Anda di halaman 1dari 24

LI.1.

Mehamami dan Menjelaskan Hipersensitivitas


1.1. Definisi
Hipersensitivitas adalah keadaan perubahan reaktivitas saat tubuh bereaksi terhadap
respons imun yang berlebihan atau tidak tepat terhadap sesuatu yang dianggap benda asing.
Hasil reaksi ini dapat berupa sutu lesi yang berbentuk ringan sebagai inflamasi lokal sampai
syok menyuluruh. Hipersensitivitas terhadap antigen tubuh sendiri disebut penyakit
autoimun.
(Dorland, 2010)
Suatu keadaan dengan respons sistem imun yang menyebabkan reaksi berlebihan atau
tidak sesuai yang membahayakan hospesnya sendiri. Pada orang tertentu, reaksi-reaksi
tersebut secara khas terjadi setelah kontak kedua dengan antigen spesifik (alergen). Kontak
pertama adalah kejadian pendahulu yang diperlukan yang dapat menginduksi sensitasi
terhadap antigen spesifik tersebut.
(Jawetz et al. 2008 )
1.2. Etiologi
Penyebab alergi tidaklah jelas walaupun tampaknya terdapat predisposisi genetic.
Predisposisi tersebut dapat berupa pengikatan IgE yang berlebihan, mudahnya sel mast dipicu
untuk berdegranulasi , atau respon sel T helper yang berlebihan. Hasil penelitian terkini
menunjukan bahwa defisiensi sel T regulatori dapat menyebabkan responsivitas berlebihan
dari system imun dan alergi. Pajanan berlebihan terhadap alergen-alergen tertentu setiap saat,
termasuk selama gestasi, dapat menyebabkan respon alergi.
Secara umum semua benda di lingkungan (pakaian, makanan, tanaman, perhiasan, alat
pembersih, dsb) dapat menjadi penyebab alergi, namun faktor lain misalnya :

Perbedaan keadaan fisik setiap bahan


Kekerapan pajanan
Daya tahan tubuh seseorang
Adanya reaksi silang antar bahan akan berpengaruh terhadap timbulnya alergi
(Retno W.Soebaryo, 2002)

Faktor yang berperan dalam alergi makanan yaitu :


Faktor Internal
Imaturitas usus secara fungsional (misalnya dalam fungsi-fungsi : asam lambung,
enzym-enzym usus, glycocalyx) maupun fungsi-fungsi imunologis (misalnya : IgA
sekretorik) memudahkan penetrasi alergen makanan. Imaturitas juga mengurangi
kemampuan usus mentoleransi makanan tertentu.
Genetik berperan dalam alergi makanan. Sensitisasi alergen dini mulai janin sampai
masa bayi dan sensitisasi ini dipengaruhi oleh kebiasaan dan norma kehidupan
setempat.
Mukosa dinding saluran cerna belum matang yang menyebabkan penyerapan alergen
bertambah.

Fakor Eksternal
Faktor pencetus : faktor fisik (dingin, panas, hujan), faktor psikis (sedih, stress) atau
beban latihan (lari, olah raga).
Contoh makanan yang dapat memberikan reaksi alergi menurut prevalensinya: ikan
15,4%; telur 12,7%; susu 12,2%; kacang 5,3% dll.
Hampir semua jenis makanan dan zat tambahan pada makanan dapat menimbulkan
reaksi alergi.
1.3. Klasifikasi
Pembagian reaksi Hipersensitivitas menurut waktu timbulnya reaksi
A. Reaksi Cepat
Reaksi cepat terjadi dalam hitungan detik, menghilang dalam 2 jam. Ikatan silang
antara allergen dan IgE pada permukaan sel mast menginduksi penglepasan mediator
vasoaktif. Manifestasi reaksi cepat berupa anafilaksis sistemik atau anafilaksis lokal.
B. Reaksi Intermediet
Reaksi intermediet terjadi setelah beberapa jam dan menghilang dalam 24 jam. Reaksi
ini melibatkan pembentukan kompleks imun IgG dan kerusakan jaringan melalui
aktivasi komplemen dan atau sel NK/ADCC. Manifestasi reaksi intermediet berupa:
Reaksi transfusi darah, eritroblastosis fetalis dan anemia hemolitik autoimun
Reaksi arthus lokal dan reaksi sistemik seperti serum sickness, vaskulitis
nekrotis, glomerulonefritis, arthritis rheumatoid dan LES
Reaksi intermediet diawali oleh IgG dan kerusakan jaringan pejamu yang disebabkan
oleh sel neutrofil atau sel NK.
C. Reaksi Lambat
Reaksi lambat terlihat sampai sekitar 48 jam setelah terjadi pejanan dengan antigen
yang terjadi oleh aktivasi sel Th. Pada DTH, sitokin yang dilepas sel T mengaktifkan
sel efektor makrofag yang menimbulkan kerusakan jaringan. Contoh reaksi lambat
adalah dermatitis kontak, reaksi M. tuberculosis dan reaksi penolakan tandur.
Perbedaan
Waktu timbul
reaksi

Reaksi cepat
Hitungan detik

Reaksi intermediet
Terjadi setelah beberapa
jam terpajan

Reaksi lambat
Terjadi setelah 48 jam
terpajan

Pembagian reaksi Hipersensitivitas menurut Gell dan Coombs


Reaksi menurut Gell dan Coombs dibagi menjadi 4 bagian berdasarkan tipe mekanisme
imunologi yaitu :
1 Hipersensitivitas tipe I
2 Hipersensitivitas tipe II
3 Hipersensitivitas tipe III
4 Hipersensitivitas tipe IV

http://childrenallergyclinic.wordpress.com
Pembagian Gell dan Coombs seperti terlihat di atas dibuat sebelum analisis yang
mendetail mengenai subset dan fungsi sel T diketahui. Berdasarkan penemuan-penemuan
dalam penelitian imunologi, telah dikembangkan beberapa modifikasi klasifikasi Gell dan
Coombs yang membagi lagi Tipe IV dalam beberapa subtype reaksi. Meskipun reaksi Tipe I,
II, dan III dianggap sebagai reaksi humoral, sebetulnya reaksi-reaksi tersebut masih
memerlukan bantuan sel T atau peran selular. Oleh karena itu pembagian Gell dan Coombs
telah dimodifikasi lebih lanjut seperti terlihat pada tabel:
Mekanisme
Tipe I: IgE

Tipe II: Sitotoksik


(IgG dan IgM)

Gejala
Anafilaksis,
Urtikaria,
Angioedema,
Mengi,
Hipotensi,
Nausea,
Muntah, Sakit Abdomen,
Diare
Agranulotis

Anemia Hemolitik

Trombositopenia

Contoh
Penisilin dan -lactam lain, enzim,
antiserum,
protamin,
heparin
antibody monoclonal, ekstrak
allergen, insulin,
Metamizol, Fenotiazin
Penisilin, Sefalosporin, -Lactam,
Kinidin, Metildopa
Karbamazepin,
Fenotiazin,
Tiourasil,
Sulfonamid,
Antikonvulsan, kinin, kinidin,
Parasetol, Sulfonamid, Propil
Tiourasil, Perparat Emas
B-lactam, Sulfonamid, Fenitoin,
Streptomisin
Serum
Xenogenik,
Penisilin,
Globulin anti-timosit
Penisilin, Anestetik Lokal

Tipe III : Kompleks Imun


(IgG dan IgM)

Panas,
Urtikaria,
Atralgia, Limfadenopati
Serum Sickness

TipeIV : Hipersensitivitas
Seluler

Eksim,
Eritema,
Melepuh, Pruritus
Fotoalergi
Antihistamin topical, Neomisin,
Pengawet, Eksipien, Desinfektan
Barbiturat, kinin
Fixed Drug Eruption Penisilin, Emas, Barbiturat, -

Lesi Makulopapular
Reaksi Granuloma

Tipe
V:
Granuloma
Tipe VI: Hipersensitivitas Resistensi Insulin
Stimulasi

blocker
Ekstrak allergen, Kolagen larut
Hidralazin, Prokainamid. Antibodi
terhadap insulin (IgG)

A. Hipersensitivitas tipe I
A.1. Definisi
Reaksi tipe I yang disebut juga reaksi cepat atau reaksi anafilaksis atau reaksi alergi,
timbul sesudah tubuh terpapar dengan alergen. Istilah alergi yang pertama kali digunakan Von
Pirquet pada tahun 1906 yang berasal dari alol (Yunani) yang berarti perubahan dari asalnya
yang dewasa. Ini diartikan sebagai perubahan reaktivitas organisme. Reaksi Tipe I ini
diperantarai oleh IgE. Pada reaksi ini, Sel mast akan mengeluarkan histamin, leukotrin,
prostaglandin, sitokinin dan Platelet activating factor (PAF)
A.2. Etiologi
Pasien-pasien dengan alergi saluran nafas musiman sebagai akibat inhalasi tepungsari,
serpihan kulit hewan dan spora jamur. Selain itu dapat juga dicetuskan makanan tertentu
seperti buah-buahan, udang, ikan, produk-produk susu, coklat, kacang-kacangan dan obatobatan. Bahan tersebut dapat mencetuskan reaksi anafilaksis dengan keluhan yang menonjol
pada sistem kardiovaskular dan gastrointestinal, selain juga menyebabkan urtikaria kronik.
Pencetus urtikaria lainnya yang mungkin adalah rangsangan fisik seperti dingin, panas, sinar
matahari, latihan fisik/olahraga dan iritasi mekanik. Demam, mandi air hangat, atau
olahragadimana terjadi peningkatan temperatur tubuh dapat mencetuskan urtikaria koligemik.
Pemicu lain hipersensitivitas adalah cahaya, air pada temperatur berapapun dan bahan kimia
tertentu. Bahan-bahan karet alam seperti lateks, merupakan masalah tersendiri bagi pekerja
medis.
A.3. Mekanisme
Pada reaksi tpe I, alergen yang masuk ke dalam tubuh menimbulkan respon imun
berupa produksi IgE dan penyakit alergi seperti rhinitis alergi, asma dan dermatitis atopi.
Pada tipe I terdapat beberapa fase, yaitu :
o Fase sensitasi yaitu waktu yang dibutuhkan untuk membentuk IgE sampai diikat silang
oleh reseptor spesifik pada permukaan sek mast/basofil.
o Fase aktivasi yaitu waktu yang diperlukan antara pajanan ulang dengan antigen yang
spesifik dan sel mast/basofil melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan
reaksi. Hal ini terjadi oleh ikatan silang antara antigen dan IgE.
o Fase efektor yaitu waktu yang terjadi respon yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek
mediator-mediator yang dilepas sel mast/basofil dengan aktivasi farmakologik.

http://nfs.unipv.it/nfs/minf/dispense/immunology/lectures/files/images/type1_hypersensitivity.j
pg
Pajanan dengan antigen mengaktifkan sel Th2 yang merangsang sel B berkembang
menjadi sel plasma yang memproduksi IgE. Molekul IgE yang dilepas diikat oleh FceR1
pada sel mast dan basofil (banyak molekul IgE dengan berbagai spesifisitas dapat diikat
FceR1). Pajanan kedua dengan alergen menimbulkan ikatan silang antara antigen dan IgE
yang diikat sel mast, memacu pelepasan mediator farmakologis aktif (amin vasoaktif) dari sel
mast dan basofil. Mediator-mediator tersebut menimbulkan kontraksi otot polos,
meningkatkan permeabilitas vaskular dan vasodilatasi, kerusakan jaringan dan anafilaksis.
Preformed Mediator pada Reaksi Hipersensitivitas tipe I
A. Histamin
Histamin merupakan komponen utama granul sel mast dan sekitar 10% dari berat granul.
Histamine yang merupakan mediator primer yang dilepas akan diikat oleh reseptornya.
Ada 4 reseptor histamine ( H1,H2,H3,H4 ) dengan distribui yang berbeda dalam jaringan
dan bila berikatan dengan histamine, menunjukkan berbagai efek.
B. PG dan LT
PG dan LT dihasilkan dari metabolism asam arakidonat serta berbagai sitokin berperan
pada fase lambat reaksi tipe 1. PG dan LT merupakan mediator sekunder yang kemudian
dibentuk dari metabolism asam arakidonat atas pengaruh fosfolipase A2. Efek
biologisnya timbul lebih lambat, namun lebih menonjol dan berlangsung lebih lama
disbanding dengan histamine. LT berperan pada bronkokonstriksi, peningkatan
permeabilitas vascular dan produksi mucus. PGE2 menimbulkan bronkokonstriksi.
C. Sitokin
Sitokin dilepas sel mast dan basofil (IL-3,IL-4,IL-5,IL-6,IL-10,IL-13,GM-CSF dan
TNF-). Beberapa berperan dalam reaksi tipe 1. Sitokin tersebut mengubah lingkungan
mikro dan dapat mengerahkan sel inflamasi seperti neutrofil dan eosinofil. IL-4 dan IL13 meningkatkan produksi IgE oleh sel B. IL-5 berperan dalam pengerahan dan aktivasi
eusinofil.
Mediator primer utama pada hipersensitivitas Tipe 1
Mediator
Efek
Histamin
H1: permeabilitas vaskuler meningkat, vasodilatasi, kontraksi otot

ECF-A
NCF-A
Eosinophil chemotactic
Neutrophil chemotactic
Protease
PAF
Hidrolase asam
NCA
BK-A
Proteoglikan
Enzim

polos
H2: Sekresi Mukosa Gaster Aritmia Jantung
H3: SSP (regulator?)
H4: Eosinofil (?)
Kemotaksis eosinofil
Kemotaksis neutrofil
Kemotaktik untuk eosinofil
Kemotaktik untuk neutrofil
Sekresi mukus bronkial, degradasi membran basal pembuluh
darah, pembentukan produk pemecah komplemen
Agregasi dan degranulasi trombosit, kontraksi otot polos paru
Degradasi matriks ekstraseluler
Kemotaksis neutrofil
Kalikrein : kininogenase
Heparin, kondrotin sulfat, sulfat dermatan; mencegah komplemen
yang menimbulkan koagulasi (?)
Kimase, triptase, proteolisis

Mediator sekunder utama pada Hipersensitivitas Tipe 1


Mediator
Efek
LTR (SRS-A)
Peningkatan
permeabilitas
vascular,
vasodilatasi, sekresi mucus, kontraksi oto
polos paru, kemotaktik neutrofil
PG
Vasodilatasi, kontraksi otot polos paru,
agregasi trombosit, kemotaktik neutrofil,
potensial mediator lainnya
Bradikinin
Peningkatan
permeabilitas
kapiler,
vasodilatasi kontraksi otot polos, stimulasi
ujung saraf nyeri
Sitokin
Bervariasi
IL-1 dan TNF-a
Anafilaksis, peningkatan ekspresi CAM
pada sel endotel venul
IL-3, IL-5, IL-6, IL-10, TGF-B dan GM-CSF Berbagai efek dapat dilihat di sitokin
IL4, PMN, demam TNF-a
Aktivasi monosit, eosinofil, demam
FGF
Fibrosis
Inihibitor Protease
Mencegah kinase
Lipoksin
Bronkokonstriksi
Leukotrin (LTC4 LTD4 LTE4)
Kontraksi otot polos (jangka lama),
meningkatkan permeabilitas, kemotaksis
Leukotrin B4, 15 HETE
Sekresi Mukus
PAF
Kemotaksis
(terutama
eosinofil),
bronkospasme
A.4. Manifestasi

Reaksi Lokal
Reaksi hipersensitivitas tipe I local terbatas pada jaringan atau organ spesifik yang
biasanya melibatkan permukaan epitel tempat allergen masuk. 20% populasi

menunjukkan penyakit melalui IGE yaitu asma, rintitits alergi dan dermatitis atopi.
Sekitar 50-70% membentuk IgE terhadap antigen yang masuk ke tubuh melalui
mukosa seperti selaput lender hidung, paru, konjungtiva. IgE yang sudah ada pada
permukaan sel mast akan menetap selama beberapa minggu. Sensitasi dapat terjadi
secara pasif jika serum orang yang alergi dimasukkan ke dalam kulit/ sirkulasi orang
normal
Reaksi Sistemik-Anafilaksis
Anafilaksis adalah reaksi tipe I yang dapat fatal dan terjadi dalam beberapa menit
saja.Anafilaksis merupakan reaksi alergi yang cepat, ditimbulkan IgE yang dapat
mengancam nyawa. Reaksi dapat dipicu oleh berbagai allergen seperti makanan (asal
laut, kacang-kacangan), obat atau sengatan serangga dan juga lateks.
Reaksi Pseudoalergi atau Anafilaktoid
Reaksi Pseudoalergi atau anafilaktoid adalah reaksi sistemik umum yang melibatkan
pelepasan mediator oleh sel mast yang tidak terjadi melalui IgE. Secara klinis, reaksi
ini menyerupai reaksi tipe I seperti syok, urtikaria, bronkospasme, anafilaksis,
pruritus, tetapi tidak berdasarkan atas reaksi imun. Reaksi ini tidak memerlukan
pajanan terlebih dahulu untuk menimbulkan sensitasi. Reaksi anafilaktoid dapat
ditimbulkan antimikroba, protein, kontras dengan yodium, AINS, etilenoksid, taksol
dan pelemas otot
(Baratawidjaja, 2009)

Pemicu Reaksi Anafilaksis / Anafilaktoid


Obat
Antibiotik, aspirin dan AINS lain, vaksin,
obat perioperasi, antisera, opiate
Hormon
Insulin, Progesteron
Darah / produk darah
Imunoglobuin IV
Enzim
Streptokinase
Makanan
Susu, telur, terigu, soya, kacang tanah
Venom (bisa)
Lebah, semut api
Lain
Lateks, kontras, membrane dialisa, ekstrak
imunoterapi, protamin, cairan seminal
Reaksi Alergi
Jenis Alergi
Anafilaksis

Urtikaris akut
Rinitis alergi
Asma

Makanan
Ekzem atopi

Alergen Umum
Gambaran
Obat, serum, kacang- Edema
dengan
peningkatan
kacangan
permeabilitas kapiler, okulasi trakea ,
koleps
sirkulasi
yang
dapat
menyebabkan kematian
Sengatan serangga
Bentol, merah
Polen, tungau debu rumah Edema dan iritasi mukosa nasal
Polen, tungau debu rumah Konstriksi
bronkial,
peningkatan
produksi mukus, inflamasi saluran
nafas
Kerang, susu, telur, ikan, Urtikaria yang gatal dan potensial
bahan asal gandum
menjadi anafilaksis
Polen, tungau debu runah, Inflamasi pada kulit yang terasa gatal,
beberapa makanan
biasanya merah dan ada kalanya
vesikular

B. Hipersensitivitas tipe II
B.1. Definisi
Reaksi tipe II disebut juga reaksi sitotoksik, terjadi karena dibentuknya antibodi jenis
IgG atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel pejamu. Reaksi diawali oleh
reaksi antibody dengan determinan antigen yang merupakan bagian dari membrane sel.
Antibodi tersebut dapat mengaktifkan sel yang memiliki reseptor Fcy-R dan juga sel NK
yang dapat berperan sebagai sel efektor dan menimbulkan kerusakan melalui ADCC.
B.2. Etiologi
Reaksi hipersensitivitas tipe II atau Sitotoksis terjadi karena dibentuknya antibodi jenis
IgG atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel pejamu. Reaksi ini dimulai
dengan antibodi yang bereaksi baik dengan komponen antigenik sel, elemen jaringan atau
antigen atau hapten yang sudah ada atau tergabung dengan elemen jaringan tersebut.
Kemudian kerusakan diakibatkan adanya aktivasi komplemen atau sel mononuklear.
(http://www.analiskesehatan.web.id)
Penyebabnya adalah adanya sel klon yang terbentuk karena tumor, infeksi virus, atau
terinduksi mutagen. Sel klon tersebut memiliki kecacatan DNA sehingga harus dimusnahkan.
Jika tidak dimusnahkan, sel target tersebut dapat membentuk klon baru yang lebih banyak
dan menyebabkan kerusakan jaringan. Tubuh merespon terhadap sel klon ini dengan cara
membentuk IgG atau IgM yang selanjutnya menyebabkan lisis sel target.
Contoh kasus yang menyebabkan hipersensitivitas tipe II adalah reaksi transfuse darah
yang tidak cocok, inkompabilitas Rh dalam kehamilan yang menyebabkan erythroblastosis
fetalis, dan penyakit anemia hemolitik karena alergi antibiotic.
(Baratawidjaja, 2009)
B.3. Mekanisme
Reaksi yang bergantung pada
Komplemen
Hipersensitivi
tas
Tipe II

Reaksi yang bergantung pada ADCC


Disfungsi Sel akibat Antibodi

REAKSI YANG BERGANTUNG PADA KOMPLEMEN

Sel normal terinfeksi oleh antigen IgG berikatan dengan antigen Sel
diopsonisasi agar mudah di fagosit Pengaktifan komplemen yang menghasilkan C3B
dan C4B yang dapat meningkatkan fagositosis Sel yang diopsonisasi dikenali oleh
Fc receptor Sel di fagositosis oleh makrofag dan neutrofil

Antibodi terikat pada jaringan ekstraseluler (membrane basal atau matriks)


Pengaktifan komplemen Menghasilkan C5a dan C3a C5a menarik neutrofil dan monosit
Leukosit aktif melepaskan bahan perusak Kerusakan Jaringan
Saat antibodi terikat pada jaringan ekstraselular (membran basal dan matriks),
kerusakan yang dihasilkan merupakan akibat dari inflamasi, bukan fagositosis/lisis sel.
Antibodi yang terikat tersebut akan mengaktifkan komplemen, yang selanjutnya
menghasilkan terutama C5a (yang menarik neutrofil dan monosit). Sel yang sama juga
berikatan dengan antibodi melalui reseptor Fc. Leukosit aktif, melepaskan bahan-bahan
perusak (enzim dan intermediate oksigen reaktif), sehingga menghasilkan kerusakan jaringan.
Reaksi ini berperan pada glomerulonefritis dan vascular rejection dalam organ grafts.
REAKSI YANG BERGANTUNG PADA ADCC
Pertama, sel target mengekspresikan protein asing atau antigen. Lalu antigen
ditangkap oleh limfosit b. Selanjutnya, limfosit B aktif dan berubah menjadi sel plasma.Lalu
sel plasma menghasilkan antibody. Antibody akan berikatan dengan sel killer yang memiliki
reseptor antibody. Sel killer bersana dengan antibody yang menempel di permukaannya
selanjutnya menyerang sel target yang memasang antigennya di permukaannya. Antibody
berikatan dengan antigen di permukaan dan selanjutnya menyebabkan sel target tersebut lisis

DISFUNGSI SEL AKIBAT ANTIBODI

Pada beberapa kasus, antibodi yang diarahkan untuk melawan reseptor permukaan sel
merusak atau mengacaukan fungsi tanpa menyebabkan jejas sel atau inflamasi. Contohnya
yaitu pada penyakit miastenia gravis, antibodi terhadap reseptor asetilkolin dalam motor endplate otot-otot rangka mengganggu transmisi neuromuskular disertai kelemahan otot. Jadi
antibodi mem-block reseptor asetikolin yang berfungsi dalam kontraksi otot.
Contoh lainnya yaitu yang terjadi pada Graves disease. Graves disease adalah
penyakit yang biasanya ditandai oleh produksi otoantibodi yang memiliki kerja mirip TSH
pada kelenjar tiroid. Akibatnya, Sel tiroid akan memproduksi hormon tiroid yang berlebihan
(hipertiroidisme).
(Kumar,2005)
B.4. Manifestasi
1. Reaksi transfusi
Sejumlah besar protein dan glikoprotein pada membran SDM disandi oleh berbagai
gen. Individu golongan darah A mendapat transfusi golongan B terjadi reaksi transfusi,
karena anti B isohemaglutinin berikatan dengan sel darah B yang menimbulkan
kerusakan darah direk oleh hemolisis masif intravascular. Reaksi dapat cepat atau
lambat .
Reaksi cepat biasanya disebabkan oleh inkompatibiltas golongan darah ABO yang
dipacu oleh IgM. Dalam beebrapa jam hemoglobin bebas dapat ditemukan dalam
plasma dan disaring melalui ginjal dan menimbulkan hemoglobinuria. Beberapa

hemoglobin diubah menjadi bilirubin yang Pada kadar tinggi bersifat toksik. Gejala
khasnya berupa demam, menggigil, nausea, bekuan dalam pembuluh darah, nyeri
pinggang bawah dan hemoglobinuria.
Reaksi transfuse darah yang lambat terjadi pada mereka yang pernah mendapat
transfuse berulang dengan darah yang kompatibel ABO namun inkompatibel dengan
golongan darah lainnya. Darah yang ditransfusikan memacu pembentukan IgG terhadap
berbagai antigen membrane golongan darah, tersering adalah golongan rhesus, kidd,
kell dan Duffy
2. Reaksi Antigen Rhesus
Ada sejenis reaksi transfusi yaitu reaksi inkompabilitas Rh yang terlihat pada bayi baru
lahir dari orang tuanya denga Rh yang inkompatibel (ayah Rh+ dan ibu Rh-). Jika anak
yang dikandung oleh ibu Rh- menpunyai darah Rh+ maka anak akan melepas sebagian
eritrositnya ke dalam sirkulasi ibu waktu partus. Hanya ibu yang sudah disensitasi yang
akan membentuk anti Rh (IgG) dan hal ini akan membahayakan anak yang dikandung
kemudian. Hal ini karena IgG dapat melewati plasenta. IgG yang diikat antigen Rh pada
permukaan eritrosit fetus biasanya belum menimbulkan aglutinasi atau lisis. Tetapi sel
yang ditutupi Ig tersebut mudah dirusak akibat interaksi dengan reseptor Fc pada
fagosit. Akhirnya terjadi kerusakan sel darah merah fetus dan bayi lahir kuning,
Transfusi untuk mengganti darah sering diperlukan dalam usaha menyelamatkan bayi.
3. Anemia hemolitik
Antibiotika tertentu seperti penisilin, sefalosporin, dan streptomisin dapat
diabsorbsi non spesifik pada protein membran SDM yang membentuk kompleks
serupa kompleks molekul hapten pembawa
Pada beberapa penderita, kompleks membentuk ab yang selanjutnya mengikat
obat pada SDM dan dengan bantuan komplemen menimbulkan lisis dengan dan
anemia progresif.
(Baratawidjaja, 2009)
C. Hipersensitivitas tipe III
C.1. Definisi
Reaksi tipe III disebut juga reaksi kompleks imun. Antibodi untuk hipersensitivitas III
menggunakan jenis IgM atau IgG. Terjadinya reaksi kompleks imun dirangsang oleh
pengendapan kompleks antigen-antibodi dalam sirkulasi jaringan dan pembuluh darah.
Reaksi ini mengakibatkan aktivasi komplemen, respons radang polimorfonuklear dan
kerusakan jaringan. Tipe hipersensitivitas ini ditemukan pada infeksi bakteri persisten
tertentu.
(Baratawidjaja, 2009)
C.2. Etiologi
Penyebab reaksi hipersensitivitas tipe III yang sering terjadi, terdiri dari :
o Infeksi persisten
- Pada infeksi ini terdapat antigen mikroba, dimana tempat kompleks mengendap
adalah organ yang diinfektif dan ginjal.
o Autoimunitas
- Pada reaksi ini terdapat antigen sendiri, dimana tempat kompleks mengendap
adalah ginjal, sendi, dan pembuluh darah.
o Ekstrinsik

Pada reaksi ini, antigen yang berpengaruh adalah antigen lingkungan. Dimana
tempat kompleks yang mengendap adalah paru.

Selain itu, reaksi hipersensitivitas III bisa disebabkan oleh adanya kompleks imun
ukuran kecil yang susah untuk dimusnahkan dan malah mengendap di dinding pembuluh
darah. Kompleks antibodi berikatan dengan komplemen dan memicu neutrophil untuk
berdegranulasi. Degranulasi neutrofil menyebabkan kerusakan jaringan.
C.3. Mekanisme
Dalam keadaan normal, kompleks imun yang terbentuk akan diikat dan diangkut oleh
eritrosit ke hati, limpa dan paru untuk dimusnahkan oleh sel fagosit dan PMN. Kompleks
imun yang besar akan mudah untuk di musnahkan oleh makrofag hati. Namun, yang menjadi
masalah pada reaksi hipersensitivitas tipe III adalah kompleks imun kecil yang tidak bisa
atau sulit dimusnahkan yang kemudian mengendap di pembuluh darah atau jaringan.
1. Kompleks Imun Mengendap di Dinding Pembuluh Darah
Makrofag yang diaktifkan kadang belum dapat menyingkirkan kompleks imun sehingga
makrofag dirangsang terus menerus untuk melepas berbagai bahan yang dapat merusak
jaringan. Kompleks yang terjadi dapat menimbulkan:
- Agregasi trombosit
- Aktivasi makrofag
- Perubahan permeabilitas vaskuler
- Aktivasi sel mast
- Produksi dan pelepasan mediator inflamasi
- Pelepasan bahan kemotaksis
- Influks neutrofil
2. Kompleks Imun Mengendap di Jaringan
Hal yang memungkinkan kompleks imun mengendap di jaringan adalah ukuran
kompleks imun yang kecil dan permeabilitas vaskuler yang meningkat. Hal tersebut terjadi
karena histamin yang dilepas oleh sel mast.

http://medchrome.com/wp-content/uploads/2011/08/type-3-hypersensitivity.jpg

Immune Complex Formation


Adanya antigen di dalam pembuluh darah memicu respon imun yang membuat
dilakukannya produksi antibodi, sekitar satu minggu sesudah injeksi protein. Pada
reaksi hipersensitivitas tipe III, antibodi bereaksi dengan antigen bersangkutan
membentuk kompleks antigen antibodi yang akan menimbulkan reaksi inflamasi.
Immune Complex Deposition

Kompleks imun akan mengendap pada jaringan tertentu seperti endotel, kulit,
ginjal dan persendian. Organ yang darahnya tersaring pada tekanan tinggi untuk
membentuk cairan lain seperti urin dan cairan sinovial lebih sering terserang sehingga
meningkatkan kejadian kompleks imun pada glomerulus dan sendi. Neutrofil dan
leukosit mulai digerakkan ke tempat reaksi dan menimbulan obstruksi aliran darah.
Aktivasi sistem komplemen, menyebabkan pelepasan berbagai mediator oleh
mastosit.
Immune Complex-Mediated Inflammation
C3a dan C5a yang terbentuk pada aktivasi komplemen meningkatkan
permeabilitas pembuluh darah yang menimbulkan edema. C3a dan Ca berfungsi
sebagai fakor kemotaktik. Neutrofil yang diaktifkan memakan kompleks imun
bersama dengan trombosit yang digumpalkan melepas berbagai bahan seperti
kolagenase proteinase, kolegenase, enzim pembentuk kinin dan bahan vasoaktif.
Akhirnya terjadi pendarahan yang disertai nekrosis jaringan setempat.
Reaksi tipe III mempunyai 2 bentuk :
a. Reaksi Arthus
Pada reaksi bentuk arthus, ditemukan eritema ringan dan edema dalam 2-4 jam
sesduah suntikan. Reaksi tersebut menghilang keesokan harinya. Suntikan selanjutnya
menimbulkan edema yang lebih besar dan suntikan yang ke 5-6 menimbulkan
perdarahan dan nekrosis. Hal tersebut disebut fenomena arthus yang merupakan
bentuk reaksi dari kompleks imun. Reaksi arthus membutuhkan antigan dan antibodi
dalam jumlah besar. Antigen yang disuntikkan akan membentuk kompleks yang tidak
larut dalam sirkulasi dan mengalami pengendapan. Mekanisme pada reaksi arthus
adalah sebaga berikut :
1. Neutrofil menempel pada endotel vaskular kemudian bermigrasi ke jaringan
tempat kompleks imun diendapkan. Reaksi yang timbul yaitu berupa
pengumpulan cairan di jaringan (edema) dan sel darah merah (eritema) sampai
nekrosis.
2. C3a dan C5a yag terbentuk saat aktivasi komplemen meningkatkan
permeabilitas pembuluh darah sehingga memperparah edema. C3a dan C5a
juga bekerja sebagai faktor kemotaktik sehingga menarik neutrofil dan
trombosit ke tempat reaksi. Neutrofil dan trombosit ini kemudian
menimbulkan statis dan obstruksi total aliran darah.
3. Neutrofil akan memakan kompleks imun kemudian akan melepas bahan-bahan
seperti protease, kolagenase dan bahan-bahan vasoaktif bersama trombosit
sehingga akan menyebabkan perdarahan yang disertai nekrosis jaringan
setempat.
b. Reaksi serum sickness
Reaksi serum sickness ditemukan sebagai konsekuensi imunasi pasif pada
pengobatan infeksi seperti difteri dan tetanus. Antibodi yang berperan dalam reaksi ini
adalah IgG atau IgM dengan mekanisme sebagai berikut:
1. Komplemen yang telah teraktivasi melepaskan anafilatoksin (C3a dan C5a)
yang memacu sel mast dan basofil melepas histamin.
2. Kompleks imun lebih mudah diendapkan di daerah dengan tekanan darah yang
tinggi dengan putaran arus (contoh: kapiler glomerulus, bifurkasi pembuluh
darah, plexus koroid, dan korpus silier mata)
3. Komplemen juga menimbulkan agregasi trombosit yang membentuk
mkrotrombi kemudian melepas amin vasoaktif. Bahan-bahan vasoaktiv tersebut

mengakibatkan vasodilatasi, peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan


inflamasi.
4. Neutrofil deikerahkan untuk menghancurkan kompleks imun. Neutrofil yang
terperangkap di jaringan akan sulit untuk memakan kompleks tetapi akan tetap
melepaskan granulnya (angry cell) sehingga menyebabkan lebih banyak
kerusakan jaringan.
5. Makrofag yang dikerahkan ke tempat tersebut juga meleaskan mediatormediator antara lain enzim-enzim yang dapat merusak jaringan
Dari mekanisme diatas, beberapa hari minggu setelah pemberian serum asing akan
mulai terlihat manifestasi panas, gatal, bengkak-bengkak, kemerahan dan rasa sakit di
beberapa bagian tubuh sendi dan kelenjar getah bening yang dapat berupa vaskulitis
sistemik (arteritis), glomerulonefritis, dan artiritis. Reaksi tersebut dinamakan reaksi
Pirquet dan Schick.
C.4. Manifestasi
Manifestasi klinis hipersensitivitas III yaitu :
a Urtikaria, angioedema, eritema, makulopapula, eritema multiforme
b Demam
c Kelaianan sendi
d Limfadenopati
e Sindrom lupus eritematosus sistemik
f Glomerulonefritis
Penyakit oleh kompleks imun
Penyakit
Lupus eritematosus

Poliarteritis nodosa

Glomreulonefritis
post-streptokokus

Spesifitas
antibody
DNA,
nucleoprotein
Antigen
permukaan virus
hepatitis B
Antigen dinding
sel streptokokus

Mekanisme
Inflamasi diperantarai
komlplemen dan
reseptor Fc
Inflamasi diperantarai
komplemen dan
reseptor Fc
Inflamasi diperantarai
komplemen dan
reseptor Fc

Manifestasi
klinopatologi
Nefritis, vaskulitis,
arthritis
Vaskulitis

Nefritis

D. Hipersensitivitas tipe IV
D.1. Definisi
Reaksi tipe IV disebut juga reaksi hipersensitivitas lambat, cell mediated imunity
(CMI), Delayed Type Hypersensitivity (DTH). Reaksi terjadi karena respons sel T yang
sudah disensitasi terhadap antigen tertentu. Tidak ada pernan antibodi. Antigen yang dapat
menimbulkan reaksi tersebut berupa jaringan asing, mikroorganisme intraseluler, protein atau

bahan kimia yang dapat menembus kulit. Merupakan hipersensitivitas tipe lambat yang
dikontrol sebagian besar oleh reaktivitas sel T terhadap antigen. Reaksi hipersensitivitas tipe
IV telah dibagi menjadi :
Delayed Type Hypersensitivity Tipe IV
Merupakan hipersensitivitas granulomatosis, terjadi pada bahan yang tidak dapat
disingkirkan dari rongga tubuh seperti talkum dalam rongga peritoneum dan kolagen
sapi dari bawah kulit.
T Cell Mediated Cytolysis
Kerusakan jaringan terjadi melalui sel CD8+/CTL/Tc yang langsung membunuh sel
sasaran.
D.2. Etiologi
Reaksi ini terjadi karena sel T melepas sitokin bersama dengan produksi mediator
sitotoksik lainnya yang menimbulkan respon inflamasi yang terlihat pada penyakit kulit
hipersensitivitas lambat.
D.3. Mekanisme

http://nfs.unipv.it/nfs/minf/dispense/immunology/lectures/files/images/type4_hypersensit
ivity.jpg
a. Fase Sensitasi
Membutuhkan waktu 1-2 minggu setelah kontak primer dengan antigen. Th diaktifkan
oleh APC melalui MHC-II. Berbagai APC (sel Langerhans / SD pada kulit dan
makrofag) menangkap antigen dan membawanya ke kelenjar limfoid regional untuk
dipresentasikan ke sel T sehingga terjadi proliferasi sel Th1 (umumnya).
b. Fase Efektor
Pajanan ulang dapat menginduksi sel efektor sehingga mengaktifkan sel Th1 dan
melepas sitokin yang menyebabkan :
- Aktifnya sistem kemotaksis dengan adanya zat kemokin (makrofag dan sel inflamasi).
Gejala biasanya muncul nampak 24 jam setelah kontak kedua.

Menginduksi monosit menempel pada endotel vaskular, bermigrasi ke jaringan


sekitar.
Mengaktifkan makrofag yang berperan sebagai APC, sel efektor, dan menginduksi sel
Th1 untuk reaksi inflamasi dan menekan sel Th2.
Mekanisme kedua reaksi adalah sama, perbedaannya terletak pada sel T yang teraktivasi.
Pada Delayed Type Hypersensitivity Tipe IV, sel Th1 yang teraktivasi dan pada T Cell
Mediated Cytolysis, sel Tc/CTL/ CD8+ yang teraktivasi.
Granuloma terbentuk pada : TB, Lepra, Skistosomiasis, Lesmaniasis dan Sarkoidasis .
D.4. Manifestasi

Dematitis kontak
Merupakan penyakit CD8+ yang terjadi akibat kontak dengan bahan yang tidak
berbahaya seperti formaldehid, nikel, bahan aktif pada cat rambut (contoh reaksi DTH).

Hipersensitivitas tuberkulin
Bentuk alergi spesifik terhadap produk filtrat (ekstrak/PPD) biakan Mycobacterium
tuberculosis yang apabila disuntikan ke kulit (intrakutan), akan menimbulkan reaksi ini
berupa kemerahan dan indurasi pada tempat suntikan dalam 12-24 jam. Pada individu
yang pernah kontak dengan M. tuberkulosis, kulit akan membengkak pada hari ke 7-10
pasca induksi. Reaksi ini diperantarai oleh sel CD4+.

Reaksi Jones Mote


Reaksi terhadap antigen protein yang berhubungan dengan infiltrasi basofil yang
mencolok pada kulit di bawah dermis, reaksi ini juga disebut sebagai hipersensitivitas
basofil kutan. Reaksi ini lemah dan nampak beberapa hari setelah pajanan dengan protein
dalam jumlah kecil, tidak terjadi nekrosis jaringan. Reaksi ini disebabkan oleh suntikan
antigen larut (ovalbumin) dengan ajuvan Freund.

Penyakit CD8+ ( T cell mediated cytolysis )


Kerusakan jaringan terjadi melalui sel CD8+/CTL/Tc yang langsung membunuh sel
sasaran. Penyakit ini terbatas pada beberapa organ saja dan biasanya tidak sistemik,
contoh pada infeksi virus hepatitis.
Contoh mekanisme reaksi hipersensitivitas tipe IV :
Reaksi pada infeksi parasit dan bakteri intrasel
a. DTH mengaktifkan influks makrofag pada infeksi yang tidak dapat ditemukan
oleh antibodi.
b. Makrofag melepaskan enzim litik yang menyebabkan kerusakan jaringan.
c. Bila enzim litik terus diproduksi dapat mengakibatkan reaksi granulomatosis
yang akan menyebabkan nekrosis pada jaringan yang dapat mengenai jaringan
pembuluh darah.
Respon pada infeksi M. tuberkulosis
a. Bakteri mengaktifkan respon DTH yang selanjutnya mengaktifkan makrofag yang
merangsang isolasi kuman dalam lesi granuloma (tuberkulin)
b. Tuberkulin akan melepaskan enzim litik yang akan merusak jaringan paru-paru
dan menimbulkan nekrosis jaringan.

Granuloma terbentuk pada :


a. TB
b. Lepra
c. Skistosomiasis
d. Lesmaniasis
e. Sarkoidasis
LI.2. Memahami dan Menjelaskan Antihistamin dan Kortikosteroid
2.1. Memahami dan Menjelaskan Antihistamin
Generasi

CTM (klorfeniramin)

AH1
Generasi II

Antihistamin

AH2

Terfenadin, Astemizol,
Loratadin, Akrivastin,

1. Simetidin
2. Ranitidin
3. Famotidin
4. Nizatidin

Antihistamin adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin
terhadap tubuh dengan jalan memblok reseptor histamin (penghambatan saingan). Antagonis
Reseptor Antihistamin dibedakan menjadi 2 yaitu AH1 dan AH2.

A. Antagonis Reseptor H1 (AH1)


FARMAKODINAMIK
AH1 menghambat efek histamin pada pembuluh darah, bronkus, bermacam otot polos.
Selain itu AH1 bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensitivitas atau keadaan lain
yang disertai penglepasan histamin endogen berlebihan. Obat AH1 dibedakan menjadi 2
yaitu AH1 generasi pertama dan AH2 generasi kedua. Obat AH1 generasi pertama
adalah klorfeniramin (CTM). AH1 generasi kedua tidak menyebabkan efek samping
karena tidak menembus sawar otak sehingga tidak menyebabkan efek pada SSP seperti
kantuk, inkoordinasi, dll. Contoh obat AH1 generasi kedua adalah terfenadin, astemizol,
loratasin, akrivastin, dan setirizin. Obat antihistamin yang digunakan untuk anestesi
local adalah prometazin dan pirilamin.
FARMAKOKINETIK
Efek yang ditimbulkan dari antihistamin 15-30 menit setelah pemberian oral dan
maksimal setelah 1-2 jam. Lama kerja AH1 umumnya 4-6 jam. Kadar tertinggi terdapat
pada paru-paru sedangkan pada limpa, ginjal, otak, otot, dan kulit kadarnya lebih
rendah. Tempat utama biotransformasi AH1 ialah hati. AH1 disekresi melalui urin

setelah 24 jam, terutama dalam bentuk metabolitnya. Meminum obat saat makan akan
mengurangi efek samping.
INDIKASI
- Untuk alergi debu yang tidak parah
- Mengatasi urtikaria akut, dermatitis atopic, dermatitis kontak dan gigitan serangga
- Untuk anti muntah pasca bedah atau hamil dan setelah radiasi
- Untuk paralisis agintans (Parkinson)
- Untuk mabuk perjalanan
- Kontraindikasi untuk pasien penderita penyakit hati
EFEK SAMPING
- Mengentalkan sekresi bronkus sehingga menyulitkan ekspektorasi (sehingga tidak
efektif untuk penderita asma
- Sedasi (mengantuk parah). Namun ada obat non-sedasi yaitu Astemizol, Terfenadin,
Loratadin
- Vertigo, Insomnia, Tremor, Nafsu makan menurun, inkoordinasi, pandangan kabur,
diplopia, euphoria, gelisah, lemah, penat, mulut kering, disuria, hipotensi, sakit
kepala, dll.
- Astemizol yang berlebihan menyebabkan gemuk
- Pemberian astemizol, terfenadin yang diberikan bersama makrolida (eritromisin)
seperti ketokonazol, itrakonazol akan menyebabkan keadaan fatal yaitu aritmia
ventrikel.
B. Antagonis Reseptor H2 (AH2)
AH2 menghambat sekresi asam lambung. AH2 dibedakan menjadi 4 golongan yaitu :
1. Simetidin
2. Ranitidin
3. Famotidin
4. Nizatidin
1. SIMETIDIN DAN RANITIDIN
FARMAKODINAMIK
Simetadin dan ranitidin menghambat reseptor H2 secara selektif dan reversible.
Kerjanya menghambat sekresi asam lambung. Simetadin dan ranitidin juga
mengganggu volume dan kadar pepsin cairan lambung.
FARMAKOKINETIK
Absorpsi simetidin diperlambat oleh makan, sehingga simetidin diberikan bersama atau
segera setelah makan dengan maksud untuk memperanjang efek pada periode
pascamakan. Ranitidn mengalami metabolisme lintas pertama di hati dalam jumlah
cukup besar setelah pemberian oral. Ranitidin dan metabolitnya diekskresi terutama
melalui ginjal, sisanya melalui tinja. Masa paruh simetidin adalah 2 jam sedangkan
masa paruh ranitidine adalah 1,75-3 jam dan bisa makin lama pada orang tua, pasien
gagal ginjal dan pasien yang mempunyai penyakit hati.
INDIKASI
Efektif untuk mengatasi gejala akut tukak duodenum dan mempercepat
penyembuhannya. Selain itu, juga efektif untuk mengatasi gejala dan mempercepat
penyembuhan tukak lambung. Dapat pula untuk gangguan refluks lambung-esofagus.

Untuk melakukan pencegahan digunakan dosis yang lebih kecil, sedangkan untuk
mencegah kekambuhkan dosis nya setengah.
EFEK SAMPING
Efek sampingnya rendah, yaitu penghambatan terhadap resptor H2, seperti nyeri kepala,
pusing, malaise, mialgia, mual, diare, konstipasi, ruam, kulit, pruritus, kehilangan libido
dan impoten.
2. FAMOTIDIN
FARMAKODINAMIK
Famotidin merupakan AH2 sehingga dapat menghambat sekresi asam lambung pada
keadaan basal, malam, dan akibat distimulasi oleh pentagastrin. Famotidin 3 kali lebih
poten daripada ramitidin dan 20 kali lebih poten daripada simetidin.
FARMAKOKINETIK
Famotidin mencapai kadar puncak di plasma kira kira dalam 2 jam setelah penggunaan
secara oral, masa paruh eliminasi 3-8 jam. Metabolit utama adalah famotidin-S-oksida.
Pada pasien gagal ginjal berat masa paruh eliminasi dapat melibihi 20 jam.
INDIKASI
Efektifitas Obat ini untuk tukak duodenum dan tukak lambung, refluks esofagitis, dan
untuk pasien dengan sindrom Zollinger-Ellison.
EFEK SAMPING
Efek samping ringan dan jarang terjadi, seperti sakit kepala, pusing, konstipasi dan
diare, dan tidak menimbulkan efek antiandrogenik.
3. NIZATIDIN
FARMAKODINAMIK
Potensi nizatin daam menghambat sekresi asam lambung.
FARMAKOKINETIK
Kadar puncak dalam serum setelah pemberian oral dicapai dalam 1 jam, masa paruh
plasma sekitar 1,5 jam dan lama kerja sampai dengn 10 jam, disekresi melalui ginjal.
INDIKASI
Efektifitas untuk tukak duodenum diberikan satu atau dua kali sehari selama 8 minggu,
tukak lambung, refluks esofagitis, sindrom Zollinger-Ellion.
Kontraindikasi : Kehamilan & Ibu menyusui
EFEK SAMPING
Efek samping ringan saluran cerna dapat terjadi, dan tidak memiliki efek
antiandrogenik.
2.2. Memahami dan Menjelaskan Kortikosteroid

Kortikosteroid adalah hormon kelas steroid yang dihasilkan di korteks adrenal.


Kortikosteroid terlibat dalam berbagai sistem fisiologis seperti respon stres, respon imun dan
regulasi inflamasi, metabolisme karbohidrat, katabolisme protein, kadar elektrolit darah, dan
tingkah laku.Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein.
Molekul hormon memasuki sel melewati membran plasma secara difusi pasif.
FARMAKODINAMIK
- Kortikosteroid mempengaruhi metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak.selain itu
juga mempengaruhi fungsi sistem kardiovaskular, ginjal, otot lurik, sistem saraf dan
organ lain.
- Dalam klinik umumnya kortikosteroid dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu
glukokortikoid dan mineralokortikoid.
Efek utama glukokortikoid ialah pada penyimpanan glikogen hepar dan efek antiinflamasi, sedangkan pengaruhnya pada keseimbangan air dan elektrolit kecil.
Contohnya adalah kortisol.
Efek pada mineralokortikoid ialah terhadap keseimbangan air dan elektrolit,
sedangkan pengaruhnya pada penyimpanan glikogen hepar sangat kecil.
Contohnya adalah aldosteron atau desoksikortikosteron.
- Sediaan kortikosteroid dapat dibedakan menjadi 3 golongan berdasarkan massa
kerjanya.
Sediaan kerja singkat mempunyai masa paruh biologis kurang dari 12 jam.
Sediaan kerja sedang mempunyai masa paruh biologis antara 12-36 jam.
Sediaan kerja lama mempunyai masa paruh biologis lebih dari 36 jam.
- Efek kortikosteroid kebanyakan berhubungan dengan besarnya dosis, makin besar
dosis, makin besar dosis terapi makin besar efek yang didapat. Mekanismenya adalah
melalui pengaruh steroid terhadap pembentukan protein yang mengubah respons
jaringan terhadap hormon lain.
FARMAKOKINETIK
Perubahan struktur kimia sangat mempengaruhi kecepatan absorpsi, mulai kerja dan
lama kerja karena juga mempengaruhi afinitas terhadap reseptor dan ikatan protein.
Kortisol dan analog sintetiknya pada pemberian oral diabsorpsi cukup baik. Untuk
mencapai kadar tinggi sebaiknya diberikan secara IV, untuk mendapatkan efek yang
lama kortisol dan esternya diberikan secara IM. Perubahan struktur kimia sangat
mempengaruhi kecepatan absorpsi, mula kerja dan lama kerja karena juga
mempengaruhi afinitas terhadap reseptor, dan ikatan protein. Prednison adalah
prodrug yang dengan cepat diubah menjadi prednisolon bentuk aktifnya dalam
tubuh.
Glukokortikoid dapat di absorpsi melalui kulit, sakus konjungtiva dan ruang
sinovial. Penggunaan jangka panjang atau pada daerah kulit yang luas dapat
menyebabkan efek sistematik, antara lain supresi korteks adrenal.
INDIKASI
Dari pengalaman klinis diajukan 6 prinsip yang harus diperhatikan sebelum obat ini
digunakan :
1. Untuk tiap penyakit pada tiap pasien, dosis efektif harus ditetapkan dengan trial dan
error dan harus di evaluasi dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan penyakit.
2. Suatu dosis tunggal besar kortikosteroid umumnya tidak berbahaya.

3. Penggunaan kortikosteroid untuk beberapa hari tanpa adanya kontraindikasi


spesifik, tidak membahayakan kecuali dengan dosis sangat besar.
4. Bila pengobatan diperpanjang sampai 2 minggu atau lebih dari hingga dosis
melebihi dosis substisusi, insidens efek samping dan efek letal potensial akan
bertambah.
5. Kecuali untuk insufisiensi adrenal, penggunaan kortikosteroid bukan merupakan
terapi kausal ataupun kuratif tetapi hanya bersifat paliatif karena efek antiinflamasinya.
6. Penghentian pengobatan tiba-tiba pada terapi jangka panjang dengan dosis besar,
mempunyai risiko insufisiensi adrenal yang hebat dan dapat mengancam jiwa
pasien.
EFEK SAMPING
Berikut efek samping kortikosteroid sistemik secara umum.
1. Saluran cerna

Hipersekresi asam lambung, mengubah proteksi gaster,


ulkus peptikum/perforasi, pankreatitis, ileitis regional,
kolitis ulseratif.

2. Otot

Hipotrofi, fibrosis, miopati panggul/bahu

3. Susunan saraf pusat

6. Mata

Perubahan kepribadian (euforia, insomnia, gelisah,


mudah tersinggung, psikosis, paranoid, hiperkinesis,
kecendrungan bunuh diri), nafsu makan bertambah
Osteoporosis,fraktur, kompresi vertebra, skoliosis,
fraktur tulang panjang.
Hirsutisme, hipotropi, strie atrofise, dermatosis
akneiformis, purpura, telangiektasis
Glaukoma dan katarak subkapsular posterior

7. Darah

Kenaikan Hb, eritrosit, leukosit dan limfosit

8. Pembuluh darah

Kenaikan tekanan darah

9. Kelenjar
adrenal bagian
kortek

Atrofi, tidak bisa melawan stres

10. Metabolisme
Protein dan
Karbohidrat

Kehilangan protein (efek katabolik), hiperlipidemia,gula


meninggi, obesitas, buffao hump, perlemakan hati.

11. Elektrolit

Retensi Na/air, kehilangan kalium (astenia, paralisis,


tetani, aritmia kor)

12. Sistem
immunitas

Menurun, rentan terhadap infeksi, reaktivasi Tb dan


herpes simplek, keganasan dapat timbul.

4. Tulang
5. Kulit

- Pemberian kortikosteroid jangka lama yang dihentikan tiba-tiba dapat menimbulkan


insifisiensi adrenal akut dengan gejala demam, malgia, artralgia dan malaise.
- Komplikasi yang timbul akibat pengobatan lama ialah gangguan cairan dan elektrolit ,
hiperglikemia dan glikosuria, mudah mendapat infeksi terutama tuberkulosis, pasien
tukak peptik mungkin dapat mengalami pendarahan atau perforasi, osteoporosis dll.
- Alkalosis hipokalemik jarang terjadi pada pasien dengan pengobatan derivat
kortikosteroid sintetik.
- Tukak peptik ialah komplikasi yang kadang-kadang terjadi pada pengobatan dengan
kortikosteroid. Sebab itu bila bila ada kecurigaan dianjurkan untuk melaakukan
pemeriksaan radiologik terhadap saluran cerna bagian atas sebelum obat diberikan.

http://www.bmb.leeds.ac.uk/teaching/icu3/lecture/24/image82.gif
KLASIFIKASI OBAT KORTIKOSTEROID
Masa bekerja
Short Acting (8-12 hours)
Intermediate Acting (18-36 hours)

Long Acting (36-54 hours)

Nama obat
-

Cortisone
Hydrocortisone
Prednisolone
Triamcinolone
Methylprednisolone
Fludrocortisone
Dexamethasone

Short Acting
1. Cortisone
Cortisone adalah jenis steroid yang diproduksi secara alami oleh kelenjar
dalam tubuh yang disebut kelenjar adrenal. Cortisone berfungsi untuk meredakan
inflamasi. Efek samping yang biasa ditimbulkan adalah rasa nyeri.
2. Hydrocortisone
Hydrocortisone adalah kostikosteroid topical yang mempunyai efek antiinflamasi, anti alergi dan antipruritus pada penyakit kulit. Indikasi pemberian obat
ini adalah untuk penderita dermatitis atopi, dermatitis alergik, dermatitis kontak,
pruritus anogenital dan neurodermatitis. Hydrocortisone tidak boleh diberikan
kepada penderita yang hipersensitif, herpes simplex, varicella dan infeksi jamur.
Efek samping yang mungkin ditimbulkan dari obat ini adalah rasa terbakar, gatal,
kekeringan, atropi kulit dan infeksi sekunder

Intermediate Acting
1. Prednisolone
Prednisolone diberikan untuk pasien penekanan jangka pendek peradangan
pada gangguan alergi dan pengobatan jangka pendek peradangan pada mata .
Efek samping yang ditimbulkan adalah mual, dyspepsia, malaise, cegukan, reaksi
hipersensitifitas termasuk anafilaksis, dll.
2. Triamcinolone
Triamcinolone mempunyai efek antiinflamasi dan pembentukan glikogen yang
lebih besar, dan berkurangnya efek samping retensi garam. Efek samping yang
dapat timbul adalah fraktur spontan, ulkus peptik/tukak lambung,
perubahan cushingoid, purpura, flushing, sering berkeringat, jerawat, striae,
hirsutisme, vertigo, sakit kepala, tromboembolisme, nekrosis aseptik,
pangkreatitis akut, kelemahan otot, esofagitis ulseratif, peningkatan tekanan
intrakranial, papiledema, katarak subkapsular.
3. Methylprednisolone
Methylprednisolone adalah suatu obat glukokortikoid alamiah (memiliki sifat
menahan garam (salt retaining properties)), digunakan sebagai terapi pengganti
pada defisiensi adrenokortikal. Methylprednisolone dikontraindikasikan pada
infeksi jamur sistemik dan pasien yang hipersentitif terhadap komponen obat.
4. Fludrocortisone
Fludrocortisone merupakan mineralokortikoid yang paling banyak digunakan.
Mempunyai aktivitas retensi garam yang kuat dan efek anti-inflamasi yang berarti
walaupun digunakan dalam dosis yang sedikit.

Long Acting
1. Dexamethasone
Obat ini digunakan sebagai glucocorticoid khususnya untuk Anti inflamasi,
Pengobatan rematik arthritis, dan penyakit kolagen lainnya, Alergi dermatitis,
Penyakit kulit, dll. Pengobatan yang berkepanjangan dapat mengakibatkan efek
katabolik steroid seperti kehabisan protein, osteoporosis, dan penghambatan

pertumbuhan anak. Penimbunan garam, air dan kehilangan potassium jarang


terjadi bila dibandingkan dengan glucocorticoid lainnya. Penambahan nafsu
makan dan berat badan lebih sering terjadi.
2. Betamethasone
Betamethasone digunakan untuk meringankan inflamasi dari dermatosis yan
responsive terhadap kortikosteroid. Penggunaan kostikosteroid topical dapat
menyebabkan efek samping local seperti kulit kering, gatal-gatal, rasa terbakar,
iritasi, hipopigmentasi, dermatitis alergi, dll.
LI.7. Memahami Pandangan Islam tentang alergi obat sebagai dokter muslim
Dari Ibnu Abbas, Nabi bersabda, Kesembuhan ada pada tiga hal, minum
madu, pisau bekam, dan sengatan api. Aku melarang umatku menyengatkan api.
(HR Bukhari dan Muslim)
Dari firman Allah disini dapat dipahami: bahwasanya agama islam di bagun
untuk kemaslahatan artinya : semua syariat dalam perintah dan larangannya serta
hukum-hukumnya adalah untuk mashoolihi (manfaat-manfaat) dan makna
masholihi adalah : jamak dari maslahat artinya : manfaat dan kebaikan.
Misal : Allah melarang minuman keras dan judi karena mudharat (bahayanya) lebih
besar dari pada manfaatnya, sebagaimana dikatakan dalam QS : Al-Baqorah :219


2:219. Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: Pada
keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa
keduanya lebih besar dari manfaatnya.