Anda di halaman 1dari 15

HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK IBU DENGAN KEJADIAN

BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) PADA IBU YANG


MELAHIRKAN DI UPK PUSKESMAS KAMPUNG
DALAM PERIODE JANUARI 2013
HINGGA NOVEMBER 2014
Celcilia E1; Fajrin AML1; Puspasari N1; Radisu AS1; Suwarni R1; Sihombing I1;
Putri EA2; Suryani I2;
Intisari
Latar Belakang: Masalah kesehatan ibu dan anak masih menjadi masalah
kesehatan di Indonesia. Meningkatknya kejadian BBLR akan meningkatkan
angka morbiditas dan mortalitas bayi baru lahir. Angka kejadian BBLR di UPK
Puskesmas Kampung Dalam mengalami peningkatan dari Januari 2013 hingga
November 2014. Kejadian BBLR dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk
faktor karakteristik ibu. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan
antara karakteristik ibu dengan kejadian BBLR di UPK Puskesmas Kampung
Dalam dalam periode Januari 2013 hingga November 2014. Metodologi: Desain
penelitian yang digunakan adalah cros-sectional. Data diperoleh melalui
penelusuran rekam medik pasien. Teknik pengambilan sampel menggunakan
simple random sampling. Data diolah menggunakan teknis analisis komparatif
berupa uji Chi Square dan uji Fisher. Hasil: Dari penelitian ini didapatkan 100
orang yang menjadi sampel penelitian. Hasil uji bivariat menunjukkan terdapat
hubungan yang bermakna antara lingkar lengan atas (p = 0,000), kadar
hemoglobin (p = 0, 005) dan jumlah kunjungan ANC (p = 0, 001) dengan kejadian
BBLR. Kesimpulan: Karakteristik ibu berupa lingkar lengan atas, kadar
hemoglobin dan jumlah ANC berhubungan dengan kejadian BBLR. Disarankan
kepada Puskesmas Kampung Dalam untuk lebih meningkatkan penyuluhan
kepada ibu hamil dan wanita usia subur pra hamil tentang faktor-faktor resiko
BBLR dan pencegahannya.

Kata kunci: BBLR, Karakteristik ibu, Lingkar lengan atas, Hemoglobin, ANC
1) Program

Studi

Pendidikan

Dokter,

Fakultas

Kedokteran

Univesitas

Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat


2) Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Program Studi Pendidikan Dokter,
Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat
3) UPK Puskesmas Kampung Dalam, Pontianak, Kalimantan Barat
MATERNAL CHARACTERISTIC RELATIONSHIP TO LOW BIRTH
WEIGHT INFANT OCCURENCE FROM WOMAN WHO GIVE

BIRTH IN KAMPUNG DALAM PRIMARY HEALTH CENTER


IN JANUARY 2013 TO NOVEMBER 2014
Celcilia E1; Fajrin AML1; Puspasari N1; Radisu AS1; Suwarni R1; Sihombing I1;
Putri EA2; Suryani I2;
Abstract
Background: Maternal and infant health problem is still a major health concern
in Indonesia. Higher low birth weight infants occurrence will lead to increasing
numbers of neonatal morbidity and mortality accident. There is increasing
incident number of low birth weight infants in Kampung Dalam Primary Health
Center each year from January 2013 to November 2014. Low birth weight
occurrence is affected by several factors, including maternal characteristic.
Objective: The purpose of this research was to know and analyze the relationship
between maternal characteristic to low birth weight infant occurrence in
Kampung Dalam Primary Health Center in January 2013 to November 2014.
Methods: Cross-sectional design was chosen for this research. The research data
is attained using patient medical record history. The sampling technique used for
choosing sample is simple random sampling. Processing of data was done using
comparative analysis technique, which is Chi Square test and Fisher test. Results:
For this study, 100 people were elected as sample group that would be analyzed
further. Bivariat testing showed that there is significant relationship between midarm circumference (p = 0,000), hemoglobin levels (p = 0, 005) and number of
ANC visits (p = 0, 001) with low birth weight infants incident Conclusion:
Maternal characteristic that has relationship to low birth weight infants
occurrence are mid-arm circumference, hemoglobin levels, and number of ANC
visits. It is suggested for Kampung Dalam Primary Health Center for increasing
the effort to educate pregnant mother and fertile age woman about low birth
weight infants risk factor and prevention.

Key words: Low birth weight infants, maternal characteristic, mid-arm


circumference, hemoglobin levels, ANC
1) Medical Shool, Faculty of Medicine, University of Tanjungpura, Pontianak,
West Borneo
2) Service Unit of Puskesmas Kampung Dalam, Pontianak, West Borneo
3) Department of Community Medicine, Faculty of Medicine, University of
Tanjungpura, Pontianak, West Borneo

Pendahuluan
3

28

Masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) masih menjadi masalah kesehatan
di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI)
dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang ada di Indonesia. Angka Kematian Bayi
di Indonesia merupakan yang tertinggi di ASEAN pada tahun 2010 (Profil
Kesehatan Indonesia, 2010). Berdasarkan Human Development Report 2010,
AKB di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 31 per 1.000 kelahiran hidup, 5,2
kali lebih tinggi dibandingkan Malaysia, 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan
Filipina, dan 2,4 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan Thailand.
Berdasarkan hasil SDKI tahun 2012, Angka Kematian Neonatus (AKN)
pada tahun 2012 sebesar 19 per 1000 kelahiran hidup. Perhatian terhadap upaya
penurunan AKN (0-28 hari) menjadi penting karena kematian neonatus memberi
kontribusi terhadap 56% AKB. Salah satu penyebab kematian terbanyak pada
neonatus adalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), di samping asfiksia dan
infeksi (Profil Kesehatan Indonesia, 2013).
Bayi Berat Lahir Rendah ialah bayi dengan berat badan lahir kurang dari
2500 gram (Profil Kesehatan Indonesia, 2013). Bayi Berat Lahir Rendah
merupakan indikator kesehatan bayi yang penting karena berhubungan erat
dengan morbiditas dan mortalitas pada bayi (OECD, 2009). Bayi Berat Lahir
Rendah seringkali mengalami masalah seperti gangguan sistem pernafasan,
susunan saraf pusat, kardiovaskular, hematologi, gastrointestinal, ginjal, dan
termoregulasi. Bayi Berat Lahir Rendah juga memiliki risiko yang lebih tinggi
untuk terserang infeksi, mengalami komplikasi, bahkan kematian. Kematian pada
BBLR diketahui 8 kali lipat lebih besar dibandingkan pada bayi dengan berat lahir
lebih dari 2500 gram (Tazkiah M, 2013).
Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa persentase balita (0-59
bulan) dengan BBLR di Indonesia adalah sebesar 10,2% (Kemenkes RI, 2013).
Kalimantan Barat pada tahun 2013 menduduki posisi keempat dengan persentase
BBLR tertinggi di Indonesia, yaitu sebesar 14,4% (Profil Kesehatan Indonesia,
2013). Berdasarkan Profil Kesehatan Kalimantan Barat tahun 2013, kota
Pontianak memiliki kejadian kasus BBLR tertinggi di Kalimantan Barat yaitu
sebesar 443 kasus untuk seluruh wilayah kota Pontianak.

28

29

UPK Puskesmas Kampung Dalam merupakan Puksesmas dengan kasus


BBLR tertinggi kedua di seluruh Kota Pontianak (Profil Kesehatan Kota
Pontianak, 2012) dan dengan kasus BBLR tertinggi pertama di kecamatan
Pontianak Timur (Profil Kesehatan Kota Pontianak, 2013). Berdasarkan pendataan
PONED Puskesmas Kampung Dalam terjadi peningkatan persentase kejadian
BBLR di UPK Puskesmas Kampung Dalam dari tahun 2012 ke tahun 2013.
Persentase kejadian BBLR tahun 2012 adalah 10,49%, persentase ini sudah
menurun apabila dibandingkan dengan tahun 2011 yang persentase BBLR-nya
adalah 22,48%. Tetapi pada tahun 2013 persentase kejadian BBLR meningkat
apabila dibandingkan dengan tahun 2012 menjadi 12,92%. Persentase ini terus
meningkat hingga pada periode Januari 2014-November 2014 menjadi 14,04%.
Berdasarkan uraian yang telah disampaikan, penelitian ini bermaksud
untuk meneliti hubungan antara karakteristik ibu dengan kejadian BBLR pada ibu
yang melahirkan di UPK Puskesmas Kampung Dalam periode Januari 2013
November 2014.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif analitik untuk
mendapatkan hubungan antara karakteristik ibu dengan kejadian BBLR pada ibu
yang melahirkan di UPK Puskesmas Kampung Dalam periode Januari 2013
hingga November 2014. Rancangan penelitian yang digunakan adalah desain
cross sectional.
Populasi pada penelitian ini ialah ibu yang melahirkan bayi di UPK
Puskesmas Kampung Dalam periode Januari 2013 November 2014. Sampel
dipilih dengan cara pemilihan sampel berdasarkan peluang (probability sampling)
metode acak sederhana (simple random sampling). Pada penelitian ini sampel
yang akan diambil berjumlah 100 orang.
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah status berat badan lahir bayi
yang dilahirkan di UPK Puskesmas Kampung Dalam. Variabel bebas penelitian
ini adalah karakteristik ibu berupa usia, tingkat pendidikan, ukuran lingkar lengan
atas, tinggi badan, kadar hemoglobin, usia kehamilan, jumlah kunjungan ANC,
dan paritas.
Data yang diperoleh dari rekam medis kemudian dikumpulkan dan diolah
menggunakan perangkat lunak uji statistik. Adapun uji statistika (uji hipotesis)

29

30

dilakukan dengan Chi Square untuk menguji signifikansi hipotesis variabel


kategorik tidak berpasangan dan menggunakan uji Fischer jika syarat uji Chi
Square tidak terpenuhi.

30

31

HASIL
Tabel 1 Distribusi frekuensi sampel penelitian

Berat Lahir bayi

BBLR
Tidak BBLR
Total

Frekuensi
N
35
65
100

Usia

< 20 tahun
20 35 tahun
>35 tahun
Total

7
84
9
100

Tingkat
Pendidikan

Tidak
Sekolah
SD/Sederajat
SMP/Sederaj
at
SMA/Sederaj
at
Perguruan
Tinggi
Total

%
35,0%
65,0%
100,0
%
7,0%
84,0%
9,0%
100,0
%
0,0%

31
32

31,0%
32,0%

36

36,0%

1,0%

100

Ukuran LILA

< 23,5 cm
23,5 cm
Total

29
71
100

Tinggi Badan

< 145 cm
145 cm
Total

4
96
100

Kadar Hb

< 11 gr/dl
11 gr/dl
Total

36
64
100

Usia Kehamilan

< 37 minggu
37

42
minggu
> 42 minggu
Total

12
88

100,0
%
29,0%
71,0%
100,0
%
4,0%
96,0%
100,0
%
36,0%
64,0%
100,0
%
12,0%
88,0%

< 4 kali

23

4 kali
Total

77
100

Jumlah
Kunjungan ANC

31

0
100

0,0%
100,0
%
23,0%
77,0
100,0
%

32

Paritas 1
Paritas 2-3
Paritas 4
Total

Paritas

37
57
6
100

37,0%
57,0%
6,0%
100,0
%
Sumber: Data Rekam Medik UPK Puskesmas Kampung Dalam, 20112014

Tabel 2 Hasil Uji Bivariat Sampel Penelitian

Usia

Berisiko
Tidak Berisiko

Status berat lahir bayi


BBLR
Tidak BBLR
N
%
n
%
7
7,0
9
9,0
28
28,0
56
56,0

Tingkat

Rendah
Tinggi

22
13

22,0
13,0

41
24

41,0
24,0

0,983

Berisiko
Tidak berisiko

20
15

20,0
15,0

9
56

9,0
56,0

0,000

Berisiko
Tidak berisiko
Anemia
Tidak anemia
Kurang bulan
Cukup Bulan
Kurang
Cukup

3
32
19
16
5
30
15
20

3,0
32,0
19,0
16,0
5,0
30,0
15,0
20,0

1
64
17
48
7
58
8
57

1,0
64,0
17,0
48,0
7,0
58,0
8,0
57,0

0,122

Berisiko
14
14,0
29
29,0
Tidak berisiko
21
21,0
36
36,0
Sumber: Data Rekam Medik UPK Puskesmas Kampung Dalam, 2011 2014

0,657

pendidikan
Lingkar lengan
atas
Tinggi badan
Kadar Hb
Usia Kehamilan
Jumlah
Kunjungan ANC
Paritas

P
0,423

0,005
0,748
0,001

Pembahasan
Hubungan Usia dengan Kejadian BBLR
Pada penelitian ditemukan distribusi ibu dengan usia berisiko sebanyak orang 16 orang
(16,0%). Sedangkan distribusi ibu dengan usia tidak berisiko sebanyak 84 orang (84,0%).
Pada hasil analisis Chi Square pada penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara
usia dan kejadian BBLR, didapatkan nilai p sebesar 0,423. Nilai p ini menunjukkan bahwa
tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara usia dan kejadian BBLR. Hasil
ini tidak sejalan dengan teori yang telah disampaikan sebelumnya yang menyebutkan bahwa
usia ibu dapat berpengaruh terhadap kejadian BBLR. Tetapi hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian Jayanti (2006) dan Nunung (2000). Pada penelitian Jayanti Oktrinas di
32

33

RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2006 yang menganalisis hubungan antara usia ibu dan
kejadian BBLR ditemukan nilai p sebesar 0,483 yang berarti tidak ada hubungan yang
bermakna secara statistik antara usia ibu dan kejadian BBLR. Nunung (2000) menunjukkan
bahwa faktor umur ibu tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian BBLR.
Tidak adanya hubungan antara umur Ibu dengan kejadian BBLR disebabkan adanya
faktor - faktor lain yang lebih dominan hubunganya dengan kejadian BBLR. Faktor - faktor
tersebut antara lain status gizi Ibu bersalin, perawatan saat kehamilan dan pemeriksaan
kehamilan. Jadi kejadian BBLR tidak dipengaruhi oleh umur saja, meskipun ibu dengan umur
berisiko namun jika ibu secara teratur memeriksakan kehamilannya ke tempat pelayanan
kesehatan, memberikan nutrisi yang cukup bagi janin yang dikandungnya dan tidak memiliki
komplikasi pada kehamilannya maka kejadian BBLR dapat dihindarkan. (Puspitasari dan
Sulastri, 2013; Stiani, 2012)
Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Kejadian BBLR
Pada penelitian ini ditemukan distribusi ibu dengan tingkat pendidikan rendah
sebanyak 63 orang (63,0%). Sedangkan distribusi ibu dengan tingkat pendidikan tinggi
sebanyak 37 orang (37,0%). Pada hasil analisis Chi Square dalam peneltian ini untuk
mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan kejadian BBLR, didapatkan nilai p
sebesar 0,983. Nilai p ini menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna secara
statistik antara tingkat pendidikan dan kejadian BBLR.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Widiyastuti (2009) yang
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan
kejadian BBLR. Tetapi sejalan dengan penelitian Puspitasari dan Sulastri (2013) yang
mengungkapkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dan
kejadian BBLR.
BBLR cenderung terjadi pada kelompok penduduk dengan tingkat pendidikan rendah.
Pada kelompok penduduk berpendidikan rendah pada umumnya kurang mempunyai akses
informasi tentang BBLR dan penanggulangannya, kurang memahami akibat BBLR, kurang
dapat memilih bahan makanan bergizi khususnya yang mengandung zat besi tinggi, serta
kurang dapat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang tersedia. Tetapi pada tingkat
pendidikan yang relatif tinggi terjadi sebaliknya. (IDAI,2004)
Dalam penelitian ini tingkat pendidikan responden tidak berhubungan dengan kejadian
BBLR. Hal ini disebabkan karena terdapat faktor-faktor lain yang lebih kuat pengaruhnya
terhadap

kejadian BBLR, salah satunya seperti status gizi, pelayanan perawatan, dan

pemeriksaan kehamilan. Ibu dengan tingkat pengetahuan rendah juga tidak selalu memiliki
informasi yang buruk mengenai BBLR karena ibu dapat memperoleh informasi dari petugas

33

34

kesehatan sebelum kehamilan atau selama kehamilan sehingga dapat menghindari hal-hal
yang dapat berpengaruh terhadap kejadian BBLR. (Stiani, 2012)
Hubungan Lingkar Lengan Atas dengan Kejadian BBLR
Dari hasil penelitian, didapatkan ibu hamil yang memiliki ukuran LILA berisiko
sebanyak 29 orang (29,0%). Pada hasil analisis Chi Square didapatkan nilai p sebesar 0,000.
Nilai p akan bermakna apabila < 0,05 sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang
bermakna secara statistik antara lingkar lengan atas dan kejadian BBLR.
Hasil penelitian yang menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara LILA dan
kejadian BBLR disebabkan pasokan kalori dan nutrisi ibu hamil digunakan untuk
pertumbuhan dan perkembangan janin. Sehingga pasokan tambahan kalori dan nutrisi seharihari yang tidak memadai akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janinnya
(Depkes, 2008). Ibu dengan ukuran LILA < 23,5 cm berisiko untuk mengalami KEK. Kondisi
KEK menggambarkan tidak terpenuhinya kebutuhan energi pada ibu. Kekurangan energi
secara kronis menyebabkan ibu hamil tidak mempunyai cadangan zat gizi yang adekuat untuk
menyediakan kebutuhan fisiologi kehamilan yakni perubahan hormon dan peningkatan
volume darah untuk pertumbuhan janin, sehingga suplai zat gizi pada janin pun berkurang
akibatnya pertumbuhan dan perkembangan janin terhambat dan lahir dengan berat yang
rendah (Waryono,2010)
Berdasarkan penelitian Puji (2009) yang meneliti hubungan faktor resiko ibu hamil
dengan kejadian bayi berat lahir rendah, dan penelitian ini juga menyimpulkan bahwa ada
hubungan antara lingkar lengan atas ibu hamil dengan berat bayi lahir rendah dengan nilai p
0,000. Begitu juga dengan hasil penelitian Maulidiyah (2012) yang menunjukkan bahwa
34,4 % ibu dengan LILA < 23,5 % melahirkan bayi berat lahir rendah dan terhadap hubungan
antara LILA dengan bayi berat lahir rendah dengan nilai p value 0,000 berdasarkan uji Chi
Square.
Hubungan Tinggi Badan dengan Kejadian BBLR
Pada penelitian ini ditemukan distribusi ibu dengan tinggi badan berisiko (<145 cm)
sebanyak 4 orang (4,0%). Sementara persentase ibu yang memiliki tinggi badan tidak
beresiko sebanyak 96 orang (96,0%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu
memiliki tinggi badan yang tidak beresiko, atau lebih dari 145 cm.
Teknik analisis bivariat yang digunakan adalah uji Fisher karena lebih dari 20% sel
memiliki jumlah expected cell kurang dari lima. Hasil uji hipotesis menunjukkan tidak
terdapat hubungan antara tinggi badan dengan kejadian BBLR dengan nilai p sebesar 0,122.
Hasil ini tidak sejalan dengan teori yang telah disampaikan sebelumnya yang menyebutkan
bahwa tinggi badan ibu merupakan hal yang memiliki pengaruh terhadap kejadian BBLR.
Selain itu hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian oleh Khoushabi dan Saraswathi yang
34

35

menunjukkan tinggi badan ibu yang rendah memiliki hubungan dengan berat badan bayi yang
rendah (p 0,001) (Khoushabi dan Saraswathi, 2010). Tetapi hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian Ismi (2011) dimana ditemukan nilai p sebesar 0,182 antara tinggi badan ibu
dengan kejadian BBLR.
Tinggi badan ibu dilaporkan berperan terhadap kejadian BBLR. Hubungan antara tinggi
badan ibu merupakan hubungan positif, dimana semakin tinggi ibu semakin berat bayi yang
dilahirkan. Ibu dengan tinggi badan kurang dari 145 cm merupakan ibu yang beresiko untuk
BBLR (Enoch,1992). Adanya pengaruh tinggi badan berhubungan dengan status gizi ibu
pada masa lampau, dimana ibu yang mempunyai tinggi badan yang rendah mempunyai status
gizi yang kurang pada masa lampaunya. Selain itu, tinggi badan ibu juga dapat digunakan
sebagai indikator terhadap resiko komplikasi persalinan, seperti disproporsi sevalopelvis
(CPD/Cephalopelvic disproportion), waktu persalinan yang lama, atau persalinan dengan
bantuan atau dengan operasi caesar.
Dalam penelitian ini tinggi badan ibu tidak berhubungan dengan kejadian BBLR. Hal
ini dapat disebabkan karena adanya faktor-faktor lain yang lebih kuat pengaruhnya terhadap
kejadian BBLR, dan karena proporsi ibu dengan tinggi badan beresiko lebih sedikit
dibandingkan proporsi ibu dengan tinggi badan tidak berisiko. Meskipun demikian, tindakan
pencegahan kejadian BBLR dengan usaha untuk meningkatkan status gizi ibu sebelum
kehamilan tetap perlu ditingkatkan karena masih ada ibu yang melahirkan dengan tinggi
badan beresiko, sementara intervensi saat kehamilan tidak terlalu bermanfaat dalam
mengurangi faktor resiko tinggi badan ibu hamil.
Hubungan Kadar Hemoglobin dengan Kejadian BBLR
Hasil pada penelitian menunjukkan bahwa paling banyak ditemukan ibu dengan tidak
anemia (64,0%). Persentase BBLR lebih banyak terjadi pada ibu dengan anemia (19,0%).
Penelitian oleh Samimi et al. menunjukkan bahwa kadar serum hemoglobin yang rendah
pada ibu (Hb < 11 gr/dl) berhubungan dengan kejadian BBLR (p 0,04) (Samimi, 2012).
Penelitian lainnya oleh Ahmad et al. menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan
antara anemia pada ibu dengan peningkatan risiko kejadian BBLR (p 0,001) (Ahmad et
al.,2011). Penelitian oleh Khoushabi dan Saraswathi juga menunjukkan bahwa ibu dengan
anemia (Hb < 11 gr/dl) melahirkan bayi dengan berat lahir yang lebih rendah dibandingkan
ibu tanpa anemia (p 0,001) (Khoushabi dan Saraswathi, 2010). Seiring dengan hasil pada
penelitian-penelitian tersebut, uji hipotesis pada penelitian ini menunjukkan bahwa kadar
hemoglobin ibu merupakan faktor risiko terjadinya BBLR, dibuktikan dengan nilai p 0,005.
Anemia pada ibu dapat mengakibatkan terjadinya komplikasi, baik maternal maupun
fetal (Al-Hilli, 2010). Anemia pada ibu, terutama pada anemia berat, dapat mengganggu
35

36

suplai oksigen pada janin sehingga mengganggu pertumbuhan normal intrauterin


(Monirujjaman, 2014). Penelitian Al-Hilli menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang linier
antara kadar hemoglobin ibu dengan kadar hemoglobin janin, dengan kadar hemoglobin yang
disalurkan ke janin melalui tali pusat berkurang seiring berkurangnya kadar hemoglobin ibu
(Al-Hilli, 2010). Prevalensi BBLR yang lebih tinggi serta morbiditas dan mortalitas maternal
dan perinatal cenderung terjadi pada wanita-wanita dengan anemia. Depresi sistem imunitas
sebagai akibat dari anemia yang berakibat pada meningkatnya morbiditas akibat infeksi
(khususnya infeksi saluran kemih), juga dapat menjadi faktor yang bertanggung jawab
terhadap terjadinya BBLR pada ibu dengan anemia. (Samimi, 2012)
Hubungan Usia Kehamilan dengan Kejadian BBLR
Pada penelitian ini ditemukan paling banyak ibu dengan usia kehamilan cukup bulan
(88,0%). Sedangkan untuk ibu yang melahirkan dengan usia kehamilan kurang bulan
ditemukan sebanyak 12 orang (12,0%). Teknik analisis bivariat yang digunakan adalah uji
Fisher karena lebih dari 20% sel memiliki jumlah expected cell kurang dari lima. Hasil uji
hipotesis menunjukkan nilai p sebesar 0,748. Nilai p ini menunjukkan bahwa tidak terdapat
hubungan yang bermakna secara statistik antara usia kehamilan dan kejadian BBLR. Hasil ini
berbeda dengan hasil penelitian Surtiati (2003) yang menyatakan bahwa usia kehamilan
memiliki hubungan yang bermakna secara statistik terhadap kejadian BBLR. Tetapi hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian Muthoovaloo (2012) yang menunjukkan bahwa tidak
ada hubungan yang bermakna antara usia kehamilan saat bersalin dan kejadian BBLR (p =
0,444).
Usia

kehamilan memengaruhi proses pematangan dan penyaluran oksigenasi dan

nutrisi plasenta yang dibutuhkan oleh janin. Waktu kehamilan yang kurang bulan
menyebabkan proses pematangan dan penyaluran nutrisi serta oksigen yang dibutuhkan janin
tidak sempurna menyebabkan pembentukan janin yang belum sempurna sehingga terjadilah
bayi lahir dengan berat badan yang rendah. Namun, kondisinya akan berbeda dengan orangorang tertentu misalnya ibu dengan kegemukan, kadar gula darah yang tinggi, atau dengan
penambahan berat badan yang tinggi selama hamil, maka akan cenderung memiliki janin
dengan berat badan berlebih. Pada kondisi seperti ini, meskipun bayi yang dilahirkan kurang
bulan, tapi berat bayinya bisa lebih dari 2.500 gram. Bayi yang lahir prematur tidak
selamanya akan lahir dengan berat badan yang rendah. Bayi prematur bisa memiliki berat
normal.
Hubungan Jumlah Kunjungan ANC dengan Kejadian BBLR
Berdasarkan hasil penelitian, jumlah ibu yang memiliki kunjungan antenatal kurang,
lebih banyak pada ibu yang melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (15,0%) dibandingkan
36

37

ibu yang melahirkan bayi dengan berat lahir normal (8,0%). Sebaliknya, jumlah ibu yang
memiliki kunjungan antenatal cukup, lebih banyak pada ibu yang melahirkan bayi dengan
berat lahir tidak BBLR (57,0%) dibandingkan ibu yang melahirkan bayi dengan berat lahir
rendah (20,0%). Berdasarkan hasil analisis Chi Square untuk mengetahui hubungan antara
jumlah kunjungan ANC dan kejadian BBLR, didapatkan nilai p = 0,001. Hal ini
menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara jumlah kunjungan
ANC dan kejadian BBLR. Penelitian serupa oleh Tazkiah, et al (2013) didapatkan hubungan
antara kunjungan ANC dengan kejadian BBLR dimana ibu dengan kunjungan antenatal
kurang memiliki risiko 5,673 kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat lahir
rendah. Saeni (2012) menemukan ibu dengan kunjungan antenatal kurang memiliki risiko
2,33 kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat lahir rendah.
Pelayanan ANC merupakan standar pelayanan kehamilan yang bertujuan memantau
kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan umum dan tumbuh kembang janin,
mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama
hamil, deteksi risiko tinggi (anemia, kurang gizi, hipertensi, penyakit menular seksual),
memberikan pendidikan kesehatan serta mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan
dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin. Pencegahan
terjadinya komplikasi maupun deteksi dini terhadap perkembangan janin sangat mungkin
dilakukan pada saat pelayanan ANC sehingga melahirkan BBLR dapat dicegah dan
penanganan BBLR yang baik (Depkes RI, 2002; Tazkiah, et al, 2013).
Hubungan Paritas dengan Kejadian BBLR
Ibu dengan paritas 1 dan 4 berisiko untuk persalinan selanjutnya melahirkan BBLR,
pada paritas 1 terkait dengan belum siapnya fungsi organ dalam menjaga kehamilan dan
menerima kehadiran janin, keterampilan ibu untuk melaksanakan perawatan diri dan bayinya
serta faktor psikologis ibu yang masih belum labil (Rochyati, 2003), sedangkan ibu dengan
paritas 4 terjadi gangguan uterus terutama dalam hal fungsi pembuluh darah. Kehamilan
yang berulang-ulang akan menyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah uterus, hal
ini akan memengaruhi nutrisi ke janin pada kehamilan selanjutnya sehingga dapat
menyebabkan gangguan pertumbuhan yang selanjutnya akan melahirkan bayi dengan BBLR.
(Wiknjosastro, 2002)
Pada penelitian ini ditemukan bahwa paling banyak ditemukan ibu dengan paritas tidak
berisiko (57,0%). Penelitian Bisai et al. menunjukkan adanya hubungan yang signifikan
antara paritas dan berat badan bayi yang dilahirkan ibu (p = 0,001), di mana berat badan bayi
yang dilahirkan meningkat seiring bertambahnya jumlah paritas (Bisai et al.,2006). Berat bayi
yang lahir dari kehamilan multipara diketahui lebih baik dibandingkan primipara, namun
37

38

grandemultipara dinyatakan termasuk berisiko untuk BBLR. Meningkatnya jumlah paritas


diikuti pula oleh meningkatnya rata-rata berat lahir bayi (Monirujjaman et al., 2014).
Meskipun demikian, uji hipotesis pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat
hubungan antara jumlah paritas dengan kejadian BBLR, yang dibuktikan dengan nilai p
0,657. Penelitian oleh Shrestha et al. juga menunjukkan tidak adanya hubungan yang
signifikan antara jumlah paritas dengan kejadian BBLR (Shrestha et al, 2010). Hasil yang
menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara paritas dan kejadian BBLR ini
dapat disebabkan karena adanya faktor-faktor lain yang lebih kuat pengaruhnya terhadap
kejadian BBLR antara lain faktor nutrisi ibu (Stiani,2012)
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil beberapa
kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara lingkar lengan
atas (p = 0, 000), kadar hemoglobin (p = 0, 005), dan jumlah kunjungan ANC (p = 0,001)
terhadap kejadian BBLR pada ibu yang melahirkan di UPK Puskesmas Kampung Dalam
periode Januari 2013-November 2014.
Daftar Pustaka
Andammori F, Lipoeto NI, Yusrawati. Hubungan tekanan darah ibu hamil aterm dengan berat
badan lahir RSUP. [Internet]. Jurnal Kesehatan Andalas. 2013. [cited 2014 Jul 7];
2(2). Available from http://jurnal.fk.unand.ac.id/articles/vol_2no_2/
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun
2013. Kemenkes RI; 2013.
Behrman, Kliegman, dan Arvin, 2000, Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Vol. 1, Ed. XV, EGC,
Jakarta.
Budiarto, Eko dan Dewi Anggeraini, 2003, Pengantar Epidemiologi, EGC, Jakarta.
Cunningham, M.D. 1993. Preterm and Post term Pregnancy Nad Fetal Growth Retardation,
William Obstetries 19th ed, America : Precentice-Hall International Inc.
Dandekar RH, Shafee M,
Sinha SP. Prevalence and risk factors affecting low birth weight
in a district hospital at Perambalur, Tamilnadu. GJMEDPH. 2014.
Depkes RI, 2008. Profil Kesehatan Indonesia 2008. Jakarta: Departemen Kesehatan.
Depkes RI, 2008. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Depkes RI. 67-68.
Depkes RI. 2002. Pedoman Umum Gizi Seimbang, Jakarta.
Depkes RI. 2011. Menejemen Bayi Berat lahir Rendah Untuk Bidan dan Perawat. Jakarta.
Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI
Depkes. 1995. Pedoman pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta.
Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat.
Depkes.1997. perawatan Ibu dan Anak di Rumah Sakit dan Puskesmas, Pedoman Bagi
Petugas Kesehatan. Jakarta: Biru Hukum dan Humas.
38

39

Dinas Kesehatan Kota Pontianak, 2008, Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak
Nomor 1257 Tahun 2008 Tentang Pembentukan Tim Pelayananan Obstetric Neonatal
Emergency Dasar (PONED) 24 jam. Pontianak
Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Pontianak, 2012, Profil Kesehatan Kota Pontianak 2012,
Pontianak.
Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Pontianak, 2013, Profil Kesehatan Kota Pontianak 2013,
Pontianak.
Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, 2013, Profil Kesehatan Kalimantan
Barat Tahun 2013, Pontianak.
Dinas Kesehatan Pemerintah Republik Indonesia, 2010, Profil Kesehatan Indonesia Tahun
2010, Jakarta.
Dinas Kesehatan Pemerintah Republik Indonesia, 2010, Profil Kesehatan Indonesia Tahun
2013, Jakarta.
Enoch, Muhammad.1992. protein Untuk Bayi yang BBLR. Medika No. 9
Farrer, Helen, 2000. Perawatan Maternitas, Penerbit :EGC, Jakarta.
Hendry dkk.1996. Pengaruh Anemia Ibu Hamil Trisemester III terhadap Kejadian BBLR.
Jurnal Epidemiologi Nasional No.3 hal 1-6
Human Development Report, 2010, United Nations Development Programme (UNDP), USA.
Hutabarat, Herbert. 1987. Perkawinan dan Kehamilan Pada Wanita Muda Usia. Ikatan Ahli
Kesehatan Masyarakat Indonesia. Jakarta.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Bayi berat lahir rendah. In: Standar pelayanan medis
kesehatan anak. 1st ed. Jakarta : 2004. p. 307-13
Jakarta
Kasdu, D. 2004. Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. Jakarta; EGC
Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI). Profil kesehatan Indonesia tahun 2013.
Kemenkes RI; 2014. hal.87-88.
Liewellyn, D, J., 2001. Panduan Terlengkap tentang Kesehatan, Kebidanan & Kandungan
Setiap Wanita. Penerbit : Delapratasa Publishing.
Lubis, Z. 2003. Status Gizi Ibu Hamil Serta Pengaruhnya Terhadap Bayi Yang Dilahirkan.
(http://www.journal.unair.ac.id)
Maimunah, Siti. 2005. Kamus Istilah Kebidanan. EGC. Jakarta.
Manuaba, IBG. 1989. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan, Keluarga Berencana Untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta. EGC
Manuaba, Ida Bagus. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB
Markum. Ilmu kesehatan anak, Buku Ajar Jilid 1. Jakarta: Bagian Kesehatan Anak,Fakultas
UI; 1998. p. 234-6.
Muda, Ahmad A. K. 2003. Kamus Lengkap Kedokteran Edisi Revisi. Gitamedia Press.
Surabaya
OECD. Infant health: low birth weight, in: health at a glance 2009. OECD Publishing; 2009.

39

40

Pastrakuljic, A., Derewlany, LO., Knie, B., Koren, G,.2000. The Effets of Cocain and
Nikotine on Amino Acid Trasport Across the Human Placental Cotyledon Perfused in
Vitro. Toronto. University of Toronto
Prawiraharjo, Sarwono. 2006. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka.
Prawitohardjo, Sarwono.1999. ilmu Kebidanan edisi Ketiga. Jakarta :Yayasan Bina Pustaka
Pudjiadi, Solihin. 2002. Ilmu gizi klinis pada anak. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Saifuddin, AB, 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,
Cetakan II, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo, Jakarta.
Saifudin A.B.2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta.
Setiawan, R.H, 1995. Resiko Terjadinya Berat Bayi Lahir Rendah Pada Kehamilan Remaja.
Berita Kedokteran Masyarakat XI (1)
Setyowati dkk. 1996. Faktor-faktor yang Memengaruhi Bayi Lahir dengan Berat Badan Lahir
Rendah. Buletin Penelitian Kesehatan No. 24, Jakarta.
Srimastuti K, 1987. Hubungan Beberapa Ukuran Antropometrik Ibu dan Tinggi Fundus Uteri
dengan Berat Badan Lahir. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UI, Jakarta.
Sulaiman, Z, 1986. Beberapa Faktor Resiko Wanita Pada Wanita Hamil. Dalam Hasil
Seminar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Gizi dan Kesehatan Ibu Hamil,
Cipanas.
Sulcan Sofoewan, HM, 1996. Faktor Resiko Terjadinya Berat Bayi Lahir Rendah. Berita
Kedokteran Masyarakat, No.6.
Sunaryanto, A. 2009. Berat Badan Lahir Rendah dan Prematur. Bali. Universitas Udayana
Tazkiah M, Wahyuni CU, Martini S. Determinan epidemiologi kejadian BBLR pada daerah
endemis malaria di kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Jurnal Berkala
Epidemiologi. 2013.
Timmreck, Thomas, 2005, Epidemiologi Suatu Pengantar, EGC, Jakarta.
UNCF, WHO, Unicef. 2004. Low Birthweight: Country, Regional and Global Estimates. New
York
untuk Bidan, ECG. Jakarta.
Wibowo, A, 1992. Pemanfaatan Layanan Antenatal : Faktor Faktor Yang Memengaruhi Dan
Hubungannya Dengan BBLR. Disertasi Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia, Depok.
Wiknjosastro, H. 2002. Ilmu Kebidanan. Yayaysan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Jakarta.
Yekti. K.S.A, 1995. Perbedaan Beberapa Faktor Ibu Menurut Berat Badan Bayi Lahir.
Majalah Kedokteran Diponegoro, vol.30

40