Anda di halaman 1dari 7

TUGAS TUTORIAL

PERTANIAN BERLANJUT
KAPASITAS DAYA DUKUNG ( CARRYING CAPACITY) DAN RECOVERY
UNSUR HARA

Nama

: Alfin Nur Akbar

Nim

: 135040201111009

Kelas

:A

Asisten

: M. Sulhan Abidin

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015

1. Bagaimana dampak negatif dan Solusi untuk mengatasi masalah-masalah yang


timbul akibat menurunnya carrying capacity?

Daya dukung (carrying capacity) lahan pertanian memiliki keanekaragaman


yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan (baik tanah, air, udara, suhu, ketinggian
tempat, dan cahaya) serta faktor jenis tanaman yang dibudidayakan di lahan tersebut
dalam upaya usaha pertaniannya.
Daya dukung lingkungan adalah Kemampuan lingkungan untuk mendukung
perikehidupan semua makhluk hidup yang meliputi ketersediaan sumberdaya alam
untuk memenuhi kebutuhan dasar atau tersedianya cukup ruang untuk hidup pada
tingkat kestabilan sosial tertentu disebut daya dukung lingkungan. Keberadaan
sumberdaya alam di bumi tidak tersebar merata sehingga daya dukung lingkungan pada
setiap daerah akan berbeda-beda. Oleh karena itu, pemanfaatannya harus dijaga agar
terus berkesinambungan dan tindakan eksploitasi harus dihindari.
1. Dampak Negatif menurunnya carrying capacity:
a. Ketergantungan pada pupuk kimia dan zat kimia pembasmi hama juga
berdampak tingginya biaya produksi yang harus ditanggung petani.
b. Akibat penggunaan pupuk anorganik berdampak pada penyusutan kandungan
bahan organik tanah, bahkan banyak tempat-tempat yang kandungan bahan
organiknya sudah sampai pada tingkat rawan, sekitar 60 persen areal sawah di
Jawa kadungan bahan organiknya kurang dari 1 persen. Menyebabkan
ketersediaan air rendah, aktivitas organisme rendah, rendah penyerapan hara
yang diberikan, tanah menjadi masam. Sehingga biaya produksi terus meningkat
sementara produktifitas lahan menurun.
c. pupuk dan pestisida memiliki dampak negatif pada kesuburan tanah yang
berkelanjutan dan terjadinya mutasi hama dan pathogen.
d. Biodiversitas berkurang mengakibatkan tanaman yang di tanam kurang mampu
menyesuaikan dengan lingkungan yang mulai berubah sehingga jelas produksi
menurun.

2. Solusi Menurunnya carrying capacity:

a. Pertanian berkelanjutan menghendaki penerapan perencanaan tata ruang (spasial


planning). Perencanaan pembangunan pertanian harus didasari standar
lingkungan serta penerapan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
b. Memperbaiki kondisi tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman
terutama pengelolaan bahan organik dan meningkatkan kehidupan biologi tanah
c. Optimalisasi ketersediaan dan keseimbangan daur hara melalui, fiksasi nitrogen,
penyerapan hara, penambahan dan daur pupuk dari luar usaha tani
d. Membatasi kehilangan akibat aliran panas, udara dan air dengan cara mengelola
iklim mikro pengelolaan air dan pencegahan erosi
e. Membatasi terjadinya kehilangan hasil panen akibat hama dan penyakit dengan
melaksanakan usaha preventif melalui perlakuan aman
f.

Pemanfaatan sumber genetika yang saling mendukung dan bersifat sinergis


dengan

cara

mengkombinasikan

fungsi

karagaman

sistem

pertanian

berkelanjutan.
2. Jelaskan manfaat mengetahui recovery dalam bidang pertanian?

Recovery Suatu kegiatan pemulihan kondisi tanah dengan meminimalisir


pengolahan dan pemakaian pupuk anorganik. Tujuan recovery adalah mengembalikan
kondisi lahan yang digunakan sebagai lahan setidaknya mendekati kondisi yang pada
natural ekosistem. Dengan mengetahui prinsip recovery maka kita akan mampu
mengolah, mengembalikan, dan mempertahankan kondisi lahan yang sesuai dengan
natural ekosistem.
Dengan mengetahui prinsip recovery kita dapat:
a. Mengembalikan kondisi tanah yang telah mengalami degradasi sehingga mampu
berproduksi secara maksimal kembali
b. Menjadikan hara dalam tanah menjaid seimbang karena yang ditambahkan bukan
hanya unsur makro namun juga unsur mikro melalui bahan organic.
c. Mampu mempertahankan habitat dan populasi dan organisme tanah sehingga
tanah menjadi sehat karena memiliki aerasi yang baik.
d. Mampu menjaga tanah dari kerusakan, karena dalam pengolahan lahan
menerapkan minimum tillage.
Upaya upaya yang dapat dilakukan dengan mengetahui prinsip recovery:
a. Memperbaiki kondisi tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman
terutama pengelolaan bahan organik dan meningkatkan kehidupan biologi tanah

b. Optimalisasi ketersediaan dan keseimbangan daur hara melalui, fiksasi nitrogen,


penyerapan hara, penambahan dan daur pupuk dari luar usaha tani
c. Membatasi kehilangan akibat aliran panas, udara dan air dengan cara mengelola
iklim mikro pengelolaan air dan pencegahan erosi
3. Carilah study literatur tentang hubungan daya dukung lahan dengan produksi
tanaman budidaya!
Upaya peningkatan daya dukung lahan di Kecamatan Rasau Jaya dapat dilakukan
dengan cara berikut :
a. Pertanian
Peningkatan daya dukung lahan pertanian di kecamatan Rasau Jaya dapat
dilakukan dengan peningkatan produksi dari komoditi yang ada sekarang, seperti padi
dan jagung yang merupakan komoditi utama. Hasil wawancara dengan warga padi yang
ditanam di Kecamatan Rasau Jaya adalah jenis padi kampung atau lokal dengan umur
tanaman hingga panen 6 bulan dengan produksi 1-2 ton/ha dan penduduk hanya
melakukan penanaman padi 1 tahun sekali. Di mana setelah dilakukan pemanenan padi
dilakukan penanaman tanaman jagung. Peningkatan produksi padi Kecamatan Rasau
Jaya dapat dilakukan dengan cara mengubah jenis padi yang ditanam yang sebelumnya
jenis padi lokal menjadi padi unggul. Padi jenis unggul dapat dilakukan pemanenan
dalam jangka waktu 3 bulan dengan produksi 5-7 ton/ha, dengan demikian produksi
padi dapat meningkat hingga lima kali lipat dari biasanya. Selain itu, dalam jangka 1
tahun dapat dilakukan 2 kali penanaman padi yang selanjutnya setelah panen dilakukan
penanaman jagung.
b. Perkebunan.
Peningkatan daya dukung lahan perkebunan di kecamatan Rasau Jaya dapat
dilakukan dengan melakukan tanaman sela. Di Kecamatan Rasau Jaya perkebunan
kelapa memiliki luas yang tinggi dibanding perkebunan lainnya. Salah satu usaha
meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan usaha tani kelapa yaitu dengan
menanam tanaman sela. Menurut Soehardjan (1986), produksi tanaman kelapa
cenderung meningkat apabila di bawahnya ditanami tanaman sela yang dikelola dengan
baik. Kaat dan Darwis (1986) mengemukakan bahwa hadirnya tanaman sela
berpengaruh terhadap dapat pertambahan jumlah bunga betina dan jumlah buah kelapa
tiap pohon.

Salah satu tanaman pangan yang prospektif dan mempunyai arti strategis
diusahakan diantara tanaman kelapa adalah jagung. Sekitar 80% lahan diantara tanaman
kelapa berpeluang untuk usaha tanaman sela. Dengan demikian usaha tani jagung
diantara tanaman kelapa dapat meningkatkan efisiensi penggunaan lahan dan
memberikan tambahan pendapatan kepada petani sekitar Rp. 2.655.000/ha (Listyati dan
Pranowo, 2002). Dalam hal ini untuk Kecamatan Rasau Jaya dapat melakukan tanaman
sela jagung yang merupakan komoditi unggulan pada perkebunan kelapa karena
berdasarkan wawancara dengan warga perkebunan kelapa yang ada selama ini tidak
dioptimalkan pemanfaatannya dengan melakukan tanaman sela.
Upaya peningkatan daya dukung lahan yang ada di Kecamatan Rasau Jaya juga
sangat dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang ada karena jumlah penduduk sangat
berpengaruh terhadap kebutuhan lahan yang ada. Oleh karena itu, pemerintah harus
sangat memperhatikan penambahan penduduk di Kecamatan Rasau Jaya akibat
pertumbuhan

penduduk

setempat

maupun

dari

transmigran

dengan

melihat

keseimbangan ketersediaan dan kebutuhan lahan agar tidak terjadi eksploitasi.


Sumber: Diah Meliana. 2014. Daya Dukung Lingkungan Kecamatan Rasau
Berdasarkan Ketersediaan dan Kebutuhan Lahan. Pontianak: Politeknik
Tanjungpura
Apabila

daerah

hulu

mengalami

gangguan

maka

yang

merasakan dampaknya adalah hilirnya karena bagian bagian DAS


merupakan satu kesatuan. Ekosistem DAS merupakan bagian yang
penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap DAS itu
sendiri. Ekosistem DAS hulu mempunyai fungsi perlindungan terhadap
bagian DAS, antara lain dari segi fungsi tata air. Oleh karena itu,
perencanaan

DAS

hulu

seringkali

menjadi

fokus

perencanaan

mengingat bahwa dalam suatu DAS, daerah hulu dan hilir mempunyai
keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi (Asdak, 2010). Seharusnya
untuk daerah hulu DAS pelestariannya harus tetap diperhatikan.
Penggunaan lahan yang telah sesuai dengan kemampuan lahan dan
tindakan

tindakan

konservasi

yang

telah

dilakukan

seperti

pembuatan terasering, pemupukan dan pergiliran tanaman memang


secara tidak langsung merupakan salah satu usaha yang dilakukan

sehingga sampai saat ini lahan sawah di Sub DAS Lengkese masih
dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai produksi yang tinggi. Hal
tersebut sesuai yang dikemukakan oleh WASWC (1998), dalam
Sinukaban 2007) bahwa untuk menjaga produktivitas lahan di daerah
DAS menurut penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan
lahan

serta

penggunaan

agroteknologi

harus

disertai

dengan

penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai.


Besaran nilai daya dukung lahan di Sub DAS Lengkese secara
keseluruhan

secara

kuantitatif

Ketersediaan

Lahan

(SL)

seluas

2.718.740 ha lebih besar dari Kebutuhan Lahan (DL) yaitu seluas


9494,55 ha dan secara keseluruhan berstatus surplus. Pengaruh
kemampuan lahan terhadap daya dukung lahan yaitu terdapat kelas
kemampuan lahan II, IIIe, IVe, VIe, dan VIIe yang tersebar di 9
(Sembilan) desa di Sub DAS Lengkese.Urutan skala prioritas upaya
peningkatan daya dukung lahan sawah dengan Analitycal Hierarki
Proses (AHP) adalah saluran irigasi, pengendalian hama terpadu,
pemeliharaan, penggunaan benih unggul, alat olah tanah, jalan,
penggunaan pupuk organik, modal, pertanian organik, pupuk dan
pestisida, penanganan pascapanen, pemasaran, perbaikan saluran
irigasi,

penangkaran

benih,

alat

angkut

hasil,

perkebunan,

peternakan, alat panen, alat tanam, tenaga kerja, pergiliran tanaman,


terassering, vegetasi permanen, kemampuan lahan, perikanan, status
hara

tanah,

pengemasan,

tanamanpenutup

tanah,

hortikultura,

perluasan areal tanam, bendungan, penggunaan pupuk anorganik.


Penentuan status daya dukung lahan dan kemampuan lahan perlu
dilakukan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas
lahan sawah sekaligus dapat mempertahankan kualitas lingkungan
sehingga kerusakannya dapat dikurangi utamanya di daerah hulu
DAS.
Sumber:Mustari, kahar. 2013. Daya Dukung Lahan Sawah Di DAS
Jeneberang Hulu Berbasis Spasial.Fakultas Pertanian Universitas
Hasannudin: Makasar