Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem lakrimal terdiri dari dua bagian, yaitu sistem sekresi yang berupa kelenjar
lakrimal dan sistem ekskresi yang terdiri dari punctum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus
lakrimal, duktus nasolakrimal, dan meatus inferior (Ilyas, 2006).Sistem eksresi lakrimal
cenderung mudah terjadi infeksi dan inflamasi karena berbagai sebab. Membran mukosa pada
saluran ini terdiri dari dua permukaan yang saling bersinggungan, yaitu mukosa konjungtiva
dan mukosa nasal, di mana pada keadaan normal pun sudah terdapat koloni bakteri. Tujuan
fungsional dari sistem ekskresi lakrimal adalah mengalirkan air mata dari kelenjar air mata
menuju ke cavum nasal. Tersumbatnya aliran air mata secara patologis menyebabkan
terjadinya peradangan pada sakus lakrimal yang biasa disebut dengan dakriosistitis (Vaughan,
20).
Dakriosistitis dapat berlangsung secara akut maupun kronis. Dakriosistitis akut
ditandai dengan nyeri yang muncul secara tiba-tiba dan kemerahan pada regio kantus medial,
sedangkan pada inflamasi maupun infeksi kronis dari sakus lakrimal ditandai dengan adanya
epifora, yaitu rasa nyeri yang hebat di bagian sakus lakrimal dan disertai dengan demam.
Selain dakriosistitis akut dan kronis, ada juga dakriosistitis kongenital yang merupakan bentuk
khusus dari dakriosistitis. Patofisiologinya berhubungan erat dengan proses embriogenesis dari
sistem eksresi lakrimal (Paul, 2009).
Dakriosistitis umumnya terjadi pada dua kategori usia, yaitu usia <55 tahun dengan
kejadian terbanyak pada wanita (73%) dan anak-anak. Secara keseluruhan kasus dakriosistitis
1

pada bayi jarang ditemukan, hanya dilaoprkan sekitar 6% kejadian pada bayi dari jumlah
kelahiran yang ada.
Pada laporan kasus ini, akan dibahas tentang dakriosistitis dan akan membahas lebih
jauh mengenaiproses diagnosis, penatalaksanaan, serta prognosisnya.

BAB 2
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Berat Badan
Agama
Jenis kelamin
Suku
Alamat
Tanggal berobat

: By. Hanik
: 8 hari
: 2780 gram
: Islam
: Perempuan
: Jawa
: Tumenggungan, Lamongan
: 18 Agustus 2015

ANAMNESIS

Keluhan Utama

Benjolan dibawah mata


Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang bayi diantar oleh orangtuanya ke poli mata RSML dengan keluhan benjolan dibawah
mata kanansudah 3 hari ini, benjolan sebesar biji kelengkeng berwarna pink kemerahan.
Awalnya benjolan berwarna agak biru kemudian semakin lama benjol terlihat membesar dan
memerah. Selain itu, bayi juga sering mengeluarkan air mata, dan keluar kotoran (belekan)
setiap saat berwarna keruh kekuningan dan menurut penuturan orangtuanya anak secara reflek
sering mengucek-ucek mata kananya, badan sempat sumer-sumer 1 hari sebelumnya. Sebelum
datang ke poli mata orangtua membawa pasien ke poli anak dan telah diberikan terapi
cefixime dan sagestam cr.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya, sejal lahir belum pernah sakit
apapun, riwayat batuk pilek danriwayat alergi disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada yang sakit seperti ini pada keluarga, riwayat sakit mata , riwayat alergi

Riwayat Penyakit Sosial


3

Paparan debu disangkal


Riwayat kelahiran
Anak pertama/aterm/lahir SC tgl 10 Agustus 2015
R. Nutrisi: ASI full

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
: Baik
Kesadaran
: Komposmentis
Tanda Vital
: Tekanan Darah (tidak diperiksa)
Frekuensi Nadi 109 kali / menit
Frekuensi Nafas 28 kali / menit
Status Generalisata
Kepala-Leher
Thoraks
Abdomen
Ekstremitas

: Dalam batas normal


: Dalam batas normal
: Dalam batas normal
: Dalam batas normal

Status Oftalmologi
Pemeriksaan
Visus
Pergerakan Bola Mata
Silia
Palpebra Superior
Palpebra Inferior
Konjungtiva palpebra
(superior-inferior)
Konjungtiva bulbi
Kornea
COA
Pupil

Iris
Lensa
TIO (Palpasi)
Funduskopi

Oculi Dekstra
Tidak diperiksa
Dalam batas normal
Normal
Tampak secret mukopurulen
yang sudah mongering
ditepi palpebral, edema -,
hiperemi Normal

Oculi Sinistra
Tidak diperiksa
Dalam batas normal
Normal

Conjungtival injeksi +

Normal

Conjungtival injeksi +
Jernih
Kedalaman Cukup
Bulat, reguler, diameter
3mm, refleks cahaya direct
(+), refleks cahaya indirect
(+)
Normal
Jernih
Normal
Tidak dilakukan

Normal
Jernih
Kedalaman Cukup
Bulat, reguler, diameter
3mm, refleks cahaya direct
(+), refleks cahaya indirect
(+)
Normal
Jernih
Normal
Tidak dilakukan

Normal
Normal

Foto Klinis:

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan
DIAGNOSIS KERJA
OD Dakriosistitis
DIAGNOSIS BANDING
OD Hordeolum
OD Selulitis Orbita
PLANNING
Diagnostik

Dye dissapearence test, fluorescein clearance test dan John's dye test
Probing test dan anel test.
TERAPI
Non farmakologi: kompres dengan air hangat dan massase pada daerah duktus
nasolakrimal
Farmakologi: Cravit (Levofloxacin) tetes 6x1 tetes perhari
Monitoring
Evaluasi tanda-tanda inflamasi
Evaluasi fungsi lakrimasi.
Edukasi
Kontrol ulang setelah 6 hari
Mencegah agar bayi tidak mengucek-ngucek mata dan menjaga kebersihan.
PROGNOSIS
Quo ad Vitam: Bonam
Quo ad Sanationam: Dubia ad bonam
Quo ad Cosmeticam: Bonam
5

BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Anatomi Sistem Lakrimalis
Sistem lakrimal terdiri dari dua bagian, yaitu sistem sekresi yang berupa kelenjar
lakrimalis dan sistem ekskresi yang terdiri dari punctum lakrimalis, kanalis lakrimalis, sakus
lakrimalis, duktus nasolakrimalis, dan meatus inferior (Ilyas, 2011)Kelenjar lakrimalis terletak
pada bagian lateral atas mata yang disebut dengan fossa lakrimalis. Bagian utama kelenjar ini
bentuk dan ukurannya mirip dengan biji almond, yang terhubung dengan suatu penonjolan
kecil yang meluas hingga ke bagian posterior dari palpebra superior. Dari kelenjar ini, air
mata diproduksi dan kemudian dialirkan melalui 8-12 duktus kecil yang mengarah ke bagian
lateral dari fornix konjungtiva superior dan di sini air mata akan disebar ke seluruh permukaan
bola mata oleh kedipan kelopak mata (Ellis, 2006)
Selanjutnya, air mata akan dialirkan ke dua kanalis lakrimalis, superior dan inferior,
kemudian menuju ke punctum lakrimalis yang terlihat sebagai penonjolan kecil pada kantus
medial. Setelah itu, air mata akan mengalir ke dalam sakus lakrimalis yang terlihat sebagai
cekungan kecil pada permukaan orbita. Dari sini, air mata akan mengalir ke duktus
nasolakrimalis dan bermuara pada meatus nasal bagian inferior. Dalam keadaan normal,
duktus ini memiliki panjang sekitar 12 mm dan berada pada sebuah saluran pada dinding
medial orbita (Ellis, 2006).

Gambar 3.1. Kelenjar Lakrimalis dan Sistem Drainase


Sumber: Clinical Anatomy, A Revision and Applied Anatomy for Clinical Students Eleventh
Edition
3.2 Definisi dan Epidemiologi
Dakriosistitis adalah peradangan pada sakus lakrimalis akibat adanya obstruksi pada
duktus nasolakrimalis. Pada anak-anak biasanya akibat tidak terbukanya membran
nasolacrimal sedangkan pada orang dewasa akibat tertekan saluranya, missal adanya polip
hidung (Ilyas, 2011)
Penyakit ini sering ditemukan pada anak-anak atau orang dewasa di atas 40 tahun,
terutama perempuan (73%)dengan puncak insidensi pada usia 50 hingga 60 tahun(Sergio,
2012).Dakriosistitis pada bayi yang baru lahir jarang terjadi, hanya sekitar 6% dari jumlah
kelahiran yang ada dan jumlahnya hampir sama antara laki-laki dan perempuan. Jarang
ditemukan pada orang dewasa usia pertengahan kecuali bila didahului dengan infeksi
jamurtahun(Sergio, 2012)
3.3 Klasifikasi

Berdasarkanperjalanan penyakitnya, dakriosistitis dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis


(Gilliland, 2009), yaitu:
a. Akut
Pasien dapat menunjukkan morbiditasnya yang berat namun jarang menimbulkan
kematian. Morbiditas yang terjadi berhubungan dengan abses pada sakus lakrimalis
dan penyebaran infeksinya.
b. Kronis
Morbiditas utamanya berhubungan dengan lakrimasi kronis yang berlebihan dan
terjadinya infeksi dan peradangan pada konjungtiva.
c. Kongenital
Merupakan penyakit yang sangat serius sebab morbiditas dan mortalitasnya juga
sangat tinggi. Jika tidak ditangani secara adekuat, dapat menimbulkan selulitis orbita,
abses otak, meningitis, sepsis, hingga kematian. Dakriosistitis kongenital dapat
berhubungan dengan amniotocele, di mana pada kasus yang berat dapat menyebabkan
obstruksi jalan napas. Dakriosistitis kongenital yang indolen sangat sulit didiagnosis
dan biasanya hanya ditandai dengan lakrimasi kronis, ambliopia, dan kegagalan
perkembangan.

Gambar 3.2. Dakriosistitis Akut


Gambar 3.3. Dakriosistitis Kongenital
Sumber: http://www.emedicine.com/
3.4 Faktor Predisposisi Dan Etiologi
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya obstruksi duktus nasolakrimalis

Sergio, 2012; Ilyas, 2011):

Usia <55 tahun dengan puncak pada usia 50-60 tahun dengan insiden paling banyak
pada perempuan

Terjadi striktur atau kongesti pada dinding duktus.


8

Tertutupnya membran didaerah meatus inferior, hal ini terjadi secara kongenital pada
neonatus

Abnormalitas struktur pada septum misalnya terdapat deviasi septum


Adanya infeksi: virus, bakteri dan jamur

Terdapat benda yang menutupi lumen duktus, seperti pengendapan kalsium, atau

koloni jamur yang mengelilingi suatu korpus alienum.


Penekanan dari luar oleh karena terjadi fraktur atau adanya tumor pada sinus
maksilaris.
Dakriosistitis dapat disebabkan oleh bakteri Gram positif maupun Gram negatif.

Bakteri Gram positif Staphylococcus aureus dan Streptokok gonokokmerupakan penyebab


utama

terjadinya

infeksi

pada

dakriosistitis

akut,

sedangkanCoagulase

Negative-

Staphylococcus merupakan penyebab utama terjadinya infeksi pada dakriosistitis kronis.


Selain itu, dari golongan bakteri Gram negatif, Pseudomonas sp. juga merupakan penyebab
terbanyak terjadinya dakriosistitis akut dan kronis (Ilyas, 2011)
Literatur lain menyebutkan bahwa dakriosistitis akut pada anak-anak sering
disebabkan oleh Haemophylus influenzae, sedangkan pada orang dewasa sering disebabkan
oleh Staphylococcus aureus dan Streptococcus -haemolyticus. Pada literatur ini, juga
disebutkan bahwa dakriosistitis kronis sering disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae.
(Ilyas, 2011; Vaughan, 2009)
3.5 Patofisiologi
Awal terjadinya peradangan pada sakus lakrimalis adalah adanya obstruksi pada duktus
nasolakrimalis. Obstruksi duktus nasolakrimalis pada anak-anak biasanya akibat tidak
terbukanya membran nasolakrimal, sedangkan pada orang dewasa akibat adanya penekanan
pada salurannya, misal adanya polip hidung (Ilyas, 2011). Pada dakriosistitis infantile, lokasi
stenosis biasanya dikatup hasner. Kegagalan kanalisasi adalah kejadian yang umum ditemukan
(4-7%) tetapi duktus tersebut dapat membuka spontan dalam bulan pertama.

Obstruksi pada duktus nasolakrimalis ini dapat menimbulkan penumpukan air mata,
debris epitel, dan cairan mukus sakus lakrimalis yang merupakan media pertumbuhan yang
baik untuk pertumbuhan bakteri.
Peradangansakus lakrimal (dakriosistitis akut) memiliki berbagai penyebab. Namun,
dalam banyak kasus faktor utamanya adalah obstruksi duktus naso-lakrimalis lengkap
sehingga menghambat drainase normal dari sakus lakrimal ke dalam hidung. Retensi air mata
kronis dan stasis ini menyebabkan infeksi sekunder.Dakriosistitis akut pada anak-anak sering
disebabkan oleh Haemophylus influenzae, sedangkan pada orang dewasa sering disebabkan
oleh Staphylococcus aureus dan Streptococcus -haemolyticus(Riordan & Whitcher, 2013).
Dakriosistitis kronis, dapat berkembang pada beberapa individu. Hal ini biasanya
menyebabkan distensi sakus lakrimal. Pada dakriosistitis kronisorganisme penyebab
dominannya adalah Streptococcus pneumoniae atau, jarang sekali, Candida albicans infeksi
campur tidak dijumpai. Penyebab infeksi dapat ditemukan secara mikroskopis dengan
pemulasan sediaan hapus konjungtiva yang diambil setelah memeras sakus lacrimalis (Riordan
& Whitcher, 2013).
3.6 Gejala Klinis
Gejala umum pada penyakit ini adalah keluarnya air mata dan kotoran. Pada
dakriosistitis akut, pasien akan mengeluh nyeri di daerah kantus medial (epifora) yang
menyebar ke daerah dahi, orbita sebelah dalam dan gigi bagian depan. Sakus lakrimalis akan
terlihat edema, lunak dan hiperemi yang menyebar sampai ke kelopak mata dan pasien juga
mengalami demam. Jika sakus lakrimalis ditekan, maka yang keluar adalah sekret
mukopurulen (Vaughan, 2009)
Pada dakriosistitis kronis gejala klinis yang dominan adalah lakrimasi yang berlebihan
terutama bila terkena angin. Dapat disertai tanda-tanda inflamasi yang ringan, namun jarang

10

disertai nyeri. Bila kantung air mata ditekan akan keluar sekret yang mukoid dengan pus di
daerah punctum lakrimal dan palpebra yang melekat satu dengan lainnya (Vaughan, 2009)
Pada dakriosistitis kongenital biasanya ibu pasien akan mengeluh mata pasien merah
pada satu sisi, bengkak pada daerah pangkal hidung dan keluar air mata diikuti dengan
keluarnya nanah terus-menerus. Bila bagian yang bengkak tersebut ditekan pasien akan
merasa kesakitan (epifora).
3.7 Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis dakriosistitis dibutuhkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis dapat dilakukan dengan cara autoanamnesis dan
heteroanamnesis. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan fisik. Jika, dengan anamnesis dan
pemeriksaan fisik masih belum bisa dipastikan penyakitnya, maka boleh dilakukan
pemeriksaan penunjang.
Beberapa pemeriksaan fisik yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya
obstruksi serta letak dan penyebab obstruksi. Pemeriksaan fisik yang digunakan untuk
memeriksa ada tidaknya obstruksi pada duktus nasolakrimalis adalah dye dissapearence test,
fluorescein clearance test dan John's dye test. Ketiga pemeriksaan ini menggunakan zat warna
fluorescein 2% sebagai indikator. Sedangkan untuk memeriksa letak obstruksinya dapat
digunakan probing test dan anel test(Gilliland, 2009).
3.8 Diagnosis Banding
a.Selulitis Orbita
Selulitis orbita merupakan peradangan supuratif jaringan ikat longgar intraorbita di
belakang septum orbita.Selulitis orbita akan memberikan gejala demam, mata merah, kelopak
sangat edema dan kemotik, mata proptosis, atau eksoftalmus diplopia, sakit terutama bila
digerakkan, dan tajam penglihatan menurun bila terjadi penyakit neuritis retrobulbar. Pada
retina terlihat tanda stasis pembuluh vena dengan edema papil.
11

(AAO, 2006)
Gambar 3.7
Selulitis Orbita

b.Hordeolum
Hordeolum merupakan peradangan supuratif kelenjar kelopak mata. Dikenal bentuk
hordeolum internum dan eksternum. Horedeolum eksternum merupakan infeksi pada kelenjar
Zeiss atau Moll. Hordeolum internum merupakan infeksi kelenjar Meibom yang terletak di
dalam tarsus.Gejalanya berupa kelopak yang bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal,
merah dan nyeri bila ditekan.Hordeolum eksternum atau radang kelenjar Zeis atau Moll akan
menunjukkan penonjolan terutama ke daerah kulit kelopak (Gilliland, 2009).

(AAO, 2006)
Gambar 3.8
Hordeolum

3.9 Terapi
12

Pengobatan dakriosistitis pada anak (neonatus) dapat dilakukan dengan masase


kantong air mata ke arah pangkal hidung. Dapat juga diberikan
antibiotikamoxicillin/clavulanate atau cefaclor 20-40 mg/kgBB/hari dibagi dalam tiga dosis
dan dapat pula diberikan antibiotik topikal dalam bentuk tetes (moxifloxacin 0,5% atau
azithromycin 1%) (Sowka dkk, 2011)
Pada orang dewasa, adanya mokukel adalah pertanda bahwa tempat obstruksi adalah
ductus nasolacrimalis dan diindikasikan tindakan dakriosistorinostomi. Terbukanya sistem
kanalikuli dipastikan jika mukus atau pus keluar melalui punctum saat sakus ditekan (Riordan
& Whitcher, 2013). Terapi farmakologis Amoxicillin dan chepalosporine (cephalexin 500mg
p.o. tiap 6 jam) juga merupakan pilihan antibiotik sistemik yang baik untuk orang dewasa.
Untuk mengatasi nyeri dan radang, dapat diberikan analgesik oral (acetaminofen atau
ibuprofen), bila perlu dilakukan perawatan di rumah sakit dengan pemberian antibiotik secara
intravena, seperti cefazoline tiap 8 jam (Sowka dkk, 2011).
Penatalaksaan dakriosistitis dengan pembedahan bertujuan untuk mengurangi angka
rekurensi. Prosedur pembedahan yang sering dilakukan pada dakriosistitis adalah
dacryocystorhinostomy (DCR). Di mana pada DCR ini dibuat suatu hubungan langsung antara
sistem drainase lakrimal dengan cavum nasal dengan cara melakukan bypass pada kantung air
mata. Dulu, DCR merupakan prosedur bedah eksternal dengan pendekatan melalui kulit di
dekat pangkal hidung. Saat ini, banyak dokter telah menggunakan teknik endonasal dengan
menggunakan scalpel bergagang panjang atau laser (Sowka dkk, 2011).
Dakriosistitis akut biasanya berespons terhadap antibiotik sistemik yang memadai, dan
bentuk kroniknya sering dapat dipertahankan laten dengan tetesan antibiotik. Meskipun begitu,

13

menghilangkan obstruksi adalah penyembuhan pada satu-satunya. Pemeriksaan hidung


penting untuk menjamin cukupnya ruang drainase antara septum dan dinding lateral hidung,
dakriosistorinostomi meliputi pembentukan anastomosis permanen antara sakus lacrimalis dan
hidung. Dengan pendekatan eksternal, pembukaan saluran dicapai dengen melakukan insisi
pada crista lacrimalis anterior. Dibentuk saluran berdinding tulang di lateral hidung, dan
mukosa hidung dijahitkan ke mukosa sakus lacrimalis. Pendekatan endoskopik melalui hidung
dengan memakai laser untuk membentuk anastomosis antara sakus sakus lacrimalis dan
rongga hidung atau untuk menghindari insisi eksternal. Dilatasi sistem nasolakrimal distal
dengan balon transiluminasi mungkin juga berguna untuk pasien yang tidak dapat dioperasi
(Riordan & Whitcher, 2013).
Berair-mata secara berlebihan (epifora) terkadang disebabkan oleh stenosis kanalikuli
atau obstruksi di perbatasan antara kanalikulus komunis dan sakus lakrimalis. Pada kedua
kasus ini, kompresi pada sakus tidak menyebabkan keluarnya cairan, mukus atau pus melalui
puncta, dan tidak didapatkan mukokel. Intubasi dan irigasi sistem kanalikuli dengan suatu
kanula lakrimal dan studi sinar-X memakai media kontras (dakriosistografi) dapat menentukan
lokasi obstruksi. Obstruksi kanalikuli yang umum dapat diatasi dengan intubasi saluransaluran tersebut dengan sten-silikon selama 3-6 bulan. Akan tetapi, adanya jaringan parut
obstruksi yang tebal mengharuskan dilakukannya dakriosistorinostomi dan kanalikuloplasti
dengan intubasi silikon di sistem kanalikuli (Riordan & Whitcher, 2013).
Pada dakriosistitis infantil, lokasi stenosis biasanya di katup Hasner. Keagalan
kenalisasi adalah kejadian yang umum ditemukan (4-7% dari neonatus), tetapi duktus tersebut
biasanya membuka spontan dalam bulan pertama. Sakus lacrimasi yang ditekan kuat kadangkadang dapat merobek memran sehingga saluran terbuka jika stenosis menetap lebih dari 6
14

bulan, atau jika timbul dakriosistitis, diindikasikan pelebaran duktus dengan probe. Satu kali
dilakukannya tindakan ini efektif pada 75% kasus. Sisanya hampir selalu dapat disembuhkan
dengan pengulangan tindakan, dengan merusak concha inferior ke dalam, atau dengan bidai
lakriml silikon temporer. Tindakan pelebaran jangan dilakukan bila ada infeksi akut (Riordan
& Whitcher, 2013)
3.9 Komplikasi
Dakriosistitis yang tidak diobati dapat menyebabkan pecahnya kantong air mata
sehingga membentuk fistel. Bisa juga terkadi abses kelopak mata, ulkus, bahkan selulitis
orbita (Ilyas, 2011)
Komplikasi juga bisa muncul setelah dilakukannya DCR. Komplikasi tersebut di
antaranya adalah perdarahan pascaoperasi, nyeri transien pada segmen superior os.maxilla,
hematoma subkutaneus periorbita, infeksi dan sikatrik pascaoperasi yang tampak jelas.
3.9.1 Prognosis
Dakriosistitis sangat sensitif terhadap antibiotika namun masih berpotensi terjadi
kekambuhan jika obstruksi duktus nasolakrimalis tidak ditangani secara tepat, sehingga
prognosisnya adalah dubia ad malam. Akan tetapi, jika dilakukan pembedahan baik itu dengan
dakriosistorinostomi eksternal atau dakriosistorinostomi internal, kekambuhan sangat jarang
terjadi sehingga prognosisnya dubia ad bonam (OBrien, 2009)
BAB 4
PEMBAHASAN
Pasien neonatus perempuan usia8 hari dengan keluhan utama benjolan dibawah mata
kanan. Melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik ditegakkan diagnosis OD dakriosistitis. Pada
anamnesis didapatkan keluhan benjolan pada mata kanan sejak 3 hari yang lalu. Benjolan
disertai dengan produksi cairan keruh serta adanya produksi air mata yang lebih banyak pada
mata kanan, benjolan tersebuttampak terasa gatal sehingga bayi sering mengucek-ucek mata

15

kanannya. Pasien juga mengeluhkan demam sejak kemarin namun sudah reda dengan obat
racikan dari dokter anak.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan nodul subkutan pada palpebra inferior kantus
medial dextra, berbentuk bulat, diameter 5 mm, konsistensi lunak, eritema (+) nyeri (+) serta
tampak adanya secret mukopurulen berwarna kekuningan yang sudah mongering ditepi
palpebral superior dan inferior.
Pasien merupakan seorang neonatuss berusia 8 hari yang merupakan usia rentan untuk
mengalami dakriosistitis. Penyebab dakriosistitis pada neonatus biasanya didahului oleh
obstruksi duktus nasolakrimalis. Yang disebabkan oleh adanya stenosis pada katup hasner.
tetapi duktus tersebut dapat membuka spontan dalam bulan pertama. Mac Ewan & Young
(1991 dalam Wagner, 1998) melaporkan bahwa 20% dari 4792 bayi di Skotlandia ditemukan
mengalami gangguan drainase lakrimal. Sedangkan Angka kejadian obstruksi saluran
lakrimalis di Jepang yaitu sebesar 12,5% pada tahun 2003 dan 2-4% di Amerika Serikat pada
tahun 2002 (Skorin L, Hoppe M, 2003).
pada tahun pertama kehidupannya.Obstruksi pada duktus nasolakrimalis ini dapat
menimbulkan penumpukan air mata, debris epitel, dan cairan mukus sakus lakrimalis yang
merupakan media pertumbuhan yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Kuman yang paling
sering menyebabkan dakriosistitis pada bayi dan anak-anak meliputi Staphylococcus aureus,
Hemophilus influenzae, beta hemolytic Streptococci (Christina, 2011)
Pasien didiagnosis dakriosistitis dengan diagnosis banding hordeolum dan selulitis
orbita. Selulitis orbita akan memberikan gejala demam, mata merah, kelopak sangat edema
dan kemotik, mata proptosis, atau eksoftalmus diplopia, sakit terutama bila digerakkan, dan
tajam penglihatan menurun bila terjadi penyakit neuritis retrobulbar. Pada retina terlihat tanda
stasis pembuluh vena dengan edema papil.

Hordeolum merupakan peradangan supuratif

kelenjar kelopak mata. Dikenal bentuk hordeolum internum dan eksternum. Horedeolum
16

eksternum merupakan infeksi pada kelenjar Zeiss atau Moll. Hordeolum internum merupakan
infeksi kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus. Gejalanya berupa kelopak yang
bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal, merah dan nyeri bila ditekan. Hordeolum
eksternum atau radang kelenjar Zeis atau Moll akan menunjukkan penonjolan terutama ke
daerah kulit kelopak (Ilyas, 2011)
Pada pasien ini dilakukan tindakan konservatif terlebih dahulu dengan tindakan non
farmakologi berupa kompres hangat pada daerah benjolan dengan frekuensi yang cukup sering
serta dilakukan massase ringan pada daerah nasolakrimal kantong ke arah pangkal hidung.Hal
tersebut diharapkan untuk mengosongkan sakus lakrimalis sertamembuka dan melancarkan
duktus nasolacrimal agar saluran yang telah tersumbat dengan debris-debris epitel sehingga
mengurangi kesempatan pertumbuhan kuman.Sembilan puluh persen bayi dengan obstruksi
saluran lakrimalis mendapatkan resolusi spontan pada satu tahun pertama kehidupan
(Liessegang et al., 2002).Para ahli mata sepakat menggunakan manajemen konservatif pada
beberapa bulan pertama kehidupan dalam rangka membantu mempercepat terjadinya resolusi
(Christina, 2011).
Pada pasien ini tindakan nonfarmakologi juga diikuti dengan pemberianantibiotik tetes
mata Levofloxacin 6x1 tetes perhari.Levofloxacinmerupakan antibiotik broad spectrum yang
aktif terhadap bakteri gram positif dan negatif termasuk bakteri aerob. Pola kuman
dakriosistitis

pada

bayi

paling

banyak

adalah

Stafilokokus

aureus,

Streptokokus

betahemolitikus, Streptokokus pneumoniae yang merupakan Gram (+) dan kuman Gram (-),
danHaemofilus influenza (Christina, 2011).Pemberian terapi antibiotika topikal sesuai dengan
teori yang mengatakan sebaiknya dipilih broad spektrum sehinggaefektif untuk kuman Gram
(+) maupun Gram (-) (Liessegang et al., 2002). Sedangkan untuk tindakan operatif.pada
pasien ini belum perlu dilakukan.

17

BAB 5
KESIMPULAN

Dakriosistitis adalah suatu infeksi pada kantong air mata (sakus lakrimalis).
Dakriosistitis terbagi atas akut dan kronik. Bentuk spesial dari inflamasi pada saccus
lacrimalis adalah dakriosistitis kongenital, dimana patofisiologinya terkait erat dengan
embryogenesis sistem eksresi lakrimal. Pada orang dewasa, perempuan lebih sering
terkena dakriosistitis. Umumnya dakriosistitis mengenai umur lebih dari <55 tahun, dan

tertinggi pada usia 50-60 tahun.


Pada dakriosistitis kongenital, kanalisasi yang tidak lengkap dari duktus nasolakrimalis
memiliki peran yang penting dari pathogenesis yang terjadi. Obstruksi dari bagian bawah
duktus nasolakrimalis seringkali ditemukan pada orang dewasa yang terkena
dakriosistitis. Bakteri aerob dan anaerob bisa didapatkan pada kultur dari anak-anak dan

orang dewasa dengan dakriosistitis.


Sembilan puluh persen bayi dengan obstruksi saluran lakrimalis mendapatkanresolusi
spontan pada satu tahun pertama kehidupan dengan terapi konsevatif.

18