Anda di halaman 1dari 8

PENETAPAN KADAR HEMOGLOBIN

(CARA SAHLI)
I.

Tujuan
a. Tujuan Umum
1. Mahasiswa dapat mengetahui cara penetapan kadar Hemoglobin dengan metode
Sahli.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan cara penetapan kadar hemoglobin dengan metode
Sahli
b. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa dapat melakukan cara penetapan kadar Hemoglobin darah probandus
dengan menggunakan metode Sahli
2. Mahasiswa dapat mengetahui kadar Hemoglobin darah probandus
3. Mahasiswa dapat menginterpretasikan hasil penetapan kadar Hemoglobin darah
probandus.

II.

Metode
Metode yang digunakan adalah metode Sahli,

III.

Prinsip
Hemoglobin diubah menjadi hematin asam oleh HCl 0.1 N, kemudian warna yang terjadi
dibandingkan secara visual dengan standard permanent dalam alat itu.

IV.

Dasar Teori
Selama 60 tahun terakhir, hemoglobin pada manusia dipelajari, yang mungkin lebih dari
molekul lainnya, memberikan kelahiran dan maturasi dari obat molekuler. Penelitian
laboratorium, secara fisika, kimia, fisiologi, dan metode genetik, telah memberikan kontribusi
untuk mempelajari hemoglobin, penelitian klinis yang ditujukan untuk mempelajari pasien
dengan berbagai macam gangguan hemoglobin. Selama periode ini, karya perintis dari Linus
Pauling, Max Perutz, Vernon Ingram, Karl Singer, Herman Lehmann, William Castle, Ruth dan
Reinhold Benesch, Titus Huisman, Ernst Jaffe, Ernest Beutler, dan banyak lainnya yang masih
aktif telah berperan dalam studi ini. Pemahaman kita tentang dasar perkembangan molekul
hemoglobin dan kontrol genetik, hubungan struktur-fungsi, penyakit dan pengobatan, mereka
mungkin tak tertandingi dalam pengobatan. Tentu dibidang ini, terutama selama 25 tahun
pertama keberadaan American Society of Hematology, memberikan model untuk perkembangan
di banyak daerah lain pada penelitian dibidang hematologi dan sub-spesialisasi lainnya.
(Schechter.Alan N.2008)
Molekul-molekul hemoglobin manusia adalah seperangkat protein yang sangat erat
terkait, dibentuk oleh pasangan simetris dari dimer dengan rantai polipeptida - dan - globin ,
yang menjadi unit struktural dan fungsional tetrameric. Molekul 22 membentuk hemoglobin
dewasa utama. Fungsi utama mereka pada mamalia adalah untuk mengangkut oksigen ( O2 ) dari
paru-paru ke jaringan , tetapi mereka juga secara khusus berinteraksi dengan 3 gas-gas lain ,
karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO) , dan oksida nitrat (NO), yang memiliki peran
biologi penting. Sifat fungsional dari molekul hemoglobin terutama ditentukan oleh lipatan

karakteristik dari rantai asam amino dari protein globin, termasuk 7 membentang dari peptida helix dalam rantai dan 8 di rantai . Heliks ini pada gilirannya dilipat menjadi tetesan kompak
yang heterodimerizes dan kemudian membentuk structure tetramer. 4 polipeptida hemoglobin
tetramer masing-masing memiliki ruang tengah besar menjadi kelompok prostetik heme, suatu
molekul IX besi-protoporfirin yang terikat oleh pasukan noncovalent, dan dengan demikian atom
besi dilindungi dari akses dari larutan sekitarnya. Atom besi di lingkungan ini terutama dalam
besi (FeII) bagian valensi kimianya dikoordinasikan untuk atom nitrogen 4 pirol dalam satu
bidang, untuk atom nitrogen imidazol dari asam amino histidin invarian pada posisi 8 dari "F"
-helix , dan untuk atom gas di sisi yang berlawanan (sehubungan dengan bidang porfirin) residu
histidin. The reversibel mengikat gas sampai 4 atom besi besi ini dalam tetramer globin
polipeptida memungkinkan hemoglobin untuk mengangkut O2, CO, NO, dan CO2 diangkut
dalam darah dalam larutan dan oleh interaksi dengan residu amino-terminal hemoglobin yang
rendah carbamino kompleks dan tanpa mengikat atom besi. (Schechter.Alan N.2008)
V.

VI.

Alat Dan Bahan


a. Alat :
Haemometer
Pipet Sahli yang berskala dari 0,02 ml
Standart sumber cahaya
Pipet Pasteur dan bola karet
Batang pengaduk
b. Bahan :
Darah kapiler, darah vena (EDTA atau Oxalat)
c. Reagen :
Aquades
HCl
Cara Keja
1. Larutan HCl 0,1 N dimasukkan kedalam tabung pengencer hemometer sampai tanda
2 gr%
2. Sampel darah dihisap dengan pipet hemoglobin sampai garis tanda 0,02 ml.
3. Dihapus darah yang melekat pada sebelah luar ujung pipet.
4. Dicatat waktunya dan segera dialirkan dari pipet kedalam dasar tabung pengencer
yang berisi HCl itu. Hati-hati jangan sampai terjadi gelembung udara.
5. Diangkat pipet itu sedikit, lalu dihisap darah HCl yang jernih itu kedalam pipet, 2
atau 3 kali untuk membersihkan darah yang masih tinggal dalam pipet.
6. Dicampur isi tabung itu supaya darah dan asam bersenyawa, warna campuran
menjadi coklat tua.
7. Ditambah aquades setetes demi setetes, tiap kali diaduk dengan batang pengaduk
yang tersedia. Persamaan warna campuran dan batang standart harus dicapai dalam
waktu 3-5 menit setelah saat darah dan HCl dicampur dalam alat sahli. Pada usaha
mempersamakan warna hendaknya tabung diputar demikian sehingga garis bagi
tidak terlihat.

VII.

8. Dibaca kadar hemoglobin dengan gram/100 ml darah (gr%)


Nilai Rujukan
Adapun nilai normal kadar hemoglobin adalah sebagai berikut:

Untuk usia dewasa


- Laki-laki
: 13,0 16,0 gr%
- Perempuan : 12,0 14,0 gr%

Berikut ini adalah nilai rujukan kadar hemoglobin pada berbagai umur dan jenis kelamin:
Bayi baru lahir (aterm)
16,5 3,0 g/dl
Bayi 3 bulan
11,5 2,0 g/dl
Anak usia 1 tahun
12,0 1,5 g/dl
Anak usia 10 12 tahun
13,0 1,5 g/dl
Wanita tidak hamil
14,0 3,5 g/dl
Pria dewasa
15,5 3,5 g/dl
Wanita hamil
11,0 g/dl
Ibu menyusui
12,0 g/dl
(Sumber: Riswanto, 2013)
VIII. Hasil
a. Hasil Pengamatan
( Sampel Darah)

( Tabung Pengencer + sampel)

(Syringe & Pipet sahli)

(Hasil Perbandingan Warna Standard)

b. Hasil Penetapan Kadar Hemoglobin


NO

NAMA PROBANDUS

UMUR

JENIS
KELAMIN

KADAR
HB (gr%)

KETERANGAN

I Gede Oka Juniadi Merdita

19 TH

LAKI-LAKI

13,2 gr%

NORMAL

IX.

Pembahasan
Hemoglobin merupakan zat protein yang terdapat dalam sel darah merah (eritrosit) yang
memberi warna merah pada darah dan merupakan pengangkut oksigen utama dalam tubuh.
Hemoglobin terdiri dari 2 bagian utama, yaitu hem dan globin. Hem disintesis di mitokondria
eritrosit sedangkan globin disintesis di sel muda eritrosit ( proeritroblast atau eritroblast
basofilik) dan berlanjut dengan tingkat yang terbatas, bahkan sampai di retikulosit. Pembentuk
hemoglobin memerlukan bahan-bahan penting yaitu besi (Fe), vitamin B12 (siano-kobalamin),
dan asam folat (asam pteroilglutamat).
Dalam penetapan kadar hemoglobin digunakan sampel darah (whole blood) yang di ambil
dari vena daerah lengan yaitu vena mediana cubiti. Pengambilan dilakukan disini karena vena ini
memiliki ukuran yang besar, cukup terlihat, paling sedikit terasa sakit dan kecil kemungkinannya
terjadi memar. Setelah didapatkan sampel darah 3 cc kemudian sampel dimasukkan ke dalam
tabung sampel bertutup ungu. Tabung ini mengandung antikoagulan EDTA. Antikoagulan adalah
zat yang mencegah pembekuan darah dengan cara mengikat (khelasi) atau mengendapkan
(presipitasi) kalsium, atau dengan cara menghambat pembentukan thrombin yang diperlukan
untuk mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin dalam proses pembekuan. Sampel
berantikoagulan harus segera dicampurkan setelah pengambilan untuk mencegah pembentukan
bekuan. Teknik pencampuran juga sangat penting diperhatikan yaitu dilakukan dengan lembut
dan perlahan untuk mencegah hemolisis. Antikoagulan EDTA (Ethylene Diamine Tetra-Acetat
[CH2N(CH2CO2H)2]2) ini umumnya tersedia dalam bentuk garam sodium (natrium) atau
potassium (kalium), mencegah koagulasi dengan cara mengikat atau mengkhelasi kalsium (Ca 2+)
dalam darah. EDTA memiliki keunggulan dibanding dengan antikoagulan yang lain, yaitu tidak
mempengaruhi sel-sel darah, sehingga ideal untuk kebanyakan pengujian hematologi seperti
penentuan kadar hemoglobin ini. Pada praktikum dilaboratorium ada 3 macam EDTA yaitu
dinatrium (Na2EDTA), dipotassium (K2EDTA), dan tripotassium (K3EDTA). Saat praktikum
menggunakan tripotassium (K3EDTA) yang biasanya digunakan dalam bentuk cair dan sisanya
sering digunakan dalam bentuk kering. Pemakaian antikoagulan ini adalah 1 mg K2EDTA untuk
1 ml darah. Pemakaian dalam bentuk cair dapat dilakukan dengan membuat larutan 10%.
Pemakaiannya adalah 1 ml EDTA 10% untuk 5 ml darah (1:5). Perbandingan yang digunakan
harus tepat karena bila jumlah EDTA kurang darah bisa saja mengalami pembekuan. Sebaliknya,
bila EDTA berlebih, eritrosit mengalami krenasi, trombosit membesar dan mengalami
disintegrasi.
Penetapan kadar hemoglobin saat praktikum dilakukan dengan metode sahli. Metode ini
membandingkan warna hematin asam (hemoglobin yang dilarutkan dalam HCl 0,1 N) dengan
warna standard yang terdapat pada alat hemoglobinometer. Tujuan menggunakan HCl adalah
untuk menghidrolisis hemoglobin menjadi hematin asam yang berwarna coklat. Hal pertama
dilakukan adalah larutan HCl 0,1 N dimasukkan kedalam tabung pengencer hemometer (2 gr%)
kemudian ditambahkan sampel darah yang diambil menggunakan pipet hemoglobin sampai

tanda 2 l yang dihubungkan dengan selang kecil dan syringe. Ketika memasukkan HCl 0,1 N
dan memipet darah ini sangat diperlukan ketelitian agar hasil yang didapat lebih akurat dan tidak
salah dalam menetapkan kadar Hb yang diperiksa. Setelah darah diambil dengan pipet
hemoglobin jangan lupa untuk membersihkan bagian luar ujung pipet. Dan ketika
memipet/menghisap darah sebaiknya mengambil lebih dari garis tanda kemudian dikeluarkan
dengan mengunakan tissue kering dengan cara menotolkan ujung pipet ke tissue tersebut secara
mendatar (horizontal) sehingga darah dalam pipet keluar sedikit demi sedikit (untuk menepatkan
dengan garis tanda). Lalu masukkan darah ke dalam dasar tabung pengencer, mulailah
menghitung waktu dan keluarkan darah dari pipet secara perlahan agar tidak terjadi gelembung
udara. Setelah darah dialirkan keluar bilas bagian dalam pipet dengan HCl yang masih jernih
supaya darah yang masih tersisa dalam pipet keluar semuanya. Lalu dicampurkan isi tabung
supaya darah dan asam bersenyawa. Didiamkan capuran tadi selama 3-5 menit untuk mementuk
hematin asam. Setelah 3-5 menit lalu ditambahkan aquades setetes demi setetes dan diaduk
dengan batang pengaduk kecil agar tercampur sempurna. Saat inilah menyamakan warna
dilakukan antara warna campuran dan batang standard. Persamaan sebaiknya dilakukan pada
tempat yang cahaya terang sehingga persamaan warnanya terlihat jelas. Terakhir dibaca garis
pada tabung pengenceran dengan menggunakan miniskus bawah sebagai kadar hemoglobin (gr
%).
Saat praktikum didapat hasil 13,2 gr%, yang menunjukkan bahwa kadar hemoglobin
probandus normal karena masih berada diantara batas nilai normal hemoglobin laki-laki dewasa.
Probandus yang diambil darahnya bernama Oka Juniadi berusia 19 tahun dan berjenis kelamin
laki-laki, dimana nilai normal kadar hemoglobin laki-laki dewasa adalah 13,0 16,0 gr%. Hal
ini menunjukkan bahwa probandus yang diperiksa dalam keadaan yang cukup sehat dan tidak
mengalami anemia. Dari pengamatan kasat mata Oka memiliki badan yang cukup ideal dan sehat
atau tanpa cacat serta tidak menunjukkan gejala-gejala orang yang sedang sakit (anemia). Karena
hal tersebut kadar hemoglobin yang didapat normal.
Meski demikian, metode ini memiliki kesalahan yang besar (15-30%), alatnya tidak dapat
distandarisasi, dan tidak semua jenis hemoglobin dapat diukur, seperti karboksihemoglobin,
methemoglobin, sulfhemoglobin. Ada beberapa kesalahan - kesalahan yang dapat dapat terjadi
dalam penetapan kadar Hb dengan metode sahli yaitu:
Tidak dapat mengambil 0.02 ml darah.
Darah dapat pipet tidak sempurna dikeluarkan kedalam HCl karena tidak dibilas.
Tidak baik mengaduk campuran darah dan asam pada waktu pengenceran.
Tidak memperhatikan waktu yang seharusnya berlaku untuk mengadakan
perbandingan warna.
Kehilangan cairan dari tabung karena untuk mencampur isinya tabung itu dibolak
balikkan dengan penutupnya memakai ujung jari.
Ada gelembung udara di permukaan pada waktu membaca
Membandingkan warna pada cahaya yang kurang terang
Menggunakan tabung pengencer yang tidak diperuntukkan alat yang dipakai
Selain kesalahan-kesalahan di atas ada factor lain yang juga dapat mempengaruhi penetapan
kadar Hb dengan metode ini, antara lain yaitu:
Kemampuan membedakan warna tidak sama antar pemeriksa
Kelelahan pada mata
Sumber cahaya kurang baik

Warna gelas standard kotor atau pucat


Pemipetan kurang tepat
Ukuran pipet kurang tepat, perlu dikalibrasi
Alat-alat yang digunakan kurang bersih
Mengambil darah pada tangan atau lengan yang terpasang cairan intra-vena yang
menyebabkan Hb rendah palsu
Memasang tourniquet terlalu lama (lebih dari 1-2 menit), menyebabkan Hb tinggi palsu
Penurunan asupan atau kehilangan cairan akan meningkatkan kadar Hb akibat
hemokonsentrasi, dan kelebihan asupan cairan akan mengurangi kadar Hb akibat
hemodilusi.
X.

Simpulan
Penetapan kadar hemoglobin dengan metode Sahli merupakan cara penetapan kadar
hemoglobin yang paling sederhana. Adapun caranya yaitu larutan HCl 0,1 N dimasukkan
kedalam tabung pengencer hemometer kemudian ditambah sampel darah yang dihisap dengan
pipet hemoglobin lalu dicampur isi tabung itu supaya darah dan asam bersenyawa, setelah itu
ditambah aquades setetes demi setetes dan diaduk dengan batang pengaduk. Terakhir amati
persamaan warna campuran dan batang standart. Baca kadar hemoglobin dengan gram/100 ml
darah (gr%).
Dari hasil penetapan kadar hemoglobin dengan metode sahli didapat hasil 13,2 gr% yang
menunjukkan kadar hemoglobin probandus normal.

XI.
Daftar Pustaka
Herawat, Sianny, dkk. 2015. Penuntun Praktikum Hematologi. Denpasar: Politeknik Kesehatan
denpasar.
Riswanto, 2013. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi. Yogyakarta: Alfamedia & Kanal
Medika.
Schechter, A.N. (2008). Hemoglobin Research And The Origins Of Molecular Medicine. Blood.
112(10): 39273938.

Denpasar, 15 September 2015


Praktikan
I Kadek Hardyawan
(P07134014032)

Lembar Pengesahan

Mengetahui,
Pembimbing I

Pembimbing II

( Dr. dr. Sianny Herawati, Sp.PK )

( Rini Riowati, B.Sc )

Pembimbing III

Pembimbing IV

( I Ketut Adi Santika, A.Md. AK )

( Luh Putu Rinawati, A.Md. AK)


Pembimbing V

( Surya Bayu Kurniawan, S.Si )

LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI


PENETAPAN KADAR HEMOGLOBIN
(CARA SAHLI)

Oleh:
I Kadek Hardyawan
(P07134014032)

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN AKADEMIK 2015