Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Ternak sapi, khususnya sapi potong merupakan salah satu sumber daya

penghasil bahan makanan berupa daging yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan
penting artinya di dalam kehidupan masyarakat. Seekor atau kelompok ternak sapi
bisa menghasilkan berbagai macam kebutuhan, terutama sebagai bahan makanan
berupa daging, disamping hasil ikutan lainnya seperti pupuk kandang, kulit, tulang
dan lain sebagainya. Keunggulan lain, protein daging sapi lebih mudah dicerna
ketimbang yang berasal dari nabati, Protein yang terkandung di dalam sapi, seperti
halnya susu dan telur, sangat tinggi mutunya, pada daging sapi terdapat pula beberapa
jenis mineral, vitamin dan kandungan asam amino esensial yang lengkap dan
seimbang.
Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang dijumpai pada
babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak Plioceen di India.
Sapi Baliyang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong pada awalnya
dikembangkan di Balidan kemudian menyebar ke beberapa wilayah seperti: Nusa
Tenggara Barat (NTB), Sulawesi. Sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole)
dan sapi Madura banyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi.
Sapi jenis Aberdeen angus banyak terdapat di Skotlandia. Sapi Simental banyak
terdapat di Swiss. Sapi Brahman berasal dari India dan banyak dikembangkan di
Amerika.

1.2.

Rumusan Masalah
1.2.1. Apa itu sapi potong?
1.2.2. Apa saja jenis-jening sapi potong yang di ternakan di Indonesia?
1.2.3. Bagaimana pembiakan pada sapi potong?
1.2.4. Bagaimana pemberian nutrisi pada sapi potong ?
1.2.5. Bagaimana mengolah sapi potong ?

1.3.

Tujuan Penulisan
1.3.1. Mengetahui jenis-jenis sapi potong di Indonesia.
1.3.2. Mengetahui breeding, feeding, dan management pada sapi potong.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sapi Potong di Indonesia


Sapi potong atau juga disebut sebagai sapi pedaging, adalah sapi yang
dikhususkan untuk dipelihara guna diambil manfaat dagingnya. Jenis sapi potong
di Indonesia adalah sapi Indonesia dan sapi impor. Dari jenis-jenis sapi potong

itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk
luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).
Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole,
sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Selain itu juga sapi Aceh. Dari
populasi sapi potong yang ada, yang penyebarannya dianggap merata masingmasing adalah: sapi Bali, sapi PO, sapi Madura dan sapi Brahman.

2.2 Jenis-jenis Sapi Potong


Ada banyak jenis sapi potong yang diternakkan di Indonesia. Untuk
memudahkan pengenalannya, sapi potong dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu
sapi potong lokal, sapi potong impor, dan sapi potong persilangan (peranakan).
Ketiga jenis sapi potong tersebut memiliki keunggulan dan kekurangan masingmasing.
Secara umum, jenis sapi potong lokal memiliki daya adaptasi yang
tinggi terhadap lingkungan. Karena itu, jenis sapi lokal lebih mudah dipelihara
oleh peternak di Indonesia. Namun sayangnya, tingkat pertambahan bobot badan
harian (PBBH) sapi lokal cenderung lebih rendah dibandingkan dengan sapi
impor. Sapi impor memang memiliki PBBH lebih tinggi, tetapi juga dengan
resiko pemberian pakan lebih banyak dan bermutu sehingga biaya
pemeliharaannya pun menjadi lebih tinggi.
Dari jenis lokal, sapi bali merupakan jenis sapi yang sering
direkomendasikan untuk digemukkan karena memiliki PBBH lebih tinggi
daripada jenis lainya. Sementara itu, untuk jenis sapi impor, Sapi Limousin dan
sapi Simmental termasuk jenis yang paling banyak dipilih.
Jenis sapi potong impor umumnya berasal dari negara subtropis.
Karena itu, produktivitas yang tinggi seperti di negara asalnya cukup sulit di
capai di Indonesia yang beriklik tropis. Pemeliharaannya terbatas di daerah
daratan tinggi yang beriklim sejuk. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan
penlitian persilangan dengan jenis sapi lain agar dihasilkan sapi dengan
pertumbuhan cepat, tahan terhadap iklim tropis, tahan terhadap pakan bermutu
rendah, serta tahan terhadap serangan endoparasit dan ektoparasit. Salah satu

jenis sapi persilangan yang banyak diternakkan di Indonesia adalah Sapi PO


(Peranakan Ongole).
Jenis-jenis sapi potong diantaranya :
2.2.1. Sapi Aceh

Sapi aceh merupakan satu sapi pedaging lokal favorit yang merupakan
hasil persilangan antara sapi lokal dengan sapi ongole. Ciri fisiknya memiliki
warna merah kecoklatan seperti warna sapi lokal dengan punuk kecil seperti sapi
ongole.

2.2.2. Sapi Bali

Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil
domestikasi dari banteng (Bibos banteng) adalah jenis sapi yang unik, hingga saat ini
masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman
Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia ini sudah lama didomestikasi suku bangsa
Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Sapi
Bali berukuran sedang, dadanya dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya ramping.
Kulitnya berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya
berwarna hitam. Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit
berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam
kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Pada punggungnya selalu
ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga
pangkal ekor.
Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali
betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat
tua atau hitam legam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin. Warna hitam dapat
berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu dikebiri.

2.2.3. Sapi Brahman

Sapi Brahman adalah keturunan sapi Zebu atau Boss Indiscuss.


Aslinya berasal dari India kemudian masuk ke Amerika pada tahun 1849
berkembang pesat di Amerika, Di AS, sapi Brahman dikembangkan untuk
diseleksi dan ditingkatkan mutu genetiknya. Setelah berhasil, jenis sapi ini
diekspor ke berbagai negara. Dari AS, sapi Brahman menyebar ke Australia dan
kemudian masuk ke Indonesia pada tahun 1974.
Ciri khas sapi Brahman adalah berpunuk besar dan berkulit longgar,
gelambir dibawah leher sampai perut lebar dengan banyak lipatan-lipatan.
Telinga panjang menggantung dan berujung runcing. Sapi ini adalah tipe sapi
potong terbaik untuk dikembangkan. Biasanya sapi brahman berwarna coklat,
merah, abu abu dan hitam.

2.2.4. Sapi Ongole (PO)

Sapi PO merupakan hasil persilangan antara sapi ongole dengan sapi


lokal di Jawa. Ciri fisiknya yaitu memiliki punuk dan gelambir di leher khas
ongole, namun tidak sebesar ongole asli. Sapi jenis ini memiliki harga terjangkau
serta multifungsi, selain dapat diambil dagingnya juga dapat dipekerjakan.

2.2.5. Sapi Madura

Sapi madura merupakan tipe sapi pekerja hasil persilangan dari sapi bali dengan
jenis sapi impor ongole dan sapi lokal jawa. Oleh karenanya sapi madura
memiliki warna bulu coklat khas warna sapi bali dan berpunuk sedang seperti
sapi ongole. Dengan tubuh kecil, sapi ini tergolong sapi pekerja karena
staminanya.
2.3 Breeding (pembiakan)
Dalam usaha breeding, kualitas induk dan pejantan yang digunakan sangat
berpengaruh terhadap keturunan yang dihasilkan. Untuk itu maka perlu dilakukan pemilihan
bangsa pejantan dan betina yang akan digunakan dalam breeding. Bangsa yang digunakan
harus sesuai dengan tujuan usaha, karena secara genetik, kemampuan ternak bervariasi. Misal
sapi untuk tujuan memproduksi daging, berbeda untuk tujuan kerja, tujuan produksi susu dan
sebagainya. Selanjutnya dalam memilih bangsa, penting juaga memerhatikan besar kecilnya
ukuran tubuh ternak, terutama dalam usaha kawin silang, jangan sampai menimbulkan

kesulitas pada saat beranak karena kesalahan dalam memilih pejantan sehingga berakibat
berat lahir anak terlalu besar. Kemudian melihat cacatan silsilah/pedigree. Catatan mengenai
prestasi tetuanya: berat lahir, berat sapih, ADG, berat umur satu tahun dll.
Penilaian bentuk luar (judging). Dalam judging, ada bagian bagian tubuh ternak yang
mendapat penilaian lebih tinggi sesuai dengan tujuan.
1.

Penilaian induk berdasarkan


A.

Berpostur tubuh baik, kaki kuat dan lurus.

B.

Ambing/puting susu normal, halus, kenyal, tidak ada infeksi atau


pembengkakan.

C.

Bulu halus, mata bersinar.

D.

Nafsu makan baik.

E.

Alat kelamin normal, tanda tanda berahi teratur

F.

Sehat, tidak terlalu gemuk dan tidak cacat

G.

Umur siap kawin (kurang lebih 2 tahun)

2.

Pemilihan penjantan berdasarkan penampilannya


A.

Berpostur tubuh tinggi/besar, dada lebar dan dalam

B.

Kaki kuat, lurus dan mata bersinar

C.

Bulu halus

D.

Testis simetris dan normal

E.

Sex libido tinggi (agresif)

F.

Memberikan respon yang baik terhadap induk yang sedang birahi

G.

Sehat dan tidak cacat

H.

Umur dewasa tubuh (lebih dari 2 tahun)

2.4. Feeding (pemberian pakan)


Pakan yang akan diberikan pada sapi potong harus berserat. Bisa berupa
hijauan seperti rumput-rumputan, leguminosa dan tanaman lainnya. Limbah
pertanian seperti jerami padi, jerami jagung, daun kacang tanah, pucuk tebu dan
lain-lain. Lalu dapat diberikan konsentrat, atau biasa juga disebut bahan penguat.
Terdiri dari biji-bijian, umbi-umbian dan limbah pengolahan hasil pertanian

lainnya. Selain itu pakan tambahan biasanya berupa vitamin, mineral, enzim,
antibiotik, urea dan lain-lainnya.
Pakan konsentrat untuk ternak sapi penggemukan bisa dibuat dari
berbagai macam bahan, yang terpenting memiliki kadar protein 12% dan Total
Digestible Nutriens (TDN) atau jumlah zat dalam pakan yang bisa dicerna
sebesar 60-70%. Jumlah pemberian pakan konsentrat 1-2% dari bobot tubuh sapi.
Sebaiknya berikan pakan konsentrat dalam bentuk kering. Hal ini
berguna untuk merangsang keluarnya enzim dari ludah sapi yang berguna untuk
memicu pertumbuhan bakteri dalam rumen sapi. Pemberian pakan hijauan
jumlahnya 10% dari bobot tubuh sapi. Pakan hijaun diberikan 2-3 jam setelah
pemberian pakan konsentrat.
Kebutuhan pakan
Hijauan (rumput+legum)
Konsentrat
Garam
Kalsium phospat (tepung tulang/kapur)
Air

Takaran
10% bobot tubuh
1-2% bobot tubuh
15-30 gram
13-30 gram
Secukupnya

2.5. Management
2.5.1. Memilih bakalan
Bila kita ingin menjalankan usaha pembesaran, sebaiknya pilih sapi bakalan yang
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Bila memungkinkan dapatkan bibit unggul yang memiliki silsilah jelas dan
diketahui sifat-sifatnya.

Tubuh pedet tidak cacat, kulitnya mulus tidak ditemukan parasit.

Mata cerah dan bersih, tidak ada kotoronnya dan berair.

Pernapasan baik, tidak ada lendir keluar dari hidungnya.

10

Kukunya baik, tidak ada bengkak, bila diraba tidak terasa panas.

Pada bagian dubur tidak terlihat ada bekas mencret.

2.5.2. Perkandangan.
Konstruksi kandang untuk ternak sapi potong sangat tergantung pada
skala peternakan dan ketersediaan dana. Namun secara umum, kandang sapi
harus bisa melindungi sapi dari pengaruh iklim lokal dan perubahan cuaca. Perlu
diingat suhu tubuh sapi berkisar 38-39oC. Terdapata tiga tipe kandang sapi, yakni
kandang dengan dinding terbuka, setengah terbuka dan dinding tertutup.
Kandang sapi terbuka dan setengah terbuka biasanya diterapkan di dataran
rendah yang panas tetapi tiupan anginnya tidak terlalu kencang. Kandang dengan
dinding tertutup biasanya digunakan di daerah dingin yang berangin kencang,
atau kandang yang diperuntukan bagi anakan sapi.
Selain ketentuan kandang di atas, hal lain yang perlu diperhatikan adalah
kelengkapan peralatan kandang untuk ternak sapi. Berikut beberapa diantaranya:

Tempat pakan dan minum. Tempat pakan sebaiknya terbuat bahan-bahan yang
tidak melukai, bisa kayu atau tembok. Sedangkan tempat minum bisa berupa
ember plastik tetapi yang tidak mudah pecah. Tempat makan dan minum harus
dirancang dan ditempatkan sedemikian rupa agar sisa-sisa pakan tidak
berceceran.

Tempat tambat. Tambat sapi merupakan tonggak, tiang, atau palang untuk
mengikatkan sapi agar tidak bergerak terlalu banyak. Tempat tambat ini bisa
dibuat khusus atau disatukan dengan struktur kandang, yang penting harus
kokoh.

Peralatan kandang. Peralatan kandang yang dibutuhkan untuk ternak sapi


potong diantaranya sebagai berikut.

Sekop. Berguna untuk mengaduk pakan dan membersihkan kotoran.


Sebaiknya gunakan dua sekop yang berbeda untuk keperluan ini.

Garpu/garu. Garpu untuk mengaduk pakan dan membersihkan


kandang.

11

Ember. Untuk keperluan wadah minum dan sanitasi seperti memandikan sapi
atau membersihkan kandang.

Sapu lidi. Untuk membersihkan kandang.

Selang. Sebagai sarana menyalurkan air dan sanitasi kandang.

Sikat. Digunakan untuk memandikan sapi.

Tali. Berguna untuk mengikat sapi ketika ditambatkan atau


memindahkan
sapi.
Peratan perawatan kesehatan sapi. Alat suntik, vaksin dan obat-obatan lainnya.

2.5.3. Perawatan umum


Seperti juga hewan ternak lainnya, ternak sapi potong membutuhkan
perawatan rutin agar perkembangannya berjalan baik. Berikut ini perawatan
yang harus dilakukan:

Vaksinasi dan pemberian obat cacing.

Bersihkan kotoran di kandang sapi setiap hari. Atau kalau memungkinkan


sehari 2 kali. Kebersihan kandang tujuannya untuk meningkatkan
kesejahteraan sapi, sehingga sapi selalu sehat tidak stres dan terhindar dari
penyakit yang tidak perlu.

Sekitar 1-2 hari sekali, sapi harus dimandikan. Sikat tubuh sapi hingga bersih.

12

BAB III
KESIMPULAN

Sapi potong atau juga disebut sebagai sapi pedaging, adalah sapi yang
dikhususkan untuk dipelihara guna diambil manfaat dagingnya.
Di Indonesia terdapat beberapa jenis sapi potong, yaitu sapi aceh, sapi bali,
sapi brahman, sapi ongole, sapi madura.
Untuk mendapatkan keturunan yang baik, kualitas induk dan pejantan yang
digunakan sangat menentukan.
Untuk mendapatkan sapi potong yang baik, diperlukan asupan nutrisi yang baik bagi
sapi tersebut. Pakan yang diberikan harus berserat dan diberikan konsentrat agar
pertumbuhannya maksimal.

13

Untuk mendapatkan hasil sapi potong yang maksimal diperlukan pemilihan bakalan,
perkandangan, dan perawatan yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Risnandar, Cecep. 2015 http://alamtani.com/panduan-umum-ternak-sapi-potong.html


( 11 September 2015 )
Yudi Prabowo, Abrar.2015 http://www.produknaturalnusantara.com/panduan-teknisbudidaya-peternakan/panduan-cara-budidaya-sapi-potong/ ( 11 September 2015 )
2012. https://sapipedaging.wordpress.com/about/ ( 11 September 2015 )
Siswanto, Bambang. 2015. http://www.usahaternak.com/2014/03/foto-dan-gambarsapi-terlengkap.html (11 September 2015 )

14

15