Anda di halaman 1dari 61

1

BAB I

CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Obat adalah suatu zat yang dimaksudkan untuk dipakai dalam diagnosis, mengurangi rasa
sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk
menjamin tersedianya obat yang bermutu, aman dan berkhasiat yaitu dengan mengharuskan setiap
industri untuk menerapkan Cara Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB).
Industri farmasi saat ini sudah berkembang pesat dalam rangka memenuhi obat-obatan
secara nasional. Perusahaan farmasi sebagai perusahaan pada umumnya melakukan kegiatan usaha
yang meliputi proses menghasilkan barang yaitu obat-obatan.
CPOB merupakan suatu konsep dalam industri farmasi mengenai prosedur atau langkahlangkah yang dilakukan dalam suatu industri farmasi untuk menjamin mutu obat jadi, yang
diproduksi dengan menerapkan Good Manufacturing Practices dalam seluruh aspek dan
rangkaian kegiatan produksi sehingga obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu
yang ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya.
CPOB bertujuan untuk menjamin obat dibuat secara konsisten memenuhi persyaratan yang
ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan
pengendalian mutu.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari pada pembuatan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas mata
kuliah Teknologi Sediaan Solid yang tentunya membahas mengenai CPOB (Cara Pembuatan Obat
yang Baik) dan lebih spesifiknya lagi adalah membahas mengenai aspek-aspek dari CPOB itu
sendiri.
Diharapkan makalah ini nantinya dapat digunakan sebagaimana mestinya, serta dapat
bermanfaat untuk sebagai bahan panduan dan referensi dalam pembuatan makalah dikemudian
harinya.

2
1.3. Rumusan Masalah

CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK

Adapun rumusan masalah yang timbul dalam makalah yang membahas mengenai CPOB
dan aspek-aspeknya adalah sebagai berikut :

Apa yang dimaksud dengan CPOB.


Apa penjelasan dari tiap aspek CPOB.
o Ketentuan Umum
o Personalia
o Bangunan dan Fasilitas
o Peralatan
o Sanitasi dan Hygiene
o Produksi
o Pengawasan Mutu
o Inspeksi Diri
o Penanganan Keluhan terhadap Obat, Penarikan Kembali Obat dan Obat Kembalian
o Dokumentasi

BAB II
ISI

3
CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK

2.1. CPOB (CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK)


CPOB merupakan suatu konsep dalam industri farmasi mengenai prosedur atau langkahlangkah yang dilakukan dalam suatu industri farmasi untuk menjamin mutu obat jadi, yang
diproduksi dengan menerapkan Good Manufacturing Practices dalam seluruh aspek dan
rangkaian kegiatan produksi sehingga obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu
yang ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) bertujuan untuk menjamin obat dibuat secara
konsisten memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. CPOB
mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu.
Ruang lingkup CPOB edisi 2001 meliputi Ketentuan Umum, Personalia, Bangunan dan
Fasilitas, Peralatan, Sanitasi dan Hygiene, Produksi, Pengawasan Mutu, Inspeksi Diri dan Audit
Mutu, Penanganan Keluhan terhadap Produk, Penarikan Kembali Produk dan Produk Kembalian,
serta Dokumentasi.
Ruang lingkup CPOB edisi 2006 meliputi Manajemen Mutu, Personalia, Bangunan dan
Fasilitas, Peralatan, Sanitasi dan Hygiene, Produksi, Pengawasan Mutu, Inspeksi Diri dan Audit
Mutu, Penanganan Keluhan terhadap Produk, Penarikan Kembali Produk dan Produk Kembalian,
Dokumentasi, Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak, serta Kualifikasi dan Validasi.

2.2. KETENTUAN UMUM


Cara Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB) menyangkut seluruh aspek produksi dan
pengendalian mutu dan bertujuan untuk menjamin bahwa produk obat dibuat senantiasa memenuhi
persyaratan mutu yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Ada empat landasan umum dalam CPOB 2001 yaitu :
1. Pada pembuatan obat pengawasan secara menyeluruh adalah sangat essensial untuk menjamin
bahwa konsumen menerima obat yang bermutu tinggi. Pembuatan obat secara sembarangan
tidak dibenarkan bagi obat yang akan digunakan sebagai penyelamat jiwa atau memulihkan
atau memelihara kesehatan.
2. Tidaklah cukup apabila obat jadi hanya sekedar lulus dari serangkaian pengujian, tetapi yang
menjadi sangat penting adalah mutu harus dibentuk ke dalam produk. Mutu obat tergantung

4
CARA
PEMBUATAN
OBATyang
YANGdipakai,
BAIK
pada bahan awal, proses pembuatan dan pengawasan mutu,
bangunan,
peralatan

dan personalia yang terlibat dalam pembuatan obat.


3. Untuk menjamin mutu suatu obat jadi tidak boleh hanya mengandalkan hanya pada pengujian
tertentu saja. Semua obat hendaklah dibuat dalam kondisi yang dikendalikan dan dipantau
dengan cermat.
4. CPOB merupakan pedoman yang bertujuan untuk memastikan agar sifat dan mutu obat yang
dihasilkan sesuai dengan yang dikehendaki.

2.3. PERSONALIA
Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan penerapan sistem pemastian
mutu yang memuaskan dan pembuatan obat yang benar. Oleh sebab itu, industri farmasi
bertanggung jawab untuk menyediakan personel berkualitas dalam jumlah yang memadi untuk
melaksanakan semua tugas. Tiap personil hendaklah memahami tanggung jawab masing-masing
dan dicatat. Seluruh personil hendaklah memahami prinsip CPOB dan memperoleh pelatihan awal
dan berkesinambungan, termasuk instruksi mengenai hygiene yang berkaitan dengan pekerjaan.
UMUM
1. Industri farmasi hendaklah memiliki personil yang berkualitas dan berpengalaman dalam
jumlah yang memadai. Tiap personil tidak dibebani tanggung jawab yang berlebihan untuk
menghindari resiko terhadap mutu obat.
2. Industri farmasi harus memiliki struktur organisasi tugas spesifikasi dan kewenangan dari
personil pada posisi penanggung jawab hendaklah dicantumkan dalam uraian tugas tertulis.
Tugas mereka boleh didelegasikan kepaa wakil yang mereka tunjuk serta mempunyai tingkatan
kualifikasi yang memadai. Hendaklah aspek penerapan CPOB tidak ada yang terlewatkan
ataupun tumpang tindih dalam tanggung jawab yang tercantum pada uraian tugas.
PERSONIL KUNCI
3. Personil Kunci mencakup Kepala Bagian Produksi, Kepala Bagian Pengawasan Mutu dan
Kepala Bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) posisi utama tersebut di jabat oleh
personalia purna waktu. Kepala Bagian Produksi dan Kepala Bagian Manajemen Mutu
(Pemastian Mutu) Kepala Bagian Pengawasan Mutu harus independen satu terhadap yang lain.
ORGANISASI, KUALIFIKASI DAN TANGGUNG JAWAB
4. Sturktur organisai industri farmasi hendaklah sedemikian rupa sehingga Bagian Produksi,
Manajemen Mutu (Pemastian Mutu)/ Pengawasan Mutu dipimpin oleh orang berbeda serta

5
CARA
PEMBUATAN
YANG
BAIK
tidak saling bertanggung jawab satu terhadap lain. masing
masing
personilOBAT
diberi
wewenang

penuh dan sarana yang memadai yang diperlukan untuk dapat melaksanakan tugasnya secara
efektif. Hendaklah personil tersebut tidak mempunyai kepentingan dilain organisasi yang dapat
menhambat atau membatasi kewajiban dalam melaksanakan tanggung jawab atau yang dapat
menimbulkan konflik kepentingan pribadi atau finansial.
5. Kepala Bagian Produksi hendaklah seorang Apoteker yang terdaftar dan terkualifikasi,
memperoleh pelatihan yang sesuai, memiliki pengalaman praktis yang memadai dalam bidang
pembuatan obat dan ketrampilan manajerial sehingga memungkinkan untuk melaksanakan
tugas seacra profesional.
6. Kepala Bagian Pengawasan Mutu hendaklah seorang berkualifikasi dan lebih di utamakan
seorang apoteker memperoleh pelatihan yang sesuai, memiliki pengalaman praktis yang
memadai dan ketrampil menejerial sehingga memungkinkan untuk melaksanakan tugas secara
profesional.
7. Kepala Bagian Manjemen Mutu (Pemastian Mutu) hendaklah seorang Apoteker yang terdaftar
dan terkualifikasi, memperoleh pelatihan sesuai, memiliki pengalaman praktis yang memadai
dan ketrampilan menejerial sehingga memungkinkan untuk melaksanakan tugas secara
profesional.
8. Masing-masing Kepala Bagian Produksi, Pengawasan Mutu dan Manajemen Mutu (Pemastian
Mutu) memiliki tanggung jawab bersama dalam menerapkan semua aspek yang berkaitan
dengan mutu, yang berdasarkan peraturan OPO mencakup :
Otorisasi prosedur tertulis dan dokumen lain, termasuk amademen
Pemantauan dan pengendalian lingkungan pembuatan obat
Hygiene pabrik
Validasi proses
Pelatihan
Persetujuan dan pemantauan pemasok bahan
Persetujuan dan pemantauan pembuatan obat atas dasar kontrak
Penetapan dan pemantuan kondisi penyimpanan bahan dan produk
Penyimpanan catatan
Pemantauan pemenuhan terhadap Persyaratan
Inspeksi, penyelidikan dan pengambilan sampel
Pemantauan faktor yang memungkinkan berdampak terhadap mutu produk
PELATIHAN
9. Industri farmasi hendaklah memberikan pelatihan bagi seluruh personil yang tugasnya harus
berada didalam produksi, gudang penyimpanan atau laboratorium (termasuk personil teknik
perawatan dan petugas kebersihan), dan bagi personil lain yang kegiatannya dapat berdampak
pada mutu produk.
10. Disamping pelatihan dasar dalam teori dan praktik CPOB, personil baru hendaklah mendapat
pelatih sesuai dengan tugas yang diberikan. Pelatihan berkesinambungan hendaklah juga

6
CARA PEMBUATAN
YANG
BAIK
diberikan, dan efektifitas juga dinilai secara berkala. Hendaklah
tersedia OBAT
program
pelatihan

yang masing masing catatan pelatih hendaklah disimpan.


11. Pelatihan spesifik hendaklah diberikan kepada personil yang berkerja di area dimana
pencemaran merupakan bahaya, misal area bersih atau area penanganan bahaya berpotensi
tinggi toksik atau bersifat sensitif.
12. Pengunjungan atau personil yang tidak mendapat pelatihan sebaiknya tidak masuk area
produksi dan laboratorium pengawasan mutu. Bila tidak dapat dihindarkan hendaklah mereka
diberi penjelasan terlebih dahulu, teruatama mengenai hygiene perorangan dan pakaian
pelindung yang dipersyaratkan serta diawasi dengan ketat.
13. Konsep pemastian mutu dan semua tindakan yang tepat untuk meningkatkan pemahaman dan
penerapannya hendaklah dibahas secara mendalam selama pelatihan
14. Pelatihan hendaklah diberikan oleh orang yang berkualifikasi.

2.4. BANGUNAN DAN FASILITAS


Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain, konstruksi dan
letak yang memadai, serta disesuaikn kondisinya dan dirawat dengan baik untuk memudahkan
pelaksanaan operasi yang benar. Tata letak dan desain ruangan harus dibuat sedemikian rupa untuk
memperkecil resiko terjadinya kekeliruan, pencemaran-silang dan kesalahan lain, dan memudahkan
pembersihan, sanitasi dan perawatan yang efektif untuk menghindari pencemaran silang,
penumpukan debu atau kotoran, dan dampak lain yang dapat menurunkan mutu obat.

UMUM
1. Letak bangunan hendaklah sedemikian rupa untuk menghindari pencemaran dari lingkungan
sekelilingnya, seperti pencemaran dari udara, tanah dan air serta dari kegiatan industri lainya
yang berdekatan. Apabila letak bangunan tidak sesuai hendaklah diambil tindakan pencegahan
yang efektif terhadap pencemaran tersebut.
2. Bangunan dan Fasilitas hendaklah dikonstruksi, dilengkapi dan dirawat dengan tepat agar
memperoleh perlindungan maksimal dari pengaruh cuaca, banjir, rembesan dari tanah serta
masuk dan bersarangnya serangga, burung, binatang pengerat, kutu atau hewan lain. Hendaklah
tersedia prosedur untuk pengendalian binatang pengerat dan hama.
3. Bangunan dan fasilitas hendaklah dirawat dengan cermat. Bangunan serta fasilitas hendaklah
dibersihkan dan, dimana perlu, didisinfeksi sesuai prosedur tertulis yang rinci. Catatan
pembersihan dan desinfeksi hendaklah disimpan.

7
CARA
PEMBUATANarea
OBATpenyimpanan,
YANG BAIK
4. Seluruh bangunan dan fasilitas termasuk area produksi,
laboratorium,

koridor dan lingkungan sekeliling bangunan hendaklah dirawat dalam kondisi bersih dan rapi.
Kondisi bangunan hendaklah ditinjau secara teratur dan diperbaiki di mana perlu. Perbaikan
dan perawatan bangunan dan fasilitas hendaklah dilakukan hati-hati agar kegiatan tersebut
tidak mengurangi mutu obat pasokan.
5. Tenaga listrik, lampu penerangan, suhu, kelembaban dan ventilasi hendaklah tepat agar tidak
mengakibatkan dampak yang merugikan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap
produk selama proses pembuatan dan penyimpanan, atau terhadap ketepatan dan ketelitian
fungsi dari peralatan.
6. Desain dan tata letak ruang hendaklah memastikan :
Kompatibilitas dengan kegiatan produksi lainya yang mungkin dilakukan didalam sarana

yang sama atau sarana yang berdampingan dan


Pencegahaan area produksi dimanfaatkan sebagai jalur lalulintas umum bagi personil dan
bahan atau produk, sebagai tempat penyimpanan bahan atau produk selain yang sedang

diproses.
7. Tindakan pencegahan hendaklah diambil untuk mencegah masuknya personil yang tidak
berkepentingan. Area produksi, area penyimpanan dan area pengawasan mutu tidak boleh
digunakan sebagai jalur yang tidak bekerja di area tersebut.
8. Kegiatan dibawah ini hendak dilakukan di area yang ditentukan :
Penerimaan bahan
Karantina barang masuk
Penyimpanan bahan awal dan bahan pengemas
Penimbang dan penyerahan barang atau produk
Pengolahan
Pencucian peralatan
Penyimpanan peralatan
Penyimpanan produk ruahan
Pengemasan
Karantina produk jdi sebelum memperoleh kelulusan akhir
Pengiriman produk dan
Laboratourium
AREA PENIMBANGAN
9. Penimbangan bahan awal dan perkiraan hasil nyata hendaklah dilakukan diarea penimbangan
terpisah yang didesain khusus untuk kegiatan tersebut. Area ini dapat menjadi bagian dari area
penyimpanan atau area produksi.
AREA PRODUKSI
10. Untuk memperkecil resiko bahaya medis yang serius akibat terjadinya pencemaran silang ,
suatu sarana khusus dan self-container hendaklah disediakan untuk produksi obat tertentu

8
CARAlainya
PEMBUATAN
YANGtertentu
BAIK
seperti produk yang dapat menimbulkan sensitif tinggi, produk
seperti OBAT
anti biotik

(missal penisilin). Produk hormone seks, produk sitotoksik, produk tertentu dengan bahna aktif
berpotensi tinggi, produk biologi (misal: yang berasal dari mikroorganisme hidup) dan produk
non-obat hendaklah diprodukdsi di bangunan terpisah.
11. Pembuatan produk yang diklasifikasikan sebagai racun seperti pestisida dan herbisida tidak
boleh dilakukan disarana produksi obat
12. Tata-letak ruangan produksi sebaiknya dirancang sedemikian rupa untuk :
Memungkinkan kegiatan produksi dilakukan di area yang saling berhubungan antara satu
ruangan dengan ruangan lain mengikuti urutan tahap produksi dan menurut kelas
kebersihan yang di persyaratkan.
Mencegah kesesakan dan ketidakteraturan dan
Memungkinkan terlaksananya komunikasi dan pengawasan yang efektif.
13. Luas area kerja dan area penyimpanan bahan atau produk yang sedang dalam proses hendaklah
memadai untuk memungkinkan penempatan peralatan dan bahan secara teratur dan sesuai
dengan alur proses, sehingga dapat memperkecil resiko terjadi kekeliruan antara produk obat
atau komponen obat yang berbeda, mencegah pencemaran silang dan memperkecil resiko
terlewatnya atau salah melaksanakan tahapan proses produksi atau pengawasan.
14. Permukaan dinding, lantai dan langit-langit bagian dalam ruangan dimana terdapat bahan baku
dan bahan pengemas primer, produk antara atau ruahan yamg terpapar ke lingkungan hendaklah
halus, bebas retak dan sambungan terbuka. Tidak melepaskan praktikulat, serta memungkinkan
pelaksanaan pembersihan (bila perlu disinfeksi) yang mudah dan efektif.
15. Konstruksi lantai di area pengolahan hendaklah dibuat dari bahan kedap air permukaannya rata
dan memungkinkan pelaksanaan pembersihan yang cepat dan efisien apabila terjadi tumpahan
bahan. sudut antara dinding dan lantai di area pengolahan hendaklah berbentuk lengkungan.
16. Pipa, fiting lampu, titik fentilasi dan instalasi sarana penunjang lain hendaklah dirancang
sedemikian rupa untuk menghindari terbentuknya ceruk yang sulit dibersihkan. Untuk
kepentingan perawatan sedapat mungkin instalasi sarana penujang seperti ini hendaklah dapat
di jangkau dari luar area pengolahan.
17. Pipa yang terpasang didalam ruangan tidak boleh menempel diding tetapi digantung dengan
menggunakan siku-siku pada jarak cukup untuk memudahkan pembersihan menyeluruh.
18. Pemasangan rangka atap, pipa dan saluran udara di dalam hendaklah dihindari. Apabila tidak
terhindarkan, maka prosedur dan jadwal pembersihan instalasi tersebut hendaklah dibuat dan di
ikuti.
19. Lubang udara masuk dan keluar serta pipa-pipa dan salurannya hendaklah dipasang sedemikian
rupa untuk mencegah pencemaran terhadap produk.
20. Saluran pembuangan air hendaklah cukup besar, dirancang dan dilengkapi dengan bak control
serta ventilasi yang baik maupun mencegah aliran balik sedapat mungkin saluran terbuka
dicegah tetapi bila perlu hendaklah cukup dangkal untuk memudahkan pembersihan dan
disinfeksi.

9
CARA
PEMBUATAN
OBATpengendalian
YANG BAIK
21. Area produksi hendaklah diventilasi secara efektif dengan
mengunakan
sistem

udara termasuk filter udara dengan tingkat efisiensi yang dapat mencegah pencemaran dan
pencemaran silang, pengendalian kelembaban udara sesuai kebutuhan produk yang diproses
dan kegiatan yang dilakukan di dalam ruangan dan dampaknya terhadap lingkungan luar
pabrik. Area produksi hendaklah dipantau secara teratur baik selama ada maupun tidak ada
kegiatan produksi untuk memastikan pemenuhan terhadap spesifikasi yang dirancang
sebelumnya.
22. Area dimana dilakukan kegiatan yang menimbulkan debu misalnya pada saat pengambilan
sempel, penimbangan bahan/produk, pencampuran dan pengolahan bahan atau produk
pengemasan produk serbuk, memerlukan sarana penunjang khusus untuk mencegah
pencemaran silang dan memudahkan pembersihan.
23. Tata letak ruang area pengemasan dirancang khusus untuk mencegah campur baur atau
pencemaran silang.
24. Area produksi hendaklah mendapat penerangan yang memadai, terutama penerangan di mana
pengawasan visual dilakukan pada saat proses berjalan.
25. Pengawasan selama proses dapat dilakukan di dalam area produksi sepanjang kegiatan tersebut
tidak menimbulkan resiko terhadap produksi obat.
26. Pintu area produksi yang berhubungan langsung ke lingkungan luar, separti pintu bahaya
kebakaran, hendaklah ditutup rapat. pintu tersebut hendaklah diamankan sedemikian rupa
sehingga hanya dapat digunakan dalam keadaan darurat sebagai pintu keluar. Pintu dalam area
produksi yang berfungsi sebagai barier terhadap pencemaran silang hendaklah selalu ditutup
apabila sedang tidak digunakan.
AREA PENYIMPANAN
27. Area penyimpanan hendaklah memiliki kapasitas yang memadai untuk menyimpan dengan rapi
dan teratur berbagai macam bahan dan produk seperti bahan awal dan bahan pengemasan,
produk antara, produk ruahan dan produk jadi, produk dalam status karantina, produk yang
telah diluluskan, produk yang di tolak, produk yang dikembalikan atau produk yang ditarik dari
peredaran.
28. Area penyimpanan hendaklah di desain atau disesuaikan untuk menjamin kondisi penyimpanan
yang baik ; terutama area tersebut hendaklah bersih, kering dan dapat penerangan yang cukup
serta dipelihara dalam batas suhu yang ditetapkan
29. Apabla kondisi penyimpanan khusus (misal suhu, kelembaban) dibutuhkan, kondisi tersebut
hendaklah disiapkan, dipantau dan di catata di mana diperlukan.
30. Area penyimpanan dan pengiriman barang hendaklah dapat memberikan perlindungan
terhadap bahan dan produk terhadap cuaca. Area penerimaan hendaklah didesain dan
dilengkapi dengan pearalatan yang sesuai untuk kebutuhan pembersihan wadah barang bila
perlu.

10
CARAarea
PEMBUATAN
OBAT area
YANGtersebut
BAIK
31. Apabila status karantina dipastikan dengan cara penyimpanan
terpisah, maka

harus diberi penandaan yang jelas dan akses ke area tersebut terbatas bagi personil yang
berwenang . Sistem lain untuk mengantikan sistem karantina barang secara fisik hendaklah
memberikan pengamanan yang setara
32. Hendaklah disediakan area terpisah dengan lingkungan yang terkendali untuk pengambilan
sampel bahan awal. Apabila kegiatan tersebut dialakukan sedemikian rupa untuk mencegah
pencemaran atau pencemran silang, maka prosedur pembersihan yang memadai bagi ruang
pengambilan sampel hendaklah tersedia.
33. Area terpisah dan terkunci hendaklah disediakan untuk menyimpan bahan atau produk yang di
tolak, atau yang ditarikkembali atau yang di kembalikan
34. Bahan aktif berpotensi tinggi dan bahan radioaktif, narkotika, obat berbahaya lain dan zat atau
bahan yang mengandung resiko tinggi terhadap penyalahgunaan, kebakaran atau ledakan
hendaklah disimpan di area yang terjamin keamananannya. Hendaklah disimpan di tempat
terkunci
35. Bahan pengemasan cetakan merupakan bahan yang kritis karena menyatakan kebenaran produk
menurut penandaanya. Perhatian khusus hendaklah diberikan dalam keamanannya. Bahan label
hendaklah disimpan ditempat terkunci.
AREA PENGAWASAN MUTU
36. Laboratorium Pengawasan Mutu hendaklah terpisah dari area produksi, area pengujian
biologis, mikrobiologi dan radio isotope hendaklah dipisahkan satu dengan yang lain.
37. Laboratorium pengawasan mutu hendaklah didesain sesuai dengan kegiatan yang dilakukan.
Luas ruangan hendaklah memadai untuk mencegah campur baur dan pencemaran silang .
Hendaklah disediakan tempat penyimpanan yang luas memadai untuk sempel, baku
pembanding (bila perlu dengan kondisi suhu terkendali) pelarut pereaksi dan catatan.
38. Suatau ruangan yang terpisah mungkin di perlukan untuk perlindungan istrumen terhadap
gangguan listrik, getaran, kelembaban yang berlebihan dan gangguan lain, atau bila perlu untuk
mengisolasi instrumen.
39. Desain laboratorium hendaklah memperhatikan kesesuaian bahan bangunan yang di pakai,
ventilasi dan pencegahan terhadap asap. Pasokan udara ke laboratorium hendaklah dipisah dari
pasokan ke area produksi. Hendaklah dipasang unit pengendali udara yang terpisah untuk
masing masing laboratorium biologi, mikrobiologi dan isotop.
SARANA PENDUKUNG
40. Ruangan istirahat dan kantin hendaklah dipisah dari area produksi dan laboratorium
Pengawasan Mutu.
41. Sarana untuk mengganti pakaian kerja, membersihkan diri dan toilet hendaklah disediakan
dalam jumlah yang cukup dan mudah diakses. Toilet tidak boleh berhubungan langsung dengan

11
CARA
PEMBUATAN
OBAT YANG
BAIK
area produksi atau area penyimpanan. Ruangan ganti pakaian
hendaklah
berhubungan
langsung

dengan area produksi namun letaknya terpisah.


42. Sedapat mungkin letak bengkel perbaikan dan perawatan peralatan terpisah dari area produksi.
Apabila suku cadang, aksesoris mesin dan perkakas bengkel disimpan di area produksi,
hendaklah disediakan ruangan atau lemari khusus untuk penyimpanan tersebut.
43. Sarana pemeliharaan hewan hendaklah diisolasi dengan baik terhadap area lainya dan
dilengkapi dengan akses hewan serta unit pengendali udara yang terpisah.
2.5. PERALATAN
Peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan konstruksi yang tepat,
ukuran memadai serta di tempatkan dan dikualifikasi dengan tepat ,agar mutu obat terjamin sesuai
dan seragam dari bets ke bets dan untuk memudahkan pembersihan serta perawatan.
DESAIN DAN KONSTRUKSI
Desain dan konstruksi peralatan hendaklah memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Peralatan di desian dan di kontruksikan sesuai dengan tujuannya;
2. Permukaan peralatan yang bersentuhan dengan bahan awal, produk antara atau produk jadi
tidak boleh menimbulkan reaksi atau adisi ,atau absorsi yang dapat mempengaruhi identitas,
mutu atau kemurnian di luar batas yang ditentukan
3. Bahan yang diperlukan untuk pengoprasian alat khusus , misalnya pelumas atau pendingin tidak
boleh bersentuhan dengan bahan yang sedang diolah sehingga tidak mempengaruhi identitas,
mutu atau kemurnian bahan awal, produk antara ataupun produk jadi
4. Peralatan tidak boleh merusak produk akibat katub bocor, tetesan pelumas dan hal sejenis atau
karena perbaikan, perawatan, modifikasi dan adaptasi yang tidak tepat
5. Peralatan hendaklah di desain sedemikian rupa agar mudah dibersihkan. Peralatan tersebut
hendaklah dibersihkan sesuai prosedur tertulis yang rinci serta disimpan dalam keadaan bersih
dan kering
6. Peralatan pencucian dan pembersihan hendaklah dipilih dan digunakan agar tidak menjadi
sumber pencemaran
7. Peralatan yang digunakan hendaklah tidak berakibat buruk pada produk. Bagian alat yang
bersentuhan dengan produk tidak boleh bersifat reaktif, adiktif, atau absorbtif yang dapat
mepengaruhi mutu dan berakibat buruk pada produk
8. Semua peralatan khusus unuk pengolahan bahan mudah terbakar atau kimia atau dimana
diletakan di area dimana digunakan bahan mudah terbakar, hendaklah dilengkapi dengan
perlengkapan elektris yang bersifat kedap eksplosi serta dibumikan dengan benar
9. Hendaklah tersedia alat timbang dan alat ukur dengan rentang dan ketelitian yang digunakan
untuk proses produksi dan pengawasan. Peralatan yang digunakan untuk menimbang,

12
PEMBUATAN
OBAT
YANG BAIK
mengukur, memeriksa dan mencatat hendaklah diperiksaCARA
ketepatannya
dan
kalibrasi
sesuai

program dan prosedur yang ditetapkan.Hasil pemeriksaan dicatat dan disimpan dengan baik
10. Filter cairan yang digunakan untuk proses produksi hendaklah tidak lepaskan serat kedalam
produk. Filter yang mengandung asbes tidak boleh digunakan walalupun sesudahnya disaring
kembali menggunakan filter khusus yang tidak melepaskan serat dan
11. Pipa air suling air De-ionisasi dan bila perlu pipa air lain untuk produksi hendaklah di sanitasi
sesuai prosedur tertulis. Prosedur tersebut hendaklah berisi rincian batas cemaran mikroba dan
tindakan yang harus dilakukan
PEMASANGAN DAN PENEMPATAN
12. Peralatan hendaklah ditempatkan sedemikian rupa untuk memperkecil kemungkinan terjadinya
pencemaran silang antara bahan di area yang sama. Peralatan hendaklah dipasang sedemikian
rupa untuk menghindari resiko kekeliruan atau pencemaran.
13. Peralatan satu sama lain hendaklah ditempatkan pada jarak yang cukup untuk menghindari
kesesakan serta memastikan tidak terjadi kekeliruan dan campur baur produk.
14. Semua sabuk (belt) dan Pully mekanis terbuka hendaklah dilengkapi dengan pengaman.
15. Air uap dan udara bertekanan atau vakum serta saluran lain hendaklah dipasang sedemikian
rupa agar mudah diakses pada tiap tahapan proses. pipa hendaklah diberi penandaan yang jelas
untuk menunjukan isi dan arah aliran.
16. Tiap peralatan utama hendaklah diberikan tanda dengan nomor identitas yang jelas . Nomor ini
dicantumkan didalam semua perintah dan catatan bets untuk menunjukan unit atau peralatan
yang digunakan pada pembuataan bets tersebut kecuali bila peralatan tersebut hanya digunakan
untuk satu jenis produk saja
17. Peralatan yang rusak, jika memungkinkan, hendaklah dikeluarkan dari area produksi dan
pengawasan mutu, atau setidaknya, diberi penandaan yang jelas.
PERAWATAN
18. Peralatan hendaklah dirawat sesuai dengan jadwal untuk mencegah malfungsi atau pencemaran
yang dapat mempengaruhi identitas, mutu atau kemurnian produk.
19. Kegiatan perbaikan dan perawatan hendaklah tidak menimbulkan resiko terhadap mutu produk.
20. Bahan pendingin, pelumas dan bahan kimia lainya seperti cairan alat penguji suhu hendaklah
dievaluasi dan disetujui dengan proses formal
21. Prosedur tertulis untuk perawatan peralatan hendaklah dibuat dan dipatuhi.
22. Pelaksanaan perawatan dan pemakaian suatu peralatan utama hendaklah dicatat dalam buku log
alat yang menunjukan tanggal, waktu, produk, kekuatanya dan nomor setiap bets atau lot yang
di olah dengan alat tersebut. Catatan untuk peralatan yang digunakan khusus untuk satu produk
saja dapat ditulis dalam catatan bets.

13
CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK

2.6. SANITASI DAN HYGIENE


Tingkatan sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap aspek
pembuatan obat. Ruang lingkup sanitasi dan hygiene meliputi personil, bangunan, peralatan dan
perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya, dan segala sesuatu yang dapat merupakan sumber
pencemaran potensial hendaklah dihilangkan melalui suatu program sanitasi dan higiene yang
menyeluruh dan terpadu.
HIGIENE PERORANGAN
1. Tiap personil yang masuk ke area pembuatan hendaklah mengenakan pakaian pelindung yang
sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakannya.
2. Prosedur higiene perorangan termasuk persyaratan untuk mengenakan pakaian pelindung
hendaklah berlakukan bagi semua personil yang memasuki area produksi baik karyawan purna
waktu, paruh waktu atau bukan karyawan yang berada di area pabrik, misalnya karyawan
kontraktor, pengunjung, anggota menajemen senior dan ispektur.
3. Untuk menjamin perlindungan produk dari pencemaran dan untuk keamanan personil.
hendaklah personil mengenakan pakaian pelindung yang bersih dan sesuai dengan tugasnya
termasuk penutup rambut. Pakaian kerja kotor dan lap pembersih kotor (yang dapat di pakai
ulang) hendaklah disimpan dalam wadah tertutup hingga saat pencucian.
4. Program higiene yang rinci hendaklah dibuat dan di adaptasikan terhadap berbagai kebutuhan
di dalam area pembuatan. Program tersebut hendaklah mencakup prosedur kesehatan, praktik
higiene dan pakaian pelindung personil. Prosedur hendaklah dipahami dan di patuhi secara
ketat oleh setiap personil yang bertugas di area produksi dan pengawasan. Program higiene
hendaklah dipromosikan oleh manajemen dan dibahas secara luas selama sesi pelatihan
5. Semua personil hendaklah menjalani pemeriksaan kesehatan pada saat di rekruet. Industri harus
bertanggung jawab agar tersedia instruksi yang memastikan bahwa keadaan kesehatan personil
yang dapat mempengaruhi mutu produk diberitahukan kepada manajemen industri. Sesudah
pemerikasaan kesehatan awal hendaklah dilakukan pemeriksaan kesehatan kerja dan kesehatan
personil secara berkala. Petugas pemeriksa visual hendaklah menjalani pemeriksaan mata
secara berkala.
6. Semua personil hendaklah menerapkan higiene perorangan yang baik. Hendaklah mereka
dilatih mengenai penerapan higiene perorang. Semua personil yang berhubungan dengan proses
pembuatan hendaklah memperhatikan tingkat higiene perorangan yang tinggi
7. Tiap personil yang mengidap penyakit atau menderita luka terbuka yang dapat merugikan mutu
produk hendaklah dilarang menangani bahan awal, bahan pengemas, bahan yang sedang
diproses dan obat jadi sampai dia sembuh kembali.

14
PEMBUATAN
OBAT
YANG BAIK
8. Semua personil hendaklah diperintahkan dan didorongCARA
untuk
melaporkan
kepada
atasan

langsung tiap keadaan (pabrik, peralatan atau personil ) yang menurut penilaian mereka dapat
merugikan produksi.
9. Hendaklah dihindarkan persentuhan langsung antara tangan operator dengtn bahan awal,
produk antara dan produk ruahan yang terbuka dan juga dengan bagian yang bersentuhan
dengtn produk.
10. Personil hendaklah diinstruksikan supaya menggunakan sarana mencuci tangan dan mencuci
tanganya sebelum memasuki area produksi. Untuk tujuan itu perlu dipasang poster yang sesuai.
11. Merokok, makan, minum, menggunyah, memelihara tanaman, menyimpan makanan, minuman,
bahan untuk merokok atau obat pribadi hanya diperbolehkan di area tertentu dan dilarang
dalam area produksi, laboraturiom, area gudang dan area lain yang memungkinkan berdampak
terhadap mutu produk.
12. Persyaratan khusus untuk pembuatan produk steril di atur terpisah.
SANITASI BANGUNAN DAN FASILITAS
13. Bangunan yang digunakan untuk pembuatan obat hendaklah di desain dan di konstruksi
dengan tepat untuk memudahkan di sanitasi yang baik.
14. Hendaklah tersedia dalam jumlah yang cukup sarana toilet dengan ventilasi yang baik dan
tempat cuci bagi para personil yang letaknya mudah diakses dari area pembuatan.
15. Hendaklah disediakan sarana yang memadai untuk penyimpanan pakaian personil dan milik
pribadinya di tempat yang tepat.
16. Penyiapan, penyiapan dan konsumsi makanan dan minuman hendaklah dibatasi diarea khusus
misalnya kantin. Sarana ini hendaklah memenuhi standar saniter.
17. Sampah tidak boleh dibiarkan menumpuk, sampah hendaklah dikupulkan di dalam wadah yang
sesuai untuk dipindahkan ke tempat penampungan di luar bagunan dan dibuang secara teratur
dan berkala dengan mengindahkan persyaratan saniter.
18. Rodentisida, insektisida, agen fumigasi dan bahan sanitasi tidak boleh mencemari peralatan,
bahan awal, bahan pengemas, bahan sedang diproses atau produk jadi.
19. Hendaklah ada prosedur tertulis untuk pemakaian rodentisida, insektisida, fungisida agen
fungisida, pembersih dan sanitasi yang tepat. Prosedur tertulis tersebut hendaklah disusun dan
dipatuhi untuk mencegah pencemaran terhadap terhadap peralatan, bahan awal, bahan
pengemas dan label atau produk jadi. Rodentisida, insektisida dan fungisida hendaklah tidak
digunakan kecuali sesuai peraturan terkait.
20. Hendaklah ada prosedur tertulis yang menunjukan penanggung jawab untuk sanitasi serta
menguraikan dengan cukup rinci mengenai jadwal, metode, peralatan dan bahan yang harus
digunakan untuk membersihkan sarana dan bangunan. Prosedur terkait hendaklah di patuhi.
21. Prosedur sanitasi hendaklah berlaku untuk pekerjaan yang dilaksanakan oleh kontraktor atau
karyawan sementara maupun karyawan purna waktu selama pekerjaan operasional biasa.

15
CARA
PEMBUATAN
OBAT YANG
BAIK
22. Segala praktik tidak higienis diarea pembuatan atau area lain
yang
dapat berdampak
merugikan

terhadap mutu produk hendaklah dilarang


23. Persyaratan khusus untuk pembuatan produk steril di atur dalam persyaratan lain.
PEMBERSIHAN DAN SANITASI PERALATAN
24. Setelah digunakan, peralatan hendaklah dibersihkan baik bagian luar maupun bagian dalam
sesuai dengan prosedur. Serta dijaga dan disimpan dalam kondisi yang bersih. Tiap kali
sebelum dipakai, kebersihannya diperiksa untuk memastikan bahwa semua produk atau bahan
dari bets sebelumnya telah dihilangkan
25. Metode pembersihan dengan cara vakum atau cara basah lebih dianjurkan. udara bertekanan
dan sikat hendaklah digunakan dengan hati-hati dan sedapat mungkin dihindari karena
menambah resiko pencemaran produk.
26. Pembersihan dan penyimpanan peralatan dapat dipindah-pindahkan dan penyimpanan bahan
pembersih hendaklah dilaksanakan dalam ruangan yang terpisah dari ruangan pengolahan.
27. Prosedur tertulis yang cukup rinci untuk pembersihan dan sanitasi peralatan serta wadah yang
digunakan dalam pembuatan obat hendaklah dibuat, divalidasi dan ditaati. Prosedur ini
hendaklah dirancang agar pencemaran peralatan oleh agen pembersih atau sanitasi dapat
dicegah. Prosedur ini setidaknya meliputi penanggung jawab pembersihan , jadwal, metode.
peralatan dan bahan yang dipakai dalam pembersihan serta metode pembongkaran perakitan
kembali peralatan yang mungkin diperlukan untuk memastikan pembersihan yang benar
terlaksana, jika perlu, prosedur juga meliputi sterilisasi peralatan, penghilangan identitas bets
sebelumnya serta perlindungan peralatan terhadap pencemaran sebelum digunakan
28. Catatan mengenai pelaksanaan pembersihan, sanitasi, sterilisasi dan inspeksi sebelum
pengunaan peralatan hendaklah disimpan secara benar.
29. Disinfektan dan deterjen hendaklah dipantau terhadap pencemaran mikroba, pengenceran
disinfektan dan deterjen hendaklah disimpan dalam wadah yang sebelumnya telah dibersihkan
dan hendaklah disimpan untuk jangka waktu tertentu kecuali bila disterilkan.
VALIDASI PROSEDUR PEMBERSIHAN DAN SANITASI
30. Prosedur pembersihan, sanitasi dan higiene hendaklah divalidasi dan dievaluasi secara berkala
untuk memastikan evektivitas prosedur memenuhi persyaratan.

2.7. PRODUKSI
Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti posedur yang telah ditetapkan dan
memenuhi ketentuan CPOB yang menjamin senantiasa menghasilkan produk yang memenuhi
persyaratan mutu serta memenuhi ketentuan izin pembuatan dan izin edar (registrasi).

16
UMUM

CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK

1.

Produksi hendaklah dilakukan dan diawasi oleh personil yang kompeten

2.

Penanganan bahan dan produk jadi seperti penerimaan dan karantina, pengambilan sampel,
penyimpanan, penandaan, penimbangan, pengolahan, pengemasan dan distribusi hendaklah
dilakukan sesuai dengan prosedur atau instruksi tertulis dan bila perlu dicatat

3.

Seluruh bahan kimia diterima hendaklah diperiksa untuk memastikan kesesuaiannya dengan
pemesanan. Wadah hendaklah dibersihkan bilamana perlu diberi penandaan dengan data yang
sesuai.

4.

Kerusakaan wadah dan masalah lain yang dapat berdampak merugikan terhadap mutu
bahan hendaklah diselidiki, dicatat dan dilaporkan kepada bagian Pengawasan mutu.

5.

Bahan yang diterima dan produk jadi hendaklah dikarantina secara fisik atau administratif
segera setelah diterima atau diolah, sampai dinyatakan lulus untuk pemakaian atau distribusi.

6.

Produk antara dan produk ruahan yang diterima hendaklah ditanggani seperti penerimaan
bahan awal.

7.

Semua bahan dan produk jadi hendaklah disimpan secara teratur pada kondisi yang
disarankan oleh pabrik pembuatannya dan diatur sedemikian agar ada pemisahan antar bets dan
memudahkan rotasi stok.

8.

Pemeriksaan jumlah hasil nyata dan rekokonsiliasinya hendaklah dilakukan sedemikian


untuk memastikan tidak ada penyimpangan dari batas yang telah ditetapkan.

9.

Pengolahan produk yang berbeda hendaklah tidak dilakukan secara bersamaan atau
bergantian dalam ruangan kerja yang sama kecuali tidak ada resiko terjadi campur baur atau
pencemaran kontaminasi silang.

10.

Tiap tahapan pengolahan, produk dan bahan hendaklah dilindungi terhadap pencemaran
mikroba atau pencemaran lain.

11.

Bila bekerja dengan bahan atau produk dan bahan hendaklah dilakukan tindakan khusus
untuk mencegah debu timbul serta penyebaranya. Hal ini terrutama dilakukan pada
penanganan bahan yang sangat aktif atau menyebabkan sensitive.

12.

Selama pengolahan, semua bahan, wadah produk ruahan, peralatan atau mesin produksi dan
bila perlu ruang kerja yang dipakai hendaklah diberi label atau penandaan dari produk atau
bahan yang sedang diolah, kekuatan (bila ada ) dan nomor bets. Bila perlu, penandaan ini
hendaklah juga menyebutkan tahapan proses produksi.

13.

Label pada wadah, alat atau ruangan hendaklah jelas, tidak berarti ganda dan dengan format
yang telah ditetapkan. Label yang berwarna seringkali sangat membantu untuk menunjukan
status (misal : karantina, diluluskan, ditolak, bersih dan lain-lain)

17
14.

CARA PEMBUATAN
YANGtransfer
BAIK
Pemeriksaan perlu dilakukan untuk memastikan pipa penyaluran
dan alat OBAT
lain untuk

produk dari satu ke tempat lain yang telah terhubung dengan benar.
15.

Penyimpanan terhadap instuksi atau prosedur sedapat mungkin dihindarkan. Bila terjadi
penyimpanan maka hendaklah ada persetujuan tertulis dari Kepala Bagian Pemastian Mutu bila
perlu melibatkan bagian Pengawasan Mutu.

16.

Akses ke bangunan dan fasilitas produksi hendaklah dibatasi hanya untuk personil yang
berwenang.

17.

Pada umumnya pembuatan produk non obat hendaklah dihindarikan dibuat di area dengan
peralatan yang khusus untuk produk obat.
BAHAN AWAL

1.

Pengadaan bahan awal hendaklah hanya dari pemasok yang telah disetujui dan memenuhi
spesifikasi yang relevan.

2.

Semua penerima, pengeluaran dan jumlah bahan tersisa hendaklah dicatat. Catatan
hendaklah berisi keterangan mengenai pasokan, nomor bets/lot, tanggal penerimaan atau
penyerahan, tanggal pelulusan dan tanggal daluwarsa bila ada.

3.

Sebelum diluluskan untuk digunakan, tiap bahan awal hendaklah memenuhi spesifikasi dan
diberi label dalam spesifikasinya. Singkatan, kode ataupun nama yang tidak resmi hendaklah
tidak di pakai.

4.

Tiap pengiriman atau bets bahan awal hendaklah diberi nomor rujukan yang akan
menunjukan identitas pengiriman atau bets selama penyimpanan dan pengolahan. Nomor
tersebut hendaklah jelas tercantum pada label wadah untuk memungkinkan akses ke catatan
lengkap tentang pengiriman atau bets yang akan dipasang.

5.

Apabila dalam satu pengiriman terdapat lebih dari satu bets maka untuk tujuan pengambilan
sempel, pengujian dan pelulusan, hendaklah dianggap sebagai bets terpisah.

6.

Pada tiap penerimaan hendaklah dilakukan pemeriksaan visual tentang kondisi umum,
keutuhan wadah dan segelnya, ceceran dan kemungkinan adanya kerusakan bahan tentang
kesesuaian catatan pengiriman dengan label dari pemasok. Sampel diambil oleh personil dan
dengan metode yang telah disetujui oleh Kepala Bagian Pengawasan Mutu.

7.

Wadah dari mana sampel bahan diambil hendaklah diberi identifikasi.

8.

Sampel bahan awal hendaklah diuji pemenuhannya terhadap spesifikasi, dalam keadaan
tertentu. Pemenuhan sebagian atau keseluruhan terhadap spesifikasi dapat ditunjukan dengan
sertifikat analisis yang diperkuat dengan pemastian identitas yang dilakukan sendiri.

9.

Hendaklah diambil langkah yang menjamin bahwa semua wadah pada suatau pengiriman
berisi bahan awal yang benar, dan melakukan pengamanan terhadap kemungkinan salah
penandaan wadah termasuk oleh pemasok.

18
10.

CARA PEMBUATAN
YANG BAIK
Bahan awal yang diterima hendaklah dikarantina sampai
disetujui danOBAT
diluluskan
untuk

pemakaian oleh Kepala Bagian Pengawasan Mutu.


11.

Bahan awal di area penyimpanan hendaklah diberi label yang tepat. Label hendaklah
memuat keterangan paling sedikit sebagai berikut:
o

Nama bahan dan bila perlu nomor kode bahan ;

Nomor bets/control yang diberikan pada saat penerimaan bahan ;

Status bahan (misal : karantina sedang diuji, diluluskan, ditolak,);

Tanggal daluwarsa atau tanggal uji ulang bila perlu ;

Jika digunakan sistem penyimpanan dengan komputerisasi yang divalidasi lengkap,


maka semua keterangan di atas tidak perlu dalam bentuk tulisan yang terbaca pada label.

12.

Label yang menunjukan status bahan awal hendaklah ditempelkan personil yang di tunjuk
oleh Kepala Bagian Pengawasan Mutu. Untuk mencegah kekeliruan, label tersebut hendaklah
berbeda dengan label yang digunakan oleh pemasok misalnya dengan mencantumkan nama
atau logo perusahaan. Bila status bahan mengalami perubahan, maka label penujuk status
hendaklah juga berubah.

13.

Persediaan bahan awal hendaklah diperiksa secara berkala untuk menyakinkan bahwa
wadah tertutup rapat dan diberi label dengan benar, dan dalam kondisi yang baik. Terhadap
bahan tersebut hendaklah dilakukan pengambilan sampel dan pengujian ulang secara berkala
sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. Pelaksanaan pengambilan sampel ulang hendaklah
diawali dengan penempelan lebel uji ulang dan / atau dengan mengunakan sisitem dokumentasi
yang sama efektifnya.

14.

Bahan awal, terutama yang dapat mengalami kerusakan karena terpapar pada panas,
hendaklah disimpan di dalam ruangan yang suhu udaranya dikendalikan dengan ketat. Bahan
yang peka terhadap kelembaban dan atau cahaya hendaklah disimpan dengan benar di dalam
ruangan yang dikendalikan kondisinya.

15.

Penyerahan bahan awal untuk produksi hendaklah dilakukan sesuai dengan prosedur yang
telah disetujui. Catatan persediaan bahan hendaklah dilakukan hanya oleh personil yang
berwenang sesuai dengan prosedur yang telah disetujui. Catatan persediaan bahan hendaklah
disimpan dengan baik agar rekonsiliasi persediaan dapat dilakukan.

16.

Alat timbang hendaklah diverifikasi tiap hari sebelum dipakai untuk membuktikan bahwa
kapasitas, ketelitian dan ketepatannya memenuhi persyaratan sesuai dengan jumlah bahan yang
akan ditimbang

17.

Semua bahan awal yang ditolak hendaklah diberikan penandaan untuk dimusnahkan atau
dikembalikan kepada pemasoknya.
VALIDASI PROSES

19
1.

OBATsesui
YANGdengan
BAIK
Studi validasi hendaklah memperkuat pelaksanaan CARA
CPOBPEMBUATAN
dan dilakukan

prosedur yang telah ditetapka, hasil validasi dan kesimpulan hendaklah dicatat.
2.

Sebelum suatu prosedur Pengolahan induk diterapkan, hendaklah diambil langkah untuk
membuktikan prosedur tersebut cocok untuk pelaksanaan produksi rutin, dan bahwa proses
yang telah ditetapkan dengan menggunakan bahan dan peralatan yang telah ditentukan, akan
senantiasa menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu.

3.

Perubahan yang berarti dalam proses, peralatan atau bahan hendaklah disertai dengan
tindakan validasi ulang untuk menjamin bahwa perubahan tersebut akan tetap menghasilkan
produk yang memenuhi persyaratan mutu.

4.

Hendaklah secara rutin dilkukan validasi dan/atau penijauan ulang secara kritis terhadap
proses dan prosedur produksi untuk memastikan bahwa proses dan prosedur produksi untuk
memastikan bahwa proses dan prosedur tersebut tetap mampu memberikan hasil yang
diinginkan.
PENCEGAHAN PENCEMARAN SILANG

1.

Pencemaran bahan awal atau produk oleh bahan atau produk lain harus dihindarkan. Resiko
pencemaran silang ini dapat timbul akibat tidak terkendalinya debu dan gas, uap, percikan atau
organisme dari bahan atau produk yang sedang diproses, sisa yang tertinggal pada alat dan
pakaian operator. Tingkat resiko pencemaran ini tergantung dari jenis pencemaran produk yang
tercemar. Diantara pencemaran yang paling berbahaya yang dapat menimbulkan sensifitas kuat.
Preparat biologis yang mengandung mikroba hidup, hormone tertentu, bahan sitotoksik dan
bahan lainya yang berpotensi tinggi. Produk yang paling terpengaruh oleh pencemaran adalah
sediaan parenteral, sediaan yang diberikan dalam dosis besar dan/atau sediaan yang diberikan
dalam jangka waktu panjang.

2.

Tiap tahapan poses, produk dan bahan hendaklah dilindungi terhadap pencemaran mikroba
dan pencemaran lain.

3.

Pencemaran silang hendaklah dihindari dengan tindakan teknis atau pengaturan yang tepat,
misalnya :
o

Produksi didalam gedung terpisah (diperlukan untuk produk seperti penisilin,


hormone seks, sitotoksik tertentu, vaksin hidup, dan sediaan yang mengandung bakteri
hidup serta produk darah);

Tersedia ruang penyangga udara dan penghisap udara :

Memperkecil risiko pencemaran yang disebabkan oleh udara yang disirkulasi ulang
atau masuknya udara yang tidak diolah atau udara yang diolah secara tidak memadai.

Memakai pakaian pelindung yang sesuai di area di mana produk yang beresiko
tinggi terhadap pencemaraan silang diproses;

20

4.

Menggunakan system self-contained;

Pengujian residu dan menggunakan label status kebersihan pada alat.

CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK

Tindakan pencegahaan terhadap pencemaraan silanag dan efektifitasnya hendaklah


diperiksa secara berkala sesuai prosedur yang ditetapkan.
SISTEM PENOMORAN BEST/LOT

1.

Hendaklah tersedia sistem yang menjelaskan secara rinci yang menjelaskan penomoran
best/lot dengan tujuan untuk memastikan bahwa tiap best/lot produk jadi dapat diidentifikasi.

2.

Sistem penomoran best/lot yang digunakan pada tahapan pengolahan dan tahap pengemasan
hendaklah saling berkaitan.

3.

Sistem penomoran best/lot hendaklah menjamin bahwa nomer best/lot yang sama tidak
dipakai secara berulang .

4.

Alokasi Nomor best/lot hendaklah segera dicatat dalam suatu buku log. Catatan pemeberian
nomer, identitas produk dan ukuran best/lot yang bersangkutan.
PENIMBANGAN DAN PENYERAHAN

1.

Penimbangan atau perhitungan dan penyerahan bahan awal, bahan pengemas, produk
antara dan produk ruahan dianggap sebagai bagian dari siklus produksi dan memerlukan
dokumentasi serta rekonsiliasi yang lengkap. Pengendalian terhadap pengeluaran bahan dan
produk tersebut untuk memprodusi, dari gudang,a rea penyerahan, atau antar bagian produksi
adaklah sangat penting.

2.

Cara penangaanan, penimbangan, perhitungan dan penyerahan bahan awal bahan pengemas,
produk antara dan produk ruahan hendaklah tercakup dalam prosedur tertulis.

3.

Semua pengeluaran bahan awal dan bahan pengemas, produk antara dan produk ruahan
termasuk bahan tambahan yang telah diserahkan sebelumnya ke produksi, hendaklah
didokumentasikan dengan benar.

4.

Hanya bahan awal, bahan pengemas, produk antara dan produk ruahan yang telah
dilulusaan oleh Pengawas Mutu dan masih belum daluwarsa yang boleh diserahkan.

5.

Untuk menghindari terjadinya campur baur, pencemaran silang, hilangnya identitas dan
keragu-raguan, maka hanya bahan awal, produk antara dan produk ruahan yang terkait dari satu
bets saja yang boleh ditempatkan dalam area penyerahaan, setelah penimbangan penyerahan
dan penandaan, bahan awal produk antara dan produk ruahan hendaklah diangkut dan disimpan
dengan cara yang benar sehingga keutuhannya masih tetap terjaga sampai saat pengolahan
berikutnya tiba.

6.

Sebelum penimbangan dan penyerahan, tiap wadah bahan awal hendaklah diperiksa
kebenaran, penandaan, termasuk label pelulusan dari Bagian Pengawasan Mutu.

21
7.

CARA
OBAT YANG
BAIK
Kapasitas, ketelitian dan ketepatan alat timbangan dan
alatPEMBUATAN
ukur yang dipakai
hendaklah

sesuai dengan jumlah bahan yang ditimbang atau ditakar.


8.

Untuk tiap penimbanagnan, pengukuran hendaklah dilakukan pembuktian kebenaran


identitas dan jumlah bahan yang ditimbang atau di ukur oleh dua orang personil yang
independen ,dan pembuktian tersebut dicatat.

9.

Ruang timbang dan penyerahaan hendaklah dijaga kebersihanya. Bahan awal steril yang
akan dipakai untuk produk steril hendaklah ditimbang dan diserahkan diarea steril .

10.

Kegiatan penimbangan dan penyerahan hendaklah dilakukan dengan memakai peralatan


yang sesuai dan bersih.

11.

Bahan awal, produk antara dan produk ruahan yang diserahkan hendaklah diperiksa ulang
kebenaranya dan ditanda tanggani oleh Supervisior produksi sebelum dikirim ke bagian
produksi.

12.

Sesudah ditimbang atau dihitung ,bahan untuk tiap bets hendaklah disimpan dalam satu
kelompok dan diberi penandaaan yang jelas.
PENGEMBALIAN

1.

Semua bahan awal, bahan pengemas produk antara dan produk ruahan yang dikembalikan
ke gudang penyimpanan hendaklah didokumentasikan dengan benar dan direkonsiliasi.

2.

Bahan awal, bahan pengemasan, produk antara dan produk ruahan hendaklah tidak
dikembalikan ke gudang penyimpanan kecuali memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan.
PENGOLAHAN

1.

Semua bahan yang dipakai didalam pengolahan hendaklah diperiksa sebelum dipakai.

2.

Kegiatan pembuatan produk yanag berbeda tidak boleh dilakukan bersamaan atau beruntun
dilakukan diruangan yang sama kecuali tidak terjadi resiko campur baur atau pencemaran
silang.

3.

Kondisi lingkungan diarea pengolahaan hendaklah dipantau dan dikendalikan agar selalu
berada ditempat yang dipersyaratkan untuk kegiatan pengolahan. Sebelum kegiatan dimulai
hendaklah diambil langkah untuk memastikan area pengolahan dan peralatan bersih dan bebas
dari bahan awal, produk atau dokumen yang tidak diperlukan untuk kegiatan pengolahan yang
akan dilakukan.

4.

Semua peralatan yang dipakai dalam pengolahan hendaklah diperiksa sebelum digunakan.
Peralatan hendaklah dinyatakan bersih secara tertulis sebelum digunakan.

5.

Semua kegiatan pengolahan hendaklah dilaksanakan mengikuti prosedur yang tertulis. Tiap
penyimpanagan hendaklah dipertanggung jawabkan dan dilaporkan.

22
6.

CARAakan
PEMBUATAN
OBAT YANG
BAIK
Wadah dan tutup yang akan dipakai untuk bahan yang
diolah, produk
antara
dan

produk ruahan hendaklah bersih dan dibuat dari bahan yang tepat sifat dan jenisnya untuk
melindungi produk atau bahan terhadap pencemaraan atau kerusakan.
7.

Semua wadah dan peralatan yang berisi dengan benar yang menunjukan tahap pengolahan.
Sebelum label ditempelkan, semua penandaan terdahulu hendaklah dihilangkan.

8.

Semua produk antara dan ruahan hendaklah diberikan label dengan benar dan dikarantina
sampai diluluskan oleh Bagian Pengawasan Mutu.

9.

Semua pengawasan selama-proses yang dipersyaratkan hendaklah dicatat dengan akurat


pada saat pelaksanaannya.

10.

Hasil nyata tiap tahap pengolahan bets hendaklah dicatat dan diperiksa serta dibandingkan
dengan hasil teoritis.

11.

Dalam semua tahapan pengolahan bets perhatian utama hendaklah diberikan kepada
masalah pencemaran silang.

12.

Batas waktu dan kondisi Penyimpanan produk dalam-proses hendaklah ditetapkan.

13.

Untuk sistem komputerisasi yang kritis hendaklah disiapkan sistem penggantian manakala
terjadi kegagalan.
BAHAN DAN PRODUK KERING

1.

Untuk mengatasi masalah pengendalian debu dan pencemaran silang yang terjadi pada saat
penangganan bahan dan produk kering perhatian khusus hendaklah diberikan pada desain.
Pemeliharaan serta penggunaan sarana dan peralatan. Apabila layak hendaklah dipakai sistem
pembuatan tertutup atau metode lain yang sesuai.

2.

Sistem penghisap udara yang efektif hendaklah dipasang dengan lubang pembuangan
sedemikian rupa untuk menghindarkan pencemaran dari produk atau proses lain. Sistem
penyaringan udara efektif atau sistem lain sesuai hendaklah dipasang untuk menyaring debu.
Pemakaian alat penghisab debu pada pembuatan tablet dan kapsul sangat dianjurkan.

3.

Perhatian Khusus hendaklah diberikan untuk melindungi produk terhadap pencemaran


serpihan logam atau gelas. Pemakaian peralatan gelas sedapat mungkin dihindari.
Ayakan punch dan die hendaklah diperiksa terhadap keausan sebelum dan sesudah pemakaian.

4.

Hendaklah dijaga agar tablet atau kapsul tidak ada yang terselip atau tertinggal tanpa
terdeteksi dimesin, alat penghitung atau wadah produk ruahan.
PENCAMPURAN ATAU GRANULASI

1.

Mesin pencampur, pengayak dan pengaduk hendaklah dilengkapi dengan sistem pengendali
debu, kecuali digunakan sistem tertutup.

23
2.

CARA PEMBUATAN
Parameter operasional yang kritis (misalnya waktu, kecepatan
dan suhu OBAT
)untukYANG
tiap BAIK
proses

pencampuran, pengadukan dan pengeringan hendaklah tercantum dalam dokumen produksi


induk, dan dipantau selama proses berlangsung serta dicatat dalam catatan, bets.
3.

Kantong filter yang dipasang pada mesin pengering fluid bed tidak boleh dipakai untuk
produk yang berbeda tanpa pencucian lebih dahulu. Untuk produk yang beresiko tinggi atau
yang dapat menimbulkan sensititas hendaklah digunakan kantong fiter khusus bagi masing
masing produk. Udara yang masuk kedalam alat pengering ini hendaklah disaring. Hendaklah
dialakukan tindakan pengamanan untuk mencegah, pencemaran silang oleh debu yang keluar
dari alat pengering tersebut.

4.

Pembuatan dan pengunaan larutan atau suspense hendaklah dilaksanakan sedemikian rupa
sehingga resiko pencemaran atau pertumbuhan mikroba dapat diperkecil.
PENCETAK TABLET

1.

Mesin percetak tablet hendaklah dilengkapi dengan fasilitas pegendalian debu yang efektif
dan ditempatkan sedemikian rupa untuk menghindari campur baur antar produk. Tiap mesin
hendaklah ditempatkan ditempatkan dalam ruang terpisah. Kecuali mesin tersebut digunakan
untuk produk yang sama atau dilengkapi sistem pengendalian udara yang tertutup maka dapat
ditempatkan dalam ruangan tanpa pemisah.

2.

Untuk mencegah campur baur perlu dilakukan pengendalian yang memadai baik secara
fisik, prosedural maupun penandaan.

3.

Hendaklah selalu tersedia alat timbang yang akurat dan telah dikalibrasi untuk pemantauan
bobot tablet selama-proses.

4.

Tablet yang diambil dari ruang pencetak tablet untuk keperluan pengujian atau keperluan
lain tidak boleh dikembalikan lagi kedalam bets yang bersangkutan.

5.

Tablet yang ditolak atau yang disingkirkan hendaklah ditempatkan dalam wadah yang
ditandai dengan jelas mengenai jumlah dan statusnya dicatat pada catatan pengolahan bets.

6.

Tiap kali sebelum dipakai, punch dan die hendaklah diperiksa diperiksa keausanya dan
kesesuainya terhadap spesifikasi. Catatan Pemakaian hendaklah disimpan.
PENYALUTAN

1.

Udara yang dialirkan kedalam panci penyalutan untuk pengeringan hendaklah disaring dan
mempunyai mutu yang tepat.

2.

Larutan penyalutan hendaklah dibuat dan digunakan dengan sedemikian rupa untuk
mengurangi risiko pertumbuhan mikroba. Pembuatan dan pemakaian larutan penyalut
hendaklah didokumentasikan.
PENGISIAN KAPSUL KERAS

24
1.

CARA
PEMBUATAN
YANG
BAIK
Cangkang kapsul hendaklah diperlakukan sebagai bahan
awal.
CangkangOBAT
kapsul
hendaklah

disimpan dalam kondisi yang dapat mencegah kekeringan dan kerapun atau efek lain yang
disebabkan oleh kelembaban.
2.

Persayaratan persayaratan yang tertulis pada K pada Pencetak tablet juga berlaku untuk
pengisian kapsul keras.
PENANDAAN TABLET SALUT DAN KAPSUL

1.

Hendaklah diberikan perhatian khusus untuk menghindari campur baur selama proses
penandaan tablet salut dan kapsul. Bilamana dilakukan penandaan pada produk atau bets yang
berbeda dalam saat yang bersamaan hendaklah dilakukan pemisahan yang memadai.

2.

Tinta yang digunakan penandaan hendaklah yang memenuhi persyaratan untuk bahan
makanan.

3.

Hendaklah diberikan perhatian khusus untuk menghindari campur baur selama proses
pemeriksaan, penyortiran dan pemolesan kapsul dan tablet salut.
CAIRAN , KRIM DAN SALEP (Non Steril)

1.

Produk cairan, krim dan salep hendaklah diproduksi sedimikian rupa terlindung dari
pencemaran mikroba dan pencemaran lain. Penggunaan sistem tertutup untuk produksi dan
transfer sangat dianjurkan. Area Produksi dimana produk atau wadah bersih tanpa tutup
terpapar ke lingkungan hendaklah diberi ventilasi yang efektif dengan udara yang disaring.

2.

Tangkai wadah pipa dan pompa yang digunakan hendaklah di disain dan dipasang
sedemikian rupa sehingga memudahkan pembersihan dan bila perlu disanitasi. Di dalam
mendisain peralatan hendaklah diperhatikan agar sesedikit mungkin adanya sambungan mati
(dead-legs) atau ceruk dimana residu dapat terkumpul dan menyebabkan perkembanagn
mikrobial.

3.

Penggunaan peralatan dari kaca sedapat mungkin dihindarkan, baja tahan karat bermutu
tinggi merupakan bahan pilihan untuk peralatan yang bersentuhan dengan produk.

4.

Kualitas Kimia dan Mikrobiologi air yang digunakan hendaklah ditetapkan dan selalu
dipantau.

Pemeliharaan

sistem

air

hendaklah

diperhatiakan

untuk

menghindari

perkembangbiakan mikroba. Sanitasi secara secara Kimiawi pada sistem air hendaklah diikuti
pembilasaan yang prosedurnya telah divalidasi agar sisa bahan sanitasi dihilangkan secara
efektif.
5.

Perhatian hendaklah diberikan pada transfer bahan melalui pipa untuk memastikan bahan
tersebut ditransfer ke tujuan yang benar.

6.

Apabila jaringan pipa digunakan untuk mengalirkan bahan awal atau produk ruahan,
hendaklah diperhatikan agar sistem tersebut mudah dibersihkan. Jaringan pipa hendaklah
didesain dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dibongkar dan dibersihkan.

25
7.

PEMBUATAN
OBAT hanya
YANG BAIK
Ketelitian sistem pengukuran hendaklah diverifikasi.CARA
Tongkat
pengukuran
boleh

digunakan untuk bejana tertentu dan telah dikalibrasi untuk bejana yang bersangkutan. Tongkat
pengukur hendaklah terbuat dari bahan yang tidak bereaksi dan tidak menyerap (misal ;bukan
kayu).
8.

Perhatian hendaklah diberikan untuk mempertahankan homogenitas campuran, suspensi


dan produk lain selama pengisisan. Proses pencampuran dan pengisian hendaklah divalidasi.
Perhatian khusus hendaklah diberikan pada awal pengisian, sesudah penghentian dan akhir
proses pengisian untuk memastikan produk selalu dalam keadaan homogen.

9.

Apabila produk ruahan tidak langsung dikemas hendaklah dibuat ketetapan mengenai waktu
paling lama produk ruahan boleh disimpan serta kondisi penyimpananya dan ketetapanya ini
hendaklah di patuhi.
BAHAN PENGEMAS

1.

Pengadaan, penanganan dan pengawasan bahan pengemas primer dan bahan pengemas
cetak serta bahan cetak lain hendaklah diberi perhatian yang sama seperti terhadap bahan awal.

2.

Perhatian khusus hendaklah diberikan kepada bahan cetak. Bahan cetak tersebut hendaklah
disimpan dengan kondisi keamanan yang memadai dan orang yang tidak berkepentingan
dilarang masuk. Label lepas dan bahan cetak lepas lain hendaklah disimpan dan diangkut dalam
wadah tertutup untuk menghindarkan campur baur. Bahan pengemas hendaklah diserahkan
kepada orang yang berhak sesuai prosedur yang disetujui.

3.

Tiap penerimaan atau tiap bets bahan pengemas primer hendaklah diberi nomor yang
spesifik atau penandaan yang menunjukan identitasnya.

4.

Bahan pengemas primer, bahan pengemas cetak atau bahan cetak lain yang tidak berlaku
lagi atau obsolete hendaklah dimusnahkan dan pemusnahanya dicatat.

5.

Untuk menghindari campur baur, hanya satu jenis bahan pengemas cetak atau bahan cetak
tertentu saja yang diperbolehkan diletakkan di tempat pada saat yang sama. Hendaklah ada
sekat pemisah yang memadai antar tempat kodifikasi tersebut.

KEGIATAN PENGEMASAN
1.

Kegiatan pengemasan berfungsi membagi dan mengemas produk jadi. Pengemasan


hendaklah dilaksanakan dibawah pengendalian yang ketat untuk menjaga identitas, keutuhan
dan mutu produk akhir yang dikemas.

2.

Hendaklah ada prosedur tertulis yang menguraikan penerimaan dan identifikasi produk
ruahan dan produk pengemas. Pengawasan untuk menjamin bahwa produk ruahan dan bahan
pengemas cetak dan bukan cetak serta bahan cetak lain yang akan dipakai adalah benar,

26
CARA
PEMBUATAN
OBAT YANG
BAIK
pengawasa -selama-proses pengawasan rekonsiliasi terhadap
produk
ruahan, bahan
pengemasan

cetak dan bahan cetak lain, serta pemeriksaan hasil akhir pengemasan. Semua
kegiatanpengemasan hendaklah dilaksanakan sesuai dengan intruksi yang diberikan dan
menggunakan bahan pengemas yang tercantum dalam Prosedur Pengemasan induk. Rincian
pelaksanaan pengemasan hendaklah dicatat dalam Catatan Pengawasan Bets.
3.

Sebelum kegiatan pengemasan dimulai, hendaklah dilakukan pemeriksaan untuk


memastikan bahwa area kerja dan peralatan telah bersih serta bebas dari produk lain, sisa
produk lain atau dokumen lain yang tidak diperlukan untuk kegiatan pengemasan yang
bersangkutan.

4.

Semua penerimaan produk ruahan, bahan pengemasan dan bahan cetak lain hendaklah
diperiksa dan diverifikasi kebenarannya terhadap prosedur Pengemasan induk atau perintah
pengemasan khusus Pra-kondifikasi Bahan Pengemas

5.

Label, karton dan bahan pengemas cetak lain yang memerluan pra-kondifikasi nomor
best/lot, tanggal dalwarsa dan informasi lain sesuai dengan perintah pengemasan hendaklah
diawasi dengan ketat pada tiap tahap, proses, sejak diterima dari gudang sampai menjadi
bagian dari produk atau dimusnahkan.

6.

Bahan pengemas dan bahan cetak lain yang sudah dialokasi untuk pra-kondifikasi
hendaklah disimpan di dalam wadah tertutup rapat dan ditempatkan di area terpisah serta
terjamin keamananya.

7.

Proses pra-kondifikasi bahan pengemasan dan bahan cetak lain hendaklah dilakukan di area
yang terpisah dari kegiatan pengemasan lainya.

8.

Seluruh bahan pengemas dan bahan cetak lain yang telah diperiksa sebelum ditransfer ke
area pengemasan. Kesiapan lajur harus di pastikan.

9.

Segera menempatkan bahan pengemasan dan bahan cetak lainya pada jalur pengemasan,
personil penanggung jawab yang ditujuk dari bagian pengemasan hendaklah melakukan
pemeriksaan kesiapan jalur sesuai dengan prosedur tertulis yang disetujuai oleh Kepala Bagian
Manajemen Mutu (Pemastian Mutu), untuk ;
a) Memastikan bahwa semua bahan dan produk yang sudah dikemas dari kegiatan sebelumnya
telah benar disingkirkan dari jalur pengemasan dan area sekitarnya.
b) Memeriksa kebersihan jalur dan area sekitarnya; dan
c) Memastikan keberhasilan peralatan yang akan dipakai.
Praktik Pengemasan

10.

Resiko kesalahan terjadi dalam pegawasan dapat diperkecil dengan cara sebagai berikut ;
a) Menggunakan label pada gulungan;
b) Pemberian penandaan bets pada jalur pemasangan label;
c) Dengan menggunakan alat pemindai dan penghitungan label elektronis;

27
CARArupa
PEMBUATAN
OBAT
YANG BAIK
d) Label dan bahan cetak lainya didesain sedemikian
sehingga
masing-masing

mempunyai tanda khusus untuk tiap produk yang berbeda dan


e) Di samping pemeriksaan secara independen oleh Bagian Pengawasan Mutu selama pada
akhir proses pengemasan.
11.

Produk yang penampilanya mirip hendaklah tidak dikeamas pada jalur yang berdampingan
kecuali ada pemisah secara fisik.

12.

Pada tiap jalur pengemasan nama dan nomor bets produk yang sedang dikemas hendaklah
dapat terlihat dengan jelas.

13.

Wadah yang dipakai untuk menyimpan bahan ruahan, produk yang baru sebagian dikemas,
atau sub-bets hendaklah diberi label penandaan yang menunjukan identitas, jumlah nomor bets
dan status produk tersebut.

14.

Wadah yang akan diisi hendaklah diserahkan ke jalur atau tempat pengemasan dalam
keadaan bersih.

15.

Semua personil bagian pengemasan hendaklah memperoleh pelatihan agar memahami


persyaratan pengawasan-selama-proses dan melaporkan tiap penyimpangan yang ditemukan
pada saat mereka menjalankan tanggung jawab spesifikasi tersebut.

16.

Area pengemasan hendaklah dibersihkan secara teratur dan sering selama jam kerja dan tiap
ada tumpahan bahan. Personil kebersihan hendaklah diberi pelatihan untuk melakukan praktik
yang dapat menyebabkan campur baur atau pencemaran silang.

17.

Bila ditemukan bahan pengemas cetak pada saat pembersihan hendaklah diberikan kepada
Supervisior, yang selanjutnya ditempatkan di dalam wadah di sediakan untuk keperluan
rekonsiliasi dan kemudian dimusnahkan pada akhirnya proses pengemasan.

18.

Kemasan akhir dan kemasan setengah jadi yang ditemukan diluar jalur pengemasan
hendaklah diserahkan kepada Supervisor dan tidak boleh langsung dikembalikan ke jalur
pengemasan. Bila produk tersebut telah diperiksa oleh supervisor ternyata identitasnya sama
dengan bets yang sedang dikemas dan keadaannya baik, maka supervisor dapat
mengembalikannya ke jalur pengemasan yang sedang berjalan. Kalau tidak, maka bahan
tersebut hendaklah dimusnahkan dalam jumlahnya dicatat.

19.

Produk yang telah diisikan kedalam wadah akhir tetapi belum diberikan label hendaklah
dipisahkan dan diberikan penandaan untuk menghindari campur baur.

20.

Bagian peralatan pengemasan yang biasanya tidak bersentuhan dengan produk ruahan tapi
dapat menjadi tempat penumpukan debu, serpihan bahan pengemas ataupun produk yang dapat
jatuh kedalam produk atau mencemari atau dapat menjadi penyebab campur baur produk yang
sedang dikemas, hendaklah dibersihkan dengan cermat.

28
21.

PEMBUATAN
OBAT
YANG BAIK
Hendaklah diambil tindakan untuk mengendalikanCARA
penyebaran
debu
selama
proses

pengemasan khususnya produk kering. Area pengemasan yang terpisah diperlukan untuk
produk tertentu misalnya obat yang berdosis rendah dan berpotensi tinggi atau produk toksik
dan bahan yang dapat menimbulkan sensititasasi. Di udara bertekanan tidak boleh digunakan
untuk membersihkan peralatan di area kegiatan pengemasan di mana pencemaran silang dapat
terjadi.
22.

Pemakaian sikat hendaklah dibatasi karena dapat menimbulkan bahaya pencemaran dari
bulu sikat dan/atau pertikel yang menempel pada sikat.

23.

Personil hendaklah dilarang untuk tidak menaruh bahan pengemas atau produk dalam saku
mereka. Bahan tersebut hendaklah dibawa dengan tangan atau di dalam wadah yang tertutup
dan diberi tanda yang jelas.

24.

Bahan yang diperlukan dalam proses pengemasan seperti pelumasan, perekatan, tinta,
cairan pembersih, dan sebagainya, hendaklah disimpan di dalam wadah yang jelas tampak
berbeda dengan wadah yang dipakai untuk pengemasan produk dan hendaklah diberi
penandaan yang jelas dan mencolok sesuai dengan isinya.
Penyelesaian Kegaiatan Pengemasan

25.

Pada penyelesaian kegiatan pengemasan, hendaklah kemasan terakhir diperiksa dengan


cermat untuk memastikan bahwa kemasan produk tersebut sepenuhnya sesuai dengan Prosedur
Pengemasan Induk.

26.

Hanya produk yang berasal dari satu bets dari satu kegiatan pengemasan saja yang boleh
ditempatkan pada satu palet. Bila ada karton yang tidak penuh maka jumlah kemasan hendaklah
dituliskan pada karton tersebut.

27.

Setelah proses rekonsiliasi pengemasan , kelebihan bahan pengemasan dan produk ruahan
yang akan disingkirkan hendaklah diawasi dengan ketat agar hanya bahan dan produk yang
dinyatakan memenuhi syarat saja yang dapat dikembalikan ke gudang untuk dimanfaatkan lagi.
Bahan dan produk tersebut hendaklah diberikan penandaan yang jelas.

28.

Supervisor hendaklah mengawasi perhitungan dan pemusnahan bahan pengemas dan


produk ruahan yang tidak dapat lagi dikembalikan ke gudang. Semua sisa bahan pengemas
yang sudah diberi penandaan tapi tidak terpakai hendaklah dicatat pada catatan pengemas bets.

29.

Setelah Rekonsiliasi disetujui, produk jadi hendaklah ditempatkan di karantina produk jadi
sambil menunggu pelulusan dari Kepala Bagian Manajemen Mutu(Pemastian Mutu)
PENGAWASAN SELAMA PROSES

1.

Untuk memastikan keseragaman bets dan keutuhan obat, prosedur tertulis yang menjelaskan
pengambilan sampel, pengujian atau pemeriksaan yang harus dilakukan selama proses dari tiap
bets produk hendaklah dilaksanakan sesuai dengan metode yang telah disetujui oleh kepala

29
CARA PEMBUATAN
OBAT YANGtersebut
BAIK
bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) dan hasilnya
dicatat. Pengawasan

dimaksudkan untuk memantau hasil dan memvalidasi kinerja proses produksi yang mungkin
menjadi penyebab variasi karakteristik produk.
2.

Prosedur tertulis untuk pengawasan-selama-proses berjalan, selama-proses hendaklah


dipatuhi. Prosedur tersebut hendaklah melaksanakan titk pengambilan sampel, frekuensi
pengambilan sempel yang diambil ,spesifikasi yang harus diperiksa dan batas penerimaan untuk
tiap spesifikasi.

3.

Disamping iu pengawasan-selama-proses hendaklah mencakup, tapi tidak terbatas pada


prosedur umum sebagai berikut ;
a) Semua parameter produk, volume atau jumlah isi produk hendaklah diperiksa pada saat
awal dan selama proses pengolahan atau pengawasan ; dan
b) Kemasan akhir hendaklah diperiksa selama proses pengemasan dengan selang waktu yang
teratur untuk memastikan kesesuaianya dengan spesifikasi dan memastikan semua
komponen sesuai dengan yang ditetapkan dalam Prosedur Pengawasan Induk.

4.

Selama proses pengolahan dan pengemasan bets hendaklah diambil sampel awal, tengah
dan akhir proses oleh personil yang ditujuk.

5.

Hasil pengujian/inspeksi selama proses tersebut hendaklah menjadi bagian dari catatan bets.

6.

Spesifikasi pengawasan-selama proses hendaklah konsisten dengan spesifikasi tersebut


hendaklah berasal dari rata-rata proses sebelumnya yang diterima dan bila rata-rata proses
sebelumnya yang diterima dan bila mungkin dari hasil estimasi variasi proses dan ditentukan
dengan menggunakan metode statistis yang cocok bila ada.
BAHAN DAN PRODUK YANG DITOLAK, DIPULIHKAN DAN DIKEMBALIKAN

1.

Bahan dan produk yang ditolak hendaklah diberikan penandaan yang jelas dan disimpan
terpisah di area terlarang (restricted). Bahan atau produk tersebut hendaklah dikembalikan
kepada pemasoknya atau, bila dianggap perlu, diolah ulang atau dimusnakan. Langkah apapun
yang diambil hendaklah lebih dulu disetujui oleh Kepala Bagian Manajemen Mutu (Pemastian
Mutu) dan dicatat,

2.

Pengolahan ulang produk yang ditolak hendaklah merupakan suatu kekecualian. Hal ini
hanya diperbolehkan jika mutu produk akhirnya tidak terpengaruh, bila spesifikasinya dipenuhi
dengan prosedur yang telah ditetapkan dan disetujui setelah dilakukan evaluasi terhadap resiko
yang mungkin timbul. Catatan pengolahan ulang hendaklah disimpan.

3.

Pemulihan semua atau sebagian dari bets sebelumnya, yang memenuhi persyaratan mutu ,
dengan cara penggabungan ke dalam bets lain dari produk yang sama pada suatu tahap
pembuatan obat, hendaklah diotoritasi pembuatan obat sebelumnya. Pemulian

30
4.

CARA
PEMBUATAN
YANG
BAIK
Ini hendaklah dilakukan sesuai dengan prosedur yang
telah
ditetapkan OBAT
setelah
dilakukan

evaluasi terhadap resiko yang mungkin terjadi, termasuk kemungkinan pengaruh terhadap masa
edar produk. Pemulihan ini hendaklah dicatat.
5.

Kepala Bagian Manajeman Mutu ( Pemastian Mutu )hendaklah mempertimbangkan


perlunya pengujian tambahan untuk produk hasil pengolahan ulang, atau bets yang mendapat
produk yang dipulihkan.

6.

Bets yang mengandung produk pemulihan hanya boleh diluluskan setelah semua bets asal
produk pulihan yang bersangkutan telah dinilai dan dinyatakan memenuhi spesifikasi yang
ditetapkan.

7.

Produk yang dikembalikan dari peredaran dan telah lepas dai pengawasan industri pembuat
hendaklah dimusnahkan, produk tersebut dapat dijual lagi, diberi label kembali atau dipulihkan
ke bets berikut hanya bila tanpa ragu mutunya masih memuaskan setelah dilakukan evaluasi
secara ktitis oleh Kepala Bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) sesuai Prosedur tertulis.
Evaluasi tersebut meliputi pertimbangan sifat produk, kondisi dan riwayat produk serta lamanya
produk dalam peredaran. Bilamana ada keraguan terhadap mutu, produk tidak boleh
dipertimbangkan untuk memperoleh kembalinya bahan aktif dimungkinkan. Tiap tindakan yang
diambil hendaklah dicatat dengan baik.
KARANTINA DAN PENTYERAHAN PRODUK JADI

1.

Karantina produk jadi merupakan tahap akhir pengendalian sebelum penyerahan ke gudang
dan siap untuk didistribusikan. Sebelum siap diluluskan untuk diserahkan ke gudang
pengawasan yang ketat hendaklah dilaksanakan untuk memastikan produk dan catatan
pengemasan bets memenuhi semua spesifikasi yang ditentukan.

2.

Prosedur tertulis hendaklah mencantumkan cara penyerahan produk jadi ke area karantina,
cara penyimpanan sambil menunggu pelulusan, persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh
pelulusan, dan cara pemindahan selanjutnya ke gudang produk jadi.

3.

Selama menunggu pelulusan dari Bagian Manajeman Mutu (Pemastian Mutu ), seluruh
bets/lot yang sudah dikemas hendaklah ditahan dalam status karantina.

4.

Kecuali sampel untuk pengawasan Mutu tidak boleh ada produk yang diambil dari suatu
bets/lot selama produk tersebut masih ditahan di area karantina.

5.

Area karantina merupakan area terbatas hanya bagi personil yang benar-benar diperlukan
untuk berkerja atau diberi kewenangan untuk masuk ke area tersebut.

6.

Produk jadi yang memerlukan kondisi penyimpanan khusus hendaklah diberi penandaan
jelas yang menyatakan kondisi penyimpanan yang diperlukan dan produk tersebut hendaklah
disimpan di area karantina dengan kondisi yang sesuai.

31
7.

PEMBUATAN
YANG BAIK
Pelulusan akhir produk hendaklah didahului dengan CARA
penyelesaian
yangOBAT
memuaskan
dari

paling tidak hal sabagai berikut :


a) Memenuhi persayaratan mutu dalam semua spesifikas pengolahan dan pengemasan;
b) Sampel pertinggal dari kemasan yang dipasarkan dalam jumlah yang mencukupi untuk
pengujian dimasa mendatang;
c) Pengemasan dan penandaan memenuhi persyaratan sesuai hasil pemeriksaan oleh bagian
Pengawasan Mutu
d) Rekonsiliasi bahan pengemas cetak dan bahan cetak dapat diterima ;dan
e) Produk jadi yang diterima di area karantina sesuai dangan jumlah yang tertera padaa
dokumen penyerahan barang.
8.

Setalah pelulusan suatu bets/lot oleh Bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) produk
tersebut hendaklah dipindahkan darrii area karantina ke gudang produk jadi.

9.

Sewaktu menerima produk jadi, personil gudang hendaklah mancatat pemasukan bets
tersebut kedalam kartu stok yang bersangkutan.
CATATAN PENGENDALIAN PENGIRIMAN OBAT

1.

Sistem distribusi hendaklah didesain sedemikan rupa utnuk memastikan produk yang
pertama masuk didistribusikan lebih dahulu.

2.

Sistem distribusi hendaklah menghasilkan catatan sedamikaian rupa seingga tiap bets/lot
obat dapat segera dikatahui untuk mempermudah penyelidikan atau penariakan kembali jika
diperlukan

3.

Prosedur tertulis mengenai distibusi obat hendaklah dibuat dan dipatuhi.

4.

Penyimpanan terhadap konsep First-in First-out (FIFO) atau First Expire Fisrt-out
(FEFO) hedaklah hanya diperbolehkan untuk jangka waktu yang pendek dan hanya atas
persetujuan pimpinan yang bertanggung jawab.
PENYIMPANAN BAHAN AWAL, BAHAN PENGEMASAN, PRODUK ANTARA,
PRODUK RUHAN DAN PRODUK JADI

1.

Semua bahan dan produk hendaklah disimpan secara rapi teratur untuk mencegah resiko
campur baur atau pencemaran serta memudahkan pemeriksaan dan pemeliharan.

2.

Bahan dan produk hendaklah tidak diletakkan langsung dilantai dan dengan jarak yang
cukup terhadap sekeliling.

3.

Bahan dan produk hendaklah disimpan dangan kondisi

lingkungan yang sesuai.

Penyimpanan yang memerlukan kondisi khusus hendaklah disediakan.


4.

Kondisi penyimpanan obat dan bahan hendaklah sesuai dengan yang tertera pada penandaan
berdasarkan hasil uji stabilitas.

5.

Data pemantauan suhu hendaklah tersedia untuk evaluasi. Alat yang dipakai untuk
pemantauan hendaklah diperiksa pada selang waktu yang telah ditentukan dan hasil

32
CARA
PEMBUATAN
OBAT YANG
BAIK
pemeriksaan hendaklah dicatat dan disimpan. Semua catatan
pementauan
hendaklah
disimpan

untuk jangka waktu paling tidak sama dengan umur bahan atau produk yang bersangkutan
ditambah 1 tahun, atau sesuai dengan peraturan pemerintah. Pemetaan suhu hendaklah dapat
menunjukan suhu sesuai batas spesifikasi di semua area fasilitas penyimpanan. Disarankan agar
alat pemantau suhu diletakkan di area yang paling sering menunjukan fluktuasi suhu.
6.

Penyimpanan di luar gedung diperbolehkan untuk behan yang dikemas dalam wadah yang
kedap (misalnya drum logam ) dan mutunya tidak terpengaruh oleh suhu atau kondisi lain.

7.

Kegiatan pergudangan hendaklah terpisah dari kegiatan lain.

8.

Semua penyerahan ke area penyimpanan, termasuk bahan kembalian, hendaklah


didokumentasikan dengan baik.

9.

Tiap bets bahan awal ,bahan pengemas, produk antara, produk,produk ruahan dan produk
jadi yang disimpan di area gudang hendaklah mempunyai kartu stok. Kartu stok tersebut
hendaklah secara periodik direkonsiliasi dan bila ditemukan perbedaan hendaklah dicatat dan
diberikan alasan bila jumlah yang disetujui untuk pemakaian berbeda dari jumlah pada saat
penerimaan atau pengiriman. Hal ini hendaklah didokumentasikan dengan penjelasan tertulis.
Penyimpanan Bahan Awal dan Bahan Pengemas

10.

Pemisahan secara fisik atau cara lain yang tervalidasi (misalnya cara elektronis) hendaklah
disediakan untuk penyimpanan bahan atau produk yang ditolak, daluwarsa, ditarik dari
peredaran atau obat atau bahan kembalian. Bahan atau Produk, dan area penyimpanan tersebut
hendaklah diberi identitas yang tepat.

11.

Semua bahan awal dan bahan pengemasan yang diserahkan ke area penyimpanan hendaklah
diperiksa kebenaran identitas, kondisinya, wadah dan tanda pelulusan oleh Bagian Pengawasan
Mutu.

12.

Bila identitas atau kondisi wadah bahan awal atau bahan pengemasan diragukan atau tidak
sesuai dengan persyaratan identitas atau kondisi dengan persyaratan identitas atau kondisinya,
wadah tersebut hendaklah dikirim ke area karantina. Selanjutnya pihak Pengawasan Mutu
hendaklah menentukan status bahan tersebut.

13.

Bahan awal dan bahan pengemas yang ditolak hendaklah tidak disimpan bersama-sama
dengan bahan yang sudah diluluskan, tapi dalam area khusus yang diperuntukan bagi bahan
yang ditolak.

14.

Bahan cetak hendaklah disimpan diarea penyimpanan terlarang (restriced storage area)
dan penyerahan di bawah pangawasan yang ketat.

15.

Stok tertua bahan awal dan bahan pengemasan dan yang mempunyai tanggal daluwarsa
paling dekat hendaklah digunakan terlebih dahulu (prisip FIFO dan FEFO).

33
16.

CARA
PEMBUATAN
OBAT
YANG BAIK
Bahan awal dan bahan pengemas hendaklah di uji ulang
terhadap
identitas
kekuatan,
mutu

dan kemurnian, sesuai kebutuhan, misalnya setelah disimpan lama, atau kondisi lain yang
mungkin berdampak buruk terhadap mutu.
Penyimpanan Produk Antara, Produk Ruahan dan Produk Jadi
17.

Produk antara, produk ruahan dan produk jadi hendaklah dikarantina selama menunggu
hasil uji mutu dan penentuan status

18.

Tiap penerimaan hendaklah diperiksa untuk memastikan bahwa bahan yang diterima sesuai
denga dokumen pengiriman.

19.

Tiap wadah produk antara, produk ruahan dan produk jadi yang diserahkan ke area
penyimpanan hendaklah diperiksa kesesuain identitas dan kondisi wadah.

20.

Bila identitas atau kondisi wadah produk antara, produk ruahan dan produk jadi diragukan
atau tidak sesuai dengan persyaratan identitas atau kondisinya, wadah tersebut hendaklah
dikirim ke area karantina. Selanjutnya pihak Pengawasan Mutu hendaklah menentukan status
produk tersebut.
PENGIRMIAN DAN PENAGANKUTAN

1.

Bahan dan obat hendakalah diangkut dengan cara sedemikian rupa sehingga tidak merusak
keutuhannya dan kondisi penyimpanannya terjaga.

2.

Perhatian khusus hendaklah diberikan bila menggunakan es kering dalam rangkaian system
pendinginan. Disamping itu, tindakan pengamanan hendaklah memastikan agar bahan atau
produk tidak bersentuhan langsung dengan es kering tersebut, karena dapat berdampak buruk
terhadap mutu produk, misalnya terjadi pembekuan.

3.

Bilamana perlu, dianjurkan pengguanaan alat untuk memantau kondisi, misalnya suhu,
selama pengankutan. Hasil pemantauan tersebut hendaklah dicatat untuk pengkajian.

4.

Pengiriman dan pengankutan bahan atau obat hendaklah dilaksanakan hanya setelah ada
order Pengiriman. Tanda terima Order pengiriman dan pengankutan bahan hendaklah
didokumentasikan.

5.

Prosedur

pengiriman

hendaklah

dibuat

dengan

didokumentasikan,

dengan

mempertimbangkan sifat bahan dan obat yang akan dikirim serta tindakan pencegahan khusus
yang mungkin diperlukan.
6.

Wadah luar yang akan dikirim hendaklah memberikan perlindungan yang cukup diberi label
yang jelas dan tidak terhapuskan.

7.

Catatan pengiriman hendaklah disimpan, yang menyatankan minimal:

Tanggal pengiriman ;

Nama dan alamat pelangan ;

34

CARA sediaan
PEMBUATAN
BAIK
Uraian tentang produk, missal nama, bentuk dan kekuatan
(bila OBAT
Perlu)YANG
nomor
bets

dan jumlah; dan

Kondisi pengangkutan dan penyimpanan.

Semua catatan hendaklah mudah di akses dan tersedia bila di minta.

2.8. PENGAWASAN MUTU


Pengawasan mutu merupakan bagian yang esensial dari Cara Pembuatan Obat yang Baik
untuk memberikan kepastian bahwa produk secara konsisten mempunyai mutu yang sesuai dengan
tujuan pemakainya. Keterlibatan dan komitmen semua pihak yang berkepentingan pada semua
tahap merupakan keharusan untuk mencapai sasaran mutu mulai dari awal pembuatan sampai
kepada distribusi produk jadi. Pengawasan Mutu tidak terbatas pada kegiatan laboratorium, tapi
juga harus terlibat dalam semua keputusan yang terkait dengan mutu produk. Ketidaktergantungan
Pengawasan Mutu dari produksi dianggap hal yang fundamental agar Pengawasan Mutu dapat
melakukan kegiatan dengan memuaskan.
A. Umum
1. Tiap pemegang izin pembuatan harus mempunyai Bagian Pengawasan Mutu. Bagian ini harus
independen dari bagian lain dan dibawah tanggungjawab dan wewenang seorang dengan kualifikasi
dan pengalaman yang sesuai, yang membawahi satu atau beberapa laboratorium. Sarana yang
memadai harus tersedia untuk memastikan bahwa segala kegiatan Pengawasan Mutu dilaksanakan
dengan efektif dan dapat diandalkan.
2. Pengawasan mutu hendaklah mencakup semua kegiatan analitis yang dilakukan di laboratorium,
termasuk pengambilan sampel, pemeriksaan dan pengujian bahan awal, produk antara, produk
ruahan dan produk jadi. Kegiatan ini mencakup juga uji stabilitas, program pemantauan
lingkungan, pengujian yang dilakukan dalam rangka validasi, penanganan sampel pertinggal
menyusun dan memperbaharui spesifikasi bahan dan produk serta metode pengujiannya.
3. Dokumentasi dan prosedur pelulusan yang diterapkan bagi Pengawasan Mutu hendaklah
menjamin bahwa pengujian yang diperlukan telah dilakukakan sebelum bahan dalam produksi dan
produk disetujui sebelum didistribusikan.
4. Bagian Pengawasan Mutu hendaklah mempunyai tugas pokok sebagai berikut :
o

Menyusun dan merevisi prosedur pengawasan dan spesifikasi ;

35
CARA
PEMBUATAN
OBATpemeriksaan,
YANG BAIK
Menyiapkan prosedur tertulis yang rinci untuk
melakukan
seluruh

pengujian dan analisis


o

Menyusun program dan prosedur pengambilan sampel secara tertulis ;

Memastikan pemberian label yang benar pada wadah bahan dan produk ;

Menyimpan sampel pertinggal untuk rujukan dimasa mendatang ;

Meluluskan atau menolak tiap bets, bahan awal, produk antara, produk ruahan atau
produk jadi;
Melakukan evaluasi stabilitas semua produk jadi secara berkelanjutan dan bahan

awal jika diperlukan, serta menetapkan kondisi penyimpanan bahan dan produk berdasarkan
data stabilitasnya ;
Menetapkan masa simpan bahan awal dan produk jadi berdasarkan data stabilitas

serta kondisi penyimpangannya ;


o

Berperan atau membantu pelaksanaan program validasi ;

Menyiapkan baku pembanding sekunder sesuai dengan prosedur pangujian yang


berlaku dan menyimpan baku pembanding tersebut pada kondisi yang tepat ;

Menyimpan catatan analisis dari hasil pengujian semua sampel yang diambil ;

Melakukan evaluasi produk jadi kembalian dan menetapkan apakah produk tersebut
dapat diluluskan atau diolah ulang atau harus dimusnahkan ;
Ikut serta dalam program Inspeksi diri bersama dengan bagian lain dari perusahaan;

o
dan
o

Memberikan rekomendasi kegiatan pembuatan obat berdasarkan kontrak setelah


melakukan evaluasi kemampuan penerimaan kontrak yang bersangkutan untuk membuat
produk yang memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan perusahaan.

5. Personil pengawasan mutu hendaklah memiliki akses ke area produksi untuk pengambilan
sampel dan penyelidikan sampel dan penyelidikan yang diperlukan.

Cara Berlaboratorium Pengawasan Mutu Yang Baik


6. Bangunan dan Fasilitas
o

Laboraturium pengujian hendaklah di desain, dilengkapi peralatan dan memiliki


ruang yang memadai sehingga dapat melaksanakan kegiatan terkait.

36
CARA
PEMBUATAN
OBAT YANG
Hendaklah disediakan sarana yang sesuai dan
aman
untuk limbah
yangBAIK
akan

dibuang. Bahan beracun dan bahan mudah terbakar harus disimpan dalam lemari tertutup
dan terpisah dengan desain yang sesuai.
o

Laboratorium hendaklah terpisah secara fisik dari ruang produksi.

Laboratorium biologi, mikrobiologi dan kimia hendaklah terpisah satu dari yang
lain.
Ruangan terpisah untuk instrument mungkin diperlukan untuk memberikan

perlindungan terhadap interferensi elektris, getaran, kelembaban yang berlebihan serta


pengaruh luar lainnya atau bila perlu untuk mengisolasi instrument tersebut.
Desain laboratorium hendaklah mempertimbangkan kesesuaian bahan konstruksi,

perlindungan personil terhadap asap dan ventilasi. Unit penanganan udara yang terpisah
diperlukan untuk laboratorium biologis, mikrobiologis dan radiosotop.
Semua pipa dan peralatan hendaklah diberi penandaan yang memadai dan diberikan

perhatian khusus konektor atau adaptor yang tidak dapat saling ditukar gas dan cairan
bahayanya.
7. Personil
Tiap personil yang bertugas melakukan supervisi atau melakukan kegiatan

laboratorium hendaklah memiliki pendidikan, mendapat pelatihan dan pengalaman yang


sesuai atau kombinasinya untuk memungkinkan pelaksanan tugas dengan baik. Tugas dan
tanggungjawab tiap personil hendaklah dirinci dengan jelas dalam uraian tugas dan dalam
bentuk lainya yang sesuai.
Tiap personil hendaklah memakai pakaian pelindung dan alat pengaman seperti

respirator atau masker, kaca mata pelindung dan sarung tangan tahan asam atau basa sesuai
tugas yang dilaksanakan.
8. Peralatan
o

Peralatan dan instrument laboratorium hendaklah sesuai dengan prosedur pengujian


yang dilakukan.

Prosedur tetap untuk pengoperasian tiap instrument dan peralatan hendaklah tersedia
dan diletakkan di dekat instrument atau peralatan yang bersangkutan.

Peralatan, instrument dan perangkat lunak terkait hendaklah dikualifikasi/divalidasi,


dirawat dan dikalibrasi dalam selang waktu yang telah ditetapkan dan dokumentasi
disimpan. Pemeriksaan untuk memastikan bahwa instrument berfungsi baik hendaklah
dilakukan tiap hari atau sebelum instrument tersebut digunakan untuk pengujian analistis.

37
o

CARA
PEMBUATAN
YANG
BAIK
Tanggal kalibrasi, perawatan dan kalibrasi ulang
sesuai
dengan OBAT
jadwal
hendaklah

tertera dengan jelas pada peralatan atau dengan cara lain yang sesuai.
o

Hendaklah diberi penandaan yang jelas pada alat yang rusak atau dalam perawatan.
Alat yang rusak hendaklah tidak digunakan sebelum diperbaiki.

Pancuran air keselamatan dan pembasuhan mata hendaklah di dekat area kerja
laboraturium.

9. Personil, bangunan dan fasilitas serta peralatan hendaklah sesuai untuk jenis tugas yang
ditentukan dan skala kegiatan pembuatan obat. Penggunaan laboratorium luar sesuai dengan
ketentuan, pembuatan dan analisis berdasarkam diterima untuk hal tertentu.
10. Pereaksi dan Media pembenihan
o

Penerimaan atau pembuatan pereaksi dan media pembenihan hendaklah dicatat.

Pereaksi dan media pembenihan yang dibuat dilaboraturium hendaklah mengikuti


prosedur pembuatan tertulis, diberi label yang sesuai dan pada label hendaklah
mencantumkan konsentrasi, faktor standarisasi, batas waktu penggunaan, tanggal
standarisasi ulang dan kondisi penyimpanan. Label hendaklah ditandatangani dan dibubuhi
tanggal oleh petugas yang membuat pereaksi tersebut.

Baik kontrol positif maupun kontrol negatif hendaklah digunakan untuk memastikan
kesesuaian media perbenihan. Konsentrasi inokulum dalam kontrol positif hendaklah
disesuaikan dengan kepekaan pertumbuhan yang diinginkan.

11. Baku Pembanding


o

Baku pembanding hendaklah menjadi tanggungjawab personil yang ditujuk.

Baku pembanding hendaklah digunakan sesuai peruntukannya seperti yang


diuraikan dalam monografi yang bersangkutan.

Baku pembanding sekunder atau baku pembanding kerja dapat dibuat dan dipakai
setelah dilakukan pengujian yang sesuai dengan pemeriksaan berkala untuk mengoreksi
penyimpangan yang terjadi serta menjamin ketepatan hasil.

Semua baku pembanding hendaklah disimpan dan ditandatangani secara tepat agar
tidak berpengaruh terhadap mutu.

Pada label baku pembanding hendaklah dicantumkan kadar, tanggal pembuatan,


tanggal daluwarsa, tanggal pertama kali tutup wadahnya dibuka dan bila perlu kondisi
penyimpanannya.

12. Bila perlu, tanggal penerimaan tiap bahan yang digunakan untuk kegiatan pengujian (misalnya
pereaksi dan baku pembanding) hendaklah tercantum pada wadahnya. Instruksi penggunaan dan

38
CARA PEMBUATAN
OBAT YANG
BAIK
penyimpanan hendaklah diikuti. Dalam hal tertentu perlu dilakukan
uji bahan identifikasi
dan
atau

pengujian lain untuk bahan pereaksi pada waktu diterima atau sebelum digunakan.
13. Hewan yang digunakan untuk pengujian komponen, bahan atau produk, hendaklah, bila perlu
dikarantina sebelum digunakan. Hewan tersebut hendaklah dipelihara dan diawasi sedemikian
untuk memastikan kesesuaian tujuan penggunaanya. Hewan tersebut hendaklah disimpan dan
catatan yang memadai dan dijaga agar dapat menunjukan riwayat penggunanya.
14. Spesifikasi dan Prosedur Pengujian
Prosedur pengujian hendaklah divalidasi dengan memperhatikan fasilitas dan

peralatan yang ada sebelum prosedur tersebut digunakan dalam pengujian rutin.
Semua kegiatan pengujian hendaklah dilakukan sesuai dengan metode yang telah

disetujui pada saat pemberian izin edar.


Spesifikasi dan prosedur pengujian untuk tiap bahan awal, produk antara, produk

ruahan dan produk jadi hendaklah mencakup spesifikasi dan prosedur pengujian mengenai
mutu dan kadar/potensi.
Prosedur pengujian hendaklah mencakup :

Jumlah sampel yang diperlukan untuk pengujian dan yang harus disimpan

untuk rujukan masa mendatang ;


Jumlah tiap pereaksi, larutan dan sebagainya yang diperlukan pada pengujian

Rumus penghitungan yang digunakan ; dan

Nilai yang diharapkan dan batas toleransi dari tiap pengujian.


Prosedur Pengujian hendaklah mencakup frekuensi pengujian ulang dari tiap bahan

awal yang ditentukan dengan mempertimbangkan stabilitasnya.


o

Semua pengujian hendaklah mengikuti instruksi yang tercantum dalam masing


masing bahan atau produk. Hasil pengujian, terutama yang menyangkut perhitungan,
hendaklah diperiksa oleh supervisor sebelum bahan atau produk tersebut diluluskan atau
ditolak.

15. Catatan Analisis


Catatan analisis hendaklah mencakup;
o

Nama dan nomor bets sampel dan bentuk sediaan ;

Nama petugas yang mengambil sampel;

Metode analisis yang digunakan;

39
o

CARA PEMBUATAN
OBATyang
YANG
BAIK;
Semua data, seperti berat, pembacaan, buret, volume
dan pengenceran
dibuat

Perhitungan dalam unit ukuran dan rumus yang digunakan;

Pernyataan mengenai batas toleransi;

Pernyataan apakah yang memenuhi atau tidak memenuhi spesifikasi;

Tanggal dan tanda tangan petugas yang melakukan pengujian dan petugas yang
memeriksa perhitungan;
Pernyataan diluluskan atau ditolak dan usul pemusnahan, yang ditandatangani serta

diberi tangal oleh petugas yang berwenang;


o

Nama pemasok jumlah keseluruhan dan jumlah wadah bahan yang diterima; dan,

Jumlah keseluruhan dan jumlah wadah bahan awal, bahan pengemas, produk
ruahan, produk jadi dari tiap bets yang dianalisis.

Pengawasan Bahan Awal, Produk Antara, Produk Ruahan, dan Produk Jadi
16. Spesifikasi
Tiap spesifikasi hendaklah disetujui dan disimpan oleh bagian Pengawasan Mutu

kecuali untuk produk jadi yang harus disetujui oleh kepala bagian (Pemastian Mutu).
Spesifikasi bahan awal, produk jadi mengacu pada ketentuan; dan
Revisi berkala dari tiap spesifikasi perlu dilakukan agar memenuhi Farmakope

Indonesia edisi terakir atau compendia resmi lain.


Dokumentasi
17. Dokumentasi laboratorium hendaklah mengikuti prinsip yang diuraikan dalam pedoman CPOB.
Dokumentasi penting yang berkaitan dengan pengawasan mutu berikut ini hendaklah tersedia di
bagian Pengawasan mutu :

Spesifikasi ;

Prosedur pengambilan sampel ;

Prosedur dan catatan pengujian (termasuk lembar kerja analisis dan/atau buku sertifikasi
analisis;
o

Data pemantauan lingkungan, bila diperlukan ;

Catatan validasi metode analisis, bila diperlukan ; dan

Prosedur dan catatan kalibrasi instrument serta perawatan peralatan.

18. Semua dokumentasi Pengawasan Mutu yang terkait dengan catatan bets hendaklah disimpan
sampai satu tahun setelah tanggal daluwarsa bets yang bersangkutan.

40
CARAnyata,
PEMBUATAN
OBAT YANG
BAIK
19. Untuk beberapa jenis data (misalnya hasil uji analisis, hasil
pemantauan
lingkungan)

hendaklah dibuat pelaksanaan evaluasi.


20. Disamping informasi yang merupakan bagian dari catatan laporan bets, data asli lain seperti
buku catatan laboratorium dan/atau rekaman hendaklah disimpan dan tersedia.
Pengambilan Sampel
21. Pengambilan sampel merupakan kegiatan penting dimana hanya sebagian kecil saja dari satu
bets yang diambil. Keabsahan kesimpulan secara keseluruhan tidak dapat didasarkan pada
pengujian yang dilakukan terhadap sampel yang tidak mewakili satu bets. Oleh karena itu, cara
pengambilan sampel yang benar adalah bagian yang penting dari sistem Pemastian mutu.
22. Personil yang mengambil sampel hendaklah memperoleh pelatihan awal dan pelatihan
berkelanjutan secara teratur tentang cara pengambilan sampel yang benar. Pelatihan tersebut
hendaklah meliputi :
o

Pola pengambilan sampel;

Prosedur tertulis pengambilan sampel;

Teknik dan peralatan untuk mengambil sampel;

Resiko pencemaran silang;

Tindakan pencegahan yang harus diambil terhadap bahan yang baik stabil dan/atau
steril;

Pentingnya memperhatikan pemberian bahan, wadah dan label secara visual; dan

Pentingnya mencatat hal yang tidak diharapkan atau tidak biasa.

Bahan Awal
23. Identitas suatu bets bahan awal biasanya hanya dapat dipastikan apabila sampel diambil dari
tiap wadah dan dilakukan dari sebagian wadah bila telah dibuat prosedur tervalidasi untuk
memastikan bahwa tidak ada satu pun wadah bahan awal yang salah label identitasnya.
24. Mutu suatu bets bahan awal dapat dinilai dengan mengambil dan menguji sampel
representative. Sampel yang diambil untuk diuji identitas dapat digunakan untuk tujuan tersebut.
Jumlah yang diambil untuk menyiapkan sampel representatif hendaklah ditentukan secara statistik
dan dicantumkan dalam pola pengambilan sampel. Jumlah sampel yang dapat dicampur menjadi
satu sampel komposit hendaklah ditetapkan dengan pertimbangan sifat bahan informasi tentang
pemasok dan homogenitas sampel komposit itu.

41
Bahan Pengemas

CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK

25. Pola pengambilan sampel bahan pengemasan hendaklah setidaknya memperhatikan hal
berikut: jumlah yang diterima, mutu yang di persyaratkan, sifat bahan (misalnya bahan pengemas
primer,dan/atau bahan pengemas cetak), metode produksi dan pengetahuan tentang pelaksanan
sistem Pemastian Mutu di pabrik pembuatan bahan pengemas berdasarkan audit. Jumlah sampel
yang diambil hendaklah, ditentukan secara statistik dan disebutkan dalam pola pengambilan
sampel.
Kegiatan Pengambilan sampel
26. Pengambilan sampel hendaklah dilakukan sedemikian rupa untuk mencegah kontaminasi atau
efek lain yang berpengaruh tidak baik terhadap mutu. Wadah yang diambil sampelnya hendaklah
diberi label yang mencantumkan antara lain; isi wadah, nomor bets, tanggal pengambilan sampel
dan tanda bahwa sampel diambil dari wadah tersebut. Wadah hendaklah ditutup rapat kembali
setelah pengambillan sampel.
27. Semua alat pengambilan sampel dan wadah sampel hendaklah terbuat dari bahan yang inert dan
di jaga kebersihannya.
28 Instruksi pengambilan sampel hendaklah mencakup :
o

Metode dan pola pengambilan sampel ;

Peralatan yang digunakan ;

Jumlah sampel yang diambil ;

Instruksi pembagian sampel sesuai kebutuhan ;

Jenis wadah atau sampel yang harus digunakan yakni apakah untuk pengambilan
sampel secara aseptic atau normal ;

Identitas wadah yang diambil sampel ;

Peringatan khusus yang harus diperhatikan terutama yang berkaitan langsung


dengan pengambilan sampel bahan dan berbahaya ;

Kondisi penyimpanan ;

Instruksi tentang cara pembersih dan penyimpanan alat pengambilan.

29. Tiap wadah sampel dari label yang hendaklah diberikan label yang menunjukkan :
o

Nama bahan sampel ;

Nomor bets/lot ;

42
o

Nomor wadah yang diambil sampelnya ;

Tanda tangan petugas yang mengambil sampelnya ; dan

Tanggal pengambilan sampelnya ;

CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK

30. Sebelum dan setelah tiap pemakaian, alat pengambilan sampel hendaklah dibersihkan, jika
perlu disterilkan, dan disimpan secara terpisah dari alat laboraturium lain.
31. Pada saat pengambilan sampel hendaklah dilakukan pencegahan agar tidak terjadi pencemaran
atau campur baur terhadap atau oleh bahan yang diambil sampelnya yang bersentuhan dengan
bahan hendaklah bersih. Perhatian khusus mungkin diperlukan untuk penangganan bahan yang
berbahaya atau berpotensi tinggi.
32. Sampel Pertinggal
Sampel pertinggal dengan identitas yang lengkap mewakili tiap bets bahan lengkap

awal untuk tiap penerimaan hendaklah disimpan untuk jangka waktu tertentu.
Sampel pertinggal dengan identitas yang mewakili tiap bets produk jadi dalam

bentuk kemasan lengkap untuk jangka waktu tertentu. Sampel produk jadi hendaklah
disimpan dalam kondisi yang sama dengan kondisi pemasaran sebagaimana tertera pada
label.
o

Jumlah sampel pertinggal sekurang-kurangnya dua kali dari jumlah sampel yang
dibutuhkan untuk pengujian lengkap kecuali untuk uji sterilisasi.

Sampel pertinggal dari tiap bets produk jadi hendaklah disimpan hingga satu tahun
setelah tanggal daluwarsa. Produk jadi hendaklah disimpan hingga kemasan akhirnya dan
dalam kondisi yang ditetapkan. Sampel bahan awal (selain ditetapkan selama minimal dua
tahun setelah tanggal pelulusan produk jadi terkait, bila stabilitasnya memungkinkan,
Jangka waktu penyimpanan dapat dikurangi bila stabilitasnya lebih singkat dari pada yang
tercantum dalam spesifikasi.

Persyaratan Pengujian
33. Bahan Awal
Tiap bahan awal hendaklah diuji terhadap pemenuhan spesifikasi identitas, kekuatan kemurnian dan
parameter mutu lain.
34. Bahan Pengemas.

43
CARA PEMBUATAN
OBAT YANG BAIK
Bahan pengemas hendaklah memenuhi spesifikasi, dengan penekanan
pada kompatibilitas
bahan

terhadap produk yang diisikan dalamnya. Cacat fisik yang dapat berdampak besar serta kebenaran
penandaan yang dapat memberikan kesan penandaan yang dapat memberikan kesan meragukan
terhadap kualitas produk hendaklah diperiksa.
35. Produk Antara dan Bahan Ruahan
o

Untuk memastikan keseragaman dan keutuhan bets. Pengawasan selama proses


hendaklah dilakukan pengujian sampel yang representative dari tiap bets produk antara dan
produk ruahan untuk identitas, kekuatan, kemurnian dan mutunya. Persetujuan dari bagian
Pengawasaan Mutu mutlak diperlukan setelah tahapan produksi tersimpan lama sebelum
tahap produksi selanjutnya dilaksanakan.

Produk antara dan Produk ruahan yang ditolak hendaklah diberikan penandaan dan
dikendalikan dengan sistem karantina yang dirancang untuk mencegah penggunaanya
dalam proses selanjutnya. Kecuali bila produk tersebut dinilai memenuhi syarat untuk
kemudian diolah ulang.

36. Produk Jadi


o

Tiap bets produk jadi hendaklah diuji terhadap spesifikasi yang ditetapkan dan
dinilai memenuhi syarat sebelum diluluskan untuk didistribusi.

Produk jadi yang tidak memenuhi spesifikasi dan kriteria mutu lain yang ditetapkan
hendaklah ditolak. Pengolahan ulang dapat dilakukan apabila memungkinkan, namun
produk hasil pengolahan ulang herus memenuhi semua spesifikasi dan kriteria mutu lainya
yang ditetapkan sebelum diluluskan untuk didistribusikan.

Pengendalian Lingkungan
37. Pengendalian lingkungan hendaklah dilakukan sebagai berikut :
o

Pemantauan teratur air untuk proses, termasuk pada titik penggunaan terhadap mutu
kimiawi dan mikrobiologis. Jumlah sampel dan metode pengujian hendaklah mampu
mendeteksi organism indicator dalam konsentrasi rendah, misalnya Pseudomonas ;

Pementauan mikrobiologi secara berkala pada lingkungan produksi.

Pengujian berkala terhadap lingkungan area produksi untuk mendeteksi produk lain
yang dapat mencemari produk yang sedang diproses.

Pengendalian cemaran udara.

Pengawasan Selama Proses

44
CARA PEMBUATAN
OBAToleh
YANG
BAIK
38. Semua pengawasan selama proses, termasuk yang dilakukan
di area produksi
personil

produksi, hendaklah dilakukan menurut metode yang disetujui oleh bagian Pengawasaan mutu dan
hasilnya dicatat.
Pengujian Ulang Bahan yang Diluluskan
39. Hendaklah ditetapkan batas waktu penyimpanan yang sesuai untuk tiap bahan awal, produk
antara untuk tiap bahan produk ruahan dan produk jadi. Setelah batas waktu ini bahan atau produk
tersebut harus di uji ulang oleh bagian Pengawasaan Mutu terhadap identitas, kekuatan,
kemurnian dan mutu berdasarkan hasil uji ulang tersebut bahan atau produk itu dapat diluluskan
kembali untuk digunakan atau ditolak.
40.

Bila suatu bahan disimpan pada kondisi yang tidak sesuai dengan yang ditetapkan, bahan

tersebut hendaklah disetujui dan dinyatakan lulus oleh bagian Pengawasaan Mutu sebelum
digunakan dalam proses.
Pengolahan Ulang
41.

Pengujian tambahan terhadap produk hasil pengolahan ulang hendaklah dilakukan sesuai

ketentuan.
42.

Uji stabilitas lanjut hendaklah dilakukan terhadap produk hasil pengolahan ulang sesuai

keperluan.
Evaluasi Pengawasaan Mutu Terhadap Prosedur Produksi
43.

Bagian Pengawasan Mutu hendaklah berperan serta dalam pengembangan Prosedur

Pengolahan induk dan Prosedur Pengemasan induk untuk tiap ukuran bets suatu obat untuk
menjamin keseragaman dari bets yang digunakan.
44.

Bagian Pengawasan Mutu hendaklah berperan serta dalam pengembangan prosedur

pembersihan dan sanitasi peralatan produksi.


Studi Stabilitas
45.

Hendaklah dirancang program unit stabilitas untuk menilai karakteristik stabilitas obat dan

untuk menentukan kondisi penyimpanan yang sesuai dan tanggal daluwarsa.


46. Program tertulis hendaklah dipatuhi dan mencakup ;

45
o

CARA
PEMBUATAN
BAIK
Jumlah sampel dan interval pengujian berdasarkan
kriteria
statistisOBAT
untukYANG
tiap atribut

yang diperiksa untuk memastikan estimasi stabilitas :


o

Kondisi penyimpanan ;

Metode pengujian yang dapat diandalkan, bermakna dan spesifik.

Pengujian produk dalam bentuk kemasan yang sama dengan yang diedarkan ; dan

Pengujian produk untuk rekonstitusi, dilakukan sebelum dan sesudah rekonstitusi.

47. Studi stabilitas hendaklah dilakukan dalam hal berikut :


o

Produk baru (biasanya dilakukan pada bets pilot);

Kemasan baru yaitu yang berbeda dari standar yang telah ditetapkan ;

Perubahan formula, metode pengolahan atau sumber/pembuatan bahan awal dan


bahan pengemasan ;

Bets yang diluluskan dengan pengecualian misalnya bets yang sifatnya berbeda dari
standar atau bets yang diolah ulang ;

Produk yang beredar ;

2.9. INSPEKSI DIRI


Tujuan inspeksi diri adalah untuk mengevaluasi apakah semua aspek produksi dan
pengawasan Mutu industri farmasi memenuhi ketentuan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).
Program inspeksi diri hendaklah dirancang untuk mendeteksi kelemahan dalam pelaksanaan
CPOB dan untuk menetapkan tindakan perbaikan yang diperlukan. Inspeksi diri hendaklah
dirancang untuk mendeteksi kelemahan dalam pelaksanaan CPOB dan untuk menetapkan tindakan
perbaikan yang diperlukan. Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara independen dan rinci oleh
petugas yang kompeten dari perusahaan. Ada manfaatnya bila juga digunakan auditor luar yang
independen. Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara rutin dan disamping itu, pada situasi khusus,
misalnya dalam hal terjadinya penarikan kembali obat jadi atau terjadinya penolakan yang
berulang. Semua saran untuk tindakan yang berulang. Semua saran untuk tindakan perbaikan
supaya dilaksanakan, Prosedur dan catatan inspeksi diri hendaklah didokumentasikan dan dibuat
program tindak lanjut efektif.
Aspek Untuk Inspeksi Diri
1. Hendaklah dibuat daftar periksa inspeksi diri yang menyajikan standar persyaratan minimal dan
seragam. Daftar minimal dan seragam ini hendaklah berisi pertanyaan mengenai ketentuan CPOB
yang mencakup antara lain:

46
o

Personalia ;

Bangunan termasuk fasilitas personal ;

Perawatan bangunan dan peralatan ;

Penyimpanan bahan awal, bahan pengemasan dan obat jadi ;

Peralatan ;

Pengolahan dan pengawasan selama proses ;

Pengawasan Mutu ;

Dokumentasi ;

Sanitasi dan hygiene ;

Program validasi dan re-validasi ;

Kalibrasi alat atau sistem pengukuran ;

Prosedur penarikan kembali obat jadi ;

Penanganan keluhan ;

Pengawasan label ; dan

Hasil inspeksi diri sebelumnya dan tindakan perbaikan.

CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK

Tim Inspeksi Diri


2. Manajemen hendaklah membentuk tim inspeksi diri yang paling sedikit terdiri dari 3 (tiga)
anggota yang sedikitnya terdiri dari dalam bidangnya masingmasing dan memahami CPOB.
Anggota tim dapat dibentuk dari dalam atau dari luar perusahaan. Tiap anggota hendaklah
independen dalam melakukan inspeksi dan evaluasi.
Cakupan Dan Frekuensi Inspeksi Diri
3. Inspeksi diri dapat dilakukan perbagian sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Namun inspeksi
diri yang menyeluruh hendaklah dilakukan minimal 1 (satu) kali dalam setahun. Frekuensi inspeksi
diri hendaklah tertulis dalam prosedur tetap inspeksi diri.
Laporan Inspeksi Diri
4. Laporan hendaklah dibuat setelah inspeksi diri selesai dilaksanakan. Laporan hendaklah
mencakup :
o

Hasil inspeksi diri ;

Evaluasi serta kesimpulan ; dan

Saran tindakan perbaikan.

47
Tindak Lanjut

CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK

5. Manajemen perusahaan hendaklah mengevaluasi laporan inspeksi diri dan tindakan perbaikan.
Hendaklah dibuat program tindak lanjut yang efektif.
Audit Mutu
6. Penyelenggaraan audit mutu berguna sebagai pelengkap inspeksi diri. Audit mutu meliputi
pemeriksaan dan penilaian semua atau sebagian dari sistem manajemen mutu dengan tujuan
spesifik untuk meningkatkan mutu. Audit mutu umumnya dilaksanakan oleh spesialis dari luar atau
independen atau tim luar atau khusus untuk hal ini oleh manajemen perusahaan. Audit mutu juga
dapat diperluas terhadap pemasok dan penerima kontrak.
Audit Dan Persetujuan Pemasok
7. Kepala Bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) hendaklah bertanggungjawab bersama
bagian lain terkait untuk memberikan persetujuan pemasok bahan awal dan bahan pengemas dan
memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan.
8. Hendaklah dibuat daftar pemasok yang disetujui untuk bahan awal dan bahan pengemas. Daftar
pemasok hendaklah di tinjau ulang secara berkala.
9. Hendaklah dilakukan evaluasi sebelum pemasok disetujui dan dimasukkan ke dalam daftar
pemasok atau spesifikasi. Evaluasi hendaklah, mempertimbangkan riwayat pemasok dan sifat
bahan yang dipasok. Jika audit diperlukan, audit tersebut hendaklah menetapkan kemampuan
Pemasok dalam pemenuhan standar CPOB.
10. Semua pemasok hendaklah dievaluasi secara teratur.

2.10.

PENANGANAN KELUHAN TERHADAP OBAT, PENARIKAN KEMBALI OBAT

DAN OBAT KEMBALIAN


Keluhan terhadap obat dan laporan keluhan dapat menyangkut mutu, efek samping yang
merugikan atau masalah efek terapeutik. Semua keluhan dan laporan keluhan hendaklah diteliti dan
dievaluasi dengan cermat, kemudian diambil tindak lanjut yang sesuai dan dibuatkan laporan.
Jenis keluhan dan laporan dapat berupa:

48
CARA dan
PEMBUATAN
YANG BAIK
1. keluhan mengenai mutu menyangkut keadaan fisik, kimia
biologi OBAT
dari produk
atau

kemasannya.
2. keluhan atau laporan tentang efek samping yang merugikan seperti reaksi alergi. reaksi toksis,
reaksi fatal atau hamper fatal dan lain sebagainya.
3. keluhan dan laporan medis lain seperti kurang manjur atau kurang memberikan respon klinis.
Penanganan Keluhan dan Laporan
1. Hendaklah dibuat catatan tertulis mengenai semua keluhan dan laporan yang diterima.
2. Keluhan dan laporan hendaklah ditangani oleh bagian terkait sesuai dengan jenis keluhan atau
laporan yang diterima.
3. Terhadap tiap keluhan dan laporan hendaklah dilakukan penelitian dan evaluasi secara seksama
termasuk:
a) meninjau seluruh inforrnasi yang masuk tentang keluhan atau laporan tersebut
b) melakukan pemeriksaan atau pengujian terhadap contoh yang diterima dan bila perlu
memeriksa juga contoh pertinggal bets yang bersangkuatan
c) meneliti kembali semua data dan dokumentasi yang berkaitan, termasuk catatan bets,
catatan distribusi, catatan hasil pengujian dan sebagainya.
TindakLanjut
1. Atas dasar hasil evaluasi dan penelitian dilakukan tinda lanjut berupa antara lain :
a) tindakan perbaikan y ang diperlukan;
b) penarikan kembali bets obat atau seluruh obat yan bersangkutan; dan
c) tindak lanjut lain yangsesuai.
2. Hasil pelaksanaan penanganan keluhan dan laporan termasuk hasil evaluasi penelitian dan
tindak lanjut yang diambil hendaklah dicatat dan dilaporkan kepada bagian terkait dan kepada
pejabat pemerintah yang berwenang
Penarikan Kembali Obat
Penarikan kembali obat dapat berupa penarikan kembali satu atau beberapa bets atau seluruh obat
jadi tertentu dari semua mata rantai distribusi. Penarikan kembali dilakukan apabila ditemukan
adanya produk yang tidak memenuh persyaratan mutu atau atas dasar pertimbangan adanya efek
samping yang tidak diperhitungkan yang merugikan kesehatan. Penarikan kembali seluruh obat
tertentu dari peredaran dapat menyebabkan penghentian sementara atai penghentian tetap tehadap
pembuatan jenis obat yang bersangkutan.
Keputusan Penarikan Kembali
1. Penarikan kembali dapat dilakukan atas prakarsa produsen sendiri atau instruksi instansi
pemerintah yang berwenang
2. Keputusan untuk melakukan penarikan kembali suatu obat adalah tanggung jawab manajer
pengawasan mutu dan pimpinan perusahaan.
3. Keputusan penarikan kembali dapat berupa penarikan kembali satu atau beberapa bets atau
seluruh obat yang bersangkutan. ,
4. Keputusan penarikan kembali dapat pula sekaligus merupakan penghentian pembuatan obat
yang bersangkutan.

49
Pelaksanaan Penarikan Kembali

CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK

1. Tindakan penarikan kembali hendaklah dilakukan segera setelah diketahui adanya obat yang
tidak memenuhi persyaratan atau yang mempunyai efek samping yang tidak diperhitungkan
sebelumnya yang membahayakan kesehatan.
2. Bagi obat yang mengandung resiko besar terhadap kesehatan. selain tindakan penarikan
kembali hendaklah segera diambil tindakan khusus agar obat yang bersangkutan dikenakan
embargo untuk tidak digunakan. Dalam hal ini penarikan kembali hendaklah dilakukan pula
sampai pada tingkat konsumen.
3. Sistem dokumen pabrik hendaklah dapat mendukung pelaksanaan penarikan kembali dan
embargo efektif, cepat dan tuntas.
4. Hendaklah dibuat pedoman dan prosedur penarikan kembali obatjadi yang tepat
sehinggapenarikan kembali dan embargo dapat dilakukan dengan cepat dan efektif dari seluruh
mata rantai distribusi.
5. Hendaklah dibuat catatan dan laporan pelaksanaan, hasil penarikan kembali dan embargo obat.
Obat Kembalian
Obat kembalian adalah obat jadi yang telah beredar, yang kemudian dikembalikan ke pabrik karena
adanya keluhan. kerusakan, daluwarsa, masalah keabsahan, atau sebab lain mengenai kondisi obat,
wadah atau kemasan sehingga menimbulkan keraguan akan keamanan. identitas, mutu danjumlah
obat yang bersangkutan.
Pabrik hendaklah membuat prosedur untuk menahan, menyelidiki dan menganalisis obat yang
dikembalikan serta menetapkan apakah obat tersebut dapat diproses kembali atau harus
dimusnahkan. Terhadap obat kembalian dilakukan evaluasi yang seksama untuk menentukan
apakah obat yang bersangkutan dapat diolah kembali atau dimusnahkan.
Berdasarkan evaluasi obat kembalian dapat digolongkan sebagai berikut: i
a) obat kembalian yang memenuhi spesifikasi sehingga dapat dikembalikan ke persediaan;
b) obat kembalian yang masih dapat diolah ulang; dan
c) obat kembalian yang tidak memenuhi spesifikasi dan tidak boleh diolah ulang.
Prosedur Penanganan Obat Kembalian
1.
2.
3.
4.

Hendaklah dibuat prosedur penanganan obat kembalian dengan memperhatikan hal-hal berikut:
Identifikasi dan pencatatan mutu dari obat kembalian.
Obat kembalian yang diterima hendaklah dikarantina.
Terhadap obat kembalian hendaklah dilakukan penelitian, pemeriksan dan pengujian oleh

bagian pengawasan mutu untuk menentukan tindak lanjut.


5. Keputusan untuk melakukan pengolahan ulang obat kembalian hendaklah dilakukan oleh
manajemen perusahaan atas dasar evaluasi yang seksama.
6. Perlunya pengujian tambahan terhadap produk hasil pengolahan ulang
Penanganan Obat Kembalian yang Ditolak

50
CARA PEMBUATAN
OBAT
YANG
BAIK
Obat kembalian yang tidak dapat diolah ulang hendaklah dimusnahkan
Hendaklah
dibuat
prosedur

pemusnahan bahan atau produk yang ditolak yang mencakup pencegahan pencemaran lingkungan
dan mencegah kemungkin; jatuhnya obat tersebut ke tangan orang yang tidak berwenang.
Dokumentasi
Pelaksanaan penanganan terhadap obat kembalian dan tidak lanjut yang dilakukan hendaklah
dicatat dan dilaporkan. Untuk tiap pemusnahan obat kembalian hendaklah dibuat berita acara yang
ditandatangani oleh pelaksana pemusnahan dan saksi.
2.11.

DOKUMENTASI
Dokumentasi pembuatan obat merupakan bagian dari sistem informasi manajemen yang

meliputi spesifikasi. prosedur, metode dan instruksi, perencanaan, relaksanaan, pengendalian serta
evaluasi seluruh rangkaian kegiatan pembuatan obat.
Dokumentasi sangat penting untuk memastikan bahwa setiap petugas mendapat instruksi
secara rinci dan jelas mengenai bidang tugas yang harus dilaksanakannya sehingga memperkecil
risiko terjadinya salah tafsir dan kekeliruan yang biasanya timbul karenahanyamengandalkan
komunikasi lisan.
Sistem dokumentasi hendaklah menggambarkan riwayat lengkap dari setiap bets atau lot
suatu produk sehingga memungkinkan penyelidikan serta penelusuran terhadap bets atau lot produk
yang bersangkutan. Sistem dokumentasi digunakan pula dalam pemantauan dan pengendalian,
misal kondisi lingkungan, perlengkapan dan personalia.
Ketentuan Umum
1. Dokumen hendaklah dirancang dan dibuat dengan teliti, agar dapat digunakan dengan mudah.
benar dan efektif.
2. Dokumen hendaklah dapat mencatat kegiatan di bidang produksi, pengawasan mutu,
pemeliharaan peralatan, pergudangan, distribusi dan hal spesifik lainnya yang berkaitan dengan
CPOB.
3. Dokumen hendaklah mencakup semua data penting, tetapi tidak perlu berlebihan, dan dijaga
agar selalu aktual. Setiap perubahan hendaklah disahkan secara resmi. Hendaklah diberi juga
kemungkinan bagi peninjauan berkala maupun perbaikan, bila diperlukan.
4. Hendaklah ada suato sistem untuk menghindarkan terjadinya penggunaan dokumen yang sudah
tidak berlaku.
5. Apabila terjadi atau ditemukan suatu kekeliruan pada dokumen, hendaklah dikoreksi dengan
suatu cara yang tepat sehingga tulisan atau catatan semula tidak hilang sama sekali dan koreksi
itu ditulis dan dicantumkan disamping tulisan semula, kemudian diparaf dan dibubuhi tanggal.

51
OBAT
YANG BAIK
6. Jika dokumen memuat instruksi hendaklah ditulis dalamCARA
nadaPEMBUATAN
perintah serta
disusun
dalam

langkah yang diberi nomor urut. Instruksi tersebut hendaklah jelas, tepat, tidak berarti ganda
dan ditulis dalam bahasa yang dimengerti oleh pemakai.
7. Setiap dokumen produksi hendaklah dibubuhi tanggal dan tandatangan dan disahkan oleh
manajer produksi maupun manajer pengawasan mutu. Bagian atau orang yang menerima
turunan dokumen hendaklah tercantum setidak-tidaknyapada dokumentasi aslinya.
8. Dokumentasi hendaklah tersediabagisemuapihak terkait.
9. Dokumen dan catatan yang berkaitan dengan suatu bets sebagaimana contoh rujukan obatjadi
serta bahan awalnya hendaklah disimpan oleh perusahaan untuk jangka waktu tertentu sesuai
dengan keperluannya dan/atau jangka waktu yang ditentukan Badan POM.
Spesifikasi
10. Dokumen spesifikasi meliputi spesifikasi bahan baku, bahan pengemas, produk antara, produk
ruahan dan obat jadi.
Spesifikasi Bahan Baku
11. Spesifikasi bahan baku hendaklah memuat :
a) nama dan kode produk yang ditentukan dan digunakan oleh perusahaan;
b) nama dan kode yang diberikan oleh pemasok;
c) pemerian. karakteristik fisika dan karakteristik kimia serta standar mikrobiologi, jika ada;
d) rujukan monograf atau metode pengujian yang diguna kan untuk pemeriksaan dan
pengujian spesifikasi atau farmakope yang digunakan;
e) frekuensi pengujian ulang terhadap bahan yang di simpan, jika perlu;
f) jenis pengujian spesifik yang diperlukan dalam rangka penilaian ulang terhadap bahan yang
sudah daluwarsa untuk menentukan kemungkinan perpanjangan masa daluwarsanya;
g) kondisi penyimpanan atau tindakan pengamanan lain yang diperlukan;
h) masa pakai jika diperlukan;
i) nama pemasok yang disetujui; dan
j) tanggal diterbitkan spesifikasi.
12. Spesifikasi bahan baku dapatterpisah atau termasuk dalam Dokumen Produksi Induk.
Spesifikasi Bahan Pengemas
1. Spesifikasi bahan pengemas hendaklah memuat :
a) nama dan kode produk yang ditentukan dan digunakan oleh perusahaan;
b) nama dan kode yang diberikan oleh pemasok;
c) pemerian antara lain jenis bahan, ketebalan, dimensi, warna, kekuatan, teks;
d) gambar teknis, bila perlu;
e) rujukan monograf atau metodapengujian yang digunakan untuk pemeriksaan dan pengujian
spesifikasi atau farmakope yang digunakan;
f) frekuensi pemeriksaan ulang terhadap bahan yang disimpanjika perlu;
g) kondisi penyimpanan dan tindakan pengamanan yang diperlukan;
h) masa pakai jika diperlukan;
i) nama pemasok yang disetujui; dan
j) tanggal diterbitkannya spesifikasi.
2. Spesifikasi bahan pengemas dapat terpisah atau termasuk dalam Dokumen Produksi Induk.
Spesifikasi Produk Antara, Produk Ruahan dan Obat Jadi

52
CARA
PEMBUATAN
OBAT
YANG bentuk
BAIK
1. Spesifikasi produk antara, produk ruahan atau spesifikasi
obat
jadi, sesuai
dengan

sediaan dan tahap pembuatannya, hendaklah memuat:


a) nama dan kode produk yang digunakan perusahaan;
b) bentuk sediaan dan kekuatannya;
c) pemerian, karakteristik fisika dan karakteristik kimia serta standar mikrobiologi, jika ada;
d) rujukan monograf atau metode pengujian yang digunakan untuk pemeriksaan dan pengujian
spesifikasi atau farmakope yang digunakan;
e) sifat fisika, seperti bobot standar atau volume pengisian (termasuk nilai batas), pH,
kekentalan, kerapatan, kekerasan, keregasan, waktu hancur dan kemanfaatan
f) hayati in-vitro, bilaperlu;
g) spesifikasi obat jadi hendakiahjugamencakup jenis dan spesifikasi bahan pengemasan yang
digunakan;
h) masa pakai atau batas daluwarsa;
i) kondisi penyimpanan dan tindakan pengamanan yang diperlukan;dan
j) spesifikasi kemasan dan label.
2. Spesifikasi produk antara, produk ruahan atau spesifikasi obat jadi dapat terpisah atau termasuk
dalam Dokumen Produksi Induk.
Dokumen Produksi
Dokumen produksi terdiri dari :
a) Dokumen Produksi Induk yang merupakan pedoman dasar produksi untuk tiap jenis obat jadi
dengan bentuk sediaan dan kekuatan tertentu tanpamemperhatikan besarnya bets.
b) Prosedur Produksi Induk terdiri dari Prosedur Pengolahan Induk dan Prosedur Pengemasan
Induk yang merupakan pedoman pengolahan dan pengemasan yang lebih rinci untuk masingmasing obat jadi dengan bentuk sediaan, kekuatan serta besarnya bets. Prosedur Produksi Induk
pada dasarnya telah divalidasi.
c) Catatan Produksi Bets yang terdiri dari catatan pengolahan bets dan catatan pengemasan bets
yang pada dasarnya merupakan turunan dari Prosedur Produksi Induk yang sudah berisi data
dan informasi mengenai pelaksanaan produksi, pengolahan dan pengemasan. Adakalanya pada
catatan produksi bets prosedur yang dicantumkan dalam Prosedur Produksi Induk tidak
dicantumkan lagi secara rinci.
Dokumen Produksi Induk
Dokumen Produksi Induk hendaklah mefnuat nama produk, bentuk sediaan, kekuatan, pemerian,
nama penyusun dan bagian, nama pemeriksa yang terlibat, daftar isi dan daftar distribusi.
Isi dokumen induk hendaklah memuat :
a) bagian umum yang memuat jenis kemasan atau alternatif kemasan, pernyataan tentang stabilitas
produk, tindakan pengamanan selama penyimpanan serta tindakan pengamanan lain yang perlu
dilaksanakan selamapengolahan dan pengemasan;
b) komposisi/formula untuk tiap satuan takaran maupun
c) daftar lengkap bahan baku, baik, yang tidak akan berubah maupun yang akan mengalami
perubahan selama proses;

53
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)

CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK


spesifikasi bahan baku;
daftar lengkap bahan pengemas;
spesifikasi bahan pengemas;
garis besar prosedur pengolahan dan pengemasan;
daftar peralatan yang dapat dipakai untuk pengolahan dan pengemasan;
pengawasan dalam proses yang harus dilaksanakan selama pengolahan dan pengemasan; dan
masa pakai produk.

Prosedur Pengolahan Induk


Prosedur pengolahan induk adalah dokumen yang kemudian digandakan untuk pencatatan
pengolahan tiap bets produk.
1. Prosedur Pengolahan Induk ini hendaklah memuat prosedur dan instruksi lengkap dan rinci
mengenai pengolahan. termasuk pengawasan dalam proses yang harus dilakukan bagian
produksi dan pengawasan yang harus dilakukan bagian pengawasan mutu, tindakan
pengamanan dan hal khusus yang perlu diperhatikan selama pengolahan dan selama
penyimpanan produk antara dan produk ruahan. Prosedur Pengolahan Induk hendaklah
menyediakan ruang untuk mencatat data pengolahan. Dokumen ini hendaklah dibuat. dibubuhi
tandatangan oleh manajer produksi serta diperiksa secara terpisah, diberi tanggal dan
ditandatangani oleh manajer pengawasan mutu.
2. Prosedur Pengolahan Induk hendaklah mencakup hal berikut:
a) nama dan kekuatan produk serta pemerian bentuk sediaan;
b) daftar lengkap bahan baku, dengan menyebutkan nama serta kode yang spesifik untuk
menunjukkan karakteristik mutu, misal monograf rujukannya;
c) nama dan bobot atau ukuran dalam sistem metric dari tiap bahan berkhasiat dan tidak
berkhasiat untuk tiap satuan takaran atau ukuran bets;
d) pemyataan mengenai pemakaianjumlah bahan baku yang dilebihkan yang telah
diperhitungkan;
e) banyaknya sisa produk yang boleh ditambahkan ke dalam bets berikutnya, jika diperlukan;
f) jumlah bets berbeda dari bahan berkhasiat dan tidak berkhasiat yang boleh digunakan dalam
satu bets produk;
g) pernyataan mengenai bobot atau ukuran teoritis yang diperoleh pada tahap pengolahan
tertentu;
h) pernyataan mengenai hasil teoretis dan batas presentase termasuk persentase maksimum dan
minimum hasil nyata yang diperoleh terhadap hasil teoritis yang diperkenankan; dan
i) lokasi pengolahan dan peralatan yang akan digunakan.
Prosedur Pengemasan Induk
Prosedur Pengemasan Induk adalah dokumen yang kemudian digandakan untuk pencatatan
pengemasan tiap bets produk.
1. Prosedur Pengemasan Induk hendaklah memuat prosedur dan instruksi lengkap dan rinci
mengenai pengemasan termasuk pengawasan dalam proses yang harus dilakukan bagian
produksi dan bagian pengawasan mutu, tindakan pengamanan dan hal khusus yang perlu

54
OBAT YANG BAIK
diperhatikan selama pengemasan. Prosedur Pengemasan CARA
Induk PEMBUATAN
hendaklah menyediakan
ruang

untuk mencatat data pengemasan. Dokumen ini hendaklah dibuat, dibubuhi tanggal dan tanda
tangan oleh manajer produksi serta diperiksa secara terpisah, diberi tanggal dan ditandatangani
oleh manajer pengawasan mutu.
2. Prosedur Pengemasan Induk hendaklah mencakup hal berikut:
a) nama, bentuk sediaan dan kekuatan serta pemerian produk ruahan;
b) daftar lengkap wadah, tutup dan bahan pengemas lain termasuk satu contoh label dan
penandaan lainnya yang ditandatangani dan dibubuhi tanggal oleh petugas yang berwenang
untuk member persetujuan atas penandaan seperti itu;
c) pernyataan mengenai hasil teoretis dan batas persentase maksimum dan minimum hasil
nyata yang diperoleh terhadap hasil teoretis yang diperkenankan;
d) prosedur rekonsiliasi antara produk ruahan dan bahan pengemas yang dikeluarkan; dan
e) lokasi pengemasan dan peralatan yang akan digunakan.
Catatan Pengolahan Bets
1. Catatan Pengolahan Bets hendaklah diadakan bagi setiap bets obat dan hendakJah mencakup
data lengkap tentang pelaksanaan pengolahan dan pengawasan terhadap bets yang
bersangkutan. Formulir untuk Catatan Pengolahan Bets adalah reproduksi dari Prosedur
Pengolahan Induk yang kebenarannya diperiksa. dibubuhi tandatangan oleh manajer produksi.
2. Catatan Pengolahan Bets hendaklah menunjukkan setiap langkah pengolahan yang telah
diselesaikan dan mencakup data sebagai berikut:
a) Nomor bets:
b) tanggal mulai dan tanggal selesai pengolahan;
c) identitas setiap peralatan utama serta identitas jalur atau lokasi yang digunakan;
d) bobot atau volume sebenarnya dan nomor bets dari masing-masing bahan baku yang
digunakan selama pengolahan serta paraf petugas yang menimbang atau mengukur dan
paraf petugas yang melaksanakan pemeriksaan tandingan;
e) nomor bets dan nomor persetujuan rujukan serta banyaknya sisa produk atau bahan pulihan
f)
g)
h)
i)

yang digunakan jika ada;


catatan tentang pelaksanaan pembersihan peralatan yangdipakai;
ha sil pengawasan selama proses dan uji laboratorium;
hasil nyata maupun persentase terhadap hasil teoritis pada tiap tahap pengolahan yang kritis;
pengambilan contoh yang dilakukan dalam berbagai tahap pengolahan, termasuk

jumlahnya;
j) paraf petugas yang melakukan dan supervisor yang mengawasi atau memeriksa setiap
langkah pengolahan:
k) rincian tiap penyimpangan dari ProsedurPengolahan Induk. dan persetujuan terhadap
penyimpangan tersebut;
l) persetujuan yang dibubuhi tanggal dan tandatangan oleh petugas berwenang yang
menyatakan bahwa semua langkah pengolahan telah dilaksanakan sesuai Prosedur
Pengolahan Induk dan bahwa tiap penyimpangan proses maupun variasi hasilnya dijelaskan
secukupnya; dan
m) penyelidikan terhadap kegagalan proses yang spesifik atau ketidak-sesuaian hasil nyata.

55
Catatan Pengemasan Bets

CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK

1. Catatan Pengemasan Bets hendaklah diadakan bagi setiap bets obat dan hendaklah meliputi data
lengkap tentang pelaksanaan pengemasan dan pengawasan terhadap bets yang bersangkutan.
Formulir untuk Catatan Pengemasan Bets adalah reproduksi dari Prosedur Pengemasan Induk
yang kebenarannya diperiksa, dibubfuhi tanggal dan tandatangan oleh manajer prodcrksi.
2. Catatan Pengemasan Bets hendaklah menunjukkan setiap langkah pengemasan yang telah
diselesaikan dan mencakup data sebagai berikut :
a) Nomor bets;
b) tanggal mulai dan tanggal selesai pengemasan;
c) identitas tiap peralatan utama serta jalur atau lokasi yang digunakan;
d) jumlah nyata dan nomor bets dari masing-masing bahan pengemas dan produk ruahan yang
digunakan serta paraf petugas yang menimbang atau menghitung dan paraf petugas yang
melaksanakan pemeriksaan tandingan;
e) hasil pengawasan dalam proses;
f) catatan tentang pelaksanaan pembersihan peralatanyangdipakai;
g) pemeriksaan kesiapan jalur pengemasan sebelum dan sesudah pengemasan oleh petugas
yang berwenang:
h) hasil nyata maupun persentase terhadap hasil teoritis pada waktu penyelesaian pengemasan;
i) contoh bahan pengemas cetak yang digunakan dan catatan pemeriksaannya termasuk bahan
pengemas cetak yang diberi kode penandaan;
j) pengambilan contoh yang dilakukan selama dan sesudah pengemasan termasuk jumlah
contoh;
k) paraf petugas yang melakukan dan supervisor yang mengawasi atau memeriksa setiap
langkah pengemasan:
l) catatan rekonsiliasi dan disposisi bahan pengemas yang tidak terpakai:
m) hasil pengujian obat jadi; dan
n) penyelidikan terhadap kegagalan proses yang spesifik atau ketidak-sesuaian hasil nyata.
Dokumen Pengawasan Mutu
Dokumen pengawasan mutu terdiri dari :
a) Prosedur pengawasan mutu dan metode pengujian. Prosedur pengambilan contoh untuk
pengujian merupakan dokumen yang sangat penting dalam pengawasan mutu; dan
b) Catatan analisis dan laporan hasil pengujian. Catatan tentang hasil uji stabilitas biasanya
diadakan sendiri. Laporan hasil pengujian dapat berupa sertifikat analisis.
Prosedur Pengambilan Contoh untuk Pengujian
Prosedur pengambilan contoh untuk pengujian hendakJah menguraikan rancangan dan metode
pengambilan contoh yang disahkan dengan membubuhi tanda tangan dan diberi tanggal oleh
pejabat yang berwenang serta mencakup hal sebagai berikut :
a) metode pengambilan contoh untuk pengujian termasuk rancangan pengambilan dan standar
yang digunakan;
b) alat dan wadah yang digunakan;

56
CARA
PEMBUATAN
OBAT YANG
c) tindakan pengamanan selamapengambilan contoh termasuk
penggunaan
pakaian
khususBAIK
oleh

d)
e)
f)
g)

petugas yang mengambil contoh;


nama petugas atau bagian yang diberi wewenang untuk pengambilan contoh:
lokasi pengambilan contoh:
jumlah contoh yang diambil: dan
pola pembagian contoh apabila diperlukan.

Metode Pengujian
Metode pengujian adalah prosedur rinci untuk pengambilan contoh dan pengujian terhadap
spesifikasi bahan awal, produk antara, produk ruahan dan obat jadi. Prosedur pengujian hendaklah
mencakup pereaksi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan analisis, uji identifikasi dan penetapan
kadar serta formula perhitungan untuk memperoleh hasil analisis.
Catatan Pengambilan Contoh
Hendaklah diadakan catatan pengambilan contoh untuk pengujian sesuai dengan prosedur
pengambilan contoh yang disetujui.
Catatan Analisis dan Laporan Hasil Pengujian
1. Hendaklah dibuat catatan analisis dan laporan hasil pengujian terhadap bahan awal, produk
antara, produk ruahan dan obat jadi sesuai dengan metode pengujian yang disetujui. Catatan
analisis dan laporan hasil pengujian hendaklah mencantumkan pelulusan atau penolakan bahan
atau produk disertai tanggal dan tanda tangan analis yang melakukan pengujian dan supervisor.
2. Catatan analisis hendaklah memuat data sebagai berikut :
a) tanggal pelaksanaan pengujian;
b) nama produk, termasuk kode produk jika ada
c) nama pemasok;
d) tanggal penerimaan;
e) nomor bets asal pemasok;
f) nomor bets yang diberikan oleh bagian pengawasan mutu;
g) jumlah yang diterima;
h) tanggal pengambilan contoh dan jumlah contoh;
i) rujukan metode pengujian atau monograf yang digunakan;
j) catatan hasil pengujian yang dilakukan yang dibubuhi tanggal dan tanda tangan analis dan
supervisor;
k) pernyataan pelulusan atau penolakan dari bagian pengawasan mutu yang dibubuhi tanggal
dan tanda tangan penanggungjawab;
l) nomor sertifikat yang diterbitkan untuk keputusan pelulusan atau penolakan; dan
m) rujukan silang terhadap sertifikat yang diterbitkan sebelumnya, jika diperlukan.
3. Sertifikat analisis merupakan laporan hasil pengujian dan hendaklah memuat hal berikut:
a) nama dan alamat pabrik atau lembaga yang menerbitkan sertifikat tersebut;
b) nomor sertifikat;
c) nama bahan atau produk, bentuk sediaan dan kekuatan:
d) nomor bets dari pabrik;
e) hasil pengujian dan nilai batas standar;
f) pernyataan pelulusan atau penolakan disertai penjelasan yang diperlukan; dan
g) tanggal dan tanda tangan analis dan manajer pengawasan mutu.
4. Catatan uji stabilitas

57
CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK
a) deskripsi bahan pengemas yang digunakan;
b) masa pelaksanaan uji stabilitas;
c) kondisi penyimpanan produk seperti suhu dan kelembabanhasil pengujian setelah setiap

masa penyimpanan tertentu; dan


d) hasil pengujian dibandingkan dengan spesifikasi produk dan
e) hasil pengujian awal.
Dokumen Penyirapanan dan Distribusi
Hendaklah diadakan dokumen penyimpanan dan distribusi obat, Dokumen tersebut berupa kartu
persediaan dan catatan distribusi yang dapat dikerjakan secara manual atau komputerisasi.
1. Kartu Persediaan
Hendaklah diadakan kartu persediaan yang berisi catatan atau system dokumentasi lam tentang
jumlah yang diterima, dikeluarkan dan yang tersedia untuk tiap bahan awal, produk antara, produk
ruahan dan obat jadi.
1) Kartu persediaan hendaklah memuat:
a) nomor kode dan nama bahan atau produk;
b) tanggal penerimaan dan pengeluaran atau penyerahan;
c) jumlah penerimaan atau penyerahan dan sisa persediaan;
d) nomor bets;
e) lokasi penyimpanan; dan
f) status bahan, apakah dikarantina, diluluskan atau ditolak.
2) Dianjurkan untuk membuat kartu persediaan dengan warna berbeda untuk tiap kelompok
produk, misalnya bahan pengemas, bahan pembantu, bahan berkhasiat. produk antara, produk
ruahan atau obat jadi.
3) Kartu persediaan hendaklah menjadi alat untuk melaksanakan prinsip pertama masuk pertama
keluar dan pertama mendekati daluwarsa pestama keluar. Penyimpangan dari prinsip ini dapaj
diijinkan untuk jangka waktu pendek dan hanya atas persetujuan manajer yang berwenang.
Catatan Distribusi Obat Jadi
1. Catatan distribusi mencakup distribusi obatjadi dari pabrik saja. Catatan hendaklah dibuat
sedemikian rupa sehingga data distribusi tiap bets obatjadi yang lengkap, actual dan progresif
dapat dengan mudah diikuti dan diperoleh segera untuk memudahkan pelaksanaan tindakan
penarikan kembali yang efektif dan cepat apabila diperlukan oleh pabrik.
2. Catatan distribusi hendaklah memuat data sebagai berikut:
a) nama dan alamat penerima;
b) nomor dan tanggal surat perintah penyerahan;
c) tanggal penyerahan;
d) nama, bentuk sediaan dan kekuatan produk;
e) jumlah produk yang diserahkan;
f) nomor bets;
g) tanggal daluwarsa,jika ada; dan
h) syarat penyimpanan khusus atau tindakan pengamanan yang mungkin diperlukan untuk
penanganan produk
3. Persediaan obat jadi hendaklah dicatat dalam kartu persediaan.

58
CARA PEMBUATAN
OBAT
YANG BAIK
Dokumen Pemeliharaan, Pembersihan dan Pemantauan Kondisi
Ruangan dan
Peralatan

Dokumen terpenting dalam pemeliharaan. pembersihan dan pemantauan kondisi ruangan dan
peralatan pembuatan obat adalah prosedur dan catatan untuk pemeliharaan dan pembersihan
ruangan dan peralatan, pembasmian hama serta catatan pemantauan partikel di udara sekitar
dan/atau mikrobaviabel di daerah tertentu.
Prosedur dan Catatan Pemeliharaan dan Pembersihan Peralatan
1. Hendaklah dibuat prosedur pemeliharaan dan pembersihan untuk tiap peralatan yang mencakup
jenis pekerjaan yang harus dilakukan dan jadwal pemeliharaan. Pelaksanaan pemeliharaan dan
pembersihan hendaklah dicatat, termasuk perbaikan dan penggantian suku cadang.
2. Hendaklah dibuat prosedur pembersihan peralatan yang digunakan dalam proses produksi yang
menjelaskan cara pembersihan tiap pergantian produk atau pergantian bets. Prosedur
pembersihan hendaklah mencakup metode serta peralatan dan bahan pembersih yang
digunakan. Pelaksanaan pembersihan hendaklah dicatat dan dilampirkan ke dalam catatan bets
yang bersangkutan.
Prosedur dan Catatan Pembersihan Daerah Produksi
Hendaklah dibuat prosedur pembersihan untuk daerah produksi yang mencakup ruangan yang
harus dibersihkan, cara pembersihan, peralatan dan bahan pembersih yang digunakan, waktu dan
jadwal pembersihan. Pelaksanaan pembersihan hendaklah didokumentasikan.
Prosedur dan Catatan Pembasmian Hama
Hendaklah diadakan prosedur pembasmian hama yang mencakup jadwal pembasmian, daerah yang
harus diliputi, metode kerja, peralatan dan bahan pestisida yang digunakan, tindakan pengamanan,
bagian atau orang yang terlibat dalam pelaksanaan pembasmian hama tersebut. Pelaksanaan
pembasmian hama hendaklah didokumentasikan.
Prosedur dan Catatan Pemantauan Partikel di Udara Sekitar dan Mikroba
Hendaklah dibuat prosedur pemantauan partikel udara dan mikroba di daerah tertentu yang
mencakup metode pemantauan dan daerah yang dipantau, spesifikasi, termasuk tingkat siaga dan
tingkat pengambilan tindakan. Hasil pemantauan hendaklah dicatat.
Dokumen Penanganan Keluhan Terhadap Obat, Penarikan Kembali Obat, Obat Kembalian
dan Pemusnahan Obat
1. Prosedur dan Catatan Penanganan Keluhan Terhadap Obat
1) Hendaklah dibuat prosedur penanganan keluhan dan laporan mengenai reaksi yang
merugikan dari obat, yang mencakup definisi tentang kelyhan dan reaksi merugikan dari
obat jenis keluhan dan laporan, metode penanganan dan evaluasi dari keluhan.
2) Catatan keluhan terhadap obat dan laporan reaksi merugikan dari obat memuat:
a) nama produk dan nomor bets;
b) jenis keluhan atau laporan;
c) sumber keluhan atau laporan;

59
d)
e)
f)
g)
h)

CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK


contoh produk yang bersangkutan;
ringkasan tentang keluhan atau laporan;
hasil penyelidikan;
evaluasi dari keluhan atau laporan; dan
tanggapan dan tindak lanjut terhadap keluhan atau, laporan.

Prosedur dan Catatan Penarikan Kembali Obat


1. Hendaklah dibuat prosedur penarikan kembali obat untuk satu bets atau lot atau seluruh bets
obat dari peredaran.
2. Hendaklah dibuat catatan tindakan penarikan kembali yang mencakup :
a) nama produk. nomor bets dan ukuran bets;
b) tanggal dimulai dan selesainyapenarikan kembali;
c) alasan penarikan kembali
d) jumlah sisa dan jumlah yang telah didistribusikan dari bets atau lot produk yang
e)
f)
g)
h)
i)

bersangkutan pada tanggal awal penarikan kembali;


jumlah produk yang dikembalikan;
sumber produk yang dikembalikan;
evaluasi dari penarikan kembali;
tindak lanjut: dan
laporan penanganan penarikan kembali termasuk laporan kepada pemerintah jika
diperlukan.

Prosedur dan Catatan Penanganan Obat Kembalian


1. Hendaklah dibuat prosedur penanganan obat kembalian yang memuat pedoman untuk
pengambilan keputusan apakah obat kembalian dapat digunakan kembali, diolah ulang atau
dimusnahkan. Penanganan dan pemusnahan obat kembalian hendaklah didokumentasikan.
Prosedur dan Catatan Pemusnahan Bahan dan Produk yang Ditolak
1. Hendaklah dibuat prosedur pemusnahan bahan atau produk yang ditolak yang mencakup
tindakan pencegahan pencemaran lingkungan dan kemungkinan jatuhnya bahan atau produk
yang bersangkutan ke tangan orang yang tidak berwenang.
2. Hendaklah dibuatcatatan pemusnahan bahan atauproduk yang ditolak yang memuat antara lain :
a) nama, nomor bets dan jumlah bahan atau produk yang ditolak;
b) asal bahan atauproduk;
c) metode pemusnahan;
d) nama petugas yang melaksanakan dan yang menyaksikan pemusnahan; dan
e) tanggal pemusnahan.
Dokumen Untuk Peralatan Khusus
Dokumen terpenting untuk peralatan khusus adalah prosedur kerja dan kalibrasi berikut catatan
pemakaian alat dan kalibrasi alat.
1. Prosedur Kerja untuk Peralatan Khusus
Hendaklah dibuat prosedur kerja untuk setiap peralatan tertentu untuk menghindarkan terjadinya
penanganan yang salah yang dapat mempengaruhi kualitas suatu bets produk yang menggunakan
alat

60
CARA PEMBUATAN
OBAT YANGmanual
BAIK
tersebut atau yang dapat merusak alat. Prosedur kerja pada umumnya
dibuat berdasarkan

peralatan bersangkutan.
2. Prosedur dan Catatan Kalibrasi Peralatan Khusus
Hendaklah dibuat prosedur kalibrasi untuk tiap peralatan khusus untuk memastikan bahwa
peralatan yang bersangkutan memberi hasil penimbangan atau pengukuran yang akurat. Prosedur
kalibrasi hendaklah mencakup jadwal, standar rujukan, pereaksi dan alat kalibrasi yang diperlukan,
metode kalibrasi atau buku pedoman kalibrasi yang digunakan. Pelaksanaan dan hasil kalibrasi
hendaklah didokumentasikan.
Prosedur dan Catatan Inspeksi Diri
1. Hendaklah dibuat prosedur untuk pelaksanaan inspeksi-diri atas bangunan dan sistem pabrik.
Prosedur mencakup daftar periksa dan formulir inspeksi-diri, susunan tim dan jadwal inspeksidiri.
2. Hendaklah dibuat catatan pelaksanaan dan hasil inspeksi-diri yang mencakup evaluasi dan
kesimpulan dari tim serta tindak lanjut perbaikan yang diperlukan.
Pedoman dan Catatan Pelatihan CPOB Bagi Karyawan
1. Hendaklah dibuat pedoman pelatihan CPOB bagi karyawan sesuai dengan bidang tugas dan
tanggung jawab masing-masing.
2. Hendaklah dibuat catatan pelaksanaan dan hasil pelatihan CPOB yang mencakup :
a) tanggal pelatihan;
b) nama karyawan yang mengikuti pelatihan;
c) nama instruktur, bagian atau lembaga yang memberikan pelatihan;
d) materi pelatihan serta alat bantu yang digunakan;
e) peragaan yang dilakukan,jika ada; dan
f) evaluasi terhadap peserta pelatihan.

61
CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK

BAB III
PENUTUP