Anda di halaman 1dari 12

PENETAPAN KADAR HCG DENGAN TEKNIK

IMUNOKROMATOGRAFI

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

:
:
:
:
:

Maretra Anindya Puspaningrum


B1J013090
V
I
Marifah

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOBIOLOGI

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut federasi obstetri dan ginekologi internasional, kehamilan didefinisikan
sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan
nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan
normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu, atau 10 bulan lunar atau 9 bulan
menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester
kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua adalah 15 minggu (minggu ke 13
hingga ke 27), dan trimester ketiga adalah 13 minggu (minggu ke 28 hingga ke 40)
(Adriaans, 2008). Selama siklus ovarium, korpus luteum berdegenerasi dan lapisan
dalam uterus yang sudah dipersiapkan dan bergantung pada lutein akan terlepas jika tidak
terjadi pembuahan dan implantasi. Jika terjadi fertilisasi, blastokista yang tertanam
menyelamatkan dirinya dan tidak tersapu keluar bersama darah haid dengan membuat
HCG. Hormon ini, yang secara fungsional serupa dengan LH, merangsang dan
mempertahankan korpus luteum agar tidak berdegenerasi (Hanifa, 2005).
Pada fase implantasi, messenger RNA HCG dapat dideteksi pada blastomer 6-8
sel embrio; dilain pihak, hal tersebut tidak terdeteksi pada media kultur blastokist sampai
hari ke 6. Segera setelah implantasi dimulai, HCG dapat dideteksi pada serum ibu. Akan
tetapi karena masih terbatas maka selama proses implantasi, embrio aktif menghasilkan
HCG yang dapat dideteksi pada serum ibu pada saat hari ke 8 setelah ovulasi. Peranan
utama

HCG

adalah

memperlama

aktivitas

biosintesis

korpus

luteum,

yang

memungkinkan produksi progesteron dan mempertahankan endometrium gestasional.


Sebagaimana proses implantasi berlangsung, konseptus berkelanjutan mensekresi HCG
dan protein-protein kehamilan yang memungkinkan deteksi produksi steroid aliran darah
langsung, sekresi HCG ke dalam sirkulasi ibu masih terbatas. Blastomer akan melapisi
blastocyst di bagian luar dan akhirnya akan membentuk plasenta yang dapat
diidentifikasi pada hari ke-5 setelah konsepsi (Cole, 1997).
Human Chorionic Gonadotropin (HCG) merupakan suatu hormon glikopeptida
yang dihasilkan oleh jaringan plasenta yang masih muda dan dikeluarkan lewat urin.
Hormon ini juga dihasilkan bila terdapat proliferasi yang abnormal dari jaringan epitel
korion seperti molahidatidosa atau suatu chorio carsinoma. Kehamilan akan ditandai
dengan meningkatnya kadar HCG secara cepat dalam urin pada trimester I, HCG
disekresikan 7 hari setelah ovulasi. Penggunaan strip HCG urine test merupakan suatu
metode immunokromatograph untuk memastikan secara kualitatif adanya hormon
Human Chorionic Gonadotropin (HCG) di dalam urine sebagai deteksi dini adanya
kehamilan (Harti et al., 2013).

Setelah fertilisasi, HCG diproduksi segera oleh blastosit dan kemudian diproduksi
oleh sinsitiotrofoblas. Setelah mencapai level maksimum antara 9-12 minggu kehamilan,
konsentrasi HCG akan menurun sampai kelahiran. Selain fungsi utama dari HCG yaitu
untuk mestimulasi produksi P oleh corpus luteum, HCG juga dapat memfasilitasi invasi
trofoblas, mendukung angiogenesis, dan memastikan ketersediaan nutrisi bagi janin
(Schumacher et al., 2013).
Alat uji kehamilan untuk dipakai di rumah (Home Pregnancy Test atau HPT) yang
biasa dikenal dengan test pack merupakan alat praktis yang cukup akurat untuk
mendeteksi kehamilan pada tahap awal yang menggunakan urin. Urin yang digunakan
yaitu air seni pertama setelah bangun pagi, karena konsentrasi hormon HCG tinggi pada
saat itu. Bentuk alat tes kehamilan (test pack) ada dua macam, yaitu strip dan compact.
Bedanya, bentuk strip harus dicelupkan ke urin yang telah ditampung atau disentuhkan
pada urin waktu buang air kecil sedangkan compact sudah ada tempat untuk menampung
urin yang akan diteteskan. Test slide ini sangat tergantung pada kerja sama antibodi dan
antigen. Antibodi ini zat kimia yang dihasilkan oleh limfosit dan struktur lain di dalam
tubuh. Sedangkan antigen, zat asing yang masuk dan merangsang reaksi kimia tubuh.
Jika antigen masuk ke dalam jaringan tubuh, antibodi bereaksi sehingga antigen tidak
berbahaya lagi. Tiap antibodi hanya bereaksi terhadap antigen tertentu. Antibodi-antibodi
itulah yang ditambatkan pada media test, yang mempunyai dua strip (garis) indikator
(Pearce, 1997).
B. Tinjauan Pustaka
HCG adalah hormon yang mendukung perkembangan telur dalam ovarium dan
merangsang pelepasan telur ketika ovulasi. Hormon HCG tersusun atas glikoprotein yang
dihasilkan oleh protoblast dan bakal plasenta. Pembentukan HCG maksimal pada 60-90
hari, kemudian turun ke kadar rendah yang menetap selama kehamilan. Kadar HCG yang
terus menerus rendah berkaitan dengan gangguan perkembangan plasenta atau
kehamilan. Kadar HCG memiliki struktur yang sangat mirip dengan yang bekerja pada
reseptor LH sehingga usia korpus luteum memanjang. HCG mula-mula diproduksi oleh
sel

lapisan

luar

blastokista.

Sel

ini

berdiferensiasi

menjadi

sel

tropoblast,

sinsitiotropoblast yang berkembang dari tropoblast, kemudian menghasilkan HCG yang


disekresikan dan dapat dideteksi disekresi vagina sebelum implantasi. Biasanya HCG
dapat dideteksi dalam urine atau darah ibu dengan usia kehamilan 8-10 minggu
(Frandson, 1993).
Tingkat sekresi HCG meningkat dengan cepat selama kehamilan awal untuk
menyelamatkan korpus luteum dari kematian. Sekresi puncak HCG berlangsung sekitar
60 hari setelah periode haid terakhir. Pada minggu kesepuluh kehamilan, pengeluaran

HCG menurun sehingga tingkat sekresinya rendah yang kemudian dipertahankan selama
kehamilan. Turunnya HCG terjadi pada saat korpus luteum tidak lagi diperlukan untuk
menghasilkan hormon-hormon steroid karena plasenta sudah mulai mengeluarkan
estrogen dan progesteron dalam jumlah bermakna. Korpus luteum kehamilan mengalami
regresi parsial seiring dengan turunnya sekresi HCG (Saifuddin, 2002).
Hormon kehamilan yang dihasilkan oleh villi choriales ini berdampak pada
meningkatnya produksi progesteron oleh indung telur sehingga menekan menstruasi dan
menjaga kehamilan. Produksi HCG akan meningkat hingga sekitar hari ke 70 dan akan
menurun selama sisa kehamilan. Hormon kehamilan HCG mungkin mempunyai fungsi
tambahan, sebagai contoh diperkirakan HCG mempengaruhi toleransi imunitas pada
kehamilan. Hormon ini merupakan indikator yang dideteksi oleh alat test kehamilan (test
strip) dengan prinsip imunokromatografi melalui air seni. Jika, alat test kehamilan
mendeteksi adanya peningkatan kadar hormon HCG dalam urin, maka alat test
kehamilan akan mengindikasikan sebagai terjadinya kehamilan (positif). Dampak kadar
HCG yang tinggi dalam darah menyebabkan mual-muntah (morning sickness) (Johnson,
1994).
Pengumpulan dan penyimpanan urin sebaiknya menggunakan urin pagi hari
karena berisi konsentrasi HCG yang paling tinggi sehingga baik untuk pemeriksaan
sampel urin. Meskipun demikian, urin sewaktu-waktu dapat juga digunakan. Urin
spesimen dikumpulkan pada gelas atau penampung plastik yang bersih. Jika spesimen
tidak digunakan segera maka harus disimpan pada suhu 2-8 0C dan letakkan pada suhu
temperatur sebelum digunakan, tetapi penyimpanan ini tidak boleh lebih dari 48 jam
(Speicher, 1996).
Sampel yang dapat digunakan dalam tes kehamilan untuk mendeteksi HCG pada
seseorang dapat berupa serum maupun urin. Jika menggunakan serum, tes kehamilan
dilakukan tidak lebih cepat dari 5 hari setelah pertama kali terlambat menstruasi,
sedangkan jika sampel yang digunakan adalah urin biasanya dapat diuji saat 3 hari
setelah dinyatakan terlambat menstruasi (Speicher, 1996).
C. Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah untuk mengetahui kadar HCG dengan teknik
imunokromatografi.

II. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah tempat urine (botol film) dan
Teststrip Acon (anti HCG).
Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah sampel urine wanita hamil
dengan usia kehamilan 2-3 bulan, dan sampel urine wanita tidak hamil.
B. Metode
Metode yang digunakan dalam acara praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1. Sampel urine wanita hamil dan tidak hamil dituang pada botol film.
2. Teststrip Acon dibuka, kemudian dicelupkan ke dalam botol film yang berisi urine.
Teststrip dicelupkan tidak boleh melebihi tanda garis batas pada testsrip.
3. Hasil dibaca setelah kurang lebih 5 menit.
4. Interpretasi hasil adalah hasil negatif ditunjukkan oleh adanya satu buah garis merah
pada teststrip, hasil positif ditunjukkan oleh adanya dua buah garis merah pada
teststrip dan apabila tidak terbentuk garis merah sama sekali berarti tes kehamilan
yang dilakukan invalid kemungkinan karena rusaknya reagen.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Gambar 3.1 Hasil Penetapan Kadar HCG menggunakan Teststrip


Keterangan gambar:
(+) = positif atau hamil, dua garis merah pada zona test dan zona kontrol
(-) = negatif atau tidak hamil, satu garis merah pada zona kontrol

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil praktikum didapatkan teststrip yang dicelupkan pada sampel
urin wanita hamil menunjukkan terbentuknya dua garis merah pada zona test dan zona
kontrol. Sedangkan teststrip yang dicelupkan pada sampel urine wanita tidak hamil hanya
menunjukkan satu garis merah pada zona kontrol saja. Sesuai dengan pernyataan
Cunningham (2010) strip HCG urin adalah tes menggunakan metode imunoassay
kromatografi

dimana

menggunakan

antibodi

spesifik

untuk

secara

selektif

mengidentifikasi adanya HCG di dalam urin dengan derajat sensitivitas yang tinggi.
Peningkatan level HCG sebesar 20 mIU/ml dapat dideteksi hanya dalam 3 menit. Prinsip
dari test ini adalah penambahan urin ke peralatan test dan membiarkannya berjalan di
sepanjang absorban. Penanda antibodi yang menafsirkan warna, melekat ke HCG pada
daerah tes dan menghasilkan pita berwarna merah ketika konsentrasi HCG sama dengan
atau lebih dari 20 mIU/ml. Perubahan warna pada zona test dan zona kontrol terjadi
akibat kelebihan kompleks antigen-antibodi dan menandakan bahwa wanita tersebut
positif hamil. Saat keadaan tidak adanya hormon HCG (tidak hamil), maka tidak akan
terbentuk pita di daerah test karena tidak adanya reaksi antara antigen-antibodi. Reaksi
pencampuran berlanjut di sepanjang absorban melewati daerah test dan kontrol.
Konjugasi yang tidak berikatan ke reagen, pada daerah kontrol menghasilkan pita
berwarna merah yang menunjukkan bahwa reagen dan peralatan masih berfungsi secara
baik. Strip yang berfungsi sebagai kontrol akan tetap berwarna merah pada kondisi
positif atau negatif, sehingga kontrol menjadi tanda acuan ketepatan hasil tes. Jika pada
hasil tes didapatkan kedua garis kontrol dan test sama-sama tidak terbentuk warna, maka
tes invalid dipastikan bahwa alat tersebut atau reagen sudah rusak. Begitu pula jika
setelah melakukan tes hasilnya menunjukkan perubahan warna pada zona test sedangkan
pada zona kontrol tidak, maka dapat dinyatakan alat tersebut rusak (Adriaans, 2008).
Uji kehamilan didasarkan pada adanya produksi hormon Human Chorionic
Gonadotropin (HCG) oleh sel-sel sinsitiotrofoblas pada awal kehamilan. Hormon ini
disekresikan oleh plasenta ke dalam sirkulasi ibu hamil dan diekskresikan melalui urin.
HCG dapat dideteksi pada sekitar 26 hari setelah konsepsi dan peningkatan ekskresinya
sebanding meningkatnya usia kehamilan diantara 30-60 hari. Produksi puncaknya adalah
pada usia kehamilan 60-70 hari dan kemudian menurun secara bertahap dan menetap
hingga akhir kehamilan setelah usia kehamilan 100-130 hari (Cole, 1997).
HCG adalah suatu glikoprotein (berat molekul sekitar 36.700) dengan kandungan
karbohidrat tertinggi (30%) dibandingkan dengan hormon manusia lainnya. HCG
mengandung galaktosa dan heksosamin. Komponen karbohidrat terutama asam sialat
terminal, melindungi molekulnya dari katabolisme. Waktu paruh plasma HCG utuh (24
jam) jauh lebih lama daripada LH. HCG secara struktural berikatan dengan tiga hormon
glikoprotein lain (LH, FSH, dan TSH). Sekuens asam amino subunit dari keempat
glikoprotein ini identik; tetapi subunit FSH dan TSH, serta subunit HCG dan LH
walaupun memiliki banyak kesamaan ditandai oleh sekuens asam amino berbeda.
Molekul HCG lengkap terutama disintesis di sinsitiotrofoblast. Namun, telah dibuktikan
bahwa HCG imunoreaktif terdapat di sitotrofoblast sebelum usia kehamilan 6 minggu.
Setelah itu, HCG hampir seluruhnya terlokalisasi di sinsitium (Tsampalas et al., 2009).

Konsentrasi HCG dalam urin ibu hamil hampir sejajar dengan konsentrasi di
dalam plasma, yaitu sekitar 1UL/ml pada minggu ke-6 setelah hari pertama haid terkahir,
meningkat ke nilai rata-rata sekitar 100 UL/ml pada hari ke-60 sampai 80 setelah haid
terakhir. Kadar HCG dalam plasma wanita hamil dapat mencapai 15 mg/ml. Sekitar
minggu ke10 sampai 12, kadar HCG plasma ibu mulai berkurang. Kadar HCG dalam
plasma dipertahankan pada kadar rendah sepanjang sisa masa kehamilan. Pola
kemunculan HCG dalam darah janin (sebagai fungsi usia gestasi) serupa dengan yang
dijumpai pada ibu, namun seiring dengan perkembangan kehamilan, konsentrasi HCG
dalam cairan amnion menurun sehingga menjelang aterm kadarnya hanya seperlima
daripada kadar di dalam plasma (Tsampalas et al., 2009).
HCG merupakan mediator utama untuk implantasi embrio atau janin, yang
berfungsi mengenalkan embrio untuk dapat beradaptasi di uterus dan memperlama proses
biosintesis corpus luteum. HCG juga beperan dalam beberapa hal antara lain: a)
meningkatkan sistem kekebalan pada endometrium, b) membantu meregulasi sel T (CD
4, CD 25, foxp3+), c) regulator uNK (unit natural killer), d) membantu menyeimbangkan
sistem TH1 dan TH2, dan peranannya dalam mempertahankan mediator sistem kekebalan
tubuh lainnya seperti; makrofag, T-komplemen, dan lain-lain (Adriaans, 2008).
Imunokromatografi Assay (ICA) disebut uji strip (strip test) yang tergolong dalam
kelompok imuno assay berlabel sampel seperti imunofluerens (IF) dan imuno enzim
(EIA). Imunokromatografi Assay (ICA) merupakan perluasan yang logis dari teknologi
uji aglutinasi latex yang berwarna yaitu uji serologi yang telah dikembangkan sejak tahun
1957. Disamping itu Imunokromatografi Assay (ICA) merupakan uji laboratorium yang
handal sehingga amat dibutuhkan di negara yang sedang berkembang. Imunokrimatografi
Assay tidak membuktikan alat canggih (mikroskop kliorogens dan radio conts) untuk
membacanya cukup hanya dengan melihat adanya perubahan warna memakai mata
telanjang sehingga jauh lebih praktis (Handojo, 2004).
Metode tes kehamilan yang dilakukan adalah metode imunokromatografi dengan
menggunakan sampel berupa air seni (urin). Alat yang digunakan untuk pemeriksaan
merupakan alat yang dijual secara bebas dan dapat dipergunakan kapanpun dan oleh
siapapun. Keuntungan strip uji kehamilan adalah bisa dilakukan sendiri di rumah, bersifat
spesifik, prosedur pengujian yang mudah dilakukan, hasil didapatkan dengan cepat (3-10
menit), harga strip yang relatif murah, jenis alat tes bervariasi, akurasi hasil uji yang
tinggi (97 99%), serta dapat mendeteksi kehamilan lebih dini (Rao et al., 1981).
Komposisi reagen pada teststrip meliputi antibodi anti HCG I, antibodi anti HCG
II, dan anti-anti HCG-1 yang berperan sebagai antigen. Ketiga antibodi itu terletak di
lokasi yang berbeda dengan sifat yang berbeda pula. Anti HCG-1 merupakan antibodi

monoklonal sedangkan anti HCG-2 bersifat poliklonal. Anti HCG-1 bersifat mobile
sehingga bisa ikut berpindah ke area Test (T) dan Control (C) melalui gerakan kapilaritas.
Anti HCG-2 di area T dan anti-anti HCG-1 di area C bersifat fixed atau tertanam, artinya
tidak dapat berpindah sehingga tidak ikut mengalir/berpindah tempat. Enzim yang terikat
anti HCG-1 akan menjadi enzim aktif bila ada ikatan antara anti HCG-1, HCG dan Anti
HCG-2 di area T atau ikatan antara anti HCG-1 dan anti-anti HCG di area C. Enzim aktif
di area T dan atau C akan mengubah substansi tak berwarna menjadi substansi berwarna
merah (Hanifa, 2005).
Adapun mekanisme kerja testrip yang lebih rinci adalah urin yang diperiksa akan
bergerak dari zona yang satu ke zona yang lain, dimulai dari zona yang terdapat mobile
anti HCG1. Anti HCG1 akan ikut terbawa oleh urin ke zona anti HCG2. Disinilah
penentuan positif atau negatifnya suatu tes. Jika pada urin terdapat molekul HCG, maka
molekul ini yang sebelumnya sudah berikatan dengan anti-HCG1 akan berikatan dengan
anti-HCG 2 sehingga akan terbentuk warna atau garis pada strip ataupun kaset
pemeriksaan. Jika pada urin tidak terdapat molekul HCG, maka anti-HCG 2 tidak akan
terikat. Selanjutnya urin bergerak ke zona anti-anti HCG. Pada zona ini, baik urin yang
mengandung molekul HCG maupun yang tidak, akan terbentuk warna ataupun garis. Hal
ini dikarenakan anti-anti HCG berikatan dengan anti-HCG1 yang ikut terbawa oleh urin.
Zona ini disebut kontrol (Hanifa, 2005).
Penentuan kehamilan dengan menggunakan urine dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu cara biologik dan cara imunologik. Percobaan biologik dengan tiga cara yaitu
cara Ascheim Zondek, cara Friedman dan cara Galli Mainini; masing-masing cara
biologik ini menggunakan binatang percobaan yaitu tikus putih, kelinci dan katak jantan.
Sedangkan pemeriksaan secara imunologik dapat dilakukan secara langsung dengan cara
Direct Latex Agglutination (DLA) atau secara tidak langsung dengan cara Latex
Agglutination Inhibition (LAI) serta cara Hemaglutination Inhibition (HAI), dan
Immunochromatographic Assay (ICA). Uji-uji tersebut pada dasarnya menggunakan
prinsip antigen-antibody yaitu anti-HCG terhadap kadar HCG, hormon yang dihasilkan
oleh plasenta (Cole, 1997).
Aschheim dan Zondek telah menggunakan uji kehamilan dengan penanda HCG
sejak tahun 1920. Uji biologis ini menggunakan hewan hdiup (katak, tikus, kelinci) yang
kemudian disuntik dengan serum atau urin wanita yang diduga hamil untuk melihat
reaksi yang terjadi pada ovarium atau testes hewan percobaan tersebut. Prinsip uji
biologik penanda 3 HCG selanjutnya dikembangkan dengan cara mengambil antiserum
HCG dari hewan yang telah memproduksi antibodi hasil stimulasi dengan HCG (protein
dengan sifat antigenik). Bila urin diteteskan ke antiserum maka terjadi mediasi aktivitas

antiserum untuk beraksi dengan partikel lateks yang dilapisi dengan HCG (latex particle
agglutination inhibition test) atau sel darah merah yang telah disensitisasi dengan HCG
(hemagglutination inhibition test). Pada wanita hamil, HCG di dalam urinnya akan
menetralisir antibodi dalam antiserum sehingga tidak terjadi reaksi aglutinasi. Pada
perempuan yang tidak hamil, tidak terjadi netralisasi antibodi sehingga terjadi reaksi
aglutinasi (Lijesen et al., 1995).
Prinsip tes imunologik Direct Latex Agglutination (DLA) adalah berdasarkan
terjadinya reaksi imunologis kimiawi antara HCG dalam urin dengan antobodi HCG (anti
HCG). Suspensi lateks mengandung antibodi monoclonal anti HCG dengan natrium
azida sebagai pengawet sebagai anti HCG dan hormon HCG yang terkandung dalam urin
sebagai antigen. Ketika anti HCG (antibodi) bertemu dengan antigen (hormon HCG)
maka terbentuklah kompleks imun (Cunningham, 2010).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari praktikum kali ini adalah:
1. Hasil positif (hamil) ditunjukkan oleh adanya dua garis merah yang terbentuk pada
teststrip yaitu pada zona kontrol dan zona test yang berarti kadar HCG > 50 IU/l urin.
2. Hasil negatif (tidak hamil) ditunjukkan oleh adanya satu garis merah yang terbentuk
zona kontrol pada teststrip yang menandakan kadar HCG < 50 IU/l urin.
B. Saran

Saran untuk praktikum kali ini adalah sebaiknya disediakan pula sampel urine ibu
hamil yang sudah mendekati masa kelahiran sehingga dapat digunakan sebagai
pembanding antara kadar HCG yang tinggi dan kadar HCG yang mulai menurun.

DAFTAR REFERENSI
Adriaans, George. 2008. Asuhan Antenatal, Jaringan Nasional Pelatihan Klinik
Kesehatan Reproduksi. Surabaya: Bina Pustaka.
Cole L. A. 1997. Immunoassay of Human Chorionic Gonadotropin, Its Free Subunits,
and Metabolites. Clinical Chemical Journal, 43(12), pp. 33-43.
Cunningham, Gary. 2010. Williams Obstetrics, 23ed. Toronto: Mc-Graw Hill, Inc.
Frandson, R. D. 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Handojo, Indo. 2004. Imunoassay Terapan Pada Beberapa Penyakit Infeksi. Surabaya:
Airlangga University Press.
Hanifa, W. dan Saifuddin A.B. 2005. Ilmu Kebidanan Edisi 3. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Harti, Agnes S., Estuningsih, dan Heni N. 2013. Pemeriksaan HCG (Human Chorionic
Gonadotropin) untuk Deteksi Kehamilan Dini Secara Immunokromatografi.
Jurnal KesMaDaSka, 4(1), pp. 1-4.

Johnson K. E. 1994. Hormon-Hormon Kehamilan. Jakarta: Binarupa Aksara.


Lijesen, G. K. Sabine, Iris T., Williem J. J. Assendelft and Gerrit Van D. W. 1995. The
Effect Of Human Chorionic Gonadotropin (Hcg) In The Treatment Of Obesity By
Means Of The Simeons Therapy. A Criteria-Based Meta-Analysis, 40(1), pp. 237243.
Pearce, E. 1997. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Rao, A. Jagannadha, S. G. Kotagi, and N. R. Moudgal. 1981. Effect Of Human Chorionic
Gonadotropin On Serum Levels Of Progesterone And Estrogens In The Pregnant
Bonnet Monkev (Macaca Radiata). Journal of Immunology, 3(1), pp. 83-88.
Saifuddin. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Schumacher, Anne, Kristina H., Jeanette W., Eileen P., Nadja L., Katja W., and Ana C. Z.
2013. Human Chorionic Gonadotropin as a Central Regulator of Pregnancy
Immune Tolerance. The Journal of Immunology, 190(1), pp. 2650-2658.
Speicher, C.E dan N.W. Smith. 1996. Pemilihan Uji Laboratorium yang Efektif. Jakarta:
EGC.
Tsampalas, M., Virginie G., Sarah B., Jean-Michel F., Vincent G., and Sophie P. 2009.
Human Chorionic Gonadotropin: A Hormon With Immunological and Angiogenic
Properties. Journal of Endocrynology, 6(10), pp. 3-6.