Anda di halaman 1dari 20

I.

PENDAHULUAN

Prostodonsi adalah salah satu cabang ilmu kedokteran gigi yang


mencakup tentang restorasi dan pemeliharaan fungsi mulut dengan mengganti gigi
dan struktur yang hilang dengan suatu gigi pengganti atau gigi tiruan.
Seseorang yang telah kehilangan gigi-giginya maka ia akan mengalami
gejala-gejala sebagai berikut :
- Terganggunya fungsi pengunyahan
- Terganggunya fungsi bicara
- Terganggunya fungsi estetis
- Kesehatan jaringan lunak mulut terganggu
- Dapat menimbulkan rasa sakit maupun penyakit
Ilmu prostodonsi meliputi :
1. Gigi Tiruan Sebagian Lepasan
2. Gigi Tiruan Sebagian Cekat
3. Gigi Tiruan Lengkap
Gigi tiruan lengkap adalah bagian dari prostodonsia yang mencakup
restorasi dan prosedur yang dilakukan pada pasien yang kehilangan seluruh
giginya.
Tujuan pembuatan GTL adalah :
1. Merehabilitasi seluruh gigi yang hilang sehingga dapat memperbaiki
atau mengembalikan fungsi bicara, pengunyahan, estetis, dan psikis.
2. Merehabilitasi seluruh gigi yang hilang serta jaringannya sehingga dapat
memperbaiki kelainan, gangguan dan penyakit yang disebabkan oleh
keadaan edentulous.
3. Seseorang yang telah kehilangan gigi geliginya, akan terjadi
pengkerutan (atropi) pada processus alveolaris. Pengkerutan processus
alveolaris ini biasanya berjalan 2 3 minggu, tetapi ada yang sampai
berbulan-bulan

Gigi Tiruan Lengkap dikatakan baik apabila :


1. Enak dipakai (nyaman dan menyenangkan)
2. Dapat berfungsi untuk mengunyah dan bicara
3. Tampak cukup estetis (pemakai tampak lebih muda, lebih cantik atau
lebih bagus)
4. Tidak menimbulkan gangguan, rasa sakit, kelainan dan penyakit.
5. Cukup kuat
Selama berfungsi rahang bawah berusaha berkontak dengan rahang atas
sehingga dengan tidak adanya gigi-gigi RA dan RB akan menyebabkan hilangnya
oklusi sentrik sehingga mandibula menjadi protrusi dan hal ini menyebabkan
malposisi temporo-mandibulair joint.
Dengan pembuatan gigi tiruan lengkap diharapkan dapat menggantikan
fungsi dari gigi asli yang telah hilang dan jaringan gigi. Keberhasilan dari
pembuatan GTL ini tergantung dari retensi yang dapat menimbulkan efek
psikologis dan dukungan dari jaringan sekitarnya sehingga dapat dipertahankan
keadaan jaringan yang normal.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Gigi tiruan lengkap adalah suatu penggantian gigi-gigi asli dalam suatu
lengkung dan menggabungkan bagian-bagiannya dengan penggantian artifisial
(The Academy of Prosthodontic, 1994). Soelarko dan Wachijati memakai istilah
Full Denture atau Complete Denture yang artinya suatu gigi tiruan yang
menggantikan seluruh gigi pada suatu lengkung rahang, sehingga ada istilah :
-

Upper Full Denture yaitu geligi tiruan penuh rahang atas dan

Lower Full Denture yaitu geligi tiruan penuh rahang bawah.

Indikasi pembuatan gigi tiruan lengkap adalah :


1. Individu yang seluruh gigi-giginya telah tanggal atau dicabut.
2. Individu yang masih mempunyai beberapa gigi tetapi harus dicabut
karena :
o Kesehatan / kerusakan gigi yang masih ada tidak mengkin
diperbaiki.
o Bila dibuatkan gigi tiruan sebagian , gigi yang masih ada
akan mengganggu keberhasilannya.
3. Kondisi umum dan kondisi mulut sehat
4. Ada persetujuan mengenai waktu, biaya, prognosa yang akan diperoleh.
Faktor retensi dan stabilisasi adalah faktor yang penting dalam
keberhasilan gigi tiruan lengkap. Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi GTL,
khususnya untuk GTL rahang atas, yaitu :
1. Faktor fisis :
2. Peripherial seal (sepanjang tepi GTL)
3. Postdam area atau posterior palatal seal (khusus pada rahang atas)
4. Adaptasi yang baik antara gigi tiruan dengan mukosa mulut
Luasnya permukaan basis gigi tiruan yang menempel pada mukosa
(fitting surface)
5. Residual ridge oleh karena disini tidak ada lagi gigi yang dapat dipakai
sebagai pegangan.

6. Faktor kompresibilitas jaringan lunak dan tulang dibawahnya untuk


menghindari rasa sakit dan terlepasnya gigi tiruan pada saat berfungsi.
Menurut Soelarko dan Wahchijati (1980), retensi didapat dari gravitasi,
adhesi, tekanan atmosfer, dan surface tension.
Tahap awal setelah pasien dianamnesa dan diindikasi adalah pencetakan
(impression), yaitu suatu bentuk negatif dari jaringan mulut yang akan dipakai
sebagai basal seat protesa (Swenson, 1964). Soelarko dan Wachiyati membagi 2
macam cetakan, yaitu :
1. Cetakan Anatomis (dalam keadaan tidak berfungsi)
Pencetakan tidak menghiraukan tertekan atau tidaknya mukosa mulut.
Cetakan dilakukan dengan sendok cetak biasa (stock tray), bahan yang
digunakan adalah compound, alginat.
2. Cetakan Physiologis (dalam keadaan berfungsi)
Pencetakan ini memperhatikan jaringan bergerak dan tidak bergerak,
juga memperhatikan tertekannya mukosa. Digunakan sendok cetak
individual yang dibuat dari shellac atau self curinga acrylic resin. Bahan
cetak yang digunakan adalah plaster (xanthano), Zn-Oxyd pasta atau
rubber base impression paste.
Di dalam mulut, pembuatan gigi tiruan lengkap perlu diperhatikan keadaan
jaringan di dalam mulut, yaitu jaringan yang bergerak maupun yang tidak
bergerak. Jaringan yang tidak bergerak ini dijadikan landasan dari gigi tiruan
penuh. Dengan membuat batas antara jaringan mulut bergerak dan jaringan mulut
tidak bergerak yang serapi-rapinya dan seakurat mungkin akan mempengaruhi
hasil dan suksesnya pembuatan gigi tiruan lengkap
Di Fakultas Kedokteran Gigi UGM individual tray dibuat dari sellac base
material. Jarak pinggir sendok cetak dengan fornik dibuat 1-2 mm, supaya tepi
cetakan nanti tidak meruncing tetapi membulat.
Base plate adalah suatu bentuk sementara yang mewakili dasar gigi tiruan
dan digunakan untuk membuat Maxillo-Mandibular Record, menempatkan gigigigi dan untuk insersi ke dalam mulut. Sedangkan bite rim yang disebut juga

tanggul gigitan dibuat diatas base plate yang telah dihaluskan dengan
menggunakan modelling wax (Swenson, 1964). Guna bite rim adalah untuk
meletakkan gigi sebelum diganti dengan acrylic dan mencatat maxillo-mandibular
relation pada pasien. Bite rim atas harus sejajar dengan garis pupil dan bite rim
harus kelihatan kira-kira 2 mm di bawah garis bibir atas dan lehernya harus
mengikuti general out line processus alveolaris (Soelarko dan Wachijati, 1980).
Vertikal dimensi disebut juga tinggi gigitan, yang dapat dicari dengan
pengukuran jarak pupil dan sudut mulut akan sama dengan jarak hidung dengan
dagu (PM=HD) (Soelarko dan Wachijati, 1980). Oklusi sentrik adalah oklusi yang
terjadi ketika RA dan RB dalam relasi sentrik, yaitu keadaan di mana processus
condiloideus berada pada posisi paling belakang dari fossa glenoidea (Swenson,
1964).
Artikulator mounting adalah memasang bite rim rahang atas dan rahang
bawah dari mulut pasien ke artikulator bersama modelnya setelah ditentukan
dimensi vertikal maupun oklusi sentrik (Basker et al, 1996).
Untuk pemasangan gigi yang harus diperhatikan adalah personality
expression, umur, jenis kelamin yang mana nantinya akan berpengaruh dalam
pemilihan ukuran, warna dan kontur gigi. Disamping itu juga perlu diperhatikan
keberadaan over bite, over jet, curve von spee, curve monson, agar diperoleh suatu
keadaan yang diharapkan pada pembuatan gigi tiruan lengkap.

III. L A P O R A N K A S U S
IDENTIFIKASI PASIEN :
Nama

: Sumi

Umur

: 58 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Bangsa

: Indonesia

Alamat

: Terban

Tanggal Pemeriksaan

: 19 Mei 2005

ANAMNESA
PEMERIKSAAN SUBYEKTIF
MOTIVASI
Pasien datang atas kemauan sendiri ingin membuatkan gigi palsu untuk
mengganti gigi palsunya yang lama.
CHIEF COMPLAIN
Pasien merasa gigi palsunya yang lama sudah tidak enak dipakai.
PRESENT ILLNES
Kesulitan untuk mengunyah makanan
PAST DENTAL HISTORY
Pernah membuatkan GTL beberapa tahun yang lalu di RS Sardjito tapi
sekarang sudah tidak enak dipakai.
PAST MEDICAL HISTORY
Sehat, tidak dicurigai menderita penyakit sistemik.
FAMILY HISTORY
Ayah : sudah meninggal, tidak mempunyai kelainan sistemik.
Ibu

: sudah meninggal, tidak mempunyai kelainan sistemik.

PEMERIKSAAN OBYEKTIF
GENERAL
Jasmani

: sehat

Rohani

: komunikatif dan kooperatif

LOKAL
1.

EKSTRA ORAL :
Muka

: simetris, tidak terdapat kelainan

Bibir

: simetris, tidak terdapat kelainan

Pipi

: simetris, tidak terdapat kelainan

Limfonodi

: tidak teraba

2. INTRA ORAL :
Mukosa

: normal, tidak terdapat kelainan

Palatum

: terdapat torus palatinus

Gingiva

: normal, tidak terdapat kelainan

Lidah

: normal, tidak terdapat kelainan

Pemeriksaan Processus alveolaris :


a. Rahang Atas

: - posterior kiri

: rendah

- anterior

: sedang

- posterior kanan

: rendah

b. Rahang Bawah : - posterior kiri

: rendah

- anterior

: sedang

- posterior kanan

: rendah

Relief dari RA dan RB :


Rahang Atas :
1. Frenulum labii superior
2. Ruggae palatina
3. Frenulum buccalis
4. Tuberositas maxillae
5. Pterygomaxillaris notch
6. Vibrating line
7. Processus alveolaris
8. Incisivus papilae
9. Median palatina

Rahang Bawah :
1. Frenulum labii inferior
2. Frenulum buccalis
3. Vestibulum buccalis
4. Retromolar pad
5. Frenulum lingualis
6. Processus alveolaris
7. Mylohyoid line

IV. RENCANA PERAWATAN


A.TAHAP KLINIS
1. KUNJUNGAN I
Tahap Klinis
a. Anamnesa dan pemeriksaan obyektif
b. Membuat cetakan study
- sendok cetak

: edentulous stock tray nomor 3

- bahan cetak

: elastic impression (alginat)

- metode mencetak

: mucostatic

c. Cara mencetak :
Mula-mula dibuat adonan sesuai dengan perbandingan P/W yaitu
3:1, setelah dicapai konsistensi tertentu dimasukkan ke dalam sendok
cetak dengan merata, kemudian dimasukkan ke dalam mulut dan tekan
posisi ke atas atau ke bawah sesuai dengan rahang yang dicetak.
Disamping itu dilakukan muscle triming agar bahan cetak mencapai
lipatan mukosa. Posisi dipertahankan sampai setting, kemudian sendok
diambil. Selanjutnya hasil cetakan diisi dengan gips stone. Posisi
operator pada saat mencetak RA adalah di kanan belakang pasien dan
pada saat mencetak RB adalah di kanan depan pasien.
Tahap Laboratoris
Dari study model dibuat sendok cetak individual dari bahan sellac
base plate, dengan batas 2 mm lebih pendek dari batas GTL, agar tersedia
ruang yang cukup untuk memanipulasi bahan pembentuk tepi (border
material). Sellac dilunakkan dengan cara memanaskan di atas lampu
spiritus lalu ditekan diatas study model. Sellac dipotong sesuai batasbatas yang telah digambar pada study model. Sellac dipotong dengan
menggunakan gunting saat masih lunak. Pada daerah molar dan kaninus
kanan dan kiri dibuat stop vertikal dari wax sebagai batas penekanan saat
mencetak sedangkan untuk rahang atas ditambah dengan pembuatan
postdam area yang juga dari wax untuk menahan bahan cetak agar tidak

mengalir ke belakang. Selanjutnya dibuat lubang-lubang pada sendok


cetak untuk mengurangi tekanan pada waktu mencetak. Lubang dibuat
dengan mengunakan bur bulat no 8 dengan jarak masing-masing lebih
dari 5 mm.
2. KUNJUNGAN II
Tahap Klinis
a. Mencoba sendok individual
- stabilisasi

: dengan menghindari muscular attachment

- relief area

: tercakup semua baik rahang atas maupun rahang bawah

b. Mencetak work model


- Sendok cetak

: sellac base plate

- Bahan cetak

: silikon dengan merk dagang exaflex

- Metode mencetak : mukodinamik


Cara Mencetak
Rahang Atas
Bahan cetak (alginat) diaduk, masukan ke sendok cetak individual lalu
dimasukkan ke mulut pasien dengan ditekan pada bagian proc. Alveolaris.
Frenulum labialis superior dicetak pasien diminta mengucapkan huruf u.
Untuk mendapatkan post dam area, pasien disuruh mengatakan ah sehingga
akan tampak batas antara palatum durum dan molle. Posisi dipertahankan
sampai setting, kemudian sendok dilepas. Gambarkan garis ah pada batas
tersebut dengan pensil tinta kemudian dicetak/dimasukkan kembali kedalam
rahang atas, sehingga garis tinta akan luntur pada cetakan. Dapat untuk
menandai ah-line.
Rahang Bawah
Pasien diminta menjulurkan lidah agar tercetak frenulum lingualis, dasar
mulut, dan alveolar ridge bagian lingual anterior. Pasien diminta menggerakkan
rahang bawah ke kanan dan ke kiri agar bahan cetak dapat mencapai bukal
flange. Pasien diminta mengucapkan huruf u agar frenulum labialis inferior
tercetak. Posisi dipertahankan sampai setting. Kemudian sendok cetak dilepas

10

dari dalam mulut. Setelah diperoleh cetakan yang akurat lalu diisi gips stone
Pekerjaan

kemudian

dilanjutkan

dengan

menentukan

batas

tepinya,

memperhatikan daerah mukosa yang bergerak dan tidak bergerak kemudian


ditentukan relief area maupun non relief area. Ditentukan pula posterior
palatal seal dan kemudian dibuat seal. Setelah model malam selesai base plate
diganti dengan resin akrilik. Base plate harus benar-benar menempel pada
work model.
Tahap Laboratoris
Setelah diperoleh cetakan yang akurat, kemudian diisi dengan

gips

stone. Setelah diperoleh model kerja, ditentukan batas tepi, relief area juga
dibuat postdam. Kemudian menurut batas-batas tersebut dibuat base plate dari
wax yang kemudian diganti dengan akrilik. Base plate yang diperoleh
dihaluskan dan di atasnya dibuat bite rim dari wax.
3. KUNJUNGAN III
Tahap Klinis
1. Insersi base plate, retensi dan stabilisasi diperhatikan
2. Membuat bite rim
Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam membuat bite rim:
a. Bite rim berbentuk tapal kuda dan diletakkan di atas base plate
untuk memperoleh tinggi gigitan pada keadaan oklusi sentrik yang
nanti akan dipindahkan ke artikulator. Lengkung bite rim rahang
bawah disesuaikan dengan alveolar ridge yang ada, sedangkan
untuk bite rim rahang atas dibuat setinggi + 2 mm di bawah garis
bibir atas saat posisi istirahat.
b. Ukuran bite rim rahang atas: anterior lebar 4 mm dengan tinggi 2
mm di bawah garis bibir atas atau + 12 mm dan posterior lebar 6
mm dengan tinggi + 10 11mm. Pada bagian posterior bite rim
oklusal dibagi dua oleh garis alveolar ridge menjadi bagian bukal 4
mm dan bagian palatinal 2 mm. Bite rim harus kelihatan + 2 mm di
bawah garis bibir. Ukuran bite rim rahang bawah sesuai dengan

11

rahang atas tetapi bagian oklusal posterior dibagi oleh garis


alveolar ridge menjadi 3 mm untuk bukal dan 3 mm untuk lingual.
c. Estetis diperhatikan
3. Dilakukan : Pencatatan Maxillo Mandibular Record (MMR).
Mula-mula pasien dipersilakan duduk pada dental chair, dataran oklusal
diusahakan sejajar dengan lantai. Tentukan garis chamfer dari titik di bawah ini
- condilus kanan dan kiri
- spina nasalis anterior
Kemudian ketiga titik tersebut ditandai dengan benang dan diisolasi.
Selanjutnya record blok di pasang dengan posisi bite rim RA terlihat 2 mm di
bawah garis bibir atas saat rest posisi.
- Bila dilihat dari depan, bite rim RA tampak sejajar dengan garis pupil
(dilihat dengan bantuan oklusal bite rim).
- Bila dilihat dari samping, bite rim RA tampak sejajar dengan garis
chamfer
- Bila bite rim RB dipasang, bite rim RA dan RB harus tertutup secara
sempurna (tidak boleh ada celah dan merupakan satu garis lurus).
Kemudian dicari hubungan vertikal dengan metode pengukuran jarak
pupil dan sudut mulut dengan jarak hidung dan dagu (PM = HD). Pada
keadaan relasi sentrik, dimensi vertikal : physiologic rest position - freeway
space = (PM=HD) - 2 mm. Freeway space 2 mm diperoleh dengan cara
mengurangi bite rim rahang bawah.
Centric ockusi record adalah suatu relasi mandibula terhadap maxilla
pada suatu relasi vertikal yang ditetapkan pada posisi paling posterior. Cara
menentukan relasi sentrik yaitu dengan menengadahkan kepala pasien
sedemikian rupa sehingga processus condyloideus akan tertarik ke fossa yang
paling belakang karena tarikan dari otot dan menelan ludah berulang-ulang.
Setelah diperoleh relasi sentrik, dilakukan fiksasi dengan cara dibuat
double V groove yaitu 4 buah groove berbentuk V, masing-masing 2 groove di
kanan dan kiri bite rim RA bagian C dan P2 atau P1 dan M1, kemudian groove

12

diberi vaselin. Pada bite rim RB diberi tambahan wax menyesuaikan groove
kemudian katupkan dengan bite rim RA.
Incisal guide ditentukan setelah pemasangan gigi anterior atas dan bawah
dan telah memenuhi nilai estetis. Pada pemasangan gigi anterior harus diingat
high lip line, median line dan caninus line. Gigi anterior bawah menyesuaikan
yang atas.
Tahap Laboratoris
1. Pemasangan pada artikulator ( free plane artikulator )
Setelah oklusal bite rim RA dan RB selesai difixir, letakkan oklusal bite rim
RA pada mounting table dengan pedoman :
- garis tengah bite rim dan model RA berhimpit dengan garis tengah
mounting table .
- tepi luar bite rim RA menyinggung garis incisal edge dari mounting
table.
- jarum horizontal incisal guide pin ujungnya menyentuh tepi luar
anterior bite rim RA dan tepat pada garis tengah bite rim.
Oclusal bite rim RA difixir dengan menuang adonan gips pada bagian
atas model kerja. Mounting table dilepas dari artikulator. Selanjutnya bite rim
RB dipasang dan dipaskan dengan bite rim RA, dikareti dan kemudian difixir
dengan dituangi adonan gips.
2. Pemasangan gigi-gigi anterior.
Urutan pemasangan gigi adalah gigi anterior rahang atas, gigi anterior rahang
bawah.
Pemasangan gigi anterior :
1

1 : - axisnya bersudut 5 terhadap mid line


- incisalnya menyentuh bite rim RB.

2 : - axisnya bersudut 5 terhadap mid line


- incisalnya berjarak 2 mm dari bite rim RB

3 : - axisnya tegak lurus/hampir sejajar terhadap bite rim

13

- incisalnya menyentuh bite rim RB


1

1 : - axisnya sedikit ke labial


- perhatikan overjet dan overbite

2 2 : - axisnya sedikit ke labial


- letaknya di antara 1 2
3

3 : - axisnya agak sedikit ke mesial


- letaknya di antara 2 3

Selanjutnya dilakukan sliding ke kanan dan ke kiri sampai tidak terdapat


traumatik oklusi.
4. KUNJUNGAN IV
Tahap Klinis
Dilakukan try in untuk memeriksa:
1.

Over bite dan over jet (2-4 mm).

2.

Garis caninus (pada saat rest posisi terletak pada sudut mulut)

3.

Garis ketawa (batas servikal gigi atas, gusi tidak terllihat pada saat
ketawa).

4.

Fungsi fonetik (pasien disuruh mengucapkan huruf s, f, t, r, m).

Tahap Laboratoris
Pemasangan gigi-gigi posterior.Urutan pemasangan adalah gigi posterior
RA kemudian RB.
Pemasangan gigi posterior:
4

4 : - axis tegak lurus bite rim RB


- tonjol bukal menyentuh bite rim RB, tonjol palatinalnya
menggantung

5 : - axis tegak lurus bite rim RB


- tonjol mesio palatinal menyentuh bite rim, tonjol-tonjol lainnya
menggantung

6 : - axis tegak lurus


- semua tonjol menggantung

Untuk pemasangan gigi-gigi posterior RA ini harap diperhatikan:

14

a.

dataran orientasi, jika dilihat dari sagital harus membentuk kurve


Monson

b.

dataran orientasi jika dilihat dari lateral harus membentuk kurve


Von Spee

Gigi posterior RB yang dipasang pertama adalah gigi 6


6

: - tonjol mesio palatinal 6


- relasi 6

6 terhadap 6

5
7

6 neutrooklusi (klas I angle)

: - axisnya tegak lurus bite rim


- letaknya di antara 4

6 tepat di fossa sentral 6

: - axisnya tegak lurus bite rim


- letaknya diantara 3

6.

: - axis tegak lurus


- tonjol mesio bukal 7

7 berada di antara tonjol mesio distal 6

6 dan tonjol mesio bukal 7

5.KUNJUNGAN V
Setelah pemasangan

gigi posterior, dilakukan try in. Perhatikan

inklinasinya dan kontur gigi tiruannya. Perlu juga dilakukan pengamatan


terhadap:
1.

Oklusi

2.

Stabilisasi dengan working side dan balancing side

3.

Estetis dengan melihat garis caninus dan garis ketawa

4.

Fonetik dengan cara pasien disuruh mengucapkan huruf s, d, o, m,


r, a, t dan sebagainya dengan jelas dan tidak ada gangguan.

6. KUNJUNGAN VI
Setelah diganti dengan resin akrilik, protesa diinsersikan dalam mulut.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
a.

Retensi, faktor yang mempengaruhi retensi adalah:

tepi GTL harus mengikuti batas fornik

jaringan keras harus dihindari untuk memberi kesempatan bergerak

15

protesa harus berelief sesuai dengan keadaan mulut

b. Stabilisasi, yang perlu diperhatikan:


- Oklusi
Pengecekan oklusi dengan articulating paper, bila ada traumatik oklusi
dilakukan selective grinding yaitu pengurangan permukaan oklusal dari gigi
tiruan untuk mendapatkan suatu sentrik oklusi dari gigi tersebut. Pengurangan
dengan menggunakan hukum BULL dan MUDL (pengurangan pada
permukaan bukal dan mesial pada rahang atas dan pengurangan permukaan
lingual dan distal pada rahang bawah).
- Artikulasi
Fungsi fonetik, mengucapkan huruf s, r, m, v, p, d, f, t.
- Penyusunan gigi
Kemudian dilakukan pengecekan terhadap MMR, apakah ada perubahan
atau tidak. Bila sudah tidak ada perubahan, dilakukan remounting. Caranya
dengan dilakukan pencetakan rahang atas dan rahang bawah dengan gigi tiruan
masih terpasang pada mulut pasien. Pada waktu mengambil cetakan, GTL ikut
terambil. Kemudian diisi dengan stone gips. Hasil cetakan kemudian dipasang
pada artikulator untuk mengecek kedudukan gigi tiruan terhadap gigi dan
jaringan pendukung gigi.
Instruksi pasien:
a. Pasien diajarkan cara memakai dan melepas protesa
b. Pasien dianjurkan beradaptasi dengan protesa GTL tersebut dengan
memakainya 2 x 24 jam
c. Pada waktu tidur, protesa dilepas agar jaringan mulut istirahat lalu
protesa direndam dalam air dingin yang bersih
d. Protesa dibersihkan sesudah makan
e. Bila ada rasa sakit, gangguan bicara, protesa tidak stabil pasien
dianjurkan untuk mengemukakan pada waktu kontrol.

16

7. KUNJUNGAN VII
Setelah pemasangan GTL selama 1 minggu, pasien datang untuk kontrol.
Yang perlu diperhatikan pada saat kontrol :
a. Pemeriksaan subyektif :
-

Ditanyakan apakah ada keluhan atau tidak

Ditanyakan apakah ada gangguan atau tidak

Ditanyakan apakah ada rasa sakit

b. Pemeriksaan obyektif :
-

Dilihat keadaan mukosa apakah ada peradangan atau perlukaan

Diperiksa retensi dan stabilisasi

17

DISKUSI
Pasien berumur 58 tahun, jenis kelamin perempuan, datang ke poliklinik
untuk membuatkan GTL karena GTS yang lama sudah tidak enak dipakai.
Kondisi pasien dan juga jaringan mulutnya baik, sehingga memungkinkan untuk
dilakukan perawatan dengan menggunakan GTL. Dari kasus ini diketahui bahwa
processus alveolaris pada rahang bawah masih baik. Pada rahang atas, processus
alveolaris bagian anterior dan posterior sedang.
Dengan melihat studi model, dapat diketahui bahwa residual rigde masih
baik dan kemungkinan dapat mendukung retensi dan stabilisasi GTL karena pada
kasus dengan kehilangan semua gigigeligi, pembuatan gigi tiruan lengkap perlu
mempertimbangkan serta memperhatikan adanya faktor retensi dan stabilisasi.
Untuk retensi yang baik, harus memperhatikan faktorfaktor:
1. Fitting surface
a. Model kerja harus berstruktur dan berelief sesuai dengan keadaan di dalam
mulut.
b. Jaringan keras harus dihindari untuk memberi kesempatan gerak.
c. Tepi GTL harus mengikuti batas fornik.
2. Ketebalan GTL
Ketebalan GTL rahang atas dan rahang bawah tidak sama, yaitu protesa rahang
bawah lebih tebal dibanding protesa rahang atas.
Untuk menjaga stabilisasi yang baik harus memperhatikan:
a. Polishing surface
b. Oclusal surface
c. Penyusunan gigigeligi tiruan
d. Artikulasi
Vertikal dimensi juga merupakan hal yang penting dalam pembuatan GTL.
Apabila vertikal dimensi kurang, maka gigigeligi tidak tampak dan bila terlalu
tinggi maka gigigeligi terlihat panjang dan tidak baik.

18

PROGNOSA
Prognosa GTL baik karena :
1. Oral hygiene pasien baik
2. Jaringan pendukung sehat
3. Pasien kooperatif
4. Kesehatan umum baik
KESIMPULAN
Pembuatan GTL harus memenuhi tahap-tahap pekerjaan seperti yang telah
ditentukan, sehingga GTL yang dibuat dapat dirasakan lebih menyenangkan
pasien karena dapat mengembalikan fungsi gigi asli yang telah hilang seoptimal
mungkin walau tak sebaik gigi asli.
Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan maka pasien dapat dibuatkan
GTL dan prognosa baik karena procesus alveolaris RA dan RB masih baik
memungkinkan untuk dibuatkan GTL, kesehatan mulut baik, pasien kooperatif
dan komunikatif, serta keinginan yang kuat dari pasien sendiri untuk memiliki
gigi tiruan.

19

DAFTAR PUSTAKA

Itjinngsih, H., 1980, Dental Teknologi, Cetakan I, FKG Universitas Trisakti,


Jakarta.
Soelarko dan Herman, W., 1980, Diktat Prosthodonsia Full Denture, FKG
Universitas Padjajaran, Bandung.
Swenson, MC., 1964, Complete Denture, Ed. V, CV. Mosby Company, St. Louis.

20