Anda di halaman 1dari 10

http://medlinux.blogspot.com/2007/09/resusitasi-jantung-paru.

html
http://en.wikipedia.org/wiki/Cardiopulmonary_resuscitation#Histor
y
RESUSITASI JANTUNG PARU
Resusitasi jantung paru tidak dilakukan pada semua penderita yang mengalami
gagal jantung atau pada orang yang sudah mengalami kerusakan pernafasan
atau sirkulasi yang tidak ada lagi kemungkinan untuk hidup, melainkan yang
mungkin untuk hidup lama tanpa meninggalkan kelainan di otak5.
Keberhasilan resusitasi dimungkinkan oleh adanya waktu tertentu diantara mati
klinis dan mati biologis. Mati klinis terjadi bila dua fungsi penting yaitu pernafasan
dan sirkulasi mengalami kegagalan total. Jika keadaan ini tidak ditolong akan
terjadi mati biologis yang irreversibel. Resusitasi jantung paru yang dilakukan
setelah penderita mengalami henti nafas dan jantung selama 3 menit, presentasi
kembali normal 75 %tanpa gejala sisa. Setelah 4 menit presentasi menjadi 50 %
dan setelah lima menit menjadi 25 %. Maka jelaslah waktu yang sedikit itu harus
dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.
Disamping mati klinis dan biologis dikenal dengan istilah mati social yaitu
keadaan dimana pernafasan dan sirkulasi terjadi spontan atau secara buatan,
namun telah mengalami aktifitas kortikal yang abnormal. Penderita dalam
keadaan sopor atau koma tanpa kemungkinan untuk sembuh dan dinyatakan
dalam keadaan vegetatif.
Agar resusitasi dapat berjalan maksimal tentu saja memerlukan penolong yang
cekatan dan terampil. Waktu satu menit sangat berguna dalam memberikan
pertolongan pertama pada penderita.
II.1. Definisi
Resusitasi jantung paru merupakan usaha yang dilakukan untuk mengembalikan
fungsi pernafasan dan atau sirkulasi pada henti nafas (respiratory arrest) dan
atau henti jantung (cardiac arrest) pada orang dimana fungsi tersebut gagal total
oleh suatu sebab yang memungkinkan untuk hidup normal selanjutnya bila
kedua fungsi tersebut bekerja kembali5.
II.2. Anatomi dan Fisiologi
Pemakaian oksigen dan pengeluaran karbon dioksida sangat diperlukan untuk
menjalankan fungsi normal selular didalam tubuh. Pemakaian tersebut melalui
suatu proses pernafasan sehingga secara harfiah pernafasan dapat diartikan
pergerakan oksigen dari atmosfer menuju sel ke udara bebas. Proses
pernafasan terdiri dari beberapa langkah dimana sistem pernafasan, sistem saraf
pusat dan sistem kardiovaskuler memegang peranan yang sangat penting1.
II.2.1. Anatomi dan Fisiologi Saluran Pernafasan
Saluran pernafasan udara mulai dari hidung hingga mencapai paru adalah :

hidung, faring, laring, trakhea, bronkhus dan bronkhiolus1.


Saluran pernafasan dari hidung sampai bronkhiolus dilapisi oleh membran
mukosa yang bersilia. Ketika udara masuk ke dalam rongga hidung udara
tersebut disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Kemudian udara mengalir ke
faring menuju laring.
Laring merupakan rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otak
dan mengandung pita suara. Diantara pita suara terdapat ruang berbentuk
seperti sepatu kuda yang panjangnya kurang lebih 5 inci. Permukaan posterior
agak pipih dan letaknya tepat didepan esofagus.
Bronkhus utama kanan dan kiri tidak simetris, yang kanan lebih pendek, lebih
lebar dan merupakan kelanjutan trakhea. Cabang utama bronkhus kanan dan kiri
bercabang lagi menjadi bronkhus lobaris dan bronkhus segmentalis.
Percabangan ini berjalan terus menjadi bronkhus yang ukurannya semakin kecil
yang berakhir menjadi bronkhiolus terminalis.
Oksigen pada proses pernafasan dipindahkan dari udara luar ke dalam jaringan
dan stadium pertama ventilasi, yaitu masuknya campuran gas ke dalam dan
keluar paru. Transportasi masuknya campuran gas yang keluar masuk paru
terdiri dari beberapa aspek1, yaitu :
1.Difusi gas antara alveolus dan kapiler paru, dan antara darah sistemik dan sel
jaringan.
2.Distribusi darah dalam sirkulasi pulmoner dan penyesuaiannya dengan
distribusi udara dalam alveolus.
3.Reaksi kimia dan fisik dari oksigen dan karbondioksida dengan darah.
Stadium yang ketiga adalah respirasi sel, yaitu saat dimana metabolit dioksida
untuk mendapatkan energi dan karbondioksida terbentuk sebagai sampah
metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru- paru.
II.2.2. Anatomi dan Fisiologi Kardiovaskuler
Jantung merupakan salah satu organ yang terletak dalam mediastinum di rongga
dada, yaitu diantara kedua paru. Perikardium sendiri terbagi menjadi dua, yaitu
perikardium parietalis dan pericardium visceralis. Perikardium parietalis melekat
pada tulang dada sebelah depan dan kolumna vertebralis bagian belakang,
sedangkan ke bawah pada diafragma. Perikardium visceralis langsung melekat
pada permukaan jantung. Jantung sendiri terbagi dari 3 lapisan yaitu epikardium
(lapisan terluar), miokardium (lapisan dalam) dan endokardium (lapisan
terdalam)1.
Ruangan jantung terbagi menjadi 2 bagian jantung bagian atas atrium dan
ventrikel terletak sebelah bawah, yang secara anatomi mereka terpisah oleh
suatu annulus fibrosus. Keempat katup jantung terletak dalam cincin ini. Secara
fungsinal jantung terbagi menjadi dua yaitu alat pompa kanan dan alat pompa kiri
yang memompa darah sistemik. Pembagian fungsi ini mempermudah
konseptualisasi dari urutan aliran darah secara anatomi.
Fisiologi siklus jantung ventrikel kiri memompa darah ke aorta melalui katup
semilunaris aorta, dari aorta darah akan dialirkan menuju arteri kemudian ke
jaringan melalui cabang kecil arteri (arteriola), dari arteriola kemudian menuju ke
venula. Kemudian akan melalui vena darah akan dialirkan ke atrium kanan, dari

atrium kanan darah menuju ventrikel kanan melalui katup trikuspidalis, dari
ventrikel kanan kemudian darah dipompa menuju arteri pulmonalis melewati
katup semilunaris pulmonalis. Dari arteri pulmonalis ke pulmo. Dari pulmo darah
keluar melalui vena pulmonalis ke atrium kiri, dari atrium kiri kemudian menuju
ventrikel kiri melalui katup bicuspidalis atau mitralis. Demikian seterusnya darah
akan mengalir melalui siklus tersebut1.
II.3. Etiologi
Resusitasi jantung paru bertujuan untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan
atau sirkulasi, dan penanganan akibat henti nafas (respiratory arrest) dan atau
henti jantung (cardiac arrest), yang mana fungsi tersebut gagal total oleh sebab
yang memungkinkan untuk hidup normal5.
Adapun sebab henti nafas adalah :
1.Sumbatan jalan nafas
Bisa disebabkan karena adanya benda asing, aspirasi, lidah yang jatuh ke
belakang, pipa trakhea terlipat, kanula trakhea tersumbat, kelainan akut glotis
dan sekitarnya (sembab glotis, perdarahan).
2.Depresi pernafasan
Sentral : obat, intoksikasi, Pa O2 rendah, Pa CO2 tinggi, setelah henti jantung,
tumor otak dan tenggelam.
Perifer : obat pelumpuh otot, penyakit miastenia gravis, poliomyelitis.
Sebab- sebab henti jantung4,5 :
Penyakit kardiovaskuler
Penyakit jantung sistemik, infark miokardial akut, embolus paru, fibrosis pada
sistem konduksi (penyakit lenegre, sindrom adams stokes, noda sinus
atrioventrikulaer sakit).
Kekurangan oksigen akut
Henti nafas, benda asing di jalan nafas, sumbatan jalan nafas oleh sekresi,
asfiksia dan hipoksia.
Kelebihan dosis obat dan gangguan asam basa
Digitalis, quinidin, antidepresan trisiklik, propoksifen, adrenalin dan isoprenalin.
Kecelakaan
Syok listrik dan tenggelam.
Refleks vagal
Peregangan sfingter anii, penekanan atau penarikan bola mata.
Anestesi dan pembedahan.
Terapi dan tindakan diagnostik medis
Syok (hipovolemik, neurogenik, toksik dan anafilaktik)
Kebanyakan henti jantung yang terjadi di masyarakat merupakan akibat penyakit
jantung iskemik, 40 % mati mendadak. Dari penyakit jantung iskemik terjadi
dalam waktu satu jam setelah dimulainya gejala dan proporsinya lebih tinggi,
sekitar 60 % diantara umur pertengahan dan yang lebih muda. Lebih dari 90 %
kematian yang terjadi di luar rumah sakit disebabkan oleh fibrilasi ventrikuler,
suatu kondisi yang potensial reversibel1.

BAB III
PEMBAHASAN
Henti jantung dan henti nafas bukanlah kejadian yang sering terjadi walaupun di
Rumah Sakit. Pada banyak kasus sebenarnya kematian mendadak sebagai
akibat sroke infark, kelebihan dosis obat dan trauma hebat, dapat dicegah bila
tindakan resusitasi dilakukan secara tepat. Setiap tenaga kesehatan harus
menguasai teknik resusitasi jantung paru. Pada tahun 1974, The American
Association menerbitkan penuntun pertama teknik bantuan hidup ini kemudian
direvisi pada tahun 1980, tahun 1986 di negara lain mengikutinya1,4.
Pengajaran resusitasi jantung paru otak dibagi dalam 3 fase, yaitu : Bantuan
Hidup Dasar (BDH), Bantuan Hidup Lanjut (BHL), Bantuan Hidup Jangka Lama.
Dan dalam 9 langkah dengan menggunakan huruf abjad dari A sampai I2,5.
Fase I : untuk oksigenasi darurat, terdiri dari (A) Airway Control : penguasaan
jalan nafas. (B) Breathing Support : ventilasi bantuan dan oksigen paru darurat.
(C) Circulation Support : pengenalan tidak adanya denyut nadi dan pengadaan
sirkulasi buatan dengan kompresi jantung, penghentian perdarahan dan posisi
untuk syok.
Fase II : untuk memulai sirkulasi spontan terdiri dari (D) Drugs and Fluid
Intravenous Infusion : pemberian obat dan cairan tanpa menunggu hasil EKG.
(E) Electrocardioscopy (Cardiography) dan (F) Fibrillation Treatment : biasanya
dengan syok listrik (defibrilasi).
Fase III : untuk pengelolaan intensif pasca resusitasi, terdiri dari (G) Gauging :
menetukan dan memberi terapi penyebab kematian dan menilai sejauh mana
pasien dapat diselamatkan. (H) Human Mentation : SSP diharapkan pulih
dengan tindakan resusitasi otak yang baru dan (I) Intensive Care : resusitasi
jangka panjang.
Dalam makalah ini hanya dibicarakan resusitasi jantung paru yang memang
harus betul- betul dikuasai oleh setiap tenaga kesehatan terutama mereka yang
bekerja di bidang anesthesia, unit darurat, kamar operasi dan kamar bersalin3.
III.1. Fase I (Bantuan Hidup Dasar)

Bila terjadi nafas primer, jantung terus dapat memompa darah selama beberapa
menit dan sisa O2 yang berada dalam paru darah akan terus beredar ke otak
dan organ vital lain. Penanganan dini pada korban dengan henti nafas atau
sumbatan jalan nafas dapat mencegah henti jantung. Bila terjadi henti jantung
primer, O2 tidak beredar dan O2 yang tersisa dalam organ vital akan habis
dalam beberapa detik. Henti jantung dapat disertai dengan fenomena listrik
berikut : fibrilasi fentrikular, takhikardia fentrikular, asistol ventrikular atau
disosiasi elektromekanis5.
Penilaian tahapan BHD sangat penting. Tindakan resusitasi meliputi posisi
pembukaan jalan nafas buatan dan kompresi dada luar dilakukan kalau memang
betul dibutuhkan. Ini ditentukan penilaian yang tepat. Setiap langkah ABC RJP
dimulai dengan penentuan tidak ada respon, tidak ada nafas dan tidak ada nadi.
Pada korban yang tiba- tiba kolaps, kesadaran harus segera ditentukan dengan
tindakan goncangan atau teriak yang terdiri dari menggoncangkan korban
dengan lembut dan memanggil keras. Bila tidak dijumpai tanggapan hendaknya
korban diletakkan dalam posisi terlentang dan ABC BHD hendaknya dilakukan.
Sementara itu mintalah pertolongan dan bila mungkin aktifitaskan sistem
pelayanan medis darurat2,5.
III.1.1. Airway (Jalan Nafas)
Sumbatan jalan nafas oleh lidah yang menutupi dinding posterior faring adalah
merupakan persoalan yang sering timbul pada pasien yang tidak sadar dengan
posisi terlentang. Resusitasi tidak akan berhasil bila sumbatan tidak diatasi. Tiga
cara telah dianjurkan untuk menjaga agar jalan nafas tetap terbuka yaitu dengan
metode ekstensi kepala angkat leher, metode ekstensi kepala angkat dagu dan
metode angkat dagu dorong mandibula, dimana metode angkat dagu dorong
mandibula lebih efektif dalam membuka jalan nafas atas daripada angkat leher5.
Pendorongan mandibula saja tanpa ekstensi kepala juga merupakan metode
paling aman untuk memelihara jalan nafas atas tetap terbuka, pada pasien
dengan dugaan patah tulang leher. Bila korban yang tidak sadar bernafas
spontan dan adekuat dengan tidak ada sianosis, korban sebaiknya diletakkan
dalam posisi mantap untuk mencegah aspirasi. Bila tidak diketahui atau dicurigai
ada trauma kepala dan leher, korban hanya digerakkan atau dipindahkan bila
memang mutlak diperlukan karena gerak yang tidak betul dapat mengakibatkan
paralisis pada korban dengan cedera leher. Disini teknik dorong mandibula tanpa
ekstensi kepala merupakan cara yang paling aman untuk membuka jalan nafas,
bila dengan ini belum berhasil dapat dilakukan sedikit ekstensi kepala.
III.1.2. Breathing (Pernafasan)
Setelah jalan nafas terbuka, penolong hendaknya segera menilai apakah pasien
dapat bernafas spontan atau tidak. Ini dapat dilakukan dengan mendengarkan
gerak nafas pada dada korban. Bila pernafasan spontan tidak timbul kembali
diperlukan ventilasi buatan5.
Untuk melakukan ventilasi mulut ke mulut penolong hendaknya
mempertahankan kepala dan leher korban dalam salah satu sikap yang telah
disebutkan diatas dan memencet hidung korban dengan satu tangan atau dua

kali ventilasi dalam. Kemudian segera raba denyut nadi karotis atau femoralis.
Bila ia tetap henti nafas tetapi masih mempunyai denyut nadi diberikan ventilasi
yang dalam sebesar 800 ml sampai 1200 ml setiap 5 detik4,5.
Bila denyut nadi karotis tidak teraba, dua kali ventilasi dalam harus diberikan
sesudah tiap 15 kompresi dada pada resusitasi yang dilakukan oleh seorang
penolong dan satu ventilasi dalam sesudah tiap 5 kompresi dada pada yang
dilakukan oleh 2 penolong. Tanda ventilasi buatan yang adekuat adalah dada
korban yang terlihat naik turun dengan amplitudo yang cukup ada udara keluar
melalui hidung dan mulut korban selama respirasi sebagai tambahan selama
pemberian ventilasi pada korban, penolong dapat merasakan tahanan dan
pengembangan paru korban ketika diisi5.
Pada beberapa pasien ventilasi mulut ke hidung mungkin lebih efektif daripada
fentilasi mulut ke mulut. Ventilasi mulut ke stoma hendaknya dilakukan pada
pasien dengan trakeostomi. Bila ventilasi mulut ke mulut atau mulut ke hidung
tidak berhasil baik walaupun jalan nafas telah dicoba dibuka, faring korban harus
diperiksa untuk melihat apakah ada sekresi atau benda asing.
Pada tindakan jari menyapu, korban hendaknya digulingkan pada salah satu
sisinya. Sesudah dengan paksa membuka mulut korban dengan satu tangan
memegang lidah dan rahangnya, penolong memasukkan jari telunjuk dan jari
tengah tangan yang lain kedalam satu sisi mulut korban dalam satu gerakan
menyapu. Bila tindakan ini gagal untuk mengeluarkan benda asing, hendaknya
dikerjakan hentakan abdomen atau hentakan dada, sehingga tekanan udara
dalam abdomen meningkat dan akan mendorong benda untuk keluar.
Hentakan dada dilakukan pada korban yang terlentang, teknik ini sama dengan
kompresi dada luar. Urutan yang dianjurkan adalah5 :
Berikan 6 sampai 10 kali hentakan abdomen.
Buka mulut dan lakukan sapuan jari.
Reposisi pasien, buka jalan nafas dan coba beri ventilasi buatan dapat dilakukan
dengan sukses.
Bila sesudah dilakukan gerak tripel (ekstensi kepala, buka mulut dan dorong
mandibula), pembersihan mulut dan faring ternyata masih ada sumbatan jalan
nafas, dapat dicoba pemasangan pipa jalan nafas. Bila dengan ini belum berhasil
perlu dilakukan intubasi trakheal. Bila tidak mungkin atau tidak dapat dilakukan
intubasi trakheal, sebagai alternatifnya adalah krikotomi atau fungsi membrane
krikotiroid dengan jarum berlumen besar (misal dengan kanula intravena 14 G).
Bila masih ada sumbatan di bronkhus maka perlu tindakan pengeluaran benda
asing dari bronkhus atau terapi bronkhospasme dengan aminophilin atau
adrenalin5.
III.1.3. Circulation (Sirkulasi)
Bantuan ketiga dalam BHD adalah menilai dan membantu sirkulasi. Tandatanda henti jantung adalah5 :
Kesadaran hilang dalam waktu 15 detik setelah henti jantung.
Tak teraba denyut nadi arteri besar (femoralis dan karotis pada orang dewasa
atau brakhialis pada bayi).
Henti nafas atau megap- megap.

Terlihat seperti mati.


Warna kulit pucat sampai kelabu.
Pupil dilatasi (45 detik setelah henti jantung)
Tidak ada nadi yang teraba pada arteri besar, pemeriksaan arteri karotis sesering
mungkin merupakan tanda utama henti jantung. Diagnosis henti jantung dapat
ditegakkan bila pasien tidak sadar dan tidak teraba denyut arteri besar.
Pemberian ventilasi buatan dan kompresi dada luar diperlukan pada keadaan
sangat gawat.
Korban hendaknya terlentang pada permukaan yang keras agar kompresi dada
luar yang dilakukan efektif. Penolong berlutut di samping korban dan meletakkan
sebelah tangannya diatas tengah pertengahan bawah sternum korban sepanjang
sumbu panjangnya dengan jarak 2 jari dari persambungan episternum. Tangan
penolong yang lain diletakkan diatas tangan pertama, jari- jari terkunci dengan
lurus dan kedua bahu tepat diatas sternum korban, penolong memberikan
tekanan ventrikel ke bawah yang cukup untuk menekan sternum 4 sampai 5 cm.
Setelah kompresi harus ada relaksasi, tetapi kedua tangan tidak bo;eh diangkat
dari dada korban, dianjurkan lama kompresi sama dengan lama relaksasi. Bila
ada satu penolong, 15 kompresi dada luar (laju 80 sampai 100 kali/ menit) harus
diikuti dengan pemberian 2 kali ventilasi dalam (2 sampai 3 detik). Dalam satu
menit harus ada 4 siklus kompresi dan ventilasi (yaitu minimal 60 kompresi dada
dan 8 ventilasi). Jadi 15 kali kompresi dan 2 ventilasi harus selesai maksimal
dalam 15 detik. Bila ada 2 penolong, kompresi dada diberikan oleh satu
penolong dengan laju 80 sampai 100 kali/ menit dan pemberian satu kali ventilasi
dalam 1 sampai 1,5 detik oleh penolong kedua sesudah tiap kompresi kelima.
Dalam satu menit minimal harus ada 60 kompresi dada dan 12 ventilasi. Jadi
lima kompresi dan satu ventilasi maksimal dalam 5 detik5.
Kompresi dada harus dilakukan secara halus dan berirama. Bila dilakkan dengan
benar, kompresi dada luar dapat menghasilkan tekanan sistolik lebih dari 100
mmHg, dan tekanan rata- rata 40 mmHg pada arteri karotis. Kompresi dada tidak
boleh terputus lebih dari 7 detik setiap kalinya, kecuali pada intubasi trakheal,
transportasi naik turun tangga dapat sampai 15 detik. Sesudah 4 daur kompresi
dan ventilasi dengan rasio 15 : 2, lakukan reevaluasi pada pasien. Periksa
apakah denyut karotis sudah timbul (5 detik). Bila tidak ada denyut lanjutkan
dengan langkah berikut.
Periksa pernafasan 3 sampai 5 detik bila ada, pantau pernafasan dan nadi
dengan ketat. Bila tidak ada lakukan ventilasi buatan 12 kali per menit dan
pantau nadi dengan ketat. Bila RJP dilanjutkan beberapa menit dihentikan,
periksa apakah sudah timbul nadi dan ventilasi spontan begitu seterusnya.
III.2 Fase II (Bantuan Hidup Lanjut)
Bantuan hidup lanjut berhubungan dengan teknik yang ditujukan untuk
memperbaiki ventilasi dan oksigenasi korban dan pada diagnosis serta terapi
gangguan irama utama selama henti jantung. Bantuan hidup dasar memerlukan
peralatan khusus dan penggunaan obat. Harus segera dimulai bila diagnosis
henti jantung atau henti nafas dibuat dan harus diteruskan sampai bantuan hidup
lanjut diberikan. Setelah dilakukan ABC RJP dan belum timbul denyut jantung

spontan, maka resusitasi diteruskan dengan langkah DEF5.


III.2.1. Drug and Fluid (Obat dan Cairan)
Tanpa menunggu hasil EKG dapat diberikan2,5 :
1.Adrenalin : 0,5 1,0 mg dosis untuk orang dewasa, 10 mcg/ kg pada anakanak. Cara pemberian : iv, intratrakeal lewat pipa trakeal (1 ml adrenalin
diencerkan dengan 9 ml akuades steril, bukan NaCl, berarti dalam 1 ml
mengandung 100 mcg adrenalin). Jika keduanya tidak mungkin : lakukan
intrakardial (hanya oleh tenaga yang sudah terlatih). Di ulang tiap 5 menit
dengan dosis sama sampai timbul denyut spontan atau mati jantung.
2.Natrium Bikarbonat : dosis mula 1 mEq/ kg (bila henti jantung lebih dari 2
menit) kemudian dapat diulang tiap 10 menit dengan dosis 0,5 mEq/ kg sampai
timbul denyut jantung spontan atau mati jantung, cara pemberian hanya iv.
Penggunaan natrium bikarbonat tidak lagi dianjurkan kecuali pada resusitasi
yang lama, yaitu pada korban yang diberi ventilasi buatan yang lama dan efisien,
sebab kalau tidak asidosis intraseluler justru bertambah dan tidak berkurang.
Penjelasan untuk keanehan ini bukanlah hal yang baru. CO2 yang tidak
dihasilkan dari pemecahan bikarbonat segera menyeberangi membran sel jika
CO2 tidak diangkut oleh respirasi.
III.2.2. EKG
Meliputi fibrilasi ventrikuler, asistol ventrikuler dan disosiasi elektro mekanis.
III.2.3. Fibrilation Treatment (Terapi Fibrilasi)
Elektroda dipasang disebelah kiri puting susu kiri disebelah kanan sternum atas,
defibrilasi luar arus searah5 :
200 300 joule pada dewasa.
100 200 joule pada anak.
50 100 joule pada bayi.
III.3. Fase III (Bantuan Hidup Jangka Lama atau Pengelolaan Pasca Resusitasi)
Jenis pengelolaan pasien yang diperlukan pasien yang telah mendapat resusitasi
bergantung sepenuhnya kepada resusitasi. Pasien yang mempunyai defisit
neurologis dan tekanan darah terpelihara normal tanpa aritmia hanya
memerlukan pantauan intensif dan observasi terus menerus terhadap sirkulasi,
pernafasan, fungsi otak, ginjal dan hati. Pasien yang mempunyai kegagalan satu
atau lebih dari satu sistem memerlukan bantuan ventilasi atau sirkulasi, terapi
aritmia, dialisis atau resusitasi otak5.
Organ yang paling terpengaruh oleh kerusakan hipoksemik dan iskemik selama
henti jantung adalah otak. Satu dari lima orang yang selamat dari henti jantung
mempunyai defisit neurologis. Bila pasien tetap tidak sadar, hendaknya dilakukan
upaya untuk memelihara perfusi dan oksigenasi otak. Tindakan ini meliputi
penggunaan agen vasoaktif untuk memelihara tekanan darah sistemik yang
normal, penggunaan steroid untuk mengurangi sembab otak dan penggunaan
diuretik untuk menurunkan tekanan intracranial. Oksigen tambahan hendaknya
diberikan dan hiperventilasi derajad sedang juga membantu2,5.

III.4. Keputusan Untuk Mengakhiri Upaya Resusitasi


Semua tenaga kesehatan dituntut untuk memulai RJP segera setelah diagnosis
henti nafas atau henti jantung dibuat, tetapi dokter pribadi korban hendaknya
lebih dulu diminta nasehatnya sebelum upaya resusitasi dihentikan. Tidak sadar
ada pernafasan spontan dan refleks muntah dan dilatasi pupil yang menetap
selama 15 sampai 30 menit atau lebih merupakan petunjuk kematian otak
kecuali pasien hipotermik atau dibawah efek barbiturat atau dalam anesthesia
umum. Akan tetapi tidak adanya tanggapan jantung terhadap tindakan resusitasi.
Tidak ada aktivitas listrik jantung selama paling sedikit 30 menit walaupun
dilakukan upaya RJP dan terapi obat yang optimal menandakan mati jantung2,5.
Seseorang dilakukan mati bilamana1 :
1)Fungsi spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti atau
irreversibel.
2)Tidak terbukti terjadi kematian batang otak dalam keadaan darurat, tidak
mungkin untuk menegakkan diagnosis mati batang otak. Dalam resusitasi
darurat, seseorang dinyatakan mati, jika :
Terdapat tanda- tanda mati jantung.
Sesudah dimulai resusitasi pasien tetap tidak sadar, tidak timbul ventilasi
spontan dan refleks muntah serta pupil tetap dilatasi selama 15 sampai 30 menit
atau lebih, kecuali kalau pasien hipotermik atau dibawah pengaruh barbiturat
atau anestesia umum.
Dalam keadaan darurat resusitasi dapat diakhiri bila ada salah satu dari berikut
ini5 :
Telah timbul kembali sirkulasi dan ventilasi spontan yang efektif.
Upaya resusitasi telah diambil alih oleh orang lain yang lebih bertanggung jawab
meneruskan resusitasi (bila tidak ada dokter).
Seorang dokter mengambil alih tanggung jawab (bila tidak ada dokter
sebelumnya).
Penolong terlalu capek sehingga tak sanggup meneruskan resusitasi.
Pasien dinyatakan mati
Setelah dimulai resusitasi ternyata diketahui bahwa pasien berada dalam
stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau hampir
dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tak akan pulih (yaitu sesudah setengah
atau satu jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP).
BAB III
KESIMPULAN
Dengan penemuan tindakan diagnostik dan resusitasi mutakhir maka kematian
tidak dianggap sebagai saat berhenti kerja jantung. Sekarang dikenal spektrum
keadaan fisiologik yang meliputi kematian klinis, serebral dan organis. Tanpa
pertolongan tindakan resusitasi maka henti sirkulasi akan menyebabkan
disfungsi serebral dan kemudian organis dengan kerusakan sel irreversibel.
Resusitasi untuk mengembalikan fungsi nafas dan sirkulasi akibat dari henti
nafas dan henti jantung, yang dilakukan setelah tiga menit presentasi

keberhasilan 75 %, jika setelah empat menit presentasi keberhasilan 50 % dan


setelah lima menit maka presentasi keberhasilan resusitasi menjadi 25 %.
Tindakan awal yang harus dilakukan pada penderita henti jantung paru adalah
melakukan ABC, yang merupakan Bantuan Hidup Dasar fase I, Bantuan Hidup
Lanjut fase II meliputi DEF dan dilanjutkan dengan fase III meliputi GHI.
Resusitasi jantung paru ini dilakukan pada pasien yang mungkin hidup lama dan
tanpa meninggalkan kelainan pada otak. Keberhasilan resusitasi ini tergantung
dari penyebab, waktu penderita mulai ditolong, ketrampilan penolong, alat
penunjang dan tenaga medis yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
1.Prince and Wilson, Patofisiologi, Konsep Klinis Proses- Proses Penyakit, Edisi
IV, Jilid I & II, EGC, Jakarta, 1994.
2.S. Sunartio, Jusrafli Joenoerham, Anestesiologi, Fakultas Kedokteran UI,
Jakarta, 1989.
3.Snow JC, Manual of Anesthesia, Boston, Tokyo : Little, Brown and co. 2nd ed,
Igaku Shion Ltd, 1980.
4.Caltron DG, Test Anestesiologist Hand Books, Baltimore, London, Tokyo :
University Park Press, 1977.
5.Olaan Sm Siahaan, Resusitasi Jantung Paru dan Otak, Cermin Dunia
Kedokteran, No. 80, Edisi Khusus, 1992.