Anda di halaman 1dari 51

MUDAH SUKA MUDAH DUKA

LBM 2

STEP 1
Sindroma depresi
: suatu kumpulan gejala atau gangguan pemusatan yg
ditandai hilangnya perasaan kendali dan subjektif adanya penderitaan yg berat.
Gangguan suasana perasaan
: keadaan dalam diri individu sebagai akibat dari
yang dialaminya atau yang dipersepsinya (mood/afektif)
Mood
: emosi secara internal (tidak terlihat org lain hanya
dirinya sendiri yang merasakan)
Afek
terbatas.

: emosi yang bisa diobservasi cth tumpul , datar,

STEP 2
1. Definisi mood dan afek ?
2. Etiologi gangguan mood afek?
3. Klasifikasi dan gejala?
4. Definisi sindroma depresi?
5. Etiologi sindroma depresi?
6. Klasifikasi dan gejala?
7. Patofisiologi?
8. Pemeriksaan status mental ?
9. Pemeriksaan penunjang?
10.Alur penegakan diagnosis?
11.Penatalaksanaan?
12.Mengapa pasien mencoba bunuh diri, pendiam, malas mengerjakan tugas,
menangis sendiri (sindroma depresi)?
13.Apa hubungan lamanya keluhan dengan gejala yang dialami pasien?
14.DD?
STEP 3
1. Definisi mood dan afek ?
Mood : keadaan emosional yang internal yang menetap, lebih lama dari
afek
Afek : ekspresi eksternal sehingga bisa dinilai, lamanya fluktuatif
afek datar
afek tumpul : tidak sesuai dengan mood
2. Etiologi gangguan mood afek?
Gangguan mood:
Biologis , Genetik, Psikososial
Jika terjadi pada genetik dan psikososial , terjadi ketidakseimbangan
neurotransmitter gg. Mood.

Jika terjadi pada biologis dan psikososial , terjadi perubahan pada gen.
Pada biologis dan genetik , dapat mempengaruhi respon seseorang
terhadap stressor.
Pada psikososial akan mempengaruhi otaknya, terjadi perubahan
neurotransimitter kehilangan neuron dan kontak sinaps peningkatan
gangguan mood.
Aminbiogenik perubahan norepinefrin dan serotonin patofisiologi gg.
Mood
gg. dopamin pencetus gg. Mood meningkat mania
norepiefrin reseptor adrenergik a2 - penurunan norepinefrin
3. Klasifikasi dan gejala mood afek?
Klasifikasi
Episodik mania f.30.0, 30.2, 30.2
Mulai adanya aktivitas yang berlebih hanya beberapa hari , jika menetap
lama F.34
F30.0 kekacauan pada aktivitas sosial ,
F 30.1 mania tanpa gejala psikotik, kurang 1 mnggu lebih berat, bicara
banyak, kurang tidur, waham.
F 30.2 mania dengan gejala psikotik , waham kejar ,kebesaran, halusinasi
F32.0 episodik depresi ringan
2-3 dari gejala utama depresi , sekurang-kurangnya ditambah gejala lain,
2 minggu, kekacauan sedikit
F32.1 episodik depresi sedang
Sekurang2nya 2-3 gejala, ditambah 3-4 gejala lain, minimal 2 mnggu,
keluhan nyata.
F32.2 episodik depresi berat tanpa gejala psikotik
Gejala utama terlihat semua ditambah 4 gejala lainnya
F32.3 episodik depresi berat dengan gejala psikotik
Hampir sama F32.2, ditambah waham, halusinasi, stupor.
F33 depresi berulang
F33.0 gangguan depresi berulang episode kini ringan
Episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresi ringan.
Sekurang2nya 2 episode min 2 mnggu,
F33.1 gangguan depresi berulang episode kini sedang
Episode sekarang memenuhi episode depresi sedang, sekurang2nya 2
episode berlangsung min 2 mnggu,
F33.2 gangguan depresi berulang episode kini berat tanpa gejala psikotik
Memenuhi episode depresi berat tanpa gejala psikotik , sekurang2nya 2
mnggu.
F33.3 gg. Depresi berulang dengan gejala psikotik
Depresi berat dengan gejala psikotik sekurang2nya 2 episode min 2
mnggu
F33.4 gg. Depresi berulang kini dengan remisi
Kriteria gg depresi berulang, sekurang2nya 2 episode dlm 2 mnggu
F33.8 gg. Depresi berulang lainnya
F33.9 gg. Depresi berulang YTT
Gejala utama :

1. Afek depresif
2. Kehilangan minat dan kegembiraan
3. Berkurangnya energi yg mengakibatkan mudah lelah dan menurunya
aktivitsas
Gejala lainnya
Konsentrasi perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan berkurang,
gagasan rasa bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yg
suram dan pesimis, gagasan yang membahayakan diri, tidur terganggu ,
nafsu makan berkurang.
4. Definisi sindroma depresi?
Kumpulan gejala yang ditandai dengan gejala klinik yang manifestasinya
berbeda tiap individu, terganggunya fungsi luhur manusia dengan gejala
penyerta akibat hormon terganggu misal hormon kortisol : gg pola tidur,
makan ,sedih konsentrasi terganggu, rasa putus asa, gagasan bunuh diri.
Gejala utama :
4. Afek depresif
5. Kehilangan minat dan kegembiraan
6. Berkurangnya energi yg mengakibatkan mudah lelah dan menurunya
aktivitsas
Gejala lainnya
Konsentrasi perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan berkurang,
gagasan rasa bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yg
suram dan pesimis, gagasan yang membahayakan diri, tidur terganggu ,
nafsu makan berkurang.
5. Etiologi sindroma depresi?
Biologis, genetik, psikososial
Biologis :
Neurotransmitter
HP axis : mengalami kerusakan
Jika ada stressor CRH pituitary ACTH korteks adrenal kortisol
umpan balik negatif CRH turun rusak hiperkortisolisme
Hipocampus kerusakan ?
6. Klasifikasi dan gejala sindroma depresi?
F32.0 episodik depresi ringan
2-3 dari gejala utama depresi , sekurang-kurangnya ditambah gejala lain, 2
minggu, kekacauan sedikit
F32.1 episodik depresi sedang
Sekurang2nya 2-3 gejala, ditambah 3-4 gejala lain, minimal 2 mnggu, keluhan
nyata.

F32.2 episodik depresi berat tanpa gejala psikotik


Gejala utama terlihat semua ditambah 4 gejala lainnya
F32.3 episodik depresi berat dengan gejala psikotik
Hampir sama F32.2, ditambah waham, halusinasi, stupor.
Gejala utama :
Afek depresif
Kehilangan minat dan kegembiraan
Berkurangnya energi yg mengakibatkan mudah lelah dan menurunya
aktivitas
Gejala lainnya
Konsentrasi perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan berkurang,
gagasan rasa bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yg
suram dan pesimis, gagasan yang membahayakan diri, tidur terganggu ,
nafsu makan berkurang.
7. Patofisiologi?
Faktor biologi:
Stressor kelenjar adrenal neurotransmitter & hormon
Neurotransmitter:
Dopamin senang
Dopamin turun
Serotonin turun
Hormon FSH LH turun, testosteron turun
8. Pemeriksaan status mental ?
Gambaran umum : postur tubuh bungkuk,gerakan spontan, sedih ,
memalingkan wajah dan kemunduran psikomotor
Mood afek perasaan : menarik diri dari aktivitas sosial , dan aktivitas umum
Suara : pengurangan jumlah dan volume suara , menjawab lama
Gangguan persepsi : disertai waham dan halusinasi
Pikiran : pandangan negatif terhadap dunia dan diri sendiri, cth rasa
kehilangan, bunuh diri
Sensorium dan kognitif : gangguan orientasi , hendaya kognitif
(pseudodemensia depresi : tidak mampu konsentrasi dan gampang lupa),
penurunan energi (impuls ) ,
Pertimbangan dan tilikan : menekankan gejala , masalah dan gangguannya
Reabilitas : menekankan hal buruk.
9. Pemeriksaan penunjang?

Tes supresi dexametason tunggal


Tes narkotika dan psikotropika, alkohol
CT scan gangguan medis umum
EEG
Pemeriksaan fisik umum
Positron emission tormography tumor otak

10.Alur penegakan diagnosis sindroma depresi dan bipolar? (skema)


11.Penatalaksanaan?
Nonmedikamentosa
medikamentosa
Mekanisme :
Menghambat neurotransmiter aminergik uptake di post sinaps
sedikit
Menghambat enzim mono amin oksidase meningkatkan uptake di
post sinaps meningkatkan reseptor serotonin
Antidepressan :
Amytriptilin, amoxapin, centralin, fluoxetine
TCA : menghambat reuptake serotonin dan norepinefrin
Cth : amytriptilin, imipramin
SNRI : menghambat reuptake serotonin dan norepinefrin
Cth : venlafaxin
SSRI : menghambat reuptake serotonin scr selektif
Centralin
MAOI : Menghambat enzim mono amin oksidase
Cth : fenelzine
Aminoketon : menghambat reuptake dopamin dan norepinefrin
Cth : bupropion
Triazolpiridin: antagonis resptor 5HT (reseptor serotonin), 5HT 2a ,
menghampat reuptake serotonin
Cth : trazodone
Tetrasiklik : antagonis reseptor alfa 2 adrenergik / 5HT presinaptik,
Cth: mirtazapine
12.Mengapa pasien mencoba bunuh diri, pendiam, malas mengerjakan tugas,
menangis sendiri (sindroma depresi)?
Dopamin gg. Jalur mesolimbik -> Dopamin disfungsi depresi
Resptor dopamin tipe 1 mengalami hipoaktif depresi
Kadar serotonin di LCS rendah
Ambilan konsentrasi serotonin rendah
Jumlah norepinefrin rendah serotonin rendah
13.Apa hubungan lamanya keluhan dengan gejala yang dialami pasien?
Kurang 2 mnggu gejala berat episodik depresif
14.Gangguan bipolar (beda bipolar 1 dan 2) ?
15.Kriteria diagnostik bipolar?
16.DD?
a. Episodik depresif
b. Gangguan bipolar

STEP 4

BIOLOG
I

GENETI
K

PSIKOSOSIA
L

DEPRE
SI DAN
MANIA

GANGGUAN
MOOD AFEK

BIPOLA
R

STEP 7
1. Definisi mood dan afek ?

Afek adalah ekspresi eksternal dari isi emosional saat itu. Sedangkan Mood adalah
keadaan emosi internal alam perasaan atau suasana perasaan yang meresap dari
seseorang.
2. Etiologi gangguan mood afek?
a

Faktor Biologis

Data yang dilaporkan paling konsisten dengan hipotesis bahwa gangguan


depresi berat berhubungan dengan disregulasi heterogen pada amin biogenik
( norepinefrin dan serotonin ). Penurunan serotonin dapat encetuskan depresi,
dan pada beberapa pasien yang bunuh diri memiliki konsentrasi metabolik
serotonin di dalam cairan serebrospinal yang rendah serta konsentrasi tempat
ambilan serotonin yang rendah di trombosit. Faktor neurokimia lain seperti
adenilate cyclase, phsphotidyl inositol, dan regulasi kalsium mungkin juga
memiliki relevansi penyebab.
Penelitian anak pra pubertas dengan gangguan depresif berat dan remajaremaja dengan gangguan mood telah menemukan kelainan biologis.
Anak pra pubertas dalam suatu episode gangguan depresif berat
mensekresikan hormon pertumbuhan yang secara bermakna lebih banyak
selama tidur dibandingkan dengan anak normal dan anak dengan gangguan
mental nondepresi.

Amin biogenik. neuroutransmiter amin biogenik adalah:


norepinefrin, serotonin, dopamin, GABA dan neuroendokren.

NOREPINEFRIN.
reseptor adrenergik-alfa2, teraktivasi => norepinefrin yg di lepaskan.

reseptor adrenergik-alfa2 juga berlokasi pada neuron serotonergik dan


mengatur jumlan serotonin yang dilepaskan.

SEROTONIN.
penurunan serotonin => depresi, pasien yang bunuh diri memiliki
konsentrasi metabolit serotonin dlm cairan serebrospinalis rendah dan
konsentrasi tempat ambilan serotonin yang rendah di trombosit,

DOPAMIN.
Aktivitas dopamin pada depresi dan pada mania. Penelitian:
hubungan dopamin dan gangguan mood.
bahwa jalur dopamin mesolimbik: disfungsi pada depresi dan reseptor
dopamin tipe 1 (D1): hipoaktif pada depresi.

FAKTOR NEUROKIMIAWI LAIN.


Neurotransmiter asam amino, khususnya gamma-aminobutyric acid
(GABA) dan peptida neuroaktif (khususnya vasopresin & opiat endogen)
=> patofisiologi gangguan mood.

Beberapa peneliti telah menyatakan bahwa sistem pembawa kedua


(second-messenger), seperti: adenylate cyclase, phosphotidylinositol,
dan regulasi kalsiumjuga memiliki relevansi penyebab ggn mood

REGULASI NEUROENDOKRIN.
Hipotalamus sebagai pusat regulasi sumbu neurohormonal dan
hipotalamus menerima banyak masukan (input) neuronal yang
menggunakan neurotransmiter amin biogenik.
Sumbu neuroendokrin utama ggn mood adalah: sumbu adrenal, tiroid,
dan hormon pertumbuhan.
Kelainan neuroendakrin lainnya adalah:
sekresi nokturnal melantonin, pelepasan prolaktin terhadap
pemberian tryptophan, kadar follicle-stimulating hormone (FSH) dan
luteinizing hormone (LH), dan testosteron pada laki-laki

Faktor Genetika
Data genetik menyatakan bahwa sanak saudara derajat pertama dari

pasien gangguan depresi berat kemungkinan 1,5 2,5 kali lebih besar
daripada sanak saudara derajat pertama kontrol. Memiliki satu orang tua
yang terdepresi kemungkinan meningkatkan resiko dua kali untuk keturunan,
memiliki kedua orang tua terdepresi kemungkinan meningkatkan resiko
empat kali bagi keturunan untuk terkena gangguan depresi sebelum usia 18
tahun.

Faktor Psikososial

Peristiwa kehidupan dan stess lingkungan, suatu pengalamn klinis yang telah
lama direplikasikan adalah bahwa peristiwa kehidupan yang menyebabkan
stress lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood daripada
episode selanjutnya. Hubungan tersebut telah dilaporkan untuk gangguan
depresi berat.
Data yang paling mendukung menyatakan bahwa peristiwa kehidupan paling
berhubungan dengan perkembangan depresi selanjutnya adalah kehilangan
orang tua sebelum usia 13 tahun. Stressor lingkungan yang paling
berhubungan dengan onset suatu episode depresi adalah kehilangan
pasangan.

Bebeapa artikel teoritik mempermasalakan hubungan antara fungsi keluarga


dan onset serta perjalanan gangguan depresi berat. Selain itu, derajat
psikopatologi di dalam keluarga mungkin mempergaruhi kecepatan
pemulihan, berkurangnya gejala, dan penyesuaian pasien pasca pemulihan.
Peristiwa kehidupan dan stres lingkungan.
peristiwa kehidupan (clefts) melepaskan corticotropin-releasing hormone
(CRH), menstimulasi pelepasan hormon adrenokortikotropik (ACTH) dari
hipofisis anterior. ACTH => pelepasan kortisol dari korteks adrenal. Kortisol
memberikan umpan batik (feed back) pada jaringan kerja melalui
sekurangnya dua mekanisme:
- mekanisme umpan balik cepat, peka terhadap kecepatan peningkatan
konsentrasi kortisol, beroperasi melalui reseptor kortisol di hipokampus dan
menyebabkan pelepasan ACTH;
- mekanisme umpan balik lambat, sensitif terhadap konsentrasi kortisol, bekerja
melalui reseptor hipofisis dan adrenal.

Sumber : Kaplan, Sadock, Sinopsis Psikiatri, Jilid VII, edisi Ketujuh,


Binarupa Aksara, Jakarta, 2007.

Regulasi

neuroendokrin

hipotalamus

(pusat

pengaturan

aksis

neuroendokrin, menerima berbagai input saraf melalui neurotransmitter


amin biogenik). Disregulasi neuroendokrin yang abnormal akibat fungsi
neuron yg mengandung amin biogenik yg abnormal pula. Aksis
neuroendokrin

yg

utama

aksis

adrenal,

tiroid,

serta

hormon

pertumbuhan. Kelainan lain berkurangnya sekresi melatonin nokturnal,


pelepasan prolaktin pd pemberian triptofan, kadar basal FSH, dan LH serta
kadar testosteron pd laki-laki.
Aksis Adrenal
Peran kortisol. 50% pasien depresi memiliki tingkat kortikal yg
meningkat. Neuron di dalam nukleus paraventrikularmelepaskan
hormon

pelepas

kortikotropin

(CRH)merangsang

hormon

adenokotikotropik (ACTH) dari hipofisis anteriordilepaskan


bersama dg -endorfin dan -lipotropin( disintesis dari protein
sintesis asal prekursor yg sm dg ACTH) ACTH merangsang

pelepasan kortisol dr korteks adrenal. Umpan balik kortisol bekerja


melalui dua mekanisme, umpan balik cepatsensitif terhadap laju
peningkatan kortisol bekerja melalui reseptor kortisol pd
hipokampus berkurangnya pelepasan ACTH. Umpan balik
lambatsensitif terhadap konsentrasi kortisol yg cenderung

stabil bekerja melalui reseptor hipofisis dan adrenal.


Aksis tiroid5-10% org dg depresi sering ditemukan gangguan
tiroid. 1/3 pasien dg ganggua depresif berat yg tidak memiliki aksis
tiroid normal. Ditemukan memiliki respon tirotropin dan hormon

perangsang tiroid (TSH).


Hormon pertumbuhan pasien depresi memiliki respon stimulasi
pelepasan hormon pertumbuhan tidur yg tumpul yg diinduksi
klonidin (Catapres).
a Somatostatin menghambat asam -aminobutirat, ACTH,dan
TSH. Kadar somatostatin dalam cairan serebrospinal lebih
rendah pada orang dengan depresi dibandingkan dengan orang
dengan skizofrenia atau normal serta kadar yg meningkat pada
b

mania.
Prolaktin pelepasan prolaktin dari hipofisis dirangsang
serotonin dan dihambat dopamin. Tidak ditemukan kelainan
bermakna pada sekresi prolaktin basal atau sirkardian pada
depresi.

3. Klasifikasi dan gejala gangguan mood afek?

Menurut PPDGJ III:


F30: Episode Manik
Saat ini dalam keadaan mania, sebelum dan sesudahnya tidak ada
F31: gangguan afektif bipolar
Sebelumnya sudah menglami ggg afektif dulu
F32: episode depresif
Pasien menglami suasana perasaan yang sangat depresif,

kehilangan minat dan kegembiraan


F33: gangguan depresif berulang
Episode berulang dari depresi, biasanya ada jeda antara 2 serangan
F34: gangguan suasana perasaan (mood/afektif) menetap
Gangguan suasana perasaan yang berfluktuasi dan menetap
F38: gangguan suasana perasaan (mood/afektif) lainnya
F39: gangguan suasana perasaan (mood/afektif) YTT

F. 30 EPISODE MANIK
F30.0 Hipomania:
- Derajat gangguan yang lebih ringan dari mania (F30.1),afek yang
meninggi atau berubah disertai peningkatan aktivitas menetap selama
sekurang-kurangnya beberapa hari berturut-turut ,pada suatu derajat
intensitas dan bertahan melebihi siklotimia (F34.00 ,serta tidak ada
-

halusinasi atau waham.


Pengaruh nyata atas kelancaran pekerjaan dan aktivitas social memang
sesuai dengan diagnosis hipomania,akan tetapi bila kekacauan itu berat
atau menyeluruh ,maka diagnosis mania (F30.1 atau F30.2) harus

ditegakkan.
F30.1 Mania tanpa gejala psikotik
- Episode harus berlangsung sekurang-kurangnya 1 minggu dan cukup
berat sampai mengacaukan seluruh atau hampir seluruh pekerjaan
-

dan aktivitas social yang biasa dilakukan.


Perubahan afek harus disertai energy yang bertambah , sehingga terjadi
aktivitas berlebihan,percepatan dan kebanyakan bicara,kebutuhan

tidur berkurang, ide-ide perihal kebesaran, dan terlalu optimistik.


F30.2 Mania dengan gejala psikotik
- Gambaran klinis merupakan bentuk mania yang lebih berat dari mania
-

tanpa gejala psikotik


Harga diri yang membumbung dan gagasan kebesaran dapat
berkembang

menjadi

waham

kebesaran

(delusion

of

persecution),iritabilitas dan kecurigaan menjadi waham kejar (delusion


of persecution) .Waham dan halusinasi sesuai dengan keadaan afek
tersebut (mood-congruent).
F30.8 Episode Manik Lainnya
F30.9 Episode Manik YTT
EPISODE MANIK
Hipomania

Mania tanpa gejala psikotik

GEJALA KHAS/MENONJOL
Afek yang meninggi/berubah disertai
peningkatan aktifitas , menetap selama
sekurang-kurangnya
beberapa
hari
berturut-turut
Episode
berlangsung
sekurangkurangnya 1 minggu
Cukup berat sampai mengacaukan seluruh
pekerjaan atau hampir seluruh aktifitas
social yang biasa dilakukan

Mania dengan Gejala psikotik

EPISODE DEPRESIF
RINGAN

SEDANG

BERAT tanpa Gjala Psikotik

Aktifitas yang berlebihan,percepatan &


kbanyakan bicara,keb tdr yang berkurang,
Ide-ide perihal kebesaran/grandiose
ideas dan terlalu optimistic
Gmbrn klinisnya > berat dari mania tanpa gjala
psikotik
Harga diri yang membumbung dan gagasan
kebesaranwaham kebesaran
Iritabilitas & kecurigaan waham kejar (delusion of
persecution)
Waham & halusinasi sesuai dengan keadaan afek
tersebut (mood-congruent)

GJALA KHAS/MENCOLOK
Sekurang-kurangnya ada 2 dari 3 gjala
utama depresi
Ditambah sekurang-kurangnya 2 gjala
lainnya
tdk ada yg berat diantaranya
minimal berlangsung 2 minggu
Hanya sedikit kesulitan dlm pekerjaan dan kegiatan
social yang biasa dilakukan
Sekurang-kurangnya ada 2 dari 3
gjala utama depresi
Ditambah sekurang-kurangnya 3 (&
sebaiknya 4)dari gejala lainnya
minimal berlangsung 2 minggu
Menghadapi kesulitan nyata untuk
meneruskan
keg.sosial,pekerjaan
dan urusan rumah tangga
Semua 3 gjala utama depresi harus
ada
Ditambah sekurang-kurangnya 4
dari gjala lainnya, dan beberapa
diantaranya harus berintensitas berat
berlangsung minimal 2 minggu
atau < bila gjala amat berat dan
beronset sangat ceoat
Sangat tdk mungkin pasient
mampu meneruskan kegiatan
social,pekerjaan/urusan
rumah tangga kcuali pd taraf
yg sangat terbatas

BERAT dengan gjala Psikotik

Sama sperti pd episode


depresif berat tanpa gjala
psikotik tapi disertai waham,
halusinasi
atau
stupor
depresif
waham biasnyamelibatkan
ide
ttg
dosa,kemiskinan/malapetaka
yg mengancam dan pasien
merasa bertanggung jwb atas
itu smua.
halusinasi
auditorik/olfactorik berupa
suara
yg
menghina/menuduh/bau
kotoran/daging membusuk

SUMBER : Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ
III, dr. Rusdi Maslim
F. 31 GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR
F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik

episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk hipomania


harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif

lain

(hipomanik,manik,depresif,atau campuran)di masa lampau


F31.1 Gangguan afektif bipolar episode kini manik tanpa gejala psikotik

episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa


gejala psikotik, dan

harus

ada

sekurang-kurangnya

satu

episode

afektif

lain(hipomanik,manik,depresif,atau campuran)di masa lampau


F31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik

episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania dengan gejala


psikotik.

harus

ada

sekurang-kurangnya

satu

episode

afektif

lain

(hipomanik,manik,depresif,atau campuran)di masa lampau


F31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedang

episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode


depresif ringan ataupun sedang dan

harus

ada

sekurang-kurangnya

satu

episode

afektif

hipomanik,manik,atau campuran dimasa lampau


F31.4 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik

episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif


berat tanpa gejala psikotik

harus

ada

sekurang-kurangnya

satu

episode

afektif

hipomanik,manik,atau campuran dimasa lampau.


F31.5 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan gejala
psikotik

episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode deperesif


berat dengan gejala psikotik

harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik,manik,atau


campuran dimasa lampau.

F31.6 Gangguan afektif bipolar episode kini campuran

episode

yang

sekarang

menunjukkan

gejala-gejala

manik,hipomanik,dan depresif yang tercampur atau bergantian


dengan cepat (gejala mania/hipomania dan depresi sama-sama
mencolok selama masa terbesar dari episode penyakit yang sekarang,
dan telah berlangsung sekurang-kurangnya 2minggu)

harus

ada

sekurang-kurangnya

satu

episode

afektif

hipomanik,manik,atau campuran di masa lampau.


F31.7 Gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi
sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa
bulan terakhir ini,tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya satu
episode afektif hipomanik, manik, atau campuran di masa lampau dan
ditambah sekurang-kurangnya satu episode afektif lain.
F31.8 Gangguan afektif bipolar lainnya
F31.9 Gangguan afektif bipolar yang tidak tergolongkan
SUMBER : Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ
III, dr. Rusdi Maslim

F. 32 EPISODE DEPRESI

F.32.0 Episode depresi ringan

Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama gangguan depresif


seperti tersebut di atas
Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya
Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya
Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu
Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang dilakukannya

F 32.1 Episode depresi sedang

Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama gangguan depresif


seperti tersebut diatas
Ditambah sekurang-kurangnya 3 gejala lainnya sebaiknya 4
Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya
Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu
Menghadapi kesulitan nyata dalam meneruskan kegiatan dan kegiatan
sosial,

F32.2 Episode Depresif berat tanpa gejala psikotik


Pedoman Diagnostik

Semua 3 gejala utama gangguan depresif harus ada

Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa diantaranya harus


berintensitas berat

Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikometer) yang mencolok,

maka penderita mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak
gejalanya secara rinci.

Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap episode gangguan depresif
berat masih dapat dibenarkan

Episode depresi biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu,


akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan
untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu

Sangat tidak mungkin penderita akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau
rumah tangga kecuali pada tarif yang sangat terbatas.

F32.3 EPISODE DEPRESI BERAT DENGAN GEJALA PSIKOTIK


Pedoman Diagnostik

Episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut F32.2 tersebut diatas

Disertai waham, halusinasi atau stupor. Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa,
kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan penderita merasa bertanggung
jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau olfatorik biasanya berupa suara yang
menghina atau menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk. Retardasi
psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor

1 Jika diperlukan, waham atau halusisnasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan
afek (mood congruent).

F32.8 Episode Depresif Lainnya


F 32.9 Episode Depresif YTT
SUMBER : Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ
III, dr. Rusdi Maslim
F. 33 GANGGUAN DEPRESIF BERULANG
F.33 GANGGUAN DEPRESIF BERULANG
Pedoman Diagnostik
Gangguan ini bersifat dengan episode berulang dari :
o Episode depresif ringan (F32.0)
o Episode depresif sedang (F32.1
o Episode depresif berat(F32.2 dan F32.3)
Episode masing-masing rata-rata lamanya sekitar 6 bulan akan tetapi frekuensinya lebih
jarang dibandingkan dengan gangguan bipolar
Tanpa riwayat adanya episode tersendiri dari peninggian afek dan hiperaktivitas yang
memenuhi kriteria mania (F30.1 dan F30.2) Namun kategori ini tetap harus digunakan jika
ternyata ada episode singkat dari peninggian afek dan hiperaktivitas ringan yang
memenuhi kriteria hipomania (F30.0) segera sesudah suatu episode depresi (kadang-kadang
tampaknya dicetuskan oleh tindakan pengobatan depresi)
Pemulihan keadaan biasanya sempurna di antara episode, namun sebagian kecil penderita
mungkin mendapat depresi yang akhirnya menetap, terutama pada lanjut usia (untuk
keadaan ini, kategori ini harus tetap digunakan)

Episode masing-masing, dalam berbagai tingkat keparahan, seringkali dicetuskan oleh


peristiwa kehidupan yang penuh stres atau trauma mental lain (adanya stres tidak esensial
untuk penegakkan diagnosis)
F33.0 GANGGUAN GANGGUAN DEPRESIF BERULANG, EPISODE KINI RINGAN
Untuk Diagnosis pasti :
Kriteria untuk gangguan depresif berulang (F33) harus dipenuhi dan episode
sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresi ringan (F32.0), dan
sekurang-kurangnya dua episode telah berlangsung masing-masing selama minimal
2 minggu dengan sela waktu beberapa bulan tanpa gangguan afektif yang
bermakna.
Karakter Kelima F.33.00 = Tanpa gejala somatik
F.33.01 = Dengan gejala somatik
F33.1 GANGGUAN DEPRESIF BERULANG, EPISODE KINI SEDANG
Pedoman Diagnostik
Untuk Diagnosis pasti :
a. Kriteria untuk gangguan depresif berulang (F33) harus dipenuhi dan episode sekarang
harus memenuhi kriteria untuk episode depresi sedang (F32.1) , dan
b. Sekurang-kurangnya dua episode telah berlangsung masing-masing selama minimal 2
minggu dengan sela waktu beberapa bulan tanpa gangguan afektif yang bermakna

F33.2 GANGGUAN DEPRESIF BERULANG, EPISODE KINI BERAT TANPA


GEJALA PSIKOTIK
Pedoman Diagnostik
Untuk Diagnosis pasti :
a. Kriteria untuk gangguan depresif berulang (F33) harus dipenuhi dan episode sekarang
harus memenuhi kriteria untuk episode depresi berat tanpa gejala psikotik (F32.2 ) dan
b. Sekurang-kurangnya dua episode telah berlangsung masing-masing selama minimal 2
minggu dengan sela waktu beberapa bulan tanpa gangguan afektif yang bermakna.
F33.3 GANGGUAN DEPRESIF BERULANG, EPISODE KINI BERAT DENGAN
GEJALA PSIKOTIK
Pedoman Diagnostik
Untuk Diagnosis pasti :

a. Kriteria untuk gangguan depresif berulang (F33) harus dipenuhi dan episode sekarang
harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat dengan gejala psikotik (F32.3) dan
b. Sekurang-kurangnya dua episode telah berlangsung masing-masing selama minimal 2
minggu dengan sela waktu beberapa bulan tanpa gangguan afektif yang bermakna.

F33.4 GANGGUAN DEPRESIF BERULANG, KINI DALAM REMISI


Pedoman Diagnostik
Untuk Diagnosis pasti :
a. Kriteria untuk gangguan depresif berulang (F33,-) harus dipenuhi dan episode sekarang
seharusnya tidak memenuhi kriteria untuk episode depresi dengan derajat keparahan
apapun atau gangguan lain apapun dalam F30 F39. dan
b. Sekurang-kurangnya dua episode telah berlangsung masing-masing selama minimal 2
minggu dengan sela waktu beberapa bulan tanpa gangguan afektif yang bermakna.
F33.8 Gangguan depresif berulang lainnya
F33.9 Gangguan depresif berulang YTT
SUMBER : Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ
III, dr. Rusdi Maslim
F. 34 GANGGUAN SUASANA PERASAAN (MOOD [AFEKTIF]) MENETAP
F34.0 Siklotimia
Ciri esensial ialah ketidak-stabilan menetap dari afek (suasana
perasaan), meliputi banyak periode depresi ringan dan hipomania
ringan, diantaranya tidak ada yang cukup parah atau cukup lama
untuk memenuhi kriteria gangguan afektif bipolar (F31.-) atau
gangguan depresi berulang (F33.-)
Setiap episode alunan afektif (mood swings) tidak memenuhi
kriteria untuk kategori mana pun yang disebut dalam episode
manik (F30.-) atau episode depresi (F32.-)
Diagnosis banding : Gangguan afektif bipolar (F31.-)
Gangguan depresi berulang (F33.-)
F34.1 Distimia
Ciri esensial ialah afek depresi yang berlangsung sangat lama yang
tidak pernah atau jarang sekali cukup parah untuk memenuhi
kriteria gangguan depresif berulang ringan atau sedang (F33.0
atau F33.1)
Biasanya mulai pada usia dini dari masa dewasa dan berlangsung
sekurang-kurangnya beberapa tahun, kadang-kadang untuk jangka

waktu tidak terbatas. Jika onsetnya pada usia lebih lanjut, gangguan ini
seringkali merupakan kelanjutan suatu episode depresif tersendiri
(f32.) dan berhubungan dengan masa berkabung atau stres lain yang
tampak jelas.
Diagnosis Banding : Gangguan campuran anxietas-depresi (F41.2)
Reaksi depresi berkepanjangan (F43.21)
Skizofrenia residual (F20.5)

F34.8 Gangguan Afektif Menetap Lainnya


Kategori sisa untuk gangguan afektif menetap yang tidak cukup parah
atau berlangsung cukup lama untuk memenuhi kriteria siklotimia
(34.0) atau distimia (34.1), namun secara klinis bermakna.
F34.9 Gangguan Afektif Menetap YTT
SUMBER : Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ
III, dr. Rusdi Maslim
F. 38 GANGGUAN SUASANA PERASAAN (MOOD [AFEKTIF]) LAINNYA
F38.0 Gangguan Afektif Tunggal Lainnya
F38.00 = Episode afektif campuran
Episode afektif yang berlangsung sekurang-kurangnya selama 2
minggu yang bersifat campuran atau pergantian cepat ( biasanya
dalam beberapa jam) antara gejala hipomanik, manik, dan depresif.
F38.1 Gangguan Afektif Berulang Lainnya
F38.10 = Gangguan depresif singkat berulang
Episode depresif singkat yang berulang, muncul kira-kira sekali
sebulan selama satu tahun yang lampau.
Semua episode depresif masing-masing berlangsung kurang dari 2
minggu (yang khas ialah 2-3 hari, dengan pemulihan sempurna) tetapi
memenuhi kriteria simtomatik untuk episode depreasif ringan,
sedang, atau berat (F32.0, F32.1, F32.2)
Diagnosis Banding : Distimia (F34.1)
Episode depresif berkaitan dengan menstruasi
(F38.8)
F.38.8 Gangguan Afektif Lainnya YDT
Merupakan kategori sisa utuk gangguan afektif yang tidak
memenuhi kriteria untuk kategori mana pun dari F.30 F38.1
F38.9 Gangguan Afektif YTT
Untuk dipakai hanya sebagai langkah terakhir, jika tak ada istilah lain
yang dapat digunakan

Termasuk : psikosis afektif YTT

SUMBER : Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ
III, dr. Rusdi Maslim
F. 39 GANGGUAN SUASANA PERASAAN (MOOD [AFEKTIF]) YTT
SUMBER : Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ
III, dr. Rusdi Maslim

EPISODE DEPRESIF
RINGAN

SEDANG

BERAT tanpa Gjala Psikotik

BERAT dengan gjala Psikotik

GJALA KHAS/MENCOLOK
Sekurang-kurangnya ada 2 dari 3 gjala
utama depresi
Ditambah sekurang-kurangnya 2 gjala
lainnya
tdk ada yg berat diantaranya
minimal berlangsung 2 minggu
Hanya sedikit kesulitan dlm pekerjaan dan
kegiatan social yang biasa dilakukan
Sekurang-kurangnya ada 2 dari 3
gjala utama depresi
Ditambah sekurang-kurangnya 3
(& sebaiknya 4)dari gejala lainnya
minimal berlangsung 2 minggu
Menghadapi kesulitan nyata untuk
meneruskan
keg.sosial,pekerjaan
dan urusan rumah tangga
Semua 3 gjala utama depresi
harus ada
Ditambah sekurang-kurangnya 4
dari gjala lainnya, dan beberapa
diantaranya harus berintensitas berat
berlangsung minimal 2 minggu
atau < bila gjala amat berat dan
beronset sangat cepat
Sangat
tdk
mungkin
pasient mampu meneruskan
kegiatan
social,pekerjaan/urusan
rumah tangga kcuali pd taraf
yg sangat terbatas
Sama sperti pd episode
depresif berat tanpa gjala
psikotik
tapi
disertai

waham, halusinasi atau


stupor depresif
waham biasnyamelibatkan
ide
ttg
dosa,kemiskinan/malapetaka
yg mengancam dan pasien
merasa bertanggung jwb atas
itu smua.
halusinasi
auditorik/olfactorik berupa
suara
yg
menghina/menuduh/bau
kotoran/daging membusuk
SUMBER : Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ
III, dr. Rusdi Maslim

Gejala dan Penegakan Diagnosis Depresi


Untuk menegakkan diagnosa depresi seseorang, maka yang dipakai pedoman adalah ada
tidaknya gejala utama dan gejala penyerta lainnya, lama gejaa yang muncul, dan ada tidaknya
episode depresi ulang (Rusdi Maslim, 2001). Sebagaimana tersebut berikut ini :
1. Gejala utama pada derajat ringan, sedang dan berat
1) Afek depresi
2) Kehilangan minat dan kegembiraan
3) Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan yang mudah lelah (rasa lelah
yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.
2. Gejala penyerta lainnya:
1) Konsentrasi dan perhatian berkurang
2) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
3) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
4) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
5) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
6) Tidur terganggu
7) Nafsu makan berkurang
(Sinopsis Psikiatri, Kaplan-Sadock)

KLASIFIKASI
Menurut DSM-IV
a Depresi berat (depresi unipolar)
b Ggn bipolar :
Episode mani-depresi atau mani-mani (mani unipolar atau mani
murni)
Episode hipomani-depresi
c Ggn mood tambahan:
Gangguan siklotimik ( siklotimia )
Gangguan distimik ( distimia )
Gangguan berhubungan dengan sindrom depresi:
Gangguan depresi ringan sedang
Gangguan depresi singkat rekuren ( berat-ringan)
Gangguan disforik pra menstrual
Gangguan mood krn kondisi medis umum
Gangguan mood akibat zat
Gangguan mood yang tidak ditentukan
Sinopsis Psikiatri, Kaplan & Sadock ed. 7 jilid satu
F30 EPISODE
F30.1
F30.2
F30.3
F30.8
F30.9
F31

MANIK
Hipomania
Mania Tanpa Gejala Psikotik
Mania Dengan Gejala Psikotik
Episode Manik Lainnya
Episode Manik YTT

Gangguan Afektif Bipolar


F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik
F31.1 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa
gejala psikotik
F31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan
gejala psikotik
F31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan
atau sedang
F31.4 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat
tanpa gejala psikotik
F31.5 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat
dengan gejala psikotik
F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran
F31.7 Gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi
F31.8 Gangguan afektif bipolar lainnya
F31.9 Gangguan afektif bipolar yang tidak tergolongkan

F32 EPISODE DEPRESIF

F32.0 Episode Depresif Ringan


.00 Tanpa Gejala Somatik
.01 Dengan Gejala Somatik
F32.1 Episode Depresif Sedang
.00 Tanpa Gejala Somatik
.01 Dengan Gejala Somatik
F32.2 Episode Depresif Berat Tanpa Gejala Psikotik
F32.3 Episode Depresif Berat Dengan Gejala Psikotik
F32.8 Episode Depresif Lainnya
F32.9 Episode Depresif YTT
F33 Gangguan Depresif Berulang
F33.0 Gangguan Depresif Berulang, Episode Kini Ringan
F33.1 Gangguan Depresif Berulang, Episode Kini Sedang
F33.2 Gangguan Depresif Berulang, Episode Kini Berat tanpa
Gejala Psikotik
F33.3 Gangguan Depresif Berulang, Episode Kini Berat dengan
gejala psikotik
F33.4 Gangguan Depresif Berulang, Kini dalam Remisi
F33.5 Gangguan Depresif Berulang lainnya
F33.6 Gangguan Depresif Berulang YTT
F34 Gangguan Suasana Perasaan (Mood / Afektif) Menetap
F34.0 Siklotimia
F34.1 Distimia
F34.8 Gangguan afektif Menetap lainnya
F34.9 Gangguan afektif Menetap lainnya
F38 Gangguan Suasana Perasaan (Mood/Afektif) Lainnya.
F38.0 Gangguan Afektif Tunggal lainnya
F38.1 Gangguan Afektif Berulang Lainnya
F38.8 Gangguan afektif Lainnya YDT
F38.9 Gangguan Afektif YTT
Dr. Rusdi Maslim, PPDGJ III
Macam-macam gangguan AFEK :
a Keadaan Afek yang cenderung meninggi ( Hyperthymia ) :
Euphoria : perasaan gembira yang berlebihan
Elasi : seperti euphoria tapi disertai tingkah laku motorik yang
agak berlebihan, labil dan menjurus mudah tersinggung
Eksaltasi : peninggian kehidupan afektif yang sangat menonjol
disertai perbuatan dan pikiran yang serba meninggi dan
berlebihan, tidak dapat tinggal diam untuk jangka pendek

Ekstasi : seringkali berkaitan dengan hal hal religius dan


identifikasi dengan kekuatan kosmik.
b Keadaan Afek yang cenderung merendah ( Hypothymia ) :
Depresi : menggambarkan segala bentuk keadaan sedih atau
murung. Biasanya disertai hambatan di bidang aktifitas baik
pikiran, perbuatan maupun perasaan.
Dukacita ( Grief ) : merupakan episode kesedihan yang
mendalam yang harus dibedakan dengan depresi.
Gangguan Afektif lain :
- Dysthimia : perasaan tidak menyenangkan
- Poikilothymia : perasaan yang berubah-ubah
Simptomatologi FK Undip
Gangguan afektif dibedakan menurut :
Episode tunggal atau multiple
Tingkat keparahan gejala :
- Mania dengan gejala psikotik, mania tanpa gejala psikotik
(hipomania)
- Depresi ringan, sedang, berat tanpa gejala psikotik, berat
dengan psikotik
Dengan atau tanpa gejala somatik.
GEJALA
Manifestasi klinis gangguan mood
Mania: mood meluap-luap, peningkatan harga diri, gagasan
meloncat-loncat (flight of ideas), gagasan kebesaran, hiperaktif,
kurang tidur
Depresi: kurang/hilang energi dan minat, nafsu makan, perasaan
bersalah, sulit konsentrasi, pikiran kematian/bunuh diri
Pd gangguan mood dapat terjadi perubahan :
aktivitas, kognisi dan pembicaraan.
fungsi vegetatif (nafsu makan, tidur)
aktivitas seksual dan irama biologis lainnya
fungsi interpersonal, sosial dan pekerjaan
Sinopsis Psikiatri, Kaplan & Sadock ed. 7 jilid satu
a Secara umum
Manik: flight of ideas, minat berlebihan, gairah atau energi
berlebihan/ hiperaktif tidak diimbangi makan yang cukup
sehingga mengalami penurunan berat badan.
Cemas, ketergantungan dengan alkohol dan napza, waham dan
putus asa. Waham yang sering terjadi adalah waham kebesaran,
pada episode yang parah bisa mengalami episode mood yang
bisa membahayakan orang lain.
Berdasarkan keparahannya, ada 3:

Hipomania
: suka humor , bicara banyak dan sukar
dihentikan, suka bekerja tapi tingkah laku kacau. Penderita
mengalami perasaan yang meningkat atau elasi, adanya
keinginan untuk keluar rumah, mudah marah berlangsung
selama 4 hari, sedikitnya terdapat 3 gejala: perasaan
kebesaran, gangguan tidur, nada suara tinggi, menghilangnya
kekacauan
dalam
bicara,
bukan
disebabkan
oleh
penyalahgunaan zat atau gangguan medis lain.
Mania akut
: tidak ada sopan santun, cepat marah, ada
waham, aktivitas meningkat dan berubah ubah.
Mania deliria
: inkoherensia, waham dan halusinasi.

Depresi : kepercayaan diri berkurang, konsentrasi berkurang,


pesimistik, tidak mengganggu orang di sekitarnya.
Afek depresi yang dapat menyebabkan perubahan tingkat afektif
keseluruhan. Disertai waham bersalah/ berdosa.
- Afek
: tidak sanggup menunjukkan rasa gembira,
merasa sedih dan penampakan lebih tua dari usia yang
sebenarnya.
- Kognitif
: merasa tidak berguna, merasa gagal.
- Psikomotor
: aktifitas menurun dan lambat, pembicaraan
monoton.
Ilmu Kedokteran Jiwa W.M. Roan
Episode manic :
Biasanya paling sedikit belangsung selama satu minggu, afeknya
meningkat, lebih gembira, mudah tersinggung atau membumbung
tinggi. Ditambah dengan :

rasa
percaya
harga
hebat/megalomania)

kebutuhan akan tidur berkurang

lebih banyak bicara

flight of ideas (loncat gagasan)

agitasi psikomotor, ingin segera memenuhi keinginannya

boros, banyak belanja, banyak telepon

perhatian mudah beralih

diri

yang

meningkat

(merasa

banyak melakukan hal-hal yang menghibur (menari, menyanyi


dll)

banyak melakukan transaksi tanpa perhitungan masak yang


merugikan
Kaplan & Saddock: Concise textbook of Clinical Psychiatry, second
edition, Lippincott William & Wilkins, 2004.
Episode depresi :
Gejala Utama :
Afek depresi
Kehilangan minat dan kegembiraan
Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan
yg mudah lelah ( rasa lelah yg nyata sesudah kerja sedikit
saja ) dan menurunnya aktivitas
Gejala Tambahan :
Konsentrasi dan perhatian berkurang
Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
Gagasan atau perbuatan membahayankan diri atau bunuh
diri
Tidur terganggu
Nafsu makan menurun
Dr. Rusdi Maslim, PPDGJ III
4. Definisi sindroma depresi?

Kumpulan gejala yang ditandai dengan gejala klinik yang


manifestasinya berbeda tiap individu, terganggunya fungsi luhur
manusia dengan gejala penyerta akibat hormon terganggu misal
hormon kortisol : gg pola tidur, makan ,sedih konsentrasi terganggu,
rasa putus asa, gagasan bunuh diri.
Gejala utama :
1 Afek depresif
2 Kehilangan minat dan kegembiraan
3 Berkurangnya energi yg mengakibatkan mudah lelah dan
menurunya aktivitsas
Gejala lainnya
Konsentrasi perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan
berkurang, gagasan rasa bersalah dan tidak berguna, pandangan masa

depan yg suram dan pesimis, gagasan yang membahayakan diri, tidur


terganggu , nafsu makan berkurang.
Depresi dapat diartikan sebagai salah satu bentuk gangguan alam perasaan yang ditandai
dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung, tidak bersemangat, perasaan tidak
berharga, merasa kosong, putus harapan, selalu merasa dirinya gagal, tidak berminat pada
ADL sampai ada ide bunuh diri.
Dalam pedoman penggolongan dan diagnosa gangguan jiwa di Indonesia III (PPDGJ III)
disebutkan bahwa gangguan utama depresi adalah adanya gangguan suasana perasaan,
kehilangan minat, menurunya kegiatan, pesimisme menghadapi massa yang akan datang.
Pada kasus patologi, depresi merupakan ketidakmampuan ekstrim untuk bereaksi
terhadap rangsang, disertai menurunya nilai dari delusi, tidak mampu dan putus asa
Episode depresi :
Gejala Utama :
Afek depresi
Kehilangan minat dan kegembiraan
Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan yg
mudah lelah ( rasa lelah yg nyata sesudah kerja sedikit saja ) dan
menurunnya aktivitas
Gejala Tambahan :
Konsentrasi dan perhatian berkurang
Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
Gagasan atau perbuatan membahayankan diri atau bunuh diri
Tidur terganggu
Nafsu makan menurun
Dr. Rusdi Maslim, PPDGJ III
5. Etiologi sindroma depresi?

The Current POD includes heredity as part of the cause of depression. Depression
tends to run in families. The genes from your mother and father determine your
innate vulnerability to depression. The exact mechanism by which heredity
affects the incidence and severity of depression is not known. But it is known
that heredity profoundly influences endocrine and brain function and both of
these systems play key roles in depression. It is estimated heredity accounts for
about 30 to 50% of the incidence of depression. In Figure 1, the two arrows
numbered 1 show the significant influence of heredity, via the brain and
endocrine system, on the susceptibility to depression. Notice in the diagram that
there is an arrow going from the endocrine system to the brain and from the
brain to depression. Thus, anything affecting the brain or the endocrine system
will affect the incidence and severity of depression.
Heredity, to a very great extent, also determines immune system function. But,
in psychiatry's Current POD, the immune system doesn't communicate with the
brain or any structure influencing depression. Hence, in psychiatry's current
depression models, heredity's sway over the immune system does not influence
depression. In Figure 1, these relations are shown by arrow 7 going from heredity
to the immune system and by arrow 8 going from the brain to the immune
system. Notice that arrow 8 does not go from the immune system to the brain. In
sharp contrast, the Immune-Cytokine POD incorporates the powerful control the
immune system has over the brain. This is one of the key ways the Current POD
profoundly differs from the Immune-Cytokine POD.
According to psychiatry's Current POD, mental stressors are involved in causing
depression. Mental stressors presumably alter some of the brain's
neurotransmitters (serotonin and norepinephrine) to produce depression in
genetically vulnerable people. Clearly, mental stressors are not the only causes
of depression, since vast number of people throughout the world are subjected to
severe mental stressors without developing depression. Indeed, mental stressors
may only be a minor cause of depression. In Figure 1, the role of mental stressors
in altering brain function in persons genetically vulnerable to depression is
shown by arrow 2.
Modern psychiatry fully admits that the etiology of depression is, for the most
part, unknown. In the Current POD, the forces causing depression are
mysterious, unfathomable and continue to be unknown even after a century of
biomedical research. Arrow 3, pointing from unknown factors to the brain,
acknowledges the Current POD's lack of insight into the etiology of depression.
There may be many reasons why the etiology of depression remains unknown
after all these years. As discussed in Chapter One, we suggested that the
establishment's classification of depression as a mental disease prevents
progress on understanding the etiology of depression. The Current POD doesn't
allow a physical stressor to be considered as a cause of depression, because
depression is classified as a mental disease. Mental diseases are assumed to
have mental causes, physical diseases to have physical causes. There is nothing

in the Current POD that can accommodate physical stressors. In the Current POD,
except for the endocrine system, the brain is cut off from the rest of the body.
In the Immune-Cytokine POD (Figure 2), a mechanism for physical stressors in
the etiology of depression is easily accommodated by the immune system's link
with the brain and endocrine system. The connection between the immune
system and the brain puts the brain in direct contact with the rest of the body.
There is nothing scientifically unusual about this. Physical stressors always
activate the immune system and increase cytokine secretion. The immune
system and cytokines always inform the brain and endocrine system about
serious physical stressors. In the Immune-Cytokine POD, physical stressors take
the place of the unknown factors in the Current POD.
Depression can be a cause of depression. It can feed upon itself. The symptoms
of depression, such as fatigue, depressed mood, lack of interest and pleasure in
things, irritability, social withdrawal and inability to concentrate, tend to make
the quality of life worse. With these symptoms, conflicts with family, friends and
coworkers will go up, while job performance and satisfaction with family and
friends will go down. Some of the sad outcomes of depression are job loss,
alienation from family and isolation from friends. Addictive substances become
more attractive, because they make the horrible emotions of depression seem a
little better for a short period. In this way depression causes psychological, social
and economic stressors (i.e. mental stressors) to increase. Misery begets misery.
The sixth arrow, going from depression to mental stressors, points out the
phenomena of depression helping to induce more depression. A vicious,
depressing cycle.
On the other hand, with the modern resources available, depression, instead of
making depression worse, can also be self-correcting. If a depressed person
recognizes his illness and seeks professional help, then the depression may
attenuate. Psychotherapy may help by providing techniques to cope with mental
stressors, thereby alleviating some depression. Antidepressants very often
improve the symptoms of depression.
Summing up What does the Current POD say about the etiology of depression?
Actually very little. Heredity plays a role, but the mechanism is not understood.
Mental stressors probably contribute to depression, but there is general
agreement that mental stressors are not the main causes of depression. This
leaves unknown factors as the mysterious etiologic agents. Unfortunately, the
Current POD puts severe restrictions on the unknown factors. Physical stressors
are not allowed as causes of depression. The Current POD is not a helpful model.
If anything, it profoundly impedes the search for the causes of depression.
(http://www.cytokines-and-depression.com/chapter2.html)
HPA AXIS!!

HPA AXIS
HPA AXIS adalah Singkatan dari HPA = Hypothalamus-Pituitary-Adrenal. Sedang
pengertian AXIS adalah Sumbu / hubungan langsung.
HPA AXIS adalah bagian utama dari sistem Neuroendokrin (Saraf pada hormon)
yang mengontrol reaksi terhadap Stres dan pula memiliki fungsi penting dalam
mengatur berbagai proses tubuh seperti pencernaan, sistem kekebalan tubuh
,suasana hati, emosi, seksualitas, dan penyimpanan penggunaan energi. Sumbu
HPA juga terlibat dalam gangguan kecemasan, gangguan bipolar, pascatraumatic stress disorder, depresi klinis, kelelahan dan sindrom iritasi usus besar.
Anatomi
Elemen-elemen kunci dari sumbu HPA adalah:

Paraventrikular dari hipotalamus, yang berisi neuron neuroendokrin yang


mensintesis dan mengeluarkan vasopresin serta corticotropin-releasing
hormon (CRH).

Secara khusus, CRH dan vasopresin merangsang sekresi hormon


adrenokortikotropik (ACTH). ACTH pada gilirannya bekerja pada adrenal
korteks yang menghasilkan hormon glukokortikoid (terutama kortisol pada
manusia) dengan stimulasi ACTH.

CRH dan vasopresin yang dilepaskan dari terminal saraf neurosecretory di


eminensia median. Mereka diangkut ke hipofisis anterior melalui sistem
pembuluh
darah portal dari tangkai hypophyseal. Ada, CRH dan vasopresin bertindak
sinergis untuk merangsang sekresi ACTH yang tersimpan dari sel corticotrope.
ACTH diangkut oleh darah ke korteks adrenal kelenjar adrenal, di mana ia cepat
merangsang biosintesis kortikosteroid dari kolesterol.
Kortisol memiliki efek pada banyak jaringan dalam tubuh, termasuk pada otak.
Di otak, kortisol bekerja pada dua jenis reseptor reseptor mineralokortikoid dan
reseptor glukokortikoid, dan ini diungkapkan oleh berbagai jenis neuron. Salah
satu target penting dari glukokortikoid adalah hippocampus, yang merupakan
pusat pengendali utama dari sumbu HPA.
Fungsi
Pelepasan CRH dari hipotalamus dipengaruhi oleh stres, dengan tingkat kortisol
darah dan oleh siklus tidur / bangun. Pada individu sehat, kortisol meningkat
pesat setelah bangun tidur yang hingga mencapai puncaknya dalam,waktu 30-45 menit. Ini kemudian secara bertahap mengurangi sepanjang hari,
naik lagi pada sore hari. Tingkat cortisol kemudian jatuh pada larut malam,
mencapai palung selama tengah malam. Sebuah siklus normal rata kortisol
sirkadian telah dikaitkan dengan sindrom kelelahan kronis, insomnia , dan
kelelahan .

Koneksi anatomis antara amigdala, hipokampus, dan hipotalamus memfasilitasi


aktivasi dari sumbu HPA. Informasi sensorik tiba di aspek lateral amigdala
diproses dan disampaikan ke inti pusat, yang proyek ke beberapa bagian otak
yang terlibat dalam respon terhadap rasa takut. Pada hipotalamus, ketakutansinyal impuls mengaktifkan kedua sistem saraf simpatik dan sistem modulasi
dari sumbu HPA.

Peningkatan produksi kortisol menengahi reaksi alarm stres,


memfasilitasi fase adaptif dari sindrom adaptasi umum di mana reaksi
alarm ditekan, memungkinkan tubuh untuk mencoba penanggulangan.

Glukokortikoid memiliki fungsi penting, termasuk modulasi reaksi stres,


tetapi bila berlebihan dapat merusak. Atrofi dari hippocampus pada
manusia dan hewan terkena stres berat diyakini disebabkan oleh paparan
yang terlalu lama untuk konsentrasi tinggi glukokortikoid. Kekurangan dari
hippocampus dapat mengurangi sumber daya memori yang tersedia untuk
membantu tubuh merumuskan reaksi yang tepat terhadap stres.

Sumbu HPA terlibat dalam neurobiologi gangguan mood dan penyakit


fungsional, termasuk gangguan kecemasan, gangguan bipolar, pascatraumatic stress disorder, depresi klinis, kelelahan, sindrom kelelahan
kronis dan sindrom iritasi usus besar.

Penelitian eksperimental telah menyelidiki berbagai jenis stres, dan efek mereka
pada aksis HPA dalam situasi yang berbeda banyak. Stres bisa dari berbagai
jenis, dalam studi eksperimental pada tikus, perbedaan sering dibuat antara
stres sosial dan stres fisik, namun kedua jenis tetap mengaktifkan aksis
HPA, meskipun melalui jalur yang berbeda. Beberapa neurotransmiter
monoamina penting dalam mengatur sumbu HPA, terutama dopamin, serotonin
dan norepinefrin (noradrenalin).

Poros HPA atau poros Hipotalamus-Pituitary-Adrenal, merupakan


salah satu dari beberapa poros Hipotalamus Pituitary - Target
Organ, berperan penting dalam mempertahankan mekanisme

penyesuaian;homeostasis, mekanisme pertahanan tubuh,


meningkatkan produksi hormon manakala berhadapan dengan
sires psikik;fisik. Pada stres yang berulang, kegiatan poros HPA
meningkat dan memicu peningkatan sekresi kortisol dari sel-sel
korteks adrenal. Hal ini menyebabkan kegiatan metabolisme dan
proses immunitas meningkat yang pada akhirnya
mengakibatkan gangguan mental berupa anxietas;depresi atau
gangguan fisik seperti hipertensi, tukak lambung dan lain-lain.
Kelenjar pituitari anterior melalui Adreno Cortico Tropic Horman
(ACTH) mengendalikan sekresi kortisol, sedangkan sel dari Para
Ventricular Nucleus (PVN) hipotalamus memproduksi
corticotropin releasing factor;hormone (CRF;CRH) yang
mengatur sekresi ACTH. Kesemuanya ini terkait dalam
mekanisme autoregulasi. Hipokampus merupakan bagian dari
sistem limbik dan berperan menghambat aktivasi HPA,
sebaliknya Amigdala berfungsi merangsang aktivasi HPA. Sel-sel
neuron Hipokampus terutama pada girus dentatus , area CA3
dan CA1 mempunyai sitat plastis dan rentan terhadap kerusakan
akibat penuaan, proses stres yang berkepanjangan, serangan
kejang atau pengaruh obat-obatan. Hal inl menimbulkan
kegiatan Amigdala meningkat sehingga kegiatan poros HPA
meningkat pula mengakibatkan terjadinya hiperkortisolemia
yang ada akhirnya menimbulkan kerusakan neuron hipokampus
lebih berat
http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tampil&id=34819&idc=24
GLUKOKORTIKOID!!
Tingginya kadar glukokortikoid dikaitkan dengan berkurangnya neurogenesis dan
mengecilnya ukuran hipokampus pada pasien dengan depresi. Selain itu, brainderived neurotrophic factor (BDNF)yang berperan penting dalam neurogenesis,
plastisitas neuron, pertumbuhan sinaps, dan kehidupan selsecara bermakna
berkurang pada individu yang melakukan bunuh diri. Terapi antidepresan,
aktivitas fisik teratur, dan electroconvulsive therapy(ECT) dapat meningkatkan
BDNF secara bermakna (www.kalbemed.com/.../06_190CME-Depresi
%20Mayor_Nurmiati%20A)
IRAMA SIRKADIAN!!
Gangguan irama sirkadian dapat terja-di pada depresi. Gangguan tersebut tidak
saja menganggu parameter fisiologik (mi-salnya, temperatur tubuh) atau
parameter biologik (misalnya, sekresi kortisol), tetapi juga mengganggu siklus
tidur-bangun dan mood. Terapi yang bertujuan menormalkan kembali ritme
sirkadian, secara bermakna, dapat menghilangkan gejala depresi.
Karena keanekaragaman dan kompleksnya etiopatogenesis depresi dan
mekanisme kerja farmakologi antidepresan, pende-katan pengobatan
depresi hendaklah ber-sifat individual. Berbedanya kondisi medis, respons
terapi, dan derajat remisi yang dicapai menyebabkan strategi terapi tidak
mungkin dalam bentuk tunggal. Dengan kata lain, untuk mencapai tujuan
terapi yang baik, hendaklah digunakan kombi-nasi berbagai modalitas
terapi, misalnya penggunaan psikofarmakologi, kombinasi farmakologi,

strategi augmentasi, terapi cahaya, deprivasi tidur, ECT, transcranial


magnetic stimulation (TMS), dan psiko-terapi
(www.kalbemed.com/.../06_190CME-Depresi%20Mayor_Nurmiati%20A)
6. Klasifikasi dan gejala sindroma depresi?

a Sindroma depresi melancolic


Adanya rem disegala bidang
Gejalanya
: trias depresi dan gejala tambahan
Trias depresi :
1 Cara berpikir sangat lambat
2 Tingkah laku yang lamban, kaang-kadang sampai stupor
3 Perasaaan hati yang sedih, negativisme
Gejala tambahan
1
2
3
4
5

Tak ada kepercayaan pada diri semdiri


Sering takut
Ada nafsu bunuh diri
Kadang-kadang halusinasi
Kadang-kadang ada waham hipocondrie, waham berdosa, waham diri miskin

Gejala jasmani

: kurus, konstipasi, amenorhoe

Keadaan ini terdapat pada : depresi endogen dan melancholia


b Sindroma depresi vegetatif
Banyak didapatkan gejala-gejala vegetatif, misalnya : sering haus, banyak keringat,
obstipasi, palpitasi, paraesthesi, tremor, pusing0pusing, kadang-kadang jatuh pingsan
Gejala psikik hanya sedikit :
1 Adanya remming
2 Tertawa seperlunya
3 Perasaan takut
4 Tidak ada waham
c Sindroma depresi psikogenik
Disebabkan oleh trauma psikik, bila trauma hilang, sindroma depresi hilang
Gejala-gejala :
1 Kemampuan psikik berkurang
2 Kelalaian psikik tak menonjol
3 Psikotrauma diketahui oleh penderita, tetapi penderita tidak mengerti, mengapa
kesedihan tak dapat hilang
4 Dapat ditolong dengan psiko-analisa
d Sindroma depresi involusi
Terdapat pada climacterium
Adanya remming
Keluhan-keluhan secara berlebihan
Trias depresi
Sumber : KAPLAN

Klasifikasi dan Gejala


1)
Gangguan Depresif
* Episode Depresi :
o Gejala utama ( pada derajat ringan, sedang, dan berat ) :
Afek depresif
Kehilangan minat dan kegembiraan
Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
(rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.
o Gejala lainnya :
Kosentrasi dan perhatian berkurang
Harga diri dan kepercayaan berkurang
Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
Gagasan atau perbuatan membahayakan diri sendiri atau bunuh diri.
Tidur terganggu
Nafsu makan berkurang
* Episode Depresif Ringan
o Sekurang kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi ditambah
sekurang kurangnya 2 dari gejala lainnya. Tidak boleh ada gejala yang berat
diantaranya.
o Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang kurangnya sekitar 2 minggu.
o Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa
dilakukannya.
* Episode Depresif Sedang
o Sekurang kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi ditambah
sekurang kurangnya 3 ( dan sebaiknya 4 ) dari gejala lainnya.
o Lamanya seluruh episode berlangsung minimunm sekitar 2 minggu
o Menghadapi kesulitan nyata untuk menruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan
urusan rumah tangga.
* Episode Depresif Berat Tanpa gejala Psikotik :
o Semua 3 gejala utama dari depresi harus ada
o Ditambah sekurang kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan diantaranya harus
berintensitas berat.
o Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang
mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan
banyak gejalanya secara rinci.
o Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurangnya 2 minggu, bila
gejala sangat berat dan beronset sangat cepat maka masih dibenarkan untuk
menegakkan diagnosis dalam waktu kurang dari 2 minggu.
o Sangat tidak mungkin bagi pasien meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau
urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
* Episode Depresif Berat Dengan Gejala Psikotik :
o Memenuhi kriteria eposode depresi berat
o Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya melibatkan
ide tentang dosa, kemiskinan, atau malapetaka yang mengancam, dan pasien

merasa bertanggung jawab akan hal itu. Halusinasi auditorik atau olfaktorik
biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh, atau bau kotoran atau
daging membusuk
o Reteardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor
o Jika diperlukan, waham tau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau
tidak serasi dengan afek ( mood congruent )
* Gangguan Depresif Berulang
o Gangguan ini tersifat dengan episode berulang dari : episode depresif ringan,
episode depresif sedang, episode depresif berat.
o Episode masing masing rata rata lamanya sekitar 6 bulan akan tetapi
frekuensinya lebih jarang dibandingkan dengan gangguan afektif bipolar.
o Tanpa riwayat adanya episode tersendiri dari peningkatan afek dan
hiperaktivitas yang memenuhi kriteria mania. Namun kategori ini tetap harus
digunakan jika ternyata ada episode singkat dari peninggian afek dan
hiperaktivitas ringan yang memenuhi kriteria hipomania segera sesudah suatu
episode depresif.
o Pemulihan keadaan biasanya sempurna diantara episode namun sebagian kecil
pasien mungkin mendapat depresi yang akhirnya menetap terutama pada usia
lanjut.
o Episode masing masing dalam berbagai tingkat keparahan seringkali
dicetuskan oleh peristiwa kehidupan yang penuh stress dan trauma mental lain.
* Gangguan depresif berulang episode kini ringan :
o Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus dipenuhi dan episode
sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif ringan.
* Gangguan depresif berulang episode kini sedang :
o Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus dipenuhi dan episode
sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif sedang.
* Gangguan depresif berulang episode kini berat tanpa gejala psikotik :
o Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus dipenuhi dan episode
sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat tanpa gejala
psikotik.
* Gangguan depresif berulang episode kini berat tanpa gejala psikotik :
o Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus dipenuhi dan episode
sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat dengan gejala
psikotik.
* Gangguan depresif berulang kini dalam remisi :
o Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus pernah dipenuhi masa
lampau tetapi keadaan sekarang seharusnya tidak memenuhi kriteria untuk
episode depresif dengan derajat keparahan apapun atau gangguan lain apapun.
Pada semua episode, sekurangnya ada dua episode telah berlangsung masing
masing selama minimal 2 minggu dengan ada waktu beberapa bulan tanpa gangguan
afektif yang bermakna.
2)
Gangguan Bipolar I
Gangguan ini tersifat oleh episode berulang ( sekurang kurangnya dua episode)
dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, pada waktu tertentu

terdiri dari peningkatan afek disertai penmabhan energi dan aktivitas ( mania
atau hipomania ), dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai
pengurangan energi dan aktivitas ( depresi ) . Yang khas adalah bahwa biasanya
ada penyembuhan sempurna antar episode.
Episode manik biasanya mulai dengan tiba tiba dan beralngsung antara 2 minggu
sampai 4 5 bulan, episode depresi cenderung berlangsung lebih lama ( rata
rata sekitar 6 bulan ) meskipun jarang melebihi 1 thun kecuali pada orang usia
lanjut. Kedua macam episode itu seringkali terajdi setelah peristiwa hidup yang
penuh stres atau trauma mental lain ( adanya stres tidak esensial untuk
penegakan diagnosis).
- Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Hipomanik
o Episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk hipomania
- Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik TanpaGejala Psikotik
o Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa gejala
psikotik
- Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik DenganGejala Psikotik
o Episode yang sekarang harus memenuhu kriteria untuk mania dengan gejala
psikotik.
- Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Ringan atau sedang
o Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
ringan ataupun sedang
- Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif BeratTanpa Gejala
Psikotik
o Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat
tanpa gejala psikotik
- Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif BeratDengan Gejala
Psikotik
o Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat
dengan gejala psikotik
- Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Campuran
o Episode yang sekarang menunjukkan gejala gejala manik, hipomani, dan
depresif yang tercampur atau bergantian dengan cepat ( gejala mania/hipomania
dan depresi sama sama mencolok selama masa terbesar dari episode penyakit
yang sekarang, dan telah berlangsung sekurang kurangnya 2 minggu )
Pada semua episode harus ada sekurang kurangnya satu episode afektif lain
(hipomanik, manik, depresif atau campuran) di masa lampau.
- Gangguan afektif bipolar episode kini dalam remisi :
o Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa
bulan terakhir ini, tetapi pernah mengalami sekurangnya 1 episode afektif dimasa
lampau dan ditambah sekurangnya 1 episode lainnya.
3)
Gangguan Afektif Menetap
- Siklotimia :
o Ciri esensial adalah ketidakstabilan menetap dari afek meliputi banyak
episode depresi ringan dan hipomania ringan diantaranya tidak ada yang cukup

parah atau cukup lama untuk memenuhi kriteria gangguan afektif bipolar atau
gangguan depresif berulang.
o Setiap episode afektif tidak memenuhi kriteria untuk manapun yang disebut
dalam episode manik atau episode depresif.
- Distimia :
o Ciri esensial adalah afek depresif yang berlangsung sangat lama yang tidak
pernah atau jarang sekali cukup parah untuk memenuhi kriteria gangguan
depresif berulang ringan dan sedang.
o Biasanya mulai pada usia dini dari masa dewasa dan berlangsung sekurangnya
beberapa tahun, kadang untuk jangkla waktu tidak terbatas. Jika onsetnya pada
usia lanjut gangguan ini seringkali merupakan kelanjutan suatu episode depresif
tersendiri dan berhubungan dengan masa berkabung atau stres lain yang tampak
jelas.
4)
Episode Manik
Kesamaan karakteristik dalam afek yang meningkat, disertai peningkatan dalam
jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental, dalam berbagai derajat
keparahan. Kategori ini hanya untuk satu episode manik tunggal ( yang pertama ),
termasuk gangguan afektif bipolar, episode manik tunggal.
- Hipomania
o Derajat gangguan yang lebih ringan dari mania, afek yang meninggi atau
berubah disertai peningkatan aktivitas,menetap selama sekurang kurangnya
beberapa hari berturut turut, pada suatu derajat intensitas dan
yangbertahan melebihi apa yang digambarkan bagi siklotimia, dan tidak disertai
halusinasi atau waham.
o Pengaruh nyata atas kelancaran pekerjaan dan aktivitas sosial memang sesuai
dengan diagnosis hipomania, akan tetapi bila kakacauan itu berat atau
menyeluruh, maka diagnosis mania harus ditegakkan
- Mania Tanpa Gejala Psikotik
o Episode harus berlangsung sekurang kurangnya 1 minggu, dan cukup berat
sampai mengacaukan seluruh atay hampir seluruh pekerjaan dan aktivitas sosial
yang biasa dilakukan.
o Perubahan afek harus disertai dengan energiu yang bertambah sehingga
terjadi aktivitas berlabihan, percepatan dan kebanyakan bicara, kebutuhan tidur
yang berkurang, ide ide perihal kebesaran/ grandiose ideas dan terlalu
optimistik.
- Mania Dengan Gejala Psikotik
o Gambaran klinis merupakan bentuk mania yang lebih berat dari mania tanpa
gejala psikotik.
o Harga diri yang membumbung dan gagasan kebesaran dapat berkembang
menjadi waham kejar ( delusion of grandeur ), iritabilitas dan kecurigaan menjadi
waham kejar ( delusion of persecution ). Waham dan halusinasi sesuai dengan
keadaan afek tersebut ( mood congruent ).
Sumber : PPDGJ III

7. Patofisiologi sindroma depresi?


Biologis
Genetik
psikososial
neurotransmitte
r

HPA
AXIS

IRAMA
SIRKADI
AN

8. Pemeriksaan status mental ?

Pemeriksaan status mental


Pemeriksaan status mental yang dilakukan kepada pasien dengan
gejala depresi antara lain:
a Deskripsi umum
Retardasi psikomotor menyeluruh, agitasi psikomotor sering
ditemukan pada lanjut usia. Gejala agitasi yang paling umum adalah
menggenggamkan tangan dan menarik-narik rambut. Pasien depresi
sering memiliki postur membungkuk, mata kosong, pandangan
putus asa dan mengalihkan pandangan.
b Mood, afek dan perasaan
Gangguan perasaan yang sering didapat adalah afek sedih,
perasaan sedih atau kesepian, penarikan diri dari sosial dan
penurunan aktivitas menyeluruh. Pasien juga dapat mengeluhkan
perasaan letih ataupun kehilangan energi tanpa melakukan
pekerjaan yang berat.
c Bicara
Banyak pasien menunjukkan penurunan kecepatan dan volume
bicara serta respon yang melambat.
d Gangguan isi pikiran
Adanya waham pada pasien terdepresi menunjukkan episode berat
dengan ciri psikotik. Waham sesuai mood adalah waham bersalah,
memalukan, tidak berguna, kemiskinan, kegagalan, kejar dan
penyakit somatik terminal sedangkan waham tidak sesuai mood
adalah tidak sesuai mood terdepresi, dengan tema kebesaran.
e Pikiran
Biasanya memiliki pandangan negatif tentang dunia dan dirinya.
Dapat juga terjadi pelambatan pikiran (thought blocking) dan
kemiskinan isi pikiran sebanyak 10%.
f Sensorium dan Kognisi
Gangguan orientasi lebih muncul pada depresi yang berat, meliputi
orientasi terhadap orang, tempat dan waktu. Gangguan daya ingat
pada pasien depresi sering disebut pseudokognitif yang terjadi
sekitar 50 70% dengan gejala gangguan kognitif, kurangnya

konsentrasi dan mudah lupa. Tilikan pasien terkadang berlebihan


menekankan gejala, gangguan dan masalah hidupnya. Informasi
yang didapatkan terlalu menonjolkan hal yang negatif atau buruk
Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis Edisi Ketujuh Jilid Dua.
Jakarta. Binarupa Aksara.

9. Pemeriksaan penunjang?

Dexamethasone-suppression test.
Deksametason adalah suatu analog sintetik dari kortisol. bahwa 50 % pasien depresi
gagal ber-respon supresi kortisol yang normal terhadap dosis tunggal deksametason
yang menyebabkan stres lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood
daripada episode selanjutnya.
stres episode pertama => perubahan biologi otak => perubahan neurotransmiter
dan sistem pemberi signal intraneuronal
(Sinopsis Psikiatri, Kaplan-Sadock)
10.Alur penegakan diagnosis sindroma depresi dan bipolar? (skema)
Anamnesis observasi pemeriksaan status mental kriteria diagnosis
diagnosa terapi
a. Gejala utama
i. Afek depresif,
ii. Kehilangan minat dan kegembiraan, dan
iii. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah
lelah (rasa lelah yang nyata terjadi setelah melakukan pekerjaan)
dan menurunnya aktivitas

b. Gejala lainnya
i. Konsentrasi dan perhatian berkurang;
ii. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang;
iii. Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna;
iv. Pandangan masa depan yang suram dan pesimisti;
v. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri;
vi. Tidur terganggu;

vii. Nafsu makan berkurang

Penegakan diagnosis diperlukan minimal 2 minggu untuk episode


ketiga tingkat keparahannya, kategori diagnosis depresif ringan,
sedang, dan berat hanya untuk episode tunggal (yang pertama).
Episode berikutnya diklasifikasikan gangguan depresif berulang

c. Pedoman diagnostik untuk episode depresi ringan:


i. Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi
ii. Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya:
iii. Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya.
iv. Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya
sekitar 2 minggu
v. Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang
biasa dilakukan

d. Pedoman diagnostik untuk episode depresi sedang:


i. Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi
ii. Ditambah sekurang-kurangnya 3(dan sebaiknya 4) dari gejala
lainnya:
iii. Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya
sekitar 2 minggu
iv. Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan pekerjaan dan
kegiatan sosial dan urusan rumah tangga

e. Pedoman diagnostik untuk episode depresi berat tanpa gejala psikotik:


i. Sekurang-kurangnya harus ada 3 gejala utama depresi
ii. Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa

di antaranya intensitas berat


iii. Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi
psikomotor) yang mencolok, maka pasien mungkin tidak mau
atau tidak mampu untuk melapor banyak gejala secara rinci.
Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap
depresi berat masih dapat dibenarkan.
iv. Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya
sekitar 2 minggu, akan tetapi jika ada gejala sangat berat dan
beronset sangat cepat, maka dapat dibenarkan untuk menegakkan
diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu.
v. Sangat sedikit kemungkinan pasien akan mampu meneruskan,
pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukan
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/141/jtptunimus-gdl-gharinisum-7045-3babii.pdf

11.Penatalaksanaan?

Penatalaksanaan
1 hospitalisasi
2 terapi obat2an
untuk episode
depresi berat:
dapat
diberikan
obat

antidepresan missal : amitryptilin dengan dosis 75150 mg/hari

bila disertai gejala agitasi diberi obat antipsikotik,


missal : chlorpromazine dengan dosis 300-1500 mg /
hari
untuk tipe manik :
diberikan obat antipsikotik missal : haloperidol
dengan dosis 15-30 mg / hari atau chlorpromazine
(300-1500 mg/ hari)

3 ECT
Indikasi :
Pasien tidak responsive terhadap obat
Pasien tidak mau minum obat
Kondisi kliniknya sedemikian parah dimana perbaikan yang
cepat hanya dengan ECT
4 psikoterapi

Obat Anti Depresi ( Thymoleptics, Psychic Energizers, Anti


Depressants, Anti Depresan
Penggolongan
Obat Anti Depresi Trisiklik = Amitriptyline, Imipramine,
Clomipramine, Tianeptine, Opipramol
Obat Anti Depresi Tetrasiklik = Maprotiline, Mianserin,
Amoxapine
Obat Anti Depresi MAOI Reversible (Monoamine Oxydase
Inhibitor) = Moclobemide
Obat Anti Depresi Atypical = Trazodone, Tianeptine,
Miertazapine
Obat Anti Depresi SSRI ( Selective Serotonin Reuptake
nhibitor / = Sertraline, Paroxetine, Fluvoxamine, Fluoxetine,
Citalopram
Maslim, Rusdi, Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat
Psikotropik, 2001, Edisi ke-3

PENATALAKSANAAN DEPRESI
Perlu pemeriksaan medis dan psikiatris untuk menyisihkan depresi
sekunder
dan
berusaha
untuk
mengidentifikasi
sindrom
afektif.Selalu tanyakan tentang gambaran-gambaran vegetatif dan
evaluasi potensi untuk bunuh diri.
Rawatlah pasien-pasien yang :
mengalami ketidakmampuan akibat gangguan ini
mempunyai lingkungan rumah yag destruktif atau dukungan
lingkungan yang terbatas
berisiko bunuh diri
mempunyai
penyakit
medik
terkait
yang
memerlukan
penatalaksanaan
Semua pasien deprsei harus mendapatkan psikoterapi dan
beberapa memerlukan tambahan terapi fisik.Kebutuhan terapi

khusus bergantung pada diagnosis, berat penyakit, umur pasien,


dan respon terhadap terapi sebelumnya.
1 Terapi Psikologik

Psikoterapi suportif selalu diindikasikan.

Berikan kehangatan, empati, pengertian dan opimistik.

Bantu pasien mengidentifikasi dan mengekspresikan hal-hal yang


membuatnya prihatin dan melontarkannya.

Bantulah memecahkan problem eksternal (misal, pekerjaan,


menyewa rumah)-arahkan pasien, terutama selama episode akut
dan bila pasien aktif bergerak.

Latih pasien untuk mengenal tanda-tanda dekompesasi yang


akan datang

Temui pasien sesering mungkin (mula-mula 1-3 kali per minggu)


dan secara teratur tetapi jangan sampai tidak berakhir atau untk
selamanya.

Kenalilah bahwa beberapa pasien depresi dapat memprovokasi


kemarahan anda (melalui kemarahan, hostilitas, dan tuntutan yang
tak masuk akal, dll)

Psikoterapi berorientasi tilikan jangka panjang dapat berguna


pada pasien depresi minor kronis tertentu dan beberapa pasien
dengan depresi mayor yang mengalami remisi tetapi mempunyai
konflik.

Terapi kognitif perilaku dapat sangat bermanfaat pada pasien


depresi sedang dan ringan

Depresi diterapi dengan memberikan pasien latihan keterampilan


dan pengelaman -pengalaman sukses.

Dari perspektif kognitif, pasien dilatih untuk mengenal dan


menghilangkan pikian -pikiran negatif dan harapan harapan
negatif. Terapi ini mencegah kekambuhan.

Deprivasi tidur parsial (bangun mulai di pertengahan malam dan


tetap terjaga sampai malam berikutnya), dapa membantu
mengurangi gejala gejala depresi mayor buat sementara.

Latihan fisik (berlari,berenang) dapat memperbaiki depresi,


dengan mekanisme bilologik yang belum dimengerti dengan baik.
2 Terapi Fisik
Litium efektif dalam membuat remisi gangguan bipolar, mania dan
mungkin bermanfaat dalam pengobatan depresi bipolar akut dan
beberapa depresi unipolar.
Antikonvulsan juga sama baik dengan litium untuk mengobati
kondisi akut, meskipun kurang
efektif
untuk
rumatan.
Antidepresan dan litium dapat dimulai bersama sama dan litium
diteruskan setelah remisi.
Antipsikotik diperlukan bagi pasien psikotik, paranoid, atau pasien
yang sangat agitasi, tunggal atau bersama
sama dengan

antidepresan, litium, atau ECT-anti depresan yang baru juga


terlihat efektif.
ECT mungkin merupakan terapi terpilih :
bila obat tidak berhasil setelah satu atau lebih dari 6 minggu
pengobatan,
bila kondisi pasien menuntut remisi segera (misal, bunuh diri
yang akut)
pada beberapa depresi psikotik
pada pasien yang tak dapat mentoleransi obat (misal, pasien tua
yang berpenyakit jantung). Lebih dari 90% pasien memberikan
respons.
Sumber: Buku Saku Psikiatri, David A tomb

Generic

N.dagang

Dosis
lazim
dewas
a
(mg/h
r)

Litium
carbonate

Carbamazep
ine

Kapsul (150,300,600
mg)
Tablet (300mg)
Tablet lepas lambat
(300,450 mg)
Sirup (8 mEq/5ml)
Tegretol,
Bamgotil

Depakene
Valproic acid

Preparat

400
Tablet 200 mg
Sirup 100 mg/5ml
Kapsul 250 mg
Sirup 250mg/5ml
Tablet lepas lambat
125,250,500 mg

Rawap Inap
Indikasi:
- prosedur diagnostik,
- risiko bunuh diri atau membunuh,
- penurunan jelas kemampuan makanan atau berlindung.
- gejala berkembang cepat dan
- hancurnya sistem pendukung

Pasien sering tidak mau masuk rumah sakit secara sukarela

perlu dibawa secara involunter/paksa.


Pasien depresif berat sering tidak mampu mengambil keputusan
karena pikiran yang melambat, negatifistik, dan putus asa.
Pasien manik sering memiliki
tilikan terganggu, sehingga
perawatan di rumah sakit tampaknya sangat menggelikan bagi
mereka
Terapi Psikososial
Tiga jenis psikoterapi jangka pendek:
Terapi kognitif, terapi interpersonal, dan terapi perilaku.
bermanfaat: gangguan depresif berat.
Psikoterapi berorientasi psikoanalitik.
Terapi kognitif, pada distorsi kognitif pada depresif berat.
Tujuan terapi kognitif adalah menghilangkan episode depresif dan
mencegah rekurennya dengan membantu pasien mengidentifikas
dan uji kognitif negatif; mengembangkan cara berpikir altematif,
fleksibel, dan positif; dan melatih kembali respon kognitif dan
perilaku yang baru
Terapi interpersonal.
memusatkan pada satu atau dua masalah interpersonal pasien yang
sedang dialami sekarang,
Pertama, masalah interpersonal sekarang kemungkinan memiliki
hubungan awal yang disfungsional.
Kedua, masalah interpersonal sekarang adalah efektif di dalam
pengobatan gangguan depresif berat dan mungkin, secara spesifik
membantu menjawab masalah.
Terapi berorientasi psikoanalitik.
Pendekatan psikoanalitik pada teori psikoanalitik tentang depresi dan
mania.
Tujuan umum,
- perubahan
struktur
atau
karakter,
bukan
semata-mata
menghilangkan gejala.
- perbaikan kepercayaan diri, keakraban, mekanisme mengatasi,
kapasitas berdukacita, dan kemampuan untuk mengalami berbagai
macam emosi
Terapi keluarga, indikasi
- jika gangguan membahayakan perkawinan atau fungsi keluarga
- jika gangguan mood adalah diperkembangkan atau dipertahankan oleh
situasi keluarga.
Farmokologi

Step 1 = Golongan SSRI (Fluoxetine, Sertaline)

Step 2 = Golongan Trisiklik (Amitriptyline)

Step 3 = Golongan Tetrasiklik (Maprotiline)


Golongan atypical (Tradazone)

Golongan MAOI Reversible (Moclobemide)

Obat
! Ach ! sedasi! hip.ort !Kejang!g.konduksi
Amitript ! ++++ ! ++++ ! +++ ! +++ ! ++++
Doxepine ! +++ ! ++++ ! ++
! +++ ! ++
Imipram ! +++ ! +++ ! ++++ ! +++ ! ++++
Trimipra ! ++++ ! ++++ ! +++ ! +++ ! ++++
Desipram ! ++
! ++
! +++ ! ++
! +++
Nortripty ! +++ ! +++ ! +
! ++
! +++
Protripty ! +++ ! +
! ++
! ++
! ++++
Amoxap ! +++ ! ++ ! +
! +++ ! ++
Maprotil ! +++ ! +++ ! ++ ! ++++ ! +++
Keterangan: 1=sedikit, 2=rendah, 3=sedang, 4=tyinggi.
ALTERNATIF TERHADAP TERAPI OBAT.
- Elektrokonvulsif terapi dan foto terapi.
- Elektro konvulsif terapi (ECT) digunakan jika
(1) pasien tidak responsif terhadap farmakoterapi,
(2) pasien tidak dapat mentoleransi farmakoterapi, atau
(3) klinis sangat parah perlu perbaikan cepat.
- Fototerapi adalah pengobatan baru pada pasien ggn mood dgn
pola musiman, dapat digunakan sendiri dan kombinasi.
Sumber : Farmakologi dan terapi FK UI Edisi 5. 2011. & panduan
Klinis Penggunan obat Psikotropika.
I. Efek Samping
1. Antidepresan klasik (trisiklik dan tetrasiklik)

Efek jantung ; dapat menimbulkan gangguan penerusan


impuls jantung dengan perubahan ECG, pada overdosis dapat
terjadi aritmia berbahaya.
Efek anti kolinergik ; akibat blokade reseptor muskarin dengan
menimbulkan antara lain mulut kering, obstipasi, retensi urin,
tachycardia, serta gangguan potensi dan akomodasi, keringat
berlebihan.
Sedasi
Hipotensi ortostatis dan pusing serta mudah jatuh merupakan
akibat efek antinoradrenalin, hal ini sering terjadi pada
penderita lansia, mengakibatkan gangguan fungsi seksual
Efek antiserotonin; akibat blokade reseptor 5HT postsinaptis
dengan bertambahnya nafsu makan dan berat badan.
Kelainan darah; seperti agranulactose dan leucopenia,
gangguan kulit
Gejala penarikan; pada penghentian terapi dengan mendadak
dapat timbul antara lain gangguan lambung-usus, agitasi,
sukar tidur, serta nyeri kepala dan otot.
2. Antidepresan golongan ke-2 (SSRI dan obat antidepresi atipikal)

Efek seretogenik; berupa mual ,muntah, malaise umum, nyeri


kepala, gangguan tidur dan nervositas, agitasi atau

kegelisahan yang sementara, disfungsi seksual dengan


ejakulasi dan orgasme terlambat.
Sindroma serotonin; berupa antara lain kegelisahan, demam,
dan menggigil, konvulsi, dan kekakuan hebat, tremor, diare,
gangguan koordinasi. Kebanyakan terjadi pada penggunaan
kombinasi obat-obat generasi ke-2 bersama obat-obat klasik,
MAO, litium atau triptofan, lazimnya dalam waktu beberapa
jam sampai 2-3 minggu. Gejala ini dilawan dengan antagonis
serotonin (metisergida, propanolol).
Efek antikolinergik, antiadrenergik, dan efek jantung sangat
kurang atau sama sekali tidak ada.

3. MAO-blockers/MAOI
Kardiovaskular hipotensi ortostatik; pingsan; palpitasi;
takhikardia.
SSP pusing; sakit kepala; hiperrefleksia; tremor; kejutan
otot; mania; hipomania; bingung; gangguan memori;
gangguan tidur termasuk hipersomnia dan insomnia; lemah,
ngantuk, resah, overstimulasi termasuk peningkatan gejala
kecemasan, agitasi dan manic
Saluran cerna Konstipasi; gangguan salura cerna; mual;
diare; nyeri abdomen.
Lain-lain Edema; mulut kering; peningkatan transaminase
serum; kenaikan bobot badan; gangguan seksual; anoreksia;
penglihatan kabur; impotensi; menggigil.
12.Apa hubungan lamanya keluhan dengan gejala yang dialami pasien?
Semakin lama semakin berat
13.Gangguan bipolar (beda bipolar 1 dan 2) ?

Klasifikasi
Menurut American Psychiatric Association, bipolar dibagi menjadi 4
katagori:

bipolar I : ditandai dengan terjadinya satu atau lebih episode


manik atau episode campuran, dan biasanya diikuti dengan
episode depresi mayor umumnya cukup parah dan perlu

perawatan di rumah sakit


bipolar II : dikarakterisir oleh satu atau lebih episode depresi

mayor dan diikuti sedikitnya satu episode hipomanik


siklotimik (cyclothymic) : ditandai dengan adanya sejumlah
episode hipomanik atau gejala depresi, tapi gejala itu belum
termasuk dlm criteria manik atau depresi mayor masih

ringan tapi mungkin bisa berkembang menjadi bipolar I atau

II pada 15-50% pasien


Bipolar non-spesifik : ditandai dengan tanda-tanda bipolar tapi
tidak memenuhi kriteria gangguan bipolar spesifik

14.Kriteria diagnostik bipolar?


15.DD?
a) Episodik depresif
b) Gangguan bipolar