yang berlawanan.
- Keadaaan umum
- Suhu
- Nadi
- Tekanan darah
- Pernapasan
- Keseimbangan cairan (masukan secara oral dan intravena, keluaran urin)
Catat pula:
- Waktu transfusi mulai
- Waktu transfusi selesai
- Volume dan jenis produk darah yang ditransfusi

Efek samping
Nomor

PENANGANAN REAKSI TRANSFUSI


Reaksi

transfusi

dapat

ringan

(ruam,kulit,gatal)

sampai

berat

(gagal

ginjal,hemolysis,syok anafilaktik). Hentikan transfusi, berikan cairan intravena


(garam, fisiologik atau Ringer Laktat) sementara membuat penilaian awal dari
reaksi transfusi akut dan cari bantuan medis. Jika reaksinya tergolong minor,
berikan prometazin 10 mg melalui oral dan observasi.
Penanganan Syok Anafilaktik

Tata laksana syok ( hal, M-1) dan berikan:


- Adrenalin 1:1000 (0,1 ml NaCl atau ringer Laktat) perlahan-lahan secara

I.V.,
- Prometazin 10 mg I.V.,
- Dan hidrokortison 1 g I.V., setiap 2 jam jika perlu.
Jika ada bronkospasme, berikan aminosfilin 250 mg dalam NaCl atau

Ringer Laktat 10 ml perlahan-lahan secara I.V.


Lakukan tindakan tersebut diatas samapai keadaan ibu stabil.
Pantau tanda vital dan rujuk untuk perawatan insentif. Catat saat terjadi reaksi

transfusi, demikian pula catat jumlah produksi urin.


Jika terdapat rekasi transfusi, ambil contoh/botol darah disertai darah beku
dan 1 botol berisi darah dari vena kontralateral yang diberi antikulogan

(+EDTA).
Jika dicurigai adanya sepsis karena darah yang telah terkontaminasi, buatlah
kultur dari darah transfusi tersebut.

CAIRAN

PENGGANTI:

ALTERNATIF

SEDERHANA

TERHADAP

TRANSFUSI
Hanya garam fisiologik (NaCl 0,9%) atau cairan garam seimbang lainnya yang
memiliki konsentrasi yang sama dengan natrium pada plasma, yang merupakan
cairan pengganti yang efektif. Oleh karena itu, cairan ini harus tersedia di semua
rumah sakit yang menggunakan cairan pengganti intravena.

Cairan pengganti digunakan untuk menggantikan kehilangan abnormal dari darah,


plasma atau cairan ekstraselular, dengan cara meningkatkan volume kompartemen
vascular. Cairan pengganti digunakan pada:

Penatalaksanaan ibu dengan hypovolemia yang nyata (eperti syok

hemoragik).
Penatalaksanaan ibu normovolemia dengan kehilangan cairan terus-menerus
(pada kehilangan darah akibat pembedahan).

Terapi Pengganti Intravena


Terapi pengganti intravena merupakan terapi baris pertama untuk hypovolemia.
Pengobatan awal dengan cairan ini dapat menolong nyawa seseorang dan dapat
memberikan waktu untuk mengendalikan perdarahan dan mendapatkan darah
untuk transfusi jika dibutuhkan.
Untuk mengganti cairan yang hilang, infus NaCl atau Ringer Laktat cukup efektif,
misalnya pada syok perdarahan atau kehilangan cairan pada pembedahan.
Cairan Kristaloid

Cairan Kristaloid sebagai cairan pengganti:


- Konsentrasi natrium sama dengan plasma,
- Tidak dapat memasuki sel karena membrane sel tidak permeable terhadap
-

natrium,
Dapat masuk ke ruang ekstraselular,
Diperlukan volume cairan kristaloid sekurangnya 3 kali volume yang
hilang untuk mempertahankan volume intravaskular.

Larutan dekstrose (glukosa) merupakan cairan pengganti yang buruk. Jangan


gunakan cairan ini untuk mengobati kasus hypovolemia kecuali tidak ada
alternatif lainnya.
Cairan Koloid

Larutan koloid terdiri dari suspense partikel-partikel yang lebih besar


dibandingkan dengan kristaloid. Koloid cenderung untuk bertahan dalam
darah dan akan menyerupai proyein plasma untuk menjaga atau
meningkatkan tekanan onkotik koloid darah.

Koloid biasanya diberikan dengan volume sesuai dengan jumlah darah yang
hilang. Pada banyak kondisi dimana permeabilitas kapiler meningkat (pada
trauma dan sepsis) kebocoran sirkulasi akan terjadi dan infus tambahan
dibutuhkan untuk menjaga volume darah.

Hal-hal yang perlu diingat

Belum terdapat bukti bahwa larutan koloid (albumin, dekstran, gelatin,


hydroxyethylstarch) mempunyai keuntungan dibandingkan dengan garam

fisiologik ataupun larutan garam lainnya untuk resusitasi.


Terdapat bukti bahwa larutan koloid mungkin mempunyai efek samping pada

keselamatan.
Larutan koloid lebih mahal dibandingkan dengan garam fisiologik dan larutan

garam seimbang lainnya.


Plasma manusia sebaiknya tidak digunakan sebagai cairan pengganti. Semua
bentuk plasma mempunyai risiko yang sama dengan darah lengkap yang

dapat menularkan infeksi seperti HIV dan hepatitis.


Air murni tidak pernah digunakan untul infus intravena karena air akan

menyebabkan hemolisis dan berakibat fatal.


KEAMANAN

Koloid mempunyai peran sangat terbatas dalam resusitasi


Sebelum memberikan cairan per infus:

Cek segel botol/kantong cairan tidak sobek;


Cek waktu kadaluarsa;
Periksa bahwa cairan terlihat jernih dan bebas dari partikel-partikel yang
terlihat.

CAIRAN UNTUK PEMELIHARAAN


Gunakan cairan kristaloid, eperti dekstrose atau dekstrose dalam NaCl, untuk
mengganti cairan yang keluar melalui kulit, paru, feses, dan urin. Jika dapat
diketahui bahwa ibu tersebut akan menerima cairan I.V. selama 48 jam atau lebih,
infuslah dengan larutan elektrolit yang seimbang ( contoh kalium klorida 1,5 g
dalam 1 l cairan I.V.) dengan dekstrose. Volume cairan yang dibutuhkan seorang

ibu sangan bervariasi, khususnya jika ibu tersebut menderita demam atau
memiliki suhu atau kelembaban sekitar yang tinggi.

Cara Pemberian Cairan Selain Melalui Infus


Melalui oral dan sonde lambung

Cairan melalui oral dapat diberikan oada keadaan hipovolemi ringan dan

pasien dapat minum.


Cairan per oral atau sonde lambung jangan diberikan pada :
- Hipovolemi berat,
- Pasien tidak sadar,
- Obstruksi gastrointestinal,
- Pembedahan dengan anestesi umum.
Melalui rectum

Tidak dapat diberikan pada pasien hipovolemi berat.


Keuntungan pemberian melalui rectum adalah:
- Dapat segera diabsorpsi sampai hidrasi tercapai.
- Absorpsi berhenti dan cairan dikeluarkan sewaktu hidrasi selesai.
- Cairan ini diberikan melalui suatu selang plastic atau karet yang
dimasukkan ke dalam rectum dan dihubungkan ke suatu kantong atau
-

botol cairan.
Kecepatan cairan dapat dikontrol dengan menggunakan set intravena.
Cairan tidak perlu steril. Cairan yang cukup aman dan efektif untuk
rehidrasi rektal adalah 1 liter air minum ditambah 1 sendok teh garam
meja.

Melalui subkutan

Pemberian cairan secara subkutan dianjurkan bilamana cara-cara lain tidak

dapat dilakukan, tetapi tidak bermanfaat untuk pasien hipovolemi berat.


Cairan steril ini diberikan secara subkutan (biasanya pada dinding perut).
Jangan berikan dekstrose secara subkutan, karena dapat mengakibatkan
kematian jaringan.

PERAWATAN OPERATIF

PRINSIP PERAWATAN PRAOPERATIF


Persiapan Kamar Bedah
Pastikan bahwa:

Kamar bedah bersih (harus dibersihkan setiap selesai suatu tindakan).


Kebutuhan gawat darurat tersedia, termasuk oksigen dan obat-obatan.
Peralatan gawat darurat tersedia dan dalam keadaan siap pakai.
Baju bedah, kain steril, sarung tangan, kasa, instrumen tersedia dalam
keadaan steril dan belum kadaluwarsa.

Persiapan Pasien

Terangkan prosedur yang akan dilakukan pada pasien. Jika pasien tak sadar

terangkan pada keluarganya.


Dapatkan persetujuan tindakan medis.
Bantu dan usahakan pasien dan keluarganya siap secara mental.
Cek kemungkinan alergi dan riwayat medis lain yang diperlukan.
Siapkan contoh darah untuk pemeriksaan hemoglobin dan golongan darah.

Jika diperkirakan diperlukan minta darah terlebih dahulu.


Cuci dan bersihkan lapangan insisi dengan sabun dan air.
Janganlah mencukut rambut pubis karena hal ini dapat menambahkan risiko

infeksi luka. Rambut pubis hanya dipotong/dipendekkan kalau perlu.


Pantau dan catat tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu).
Berikan pramedikasi yang sesuai.
Berikan antasid untuk mengurangi keasaman lambung (sodium sitrat 0.3%

atau Mg trisilikat 300mg).


Pasang kateter dan monitor pengeluaran urin.
Pastikan semua informasi sudah disampaikan pada seluruh tim bedah.

PRINSIP PERAWATAN INTRAOPERATIF


Posisi

Atur pasien pada posisi yang tepat untuk suatu prosedur tindakan sehingga
memungkinkan:

Pandangan yang optimum pada tempat bedah.


Mudah bagi pemberi anesthesia.
Mudah bagi paramedis yang melakukan monitor tanda vital dan pemberian

infus.
Aman untuk pencegahan terjadinya suatu perlukaan dan menjaga sirkulasi.
Jaga harga diri dan kerendahan hati.

Cuci Tangan

Lepaskan semua perhiasan


Angkat tangan lebih tinggi dari siku, basahi yangan merata dan pakai

klorheksidin, hibiskum, atau sabun.


Mulai dari ujung jari dengan gerakan sirkuler kenakan seluruh busanya dan
cuci:
- Antara semua jari, sela-sela jari dan telapak tangan,
- Dari ujung jari yang satu selesaikan sampai siku, baru pindah ke tangan

yang lain.
Basuh tangan satu per satu secara terpisah, mulai ujung jari dan pertahankan

tangan di atas siku terus menerus.


Cuci tangan selama 3-5 menit.
Pergunakan handuk kering steril setiap tangan. Usap dari ujung jari ke siku.
Pastikan setelah cuci tidak kena kontak dengan objek yang tidak steril/DTT.
Jika kontak ulang ciuci tangan dari awal.

Menyiapkan Tempat Insisi

Usapkan kulit dengan antiseptic (misalnya: iodofor, klorheksidin):


- Usapkan larutan antiseptic sebanyak 3 kali, memakai ring forceps dan kasa
yang steril/DTT. Jika sudah memakai sarung tangan, jangan sampai

sarung tangan menyentuh daerah kulit yang belum di usap,


- Mulai dari tempat insisi dan melebar ke luar dalam gerakan melingkar,
- Singkirkan kasa dan ring forceps yang telah dipaka.
Jauhkan tangan dari siku serta pakaian steril dari lapangan bedah.
Pasang kain steril sesudah dilakukan usapan larutan antiseptik untuk
mencegah kontaminasi. Jika kain berlubang, langsung pertama kali lubang
dipasang pada daerah insisi.

Pemantauan
Lakukan pemantauan kondisi pasien secara teratur selama tindakan:

Tanda-tanda vital, kesadaran dan jumlah pendarahan.


Catat pada lembar pemantauan sehingga mudah mengenali jika keadaan

memburuk.
Jaga hidrasi selama pembedahan.

Antibiotika
Berikan antibioka profilaksis sebelum memulai tindakan. Jika seorang ibu akan
menjalani bedah seksio sesarea, berikan antibiotika profiaksis perioperatif.
Melakukan insisi

Buatlah insisi hanya sebesar yang dibutuhkan dalam prosedur.


Lakukan secara tepat dalam satu kali gerakan.

Peralatan dan Instrumen Tajam

Mulai dan akhiri tindakan dengan menghitung instrument, alat alat tajam,

dan kasa:
- Lakukan penghitungan setiap akan menutup suatu ruang tubuh,
- Catat pada rekam medis dan cocokkan sampai sesuai.
Memakai alat-alat tajam harus memperhatikan zona aman juga pada waktu
saling memindahkan/meberikan:
- Pergunakan bengkok untuk memberikan/menerima alat-alat tajam, atau
- Cara memberikan dengan ujung yang tumpul pada si penerima.

Drainase

Selalu memakai drain jika:


- Perdarahan masih ada setelah histerektomi;
- Ada gangguan pembekuan darah;
- Jika ada infeksi atau diperkirakan akan terjadi.
Sebaiknya memakai system tertutup
Lepas drain jika infeksi telah selesai atau pus atau cairan campur darah sudah
48 jam.

Jahitan

Pilih jenis dan ukuran benang yang sesuai untuk jaringan.

Lihat bagian yang sesuai untuk jenis dan ukuran benang yang
direkomendasikan untuk suatu prosedur.

Pembalut/penutup Luka Bedah

Apabila bedah selesai, luka bedah ditutup dengan kasa steril

PRINSIP PERAWATAN PASCAOPERATIF


Perawatan awal

Letakkan pasien dalam posisi untuk pemulihan:


- Tidur miring dengan kepala agak ekstensi untuk membebaskan jalan nafas;
- Letakkan lengan atas di muka tubuh agar mudah melakukan pemeriksaan
tekanan darah;
- Tungkai bawah agak tertekuk,bagian atas lebih tertekuk daripada bagian

bawah untuk menjaga keseimbangan.


Segera setelah selesai pembedahan periksa kondisi pasien:
- cek tanda vital dan suhu tubuh setiap 15 menit selama jam pertama,
-

kemudian tiap 30 menit pada jam selanjutnya;


periksa tingkat kesadaran setiap 15 menit sampai sadar.

Pembalutan dan Perawatan Luka


Penutup/pembalut luka berfungsi sebagai penghalang dan pelindung terhadap
infeksi selama proses penyembuhan yang dikenal dengan reepitelisasi.
Pertahankan penutup luka ini selama hari oertama setelah pembedahan untuk
mencegah infeksi selalma proses reepitelisasi berlangsung.

Jika pada pembalut luka terjadi perdarahan atau keluar cairan tidak
terlalu banyak, jangan mengganti pembalut:
- Perkuat pembalutnya;
- Pantau keluarnya cairan dan darah;
- Jika perdarahan tetap bertambah atau sudah membasahi setengah
atau lebih dari pembalutnya, buka pembalut, inspeksi luka, atasi

penyebabnya, dan ganti dengan pembalut baru.


Jika pembalut agak kendor, jangan ganti pembalut tetapi berikan plester

untuk mengencangkan.
Ganti pembalut dengan cara yang steril.

Luka harus dihjaga tetap kering dan bersih, tidak boleh terdapat bukti infeksi
atau seroma sampai ibu diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Analgesia

Pemberian analgesia sesudah bedah sangat penting.


Pemberian sedasi yang berlebihan akan menghambat mobilitas yang
diperlukan waktu pascabedah.

Antibiotika

Jika ada tanda infeksi atau pasien demam berikan antibiotika sampai bebas
demam selama 48 jam.

Ambulasi/mobilisasi

Ambulasi menyebabkan perbaikan sirkulasi, membuat nafas dalam, dan

menstimulasi kembali fungsi gastrointestinal normal.


Dorong untuk menggerakan kaki dan tungkai bawah sesegera mungkin,
biasanya dalam waktu 24 jam.

TERAPI ANTIBIOTIKA
Infeksi yang terjadi selama masa kehamilan dan postpartum dapat disebabkan
oleh kombinasi berbagai mikroorganisma, termasuk basillus dan kokkus jenis
aerob dan anaerob. Antibiotika haruslah dimulai berdasarkan pengamatan
terhadap ibu tersebut. Jika tidak ditemui adanya respons klinis, perlu dilakukan
kultur dari cairan vagina atau uterus, pus ataupun urin, sehingga dapat membantu
memilih jenis antibiotika lainnya. Sebagai tambahan, kultur darah dapat dilakukan
jika terdapat septikemia (invasi aliran darah).
Infeksi uterus dapat terjadi setelah suatu abortus atau persalinan dan merupakan
salah satu penyebab utama kematian ibu. Antibiotika spektrum luas kadang
dibutuhkan untuk mengobati infeksi ini. Pada kasus-kasus abortus tidak aman dan
persalinan yang tidak dilakukan pada fasilitas kesehatan, perlu diberikan
profilaksis antitetanus.

ANTIBIOTIKA PROFILAKSIS

Suatu tindakan obstetric 9 seperti sektio sesarca, atau pengeluaran plasenta secara
manual) dapat meningkatkan resiko seorang ibu terkena infeksi. Resiko ini dapat
diturunkan dengan:
Mengikuti petunjuk pencegahan infeksi yang dianjurkan;
Menyediakan antibiotika profilaksis pada saat tindakan;
Antibiotika profilaksis diberikan untuk membantu mencegah infeksi. Jika
seorang ibu dicurigai atau didiagnosis menderita suatu infeksi, pengobatan
dengan antibiotika merupakan jalan yang tepat.
Pemberian antibiotika profilaksis 30 menit sebelum memulai suatu tindakan, jika
memungkinkan akan membuat kadar antibiotika dalam darah yang cukup pada
saat dilakukan tindakan. Perkecualian untuk hal ini adalah operasi seksio sesaria,
di mana antibiotika profilaksis sebaiknya diberikan sewaktu tali pusat dijepit
setelah bayi dilahirkan. Satu kali dosis pemberian antibiotika profilaksis sudah
mencukupi dan tidak kurang efektif dibandingkan dengan tiga dosis atau
pemberian antibiotika selama 24 jam dalam mencegah infeksi. Jika tindakan
berlangsung lebih dari 6 jam, atau kehilangan darah mencapai 1500 ml atau
lebih, berikan dosis antibiotika profilaksis yang kedua untuk menjaga kadarnya
dalam darah selama tindakan berlangsung.

ANTIBIOTIKA TERAPETIK
Sebagai pertahanan pertama terhadap infeksi serius, berikan kombinasi
antibiotika:
- Ampisilin 2 g I.V. setiap jam;
- DITAMBAH gentamisin 5mg/kg berat badan I.V. setiap 24 jam;
- DITAMBAH metrodinazol 500 mg I.V. setiap 8 jam.
Catatan : Jika infeksi tidak seberapa parah, amoksilin 500 mg per oral setiap 8
jam dapat digunakan ebagai pengganti ampisilin, metronidazole dapat diberikan
per oral juga.
Jika respon klinis terlihat buruk setelah 48 jam, pastikan dosis antibiotika
yang cukup diberikan, evaluasi sumber-sumber infeksi lainnya secara

menyeluruh atau pikirkan untuk mengganti pilihan pengobatan berdasarkan


laporan sensitivitas mikroba (dan tambahkan obat lainnya untuk mengobati
bakteri anaerob, jika belum diberikan).
Jika fasilitas kultur tidak tersedia, periksa ulang sampel pus, khususnya dari
daerah pelvis dan untuk penyebab noninfeksi, seperti thrombosis vena dalam
dan vena pelvis. Pertimbangkan kemungkinan infeksi akibat organisme yang
resisten terhadap kombinasi obat di atas:
- Jika dicurigai adanya infeksi stafilokokkus tambahkan:
Kloksasilin 1 g I.V. setiap 4 jam;
ATAU vankomisin 1g I.V. setiap 12 jam melalui infus selama 1 jam;
- Jika dicurigai infeksi klostrifial atau streptokokus hemolitik group A,
tambahkan penisilin 2 juta unut I.V. setiap 4 jam;
- Jika bukan alah satu kemungkinan di atas, tambahkan seftriakson 2 g I.V.
setiap 24 jam.
Catatan : Untuk menghindari terjadinya flebitis, tempat infus sebaiknya diganti
setiap 3 hari atau jika terdapat peradangan.
Jika masih infeksi, evaluasi sumber infeksi.
Untuk pengobatan metritis, kombinasi antibiotika biasanya dilanjutkan sampai ibu
tersebut bebas demam selama 48 jam. Hentikan antibiotika sekali ibu tesebut
bebas demam selama 48 jam. Tidak perlu ditambahkan antibiotika oral, karena
belum terbukti adanya keuntungan tambahan. Ibu dengan infeksi pada aliran
darahnya akan membutuhkan antibiotika paling sedikit untuk 7 hari.

KEHAMILAN NORMAL
DIAGNOSIS
Kategori

Gambaran

Kehamilan normal

Ibu sehat.
Tidak ada riwayat obstetri buruk
Ukuran uterus sama/sesuai usia kehamilan
Pemeriksaan fisik dan laboratorium normal.

Kehamilan dengan masalah khusus

Seperti masalah keluarga atau psikososial,


kekerasan

Kehamilan dengan masalah kesehatan yang

dalam

rumah

kebutuhan finansial.
Seperti
hipertensi,

tangga

anemia

pertumbuhan

dan
berat,

membutuhkan rujukan untuk konsultasi dan

preeklampsia,

janin

atau kerja sama penanganannya

terhambat, infeksi saluran kemih, penyakit


kelamin dan kondisi lain-lain yang dapat

Kehamilan
kegawatdaruratan
rujukan segera

dengan
yang

kondisi
membutuhkan

memburuk selama kehamilan.


Seperti pendarahan, eclampsia, ketuban
pecah

dini,

atau

kondisi-kondisi

kegawatdaruratan lain pada ibu dan bayi.

PENANGANAN
KEHAMILAN NORMAL
Setiap wanita hamil menghadapi resiko komplikasi yang bisa mengancam
jiwanya.oleha karena itu, setiap wanita hamil memerlukan sedikitnya empat kali
kunjungan selama periode antenatal:

Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu);


Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14-28);
Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28-36 dan
sesudah minggu 36).

Pada setiap kali kunjungan antenatal tersebut, perlu didapatkan informasi yang
sangat penting. Tabel dibawah ini memberikan garis-garis besarnya.
Kunjungan

waktu

Informasi penting

Trimester pertama

Sebelum minggu ke 14

Membangun hubungan saling


percaya antara petugas
kesehatan dan ibu hamil.
Mendeteksi masalah dan
menanganinya.
Melakukan tindakan
pencegahan seperti tetanus
neonaktrum, anemia
kekurangan zat besi,
penggunaan praktek tradisional
yang merugikan.
Memulai persiapan kelahiran
bayi dan kesiapan untuk
menghadapi komplikasi.
Mendorong perilaku yang sehat
(gizi, latihan dan kebersihan,
istirahat dan sebagainya).

Trimester kedua

Sebelum minggu ke 28

Sama seperti diatas, ditambah


kewaspadaan khusus mengenai

preeklampsia (Tanya ibu


tentang gejala-gejala
preeklampsia, pantau tekanan
darah, evaluasi edema, periksa
untuk mengetahui proteinuria)
Trimester ketiga

Antara minggu ke 28 36

Sama seperti di atas, ditambah


palpasi abdominal untuk
mengetahui apakah ada
kehamilan ganda.

Trimester ketiga

Setelah 36 minggu

Sama seperti di atas, ditambah


deteksi letak bayi yang tidak
normal, atau kondisi lain yang
memerlukan kelahiran di
rumah sakit.

Ibu hamil tersebut harus lebih sering dikunjungi jika terdapat masalah, dan ia
hendaknya disarankan untuk menemui petugas kesehatan bilamana ia merasakan
tanda-tanda bahaya atau jika ia merasa khawatir.
Untuk mendapatkan semua informasi yang diperlukan, sehubungan dengan halhal di atas, petugas kesehatan akan memberikan asuhan antenatal yang baik
dengan langkah-langkah seperti berikut.

Sapa ibu (dan juga keluarganya) dan membuatnya merasa nyaman.


Mendapatkan riwayat kehamilan ibu dan mendengarkan dengan teliti apa

yang diceritakan oleh ibu.


Melakukan pemeriksaan fisik, seperlunya saja.
Melakukan pemeriksaan laboratorium.
Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk menilai
apakah kehamilannya normal:
- Tekanan darah di bawah 140/90,
- Edema hanya pada ekstremitas,
- Tinggi fundus dalam cm atau mengunakan jari-jari tangan sesuai dengan

usia kehamilan,
- Denyut jantung janin 120 sampai 160 denyut per menit,
- Gerakan janin terasa setelah 18-20 minggu hingga melahirkan.
Membantu ibu dan keluarganya untuk mempersiapkan kelahiran dan
kemungkinan keadaan darurat:

- Bekerjasama

dengan

ibu,

keluarganya,

serta

masyarakat

untuk

mempersiapkan rencana kelahiran, termasuk: mengidentifikasi penolong


dan tempat bersalin, serta perencanaan tabungan untuk mempersiapkan
biaya persalinan.
- Bekerjasama dengan

ibu,

keluarganya,

dan

masyarakat

untuk

mempersiapkan rencana jika terjadi komplikasi, termasuk:


Mengidentifikasi kemana harus pergi dan transportasi untuk

mencapai tempat tersebut,


Mempersiapkan donor darah,
Mengadakan persiapan finansial,
Mengidentifikasi pembuat keputusan kedua jika pembuat keputusan

pertama tidak ada di tempat.


Memberikan konseling:
- Gizi: peningkatan konsumsi makanan hingga 300 kalori per hari,
mengonsumsi makanan yang mengandung protein, zat besi, minum cukup
cairan (menu seimbang).
- Latihan: normal tidak berlebihan, istirahat jika lelah.
- Perubahan fisiologi: tambah berat badan, perubahan pada payudara,
tingkat tenaga yang bisa menurun, mual selama triwulan pertama, rasa
panas, dan atau varises, hubungan suami isteri boleh dilanjutkan selama
masa kehamilan (dianjurkan memakai kondom).
- Menasihati ibu untuk mencari pertolongan segera jika ia mendapati tandatanda bahaya berikut:
Perdarahan pervaginam,
Sakit kepala lebih dari biasa,
Gangguan penglihatan,
Pembengkakan pada wajah/tangan,
Nyeri abdomen (epigastrik),
Janin tidak bergerak sebanyak biasanya.
- Merencanakan dan mempersiapkan kelahiran yang bersih dan aman di
rumah:
Sabun dan air,
Handuk dan selimut bersih untuk bayi,
Makanan dan minuman untuk ibu selama persalinan,
Mendiskusikan praktek-praktek tradisional, posisi melahirkan,
Mengidentifikasi siapa yang dapat membantu bidan selama
persalinan.
- Menjaga kebersihan diri terutama lipatan kulit (ketiak, bawah buah dada,
daerah genitalia) dengan cara dibersihkan dan dikeringkan.

- Menjelaskan cara merawat payudara terutama pada ibu yang mempunyai


puting susu rata atau masuk ke dalam. Dilakukan 2 kali sehari selama 5

menit.
Memberikan zat besi 90 hari mulai minggu ke 20.
Memberikan imunisasi TT 0,5 cc, jika sebelumnya telah mendapatkan.
Menjadwalkan kunjungan berikutnya.
Mendokumenkan kunjungan tersebut.

Kehamilan Normal dengan Kebutuhan Khusus

Memberikan seluruh asuhan antenatal seperti di atas.


Memberikan konseling khusus untuk kebutuhan ibu sesuai dengan

masalahnya.
Kehamilan dengan masalah kesehatan/komplikasi yang membutuhkan

rujukan untuk konsultasi atau kerja sama penanganan.


Merujuk ke dokter untuk konsultasi.
- Menolong ibu menentukan pilihan yang tepat untuk konsultasi (dokter

puskesmas,dokter obgin dan sebagainya).


Melampirkan fotokopi kartu kesehatan ibu hamil berikut surat rujukan.
Meminta ibu untuk kembali setalah konsultasi dan membawa hasil rujukan.
Meneruskan pemantauan kondisi ibu dan bayi selama kehamilan.
Memberikan asuhan antenatal.
Perencanaan dini jika melahirkan di rumah tidak aman bagi ibu:
- Menyepakati di antara pengambul keputusan dalam keluarga tentang
rencana kelahiran (terutama suami dan ibu atau ibu mertua).
- Persiapan/pengaturan transportasi untuk ke tempat persalinan dengan
aman, terutama pada malam hari atau selama musim hujan.
- Rencana pendanaan untuk transportasi dan perawatan di tempat persalinan
yang aman.
- Persiapan asuhan bayi jika dibutuhkan selama persalinan.

PERSALINAN NORMAL

DIAGNOSIS
Diagnosis persalinan meliputi hal-hal sebagai berikut

Diagnosis dan konfirmasi saat persalinan


Diagnosis tahap dan fase dalam persalinan
Penilaian masuk dan turunnya kepala di rongga panggul
Identifikasi presentasi dan posisi janin

Diagnosis dan konfirmasi saat persalinan


Curigai atau antisipasi adanya persalinan jika wanita tersebut menunjukkan
atau gejala sebagai berikut :
- Nyeri abdomen yang bersifat intermiten setelah kehamilan 22 minggu
- Nyeri disertai lendir darah
- Adanya pengeluaran air dari vagina atau keluarnya air-air secara tiba-tiba.
Pastikan keadaan inpartu jika :
- Serviks terasa melunak adanya pemendekan dan pendataran serviks
-

secara progresif selama persalinan


Dilatasi serviks peningkatan diameter pembukaan serviks yang diukur
dalam sentimeter.

Diagnosis Kala dan Fase Persalinan


Gejala dan tanda

Kala

Fase

Serviks belum berdilatasi

Persalinan
palsu/belum inpartu

Serviks berdilatasi kurang dari 4 cm

Laten

Serviks berdilatasi 4-9 cm

Aktif

Kecepatan pembukaan 1 cm atau lebih


per jam
Penurunan kepala dimulai
Serviks membuka lengkap (10 cm)
II
Penurunan kepala berlanjut
Belum ada keinginan untuk meneran
Serviks membuka lengkap (10cm)
Bagian terbawah telah mencapai dasar
panggul
Ibu meneran
KALA I
Diagnosis

II

Awal
(nonekspulsi)
Akhir
(ekspulsif)

Ibu sudah dalam persalinan kala I jika pembukaan serviks kurang dari 4 cm dan
kontraksi terjadi teratur minimal 2 kali dalam 10 menit selama 40 detik.
Penanganan
Bantulah ibu dalam persalinan jika ia tampak gelisah, ketakutan, dan kesakitan:
- Berilah dukungan dan yakinkan dirinya
- Berikan informasi mengenai proses dan kemajuan persalinannya
- Dengrkan keluhan dan cobalah untuk lebih sensitif terhadap perasaannya.
Jika ibu tersebut tampak kesakitan, dukungan/asuhan yang dapat diberikan :
- Lakukan perubahan posisi
- Posisi sesuai dengan keinginan ibu, tetapi jika ibu ingin di tempat tidur
-

sebaiknya dianjurkan tidur miring ke kiri


Ajaklah orang yang menemaninya untuk memijat atau menggosok

punggungnya atau membasuh mukanya di antara kontraksi


Ibu diperbolehkan melakukan aktifitas sesuai dengan kesanggupan
Ajarkan kepadanya teknik bernapas : ibu diminta untuk menarik napas
panjang, menahan napasnya sebentar kemudian dilepaskan dengan cara

meniup udara ke luar sewaktu terasa kontraksi.


Penolong tetap menjaga hak privasi ibu dalam persalinan, antara lain
menggunakan penutup atau tirai, tidak menghadirkan orang lain tanpa
sepengetahuan dan seizin pasien.
Menjelaskan kemajuan persalinan dan perubahan yang terjadi serta prosedur
akan dilaksanakan dan hasil-hasil pemeriksaan.
Membolehkan ibu untuk membasuh sekitar kemaluannya setelah buang air
kecil
Untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah dehidrasi, berikan cukup
minum.
Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin.
Pemeriksaan dalam
Pemeriksaan dalam sebaiknya dilakukan setiap 4 jam selama kala I pada
persalinan, dan setelah selaput ketuban pecah. Gambaran temuan-temuan yang
ada pada partogram.
Pada setiap pemeriksaan dalam, catatlah hal-hal sebagai berikut :
- Warna cairan amnion,
- Dilatasi serviks
- Penurunan kepala

Jika serviks belum membuka pada pemeriksaan dalam pertama, mungkin


diagnosis in partu belum dapat ditegakkan.
- Jika terdapat kontraksi yang menetap, periksa ulang wanita tersebut setelah
4 jam untuk melihat perubahan pada serviks. Pada tahap ini, jika serviks
terasa tipis dan terbuka maka wanita tersebut dalam keadaan in partu, jika
tidak terdapat perubahan, maka diagnosisnya adalah persalinan palsu.
Pada kala II persalinan lakukan pemeriksaan dalam setiap jam
PARTOGRAF
Partograf dipakai untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu petugas
kesehatan dalam mengambil keputusan dalam penatalaksanaan. Partograf dimulai
pada pembukaan 4 cm (fase aktif). Partograf sebaiknya dibuat untuk setiap ibu
yang bersalin, tanpa menghiraukan apakah persalinan tersebut normal atau dengan
komplikasi.
Petugas harus mencatat kondisi ibu dan janin sebagai berikut :
Denyut jantung janin. Catat setiap 1 jam
Air ketuban. Catat warna air ketuban setiap melakukan pemeriksaan vagina :
- U : selaput utuh
- J : selaput pecah
- M : air ketuban bercampur mekonium
- D : air ketuban bernoda darah
- K : tidak ada cairan ketuban/kering
Perubahan bentuk kepala janin
- 0 : sutura terpisah
- 1 : sutura yang tepat/bersesuaian
- 2 : sutura tumpang tindih tetapi dapat diperbaiki
- 3 : sutura tumpang tindih dan tidak dapat diperbaiki
Pembukaan mulut rahim (serviks). Dinilai setiap 4 jam dan diberi tanda silang
(x)
Penurunan : mengacu pada bagian kepala (dibagi 5 bagian) yang teraba di atas
sympisis pubis; catat dengan tanda lingkaran (O) pada setiap pemeriksaan
dalam. Pada posisi 0/5, sinsiput (S) atau paruh atas kepala berada di sympisis
pubis.
Waktu : menyatakan berapa jam waktu yang telah dijalani sesudah pasien
diterima
Jam : catat jam sesungguhnya

Kontrkasi : catat setiap setengah jam; lakukan palpasi untuk menghitung


banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan lamanya tiap-tiap kontraksi dalam
hitungan detik.
Oksitosin : jika memakai oksitosin, catatlah banyaknya oksitosin per volume

cairan infus dan dalam tetesan per menit.


Obat yang diberikan : catat semua obat yang diberikan
Nadi : catatlah setiap 30-60 menit dan tandai dengan titik besar ()
Tekanan darah : catatlah setiap 4 jam dan tandai dengan anak panah.
Suhu tubuh : catatlah tiap 2 jam
Protein, aseton, dan volume urine : catatlah setiap ibu berkemih

Jika temuan-temuan melintas ke arah kanan dr garis waspada, petugas kesehatan


harus melakukan penilaian terhadap kondisi ibu dan janin dan segera mencari
rujukan yang tepat.
Kemajuan persalinan dalam kala I
Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang cukup baik di persalinan kala I:
- Kontraksi teratur yang progresif dengan peningkatan frekuensi dan durasi
- Kecepatan pembukaan serviks paling sedikit 1 cm per jam selama
persalinan fase aktif.
- Serviks tampak dipenuhi oleh bagian terbawah janin
Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang kurang baik di persalinan kala I:
- Kontaksi yang tidak teratur dan tidak sering setelah fase laten
- Atau kecepatan pembukaan serviks lebih lambat dari 1 cm per jam selama
-

persainan fase aktif


Atau serviks tidak dipenuhi oleh bagian bawah janin.

Kemajuan pada kondisi Janin


Jika didapati denyut jantung janin tidak normal, curigai adanya gawat janin
Posisi atau presentasi selain oksiput anterior dengan verteks versi sempurna
digolongkan dengan malposisi dan malpresentasi
Jika didapat kemajuan yang kurang baik atau adanya persalinan lama, tangani
penyebab tersebut
Kemajuan pada kondisi ibu
Lakukan penilaian tanda-tanda kegawatan pada ibu :

Jika denyut nasdi ibu meningkat, mungkin ia sedang dalam keadaan dehidrasi
atau kesakitan. Pastikan hidrasi yang cukup melalui oral atau i.v. dan berikan
analgesik secukupnya.
Jika tekanan darah ibu menurun, curigai adanya perdarahan
Jika terjadi aseton didalam urin ibu, curigai masukan nutrisi yang kurang,
segera berikan dekstrose i.v.

Rujukan
Pada kegawatdaruratan dan penyulit yang melebihi tingkat keterampilan dan
kemampuan petugas dalam mengelola, maka kasus harus dirujuk ke fasilitas
kesehatan yang lebih besar dan fasilitas yang lebih lengkap. Bantuan awal untuk
menstabilkan kondisi ibu harus diberikan sesuai dengan kebutuhan.partograf atau
rekam medis harus dikirim bersama ibu, dan anggota keluarga dianjurkan untuk
menemai. Petugas harus membawa obat-obatan yang diperlukan.
KALA II
Persalinan kala II ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan dalam untuk
memastikan pembukaan sudah lengkap atau kepala janin sudah tampak di vulva
dengan diameter 5-6 cm.
Penanganan
Memberikan dukungan terus menerus kepada ibu dengan :
- Mendampingi ibu agar merasa nyaman
- Menawarkan minum, mengipasi, dan memijat ibu
Menjaga kebersihan diri:
- Ibu tetap dijaga kebersihannya agar terhindar dari infeksi
- Jika ada darah lendir atau cairan ketuban segera dibersihkan
Mengipasi dan memasase untuk menambah kenyamanan bagi ibu
Memberikan dukuang mental untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu,
dengan cara :
- Menjaga privasi ibu
- Penjelasan tentang proses dan kemajuan persalinan
- Penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan dan keterlibatan ibu
Mengatur posisi ibu. Dalam membimbing mengedan dapat dipilih posisi
berikut :

- Jongkok
- Menungging
- Tidur miring
- Setengah duduk
Menjaga kandung kemih tetap kosong, ibu dianjurkan berkemih sesering
mungkin
Memberikan cukup minum : memberi tenaga dan mencegah dehidrasi
Posisi Ibu Saat Meneran
Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman baginya. Setiap posisi
memiliki keuntungannya masing-masing, misalnya, posisi setengah duduk
dapat membantu turunnya kepala janin jika persalinan berjalan lambat.
Ibu dibimbing mengedan selama his, anjurkan kepada ibu untuk mengambil
napas. Mengedan tanpa diselingi bernapas, kemungkinan dapat menurunkan
pH pada arteri umbilikus yang dapat menyebabkan denyut jantung tidak
normal dan nilai apgar rendah. Minta ibu bernapas selagi kontraksi ketika
kepala akan lahir. Hal ini menjaga agar perineun meregang pelan dan
mengontrol lahirnya kepala serta mencegah robekan.
Periksa DJJ pada saat kontraksi dan setelah setiap kontraksi untuk memastikan
jantung tiidak mengalami bradikardi.
Kemajuan persalinan dalam kala II
Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang cukup baik pada persalinan kala
dua :
- Penurunan yang teratur dari janin di jalan lahir
- Dimulainya fase pengeluaran
Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang kurang baik pada persalinan
tahap kedua :
- Tidak turunnya janin di jalan lahir
- Gagalnya pengeluaran pada fase aktif
Kelahiran Kepala Bayi
Mintalah ibu mengedan atau memberikan sedikit dorongan saat kepala bayi
lahir.
Letakkan satu tangan ke kepala bayi agar defleksi tidak terlalu cepat.
Menahan perineum dengan satu tangan lainnya jika diperlukan.
Mengusap muka bayi untuk membersihkannya dari kotoran lendir/darah.

Periksa tali pusat :


- Jika tali pusat mengelilingi leher bayi dan terlihat longgar, selipkan tali
pusat digunting di antara kedua klem tersebut, sambil melindungi leher
-

bayi.
Jika lilitan tali pusat terlalu ketat, tali pusat diklem pada dua tempat
kemudian digunting di antara kedua klem tersebut, sambil melindungi leher
bayi.

Kelahiran bahu dan Anggota Seluruhnya

Biarkan kepala bayi berputar dengan sendirinya


Tempatkan kedua tangan pada sisi kepala dan leher bayi
Lakukan tarikan lembut ke bawah untuk melahirkan bahu depan
Lakukan tarikan lembut ke atas untuk melahirkan bahu belakang
Selipkan satu tangan anda ke bahu dan lengan bagian belakang bayi sambil
menyangga kepala dan selipkan satu tangan lainnya ke punggung bayi untuk

mengeluarkan tubuh bayi seluruhnya


Letakkan bayi tersebut di atas perut ibunya
Secara menyeluruh, keringkan bayi, bersihkan matanya, dan nilai pernapasan
bayi
Klem dan potong tali pusat
Pastikan bahwa bayi tetap hangat dan memiliki kontak kulit dengan kulit
dengan dada si ibu. Bungkus bayi dengan kain yang halus dan kering, tutup
dengan selimut, dan pastikan kepala bayi terlindung dengan baik untuk
menghindari hilangnya panas tubuh.
KALA III
Manajemen Aktif Kala III
Penatalaksaan aktif pada kala III membantu menghindarkan terjadinya perdarahan
pascapersalinan. Penatalaksanaan aktif kala III meliputi :
Pemberian oksitosin dengan segera
Pengendalian tarikan pada tali pusat, dan
Pemijatan uterus segera setelah plasenta lahir.
Penanganan

Memberikan oksitosin untuk merangsang uterus berkontraksi yang juga


mempercepat pelepasan plasenta :
- Oksitosin dapat diberikan dalam 2 menit setelah kelahiran
- Jika oksitosin tidak tersedia, rangsang puting payudara ibu atau susukan
bayi demi mendapatkan oksitosin alamiah atau memberikan ergometrin 0,2
mg I.M.
Lakukan penegangan tali pusat terkendali atau PTT dengan cara :
- Satu tangan diletakkan pada korpus uteri tepat diatas sympisis pubis.
Selama kontaksi tangan mendorong korpus uteri dengan gerakan dorso
-

kranial, ke arah belakang dan arah kepala ibu.


Yangan yang satu memegang tali pusat dengan klem 5-6 cm di depan vulva
Jaga tahanan ringan pada tali pusat dan tunggu adanya kontraksi kuat (2-3

menit).
Selama kontraski lakukan PTT dengan terus menerus, dalam tegangan yang

sama dengan tangan di uterus.


PTT dilakukan hanya selama uterus berkontraksi. Tangan pada uterus
merasakan kontraksi, ibu dapat juga memberi tahu petugas ketika ia merasakan
kontraksi. Ketika perut sedang tidak kontraksi, tangan petugas dapat tetap
berada pada uterus, tetapi bukan melakukan PTT. Ulangi langkah-langkah PTT
pada setiap kontraksi sampai plasenta terlepas.
Begitu plasenta terasa lepas, keluarkan dengan menggerakkan tangan atau klem
pada tali pusat mendekati plasenta, keluarkan plasenta dengan gerakan ke
bawah dan ke atas sesuai dengan jalan lahir. Kedua tangan dapat memegang
plasenta dan perlahan memutar plasenta searah jarum jam untuk mengeluarkan
selaput ketuban.
Segera setelah plasenta dan selaputnya dikeluarkan, masase fundus agar
menimbulkan kontraksi. Hal ini dapat mengurangi pengeluaran darah dan
mencegah perdarahan pasca persalinan. Jika uterus tidak berkontraksi kuat
selama 10-15 detik, atau jika perdarahan hebat terjadi, segera lakukan kompresi
bimanual interna. Jika atonia uteri tidak teratasi dalam waktu 1-2 menit, ikuti
protokol untuk perdarahan pascapersalinan.
Jika menggunakan manajamen aktif dan plasenta belum juga lahir dalam waktu
15 menit, berikan oksitosin 10 unit I.M. dosis kedua, dalam jarak waktu 15
menit dari pemberian oksitosin dosis pertama
Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum juga lahir dalam waktu
30 menit :

Periksa kandung kemih dan lakukan kateterisasi jika kandung kemih penuh
Periksa adanya tanda-tanda pelepasan placenta
Berikan oksitosi 10 IU I.M. dosis ketiga, dalam jarak waktu 15 menit dari

pemberian oksitosin dosis pertama


- Siapkan rujukan jika tidak ada tanda-tanda pelepasan plasenta
Periksa wanita tersebut secara seksama dan jahit semua robekan pada serviks
atau vagina atau perbaiki episiotomi
Kebiasaan yang lazim dilakukan tetapi tidak membawa manfaat atau
bahkan membahayakan
Tindakan
Mendorong
utarus
plasenta lahir

Deskripi dan keterangan


sebelum Dapat menyebabkan pelepasan plasenta tidak
lengkap dan mengakibatkan perdarahan
pascapersalinan

Mendorong fundus ke bawah Mengakibatkan inversio uterus


mengarah ke vagina
Ketetrisasi

Menambah resiko infeksi persalinan saluran


kemih

Tarikan tali pusat terlalu kuat

Menyebabkan tali pusat putus

Membiarkan plasenta untuk tetap Menyebabkan bertambahnya pengeluaran


berada di uterus
darah karena uterus tidak sepenuhnya
berkontraksi sempat plasenta lahir.

KALA IV
Diagnosis
Dua jam pertama setelah persalinan merupakan waktu yang kritis bagi ibu dan
bayi. Keduanya baru saja mengalami perubahan fisik yang luar biasa, si ibu
melahirkan bayi dari perutnya dan bayi sedang menyesuaikan diri dari dalam
perut ibu ke dunia luar. Petugas atau bidan harus tinggal bersama ibu dan bayi
untuk memastikan bahwa keduanya dalam kondisi yang stabil dan mengambil
tindakan yang tepat untuk melakukan stabilisasi.

Penanganan
Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 20-30 menit
selama jam kedua. Jika kontraksi tidak kuat masase uterus sampai
menjadikeras. Apabila uterus berkontraksi, otot uterus akan menjepit pembuluh
darah untuk menghentikan perdarahan. Hal ini dapat mengurangi kehilangan
darah dan mencegah perdarahan pasca persalinan.
Periksa tekanan darah, nadi, kantung kemih, dan perdarahan setiap 15 menit
pada jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua.
Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah dehidrasi. Tawarkan ibu makanan
dan minuman yang disukainya,
Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian ibu yang bersih dan kering.
Biarkan ibu beristirahat ia telah bekerja keras melahirkan bayinya. Bantu ibu
pada posisi yang nyaman.
Biarkan bayi berada pada ibu untuk meningkatkan hubungan ibu dan bayi,
sebagai permulaan dengan menyusui bayinya.
Bayi sangat siap segera setelah kelahiran. Hal ini sangat tepat untuk memulai
memberikan asi. Menyusui juga membantu uterus berkontraksi.
Jika ibu perlu ke kamar mandi, ibu boleh bangun, pastikan ibu dibantu karena
masih dalam keadaan lemah atau pusing setelah persalinan. Pastikan ibu sudah
buang air kecil dalam 3 jam pasca persalinan.
Ajari ibu atau anggota keluarga tentang :
- Bagaimana memeriksa fundus dan menimbulkan kontrkasi.
- Tanda-tanda bahaya bagi ibu dan bayi.
Tindakan yang tidak bermanfaat bahkan membahayakan
Tindakan

Deskripsi dan ketengan

Tampon vagina

Tampon vagina menyerap darah tetapi tidak


menghentikan perdarahannya. Seorang ibu dapat
mengalami perdarahn dengan tampon di dalam
vagina. Hal ini bahkan merupakan sumber
terjadinya infeksi.

Gurita atau sejenisnya

Selama 2 jam pertama segera setelah pasca


persalinan adanya gurita akan menyulitkan
petugas pada saat memeriksa fundus apakah
berkontraksi dengan baik.

Memisahkan ibu dan bayi

Bayi benar-benar siaga selam 2 jam pertama


setelah kelahiran. Hal ini merupakan waktu yang

baik bagi ibu dan bayi saling berhubungan.


Berikan kesempatan bagi keduanya untuk
pemberian asi
Menduduki
panas

sesuatu

yang Duduk diatas bara yang panas dapat menyebabkan


vasodilatasi, menurunkan tekanan darah ibu dan
menambah perdarahan. Juga dapat menyebabkan
dehidrasi.

MASA NIFAS NORMAL


Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alatalat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung
selama kira-kira 6 minggu.
PROGRAM DAN KEBIJAKAN TEKNIS
Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai keadaan ibu
dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalahmasalah yang terjadi.
Tabel : Frekuensi kunjungan masa nifas
Kunjungan
1

Waktu
6-8

jam

persalinan

setelah

Tujuan
Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia

uteri

Mendeteksi

dan

merawat

penyebab

lain

perdarahan; rujuk jika perdarahan berlanjut.


Memberikan konseling pada ibu atau salah satu

anggota

keluarga

bagaimana

mencegah

perdarahan masa nifas karena atonia uteri.


Pemberian ASI awal.
Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru

lahir.
Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah

hipotermia.
Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia

harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk


2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu
dan bayi dalam keadaan stabil.
2

hari

setelah

persalinan

Memastikan involusi uterus berjalan normal;

uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus,


tidaka da perdarahan abnormal, tidak ada bau.
Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau

perdarahan abnormal.
Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan

dan istirahat.
Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak

memperlihatkan adanya penyulit.


Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan

pada bayi, tali pusat, dan menjaga bayi tetap


hangat dan merawat bayi sehari-hari.
3

2 minggu setelah

Sama seperti diatas (6 hari setelah persalinan)

persalinan
4

6 minggu setelah
persalinan

Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit

yang ia atau bayi alami.

Memberikan konseling untuk KB secara dini.

DIAGNOSIS
Masa nifas normal jika involusi uterus, pengeluaran lokhia, pengeluaran ASI dan
perubahan sistem tubuh, termasuk keadaan psikologis normal.
Keadaan gawat darurat pada ibu seperti perdarahan, kejang dan panas.
Adanya penyulit/masalah ibu yang memerlukan rujukan seperti abses payudara.
PENANGANAN
Kebersihan Diri

Anjurkan kebersihan seluruh tubuh


Menganjurkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan

sabun dan air.


Sarankan ibu untuk mengganti pembalut setidaknya dua kali sehari.
Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan

sesudah membersihkan daerah kelaminnya.


Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu
untuk menghindari menyentuh daerah luka.

Istirahat

Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang

berlebihan.
Sarankan ia untuk kembali ke kegiatan rumah tangga secara perlahan, serta

untuk tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur.


Kurang itirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal:
mengurangi ASI yang diproduksi,
memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan,
menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan
dirinya sendiri.
Latihan

Diskusikan pentingnya otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu


akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan perutnya menjadi kuat

sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung.


Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat
membantu, seperti:
Dengan tidur telentang dengan lengan disamping, menarik otot perut
selagi menarik napas, tahan napas ke dalam dan angkat dagu ke dada:
tahan satu hitungan ampai 5. Rileks dan ulamgi sebanyak 10 kali;
Untuk memperkuat tonus otot jalan lahir dan dasar panggul (latihan

Kegel).
Berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan otot-otot, pantat dan
pinggul dan tahan sampai 5 hitungan. Kendurkan dan ulangi latihan
sebanyak 5 kali.

Gizi
Ibu menyusui harus:

Mengonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari.


Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral, dan

vitamin yang cukup.


Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap

kali menyusui)
Pil zat bei harus diminum untuk menambah zat gizi aetisaknya selama 40
hari pasca bersalin.

Menyusui
ASI mengandung semua bahan yang diperlukan bayi, mudah dicerna, memberi
lindungan terhdap infeksi, selalu segar, bersih dan siap untuk diminum.
Tanda ASI cukup

Bayi kencing setidaknya 6 kali dalam 24 jam dan wrnanya jernih sampai

kuning muda.
Bayi sering buang air besar berwarna kekuningan berbiji.

Bayi tampak puas, sewaktu-waktu merasa lapar, bangun dan tidur cukup.

Bayi yang selalu tidur bukan pertanda baik.


Bayi setidaknya menyusu10-12 kali dalam 24 jam.
Payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali selesai menyusui.
Ibu dapat merasakan rasa geli karena aliran ASI, setiap kali bayi mulai

menyusu.
Bayi bertambah berat badannya.

ASI tidak cukup


Bayi harus diberi ASI setiap kali ia merasa lapar (atau setidaknya 10-12 kali
dalam 24 jam) dalam 2 minggu pascapersalinan. Jika bayi dibiarkan tidur lebih
dari 3-4 jam atau bayi diberi jenis makanan lain, atau payudara tidak dikosongkan
dengan baik tiap kali menyusui, maka pesan hormonal yang diterima otak ibu
adalah untuk menghasilkam susu lebih sedikit.
Meningkatkan suplai ASI
Untuk bayi

Menyusui bayi setiap 2 jam, siang dan malam hari dengan lama menyusui

10-15 menit di setiap payudara.


Bangunkan bayi, lepaskan baju yang menyebabkan rasa gerah dan

duduklah selama menyusui.


Pastikan bayi menyusu dengan posisi menempel yang baik dan dengarkan

suara menelan yang aktif.


Susui bayi di tempat yang tenang dan nyaman dan minumlah setiap kali

menyusi.
Tidurlah bersebelahan dengan bayi.

Untuk ibu

Ibu harus meningkatkan istirahat dan minum


Petugas kesehatan harus mengamati ibu yang menyusui bayinya dan

mengoreksi setiap kali terdapat masalah pada posisi penempelan.


Yakinkan bahwa ia dapat memproduksi susu lebih banyak dengan
melakukan hal-hal tersebut di atas.

Perawatan payudara

Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama puting susu.


Menggunakan BH yang menyokong payudara.
Apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada
sekitar puting susu setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap dilakukam

dimulai dari puting susu yang tidak lecet.


Apabila lecet sangan berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI

dikeluarkan dan diminumkann dengan menggunakan sendok.


Untuk menghilangkan nyeri ibu dapat minum parasetaml 1 tablet setiap 4-

6 jam.
Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI, lakukan :
Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan

hangat selama 5 menit.


Urut payudara dari arah pangkal menuju puting atau gunakan sisir

untuk mrngurut payudara dengan arah Z menuju puting.


Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga

puting susu menjadi keluarkan dengan tangan.


Susukan bayi setiap 2-3 jam. Apabila tidak dapat mengisap seluruh

ASI sisanya keluarkan dengan tangan.


Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.

ASUHAN BAYI BARU LAHIR NORMAL

ASUHAN SEGERA BAYI BARU LAHIR


Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada bayi
tersebut selama jam pertama setelah kelahiran. Sebagian besar bayi yang baru
lahir akan menunjukkan usaha pernapasan spontan dengan sedikit bantuan atau
gangguan. Aspek-aspek penting dari asuhan segera bayi yang baru lahir:
jagalah bayi agar tetap kering dan hangat
usahakan adanya kontak antara kulit bayi dengan kulit ibunya sesegera
mungkin
Segera setelah melahirkan badan bayi;

sambil secara cepat menilai pernafasannya, letakkan bayi dengan handuk

di atas perut ibu.


Dengan kain bersih dan kering atau kasa lap darah atau kendir dari wajah
bayi untuk menvegah jalan udaranya terhalang. Periksa ulang pernapasan
bayi.

Catatan : Sebagian besar bayi akan menangis atau bernapas secara spontan
dalam waktu 30 deyik setelah lahir.
Bila bayi tersebut menangis atau bernapas (terlihat dari pergerakan
dada paling sedikit 30x/menit), biarkan bayi tersebut dengan ibunya;

Bila bayi tersebut tidak bernapas dalam kurun waktu 30 detik,


SEGERALAH CARI BANTUAN, dan mulailah langkah-langkah
resusitasi bayi tersebut.
Persiapkan kebutuhan resusitasi untuk setiap bayi dan siapkan rencana untuk
meminta bantuan, khususnya bila ibu tersebut memiliki riwyat eklampsia,
perdarahan, persalinan lama atau macet, persalinan dini atau infeksi.
Klem dan Potong Tali Pusat

Klemlah tali pusat dengan dua buah klem, pada titik kira-kira 2-3 cm dari
pangkal pusat bayi (tinggalkan kira-kira 1 cm diantara klem-klem

tersebut0
Potonglah tali pusat di antara kedua klem sambil melindungi bayi dari

guntung dengsn tangan kiri.


Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat. Ganti sarung
tangan Anda bila ternyata sudah kotor. Potonglah tali pusatnya dengan

gunting yang steril atau disinfeksi tingkat tinggi (DTT)


Periksa tali pusat setiap 15 menit. Apabila masih terjadi pertdarahan,
lakukam pengikatan ulang yang lebih ketat.

Jangan mengoleskan salep apapun, atau zat lain ke tampuk tali pusat. Hindari
pembungkusan tali pusat. Tampuk tali pusat yang tidak tertutup akan mengering
dan puput lebih cepat dengan komplikasi yang lebih sedikit.
Jagalah Bayi Agar Tetap Hangat

Pastikan bayi tersebut tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit bayi

dengan kulit ibu.


Gantilah handuk/kain yang basah, dan bungkus bayi tersebut dengan
selimut dan jangan lupa memastikkan bahwa kepala bayi telah terlindung

dengan baik untuk mencegah keluarnya panas tubuh.


Pastikan bayi tetap hangat dengan memeriksa telapak bayi setiap 15 menit.
Apabila telapak bayi terasa dingin, periksa;ah suhu aksila bayi,
Apabila suhu bayi kurang dari suhu 36,5C, segera hangatkan bayi
tersebut.

Kontak Dini dengan Ibu

Berikan bayi pada ibunya secepat mungkin. Kontak dini antara ibu dan
bayi penting untuk;
Kehangatan mempertahankan panas yang benar pada bayi baru

lahir
Ikatan batin dan pemberian ASI
Doronglah ibu untuk menyusui bayinya apabila bayi telah siap (dengan
menunjukkan refleks rooting). Jangan paksakan bayi untuk menyusu;
Bila memungkinkan, jangan pisahkan ibu dengan bayi, dan biarkan bayi
bersama ibunya paling sedikit satu jam setelah persalinan.

Pernapasan
Sebagian besar bayi akan bernapas secara spontan. Pernapasan bayi sebaiknya
diperiksa secara teratur untuk mengetahui adanya masalah.

Periksa pernapasan dan warna kulit bayi setiap 5 menit.


Jika bayi tidak segera bernapas, lakukan hal-hal berikut:
Keringkan bayi dengan selimut atau handuk yang hangat
Gosoklah punggung bayi dengan lembut
Jika bayi masih belum mulai bernapas setelah 60 detik mulai resusitasi
Apabila bayi sianosis (kulit biru) atau sukar bernapas (frekuensi
pernapasan kurangf dari 30 atau lebih dari 60 kali/menit), berilah oksigen
kepada bayi dengan kateter nasal atau nasal prongs.

ASUHAN BAYI BARU LAHIR


Dalam waktu 24 jam bila bayi tidak mengalami masalah apapun, berikanlah
asuhan berikut:
Lanjutkan Pengamatan Pernapasan, Warna, dan Aktivitasnya
Pertahankan Suhu Tubuh Bayi

Hindari memandikan bayi hingga sedikitnya 6 jam dan hanya setelah itu

jika tidak terdapat masalah medis dan jika suhunya 36,5Catau lebih
Bungkus bayi dengan kain yang kering dan hangat, kepala bayi harus
tertutup.

Pemeriksaan Fisik Bayi


Lakukan pemeriksaan fisik yang lengkap. Ketika memeriksa bayi baru lahir ingat
butir-butir penting berikut:

Gunakan tempat yang hangat dan bersih untuk pemeriksaan.


Cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan, gunakan sarung tangan

dan bertindak lembut pada saat menangani bayi.


Lihat, dengarkan, dan rasakan tiap-tiap daerah, dimulai dari kepala dan

berlanjut secara sistematik menuju jari kaki.


Jika ditemukan faktor-faktor risiko atau masalah, carilah bantuan lebih

lanjut yang memang diperlukan.


Rekam hasil pengamatan.

Berikan Vitamin K
Untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi vitamin K pada bayi
baru lahir, lakukan hal-hal berikut:

semua bayi baru lahir normal dan cukup bulan perlu diberi vitamin K

peroral 1mg/hari selama tiga hari,


bayi risiko tinggi diberi vitamin K parenteral dengan dosis 0.5 1mg I.M

Identifikasi Bayi
Alat pengenal untuk memudahkan identifikasi bayi perlu dipasang segera
pascapersalinan. Alat pengenal yang efektif harus diberikan kepada setiap bayi
baru lahir dan harus tetap di tempatnya sampai waktu bayi dipulangkan.

Alat yang digunakan, hendaknya kebal air, dengan tepi yang halus tidak
mudah melukai, tidak mudah sobek, tidak mudah lepas.
Pada atlat/gelang identifikasi harus tercantum:
nama (bayi/ibunya),
tanggal lahir,
nomor bayi,
jenis kelamin,
unit.

Di setiap tempat tidur harus diberi tanda dengan mencantumkan nama,

tanggal lahir, dan nomor identifikasi.


Sidik telapak kaki bayi dan sidik jari ibu harus dicetak di catatan yang
tidak mudah hilang. Ukurlah berat lahir, panjang bayi, lingkar kepala,
lingkar perut dan catat dalam rekam medis.

Tanda-tanda Bahaya Yang Harus Diwaspadai pada Bayi Baru Lahir

Pernapasan sulit atau lebih dari 60 kali per menit


Kehangatan terlalu panas (> 38C atau terlalu dingin < 36C
Warna kuning (terutama pada 24 jam pertama), biru atau pucat, memar
Pemberian makan hisapan lemah, mengantuk berlebihan, banyak muntah
Tali pusat merah, bengkak, keluar cairan, bau busuk, berdarah
Infeksi suhu meningkat, merah, bengkak, keluar cairan (nanah), bau

busuk, pernapasan sulit


Tinja/kemih tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek, sering, hijau

tua, ada lendir atau darah pada tinja


Aktivitas menggigil, atau tangis tidak biasa, sangat mudah tersinggung,
lemas, terlalu mengantuk, lunglai, kejang, kejang halus, tidak bisa tenang,
menangis terus-menerus.

Carilah pertolongan medis segera jika timbul hal di atas.

SYOK

Syok merupakan kegagalan sistem sirkulasi untuk mempertahankan perfusi yang


adekuat ke organ-organ vital. Syok merupakan suatu kondisi yasng mengancam
jiwa dan membutuhkan tindakan segera dan intensif.
Penyebab syok pada kasus gawat darurat obstetri biasanya adalah perdarahan
(syok hipovolemik), sepsis (syok septik), gagal jantung (syok kardiogenik), rasa
nyeri (syok neurogenik), alergi (syok anafilaktik).
Curigai atau antisipasi syok jika terdapat satu atau lebih kondisi berikut ini.

Perdarahan pada wal kehamilan (seperti abortus, kehamilan ektopik atau

mola).
Perdarahan pada akhir kehamilan atau persalinan (seperti plasenta previa,

solusio plasenta, ruptura uteri).


Perdarahan setelah melahirkan (seperti ruptura uteri, atonia uteri, robekan

jalan lahir, plasenta yang teringgal).


Infeksi (seperti pada abortus yang tidak aman atau abortus septik,

amnionitis, metritis, pielonefritis).


Trauma (seperti perlukaan pada uterus atau usus selama proses abortus,
ruptura uteri, robekan jalan lahir).

TANDA DAN GEJALA


Diagnosis syok jika terdapat tanda atau gejala berikut:

Nadi cepat dan lemah (10 kali per menit atau lebih)
Tekanan darah yang rendah (sistolik kurang dari 90 mmHg)

Tanda dan gejala lain dari syok meliputi:

Pucat (khusunya pada kelopak mata bagian dalam, telapak tangan, atyau

sekitar mulut).
Keringat atau kulit yang terasa dingin dan lembab.
Pernapasan yang cepat (30 kali per menit atau lebih).
Gelisah, bingung, atau hilangnya kesadaran.

PERDARAHAN PADA KEHAMILAN MUDA


MASALAH

Perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 22 minggu.


DIAGNOSIS
Pikirkan kemungkinan kehamilan ektopik pada wanita dengan anemia, pemyakit
radang panggul, gejala abortus, atau keluhan nyeri yang tidak biasa.
JENIS-JENIS ABORTUS
1. ABORTUS SPONTAN
Adalah penghentian kehamilam sebelum janin mencapai viabilitas (usia
kehamilan 22 minggu). Tahap-tahap abortus spontan meliputi:
ABORTUS IMMINENS (kehamilan dapat berlanjut);
Tidak perlu pengobatan khusus atau tirah baring total.
Jangan melakukan aktivitas fisik berlebihan atau hubungan
seksual.
Jika perdarahan:
berhenti: lakukan asuhan antenatal

seperti biasa.

Lakukan penilaian jika perdarahan terjadi lagi.


terus berlangsung: nilai kondisi janin (uji kehamilan atau
USG ). Lakukan konfirmasi kemungkinan adanya
penyebab lain. Perdarahan berlanjut, khusunya jika
ditemui uterus yang lebih besar dari yang diharapkan,
mungkin menunjukkan kehamilan ganda atau mola.
Tidak perlu terapi hormonal (estrogen atau progestin) atau
tokolitik (seperti salbutamol atau indometasin) karena obat

obat ini tidak dapat mencegah abortus.


ABORTUS INSIPIENS (kehamilan tidak akan berlanjut dan akan
berkembang menjadi abortus inkomplit/komplit);
Jika usia kehamilan kurang dari 16 minggu, lakukan
evakuasi uterus.
Jika usia kehamilan lebih dari 16 minggu:
Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi, kemudiam
evakuasi sisa-sisa hasil konsepsi
Jika perlu, lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500
ml cairan I.V (garam fisiologik atau Ringer Laktat)
dengan kecepatan 40 tetes per menit untuk membantu
hasil konsepsi.

Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah

penanganan.
ABORTUS INKOMPLIT

(sebagian

hasil

konsepsi

telah

dikeluarkan);
Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan
kurang dari 16 minggu, evakuasi dapat dilakukan secara
digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil
konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika perdarahan
berhenti, beri ergometrin 0.2 mg I.M. atau misosoprostol
400 mcg per oral.
Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia
kehamilan lebih dari 16 minggu, evakuasi sisa hasil
konsepsi dengan:
Evakuasi dengan kuret
Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri
ergometrin 0.2 mg I.M. (diulangi setelah 15 menit
jika perlu) atau misosoprostol 400 mcg per oral

(dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu).


ABORTUS KOMPLIT (seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan).
Tidak perlu evakuasi lagi.
Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak.
Pastikan untuk tetap memantau konsisi ibu setelah
penanganan.
Apabila terdapat anemia sedang, berikan tablet sulfas
ferrosus 600mg/hari selama 2 minggu, jika anemia berat

berikan transfusi darah.


Konseling asuhan pasca keguguran dan pemantauan lanjut.
2. ABORTUS YANG DISENGAJA
Adalah suatu proses dihentikannya kehamilan sebelum janin mencapai
viabilitas.
3. ABORTUS TIDAK AMAN
Adalah suatu prosedur yang dilakukan oleh orang yang tidak
berpengalaman atau dalam lingkungan yang tidak memenuhi standar
medis minimal atau keduanya.
4. ABORTUS SEPTIK
Adalah abortus yang mengalami komplikasi berupa infeksi. Sepsis dapat
berasal dari infeksi jika organisme penyebab naik dari saluran kemih

bawah setelah abortus spontan atau abortus tidak aman. Sepsis cenderung
akan terjadi jika terdapat sisa hasil konsepsi atau terjadi penundaan dalam
pengeluaran hasil sisa konsepsi. Sepsis merupakan komplikai yang sering
terjadi pada abortus tidak aman dengan menggunakan peralatan.
Kehamilan Ektopik Terganggu
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga
uterus. Tuba fallopii merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi
kehamilan ektopik (lebih besar dari 90%).
Tanda dan gejalanya sangatlah bervariasi bergantung pada pecah atau tidaknya
kehamilan tersebut. Alat penting yang dapat digunakan untuk diagnosis kehamilan
ektopik yang pecah adalah tes kehamilam dari serum dikombinasi dengan
ultrasonogafi (USG). Jika diperoleh hasil yang tidak membeku, segera mulai
penanganan.
Diagnosis Banding
Diagnosis banding tersering untuk kehamilan ektopik adalah abortus imminens.
Diagnosis banding lainnya adalah penyakit radang panggul baik akut maupun
kronis, kista ovarium (terpuntirt atau ruptur), dan apendisitis akut..
Jika tersedia, ultrasonogafi dapat digunakan untuk membedakan abortus
imminens atau kista ovarium terpuntir dengan kehamilan ektopik.
Penanganan Awal
Jika fasilitas memungkinkan, segera lakukam uji silang darah dan laparotomi.

Jangan menunggu darah sebelum melakukan pembedahan.


Pada laparotomi, eksplorasi kedua ovaria dan tuba fallopii;
Jika terjadi kerusakan berat berat pada tuba, lakukan salpingektomi (tuba
yang berdarah dan hasil konsepsi dieksisi bersama-sama)
Jika kerusakan pada tuba kecil, lakukan salpingostomi (hasil konsepsi
dikeluarkan, tuba dipertahankan). Hal ini hanya dilakukan jika konservasi
kesuburan merupakan hal yang penting untuk ibu tersebut, karena risiko
kehamilan ektopik berikutnya cukup tinggi.

MOLA HIDATIDOSA
Kehamilan mola merupakan proliferasi abnormal dari vili khorialis.
Penanganan Awal

Jika diagnosis kehamilan mola telah ditegakkan, lakukan evakuasi uterus:


Segera lakukan evakuasi jaringan dan sementara proses evakuasi berlangsung
berikan infus 10 unit oksitosin dalam 500 ml cairan (NaCL atau Ringer Laktat)
dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap
perdarahan hebat dan efektifitas kintraks

PERDARAHAN PADA KEHAMILAN LANJUT DAN


PERSALINAN

MASALAH

Perdarahan pada kehamilan setelah 22 minggu sampai sebelum bayi

dilahirkan.
Perdarahan antepartum sebelum kelahiran.

PENANGANAN UMUM

Mintalah bantuan. Siapkan fasilitas tindakan gawat darurat.


Lakukan pemeriksaan secara cepat keadaan umum ibu, termasuk TTV.

Jangan lakukan
pemeriksaan
dalam
vaginaMeskipun
pada tingkat
ini
Jika dicurigai
adanya syok,
segera lakukan
tindakan.
tanda-tanda
syok belum terlihat, ingatlah bahwa saat anda melakukan evaluasi lebih lanjut
kondisi ibu dapat memburuk dengan cepat. Jika terjadi syok, sangatlah

penting untuk segera memulai penanganan syok.


Pasang infus dan berikan cairan intravena. Lakukan restorasi cairandan darah
sesuai dengan keperluan.

DIAGNOSIS
Diagnosis perdarahan antepartum

Gejala dan Tanda utama


Perdarahan tanpa nyeri,

Faktor predisposisi
Grande

usia gestasi > 22 minggu


Darah
segar
atau

multipara

Penyulit lain
Syok
Perdarahan

Diagnosis
Plasenta
previa

setelah koitus
Tidak
ada

kehitaman dengan bekuan


Perdarahan dapat terjadi
atau

kontraksi uterus
Bagian terendah

defekasi, aktivitas fisik,

janin tidak masuk

setelah

miksi

PAP
Kondisi

kontraksi braxton hicks


atau coitus.

Perdarahan dengan nyeri


intermiten atau menetap.
Warna darah kehitaman
dan cair, tetapi mungkin
ada bekuan jika solusio
relatif baru
Jika ostium terbuka terjadi

janin

normal

atau

terjadi

gawat

janin
Syok yang tidak

Hipertensi
Versi luar
Trauma

abdomen
Polihidramnion
Gemelli
Defisiensi gizi

sesuai

dengan

jumlah

placenta

darah

yang keluar
Anemia berat
Melemah
atau
hilangnya

perdarahan merah segar.

Solusio

janin
Uterus

gerak
tegang

dan nyeri
Perdarahan
intraabdominal
vagina
Nyeri

hebat

sebelum

kemudian hilang setelah


regangan

Riwayat

cesarea
Partus lama
Disproporsi

takhikardi
Adanya
cairan

kepala/fetopelvik
Kelainan letak
Persalinan

intraabdominal
Hilangnya gerak

dan/atau

perdarahan dan syok yang


terjadi

hebat

sectio

traumatik

pada perut bawah (kondisi


ini tidak khas)

Syok

atau

Ruptur uteri

bebas

dan DJJ
Bentuk

uterus

abnormal

atau

konturnya

tidak

jelas
Nyeri raba/tekan
dinding perut dan
bagian-bagian
Perdarahan
merah segar
Uji pembekuan

berwana

Solusio plasenta
Janin mati dalam

mudah dipalpasi
Perdarahan gusi
Gambaran memar

rahim
Eklamsia

bawah kulit
Perdarahan

darah

tidak menunjukkan adanya

dari

Gangguan
pembekuan
darah

beku-an darah setelah 7

menit.
Rendahnya faktor pembe-

Emboli air ketuban

tempat

suntikan

dan jarum infus

kuan darah, fibrinogen,


trombosit, fragmentasi sel
darah merah.

PENANGANAN
Plasenta Previa
Plasenta previa adalah keadaan dimana implantasi plasenta terletak pada atau di
dekat serviks. Ada 3 macam :
a. Plasenta letak rendah
b. Plasenta previa parsial
c. Plasenta previa totalis
Perhatian : Tidak dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan dalam pada
perdarahan antepartum sebelum tersedia persiapan untuk seksio sesaria.
Pemeriksaan inspekulo secara hati-hati, dapat menentukan sumber perdarahan
berasal dari kanalis servisis atau sumber lain (servisitis, polip, keganasan, laserasi,
atau trauma). Meskipun demikian, adanya kelainan di atas tidak menyingkirkan
diagnosa plasenta previa.
Perbaiki kekurangan cairan/darah dengan memberikan infus cairan I.V. (NaCl
0,9% atau RL)
Lakukan penilaian jumlah pendarahan.
- Jika perdarahan banyak dan berlangsung terus, persiapkan seksio
-

sesarea tanpa memperhitungkan usia kehamilan/prematuritas.


Jika perdarahan sedikit dan berhenti, dan fetus hidup tetapi prematur,
pertimbangkan terapi ekspektatif sampai persalinan atau terjadi perdarahan
banyak.

Terapi Ekspektatif
Tujuan supaya janin tidak terlahir prematur dan upaya diagnosis dilakukan secara
invasif.

Syarat terapi ekspektatif:


- Kehamilan preterm dengan pendarahan sedikit yang kemudian berhenti.
- Belum ada tanda inpartu
- Keadaan umum ibu cukup baik
- Janin masih hidup
Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotika profilaksis
Pemeriksaan USG untuk menentukan implantasi plasenta, usia kehamilan,
profil biofisik, letak dan presentasi janin.
Perbaiki anemia dengan pemberian tablet Fe.
Pastikan tersedianya sarana untuk melakukan tranfusi.
Jika perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu masih lama,
pasien dapat dirawat jalan dengan pesan segera kembali ke rumah sakit jika
terjadi perdarahan.
Jika perdarahan berulang pertimbangkan manfaat dan resiko ibu dan janin
untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dibandingkan dengan terminasi
kehamilan.
Konfirmasi Diagnosis
Ultrasonografi
Pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk menentukan implantasi plasenta dan
jarak tepi plasenta terhadap ostium. Jika diagnosis plasenta previa telah
ditegakkan dan janin matur, rencanakan persalinan.
Jika pemeriksaan USG tidak memungkinkan dan kahamilan kurang dari 37
minggu,lakukan penanganan plasenta previa sampai kehamilan 37 minggu.
Pemeriksaan Dalam di Meja Operasi
Jika USG tidak tersedia dan usia kehamilan 37 minggu, diagnosis definitif
plasenta previa dilakukan dengan melakukan PDMO (Pemeriksaan dalam di
meja operasi) dengan cara melakukan perabaan plasenta secara langsung
melalui pembukaan serviks.
Jika telah terjadi pembukaan serviks dan tampak jaringan plasenta, diagnosis
pasti plasenta previa, rencanakan terminasi persalinan.
Jika belum ada pembekuan serviks dan:
Teraba jaringan lunaknpada Forniks, diagnosis sebagai plasenta previa dan
rencana terminasi persalinan.

Teraba kepala janin yang keras, singkirkan diagnosis plasenta previa dan

lanjutkan persalinan dengan induksi.


Jika masih terdapat keraguan diagnosis, lakukan pemeriksaan digital dengan
hati-hati:
Jika teraba jaringan lunak pada serviks, diagnosis sebagai plasenta previa

dan rencanakan terminasi persalinan.


Jika teraba selaput dan bagian janin di daerah tengah dan tepi, singkirkan
diagnosis plasenta previa dan lanjutkan ke persalinan dengan induksi.

Terapi Aktif
Rencana terminasi kehamilan jika :
Janin matur
Janin mati atau menderita anomali atau keadaan yang mengurangi

kelangsungan hidupnya
Pada perdarahan aktif dan banyak, segera lakukan terapi aktif tanpa

memandang maturitas janin.


Jika terdapat plasenta letak rendah dan perdarahan yang terjadi sangat sedikit,
persalinan pervaginam masih mungkin. Jika tidak, lahirkan dengan seksio
sesarea.
Jika persalinan dengan seksio sesarea dan terjadi perdarahan dari tempat
placenta :
Jahit tempat perdarahan dengan benang
Pasang infus oksitosin 10 unit in 500 ml cairan NaCl atau RL dengan
kecepatan 60 tpm.
Jika perdarahan terjadi pascapersalinan, segera lakukan penanganan yang
sesuai. Hal tersebut meliputi ligasi arteri atau histerketomi.
Solusio plasenta
Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta dari tempat melekatnya yang normal
pada uterus sebelum janin dilahirkan.

Lakukan uji pembekuan darah


Tranfusi darah segar
Jika terjadi perdarahan hebat laukan persalinan segera
Jika perdarahan ringan atau sedang tindakan bergantung pada DJJ

Ruptura Uteri

Perdarahan dapat terjadi intraabdominal atau melaluik vagina kecuali jika kepala
janin menutupi rongga panggul. Perdarahan dari ruptur uteri pada ligamentum
latum tidak akan menyebabkan perdarahan intraabdominal.
Perbaiki kehilangan darah dengan pemberian infus I.V. cairan NaCl atau RL
sebelum tindakan pembedahan.
Lakukan SC dan lahirkan placenta segera setelah kondisi stabil.
Jika uterus dapat diperbaiki dengan resiko operasi lebih rendah daripada
histerektomidan ujung ruptura uteri tidak nekrosis lakukan histerorafi.
Jika uterus tidak dapat diperbaiki laukan histerektomi supravaginal atau
histerektomi total jika didapatkan robekan sampai serviks atau vagina.

PERDARAHAN PASCA PERSALINAN


Perdarahan pervaginam yang melebihi 500 ml setelah bersalin didefinisikan
sebagai perdarahan pascapersalinan. Terdapat beberapa masalah mengenai definisi
ini :
Perkiraan kehilangan darah biasanya tidak sebanyak yang sebenernya, kadangkadang setengah dari sebenarnya. Darah tersebut bercampur dengan amnion

atau dengan urin. Darah juga tersebar pada spons, handuk, dan kain dan dalam
ember dan lantai.
Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar
haemoglobin ibu. Seorang ibu dengan kadar haemoglobin normal akan dpt
menyesuaikan diri terhadap kehilangan darah yang akan berakibat fatal pada
yang anemia.
Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu beberapa jam dan
kondisi ini dapat tidak dikenali sampai terjadi syok.
MASALAH
Perdarahan setelah bayi lahir dan dalam 24 jam pertama persalinan
Perdarahan setelah 24 jam pertama persalinan
PENANGANAN UMUM
Segera mobilisasi seluruh tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan gawat
darurat
Lakukan pemeriksaan secara cepat keadaan umum ibu termasuk TTV
Jika dicurigai adanya syok, segera lakukan tindakan. Jika tanda-tanda syok
tidak terlihat, ingatlah saat anda melakukan evaluasi lanjut karna status wanita
tersebut dapat memburuk dengan cepat. Jika terjadi syok segera lakukan

penanganan syok.
Pastikan bahwa kontraksi uterus baik
Pasang infus cairan I.V.
Lakukan kateterisasi, dan pantau cairan keluar masuk
Periksa kelengkapan plasenta
Periksa kemungkinan robekan serviks, vagina, atau perineum.
Jika perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah.
Setelah perdarahan teratasi, periksa kadar Haemoglobin.

DIAGNOSIS
Gejala dan tanda yang selalu ada
Uterus tidak berkontraksi dengan

Gejala dan tanda yang

Diagnosis

kadang-kadang ada
Syok

kemungkinan
Atonia uteri

Pucat

Robekan jalan lahir

lembek
Perdarahan segera setelah anak
lahir
Perdarahan segera

Darah segar yang mengalir segera


setelah bayi lahir
Uterus kontraksi baik
Plasenta lengkap
Plasenta belum lahir setelah 30
menit
Perdarahan segera
Uterus kontraksi baik
Plasenta atau sebagian selaput
tidak lengkap
Perdarahan segera

Uterus tidak teraba


Lumen vagina terisi massa
Tampak tali pusat
Perdarahan segera
Nyeri sedikit atau berat
Sub-involusi uterus
Nyeri tekan perut bawah
Perdarahan > 24 jam setelah

Lemah
Menggigil

Tali pusat putus akibat


kontraksi berlebihan
Inversio
uteri
akibat
tarikan
Perdarahan lanjutan
Uterus berkontraksi tetapi
tinggi

fundus

berkurang
Syok neurogenik
Pucat dan limbung

Anemia
Demam

tidak

Tertinggalnya

sebagian

plasenta
Inversio uteri

Perdarahan terlambat,
Endometriosis atau sisa
plasenta

persalinan. Perdarahan bervariasi


dan berbau.
Perdarahan segera
Nyeri perut bawah

Retensio plasenta

Syok
Nyeri tekan perut
Denyut nadi ibu cepat

Robekan dinding uterus

PENANGANAN KHUSUS
Atonia Uteri
Kenali dan tegakkan diagnosa kerja atonia uteri
Antisipasi dini akan kebutuhan darah dan lakukan tranfusi sesuai kebutuhan
Jika perdarahan terus berlangsung :
Pastikan plasenta lahir lengkap
Jika terdapat tanda-tanda sisa plasenta, keluarkan sisa plsenta tersebut.
Lakukan uji pembekuan darah sederhana. Kegagalan terbentuknya
pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah
dengan mudah menunjukkan adanya koagulopati.
Jika perdarahan terus berlangsung dan semua tindakan di atas telah dilakukan,
maka lakukan :
Kompresi bimanual internal
Kompresi aorta abdominalis
Jika perdarahan terus berlangsung setelah dilakukan kompresi :

Lakukan ligasi arteri uterina dan ovarika


Lakukan histerektomi jika terjadi perdarahan yang mengancam jiwa
setelah ligasi.

Robekan Serviks, Vagina, dan Perineum


Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dari perdarahan pasca
persalinan.

Robekan

dapat

terjadi

bersamaan

atonia

uteri.

Perdarahan

pascapersalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh


robekan serviks atau vagina.
Periksalah dengan sesama dan perbaiki robekan pada serviks.
Lakukan uji pembekuan darah sederhana jika perdarahan terus berlangsung.
Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak
yang dapat pecah dengan menunjukkan adanya koagulopati.
Retensio plasenta
Jika plasenta terlihat dalam vagina, mintalah ibu untuk mengedan. Jika anda
dapat merasakan plasenta dalam vagina, keluarkan plasenta tersebut.
Pastikan kandung kemih sudah kosong. Jika diperlukan, lakukan kateterisasi
kandung kemih.
Jika plasenta belum keluar, berikan oksitosin 10 unit I.M. jika belum dilakukan
pada penanganan aktif kala tiga.
Jika plasenta belum dilahirkan setelah 30 menit pemberian oksitosin dan uterus
terasa berkontraksi, lakukan penarikan tali pusat terkendali.
Jika traksi talipusat terkendali belum berhasil, cobalah untuk melakukan
pengeluaran plasenta secara manual.
Jika perdarahan terus berlangsung, lakukan uji pembekuan darah sederhana.
Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau bekuan lunak yang
dapat pecah dengan mudah menunjukkan adanya koagulopati.
Jika terdapat tanda-tanda infeksi berikan antibiotik untuk metritis.
Sisa plasenta

Sewaktu suatu bagian dari plasenta satu atau lebih lobus tertinggal, maka
uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif.
Raba bagian dalam uterus untuk mencari sisa plasenta. Eksplorasi manual
uterus menggunakan teknik yang serupa dengan teknik yang digunakan untuk
mengeluarkan plasenta yang tidak keluar.
Keluarkan sisa plasenta dengan tangan, cunam ovum, atau kuret besar.
Jika perdarahan berlanjut, lakukan uji pembekuan darah dengan menggunakan
uji pembekuan darah sederhana. Kegagalan terbentuknya bekuan darah setelah
7 menit atau terbentuknya bekuan darah yang lunak yang mudah hancur
menunjukkan adanya kemungkinan koagulopati.

Inversi Uterus
Jika ibu sangat kesakitan, berikan petidin 1 mg/kg BB I.M. atau I.V. secara
perlahan atau berikan morfin 0,1 mg/kg BB I.M.
Jika perdarahan berlanjut, lakukan uji pembekuan darah dengan menggunakan
uji pembekuan darah sederhana.
Berikan antibiotik profilaksis dosis tunggal
Jika terdapat tanda-tanda infeksi berikan antibiotik.
Jika diketahui ada nekrosis, lakukan histerektomi vaginal. Hal ini mungkin
membutuhkan rujukan ke pusat pelayanan kesehatan tersier.

NYERI KEPALA, GANGGUAN PENGLIHATAN, KEJANG


DAN/ATAU KOMA, TEKANAN DARAH TINGGI
MASALAH
Wanita hamil atau baru melahirkan mengeluh nyeri kepala hebat atau
penglihatan kabur.
Wanita hamil atau baru melahirkan menderita kejang atau tidak sadar/koma.
PENANGANAN UMUM
Jika ibu tidak sadar atau kejang, mintalah pertolongan. Segera mobilisasi
seluruh tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan gawat darurat.
Segera lakukan penilaian terhadap keadaan umum termasuk TTV sambil
mencari riwayat penyakit sekarang dan terdahulu dari pasien atau keluarganya.
Jika pasien tidak bernapas atau pernapasan dangkal :
Periksa dan bebaskan jalan napas
Jika tidak bernapas, mulai ventilasi dengan masker dan balon
Intubasi jika perlu
Jika pasien bernapas, beri oksigen 4-6 liter/menit melalui masker atau

kanula nasal.
Jika pasien tidak sadar/koma :
Bebaskan jalan napas
Baringkan pada sisi kiri
Ukur suhu
Periksa apakah ada kaku tengkuk
Jika pasien syok, lakukan penanganan syok
Jika ada perdarahan, lakukan penanganan perdarahan
Jika kejang :
Baringkan pada sisi kiri, tempat tidur arah kepala ditinggikan sedikit untuk

mengurangi kemungkinan aspirasi sekret, muntahan atau darah


Bebaskan jalan napas
Hindari jatuhnya pasien dari tempat tidur
Lakukan pengawasan ketat
Jika diagnosanya eklamsia, berikan magnesium sulfat

Jika penyebab kejang belum diketahui, tangani sebagai eklamsia sambil


mencari penyebab lainnya.
Diagnosis Hipertensi
Hipertensi dalam kehamilan mencakupi hipertensi karena kehamilan dan
hipertensi kronik.
Tekanan diastolik merupakan indikator untuk prognosis pada penanganan
hipertensi dalam kehamilan
Tekanan diastolik mengukur tahanan perifer dan tidak dipengaruhi oleh
keadaan emosi pasien.
Jika tekanan diastolik 90 mmHg pada dua pemeriksaan berjarak 4 jam atau
lebih diagnosisnya adalah hipertensi. Pada keadaan urgen keadaan diastolik
110 mmHg dapat dipakai sebagai dasar diagnosa, dengan jarak waktu
pengukuran < 4 jam.
Jika hipertensi terjadi pada kehamilan > 20 mgg, pada persalinan atau
dalam 48 jam sesudah persalinan, diagnosisnya hipertensi dalam

kehamilan.
Jika hipertensi terjadi pada kehamilan < 20 minggu, diagnosisnya adalah
hipertensi kronik.

Proteinuria
Terdapatnya proteinuria mengubah diagnosis hipertensi dalam kehamilan menjadi
preeklamsia. Bebrapa keadaan lain yang dapat menyebabkan proteinuria adalah
infeksi traktus urinarius, anaemia berat, gagal jantung, partus lama, hematuria,
skistosomiasis, dan kontaminasi dengan darah dari vagina.
Hipertensi Dalam Kehamilan
Klasifikasi hipertensi dalam kehamilan meliputi :

Hipertensi (tanpa proteinuria atau edema)


Preeklamspia ringan
Preeklampsia berat
Eklampsia

Catatan :

Preeklampsia ringan sering tanpa gejala

Proteinuria yang meningkat merupakan tanda memburuknya preeklampsia


Edema tungkai bukan merupakan tanda yang sahih pada preeklampsia
Preeklampsia ringan dapat dengan cepat meningkat menjadi preeklampsia
berat. Risiko menjadi eklampsia sangat besar pada preeklampsia berat.
Kejang :
Dapat terjadi tanpa hubungan dengan beratnya hipertensi.
Sukar diramalkan, dapat terjadi tanpa adanya hiper refleksia, nyeri kepala

atau gangguan penglihatan


Pada 25% kasus terjadi pasca persalinan
Dapat terjadi berulang-ulang sehingga dapat berakhir dengan kematian
Dapat diikuti dengan koma

Hipertensi Karena Kehamilan Tanpa Proteinuria


Tangani secara rawat jalan :

Pantau tekanan darah, urin, dan kondisi janin setiap minggu


Jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai preeklampsia ringan
Jika kondisi janin memburuk atau terjadi pertumbuhan janin terhambat, rawat

untuk penilaian kesehatan janin.


Beri tahu pasien dan keluarga tanda bahaya dan gejala preeklampsia atau

eklampsia
Jika tekanan darah stabil, janin dapat dilahirkan secara normal.

Preeklampsia Ringan
Kehamilan kurang dari 37 minggu
Jika belum ada perbaikan, lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan :

Pantau tekanan darah, urin, refleks, dan kondisi janin.


Konseling pasien dan keluarganya tentang tanda-tanda bahaya preeklampsia
Lebih banyak istirahat
Diet biasa
Tidak perlu diberi obat-obatan
Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat di rumah sakit
Jika tekanan diastolik turun sampai normal pasien dapat dipulangkan
Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan, tetap dirawat. Lanjutkan penanganan

dan observasi kesehatan janin.


Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangan

terminasi kehamilan. Jika tidak, rawat sampai aterm.


Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai preeklampsia berat.

Kehamilan lebih dari 37 minggu

Jika serviks matang, pecahkan ketuban dan induksi persalinan dengan

oksitosin atau prostaglandin


Jika serviks belum matang, lakukan pematangan dengan prostaglandin atau
kateter foley atau lakukan seksio sesaria.

PREEKLAMPSIA BERAT DAN EKLAMPSIA


Penanganan kejang

Beri obat antikonvulsan


Perlengkapan untuk penanganan kejang
Beri oksigen 4-6 liter per menit
Lindungan pasien dari kemungkinan trauma, tetapi jangan diikat terlalu keras
Baringkan pasien pada sisi kiri untuk mengurangi risiko aspirasi
Setelah kejang, aspirasi mulut dan tenggorokan jika perlu.

Penanganan umum

Jika tekanan diastolik tetap lebih dari 110 mmHg, berikan obat antihipertensi,

sampai tekanan diastolik di antara


Pasang infus dengan jarum besar
Ukur kesimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload cairan
Kateterasi urin untuk memantau pengeluaran urin dan proteinuria
Jika jumlah urin kurang dari 30 ml per jam :
Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi muntah dapat

mengakibatkan kematian ibu dan janin.


Observasi tanda-tanda vital, refleks, dan DJJ setiap jam.
Auskulatasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru.
Hentikan pemberian cairan I.V. dan berikan diuretik misalnya furosemid 40

mg I.V. sekali saja jika ada edema paru


Nilai pembekuan darah dengan uji pemebekuan sederhana. Jika pembekuan
tidak terjadi sesudah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulopati

Antihipertensi
Jika tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih, berikan obat antihipertensi.
Tujuannya adalah untuk mempertahankan tekanan diastolik di antara 90-100
mmHg dan mencegah perdarahan serebral. Obat pilihan adalah hidralazin.

Persalinan
Persalinan harus diusahakan segera setelah keadaan pasien stabil. Penundaan
persalinan meningkatkan risiko untuk ibu dan janin.
Periksa serviks.
Jika serviks matang, lakukan pemecahan ketuban, lalu indikasi persalinan
dengan oksitosin atau prostaglandin
Jika persalinan pervaginam tidak dapat diharapkan dalam 12 jam atau dalam 24
jam, lakukan seksio sesarea.
Jika DJJ < 100/menit atau > 180/menit lakukan seksio sesarea
Jika serviks belum matang, janin hidup, lakukan seksio sesarea
Jika anatesi untuk seksio sesarea tidak tersedia, atau jika janin mati atau terlalu
kecil :
- Usahakan lahir pervaginam
- Matangkan serviks dengan misoprostol, prostaglandin, atau kateter foley.

KOMPLIKASI HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

Jika pertumbuhan janin terhambat, lakukan terminasi kehamilan


Jika terjadi penurunan kesadaran, kemungkinan terjadi perdarahan serebral
Jika terjadi gagal jantung, ginjal atau hati berikan terapi suportif
Jika uji beku darah menunjukkan gangguan tekanan darah, kemungkinan

terdapat koagulopati.
Jika pasien dipasang infus dan dipasang kateter, perhatikan upaya pencegahan
infeksi
Jika pasien mendapat cairan per infus, perlu dipantau jumlah cairan masuk dan
keluar agar tidak terjadi overload cairan.
HIPERTENSI KRONIK
Anjurkan istirahat lebih banyak.
Pada hipertensi kronik, penurunan tekanan darah yang normal akan
memperbaiki keadaan janin dan ibu.
Pantau pertumbuhan dan kondisi janin
Jika tidak ada komplikasi, tunggu sampe aterm
Jika DJJ < 100/menit atau >180/menit, tangani seperti gawat janin

Jika terdapat pertumbuhan janin terhambat, nilai serviks dan pertimbangkan


terminasi kehamilan.

PERSALINAN LAMA
MASALAH

Fase laten lebih dari 8 jam


Persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih tanpa kelahiran bayi

(persalinan lama)
Dilatasi serviks di kanan garis waspada pada partograf

PENANGANAN UMUM

Nilai dengan segera kaeadaan umum ibu hamil dan janin.


Kaji kembali pertograf, tentukan apakah pasien berada dalam persalinan.
Perbaiki keadaan umum dengan :
Berikan analgesik; tramadol atau petidin 25 mg I.M. atau morfin 10 mg
I.M., jika pasien merasakan nyeri yang sangat.

DIAGNOSIS
Faktor-faktor penyebab persalinan lama:

His tidak adekuat


Faktor janin
Faktor jalan lahir

PENANGANAN KHUSUS
Persalinan palsu/belum inpartu (False Labor)
Periksa apakan ada infeksi saluran kemih atau ketuban pecah. Jika didapatkan ada
infeksi, obati secara adekuat. Jika tidak ada pasien boleh rawat jalan.
Fase Laten Memanjang (Prolonged Latent Phase)
Jika fase laten lebih dari 8 jam dan tidak ada tanda-tanda kemajuan, lakukan
penilaian ulang terhadap serviks :

Jika tidak ada perubahan pada pendataran atau pembukaan serviks, dan

tidak ada gawat janin, mungkin pasien belum inpartu


Jika ada kemajuan dalam pendataran dan pembukaan serviks, lakukan
amnotomi dan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin.
Lakukan penilaian ulang setiap 4 jam
Jika pasien tidak masuk fase aktif setelah dilakukan pemberian

oksitosin selama 8 jam, lakukan seksio sesarea.


Jika didapatkan tanda-tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau) :
Lakukan akselerasi persalinan dengan oksitosin
Berikan antibiotika kombinasi sampai persalinan
Fase aktif memanjang

Jika tidak ada tanda-tanda CPD atau obstruksi dan ketuban masih utuh,

pecahkan ketuban.
Nilai His :
Jika his tidak adekuat, pertimbangkan adanya inersia uteri
Jika his adekuat, pertimbangkan adanya disproporsi, obstruksi,

malposisi, atau malpresentasi.


Lakukan penanganan umum yang akan memperbaiki his dan mempercepat
kemajuan persalinan

Disproporsi sefalopelvik

Disproporsi sefalopelvik terjadi karena janin terlalu besar atau panggual ibu kecil,
sehingga persalinan macet. Penilaian ukuran panggul yang baik adalah dengan
melakukan partus percobaan.

Jika diagnosa disproporsi, maka lakukan seksio sesarea


Jika bayi mati :
Lakukan kraniotomi
Bila tidak mungkin melakukan kraniotomi lakukan seksio sesarea

Obstruksi (Partus Macet)

Jika bayi hidup dan pembukaan serviks sudah lengkap dan penurunan

kepala 1/5, lakukan ekstrasi vacum


Jika bayi hidup dan pembukaan serviks belum lengkap atau kepala bayi

masih terlalu tinggi untuk ekstrasi vakum, lakukan seksio sesarea


Jika bayi mati lakukan dengan craniotomi/embriotomi

His Tidak Adekuat


Jika his tidak kuat sedangkan disproporsi dan obstruksi dapat disingkirkan,
kemungkinanpenyebab persalinan lama adalah inersia uteri.

Pecahkan ketuban dan lakukan akselerasi persalinan dengan oksitosin


Evaluasi kemujan persalinan dengan pemeriksaan 2 jam setelah his
adekuat:
Jika tidak ada kemajuan, lakukan seksio sesarea
Jika ada kemajuan lanjutkan infus oktosin oksitosin dan evaluasi setiap
2 jam.

Kala II memanjang (Prolonged exphulsi phase)

Jika malpresentasi dan tanda-tanda obstruksi bisa disingkirkan, berikan

infus oksitosin
Jika tidak kemajuan penurunan janin :
Jika kepala tidak lebih dari 1/5 diatas sympisis pubis, atau bagian tulang
kepala diatas stasion (0), lakukan ekstraksi vacum atau cunam.

Jika kepala di antara 1/5-3/5 di atas sympisis pubis, atau bagian tulang
kepala diatara stasion (0)-(-2), lakukan ekstraksi vacum.
Jika kepala lebih dari 3/5 di atas sympisis pubis atau bagian tulang
kepala di atas stasion (-2), lakukan seksio sesarea.

MALPRESENTASI DAN MALPOSISI


Malposisi merupakan posisi abnormal dari verteks kepala janin terhadap panggul
ibu. Malpresentasi adalah semua presentasi lain dari janin selain presentasi
verteks.
MASALAH
Janin dalam keadaan malpresentasi dan malposisi sering menyebabkan partus
lama atau partus macet.
PENANGANAN UMUM
Lakukan penilaian cepat mengenai kondisi ibu termasuk TTV
Lakukan penilaian kondisi janin :
Dengarkan denyut jantung janin (DJJ) segera setelah his :
Hitung DJJ selama satu menit penuh paling sedikit setiap 30 menit
selama fase aktif dan setiap 5 menit selama fase kedua.
Jika DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 kali per menit

kemungkinan gawat janin.


Jika ketuban pecah, lihat warna cairan ketuban :
Jika ada mekonium yang kental, awasi lebih ketat atau lakukan
intervensi untuk penanganan gawat janin
Tidak adanya cairan pada saat ketuban pecah menandakan adanya
pengurangan jumlah air ketuban uang mungkin ada hubungannya dengan

gawat janin.
Berikan dukungan moral dan perawatan pendukung lainnya
Lakukan penilaian kemajuan persalinan memakai partograf

DIAGNOSIS
Menentukan Presentasi
Yang paling sering adalah presentasi verteks, selainnya presentasi dahi, muka,
ganda/kombinasi dan bokong. Jika verteks bukan merupakan bagian yang
menunjukkan presentasi.
Jika presentasi verteks, tentukan posisi kepala menurut anatomi tulang kepala.
Menentukan Posisi Kepala Janin
Kepala janin biasanya masuk ke rongga panggul ibu dengan posisi ubun-ubun
kecil lintang, dengan ubun-ubun kecil janin melintang pada rongga panggul ibu
Dengan penurunan, kepala janin mengalami rotasi sehingga ubun-ubun kecil
terletak di bagian depan pada rongga panggul ibu. Kegagalan perputaran ubunubun kecil ke depan sebaiknya ditata laksana sebagai posisi ubun-ubun kecil
belakang.
Variasi posisi pada presentasi normal adalah posisi verteks yang mengalami
fleksi sempurna, dengan posisi ubun-ubun kecil terletak lebih rendah pada
vagina dibandingkan dengan sinsiput.
Jika kepala janin mengalami fleksi sempurna dengan ubun-ubun kecil depan
atau lintang, lanjutkan dengan persalinan.
Jika kepala janin tidak berada dalam posisi ubun-ubun kecil depan, kenali dan
tata laksana malposisi ini.
Jika kepala janin bukan merupakan bagian yang mengalami presentasi atau jika
kepala janin tidak terfleksi sempurna, kenali dan tata laksana malpresentasi ini.
PENANGANAN KHUSUS
Posisi Oksiput Posterior

Rotasi secara spontan menjadi oksiput anterior terjadi pada 90% kasus. Persalinan
yang terganggu terjadi jika kepala janin tidak rotasi atau turun. Pada persalinan
dapat terjadi robekan perineum yang tidak teratur atau ekstensi episiotomi.
Jika ada tanda-tanda persalinan macet atau denyut jantung janin (DJJ) lebih
dari 180 atau kurang dari 100 pada fase apapun, lakukan seksio sesarea
Jika ketuban utuh, pecahkan ketuban dengan pengait amnion atau klem khoker.
Jika pembukaan serviks belum lengkap dan tidak ada tanda obktruksi,
akselerasi persalinan dengan oksitosin.
Jika pembukaan serviks lengkap dan tidak ada kemajuan pada fase
pengeluaran, periksa kemungkinan adanya obstruksi.
- Jika tidak ada tanda obstruksi, akselerasi persalinan dengan oksitosin.
Jika pembukaan lengkap dan jika :
- Kepala janin teraba 3/5 atau lebih di atas simphisis pubis atau kepala diatas
-

stasion (-2) lakukan seksio sesarea


Kepala janin di antara 1/5 dan 3/5 di atas simpisis pubis atau bagian

terdepan kepala janin diantara stasion 0 dan -2


Kepala tidak lebih dari 1/5 di atas simpisis pubis atau bagian terdepan dari
kepala janin berada di stasion 0, lakukan ekstraksi vacum atau cunam.

Presentasi Dahi
Pada presentasi dahi biasanya kepala tidak turun dan persalinan macet. Konversi
spontan ke arah presentasi verteks atau muka jarang terjadi, khususnya jika janin
mati atau kecil. Konversi spontan biasanya jarang terjadi pada janin hidup dengan
ukuran normal jika ketuban telah pecah.
Jika janin hidup, lakukan seksio sesarea
Jika janin mati dan pembukaan serviks :
- Tidak lengkap, lakukan seksio sesarea
- Lengkap, lakukan kraniotomi
- Jika tidak terampil melakukan kraniotomi, lakukan seksio sesarea
Catatan : Jangan lahirkan presentasi dahi dengan ekstrasi vakum atau cunam
Presentai Muka

Dagu berfungsi sebagai indikator posisi kepala. Dalam hal ini, sangatlah penting
untuk membedakan posisi dagu depan, di mana dagu terletak di bagian depan
pada rongga panggul ibu, dengan posisi dagu belakang.
Sering terjadi persalinan lama. Kepala bisa lahir spontan bila dagu anterior dan
fleksi. Presentasi muka dengan dagu posterior kepala tidak akan turun dan
persalinan akan macet.
Posisi Dagu Anterior
Jika pembukaan lengkap :
- Biarkan persalinan spontan
- Jika kemajuan lambat dan tidak terdapat tanda-tanda obstruksi. Percepat
persalinan dengan oksitosin.
- Jika kepala tidak turun dengan baik, lakukan ekstraksi cunam.
Jika pembukaan tidak lengkap dan tidak ada tanda-tanda obstruksi :
- Akselerasi dengan oksitosin
- Periksa kemajuan persalinan secara presentasi verteks.
Posisi Dagu Anterior
Jika pembukaan serviks lengkap, lahirkan dengan seksio sesarea.
Jika pembukaan serviks tidak lengkap, nilai penurunan, rotasi, dan kemajuan
persalinan. Jika macet, lakukan seksio sesarea.
Jika janin mati :
- Lakukan kraniotomi (jika trampil), atau seksio sesarea.
Presentasi Ganda (Majemuk)
Persalinan spontan hanya bisa terjadi jika janin sangat kecil atau mati dan
maserasi. Persalinan macet terjadi pada fase ekspulsi.
Lengan yang mengalami prolaps kadang-kadang dapat diubah posisinya.
- Bantulah ibu untuk mengambil posisi knee-chest
- Sorong tangan ke atas ke luar dari sympisis pubis dan pertahankan disana
-

sampai timbul kontraksi kemudian dorong kepala masuk ke dalam panggul.


Lanjutkan dengan penatalaksanaan untuk persalinan normal.
Jika prosedur gagal atau terjadi prolaps tali pusat, lakukan seksio sesarea

Presentasi Bokong

Presentasi bokong (sungsang) dengan partus lama merupakan indikasi seksio


sesarea. Tidak ada kemajuan persalinan merupakan salah satu tanda disproporsi.
Persalinan Pervaginam pada Presentasi Bokong
Pertolongan spontan (Bracht) pada primigravida sebaiknya di rumah sakit dan
harus dievakuasi dengan hati-hati karena kelahiran bokong belum tentu kepala
bisa lahir (after coming head) yang dapat membawa kematian janin. Kepala janin
harus lahir dalam waktu maksimal 8 menit sejak lahir sebatas pusat.
Suatu persalinan sungsang pervaginam dengan bantuan tenaga medis yang
terlatih merupakan tindakan yang mungkin dilakukan dan aman dengan syarat
berikut :
- Bokong sempurna atau bokong murni
- Pelvimetri klinis yang adekuat
- Janin tidak terlalu besar
- Tidak ada riwayat seksio sesarea dengan indikasi CPD
- Kepala fleksi
Ikuti kemajuan persalinan dengan seksama dengan partograf
Jika ketuban pecah, periksa apakah ada prolaps tali pusat
Apabila ada prolaps tali pusat dan kelahiran pervaginam tidak mungkin,
lakukan seksio sesarea.
Jika tali pusat prolaps dan persalinan pervaginam tidak memungkinkan,
lakukan seksio sesarea
Jika denyut jantung janin abnormal atau persalinan lama, lakukan seksio
sesarea

SEKSIO SESAREA PADA PRESENTASI BOKONG


Seksio sesarea lebih aman dan direkomendasikan pada:
- Presentasi kaki ganda
- Pelvis kecil atau malformasi
- Janin sangat besar
- Bekas seksio sesarea dengan indikasi CPD
- Kepala hiperekstensi atau defleksi

DISTOSIA BAHU
Masalah

Kepala janin telah dilahirkan tetapi bahu tersangkut dan tidak dapat dilahirkan.

Penanganan Umum

Pada setiap persalinan bersiaplah untuk menghadapi distosia bahu, khususnya

pada persalinan dengan bahu besar.


Siapkan beberapa orang untuk membantu.

Diagnosis

Kepala janin dapat dilahirkan tapi tetap berada dekat vulva.


Dagu tertari dan menekan perineum.
Tarikan pada kepala gagal melahirkan bau yang terperangkap di belakang
simfisis pubis.

Penanganan
Buatlah episiotomi yang cukup luas untuk mengurangi obstruksi jaringan lunak
dan memberi ruangan yang cukup untuk tindakan.
Dalam posisi ibu berbaring telentang, mintalah ia untuk menekuk kedua
tungkainya dan mendekatkan lututnya sejauh mungkin ke arah dadanya.
Mintalah bantuan 2 orang asisten untuk menekan fleksi kedua lutut ibu ke arah
dada.
Dengan memakai sarung tangan yang telah didisinfeksi tingkat tinggi:

Lakukan tarikan yang kuat dan terus menerus ke arah bawah pada kepala
janin untuk menggerakkan bahu depan di bawah simfisis pubis;

Catatan: Hindari tarikan yang berlebihan pada kepala yang dapat


mengakibatkan trauma pada pleksus brakhialis.

Mintalah seorang asisten untuk melakukan tekanan secara simultan ke arab


bawah pada daerah suprapubis untuk membantu persalinan bahu.
Catatan: Jangan lakukan tekanan fundus. Hal ini dapat mempengaruhi bahu
lebih lanjut dan dapat mengakibatkan ruptura uteri.

Jika bahu masih belum dapat dilahirkan:

Pakailah sarung tangan yang telah didisinfeksi tingkat tinggi, masukkan


tangan ke dalam vagina.

Lakukan penekanan pada bahu yang terletak di depan dengan arah sternum
bayi untuk memutar bahu dan mengecilkan diameter bahu.

Jika diperlukan, lakukan penekanan pada bahu belakang sesuai dengan

arah sternum..

Jika bahu masih belum dapat dilahirkan setelah dilakukan tindakan di atas:

Masukkan tangan ke dalam vagina.

Raih humerus dari lengan belakang dan dengan menjaga dengan tetap fleksi
pada siku, gerakkan lengan ke arah dada. Tindakan ini akan memberikan

ruangan untuk bahu depan agar dapat bergerak di bawah simfisis pubis.

Jika semua tindakan di atas tetap tidak dapat melahirkan bahu, pilihan lain
adalah:

patahkan klavikula untuk mengurangi lebar bahu dan bebaskan bahu depan.

lakukan tarikan dengan mengait ketiak untuk mengeluarkan lengan


belakang.

PERSALINAN DENGAN DISTENSI UTERUS


Masalah
Ibu bersalin dengan uterus yang lebih besar dari umur
kehamilan.
Penanganan Umum

Tegakkan ibu.

Pastikan umur kehamilan jika mungkin.

Diagnosis

Jika palpasi abdomen hanya teraba satu janin kemungkinan taksiran persalinan

salah, hidramnion atau janin yang besar

Jika teraba beberapa bagian fetus yang mengarah ke kehamilan ganda, carilah
gejala-gejala dan tanda-tanda lain seperti:

kepala janin relatif lebih kecil dibandingkan dengan ukuran uterus;

besar uterus melebihi lamanya amenorea;

teraba 2 balotemen atau lebih ;

terdengar lebih dari satu denyut jantung bayi dengan menggunakan


stetoskop fetal Doppler.
Catatan: Stetoskop fetal akustik tidak dapat digunakan untuk memastikan
diagnosis, karena bunyi dari satu jantung dapat terdengar pada daerah yang
berbeda.

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) (jika tersedia) untuk menentukan:

jumlah presentasi dan taksiran berat


badan janin;

jumlah

cairan

amnion.
Penanganan Khusus
Kehamilan Tunggal dengan Anak Besar
Pimpin persalinan untuk partus spontan.
Hati-hati kemungkinan partus tak maju, distosia bahu dan perdarahan
pascapersalinan
Periksa tanda-tanda diabetes pada ibu.
Kehamilan Ganda
Janin pertama
Siapkan peralatan resusitasi dan perawatan bayi.
Pasang infus dan berikan cairan I.V.
Pantau keadaan janin dengan auskultasi denyut jantung janin. Jika terdapat
kelainan denyut jantung janin (kurang dari 100 atau lebih dari 180 denyut per
menit), curigai adanya gawat janin.
Periksa presentasi janin :

Jika presntasi verteks, usahakan persalinan spontan dan monitor persalinan


dengan partograf.

Jika presentasi bokong, usahakan persalinan spontan sebagaimana


persalinan tunggat dengan presentasi bokong dan monitor persalinan
dengan partograf.

Jika letak lintang, lakukan seksio sesarea.

Janin kedua atau janin berikutnya

Segera setelah bayi pertama lahir, lakukan pemeriksaan berikut:

Palpasi abdomen untuk menentukan letak janin kedua atau berikutnya.


Jika perlu, lakukan versi luar agar janin kedua letak memanjang.

Pcriksa denyut jantung janin

Lakukan periksa dalam vagina untuk menentukan:

Presentasi janin kedua.

Selaput ketuban utuh atau pecah.

Prolapsus tali pusat.

Presentasi Verteks

Jika kepala belum masuk pintu atas panggul (PAP), masukkan kepala

secara manual (dengan bantuan tangan di abdomen). jika memungkinkan.

Pecahkan ketuban dengan klem kokher jika ketuban belum pecah.

Periksa denyut jantung janin antara kontraksi uterus untuk menilai keadaan

janin.

Jika his tidak adekuat setelah kelahiran bayi pertama. berikan infus oksitosin
dengan cara cepat untuk menimbulkan his yang baik (tiga kontraksi dalam 10
menit, dengan lama setiap his lebih dari 40 detik).

Jika janin tidak lahir dalam 2 jam dengan his yang baik, atau terdapat tandatanda gawat janin (DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 per menit), lakukan
seksio sesarea.

Presentasi Bokong
Jika taksiran berat janin tidak lebih dari janin perama dan serviks tidak
mengecil rencanakan partus spontan:

Jika his tidak ada atau tidak adekuat setelah kelahiran janin pertama, berikan
infus oksitosin dengan cara cepat untuk menimbulkan his yang baik (tiga
kontraksi dalam 10 menit, dengan lama his lebih dari 40 detik).

Pecahkan ketuban dengan klem kokher jika ketuban belum pecah dan
bokong sudah turun.

Periksa denyut jantung janis (DJJ) di aas 2 kontraksi uterus, jika DJJ
abnormal (DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 per menit) lakukan
ektraksi bokong.

Jika persalinan pervaginam tidak mungkin, lahirkan bayi dengan seksio


sesarea.

Komplikasi

Komplikasi ibu terhadap kehamilan ganda adalah:

anemia,

abortus,

hipertensi pada kehamilan dan preeklampsia,

inersia uteri,

hidramnion,

retensio plasenta,

- perdarahan pascapersalinan.
Komplikasi janin/plasenta meliputi:
- plasenta previa,
- solusio plasenta,
- insufiensi plasenta,
- persalinan preterm,
- berat badan lahir rendah,
- malpresentasi,
- prolapsus tali pusat,
- kelainan kongenital.

KEHAMILAN DAN PERSAL1NAN DENGAN PARUT UTERUS


Masalah

Kehamilan dan persalinan dengan parut pada uterus oleh karena bekas seksio
sesarea, miomektotni atau ruptura uteri.

Penanganan Umum

Pasang infus
Usahakan mencari penyebab terjadinya parut uterus, mungkin karena seksio
sesarea, ruptura uteri, miomektomi, atau reseksi kornu uterus. Jaringan parut
dapat memperlemah uterus, yang pada akirnya dapat menyebabkan ruptura
uteri pada saat persalinan.

Penanganan Khusus
Penelitian menunjukkan bahwa 50% pasien dengan kasus jaringan parut seksio
sesarea transversa rendah dapat melahirkan pervaginam. Pasien harus diberi
informasi risiko ruptura uteri yang relatif rendah: 0,5% - 1%.
Pada Persalinan

Jika pasien masuk rumah sakit dalam fase persalinan, pasien harus diawasi

ketat:

tanda-tanda vital,

- rasa sakit pada perut/uterus bagian bawah,

perdarahan dan tanda-tanda ruptma uteri spontan.

Tentukan letak/presentasi janin dan turunnyapresentasi.

Jika janin presentasi kepala lakukan partus percobaan, jika kriteria untuk
persalinan pervaginam dipenuhi dan tidak ada kontraindikasi.

Insisi pada seksio sesarca Mangan sedapat mungkin pada daerah segmen bawah
rahim kecuali tidak memungkinkan misalnya

Perlengkapan segmen bawah rahim

segmen bawah rahim, rahim belum terbentuk.

gawat janin,

plasenta previa.

Penyulit-penyulit pada seksio sesarea ulangan:

perlekatan peritoneum,

perdarahan karena atonia uteri,

- febris puerperalis.

luka tidak mau menutup

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan pada partus percobaan


Lebih dari 1 kali seksio sesarea.
Dari beberapa penelitian ternyata partus percobaan berhasil dengan baik pada
bekas seksio sesarea 2 kali atau lebih, tetapi risiko ruptura meningkat sedikit.
Indikasi seksio sesarea.

Frekuensi partus pervaginam setelah seksio sesarea dengan indikasi partus tak
main dan disproporsi sefalopelvik paling rendah tetapi bukan kontraindikasi.
Partus spontan.
Jika pasien pernah partus pervaginam, maka kemungkinan persalinan
pervaginam lebih besar.
Tipe insisi.
Seksio sesarea klasik/korporal lebih mudah mengalami ruptura uteri, sehingga
perlu dilakukan seksio primer.
Umur kehamilan yang lain.
Jika umur kehamilan <26 minggu pada seksio sesarea yang lain, berarti
segmen bawah rahim belum terbentuk dengan sempuma. Insisi yang dilakukan
adalah transversal pada korpus uteri sehingga risiko pada pasien ini lebih
besar.
Penyembuhan luka.
Penyembuhan luka yang tidak baik pada seksio sesarea yang lalu atau
perluasan insisi ke korpus uteri merupakan kontraindikasi untuk partus
percobaan.

GAWAT JANIN DALAM PERSALINAN


Masalah

Denyut jantung janin (DJJ) kurang dari 100 per menit atau lebih dari 180 per

rnenit.

Air ketuban hijau kental.

Penanganan Umum

Pasien dibaringkan miring ke kiri.

Berikan oksigen.

Hentikan infus oksitosin (jika sedang diberikan infus oksitosin).

Diagnosis

Diagnosis gawat janin saat persalinan didasarkan pada denyut jaunting janin yang
abnormal. Diagnosis lebih pasti jika disertai air ketuban hijau dan kental/ sedikit.
Denyut jantung janin abnormal
Kelainan denyut jantung janin (DJJ)
DJJ Normal dapat melambat sewaktu his dan dan segera kembali normal setelah
relaksasi.
DJJ lambat (kurang dari 100 per menit) saat tidak ada his, menunjukan adanya gawat
janin.
DJJ cepat (lebih dari 180 per menit) yang disertai takhikardi ibu bisa karena ibu
demam, efek obat, hipertensi atau amnionitis. Jika denyut jantung ibu normal, denyut
jantung jain yang cepat sebaiknya dianggap sebagai tanda gawat janin.
Mekonium
Adanya mekonium pada cairan amnion lebih sering terlihat saat janin mencapai
maturitas dan dengan sendirinya bukan merupakan tanda-tanda gawat janin.
Sedikit mekonium tanpa dibarengi dengan kelainan pada denyut jantung janin
merupakan suatu peringatan untuk pengawasan lebih lanjut.
Mekonium kental merupakan tanda pengeluaran mekonium pada cairan
amnion yang berkurang dan merupakan indikasi perlunya persalinan yang lebih
cepat dan penanganan mekonium pada saluran napas atas neonatus untuk
mencegah aspirasi mekonium.
Penanganan Khusus
Jika denyut jantung janin diketahui tidak normal dengan atau tanpa kontaminasi
mekonium pada cairan amnion. lakukan hal sebagai berikut :

Jika sebab dari ibu diketahui (seperti demam, obat-obatan) mulailah


penangananyang sesuai.

Jika sebab dari ibu tidak diketahui dan denyut jantung janin tidak abnormal
sepanjang paling sedikit 3 kontraksi, lakukan pemeriksaan dalam untuk mencari
penyebab gawat janin :
Jika terdapat perdarahan dengan nyeri yang hilang timbul atau menetap,

pikirkan kemungkinan solusio plasenta.

Jika

terdapat

tanda-tanda

infeksi

(demam,

sekret

vagina

berbau

tajam( berikan antibiotika untuk amnionitis.

Jika tali pusat terletak di bawah bagian bawah janin atau dalam vagina,
lakukan penanganan prolaps tali pusat .

Jika denyut jantung janin tetap abnormal atau jika terdapat tanda-tanda lain
gawat janin (mekonium kental pada cairan amnion), rencanakan persalinan:
- Jika serviks telah berdilatasi dan kepala janin tidak lebih dari 1/5 di atas
sumfisis pubis atau bagian teratas tulang kepala janin pada stasion 0,
lakukan persalinan dengan ekstraksi vaktum.
- Jika serviks tidak berdilatasi penuh dan kepala janin berada diatas stasion o,
lakukan persalinan dengan seksio sesarea.

PROLAPSUS TALI PUSAT


Masalah
Tali pusat terkemuka (diketahui saat masih utuh) dan tali pusat menumbung
(ketuban sudah pecah) sama bahayanya dan mengancam kehidupan janin.
Keadaan ini memerlukan penanganan segera.
Diagnosis

Setiap saat ketuban pecah dalam persalinan periksalah kemungkinan adanya


prolapses tali pusat.

Teraba tali pusat di depan bagian terendah janin (tali pusat terkemuka).

Tali pusat keluar di vagina segera setelah ketuban pecah (tali pusat
menumbung).

Penanganan Khusus
Tali Pusat Berdenyut
Jika tali pusat berdenyut berarti janin masih hidup.

Beri oksigen 4- 6 liter/menit melalui masker atau kanula nasal.

Posisi ibu Trendelenburg.

Diagnosis tahapan persalinan melalui pemeriksaan dalam segera.

Jika ibu pada persalinan kala I:


- Dengan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi (DTT) masukanm tangan ke
dalam vagina dan bagian terendah janin segera didorong ke alas sehingga
tahanan pada tali pusat dapat dikurangi.
- Tangan yang lain menahan bagian terendah di suprapubis dan evaluasi
keberhasilan reposisi.

Jika bagian terbawah janin telah terpegang dengan kuat di atas rongga
panggul. keluarkan tangan dari vagina. Letakkan tangan tetap di atas
abdomen sampai dilakukan seksio sesarea.

- Jika tersedia berikan salbutamol 0,5 mg I.V secara perlahan untuk


mengurangi kontraksi rahim.
- Segera lakukan seksio sesarea.
Jika ibu pada persalinan kala II:
- Pada presentasi kepala lakukan segera persalinan dengan ekstraksi vakum
atau ekstraksi cunam/forseps dengan episiotomi.

Jika presentasi bokong/sungsang lakukan ekstraksi bokong atau kaki dan


gunakan forseps Piper atau panjang untuk melahirkan kepala yang menyusul
.

Jika letak lintang, siapkan segera seksio sesarea.

- Siapkan segera resusitasi neonatus.


Tali Pusat Tak Berdenyut
Jika tali pusat tak berdenyut berarti janin telah meninggal. Keadaan ini sudah
tidak merupakan tindakan darurat lagi dan lahirkan bayi sealamiah mungkin tanpa
mencederai ibu. Pergunakan waktu untuk memberikan konseling pada ibu dan

keluarganya tentang apa yang terjadi dan tindakan apa yang akan dilakukan.
Diharapkan persalinan dapat berlangsung spontan pervaginam.

DEMAM DALAM KEHAMILAN DAN PERSALINAN


Masalah
Ibu menderita domain (suhu >38C) dalam kehamilan atau persalinan.
Penanganan Umum
Istirahat baring
Minum banyak
Kompres untuk menurunkan suhu
Diagnosis
Diagnosis demam dalam kehamilan dan persalinan
Gejala dan tanda selalu Gejala
ada

dan

tanda Diagnosis

kadang-kadang ada

kemungkinan

Disuria
Frekuensi
meningkat
Disuria
Demam
Frekuensi
meningkat
Nyeri abdomen

kencing

Nyeri suprasimfisis

kencing

Nyeri pinggang

kehamilan < 22 minggu

Demam

Uterus nyeri
Demam/mengiggil

Cairan vagina berbau pada

kehamilan > 22 minggu

Nyeri abdomen
Demam

Sesak nafas

Batuk beriak

Nyeri data

Demam

Cairan vagina berbau pada

Sistitis

Nyeri perut
Pielonefritis akut

Nyeri data
Mual/muntah
Anoreksia
Nyeri abdomen bawah
Nyeri lepas
Perdarahan
Nanah di serviks
Ketuban pecah

Abortus septik

Nyeri uterus
DJJ cepat
Perdarahan sedikit
Lendir (+)

Amnionitis

Data/tenggorokan sakit
Sesak
Rhonkhi (+)
Limpa membesar

Pneumonia

Kejang

Malaria dengan komplikasi

Meracau

Nyeri otot

Menggigil
Nyeri kepala
Nyeri otot
Gejala seperti diatas
Koma

Ikterus

Anemia
Demam
Nyeri kepala

Tifus

Tak sadar

Batu kering
Lemas
Anoreksia
Limpa besar
Demam
Lemah
Anoreksia
Mual
Kencing coklat tua
Kuning
Hati bengkak

Urtikaria
Limpa besar

Hepatitis

Penanganan
Infeksi saluran kemih
Anggaplah infeksi meliputi seluruh saluran dari kalises sampai uretra

Sistitis
Sistitis adalah infeksi kandung kencing.
Berikan antibiotika

Amoksisilin 500 mg per oval 3 kali sehari selama 3 hari,

Atau trimetoprim/sulfametoksazol 1 tablet (160/80 mg) per oral 2 kalis ehari


selama 3 hari.

Jika terapi gagal, periksa kultur urin dan tes resistensi kuman jika tersedia dan
terapi antibiotika yang sesuai.
Pielonefritis Akut
Pielonefritis akut ialah infeksi akut saluran kemih atas umumnya pelvik ginjal
dan juga meliputi parenkimnya.

Jika terdapat syok, berikan segera pengobatan

Buat kultur dan tes resistensi jika tersedia dan terapi antibiotika yang sesuai
sampai 2hari bebas demam.

Malaria
Umumnya penyakit ini disebabkan oleh 2 spesies parasit, yaitu R falsiparum dan
P. vivaks. Demam malaria pada ibu hamil dapat mengakibatkan rnorbiditas,
bahkan kematian jika tidak dikenal dan diobati. Demam malaria akut biasanya
sukar dibedakan dari penyakit lain. Malaria harus dipertimbangkan pada ibu yang
domain dan pernah drpapar pada malaria.

Ibu yang tidak memiliki kekebalan (tidak pernah tinggal di daerah endemik
malaria) menjadi rentan terhadap komplikasi malaria.

Ibu yang memiliki kekebalan mempunyai risiko tinggi untuk anemia berat dan
melahirkan bayi BLR.

Malaria Falsiparum
Malaria Falsiparum tanpa komplikasi
Malaria jenis ini resisten klorokuinnya telah meluas. Bahkan, resistensi terhadap
obat lain (misalnya: kina, sulfacloksimpirimetamin, meflokuin) juga terjadi. Oleh
karena itu, kita perlu mengikuti panduan nasional pengobatan malaria. Obat yang
tnerupakan kontraindikasi

ialah: primakuin, tetrasiklin, doksisiklin,

dan

halofantrin. Belum cukup data mengenai obat atovokuon/progurinil clan


artcancter/luinefantria yang dipakai pada ibu hamil

DEMAM PASCA PERSALINAN


Masalah

Demam (> suhu 38 C) yang terjadi 24 jam setelah melahirkan.

Penanganan Umum

Istirahat baring.

Rehidrasi per oral atau infus.

Kompres atau kipas untuk menurunkan suhu.

Jika ada syok, segera beri pengobatan. Sekalipun tidak jelas gejala syok, harus
waspada untuk menilai berkala karena kondisi dapat memburuk dengan cepat.

Diagnosis demam pascapersalinan


Gejala

dan

tanda Gejala

selalu ada
Demam menggigil
Nyeri perut bawah
Lokia berbau nanah
Uterus nyeri tekan
Nyeri perut bawah dan

dan

tanda Diagnosis kemungkinan

kadang-kadang ada
Perdarahan pervaginam
Syok

Metritis

Antibiotika tidak menolong

Abses pelvik

kembung
Demam tinggi menggigil

Uterus nyeri

Demam tidak tinggi

Nyeri perut bawah

Bising usus lemak / (-)

Buah dada nyeri dan

bengkak

3 5 hari nifas
Payudara nyeri

Tumor

dan

bengkak
Merah, meradang

adneksa

kauvum douglas menonjol


Fungsi kavum douglas: pus
Nyeri lepas
Anoreksia
Mual muntah
Syok
Buah dada bengkak

Bendungan ASI

Kedua buah dada terkena

Bendungan lalu infeksi


Umumunya hanya satu sisi

Mastitis

3 -4 minggu nifas
Payudara bengkak
Merah dan radang
Luka, keluar cairan/darah

insisi
Disuria
Sering kencing
Disuria
Demam tinggi
Sering kencing
Nyeri perut

Demam

Peritonitis

Perut kembung

Abses mamae
Bengkak dan fluktuasi
Keluar nanah
Eritema ringan di luar insisi Abses bergaung, seroma atau

Luka dan nyeri


Luka, bengkak
Eritema dan edema di luar Keluar cairan bernanah

dan

tinggi

terapi antibiotika
Demam
Susah bernafas
Batuk beriak
Nyeri dada
Demam

dalam

Nyeri suprapubik

hematona
Selulitis

Sistitis

Nyeri perut
Nyeri suprapubik

Pielonefritis akut

Nyeri pinggang
Nyeri dada belakang
Anoreksia
Mual/muntah
Nyeri otot

Trombosis vena

Sesak

Pneumonia

Nafas berat
Takipnea
Ronkhi
Pasca bedah

Atelektasis

Suara napas lemah


Demam
Menggigil
Nyeri kepala
Nyeri otot

Lien mmebesar

Malaria tanpa komplikasi

Metritis
Metritis ialah infeksi uterus setelah persalinan dan merupakan penyebab kematian
ibu.Kelambatan terapi akan menyebabkan abscsabses, peritonitis, syok, trombosis
vena, emboli paru, infeksi panggul kronik, sumbatan tuba, dan infertilitas.
Peritonitis

Pasang selang nasogastrik.

Infus cairan Ringer Laktat.

Berikan antibiotika kombinasi, sampai 48 jam bebas panas:

ampisilin 2 g I.V. nap 6 jam;

DITAMBAH gentamisin 5 mg/kgBB I.V. tiap 24 jam;

DITAMBAII metronidazol 500 mg I.V. tiap 8 jam;

Jika perlu lakukan laparotomi untuk drainase.

Bendungan Payudara
Bendungan terjadi akibat bendungan berlebihan pada limfatik dan vena sebelum
laktasi. Hal ini bukan bendungan susu ibu.
Menyusui
Jika ibu menyusui dan bayi tidak menetek, bantulah memerah air susu dengan
atangan dan pompa.

Jika ibu menyusui dan bayi mampu menetek:


- bantu ibu agar meneteki lebih sering pada kedua payudara tiap kali
meneteki
- berikan penyuluhan cara meneteki yang baik;
- mengurangi nyeri sebelum meneteki:

berikan kompres hangat pada dada sebelum meneteki atau mandi air
hangat,

pijat punggung dan leher,

memeras susu cara manual sebelum meneteki dan basahi putting agar
bayi mudah

mengurangi nyeri setelah meneteki:

gunakan bebat atau kutang.

kompres dingin pada dada untuk mengurangi bengkak,

terapi parasetamol 500 mg per oral.

Tidak menyusui
Jika ibu tidak meneteki:

berikan bebat dan kutang ketat,

kompres dingin sebelum meneteki untuk mengurangi bengkak dan nyeri,

hindari pijat atau kompres hangat,

berikan parasetamol 500 mg per oral.

Evaluasi 3 hari
Infeksi Payudara
Mastitis

Berikan antibiotik

NYERI PERUT PADA KEHAMILAN MUDA


Masalah

Nyeri perut pada kehamilan 22 minggu atau kurang. Hal ini mungkin gejala
utama pada kehamilan ektopik atau abortus.

Penanganan Umum

Lakukan segera pemeriksaan keadaan umum meliputi tanda vital (nadi, tensi,

respirasi, suhu)
Jika dicurigai syok, mulailah pengobatan. Sekalipun gejala syok tidak jelas,

waspada, dan evaluasi ketat karena keadaan dapat memburuk dengan cepat.
Jika ada syok, segera tepai dengan baik.
Catatan : apendisitis harus dicurigai pada tiap ibu yang nyeri perut, sebagai
diagnosis direrensial kehamilan ektopik, solusio plasenta, kista ovarium
putaran tangkai, dan pielonefritis

Gejala dan tanda selalu Gejala dan tanda kadang- Diagnosis kemungkinan
ada
kadang ada
Nyeri perut
Masa tumor di perut Kista ovarium
Tumor adneksa pada
bawah
Perdarahan
vaginal
periksa dalam
ringan
Kista Ovarium
Kista ovarium dapat menimbulkan nyeri akibat terpuntir atau pecah. Kista
ovarium dapat mengalami putaran tangkai atau pecah pada trimester 1

Jika ibu mengalami nyeri hebat, patut diduga putaran tangkai atua kista pecah.
Lakukan segera laparotomi.
Catatan : Jika pada laparotomi diduga ada keganasan (bagian perut,
pertumbuhan/papil pada dinding tumor), tumor harus diperiksa di bagian
patologi dan lakukan rujukan ke rumah sakit besar untuk penanganan

selanjutnya.
Jika tumor besarnya 10 cm atau lebih dan asimptomatik;
Jika ditemukan pada trimester 1, observasi perkembangan dan komplikasi
Jika ditemukan pada trimester 2, lakukan laparotomi untuk pengangkatan
Jika tumor besarnya 5 10 cm lakukan observasi. Mungkin laparotomi

diperlukan jika kista membesar atau menetap.


Jika kista kurang dari 5 cm, biasanya tumor akan mengecil dan tidak

memerlukan terapi.

NYERI PERUT PADA KEHAMILAN LANJUT DAN PASCA


PERSALINAN
Masalah

Ibu mengeluh nyeri perut pada kehamilan lebih dari 22 minggu.


Ibu mengeluh nyeri perut dalam 6 minggu setelah melahirkan.

Penanganan Umum

Segera nilai keadaan umum pasien termasuk tanda-tanda vital (nadi, tekanan
darah, pernapasan, suhu).
Jika syok atau perdarahan banyak segera mulai penanganan syok:
Pasang infus dengan jarum 16 gauge atau lebih besar
Ambil contoh darah untuk pemeriksaan Hb, golongan darah dan uji silang
(cross match).
Guyur dengan NaCl atau ringer laktat.
Jika tanda-tanda syok tidak terlihat, ingaltah saat anda melakukan evlauasi
lanjut karena status ibu tersebut dapat membentuk dengna cepat. Jika terjadi

syok, segera mulai penatalaksanaan syok.


Jika sangat kesakitan beri suntikan petidin atau morfin (janbgan berikan

analgetika sebelum dilakukan pemeriksaan).


Jika ada tanda-tanda sepsis, beri antibiotika I.V atau I.M.
Ukur darah yang hilang, cairan yang diberikan,dan produksi urin.

Diagnosis
Diagnosis nyeri perut pada akhir kehamilan dan pasca persalinan
Gejala dan tanda selalu Gejala
ada
Teraba his
Lendir bercampur

tanda Diagnosis

kadang-kadang ada
kemungkinan
persalinan
Pembukaan
dan Kemungkinan
darah

(show) sebelum 37 minggu

Teraba his

dan

perlunakan serviks
Perdarahan
pervaginam

ringan
Pembukaan

dan

preterm

Kemungkinan

persalinan

Lendir

bercampur

darah

(show) sebelum 37 minggu

perlunakan serviks
Perdarahan
pervaginam

term

ringan
Syok

Solusio plasenta
Nyeri perut hilang timbul
Uterus terasa tegang/lemas
atau menetap
janin
yang
Perdarahan
setelah Gerakan
kehamilan 22 minggu (dapat
tertahan dalam uterus)

berkurang/tidak ada

Gawat janin/tidak adanya

Nyeri perut (dapat berkurang

setelah ruptur)
Perdarahan (intra abdomen

dan/atau pervaginam)

Nyeri perut
Sekret vagina

Demam/menggigil
Nyeri perut
Disuria

Ruptura uteri

Distensi abdomen/adanya
cairan bebas
Kontur uterus abnormal
Abdomen teraba lemas
Bagian

janin

teraba

dengan mudah
Gawat janin/tidak adanya

denyut jantung janin


Denut jantung ibu yang

cair dan
berbau setelah kehamilan 22

minggu

denyut jantung janin


Syok

cepat
Riwayat keluarnya cairan

Amnionitis

Uterus teraba lunak


Denyut jantung janin cepat
Perdarahan

pervaginam

ringan

Nyeri

suprapubik/

Sistitis

retropubik

Frekuensi dan urgensi miksi


yang meningkat
Disuria

Nyeri
suprapublik/ Pielonefritis akut
Nyeri perut
retropubik
Demam tinggi/menggigil
Nyeri pinggang
Frekuensi dan urgensi miksi Nyeri daerah rusuk
Anoreksia
meningkat
Mual/muntah
Apendisitis
Nyeri perut bawah
Distensi abdomen
Demam tidak tinggi
Anoreksia
Nyeri lepas
Mual/muntah
Ileus paralisis
Peningkatan sel darah
putih

Tidak teraba massa ada


perut bawah

Lokasi nyeri lebih tinggi

Nyeri perut bawah

dari yang diharpakan


Perdarahan
pervaginam

ringan
Syok

Demam/menggigil
Lokia dengan pus dan berbau

Metritis

Uterus terasa lunak


Nyeri

perut

bawah

distensi
Demam tinggi

dan

/menggigil

yang menetap
Uterus terasa lunak

Nyeri perut bawah


Demam

Respons

tidak

tinggi/menggigil

Bising usus tidak terdengar

Nyeri perut

Massa
adneksa
pada

pemeriksaan dalam

lunak

buruk

Abses pelvik

terhadap antibbiotika
Pembengkakan di adneksa
atua pada kavum douglasi
Pus dari kuldosentesis
Nyeri lepas

Peritonitis

Distensi abdomen
Anoreksia
Mual/muntah
Syok
Teraba masa lunak pada

Kista ovarium

perut bagian bawah


Perdarahan
pervaginam
ringan

Persalinan Preterm
Persalinan preterm berhubungan dengan morbiditas dan murtalitas perinatal yang
lebih Penanganan persalinan preterm meliputi tokolisis (usaha menghentikam
kontraksi uterus)

atau membiarkan kemajuan persalinan. Masalah ibu pada

dasarnya dengan dengan intervensi yang dilakukan untuk menghentikan


kontraksi.
Tokolisis
Intervensi ini ditujukan untuk menunda persalinan sampai efek kortikosteroid
tercapai.
Lakukan tokolisis jika:
- kehamilan kurang dari 35 minggu,
- dilatasi serviks kurang dari 3 cm,
- tidak ada amnionitis, preeklampsia, atau perdarahan
- tidak ada gawat janin.
Pastikan diagnosis persalinan preterit: dengan mencatat pembukaan dan
perlunakan serviks setiap 2 jam

kehamilan kurang dari 35 minggu, berikan kortikosteroid pada ibu untuk mematangkan paru janin dan memperbaiki kesejahteraan neonatus tersebut:
- detametason 12 mg I.M., dua dosis setiap 12 jam,
- atau deksametason 6 mg I.M., 4 dosis setiap 6 jam.
Catatan: Jangan gunakan kortikostemid lebih dari 1 hari dan apabita
ditemui ada infeksi.

Berikan obat-obatan tokolisis dan pantaulah kondisi ibu dan janin (denyut
nadi, tekanan darah, tanda-tanda gawat pernapasan, kontraksi uterus, uarnya
cairan amnion atau darah, denyut jantung janin, keseimbangan cairan, gula
darah, dan lain-lain).
Catatan: Jangan berikan obat-obatan tokolisis lebih dari 48 jam.

Membiarkan persediaan Berjalan

Biarkan persalinan berjalan terus jika:

usia kehamilan di atas 37 minggu,

pembukaan serviks lebih dari 3 cm,

adanya perdarahan aktif,

adanya gawat janin, janin meninggal atau anomali lainnya yang


mengganggu kelangsungan hidupnya,

adanya amnionitis atau preeklampsia.

Pantau kemajuan persalinan dengan menggunakan partograf


Catatan: Hindari persalinan dengan menggunakan ekslraksi vakum karena
risiko terjadinya perdarahan intrakranial pada hayi preterm cukup tinggi.

Persiapkan penanganan bayi preterm dan dengan berat badan rendah dan
antisipasi kebutuhan resusitasi.

SUKAR BERNAPAS
Masalah
Ibu mengalami seiak napas dalam kehamilan, persalinan, atau pascapersalinan.

Penanganan Umum
Segera nilai keadaan umum pasien termasuk tanda-tanda vital(nadi. tekanan

darah, pernapasan. suhu):


ibu dibaringkan pada nisi kiri;
pasang infus dan berikan cairan terbalas (NaCI (0,9% atau Ringer Laktat);
beri O2 sebanyak 4 - 6 liter/menit melalui masker atm kanula nasal;
pantau nadi, tekanan darah dan pernapasan.
Periksa kadar hemoglobin.
Diagnosis
Diagnosis pada kesukaran bernapas.
Gejala dan tanda selalu Gejala dan tanda kadang- Diagnosis
ada
Batuk dengan dahak
Demam
Sesak nafas
Nyeri data
Wheezing
Sesak nafas
Hipertensi
Proteinuria
Sesak nafas

kadang ada
Ronkhi
Konsolidasi
Rales
Nyeri dada
Batuk dengan dhaak
Ronkhi
Ronkhi
Batuk 0 frothy cough

kemungkinan
pneumonia

Asma bronkiale
Edema

paru

karena

preeklamsia

GERAK JANIN TIDAK DIRASAKAN


Masalah

Ibu tidak merasakan gerakan janin sesudah kehamilan 22 minggu atau selama
persalinan.

Umum

Berikut dukungan emosional pada ibu.


Nilai denyut jantung janin (DJJ).

Bila ibu mendapat sedatif, tunggu hiulangnya pengaruh obat , kemudian

nilai ulang.
Bila DJJ tak terdengar minta beberapa orang mendengarkan menggunakan
stetoskop Doppler.

Diagnosis
Diagnosis gerak janin tidak dirasakan
Gejala dan tanda selalu Gejala dan tanda kadang- Diagnosis
ada
kadang ada
Gerakan janin berkurang Syok

kemungkinan
Solusio plasenta

atau hilang
Nyeri perut hilang timbul

Uterus tegang/kaku

atau menetap
Perdarahan pervaginam

Gawat janin atau DJJ

sesudah

tidak terdengar

hamil

22

minggu
Gerakan janin dan DJJ

tidak ada
Perdarahan
Nyeri perut hebat

Gerakan janin berkurang

atau hilang
DJJ
(<100/menit

Syok
Perut

Ruptura uteri
kembung/cairan

bebas intra abdominal


Kontur uterus abnormal
Abdomen nyeri
Bagian-bagian
janin
teraba
Denyut nadi ibu cepat
Cairan
ketuban Gawat janin
bercampur makonium

abnormal
atau

>180/menit)
Gerakan janin/DJJ hilang

Tanda-tanda kehamilan Kematian janin

berhenti
Tinggi fundus

berkurang
Pembesaran
berkurang

uteri
uterus

Penanganan Khusus
Kematian janin dapat terjadi akibat gangguan pertumbuhan janin, gawat janin,
atau kelainan bawaan atau akibat infeksi yang tidak terdiagnosis sebelumnya
sehingga tidak diobati.

USG : merupakan sarana penunjang diagnostik yang baik untu memastikan


kematian janin di mana gambarannya menunjukan janin tanpa tanda
kehidupan: tidak ada denyut jantung janin, ukuran kepala janin, dan cairan

ketuban berkurang.
Dukungan mental emosional perlu diberikan kepada pasien. Sebaiknya pasiEn
selalu

didampingi

oleh

orang

terdekatnya.

Yakinkan

bahwa

besar

kemungkinan dapat lahir pervaginam.


Pilihan cara persalinan dapat secara aktif dengan induksi maupun ekspektatif,
perlu dibicarakan denagan pasien dan keluarganya sebelum keputusan

diambil.
Bila pilihan penanganan adalah ekspektatif :
- tunggu persalinan spontan hingga 2 minggu;
- yakinkan bahwa 90% persalinan spontan akan terjadi tanpa komplikasi.
Jika trombosit dalam 2 minggu menurun tanpa persainan spontan, lakukan
penanganan aktif.
Jika penanganan aktif akan dilakukan, nilai serviks.
- Jika serviks matang, lakukan induksi persalinan dengan oksitosis atau
-

protaglandin.
Jika serviks belum matang, lakukan pematangan serviks dengan

prostaglandin atau kateter foley.


Catatan : Jangan lakukan amniotomi karena berisiko infeksi.
Jika persalinan spontan tidak terjadi dalam 2 minggu, trombosit menurun dan
serviks belum matang, matangkan serviks dengan misoprostol.
- Tempatkan misoprostol 25 mcg di puncak vagina; dapat diualngi sesudah
-

6 jam.
Jika tidak ada respons sesudah 2 x 25 mcg misoprostol, naikkan dosis
menjadi 50 mcg setiap 6 jam.
Catatan : Jangan berikan lebih dari 50 mcg setiap kali dan jangan melebihi

4 dosis.
Jika ada tanda infeksi, berikan antibiotika untuk metritis.
Jika tes pembekuan sederhana lebih dari 7 menut atau bekuan mudah pecah,
waspada koagulopati.

Berikan kesempatan kepada ibu dan keluarganya untuk melihat dan

melakukan berbagai kegiatan ritual bagi janin yang meninggal tersebut.


Pemeriksaan patologi plasenta adalah untuk mengungkapkan adanya patologi
plasenta dan infeksi.

KETUBAN PECAH DINI


Masalah

Keluarnya cairan berupa air-air dari vagina setelah kehamilan berusia 22

minggu.
Ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses persalinan

berlangsung.
Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum
kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm.

Penanganan Umum

Konfirmasi usia kehamilan, kalau ada dengan USG.


Lakukan pemeriksaan inspekulo (dengan spekulum DTT) untuk menilai cairan

yang keluar (jumlah, warna, bau) dan membedakannya dengan urin.


Jika ibu mengeluh perdarahan pada akhir kehamilan (setelah 22 minggu),

jangan lakukan pemeriksaan dalam secara digital.


Tentukan ada tidaknya infeksi.
Tentukan tanda-tanda inpartu.

Diagnosis

Diagnosis cairan vagina


Gejala dan tanda selalu ada

Gejala

kadang-kadang ada
kemungkinan
Ketuban pecah tiba-tiba Ketuban pecah dini
Cairan
tampak
di

Keluar cairan ketuban

dan

tanda Diagnosis

introitus
Tidak ada his dalam 1

jam
Riwayat

cairan
Uterus nyeri
Denyut jantung janin

cepat
Perdarahan pervaginam

Cairan vagina berbau

Tidak ada riwayat ketuban

pecah

Cairan vagina berdarah

Cairan berupa darah lendi

sedikit
Gatal
Keputihan
Nyeri perut
Disuria
Nyeri perut
Gerak janin berkurang
Perdarahan banyak
Pembukaan
dan

Cairan vagina berbau


Demam/mengigigl
Nyeri perut

keluarnya Amnionitis

pendataran serviks
Ada his

Vaginitis/ servisitis

Perdarahan
antepartum
Awal

persalinan

aterm atau preterm

Penanganan Khusus
Ketuban Pecah Dini

Bau cairan ketuban yang khas.


Jika keluarnya cairan ketuban sedikit-sedikit, tampung cairan yang keluar dan

nilai 1 jam kemudian.


Dengan spekulum DTT, lakukan pemeriksaan inspekulo. Nilai apakah cairan

keluar melalui ostium uteri atau terkumpul di forniks posterior.


Jika mungkin, lakukan :
- Tes lakmus (tes nitrazin). Jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru
menunjukan adanya cairan ketuban (alkalis). Darah dan infeksi vagina
dapat menghasilkan tes yang positif palsu

Penanganan

Rawat di rumah sakit.


Jika ada perdarahan pervaginam dengan nyeri perut, pikirkan solusio plasenta.
Jika ada tanda-tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau), berikan
antibiotika sama halnya jika terjadi amnionitis.
Jika tidak ada infeksi dan kehamilan < 37 minggu:
- Berikan antibiotika untuk mengurangi morbiditas ibu dan janin.
Ampisilin 4 x 500 mg selama 7 hari ditambah eritromisin 250 mg per
-

oral 3 kali per hari selama 7 hari.


Berikan kortikosteroid kepada ibu untuk memperbaiki kematangan paru

janin:
Betametason 12 mg I.M. dalam 2 dosis setiap 12 jam,
Atau deksametason 6 mg I.M. dalam 4 dosis setiap 6 jam.
Catatan : Jangan berikan kortikosteroid jika ada infeksi.
- Lakukan persalinan pada kehamilan 37 minggu.
- Jika terdapat his dan darah lendir, kemungkinan terjadi persalinan preterm.
Jika tidak ada infeksi dan kehamilan > 37 minggu:
- Jika ketuban telah pecah > 18 jam, berikan antibiotika profilaksis untuk
mengurangi risiko infeksi streptokokus grup B:
Ampisilin setiap 6 jam,
Atau penisilin G 2 juta unit I.V setiap 6 jam sampai persalinan,
Jika tidak ada infeksi passca persalinan; hentikan antibiotika.
- Nilai serviks
Jika serviks sudah matang, lakukan induksi persalinan dengan
oksitosin,
Jika serviks belum matang, matangkan serviks dengan prostaglandin
dan infus oksitosin atau lahirkan dengan seksio sesarea.

Amnionitis

Berikan antibiotika kombinasi sampai persalinan:


- Ampisilin 2 g.I.V. setiap 6 jam, ditambah gentamisin 5 mg/kgBB I.V.
-

setiap 24 jam.
Jika persalinan pervaginam, hentikan antibiotika pasca persalinan.
Jika persalinan dengan seksio sesarea, lanjutkan antibiotika dan berikan
metronidazol 500 mg I.V. setiap 8 jam sampai bebas demam selama 48

jam.
Nilai serviks
- Jika serviks matang, lakukan induksi persalinan dengan oksitosis

Jika servis belum matang, matangkan dengan prostaglandin dan infus

oksitosin atau lakukan seksio sesarea.


Jika terdapat metritis (demam, cairan vagina berbau), berikan antibiotika.
Jika terdapat sepsis pada bayi baru lahir, lakukan pemeriksaan kultur dan
berikan antibiotika.

ASUHAN BAYI BARU LAHIR BERMASALAH

PRINSIP-PRINSIP ASUHAN BAYI BARU LAHIR

Jika bayi baru dilahirkan oleh seorang ibu yang mengalami komplikasi dalam
persalinan, penanganan bayi tersebut bergantung pada:
apakah bayi mempunyai komndisi atau masalah yang perlu tindakan

segera,
apakah kondisi ibu memungkinkan merawat bayi secra penuh, sebagian,
atau tidak sama sekali

BAYI BARU LAHIR DENGAN MASALAH


Masalah/kondisi akut perlu tindakan segera dalam 1 jam kelahiran (oleh
tenaga di kamar bersalin):
tidak bernapas,
sesak napas,
sianosis sentral (kulit biru),
bayi berat lahir rendah (BBLR) < 2.500 g,
letargis,
hipotermia/stres dingin (suhu aksila < 36.5 C,
kejang.
Kondisi perlu tindakan awal:
potensial infeksi bakteri (pada ketuban pecah dini atau pecah lama),
potensi sifilis (ibu dengan gejala atau serologis positif).
Kondisi malformasi atau masalah lain yang tidak perlu tindakan segera
(oleh tenaga di kamar bersalin):
lakukan asuhan segera bayi baru lahir dalam jam pertama setelah kelahiran
bayi,
rujuk ke kamar bayi atau tempat pelayanan yang sesuai.

RUJUKAN BAYI
Jelaskan kondisi/masalah bayi kepada ibu.
Jaga bayi tetap hangat. Bungkus bayi dengan kain lunak dan kering, selimuti,
dan pakai topi.
Rujuk dengan digendong petugas, jika memungkinkan. Gunakan inkubator
atau basinet jika perlu tindakan khusus, misalnya pemberian O2.

Mulai menyusu dini.


Ajari memeras payudara dan ASI yang akan diberikan kepada bayi jika
menyusu dini tidak dimungkinkan oleh kondisi ibu atau bayi.
Pastikan kamar bayi NICU (Neonatal Intensive Care Unit) atau tempat
pelayanan yang dituju menerima formulir riwayat persalinan, kelaahiran dan
tindakan yang diberikan kepada bayi.
KONDISI ATAU MASALAH SEGERA SETELAH LAHIR
MASALAH
Bayi baru lahir dengan kondisi atau masalah:
tidak bernapas atau napasa megap-megap,
sukar bernapas (hitung napas dalam semenit < 30 atau > 60, tarikan dinding
dada ke dalam yang kuat atau suara merintih),
sianosis (biru),
premature atau Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR), (<32 minggu
atau 1500),
letargi,
hipotermia, kejang.
Bayi dengan kondisi atau masalah yang perlu perhatian di kamar bersalin:
bayi berat lahir rendah (BBLR) (1500 - 2500 g),
potensial infeksi bakteri (pada ketuban pecah dini atau pecah lama),
potensi sifilis (ibu dengan gejala atau serologis positif).
PENANGANAN SEGERA
Tiga keadaan yang perlu tindakan segera ialah: tidak bernapas atau megap-megap,
sianosis, atau sukar bernapas.
Tidak Bernapas atau Megap-megap
Penanganan Umum

Keringkan bayi, ganti kain yang basah dan bungkus dengan pakaian

hangat kering,.
Jika belum dilakuakan, segera klem dan potong tali pesat.
Letakkan bayi di tempat yang keras dan hangat ( di bawah radiant heater)
untuk resusitasi.

Kerjakan pedoman pencegahan infeksi dalam melakukan tindakan


perawatan dan resusitasi.

PENANGANAN BAYI BARU LAHIR BERMASALAH


Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR) atau Prematur Kecil
Jika bayi sangat kecil (< !500 g atau <32 minggu) sering terjadi masalah yang
berat-misalnya sukar bernapas, kesukaran pemberian minum, ikterus berat dan
infeksi. Bayi rentan terjadi hipotermia jika tidak di inkubator.
Bayi ini memerlukan pelayanan kesehatan khusus. Rujukan harus segera
dilakukan ke tempat pelayanan yang sesuai bagi bayi baru lahir sakit atau keciln
sedini mungkin.
Sebelum dan selama rujukan:
Pastikan bahwa bayi terjaga tetap hangat. Bungkus bayi dengan kain lunak,
kering dan selimuti dan pakai topi untuk menghindari kehilangan panas.
Jika bayi sianosis (biru) atau sukar bernapas (frekuensi < 30 atau > 60 x per
menit, tarikan dinding dada ke dalam atau merintih), beri oksigen lewat cateter
hidung atau nasal prong.

Letargi
Jika bayi letargi (tonus otot rendah, tidak ada gerakan), sangat mungkin bayi sakit
berat dan harus segera dirujuk kr tempat preayanan yang sesuai.
Hipotermia
Hipotermia dapat terjadi secara cepat pada bayi sangat kecil atau bayi yang
diresusitasi atau dipisahkan dari ibu. Dalam kasus-kasus ini, shuhu dapat cepat
turun < 35C. Hangatkan segera:
Jika bayi sakit berat atau hipotermia berat (suhu aksiler < 35C):
Gunakan alat yang tersedia (inkubator, radiant heater, kamar hangat, tempat
tidur hangat),
Rujuk segera ke tempat pelayanan kesehatan yang mempunyai NICU,

Jika bayi sianosis (biru) atau sukar bernapas (frekuensi < 30 atau > 60 x per
menit,. Tarikan di dinding dada kedalam atau merintih), beri poksigen lewat
kateter hidung atau nasal prong.
Jika bayi tidak begitu tampak sakit dan suhu aksiler 35C atau lebih:
Pastikan bayi dijaga tetap hangat. Bungkus bayi dengan kain lunak, kering,
selimuti, dan pakai topi untuk mrnghindari kehilangan panas.
Dorong ibu untuk segera menyusui, setelah bayi siap.
Pantau suhu aksiler setiap jam sampai normal.
Bayi dapat diletakkan dalam inkubator atau dibawah radiant heater.
Kejang
Kejang dalam 1 jam pertama kehidupan jarang. Kejang dapat disebabkan oleh
meningitis, ensefalopati, atau hipoglikemia berat.
Pastikan bayi dijaga tetap hangat. Bungkus bayi dengan kain lunak, kering,
selimuti, dan pakai topi untuk mrnghindari kehilangan panas.
Rujuk segera ke ruang NICU.

Bayi Premature Sedang atau BBLR


Bayi prematur sedang (33-38 minggu) atau BBLR (1500 2500 gram) dapat
mempunyai masalah segera setelah lahir.
Jika bayi tidak ada kesukaran bernapas dan tetap hangat dengan metode
Kanguru:
Rawat bayi tetap bersama ibu.
Dorong ibu mulai menyusui dalam 1 jam pertama.
Jika bayi sianosis (biru) atau sukar bernapas (frekuensi < 30 atau > 60 x per
menit,. Tarikan di dinding dada kedalam atau merintih), beri poksigen lewat
kateter hidung atau nasal prong.
Jika suhu aksiler turun dibawah 35C, hangatkan bayi segera.
Bayi Prematur dan/atau Ketuban Pecah Lama dan Asimptomatis

Panduan berikut bisa dimodifikasi sesuai dengan keadaan setempat.


Jika ibu mempunyai tanda klinis infeksi bakteri atau jika ketuban pecah lebih
dari 18 jam meskipun tanda klimis infeksi:
Rawat bayi tetap bersama ibu dan dorong ibu tetap menyusui,
Lakukan kultur darah, dan berikan antibiotika dosis pertama.
Jangan berikan antibiotika pada kondisi lain. Amati bayi terhadap infeksi
selama 3 hari:
Rawat bayi tetap bersama ibu dan dorong ibu tetap menyusui,
Jika dalam 3 hari tanda infeksi, rujuk ke NICU, lakukan kultur darah, dan
berikan antibiotika dosis pertama.

DILATASI DAN KURETASE

Kaji ulang indikasi.


Lakukan konseling dan persetujuan tindakan medis.
Persiapan alat, pasien dan pencegahan infeksi sebelum tindakan.
Berikan dukungan emosional. Beri petidin 1-2 mg/kg berat badan secara I.M.

atau I.V. sebelum prosedur.


Suntikan 10 IU oksitosin I.M. atau 0,2 mg ergomtetri I.M. sebelum tindakan

agar uterus berkontraksi dan mengurangi risiko perforasi.


Lakukan pemeriksaan bimanual untuk menentukan bukan serviks, besar, arah,

konsistensi uterus dan kondisi fornises.


Lakukan tindakan aseptik/antiseptik pada vagina dan serviks.
Periksa apakah ada robekan serviks atau hasil konsepsi di kanalis servikalis.

Jika ada, keluarkan dengan cunam ovum.


Jepit serviks dengan tenakulum pada pukul 11.00 dan 13.00. dapat pula

menggunakan cunam ovum untuk menjepit serviks.


Jika menggunakan tenakulum, suntikan lignokain 0.5 % 1 ml padabibir depan
atau belakang serviks.

Dilatasi hanya diperlukan pada missed abortion atau jika sisahasil konsepsi
tertahan di kavum uteri untuk beberapa hari:
masukkan sendok karet melalui kanalis servikalis;
jika diperlukan dilatasi, mulni dengan dilator terkecil sampaikanalis
servikalis cukup wituk dilalui oleh sendok karet (biasanya 10 - 12 mm).
hati-hati jangan sampai merobek serviks atau membuat perforasi uterus.

Lakukan pemeriksaan kedalam dan lengkung uterus dengan penera kvaum


uteri.
PERAWATAN PASCATINDAKAN
Beri parasetamol 500 mg per oral jika perlu.
Segera mobilisasi dan realimentasi.
Beri antibiotika profilaksis, termasuk tetanus profilaksis jika tersedia.
Konseling atau konseling Keluarga berencana.

Boleh pulang 1 -2 jam pascatindakan jika tidak terdapat tanda-tanda


komplikasi.
Anjurkan pasien segera kembali ke dokter bila terjadi gejala-gejala seperti:

- nyeri perih (lebih dari beberapa hari);


- perdarahan berlanjut (lebih dari 2 minggu);
- perdarahan lebih dari haid;
- demam;
- menggigil;
- pingsan.

INDUKSI DAN AKSELERASI PERSALINAN


Induksi persalinan: merangsang uterus untuk memulai terjadinya persalinan.

Akselerasi persalinan: meningkalkan frekuensi, lama, dan kekuatan kontraksi


uterus dalam persalinan.

Tujuan tindakan tersebut ialah mencapai his 3 kali dalam 10 menit,lamanya 40


detik.

Jika selaput ketuban masa, intak, dianjurkan amniotomi. Kadang-kadang


prosedur ini ctikup mita nierangsang persalinan. Cairan ketuban akan keltiar,
volume uterus herkuran, prostaglandin dihasilkan, merangsang persalinan. dan
kontraksi uterus meningkat.

AMNIOTOMI
Kaji ulang indikasi.
Periksa denyut jantung janin (DJJ).
Lakukan pemeriksaan serviks dan catat konsistensi, posisi, penipisan dan

bukaan serviks dengan menggunakan sarung tangan DTT.

Masukan kokher yang dipegang tangan kiri dan dengan bimbingan telunjuk

dan jari tengah tangan kanan hingga menyentuh selaput ketuban.


Gerakkan kedua lengan tangan dalam untuk menorehkan gigi kokher hingga
merobek selaput ketuban.
Cairan ketuban akan mengalir perlahan. Catat warnanya, kejernihan,
pewarnaan
mekonium, jumlahnya jika ada pewarnaan mekonium, suspek gawat janin.
Petahankan jari tangan dalam pada vagina agar cairan ketuban mengalir
perlahan dan yakin tidak teraba hagian kcal janin atau tali pusat yang
menumbung.
Setelah amniotomi, periksa DJJ pada saat kontraksi dan sesudalt kontraksi
uterus. Apabila ada kelainan DJJ (kurang ari 100 atau lebih dari 180 DJJ per
menit) suspek gawat janin.
Jika kelahiran diperkirakan tidak terjadi dalam 18 jam, berikan antibiotika
pencegahan: penisilin G 2 juta unit I.V atau ampisilin 2 g 1.V. (ulangi tiap 6
jam sampai kelahiran). Jika pasien tidak ada tanda-tanda inteksi sesudah
kelahiran, antibiotika dihentikan.
Jika proses persalinan yang baik tidak terjadi 1 jam setelah amniotomi,
mulailah dengan infus oksitosin.
Pada persalinan dengan masalah misalnya sepsis atau eklampsia, infus
oksitosin dilakukan bersamaan dengan amniotomi.
INDUKSI PERSALINAN
Oksitosin
Oksitosin digunakan secara: hati-hati karena gawat janin dapat terjadi dari

hiperstimulasi. Walaupun jarang, ruptura uteri dapat pula terjadi, lebih-lebih


pada multi para.

Senantiasa lakukan observasi ketat pada pasien yang mendapat oksitosin


Dosis efektif oksitosin bervariasi. Infus oksitosin dalam dekstrose atau garam

fisiologik dengan tetesan dinaikan secara gradual sampai his adekuat.

Pertahankan tetesan sampai persalinan

Pantau denyut nadi, tekanan darah dan kontraksi ibu hamil, dan periksa

denyutjantung janin (DJJ).


Kaji ulang indikasi.
Baringkan ibu hamil miring kiri.
Catat semua pengamatna pada partograf tiap 30 menit:

- Kecepatan infus oksitosin.


- Frekuensi dan lamanya kontraksi.
- Denyut jantung janin (DJJ) dengan DJJ tiap 30 menit dan selalu langsung
setelah kontraksi.

Ibu dengan infus oksitosin jangan ditinggal sendiri


Infus oksitosin 2,5 unit dalam 500 cc dekstrose (atau garam fisiologik) mulai

dengan 10 tetes per menit.


Naikan kecepatan infus 10 tetes per menit tiap 30 menit smapai kontraksi

adekuat (3 kali tiap 10 menit dengan lama lebih dari 40 detik) dan pertahankan
sampai terjadi kelahiran.

Jika tidak tercapai kontraksi yang ltdekuat (3 kali tiap10 menit dengan lama
lebih dari 40 detik) setelah lulus oksitosin mencapai 60 tetes per menit:
- Naikkan konsentarnsi oksitosin meiadi 5 unit dalam 500 ml dekstrose (atau
gamin fisiologik) dan sesuaikan kecepatan infus sampai 30 tetes per menit
(15 mIU/menit);
- Naikkan kccepatan infus 10 tetes per menit tiap 30 menit sampai kontraksi
adekuat (3 kali tiap 10 menit dengan lama lebih dari 40 detik) atau setelah
infus oksitosin mencapai 60 tetes per menit.

Jika masih tidak tercapai kontraksi yang adekuat dengan konsentrasi yang lebih
tinggi:
- Pada multigravida, induksi dianggap gagal, lakukan seksio sesarea.
- Pada primigravida, indus oksitosin bisa dinaikan konsentrasinya yaitu :

10 unit dalam 500 ml desktrose (atau garam fisiologik) 30 tetes per

menit.

Naikan 10 tetes tiap 30 menit sampai kontrak adekuat.

Jika kontraksi tetap tidak adekuat setelah 60 tetes per menit (60 mIU per

menit, lakukan seksio sesarea.

Jangan berikan oksitosin 10 unit dalam 500 ml pada multigravida dan


bekas sectio sesarea
MISOPROSTOL

Penggunaan misoprostol untuk pematangan serviks Minya pada kasus-kasus


tertentu misalnya:
preeklampsia berat/eklampsia dan serviks belum matang sedangkan seksio
sesarea belum dapat segera dilakukan atau bayi terlalu prematur untuk bisa
hidup;
kematian janin dalam rahim lebih dari 4 minggu belum in partu dan terda[at
tanda-tanda gangguan pembekuan darah

Tempatkan tablet misoprostol 25 mcg di forniks posterior vagina dan jika his
tidak . . timbul dapat diulangi setelah 6 jam.

Jika tidak ada reaksi setelah 2 kali pemberian 25 mcg, naikan dosis menjadi 50
mcg tiap 6 jam.

Jangan lebih dari 50 mcg setiap kali pakai dan jangna lebih dari 4 dosis atau
200 mcg.

Misroprostol mempunyai risiko meningkatkan kejadian ruptura uteri. Oleh


karena itu, hanya dikerjakan di pelayanan kesehatan yang lengkap (ada fasilitas
operasi).

AKSELERASI PERSALINAN DENGAN OKSITOSIN


Kaji ulang indikasi.
Pemakaian infus oksitosin sauna seperti untuk induksi persalinan

EPISIOTOMI
Episiotomi tidak dilakukan secara rutin.

Kaji ulang indikasi.

Episiotomi dipertimbangkan pada:


Persalinan per vaginam dengan penyulit (sungsang, distosia bahu,
ekstrasi cunam, ekstrasi vacum.
Penyembuhan ruptura perinai tingkat III-IV yang kurang baik.
Gawat janin.

Perlindungan kepala bayi prematur jika perineum ketat.

Kaji ulang prinsip dasar perawatan dan berikan larutan antiseptik pada daerah
perineum.

Berikan dukungan emosional.

Pastikan tidak ada alergi terhadap lignokain atau obat-obatan sejenis. Gunakan
lignokain untuk infiltrasi atau atau blok pudendal .
Infiltrasi Perineum
Siapkan semprit 10 ml dengan lignokain 0,5%.

Jelaskan kepada ibu apa yang akan dilakukan dan bantulah ia untuk rileks.

Tempatkan dua jari di anima kepala janin dan perineum ibu.

Masukkan seluruh panjang jarum mulai dari foimilicte, menembus persis di


bawah kulit dan otot perineum. sepanjang garis episiotomi.
Catatan: Aspirasi untuk meyakinkan suntikan lignokain tidak masuk dalam
pembuluh darah. Kejang dan kematian dapat terjadi jika lignokain diberikan
lewat pembuluh darah (I.V).

Suntikkan pada garis tengah: Suntikkan secara merata sambil menarik


jarumnya keluar.

Suntikkan pada sisi dari garis tengah: Miringkan arah tusukan jaruin ke sisi lain
dari garis tengah. Sebelum menyuntik, yang aspirasi untuk meyakinkan
suntikan lignokain tidak masuk dalam pembuluh darah. Silang pada sisi lain
dari tengahnya.

Suntikkan ke bagian tengahdari dinding belakang vagina. Lindungi kepala bayi


'dengan meletakkan jari-jari di antara kepala bayi dan jartim.

Tunggu 2 menit setelah suntikan, agar obat anestesia bekerja.

Cara Episiotomi

Episiotomi dilakukan bila perineum telah tipis atau kepala bayi tampak sekitar 3
- 4 cm.

Episiotomi dapat menyebabkan


dilakukan terlalu dini

perdarahan,

sehingga

jangan

Letakkan 2 jari di anima kepala bayi dan perineum dengan menggunakan


sarung tangan steril.

Gunakan gunting dan buat sayatan 3 4 cm mediolateral.

Jaga perineum dengan tangan pada saat kepala bayi lahir agar insisi tidak

meluas.
Perbaikan Episiotomi

Jika luka episiotomi meluas, tangani seperti robekan tingkat III-IV.

Jahit mukosa vagina secara jelujur dengan catgut kromik 2.0;

Gunakan pinset untuk menarik jarum melalui jaringan vagina.

Jahit otot perineum dengan benang 2.0 secara interuptus.

Jahit kulit secara interuptus atau subkutikuler dengan benang 2.0.

EKSTRAKSI VAKUM

Kaji ulang dengan syarat-syarat;


- presentasi belakang kepala/verteks;
- janin cukup bulan;
- pembukaan lengkap;
- kepala di H III-IV atau 1/5 atau 2/5.

Persetujuan tindakan medis.


Berikan dukungan emosional. Jika perlu lakukan blok pudendal.
Persiapkan alat-alat sebelum tindakan untuk pasien, penolong (operator dan
asisten) dan bayi.
Pencegahan infeksi sebelum tindakan.
Periksa dalam untuk menilai posisi kepala bayi dengan meraba sutura sagitalis
dan ubun-ubun kecil/posterior.
Masukkan mangkok vakum melalui introitus vagina secara miring dan pasang
pada kepala bayi dengan titik tengah mangkok pada sutura sagitalis 1 cm
anterior dari ubun-ubun kecil.

Nilai apakah diperlukan episiotomi. Jika episiotomi tidak diperlukan pada saat
pemasangan mangkok, mungkin diperlukan pada saat perineum meregang,

ketika kepala akan lahir.

Pastikan tidak ada banian vagina atau porsio yang terjepit.

Pompa hingga tekanan skala 10 (silastik) watt negatif - 0.2 kg/cm2


(Malmstnan), dan periksa aplikasi mangkok (minta asisten ntenurunkan
tekanan secara bertahapj.

Setelah 2 menit naikkan hingga skala 60 (silastik) atau negatif - 0,6 kg/cm2
(Maim- sworn), periksa aplikasi mangkok, tunggu 2 menit lagi.

Periksa adakah jaringan vagina yang terjepit. Jika ada, turunkan tekanan dan
lepaskan jaringan yang terjepit tersebut.

Setelah mencapai tekanan negatif yang tnaksimal, lakukan traksi searah dengan
sumbu panggul dan tegak hints pada mangkok.

Tarikan dilakukan pada puncak his dengan mengikuti sumbu jalan lahir. Pada
saat penarikan (pada puncak his) minta pasien meneran. Posisi tangan: tangan
luar menarik pengait. ibu jari tangan dalam pada mangkok, telunjuk dan jari
tengah pada kulit kepala bayi.

Tarikan bisa diulangi sampai 3 kali saja.

Lakukan pemeriksaan di antara kontraksi:


denyut jantung janin.
aplikasi mangkok.

Saat suboksiput sudah berada di bawah simfisis, arahkan tarikan ke atas hingga
lahirlah berturut-turut dahi, muka, dan dagu. Segera lepaskan mangkok vakum
dengan
Selanjutnya kelahiran bayi dan plasenta dilakukan Seperti pertolongan
persalinan normal,
Eksplorasi jalan lahir dengan menggunakan spekulum Sim's atas dan bawah
untuk melihat apakah ada robekan pada dinding vagina aura perpanjangan
luka episiotomi.
TIPS

Jangan rnemutar kepala bayi dengan cara memutar mangkok. Putaran kepala
bayi akan terjadi sambil traksi.

Tarikan pertama menentukan arah tarikan.

Jangan lakukan tarikan di anima his.

Jika tidak ada gawat janin,tarikan"terkendali" dapat dilakukan maksimum 30

merit.
Kegagalan

Ekstraksi vakum dianggap gagal jika:


- kepala tidak turun pada tarikan,
- jika tarikan sudah tiga kali dan kepala bayi belum turun, atan tarikan sudah
30 menit,
- mangkok lepas pada tarikan pada tekanan maksimum.

Setiap aplikasi vakum harus dianggap sebagai ekstraksi vakum percobaan.


Jangan lanjutkan jika titlak terdapat penurunan kepala pada setiap tarikan.

Komplikasi
Komplikasi biasanya terjadi karena hal-hal di atas tidak diperhatikan. Komplikasi
Janin

Edema skalp, yang akan hilang dalam 1 2 hari.

Sefal hematoma, akan hilang dalam 3 - 4 minggu.

Aberasi dan laserasi kulit kepala.


Perdarahan intrakranial sangat jarang.

Komplikasi Ibu

Robekan jalan lahir dapat terjadi. Periksa dengan seksama, dan lakukan reparasi
jika terdapat robeken serviks, vagina atau luka episiotomi meluas

EKSTRAKSI CUNAM

Kaji ulang indikasi.

Perhatikan syarat-syarat:
- Presentas ibelakang kepala atau muka dengan dagu di depan, dan kepala
menyusul pada sungsang;
- Pembukaan lengkap;
- Penurunan kepala 0/5 (H III-IV);
- Kontraksi baik dan ibu tidak gelisah;
- Ketuban sudah pecah.

Persetujuan tindakan medis.

Berikan dukungan emosional. lika perlu, lakukan blok pudendal.

Persiapan sebelum tindakan: untuk pasien, penolong (operator dan asisten), dan
kelahiran bayi.

Pencegahan infeksi sebelum tindakan (termasuk asepsis dan antisepsis pada


vulva dan vagina luar).

Orientasi posisi cunam: dalam keadaan terkunci dekatkan cunam pada aspektus
genitails ibu dan orientasikan kedudukan cilium setelah terpasang nanti sesuai
dengan kedudukan stoma sagitalis dan ubun-ubun kecil (biparietal terhadap
kepala janin).

Beri pelicin pada daun cunam (minyak steril atau antiseptic jelly).
Dengan memegang gagang cunam kiri oleh tangan kiri seperti memegang
pensil, masukkan daun cunam ke vagina dengan dituntun oleli jari-jari tangan
kanan sampai mencakup bagian lateral kepala bayi. Geser daun cumin dengan
lembut di antara kepala bayi dan jari tengah untuk menempatkan pada posisi

yang tepat disamping kepala (seperti saat melakukan orientasi).

Ulangi manuver yang tiallla untuk sisi lain, gunakan tangan kanan untuk
memasang daun cunam kanan.

Setelah posisi kedua daun cunam sudah seperti saat melakukan orientasi,
rapatkan gagang cunam dan lakukan penguncian. Kesulitan penguncian
merupakart indikasi bahwa pernasangan tidak benar. Kondisi ini merupakan
indikasi untuk dirujluk atau terminasi perabdominam.

Dengan tangan kanan memegang gagang cunam dan tangan kiri memegang
leher cunam, lakukan penarikan (pada puncak his) dengan mengikuti putaran
paksi dalam dan sesuai dengan sumbu jalan lahir. Lakukan traksi ke arah
bawah dan posterior.

Lakukan pemeriksaan di antara kontraksi :


- Denyut jantung janin.
- Aplikasi forceps.

Bila terasa ada tahanan yang berat atau badan ibu ikut

tertarik,

berarti

ada

indikasi adanya disproporsi atau halangan untuk melanjutkan prosedur. Rujuk


atau terminasi perabdominam.

Setelah suboksiput di bawah simfisis, lakukan episiotomi, tahan perineum


dengan tangan kiri dan lanjutkan penarikan ke arah atas sehingga lahirlah dahi,
muka, dagu dan seluruh kepala.
Catatan: Kepala harus turun pada setiap tarikan. Dua atau tiga tarikan sudah
cukup.

Lepaskan kunci gagang cunam, wasukkan dalam wallah dekontaminasi.

Lanjutkan kelahiran bayi dan plasenta seperti pertolongan persalinan biasa.

Eksplorasi jalan lahir dengan menggunakan spekutum Sim's atas dari bawah
umuk melihat robekan pada dinding vagina, porsio, atau tempat lain.

Kegagalan

Ekstraksi cunam dianggap gagal bila:


- Kepala tidak turunpada setiap ekstraksi;
- Janin belum lahir sesudali 3 tarikan atau 30 menit.

Setiap aplikasi cunam harus dianggap sebagai cunam percobaan.

Jika ekstraksi currant gagal, lakukan seksio sesarea.

KOMPLIKASI
Komplikasi Janin

Cedera norvus facial, yang Wasanya segera membaik.

Laserasi dan fraktur, yang butuh observasi.

Fraktur pada muka dan tulang tengkorak membutuhkan pengawasan.

Komplikasi Ibu
Robekan jalan lahir (vagina, serviks) perlu reparasi
Ruptura uteri, perlu laparotomi

PERSALINAN SUNGSANG

Kaji ulang indikasi. Yakinkan bahwa semua kondisi untuk persalinan aman per
vaginam terpenuhi

Berikan dukungan emosional.

Persiapan sebelum tindakan: untuk pasien, penolong (operator dan asisten), dan
kelahiran bayi. Pasang infus.

Pencegahan infeksi sebelum tindakan.

Lakukan sernua prosedur dengan halus.

Melahirkan Bokong dan Kaki

Jika bokong telah mencapai vagina dan peinbukaan lengkap, snails ibu
mengedan bersamaan dengan his.

Jika perineum sangat kaku, lakukan episiotomi.

Biarkan bokong noun sampai skapula kelihatan.

Pegang bokong dengan hati-hati. Jangan lakukan penarikan.

Jika kaki tidak lahir spontan, lahirkan satu kaki dengan jalan:
- tekan belakang lutut;
- genggam tumit dan lahirkan kaki;
- ulangi untuk melahirkan kaki yang lain.

Pegang pinggul bayi tetap jangan tarik dan lahirkan lengan dengna teknik
bracht.
Melahirkan Lengan
Lengan berada di dada bayi
Biarkan lengan lahir spontan satu demi satu. Bila perlu berikan bantuan.
Jika lengan pertama lahir, angkat bokong ke arah perut ibu agar lengan kedua
lahir spontan.
Jika lengan tidak lahir spontan, tempatkan 1 atau 2 jari di siku bayi dan tekan,
agar tangan turun melewati muka bayi.
Lengan lurus ke atas kepala atau terjungkit di belakang kepala (nuchal arm)

Gunakan perasat/cara lovset

Setelah bokong dan kaki bayi lahir, pegang pinggul bayi dengan kedua
tangan; Putar bayi 180 derajat sambil larik ke bawah dengan lengan bayi
yang terjungkit ke arah imainjuk jail tangan yang menjungkit, sehingga
lengan posterior berada di bawah slinfisis (depan);

Bantu melahirkan lengan dengan memasukkan satu (1) atau dila (2) jari
pada lengan alas serta menarik tangan ke bawah melalui dada hingga siku
dalam keadaan fleksi dan lengan depan lahir;

Untuk melahirkan lengan kedua, agar kembali 180 derajat ke arah yang berlawanan ke kiri / ke kanan sambil ditarik sehingga lengan belakang menjadi
lengan depan dan lahir di depan.

Badan bayi tidak dapat diputar


Jika badan bayi tidak dapat diputar, lahirkan bahu belakang/posterior lebih dahulu
dengan jalan;

Pegang pergelangan kaki dan angkat ke atas;

Lahirkan bahu belakang/posterior;

Lahirkan lengan dan tangan;

Pegang pergelangan kaki dan tarik ke bawah;

Lahirkan bahu dan length depan.

Melahirkan Kepala
Melahirkan kepala dengan cara MauriceauVeit dengan jalan:

Masukkan tangan kiri penolong ke dalam vagina.


Letakkan badan bayi di alas tangan kiri sehingga badan bayi seolah-olah
menunggang kuda (untuk penolong kidal letakkan badan bayi di alas tangan
kanan).

Letakkan, jari telunjuk dan jari manis kiri path maksila bayi dan jari tengah di
dalam multi bayi.

Tangan kanan memegang /mencengkram tengkuk bahu bayi, dan jari tengah
mendorong oksipital sehingga kepala menjadi fleksi.

Dengan koordinasi tangan kiridan kanan secara hati-hati tariklah kepala dengan

gerakan memutar sesuai dengan jalan lahir.


Catatan: minta seorang asisten menekan atas tulang pubis ibu sewaktu
melahirkan kepala.
Angkat badan bayi (posisi menunggang kuda) ke atas untuk melahirkan multa,

hidung, dan seluruh kepala.


Kepala yang menyusul

Kosongkan kndung kemih.

Pastikan pembukaan lengkap.

Bungkus bayi dengan kain dan minta asisten memegangnya.

Pasang cunam biparietal dan lahirkan kepala dalam keadaan fleksi.

Jika cunam tidak ada, tekan sitprasimfisis agar kepala fleksi lahir.

BOKONG KAKI (FOOTLING BREECH)


Janin dengan presentasi bokong kaki sebaiknya dilahirkan dengan seksio sesarea.

Persalinan janin bokong kaki pervaginam dibatasi pada:

Dalarn fase akhir persalinan dan pembukaan lengkap;

Bayi prernatur yang tidak diharapkan hidup;

Anak kedua pada persalinan ganda.

Cara persalinan per vaginam:


- Genggam pergelangan kaki;
- Tarik bayi hati-hati dengan memegang pergelangan kaki sampai bokong
kelihatan;
- Lanjutkan persalinan dengan melahirkan bahu dan kepala.

Ekstraksi Bokong
Dikerjakan pada presentasi bokong marni dan bokong sudah turun di dasar
panggul. kala II tidak maju, atau keadaan janin/ibu yang mengharuskan bayi
segera dilahirkan.
Pasang sarung tangan DTT, masukkan 1 tangan ke jalan lahir dan keluarkan
kedua telapak kaki.
Tarik kaki sampai kelihatan dan lahir bokong.

Lanjutkan persalinan dengan melahirkan bahu dan kepala.


Berikan antibiotika profflaksis dosis tunggal setelah bayi lahir:

ampisillin 2 gif.V. DENGAN inetronidazol 500 mg I.V.

ATAU sefazolin l g 1.V. DENGAN metronidazol 500 mg I.V.

Perawatan Pascapersalinan

Isap lendir mulut dan hidung bayi.

Klem dan potong tali pusat.

Berikan oksitosin 10 unit I.M dalam 1 menit sesudah bayi lahir.

Lanjutkan penanganan aktif kala III.

Periksa keadaan pasien dengan baik.

Lakukan penjahit dan robekan serviks atau vagina atau episiotomi.

SEKSIO SESAREA

Kaji ulang indikasi. Pastikan bahwa partus per vaginam tidak mungkin.

Periksa ulang denyut janiung janin dan presentasi janin.

Tindakan pencegahan infeksi.

Kaji ulang prinsip dasar perawatan operatif

Dapat digunakan atiestesia lokal, ketamin, anestesia spinal atau anestesia


umum
Catatan: Pada pasien dengan gagal janiting, jangan lakukan anastesia spinal.

Pasang infus.

Insisi medinna (vertikal) dianjurkan pada:

Perlekatan segmen hawah uterus pada bekas seksio sesarea;

Letak lintang:

Kembar siam;

Tumor (miomauteri) di segmen bawah uterus;

Hipervaskularisasi segmen bawah uterus (pada plasenta previa);

Karsinoma serviks.

Jika kepala bayi telah masuk panggul, lakukan tindakan antisepsis pada vagina.

Membuka Perut

Sayatan perut dapat secara Pfannenstiel atau mediana, dari kulit sampai fasia

Setelah fasia disayat 2-3 cm. insisi fasia diperluas dengan gunting.

Pisahkan muskulus rektus abdominis dengan jari atau gunting.

Buka peritoneum dekat umbilikus dengan jari.

Retraktor dipasang di atas tulang pubis.

Pakailah pinset untuk memegang plika vesiko uterina dan buatlah insisi dengan
gunting ke lateral.

Pisahkan vesika urinariadan dorong ke bawah secara tumpul dengan jari-jari.

Membuka Uterus

Segmen bawah uterus disayat melintang kurang lebih 1 cm dibawah plika


vesiko uterina dengan skalpel + 3 cm.

Insisi diperlebar ke lateral secara tumpul dengna jari tengah.

Jika segmen bawah uterus masih tebal, insisi diperlebar secara tajam dengan
gunting atau pisau.

Melahirkan Bayi dan Plasenta

Selaput ketuban dipecahkan.

Untuk melahirkan bayi, mastikkan 1 tangan ke dalam kavum uteri antara uterus

dan kepala bayi.

Kemudian kepala bayi diluksir ke luarsecara hati-hati agar uterus tidak robek.

Dengan tangan yang lain, sekaligus menekan hati-hati abdomen ibu di di atas
uterus untuk membantu kelahiran kepala.

Jika kepala bayi telah masuk panggul, mintalah seorang asisten untuk mendorongnya ke atas secara hati-hati

Sedot mulut dan hidung bayi, kemudian lahirkan badan dan seluruh tubuh

Berikan oksitosin 10 unit dalam 500 mll cairan I.V. (gamin fisiologik aunt
RingerLaktat) 60 tetes/menit selama 1 - 2 jam.

Jepit dan potong tali pusat, selanjutnya bayi diserahkan kepada asisten.

Berikan antibiotika piofilaksis tunggal intraoperatif, setelah tali pusat dipotong:


- ampisilin 2 g I.V.
- Atau sefazolin I g I.V.

Plasenta dan selaput dilahirkan dengan tarikan hati-hati pada tali pusat.
Eksplorasi ke dalam kavum uteri untuk memastikan tidak ada bagian plasenta
yang tertinggal.

Menutup Insisi Uterus

Jepit tepi luka insisi pada seginen bawah uterus dengan klem Fenster, terutama
pada
kedua Ujung luka. Perhatikan adanya robekan atau cedera pada vesika urinaria.

Dilakukan jahitan hemostasis secara jelajur dengan catgut kromik no 0 atau


poliglikolik

Jika masih ada perdarahan (tali tempat insisi, lakukan jahitan simpul 8.
Tidakdiperlukan jahitan lapis kedua.

Juga tidak perlu menutup plika vesiko uterina.

Menutup Perut

Yakinkan tidak ada perdarahan lagi dari insisi Uterus dan kontraksi uterus baik.

Fasia abdorninalis dijahit jelujur dengan catgut kromik no. 0.

Apahila tidak ada tanda-tanda infeksi, kulit dijahit dengan nilon atau catgut
kromik secara subkutikuler.

MASALAH YANG DAPAT DIALAMI SEWAKTU PEMBEDAHAN


Perdarahan terus Berlanjut

Masase uterus.

Jika terdapat atonia uteri, lanjutkan infus oksitosin, beri agemetrin 0,2 mg I.M.
dan jika ada, prostaglandin.

Transfusi darah jika perlu.

Jika perdarahan tidak dapat diatasi. lakukan ligasi arteri uterina dan arteri

uteroovarika atau histerektomi jika tonia uteri berlanjut.


Bayi Sungsang

Jika bayi presentasi sungsang. lakukan ekstraksi kaki melalui luka insisi,
selanjutnya lahirkan bahu seperti persatinan sungsang

Kepala dilahirkan secara Mauriceau Smellie Veit

Bayi Lintang
Panggung bayi di anterior

Jika punggung bayi berada di anterior, masukkan tangan ke dalam uterus, cara
pagelangan kaki bayi dan keluar hati-hati. Selanjutnya lakukan versi ekstraksi
dengan memutar bayi.

Posisi punggung bayi di posterior

Sebaiknya dilakukan insisi vertikal padauterus.

Lahirkan bayi dengan ekstraksi kaki

Reparasi uterus memerlukan 2 lapis jahitan.

Plasenta Previa

Jika plasenta terdapat di depan, susuri plasenta, dan lahirkan bayi dengan
meluksir kepala atau dengan ekstraksi kaki.

Sesudah bayi lahir, jika plasenta tidak dapal dilepaskan secara manual,
diagnosis adalah plasenta akreta. Sering didapatkan pada lokasi bekas seksio
sesarea. Lakukan histerektomi.

Kasus dengan plasenta previa berisiko tinggi untuk perdarahan postpartum. Jika
ada perdarahan pada bebas implantasi, lakukan jahitan jelujur atau angka 3
dengan catgut kromik atau poliglikolik.

PERAWATAN PASCATINDAKAN

Kaji ulang prinsip perawatan pascabedah.

Jika masih terdapat perdarahan:

lakukan masas euterus;

beri oksitosin 10 unit dalam 500 ml cairan I.V. (garam tisiologik atau Ringer
Laktat) 60 tetes per menit, ergometrin 0,2 mg I.M. dan prostaglandin .

Jika terdapat tanda infeksi, herikan antibiotika kombinasi sampai pasien bebas
demam selama 43 jam:

atnpisilin 2 g I.V. setiap 6 jam

DITANIBAH gentamisin 5 mg/kg berat badan I.V. setiap 24 jam;

ditambah metronidazol 500 mg I.V. setiap 3 jam.

Beri analgesik jika perlu.

KRANIOTOMI DAN KRANIOSENTESIS


Pada keadaan tertentu, misalnya janin mati dan hidrosefalus, tindakan kraniotomi
dan kraniosentesis dilakukan agar persalinan pervaginam dimungkinkan, sehingga
tidak perlu dilakukan seksio sesarca.
Beri ikan dukungan emosional dan penjelasan. Jika perlu, berikan diazepam

I.V. per lahan-lahan. atau lakukan blok pudendal.


KRANIOTOMI

Kaji ulang indikasi.

Persetujuan tindakan medis.

Kaji ulang prinsip dasar perawatan

Presentasi kepala

Beri lubang (irisan silang) pada ubun-ubun besar atau sutura sagitalis dengan
skalpel (seorang asisten membannt menahan kepala bayi dari luar). Pada letak
muka perforasi dilakukan pada kedua mata.

Perlebar lubang palforasi dengan menggunakan perforator Naegele, dan


lakukan pemecahan bagian dalam kepala menjadi bagian-bagian kecil dengan
caramembuka dan menutupperforator. Kemudian keluarkan perforator dalam
keadaan tertutup dengan dilindungi tangan yang lain.

Lakukan pengurangan volume kepala dengan menggunakan eunam Fenster


melalui insisi.

Jepit pinggiran kalvaria (lepi luka insisi) dengan cunam Muzcaux (auto kokher)
kemudian lakukan traksi dengan arah sesuai dengan sumbu jalan lahir

Kepala akan mengecil dalam proses turunnya kepala.

Setelah kelahiran lakukan penjahitan robekan serviks atau vagina

Pasang kateter dauer 3 haridan pastikan tidak ada cedera vesika urinaria,
dan ukur jumlah urin/hari

Kepala Menyusul pada Presentasi Bokong

Insisi pada basis kranii.

Masukkan kraniotom melalui insisi hingga mencapai tulang oksiput dan

lakukan perforasi

Traksi kepala sehingga kepala mengecil.

KRANIOSENTESIS

Kaji ulang indikasi.

Kaji ulang prinsip umum dan bersihkan vagina dengan antiseptik.

Jika perlu lakukan episiotomi.

Pembukaan Lengkap

Pasang spekulum atas dan bawah sehingga kulit kepala janin terlihat jelas dan
jepit kulit kepala dengan cumuli Willet atau Muzeaux.

Tusukkan jarum spinal ukuran 16/18 dan aspirasi cairan serebro-spinatis


sampai kepala bayi mengempis dan kelahiran normal bisa terjadi.

Belum Ada Pembukaan

Palpasi posisi dan lokasi kepala.

Tindakan antisepsis daerah supra simfisis.

Tusukan jarum spinal ukuran 16/18 dan aspirasi cairan serebro -spinalis sampai
kepala bayi mengempis dan kelahiran normal bisa terjadi

Kepala yang Menyusul pada Persalinan Sungsang

Setelah tubuh bayi lahir, tusukan jarum fungsi spinal melalui serviks dan
foramenmagnum di belakang kepala.

Aspirasi cairan cerebro-spinalis sampai kepala bayi mengempis. Lahirkan


kepala dengan cara Mauriceau Sinellie Veit.

Kraniosentesis Sewaktu Seksio Sesarea

Lakukahfungsi kepala hidrosefalus melalui insisi seksio.

Aspirasi cairan serebrospinal.

Lahirkan bayi dan plasenia seperti dalam prosedur seksio sesarea.

Perawatan Pascatindakan
Periksa apakah ada cedera, jika ada lakukan reparasi.

Pasang kateter dauer dan pastikan tidak ada cedera vesika urinaria.
Perhatikan masukan cairan dan jumlah urin.

PLASENTA MANUAL
Plasenta manual dilakukan bila plasenta tidak lahir setelah1 jam bayi lahir disertai
manajemen aktif kala III.

Kaji ulang indikasi.

Persetujuan tindakan medis.

Kaji ulang prinsip dasar perawatan dan pasang infus.

Berikan sedativa dan analigetika (misalnya, petidin dan diazepam I.V. jangan
dicampur dalam semprit yang sama) atau ketamin.

Berikan antibiotika dosis tunggal (profilaksis).

Pasang sarung tangna DTT.

Jepit tali pusat dengan kokher dan tegangkan sejajar lantai.

Masukan tangan secara obstetrik dengan menelusuri bagian bawah tali pusat.

Tangan sebelah menyusuri tali pusat masuk ke dalam kavum uteri. Sementara
tangan yang sebelah lagi menahan fundus uteri, sekaligus untuk mencegah
uteri.

Dengan bagian lateral jari-jari tangan dicari insersi pinggir plasenta.

Buka tangan obstetrik menjadi seperti memberi salam, jari-jari dirapatkan.

Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta yang paling bawah.

Gerakkan tangan kanan ke kiri dan kanan sambil bergeser ke kranial sehingga
semua permukaan maternal plasenta dapat dilepaskan.

Jika plasenta tidak dapat dilepaskan dari permukaan uterus, kemungkinan


plasenta akreta, dan siapkan laparotomi untuk histerektomi supravaginal.

Pegang plasenta dan keluarkan tangan bersama plasenta.


Pindahkan tangan luar ke suprasimfisis untuk menahan uterus saat plasenta
dikeluarkan.

Eksplorasi untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang masih melekat
padadinding uterus.

Beri oksitosin 10 IU dalant 500 ml cairan I.V. (garam fisiologik atau Ringer
Laktat) 60 tetes/menit dan masase uterus untuk merangsang kontraksi.

Jika masih berdarah banyak, beri ergotnetrin 0,2 mg I.M. atau prostaglandin.

Periksa apakah plasenta lengkap atau tidak. Jika tidak lengkap, lakukan
eksplorasike dalam kavum uteri.

Periksa dan perbaiki robekan serviks, vagina, atau episiotomi.

PERBAIKAN ROBEKAN SERVIKS

Tindakan a dan antiseptis pada vagina dan serviks.


Berikan dukungan emosional dan penjelasan.
Pada umumnya tidak diperlukan anestesia. Jika robekan luas atau jauh sampai
ke atas, berikan petidin dan diazepam I.V pelan-pelan atau ketamin.

Asisten menahan fundus.


Bibir serviks dijepit dengan klem ovum, pindhakan bergantian searah jarum
jam sehingga semua bagian serviks dapat diperiksa. Pada bagian yang terdapat
robekan, tinggalkan 2 klem di antara robekan.
Jahit robekan serviks dengan catgut kromik 0 secara jelujur mulai dari apeks.

Jika sulit dicapai dan diikat, apeks dapa dicoba dijepit dengna klem ovum atau
klem arteri dan dipertahankan 4 jam, kemudian
- Sesudah 4 jam klem dilepas sebagian saja
- Sesudah 4 jam berikutnya dilepas seluruhnya

Jika robekan meluas sampai melewati puncak vagina, lakukan laparotomi

PERBAIKAN ROBEKAN VAGINA DAN PERINEUM


Ada 4 tingkat robekan yang dapat teijadi pada persalinan:

Robekan tingkat I yang mengenai mukosa vagina dan jaringan ikat.

Robekan tingkat II mengenai alat-alat di bawahnya.

Robekan tiligkat III mengenai m. stingfer ani.

Robekan tingkat IV mengenai mukosa rektum.

PERBAIKAN ROBEKAN TINGKAT I DAN II


Umumnya robekan tingkat I dapat sembuh sendiri, tidak perlu dijahit.

Kaji ulang prinsip dasar perawatan.

Berikan dukungan emosional.

Pastikan tidak ada alergi terhadap:anti obat-obatan sejenis.

Periksa vagina, perineum, dan serviks.

Jika robekan parkjang dan dalam, periksa apakah robekan itu tingkat III atau

atau IV

Masukkan jari yang bersarung tangan ke anus;

Identifikasi stingier;

Rasakan tonus dari sfingter:

Ganti sarung tangan.

Jika sfingter kena. lihat reparasi robekan tingkat III atau IV.

Jika sfingter utuh, teruskan reparasi.

A dan antisepsis di daerah robekan.

Masukkan jarum pada ujung atau pojok laserasi atau dan dorong masuk
sepanjang luka mengikuti garis tempat jahitnya akan masuk ataukeluar.

Aspirasikan dan kemudian suntikkan sekitar 10 ml lignokain 0,5% di bawah


mukosavagina, di bawah kulit perineum, dan pada otot-otot perineum.
Catatan: Aspirasi untuk meyakinkan suntikan lignokain tidak masuk dalam
pembuluh darah. lido ada darab pada aspirasi, pindahkan jarum ke tempat lain.
Aspirasi kembali kejang dan kematian dapat terjadi jika lignokain diberikan
lewat pembuluh darah (I.V).

Tunggu 2 menit agar anestesia efektif.

Jahitan Mukosa Vagina

Jahit mukosa vagina secara jelujur dengan catgut kromik 2-0.

mulai dari sekitar 1 cm di atas puncak luka di dalam vagina sampai

padabatas vagina.

Jahitan Otot Perineum


Lanjutkan jahitan pada daerah otot perineum sampai ujung luka pada perineum
secara jelujur dengan catgut kromik 2-0.
Lihat ke dalam luka untuk mengetatui letak ototnya.
Penting sekali untuk menjahit otot ke otot, agar tidak ada rongga di antaranya.
Jahitan Kulit

Carilah lapisan subkutikuler persis di bawah lapisan kulit.

Lanjutkan dengan jahitan sublaitikuler kembali ke arah baths vagina, akhiri


dengan simpul mati pada bagian dalam vagina.

Untuk membuat simpul mati benar-benar kuat, buatlah 11/2 simpul mati.
Potong kedua ujung benang. dan hanya disisakan masing-masing 1 cm.

Jika robekan cukup luas dan dalam, lakukan colok rektal, dan pastikan tidak
ada bagian rektum terjahit.

ROBEKAN TINGKAT III DAN IV


Jika robekan tingkat III tidak diperbaiki dengan baik, pasien dapat menderita
gangguan defekasi dan flatus. Jika robekan rektum tidak diperbaiki, dapat terjadi
infeksi dan fistula rektovaginal.

Kaji ulang prinsip dasar perawatan.

Lakukan blok pudendal atau ketainin.

Minta asisten menahan fundus dan melakukan masase uterus.

Periksa vagina, serviks, perineum dan rektum.

Cek apakah stingier robek:

jari bersarung tangan masukkan ke dalam anus;

identifikasi sfingter ani;

periksa permukaan rektum.

Ganti sarung tangan.

A/antisepsis pada daerah robekan.

Pastikan tidak ada alergi terhadap lignokain atau obat-obatan sejenis.

Masukkan jarum pada ujung atau pojok laserasi atau luka dan dorong masuk
sepanjang luka mengikuti garis tempat jarum jahitnya akan masuk atau keluar.

Aspirasi dan kemudian suntikkan sekitar 10 ml lignokain 0,5% di bawah


mitkosa vagina, di bawah kulil perineum, dan pada otot-otot perineum.
Catatan: Aspirasi untuk meyakinkan suntikati lignokain tidak masuk dalam
pembuluh darah. Kejang dan kematian dapat terjadi jika lignokain diberikan
lewat pembuluh darah (I.V.).

Tunggu 2 menit agar anestesia efektif.

Tautkan mukosa rektum dengan benang kromik 3-0 atau 4-0 secara interuptus
dengan 0,5 cm antara jahitan.

Jahitlah otot-otot dengan rapi lapis demi lapis dengan jahitan satu-satu;

Jahitan Sfingter Ani

Jepit otot sfingter dengan klem Allis atau pinset.

Tautkan ujung otot sfingter ani dengan 2-3 jahitan benang kromik 2-0 angka 8
secara interuptus

Larutan antiseptik pada daerah robekan

Reparasi mukosa vagina, otot perineum, dan kulit.

PERAWATAN PASCATINDAKAN

Apabila terjadi robekan tingkat IV (robekan sampai intikosa rektum), berikan


antibiotika prolilaksis dosis tunggal:
- ampisilin 500 mg per oral,
- DAN metronidazol 500 mg per oral.

Observasi tanda-tanda infeksi.

Jangan lakukan pemeriksaan rektal atau enema selama 2 minggu.

Berikan pelembut feses selama seminggu per oral.

PENANGANAN KASUS TERLANTAR


Padakasus terlantar (robekan lebih dari 12 jam) kemungkinan infeksi sulit
dihindari.

Pada robekan perineum tingkat I dan II. robekan dibiarkan terbuka.

Pada robekan perineum tingkat III dan IV, lakukan jahitan situasi dengan 2 - 3
jahitan. Penjahitan otot, mukosa vagina, dan kulit Perineum dilakukan sekitar 6
hari kemudian

PENANGANAN KOMPLIKASI

Jika terdapat hematatoma, darah dikeluarkan. Jika tidak ada tanda infeksi dan
perdarahan sudah berhenti, lakukan penjahitan

Jika terdapat infeksi. buka dan drain luka :

Jika infeksi ringan, untuk perlu antibiotika:

Jika infeksi berat, tidak sampai pada jaringan dalam berikan:

amplsilin 4 x 500 mg per oral selama 5 hari,

DAN metionidatol 3 x 400 mg per oral selama 5 hari,

REPOSISI INVERSIO UTERI

Kaji ulang indikasi.

Kaji ulang prinsip dasar perawatan dan pasang

Berikan petidin dan diasepain I.V. dalam semprit berbeda seem perlahan-lahan,
atau anestesia umum jika diperlukan.

Basuh uterus dengan human antiseptik dan tutup dengan kain basah (dengan

NaCI hangat) menjelang operasi.


PENCEGAHAN INVERSI SEBELUM TINDAKAN
Koreksi Manual

Pasang sarung tangan DTT.

Pegang uterus pada daerah insersi tali pusat dan masukkan kernbali melalui
serviks. Gunakan tangan lain untuk membantu menahan uterus dari dinding
abdomen. Jika plasentas masih belum terlepas, lakukan placenta manual
setelah tindakan koreksi.

Jika koreksi manual tidak berhasil, lakukan koreksi hidrostatik.

Koreksi hidrostatik
Pasien dalam posisi trendelenburg dengan kepala lebih rendah sekitar 50 cm
dari perincian
Siapkan sistem bilas yuang sudah disindfeksi, berupa selang 2 m berujung
penyemprotan berlubang lebar. Selang disambung dengan tabung berisi air
hangat 3 5 l (atau Nacl atau infus lain dan dipasang setinggi 2 m.
Identifikasi forniks posterior
Pasang ujung selang douche pada forniks posterior sampai menutup laba
sekitar ujung selang dengan tangan
Guyur air dengna leluasa agar menekan uterus ke posisi semula
Koreksi manual dengan Anestesia Umum
Jika koreksi hidrostatik gagal, upayakan reposisi dalam anastesia umum.
Halotan merupakan pilihan untuk relaksasi uterus
Koreksi Kombinasi Abdominal-vaginal

Kaji ulang indikasi.

Kaji ulang prinsip dasar perawatan operatif.

Lakukan insisi dinding abdomen sampai peritoneum, dan singkirkan usus


dengan kasa. Tampak uterus berupa lekukan.

Dengan jari tangan lakukan dikaasi cincin konstriksi serviks.

Pasang tenakulum melalui cincin serviks pada fundus.

Lakukan tarikanioaksi ringan pada fundus sementara asisten melaktikan


koreksimanual melalui vagina.

Jika tindakan traksi gagal, lakukan insisi cincin konstriksi serviks di bagian
belakang untuk menghindari risiko cedera kandung kemih, ulang tindakan
dilalasi, pemasangan tenakulum dan traksi fundus.

Jika koreksi berhasil, tutup dinding abdomen setelah tnelakukan penjahitan


hemostasis dan dipastikan tidak ada perdarahan.

Jika ada infeksi pasang drain karet.

PERBAIKAN ROBEKAN DINDING UTERUS

Kaji ulang indikasi.

Kaji ulang prinsip-prinsip pembedahan dan pasang infus.

Berikan antibiotika dosis tunggal


- ampisillin 2 g I.V.;
- ATAU sefazolin 1 g I.V.

Buka perut
- Lakukan insisi vertikal pada linea alba dari umbiliktis sampai pubis;
- Lakukan insisi vertikal 2-3 cm pada fasia, lanjutkan insisi ke atas dan ke
bawah dengan gunting;
- Pisahkan intiskulus rektus abdominis kiri dan kanan dengan tangan atau
tungin;
- Buka peritoneum dekat umbilikus dengan tangan. Jaga agar jangan melukai
kandung kemih;
- Periksa rongga abdomen dan robekan uterus dan keluarkan darah beku;
- Pasang retraktor kandung kemih.

Lahirkan bayi dan plasenta.

Berikan oksitosin 10 unit dalam 500 ml cairan infus (NaCI atau Ringer Laktat):
- mulai 60 items per menit sampai uterus berkontraksi,
- turunkan menjadi 20 tetes per menit setelah kontraksi uterus baik.

Angkat uterus untuk melihat seluruh luka uterus.

Periksa bagian depan dan belakang uterus.

Klem perdarahan dengan ring forceps.

Pisahkan kandung kemih dari segmen bawah rahim uterus secara tumpul atau

tajam.

Lakukan penjahitan robekan uterus.

Robekan mencapai serviks dan vagina


Jika ada robekan ke serviks dan vagina., dorong resika urinaria ke bawah, 2 cm
lateral dari robekan.
Jika mungkin buatlah jahitan 1 cm di bawah robekan serviks.
Robekan ke Lateral mencapai Vasa Uterina
Buatlah jahitan hemostasis.
Indentifikasi ureter sebelum menjahit
Robekan dengan Hematoma pada Ligamentum Kardinal
Buatlah hemotasis (jepit dan jahit).

Buka lembar depanm ligamentum kardinal.


Berikan drain karet jika perlu.
Buat jahitan hemostasis pada arteri uterin.
PENJAHITAN ROBEKAN UTERUS

Jahit luka secara jelujur dengan catgut kromik nomor 0. Jika perdarahan masih
terus berlangsung atau robekan pada insisi terdahulu, lakukan jahitan lapis
kedua.

Jika ibu menginginkan sterilisasi tuba, lakukan pada saat operasi ini.

Jika luka terlalu luas dan sulit diperbaiki lakukan histerektomi.

Kontrol perdarahan dengan klemarteri dan ikat. Jika perdarahan dalam, ikat
secara angka 8.

Pasang drain abdomen.

Yakinkan tidak ada perdarahan. Keluarkan darah beku dengan kasa bertangkai.

Periksa laserasi kandung kemih. Lakukan reparasi jika ada laserasi.

Tutup fasia dengan jahitan jelujur dengan kromik no. 0 atau poliglikolik.
Catatan: Tidak perlu menutup plika dan peritoneum.

Jika ada tanda-tanda infeksi letakkan kain kasa pada subkutan dan jahit dengan
benang catgut secara longgar. Kulit dijahit setelah inteksi hiking.

Jika tidak ada tanda-tanda infeksi, tutup kulit dengan jahitan matras venikal
memakai nilon 3-0 atau sutera

Tutup luka dengan pembalut steril

PENJAHITAN LUKA KANDUNG KEMIH


Klem kedua ujung luka dan rentangkan. Periksa sampai di mana robekan luka
kandung kemih. Tentukan apakah luka dekat trigonum (daerah uretra atau
ureter).

Bebaskan kandung keinih dari segmen bawah dalam secara tajam atau tumpul.

Bebaskan 2 cm sekeliling luka kandung kemih.

Lakukan penjahitan dengan kromik 3-0 sebanyak 2 lapis:


lapisan pertama menjahit mukosa dan otot;
lapisan kedua menutupi lapisan pertama dengan luka melipat ke dalam;

yakinkan jahitan tidak mengenai daerah trigunum.

Tes kemungkinan bocor:


- isikan kandung kemih dengan larutan Karam atau air yang steril melalui
kateter.
-

jika bocor buka jahitan dan jahit kembali, kemudian tes ulang.

Jika ada kemungkinan luka pada uretra atau ureter: konsulkan untuk
pemeriksaan pielogram.

Pasang kateter selama 7 hari sampai urin jernih.

PERAWATAN PASCATINDAKAN
Kaji ulang prinsip perawatan pascaoperatif.

Jika ada tanda-tanda infeksi atau demam pada ibu, berikan kombinasi
antibiotika sampai ibu bebas demam selama 48 jam dengan:

ampisillin 2 g I.V. setiap 6 jam;

DITAMBAH gentarnisin I.V. 5 mg/kg berat badan setiap S jam;

DITAMBAH dengan metronidazol 500 mg I.V. setiap S jam.

Berikan analgetika yang cukup.

Jika tidak ada tanda-tanda infeksi, cabut drain setelah 48 jam.

Jika tidak dilakukan tubektomi pada reparasi uterus. berikan kontrasepsi lain.

KOMPRESI BIMANUAL DAN AORTA


Kompresi bimanual dilakukan jika terjadi atonia uterus pasca persalinan. Dalam
kasus ini uterus tidak berkontraksi dengan penatalaksanaan aktif kala III dalam
waktu 15 detik setelah plasenta lahir.

Kaji ulang indikasi.

Kaji ulang prinsip dasar perawatan.

Berikan dukungan emosional.

Cegah infeksi sebelum tindakan.

Kosongkan kandung kemih, pastikan perdarahan karena amnia uteri.

Segera lakukan kommesi binianual internal selama 5 menit jika perdarahan


karena atonia
- Pastikan plasenta lahir leugkap.

KOMPRESI BIMANUAL INTERNAL

Masukkan tangan secara obstetrik ke dalam lumen vagina, ubah menjadi


kepalan, damletakkan dataran punggung jari telunjuk hingga kelingking pada
forniks anterior dan dorong segmen bawah uterus ke kranio-anterior.

Upayakan tangan agar mencakup bagian belakang korpus uteri sebanyak


mungkin.

Lakukan kompresi uterus dengan mendekatkan telapak tangan luar dan kepalan
tangan dalam.

Tetap berikan tekanan sampai perdarahan berhenti dan uterus berkontraksi


Jika uterus sudah mutat berkontraksi:
- pertahankan posisi tersebut hingga uterus berkontraksi dengan baik, dan
secara perlahan lepaskan tangan Anda,
- lanjutkan memantau ibu secara ketat.

Jika uterus tidak betkontraksi, setelah 5 menit:


- lakukan kompresi bimanual eksternal oleh asisten/anggota keluarga.
Sementara itu lakukan:
- berikan ergometrin 0,2 mg I.M.,
- pastikan infus dengan 20 unit oksitosin dalam 1 1 cairan I.V. (NaCI atau
Ringer Laktat) 60 tetes per menit berjalan baik dan metil ergometrin 0,4 mg,
tambahkan misoprostol jika diperlukan.

KOMPRESI BIMANUAL EKSTERNAL

Lakukan kompresi uterus dengan cara menekan dinding belakang uterus dan
korpus uteri di antara genggaman ibu jari dan keempat jari lain, serta dinding
depan uterus dengan telapak tangan dan tiga jari yang lain.

Pertahankan posisi tersebut hingga uterus berkontraksi dengan baik jika


perdarahanpervaginam berhenti.

Lanjutkan ke langkah berikut jika perdarahan belum berhenti.

KOMPRESI AORTA ABDOMINALIS

Raba pulsasi arteri femoralis pada lipat paha.

Kepalkan tangan kiri dan tekankan bagian punggung jari telunjuk hingga
kelingking pada umbilikus ke arah kolumna vertebralis dengan arah tegak
lurus.

Dengan tangan yang lain, raba pulsasi anti femoralis untuk mengetahui cukup
tidaknya kompresi:
jika pulsasi masih teraba, artinya tekanan kompresi masih belum cukup,
jika kepalan tangan mencapai aorta abdominalis,maka pulsasi arteri
femoralis akan berkurang/terhenti.

Jika perdarahan pervaginam berhenti. pertahankan posisi tersebut dan pemijatan


uterus (dengan hantuan asisten) hingga uterus berkontraksi dengan baik.

Jika perdarahan masih berlanjut:

lakukan ligasi arteri uterina dan utero-ovarika

jika perdarahan masih terus banyak, lakukan histerektorni supravaginal

Perhatikan

Jika perdarahan berhenti tetapi uterus tidak berkontraksi dengan baik, usahakan
pemberian preparat prostaglandin.

Jika kontraksi membaik tetapi perdarahan berlanjut, lakukan laparotomi untuk


ligasi arteri uterin.

Jika kompresi sulit dilakukan secara terus menerus, pasang tampon padat uterm
vaginal, pasang gurita ibu secara kencang, dan segera lakukan rujukan.

Jika perdarahan berhenti dan uterus berkontraksi dengan baik kompresi baru
dilepaskan.

PROSEDUR ALTERNATIF

Pada kondisi di maim rujukan tidak memungkinkan dan semna upaya


menghentikan perdarahan tidak berhasil maka alternatif yang mungkin dapat
dilakukan adalah pemasangan tampon utem-vaginal.

Pasang spekulum, jepit hibir depan porsio dengan klem ovum, minta asisten
untuk menahan fundus uteri dengan telapak tangan.

Pegang klem ovum dengan tangan kiri, masukkan ujung kasa gulung ke dalam
uterus hingga mencapai fundus.

Lakukan berulang kali hingga selurult kavutti uteri dan vagina dipentthi kasa
(lakukan penyamhungan jika diperlukan). Sisihkan 15 cm kasa bagian ujung
untuk ekstraksi kemudian. Pasang kateter menetapjika kasa di dalam vagina
menekan uretra.

Lakukan kompresi lugar dengan jalan memasang gurita kencang pada perut
ibu.

Segera keluarkan tampon apabila:

perdarahan masih telah sangat berkurang,

pastikan pemberian infus dan uterotonika,

berikan antibiolika kombinasi (ampisilin 3 x 1 g dan metronidazol 3 x 500


mg),

tampon tidak boleh terpasang lebih dari 24 jam.

HISTEREKTOMI PASCAPERSALINAN
Histerektomi pascapersalinan dapat dilakukan secara supravaginal atau total.
Histerektotni total mungkin diperlukan pada kasus robekan segmen bawah yang
meluas sampai serviks atau perdarahan plasenta previa.

Kaji ulang indikasi.

Kaji ulang prinsip penanganan operatif dan mulailah infus I.V.

Berikan antibiotika profilaksis dosis tunggal.

ampisillin 2 g I.V.,
ATAU; sefazolin 1 g I.V

Jika terdapat pertlarahan setelah persalinan pervaginam yang tidak terkontrol,


ingatlah

bahwa kecepatan merupakan hal yang penting. Untuk membuka

daerah abdomen:
Buat insisi vertikal di garis tengah di bawah umbilikus sampai rambut pubis,
menembus kulit sampai ke fasia;
Buat insisi 2-3 cm vertikal pada fasia;
Pegang ujung fasia dengan forceps dan perluas insisi ke atas dan ke bawah
dengan gunting;
Gunakan jari atau gunting untuk memisahkan otot rektus (otot dinding
abdomen);
Gunakan jari untuk membuat pembukaan pada peritoneum di dekat
umbilikus;
Gunakan gunting untuk memperluas insisi ke atas dan ke bawah untuk dapat
melihat uterus;
Gunakan gunting untuk memisahkan lapisan dan membuka bagian bawah
peritoneum secara hati-hati untuk menghindari perlukaan pada kandung
kemih;
Letakkan retraktor abdomen yang dapat menahan sendiri di atas tulang
pubis.

Jika persalinan dilakukan dengan seksio sesarea, klem tempat perdarahan


sepanjang insisi uterus.
- Pada kasus perdarahan hebat, mintalah asisten untuk menekan aorta pada
abdomen bawah dengan jarinya. Tindakan ini akan mengurangi perdarahan
intraperitoneum.
- Perluas insisi pada kulit jika diperlukan.

HISTEREKTOMI SUBTOTAL (SUPRAVAGINAL)


Memisahkan adneksa dari Uterus
Angkat uterus ke luar abdomen dan secara perlahan tarik untuk menjaga traksi.

Klem dua kali dan potong ligamentum rotundum dengan gunting. Klem dan
potong pedikel, tetapi ikat setelah arteri uterina diamankan untuk menghemat
waktu.
Dari ujung potongan ligamentum rotundum, buka sisi depan. Lakukan insisi
sampai
- satu titik tempat peritoneum kandung kemih bersatu dengan permukaan
uterus bagian bawah di garis tengah; atau
- peritoneum yang diinsisi pada seksio sesarea.
Gunakan dua jari untuk mendorong bagian belakang ligamentum rotundum ke
depan, dibawah tuba dan ovarium, di dekat pinggir uterus. Buatlah lubang
seukuran jari pada ligamentum rotundum dengan menggunakan gunting.
Lakukan klem dua dali dan potong tuba, ligamentum ovarium dan ligamentum
rotundum melalui lubang pada ligamentum rotundum.
Pisahkan sisi belakang ligamentum rotundum ke arah bawah, ke arah
ligamentum sakrouterina, dengan menggunakan gunting.
Membebaskan kandung kemih
Raih ujung flap kandung kemih forseps atau dengan klem kecil. Gunakan jari
atau gunting, pisahkan kandung kemih ke bawah dengan segmen bawah uterus.
Arahkan tekanan ke bawah tetapi ke dalam menuju serviks dan segmen bawah
uterus.

Mengidentifikasi dan Mengikat Pembuluh darah Uterus


Cari lokasi arteri dan vena uterina pada setiap sisi uterus. Rasakan perbatasan
uterus dengan serviks.
Lakukan klem dua kali pada pembuluh darah uterus dengan sudut 90 o pada
setiap sisi serviks. Potong dan lakukan pengikatan dua kali dengan catgut
kromik 0 atau poliglikolik.
Periksa dengan seksama untuk mencari adanya perdarahan. Jika arteri uterina
diikat dengan baik, perdarahan akan berhenti dan uterus terlihat pucat.
Kembali ke pedikel ligamentum rotundum dan ligamentum tuboovarika yang
diklem dan ligasi dengan vatgut kromik 0 (atau poliglikolik).
HISTEREKTOMI TOTAL

Pada histerektomi total, diperlukan langkah tambahan sebagai berikut :

Dorong kandung kemih ke bawah untuk membebaskan ujung atas vagina.


Buka dinding posterior dan ligamentum rotundum.
Klem, ligasi dan potong ligamentum sakoruterina.
Klem, ligai dan potong ligamentum kardinal yang di dalamnya terdapat cabang
desenden pembuluh darah uterus. Ini merupakan langkah penting pada operasi.
- Pegang ligamentum secara vertikal dengan klem yang ujungnya besar
(seperti kokher).
- Letakkan klem 5 mm lateral dan serviks dan potong ligamentum sedekat
mungkin dengan serviks. Meninggalkan tunggul medial dan klem untuk
keamanan.
- Jika serviks masih panjang, ulangi langkah dua atau tiga kali sesuai dengan

kebutuhan.
Potong vagina sedekat mungkin dengan serviks, lakukan hemostasis pada titik
perdarahan.
Lakukan penjahitan hemostatik yang mengikuktkan ligamentum rotundum,
kardinal dan sakrouterina.
Lakukan penjahitan jelujur pada ujung vagina untuk menghentikan perdarahan.
Tutup abdomen (seperti diatas) setelah memasang drain pada ruang ekstra
peritoneum di dekat tunggul serviks.

RESUSITASI BAYI BARU LAHIR

Mengantisipasi bayi lahir dengan depresi/asfiksia.

Meninjau riwayat antepartum

Meninjau riwayat intrapartum

Persiapan alat dan obat.

Mencegah bayi baru lahir kehilangan panas dan mengeringkan tubuh bayi.

Bayi diletakkan di bawah alat pemancar panas. tubuh dan kepala bayi
dikeringkan dengan menggunakan handuk atau selimut hangat (apabila
diperlukan pengisapan mekonium, dianjurkan untuk menunda pengeringan
tubuh yaitu setelah mekonium diisap dari trakhea).

Untuk bayi sangat kecil (berat badan kurang dari 1500 gram) atau
apabilaruangan, sangat dingin dianjurkan menutup bayi dengan sehelai
plastik tipis yang tembus pandang.

Meletakkan bayi dalam posisi yang benar.

Bayi diletakkan telentang di alas yang datar, kepala lurus dan leher sedikit
tengadah.

Letakkan handuk atau selimut atau kain yang digulung di bawah bahu bayi,
sehingga bahu terangkat 2-3 cm.

Membersihkan jalan napas.


Kepala bayi dimiringkan agar cairan berkumpul di mulut dan tidak di
farings bagian belakang.
Mulut dibersihkan terlebih dahulu dengan maksud cairan tidak teraspirasi
dan isapan pada hidung akan menimbulkan pernapasan megap-megap
(gasping).
Apahila mekonium kental dan bayi mengalami depresi, harus dilakukan
pengisapan dari trakea dengan menggunakan pia endotrakheal (pipa ET).

Menilai bayi.
Penilaian bayi dilakukan berdasarkan 3 gejala yang sangat penting bagi
kelanjutan hidup bayi.
Usaha bernapas.
Frekuensi denyut jantung.
Warna kulit.

Menilai usaha bernapas.


Apabila bayi bernapas spontan dan memadai, dilanjutkan dengan menilai
frekuensi denyut jantung.
Apabila bayi mengalami apnu atau sukar bernapas (megap-megap atau
gasping) dilakukan rangsangan taktil dengan menepuk-nepuk atau
menyentil telapak kaki bayi atau menggosok-gosok punggung bayi sambil
memberikan oksigen berkonsentrasi 100% berkecepatan paling sedikit
5liter/menit.
Apabila setelah beberapa detik tidak terjadi reaksi atas rangsangan taktil,
mulailah pemberian VTP (Ventilasi Tekanan Positif).

Menilai frekuensi denyut jantung bayi.

Penilaian frekuensi denyut jantung bayi akan dilakukan apabila pernapasan


spontan normal teratur.

Frekuensi denyut jantung dihitung dengan cara menghitung jumlah denyut


jantung dalam 6 detik dikalikan 10, sehingga diperoleh frekuensi jantung

per menit.

Apabila frekuensi denyut jantung bayi lebih dari 100/menit dan bayi
bernapas spontan teratur, dilanjutkan dengan menilai warna kulit.

Apabila frekuensi denyut jantung bayi lebih dari 100/menit, walaupun bayi
bernapas spontan, menjadi indikasi untuk dilakukan VTP.

Apabila detak jantung tidak dapat dideteksi, epinefrin harus segera siberikan
pada saat yang sama VTP dan kompresi dada dimulai.

Menilai warna kulit.

Penilaian warna kulit baru dilakukan apabila bayi bernapas spontan dan
frekuensi denyut jantung bayi lebih dari 100/menit.

Apabila terdapat sianosis sentral, oksigen tetap diberikan.

Apabila terdapat sianosis perifer, oksigen tidak perlu diberikan. Sianosis


perifer disebabkan oleh peredaran darah yang masih lamban, antara lain
karena suhu ruangan bersalin yang dingin, bukan karena hipoksemia.

Ventilasi tekanan positif (VTP).

VTP dilakukan dengan sungkup dan balon resusitasi atau dengan sungkup
dan tabung.

Kecepatan ventilasi 40-60 kali/menit.

Tekanan ventilasi untuk napas pertama 30-40 cm H2O, setelah napas


pertama membutuhkan tekanan 15-20 cm H2O.

Suara napas didengar dengan menggunakan stetoskop. Adanya suara napas


di kedua paru-paru merupakan indikasi bahwa bayi mendapat ventilasi yang
benar.

Apabila dengan tahapan di atas dada bayi masih tetap kurang berkembang,
sebaiknya dilakukan inkubasi endotrakheal (ET) dan ventilasi pipa ETbalon.

Menilai frekuensi denyut jantung bayi pada saat VTP.

Frekuensi denyut jantung bayi dinilai sosial selesai melakukan ventilasi 1520 detik pertama.

Frekuensi denyut jantung bayi dibagi dalam 3 kategori, yaitu:


Lebih dari 100 kali/menit.
Antara 60-100 kali/menit.

Kurang dari 6O kali/menit.

Apabila frekuensi denyut jantung bayi > 100 kali/menit.


Bayi mulai bernapas spontan. Dilakukan rangsangan untuk untuk
merangsang frekuensi dan dalamnya pernapasan. VTP dapat dihentikan dan
oksigen anus bebas diberikan. Kalau wajah bayi tampak merah, oksigen
dapat dikurangi secara bertahap.
Apabila pernapasan spontan dan adekuat tidak terjadi, VTP dilanjutkan!

Apabila frekuensi denyut jantung bayi antara 60-100 kali/menit.


VTP dilanjutkan dengan memantau frekuensi denyut jantung bayi.
Apabila frekuensi denyut jantung bayi <60 kali/menit dimulai kompresi
dada bayi!

Apabila frekuensi denyut jantung bayi < 60 kali/menit.


VTP dilanjutkan. Periksa ventilasi apakah adekuat dan oksigen yang
diberikan benar 100%. Segera dimulai kompresi dada bayi.

Memasang kateter orogastrik.

VTP dengan balon dan sungkup lebih lama dari 2 menit harus dipasang
kateter orogastrik dan tetap terpasang selama ventilasi karena selama
ventilasi udara dari orofarings dapat mast& ke dalam esofagus dan lambung.

Alat yang dipakai ialah pipa orogastrik nomor SF Semprit 20 ml.

Kompresi dada.

Kompresi dilakukan di 1/3 bagian bawah tulang dada di bawah garis khayal
yang menghubungkan kedua puling susu bayi, hati-hati jangan menekan
prosesus sifoideus.

Rasio kompresi dada dan ventilasi dalam 1 menit ialah 90 kompresi dada
dan 30 ventilasi (rasio 3 : 1). Dengan demikian kompresi dada dilakukan 3
kali dalam 1 detik dan 1/2 detik untuk ventilasi 1 kali.

Memberikan obat-obatan.

Obat-obat diberikan apabila :

frekuensi jantung bayi tetap di bawah 60 per menit walaupun telah


dilakukan ventilasi adekuat (dengan oksigen 100%) dan kompresi dada
untuk paling sedikit 30 detik atau

frekuensi jantung nol.

Dosis obat ditlasarkan pada berat bayi (ditaksir).

Vena umbilikalis ialah tempat yang dipilih untuk pemberian obat

Epinefrin ialan obat pertama yang diberikan. Dosis 0,1 - 0,3 ml/kg untuk
larutan

berkadar 1 : 10.000 diberikan intravena (IV atau melalui pipa

endotrakheal).

Volume expanders digunakan untuk menanggulangi efek hipovolemia.


Dosis 10

mkl/kg diberikan itravena (IV) dengan kecepatan pemberian

selama waktu 5 sampai 10 menit


Keputusan untuk menghentikan resusitasi kardiopulmonal
Resusitasi kardiopulmonal dihentikan apabila setelah 30 menit tindakan
resusitansi dilakukan tidak ada respons dari bayi.

BAB III
PENCATATAN DAN PELAPORAN
Sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan neonatal merupakan bagian
dari pencatatan dan pelaporan program KIA (kesehatan ibu dan anak) yaitu
berdasarkan konsep wilayah kerja puskesmas. Puskesmas melalui tenaga bidan di
desa melaksanakan pendataan sasaran neonatus, memantau seluruh neonatus
diwilayahnya untuk dijangkau pelayanan kesehatan, melalui instrumen pencatatan
register kohort bayi. Asuhan neonatus yang telah dicatat register kohort bayi
kemudian direkapitulasi dan dilaporkan setiap bulan secara berjenjang ke
Puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi dan
Kementerian Kesehatan. Semua tenaga kesehatan yang melakukan praktik
pelayanan kesehatan neonatus termasuk swasta melaporkan hasil pelayanan ke
puskesmas yang mewilayahi, untuk institusi rumah sakit melaporkan hasil
pelayanan neonatus ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang mewilayahinya.

Pencatatan asuhan neonatus sangat penting karena dapat membantu membuat


keputusan klinik ataupun keputusan manajemen program, memungkinkan untuk
terus menerus memperhatikan asuhan yang diberikan kepada seluruh sasaran bayi
sejak kelahiran, setelah lahir sampai satu bulan pertama kehidupannya. Jika
asuhan tidak dicatat atau dilaporkan, akan menyebabkan under reported cakupan
pelayanan.
1. INSTRUMEN PENCATATAN
1. Pencatatan Untuk Tenaga Kesehatan
Hasil pendataan sasaran atau infornasi sasaran bayi lahir hidup, lahir mati dan
kematian neonatal direkam pada Register Kohort Ibu dan Register Kohort Bayi.
Sasaran bayi baru lahir dan neonatal yang sudah mendapat pelayanan dicatat pada
Formulir Bayi Baru Lahir (umur 0-6 jam), Formulir Pencatatan Bayi Muda (umur
6-28 hari) dan Kartu Anak jika tersedia. Selanjutnya hasil pelayanan dimasukkan
ke dalam Register Kohort Ibu dan Register Kohort Bayi.
2. Rekam Medis Neonatus

Partograf
o

Informasi yang dicatat meliputi:

kondisi perinatal: denyut jantung janin, turunnya kepala


selama proses persalinan

kondisi dan asuhan bayi baru lahir: berat badan, panjang,


tindakan

Formulir Bayi Baru Lahir


o

Formulir bayi baru lahir digunakan melengkapi partograf, untuk


mencatat asuhan bayi sejak dilahirkan sampai umur 6 jam setelah
lahir.

Informasi yang dicatat meliputi

identitas,

keadaan bayi saat lahir,

tanda vital,

hasil pemeriksaan lengkap

asuhan IMD, salep mata, vitamin K1, imunisasi Hepatitis


B-0.

Formulir Pencacatan Bayi Muda Umur Kurang dari 2 Bulan


(MTBM)
o

Formulir pencatatan bayi muda digunakan pada waktu kunjungan


neonatal atau setiap pemeriksaan neonatus. Formulir ini juga
digunakan untuk melengkapi formulir bayi baru lahir, jika terdapat
kelainan dari hasil pemeriksaan.

Informasi yang dicatatkan pada formulir pencatatan bayi muda:

Identitas

Hasil anamnesis dan pemeriksaan fisis

Hasil klasifikasi penyakit

Pemberian tindakan/pengobatan/ pra rujukan

Kunjungan ulang

3. Instrumen Pencatatan Neonatus


Pencatatan untuk tenaga kesehatan
Register kohort adalah instrumen pencatatan sesuai konsep wilayah puskesmas,
register kohort bayi merupakan sumber data untuk pelaporan cakupan kunjungan
neonatal, cakupan neonatal dengan komplikasi yang ditangani, cakupan imunisasi
atau cakupan pelayanan kesehatan neonatal lainnya sesuai data yang tersedia.

Register Kohort Ibu


o

Informasi yang dicatat meliputi:

Kelahiran

Keterangan hidup atau mati

Register Kohort Bayi


o

Informasi yang dicatat meliputi:

Identitas bayi dan orangtua

Waktu lahir

Asuhan saat lahir sampai 6 jam

Asuhan saat kunjungan neonatal

Rujukan bayi baru lahir

Kematian bayi baru lahir

Mutasi bayi baru lahir ke luar wilayah

Pencatatan untuk keluarga


Buku KIA ditetapkan sebagai sumber informasi serta satu-satunya alat pencatatan
yang dimiliki oleh ibu hamil sampai balita melalui SK Menkes No. 284/ 2004
tentang Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Buku KIA merupakan alat
penghubung antara tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan
neonatus yang berkesinambungan.
Pengadaan dan pendistribusian Buku KIA dilakukan oleh pemerintah dengan
peran serta dari LSM, organisasi profesi, dan Swasta.
Informasi yang dicatat meliputi:

Kondisi dan asuhan bayi saat lahir

Keterangan lahir

Terdapat 2 lembar surat keterangan kelahiran, 1 lembar melekat di Buku


KIA untuk arsip Ibu dan 1 lembar untuk mengurus akte kelahiran.
o

Hasil pemeriksaan neonatus : KN1, KN2 dan KN3

Catatan penyakit dan masalah perkembangan

Data yang tercatat pada Register Kohort Ibu dan Register Kohort Bayi diteliti/
divalidasi dan diolah sebelum direkapitulasi ke dalam format pelaporan SP2TP
SIMPUS, untuk diteruskan berjenjang ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,
Provinsi dan Kementerian Kesehatan.
Laporan bulanan (LB 3)
Format laporan LB 3 merupakan bagian dari SP2TP yang berisi cakupan
pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk neonatus, yang dilaporkan
berdasarkan wilayah kerja puskesmas. Sumber data cakupan pelayanan kesehatan
neonatus didapatkan dari register kohort bayi.
Menurut kebijakan program, terdapat indikator kesehatan neonatal yang perlu
dilaporkan secara berjenjang mulai dari tingkat desa/ kelurahan sampai ke tingkat
pusat, yaitu:
Laporan Kematian
Instrumen yang digunakan untuk melaporkan kasus kematian neonatus:

Formulir

Pemberitahuan

Kematian

Perinatal-Neonatal

Individual/Formulir IKP
Formulir ini diisi setiap kali terjadi kematian perinatal-neonatal oleh bidan
di desa, BPS, RB, puskesmas, dan RS. Formulir yang diisi oleh bidan di
desa, BPS, RB dan puskesmas dikirimkan ke puskesmas di tingkat
kecamatan. Sedangkan formulir yang diisi di RS dikirimkan ke Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.

Formulir

daftar

kematian

perinatal-neonatal

di

tingkat

puskesmas/formulir DKP

Formulir ini diisi setiap kali ada laporan pemberitahuan kematian


perinatal-neonatal oleh Bidan Koordinator atau Bidan yang ditunjuk.
Instrumen yang digunakan untuk menelusuri kasus kematian neonatus:

Formulir

Otopsi

Verbal

Kematian

Perinatal-neonatal

(OVP)

Formulir ini diisi untuk setiap kematian perinatal-neonatal yang


terlaporkan di tingkat kabupaten. Pengisian dilakukan oleh Bidan
Koordinator/Bidan yang ditunjuk dari Puskesmas Kecamatan tempat
domisili kasus yang meninggal. Formulir ini digunakan untuk kepentingan
verbal otopsi bagi kematian perinatal-neonatal yang terjadi di komunitas.
Selain itu, formulir ini juga digunakan untuk mendapatkan informasi nonmedis di seputar kematian perinatal-neonatal, baik untuk kematian
perinatal-neonatal di masyarakat maupun di fasilitas kesehatan.

Formulir

Rekam

Medik

Kematian

Perinatal-neonatal

(RMP)

Formulir ini diisi untuk setiap kematian perinatal-neonatal yang terjadi di


fasilitas kesehatan. Untuk kematian yang terjadi di bidan di desa, BPS,
RB, dan Puskesmas formulir akan diisi oleh Bidan Koordinator/Bidan
yang ditunjuk dari Puskesmas Kecamatan tempat domisili kasus yang
meninggal. Sedangkan untuk kasus yang meninggal di RS, formulir akan
diisi oleh dokter penanggung jawab perawatan dengan diketahui oleh
direktur RS. Untuk kasus yang meninggal di perjalanan dan sampai RS
sebagai DOA, maka formulir RMP tetap diisi oleh Petugas RS.

Formulir Rekam Medik Kematian Perinatal-neonatal Perantara


(RMPP)
Formulir ini diisi untuk mendapatkan informasi layanan kesehatan pada
kasus kematian yang pernah mendapat perawatan di fasilitas kesehatan
lain sebelum dirawat di fasilitas kesehatan tempat bayi meninggal.

Instrumen laporan kematian tersebut merupakan sumber data yang digunakan


dalam melaksanakan rangkaian kegiatan Audit Maternal Perinatal (AMP).
Pengertian audit maternal perinatal-neonatal tingkat kabupaten adalah serangkaian
kegiatan penelusuran sebab kematian atau kesakitan ibu, perinatal, dan neonatal
guna mencegah kesakitan atau kematian serupa di masa yang akan datang.
Kematian neonatal adalah kematian bayi lahir hidup yang kemudian meninggal
sebelum 28 hari kehidupannya, dapat dipilah menjadi 2 kelompok, yaitu:

Kematian neonatal dini: kematian bayi yang terjadi pada 7 hari pertama
kehidupannya

Kematian neonatal lanjut: kematian bayi yang terjadi pada masa 8-28 hari
kehidupannya

Pelaksanaan AMP terdiri dari tujuh langkah berurutan yang melibatkan seluruh
komponen Tim AMP kab/kota, langkah 1 dilaksanakan oleh puskesmas dan
fasilitas kesehatan lainnya, langkah 2 s/ 7 dilaksanakan oleh tim AMP kab/kota.
Langkah 1 : Identifikasi Kasus Kematian dan Pelaporan Data Kematian
Langkah 2 : Registrasi dan anonimasi
Langkah 3 : Pemilihan Kasus dan Pengkajinya, serta Penjadwalan Pengkajian
Langkah 4 : Penggandaan dan Pengiriman Bahan Kajian
Langkah 5 : Pertemuan Pengkajian Kasus
Langkah 6 : Pendataan dan Pengolahan Hasil Kajian
Langkah 7 : Pemanfaatan Hasil Kajian
Formulir data kematian yang sudah diisi oleh Bidan Koordinator atau oleh
petugas yang ditunjuk oleh Pimpinan Fasilitas Pelayanan tidak perlu diarsipkan
oleh pihak pengisi/ pengirim untuk meminimalkan risiko kegagalan anonimasi
(rahasia). Dokumentasi data pasien di fasilitas pelayanan adalah rekam medik
pasien, dan bukan formulir data kematian yang diperuntukkan bagi keperluan
AMP. Formulir yang telah diisi dengan lengkap sebelum dikirim harus diketahui
(dibubuhi tanda tangan mengetahui) oleh Kepala Puskesmas (untuk kejadian

kematian di masyarakat) atau Pimpinan Fasiltas Pelayanan (bila kejadian


kematian di fasilitas pelayanan kesehatan) sebagai penanggungjawab pengiriman
berkas. Berkas dikirim kepada Penanggungjawab Tim AMP melalui Koordinator
Tim Manajemen AMP Kabupaten/Kota dalam amplop tertutup dengan label
RAHASIA pada sisi kanan atas amplopnya. Pengiriman dapat dilakukan oleh
petugas yang bersangkutan atau oleh kurir yang ditunjuk oleh pihak
penanggungjawab pengiriman. Pengirim berkas berhak mendapatkan bukti
penerimaan berkas dari Sekretariat Tim Manajemen AMP Kabupaten/Kota.
Data Kesehatan Ibu dan Anak
Ibu hamil yang melakukan pelayanan antenatal selalu melakukan pencatatan
terhadap kondisi ibu dan kehamilannya. Pencatatan ini merupakan salah satu
bentuk monitoring ibu hamil. Alat yang digunakan untuk mencatat data ibu hamil
ini melalui buku KIA, kartu ibu hamil dan kohort kehamilan.
Buku KIA mencatat tentang kondisi ibu hamil, seperti keluhan, tekanan darah,
berat badan, umur kehamilan, tinggi fundus, hari taksiran persalinan, hasil lab.,
dan riwayat kehamilan sebelumnya. Dalam buku ini juga dilengkapi pernyataan
ibu hamil untuk menyambut persalinan terkait identitas ibu, permintaan penolong
persalinan, transportasi, metode KB yang dipilih dan pendonor darah. Selain buku
KIA yang dibawa oleh ibu, terdapat kartu ibu hamil yang disimpan bidan. Kartu
ini berfungsi seperti rekam medis. Kartu ibu hamil berisi identitas ibu dan suami
atau keluarga yang bertanggung jawab, riwayat perkawinan, riwayat kehamilan,
persalinan dan KB, riwayat kehamilan sekarang, pemeriksaan, hasil laboratorium,
kesimpulan atau diagnosa, pemberian obat, penyuluhan dan rencana persalinan
(Kementrian Kesehatan, 2010). Kesehatan dan kondisi ibu hamil sangat penting
untuk diketahui keluarga dan tetangga sekitar agar dapat memberi bantuan cepat
dan tepat jika ada kejadian tidak diinginkan. Untuk mengantisipasi hal ini,
biasanya dirumah ibu hamil dipasang stiker berisi identitas ibu hamil, perkiraan
persalinan, transportasi untuk bersalin sampai pendonor darah. Kegiatan yang
difasilitasi oleh bidan desa ini dinamakan Program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K).

BAB IV
MONITORING DAN EVALUASI

Kegiatan memonitoring dan evaluasi merupakan bagian penting dalam


melaksanakan suatu program atau kegiatan. Kegiatan ini untuk melihat
pelaksanaan suatu program mulai dari proses awal sampai akhir kegiatan dengan
melakukan monitoring dan evaluasi dapat diketahui apakah program atau kegiatan
behasil / tidak yang dilakukan berdasarkan indikator-indikator yang telah
ditetapkan.
Untuk melaksanakan monitoring perlu perlu adanya koordinator, sehingga
pelaksanaan dapat dipertanggung jawabkan, dan dapat diketahui bila ada
penyimpangan.
Hasil monitoring dilaporkan dan bila ada penyimpangan di tindak lanjuti,
sebaliknya bila ada peningkatan perlu diberikan penghargaan. Sehingga
monitoring dan evaluasi berkaitan erat dengan sistem penghargaan dan sanksi.
Alat memonitoring dan evaluasi yang perlu di persiapakan adalah:
Daftar tilik untuk memonitoring tenaga, sarana dan prasyarana, standart
operating prosedur (SOP) dan dengan tindakan.

BAB V
KESIMPULAN

Suatu asuhan kebidanan dikatakan berhasil apabila selain ibunya juga bayi
dan keluarganya yang diberikan pelayanan berada dalam kondisi yang
optimal. Memberikan pertolongan dengan segera, aman dan bersih adalah
bagian asensial dari asuhan bayi baru lahir. Sebagian besar kesakitan dan
kematian bayi baru lahir disebabkan oleh asfiksia, hipotermi dan atau infeksi.
Kesakitan dan kematian bayi baru lahir dapat dicegah bila asfiksia segera
dikenali dan ditatalaksana secara adekuat, dibarengi pula dengan pencegahan
hipotermi dan infeksi.
Dengan penyusunan pedoman ini diharapkan para pembaca khususnya
para petugas kesehatan terutama bidan dapat berperan serta dalam pertolongan
pertama kegawatdaruratan obstetrik dan neonatus. Sehingga pada akhirnya
dapat menurunkan angka kesakitan dan angka kematian pada ibu dan bayi.