Anda di halaman 1dari 38

PRAKTIKUM FORMULASI TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

INFUS

Kelompok 1 Disusun Oleh:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Adi Wahyu Noviato


Anita Pramudya
Avita Rischa Yunita
Dewi Ari Kusrini
Devi Rosita Sari
Dila Anggi Riantika
Eka Putri R.J
Akfar 5A

12.001
12.009
12.012
12.026
12.025
12.031
12.036

Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang


Oktober 2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sediaan steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk terbagi bagi yang bebas dari
mikroorganisme hidup. Pada prinsipnya, yang termasuk sediaan ini antara lain sediaan
parental preparat untuk mata dan preparat irigasi (misalnya infus). Sediaan parental
merupakan jenis sediaan yang unik di antara bentuk sediaan obat terbagi bagi, karena
sediaan ini disuntikan melalui kulit atau membran mukosa ke bagian tubuh yang paling
efesien, yaitu membran kulit dan mukosa, maka sediaan ini harus bebas dari kontaminasi
mikroba dan dari bahan bahan toksis lainnya, serta harus memiliki tingkat kemurnian yang
tinggi. Semua bahan dan proses yang terlibat dalam pembuatan produk ini harus dipilih dan
dirancang untuk menghilangkan semua jenis kontaminasi, apakah kontaminasi fisik, kimia
atau mikrobiologis (Priyambodo, B., 2007).
Dehidrasi bisa terjadi akut dan kronis sesuai dengan penyebabnya. Pada diare berat dan
muntaber, bisa terjadi dehidrasi akut yang berat yang mengancam jiwa, karena banyak
kehilangan air dari kompartemen ekstraseluler. Sebaliknya pada pasien yang sakit dan
dirawat inap karena diare kronis, asupan minum yang kurang atau ada demam tinggi, terdapat
kekurangan air juga di kompartemen intraseluler.
Biasanya dehidrasi tidak seberat pada diare, dan jenis cairan yang diberikan untuk
mengatasi kedua jenis dehidrasi inipun berbeda. Di samping kekurangan air dan elektrolit,
beberapa pasien rawat-inap dengan asupan makan yang kurang juga mengalami kekurangan
zat gizi, sehingga tidak jarang kita lihat bahwa pasien diberikan infus yang mengandung asam
amino serta karbohidrat untuk dukungan nutrisi dan dehidarasi dapat diantisipasi dengan
terapi cairan (infus).
Terapi cairan adalah suatu tindakan pemberian air dan elektrolit dengan atau tanpa zat gizi
kepada pasien-pasien yang mengalami dehidrasi dan tidak bisa dipenuhi oleh asupan oral
biasa melalui minum atau makanan. Pada pasien-pasien yang mengalami syok karena
perdarahan juga membutuhkan terapi cairan untuk menyelamatkan jiwanya. Untuk dehidrasi
ringan, umumnya digunakan terapi cairan oral (lewat mulut). Sedangkan pada dehidrasi
sedang sampai berat, atau asupan oral tidak memungkinkan, misal jika ada muntah-muntah
atau pasien tidak sadar, biasanya diberikan cairan melaui infus.

1.1 Tujuan
1. Memperlajari serta memahami setiap tahapan dalam produksi sediaan infus .
2. Memperlajari bagaimana cara pembuatan sediaan infus.
1.2 Manfaat
1. Dapat membuat sediaan infus dengan mutu baik.
2. Dapat mengaplikasikan tahapan produksi infus dalam dunia kerja

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Defenisi Infus
Menurut farmakope Indonesia edisi III, infus adalah sediaan steril berupa larutan atau
emulsi, bebas pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah,disuntikkan
langsung ke dalam vena dalam volume relatif banyak.
Menurut Formulasi steril, infus adalah larutan dalam jumlah besar terhitung mulai dari 10
ml yang diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang cocok.
Menurut BP2002, infus adalah larutan dalam jumlah besar terhitung mulai dari 10 ml
yang diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang cocok.
Menurut ilmu resep, infus adalah larutan steril yang bebas pirogen, tidak boleh
mengandung bakterisida, jernih, dan isotonis.
Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, infus adalah Larutan intravena volume besar
adalah injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas dalam wadah bertanda volume lebih
dari 100 ml.
Dari beberapa definisi di atas, kelompok menyimpulkan bahwa sediaan steril infus adalah
sediaan steril berupa larutan dalam jumlah besar yang bebas pirogen, tidak mengandung
bakterisida, jernih, isotonis dan diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan
peralatan yang cocok.
2.2 Syarat Syarat Sediaan Steril Infus
Adapun beberapa syarat khusus suatu sediaan infus diantaranya adalah sebagai
berikut:
1.
2.
3.
4.

Aman, tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau efek toksis.


Jernih, berarti tidak ada partikel padat.
Tidak berwarna, kecuali obatnya memang berwarna.
Sedapat mungkin isohidris, pH larutan sama dengan darah dan cairan tubuh lain yakni

pH = 7,4.
5. Sedapat mungkin isotonis artinya mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan
darah atau cairan tubuh yang lain. Tekanan osmosis cairan tubuh seperti darah, air
mata, cairan lumbal sama dengan tekanan osmosis larutan NaCl 0,9 %.
6. Harus steril, suatu bahan dinyatakan steril bila sama sekali bebas dari mikroorganisme
hidup yang patogen maupun nonpatogen, baik dalam bentuk vegetativ maupun dalam
bentuk tidak vegetativ (spora).
7. Bebas pirogen, karena cairan yang mengandung pirogen dapat menimbulkan demam.
Menurut Co Tui, pirogen adalah senyawa kompleks polisakarida dimana mengandung

radikal yang ada unsur N, P. Selama radikal masih terikat, selama itu masih dapat
menimbulkan demam dan pirogen bersifat termostabil.
2.3 Tujuan Penggunaan SediaanIinfus
Berikut merupakan tujuan dari penggunaan sediaan infus antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.

Untuk memperbaiki keseimbangan elektrolit


Untuk memperbaiki gangguan pada cairan tubuh( pengganti cairan tubuh)
Memerlukan nutrisi dasar tubuh
Dasar untuk keperluan TPN (Total Parenteral Nutrition)
Sebagai pembawa bagi obat-obat lain.

2.4 Fungsi Pemberian Sediaan Infus


1. Pada keadaan emergency resuitasi jantung paru memungkinkan pemberian obat secara
langsung ke dalam intravena.
2. Untuk memberikan respon yang cepat terhadap pemberian obat
3. Untuk memasukkan dosis obat dalam jumlah obat besar secara terus-menerus melalui
infuse
4. Untuk menurunkan ketidaknyamanan pasien dengan mengurangi kebutuhan injeksi
intramuscular.
5. Untuk mencegah masalah yang mungkin timbul apabila beberapa obat dicampur
dalam 1 botol.
6. Untuk memasukkan obat yang tidak dapat diberikan secara oral misalnya pasien
koma atau intramuscular misalnya pasien dengan gangguan koagulasi.
2.5 Karakteristik SediaanInfus
Karakteristik fisikokimia larutan infus intravena yang paling umum digunakan dan
relevan secara klinik adalah sebagai berikut:
Parameter aktivitas osmotiknya yang dinyatakan dalamterminologi osmolalitas
(jumlahosmol zat terlarut per kg pelarut),osmolaritas (jumlah osmol zat terlarut
perliter larutan)dan isotonisitas.
Konsentrasi zat terlarut biasa dinyatakan dalam osmol atau miliosmol.
Osmolalitas larutan adalah jumlah osmol zat terlarut / kilogram pelarut(mosmol/kg)
Osmolalitas normal plasma 280-295 mosmol /kg
Osmolaritas larutan adalah umlah osmol zat terlarut per liter larutan (mosmol atau
liter). (The pharmaceutical codex, ed.12 hal 427)
2.6 Keuntungan dan Kerugian Pemberian Secara Intravena pada Sediaan Infus
2.6.1. Keuntungan
1. Obat memiliki onset (mula kerja) yang cepat.

2. Efek obat dapat diramalkan dengan pasti.


3. Biovabilitas sempurna atau hampir sempurna.
4. Kerusakan obat dalam tractus gastrointestinalis dapat dihindarkan.
5. Obat dapat diberikan kepada penderita yang sakit keras atau dalam keadaan
koma2.6.2. Kerugian
1. Rasa nyeri pada saat disuntik apalagi kalau harus diberikan berulang kali.
2. Memberikan efek psikologis pada penderita yang takut suntik.
3. Kekeliruan pemberian obat atau dosis hampir tidak mungkin diperbaiki terutama
sesudah pemberian intravena.
4. Obat hanya dapat diberikan kepada penderita di rumah sakit atau ditempat praktek
dokter oleh perawat yang kompeten.
5. Lebih mahal dari bentuk sediaan non steril hanya karena ketatnya persyaratan yang
harus dipenuhi (steril, bebas pirogen, jernih, praktis, bebas partikel).
2.7 Manfaat Sediaan Infus
a. Terapi pemeliharaan
Terapi ini diberikan pada penderita yang tidak dapat menerima asupan nutrisi atau
cairan lewat mulut untuk masa yang agak lebih lama (3-6 hari).
b. Terapi pengganti
Pada keadaan pasien mengalami kehilangan banyak air dan elektrolit. Misalnya pada
pasien yang sedang mengalami diare berat.
c. Kebutuhan eletrolit
Terapi ini digunakan untuk menggantikan kebutuhan elektrolit yang hilang.
Kebutuhan kalium setiap harinya adalah kurang lebih 100 mEq dan kehilangan
kalium setiap harinya kurang lebih 40 mEq, sehingga di sini dibutuhkan terapi
pengganti dengan kandungan 40 mEQq.
d. Kebutuhan kalori
Terapi ini digunakan untuk penderita yang memerlukan cairan parenteral

diberi

dektrosa 5% untuk memperkecil kekurangan kalori yang biasanya terjadi pada pasien
yang mengalami terapi penggantian atau pemeliharaan. Penggunaan dextrosa juga
mengurangi ketosa dan kerusakan protein.
e. Hiperalimentasi parenteral
Terapi ini merupakan infus yang mengdung sejumlah besar nutrisi dasar yang cukup
untuk sintesis jaringan aktif dan pertumbuhan. Digunakan pada pemberian larutan
protein jangka panjang lewat intravena yang mengandung dextrosa kadar tingi(kurang
lebih 20%), elektrolit, vitamin, dan pada beberapa keadaan mengandung insulin.
2.8 Penggolongan Infus
2.8.1 Penggolongan cairan infus berdasarkan fungsi :

a. Infus Iv Ca Glukonat / Glukonat


Merupakan larutan supersaturasi yang distabilkan dengan penambahan 35 mg kalsium Dsaccharate, dan harus disimpan pada suhu kamar.Laju infus maksimum yang disarankan
adalah 200mg/menit. Kalsium merupakan mineral yang penting untuk pemeliharaan
kesempurnaan fungsi susunan saraf, otot, sistem rangka, dan permeabilitas membran sel.
b. Infus Dekstran
Infus dextran 70 merupakan larutan makromolekul yang memiliki waktu tinggal yang
lebih panjang dalam pembuluh darah, karena tidak atau sedikit mengalami difusi, juga airnya
terikat secara hidratasi. Yang menentukan dextran 70 sebagai bahan pengganti plasma adalah
berat molekulnya diatas 20.000. Pengisisan volume darah dapat dilakukan dengan larutan
NaCl fisiologis atau dengan larutan elektrolit, namun jumlah cairan yang dimasukkan
tersebut hanya sebentar berada dalam peredaran darah, untuk kemudian segera dieliminasi
keluar tubuh melalui ginjal.
c. Infus Elektrolit Untuk Dehidrasi
Fungsi larutan elektrolit secara klinis digunakan untuk mengatasi perbedaan ion atau
penyimpangan jumlah normal elektrolit dalam darah. Ada 2 jenis kondisi plasma yang
menyimpang, yaitu :
1. Asidosis
Kondisi plasma darah yang terlampau asam akibat adanya ion klorida dalam jumlah
berlebih.
2. Alkalosis
Kondisi plasma yang terlampau basa akibat ion Na, K, Ca dalam jumlah berlebih
Kehilangan natrium disebut hipovolemia, sedangkan kekurangan H 2O disebut
dehidrasi, kekurangan HCO3 disebut asidosis, metabolic dan kekurangan K + disebut
hipokalemia.
d. Infus Glukosa NaCl / Glukosa 10%
Pada umumnya larutan glukosa untuk injeksi digunakan sebagai pengganti kehilangan
cairan tubuh, sehingga tubuh kita mempunyai energi kembali untuk melakukan
metabolismenya dan juga sebagai sumber kalori.
e. Infus Pengganti Cairan Tubuh
Injeksi Ringer adalah larutan steril Natrium klorida, Kalium klorida, dan Kalsium klorida
dalam air untuk obat suntik. Kadar ketiga zat tersebut sama dengan kadar zat-zat tersebut
dalam larutan fisiologis. Larutan ini digunakan sebagai penambah cairan elektrolit yang
diperlukan tubuh

f. Infus Protein Untuk Dbd


Glukosa merupakan sumber karbohidrat yang lebih disukai, tapi bila tiap harinya
diberikan lebih dari 180 g maka harus ada monitoring kadar gula darah. Bila mungkin
diperlukan insulin. Glukosa dengan ragam kekuatan 10 50 % harus di infus melalui kateter
vena central. Untuk menghindari trombosis (gumpalan darah yang terbentuk pembuluh
darah).
Jumlah volume infuse intravena biasanya 500 mL dan 250 mL mengandung zat-zat
sebagai nutrisi, penambah darah, elektrolit, asam amino, antibiotik, dan obat yang umumnya
diberikan lewat jarum yang dibiarkan di vena atau kateter dengan diteteskan terus menerus.
Tetesan atau kecepatan mengalir dapat diatur oleh dokter atau perawat sesuai dengan
kebutuhan pasien. Umumnya 2-3 mL permenit.
g. Infus Yang Mangandung Nutrisi
Glukosa termasuk monosakarida dimana sebagian besar monosakarida dibawa oleh aliran
darah ke hati. Di dalam hati, monosakarida mengalami proses sintetis menghasilkan glikogen,
oksidasi menjadi CO2 dan H2O atau dilepaskan untuk dibawa dengan aliran darah ke bagian
tubuh yg memerlukannya. Sebagian lain monosakarida dibawa langsung ke sel jaringan organ
tertentu dan mengalami proses metabolisme lebih lanjut. Karena pengaruh berbagai faktor
dan hormon insulin yg dihasilkan oleh kelenjar pankreas, hati dapat mengatur kadar glukosa
dalam darah. Kadar glukosa dalam darah merupakan faktor yg sgt penting utk kelancaran
kerja tubuh.
h. Infus Pengelolaan Metabolik Alkalosis
Alkalosis metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena
tingginya kadar bikarbonat. Alkaosis metabolik terjadi jika tubuh kehilangan banyak asam.
Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam lambung selama periode muntah yang
berkepanjangan atau bila asam lambung disedot dengan selang lambung (seperti yang
kadang-kadang dilakukan di rumah sakit, terutama setelah pembedahan perut). Alkalosis
metabolik diatasi dengan pemberian cairan dan elektrolit (natrium dan kalium)
i. Infus Penderita Diare Berat
Locke Ringer mengandung zat-zat yang dibutuhkan tubuh yaitu elektrolit-elektrolit dan
karbohidrat sesuai untuk penderita diare berat.
j. Larutan Pencuci Pada Operasi Lambung
Larutan irigasi dimaksudkan untuk mencuci dan merendam luka atau lubang operasi,
sterilisasi pada sediaan ini sangat penting karena cairan tersebut langsung berhubungan

dengan cairan dan jaringan tubuh yang merupakan tempat infeksi dapat terjadi dengan
mudah.
k. Infus Protein
Arginin mempunyai fungsi yang sama seperti asam amino, yaitu meningkatkan stimulan
hormon pertumbuhan, prolaktin, dan glukosa darah. Arginin dapat menambah konsentrasi
glukosa darah. Efek ini dapat langsung berpengaruh dari hati menjadi asam amino yang
berkualitas.
2.8.2 Penggolongan cairan infus berdasarkan fungsi elektrolitnya :
1. Cairan Fisiologis Tubuh Manusia
Tubuh manusia mengandung 60% air terdiri atas cairan intraseluler (didalam sel)
40% yang mengandung ion-ion K+, Mg ++ , sulfat, fosfat, protein, serta senyawa
organic asam fosfat seperti ATP, heksosa monofosfat, dan lain-lain. Air pun
mengandung cairan ekstraselular (di luar sel) 20% yang kurang lebih mengandung 3
liter air dan terbagi atas cairan interstisial (diantara kapiler dan sel) 15% dan plasma
darah 5% dalam sistem peredaran darah serta mengandung beberapa ion seperti Na+,
klorida, dan bikarbonat.
2. Fungsi Larutan Elekrolit
Secara klinis, larutan digunakan untuk mengatasi perbedaan ion atau
penyimpangan jumlah normal elektrolit dalam darah, ada 2 jenis kondisi plasma darah
yang menyimpang, yaitu :
1. Asidosis : Kondisi plasma darah terlampau asam akibat adanya ion klorida dalam
jumlah berlebih.
2. Alkalosis : Kondisi plasma darah yang terlampau basa akibat adanya ion klorida
dalam jumlah berkurang.
3. Sistem dapar darah adalah keseimbangan asam basa mengikuti sistem dapar, yaitu :
Hidrogen karbonat Karbonat.
Hidrogen fosfat
Dihidrogen fosfat
Serum protein.
Penyebab berkurangnya elektrolit plasma adalah kecelakaan, kebakaran,
operasi, atau perubahan patologis organ, gastroenteritis, demam tinggi, atau penyakit
lain yang memnyebabkan output dan input tidak seimbang.
a. Infus Karbohidrat
Infus karbohidrat adalah sediaan infuse berisi larutan glukosa atau dekstrosa
yang cocok untuk donor kalori. kita menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan
glikogen

otot

kerangka,

hipoglikemia,

dan

lain-lain.

Kegunaan: 5% isotonis, 20% untuk diuretika, dan 30-50% terapi oedema di otak.
contoh:
Larutan Manitol 15-20% digunakan untuk menguji fungsi ginjal.
b. Larutan Kombinasi Elektrolit Dan Karbohidrat
Contohnya: Infus KA-EN 4 B (Otsuka)
Formulanya sebagai berikut:
Na+30 mEq
K+
8 mEq
Cl2
Laktat
10 mEq
Glukosa 37.5 g
Aqua p.i. 1000 m
4. Penggolongan cairan infus berdasarkan fungsi plasma expander atau penambah darah:
Larutan Plasma expander adalah suatu sediaam larutan steril yang digunakan untuk
menggantikan plasma darah yang hilang akibat perdarahan, luka bakar, operasi, dan
lain-lain.
1) Whole Blood
Whole blood atau darah lengkap manusia adalah darah yang telah diambil dari
donor manusia, yang dipilih dengan pencegahan pendahuluan aseptic yang
ketat. Darah ditambahkan ion sitrat atau heparin sebagai antikoagulan.
2) Human Albumin
Human Albumin adalah sediaan steril albumin serum yang didapat denagn
melakukan fraksinasi darah dari donor manusia sehat.Tidak kurang dari 96%
protein harus albumin.Setiap 100 ml mengandung 25 g albumin serum yang
sebanding atau ekuivcalen keosmotikannya dengan 500 ml plasma manusia
normal atau 5 g sebanding denagn 100 ml plasma manusia normal.
3) Plasma Protein
5 g protein per 100 ml, 83-90% adalh albumin, lalu sisanya alfa dan beta
globulinPlasma protein adalah larutan steril protein yang terpilih dari plasma
darah donor manusia dewasa.
4) Gelatin
Larutan gelatin merupakan hasil hidrolisis kolagen, yakni suatu senyawa
polipeptida. Larutan sangat cocok untuk plasma ekspander karena strukturnya
terdiri atas protein, sehingga dengan protein plasma dapat memberikan efek
osmotic yang sama.
Sebagai cairan pengganti darah, kita menggunakan larutan gelatin 5% yang
diisotoniskan dengan natrium klorida dan dapat disterilkan pada suhu 121124oC dalam autoklaf. Contohnya : infuse Haemaccel.
5) Larutan dekstran

Larutan dekstran adalah suatu senyawa polisakarida dengan satuan glukosa


sebagai komponen monomer, yang terikat secara glikosidik pada posisi alfa
1,6. Bentuk molekulnya berupa benang panjang bergelombang. Dekstran
terbentuk didalam media yang mengandung sakarosa di bawah pengaruh
enzim dekstran-sakarase yang diproduksi berbagai spesies leuconostoc.
Contoh : infuse Otsutra -70 (Otsuka).
6) Larutan Protein (Asam Amino)
Larutan protein diinfuskan ke dalam tubuh jika tubuh mengalami kekurangan
protein. umumnya, larutan terdiri atas 8 asam amino penting, yaitu : LIsoleusin, L-Leusin,L-Metionin, L-Fenilalanin, L-Triptofan, L-Trionin, LLisine dan L-Valin. Kedelapan asam amino penting dan harus selalu ada dalam
jumlah dan perbandinagn yang tertemtu di dalam infuse. Hilangnya satu
komponen menyebabkan efek yang diharapkan tidak tercapai, malah akan
terjadi gangguan dalam pertukaran protein tubuh. Kemudian, jumlah yang
berlebih pun tidak ada gunanya.Contohnya : Infus Aminofusin L (primer).
5. Penggolongan cairan infuse berdasarkan volume :
1. Larutan Irigasi
Larutan irigasi adalah sediaan larutan steril dalam jumlah besar (3 liter). larutan
tidak disuntikkan ke dalam vena, tetapi digunakan di luar system peredaran dan
umumnya menggunakan jenis tutup yang diputar atau plastik yang dipatahkan,
sehingga memungkinkan pengisian larutan denagn cepat. kita menggunakn larutan
untuk merendam atau mencuci luka-luka sayatan bedah atau jaringan tubuh dan
dapat pula mengurangi perdarahan. kikta biasa menggunakannya dalam kegiatan
laparatomy, Arthroscopy, Hysterectomy, dan Turs (urologi).
Persyaratan larutan irigasi sebagai berikut :
1) Isotonik.
2) Steril.
3) Tidak diabsorbsi.
4) Bukan larutan elektrolit.
5) Tidak mengalami metabolisme.
6) Cepat dieksresi.
7) Mempunyai tekanan osmotic diuretic.
Contohnya : Larutan Glycine 1.5% dalam 3 liter
Larutan asam asetat 0.25% dalam 1-3 liter
2. Larutan Dialisis Peritoneal
Larutan dialisis peritoneal merupakan suatu sediaan larutan steril dalam jumlah
besar (2liter). Larutan tidak disuntikan kedalam vena, tetapi dibiarkan mengalir ke
dalam ruangan peritoneal dan umumnya menggunakan tutup plastic yang
dipatahkan, sehingga memungkinkan larutan dengan cepat turun ke bawah.

penggunaan cairan demikian bertujuan menghilangkan senyawa-senyawa toksik


yang secara normaldikeluarkan atau dieksresikan ginjal.
Persyaratan larutan dialysis peritoneal adalah :
1. Hipertonis.
2. Steril.
3. Dapat menarik toksin dalam ruang peritoneal.
Contohnya : Larutan Dianeal 1.5% dan 2.5%. 2 liter
2.9 Evaluasi Sediaan Infus
2.9.1 Penetapan pH
pH yang baik adalah kapasitas dapar yang dimilikinya memungkinkan penyimpanan
lama dan darah dapat menyesuaikan diri. Tujuan utama pengaturan pH dalam sediaan
infus adalah untuk mempertinggi stabilitas obat, misalnya perubahan warna, efek terapi
optimal obat, menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat tersebut, sehingga
obat tersebut mempunyai aktivitas dan potensi dan tahan terhadap penyimpanan. Selain
itu, untuk mencegah terjadinya rangsangan atau rasa sakit sewaktu disuntikkan.
Perubahan pH dapat disebabkan karena terjadi penguraian obat atau terjadi interaksi obat
dengan wadah. Apabila pH yang terlalu tinggi akan menyebabkan nekrosis jaringan
sedangkan pH yang terlalu rendah menyebabkan rasa sakit jika disuntikkan. Dalam
mengatasi perubahan pH maka pada sediaan perlu ditambahkan larutan pendapar dimana
larutan

ini

digunakan

untuk

mempertahankan

pH

sediaan

dalam

proses

penyimpanannya.Dalam proses pembuatan sediaan infus syarat pH yang ditentukan


adalah antara rentang pH 5-7,5.
Dengan pH meter : Sebelum digunakan, periksa elektroda dan jembatan garam.
Kalibrasi pH meter. Pembakuan pH meter : Bilas elektroda dan sel beberapa kali dengan
larutan uji dan isi sel dengan sedikit larutan uji. Baca harga pH. Gunakan air bebas CO 2
untuk pelarutan dengan pengenceran larutan uji.Dapat dinyatakan memenuhi syarat uji
pH sediaan infus harus masuk pada rentang pH yakni 5 7,5
2.9.2 Pengujian Keseragaman Volume
Dilakukannya penetapan volume bertujuan apakah volume sediaan tersebut sudah
memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Akibat bila sediaan ini tidak persyaratan
dalam penetapan volume, sediaan tersebut dapat mempengaruhi efek terapi yang akan
ditimbulkan. Penyebab adanya ketidaktepatan volume salah satunya adalah kelarutan
obat itu sendiri jika obat tersebut mudah larut maka volume yang diberikan kecil. Untuk
mengatasi hal tersebut di upayakan dalam proses pembuatan sediaan diperhatikan sekali

kelarutan sediaan tersebut dan dalam penetapan volume itu sendiri juga dapat
mempengaruhi jumlah elektrolit yang masuk dalam tubuh.
Pengujian dilakukan dengan alat ukur volume. Volume larutan tiap wadah harus sedikit
lebih dari volume yang ditetapkan. Kelebihan yang dianjurkan seperti yang tertera pada
tabel di bawah ini:

Volume pada etiket

Cairan encer

Cairan kental

0,5 ml

0,10 ml

0,12 ml

1,0 ml

0,10 ml

0,15 ml

2,0 ml

0,15 ml

0,25 ml

5,0 ml

0,30 ml

0,50 ml

10,0 ml

0,50 ml

0,70 ml

20,0 ml

0,60 ml

0,90 ml

30,0 ml

0,80 ml

1,20 ml

29,9 ml atau lebih

2% v/v

3%

Dapat disimpulkan bahwa dalam pengujian keseragaman volume pada infus dikatakan
memenuhi persyaratan jika penyimpangan

2.9.3 Penentuan Kadar


Penentuan kadar ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi zat aktif yang
terdapat dalam sediaan yang telah dibuat. Hal yang menyebabkan kadar dari suatu
sediaan tidak sesuai adalah pada saat pembuatannya perhitungan tidak sesuai. Akibat
apabila suatu sediaan tidak memiliki kadar yang telah ditentukan adalah tidak
mencapai efek terapi atau mengakibat overdosis yang membawa kematian bagi
seseorang. Untuk mengatasi hal ini maka pada saat proses pembuatan penghitungan
kadar yang digunakan harus benar-benar berpatokan pada standar yang berlaku
sehingga tidak menimbulkan suatu masalah baru.
Penetapan kadar
Pipet sejumlah volume injeksi setara dengan kurang lebih 90 mg natrium
klorida,masukkan ke dalam wadah dari porselen dan tambahkan 140 ml air dan 1

mldiklorofluoresein LP. Campur dan titrasi dengan perak nitrat 0,1 N LV hinggaperak
klorida menggumpal dan campuran berwarna merah muda lemah. 1ml perak nitrat 0,1
N setara dengan 5,844 mg NaCl(Depkes RI, 1995)
Identifikasi
Menunjukkan reaksi natrium cara A dan B dan klorida cara A, B dan C
sepertiyang tertera pada uji identifikasi umum (FI 4 hal 585).
Uji Identifikasi Umum :
1.

Reaksi natrium
Cara A: tambahkan Kobalt Uranil asetat LP sejumlah lima kali volumekepada
larutan yang mengandung tidak kurang dari 5 mg natrium per mlsesudah diubah
menjadi klorida atau nitrat: terbentuk endapan kuningkeemasan setelah dikocok
kuat-kuat beberapa menit.Cara B: Senyawa natrium menimbulkan warna kuning
intensif dalam nyalaapi yang tidak berwarna.

2. Reaksi klorida
Cara A: tambahkan perak nitrat LP ke dalam larutan: terbentuk endapanputih
seperti dadih yang tidak larut dalam asam nitrat P, tetapi larut dalamamonium
hidroksida 6N sedikit berlebihCara B: pada pengujian alkaloida hidroklorida,
tambahkan amoniumhidroksida 6 N, saring, asamkan filtrat dengan asam nitrat P,
dan lakukanseperti yang tertera pada uji ACara C: Campur senyawa klorida kering
dengan mangan dioksida P bobotsama, basahi dengan asam sulfat P dan panaskan
perlahan-lahan: terbentuk klor yang menghasilkan warna biru pada kertas kanji
iodida P basah.(Depkes RI, 1995)
2.9.4 Kekeruhan
Evaluasi ini bertujuan untuk menghindari rangsangan akibat bahan padat.
Akibat jika sediaan berwarna keruh adalah masyarakat ragu menggunakannya dan
dapat terjadi emboli. Terjadinya kekeruhan dapat disebabkan oleh : benda asing,
terjadinya pengendapan atau pertumbuhan mikroorganisme. Untuk mengatasi hal ini
maka perlu memperhatikan keadaan ruangan, material penyaring yang digunakan, dan
proses pencucian wadah yang hendak digunakan. Alat yang dipakai adalah Tyndall,
karena larutan dapat menyerap dan memantulkan sinar. Idealnya larutan parenteral
dapat melewatkan 92-97% pada waktu dibuat dan tidak turun menjadi 70% setelah 35 tahun.

Caranya:
Botol diputar-putar secara vertical berulang-ulang di depan suatu latar yang
gelap dan sisinya diberi cahaya. Dengan demikian, serpihan gelas akan
berjatuhan yang mula-mula turun akan berkumpul di dasar botol. Bahan
melayang akan berkilauan bila terkena cahaya. Pencahayaan menggunakan
lampu Atherman atau lampu proyeksi dengan cahaya 1000 lux 3000 lux
dengan jarak 25 cm.
2.9.5 Sterilitas
Tujuan pengujian ini untuk menetapkan apakah suatu bahan/sediaan farmasi
yang diharuskan steril memenuhi syarat sesuai dengan uji sterilitas seperti yang
tertera pada masing-masing monografi, aman untuk penggunaannya sesuai dengan
prosedur pengujian sterilitas sebagai bagian dari pengawasan mutu pabrik, seperti
yang tertera dalam sterilisasi dan jaminan sterilitas bahan. Ketidaksterilian suatu
sediaan bisa disebabkan oleh personal, alat, ruangan, bahan yang digunakan.
Akibatnya sediaan yang dibuat menjadi terkontaminan oleh mikroorganisme dan bisa
menimbulkan penyakit baru. Hal yang perlu diperhatikan adalah personal, alat,
ruangan, bahan karena ini yang menjadi tolak ukurnya.
Bebas dari bahan partikulat mengacu pada bahan bahan yang tidak larut
yamg bergerak dalam sediaan tersebut. Asas : larutan uji + media perbenihan,
inkubasi pada 20o 25oC. Kekeruhan / pertumbuhan mikroorganisme ( tidak steril ).
Metode uji : Teknik penyaringan dengan filter membran ( dibagi menjadi 2 bagian )
lalu diinkubasi.
Prosedur uji: Inokulasi langsung ke dalam media perbenihan.
Volume tertentu spesimen ditambah volume tertentu media uji, inkubasi selama tidak
kurang dari 14 hari, kemudian amati pertumbuhan secara visual sesering mungkin
sekurang-kurangnya pada hari ke-3 atau ke-4 atau ke-5, pada hari ke-7 atau hari ke-8
dan pada hari terakhir dari masa uji.Produk dikatakan bebas mikroorganisme bila
Sterility Assuranve Level (SAL) = 10-6 atau 12 log reduction (over kill sterilization).
Bila proses pembuatan produk menggunakan aseptic maka SAL = 10-4.
2.9.6 Uji Pirogenitas
Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui apakah suatu sediaan terbebas
dari pirogen. Pirogen dapat bersumber dari pelarut, obat itu sendiri, peralatan, dan

metode penyimpanan yang digunakan. Pirogen ini dapat berbahaya jika injeksi
volume besar akan mengandung pirogen yang besar pula, infus yang diberikan dengan
intra vena memiliki efek cepat dan untuk pasien gawat inap bila terjadi penaikan suhu
badan bisa berakibat fatal. Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini
adaalah dengan menggunakan beberapa metode yakni cara destilasi, pemanasan,
penyerapan, depyrogenasi, dengan penukaran ion, dengan gamma radiasi, dan getaran
ultrasonik.
Pirogen perlu dibebaskan dari:
1. Air atau larutan air
1) Dengan penyaring special (penyaring SEITZ). Terjadi melalui adsorbsi
pirogen pada material penyaring dengan menggunakan lapisan asbes selulosa
yang berbeda-beda jenisnya menurut porinya.
2) Kolom alumunium oksida atau penyaring karbon aktif 0,1% dari volume total.
3) Sinar (kobalt 60).
4) Ditambahkan H2O2 0,1% dan dimasak selama 1 jam.
5) Ditambahkan 10 ml larutan KMnO4 0,1 N dan 5 ml larutan NaOH 1 N per
liter larutan sewaktu aquades disuling.
6) Melalui metode elektroosmosis atau reverse osmosis.

2. Bahan obat atau bahan pembantu


1) Melalui pemanasan selama 30 menit pada suhu 250 C atau 1 jam pada suhu
200 C.
2) Dilarutkan, kemudian dibebas-pirogenkan.

3. Wadah, bahan tutup, dan sebagainya


1) Gelas piala, corong, ampul, botol infuse, dan lain-lain. Dibebaskan pirogen
dengan cara sterilisasi.
2) Metode kimia penggunaan asam kromsulfat atau asam nitrat dibilas kembali
dengan air suling bebas pirogen.
3) Material karet silicon dipanaskan 30 menit pada suhu 90 C dalam larutan
fenil merkuriborat 0,002%.

4) Autoklaf suhu 121 124 C selama 120 menit.


5) Disterilkan secara dingin, yaitu dengan penyinaran sinar terionisasi atau
dengan etilen oksida.
Selanjutnya perlu dilakukan uji bebas pirogen. Uji pirogen bertujuan untuk membatasi
risiko reaksi demam pada tingkat yang dapat diterima oleh pasien pada pemberian
sediaan injeksi.
a.Tes Terhadap Kelinci
Larutan yang diteliti diinjeksikan ke dalam vena telinga kelinci dan
peningkatan suhu diukur melalui rectal. Hasil negative pada kelinci membuktikan
hipertermi pada manusia tidak perlu dirisaukan. Uji pirogen menggunakan kelinci
sehat yang telah dijaga dalam keadaan lingkungan dan makanan tepat sebelum
dilakukan uji. Temperature normal atau temperature control diukur untuk tiap
hewan yang akan digunakan. Temperature digunakan sebagai dasar penentuan setiap
kenaikan temperature yang ditimbulkan akibat penyuntikan larutan yang akan diuji.
Temperature kelinci-kelinci yang digunakan tidak boleh beradar lebih dari 1 derajat
satu dengan lainnya. Kemudian, temperature tubuh tersebut diperkirakan tidak akan
meningkat.

Prosedur uji:
Jadikanlah alat suntik, jarum, dan alat gelas bebas dari pirogen dengan
memanaskan pada temperature 2500C selama tidak kurang dari 30 menit atau dengan
cara lain yang sesuai, hangatkan produk yang akan diuji sampai temperature 370C
kurang lebih 20C
Tes untuk pirogn menurut FI-III sebagai berikut:
Tes menggunakan sekelompok hewan percobaan, yaitu 3 ekor kelinci yang
memenuhi syarat. Suhu larutan yang diuji adalah 38,50C suntikkan produk yang akan
diuji pada vena telinga setiap elinci tidak kurang 0,5ml dan tidak lebih 10ml/kgBB.
Selesaikan tiap suntikan dalam waktu 4 menit dihitung dari awal pemberian. Jika
gagal,, kita dapat menguangi hingga 4 kali. Tiap kali tes menggunakan sekelompok
kelinci, yang terdiri atas 3 ekor kelinci. Catatlah temperature pada 1, 2, dan 3 jam
sesudah penyuntikan. Syarat hasil uji dapat dilihat pada table.

Table hasil uji pirogen


Jumlah kelinci

Larutan uji memenuhi syarat bila

Larutan uji tidak memenuhi syarat

jumlah respon tidak melebihi (0C)

jika jumlah respon melebihi (0C)

1,20

2,7

2,80

4,3

4,5

6,0

12

6,6

6,6

b.Tes Limulus
Lisat yang diperoleh dari butir darah kepiting, limulus polyphemus, mengandung
system enzim dan protein. Apabila ada liposakarida dalam jumlah kecil dari pirogen
bakteri gram negative maka akan menyebabkan terjadinya penggumpalan. Tes hanya
memerlukan waktu 90 menit dan tidak positif terhadap seluruh pirogen hasil reaksi.
Oleh karena itu, hasil tes yang positif menjadi bukti adanya pirogen, tetapi bila
negative, maka bukan jaminan bebas pirogen. (Lucas, 82-84) .
2.9.7 Uji homogenitas
Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui apakah suatu sediaan tersebut
tercampur secara sempurna. Penyebab terjadinya ketidakhomogenitas salah satunya
adalah zat aktif pada sediaan tidak larut sempurna atau salah dalam menggunakan
pelarutnya dan pH larutan tidak sesuai dengan pH yang diinginkan atau pHnya
berubah-ubah. Hal ini biasanya dapat nampak setelah dilakukan pengujian
homogenitas

dengan

cara

melakukan

pengocokkan

dalam

waktu

tertentu

menggunakan alat Viskometer Brookfield. Solusi yang dapat dilakukan untuk


mengatasi hal ini adalah dalam proses pembuatan sediaan zat aktif harus dipastikan
terlarut sempurna dan juga menggunakan pelarut yang cocok dan untuk pH yang
berubah ubah dapat mengatasinya ditambahakan larutan penyangga.Prosedur kerja
uji homogenitas infus meliputi, ditimbang infus kemudian dimasukkan ke dalam alat
viskometer Brookfield. Selanjutnya diaktifkan alat tersebut, dimana akan terjadi
pengocokan terhadap infus, matikan dan diamati sediaan infus tersebut. Jika infus
memenuhi persyaratan, maka sediaan infus (suspensi) harus menunjukkan tampak

luar yang homogen setelah pengocokan dalam waktu tertentu menggunakan


Viskometer Brookfield. Jika sediaan infus emulsi dilakukan secara visual.
2.9.8 Uji kebocoran
Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui tingkat keamanan sehingga tidak
terjadi penurunan volume dan kontaminasi dari suatu bentuk sediaan. Penyebab
terjadinya kebocoran adalah digunakannya tutup botol yang memiliki karet yang
lembek dan juga wadah yang digunakan tersebut dapat berinteraksi dengan sediaan
akibat dari terjadinya kebocoran akan mengurangi volume sediaan dan juga dapat
terjadi kontaminasi pada sediaan tersebut. Langkah yang perlu dilakukan agar tidak
terjadi kebocoran adalah tidak dilakukan untuk vial dan botol karena tutup karetnya
tidak kaku, dan wadah yang digunakan termasuk tutupnya harus tidak berinteraksi
dengan sediaan, baik secara fisik maupun kimia sehingga akan mengubah kekuatan
dan efektifitasnya. Bila wadah dibuat dari gelas, maka gelas harus jernih dan tidak
berwarna atau berwarna kekuningan, untuk memeriksaan isinya (Ansel : 423)
Untuk infus yang disterilkan dengan pemanasan :
Pada ampul, disterilkan dalam posisi terbalik dengan ujng yang dilebur berada di
bawah. Wadah yang bocor isinya akan kosong/habis atau berkurang setelah selesai
sterilisasi.
Pada vial, setelah disterilkan masih dalam keadaan panas masukkan ke dalam larutan
dingin metilen biru 0,1 %. Wadah yang bocor akan berwarna biru, karena
larutanmetilen akan masuk ke dalam larutan injeksi tersebut.
Atau letakkan ampul di dalam zat warna (biru metilen 0,5 1%) dalam ruangan
vakum. Tekanan atmosfer berikutnya kemudian menyebabkan zat warna berpenetrasi
ke dalam lubang, dapat dilihat setelah bagian luar ampul dicuci untuk membersihkan
zat warnanya.
Untuk yang disterilkan tanpa pemanasan atau cara aseptik, diperiksa dengan
memasukkan ke dalam eksikator dan divakumkan. Pada wadah yang bocor, isinya
akan keluar. Syarat uji kebocoran yakni volume sediaan tidak berkurang atau tidak
ada kebocoran
2.9.9 Uji Keseragaman Bobot
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah bobot dari setiap botol sediaan
telah memenuhi syarat yang telah ditentukan atau tidak karena ini sangat berpengaruh
pada saat pemberiaannya.

Caranya:
Hilangkan etiket dari 10 wadah, cuci bagian luar wadah dengan air, keringkan,
kemudian timbang satu per satu dalam keadaan terbuka. Selanjutnya, keluarkan isi
wadah, ciuci dengan air, lalu dengan etanol 95% dan keringkan pada suhu 105 oC
hingga bobot tetap. Dinginkan dan timbang satu per satu. Bobot isi wadah tidak boleh
menyimpang lebih dari batas tertentu dalam tabel yang tertera di bawah ini, kecuali
satu wadah yang boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas tertentu.
Tabel batas penyimpangan bobot pada keseragaman bobot wadah:
Bobot yang tertera pada etiket

Batas penyimpangan dalam %

Tidak lebih dari 120 mg

10

120 mg 300 mg

7,8

300 atau lebih

Dapat dinyatakan memenuhi persyaratan uji keseragaman bobot jika penyimpangan


persentase tidak lebih dari
2.9.10 Pengujian warna
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui terjadinya peruraian pada suatu
sediaan berupa adanya perubahan warna setelah disimpanan beberapa hari. Perubahan
warna umumnya terjadi pada sediaan parenteral yang disimpan pada suhu tinggi (> 40
0C). Suhu tinggi menyebabkan penguraian. Pengurain tersebut dapat terlihat ketika
adanya perubahan warna hal tersebut dapat menunjukkan jika sediaan tidak dapat
didistribusikan ke pasaran oleh karenanya penting untuk melakukan uji perubahan
warna terhadap sediaan.Pengujian ini dilakukan secara visual dan dibandingkan
dengan warna sediaan sebelum terjadinya perubahan. Dapat dinyatakan memenuhi
syarat jika saat dilakukan pengujian perubahan warna setelah beberapa hari dan tidak
terjadi perubahan warna maka sediaan tersebut dapat dipasarkan.
2.10 Praformulasi dan formulasi Infus
2.10.1 Praformulasi
Praformulasi
1. Glukosa
Glukosa di golongkan menjadi glukosa monohidrat dan glukosa anhidrat.

a. BM gkukosa monohidrat = 198,17


BM glukosa anhidrat
= 180,16
b. Kelarutan
Kelarutan dalam

anhidrat

Monohidrat

Air

1:1

1:1

Etanol

1 : 10

1 : 100

Air panas

Sangat larut

Sangat larut

Alkoholpanas

Larut

Larut

c. Stabilitas
1) Terhadap cahaya
2) Terhadap suhu

: saat sterilisasi tidak stabil terhadap sinar


: tidak stabil pada penyimpanan suhu < 25o C sehingga

dapat menyebabkan penurunan pH dan karamelisasi


3) Terhadap pH
: tidak stabil efek terapinya jika pH bahan aktif
disesuaikan dengan pH cairan tubauh, tetapi jika rentang pH nya tidak terlalu
jauh maka masih bisa di toleransi
4) Terhadap oksigen
: jika terdapat oksigen, maka infuse tidak akan stabil
karena akan timbulnya gelembung udara
5) Terhadap titik lebur :
- untuk glukosa anhidrat akan stabil melebur jika pada suhu 146oC
- untuk glukosa monohidrat akan stabil melebur jika pada suhu 23oC
6) inkompatibilitas
: akan tewrjadi kekeruhanbila larutan iv glukosa
dicampurdg cyanocabalamin, kanamycin sulfat, novobiocin sodium dan
warafin sodium. Glukosa dapat bereaksi dengan amin, amida, asam amino,
peptida. Vitamin B complex akan terdekomposisi bila dipanaskan dengan
dekstrose, eritromisin.
2. NaCl
3. Aqua Pro Injeksi
4. Karbon aktif
Sebelum melakukan formulasi, sifat kimia dan fisika suatu obat harus diketahui,
interaksinya dengan tiap bahan yang diinginkan harus dikaji, dan efek dari masing masing tahap kestabilannya harus diselidiki dan dimengerti. Hal ini dimaksudkan untuk
memperoleh suatu formula yang baik dan sesuai persyaratan.
a. Parameter fisiologi
Beberapa komponen yang menunjang fisiologi tubuh dapat diberikan dalam
bentuk sediaan parenteral volume besar yaitu air, elektrolit, karbohidrat, asam amino,
lipida, vitamin, dan mineral. Dengan cepatnya komponen penunjang fisiologi diganti
maka kesehatan tubuh akan cepat tercapai.

Tekanan osmosa atau osmolaritas merupakan faktor fisiologi penting yang


berpengaruh pada formulasi. Tekanan osmosa adalah perpindahan pelarut dan zat
terlarut melalui membran permeabel yang memisahkan 2 komponen, dinyatakan
dalam osmole per kilogram = osmolarita.
b. Faktor fisikokimia
1) Organoleptis
Dimulai dengan pemerian zat aktif secara kasat mata, meliputi : warna,
aroma dan rasa. Pengamatan organoleptis memiliki manfaat mengenai langakah
awal perlakuan terhadap zat aktif ataupun zat tambahannya. Misalnya,
penyimpanan bahan yang baik dapat dilakukan salah satunya dengan mengerti
sifat bahan secara kasat mata. Kemudian terdapat juaga zat aktif yang dapat
mengiritasi kulit atau menyebabkan bersin terus menerus. Informasi tersebut telah
tersedia dan dikembangkan selama study praformulasi. Apabila tersedia informasi
ini, maka prosedur yang sesuai untuk penanganan dan perlindungan personil
dapat dikembangkan.
2) Kelarutan
Pada umumnya obat obatan yang digunakan untuk mrmbuat sediaan
parenteral volume besar mudah larut, jadi kelarutan tidak menjadi hambatan.
Kelarutan menjadi hal yang harus diperhatikan apabila sediaan parenteral
volume besar dipakai sebagai pembawa obat lain, atau terjadinya kristal pada
beberapa zat (contohnya manitol 13 g dalam 100 ml air pada suhu < 14 0 C maka
cenderung mengendap akan membentuk kristal).
Kelarutan sangat penting untuk pengembangan larutan yang dapat
disuntikkan baik secara intravena maupun intramuscular. Sediaan dalam bentuk
infus harus jernih. Itu artinya obat-obat yang digunakan untuk membuat infus
harus larut sempurna dalam pembawanya.
Sistem pelarut yang cocok untuk produksi steril terbatas pada bahan yang
menghasilkan sedikit iritasi jaringan atau bahkan tidak sama sekali. Air
merupakan pelarut yang paling umum. Selain itu, semua komponen harus
memiliki kualitas yang sangat baik. Kontaminasi fisika dan kimia tidak hanya
menyebabkan iritasi ke jaringan tubuh, tetapi jumlah kontaminasi tersebut juga
dapat menyebabkan degradasi produk sebagai hasil dari perubahan kimia,
khususnya selama waktu pemanasan bila digunakan sterilisasi panas.
Pelarut bukan air yang dipilih harus dengan hati hati, karena pelarut
tersebut tidak boleh bersifat iritasi, toksik atau terlalu pekat dan juga tidak boleh
memberi efek merugikan pada bahan formulasi lainnya. Pemilihan pelarut seperti
itu harus melibatkan suatu evaluasi sifat sifat fisiknya seperti kerapatan,

viskositas, kemampuan bercampur dan kepolaran, kestabilan, aktivitas pelarut


dan toksisitas. Contoh pelarut bukan air yang dapat dikombinasi dengan air
adalah dioksilan, dimetil-asetamida, N-(-hidroksietil )-laktamida, butilen glikol,
polietilen glikol 400 dan 600, propilen glikol, gliserin, etil alkohol. Pelarut bukan
air yang tidak dapat bercampur dengan air contohnya minyak lemak, etil oleat,
isopropil miristat, dan benzilbenzoat.

3) pH

4)

5)

6)

7)

8)

pH darah normal adalah 7,35 7,45 sehingga sediaan parenteral volume besar
mempunyai pH di luar batas tersebut akan menyebabkan masalah pada tubuh.
pH perlu diperhatikan mengingat pH yang tidak tepat dapat menyebabkan :
berpengaruh terutama pada darah tubuh
berpengaruh pada kestabilan obat
berpengaruh pada wadah terutama wadah gelas, plastik, dan tutup
karet.
Ukuran partikel
Ukuran pratikel bahan obat mempunyai peranan dalam sediaan farmasi sebab
ukuran partikel mempunyai pengaruh yang besar dalam pembuatan sediaan obat
dan juga terhadap efek fisiologisnya.
Sediaan infus harus memiliki ukuran partikel yang kecil karena sediaan infus
pemberiannya langsung dalam pembuluh darah vena. Jika terdapat ukuran
partikel yang besar dalam infus maka dikhawatirkan akan terjadi penyumbatan
atau gangguan dalam pembuluh darah.
Pembawa
Pada sediaan parenteral volume besar umumnya digunakan pembawa air tetapi
dapat juga dipakai emulsi lemak intravena yang diberikan sendiri atau
dikombinasi dengan asam amino dan atau dekstrosa asalkan partikel tidak boleh
lebih besar dari 0,5 m.
Viskositas
Dalam sediaan infus viskositas sangat berpengaruh karena jika sediaan infus
terlalu kental maka akan susah menetes.
Cahaya dan suhu
Cahaya dan suhu dapat mempengaruhi kestabilan obat misalnya vitamin harus
disimpan dalam wadah terlindung cahaya atau larutan yang mengandung
dekstrosa dengan kadar tinggi harus terlindung dari suhu yang tinggi.
Faktor kemasan
Bahan pembuat wadah sangat berpengaruh terhadap kestabilan obat parenteral
volume besar, seperti gelas, plastik dan tutup karet. Harus diusahakan kemasan
tidak mempengaruhi kestabilan obat untuk sediaan parenteral volume besar.

c. Stabilisator pada sediaan parenteral volume besar

Bahan penambah seperti dapar, antioksidan, komplekson,jarang ditambahkan


pada sediaan parenteral volume besar.

2.10.2 Formulasi
Formulasi suatu produk steril meliputi kombinasi dari satu atau lebih bahan
dengan zat obat untuk menambahkan ke efektifan produk tersebut dan kemampuan
diterima. Oleh karena itu harus dibuat penilaian hati-hati untuk setiap kombinasi dua
bahan atau lebih untuk memastikan apakah terjadi interaksi merugikan atau tidak dan
jika terjadi, cara untuk memodifikasi formulasi sehingga reaksi dapat dihilangkan atau
dikurangi.
Bahan penambah, bisa ditambahkan kesuatu formulasi untuk memberikan
kestabilan yang dibutuhkan dan kemanjuran terapi. Bahan tambahan yang dimaksud
adalah zat antibakteri, antioksidan, dapar, dan pembantu isotonis.
Zat antibakteri, dalam konsentrasi bakteriostatik harus dimasukkan dalam
formulasi produk yang dikemas dalam vial dosis ganda, dan sering kali dimasukkan
dalam formulasi yang akan disterilkan dengan proses marginal, atau dibuat secara
aseptik. Contoh zat antibakteri : Benzil Alkohol, Benzetonium klorida, Butilparaben,
Klorobutanol, Metakresol.
Antioksidan, dimasukkan dalam banyak formulasi untuk melindungi suatu zat
terapetis yang mudah mengalami oksidasi terutama pada kondisi dipercepat dengan
sterilisasi panas. Contoh Anktioksidan : Asam askorbat, Natrium bisulfit, Natrium
formaldehida sulfoksilat, Tiourea.
Andil Tonisitas, senyawa yang membantu ke isotonisitas suatu produk
mengurangi sakit pada daerah injeksi yang berakhir ke syaraf. Dapar bertindak
sebagai pembantu tonisitas serta penstabil pH larutan. Walaupun penurunan titik beku
larutan paling sering digunakan untuk menentukan apakah suatu larutan bersifat
isotonis, isotonisitas sebenarnya tergantung pada permeabilitas suatu membran
semipermeable; hidup yang memisahkan larutan dari sitem.
Contoh formulasi :
R/

zat berkhasiat
Zat tambahan (pengisotoni, adjust, dll)
Pembawa

BAB III
METODE KERJA
3.1 Praformulasi

Glukosa (FI edisi III hal 268)


Pemerian

:Hablur, tidak berwarna, serbuk hablur dan serbuk granul, putih, tidak

Kelarutan

berbau, rasa manis.


:Mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air mendidih, agak sukar

larut dalam etanol (95%) P.


Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
1. Sifat Kimia
Kadar Bahan Aktif :Infus glukosa mengandung C6H12O6. H2O tidak kurang dari 95%
dan tidak lebih dari 105 % dari jumlah yang tertera pada etiket.Untuk injeksi glukosa
dapat digunakn glukosa anhidrat atau glukosa monohidrat 1,1 g glukosa monohidrat
ekuivalen dengan 1 g glukosa anhidrat.
2. Sifat Organoleptis
Bentuk : Serbuk atau hablur
Warna : Putih
Bau : Tidak berbau
Rasa : Manis
3. Sifat Fisika
Kelarutan : Larut dalam 1 bagian air dan dalam 200 bagian alcohol ; larut dalam gliserol;
praktis tidak larut dalam eter. Glukosa di dalam air (is dextrorotary). 5.05% larutan
glukosa dalam air iso-osmotik dengan serum.
Stabilitas

: Infus glukosa stabil pada PH 3.5-6.5.

Khasiat

: Kalorigenikum

Dosis Lazim: Konsentrasi 5% untuk isotonis


Konsentrasi 20% untuk diuretik
Konsentrasi 30-50% terapi ordema di otak.

Sterilisasi :
Larutan glukosa harus disterilkan segera setelah persiapan, yaitu secara sterilisasi
akhir dengan autoklaf atau dengan cara filtrasi. Simpan di dalam wadah yang tertutup
baik.
Osmolaritas :
5,51% larutan dalam air adalah iso-osmotik dengan serum.
Inkompatibilitas (OTT) :Glukosa OTT dengan Vitamin K akan kehilangan kejernihannya
ketika larutan infus glukosa dicampurkan dengan sianokobalamin, kanamycin sulphate,
novobiocin sodium atau warfarin sadium.
Efek Samping :Pemberian glukosa secara intravena dapat memyebabkan iritasi vena.
Trombophlebitis dapat terjadi jika larutan infuse glukosa memiliki PH yang rendah karena
overheating selama sterilisasi.
Kontraindikasi :
Glukosa kontraindikasi pada pasien yang mengalami glukosa-galaktosa malabsorption
syndrome.Toleransi glukosa mungkin dikurangi pada pasien gagal ginjal dan posttraumatic tingkat awal atau pada pasien yang mengalami sepsis. infuse glukosa, meskipun
iso-osmotik tetapi tidak dapat bercampur dengan darah dapat menyebabkan terjadinya
hemolisis dan clumping.

NaCl ( FI edisi III hal 403 )


Pemerian

: Hablur heksahedral, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak


berbau, rasa asin.

Kelarutan

: Larut dalama 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air mendidih dan dalam
lebih kurang 10 bagian gliserol P. sukar larut dalam etanol (95 %) P.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik


Natrium merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler dan memegang peranan
penting pada regulasi tekanan osmotisnya, juga pada pembentukan perbedaan potensial

( listrik ) yang perlu bagi kontraksi otot dan penerusan impuls di syaraf.
Defisiensi natrium dapat terjadi akibat kerja fisik yang terlampau berat dengan banyak
berkeringat dan banyak minum air tanpa tambahan garam ekstra. Gejalanya berupa mual,
muntah, sangat lelah, nyeri kepala, kejang otot betis, kemudian juga kejang otot lengan
dan perut.Selain pada defisiensi Na, natrium juga digunakan dalam bilasan 0,9 % ( larutan
garam fisiologis ) dan dalam infus dengan elektrolit lain.

Aqua Pro Injeksi ( FI edisi III hal 97 )


Nama Resmi

: AQUA PRO INJEKSI

Sinonim

: Air untuk injeksi

Pemerian

: Keasaman, Kebasahan, Amonium, Besi, Tembaga, Timbal, Kalsium,


Klorida, Nitrat, Sulfat, zat teroksidasi memenuhi syarat yang tertera pada
aqua destilata.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup kedap. Jika dalam wadah tertutup kapas


berlemak harus digunakan dalam waktu 3 hari setelah pembuatan.

3.2Formulasi
R/ Glukosa
NaCl

5%
0,4268 g

API add

400

3.3 Alat dan bahan

ALAT:
1.
2.
3.
4.

BAHAN:
Beaker glass
Gelas ukur
Timbangan
Anak timbangan

1.
2.
3.
4.

Glukosa 5%
NaCl
Aquades Pro Injeksi
Karbon aktif 0,1%

5. Batang pengaduk
6. Pembakar spirtus
7. Kawat asbes
8. Botol Infus
9. Erlenmeyer
10. Sendok tanduk
11. Pinset
12. Pipet
13. Gunting

5. Kertas saring

3.4 Tabel Sterilisasi Alat


No

Alat

Cara

Suhu

Waktu

1.

Botol infuse

Autoklaf

1210C

15 menit

2.

Beker glass

Autoklaf

1210C

15 menit

3.

Erlenmeyer

Autoklaf

1210C

15 menit

4.

Batang pengaduk

Oven

1700C

30 menit

5.

Gelas ukur

Autoklaf

1210C

15 menit

6.

Sendok tanduk

Oven

1700C

30 menit

7.

Pinset

Oven

1700C

30 menit

8.

Pipet

Oven

1700C

30 menit

9.

Kertas saring

Oven

1700C

30 menit

Oven

1700C

30 menit

10. Gunting

3.5 Perhitungan Bahan


3.5.1 Tonisitas dengan Metode Perhitungan Derajat Disosiasi

( Mbfb ) {0,28( Mafa ) a}

B=

1
0,28(
50
( 58,5
}
1,8 ) {
198,17 )

B=

B=32,5 0,28

1
( 198,17
) 50}

B=32,5 {0,280,005 50 }
B=32,5 {0,280,25 }
B=32,5 0,03
B=0,975 gram/1000 ml

B=0,0975 gram/100 ml
NaCl yang ditimbang sebanyak 0,0975 gram atau setara dengan 97 mg.
3.5.2 Perhitungan bahan yang dibutuhkan untuk 440 ml

Glukosa
5% x 440 = 22 gram
NaCl
97 mg x 4 =388 mg + 10% = 426,8 mg
Karbon Aktif 0,1%

0,1% x 440= 0,44gram~ 440mg


3.6 Prosedur Kerja
1.
2.
3.
4.

Penggunaan alat pelindung diri pada praktikan.


Disiapkan alat dan bahan.
Sterilisasi alat.
Di buat Aqua Pro Injeksi Bebas O2 Sejumlah aquadest dalam labu erlenmeyer ditutup
dengan rapat agar tidak terkontaminasi O2 kemudian didihkan dan panaskan kembali

selama 40 menit sehingga diperoleh API bebas O2.


5. Ditimbang bahan berikut menggunakan kaca arloci dan neraca
- Glukosa 22 gram
- NaCl 426,8 mg
- Karbon aktif 440 mg
6. Bahan yang telah ditimbang, dimasukkan ke dalam beaker gelas yang telah dikalibrasi
440ml.
7. API dituangkan untuk melarutkan zat dan membilas kaca arloji sampai tanda kalibrasi
tercapai.
8. Karbon aktif ditimbang 0,1% (440mg) kemudian masukkan ke dalam larutan,beaker
gelas ditutup kaca arloji dan disisipi batang pengaduk.
9. Hangatkan larutan pada suhu 50-700C selama 15 menit sambil sesekali diaduk lalu
dicek pH.
10. Kertas saring ganda yang terlipat dibasahi terlebih dahulu dengan air bebas pirogen.
11. Pindahkan corong dan kertas saring ke Erlenmeyer steril bebas pirogen.
12. Larutan kemudian disaring hangat-hangat ke dalam Erlenmeyer .

13. Larutan zat dipindahkan ke gelas ukur sampai volume tepat 440ml.
14. Botol infuse dibilas terlebih dahulu dengan sedikit sisa larutan 2ml kemudian
diisikan langsung ke dalam botol infuse 500ml.
15. Pasang tutup karet botol infuse steril lalu ikat dengan simpul champagne
16. Sterilkan botol infuse yang berisi larutan dalam autoklaf suhu 115-116C selama 30
menit, kemudian diberi etiket yang sesuai.
3.7 Evaluasi Sediaan
3.7.1 Evaluasi pH Sediaan Infus
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Disiapkan alat dan bahan.


Dituang sebagian kecil sediaan infus ke dalam baker gelas.
Dimasukkan kertas indikator pH.
Diamati perubahan warna pada kertas indikator pH.
Dicocokkan perubahan warna dengan indicator pH.
Jika pHmenunjukkan 7,4 maka sesuai dengan persyaratan.

3.7.2 Evaluasi Uji Kebocoran Sediaan Infus


1. Disterilkan sediaan.
2. Dalam keadaan panas, dimasukkan sediaan ke dalam larutan dingin metilen blue
0,1%.
3. Jika sediaan

berwarna

biru,

menunjukkan

wadah

sediaan

mengalami

kebocoran.setelah disterilkan, masih dalam keadaan panas, masukkan ke dalam


larutan dingin metilen blue 0,1%. Wadah yang bocor akan berwarna biru, karena
larutan metilen blue akan masuk ke dalam larutan injeksi tersebut

3.7.3 Evaluasi Sterilitas Sediaan Infus


1.
2.
3.
4.
5.

Disiapkan media agar NA.


Diambil sampel sediaan dengan menggunakan cotton bud.
Diinokulasikan pada media agar.
Diinkubasi media agar seama 1 x 24 jam.
Diamati jumlah mikroba yang tumbuh.

3.7.4 Evaluasi Kejernihan dan Warna Sediaan Infus


1. Disiapkan selembar kertas separuh berwarna hitam dan separuh berwarna putih
sebagai latar belakang sediaan infus.
2. Dilewatkan cahaya dari arah samping sediaan.
3. Diamatai, jika tidak terdapat partikel pengotor, maka sediaan infus sudah memenuhi
syarat.
3.8 Tabel Hasil Pengamatan Evaluasi Sediaan
Uji organoleptis

Uji pH

Uji Kebocoran Uji Sterilitas

Uji
Kejernihan
Sediaan
terdapat

Warna sediaan :
bening
Bau
berbau

tidak

pengotor
7,4

(tisu), sediaan
tidak

jernih,

dua

sediaan

lain jernih dan


bening.

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Kejernihan Sediaaan Infus
Kegiatan praktikum produksi sediaan infus dibagi menjadi 4 kelompok kecil, di mana
masing masing kelompok beranggotakan 1-2 orang. Hal ini bertujuan agar setiap praktikan
dapat lebih memahami mengenai tahapan tahapan dalam memprodusi sediaaan streil infus.
Sehingga dari kegiatan tersebut terdapat 4 sediaan infus, sediaan infus I (Devi Rosita dan
Dewi Ari), sediaan infus II (Anita Pramudya dan Dila Anggi), sediaan infus III (Avita Rischa
dan Eka Putri), dan sediaan infus IV (Adi Wahyu).
Langkah awal adalah praktikan membersihkan alat praktikum, melakukan kalibrasi
pada botol sediaan infus, dan mempersiapkan untuk membuat API (aqua pro injection).
Pencampuran bahan dilakukan pada baker gelas yang masih di atas pemanas, hal tersebut
bertujuan untuk membantu roses kelarutan. Zat pertama yang dimasukkan adalah Glukosa,
NaCl, lalu karbon aktif dan larutan diaduk.Pencampuran karbon aktif dalam sediaan yang
awalnya berupa serbuk kecil lama kelamaan berubah menjadi gumpalan kecil karena karbon
aktif berhail mengikat pirogen yng terdapat pada sediaan infus.Langkah selanjutnya adalah
menyiapkan corong dan kertas saring untuk memasukkan infus ke dalam botol infus.
Merupakan koreksi untuk kelompok praktikan bahwa dalam proses penyaringan minimal
menggunakan 2 lapis kertas saring. Hal ini bertujuan agar tidak ada karbon aktif yang dapat
lolos mask ke botol sediaan. Namun karea terlanjur, maka praktikan secara berkala
mengganti kertas saring tersebut jika terlihat sudah penuh dengan karbon aktif dan hasilnya
pun tidak mengecewakan. Secara prinsip, cara pebuatan kami sama namun pada hasil
akhirnya terdapat perbedaaan amun terdapat beberapa faktor yang memengaruhi hasil
tersebut diantaranya adalah:
1. Kondisi Botol Sediaan Infus
Syarat sediaan steril yang uama adalah kejernihan sediaan tersebut, sebab infus akan
langsung masuk pembuluh darah sehingga kejernihan sediaan steril sangat utama. Pada
sediaan injeksi I terdapat pengtor dalam sediaan yaitu seperti residu tisu. Seharusnya yang
praktikan harus tetap melakukan pengecekan pada setiap tahapan yang akan dilakukan,
misalkan praktikan harus tetap mengecek keadaan wadah sediaan meskipun telah dicuci dan
disterilkan. Pada peristiwa ini menunjukkan bahwa praktikan kurang teliti dalam hal
kebersihan sediaan infus.Hal tersebut dapat diperbaiki dengan melakukan penyaringan ulang
menggunakan kertas saring berlapis minimal 2 lapis.

2. Kondisi Kertas Saring


Proses penyaringan sediaan infus dari baker gelas dimasukkan ke dalam wadah sediaan
infus harus melalui penyaringan, karena sediaan infus harus terbebas dari zat karbon aktif yan
telah berikatan denan pirogen. Pirogen merupakan suatu produk mikroorganisme, terutama
dari bakteri gram negatif. Pada sediaan infus III warna larutan sediaan infus masih berwarna
butek, tidak jernih karena masih terdapat zat karbon aktif yang lolos dalam penyaringan
kertas saring. Masalh tersebut data diperbaiki dengan mengganti kertas saring secara
berkala.Jika terlihat kertas saring sudah jenuh dengan partiel karbon aktif maka segera ganti
kertas saring.Penggantian kertas saring ini juga berengaruh pada kecepatan larutan yang
disaring.Karena kapiler kertas saring tidak tertutup oleh karbon aktif yang menempel
sehingga larutan dapat lolos dengan mudah menuju wadah sediaan infus.
3. Penuangan Sediaan Infus ke dalam Kertas Saring
Larutan dalam beker gelas dipindahkan ke dalam wadah sediaan menggunakan corong
gelas dan kertas saring. Dalam proses penuangan hendaknya larutan yang dituangkan tidak
melebihi jangkauan kertas saring. Sebab lautan yang melebihi akan langsung mengalir ke
dalam wadah sediaan tanpa melalui proses penyaringan, sehingga pirogen yang berikatan
dengan zat karbon aktif dapat lolos dalam sediaan infus, dan dapat mengakibatkan warna
sediaan infus tidak jernih. kesalahan ini dapat diperbaiki dengan melakukan penyaringan
embali hingga larutan infus benar benar jernih, dengan menggunakan metode yang sama.

4.2 pH Sediaan Infus


proses kegiatan ini menghasilkan empat sediaan infus, di mana keempat infus tersebut
memiiki nilai pH yang sama yaitu 7 dan 7,4. Nilai tersebut telah menunjukkan bahwa larutan
infus praktikan isotonis karena memiliki nilai pH sama dengan pH darah. Tentuna terdapat
beberapa faktor yang mempengaruhi nilai pH tersebut antara lain adalah perhitungan isotnis,
penimbangan bahan, dan proses pelarutan bahan.
Nilai pH yang di dapatkan oleh sediaan infus adalah 7-7,4. Di mana nilai pH tersebut
tellah sesuai dengan nilai pH dalam darah sehingga tidak akan menyebabkan iritasi ataupun
erusakan sel, dengan kata lain sediaan infus ini aman digunakan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Mahasiswa telah mampu memahami proses pembuatan sediaan infus serta dapat
mengaplikasikannya dalam proses produksi sediaan infus sehingga terbentuk sediaan infus
yang baik.Hasil evaluasi sediaan uji pH meunjukkan infus kelompok kami memiliki kualitas
bagus serta memenuhi syarat yaitu memiliki nilai pH 7-7,4. Namun untuk uji kejernihan,
sediaan infus I dan II kurang memenuhi syarat karena terdapat pengotor dalam sediaan infus.
5.2 Saran
Dalam praktikum produksi sediaan steril injeksi hendaknya menggunakan ruang steril
yang bersih dan higenie dan hendaknya sediaan injeksi dilakukan evaluasi mikrobiologi agar
diketahui sediaan tersebut mengandung cemaran bakteri atau tidak .

DAFTAR PUSTAKA
Drs. H. A. syamsuni, Apt. 2007. Ilmu resep. Jakarta: penertbit buku kedokteran.
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : Universitas Indonesia
(UI-Press)
Formularium nasional.1978.Departemen kesehatan republik Indonesia.
Stefanus Lukas. 2006. Formulasi Steril. Yogyakarta: Andi offset.
Farmakope Indonesia Edisi III. 1979. Departemen kesehatan republik Indonesia.
Farmakope Indonesia Edisi IV. 2001.Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

LAMPIRAN
Lampiran 1. Gambar Sediaan Infus

Lampiran 2. Gambar Evauasai Sediaan Uji pH

Sediaan Infus I

Sediaan Infus II

Sediaan Infus III

Sediaan Infus IV