Anda di halaman 1dari 54

WRAP UP SKENARIO 2

BLOK MEDIKOLEGAL
ASTAGA......ADA MAYAT BAYI DI KARDUS AQUA

Kelompok A-5

Ketua

: Farida Fidiyaningrum

1102011099

Sekretaris

: Ferry Juniansyah

1102011105

Anggota

: Ferika Pratami

1102011104

Finda Safitri

1102011106

Fitria Nurulfath

1102010105

Fitriano Haniwieko

1102011108

Gabby Rachedia

1102010107

Laksmi Rizka Afiani

1102011140

Lindah Syafaastuti

1102011141

Lulu Nursyifa

1102011142

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
TAHUN AKADEMIK 2014-2015

Skenario

Astaga... Ada Mayat Bayi Di Kardus Aqua


Mayat bayi berjenis kelamin laki-laki ditemukan di sebuah tempat pembuangan akhir (TPA)
Darupono Kaliwungu Selatan, Kendal Jawa Tengah Kamis (6/12/12) pagi. Bayi berada di
dalam kardus aquadibungkus dalam kantung plastik hitam, dalam keadaan membusuk dan
berbau. Saat ini jasad berada di Rumah Sakit Umum Suwondo Daerah (RSUD) Kabupaten
Kendal. Menurut Kepala Urusan (KAUR) Bin Oos Satuan Reskrim Polres Kendal, Iptu
Abdullah Umar, mayat dibuang oleh seorang perempuan yang semula hamil tua, perutnya
sekarang sudah mengempis. Bayi itu pertama kali ditemukan oleh seorang pemulung
bernama Jokarno (31), warga Desa Darupono, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kendal.
Saat itu, Jokarno sedang mengais sampah. "Dia mengaku terkejut ketika ada plastik hitam
besar sedang dikerumuni lalat," kata Umar. Karena curiga, jelas Umar, pemulung tersebut
mendekati kantong plastik hitam. Setelah dekat, ia terkejut, saat melihat kepala bayi. Lalu
plastik itu dibuka dan terlihatlah sesosok mayat bayi. "Kemudian, pemulung tersebut
mengadukannya ke polisi," jelasnya. Mayat bayi diperkirakan satu hari itu akan dibawa ke
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang untuk diotopsi. Kasus itu, sekarang ditangani oleh
petugas polisi. "Kami akan mencari orang tua mayat tersebut," tambah Umar. Pelaku sudah
diamankan di Polres.
Warni, sang pelaku mengaku dia juga korban perkosaan yang dilakukan oleh tetangga
desanya di Merapen Gerobokan, karena ketakutan hamil dan akan melahirkan, korban pergi
ke Kaliwungu untuk bekerja di pabrik gula dan mengasingkan diri.

Pertanyaan
1. Bagaimana cara menentukan waktu kematian ?
2. Bagaimana cara membedakan lahir mati dan hidup?
3. Kenapa bisa bau busuk?
4. Bagaimana hukum membunuh menurut islam dan negara?
5. Bagaimana hukum otopsi menurut islam?
6. Bagaimana menentukan usia bayi?
7. Kenapa harus di otopsi?
8. Bagaimana menentukan pelakunya?
9. Jika kasus dibawa ke pengadilan, apa alasan pemerkosaan dapat meringankan
hukuman?
Jawaban
1. Dilihat dari tanda-tanda postmortem: Kaku mayat, lebam mayat dll
2. Tes apung paru: tenggelam= mati sebelum lahir
3. Akibat proses pembusukan oleh bakteri,suhu,serangga.
4. Islam = Haram. Negara = pidana dan perdata
5. Haram untuk agama islam
6. Antopometri dan densitas tulang
7. Untuk mengetahui penyebab kematian bayi
8. Tes DNA
9. Tidak. Karena termasuk kasus pembunuhan
Hipotesis
Ada kasus pemerkosaan yang menyebabkan wanita itu hamil dan melahirkan, lalu bayi
tersebut dibuang sehingga bayi tersebut mati, dan dilakukanlah otopsi yang bertujuan untuk
mencari penyebab kematian, untuk mengetahui bayi lahir hidup atau mati, untuk mengetahui
waktu kematian, untuk mengetahui usia bayi. Dari hasil otopsi juga bisa menentukan
pelakunya. Menurut agama bahwa kasus pembunuhan bisa dikenakan denda yaitu 2 milyar,
sedangkan dari negara yaitu tindak pidana maupun perdata.

Sasaran Belajar

1.
2.
3.
4.

Memahami Dan Menjelaskan Infanticide


Memahami Dan Menjelaskan Perubahan Post martem
Memahami Dan Menjelaskan Penyelidikan Kasus Pemerkosaan
Memahami Dan Menjelaskan Hukum dan Sanksi Pembunuhan dan Pemerkosaan
Menurut Islam dan Negara.

1. Memahami dan Menjelaskan Infenticide


4

1.1 Definisi dan Batasan Pengertian Pembunuhan Anak Sendiri


Pembunuhan anak sendiri (infanticide) adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang
ibu atas anak kandungnya pada saat lahir atau tidak lama kemudian karena takut ketahuan
telah melahirkan anak. Dengan demikian berdasarkan pengertian di atas, persyaratan yang
harus dipenuhi dalam kasus pembunuhan anak, adalah:
1. Pelaku adalah ibu kandung.
2. Korban adalah anak kandung.
3. Alasan melakukan tindakan tersebut adalah takut ketahuan telah melahirkan anak.
4. Waktu pembunuhan, yaitu tepat pada saat melahirkan atau beberapa saat setelah
melahirkan.
Untuk itu, dengan adanya batasan yang tegas tersebut, suatu pembunuhan yang tidak
memenuhi salah satu kriteria di atas tidak dapat disebut sebagai pembunuhan anak,
melainkan suatu pembunuhan biasa.
1.2 Dasar Hukum Menyangkut Pembunuhan Anak Sendiri
Dalam KUHP, pembunuhan anak sendiri tercantum di dalam bab kejahatan terhadap
nyawa orang. Adapun bunyi pasalnya adalah:
Pasal 341. Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat
anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa
anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri dengan pidana penjara paling
lama tujuh tahun.
Pasal 342. Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut
akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak
lama kemudian merampas nyawa anak sendiri dengan rencana, dengan pidana
penjara paling lama sembilan tahun.
Pasal 343. Bagi orang lain yang turut serta melakukan kejahatan yang diterangkan
dalam pasal 342 KUHP diartikan sebagai pembunuhan atau pembunuhan berencana.
Berdasarkan undang-undang tersebut, dapat dilihat adanya tiga faktor penting, yaitu:
Ibu, yaitu hanya ibu kandung yang dapat dihukum karena melakukan pembunuhan anak
sendiri. Tidak dipersoalkan apakah ibu telah menikah atau belum. Sedangkan, bagi orang
lain yang melakukan atau turut membunuh anak tersebut dihukum karena pembunuhan
atau pembunuhan berencana, dengan hukuman yang lebih berat, yaitu 15 tahun penjara
(pasal 338 pembunuhan tanpa rencana), atau 20 tahun, seumur hidup/hukuman mati
(pasal 339 dan 340, pembunuhan dengan rencana).
Waktu, yaitu dalam undang-undang tidak disebutkan batasan waktu yang tepat, tetapi
hanya dinyatakan pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian. Sehingga boleh
dianggap pada saat belum timbul rasa kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Bila
rasa kasih sayang sudah timbul maka ibu tersebut akan merawat dan bukan membunuh
anaknya.
Psikis, yaitu ibu membunuh anaknya karena terdorong oleh rasa ketakutan akan
diketahui orang lain telah melahirkan anak itu, biasanya anak yang dilahirkan tersebut
didapatkan dari hubungan tidak sah.
Bila ditemukan mayat bayi di tempat yang tidak semestinya, misalnya tempat sampah,
got, sungai dan sebagainya, maka bayi tersebut mungkin adalah korban pembunuhan anak
sendiri (pasal 341, 342), pembunuhan (pasal 338, 339, 340, 343), lahir mati kemudian
dibuang (pasal 181), atau bayi yang ditelantarkan sampai mati (pasal 308).
1.3 Peran Dokter pada Kasus Pembunuhan Anak Sendiri

Peran dokter pada kasus pembunuhan anak sendiri adalah memeriksa jenazah bayi.
Dokter akan diminta oleh penyidik secara resmi guna membantu penyidikan untuk
memperoleh kejelasan di dalam hal sebagai berikut:
1. Apakah anak tersebut dilahirkan hidup atau lahir mati?
2. Apakah terdapat tanda-tanda perawatan?
3. Apakah ada luka-luka yang dapat dikaitkan dengan penyebab kematian?
Visum et Repertum (VeR) itu juga mengandung makna sebagai pengganti barang
bukti. Oleh karena itu, segala hal yang terdapat dalam barang bukti, dalam hal ini yaitu tubuh
anak, harus dicatat dan dilaporkan. Dengan demikian, selain ketiga kejelasan di atas, masih
ada dua hal lagi yang harus diutarakan dalam VeR, yaitu:
4. Apakah anak yang dilahirkan itu cukup bulan dalam kandungan?
5. Apakah pada anak tersebut didapatkan kelainan bawaan yang dapat
mempengaruhi kelangsungan hidup bagi si anak?
Untuk memenuhi kriteria pembunuhan anak sendiri, bayi tersebut harus dilahirkan
hidup setelah seluruh tubuhnya keluar dari tubuh ibu (separate existence). Selain itu,
viabilitas dan maturitas bayi juga perlu ditentukan untuk menerangkan sebab lahir mati. Bila
bayi tersebut lahir mati kemudian dibuang, maka hal tersebut bukanlah kasus pembunuhan
anak sendiri, melainkan kasus lahir mati kemudian dibuang atau menyembunyikan kelahiran
dan kematian.
1.3.1 Lahir hidup atau lahir mati
Lahir hidup (live birth) adalah keluar atau dikeluarkannya hasil konsepsi yang
lengkap, yang setelah pemisahan, bernapas atau menunjukkan tanda kehidupan lain tanpa
mempersoalkan usia gestasi, sudah atau belumnya tali pusat dipotong dan ari dilahirkan.
Lahir mati (stillbirth) adalah kematian hasil konsepsi sebelum keluar atau dikeluarkan
oleh ibunya, tanpa mempersoalkan usia kehamilan (baik sebelum ataupun setelah kehamilan
berumur 28 minggu dalam kandungan). Kematian ditandai oleh janin yang tidak bernapas
atau tidak menunjukkan tanda kehidupan lain seperti denyut jantung, denyut nadi tali pusat
atau gerakan otot rangka.
Tanda-tanda kehidupan pada bayi yang baru dilahirkan adalah pernapasan (paru
mengembang dan terdapat udara dalam lambung atau usus), menangis, adanya pergerakan
otot, sirkulasi darah dan denyut jantung serta perubahan hemoglobin, isi usus, dan keadaan
tali pusat.
1. Pernapasan
Pernapasan spontan terjadi akibat rangsangan atmosfer dan adanya gangguan sirkulasi
plasenta, dan ini menimbulkan perubahan penting yang permanen pada paru. Pernapasan
setelah bayi lahir mengakibatkan perubahan letak diafragma dan sifat paru-paru.
a. Letak Diafragma
Pada bayi yang sudah bernapas, letak diafragma setinggi iga ke-5 atau ke-6.
Sedangkan pada yang belum bernapas setinggi iga ke-3 atau ke-4.
b. Gambaran Makroskopik Paru
Paru-paru bayi yang sudah bernapas berwarna merah muda tidak homogen
namun berbercak-bercak (mottled). Konsistensinya adalah seperti spons dan berderik
pada perabaan. Sedangkan, pada paru-paru bayi yang belum bernapas berwarna merah
ungu tua seperti warna hati bayi dan homogen, dengan konsistensi kenyal seperti hati
atau limpa.
c. Uji Apung Paru

Uji apung paru dilakukan dengan teknik tanpa sentuh (no touch technique), paruparu tidak disentuh untuk menghindari kemungkinan timbulnya artefak pada sediaan
histopatologik jaringan paru akibat manipulasi berlebihan.
Lidah dikeluarkan seperti biasa di bawah rahang bawah, ujung lidah dijepit
dengan pinset atau klem, kemudian ditarik ke arah ventrokaudal sehingga tampak
palatum mole. Dengan scalpel yang tajam, palatum mole disayat sepanjang
perbatasannya dengan palatum durum. Faring, laring, esophagus bersama dengan
trakea dilepaskan dari tulang belakang. Esofagus bersama dengan trakea diikat di
bawah kartilago krikoid dengan benang. Pengikatan ini dimaksudkan agar pada
manipulasi berikutnya cairan ketuban, mekonium atau benda asing lain tidak mengalir
ke luar melalui trakea; bukan untuk mencegah masuknya udara ke dalam paru.5
Pengeluaran organ dari lidah sampai paru dilakukan dengan forsep atau pinset
bedah dan scalpel, tidak boleh dipegang dengan tangan. Kemudian esophagus diikat
di atas diafragma dan dipotong di atas ikatan. Pengikatan ini dimaksudkan agar udara
tidak masuk ke dalam lambung dan uji apung lambung-usus (uji Breslau) tidak
memberikan hasil meragukan.
Setelah semua organ leher dan dada dikeluarkan dari tubuh, lalu dimasukkan ke
dalam air dan dilihat apakah mengapung atau tenggelam. Kemudian paru-paru kiri
dan kanan dilepaskan dan dimasukkan kembali ke dalam air, dilihat apakah
mengapung atau tenggelam. Setelah itu tiap lobus dipisahkan dan dimasukkan ke
dalam air, dan dilihat apakah mengapung atau tenggelam. Lima potong kecil dari
bagian perifer tiap lobus dimasukkan ke dalam air, diperhatikan apakah mengapung
atau tenggelam.
Hingga tahap ini, paru bayi yang lahir mati masih dapat mengapung oleh karena
kemungkinan adanya pembusukan. Bila potongan kecil itu mengapung, letakkan di
antara dua karton dan ditekan dengan arah penekanan tegak lurus jangan digeser
untuk mengeluarkan gas pembusukan yang terdapat pada jaringan interstisial paru,
lalu masukkan kembali ke dalam air dan diamati apakah masih mengapung atau
tenggelam. Bila masih mengapung berarti paru terisi udara residu yang tidak akan
keluar. Namun, terkadang dengan penekanan, dinding alveoli pada mayat bayi yang
telah membusuk lanjut akan pecah dan udara residu keluar dan memperlihatkan hasil
uji apung paru negatif.
Uji apung paru harus dilakukan menyeluruh sampai potongan kecil paru
mengingat kemungkinan adanya pernapasan sebagian (parsial respiration) yang dapat
bersifat buatan atau alamiah (vagitus uternus atau vagitus vaginalis) yaitu bayi sudah
bernapas walaupun kepala masih dalam uterus atau dalam vagina).5
Hasil negatif belum berarti pasti lahir mati karena adanya kemungkinan bayi
dilahirkan hidup tapi kemudian berhenti bernapas meskipun jantung masih berdenyut,
sehingga udara dalam alveoli diresorpsi. Pada hasil uji negatif ini, pemeriksaan
histopatologik paru harus dilakukan untuk memastikan bayi lahir mati atau lahir
hidup.5
Bila sudah jelas terjadi pembusukan, maka uji apung paru kurang dapat dipercaya,
sehingga tidak dianjurkan untuk dilakukan.
d. Mikroskopik paru-paru
Setelah paru-paru dikeluarkan dengan teknik tanpa sentuh, dilakukan fiksasi
dengan larutan formalin 10 %. Sesudah 12 jam, dibuat irisan melintang untuk
memungkinkan cairan fiksatif meresap dengan baik ke dalam paru. Setelah difiksasi
selama 48 jam, kemudian dibuat sediaan histopatologik. Biasanya digunakan
perwarnaan HE dan bila paru telah membusuk digunakan pewarnaan Gomori atau
Ladewig.
7

Struktur seperti kelenjar bukan merupakan ciri paru bayi yang belum bernapas,
tetapi merupakan ciri paru janin yang belum mencapai usia gestasi 26 minggu. Tanda
khas untuk paru janin belum bernapas adalah adanya tonjolan (projection) yang
berbentuk seperti bantal (cushion-like) yang kemudian akan bertambah tinggi dengan
dasar menipis sehingga akan tampak seperti gada (club-like). Pada permukaan ujung
bebas projection tampak kapiler yang berisi banyak darah. Pada paru bayi belum
bernapas yang sudah membusuk dengan perwarnaan Gomori atau Ladewig, tampak
serabut-serabut retikulin pada permukaan dinding alveoli berkelok-kelok seperti
rambut yang keriting, sedangkan pada projection berjalan di bawah kapiler sejajar
dengan permukaan projection dan membentuk gelung-gelung terbuka (open loops).
Pada paru bayi yang lahir mati mungkin pula ditemukan tanda inhalasi cairan
amnion yang luas karena asfiksia intrauterin, misalnya akibat tertekannya tali pusat
atau solusio plasenta sehingga terjadi pernapasan janin prematur (intrauterine
submersion). Tampak sel-sel verniks akibat deskuamasi sel-sel permukaan kulit,
berbentuk persegi panjang dengan inti piknotik berbentuk huruf S, bila dilihat dari
atas samping terlihat seperti bawang. Juga tampak sel-sel amnion bersifat asidofilik
dengan batas tidak jelas dan inti terletak eksentrik dengan batas yang juga tidak jelas.
Mekonium yang berbentuk bulat berwarna jernih sampai hijau tua mungkin
terlihat dalam bronkioli dan alveoli. kadang-kadang ditemukan deskuamasi sel-sel
epitel bronkus yang merupakan tanda maserasi dini, atau fagositosis mekonium oleh
sel-sel dinding alveoli.
Lahir mati ditandai pula oleh keadaan yang tidak memungkinkan terjadinya
kehidupaan seperti trauma persalinan yang hebat, perdarahan otak yang hebat, dengan
atau tanpa robekan tentorium serebeli, pneumonia intrauterin, kelainan kongenitasl
yang fatal seperti anensefalus.
Adapun ringkasan perbedaan dari pemeriksaan paru:
n
Paru belum bernapas
Paru sudah bernapas
No.
1 Volume kecil, kolaps, menempel Volume 4-6x lebih besar, sebagian
1.
pada vertebra, konsistensi padat, menutupi jantung, konsistensi seperti karet
tidak ada krepitasi
busa (ada krepitasi)
2
Tepi paru tajam
Tepi paru tumpul
2.
3 Warna
homogen,
merah
Warna merah muda
3.
kebiruan/ungu
5 Kalau
diperas
di
bawah
4.
permukaan air tidak keluar
Gelembung gas yang keluar halus dan rata
gelembung gas atau bila sudah
ukurannya.
ada pembusukan gelembungnya
besar dan tidak rata.
6 Tidak tampak alveoli yang Tampak alveoli, kadang-kadang terpisah
5.
berkembang pada permukaan
sendiri
6 Kalau diperas hanya keluar Bila diperas keluar banyak darah berbuih
6.
darah sedikit dan tidak berbuih walaupun belum ada pembusukan (volume
(kecuali
bila
sudah
ada darah dua kali volume sebelum napas.
pembusukan)
8 Berat paru kurang lebih 1/70 BB Berat paru kurang lebih 1/35 BB
7.
8 Seluruh bagian paru tenggelam Bagian-bagian paru yang mengembang
8

8.
9.

dalam air
terapung dalam air.
9 Letak diafragma setinggi iga 3 Letak diafragma setinggi iga 5 atau 6
atau 4

2. Menangis
Bernapas dapat terjadi tanpa menangis, tetapi menangis tidak dapat terjadi tanpa
bernapas. Suara tangis yang terdengar belum berarti bayi tersebut lahir hidup karena suara
tangisan dapat terjadi dalam uterus atau dalam vagina. Yang merangsang bayi menangis
dalam uterus adalah masuknya udara dalam uterus dan kadar oksigen dalam darah
menurun dan atau kadar CO2 dalam darah meningkat.
3. Pergerakan Otot
Keadaan ini harus disaksikan oleh saksi mata, karena post mortem tidak dapat
dibuktikan. Kaku mayat dapat terjadi pada bayi yang lahir hidup kemudian mati maupun
yang lahir mati.
4. Peredaran Darah, Denyut Jantung, dan Perubahan pada Hemoglobin
Meliputi bukti fungsional yaitu denyut tali pusat dan detak jantung (harus ada saksi
mata) dan bukti anatomis yaitu perubahan-perubahan pada Hb serta perubahan dalam
duktus arteriosus, foramen ovale dan dalam duktus venosus (cabang vena umbilicalis
yang langsung masuk vena cava inferior).
Bila ada yang menyaksikan denyut nadi tali pusat/detak jantung pada bayi yang
sudah terlahir lengkap, maka ini merupakan bukti suatu kelahiran hidup. Foramen ovale
tertutup bila telah terjadi pernapasan dan sirkulasi (satu hari sampai beberapa minggu).
Duktus arteriosus perlahan-lahan menjadi jaringan ikat (paling cepat dalam 24 jam)
Duktus venosus menutup dalam 2-3 hari sampai beberapa minggu.
5. Isi Usus dan Lambung
Bila dalam lambung bayi ditemukan benda asing yang hanya dapat masuk akibat
reflek menelan, maka ini merupakan bukti kehidupan (lahir hidup). Udara dalam lambung
dan usus dapat terjadi akibat pernapasan wajar, pernapasan buatan, atau tertelan.
Keadaan-keadaan tersebut tidak dapat dibedakan. Cara pemeriksaan yaitu esophagus
diikat, dikeluarkan bersama lambung yang diikat pada jejunum lekuk pertama, kemudian
dimasukkan ke dalam air. makin jauh udara usus masuk dalam usus, makin kuat dugaan
adanya pernapasan 24-48 jam post mortem, mekonium sudah keluar semua seluruhnya
dari usus besar.
6. Keadaan Tali Pusat
Yang harus diperhatikan pada tali pusat adalah pertama ada atau tidaknya denyut tali
pusat setelah kelahiran. Ini hanya dapat dibuktikan dengan saksi mata. Kedua,
pengeringan tali pusat, letak dan sifat ikatan, bagaimana tali pusat itu di putus (secara
tajam atau tumpul).
7. Keadaan Kulit
Tidak satupun keadaan kulit yang dapat membuktikan adanya kehidupan setelah bayi
lahir, sebaliknya ada satu keadaan yang dapat memastikan bahwa bayi tersebut tidak lahir
hidup yaitu maserasi, yang dapat terjadi bila bayi sudah mati di dalam uterus beberapa
hari (8-10 hari). Hal ini harus dibedakan dengan proses pembusukan yaitu pada maserasi
tidak terbentuk gas karena terjadi secara steril. Kematian pada bayi dapat terjadi waktu
dilahirkan, sebelum dilahirkan atau setelah terpisah sama sekali dari ibu.
Kematian pada bayi dapat terjadi saat bayi dilahirkan, sebelum dilahirkan, atau
setelah terpisah sama sekali dari si ibu. Bukti kematian dalam kandungan adalah:
a. Ante partum rigor mortis yang sering menimbulkan kesulitan waktu melahirkan
b. Maserasi, yaitu perlunakan janin dalam air ketuban dengan ciri-ciri:
9

Warna merah kecoklatan (pada pembusukan warnanya hijau).


Kutikula putih, sering membentuk bula berisi cairan kemerahan.
Tulang-tulang lentur dan lepas dari jaringan lunak.
Tidak ada gas, baunya khas.
Maserasi ini terjadi bila bayi sudah mati 8-10 hari dalam kandungan.

1.3.2 Tanda Perawatan


Penentuan ada tidaknya tanda perawatan sangat penting artinya dalam kasus
pembunuhan anak. Keadaan baru lahir dan belum dirawat merupakan petunjuk dari bayi
tersebut tidak lama setelah dilahirkan. Menurut Ponsold, bayi baru lahir (neugeborenen)
adalah bayi yang baru dilahirkan dan belum dirawat. Jika sudah dirawat, maka bayi itu bukan
bayi baru lahir dan tidak dapat disebut sebagai pembunuhan anak sendiri.
Adapun anak yang baru dilahirkan dan belum mengalami perawatan dapat diketahui
dari tanda-tanda sebagai berikut:
Tubuh masih berlumuran darah.
Ari-ari (plasenta) masih melekat dengan tali pusat dan masih berhubungan dengan
pusat (umbilikus).
Bila ari-ari tidak ada, maka ujung tali pusat tampak tidak beraturan, hal ini dapat
diketahui dengan meletakkan ujung tali pusat tersebut ke permukaan air.
Adanya lemak bayi (vernix caseosa), pada daerah dahi serta di daerah yang
mengandung lipatan-lipatan kulit, seperti daerah lipat ketiak, lipat paha dan bagian
belakang bokong.3,5

Gambar 1. Tali Pusat Belum Terpotong dan Masih Terhubung dengan Ari-Ari.
1.3.3 Viabilitas
Bayi yang viable adalah bayi yang sudah mampu untuk hidup di luar kandungan
ibunya atau sudah mampu untuk hidup terpisah dari ibunya (separate existence). Viabilitas
mempunyai beberapa syarat, yaitu:
a. Umur 28 minggu dalam kandungan.
b. Panjang badan 35 cm.
c. Berat badan 2500 gram.
d. Tidak ada cacat bawaan yang berat.
e. Lingkaran fronto-ocipital 32 cm.
10

Selain itu, juga dilihat adanya kelainan bawaan yang dapat mempengaruhi
kelangsungan hidup bayi, seperti kelainan jantung (ASD, VSD), otak (anensefalus atau
mikrosefalus), dan saluran pencernaan (stenosis esophagus, gastroskizis).
1.3.4 Cukup Bulan dalam Kandungan
Bayi yang cukup bulan (matur, term) adalah bayi yang lahir setelah dikandung selama
37 minggu atau lebih tetapi kurang dari 42 minggu penuh. Pengukuran bayi cukup bulan
dapat dinilai dari:
Ciri-ciri eksternal
Daun telinga
Pada bayi yang lahir cukup bulan, daun telinga menunjukkan pembentukan tulang
rawan yang sudah sempurna, pada helix teraba tulang rawan yang keras pada
bagian dorsokranialnya dan bila dilipat cepat kembali ke keadaan semula.
Susu
Pada bayi yang matur putting susu sudah berbatas tegas, areola menonjol diatas
permukaan kulit dan diameter tonjolan susu itu 7 milimeter atau lebih.
Kuku jari tangan
Kuku jari tangan sudah panjang, melampaui ujung jari, ujung distalnya tegas dan
relatif keras sehingga terasa bila digarukkan pada telapak tangan pelaku autopsi.
Kuku jari kaki masih relatif pendek. Pada bayi yang prematur kuku jari tangan
belum melampaui ujung jari dan relatif lebih lunak sehingga ujungnya mudah
dilipat.
Garis telapak kaki
Pada bayi yang matur terdapat garis-garis pada seluruh telapak kaki, dari depan
hingga tumit. Yang dinilai adalah garis yang relatif lebar dan dalam. Dalam hal
kulit telapak kaki itu basah maka dapat juga tampak garis-garis yang halus dan
superfisial.
Alat kelamin luar
Pada bayi laki-laki matur, testis sudah turun dengan sempurna yakni pada dasar
skrotum dan rugae pada kulit skrotum sudah lengkap. Pada bayi perempuan yang
matur, labia minor sudah tertutup dengan baik oleh labia mayor.
Rambut kepala
Rambut kepala relatif kasar, masing-masing helai terpisah satu sama lain dan
tampak mengkilat. Batas rambut pada dahi jelas. Pada bayi yang prematur rambut
kepala halus seperti bulu wol atau kapas, masing-masing helai sulit dibedakan satu
sama lain dan batas rambut pada dahi tidak jelas.
Skin opacity
Pada bayi matur, jaringan lemak bawah kulit cukup tebal sehingga pembuluh
darah yang agak besar pada dinding perut tidak tampak atau tampak samar-samar.
Pada bayi prematur pembuluh-pembuluh tersebut tampak jelas.
Processus xiphoideus
Pada bayi yang matur processus xiphoideus membengkok ke dorsal, sedangkan
pada yang prematur membengkok ke ventral atau satu bidang dengan korpus
manubrium sterni.
Alis mata
Pada bayi yang matur, alis mata sudah lengkap, yakni bagian lateralnya sudah
terdapat, sedangkan pada yang prematur bagian itu belum terdapat.3
Pusat penulangan

11

Pusat-pusat penulangan khususnya pada tulang paha (femur) mempunyai arti yang
cukup penting. Bagian distal femur dan proksimal tibia akan menunjukkan pusat
penulangan pada umur kehamilan 36 minggu. Demikian juga pada cuboideum dan
cuneiform. Sedangkan, talus dan calcaneus pusat penulangan akan tampak pada
umur kehamilan 28 minggu.
Penaksiran umur gestasi
Rumus De Haas
Menurut rumus De Haas, untuk 5 bulan pertama panjang kepala-tumit dalam
sentimeter adalah sama dengan kuadrat angka bulan. Untuk 5 bulan terakhir,
panjang badan adalah sama dengan angka bulan dikalikan dengan angka 5.3
Rumus Arey
Menggunakan panjang kepala, tumit dan bokong.
Umur (bulan) = panjang kepala - tumit (cm) x 0,2
Umur (bulan) = panjang kepala - bokong (cm) x 0,3.
Rumus Finnstrom
Menggunakan panjang lingkar kepala oksipito-frontal.
Umur gestasi = 11,03 + 7,75 (panjang lingkar kepala)

1.3.5 Penyebab Kematian


Bila terbukti bayi lahir hidup (sudah bernafas), maka harus ditentukan penyebab
kematiannya. Bila terbukti bayi lahir mati (belum bernafas) maka ditentukan sebab lahir mati
atau sebab mati antenatal atau sebab mati janin (fetal death).
Ada berbagai penyebab kematian pada bayi, yaitu:
a. Kematian wajar
1.
Kematian secara alami
Imaturitas
Terjadi jika bayi yang lahir belum cukup matang dan mampu hidup di luar
kandungan sehingga mati setelah beberapa saat sesudah lahir.
Penyakit kongenital
Seringkali terjadi jika ibu mengalami sakit ketika sedang mengandung seperti
sifilis, tifus, campak sehingga anak memiliki cacat bawaan yang menyebabkan
kelainan pada organ internal seperti paru-paru, jantung dan otak.
2.
Perdarahan
Perdarahan dapat terjadi dari umbilikus, perut, anus dan organ genital.
3.
Malformasi
Kadangkala bayi tumbuh dengan kondisi organ tubuh yang tidak lengkap seperti
anensefali. Jika kelainan tersebut fatal, maka bayi tidak akan bisa bertahan hidup.
4. Penyakit plasenta
Penyakit plasenta atau pelepasannya secara tidak sengaja dari dinding uterus akan
dapat menyebabkan kematian dari bayi dan ibu, dan dapat diketahui jika sang ibu
meninggal dan dilakukan pemeriksaan dalam.
5. Spasme laring
Hal ini dapat terjadi karena aspirasi mekonium ke dalam laring atau akibat
pembesaran kelenjar timus.
6.
Eritroblastosis fetalis
Ini dapat terjadi karena ibu yang memiliki rhesus negatif mengandung anak dengan
rhesus positif, sehingga darah ibu akan membentuk antibodi yang menyerang sel
darah merah anak dan menyebabkan lisisnya sel darah merah anak, sehingga
menyebabkan kematian anak baik sebelum maupun setelah kelahiran.
12

b. Kematian akibat kecelakaan


1. Akibat persalinan yang lama
Ini dapat menyebabkan kematian pada bayi akibat ekstravasasi dari darah ke
selaput otak atau hingga mencapai jaringan otak akibat kompresi kepala dengan
pelvis, walaupun tanpa disertai dengan fraktur tulang kepala.
2. Jeratan tali pusat
Tali pusat seringkali melingkar di leher bayi selama proses kelahiran. Hal ini dapat
menyebabkan bayi menjadi tercekik dan mati karena sufokasi.
3. Trauma
Hantaman yang keras pada perut wanita hamil dengan menggunakan senjata
tumpul, terjatuhnya ibu dari ketinggian juga merupakan penyebab kematian bayi
intrauterin. Untuk kasus seperti ini harus diperiksa tanda-tanda trauma pada ibu.
4. Kematian dari ibu
Ketika ibu mati saat proses melahirkan ataupun sebelum melahirkan, maka anak
tidak akan bertahan lama di dalam kandungan sehingga harus dilahirkan sesegera
mungkin. Jika kematian disebabkan oleh penyakit kronis, seperti perdarahan
kronis, maka kesempatan untuk menyelamatkan nyawa anak sangatlah kecil.
Sedangkan jika kematian disebabkan karena kejadian akut seperti kecelakaan,
dimana ibu sebelumnya sehat, maka kemungkinan untuk menyelamatkan nyawa
bayi lebih besar.
c. Kematian karena tindakan pembunuhan
1. Pembekapan (sufokasi)
Ini merupakan tindakan yang paling sering dilakukan. Bayi baru lahir sangat
mudah dibekap dengan menggunakan handuk, sapu tangan atau dengan tangan.
Dapat juga ditemukan benda asing yang menyumbat jalan napas, seringkali karena
ibu berusaha mencegah agar anak tidak menangis dan ini justru menyebabkan
kematian.
2. Penjeratan (strangulasi)
Penjeratan juga merupakan cara pembunuhan anak yang cukup sering ditemui.
Sering ditemukan tanda-tanda kekerasan yang sangat berlebihan dari yang
dibutuhkan untuk membuat bayi mati. Tanda-tanda bekas jeratan akan ditemukan
di daerah leher disertai dengan memar dan resapan darah. Kadang juga ditemukan
penjeratan dengan menggunakan tali pusat sehingga terlihat bahwa bayi mati
secara alami.
3. Penenggelaman (drowning)
Ini dilakukan dengan membuang bayi ke dalam penampungan berisi air, sungai dan
bahkan toilet.
4. Kekerasan tumpul pada kepala
Jika ditemukan fraktur kranium, maka dapat diperkirakan bahwa terjadi kekerasan
terhadap bayi. Pada keadaan panik, ibu memukul kepala bayi hingga terjadi patah
tulang.
5. Kekerasan tajam
Kematian pada bayi baru lahir yang dilakukan dengan melukai bayi dengan senjata
tajam seperti gunting atau pisau dan menyebabkan luka yang fatal hingga
menembus organ dalam seperti hati, jantung dan otak.
6. Keracunan
Jarang dilakukan, tetapi pernah terjadi dimana ditemukan sisa opium pada putting
susu ibu, yang kemudian menyusui bayinya dan menyebabkan bayi tersebut mati.

13

Penentuan penyebab kematian dapat ditunjang dari pemeriksaan patologi anatomi


yang diambil dari jaringan tubuh mayat bayi.
1.4 Pemeriksaan terhadap Pelaku Pembunuhan Anak Sendiri
Pemeriksaan terhadap wanita yang disangka sebagai ibu dari bayi bersangkutan
bertujuan untuk menentukan apakah wanita tersebut baru melahirkan. Pada pemeriksaan juga
perlu dicatat keadaan jalan lahir untuk menjawab pertanyaan Apakah mungkin wanita
tersebut mengalami partus presipitatus?.
1. Tanda telah melahirkan anak
a. Robekan baru pada alat kelamin
b. ostium uteri dapat dilewati ujung jari
c. keluar darah dari rahim
d. ukuran rahim saat post partum setinggi pusat, 6-7 hari post partum setinggi
tulang kemaluan
e. payudara mengeluarkan air susu
f. hiperpigmentasi aerola mamma
g. striae gravidarum dari warna merah menjadi putih
2. Berapa lama telah melahirkan
a. ukuran rahim kembali ke ukuran semula 2-3 minggu
b. getah nifas : 1-3 hari post partum berwarna merah
4-9 hari post partum berwarna putih
10-14 hari post partum getah nifas habis
c. robekan alat kelamin sembuh dalam 8-10 hari
3. Mencari tanda-tanda partus precipitatus
a. robekan pada alat kelamin
b. inversio uteri (rahim terbalik) yaitu bagian dalam rahim menjadi keluar, lebih-lebih
bila tali pusat pendek
c. robekan tali pusat anak yang biasanya terdapat pada anak atau pada tempat lekat tali
pusat. Robekan ini harus tumpul dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis
d. luka pada kepala bayi menyebabkan perdarahan di bawah kulit kepala, perdarahan
di dalam tengkorak2
4. Pemeriksaan histopatologi yaitu sisa plasenta dalam darah yang berasal dari rahim.
Upaya membuktikan seorang tersangka ibu sebagai ibu dari anak yang diperiksa
adalah suatu hal yang paling sukar. Beberapa cara dapat digunakan, yaitu:
1. Mencocokkan waktu partus ibu dengan waktu lahir anak
Si ibu diperiksa, apakah memang baru melahirkan (tinggi fundus uteri, lochia,
kolostrum dan sebagainya). Sedangkan saat lahir si anak dilihat dari usia pasca lahir
ditambah lama kematian.
2. Memeriksa golongan darah ibu dan anak
Hal ini juga sulit karena tidak adanya golongan darah ayah. Ekslusi hanya dapat
ditegakkan bila 2 faktor dominan terdapat bersama-sama pada satu individu sedang
individu lain tidak mempunyai sama sekali. Contohnya adalah bila golongan AB
sedangkan si anak golongan O atau sebaliknya. Penggunaan banyak jenis golongan
darah akan lebih memungkinkan mencapai tujuan, tetapi oleh karena kendala biaya
maka cara ini tidak merupakan prosedur rutin.
3. Pemeriksaan DNA
Cara ini merupakan cara yang canggih dan membutuhkan dana yang besar.

14

2. Memahami dan Menjelaskan Perubahan Postmortem


2.1 Definisi
Kematian manusia berdasarkan dua dimensi yaitu kematian seluler (seluler death) akibat
ketiadaan oksigen dan kematian manusia sebagai individu (somatic death). Kematian
individu dapat didefinisikan secara sederhana sebagai terhentinya kehidupan secara
permanen (permanent cessation of life) atau dapat diperjelas lagi menjadi berhentinya
secara permanen fungsi berbagai organ vital yaitu paru-paru, jantung dan otak sebagai
kesatuan yang utuh yang ditandai oleh berhentinya konsumsi oksigen. Sebagai akibat
berhentinya konsumsi oksigen ke seluruh jaringan tubuh maka sel-sel sebagai elemen
terkecil pembentuk manusia akan mengalami kematian, dimulai dari sel- sel paling rendah
daya tahannya terhadap ketiadaan oksigen.
Mati suri adalah penurunan fungsi organ vital sampai taraf minimal untuk
mempertahankan kehidupan, sehingga tanda-tanda kliniknya seperti sudah mati yang
sifatnya reversibel. Sedangkan mati somatik adalah keadaan dimana ketika fungsi ketiga
organ vital sistem saraf pusat, sistem kardiovaskuler, dan sistem pernafasan berhenti
secara menetap.
Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversible kecuali batang otak
dan serebelum, kedua sistem lain masih berfungsi dengan bantuan alat. Sedangkan
mati batang otak adalah kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang ireversibel,
termasuk batang otak dan serebelum.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kriteria diagnostik penentuan kematian:


Hilangnya semua respon terhadap sekitarnya (respon terhadap komando atau
perintah, dan sebagainya)
Tidak ada gerakan otot serta postur, dengan catatan pasien tidak sedang
berada dibawah pengaruh obat-obatan curare.
Tidak ada reflek pupil
Tidak ada reflek kornea
Tidak ada respon motorik dari saraf kranial terhadap rangsangan
Tidak ada reflek menelan atau batuk ketika tuba endotracheal didorong ke dalam
Tidak ada reflek vestibulo-okularis terhadap rangsangan air es yang dimasukkan
ke dalam lubang telinga
Tidak ada napas spontan ketika respirator dilepas untuk waktu yang cukup
lama walaupun pCO2 sudah melampaui wilayah ambang rangsangan napas (50 torr)
Tes klinik ini baru boleh dilakukan paling cepat 6 jam setelah onset koma serta apneu dan
harus diulangi lagi paling cepat sesudah 2 jam dari tes yang pertama. Sedangkan tes
konfirmasi dengan EEG dan angiografi hanya dilakukan jika tes klinik memberikan hasil
yang meragukan atau jika ada kekhawatiran akan adanya tuntutan di kemudian hari.

15

a) Tanda dan Patofisiologi


-

Tanda kematian tidak pasti

1.

Berhentinya sistem pernafasan dan sistem


sirkulasi.
Secara teoritis, diagnosis kematian sudah dapat ditegakkan jika jantung dan paru
berhenti selama 10 menit, namun dalam prakteknya seringkali terjadi kesalahan
diagnosis sehingga perlu dilakukan pemeriksaan dengan cara mengamati selama waktu
tertentu. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan mendengarkannya melalui stetoscope pada
daerah precordial dan larynx dimana denyut jantung dan suara nafas dapat dengan mudah
terdengar.
Kadang-kadang jantung tidak segera berhenti berdenyut setelah nafas terhenti, selain
disebabkan ketahanan hidup sel tanpa oksigen yang berbeda-beda dapat juga disebabkan
depresi pusat sirkulasi darah yang tidak adekwat, denyut nadi yang menghilang merupakan
indikasi bahwa pada otak terjadi hipoksia. Sebagai contoh pada kasus judicial hanging
dimana jantung masih berdenyut selama 15 menit walaupun korban sudah diturunkan dari
tiang gantungan.

2.

3.

Kulit yang pucat


Kulit muka menjadi pucat ,ini terjadi sebagai akibat berhentinya sirkulasi darah
sehingga darah yang berada di kapiler dan venula dibawah kulit muka akan mengalir ke
bagian yang lebih rendah sehingga warna kulit muka tampak menjadi lebih pucat. Akan
tetapi ini bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya. Kadang-kadang kematian
dihubungkan dengan spasme agonal sehingga wajah tampak kebiruan. Pada mayat yang
mati akibat kekurangan oksigen atau keracunan zat-zat tertentu (misalnya karbon
monoksida) warna semula dari raut muka akan bertahan lama dan tidak cepat menjadi pucat
Relaksasi otot
Pada saat kematian sampai beberapa saat sesudah kematian , otot-otot polos akan
mengalami relaksasi sebagai akibat dari hilangnya tonus. Relaksasi pada stadium ini
disebut relaksasi primer. Akibatnya rahang turun kebawah yang menyebabkan mulut
terbuka, dada menjadi kolap dan bila tidak ada penyangga anggota gerakpun akan jatuh
kebawah. Relaksasi dari otot-otot wajah menyebabkan kulit menimbul sehingga orang
mati tampak lebih muda dari umur sebenarnya, sedangkan relaksasi pada otot polos
akan mengakibatkan iris dan sfincter ani akan mengalami dilatasi. Oleh karena itu bila
menemukan anus yang mengalami dilatasi harus hati-hati menyimpulkan sebagai akibat
hubungan seksual perani/anus corong.

4.

Perubahan pada mata


Perubahan pada mata meliputi hilangnya reflek kornea dan reflek cahaya yang
menyebabkan kornea menjadi tidak sensitif dan reaksi pupil yang negatif.
Knight mengatakan hilangnya reflek cahaya pada kornea ini disebabkan karena kegagalan
kelenjar lakrimal untuk membasahi bola mata. Kekeruhan pada kornea akan timbul
16

beberapa jam setelah kematian tergantung dari posisi kelopak mata. Akan tetapi Marshall
mengatakan kornea akan tetap menjadi keruh tanpa dipengaruhi apakah kelopak mata
terbuka atau tertutup. Walaupun sering ditemui kelopak mata tertutup secara tidak
komplit, ini terjadi oleh karena kekakuan otot-otot kelopak mata. Kekeruhan pada lapisan
dalam kornea ini tidak dapat dihilangkan atau diubah kembali walaupun digunakan air
untuk membasahinya.
Bila kelopak mata tetap terbuka sclera yang ada disekitar kornea akan mengalami
kekeringan dan berubah menjadi kuning dalam beberapa jam yang kemudian berubah
menjadi coklat kehitaman. Area yang berubah warna ini berbentuk trianguler dengan
basis pada perifer kornea dan puncaknya di epikantus. Area ini disebuttaches noires de la
sclerotiques yang pertama kali digambarkan oleh Somner pada tahun 1833.
Knight mengatakan iris masih bereaksi dengan stimulasi kimia sampai 4 jam sesudah
kematian somatik, tetapi reflek cahaya segera hilang bersamaan dengan iskemik pada
batang otak. Pupil biasanya pada posisi mid midriasis yang disebabkan oleh karena
relaksasi dari muskulus pupilaris walaupun ada sebagian ahli yang menganggap ini sebagai
proses rigor mortis. Diameter pupil sering dihubungkan dengan sebab kematian seperti lesi
di otak atau intoksikasi obat seperti keracunan morphin dimana sewaktu hidup pupil
menunjukan kontraksi. Akan tetapi Price (1963) memeriksa mata dari 1000 mayat dan
menyimpulkan bahwa keadaan pupil tidak berhubungan dengan sebab kematian, dan
kematian menyebabkan pupil menjadi dilatasi atau cadaveric position .
Setelah kematian tekanan intra okuler akan turun, tekanan intra okuler yang turun ini
mudah menyebabkan kelainan bentuk pupil sehingga pupil kehilangan bentuk sirkuler
setelah mati dan ukurannya pun menjadi tidak sama,pupil dapat berkontraksi dengan
diameter 2 mm atau berdilatasi sampai 9 mm dengan rata-rata 4-5 mm oleh karena pupil
mempunyai sifat tidak tergantung dengan pupil lainnya maka sering terdapat perbedaan
sampai 3 mm.
Nicati (1894) telah melakukan pengukuran terhadap tekanan bola mata posmortem
dimana tekanan normal pada bola mata pada waktu hidup adalah 14g -25g akan tetapi
begitu sirkulasi terhenti maka penurunan tekanan bola mata menjadi sangat rendah (tidak
sampai mencapai 12g) dan dalam waktu 30 menit akan berkurang menjadi 3g yang
kemudian menjadi nol setelah 2 jam kematian. Penurunan tekanan bola mata ini pernah
dicoba untuk menentukan perkiraan saat kematian.
Kervokian (1961) berusaha menerangkan perubahan-perubahan yang terjadi pada retina
15 jam pertama setelah kematian dimana kornea dapat dipertahankan dalam keadaan baik
dengan menggunakan air atau larutan garam fisiologis yang kemudian dilakukan
pemeriksaan dengan optalmoskop. Pemeriksaan ini tidaklah mudah, ternyata pemeriksaan
retina pada mayat jauh lebih sulit bila dibandingkan dengan orang hidup. Dan perubahan
warna yang terjadi pada retina dicoba dihubungkan dengan perkiraan saat kematian.
Dengan berhentinya aliran darah maka pembuluh darah retina akan mengalami perubahan
yang disebut segmentasi atau trucking dan ini terjadi dalam 15 menit pertama setelah
kematian. Pada pemeriksaan dalam 2 jam pertama setelah kematian, dapat dilihat retina
tampak pucat dan daerah sekitar fundus tampak kuning, demikian pula daerah sekitar
makula. Sekitar 6 jam batas fundus menjadi tidak jelas, dan tampak gambaran segmentasi
17

pada pembuluh darah, dengan latar belakang yang berwarna kelabu kekuningan.
Gambaran ini mencapai seluruh perifer retina sekitar 7-10 jam. Setelah 12 jam diskus
hanya dapat dilihat sebagai titik yang terlokalisasi dengan sisa-sisa pembuluh darah
yang bersegmentasi hingga pada akhirnya diskus dan pembuluh darah retina
menghilang yang ada hanya makula yang berwarna coklat gelap. Beberapa pengamat
menggambarkan perubahan dini posmortem yang terjadi pada retina mempunyai arti yang
kecil untuk dihubungkan dengan perkiraan saat mati. Sedangkan Tomlin ( 1967)
beranggapan bahwa segmentasi pada retina lebih berindikasi pada kematian serebral
daripada penghentian sirkulasi.
Wroblewski dan Ellis (1970) mempelajari perubahan mata pada 300 mayat dimana tidak
hanya perubahan yang terjadi pada retina tetapi juga perubahan yang terjadi pada kornea
juga dicatat. Mereka telah memeriksa 204 fundus dari subjek dan 115 diantaranya terdapat
segmentasi atau trucking pada satu atau kedua mata setelah satu jam posmortem dan
negatif pada 89 lainnya. Bagian yang paling sulit pada pemeriksaan ini adalah kekeruhan
kornea yang terjadi dalam 75% pasien dalam 2 jam setelah kematian. Akhirnya mereka
menyimpulkan bahwa segmentasi merupakan perubahan posmortem yang alami daripada
menghubungkannya dengan perkiraan saat kematian.
-

Tanda Kematian Pasti

1. Lebam Mayat
Lebam Mayat disebut juga Post Mortem Lividity, Post Mortem Suggilation, Hypostasis,
Livor Mortis, Stainning. Lebam mayat terbentuk bila terjadi kegagalan sirkulasi darah
dalam mempertahankan tekanan hidrostatik yang menggerakan darah mencapai capillary
bed dimana pembuluhpembuluh darah kecil afferent dan efferent saling berhubungan.
Maka secara bertahap darah yang mengalami stagnasi di dalam pembuluh vena besar dan
cabang-cabangnya akan dipengaruhi gravitasi dan mengalir ke bawah, ke tempattempat
yang terendah yang dapat dicapai. Dikatakan bahwa gravitasi lebih banyak
mempengaruhi sel darah merah tetapi plasma akhirnya juga mengalir ke bagian terendah
yang memberikan kontribusi pada pembentukan gelembunggelembung di kulit pada awal
proses pembusukan.
Adanya eritrosit di daerah yang lebih rendah akan terlihat di kulit sebagai perubahan
warna biru kemerahan. Oleh karena pengumpulan darah terjadi secara pasif maka
tempattempat di mana mendapat tekanan lokal akan menyebabkan tertekannya pembuluh
darah di daerah tersebut sehingga meniadakan terjadinya lebam mayat yang mengakibatkan
kulit di daerah tersebut berwarna lebih pucat.
Lebam mayat ini biasanya timbul setengah jam sampai dua jam setelah kematian, Dimana
setelah terbentuk hypostasis yang menetap dalam waktu 1012 jam ternyata akan
memberikan lebam mayat pada sisi yang berlawanan setelah dilakukan reposisi pada tubuh
dari pronasi ke supinasi (interpostmorchange).
Lebam mayat ini biasanya berkembang secara bertahap dan dimulai dengan timbulnya
bercak-bercak yang berwarna keunguan dalam waktu kurang dari setengah jam sesudah
kematian dimana bercak-bercak ini intensitasnya menjadi meningkat dan kemudian
bergabung menjadi satu dalam beberapa jam kemudian, dimana fenomena ini menjadi
18

komplet dalam waktu kurang lebih 812 jam, pada waktu ini dapat dikatakan lebam
mayat terjadi secara menetap. Menetapnya lebam mayat ini disebabkan oleh karena
terjadinya perembesan darah kedalam jaringan sekitar akibat rusaknya pembuluh darah
akibat tertimbunnya selsel darah dalam jumlah yang banyak, adanya proses hemolisa selsel darah dan kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah. Dengan demikian penekanan
pada daerah lebam yang dilakukan setelah 8-12 jam tidak akan menghilang. Hilangnya
lebam pada penekanan dengan ibu jari dapat memberi indikasi bahwa suatu lebam belum
terfiksasi secara sempurna. Setelah empat jam, kapiler-kapiler akan mengalami kerusakan
dan butir-butir darah merah juga akan rusak. Pigmen-pigmen dari pecahan darah merah
akan keluar dari kapiler yang rusak dan mewarnai jaringan di sekitarnya sehingga
menyebabkan warna lebam mayat akan menetap serta tidak hilang jika ditekan dengan
ujung jari atau jika posisi mayat dibalik. Jika pembalikan posisi dilakukan setelah 12
jam dari kematiannya maka lebam mayat baru tidak akan timbul pada posisi terendah,
karena darah sudah mengalami koagulasi.
Fenomena lebam mayat yang menetap ini sifatnya lebih bersifat relatif. Perubahan lebam
ini lebih mudah terjadi pada 6 jam pertama sesudah kematian, bila telah terbentuk lebam
primer kemudian dilakukan perubahan posisi maka akan terjadi lebam sekunder pada posisi
yang berlawanan. Distribusi dari lebam mayat yang ganda ini adalah penting untuk
menunjukan telah terjadi manipulasi posisi pada tubuh. Akan tetapi waktu yang pasti
untuk terjadinya pergeseran lebam ini adalah tidak pasti, Polson mengatakan untuk
menunjukan tubuh sudah diubah dalam waktu 8 sampai 12 jam, sedangkan Camps
memberi patokan kurang lebih 10 jam.
Akan tetapi pada kematian wajarpun darah dapat menjadi permanent incoagulable oleh
karena adanya aktifitas fibrinolisin yang dilepas kedalam aliran darah selama proses
kematian. Sumber dari fibrinolisin ini tidak diketahui tetapi kemungkinan berasal dari
endothelium pembuluh darah, dan permukaan serosa dari pleura. Aktifitas fibrinolisin ini
nyata sekali pada kapiler-kapiler yang berisi darah. Darah selalu ditemukan cair dalam
venule dan kapiler, dan ini yang bertanggung jawab terhadap lebam mayat.
Akumulasi darah pada daerah yang tidak tertekan akan menyebabkan pengendapan
darah pada pembuluh darah kecil yang dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah
kecil tersebut dan berkembang menjadi petechie (tardieu`s spot) dan purpura yang kadangkadang berwarna gelap yang mempunyai diameter dari satu sampai beberapa milimeter,
biasanya memerlukan waktu 18 sampai 24 jam untuk terbentuknya dan sering diartikan
bahwa pembusukan sudah mulai terjadi. Fenomena ini sering terjadi pada asphyxia atau
kematian yang terjadinya lambat.
2. Kaku Mayat (Rigor Mortis)
Kaku mayat atau rigor mortis adalah kekakuan yang terjadi pada otot yang kadangkadang disertai dengan sedikit pemendekan serabut otot, yang terjadi setelah periode
pelemasan/ relaksasi primer. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan kimiawi pada
protein yang terdapat pada serabut-serabut otot. Menurut Szen-Gyorgyi di dalam
pembentukan kaku mayat peranan ATP adalah sangat penting. Seperti diketahui bahwa
serabut otot dibentuk oleh dua jenis protein, yaitu aktin dan myosin, dimana kedua jenis
protein ini bersama dengan ATP membentuk suatu masa yang lentur dan dapat
19

berkontraksi (gambar I). Bila kadar ATP menurun, maka akan terjadi pada perubahan
pada akto-miosin, diamana sifat lentur dan kemampuan untuk berkontraksi menghilang
sehingga otot yang bersangkutan akan menjadi kaku dan tidak dapat berkontraksi.

Gambar I. Kontraksi otot


Oleh karena kadar glikogen yang terdapat pada setiap otot itu berbeda-beda,
sehingga sewaktu terjadinya pemecahan glikogen menjadi asam laktat dan energi
pada saat terjadinya kematian somatic, dimana energi tersebut digunakan untuk resintesa
ATP, akan menyebabkan adanya perbedaan kadar ATP dalam setiap otot. Keadaan
tersebut dapat menerangkan mengapa kaku mayat akan mulai nampak pada jaringan otot
yang jumlah serabut ototnya sedikit. Atas dasar itulah mengapa pada kematian
karena infeksi, konvulsi kelelahan fisik serta keadaan suhu keliling yang tinggi akan
dapat mempercepat terbentuknya kaku mayat, demikian pula pada mereka yang
keadaan gizinya jelek akan lebih cepat terjadi kaku mayat bila dibandingkan dengan
korban yang mempunyai tubuh yang baik.
Secara biokimiawi saat relaksasi primer, pH protoplasma sel otot masih alkalis.
Perubahan alkalis menjadi asam terjadi 2-6 jam kemudian karena adanya perubahan
biokimia, yaitu glikogen menjadi asam sarkolaktik / fosfor. Perubahan protoplasma
menjadi asam menyebabkan otot menjadi kaku (rigor). Relaksasi sekunder terjadi
20

setelah ada perubahan biokimia, yaitu asam berubah menjadi alkalis kembali saat terjadi
pembusukan.
Kaku mayat akan terjadi pada seluruh otot (gambar II), baik otot lurik maupun otot
polos. Dan bila terjadi pada otot rangka, maka akan didapatkan suatu kekakuan yang
mirip atau menyerupai papan sehingga dibutuhkan cukup tenaga untuk dapat melawan
kekakuan tersebut , bila hal ini terjadi otot dapat putus sehingga daerah tersebut
tidak mungkin lagi terjadi kaku mayat.
Kaku mayat mulai terdapat sekitar 2 jam post mortem dan mencapai puncaknya setelah
10-12 jam pos mortem, keadaan ini akan menetap selama 24 jam dan setelah 24 jam kaku
mayat mulai menghilang sesuai dengan urutan terjadinya, yaitu dimulai dari otot-otot
wajah, leher, lengan, dada, perut, dan tungkai.
Adanya kejanggalan dari postur pada mayat dimana kaku mayat telah terbentuk dengan
posisi sewaktu mayat ditemukan, dapat menjadi petunjuk bahwa pada tubuh korban telah
dipindahkan setelah mati. Ini mungkin dimaksudkan untuk menutupi sebab kematian atau
cara kematian yang sebenarnya.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi kaku mayat :
a) Kondisi otot
Persediaan glikogen
Cepat lambat kaku mayat tergantung persediaan glikogen otot. Pada kondisi tubuh sehat
sebelum meninggal, kaku mayat akan lambat dan lama, juga pada orang yang sebelum
mati banyak makan karbohidrat, maka kaku mayat akan lambat.
Gizi
Pada mayat dengan kondisi gizi jelek saat mati, kaku mayat akan cepat terjadi.
Kegiatan Otot
Pada orang yang melakukan kegiatan otot sebelum meninggal maka kaku mayat akan
terjadi lebih cepat.
b) Usia
Pada orang tua dan anak-anak lebih cepat dan tidak berlangsung lama.

Pada bayi premature tidak terjadi kaku mayat, kaku mayat terjadi pada bayi cukup
bulan.
c) Keadaan Lingkungan
Keadaan kering lebih lambat dari pada panas dan lembab
Pada mayat dalam air dingin, kaku mayat akan cepat terjadi dan berlangsung lama.

Pada udara suhu tinggi, kaku mayat terjadi lebih cepat dan singkat, tetapi pada suhu
rendah kaku mayat lebih lambat dan lama.
Kaku mayat tidak terjadi pada suhu dibawah 10oC, kekakuan yang terjadi pembekuan
atau cold stiffening.

d) Cara Kematian
Pada mayat dengan penyakit kronis dan kurus, kuku mayat lebih cepat terjadi dan
berlangsung tidak lama.
Pada mati mendadak, kaku mayat terjadi lebih lambat dan berlangsung lebih lama.
21

Waktu terjadinya rigor mortis (kaku mayat)


Kurang dari 3 4 jam post mortem : belum terjadi rigor mortis
Lebih dari 3 4 jam post mortem : mulai terjadi rigor mortis
Rigor mortis maksimal terjadi 12 jam setelah kematian
Rigor mortis dipertahankan selama 12 jam
Rigor mortis menghilang 24 36 jam post mortem
Terdapat kekakuan pada pada mayat yang menyerupai kaku mayat :
Cadaveric spasme (instantaneous rigor), adalah bentuk kekakuan otot yang terjadi pada saat
kematian dan menetap. Cadaveric spasme sesungguhnya merupakan kaku mayat yang
timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya
adalah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati
klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal.
Kepentingan medikolegalnya adalah menunjukkan sikap terakhir masa hidupnya. Misalnya,
tangan yang menggenggam erat benda yang diraihnya pada kasus tenggelam, tangan yang
menggenggam pada kasus bunuh diri.

Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. Otot-otot
berwarna merah muda, kaku, tepi rapuh (mudah robek). Keadaan ini dapat dijumpai pada
korban mati terbakar. Pada saat stiffening serabut-serabut ototnya memendek sehingga
menimbulkan fleksi leher, siku, paha, dan lutut, membentuk sikap petinju (pugilistic
attitude). Perubahan sikap ini tidak memberikan arti tertentu bagi sikap semasa hidup,
intravitalitas, penyebab atau cara kematian.
Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin (dibawah 3,5oC atau
40oF), sehingga terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan
jaringan lemak subkutan dan otot, bila cairan sendi yang membeku menyebabkan sendi
tidak dapat digerakan. Bila sendi di bengkokkan secara paksa maka akan terdengar suara
es pecah. Dan mayat yang kaku ini akan menjadi lemas kembali bila diletakkan
ditempat yang hangat, kemudian rigor mortis akan terjadi dalam waktu yang sangat
singkat.

3. Pembusukan Atau Decompositio


Pembusukan mayat nama lainnya dekomposisi dan putrefection. Pembusukan adalah proses
degradasi jaringan pada tubuh mayat yang terjadi sebagai akibat proses autolisis dan
aktivitas mikroorganisme, terutama Clostridium welchii.
Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril
melalui proses kimia yang disebabkan oleh enzim-enzim intraseluler, sehingga organorgan yang kaya dengan enzim-enzim akan mengalami proses autolisis lebih cepat daripada
organ-organ yang tidak memiliki enzim, dengan demikian pankreas akan mengalami
autolisis lebih cepat dari pada jantung. Proses autolisis ini tidak dipengaruhi oleh
mikroorganisme oleh karena itu pada mayat yang steril misalnya mayat bayi dalam
kandungan proses autolisis ini tetap terjadi. Proses auotolisis terjadi sebagai akibat dari
pengaruh enzim yang dilepaskan pasca mati. Mula-mula yang terkena adalah nukleoprotein
22

yang terdapat pada kromatin dan sesudah itu sitoplasmanya, kemudian dinding sel akan
mengalami kehancuran sebagai akibatnya jaringan akan menjadi lunak dan mencair.
Pada mayat yang dibekukan pelepasan enzim akan terhambat oleh pengaruh suhu yang
rendah maka proses autolisis ini akan dihambat demikian juga pada suhu tinggi enzimenzim yang terdapat pada sel akan mengalami kerusakan sehingga proses ini akan
terhambat.
Setelah seseorang meninggal, maka semua sistem pertahanan tubuh akan hilang, bakteri
yang secara normal dihambat oleh jaringan tubuh akan segera masuk ke jaringan tubuh
melalui pembuluh darah, dimana darah merupakan media yang terbaik bagi bakteri untuk
berkembang biak. Bakteri ini menyebabkan hemolisa, pencairan bekuan darah yang
terjadi sebelum dan sesudah mati, pencairan trombus atau emboli, perusakan jaringanjaringan dan pembentukan gas pembusukan. Bakteri yang sering menyebabkan destruktif
ini sebagian besar berasal dari usus dan yang paling utama adalah Cl. welchii. Bakteri ini
berkembang biak dengan cepat sekali menuju ke jaringan ikat dinding perut yang
menyebabkan perubahan warna. Perubahan warna ini terjadi oleh karena reaksi antara H2S
(gas pembusukan yang terjadi dalam usus besar) dengan Hb menjadi Sulf-Meth-Hb.
Tanda pertama pembusukan baru dapat dilihat kira-kira 24 jam - 48 jam pasca mati berupa
warna kehijauan pada dinding abdomen bagian bawah, lebih sering pada fosa iliaka
kanan dimana isinya lebih cair, mengandung lebih banyak bakteri dan letaknya yang lebih
superfisial. Perubahan warna ini secara bertahap akan meluas keseluruh dinding abdomen
sampai ke dada dan bau busukpun mulai tercium. Perubahan warna ini juga dapat dilihat
pada permukaan organ dalam seperti hepar, dimana hepar merupakan organ yang langsung
kontak dengan kolon transversum. Pada saat Cl.welchii mulai tumbuh pada satu organ
parenchim, maka sitoplasma dari organ sel itu akan mengalami disintegrasi dan
nukleusnya akan dirusak sehingga sel menjadi lisis atau rhexis. Kemudian sel-sel
menjadi lepas sehingga jaringan kehilangan strukturnya.
Bakteri ini kemudian masuk kedalam pembuluh darah dan berkembang biak
didalamnya yang menyebabkan hemolisa yang kemudian mewarnai dinding pembuluh
darah dan jaringan sekitarnya. Bakteri ini memproduksi gas-gas pembusukan yang
mengisi pembuluh darah yang menyebabkan pelebaran pembuluh darah superfisial tanpa
merusak dinding pembuluh darahnya sehingga pembuluh darah beserta cabang-cabangnya
tampak lebih jelas seperti pohon gundul (arborescent pattern atau arborescent mark) yang
sering disebut marbling. Bakteri pembusukan ini banyak terdapat dalam intestinal dan
paru, maka gambaran marbling ini jelas terlihat pada bahu,dada bagian atas, abdomen
bagian bawah dan paha.
Secara mikroskopis bakteri dapat dilihat menggumpal pada rongga-rongga jaringan
dimana bakteri tersebut banyak memproduksi gelembung gas. Ukuran gelembung gas
yang tadinya kecil dapat cepat membesar menyerupai honey combed appearance. Lesi ini
dapat dilihat pertama kali pada hati . Kemudian permukaan lapisan atas epidermis dapat
dengan mudah dilepaskan dengan jaringan yang ada dibawahnya dan ini disebut skin
slippage. Skin slippage ini menyebabkan identifikasi melalui sidik jari sulit dilakukan.
Pembentukan gas yang terjadi antara epidermis dan dermis mengakibatkan timbulnya bulabula yang bening, fragil, yang dapat berisi cairan coklat kemerahan yang berbau busuk.
Cairan ini kadang-kadang tidak mengisi secara penuh di dalam bula. Bula dapat menjadi
23

1.
2.
3.

sedemikian besarnya menyerupai pendulum yang berukuran 5 7,5 cm dan bila pecah
meninggalkan daerah yang berminyak, berkilat dan berwarna kemerahan, ini disebabkan
oleh karena pecahnya sel-sel lemak subkutan sehingga cairan lemak keluar ke lapisan
dermis oleh karena tekanan gas pembusukan dari dalam. Selain itu epitel kulit, kuku,
rambut kepala, aksila dan pubis mudah dicabut dan dilepaskan oleh karena adanya
desintegrasi pada akar rambut.
Selama terjadi pembentukan gas-gas pembusukan, gelembung-gelembung udara mengisi
hampir seluruh jaringan subkutan. Gas yang terdapat di dalam jaringan dinding tubuh akan
menyebabkan terabanya krepitasi udara. Gas ini menyebabkan pembengkakan tubuh yang
menyeluruh, dan tubuh berada dalam sikap pugilistic attitude.
Scrotum dan penis dapat membesar dan membengkak, leher dan muka dapat
menggembung, bibir menonjol seperti frog-like-fashion, Kedua bola mata keluar, lidah
terjulur diantara dua gigi, ini menyebabkan mayat sulit dikenali kembali oleh keluarganya.
Pembengkakan yang terjadi pada seluruh tubuh mengakibatkan berat badan mayat yang
tadinya 57 - 63 kg sebelum mati menjadi 95 - 114 kg sesudah mati.
Tekanan yang meningkat didalam rongga dada oleh karena gas pembusukan yang terjadi
didalam cavum abdominal menyebabkan pengeluaran udara dan cairan pembusukan
yang berasal dari trakea dan bronkus terdorong keluar, bersama-sama dengan cairan
darah yang keluar melalui mulut dan hidung. Cairan pembusukan dapat ditemukan di
dalam rongga dada, ini harus dibedakan dengan hematotorak dan biasanya cairan
pembusukan ini tidak lebih dari 200 cc.
Pengeluaran urine dan feses dapat terjadi oleh karena tekanan intra abdominal yang
meningkat. Pada wanita uterus dapat menjadi prolaps dan fetus dapat lahir dari uterus
yang pregnan. Pada anak-anak adanya gas pembusukan dalam tengkorak dan otak
menyebabkan sutura-sutura kepala menjadi mudah terlepas.
Organ-organ dalam mempunyai kecepatan pembusukan yang berbeda-beda. Jaringan
intestinal,medula adrenal dan pancreas akan mengalami autolisis dalam beberapa jam
setelah kematian. Organ-organ dalam lain seperti hati, ginjal dan limpa merupakan
organ yang cepat mengalami pembusukan. Perubahan warna pada dinding lambung
terutama di fundus dapat dilihat dalam 24 jam pertama setelah kematian. Difusi cairan
dari kandung empedu kejaringan sekitarnya menyebabkan perubahan warna pada jaringan
sekitarnya menjadi coklat kehijauan. Pada hati dapat dilihat gambaran honey combs
appearance, limpa menjadi sangat lunak dan mudah robek, dan otak menjadi lunak.
Pembusukan lanjut dari organ dalam ini adalah pembentukan granula- granula milliary atau
milliary plaques yang berukuran kecil dengan diameter 1-3 mm yang terdapat pada
permukaan serosa yang terletak pada endotelial dari tubuh seperti pleura, peritoneum,
pericardium dan endocardium.
Golongan organ berdasarkan kecepatan pembusukannya, yaitu:
Early : Organ dalam yang cepat membusuk antara lain jaringan intestinal, medula adrenal,
pankreas, otak, lien, usus, uterus gravid, uterus post partum, dan darah
Moderate : Organ dalam yang lambat membusuk antara lain paru-paru, jantung, ginjal,
diafragma, lambung, otot polos dan otot lurik.
Late : Uterus non gravid dan prostat merupakan organ yang lebih tahan terhadap
pembusukan karena memiliki struktur yang berbeda dengan jaringan yang lain yaitu
24

jaringan fibrousa.
Pada orang yang mengalami obesitas, lemak-lemak tubuh terutama perirenal, omentum
dan mesenterium dapat mencair menjadi cairan kuning yang transluscent yang mengisi
rongga badan diantara organ yang dapat menyebabkan autopsi lebih sulit dilakukan.
Disamping bakteri pembusukan insekta juga memegang peranan penting dalam proses
pembusukan sesudah mati. Beberapa jam setelah kematian lalat akan hinggap di badan dan
meletakkan telur-telurnya pada lubang-lubang mata, hidung, mulut dan telinga. Biasanya
jarang pada daerah genitoanal. Bila ada luka ditubuh mayat lalat lebih sering meletakkan
telur-telurnya pada luka tersebut, sehingga bila ada telur atau larva lalat didaerah
genitoanal ini maka dapat dicurigai adanya kekerasan seksual sebelum kematian. Telurtelur lalat ini akan berubah menjadi larva dalam waktu 24 jam. Larva ini mengeluarkan
enzim proteolitik yang dapat mempercepat penghancuran jaringan pada tubuh. Larva lalat
dapat kita temukan pada mayat kira-kira 36-48 jam pasca kematian. Berguna untuk
memperkirakan saat kematian dan penyebab kematian karena keracunan. Saat kematian
dapat kita perkirakan dengan cara mengukur panjang larva lalat. Penyebab kematian
karena racun dapat kita ketahui dengan cara mengidentifikasi racun dalam larva lalat.
Insekta tidak hanya penting dalam proses pembusukan tetapi meraka juga memberi
informasi penting yang berhubungan dengan kematian. Insekta dapat dipergunakan
untuk memperkirakan saat kematian, memberi petunjuk bahwa tubuh mayat telah
dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lainnya, memberi tanda pada badan bagian mana
yang mengalami trauma, dan dapat dipergunakan dalam pemeriksaan toksikologi bila
jaringan untuk specimen standart juga sudah mengalami pembusukan.
Aktifitas pembusukan sangat optimal pada temperatur berkisar antara 70- 100F (21,137,8C) aktifitas ini dihambat bila suhu berada dibawah 50F(10C) atau pada suhu diatas
100F (lebih dari 37,8C). Bila mayat diletakkan pada suhu hangat dan lembab maka
proses pembusukan akan berlangsung lebih cepat. Sebaliknya bila mayat diletakkan pada
suhu dingin maka proses pembusukan akan berlangsung lebih lambat. Pada mayat yang
gemuk proses pembusukan berlangsung lebih cepat dari pada mayat yang kurus.
Pembusukan berlangsung lebih cepat karena kelebihan lemak akan menghambat hilangnya
panas tubuh dan pada mayat yang gemuk memiliki darah yang lebih banyak, yang
merupakan media yang baik untuk perkembangbiakkan organisme pembusukan.
Pada bayi yang baru lahir hilangnya panas tubuh yang cepat menghambat pertumbuhan
bakteri disamping pada tubuh bayi yang baru lahir memang terdapat sedikit bakteri
sehingga proses pembusukan berlangsung lebih lambat. Proses pembusukan juga dapat
dipercepat dengan adanya septikemia yang terjadi sebelum kematian seperti peritonitis
fekalis, aborsi septik, dan infeksi paru. Disini gas pembusukan dapat terjadi walaupun
kulit masih terasa hangat.

1.
2.
3.
4.

Secara garis besar terdapat 17 tanda pembusukan pada jenazah, yaitu :


Wajah membengkak.
Bibir membengkak.
Mata menonjol.
Lidah terjulur.
25

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.

Lubang hidung keluar darah.


Lubang mulut keluar darah.
Lubang lainnya keluar isinya seperti feses (usus), isi lambung, dan partus (gravid).
Badan gembung.
Bulla atau kulit ari terkelupas.
Aborescent pattern / morbling yaitu vena superfisialis kulit berwarna kehijauan.
Pembuluh darah bawah kulit melebar.
Dinding perut pecah.
Skrotum atau vulva membengkak.
Kuku terlepas.
Rambut terlepas.
Organ dalam membusuk.
Larva lalat.
Pembusukan dipengaruhi oleh beberapa faktor interinsik diatas, selain itu juga dipengaruhi
oleh faktor ekstrinsik antara lain kelembaban udara dan medium di mana mayat
berada. Semakin lembab udara di sekeliling mayat maka pembusukan lebih cepat
berlangsung, sedangkan pembusukan pada medium udara lebih cepat dibandingkan
medium air dan pembusukan pada medium air lebih cepat dibandingkan pada medium
tanah.
Pada keadaan tertentu tanda-tanda pembusukan tersebut tidak dijumpai, namun yang
ditemui adalah modifikasi pembusukan. Jenis-jenis modifikasi pembusukan antara lain.
1 Mumifikasi
Mumifikasi dapat terjadi karena proses dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi
pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan. Proses
mumufikasi terjadi bila keadaan disekitar mayat kering, kelembaban rendah, suhunya
tinggi dan tidak ada kontaminasi dengan bakteri. Terjadinya beberapa bulan sesudah mati
dengan tanda-tanda sebagai berikut mayat menjadi kecil, kering, mengkerut atau melisut,
warna coklat kehitaman, kulit melekat erat dengan tulang di bawahnya, tidak berbau, dan
keadaan anatominya masih utuh.
2 Saponifikasi
Saponifikasi dapat terjadi pada mayat yang berada di dalamsuasana hangat, lembab atau
basah. Terjadi karena proses hidrolisis dari lemak menjadi asam lemak. Selanjutnya asam
lemak yang tak jenuh akan mengalami dehidrogenisasi menjadi asam lemak jenuh dan
kemudian bereaksi dengan alkali menjadi sabun yang tak larut. Terbentuk pertama kali
pada lemak superfisial bentuk bercak, di pipi, di payudara, bokong bagian tubuh atau
ekstremitas. Terjadinya saponikasi memerlukan waktu beberapa bulan dan dapat terjadi
pada setiap jaringan tubuh yang berlemak dengan tanda-tanda berwarna keputihan dan
berbau tengik seperti minyak kelapa.
4. Penurunan suhu tubuh mayat/algor mortis
Pada saat sel masih hidup ia akan selalu menghasilkan kalor dan energi. Kalor dan
energi ini terbentuk melalui proses pembakaran sumber energi seperti glukosa, lemak,
26

dan protein. Sumber energi utama yang digunakan adalah glukosa. Satu molekul glukosa
dapat menghasilkan energi sebanyak 36 ATP yang nantinya digunakan sebagai sumber
energi dalam berbagai hal seperti transport ion, kontraksi otot dan lain-lain. Energi
sebanyak 36 ATP hanya menyusun sekitar 38% dari total energi yang dihasilkan dari satu
molekul glukosa (gambar II.1). Sisanya sebesar 62% energi yang dihasilkan inilah yang
dilepaskan sebagai kalor atau panas.

Gambar III. Metabolisme Glukosa


Sesudah mati, metabolisme yang menghasilkan panas akan terhenti sehingga suhu tubuh
akan turun menuju suhu udara atau medium di sekitarnya. Penurunan ini disebabkan oleh
adanya proses radiasi, konduksi, dan pancaran panas. Proses penurunan suhu pada mayat
ini biasa disebut algor mortis. Algor mortis merupakan salah satu perubahan yang dapat
kita temukan pada mayat yang sudah berada pada fase lanjut post mortem.
Pada beberapa jam pertama, penurunan suhu terjadi sangat lambat dengan bentuk
sigmoid. Hal ini disebabkan ada 2 faktor, yaitu :

Masih adanya sisa metabolisme dalam tubuh mayat, yakni karena masih adanya proses
glikogenolisis dari cadangan glikogen yang disimpan di otot dan hepar (gambar II.2).

Perbedaan koefisien hantar sehingga butuh waktu mencapai tangga suhu.

27

Gambar IV. Glikogenolisis


Pada jam-jam pertama penurunannya sangat lambat tetapi sesudah itu penurunan menjadi
lebih cepat dan pada akhirnya menjadi lebih lambat kembali. Jika dirata-rata maka
penurunan suhu tersebut antara 0,9 sampai 1 derajat celcius atau sekitar 1,5 derajat
Fahrenheit setiap jam, dengan catatan penurunan suhu dimulai dari 37 derajat Celcius atau
98,4 derajat Fahrenheit sehingga dengan dapat dirumuskan cara untuk memperkirakan
berapa jam mayat telah mati dengan rumus (98,4oF - suhu rectal oF) : 1,5oF. Pengukuran

a.
-

dilakukan per rectal dengan menggunakan thermometer kimia (long chemical


thermometer).
Terdapat dua hal yang mempengaruhi cepatnya penurunan suhu mayat ini yakni:
Faktor internal
Suhu tubuh saat mati
Sebab kematian, misalnya perdarahan otak dan septikemia, mati dengan suhu tubuh tinggi.
Suhu tubuh yang tinggi pada saat mati ini akan mengakibatkan penurunan suhu tubuh
menjadi lebih cepat. Sedangkan, pada hypothermia tingkat penurunannya menjadi
sebaliknya.
Keadaan tubuh mayat
Konstitusi tubuh pada anak dan orang tua makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat.
Pada mayat yang tubuhnya kurus, tingkat penurunannya menjadi lebih cepat.
28

b.

Faktor Eksternal
Suhu medium
Semakin besar selisih suhu antara medium dengan mayat maka semakin cepat terjadinya
penurunan suhu. Hal ini dikarenakan kalor yang ada di tubuh mayat dilepaskan lebih cepat ke
medium yang lebih dingin.
Keadaan udara di sekitarnya
Pada udara yang lembab, tingkat penurunan suhu menjadi lebih besar. Hal ini disebabkan
karena udara yang lembab merupakan konduktor yang baik. Selain itu, Aliran udara juga
makin mempercepat penurunan suhu tubuh mayat
Jenis medium
Pada medium air, tingkat penurunan suhu menjadi lebih cepat sebab air merupakan
konduktor panas yang baik sehingga mampu menyerap banyak panas dari tubuh mayat.
Pakaian mayat
Semakin tipis pakaian yang dipakai maka penurunan suhu mayat semakin cepat. Hal ini
dikarenakan kontak antara tubuh mayat dengan suhu medium atau lingkungan lebih mudah.
1.1. Entomologi Forensik
Entomologi forensik merupakan salah satu cabang dari sains forensik yang
memberikan informasi mengenai serangga yang digunakan untuk menarik kesimpulan
ketika melakukan investigasi yang berhubungan dengan kasus-kasus hukum yang
berkaitan dengan dengan manusia atau satwa (Gaensslen, 2009; Gennard, 2007).

1.
2.

2.
3.

Dalam kasus entomologi forensik, Gomes et al. (2006) menyatakan bahwa lalat
merupakan invertebrata primer yang mendekomposisi komponen organik pada hewan
termasuk juga mayat manusia. Pada saat lalat mengambil materi organik yang ada di
dalam tubuh mayat, maka lalat tersebut akan memindahkan telur yang akan berkembang
menjadi larva dan pupa (Sukontason et al., 2007). Adanya berbagai perubahan dari
berbagai jenis lalat dan serangga lain akan menimbulkan suatu komunitas dalam mayat
yang secara ekologi dan evolusi akan terjadi proses kompetisi, predasi, seleksi,
penyebaran dan kepunahan lokal dalam tubuh mayat tersebut (Hangeveld, 1989).
Amendt et al. (2004a) menyebutkan bahwa ada empat kategori secara ekologi untuk
mengidentifikasi suatu komunitas pada bangkai/mayat, antara lain:
Adanya spesies necrophagous yang memakan bangkai/mayat.
Adanya predator dan parasit pada terhadap spesies necrophagous yang memakan
serangga atau golongan Arthropoda yang lain. Terkadang juga ditemukan spesies
Schizophagous, yakni spesies yang hadir untuk memakan pada saat pertama kali,
namun akan menjadi predator pada tahap larva.
Adanya spesies omnivora seperti semut, lebah, dan beberapa jenis kumbang yang
memakan baik pada bangkai maupun pada koloni serangga yang ada.
Adanya spesies lain seperti laba-laba yang menggunakan bangkai/mayat untuk tempat
29

tinggalnya.
1. Tahapan Dekomposisi
Peristiwa dekomposisi melibatkan berbagai aspek selain faktor biotik, yakni faktor
abiotik yang meliputi parameter fisik seperti temperatur, kelembaban, dan lain-lain.
Menurut Gennard (2007) dan Goff (2003), tahapan dekomposisi terdiri dari lima tahap
antara lain:
Tahap1: fresh stage, tahapan dimulai pada saat kematian dan ditandai adanya tanda
penggelembungan pada tubuh. Serangga yang pertama kali datang adalah lalat dari
famili Calliphoridae dan Sarcophagidae. Lalat betina akan meletakkan telurnya di
daerah yang terbuka seperti daerah kepala (mata, hidung, mulut, dan telinga).
Tahap 2: bloated stage, merupakan tahapan pembusukan yang sedang dimulai. Gas yang
dihasilkan oleh aktivitas metabolisme bakteri anaerob menyebabkan penggelembungan
pada pada perut mayat. Selanjutnya suhu internal naik selama tahapan ini sebagai
akibat dari aktivitas bakteri pembusuk dan aktivitas metabolime dari larva lalat. Lalat dari
famili Calliphoridae sangat tertarik pada mayat selama tahapan ini. Kemudian selama
mengembang akibat adanya gas, cairan dalam tubuh terdorong keluar dari lubang-lubang
tubuh dan meresap ke dalam tanah. Cairan tersebut tersusun oleh senyawa seperti amonia
yang dihasilkan oleh aktivitas metabolisme dari larva lalat sehingga akan menyebabkan
tanah di bawah mayat itu untuk menjadi alkali (basa) dan fauna tanah menjadi tertarik
untuk menuju ke mayat.
Tahap 3: decay stage, tahapan ini ditandai adanya kerusakan kulit dan mengakibatkan gas
keluar dari tubuh. Larva lalat membentuk gerombolan yang besar pada mayat.
Meskipun beberapa serangga predator, seperti kumbang, tawon, dan semut, pada tahap
bloated stage, serangga necrophagous dan predator dapat diamati dalam jumlah besar
menjelang tahapan ini berakhir. Pada akhir tahap ini, lalat dari famili Calliphoridae dan
Sarcophagidae telah menyelesaikan perkembangan siklusnya dan meninggalkan mayat
untuk menjadi pupa. Pada akhir tahap ini, larva lalat akan menghilang dari jaringan tubuh
pada mayat.
Tahap 4: postdecay stage, pada tahap ini sisa-sisa tubuh seperti kulit, kartilago dan usus
sudah mengalami pembusukan. Selanjutnya sisa jaringan tubuh yang masih ada akan
mengering. Indikator pada tahap ini adalah hadirnya kumbang dan berkurangnya
dominansi lalat di dalam tubuh mayat.
Tahap 5: skeletal stage, pada tahap ini hanya tersisa tulang belulang dan rambut. Tahapan ini
tidak jelas serangga apa saja yang hadir. Pada kasus tertentu, kumbang dari famili
Nitidulidae terkadang ditemukan. Tubuh mayat sudah mengalami akhir dari dekomposisi.
2. Estimasi Waktu Kematian
Ahli entomologi forensik sering memeriksa bukti serangga pada mayat manusia dan
menetukan berapa lama serangga tersebut berada di mayat. Periode waktu tersebut di
interpretasikan dalam postmortem interval (PMI) atau waktu sejak kematian. Analsis
PMI terbagi menjadi dua, yakni precolonization interval (pre-CI) dan postcolonization
interval(post-CI).

30

Adapun penjelasan masing-masing interval tertera pada Gambar 4 (Tomberlin et al.,


2011).

Gambar V. Fase entomologikal pada proses dekomposisi vertebrata (Tomberlin et al.,


2011).
Pada Gambar V tersebut menggambarkan periode kolonisasi dan aktivitas serangga pada
mayat. Adapun perubahan-perubahan pada mayat manusia setelah mengalami kematian
disajikan pada Tabel 1. Pola-pola peruabahan pada Tabel 1 dapat digunakan untuk
mengetahui estimasi waktu kematian pada manusia. Selain itu, untuk waktu kematian
berdasarkan perkembangan serangga disajikan pada Gambar 5. Contoh pada Gambar 5
tersebut adalah menentukan waktu kematian berdasarkan siklus hidup serangga
Protophormia terraenovae.

31

Tabel 1. Perubahan postmortem pada tubuh manusia (pada suhu 21C dan kelembaban
30%) (Amendt etal., 2004a).

Gambar VI. Kurva pertumbuhan Protophormia terraenovae mulai dari larva, pupa, dan
32

dewasa (adult) pada suhu 15, 20, 25, 30and 35C (Amendt et al., 2004a).
Untuk mengukur waktu kematian dapat digunakan suhu yang dibutuhkan oleh
serangga untuk hidup. Serangga merupakan hewan poikilotermik atau hewan yang suhu
tubuh dan aktivitas metabolismenya dipengaruhi oleh lingkungan. Serangga menggunakan
energi panas (thermal unit) untuk pertumbuhan dan perkembangnya. Sehingga kebutuhan
energi selama masa hidupnya dapat dikalkulasi. Thermal unit disebut juga hari derajat
(degree days D ) yang mana nilai D dapat ditambahkan bersamaan yang akan
menghasilkan nilai accumulated degree days (ADD). Jika periode thermal unit pendek
maka bisa digunakan accumulated degree hours (ADH). Dari peristiwa tersebut, maka
waktu kematian dpat dihitung dengan menggunakan rumus:
ADH= Waktu(hours) (temperatur - temperatur basal)
ADD= Waktu(days) (temperatur - temperatur basal)

Waktu yang digunakan adalah waktu tahapan perkembangan serangga yang dapat
diketahui dari literatur yang sudah ada. Sementara temperatur yang digunakan adalah
temperatur lingkungan yang bisa diperoleh melalui stasium badan meteorologi.
Sementara temperatur basal adalah temperatur fisiologi terendah yang setiap serangga
memiliki nilai temperatur yang berbeda- beda

(Tabel 2).
Sebagai contoh ditemukan larva instar III dari spesies Calliphora vicina yang periode
waktunya selama 68 jam. Kemudian suhu lingkungan adalah 26,7C dan tempertur
basalnya adalah 2C. Sehingga akan diperoleh nilai:
ADH = 68 (26,7 2) = 1679,6
ADD =1679,6/24 = 7
Dari perhitungan tersebut dapat diperkirakan waktu kematiannya adalah 7 hari
33

(Gennard, 2007).
3. Memahami dan Menjelaskan Penyelidikan Kasus Pemerkosaan
1.1 Definisi

Perkosaan adalah persetubuhan diluar nikah dengan kekerasan atau dibawah ancaman
kekerasan 12 th(ps 285).

UU perlindungan anak

UU HAM no 26/2000
UU KDRT no 23/2004

Three elements are necessary to constitute the crime:

Sexual intercourse (carnal knowledge)

Failure to seek or to obtain the consent of the victim.

Force

1.2 Cara dan prosedur pemeriksaan


Prosedur Pemeriksaan
Izin pemeriksaan adalah hal pertama yang harus didapatkan dari wanita atau jika anak kecil,
dari orang tuanya atau yang menemaninya. Pemeriksaan seharusnya dilakukan pada ruangan
tertutup Almarhum W. H. Grace merekomendasikan agar korban diberikan tempat duduk
yang paling nyaman, jika dia tidak merasa gelisah, maka keaslian dari segala keluhannya
patut dicurigai.
34

Waktu dan tanggal ketika dilakukan pemeriksaan haruslah dicatat, karena interval antara
pemeriksaan dan peristiwa kejadian akan dijadikan bahan. Interval seterusnya akan
memerlukan penjelasan, dan yang paling penting adalah dokter, akan mengeluarkan surat izin
pemeriksaan yang menjelaskan jika ada tanda-tanda pemerkosaan. Hasil negatif pada orang
dewasa didapatkan jika pemeriksaan dilakukan setelah lewat beberapa hari, wanita yang telah
menikah atau jika dia sudah terbiasa melakukan hubungan seksual.
Dokter akan mengambil kesempatan untuk memperhatikan gaya berjalan korban ketika
memasuki ruangan pemeriksaan atau dengan tes spesifik. Dokter akan memperhatikan gerakgerik secara umum dan kebiasaan tubuh. Apakah ketika berjalan akan terasa sakit yang
disebabkan oleh luka pada alat kelamin? Apakah korban merasa gembira, menderita, atau jika
merasa terganggu, sebagai konsekwensi dari keadaan setelah baru saja diperkosa? Apakah dia
adalah wanita lemah atau sehat fisiknya, dan perlawanan macam apa yang bisa dia lakukan?
Pengumpulan spesimen merupakan hal yang penting. Akan lebih baik bila disiapkan
perlengkapan untuk mengumpulkan dan menyimpan barang bukti.
Rape Kit

Formulir rangkaian pemeriksaan barang bukti

Formulir pemeriksaan dokter

Amplop2 penyimpan barang bukti

Sisir untuk rambut pubis

Gunting untuk rambut pubis

Tabung pengambilan darah

Kertas saring untuk pengambilan saliva

Lidi kapas dan tabung untuk pengambilan spesimen swab vagina, anus, dan oral

Tabung kultur

Slide mikroskop

Label

Checklist

Mulai dengan proses informed consent

35

Informasi:

Manfaat pemeriksaan

Prosedur yg akan dilakukan

Penyelidikan lanjutan yg diperlukan dan tujuannya

Consent :

Oleh ybs atau keluarga terdekat (proxy consent hanya boleh bila ybs tak
mampu memberikannya)

Anamnesis
Individu, keluarga, sos-ek, dik
Lingkungan hidup
Hubungan dengan pelaku
Rincian peristiwa
Tindakan pra dan pasca
Penyelesaian yg diinginkan
Faktor2 yg berpengaruh
Pemeriksaan fisik
Menyeluruh

Umum

Lokal pada (dugaan) cedera

Ginekologis

Dapat dituntun oleh temuan dalam anamnesa


Berpedoman pada standar
Dapat dibantu dengan pemeriksaan radiologis, usg, dll
Ginekologis
Usahakan agar selalu dilakukan (harus ada consent)
Dysuri, gangguan menstruasi, perdarahan per-vag, masalah seks, nyeri dubur, dll
Cedera di bagian luar : pubis, v / v, perineum, anus
Lakukan seperti pada korban kejahatan seksual

36

Dokumentasi
Deskriptif di rekam medis
Fotografik:

Minta ijin dulu

Skala, warna, sudut pandang

Penyimpanan

Video:
Data medis lain
Pembuktian perkosaan
Bukti kekerasan :

Fisik, racun / obat

Bukti persetubuhan

Bukti penetrasi

Bukti ejakulasi :
Sperma
Cairan mani

Bukti lain
Bukti tentang pelaku
Anamnesa
Riwayat kejadian:
Sebelum
Kenal dengan pelaku? Diberi minuman? Diancam? Dengan kata2 atau dengan senjata?
Diberi iming2/janji2
Selama
Melawan? Pelaku menggunakan kekerasan? Berteriak? Pelaku menggunakan kondom?
Terjadi penetrasi? Terjadi ejakulasi?
Sesudah
Membasuh diri? Mandi? Ganti pakaian? Kencing? Bab? Minum? Sikat gigi?
Riwayat seksual:
Menarche, menstruasi, sudah menikah atau belum? Kb yang dipakai? Jumlah anak? Pernah
aborsi? Dll
Tugas dokter
37

1. Yang harus dicari oleh dokter adalah

Tanda tanda persetubuhan

Tanda-tanda kekerasan

Umur bila korban tidak tau tanggal lahir pasti

Pantas dikawin atau tidak

2. Go to
3. Pembuatan diskripsi luka
4. Pembuatan kesimpulan

Tanda-tanda persetubuhan

Adanya robekan hymen (tidak selalu)

Adanya sperma dan cairan sperma (tidak selalu)

Kehamilan dengan usg, test pack

Pms : go, hiv, sifilis dll

Tanda-tanda kekerasan

Cari luka luka memar biasanya mempunyai tempat predileksi

Ambil darah atau urine untuk toksikologi dan mikrobiologi

Umur, bila klien tidak mengetahui umurnya dengan pasti

Dari gigi

Radiologis

Pantas dikawin atau tidak

Menarche pertama umur berapa?

Tanda kelamin sekunder

Pengumpulan barang bukti. Ingat semuanya harus menggunakan label

38

Pada kasus yang masih baru, buka seluruh pakaian


diatas selembar kertas berukuran 1 m x 1 m, untuk
pemeriksaan lebih lanjut bila diperlukan
Pengumpulan barang bukti lainnya misalnya daun
kering dan tanah yang melekat pada korban
Periksa memar pada mulut dan langit-langit pada
persetubuhan oral.

Pengumpulan barang bukti lainnya untuk pemeriksaan dna = gigi, fingerprint


Bila ada bercak sperma pada tubuh, bila kering kerok dengan skalpel, bila basah gunakan
kapas lidi dan masukkan dalam amplop
Status ginekologis
Indikasi pemeriksaan inspekulo:
1. Di ok dan bila akan dilakukan tindakan
2. Dalam keadaan narkose umum
Pemeriksaan laboratorium

Darah dan urine untuk toksikologi

Napza, hipnotik, alkohol dll

Kehamilan emergency pill

39

Sperma :

Cairannya

Fosfatase asam

Berberio

Florence

Selnya

Dari swab vagina : malachite green

Terjebak dalam kain: baechi

Dna pada kasus-kasus paternitas dan salome

Alat Kelamin dan Payudara


Payudara
Satu atau kedua payudara akan mengalami memar apabila diperlakukan secara kasar.
Mungkin digigit dan cetakan gigi dari si pelaku terlihat jelas, seperti pada kasus Gorringe
putingnya mungkin terlihat seperti bekas digigit.

Pemeriksaan dengan sinar uv

Fosfatase asam

Rambut kemaluan
Sampel diperlukan dan harus diambil pada saat pemeriksaan lanjut karena rambut harus
didapat tanpa pemotongan langsung pada daerah yang dicurigai. Perlengketan dari rambut
dapat disebabkan oleh cairan semen yang mengering. Sampel rambut diperlukan untuk
pembuktian akan hal ini dan juga untuk perbandingan dengan rambut yang ditemukan pada
baju tersangka.
40

Genitalia
Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan secara menyeluruh yang biasa dilakukan,
tetapi padda bagian vulva dan hymen diperlukan pemeriksaan yang lebih lanjut dan teliti.
Vulva
Cedera/trauma pada vulva dapat dilihat dengan adanya sakit pada perabaan, pembengkakan,
kemerahan (perubahan warna dengan sekitar), memar, dan lecet.
Selaput dara
Pemeriksaan selaput darah terutama pada anak, yang sulit dilakukan atau sulit dinilai /
dijangkau difasilitasi dengan penggunaan pemeriksaan tertentu ( Glaister & Rentoul -1966).
Robekan (luka) selaput dara yang masih baru dapat dilihat dengan adanya perdarahan
pembengkakan dan proses inflamasi, tetapi jika sudah terjadi proses penyembuhan luka, perlu
diperhatikan dengan seksama antara robekan selaput dara dengan bentuk bentuk yang tidak
biasa dari selaput darah yang masih utuh.
Liang senggama (Vagina )
Pelebaran dari liang senggama (vagina ) dapat menunjukkan akan adanya persetubuhan, tapi
hal tersebut juga dapat disebabkan oleh masuknya benda asing (seperti tampon). Memar,
lecet atau terkikisnya kulit dapat terjadi karena adanya paksaan dalam persetubuhan dan tidak
menyatakan bahwa hal tersebut sebagai tindakan perkosaan.
Terdapat kasus-kasus menarik tentang robeknya liang senggama yang tidak disebabkan olen
perkosaan. Seperti yang diilustrasikan pada kasus robeknya liang senggama (vagina)
dikarenakan koitus yang biasa, yang dilaporkan oleh Victor Boney (1912). Seorang wanita
dilarikan ke rumah sakit setelah dilaporkan menderita perdarahan dan peritonitis. Robekan
pada fornix posterior sampai peritoneum. Dia sempat disangka melakukan aborsi kriminalis
dengan menggunakan alat bantu (dia adalah seorang wanita yang telah memiliki banyak anak
sebelumnya). Pada kenyataannya perdarahan tersebut terjadi dikarenakan melakukan koitus
dengan posisi berdiri pada saat mabuk. Adapula kasus perforasi vagina yang disebabkan
karena kelemahnya tekstur.
Cairan vagina

41

Cairan vagina dikumpulkan ( swab & fresh smear) terutama untuk menunjang pemeriksaan.
Dapat untuk mendeteksi penyakit sexual yang ditularkan, menemukan sperma, dan cairan
semen untuk mengarahkan akan telah terjadinya persetubuhan

RANGKAIAN PEMERIKSAAN BARANG BUKTI


FAKTOR YANG BERPERAN

Saat/waktu pemeriksaan

Keaslian barang bukti


Semakin cepat didapatkan barang bukti dari si korban, maka keaslian barang
bukti makin bisa dipertahankan.

Teknik pemeriksaan
Teknik pemeriksaan haruslah benar sesuai dengan aturan-aturan yang sudah
ada agar mendapatkan hasil baik untuk dipakai sebagai barang bukti.

Koordinasi dokter dan penyidik


Dokter dan penyidik bekerjasama megumpulkan barang bukti yang terkait
dengan korban/pelaku.

ANALISA LABORATORIUM

IDENTIFIKASI SPERMATOZOA
- Vaginal dan cervic swab
Merupakan cara yang terbaik untuk mendapatkan bukti telah terjadinya
persetubuhan yang masih baru.Akan tetapi, terkadang pada beberapa kasus
sperma bias tidak diketemukan, misalnya pada orang yang sudah vasektomi
atau cairan maninya sendiri tidak mengandung sperma.
- Oral / anal swab
Swab pada bagian rectum rectum/bukal/palatum dengan lidi yang dililiti kapas
lalu diolesi ke kaca objek untuk diperiksa apakah sperma +/-

PEMERIKSAAN ASAM FOSFATASE (KWANTITATIF)


Pemeriksaan ini sangat penting untuk menilai adanya asam fosfatase prostatic.
Pada pemeriksaan ini dapat mengidentifikasikan cairan mani bahkan jika di
dalamnya tidak mengandung sperma.

42

Dengan swab vagina atau pencucian vagina dapat ditentukan juga kadar asam
fosfatase secara kualitatif.
Pada pemeriksaan asam fosfatase secara kuantitatif dapat dipakai sebagai
petunjuk waktu antara saat terjadinya persetubuhan dan pengumpulan bahan
specimen.

PEMERIKSAAN DNA
- Rambut pubis dan kerokan kulit kepala
Harus didapatkan specimen rambut pubis pada korban yaitu bias dengan cara

memotong rambut pada permukaan kulit atau jika perlu


dilakukan pencabutan sampai didapatkan akar rambutnya untuk dilakukan
pemeriksaan dan perbandingan apakah rambut tersebut diduga
milik korban atau si pelaku.
- Jaringan epidermis dan darah (bila ada) dari bawah kuku korban.
Terkadang bisa ditemukan adanya epitel jaringan kulit di bawah kuku si korban atau
bercak darah untuk mekanisme pertahanan.
- Jika korban telah menikah,dengan dilakukannya pemeriksaan DNA ini dapat diketahui
sperma tersebut berasal dari suami atau pelaku.
Keberhasilan Investigasi
Keberhasilan investigasi tergantung 3 faktor yang saling mendukung, yakni korban petugas
kepolisian petugas medis. Petugas kepolisian atau petugas medis yang pertama kali tiba di
tempat kejadian atau menemukan korban harus segera menangani kegawatdaruratan medis.
Bila korban terluka parah, usaha penyelamatan harus menjadi prioritas dibanding hal-hal lain,
seperti interogasi misalnya. Saat korban telah dievakuasi, atau ternyata korban ditemukan
dalam keadaan tak bernyawa, tempat kejadian harus segera diamankan dan penyelidikan
mencari barang bukti segera dilaksanakan. Kalaupun korban tak terluka secara fisik, korban
pasti memerlukan support untuk menangani trauma psikisnya. Akan lebih baik bila korban
ditangani oleh petugas kepolisian wanita.
Perlu juga kerjasama dari pihak korban, karena biasanya korban akan memaksa untuk
diantar / dijemput oleh keluarga / kenalan sehingga seringkali tidak menuju tempat fasilitas
43

medis, atau pemeriksaan yang harusnya dilakukan dengan segera menjadi tertunda dan buktibukti berharga hilang.
PEMERIKSAAN TERHADAP TERSANGKA PELAKU PEMERKOSAAN
Pemeriksaan terhadap tersangka pelaku pemerkosaan dapat menjadi bagian dari syarat
syarat sistem pemeriksaan kejahatan seksual.
Penile washing dilakukan untuk menentukan aktivitas seksual terakhir, sehingga
diharapkan dapat membantu meng-identifikasi kemungkinan kemungkinan pelaku.
Dalam test ini, penis tersangka dicuci dengan saline, lalu hasil dari pencucian tersebut
diwarnai dengan pewarnaan Papanicolaou jika ditemukan sel epitel vagina dan serviks serta
barr body, maka hasil tersebut menandakan adanya persetubuhan yang baru terjadi
Pemeriksaan ini tentu memerlukan inform consent, yang dapat berupa perintah dari
pengadilan.
Izin untuk pemeriksaan terhadap tersangka tidak merupakan patokan utama, seharusnya
didapat oleh dokter serta ditulis dan melalui kesaksian pada pemeriksaan.
Pemeriksa akan menulis tentang usia, ukuran fisik dan bentuk fisik yang terdapat pada
tersangka. Pemeriksaan juga harus menjelaskan jika terdapat luka-luka ( bekas cakaran
kuku/luka lecet, luka memar, dan tanda-tanda yang mengarah kepala perlawanan)
Pemeriksaan cairan semen, bercak sperma pada pakaian diharapkan dapat memberikan
penjelasan. Juga diperlukan pemeriksaan lanjut seperti ukuran penis, apakah pria tersebut
potent/impotent. Akumulasi dari smegma kurang dapat menentukan tetapi robekan pada
frenum mengarahkan atas terjadi hubungan sex. Pemeriksaan bakteriologis juga dapat
dilakukan (penularan penyakit sexual yang terjadi akibat persetubuhan), pemeriksaan sampel
darah juga dapat dilakukan (terutama pada kasus-kasus grouping ). Pemeriksaan terhadap
baju tersangka perlu dilakukan terutama untuk menemukan adanya rambut, darah, bercak.
Jika didapatkan bercak darah maka harus ditentukan milik siapa.
PROSEKUSI TERSANGKA PELAKU KEJAHATAN SEKSUAL
Prosekusi dari kasus kejahatan seksual mungkin adalah prosekusi yang paling sulit dari
keseluruhan pengungkapan kasus kasus kejahatan seksual. Biasanya, hanya sebagian kecil
dari banyak kasus kasus kejahatan seksual yang benar benar sukses di prosekusikan.
44

Pada kasus kasus seperti ini, biasanya tidak ada saksi mata. Seringkali, hanya ada kesaksian
dari korban melawan kesaksian tersangka. Korban sendiri adalah saksi mata yang tidak kuat,
dan bisa saja, korban tidak dapat ditanya.
Dahulu, pada kasus kasus seperti ini, ada ketergantungan yang kuat terhadap bukti bukti
dari tempat kejadian dan sekitarnya, dan sangat sedikit memakai bukti bukti ilmiah. Dengan
investigasi dan pengumpulan barang bukti secara ilmiah yang benar, maka sekarang ini, bukti
bukti ilmiah banyak digunakan, walaupun kesaksian saksi mata tetap menjadi bukti penting.
Petugas polisi yang melakukan investigasi sama bergunanya dengan seorang saksi mata untuk
mendeskripsikan tempat kejadian perkara dan kondisi korban saat pertama kali ditemukan.
Dokter pemeriksa juga dapat menjadi saksi ahli yang tak kalah pentingnya. Selain itu, foto
foto yang juga dapat menjadi bukti yang penting dalam mendemonstrasikan luka dengan
efektif. Dokter sebaiknya diberi kesempatan untuk mengidentifikasikan foto dari korban dan
memperkenalkannya sebagai barang bukti.
Ahli patologi dan ahli laboratorium penting diajukan sebagai saksi ahli karena kesaksian
mereka adalah yang paling teknis dan juri harus yakin kalau mereka berkompetensi untuk
memberikan kesaksian tersebut. Sebaiknya kesaksian tersebut dengan menggunakan kata kata
yang mudah dimengerti oleh juri.
Bagi juri korban adalah saksi yang paling penting karena juri mungkin akan mengabaikan
bukti bukti ilmiah.
Bagi korban mati, ahli patologi yang melakukan pemeriksaan forensik menggantikan korban
sebagai saksi dipengadilan. Deskripsinya tentang luka luka dan hasil dari analisis lab akan
menginformasikan bagaimana perkiraan kejahatan tersebut.
Contoh kesimpulan
Pada pemeriksaan terhadap wanita berusia dua puluh tiga tahun ini ditemukan
robekan baru pada selaput dara pada posisi jam tujuh sampai dasar karena kekerasan
tumpul yang menembus liang senggama (penetrasi). Selanjutnya pada pemeriksaan
laboratorium ditemukan adanya tanda-tanda persetubuhan. Selain itu pada
pemeriksaan fisik ditemukan adanya memar-memar pada badan dan anggota gerak
karena kekerasan tumpul yang menurut sifat dan polanya sesuai dengan luka tangkis.

45

4. Memahami dan Menjelaskan Hukum dan Sanksi Pembunuhan dan Perkosaan


Menurut Islam dan Negara.
Pembunuhan Menurut Islam
Pembunuhan adalah kegiatan/perbuatan menghilangkan nyawa seseorang baik sengaja
maupun tidak sengaja dengan menggunakan alat mematikan maupun tidak. Membunuh
merupakan perbutan yang dilarang ajaran islam. Karena manusia mempunyai hak hidup yang
harus dilindungi dan dihormati, oleh karena itu membunuh dalam ajaran islam dosa besar,
seperti firman Allah SWT :
"Dan janganlah kamu membunuh terhadap jiwa yang diharamkan oleh Allah melainkan
dengan suatu alasan yang benar". ( Qs. al-Isra : 33).
Pembunuhan ada beberaa macam, yaitu :
1. Pembunuhan sengaja
Pembunuh dapat dikatagorikan sebagai pembunuhan sengaja jika memenuhi syaratnya,
yaitu : ada aktivitas membunuh dan ada niat membunuh. Contoh pembunuhan sengaja :
membunuh direncanakan, dll.
2. Pembunuhan seperti sengaja
Syarat pembunuhan ini adalah ada aktivitas membunuh tapi tidak ada niat membunuh, contoh
: A dan B berkelahi di lantai 50, si B mendorong A sampai dia jatuh dari lantai 50.
3. Pembunuhan tidak disengaja
Syaratnya adalah tidak ada aktivitas membunuh (manusia) dan tidak ada pula niat
membunuh, contoh : saat kita berburu kita sudah dapatkan sasarannya, saat kita menembak
ternyata senjata yang kita tembakan meleset sehingga mengenai orang yang ada di
sebelahnya.

Hukuman untuk tiga jenis pembunuhan ini tentu ada dan semuanya sudah diatur oleh islam.
Sanksi-sanksi itu adalah qisos, diyat mugholadoh, diyat mukhofafah dan tentunya dalam tigs
jenis ini berbeda hukumannya.
a) A. Qisos (dengan cara dibunuh kembali) diberikan kepada pembunuh sengaja tapi jika
keluarga korban memaafkan diganti dengan diyat mugholadoh (denda berat), terdapat dalam
surat QS. Al-Baqarah :179
b) Diyat mugholadoh untuk pembunuh seperti sengaja dan pembunuh sengaja (jika dimaafkan
keluarga korban) jumlah diyat mugholadoh yang kita bayarkan sudah diatur oleh Islam dan
bisa diangsur selama tiga bulan ,tedapat dalam dalil yang berbunyi :
"Dan dalam melaksanakan hukum tersalah dan seperti sengaja kalau dengan cambuk dan
tongkat ialah seratus ekor unta, empat puluh diantaranya yang sedang buntung"

(dikeluarkan oleh Abu Daud, an-Nasai dan Ibnu majah)


rincianya seperti berikut :
30 ekor unta betina berumur 3-4 tahun (hiqqah)
30 ekor unta betina berunur 4-5 tahun (jadz'ah)
40 ekor unta betina yang sedang mengandung (khilfah)

46

c) Diyat mukhofafah (denda ringan) untuk pembunuh tidak sengaja sama seperti diyat
mugholadoh yang sudah diatur jumlah dendanya, yaitu 100 ekor unta tapi berbeda pada
jenisnya, berikut rinciannya :
- 20 ekor unta hiqqah
- 20 ekor unta jadz'ah
- 20ekor anak unta betina
- 20ekor anak unta jantan,dan
- 20ekor unta jantan berumur 2-3 tahaun
Diyat bagi orang yang membuat kerusakan atau memotong anggota tubuh orang lain
mendapatkan sanksi berupa diyat mukhofafah, lihat rinciannya :
-

Wajib membayar diyat penuh jika yang dia potong anggota tubuh berpasangan, seperti : dua
tangan, dua kaki, dll.
Wajib membayar setengah diyat jika yang dia potong salah satu dari pasangan anggota tubuh,
seperti satu tangan, satu kaki, dll.
Islam melarang umatnya membunuh seseorang manusia atau seekor binatang sekalipun,
kalau itu tidak berdasarkan kebenaran hukumnya. Dalam Islam orang-orang yang halal darah
atau boleh dibunuh karena perintah hukum dengan prosedurnya adalah orang-orang murtad,
yaitu orang-orang Islam yang berpindah agama dari Islam ke agama lainnya, sesuai dengan
hadis Rasulullah saw: Man baddala diynuhu faqtuluwhu (barangsiapa yang menukar
agamanya maka bunuhlah dia). Ketentuan ini dilakukan setelah orang murtad itu diajak
kembali ke agama Islam selama batas waktu tiga hari, kalau selama itu dia tidak juga sadar
baru dihadapkan ke pengadilan.
Yang halal darah juga adalah pembunuh, bagi dia berlaku hukum qishash yakni
diberlakukan hukuman balik oleh yang berhak atau negara melalui petugasnya.
Penzina muhshan (yang sudah kawin) adalah satu pihak yang halal darah juga dalam Islam
melalui eksekusi rajam, mengingat jelek dan bahayanya perbuatan dia yang sudah kawin
tetapi masih berzina juga. Semua pihak yang halal darah tersebut harus dieksekusi mengikut
prosedur yang telah ada dan tidak boleh dilakukan oleh seseorang yang tidak punya otaritas
baginya.
Selain dari tiga pihak tersebut dengan ketentuan dan prosedurnya masing-masing tidak
boleh dibunuh, sebagaimana firman Allah swt: ...wala taqtulun nafsal latiy harramallahu illa
bilhaq... (...jangan membunuh nyawa yang diharamkan Allah kecuali dengan kebenaran...)
(QS. al-Anam: 151). Larangan ini berlaku umum untuk semua nyawa baik manusia maupun
hewan, kecuali yang dihalalkan Allah sebagaimana terhadap tiga model manusia di atas tadi
atau hewan nakal yang mengganggu manusia dan hewan yang disembelih dengan nama
Allah.
Allah memberi perumpamaan terhadap seorang pembunuh adalah: ...barangsiapa yang
membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan
karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia
seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolaholah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya... (QS. Al-Maidah: 32).

47

Pemerkosaan Menurut Islam


Umar menegaskan, sanksi yang diterapkan oleh Islam terhadap pelaku sangat keras. Sanksi
itu tetap berlaku, meskipun sang pelaku berkenan menikahi korban. Dari segi hukuman, para
ulama sepakat hukum pemerkosa seperti sanksi atas pelaku zina, yaitu had.
Jika pelaku menikah dan beristri, hukumnya ialah rajam. Sedangkan bila yang bersangkutan
masih lajang, ia harus dicambuk 100 kali dan diasingkan selama setahun.
Menurut Imam Malik, selain hukuman itu maka pelaku wajib membayar ganti rugi dari
mahar. Sanksi tersebut hanya dijatuhkan pada pelaku. Sementara korban, tidak menerima
hukuman yang sama.
Syekh Sulaiman al-Baji mengatakan pendapat ini juga diamini Imam Syafii, Imam Laits dan
salah satu riwayat dari Ali bin Abi Thalib. Namun, di kalangan Mazhab Hanafi, pelaku tidak
wajib membayar mahar.
Dalam kitab al-Istidzkar, Ibn Abdil Barr, menegaskan para ulama sepakat hukum had atas
pelaku perkosaan jika bukti-bukti kuat menyatakan bahwa yang bersangkutan adalah
pelakunya.
Jika tidak terbukti, lantaran sanggahan tersangka maka hakim tetap bisa menjatuhkan
hukuman berupa takzir yang bisa membuatnya takut dan jera. Ini berdasarkan pertimbangan
sebagai pelajaran bagi khalayak.
Maraknya kasus perkosaan dengan kekerasaan dan intimidasi senjata, kata Ibn Abdul Barr,
pada dasarnya juga menjadi perhatian Islam. Justru, sanksi atas para pelaku dalam kasus ini
sangat besar.
Hakim bisa menjatuhkan hukuman mati, salib, dan pemotongan tangan. Kejahatan mereka
termasuk kategori pembuat onar dan teror di muka bumi.
Sanksi tersebut sesuai dengan ayat, Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang
memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka
dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau
dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan
untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS al-Maidah
[5]: 3).
Ia menambahkan, sanksi serupa juga berlaku bagi para pemerkosa anak di bawah umur.
Bahkan, hakim memiliki kewenangan untuk menjatuhkan langsung sanksi mati pada kasus
perkosaan di bawah umur.

Aborsi dalam islam


Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami
akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati
perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang Nampak diantaranya maupun yang
tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah
48

(membunuhnya), melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. (QS. Al-Anaam,


6:151)
Dan barang siapa yang membunuh seorang mumin dengan sengaja maka
balasannya ialah Jahanam dan ia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya dan
mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS. An-Nisaa, 4:93)
Jadi, karena tidak ada nash yang langsung mengenai hukum aborsi, maka dapat dilakukan
ijtihad. Ijtihad merupakan sumber hukum ke-4 setelah Al-Quran, hadits/sunnah, dan ijma
sahabat.

Pembunuhan Menurut Negara


Pembunuhan secara terminologi berarti perkara membunuh, atau perbuatan membunuh.
Sedangkan dalam istilah KUHP pembunuhan adalah kesengajaan menghilangkan nyawa
orang lain.
Tindak pidana pembunuhan dianggap sebagai delik material bila delik tersebut selesai
dilakukan oleh pelakunya dengan timbulnya akibat yang dilarang atau yang tidak
dikehendaki oleh Undang-undang.
Dalam KUHP, ketentuan-ketentuan pidana tentang kejahatan yang ditujukan terhadap nyawa
orang lain diatur dalam buku II bab XIX, yang terdiri dari 13 Pasal, yakni Pasal 338 sampai
Pasal 350.
Bentuk kesalahan tindak pidana menghilangkan nyawa orang lain ini dapat berupa sengaja
(dolus) dan tidak sengaja (alpa). Kesengajaan adalah suatu perbuatan yang dapat terjadi
dengan direncanakan terlebih dahulu atau tidak direncanakan. Tetapi yang penting dari suatu
peristiwa itu adalah adanya niat yang diwujudkan melalui perbuatan yang dilakukan sampai
selesai. Berdasarkan unsur kesalahan, tindak pidana pembunuhan dapat dibedakan menjadi:
Pertama, Pembunuhan Biasa
Tindak pidana yang diatur dalam Pasal 338 KUHP merupakan tindak pidana dalam bentuk
pokok (Doodslag In Zijn Grondvorm), yaitu delik yang telah dirumuskan secara lengkap
dengan semua unsur-unsurnya.
Adapun rumusan Pasal 338 KUHP adalah:
Barangsiapa sengaja merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan, dengan
pidana penjara paling lama lima belas tahun
Sedangkan Pasal 340 KUHP menyatakan:
Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain
diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana
penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.
Pada pembunuhan biasa ini, Pasal 338 KUHP menyatakan bahwa pemberian sanksi atau
hukuman pidananya adalah pidana penjara paling lama lima belas tahun. Di sini disebutkan
paling lama jadi tidak menutup kemungkinan hakim akan memberikan sanksi pidana kurang
dari lima belas tahun penjara.
Dari ketentuan dalam Pasal tersebut, maka unsur-unsur dalam pembunuhan biasa adalah
sebagai berikut :
49

Unsur subyektif: perbuatan dengan sengaja. Dengan sengaja (Doodslag) artinya bahwa
perbuatan itu harus disengaja dan kesengajaan itu harus timbul seketika itu juga, karena
sengaja (opzet/dolus) yang dimaksud dalam Pasal 338 adalah perbuatan sengaja yang telah
terbentuk tanpa direncanakan terlebih dahulu, sedangkan yang dimaksud sengaja dalam Pasal
340 adalah suatu perbuatan yang disengaja untuk menghilangkan nyawa orang lain yang
terbentuk dengan direncanakan terlebih dahulu (Met voorbedachte rade).
Unsur obyektif : perbuatan menghilangkan, nyawa, dan orang lain. Unsur obyektif yang
pertama dari tindak pembunuhan, yaitu menghilangkan, unsur ini juga diliputi oleh
kesengajaan; artinya pelaku harus menghendaki, dengan sengaja, dilakukannya tindakan
menghilangkan tersebut, dan ia pun harus mengetahui, bahwa tindakannya itu bertujuan
untuk menghilangkan nyawa orang lain.
Berkenaan dengan nyawa orang lain maksudnya adalah nyawa orang lain dari si pembunuh.
Terhadap siapa pembunuhan itu dilakukan tidak menjadi soal, meskipun pembunuhan itu
dilakukan terhadap bapak/ibu sendiri, termasuk juga pembunuhan yang dimaksud dalam
Pasal 338 KUHP.
Dari pernyataan ini, maka undang-undang pidana kita tidak mengenal ketentuan yang
menyatakan bahwa seorang pembunuh akan dikenai sanksi yang lebih berat karena telah
membunuh dengan sengaja orang yang mempunyai kedudukan tertentu atau mempunyai
hubungan khusus dengan pelaku.
Berkenaan dengan unsur nyawa orang lain juga, melenyapkan nyawa sendiri tidak termasuk
perbuatan yang dapat dihukum, karena orang yang bunuh diri dianggap orang yang sakit
ingatan dan ia tidak dapat dipertanggung jawabkan.
Kedua, Pembunuhan Dengan Pemberatan (Gequalificeerde Doodslag) Hal ini diatur Pasal
339 KUHP yang bunyinya sebagai berikut :
Pembunuhan yang diikuti, disertai, atau didahului oleh kejahatan dan yang dilakukan
dengan maksud untuk memudahkan perbuatan itu, jika tertangkap tangan, untuk melepaskan
diri sendiri atau pesertanya daripada hukuman, atau supaya barang yang didapatkannya
dengan melawan hukum tetap ada dalam tangannya, dihukum dengan hukuman penjara
seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.
Perbedaan dengan pembunuhan Pasal 338 KUHP ialah: diikuti, disertai, atau didahului oleh
kejahatan. Kata diikuti (gevold) dimaksudkan diikuti kejahatan lain. Pembunuhan itu
dimaksudkan untuk mempersiapkan dilakukannya kejahatan lain.
Ketiga, Pembunuhan Berencana (Moord)
Tindak pidana ini diatur dalam Pasal 340 KUHP, unsur-unsur pembunuhan berencana adalah;
unsur subyektif, yaitu dilakukan dengan sengaja dan direncanakan terlebih dahulu, unsur
obyektif, yaitu menghilangkan nyawa orang lain.
Jika unsur-unsur di atas telah terpenuhi, dan seorang pelaku sadar dan sengaja akan
timbulnya suatu akibat tetapi ia tidak membatalkan niatnya, maka ia dapat dikenai Pasal 340
KUHP.
Ancaman pidana pada pembunuhan berencana ini lebih berat dari pada pembunuhan yang ada
pada Pasal 338 dan 339 KUHP bahkan merupakan pembunuhan dengan ancaman pidana
paling berat, yaitu pidana mati, di mana sanksi pidana mati ini tidak tertera pada kejahatan
terhadap nyawa lainnya, yang menjadi dasar beratnya hukuman ini adalah adanya
perencanaan terlebih dahulu. Selain diancam dengan pidana mati, pelaku tindak pidana

50

pembunuhan berencana juga dapat dipidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu
paling lama dua puluh tahun.
Keempat, Pembunuhan yang Dilakukan dengan Permintaan yang Sangat dan Tegas oleh
Korban Sendiri.
Jenis kejahatan ini mempunyai unsur khusus, atas permintaan yang tegas (uitdrukkelijk) dan
sungguh-sungguh/ nyata (ernstig). Tidak cukup hanya dengan persetujuan belaka, karena hal
itu tidak memenuhi perumusan Pasal 344 KUHP.
Pembunuhan tidak sengaja.
Tindak pidana yang di lakukan dengan tidak sengaja merupakan bentuk kejahatan yang
akibatnya tidak dikehendaki oleh pelaku. Kejahatan ini diatur dalam Pasal 359 KUHP,
Terhadap kejahatan yang melanggar Pasal 359 KUHP ini ada dua macam hukuman yang
dapat dijatuhkan terhadap pelakunya yaitu berupa pidana penjara paling lama lima tahun atau
pidana kurungan paling lama satu tahun.
Ketidaksengajaan (alpa) adalah suatu perbuatan tertentu terhadap seseorang yang beraki bat
matinya seseorang. Bentuk dari kealpaan ini dapat berupa perbuatan pasif maupun aktif.
Dalam perilaku sosial, tindak kejahatan merupakan prilaku menyimpang, yaitu tingkah laku
yang melanggar atau menyimpang dari aturan-aturan pengertian normatif atau dari harapanharapan lingkungan sosial yang bersangkutan. Dan salah satu cara untuk mengendalikan
adalah dengan sanksi pidana.
Hakikat dari sanksi pidana adalah pembalasan, sedangkan tujuan sanksi pidana adalah
penjeraan baik ditujukan pada pelanggar hukum itu sendiri maupun pada mereka yang
mempunyai potensi menjadi penjahat. Selain itu juga bertujuan melindungi masyarakat dari
segala bentuk kejahatan dan pendidikan atau perbaikan bagi para penjahat.
Adapun sanksi tindak pidana pembunuhan sesuai dengan KUHP bab XIX buku II adalah
sebagai berikut :
1. Pembunuhan biasa, diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya lima belas
tahun.
2. Pembunuhan dengan pemberatan, diancam dengan hukuman penjara seumur hidup
atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun
3. Pembunuhan berencana, diancam dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup
atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun
4. Pembunuhan bayi oleh ibunya, diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya
tujuh tahun
5. Pembunuhan bayi oleh ibunya secara berencana, diancam dengan hukuman penjara
selama-lamanya sembilan tahun
6. Pembunuhan atas permintaan sendiri, bagi orang yang membunuh diancam dengan
hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun
7. Penganjuran agar bunuh diri, jika benar-benar orangnya membunuh diri pelaku
penganjuran diancam dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun.
Pemerkosaan Menurut Negara
Dalam ketentuan yang mengatur mengenai bentuk perbuatan dan pemidanaannya terdapat
51

dalam pasal 285 KUHP. Dirumuskan dalam pasal tersebut : Barangsiapa dengan kekerasan
atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan,
diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
Berdasarkan rumusan dalam pasal 285 KUHP tersebut di atas, maka dapat diuraikan unsurunsur tindak pidana perkosaan sebagai berikut:
a.

Barangsiapa

b.

Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan

c.

Memaksa

d.

Seorang wanita bersetubuh dengan dia

e.

Diluar perkawinan
Didalam rumusan Undang-undang tidak mensyaratkan keharusan adanya unsur kesengajaan
pada diri pelaku dalam melakukan perbuatan yang dilarang didalam Pasal 285 KUHP, tetapi
dengan dicantumkannya unsur memaksa didalam rumusan ketentuan pidana yang diatur
dalam Pasal 285 KUHP tersebut, kiranya sudah jelas bahwa tindak pidana perkosaan seperti
yang dimaksudkan dalam Pasal 285 KUHP itu harus dilakukan dengan sengaja. Karena
seperti yang telah kita ketahui, bahwa tindak pidana perkosaan dalam Pasal 285 KUHP harus
dilakukan dengan sengaja, dengan sendirinya unsur kesengajaan tersebut harus dibuktikan
baik oleh penuntut umum maupun oleh hakim disidang pengadilan yang memeriksa dan
mengadili perkara pelaku yang oleh penuntut umum telah didakwa melanggar
larangan yang diatur dalam Pasal 285 KUHP.
Sanksi hukuman berupa pemidanaan yang terumus dalam Pasal 285 KUHP tersebut
menyebutkan bahwa paling lama hukuman yang akan ditanggung oleh pelaku adalah dua
belas tahun penjara, apabila mengakibatkan matinya perempuan diancam pidana penjara lima
belas tahun. Hal ini adalah ancaman hukuman maksimal, dan bukan sanksi hukum yang
sudah dibakukan harus ditetapkan begitu. Sanksi minimalnya tidak ada, sehingga terhadap
pelaku dapat diterapkan berapapun lamanya hukuman penjara sesuai dengan selera yang
menjatuhkan vonis.
R. Soesilo mengatakan bahwa yang diancam hukuman dalam Pasal 285 KUHP tentang
perkosaan adalah dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang
bukan istrinya bersetubuh dengannya. Dari Pasal 285 ini juga dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:

a. Korban perkosaan harus seorang wanita tanpa batas umur;


b. Korban harus mengalami kekerasan atau ancaman kekerasan. Hal ini berarti tidak ada
persetujuan dari pihak korban mengenai niat dan tindakan pelaku.
Berdasarkan penjelasan di atas jelaslah bahwa perkosaan itu dilakukan dengan kekerasan atau
ancaman kekerasan sehingga korban pingsan atau tiada berdaya lagi untuk mengadakan
perlawanan terhadap pelaku sebelum maupun sesudah dia diperkosa. Apabila perbuatan itu
dilakukan tanpa kekerasan atau ancaman kekerasan, maka perbuatan itu tidak dapat
digolongkan kedalam pengertian perkosaan tetapi termasuk dalam pengertian persetubuhan
suka sama suka.
52

Rumusan Pasal 285 KUHP tentang larangan perkosaan tersebut dalam kenyataannya tidak
relevan dengan makna perbuatan perkosaan itu sendiri. Dalam rumusan tersebut hanya
perbuatan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memaksa seorang wanita
bersetubuh diluar perkawinan lah yang dikategorikan sebagai perkosaan. Perbuatan dengan
kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memaksa seorang wanita yang terikat perkawinan
untuk melakukan persetubuhan, tidak dapat dikategorikan sebagai perkosaan, padahal
pemaksaan atau kekerasan untuk melakukan persetubuhan seharusnya dikategorikan sebagai
perbuatan yang dilarang, karena menafsirkan adanya penghargaan atas kemanusiaan
seseorang yang paling esensial berupa adanya persetujuan untuk melakukan perbuatan yang
teramat intim, baik itu diluar atau didalam perkawinan. Dengan merumuskan hal itu, Pasal
285 KUHP telah menyatakan bahwa perempuan yang telah terikat perkawinan tidak lagi
memiliki hakekat kemanusiaan untuk melakukan
persetujuan persetubuhan, atau tidak perlu lagi dimintai persetujuannya.
Dalam tindak pidana penganiayaan istilah yang digunakan KUHP untuk tindak pidana
terhadap tubuh. Namun KUHP sendiri tidak memuat arti penganiayaan tersebut. Maksud dari
pada penganiayaan ialah kesenganjaan
menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan luka pada tubuh orang lain.
Dalam ketentuan Pasal 351 KUHP secara tegas merumuskan bahwa :
1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau
denda paling banyak tiga ratus rupiah.
2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat yang bersalah dikenakan pidana penjara paling
lama lima tahun.
3) Jika mengakibatkan mati, dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
4) Dengan penganiayaan disamakan merusak kesehatan.
5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
Rumusan dalam ketentuan Pasal 351 KUHP di atas terlihat bahwa rumusan tersebut tidak
memberikan kejelasan tentang perbuatan apa yang dimaksudnya. Ketentuan Pasal 351 KUHP
tersebut hanya merumuskan kualifikasinya saja dan pidana yang diancamkan. Tindak pidana
dalam Pasal 351 KUHP dikualifikasi sebagai penganiayaan.

53

DAFTAR PUSTAKA

Amir A. Infanticide. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran Forensik. Fakultas Kedokteran


Universitas Sumatera Utara. Medan. 1995: 143 55.
Idries A.M. Infanticide. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Penerbit
Binarupa Aksara. 1997: 256 69.
DiMaio, Vincent & Dominick. 2001. Forensic Pathology second edition. Florida: CRC press
Idries, Abdul M. 2008. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan.
Jakarta: sagung seto
Budiyanto A, widiatmaka W, Sudiono S, Mun'im TWA, Sidhi, Hertian S et al. Ilmu
Kedokteran forensik. Jakarta, Indonesia : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 1997.
Budiyanto A, widiatmaka W, Sudiono S, Mun'im TWA, Sidhi, Hertian S et al. Teknik Autopsi
Forensik. Jakarta, Indonesia : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2000.

54