Anda di halaman 1dari 23

97

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam fluida yang kental diperlukan gaya untuk menggeser satu bagian
fluida terhadap yang lain. Di dalam cairan kental dapat dipandang persoalan
tersebut seperti tegangan dan renggangan pada benda padat. Kenyataannya setiap
fluida baik gas maupun zat cair mempunyai sifat kekentalan karena partikel di
dalamnya saling menumbuk.
Cairan mempunyai sifat menyerupai gas dalam hal gerakannya yang
mengikuti gerakan Brown dan daya alirannya (fluiditasnya). Selain itu, cairan
juga menunjukkan adanya tegangan permukaan yang merupakan salah satu sifat
penting lainnya dari cairan. Permukaan cairan berperilaku seperti lapisan yang
memiliki tegangan dan cenderung mengambil bentuk permukaan paling sempit.
Penjepit kertas dapat mengapung di atas permukaan air dan tetes-tetes embun
yang jatuh pada sarang laba-laba berbentuk bola merupakan contoh dari
fenomena tegangan permukaan.
Besarnya tegangan permukaan dipengaruhi oleh gaya tarik menarik antara
molekul di dalam cairan. Umumnya cairan yang mempunyai gaya tarik antara
molekulnya besar seperti raksa, maka tegangan permukaannya juga besar.
Sebaliknya, cairan seperti alkohol gaya tarik menarik antara molekulnya kecil,
maka tegangan permukaannya juga kecil. Dalam kehidupan sehari-hari tegangan
permukaan cairan banyak dimanfaatkan dalam hubungannya dengan kemampuan
cairan tersebut membasahi suatu benda.
Oleh karena itu, percobaan mengenai tegangan permukaan ini penting
dilakukan untuk mengetahui dan menentukan nilai tegangan permukaan suatu zat
cair dengan adanya pengaruh dari surfaktan dan pengaruh dari suhu sehingga kita
dapat membandingkan kedua nilai tegangan permukaan dari pengaruh yang
berbeda, serta dapat mengetahui pengaplikasian tegangan permukaan dalam
kehidupan sehari-hari.

97

98

1.2 Tujuan
Menentukan massa jenis dari air dan bensin pada percobaan.
Menentukan nilai tegangan permukaan pada pengaruh zat aktif atau surfaktan.
Menentukan nilai tegangan permukaan pada pengaruh suhu.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

98

99

Tegangan permukaan sebagai kerja yang dilakukan dalam memperluas


tegangan permukaan cairan dengan satu satuan luas. Satuan untuk tegangan
permukaan () adalah (Jm-1) atau dyne cm-1 atau Nm-1. Metode yang paling umum
untuk mengukur tegangan permukaan adalah kenaikan atau penurunan dalam pipa
kapiler yaitu:
=

drgl
2

dimana d adalah kerapatan cairan, r adalah jari-jari kapiler, l adalah panjang cairan
yang ditekan atau yang akan naik dan g adalah konstanta gravitasi (Dogra, 1990).
Kita mempertimbangkan untuk menarik suatu zat sampai itu, maka biasanya
kita memikirkan mengenai benda padat, akan tetapi cairan juga mempunyai
kecenderungan yang kuat untuk tetap kuat. Sebagai contoh, jika air murni tanpa ada
udara yang dilarutkan di dalamnya ditekan antara dua pelat lain, maka gaya yang
sangat besar diperlukan untuk memisahkan pelat-pelat tersebut. Seperti di dalam
benda padat, kekohesifan cairan diakibatkan oleh tarikan diantara molekul-molekul.
Karena tarikan ini, suatu cairan mempunyai suatu permukaan yang jelas, seperti
selaput yang diregangkan atau lembaran karet yang diregangkan, yang cenderung
mempunyai luas permukaan yang minimum. Riak di dalam sebuah kolam yang
tenang ditekan karena riak itu memerlukan pertambahan luas permukaan. Serangga
air mampu bergerak pada permukaan karena berat serangga itu dilawan oleh
hambatan permukaan terhadap deformasi (Atkins, 1994).
Di dalam cairan, sebuah molekul mengalami gaya tarik dari molekul
tetangganya, tetapi pada permukaannya, sebuah molekul hanya dikelilingi sebagian
saja dan akibatnya molekul pada permukaan ini hanya mengalami gaya tarik ke arah
badan cairannya (dapat dikatakan seolah-olah kadar cairan dibungkus oleh suatu
membran atau lapisan yang tidak nampak). Perilaku cairan pada permukaan cairan
dapat ini yang disebut tegangan permukaan, dan sifat ini pula yang menyebabkan
cairan dapat jatuh membentuk tetesan, dapat merambat pada pembuluh atau pipa

99

100

kapiler atau dapat mengembangkan selembar kertas logam. Dan terdapat banyak
fenomena-fenomena tersebut mempunyai hubungan dengan adanya tegangan
permukaan (Atkins, 1994).
Cara-cara penentuan tegangan muka:
1. Metode Kenaikan Kapiler
Menurut rumus: y = h.d.g.r
Karena kadang-kadang penentuan jari-jari kapiler (v) itu sukar, maka
dipergunakan cairan pembanding yang telah diketahui tegangan mukanya.
2. Metode Tetes
Cairan diteteskan melalui suatu pipa kapiler, waktu jatuh maka berat tetes: 2v
mg=2 r
Jadi,
=

mg
2 r

Harus dinyatakan supaya jatuhnya tetesan hanya disebabkan oleh berat tetesan
saja (tidak ada faktor-faktor lain yang mempengaruhinya). Disini biasa digunakan
metode perbandingan. Dihitung tetesan (n) untuk semua volume tertentu (v).
Berat 1 tetesan:
v .d
n
Untuk cairan pembandingan:
v 1 d2 g
=2 r y 1
n2
Sehingga:
y x d y n2
=
y 2 d 2 n1
(Respati, 1992)
Permukaan zat cair mempunyai sifat ingin meregang, sehingga permukaannya
seolah-olah ditutupi oleh suatu lapisan yang elastis. Hal ini disebabkan adanya gaya
tarik menarik antara partikel sejenis di dalam zat cair sampai ke permukaan. Di dalam
cairan, tiap molekul ditarik oleh molekul lain yang sejenis di dekatnya dengan gaya
yang sama ke segala arah. Akibatnya tidak terdapat sisa (resulton) gaya yang bekerja
100

101

pada masing-masing molekul. Pada permukaan cairan, tiap molekul ditarik oleh
molekul sejenis di dekatnya dengan arah hanya ke samping dan ke bawah, tetapi tidak
ditarik oleh molekul di atasnya karena di atas permukaan cairan berupa fase uap
(udara) dengan jarak antara molekul sangat renggang. Akibatnya terdapat perbedaan
gaya tarik, sehingga ada sisa gaya yang bekerja pada lapisan atas cairan. Gaya
tersebut mengarah ke bawah karena molekul di bawah permukaan cairan jumlahnya
lebih banyak dan jarak antara molekul lebih rapat. Adanya gaya atau tarikan ke
bawah menyebabkan permukaan cairan berkontraksi dan berada dalam keadaan
tegang. Tegangan ini disebut dengan tegangan permukaan.
Adanya tegangan permukaan menyebabkan permukaan cairan seperti ditutupi
oleh hamparan selaput yang elastis, sehingga mampu menahan suatu benda untuk
terapung. Selain itu, akibat adanya tegangan permukaan zat cair selalu berusaha untuk
menyusut atau mendapatkan luas permukaan terkecil karena bentuk ini dianggap
mempunyai energi yang paling rendah (paling stabil). Bentuk yang paling memenuhi
keadaan ini adalah bujur telur (sferik). Sifat cenderung untuk memperkecil luas
permukaan inilah yang menyebabkan tetesan-tetesan cairan berbentuk bulat.
Tegangan permukaan cairan , berbeda-beda bergantung pada jenis cairan
dan suhu. Pada umumnya cairan yang memiliki gaya tarik antara molekulnya besar
seperti air, maka tegangan permukaannya juga besar. Tegangan permukaan cairan
turun bila suhu naik, karena dengan bertambahnya suhu molekul-molekul cairan
bergerak lebih cepat dan pengaruh interaksi antara molekul berkurang sehingga
tegangan permukaannya menurun. Adanya zat terlarut ada cairan dapat menaikkan
atau menurunkan tegangan permukaan tergantung sifat zat terlarutnya. Zat terlarut
dengan susunan kimia sama hampir tidak berpengaruh. Untuk air adanya elektrolit
anorganik dan nonelektrolit tertentu seperti sukrosa dan gliserin menaikkan tegangan
permukaan. Sedangkan adanya zat-zat seperti sabun, detergen dan alkohol adalah
efektif dalam menurunkan tegangan permukaan atau tegangan antar muka. Zat ini
sering disebut dengan surface active agents atau surfactance (Yazid, 2005).

101

102

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat

Piknometer
Stalagnometer
Hand counter
Penangas air
Gelas ukur
Beaker glass
Pipet tetes
Neraca analitik
Corong kaca

102

103

Batang pengaduk
3.1.2 Bahan

Bensin campuran
Tisu
Aquades
Sunlight
Serbet
Kertas label

3.2 Prosedur Percobaan


3.2.1 Percobaan Menentukan Massa Cairan
3.2.1.1 Aquades

Ditimbang piknometer kosong.


Dimasukkan aquades.
Ditimbang.
Dimasukkan aquades ke dalam stalagnometer
Dihitung tetesannya.

3.2.1.2 Bensin

Ditimbang piknometer kosong.


Dimasukkan bensin.
Ditimbang.
Dimasukkan bensin ke dalam stalagnometer
Dihitung tetesannya.

3.2.2 Pengaruh Zat Aktif terhadap Tegangan Permukaan


3.2.2.1 1 pipet
Diambil sabun cair 1 pipet ke dalam beaker glass.
Dilarutkan dengan 50 mL aquades.
103

104

Dimasukkan ke dalam piknometer.


Ditimbang.
Dimasukkan ke dalam stalagnometer.
Dihitung tetesannya.

3.2.2.2 2 pipet

Diambil sabun cair 2 pipet ke dalam beaker glass.


Dilarutkan dengan 50 mL aquades.
Dimasukkan ke dalam piknometer.
Ditimbang.
Dimasukkan ke dalam stalagnometer.
Dihitung tetesannya.

3.2.2.3 3 pipet

Diambil sabun cair 3 pipet ke dalam beaker glass.


Dilarutkan dengan 50 mL aquades.
Dimasukkan ke dalam piknometer.
Ditimbang.
Dimasukkan ke dalam stalagnometer.
Dihitung tetesannya.

3.2.2.4 4 pipet

Diambil sabun cair 4 pipet ke dalam beaker glass.


Dilarutkan dengan 50 mL aquades.
Dimasukkan ke dalam piknometer.
Ditimbang.
Dimasukkan ke dalam stalagnometer.
Dihitung tetesannya.

3.2.3 Pengaruh Suhu terhadap Tegangan Permukaan

Dimasukkan bensin ke dalam piknometer.


Dimasukkan ke dalam penangas air selama 2 menit.
Ditimbang.
Dimasukkan ke dalam stalagnometer.
Dihitung jumlah tetesan.
Diulangi sebanyak 4 kali.

104

105

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Tabel Pengamatan
4.1.1 Pengaruh Zat Aktif terhadap Tegangan Permukaan
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Konsentrasi

Massa pikno +

Massa

Surfaktan
0%
10%
20%
30%
40%

Campuran
25,63
25,64
25,65
25,65
25,65

Campuran
10,1
10,11
10,12
10,12
10,12

Jumlah Tetesan
36
44
53
52
59

4.1.2 Pengaruh Suhu terhadap Tegangan Permukaan


No
.
1.
2.
3.
4.
5.

Suhu (C)

Massa pikno + Bensin

Massa Bensin

Jumlah Tetesan

35
36
35
35
34

23,10
23,11
23,11
23,11
23,12

7,57
7,58
7,58
7,58
7,59

92
120
115
101
110

4.2 Perhitungan
Massa piknometer kosong = 15,53 gr
Massa piknometer + air = 25,63 gr
Massa air = 25,63 gr 15,53 gr = 10,1 gr
air = 36 tetesan
Massa piknometer + bensin = 23,12 gr
Masssa bensin = 23,12 gr 15,53 gr = 7,59 gr
105

106

bensin = 97 tetesan
v piknometer = 10 mL
4.2.1 Persentase Surfaktan
0
x 10 mL=0 mL
100
10
x 10 mL=1 mL
100
20
x 10 mL=2 mL
100
30
x 10 mL=3 mL
100
40
x 10 mL=4 mL
100

4.2.2 Perhitungan Massa Jenis


4.2.2.1

0
air =

mair 10,1 gr
=
=1,01 gr /mL
v pikno 10 mL

bensin =

mbensin 7,59 gr
=
=0,759 gr /mL
v pikno 10 mL

4.2.2.2 Pengaruh Surfaktan atau Zat Aktif


1=

mcamp . 10,1 gr
=
=1,01 gr /mL
v pikno 10 mL

2=

mcamp . 10,11 gr
=
=1,011 gr /mL
v pikno
10 mL

106

107

5=

3=

mcamp . 10,12 gr
=
=1,012 gr /mL
v pikno
10 mL

4 =

mcamp . 10,12 gr
=
=1,012 gr /mL
v pikno
10 mL

mcamp . 10,12 gr
=
=1,012 gr /mL
v pikno
10 mL

4.2.2.3 Pengaruh Suhu


1=

mbensin 7,57 gr
=
=0,757 gr /mL
v pikno 10 mL

2=

mbensin 7,58 gr
=
=0,758 gr /mL
v pikno 10 mL

3=

mbensin 7,58 gr
=
=0,758 gr /mL
v pikno 10 mL

4 =

mbensin 7,58 gr
=
=0,758 gr /mL
v pikno 10 mL

5=

mbensin 7,59 gr
=
=0,759 gr /mL
v pikno 10 mL

4.2.3 Tegangan Permukaan


air =71,46 dyne /cm
4.2.3.1 Pengaruh Surfaktan/Zat Aktif
1=

1 0
x x
0 1 0

1,01 36
x
x 71,46
1,01 36

107

108

1 x 1 x 71,46
71,46 dyne /cm

2=

1 0
x x
0 1 0

3=

1 0
x x
0 1 0

4=

1 0
x x
0 1 0

5=

1 0
x x
0 1 0

1,011 36
x
x 71,46
1,01 44

1,001 x 0,818 x 71,46


58,51dyne /cm

1,012 36
x
x 71,46
1,01 53
1,002 x 0,679 x 71,46

48,62 dyne /cm

1,012 36
x
x 71,46
1,01 52

1,002 x 0,692 x 71,46


49,55 dyne /cm

108

109

1,012 36
x
x 71,46
1,01 59

1,002 x 0,61 x 71,46


43,68 dyne /cm

4.2.3.2 Pengaruh Suhu

1=

1 0
x x
0 1 0

2=

1 0
x x
0 1 0

3=

1 0
x x
0 1 0

0,757 97
x
x 71,46
0,759 92

0,997 x 1,054 x 71,46


75,09 dyne/cm

0,758 97
x
x 71,46
0,759 102

0,999 x 0,808 x 71,46


57,68 dyne /cm

0,758 97
x
x 71,46
0,759 115
0,999 x 0,843 x 71,46

60,18 dyne /cm

109

110

4=

1 0
x x
0 1 0

5=

1 0
x x
0 1 0

0,758 97
x
x 71,46
0,759 101

0,999 x 0,96 x 71,46


68,53 dyne /cm

0,759 97
x
x 71,46
0,759 110

1 x 0,882 x 71,46
63,03 dyne /cm

4.3 Grafik
4.3.1 Pengaruh Surfaktan/Zat Aktif

Pengaruh Surfaktan
80
60
40
20
0
Teg. Permukaan (dyne/cm)

Konsentrasi Surfaktan

110

111

4.3.2 Pengaruh Suhu

Pengaruh Suhu
80
60
Teg. Permukaan (dyne/cm)

40
20
0
35

36

35

35

34

Suhu (C)

4.4 Pembahasan
Permukaan zat cair mempunyai sifat ingin meregang sehingga permukaannya
seolah-olah ditutupi oleh suatu lapisan yang elastis. Hal ini disebabkan adanya gaya
tarik menarik antara partikel sejenis di dalam zat cair sampai kepermukaan.
Di dalam zat cair, tiap molekul ditarik oleh molekul lain yang sejenis
didekatnya dengan gaya yang sama ke segala arah. Akibatnya tidak terdapat sisa gaya
yang bekerja pada masing-masing molekul. Pada permukaan cairan, tiap molekulmolekul ditarik oleh molekul sejenis didekatnya dengan arah hanya ke samping dan
ke bawah, tetapi tidak ditarik oleh molekul diatasnya karena diatas permukaan cairan
berupa fase uap (udara) dengan jarak antara molekul sangat renggang. Akibatnya
terdapat perbedaan gaya tarik, sehingga ada saja sisa gaya yang bekerja pada lapisan
atas cairan. Gaya tersebut mengarah ke bawah karena molekul lebih rapat. Adanya

111

112

gaya atau tarikan ke bawah menyebabkan permukaan cairan berkontraksi dan berada
dalam keadaan tegang. Tegangan ini disebut tegangan permukaan.
Besarnya tegangan permukaan dipengaruhi oleh gaya tarik menarik antara
molekulnya besar seperti raksa, maka tegangan permukaannya juga besar. Sebaliknya
cairan seperti alkohol gaya tarik antara molekulnya kecil, maka tegangan
permukaannya juga kecil. Di dalam kehidupan sehari-hari, tegangan permukaan
cairan digunakan yang berhubungan dengan kemampuan cairan tersebut membasahi
benda. Detergen sintesis modern lainnya, didesain untuk meningkatkan kemampuan
air membasahi kotoran yang melekat pada pakaian, yaitu dengan menurunkan
tegangan permukaan sehingga hasil cucian lebih bersih.
Pada penentuan massa jenis pengaruh zat aktif, pada percobaan didapatkan
1,01 g/mL pada 0%, pada 10% didapatkan 1,011 g/mL, 20% adalah 1,012 g/mL, pada
30% adalah 1,012 g/mL dan pada 40% adalah 1,012 g/mL.
Pada penentuan massa jenis pengaruh suhu pada percobaan didapatkan hasil
yaitu 0,759 g/mL pada suhu 35C, pada suhu 36C yaitu 0,758 g/mL. Pada suhu 35C
yaitu 0,758 g/mL, pada suhu 35C adalah 0,758 g/mL dan pada suhu 34C adalah
0,759 g/mL.
Pada penentuan tegangan permukaan () pengaruh zat aktif didapatkan pada
0% sebesar 71,46 dyne/cm, pada 10% adalah 58,51 dyne/cm, pada 20% adalah
sebesar 48,62 dyne/cm, pada 30% adalah sebesar 49,55 dyne/cm dan pada 40%
adalah sebesar 43,68 dyne/cm.
Pada penentuan tegangan permukaan () akibat pengaruh suhu didapatkan
pada 35C sebesar 75,09 dyne.cm, pada suhu 36C sebesar 57,68 dyne/cm, pada suhu
35C sebesar 60,18 dyne/cm, pada suhu 35C adalah 68,53 dyne/cm dan pada suhu
34C sebesar 63,03 dyne/cm.
Beberapa peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari yang
berkaitan dengan tegangan permukaan adalah:
Nyamuk dapat berjalan di atas permukaan air.
Terapungnya jarum jahit di atas permukaan air.
112

113

Butir-butir tanah liat yang basah akan saling menempel.


Tetesan air hujan atau air diujung keran membentuk hampir bulat.
Tegangan permukaan suatu cairan berbeda-beda tergantung daripada jenis
cairan dan suhu. Pada umumnya cairan yang memiliki gaya tarik antara molekulnya
lebih besar seperti air, maka tegangan permukaannya juga kecil. Tegangan permukaan
pada cairan akan turun apabila suhunya naik. Hal ini terjadi karena dengan
bertambahnya suhu, maka molekul-molekul di dalam zat tersebut akan bergerak lebih
cepat dan pengaruh interaksi antara molekul berkurang sehingga tegangan
permukaannya turun.
Surfaktan merupakan suatu molekul yang sekaligus memiliki gugus hidrofilik
dan gugus lipofilik sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari air dan
minyak. Surfaktan adalah bahan aktif permukaan.
Jenis-jenis surfaktan:
1. Surfaktan anionik memiliki gugus hidrofilik yang membawa muatan negatif
seperti karboksilat, sulfonat dan gugus sulfat. Contoh: sodium dodecylsulfate
(SDS), C12H25OSO3Na. Struktur sodium alkylsulfate.
O
CH3

(CH2)

S
O

O
Na

2. Surfaktan kationik memiliki muatan positif dibagian hidrofiliknya. Contoh:


C12H25N(CH3)3Br. Struktur C12H25N(CH3)3Br.
CH3
CH3

(CH2)nc-1

Br
CH3

CH3
3. Surfaktan non ionik bagian hidrofilik diperoleh dan gugus polar seperti
polyethyleneoxide

atau

gula.

Contoh:

alkylglucosider.

113

C10H21(OCH2CH2)8ON.

Struktur

114

CH2OH

O
(R)

(R)

OH

OH

(CH2)nc-1

CH3

(R)

OH

4. Surfaktan alaphothenic (zwitter ionik) membawa muatan positif dan negatif


sehingga muatan bersihnya nol. Contoh: Alkylpropanesmtlaine.
CH3
O
CH3

(CH2)11

(CH2)3

CH3

Pada percobaan kali ini, surfaktan yang digunakan untuk menurunkan


tegangan permukaan zat cair adalah sabun. Struktur sabun adalah:

O
C

Prinsip percobaan penentuan tegangan permukaan dengan metode berat tetes


ini adalah penentuan zat cair aquades dan bensin dengan menentukan banyaknya
tetesan dalam suatu volume tertentu. Percobaan ini dilakukan dengan penambahan
surfaktan (sabun sunlight) dan juga dengan pemanasan. Dimana hanya sebagian kecil
cairan yang dipakai dan diletakkan di dalam stalagnometer lalu diperoleh tetesantetesan dan dihitung banyaknya tetesan. Semakin banyak tetesan yang dihasilkan
maka semakin kecil tegangan permukaan cairan tersebut.
Fungsi perlakuan pada percobaan kali ini adalah sebagai berikut:
Penimbangan berfungsi untuk menentukan massa dari air, bensin dan surfaktan
serta piknometer kosong.
Pengadukkan berfungsi untuk menghomogenkan surfaktan dengan air.

114

ONa

115

Bensin, air dan campuran air + surfaktan dimasukkan ke dalam stalagnometer


agar mengetahui jumlah tetesan pada bahan.
Pemanasan agar dapat menurunkan tegangan permukaan pada bahan sehingga
tetesan yang didapat semakin banyak dan penurunan tetesan di dalam
stalagnometer lebih cepat.
Fungsi reagen pada percobaan kali ini yaitu:
Aquadest untuk melarutkan surfaktan dengan berbagai konsentrasi agar diketahui
perbedaannya.
Surfaktan berfungsi untuk mengetahui pengaruh zat aktif terhadap tegangan
permukaan.
Bensin berfungsi untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap tegangan permukaan
setelah dipanaskan pada suhu tertentu.
Ada beberapa faktor kesalahan yang terjadi dalam percobaan adalah:

Kurang teliti dalam menghitung jumlah tetesan.


Kurang teliti saat penimbangan.
Saat pemanasan waktunya kurang atau lebih.
Kurang bersih dalam mencuci alat sehingga mempengaruhi tegangan permukaan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tegangan permukaan adalah:

Suhu
Semakin tinggi suhu, maka tegangan permukaan akan kecil juga, sehingga tetesan
yang dihasilkan lebih banyak.
Zat terlarut
Zat terlarut dapat mempengaruhi tegangan permukaan jika zat yang massa
jenisnya kecil maka tegangan permukaan akan kecil juga.
Tekanan
Semakin besar tekanan, maka semakin besar juga tegangan permukaannya.
Surfaktan
Adanya zat-zat seperti sabun, detergen dan alkohol adalah efektif dalam
menurunkan tegangan permukaan atau tegangan antar muka.
Jenis cairan
Cairan yang memiliki gaya tarik antara molekulnya besar seperti air, maka
tegangan permukaannya juga besar. Sebaliknya, pada cairan seperti bensin

115

116

memiliki tegangan permukaan yang kecil karena gaya tarik menarik antara
molekulnya kecil.
Metode-metode yang dapat menentukan tegangan permukaan adalah:
Metode Kapiler
Tegangan permukaan diukur dengan melihat ketinggian air atau cairan yang naik
melalui suatu kapiler. Metode kapiler ini hanya digunakan untuk mengukur
tegangan antar muka.
Metode Wilhelmy
Metode ini didasarkan pada gaya yang diperlukan untuk menarik pelat tipis dan
permukaan cairan. Penetapannya diperlukan alat dari lempeng tipis yang terbuat
dari kaca platina atau mika dan sebuah neraca. Besarnya gaya tarik pada neraca
yang digunakan untuk melepas pelat dari permukaan cairan dicatat.
Metode Berat Tetes
Cairan yang membasahi gelas akan berupa tetesan pada ujung pipa partikel.
Mula-mula tetesan berupa setengah bola, kemudian memanjang dan membentuk
pinggang. Pada saat akan jatuh bebas, gaya ke bawah pada tetesan (mg) akan
sama dengan gaya ke atas yang menahan tetesan (2r). Sehingga menurut hukum
Talp diperoleh:
mg = 2r atau = mg/(2r)
Metode Tersiometer Du-Nouy
Metode cincin Du-Nouy bisa digunakan untuk mengukur tegangan permukaan
atau tegangan antar muka.
Dari grafik karena pengaruh surfaktan dapat dilihat pada saat konsentrasi
surfaktan 0% tegangan permukaan zat cair besar. Pada konsentrasi berikutnya yaitu
10%, 20%, 30% dan 40% tegangan permukaan zat cair semakin turun. Hal ini terjadi
karena adanya surfaktan yang dapat menentukan tegangan permukaan. Semakin besar
konsentrasi surfaktan, semakin kecil tegangan permukaan.
Dari grafik karena pengaruh suhu dapat dilihat pada suhu 35C tegangan
permukaan pada zat cair besar. Kemudian pada suhu 36C, tegangan permukaan zat
cairan menurun. Pada suhu berikutnya yaitu 35C, tegangan permukaan naik lagi
hingga suhu 35C berikutnya. Kemudian pada suhu 34C tegangan permukaan turun

116

117

lagi. Hal ini dapat terjadi karena suhu (panas) dapat menurunkan tegangan permukaan
karena pemanasan dapat melepas ikatan hidrogen pada zat cair tersebut. Sehingga
tetesan yang dihasilkan lebih banyak. Semakin besar suhu, semakin kecil tegangan
permukaan.

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil perhitungan, didapatkan massa jenis air sebesar 1,01 gr/mL,
sedangkan massa jenis bensin sebesar 0,759 gr/mL.

117

118

Nilai tegangan permukaan pada pengaruh zat aktif berdasarkan perhitungan


yaitu berturut-turut 71,46 dyne/cm, 58,51 dyne/cm, 48,62 dyne/cm, 49,55
dyne/cm dan 43,68 dyne/cm.
Nilai tegangan permukaan pada pengaruh suhu berdasarkan perhitungan yaitu
berturut-turut 75,09 dyne/cm, 57,68 dyne/cm, 60,18 dyne/cm, 68,53 dyne/cm
dan 63,03 dyne/cm.
5.2 Saran
Pada percobaan selanjutnya dapat dicoba juga dengan menggunakan solar
atau pertamax sebagai pengganti bensin agar dapat diketahui perbedaan nilai
tegangan permukaannya.

DAFTAR PUSTAKA
Atkins, P.W. 1994. Kimia Fisik Edisi Ke-4 Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Dogra, SK. & S. Dogra. 1990. Kimia Fisik dan Soal-soal. Jakarta: UI.
Respati. 1992. Dasar-dasar Ilmu Kimia. Yogyakarta: Rineka Cipta.

118

119

Yazid, Estien. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta: Andi.

119

Anda mungkin juga menyukai