Anda di halaman 1dari 6

APLIKASI METODE SEISMIK REFRAKSI UNTUK ANALISA

LITOLOGI BAWAH PERMUKAAN PADA DAERAH


BABARSARI, KABUPATEN SLEMAN, YOGYAKARTA
Kevin Gardo Bangkit Ekaristi
115.130.094
Program Studi Teknik Geofisika, Universitas Pembangunan Nasional Veteran
Yogyakarta
Jalan SWK 104 Condongcatur Yogyakarta
kevin.gardo@gmail.com
INTISARI
Metode seismik refraksi adalah salah satu metode eksplorasi geofisika yang
memanfaatkan salah satu sifat gelombang yaitu bahwa gelombang dapat dibiaskan.
Dalam metode seismik refraksi ini terdapat banyak metode pengolahan data. Dalam
penelitian ini digunakan metode ITM dan CDM. Penelitian ini bertujuan untuk analisa
struktur bawah permukaan pada daerah Babarsari, Yogyakarta. Penelitian dilakukan di
daerah Babarsari dengan koordinat easting 435612 UTM sampai 435639 UTM dan
koordinat northing 9141447 UTM hingga 9141438 UTM. Pengambilan data dilakukan
pada hari Minggu, 29 Maret 2015 pada pukul 09:00 WIB sampai 10:00 WIB. Data yang
diperoleh berupa data jarak offset pengukuran dan waktu rambat gelombang pada tiap
geophone. Data lapangan yang telah didapatkan tersebut diolah dengan menggunakan
software Microsoft Excel untuk memperoleh data kedalaman lapisan. Data lapangan
diolah dengan menggunakan metode ITM dan CDM. Dari hasil pengolahan dan
interpretasi data, diperoleh nilai kecepatan v1 sebesar 369,3182 m/s dan nilai kecepatan
v2 sebesar 579,213 m/s. Litologi bawah permukaan adalah lapisan lapuk. Kedalaman
lapisan lapuk pada titik terdalam sebesar 11,4 meter dan kedalaman lapisan lapuk pada
titik terdangkal sebesar 3,178 meter.
Kata kunci : Seismik Refraksi, Metode ITM, Metode CDM, Babarsari, Yogyakarta
1. PENDAHULUAN
Metode Seismik adalah metode
yang menggunakan gelombang seismik
yang menjalar di dalam bumi untuk
mengetahui keadaan lapisan bawah
permukaan. Metode seismik sendiri ada
dua macam, yaitu seismik refleksi dan
seismik refraksi. Seismik refraksi
memanfaatkan gelombang bias yang
dibiaskan
melalui
bidang
batas
perlapisan
batuan
ke
geophone.
Sedangkan
seismik
refleksi
memanfaatkan gelombang pantul yang
memantul pada bidang batas perlapisan.
Dalam mengolah data lapangan
seismik yang telah didapatkan, terdapat
beberapa metode untuk pengolahan.
Dari berbagai macam metode tersebut,
terdapat metode Intercept Time Method
dan Critical Distance Method. Metode

Intercept Time Method menggunakan


waktu penjalaran gelombang dari
sumber ke geophone secara tegak lurus
pada zero offset sebagai fokus
perhitungannya. Sedangkan metode
Critical Distance Method menggunakan
jarak
kritis
sebagai
fokus
perhitungannya. Jarak kritis adalah jarak
offset di mana gelombang terbiaskan dan
terpantulkan atau secara singkat saat
critical refraction muncul pertama kali.
2. DASAR TEORI
2.1 GELOMBANG SEISMIK
Gelombang
seismik
adalah
gelombang mekanik yang merambat
dengan bumi sebagai mediumnya.
Interior bumi sendiri terdiri dari
bermacam macam batuan. Batuan

batuan tersebut tentu saja mempunyai


sifat fisis yang berbeda beda.
Perbedaan sifat fisis inilah yang
menyebabkan
terjadinya
variasi
kecepatan rambat gelombang seismik.
Gelombang seismik sendiri dapat
dibedakan menjadi dua bagian besar,
yaitu :
1. Gelombang badan (body wave). Body
wave adalah gelombang yang merambat
pada tubuh bumi sendiri. Gelombang
badan ini ada dua macam, yaitu
gelombang primer dan gelombang
sekunder. Gelombang primer merambat
secara longitudinal dan gelombang
sekunder merambat secara transversal.
2. Gelombang permukaan (surface
wave). Surface wave adalah gelombang
yang hanya merambat pada permukaan
bumi dan beberapa lapisan dangkal
lainnya. Gelombang permukaan ini juga
mempunyai dua macam gelombang,
yaitu
gelombang
Rayleigh
dan
gelombang Love.
2.2 SEISMIK REFRAKSI
Metode seismik sendiri dibagi
menjadi dua macam, yaitu seismik
refleksi dan seismik refraksi. Seismik
refraksi memanfaatkan waktu tempuh
dari gelombang yang telah terbiaskan
untuk menuju ke penerima. Dalam
penelitian ini, metode seismik yang
digunakan adalah metode seismik
refraksi.
Dalam akuisisi data dan pengolahan
data seismik refraksi, terdapat beberapa
asumsi yang perlu diperhatikan.
Menurut Sismanto (1999), asumsi
asumsi tersebut antara lain :
1. Bumi dianggap sebagai benda
berlapisa yang pada tiap lapisannya
dapat merambatkan gelombang seismik
dengan kecepatan yang berbeda.
2. Kecepatan gelombang bertambah
seiring bertambahnya kedalaman.
3. Panjang gelombang seismik harus
tidak lebih besar dari seperempat tebal
lapisan.
4. Perambatan gelombang seismik

dapat dipandang sebagai perambatan


sinar dan mematuhihukum hukum
pembiasan cahaya.
5.Pada bidang batas lapisan,
gelombang merambat dengan kecepatan
pada lapisan di bawahnya.
Asumsi asumsi di atas digunakan
untuk mempermudah pengolahan data.
Dikarenakan
sulitnya
membuat
interpretasi yang akurat tentang analisa
bawah permukaan.
2.3 METODE INTERCEPT TIME
Metode ITM adalah metode T-X
yang paling sederhana dan hasilnya
hanya sebagai gambaran kasar akan
survei bawah permukaan.

Gambar 1 (a) Kurva travel time pada


bidang dua lapis sederhana dengan bidang
batas sejajar (Sismanto, 1999)

Gambar
2
Skema
perambatan
gelombang dari titik A ke D. (Sismanto,
1999)

Gambar 1 dan Gambar 2 tersebut


menunjukkan
grafik
pembiasan
gelombang
seismik
dan
skema
penembakan gelombang seismik di
bawah permukaan. Persamaan travel
time untuk gambar di atas adalah :
Tt =
(II.1)

AB BC CD
+
+
V1 V2 V1

Yang
kemudian
disederhanakan menjadi

dapat

X 2 Z cos ic
+
V2
V1

Tt =

(II.2)
Dengan mengasumsikan X= 0
karena definisi ITM pada zero offset,
maka

2 Z cos ic
V1

Tt =

(II.3)
Maka ketebalan lapisan Z dapat
ditentukan dengan persamaan
Z=

1 t 1 v1
2 cos i c

(II.4)
Persamaan waktu tempuh pada ITM
sendiri
dinyatakan
dengan
persamaan
t=

xx 1 y y 1
=
x 2x 1 y 2 y 1

Sehingga, dari persamaan (II.8) di


atas dapat ditentukan ketebalan
lapisan h dengan persamaan
x V V
h c 2 1
2 V2 V1
(II.9)
Persamaan (II.6) dan (II.7) hanya
berlaku pada penembakan forward
dengan m1 dan m2 adalah kemiringan
waktu gelombang langsung dan
gelombang refraksi.
2.4 METODE CRITICAL DISTANCE
Metode CDM bisa digunakan juga
untuk menentukan kedalaman lapisan
pada lapisan datar, banyak lapisan, dan
lapisan miring seperti metode ITM
dengan asumsi asumsi yang sama
dengan metode ITM.
Jarak kritis didapatkan saat critica
refraction muncul pertama kali dan
waktu pembiasan sama dengan waktu
pemantulan, dan sudut bias sama dengan
sudut pantul

(II.5)
Kecepatan lapisan pertama v1 dan
kecepatan lapisan kedua v2 dapat
dinyatakan dengan persamaan
V1 =

y1 y0
x1 x0
dan
V2

y2 y0
x2 x0

1
m1

dengan m1 =

(II.6)

1
m2

dengan

m2

(II.7)

Dari gambar 2 di atas, waktu rambat


gelombang dapat ditentukan dengan
persamaan
x
2h
t

V22 V12
V2 V1V2
(II.8)

Gambar 2 Atas. Gambar grafik


pembiasan gelombang pada lapisan satu.
Bawah. Skema penembakan gelombang
seismik.

3. METODOLOGI
Pengolahan
data
seismik
refraksi dilakukan dengan menggunakan
metode ITM dan CDM. Penelitian
dilaksanakan pada hari Minggu, 29
Maret 2015 pada pukul 09:00 WIB
hingga pukul 10:00 WIB. Bertempat di

daerah Babarsari, Daerah Istimewa


Yogyakarta. Cuaca saat pengambilan
data cerah berawan.
Alat - alat yang digunakan saat
pengambilan data antara lain GPS,
kompas geologi, geofon, OYO McSeis,
palu seismik, meteran, dan bantalan
pemukul

Gambar 3 Gambar alat yang digunakan


untuk akuisisi data seismik. (sumber :
Pandito Adinegara)

III.1 Diagram Alir Pengambilan Data

Gambar 5 Diagram Alir Pengolahan Data

Gambar 4 Diagram Alir Pengambilan Data

Berdasarkan gambar 4 di atas,


pengambilan data diawali dengan :
1. Memasang (geophone) sesuai
bentangan lintasan
2. Menentukan nilai azimuth.
3. Mempersiapkan alat
4. Pengambilan data yang dilakukan
dengan memukulkan palu ke bantalan.
5. Mencatat first break yang dihasilkan.
6. Pengukuran secara reverse dilakukan
setelah pengukuran forward selesai.
III.2 Diagram Alir Pengolahan Data

Berdasarkan gambar 5 di atas,


pengolahan data diawali dengan :
1. Penentuan titik refraktor pada data.
2. mencari nilai V rata rata dan sudut
pembiasan (teta).
3. Mencari kedalaman titik refraktor
forward dan reverse.
4. Membuat, profil kedalaman, dan
grafik T-X.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Grafik T-X Metode ITM


Time (ms)
0

10 20 30 40

Offset (m)
Gelombang Forward
Langsung
Gelombang Forward Bias

didapatkan nilai v1 forward sebesar


426,136 m/s dan nilai v1 reverse
sebesar 312,5 m/s. Nilai v2 forward
sebesar 580,93 m/s dan nilai v2
reverse sebesar 577,5 m/s. Litologi
pada saat v1 dan v2 adalah batupasir
lapuk. Nilai kedalaman terdalam
didapatkan sebesar 11,4 meter dan
nilai kedalaman terdangkal didapatkan
sebesar 3,17 meter. Lapisan bawah
permukaan tersusun atas lapisan lapuk
(Weatherby, 1936).

Gelombang Reverse
Langsung
Gelombang Reverse Bias

Gambar 6 Grafik T-X Metode ITM

Dari
hasil
pengukuran
menggunakan metode ITM, didapatkan
nilai v1 forward sebesar 577,5m/s dan
nilai v1 reverse sebesar 580,9 m/s. Nilai
v2 forward 577,496 m/s dan nilai v2
reverse sebesar 580,929 m/s. nilai v1
dan v2 didapatkan pada litologi
batupasir lapuk. Nilai kedalaman z
sebesar 38 cm pada kedalaman
terdangkal dan 8,5 meter pada
kedalaman terdalam. Lapisan di bawah
permukaan tersusun atas lapisan lapuk
(Weatherby, 1936)

Grafik T-X Metode CDM


Time (ms)
0

10 20 30 40

Offset (m)
Gelombang Forward
Langsung
Gelombang Forward Bias
Gelombang Reverse
Langsung
Gelombang Reverse Bias

Gambar 7 Grafik T-X Metode CDM

Dari
hasil
pengukuran
menggunakan metode CDM di atas,

Gambar 8 Peta Kedalaman Lapisan Metode


ITM

Peta di atas adalah peta


kedalaman lapisan pada daerah
penelitian
dengan
menggunakan
metode ITM. Terlihat bahwa terdapat
kedalaman yang cukup bervariasi.
Kedalaman dengan rentang nilai
rendah ditandai dengan kontras warna
ungu hingga biru pada nilai -18 meter
hingga -11 meter. Kedalaman sedang
ditandai dengan kontras warna hijau
dengan nilai antara -11 meter hingga
-6 meter. Dan nilai kedalaman yang
tinggi berada pada rentang nilai -6
meter hingga 1 meter ditandai dengan
warna merah.

ditandai dengan warna hijau dengan


rentang nilai -6 meter hingga -3,5
meter. Sedangkan nilai kedalaman
dangkal ditandai dengan warna merah
dengan rentang nilai -3,5 meter hingga
1 meter.

Gambar 9 Peta Kedalaman Lapisan Metode


CDM

Peta di atas adalah peta


kedalaman lapisan pada daerah
penelitian
dengan
menggunakan
metode CDM. Terlihat perbedaan
dengan peta kedalaman lapisan
dengan menggunakan metode ITM.
Perbedaan tersebut berada pada pola
kontur dan nilai pada skala warna.
Pada peta di atas, kedalaman dalam
ditandai dengan
kontras warna ungu hingga biru
dengan rentang nilai antara -10 meter
hingga -6 meter. Kedalaman sedang

5. KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini
antara lain :
1. Nilai kecepatan v1 rata-rata
pada metode ITM adalah 369,318 m/s
dengan nilai kedalaman terdangkal 38
cm dan nilai kedalaman terdalam
sebesar 8,5 meter.
2. Nilai kecepatan v1 rata-rata
pada metode CDM adalah 369,318
m/s dan nilai kecepatan v2 rata-rata
pada metode CDM adalah 579,213
m/s. Nilai kedalaman terdangkal
didapatkan pada kedalaman 3,17
meter dan nilai kedalaman terdalam
didapatkan sebesar 11,4 meter.
3. Terdapat perbedaan nilai
kedalaman pada kedua metode. Tetapi
profil yang dihasilkan serupa. Dengan
arah kemiringan yang sama.
6. DAFTAR PUSTAKA
Staff Asisten Praktikum Seismik
Refraksi.2015.Buku
Panduan
Praktikum
Seismik
Refraksi.Yogyakarta.