Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS

SMF INTERNA
Seorang penderita dengan melena

Disusun Oleh :
Erland Benedicty / 15710083
Pembimbing :
Dr. Johannes V. Lucida Sp.PD

KEPANITERAAN KLINIK
FK UWKS DI RSUD KABUPATEN SIDOARJO
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmat-Nya
sehingga saya dapat menyusun dan menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Seorang
penderita dengan Melena.
Penyusunan laporan kasus ini merupakan kegiatan Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit
Dalam RSUD Sidoarjo, sekaligus sebagai salah satu persyaratan dan merupakan tugas akhir
dalam menyelesaikan Pendidikan Dokter Muda di bidang Ilmu Penyakit Dalam di Fakultas
Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya/RSUD Sidoarjo. Ucapan terima kasih
kepada berbagai pihak yang telah memberikan arahan dan saran dalam penyusunan referat ini
khususnya kepada :
1

dr. Johannes V. Lucida, Sp.PD. FINASIM, selaku kepala SMF Ilmu Penyakit Dalam

RSUD Sidoarjo.
dr. Johannes V. Lucida, selaku Pembimbing Laporan Kasus dan Kepaniteraan Klinik

Ilmu Penyakit Dalam di RSUD Sidoarjo.


Para Perawat dan staf RSUD Sidoarjo yang telah membantu untuk menyelesaikan

Laporan Kasus ini.


Seluruh teman sejawat Dokter Muda Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya
Kusuma Surabaya / RSUD Sidoarjo.

Saya menyadari bahwa Laporan Kasus ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik
dan saran yang membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan. Akhirnya, saya berharap
semoga Laporan Kasus ini bermanfaat.

Sidoarjo, Agustus 2015


Penyusun

BAB I

LAPORAN KASUS
1.1 Identitas Penderita
Nama Penderita
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Suku
Pekerjaan
Pendidikan
Status
Alamat
Tanggal MRS
Tanggal Pemeriksaan
Tanggal KRS
No.Rekam Medik

: Tn. Djiadi
: 55 tahun
: laki-laki
: islam
: jawa
: Satpam
: SMA
: Menikah
: Sidokepung 17/4 buduran sidoarjo
: 25 8 - 2015
: 25 8 - 2015
: : 1696895

1.2 Anamnesis
Anamnesis dilakukan terhadap pasien dan keluarga pasien
A Keluhan Utama
:
Lemas dan BAB hitam
B Riwayat Penyakit Sekarang :
Lemas
Pasien MRS di IGD tanggal 25 agustus 2015 pukul 14.00 dengan terasa lemas. lemas
dirasakan kurang lebih 2 hari yang lalu .
BAB hitam
BAB hitam dikeluhkan sejak 2 hari yang lalu, BAB berwarna hitam , lembek dan ada
ampasnya,
Pusing
Pasien mengeluh pusing berputar dirasakan sejak 2 hari yang lalu
Mual muntah
Pasien tidak mengeluhkan adanya mual dan muntah
Anoreksia
Pasien juga mengeluh nafsu makan menurun.
C Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah menderita BAB hitam seperti ini,
Riwayat diabetes mellitus dan darah hipertensi disangkal oleh pasien.
D Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang BAB hitam seperti ini.
E Riwayat Pengobatan

Pasien belum pernah berobat


F Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien sering minum kopi dan makan makanan pedas

1.3 Pemeriksaan Fisik


Dilakukan pada tanggal 25 agustus 2015 di Ruang Mawar Putih
a Keadaan Umum : Baik
b Kesadaran
: Compos Mentis
c Tanda Vital
: TD
: 120/70 mmHg
N
: 80 x/menit
RR
: 24 x/menit
Suhu
: 36 C
d Kepala
Bentuk
: Bulat, simetris
Rambut
: Warna hitam
Mata
:Konjungtiva anemis, sklera anikterik, lensa keruh, pupil
isokor, reflek cahaya (+/+), tidak ada edema pada daerah
Hidung
Telinga
Mulut
e

Leher
Inspeksi
Palpasi

palpebra pada kedua mata


:Tidak ada sekret, tidak ada bau, tidak ada perdarahan
:Tidak ada sekret, tidak ada bau, tidak ada perdarahan
: Tidak sianosis , tidak ada gusi berdarah

: Simetris, tidak tampak pembesaran KGB leher


: Tidak teraba pembesaran KGB leher
Tidak ditemukan pembesaran JVP

Jantung dan Sistem Kardiovaskuler


Inspeksi :
Iktus cordis : tak tampak
Pulsasi jantung : tak tampak
Palpasi :

Iktus cordis
: tak teraba
Pulsasi jantung : tak teraba
Suara yang teraba : tidak ada
Getaran (thrill)
: tidak ada

Perkusi :

Tidak dilakukan

Auskultasi :

Suara 1 : tunggal regular


Suara 2 : tunggal regular
Murmur (-)
Gallop (-)

Paru
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: simetris kanan kiri , tidak ada pelebaran antar ICS


: fremitus raba normal , fremitus vokal normal
: normal Sonor di seluruh lapang paru

Auskultasi

:
Wh:

e
si
h

Abdomen

ul
er
Ves
ikul +
er
Ves
ikul +
i

er
Superior

r
S

r
S

r
S

r
S

Inspeksi

Auskultasi

Perkusi

metorismus (-) ascites (-)

Palpasi

pembesaran organ (-)


Ektremitas
: Akral hangat + / +
Edema - / -

Inferior

Rh:

: Akral hangat + / +
Edema - / -

: Flat (+)
: Bising usus (+) normal
:

Tympani

(+)

: Nyeri tekan (-)

Pemeriksaan Penunjang
Hasil Laboratorium
Hasil laboratorium pada tanggal 26 27 Juli 2015
Jenis Pemeriksaan
Hasil
Pemeriksaan tanggal
25 agustus 2015
Darah Lengkap
WBC (Leukosit)
RBC (Eritroit)
HGB (Hemoglobin)
HCT (Hematokrit)
PLT (Trombosit)
MCV
MCH
MCHC
RDW-SD
RDW-CV
PDW
MPV
P-LCR
PCT
EO%
BASO%
NEUT %
LYMPH%

10,1
1,40
4,0
11,5
324
74,5
26,5
35,3
15.2
10,5
9,5
21,3
0,24
0,03
0.1
0,98
56,9
30,1

Normal

4.8 - 10.8 103/uL


4.2 - 6.1 106/uL
12 - 18 g/dl
37 - 52 %
150 - 450 103/uL
79 - 99 fl
27 - 31 pg
33 - 37 g/dL
35 - 47 fl
11.5 - 14.5 %
9 - 17 fl
9 - 13 fl
13 - 43 %
0.150 0.400 %
01%
01%
50 - 70%
25 - 40%

Jenis Pemeriksaan
Hasil
Pemeriksaan tanggal

Normal

25 Juli 2015
Pemeriksaan

Hasil

Normal

114

<140 mg/dl

8,9

6-23 mg/dl

0,9

0,7 1,2 mg/dl

141
3,6
108

137 145 mmol/L


3,6 5 mmol/L
98 107 mmol/L

Pemeriksaan gula darah


sewaktu
BUN
Creatinin
ELEKTROLIT
Natrium
Kalium
Chlorida

Problem list

Lemas
BAB hitam
pusing
Badan lemas dan nafsu makan menurun

Diagnosis
Melena & anemia gravis

Planning
Planning Terapi
- Inf. RL 14 tpm
- Inj. Ranitidin 2x1
- Inj. Ozid 2x1
- Inj. Ondancentron 8 mg 3x1
- Inj. Vit K 3x1
- Inj, Kalnex 3x1
- Syr. Sucralfat 3 x cII
- Transfusi PRC 2 bag sampai Hb > 8 g/dl

Planning monitoring
Evaluasi vital sign ( Tekanan darah, RR, nadi, dan suhu) dan keadaan pasien.
Evaluasi efek samping obat
Planning edukasi

Menjelaskan pada pasien dan keluarga mengenai penyakitnya.

Menjelaskan mengenai lama dan tahapan pengobatan.

Menjelaskan mengenai efek samping obat.

Menjelaskan komplikasi dari penyakit ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi sistem pencernaan

Diagram sistem pencernaan


1. Kelenjar ludah

12.Hati

2. Parotis

13.Kantung empedu

3. Submandibularis (bawah

14.duodenum

rahang)
15.Saluran empedu
4. Sublingualis (bawah lidah)
16.Kolon
5. Rongga mulut
17.Kolon transversum
6. Amandel
18.Kolon ascenden
7. Lidah
19.Kolon descenden
8. Esofagus
20.Ileum
9. Pankreas
21.Sekum
10.Lambung
22.Appendiks/Umbai cacing
11.Saluran pankreas

23.Rektum/Poros usus

24.Anus

25.

- Mulut adalah suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan

dan air pada manusia. Mulut biasanya terletak di kepala dan umumnya
merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir di
anus. Mulut terdiri dari gigi dan lidah.

26.

Bagian-bagian yang terdapat dalam mulut:

Gigi (dens),

27. Gigi fungsinya untuk menggigit, mengunyah, mencabik. Gigi terdiri dari gigi seri,
taring, susu dan geraham.

Lidah (lingua) adalah kumpulan otot rangka pada bagian lantai mulut yang
dapat membantu pencernaan makanan dengan mengunyah dan menelan.
Berfungsi untuk:

1. sebagai indera pengecap/perasa


2. mengaduk makanan di dalam rongga mulut
3. membantu proses penelanan
4. membantu membersihkan mulut
5. membantu bersuara/berbicara

Ludah (saliva) dihasilkan oleh kelenjar ludah

28. Di dalam lidah terdapat enzim amilase yaitu enzim yang mengubah zat tepung
menjadi zat gula

29.

30.
31. - Esofagus atau kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada yang dilalui
sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan berjalan
melalui esofagus dengan menggunakan proses peristaltik.
32. Esofagus bertemu dengan faring yang menghubungkan esofagus dengan rongga
mulut pada ruas ke-6 tulang belakang. Menurut histologi, esofagus dibagi menjadi
tiga bagian: bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka), bagian tengah
(campuran otot rangka dan otot polos), serta bagian inferior (terutama terdiri dari otot
polos).
33. Pada beberapa penyakit kronis seperti pada Sirosis Hati, pembuluh darah esofagus
bisa mengalami pelebaran yang di sebut varises esofagus.

34.
35. - Lambung / stomach berupa suatu kantong yang terletak di bawah sekat rongga
badan.
36. Fungsi lambung secara umum adalah tempat di mana makanan dicerna dan sejumlah
kecil sari-sari makanan diserap. Lambung dapat dibagi menjadi tiga daerah, yaitu
daerah
1. Kardia.
2. Fundus.
3. Pilorus.

37. 1. Kardia adalah bagian atas, daerah pintu masuk makanan dari kerongkongan itu
sendiri .
38. 2. Fundus adalah bagian tengah, bentuknya membulat.
39. 3. Pilorus adalah bagian bawah, daerah yang berhubungan dengan usus 12 jari atau
sering disebut duodenum.
40. Dinding lambung tersusun menjadi empat lapisan, yakni :
1. Mucosa.
2. Submucosa.
3. Muscularis.
4. Serosa.

41. 1. Mucosa ialah lapisan dimana sel-sel mengeluarkan berbagai jenis cairan, seperti
enzim, asam lambung, dan hormon. Lapisan ini berbentuk seperti palung untuk
memperbesar perbandingan antara luas dan volume sehingga memperbanyak volume
getah lambung yang dapat dikeluarkan.
42. 2. Submucosa ialah lapisan dimana pembuluh darah arteri dan vena dapat ditemukan
untuk menyalurkan nutrisi dan oksigen ke sel-sel perut sekaligus untuk membawa
nutrisi yang diserap, urea, dan karbon dioksida dari sel-sel tersebut.
43. 3. Muscularis adalah lapisan otot yang membantu perut dalam pencernaan mekanis.
Lapisan ini dibagi menjadi 3 lapisan otot, yakni otot melingkar, memanjang, dan
menyerong. Kontraksi dan ketiga macam lapisan otot tersebut mengakibatkan

44. 4. gerak peristaltik (gerak menggelombang). Gerak peristaltik menyebabkan


makanan di dalam lambung diaduk-aduk. Lapisan terluar yaitu serosa berfungsi
sebagai lapisan pelindung perut. Sel-sel di lapisan ini mengeluarkan sejenis cairan
untuk mengurangi gaya gesekan yang terjadi antara perut dengan anggota tubuh
lainnya.
45. Di lapisan mucosa terdapat 3 jenis sel yang berfungsi dalam pencernaan, yaitu :
1. Sel goblet (goblet cell).
2. Sel parietal (parietal cell).
3. Sel chief (chief cell).

46. 1. Sel goblet berfungsi untuk memproduksi mucus atau lendir untuk menjaga lapisan
terluar sel agar tidak rusak karena enzim pepsin dan asam lambung.
47. 2. Sel parietal berfungsi untuk memproduksi asam lambung [Hydrochloric acid]
yang berguna dalam pengaktifan enzim pepsin. Diperkirakan bahwa sel parietal
memproduksi 1.5 mol dm-3 asam lambung yang membuat tingkat keasaman dalam
lambung mencapai pH 2.
48. 3. Sel chief berfungsi untuk memproduksi pepsinogen, yaitu enzim pepsin dalam
bentuk tidak aktif. Sel chief memproduksi dalam bentuk tidak aktif agar enzim
tersebut tidak mencerna protein yang dimiliki oleh sel tersebut yang dapat
menyebabkan kematian pada sel tersebut.
49. Di bagian dinding lambung sebelah dalam terdapat kelenjar-kelenjar yang
menghasilkan getah lambung. Aroma, bentuk, warna, dan selera terhadap makanan

secara refleks akan menimbulkan sekresi getah lambung. Getah lambung mengandung
asam lambung (HCI), pepsin, musin, dan renin. Asam lambung berperan sebagai
pembunuh mikroorganisme dan mengaktifkan enzim pepsinogen menjadi pepsin.

Pepsin merupakan enzim yang dapat mengubah protein menjadi molekul


yang lebih kecil.

Musin merupakan mukosa protein yang melicinkan makanan.

Renin merupakan enzim khusus yang hanya terdapat pada mamalia,


berperan sebagai kaseinogen menjadi kasein. Kasein digumpalkan oleh
Ca2+ dari susu sehingga dapat dicerna oleh pepsin. Tanpa adanya renim
susu yang berwujud cair akan lewat begitu saja di dalam lambuing dan
usus tanpa sempat dicerna.

HCl(Asam Klorida) merupakan enzim yang berguna untuk membunuh


kuman dan bakteri pada makanan.

50. Kerja enzim dan pelumatan oleh otot lambung mengubah makanan menjadi lembut
seperti bubur, disebut chyme (kim) atau bubur makanan. Otot lambung bagian pilorus
mengatur pengeluaran kim sedikit demi sedikit dalam duodenum. Caranya, otot
pilorus yang mengarah ke lambung akan relaksasi (mengendur) jika tersentuk kim
yang bersifat asam.
51. Sebaliknya, otot pilorus yang mengarah ke duodenum akan berkontraksi (mengerut)
jika tersentuh kim. Jadi, misalnya kim yang bersifat asam tiba di pilorus depan, maka
pilorus akan membuka, sehingga makanan lewat. Oleh karena makanan asam
mengenai pilorus belakang, pilorus menutup. Makanan tersebut dicerna sehingga
keasamanya menurun.

52. Makanan yang bersifat basa di belakang pilorus akan merangsang pilorus untuk
membuka. Akibatnya, makanan yang asam dari lambung masuk ke duodenum.
Demikian seterusnya. Jadi, makanan melewati pilorus menuju duodenum segumpal
demi segumpal agar makanan tersebut dapat tercerna efektif. Setelah 2 sampai 5 jam,
lambung kosong kembali.

53.
54.
55. - Usus dua belas jari / duodenum adalah bagian dari usus halus yang terletak setelah
lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum) dengan panjang antara
25-38cm. Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus,
dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz.
56. Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang tidak terbungkus
seluruhnya oleh selaput peritoneum. pH usus dua belas jari yang normal berkisar pada
derajat sembilan.
57. Nama duodenum berasal dari bahasa Latin duodenum digitorum, yang berarti dua
belas jari.
58.Usus dua belas jari bertanggung jawab untuk menyalurkan makanan ke
usus halus. Secara histologis, terdapat kelenjar Brunner yang
menghasilkan lendir. Dinding usus dua belas jari tersusun atas lapisanlapisan sel yang sangat tipis yang membentuk mukosa otot.

59.

Bagian-bagian :

60. Usus dua belas jari dibagi menjadi empat bagian untuk mempermudah pemaparan.

61.

Pars superior

62. Bagian pertama, yaitu pars suoerior dimulai dari akhir pilorus. Kemudian saluran
akan membelok ke lateral kanan. Bagian ini memiliki panjang 5 cm.
63.

Pars ascendens

64. Bagian terakhir, pars ascendens berbentuk saluran menaik dan berakhir pada awal
usus kosong (jejunum).

65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73. Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan
rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses, kolon terdiri dari
kolon menanjak (ascending), kolon melintang (transverse), kolon menurun
(descending), kolon sigmoid, dan rektum. Bagian kolon dari usus buntu hingga
pertengahan kolon melintang sering disebut dengan "kolon kanan", sedangkan bagian
sisanya sering disebut dengan "kolon kiri".
74. Fungsi usus besar yaitu
1. menyimpan dan eliminasi sisa makanan,

2. menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, dengan cara menyerap air


3. mendegradasi bakteri.
75.
76. Anus adalah sebuah bukaan dari rektum ke lingkungan luar tubuh. Pembukaan dan
penutupan anus diatur oleh otot sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses
defekasi (buang air besar) yang merupakan fungsi utama anus.
77.

78.
79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.

Definisi Melena:

87. Melena merupakan kondisi tinja berwarna kehitaman (seperti aspal) yang umumnya
berhubungan dengan perdarahan saluran pencernaan bagian atas (esofagus, lambung,
serta usus duabelas jari). Warna kehitaman disebabkan oleh kandungan hemoglobin
dalam tinja yang terurai oleh enzim enzim percernaan serta bakteri usus. Adanya
melena menunjukkan bahwa darah telah berada di saluran cerna dalam waktu
setidaknya 14 jam dan biasanya terjadi pada saluran cerna bagian atas, walaupun
terkadang melena dapat pula timbul akibat perdarahan dari colon (hematochezia).

88.
89. Penyebab
90. Penyebab paling umum dari melena adalah perlukaan lapisan dinding lambung atau
usus duabeas jari (ulkus peptikum). Pertanyaan langsung, "Apakah tinja Anda hitam atau
berdarah?" harus digunakan bila perdarahan aktif dapat terjadi. penggunaan obat-obatan

golongan NSAID jangka panjang atau konsumsi alkohol juga potensial menyebabkan
kerusakan pada mukosa saluran cerna Melena dapat pula disebabkan oleh pemakaian
obat antikoagulan (contohnya warfarin) yang berlebihan. Selain itu, melena juga
dapat disebabkan oleh tumor, terutama tumor ganas yang berasal dari perdarahan pada
permukaan tumor tersebut. Melena juga dapat disebabkan oleh beberapa kelainan
darah, seperti idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP) ataupun haemophilia.
Penyebab lain dari melena berupa pendarahan ulkus, gastritis, varises esofagus,
divertikulum Meckel, serta sindrom Mallory-Weiss.
91. Perdarahan saluran gastrointestinal merupakan keadaan emergensi yang
membutuhkan penanganan segera. Insiden perdarahan gastrointestinal mencapai lebih
kurang 100 kasus dalam 100.000 populasi per tahun, umumnya berasal dari saluran
cerna bagian atas. Perdarahan saluran cerna bagian atas muncul 4 kali lebih sering
dibandingkan perdarahan pada bagian bawah, serta merupakan penyebab utama
morbiditas dan mortalitas untuk kasus gangguan pada saluran cerna. Mortalitas akibat
perdarahan saluran cerna bagian atas ditemukan sebanyak 6-10% dari seluruh kasus.
Perdarahan saluran gastrointestinal dapat muncul dalam lima macam manifestasi,
yaitu hematemesis, melena, hematochezia, occult GI bleeding yang bahkan dapat
terdeteksi walaupun tidak ditemukan perdarahan pada pemeriksaan feses, serta tandatanda anemia seperti syncope dan dyspnea.

92. Perdarahan yang banyak selain memberikan gejala hematemesis juga memberikan
gejala melena,sedangkan melena tidak selalu disertai oleh hematemesis. Jika darah
banyak yang keluar, maka penderitanya akan mengalami anemia. Jika berat, harus
segera ditransfusi. Dan Jika buang air besar bercampur darah merah segar, bukan
disebut melena, tapi hematochezia.
93.
94.

Diagnosis

95. Pasien biasanya hadir dengan anemia atau tekanan darah rendah. Sangat sering,
bagaimanapun, selain dari melena sendiri, tidak ada gejala lain. Pemeriksaan colok
dubur harus dilakukan untuk menilai baik kehadiran dan kemungkinan sumber darah.
Pengujian darah dalam tinja dengan tes seperti guaiac feses sering dilakukan,
meskipun hanya telah divalidasi untuk skrining kanker kolorektal. Jika ini adalah
untuk dilakukan, hal itu harus dilakukan sebelum ujian rektal digital untuk
menghindari trauma pada saluran dubur, dan kemampuannya untuk mengubah
manajemen masih bisa diperdebatkan. Jika sumber di saluran pencernaan bagian atas
diduga, sebuah endoskopi atas dapat dilakukan untuk mendiagnosis penyebabnya.
Hematemesis menegaskan lokasi pencernaan bagian atas perdarahan dan
menunjukkan bahwa perdarahan yang besar, melena menegaskan BAB hitam terjadi
pada saluran pencernaan atas Warna melena tergantung dari lamanya hubungan antara
darah dengan asam lambung, besar kecilnya perdarahan, kecepatan perdarahan, lokasi
perdarahan dan pergerakan usus. Pada melena, dalam perjalannya melalui usus, darah
menjadi berwarna merah gelap bahkan hitam. Perubahan warna ini disebabkan oleh
HCL lambung, pepsin, dan warna hitam ini diduga karena adanya pigmen porfirin.

Kadang-kadang pada perdarahan saluran cerna bagian bawah dari usus halus atau
kolon asenden, feses dapat berwarna merah terang/gelap.(3)
96. Diperkirakan darah yang muncul dari duodenum dan jejunum akan tertahan pada
saluran cerna sekitar 6-8 jam untuk merubah warna feses menjadi hitam. Paling
sedikit perdarahan sebanyak 50-100 cc baru dijumpai keadaan melena. Feses tetap
berwarna hitam seperti ter selama 48-72 jam setelah perdarahan berhenti. Ini bukan
berarti keluarnya feses yang berwarna hitam tersebut menandakan perdarahan masih
berlangsung. Darah yang tersembunyi terdapat pada feses selama 7-10 hari setelah
episode perdarahan tunggal. Dan bila BAB terdapat darah segar berarti
mengindikasikan bahwa pendarahan terjadi di saluran cerna bagian bawah dan disebut
hematochezia.
97.
98.
99.
100.
101.
102.
103.
104.
105.

Tindakan Umum

106.

1. Infus dan transfusi darah

107.

Tindakan pertama yang dilakukan adalali resusitasi, untuk memulihkan

keadaan penderita akibat kehilangan cairan atau syok. Yaitu cairan infus dekstrose 5% atau
Ringer laktat atau NACL O,9% dan transfusi Whole Blood atau Packed Red Cell
108.
109.

2. Istirahat mutlak

110.

Istirahat mutlak sangat dianjurkan, sekurang kurangnya selama 3 hari setelah

perdarahan berhenti.
111.
112.

3. Diet

113.

Dianjurkan puasa jika perdarahan belum berhenti. Dan penderita mendapat

nutrisi secara parenteral total sampai perdarahan berhenti. Jika perdarahan berhenti, diet
biasa dimulai dengan diet cair HI/LI. Selanjutnya secara bertahap diet beralih ke
makanan padat
114.
115.
116.

4.

Medikamentosa
Antasida cair, untuk menetralkan asam lambung. Injeksi Cimetidin atau

injeksi Ranitidine, yaitu antagonis reseptor H2 untuk mengurangi sekresi asam


lambung. Obat-obatan penghambat pompa proton (PPP), seperti esomeprazole,
lansoprazole, dan omeprazole. PPP mampu menghambat sel-sel penghasil asam yang
terdapat pada lapisan lambung. Dengan begitu, kadar asam di dalam lambung bisa
turun. , Injeksi Traneksamic acid (Kalnex), jika ada peningkatan aktifitas fibrinolisin.

Kalnex termasuk golongan obat tranexamic acid. Tranexamic acid digunakan untuk
membantu menghentikan kondisi perdarahan. Tranexamic acid merupakan agen
antifibrinolytic. Golongan obat ini bekerja dengan menghalangi pemecahan bekuan
darah, sehingga mencegah pendarahan

Injeksi Vitamin K, membantu proses

pembekuan darah untuk menghentikan pendarahan. Dan transfusi darah jika pasien
mengalami anemia atau penurun hemoglobin dan eritrosit.
117.
118.

Endoskopi

119.

Endoskopi pada perdarahan saluran cerna bagian atas. Pemeriksaan Endoskopi

yang dikerjakan secara dini banyak membantu untuk mengetahui secara tepat sumber
perdarahan, baik yang berasal dari esophagus, lambung, maupun duodenum.
Demikian pula dengan pemeriksaan endoskopi, kita dapat menentukan factor-faktor
prognostic yang dapat mempengaruhi perjalanan penyakit, baik pada perdarahan
akibat tukak ini dengan cara endoskopik (endoscopic hemostasis).
120.
121.
122.
123.
124.
125.
126.
127.

DAFTAR PUSTAKA

128.

- Buku ajar ilmu penyakit dalam , Interna publishing Jilid II edisi VI, jakarta

pusat. 2014.
129.

- MedlinePlus Encyclopedia bloody or tarry stools tanggal, juli 2010

130.

- Pedoman diagnosis dan terapi ; rumah sakit umum DR Soetomo,

surabaya edisi III, 2008.


131.

- Jhoxer (2010). Asuhan

Keperawatan

Hematomesis

Melena. Jakarta 2010


132.

- Portal Kedokteran ; Hematemesis Melena, jakarta, 2008.

133.

- Marieb, Elaine N. and Hoehn, Katja (2007). Human Anatomy and

Physiology 7th Edition. Benjamin Cummings.


134.
135.
136.
137.