Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS KEDOKTERAN KELUARGA

HASIL KUNJUNGAN RUMAH DENGAN SEORANG ANGGOTA


KELUARGA YANG MENDERITA HIPERTENSI

Diajukan guna memenuhi tugas


Kepaniteraan Senior Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang

Disusun oleh :
Rizki Adimas Bagus

22010112220194

Mega Yuni Ari Susanti 2201011222200


Nusiriska Prisaria

2201011222203

Rizky Perdana Putra

2201011222205

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT KEDOKTERAN PENCEGAHAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi
masalah kesehatan penting di seluruh dunia karena prevalensinya yang tinggi dan
terus meningkat serta adanya hubungan dengan penyakit kardiovaskuler, stroke,
retinopati, dan penyakit ginjal.1 Hipertensi juga menjadi faktor risiko ketiga
terbesar penyebab kematian dini. The Third Nacional Health and Nutrition
Examination Survey mengungkapkan bahwa hipertensi mampu meningkatkan
risiko penyakit jantung koroner sebesar 12% dan meningkatkan risiko stroke
sebesar 24%.2
Kini prevalensi hipertensi terus meningkat sejalan dengan perubahan
gaya hidup seperti merokok, obesitas, inaktivitas fisik, dan stress psikososial.
Hampir di setiap negara, hipertensi menduduki peringkat pertama sebagai
penyakit yang paling sering dijumpai. 3 Menurut laporan pertemuan WHO di
Jenewa tahun 2002 didapatkan prevalensi penyakit hipertensi 15-37% dari
populasi penduduk dewasa di dunia. Setengah dari populasi penduduk dunia yang
berusia lebih dari 60 tahun menderita hipertensi. Angka Proportional Mortality
Rate akibat hipertensi di seluruh dunia adalah 13% atau sekitar 7,1 juta kematian. 4
Selain itu pada tahun 2001, WHO juga melaporkan penelitian di Bangladesh dan
India dengan hasil prevalensi hipertensi 65% dari jumlah penduduknya, dengan
prevalensi tertinggi pada penduduk di daerah perkotaan. Sesuai dengan data WHO
bulan September 2011, disebutkan bahwa hipertensi menyebabkan 8 juta kematian
per tahun di seluruh dunia dan 1,5 juta kematian per tahun di wilayah Asia
Tenggara.5
Sekitar 30% penduduk dunia tidak terdiagnosa adanya hipertensi
(underdiagnosed condition). Hal ini disebabkan tidak adanya gejala atau dengan
gejala ringan bagi mereka yang menderita hipertensi. Sedangkan, hipertensi ini
sudah dipastikan dapat merusak organ tubuh, seperti jantung (70% penderita

hipertensi akan merusak jantung), ginjal, otak, mata serta organ tubuh lainnya.
Sehingga, hipertensi disebut sebagai silent killer.
Pada pembinaan kasus kali ini akan dikemukakan mengenai penyakit,
hipertensi,

dan

faktor-faktor

yang

dapat

mempengaruhi

keberhasilan

penatalaksanaannya baik dari segi genetik, perilaku, lingkungan dan pelayanan


kesehatan. Mengingat sifat pengobatan penyakit ini yang harus terus dilakukan
seumur hidup, maka peran serta keluarga akan sangat berpengaruh baik dalam
menjamin kelangsungan terapi maupun pengontrolan kondisi penyakit kearah
yang lebih baik sehingga perburukan ataupun komplikasi dapat dicegah. Oleh
karena itu diperlukan suatu pendekatan dokter keluarga agar penatalaksaan yang
diberikan dapat optimal. Pembinaan ini penting dilakukan untuk mengetahui
pendekatan kedokteran keluarga yang baik dan dapat optimal terutama pada kasus
yang bersangkutan.

1.2 TUJUAN
Tujuan dari penyusunan laporan ini adalah untuk mengetahui penatalaksanaan
hipertensi dengan pendekatan kedokteran keluarga.
1.3 MANFAAT
Penyusunan laporan kasus ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran
bagi dokter muda agar dapat melaksanakan praktek kedokteran keluarga secara
langsung kepada pasien dengan Hipertensi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada
populasi lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160
mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg.6
Menurut WHO tekanan darah dianggap normal bila sistoliknya 120-140
mmHg dan diastoliknya 80-90 mmHg sedangkan dikatakan Hipertensi bila
lebih dari 140/90 mmHg dan diantara nilai tersebut dikatakan normal tinggi.
Batasan ini berlaku bagi orang dewasa diatas 18 tahun.3
Hipertensi

adalah

suatu

gangguan

pada

pembuluh

darah

yang

mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi, yang dibawa oleh darah, terhambat
sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya. Tubuh akan bereaksi lapar,
yang mengakibatkan jantung harus bekerja lebih keras untuk memenuhi
kebutuhan tersebut. Bila kondisi tersebut berlangsung lama dan menetap,
timbulah gejala yang disebut sebagai penyakit tekanan darah tinggi.7
Hipertensi merupakan suatu keadaan terjadinya peningkatan tekanan
darah yang memberi gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga
timbul kerusakan lebih berat seperti Stroke (terjadi pada otak dan berdampak
pada kematian yang tinggi), Penyakit Jantung Koroner (terjadi pada
kerusakan pembuluh darah jantung) serta penyempitan ventrikel kiri / bilik
kiri (terjadi pada otot jantung). Selain penyakit tersebut dapat pula
menyebabkan Gagal Ginjal, Penyakit Pembuluh lain, Diabetes Mellitus dan
lain-lain.7,8

2.2 ETIOLOGI
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik.
Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan
tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya
hipertensi:9
a. Genetik: Respon nerologi terhadap stres atau kelainan ekskresi atau
transport Na.
b. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan
tekanan darah meningkat.
c. Stres Lingkungan.
d. Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada orang tua serta
pelebaran pembuluh darah.
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan,
yaitu : (Mansjoer, A. 2001)10
1. Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui
penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar
95% kasus. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti genetik,
lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem reninangiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca
intraselular, dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko, seperti
obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia.
2. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat sekitar 5%
kasus. Penyebab spesifiknya diketahui, seperti gangguan estrogen,
penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hiperaldosterinisme
primer, dan sindrom Cushing, feokromositoma, koarktasio aorta,
hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan, dan lain-lain.
2.3 EPIDEMIOLOGI
Di negara berkembang, sekitar 80 persen penduduk negara mengidap
hipertensi. Hipertensi diperkirakan menjadi penyebab kematian sekitar 7,1
juta orang di seluruh dunia atau sekitar 13 % dari total kematian. The
American

Heart

Association

memperkirakan

tekanan

darah

tinggi

mempengaruhi sekitar satu dari tiga orang dewasa di Amerika Serikat yang
berjumlah 73 juta orang. Tekanan darah tinggi juga diperkirakan
mempengaruhi sekitar dua juta remaja Amerika dan anak-anak. Hipertensi
jelas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama.3
Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2004, hipertensi
menempati urutan ketiga sebagai penyakit yang paling sering diderita oleh
pasien rawat jalan. Pada tahun 2006, hipertensi menempati urutan kedua
penyakit yang paling sering diderita pasien oleh pasien rawat jalan Indonesia
(4,67%) setelah ISPA (9,32%). Berdasarkan penelitian tahun 1975 diketahui
bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 7,1% dengan 6,6% pada
wanita dan 7,6% pada pria. Sedangkan pada survei faktor risiko penyakit
kardiovaskuler, prevalensi hipertensi di Indonesia meningkat menjadi 13,6%
pada pria dan 16% pada wanita
Di Indonesia berdasarkan hasil survei INA-MONICA (Multinational
Monitoring of Trends and Determinants In Cardiovascular Disease) tahun
1988 angka hipertensi mencapai 14,9%, jumlah penderita hipertensi terus
meningkat hingga 16,9% pada survei 5 tahun kemudian. Gaya hidup modern
telah membuat hipertensi menjadi masalah besar. Di Indonesia saja prevalensi
hipertensi cukup tinggi 7% sampai 22%. Bahkan berdasarkan hasil penelitian,
penderita akan berujung pada penyakit jantung 75%, stroke 15%, dan gagal
ginjal 10%.
2.4 PATOFISIOLOGI
Jantung memompa darah melalui pembuluh darah arteri. Dari pembuluh
darah yang besar ke pembuluh darah yang kecil yang disebut arteriol. Arteriol
membagi darah ke pembuluh darah yang lebih kecil lagi yang disebut kapiler.
Tugas kapiler-kapiler ini adalah memberi organ-organ makanan dan oksigen.
Darah akan kembali ke jantung melalui pembuluh darah vena.
Normalnya, pembuluh darah akan mengembang (menerima darah) dan
mengecil (meneruskan darah) melalui sistem persarafan yang kompleks.
Namun peristiwa ini sering kali tidak berjalan mulus. Banyak keadaan

(Penyakit atau kelainan) yang bisa membuat pembuluh darah tidak membesar
atau tidak elastis lagi akibatnya akan terjadi kekurangan darah pada organ
tertentu. Jika suatu organ kekurangan oksigen dan sari makanan, maka suatu
proses umpan balik akan terjadi.
Organ tersebut akan mengirim tanda ke otak bahwa membutuhkan
darah lebih banyak. Reaksinya adalah tekanan darah ditingkatkan sayangnya
peningkatan tekanan darah ini juga terjadi pada organ-organ lainnya yang
tidak mengirim tanda tersebut. Dan yang paling beresiko tinggi pada ginjal
dan otak. Tekanan darah yang tinggi pada ginjal dan otak mengakibatkan
kerusakan kedua organ tersebut.5
2.5 KLASIFIKASI
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibedakan menjadi dua golongan
yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer atau
hipertensi esensial terjadi karena peningkatan persisten tekanan arteri akibat
ketidakteraturan mekanisme kontrol homeostatik normal, dapat juga disebut
hipertensi idiopatik. Hipertensi ini mencakup sekitar 95% kasus. Banyak faktor
yang mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan
saraf simpatis, sistem renin-angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan
Na dan Ca intraseluler, dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko seperti
obesitas dan merokok.10,11
Hipertensi sekunder atau hipertensi renal merupakan hipertensi yang
penyebabnya diketahui dan terjadi sekitar 10% dari kasus-kasus hipertensi.
Hampir semua hipertensi sekunder berhubungan dengan ganggaun sekresi
hormon dan fungsi ginjal. Penyebab spesifik hipertensi sekunder antara lain
penggunaan

estrogen,

penyakit

ginjal,

hipertensi

vaskular

renal,

hiperaldesteronisme primer, sindroma Cushing, feokromositoma, dan hipertensi


yang berhubungan dengan kehamilan. Umumnya hipertensi sekunder dapat
disembuhkan dengan penatalaksanaan penyebabnya secara tepat.11 Hipertensi
diastolik (diastolic hypertension) merupakan peningkatan tekanan diastolik
tanpa diikuti peningkatan tekanan sistolik, biasanya ditemukan pada anak-anak
dan dewasa muda. Hipertensi diastolik terjadi apabila pembuluh darah kecil

menyempit secara tidak normal, sehingga memperbesar tahanan terhadap aliran


darah yang melaluinya dan meningkatkan tekanan diastoliknya. Tekanan darah
diastolik berkaitan dengan tekanan arteri bila jantung berada dalam keadaan
relaksasi di antara dua denyutan. Hipertensi campuran merupakan peningkatan
pada tekanan sistolik dan diastolik.13
Berdasarkan bentuknya, hipertensi dibedakan menjadi tiga golongan yaitu
hipertensi sistolik, hipertensi diastolik, dan hipertensi campuran. Hipertensi
sistolik (isolated systolic hypertension) merupakan peningkatan tekanan
sistolik tanpa diikuti peningkatan tekanan diastolik dan umumnya ditemukan
pada usia lanjut. Tekanan sistolik berkaitan dengan tingginya tekanan pada
arteri apabila jantung berkontraksi (denyut jantung). Tekanan sistolik
merupakan tekanan maksimum dalam arteri dan tercermin pada hasil
pembacaan tekanan darah sebagai tekanan atas yang nilainya lebih besar.12,13
Klasifikasi hipertensi menurut gejala dibedakan menjadi dua yaitu
hipertensi benigna dan hipertensi maligna. Hipertensi benigna merupakan
keadaan hipertensi yang tidak menimbulkan gejala-gejala, biasanya ditemukan
saat penderita cek up. Hipertensi maligna merupakan keadaan hipertensi yang
membahayakan biasanya disertai keadaan kegawatan sebagai akibat komplikasi
pada organ-organ seperti otak, jantung dan ginjal.13
Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on
Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure
(JNC VII), klasifikasi hipertensi pada orang dewasa dapat dibagi menjadi
kelompok normal, prehipertensi, hipertensi derajat I dan derajat II. (Tabel 2.)13

Tabel 1. Klasifikasi hipertensi menurut JNC VII


Kategori
Normal

Sistol (mmHg)
<120

Dan / atau
Dan

Diastol (mmHg)
<80

Pre hipertensi
Hipertensi tahap 1
Hipertensi tahap 2

120-139
140-159
160

Atau
Atau
Atau

80-89
90-99
100

2.6.
FAKTOR RISIKO (Mansjoer, A. 2001)
Faktor risiko hipertensi dibedakan atas:
1. Factor yang tidak dapat diubah atau dikontrol
a. Usia
b. Jenis kelamin
c. Riwayat keluarga
d. Genetik
2. Faktor yang dapat diubah/dikontrol
a. Merokok
b. Konsumsi garam/makanan asin
c. Konsumsi lemak jenuh
d. Konsumsi minuman beralkohol
e. Kurangnya aktivitas/olahraga
2.7.

MANISFESTASI KLINIS
Pemeriksaan fisik dapat pula tidak dijumpai kelainan apapun selain

peninggian tekanan darah yang merupakan satu-satunya gejala. Individu penderita


hipertensi kadang tidak menampakkan gejala sampai bertahun-tahun. Apabila
terdapat gejala, maka gejala tersebut menunjukkan adanya kerusakan vaskuler,
dengan manifestasi khas sesuai sistem organ yang divaskularisasi oleh pembuluh
darah bersangkutan.10
Elizabeth J. Corwin menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis
timbul setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun. Manifestasi klinis yang
timbul dapat berupa nyeri kepala saat terjaga yang kadang-kadang disertai mual
dan muntah akibat peningkatan tekanan darah intrakranium, penglihatan kabur
akibat kerusakan retina, ayunan langkah tidak mantap karena kerusakan susunan
saraf, nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) karena peningkatan aliran
darah ginjal dan filtrasi glomerolus, edema dependen akibat peningkatan tekanan
kapiler. Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau
serangan iskemik transien yang bermanifestasi sebagai paralisis sementara pada
satu sisi atau hemiplegia atau gangguan tajam penglihatan.

Gejala lain yang sering ditemukan adalah epistaksis, mudah marah, telinga
berdengung, rasa berat di tengkuk, sukar tidur, dan mata berkunang-kunang.10
2.8.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai
terapi bertujuan menentukan adanya kerusakan organ dan faktor risiko lain
atau mencari penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urinalisis, darah
perifer lengkap, kimia darah (kalium, natrium, kreatinin), gula darah
puasa, kolesterol total, kolesterol HDL, dan EKG. 10
Sebagai tambahan dapat dilakukan pemeriksaan lain, seperti
klirens kreatinin, protein urin 24 jam, asam urat, kolesterol LDL, TSH, dan
ekokardiografi. 10

2.9.

DIAGNOSIS
Diagnosis hipertensi tidak bisa ditegakkan dalam satu kali
pengukuran, hanya dapat ditetapkan setelah dua kali atau lebih pengukuran
pada kunjungan yang berbeda, kecuali terdapat kenaikan yang tinggi atau
gejala-gejala klinis. Pengukuran dilakukan dalam keadaan pasien duduk
bersandar, setelah beristirahat selama 5 menit, dengan ukuran pembungkus
lengan yang sesuai (80% menutupi lengan).10
Anamnesis yang dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama
menderitanya, riwayat dan gejala-gejala penyakit yang berkaitan seperti
penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit serebrovaskular, dan
lainnya. Apakah terdapat riwayat penyakit dalam keluarga, gejala-gejala
yang berkaitan dengan penyebab hipertensi, perubahan aktivitas/kebiasaan
(seperti merokok), konsumsi makananm riwayat obat-obatan bebas, hasil
dan efek samping terapi hipertensi sebelumnya bila ada, dan faktor
psikososial lingkungan (keluarga, pekerjaan, dan sebagainya). (Mansjoer,
A. 2001)
Pada pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dua
kali atau lebih dengan jarak 2 menit, kemudian diperiksa ulang pada
lengan kolateral. Kemudian dilakukan funduskopi untuk mengetahui

10

adanya retinopati hipertensif, pemeriksaan leher untuk mwncari bising


karotid, pembesaran vena, atau kelenjar tiroid. Mencari tanda-tanda
gangguan irama dan denyut jantung, pembesaran ukuran, bising, derap,
dan bunyi jantung ketiga atau empat. Paru diperiksa untuk mencari ronki
dan bronkospasme. Pemeriksaan abdomen dilakukan untuk mencari
adanya massa, pembesaran ginjal, dan pulsasi aorta yang abnormal. Pada
ekstremitas dapat ditemukan pulsasi arteri perifer yang menghilang,
edema, dan bising. Dilakukan juga pemeriksaan neurologi. 10
2.10. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan morbiditas
dan mortalitas kardiovaskular, mencegah kerusakan organ, dan mencapai
target tekanan darah < 130/80 mmHg dan 140/90 mmHg untuk individu
berisiko tinggi dengan diabetes atau gagal ginjal.12
Berdasarkan kelompok risiko dikategorikan menjadi :
A. Pasien dengan tekanan darah perbatasan, atau tingkat 1, 2, atau 3,
tanpa gejala penyakit kardiovaskular, kerusakan organ, atau faktor
risiko lainnya. Bila dengan modifikasi gaya hidup tekanan darah belum
dapat diturunkan, maka harus diberikan obat antihipertensi.
B. Pasien tanpa penyakit kardiovaskular atau kerusakan organ lainnya,
tapi memiliki satu atau lebih faktor risiko, namun bukan diabetes
melitus. Jika terdapat beberapa faktor risiko maka harus diberikan obat
hipertensi.
C. Pasien dengan gejala klinis kardiovaskular atau kerusakan organ yang
jelas. Kerusakan organ atau penyakit kardiovaskular : penyakit jantung
(hipertrofi ventrikel kiri, infark miokard, angina pektoris, gagal
jantung, riwayat revaskularisasi koroner, stroke, transient ischemic
attack, neftropati, penyakit arteri perifer, dan retinopati. (Mansjoer, A.
2001)
Penatalaksanaan berdasarkan klasifikasi risiko :
Tabel 2. PenatalaksanaanHipertensi
Tekanan

Kelompok Risiko

Kelompok Risiko

Kelompok Risiko

Darah
130-139/85-89

A
Modifikasi gaya

B
Modifikasi gaya

C
Dengan obat

11

140-159/90-99
160/100

hidup
Modifikasi gaya

hidup
Modifikasi gaya

hidup
Dengan obat

hidup
Dengan obat

Dengan obat
Dengan obat

1. Modifikasi gaya hidup : (Mansjoer, A. 2001)


a. Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan (IMT 27)
b. Membatasi alkohol
c. Meningkatkan aktivitas fisik aerobik (30-45 menit/hari)
d. Mengurangi asupan natrium (<100 mmol Na/ 2,4g Na/ 6g
NaCl/hari)
e. Mempertahankan asupan kalium yang adekuat (90mmol/hari)
f. Mempertahankan asupan kalsium dan magnesium yang adekuat
g. Berhenti merokok dan mengurangi asupan lemak jenuh dan
kolesterol dalam makanan

2. Pilihan Obat :
a. Hipertensi tanpa komplikasi : diuretik, beta blocker
b. Indikasi tertentu : ACE-Inhibitor, penghambat reseptor angitensin
II, alfa blocker, alfa-beta-blocker, beta blocker, antagonis Ca,
diuretik
c. Indikasi yang sesuai :
i. Diabetes melitus tipe 1 dengan proteinuria : ACE-Inhibitor
ii. Gagal Jantung : ACE-Inhibitor, diuretik
iii. Hipertensi sitolik terisolasi : diuretik, antagonis Ca
dihidropiridin kerja lama
iv. Infark miokard : beta blocker (non ISA), ACE-Inhibitor
(dengan disfungsi sitolik)
Tabel.3 Penanganan Hipertensi dan pemilihan obat
Klasifikasi
tekanan
darah
Normal
Pre-

Tekanan

Tekanan

darah

darah

Modifikasi

Tanpa indikasi

Dengan

sistolik

diastolic

gaya hidup

khusus

indikasi khusus

(mmhg)
< 120
120-139

(mmhg)
<80
80-89

Himbauan
Ya

Tidak perlu

Obat-obatan

hipertensi

untuk indikasi

12

tersebut
Diuretic
golongan tiazid.
Dapat
Hipertensi
grade I

140-159

90-99

Ya

dipertimbangka
n pemberian
ACEI, B, B,
CaCB atau
kombinasi
Kombinasi

Obat-obatan
untuk indikasi
khusus tersebut.
Ditambah obat
antihipertensi
(diuretic, ACEI,
B, B, CaCB)

kedua obat.
Hipertensi
gredeII

Biasanya
160

atau 100

Ya

diuretic dengan
ACEI, B, B,
CaCB atau
kombinasi

2.11.

KOMPLIKASI

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi yaitu :


1.

Kerusakan otak
Tekanan darah yang terlalu tinggi menyebabkan pecahnya pembuluh
darah otak, akibatnya darah tercecer dari daerah tertentu pada otak,
sedangkan bagian lain dari otak tidak mendapat aliran / supply darah yang
cukup, sehingga bagian otak menjadi rusak.

2.

Kerusakan jantung
Tekanan darah tinggi menyebabkan pembesaran otot jantung,
disebabkan jantung bekerja lebih keras untuk mempompa darah.

3.

Kerusakan ginjal
Tingginya tekanan darah akan membuat pembuluh darah dalam ginjal
tertekan. Akhirnya pembuluh darah menjadi rusak dan menyebabkan
fungsi ginjal menurun. Hingga bisa mengalami gagal ginjal.

13

4.

Kerusakan mata
Tekanan darah tinggi menyebabkan tertekannya pembuluh darah dan
syaraf pada mata, sehingga penglihatan terganggu.

2.12. KEDOKTERAN KELUARGA13


Kedokteran keluarga merupakan disiplin akademik profesional, berupa
suatu cabang ilmu kedokteran yang mengimplementasikan ilmu kedokteran klinis
dengan pendekatan keluarga. Pelayanan kedokteran keluarga didasarkan pada
pemahaman bahwa manusia bukan hanya sebagai makhluk biologik, tetapi juga
makhluk sosial yang dalam kehidupannya berinteraksi dengan berbagai
lingkungan, dimana salah satu lingkungan yang terdekat yaitu lingkup keluarga.
Hakikat Kedokteran Keluarga
Pada hakikatnya kedokteran keluarga mempunyai 5 aspek dalam
memahami seorang manusia, yaitu :
a. Hakikat Biologik
Manusia dalam kehidupannya mempunyai kegiatan dalam dirinya sebagai
makhluk biologis, yang dikenal sebagai faktor intrinsik dalam kehidupan.
Keseimbangan faktor intrinsik tubuh ini yang menciptakan keadaan sehat
jasmaniah. Dalam ilmu kedokteran keluarga, penilaian kesehatan seseorang juga
dilihat dari fungsi biologis keluarga yang terkait dengan sistem organ terpadu dari
individu dan anggota keluarga yang mempunyai risiko, meliputi :
- Adanya faktor keturunan
- Kesehatan keluarga
- Reproduksi keluarga
b. Hakikat Psikologik
Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai aktivitas dan tingkah laku yang
merupakan gambaran sikap dan menentukan penampilan serta pola perilaku dan
kebiasaannya.
c. Hakikat Sosiologik

14

Manusia dalam hubungannya dengan lingkup keluarga, pekerjaan, budaya, dan


geografis dapat menimbulkan berbagai konflik maupun permasalahan, yang bila
tidak diselesaikan dapat mempengaruhi aspek kesehatannya. Kedokteran keluarga
mengorientasikan permasalahan kesehatan yang berhubungan dengan proses
dinamika dalam keluarga, potensi keluarga yang diperlukan untuk dipahami,
kualitas

hidup

yang

dipengaruhi

oleh

budaya,

serta

pendidikan

dan

lingkungannya.

d. Hakikat Ekologik
Aspek ekologik dalam kedokteran keluarga membahas manusia seutuhnya dalam
interaksinya dengan sesama manusia juga hubungannya dengan lingkungan fisik
dalam rumah tangganya. Timbul dan berkembangnya penyakit tidak saja
disebabkan oleh faktor intrinsik dalam tubuh manusia, bahkan anggota keluarga
lainnya serta berbagai komponen biologis dalam rumah tangga serta faktor kimia
dan fisik yang ada.
e. Hakikat Medik
Aspek medik pada dasarnya merupakan disiplin ilmu kedokteran yang
dimanfaatkan pada pelayanan garis terdepan, yang erat kaitannya dengan
kehidupan manusia dalam lingkungannya. Adanya temuan-temuan baru di bidang
teknologi kedokteran, serta pergeseran pola perilaku dan pola penyakit, akan
mempengaruhi pola pelayanan kedokteran.
Prinsip Kedokteran Keluarga
Prinsip yang digunakan dalam pelayanan kedokteran keluarga ada 4 yaitu :
1. Personal Care
Pelayanan kedokteran keluarga memandang manusia dalm berbagai aspek
yang lebih luas, namun tetap mengedepankan pelayanan kesehatan terhadap
manusia sebagai seorang individu yang mempunyai permasalahan kesehatan.
2. Continuous Care

15

Kedokteran keluarga tidak hanya berupaya menyelesaikan masalah pasien


dalam jangka pendek namun juga mempertahankan dan meningkatkan status
kesehatannya dalam jangka panjang dalam suatu pelayanan yang berkelanjutan.
3. Holistik
Kedokteran keluarga menilai dan berupaya menyelesaikan tidak hanya
masalah kesehatan pasien itu sendiri, namun juga dipandang dari fungsi-fungsi
lanin yang terkait dalam kehidupannya, misalnya fungsi keluarga, fungsi religius,
dan fungsi sosial. Pelayanan kedokteran keluarga dengan kata lain tidak terbatas
pada aspek medik, tetapi mencakup aspek biopsikososial.
4. Komprehensif
Pelayanan kedokteran keluarga merupakan pelayanan yang bersifat
komprehensif, meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Upaya
promotif dan preventif dapat dilakukan secara terpadu, berupa penyuluhan
maupun upaya pencegahan potensi gangguan yang dapat dialami oleh anggota
keluarga.

16

BAB III
LAPORAN HASIL KUNJUNGAN RUMAH
I. IDENTITAS PASIEN DAN KELUARGA
1. Identitas Pasien
Nama

: Ny. Muharisah

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 71 tahun

Status Perkawinan

: Kawin

Alamat

: Dusun Kalipetung, Desa Bumiayu Kecamatan


Kajoran, Kabupaten Magelang

Agama

: Islam

Suku bangsa

: Jawa

Pendidikan terakhir : SD
Pekerjaan

: ibu rumah tangga

2. Identitas Kepala Keluarga


Nama

: Tn. Rosyid Widayanto

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 42 tahun

Status Perkawinan

: Kawin

Alamat

: Dusun Kalipetung, Desa Bumiayu Kecamatan


Kajoran, Kabupaten Magelang

Agama

: Islam

Suku bangsa

: Jawa

Pendidikan

: S1

Pekerjaan

: PNS ( guru smp )

II.

PROFIL KELUARGA YANG TINGGAL SATU RUMAH

Tabel 1. Daftar Anggota Keluarga Yang Tinggal Serumah


No Nama

Kedudukan Jenis

Umur Pendidikan

Pekerjaan

Keterangan Tinggal

Kelamin (th)
1

Rosyid

Tn
Rohmah,

Ny
Muharisah,

4
5

Ny
Minna
keponakan
Surtiah, Ny pembantu

6
7

W, Kepala
keluarga
Istri

Dea, An
Zidan, An

ibu

Anak
Anak

Serumah

Lk

42

S1

PNS

Sehat

Ya

Pr

38

D3

Ibu rumah Sehat

Ya

SD

tangga
Ibu rumah

Sehat

Ya

18
73

SMA
Tidak

tangga
pembantu

Sehat
Sehat

Ya
Ya

13
8

sekolah
SMP
SD

Sehat
Sehat

Ya
Ya

Pr
Pr
Pr
Pr
Lk

71

III. RESUME PENYAKIT DAN PENATALAKSANAAN YANG SUDAH


DILAKUKAN
Kunjungan Pertama (19 Maret 2014)
a. Keluhan Utama
Sakit kepala
b. Riwayat Penyakit
1 tahun yang lalu pasien tiba-tiba mengeluh sakit kepala terutama di
bagian belakang, dirasakan seperti ditekan dan terus menerus. Nyeri
akan bertambah berat saat beraktivitas namun akan berkurang saat
pasien beristirahat, pasien tidak muntah dan tidak mual, kemudian
pasien diantar oleh menantunya menuju Puskesmas Kajoran II. Setelah
tiba di puskesmas pasien diperiksa dan diukur tekanan darahnya,
didapatkan tekanan darah pasien 160/90 mmHg, kemudian pasien
diberi obat captopril dan diizinkan pulang. Pasien tidak rutin kontrol

18

ke puskesmas karena sakit kepala yang mengganggu sudah jarang


dirasakan lagi dan apabila sakit kepala tersebut timbul pasien langsung
membeli captopril sendiri dan meminum sesuai dengan perintah
dokter.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah sakit seperti ini 10 tahun yang lalu namun tidak
pernah diperiksakan
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Ada anggota keluarga pasien yang sakit seperti ini (orangtua dan
saudara kandung pasien).
e. Hasil Pemeriksaaan Fisik
Tanggal 19 maret 2014, pukul 11.30 WIB di rumah pasien
Keluhan

:-

Keadaan umum

: Sadar, composmentis

Tanda Vital

Tensi : 150/90mmHg

RR

Nadi

Suhu : afebris

: 76x/menit

Kepala

: Mesosefal

Mata

: Conjungtiva anemis (-), Sklera Ikterik (-)

Telinga

: Discharge (-)

Hidung

: Nafas Cuping (-), epistaksis (-)

Mulut

: Sianosis (-)

Leher

: Simetris, pembesaran kelenjar limfe (-)

Dada

Paru depan :

In

: 16x/menit

: Simetris saat statis, dan dinamis,


retraksi (-)

Pa

: Stem fremitus kanan = kiri

Pe

: Sonor seluruh lapangan paru

19

Au

: Suara dasar vesikuler, suara tambahan (-),


ronchi (-), wheezing (-)

Paru belakang :

In

: Simetris saat statis, dan dinamis,


retraksi (-)

Pa

: Stem fremitus kanan = kiri

Pe

: Sonor seluruh lapangan paru

Au

: Suara dasar vesikuler, suara tambahan (-),


ronchi (-), wheezing (-)

Jantung :

In

: Iktus kordis tak tampak

Pa

: Iktus kordis teraba di SIC V, 2 cm medial


LMCS

Pe

: Konfigurasi jantung dalam batas normal

Au

: Suara Jantung I-II normal, bising (-), gallop


(-)

Abdomen :

In

: Datar, venektasi (-)

Au

: Bising usus (+) N

Pa

: Supel, hepar dan lien tak teraba, nyeri


tekan (-)

Pe

: Timpani

Ekstremitas

Superior

Inferior

Oedema

-/-

-/-

Sianosis

-/-

-/-

Akral dingin

-/-

-/-

f. Diagnosa Kerja
Hipertensi grade 2

20

g. Hasil Laboratorium dan Pemeriksaan Penunjang


Tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium maupun penunjang lainnya.
h. Rencana Penatalaksanaan
Pengobatan yang telah diberikan :
Terapi medikamentosa

: berupa obat antihipertensi

Terapi edukasi

Kontrol ke puskesmas secara teratur

Minum obat dari dokter secara teratur

Mengurangi garam dan penyedap rasa

Berolahraga/melakukan aktivitas fisik secara teratur

Memperbanyak konsumsi buah dan sayur

Mengurangi makanan yang berlemak/yang digoreng

i. Hasil Penatalaksanaan Medis


Saat kunjungan rumah (Rabu, 25 Maret 2014) :
TD pasien lebih rendah dari saat kunjungan pertama yaitu 140/90
mmHg

Faktor pendukung : Pasien mengetahui untuk mengurangi


konsumsi

garam

dalam

makanannya.

Pasien

merasa

penyakitnya perlu diobati karena pasien mengerti akan


menimbulkan gangguan kesehatan yang berarti

Faktor penghambat : Pasien tidak menerapkan cara mengontrol


tekanan darahnya dengan berobat ke dokter/puskesmas kadang
tidak ada keluarga yang bisa mengantar

untuk kontrol ke

puskesmas/ dokter. Masalah makanan kadang tidak bisa di


sediakan

sendiri di karenakan menantunya memasak juga

untuk keluarga yang lain.

Indikator keberhasilan : Pasien mengetahui mengenai


penyakitnya,

tetapi

21

pasien

tidak

mempedulikan

cara

mengontrol

tekanan

darahnya,

dan

tidak

mengetahui

komplikasi yang mungkin terjadi

IV.

TABEL PERMASALAHAN PADA PASIEN

Tabel 1 Tabel Permasalahan pada Pasien dan Keluarganya


No. Risiko & masalah kesehatan
Rencana pembinaan
1
Pasien belum menerapkan cara Memberi penjelasan kepada
mengontrol tekanan darahnya

pasien dan memotivasi pasien

Sasaran
Pasien
dan
keluarga

untuk menerapkan cara


mengontrol tekanan darahnya
yaitu dengan menerapkan
pola hidup sehat dengan
hipertensi
Memberikan booklet
2

Pasien

tidak

ada

mengenai hipertensi
yang Memotivasi keluarga untuk

mengantar saat mau kontrol ke menyediakan waktunya agar


puskesmas.

Pasien
keluarga

rutin mengantarkan pasien/


penderita memeriksakan
tekanan darahnya/berobat ke
dokter/puskesmas walaupun

tidak ada keluhan


Masakan/ makanan yang di Memberi penjelasan kepada
sediakan

keluarga

keluarga pasien untuk


memisah makanan pasien,
makanan yang rendah garam

4.

Pasien

termasuk

kelompok usia lanjut

dan tidak berlemak.


dalam Memberikan penjelasan
mengenai lanjut usia dan cara

22

Pasien

dan

hidup sehat lansia

Genogram Keluarga Kandung

V. IDENTIFIKASI FUNGSI KELUARGA


a. Fungsi Biologis
Pasien merasakan sering sakit kepala 10 tahun yang lalu, pasien
periksa ke puskesmas dikatakan tekanan darah tinggi, pasien diberi
obat captopril dan pasien rutin kontrol. Pasien juga tidak pernah
merasakan sakit kepala yang mengganggu, jika sakit kepala akan
segera hilang dengan tiduran dan tidak pernah dirasa mengganggu.
b. Fungsi Psikologis
Pasien tinggal anak, menantu, keponakan, dan dua cucunya. Pasien
adalah seorang ibu dan ibu rumah tangga, juga sehari-hari hanya
bekerja di rumah. Suami sudah meninggal semenjak 5 tahun yang lalu.
Hubungan

dengan

anggota

keluarga

lainnya

baik,

bila

ada

permasalahan langsung dibicarakan dan dimusyawarahkan secara


kekeluargaan. Biaya hidup sehari-hari ditanggung oleh anak dan
dibantu oleh ketiga anak pasien yang semuanya sudah bekerja. Pasien
di lingkungan rumahnya dikenal sebagai warga yang mudah bergaul
dan sering mengikuti acara pengajian,tetapi pasien tidak mengikuti
posyandu lansia dikarenakan waktu pelaksanaan posyandu pagi-siang

23

dimana pasien tidak ada yang mengantar. Pasien merasa penyakitnya


tidak mengganggu kesehatan. Keluarga pasien tidak khawatir dengan
penyakit pasien karena dianggap penyakit orang tua.
c. Fungsi Ekonomi
Pasien adalah ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan
sendiri. Biaya hidup sehari-hari ditanggung oleh anaknya. Penghasilan
anak setiap bulannya berkisar antara Rp.2.000.000 Rp.3.000.000/
bulan.
d. Fungsi Pendidikan
Pendidikan terakhir pasien adalah tamat SD, sedangkan orang tua
pasien tidak bersekolah. Anak pertamanya lulusan S1 dan bekerja
sebagai guru SMP, dan menantunya lulusan D3 dan bekerja sebagai
ibu rumah tangga.
e. Fungsi Religius
Pasien dan keluarganya beragama Islam. Setiap hari melakukan ibadah
lebih banyak di rumah. Pasien juga mengikuti pengajian RT di
desanya.
f. Fungsi Sosial dan Budaya
Pasien tinggal di kawasan pemukiman penduduk di dalam lingkungan
pedesaan, pasien dapat hidup bertetangga dengan baik. Hubungan
dengan anggota keluarga lainnya baik, bila ada permasalahan langsung
dibicarakan dan dimusyawarahkan secara kekeluargaan. Pasien
mempunyai

keyakinan

bahwa

penyakit

yang

dideritanya

mengakibatkan gangguan kesehatan yang berarti pada dirinya. Pasien


sebagai ibu rumah tangga. Pasien sehari-harinya menghabiskan waktu
dengan beraktifitas di rumah membersihkan rumah. Waktu sore hari
dihabiskan pasien untuk berkumpul di rumah bersama dengan anak,

24

menantu, ponakan dan cucu2nya mengobrol santai dengan yang


tinggal serumah dengan pasien. Pasien sehari-harinya tidur malam hari
tidak terlalu larut yaitu sekitar pukul 20.00 WIB.
VI. POLA KONSUMSI PASIEN
Pola makan pasien teratur. Pasien makan 3 kali sehari. Pasien kadang
masak sendiri, dan sangat jarang jajan di warung. Setiap kali makan, selalu
ada nasi, lauk, dan sayur, kadang-kadang buah 1x dalam seminggu. Pasien
sangat menyukai makanan asin, seperti ikan asin, dan seringnya bersantan.
Saat memasak, pasien menggunakan moto dan penyedap rasa dalam setiap
makanan yang dimasak.
VII.

IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


KESEHATAN
1. Faktor Perilaku
Jika ada salah satu anggota keluarga, atau pasien sendiri yang sakit
maka diobati sendiri dulu, jika belum ada perkembangan dibawa ke
Puskesmas. Tidak ada pendanaan khusus untuk biaya pengobatan
(biaya

pengobatan

ditanggung

sendiri).

Pasien

sehari-hari

menghabiskan waktu luangnya di rumah dengan bersama keluarga


dengan anak dan menantu pasien yang tinggal serumah maupun yang
tinggal di dekat rumah pasien serta bersosialisasi dengan tetangga
sekitar rumah pasien. Pasien tidur malam sekitar pukul 20.00 WIB.
Pola konsumsi keluarga selama ini saat memasak menggunakan
penyedap rasa dalam setiap makanan yang dimasak dan lebih
menyukai makanan asin.
2. Faktor non Perilaku
Sarana pelayanan kesehatan di sekitar rumah menurut pasien dekat,
Puskesmas Kajoran berjarak 4-5 km dari rumah pasien. Hal ini tidak

25

menghambat pasien dalam mendapatkan pelayanan kesehatan jika ada


anggota keluarga yang sakit.
VIII.

IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH


1. Gambaran Lingkungan Rumah
Rumah pasien terletak di pinggir jalan, dengan luas bangunan rumah
16 x 20 m, bentuk bangunan rumah bertingkat. Gambaran rumah
secara umum terdiri atas 6 kamar tidur, terdapat 2 kamar mandi yang
terletak di dalam rumah. Pasien dan keluarga sehari-harinya
menggunakan kamar mandi itu untuk kebutuhan MCK. Dapur terletak
di bagian belakang bangunan rumah dengan lantai kramik dan dengan
dinding batu bata, terdapat beberapa ventilasi. Bangunan rumah
beratapkan genteng, dinding dari batu bata, lantai ruang tamu, ruang
tengah dan kamar tidur dari kramik. Penerangan dalam rumah kurang
(membaca pada jarak 30 cm di siang hari kurang jelas). Jendela ada di
setiap ruangan, setiap kamar terdapat ventilasi yang cukup sehingga
cahaya matahari yang dapat masuk ke dalam ruang kamar cukup.
Listrik 2000watt, sumber air dari penyulingan air bersih pamsimas,
sumber air minum juga dari pamsimas yang direbus sampai mendidih
terlebih dahulu. Fasilitas WC menggunakan leher angsa terbuat dari
porselen yang limbahnya dialirkan langsung ke sungai. bak mandi
dikuras biasanya sebulan hanya 2 3 kali saja dan yang menguras bak
kamar mandi adalah menantu pasien yang tinggal bersama pasien dan
suami. Kebersihan dapur baik, pembuangan air limbah ke got dan
aliran lancar. Tempat sampah utama adalah lubang galian tanah di
depan rumah, sampah dimasukkan ke dalam lubang tersebut dan
apabila sudah penuh maka lubang tersebut akan segera dibakar.
Denah Rumah
Gudang

26

Ruang Makan

KM

Kamar Tidur

Dapur

Ruang Keluarga

Garasi

IX.

KM

Kamar Tidur

Teras

Ruang Tamu

DIAGNOSIS FUNGSI KELUARGA


1.

Fungsi Biologis

Baik pasien dan keluarga tidak mempunyai riwayat penyakit


yang serius.

Tidak didapatkan riwayat penyakit menular dalam keluarga.

Tidak ada anggota keluarga pasien (orangtua maupun saudara


kandung pasien) yang menderita tekanan darah tinggi.

Riwayat penyakit menular dan penyakit kronis di lingkungan


rumah tidak didapatkan.

2.

Fungsi Psikologi

Hubungan dengan anggota keluarga serumah baik.

Kegiatan sosial di lingkungan tetangga cukup.

3.

Fungsi Sosial

Dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dengan baik.

27

Pasien mempunyai keyakinan bahwa penyakit yang dideritanya


akan mengakibatkan gangguan kesehatan yang berarti pada
dirinya.

Pasien sebagai ibu rumah tangga. Pasien sehari-hari menghabiskan


waktunya dengan membersihkan rumah, memasak, bersosialisasi
dengan anak dan keluarganya, serta bersosialisasi dengan tetangga
sekitar rumah. Pasien memiliki banyak waktu luang sehingga
pasien bisa memeriksakan diri dan berobat ke puskesmas, akan
tetapi pasien tidak memeriksakan diri ke puskesmas. Hal ini juga
dikarenakan pasien tidak menganggap penyakitnya menimbulkan
komplikasi lebih lanjut.

4.

Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan


Keadaan ekonomi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

5.

Fungsi Penguasaan Masalah dan Kemampuan Beradaptasi


Mengkomunikasikan masalah dengan baik

6.

Faktor Perilaku
Menggunakan moto dan penyedap rasa dalam setiap makanan yang
dimasak. Pola konsumsi makanan sehari-hari keluarga lebih sering
dan menyukai makanan asin seperti ikan asin. Lebih suka membeli
obat di warung jika muncul keluhan kesehatan (mengobati sendiri)
kemudian jika keluhan kesehatan tersebut tidak kunjung membaik
maka pasien dan keluarganya baru berobat ke puskesmas.

7.

Faktor Non Perilaku


Tidak ada masalah

X.

DIAGRAM REALITA YANG ADA PADA KELUARGA

28

Genetik

Yankes

Status
Kesehatan

Lingkungan

Puskesmas

Banyak waktu luang,


memungkinkan untuk
berobat ke puskesmas

Perilaku

Menggunakan moto & penyedap rasa


dalam masakan
Pola konsumsi makanan keluarga
lebih menyukai makanan asin seperti
ikan asin
Lebih suka mengobati diri sendiri
dengan membeli obat di warung
Diagram 1 Diagram Realita yang Ada pada Keluarga

XI.

PEMBINAAN DAN HASIL KEGIATAN


Tabel 2 Tabel Pembinaan dan Hasil Kegiatan

Tgl.
25-03-14

Kegiatan yang dilakukan


Memberi penjelasan mengenai

Keluarga

Hasil kegiatan
yang terlibat
Pasien
Pasien mengetahui bahwa hipertensi

hipertensi

dapat dipengaruhi oleh faktor


perilaku, serta merupakan penyakit

25-03-14

Memberi penjelasan kepada pasien

Pasien

yang diidap seumur hidup


Pasien mengerti bahwa dirinya

mengenai pola hidup dalam

harus menjaga pola hidup dan

mengelola hipertensi

makanannya dengan memperbanyak


olahraga/aktivitas fisik, mengurangi
asupan garam dan menghindari
penggunaan MSG, memperbanyak
buah dan sayur, serta mengurangi

29

makanan yang berlemak/yang


25-03-14

Memotivasi pasien untuk rutin

digoreng
Pasien bersedia untuk rutin

Pasien

memeriksakan tekanan

memeriksakan tekanan

darahnya/berobat ke

darahnya/berobat ke

dokter/puskesmas walaupun tidak

dokter/puskesmas walaupun tidak

25-03-14

ada keluhan
Memberikan booklet mengenai

Pasien

ada keluhan
Pasien mendapatkan booklet

25-03-14

penyakit hipertensi
Memberi pengertian kepada pasien

Pasien

mengenai hipertensi
Pasien mengerti penyebab

mengenai kemungkinan penyebab

kesemutan di tangan dan lengan

kesemutan pada tangan dan lengan

kanannya dan bersedia

kanannya serta memotivasi untuk

memeriksakan diri ke

memeriksakan diri ke

dokter/puskesmas sehingga bisa

dokter/puskesmas agar mengetahui

mengetahui penyebab kesemutan

penyebab pasti kesemutan yang

yang dialami.

dialami (karena DM/penyebab lain)


XII.

KESIMPULAN PEMBINAAN KELUARGA

1. Tingkat pemahaman

: Pemahaman terhadap pembinaan yang dilakukan


cukup baik.

2. Faktor pendukung

: Pasien dan keluarga dapat memahami dan menangkap


penjelasan yang diberikan. Sikap pasien dan keluarga
yang kooperatif

3. Faktor penyulit

: Waktu pasien sebagai ibu rumah tangga mempunyai


banyak waktu luang, tapi pasien menganggap
penyakitnya tidak serius sehingga menghambat
keinginan

pasien

untuk

periksa

ke

dokter

(Puskesmas). Saat pasien ingin berobat ke puskesmas,


terkadang tidak ada yg mengantar.
4. Indikator keberhasilan : Pasien dan keluarga mengetahui dan berkomunikasi
dua arah tentang materi yang disampaikan

30

FOTO KUNJUNGAN RUMAH


(fotonya di siapa ya?)

Rumah tampak
depan
Ruang tamu dengan

Ruang keluarga
yang lembab karena
tidak ada ventilasi,
pencahayaan siang
hari kurang

lantai plester

Kamar tidur yang


gelap dan lembab
Dapur
lantai
karena dengan
kurangdan
Kamar
mandi
tanah
ventilasi
danlantai
tidak
WC
dengan
ada
jendela
plester dan tampak
kotor karena jarang
dibersihkan
Kandang itik terletak di luar rumah,
Banyak terdapat kotoran itik di
belakang rumah.
Jamban cemplung
Air kolamyang
lele tampak
hitam karena
langsung
tidak pernah
dibersihkan
masuk
ke kolam lele

31