Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

Pembuahan atau

fertilisasi

adalah

peleburan

dua gamet yang

dapat

berupa nukleus atau sel-sel bernukleus untuk membentuk sel tunggal (zigot) atau
peleburan

nukleus. Biasanya

melibatkan

penggabungan dan penyatuan

bahan

nukleus . Pembuahan, proses penyatuan gamet pria dan wanita,terjadi di ampulla tuba
fallopi. Bagian ini adalah bagian terluas dari saluran telur dan terletak dekat dengan
ovarium. Spermatozoa dapat bertahan hidup di dalam saluran reproduksi wanita selama
kira-kira 24 jam.
Spermatozoa bergerak cepat dari vagina ke rahim dan selanjutnya masuk ke
dalam saluran telur. Pergerakan naik ini disebabkan oleh kontraksi otot-otot uterus dan
tuba. Perlu diingat bahwa pada saat sampai di saluran kelamin wanita, spermatozoa
belum mampu menbuahi oosit. Mereka harus mengalami kapasitasi dan reaksi akrosom.
Pada umumnya, pembuahan mungkin saja terjadi dalam rentang satu minggu
setelah calon ibu selesai haid atau 14 hari sebelum siklus haid berikutnya. Dengan kata
lain, inilah masa subur calon ibu. Dalam 7 - 10 hari berikutnya, sel telur yang sudah
dibuahi akan "tertanam" (implantasi) pada dinding rahim.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Fertilisasi

Fertilisasi (pembuahan) adalah proses penyatuan gamet pria dan wanita, terjadi
di ampulla tuba fallopi. Bagian ini bagian terluas dari saluran telur dan terletak dekat
dengan ovarium. Spermatozoa dapat bertahan hidup didalam saluran reproduksi wanita
selama kira-kira 24jam.

Spermatozoa bergerak cepat dari vagina ke rahim dan selanjutnya masuk ke dalam
saluran telur. Pergerakan naik ini disebabkan oleh kontraksi otot-otot uterus dan tuba.
Perlu diingat bahwa pada saat sampai di saluran kelamin wanita, spermatozoa belum
mampu membuahi oosit. Mereka harus mengalami kapasitasi dan reaksi akrosom.
Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di dalam saluran reproduksi wanita,yang
pada manusia berlangsung kira-kira 7 jam. Selama waktu itu,suatu selubung
glikoprotein dari protein-protein plasma semen dibuang dari selaput plasma, yang
membungkus daerah akrosom spermatozoa. Hanya sperma yang mengalami kapasitasi
yang dapat melewati sel korona dan mengalami reaksi akrosom.

Reaksi akrosom terjadi setelah penempelan ke zona pellusida dan diinduksi oleh
protein-protein zona. Reaksi ini berpuncak pada pelepasan enzim-enzim yang
diperlukan untuk menembus zona pelusida, antara lain akrosin dan zat-zat serupa
tripsin.

a. Ovum
Ovum merupakan sel terbesar pada badan manusia. Setiap bulan satu ovum atau
kadang-kadang lebih menjadi matur, dengan sebuah penjamu mengelilingi sel
pendukung.Saat ovulasi, ovum keluar dari folikel ovarium yang pecah. Ovum tidak
dapat berjalan sendiri. Kadar estrogen yang tinggi meningkatkan gerakan tuba
uterina, sehingga silia tuba tersebut dapat menangkap ovum dan menggerakkannya
sepanjang tuba menuju ringga rahim.
Ada dua lapisan pelindung yang melindungi ovum. Lapisan pertama berupa
membran tebal tidak berbentuk, yang disebut zona pellusida.lingkaran luar yang
disebut korona radiata,terdiri dari sel-sel oval yang dipersatukan oleh asam
hialuronat. Ovum dianggap subur selama 24 jam setelah ovulasi. Apabila tidak
difertilisasi oleh sperma, ovum berdegenerasi dan direabsorpsi.
Pada waktu ovulasi sel telur yang telah masak dilepaskan dari ovarium. Dengan
gerakan seperti menyapu oleh fimbria tuba uterina, ia ditangkap infundibulum.
Selanjutnya ia masuk kedalam ampulae sebagai hasil gerakan silia dan kontraksi

otot. Sebuah ovum mungkin ditangkap /masuk kedalam infundibulum tuba yang
berlawanan. Keadaan ini disebut migrasi eksterna.ovum biasanya dibuahi dalam 12
jam setelah ovulasi dan akan mati dalam 12 jam bila tidak segera dibuahi.
b. Spermatozoa
Spermatozoa terdiri 3 bagian yaitu:
Kaput(kepala) yang mengandung bahah nukleus.
Ekor berguna untuk bergerak
Bagian silindrik, menghubungkan kepala dan ekor.
Pada saat coitus kira-kira 3-5 cc semen ditumpahkan kedalam fornik
posterior, dengan jumlah spermatozoa sekitar 200-500 juta. Dengan gerakan
ekotrnya sperma masuk kedalam kanalis servialis. Di dalam rongga uterus dn
tuba gerakan sperma terutama disebab kan oleh kontraksi otot-otot pada organ
tersebut. Sperma tozoa ,kira-kira 1 jam setelah coitus. Ampula tuba merupakan
tempat terjadinya fertilisasi. Hanya beberapa ratus sperma yang bisa mencapai
tempat ini. Sebagian besar mati sebagai akibat keasaman vagina, sebagian lagi
hilang/ mati dalam perjalanan. Sperma dapat bertahan dalam saluran reproduksi
wanita sampai empat hari.

Pada fertilisasi mencakup 3 fase:


a. Fase 1 : penembusan korona radiate
Dari 200-300 juta spermatozoa yang dicurahkan ke dalam saluran kelamin wanita,
hanya 300-500 yang mencapai tempat pembuahan. Hanya satu diantaranya yang
diperlukan untuk pembuahan, dan diduga bahwa sperma-sperma lainnya membantu
sperma yang akan membuahi untuk menembus sawar-sawar yang melindungi gamet
wanita. Sperma yang mengalami kapasitasi dengan bebas menembus sel korona.

b. Fase 2 : penembusan zona pelusida


Zona pelusida adalah sebuah perisai glikoprotein di sekeliling telur yang
mempermudah dan mempertahankan pengikatan sperma dan menginduksi reaksi
akrosom. Pelepasan enzim-enzim akrosom memungkinkan sperma menembus zona
pelusida, sehingga akan bertemu dengan membrane plasma oosit. Permeabilitas
zona pelusida berubah ketika kepala sperma menyentuh permukaan oosit. Hal ini
mengakibatkan pembebasan enzim-enzim lisosom dari granul-granul korteks yang
melapisi membrane plasma oosit. Pada gilirannya, enzim-enzim ini menyebabkan
perubahan sifat zona pelusida (reaksi zona) untuk menghambat penetrasi sperma dan
membuat tak aktif tempat tempat reseptor bagi spermatozoa pada permukaan zona
yang spesifik spesies. Spermatozoa lain ternyata bisa menempel di zona pelusida
tetapi hanya satu yang menembus oosit.
c. Fase 3 : penyatuan oosit dan membrane sel sperma
Setelah spermatozoa menyentuh membrane sel oosit, kedua selaput plasma sel
tersebut menyatu. Karena selaput plasma yang menbungkus kepala akrosom telah
hilang pada saat reaksi akrosom, penyatuan yang sebenarnya terjadi adalah antara
selaput oosit dan selaput yang meliputi bagian belakang kepala sperma. Pada
manusia, baik kepala dan ekor spermatozoa memasuki sitoplasma oosit, tetapi
selaput plasma tertingal di permukaan oosit.
Setelah spermatozoa memasuki oosit, sel telur menanggapinya dengan 3 cara yang
berbeda:
1) Reaksi kortikal dan zona : sebagai akibat terlepasnya butir-butir kortikal oosit
a) Selaput oosit tidak dapat ditembus lagi oleh spermatozoa lain
b) Zona pelusida mengubah struktur dan komposisinya untuk mencegah
penambahan dan penetrasi sperma, dengan cara ini terjadinya polispermi dapat
dicegah

2) Melanjutkan pembelahan meiosis kedua. Oosit menyelesaikan pembelahan


meiosis keduanya segera setelah spermatozoa masuk. Salah satu dari sel
anaknya hampir tidak mendapatkan sitoplasma dan dikenal sebagai badan kutub
kedua, sel anak lainya adalah oosit defenitive. Kromosomnya (22+X) tersusun
didalam sebuah inti vesikuler yang dikenal sebagai pronukleus wanita.
3) Penggiatan metabolik sel telur. Faktor penggiat diperkirakan dibawa oleh
spermatozoa. Penggiatan setelah penyatuan diperkirakan untuk mengurangi
kembali peristiwa permulaan seluler dan molekuler yang berhubungn dengan
awal embriogenesis.
Sementara itu, spermatozoa bergerak maju terus hingga dekat sekali
dengan pronukleus wanita. Intinya membengkak dan membentuk pronukleus
pria sedangkan ekornya terlepas dan berdegenerasi. Secara morfologis,
pronukleus wanita dan pria tidak dapat dibedakan dan sesudah itu mereka saling
rapat erat dan kehilangan selaput inti mereka. Selama masa pertumbuhan, baik
pronukleus wanita maupun pria (keduanya haploid) harus menggandakan DNAnya. Jika tidak,masing-masing sel dalam zigot tahap 2 sel tersebut akan
mempunyai DNA separuh dari jumlah DNA normal.
Segera sesudah sintesis DNA, kromosom tersusun dalam gelendong
untuk mempersiapkan pembelahan mitosis yang normal. 23 kromosom ibu dan
23 kromosom ayah membelah memanjang pada sentromer, dan kromatidkromatid yang berpasangan tersebut saling bergerak kearah kutub yang
berlawanan, sehingga menyiapkan sel zigot yang masing-masing mempunyai
jumlah kromosom dan DNA yang normal. Sementara kromatid-kromatid
berpasangan bergerak kerah kutub yang berlawanan, munculah satu alur yang
dalam pada permukaan sel, berangsur-angsur membagi sitoplasma menjadi 2
bagian.

Hasil utama pembuahan


1. Pengembalian menjadi jumlah kromosom diploid lagi,separuhnya dari ayah dan
separuhnya dari ibu. Oleh karena itu, zigot mengandung kombinasi kromosom
baru yang berbeda dari kedua orang tua.
2. Penetuan jenis kelamin baru. Spermatozoa pembawa X akan menghasilkan
mudigah wanita (XX), dan spermatozoa pembawa Y akan menghasilkan suatu
mudigah pria (XY). Oleh karena itu, jenis kelamin kelompok mudigah tersebut
ditentukan saat pembuahan.
3. Dimulainya pembelahan. Tanpa pembuahan, oosit biasanya akan beregenerasi
24jam setelah ovulasi.

Hal penting dalam proses fertilisasi:


a) Penyatuan spermatozoa dan oosit II untuk membentuk sel diploid zigot
b) Fertilisasi terjadi di ampula tuba
c) Ovum mengerluarkan zat gynogamon yang terdiri dari fertilizing
d) Spermatozoa mengeluarkan zat androgamon
e) Kapasitasi di sperma pengkondisian sperma dan akrosomnya untuk
menembus membran sel
f) Reaksi akrosom
g) Sperma melepas enzim untuk mencerna sel corona radiata dari zona pelusida
untuk menembus oosit
h) Fusi pronukleus

Sperma yang menembus oosit kehilangan flagelum dan membran


nukleusnya sehingga pronukleus betina dan jantan bersatu, DNA nya
bereplikasi dan kromosomnya berbaris pada bidang ekuator serta pembuahan
mitosis pertama langsung terjadi.
2. Implantasi
Nidasi/implantasi merupakan peristiwa masuknya atau tertanamnya hasil
konsepsi ke dalam endometrium. Blastula dilindungi oleh simpai yang disebut
trofoblas, yang mampu menghancurkan dan mencairkan jaringan. Ketika blastula
mencapai rongga rahim, jaringan endometrium dalam keadaan sekresi. Jaringan
endometrium ini banyak mengandung sel-sel desidua.

Blastula dengan bagian yang berisi massa sel dalam (inner-cell mass) akan masuk ke
dalam desidua, menyebabkan luka kecil yang kemudian sembuh dan menutup lagi.
Pada saat nidasi terkadang terjadi sedikit perdarahan akibat luka desidua. Nidasi
terjadi pada dinding depan atau belakang rahim (korpus) dekat fundus uteri.
Apabila nidasi telah terjadi, maka dimulailah diferensiasi sel-sel blastula. Sel-sel
yang lebih kecil, terletak dekat ruang exocoeloma membentuk entederm dan yolk
salc. Sedangkan sel-sel yang lebih besar menjadi entoderm dan membentuk ruang
amnion. Sehingga terbentuk lempeng embrional (embryonal-plate) diantara ruang
amnion dengan yolk salc.

Sel-sel trofoblas mesodermal yang tumbuh sekitar mudigoh (embrio) akan melapisi
bagian dalam trofoblas, sehingga terbentuk sekat korionik (chorionic membrane)
yang nantinya menjadi korion. Sel-sel trofoblas terbagi menjadi 2 lapisan yaitu:
sitotrofoblas (bagian dalam) dan sinsitiotrofoblas (bagian luar)
Villi koriales yang berhubungan dengan desidua basalis tumbuh bercabang disebut
chorion frondosum, sedangkan yang berhubungan dengan desidua kapsularis kurang
mendapat makanan sehingga menghilang disebut chorion leave. Dalam peringkat
nidasi trofoblas dihasilkan hormon human chorionic gonadotropin (HCG).
Enam hari setelah fertilisasi, trofoblas menempel pada dinding uterus (melakukan
implantasi) dan melepaskan hormon korionik gonadotropin. Hormon ini melindungi
kehamilan

dengan

cara

hormon estrogen dan progesteron sehingga

menstrimulasi
mencegah

terjadinya

produksi
menstruasi.

Trofoblas kemudian menebal beberapa lapis, permukaannya berjonjot dengan tujuan


memperluas daerah penyerapan makanan. Embrio telah kuat menempel setelah hari
ke-12 dari fertilisasi.
Setelah terjadi implantasi, blastosit akan mengalami tahap perkembangan
selanjutnya

yaitu

menjadi gastrula dan neurula.

Selanjutnya zigot ini

akan

berkembang menjadi embrio.


Pembuatan Lapisan Lembaga. Setelah hari ke-12, tampak dua lapisan jaringan di
sebelah luar disebut ektoderm, di sebelah dalam endoderm. Endoderm tumbuh ke
dalam blastosoel membentuk bulatan penuh. Dengan demikian terbentuklah usus
primitif dan kemudian terbentuk Pula kantung kuning telur (Yolk Sac) yang
membungkus kuning telur. Pada manusia, kantung ini tidak berguna, maka tidak
berkembang, tetapi kantung ini sangat berguna pada hewan ovipar (bertelur), karena
kantung ini berisi persediaan makanan bagi embrio.
Di antara lapisan ektoderm dan endoderm terbentuk lapisan mesoderm. Ketiga
lapisan tersebut merupakan lapisan lembaga (Germ Layer). Semua bagian tubuh
manusia akan dibentuk oleh ketiga lapisan tersebut. Ektoderm akan membentuk
epidermis kulit dan sistem saraf, endoderm membentuk saluran pencernaan dan

kelenjar pencernaan, mesoderm membentuk antara lain rangka, otot, sistem


peredaran darah, sistem ekskresi dan sistem reproduksi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi implantasi

BAB II

DAFTAR PUSTAKA

Brotowidjoyo, Mukayat Djarubito. 1989. Zoologi dasar. Yogyakarta : UGM


Cambridde, 1998. Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia dan Sistem Reproduksi. Jakarta :
EGC
Sadler, T.W, 1996. Embriologi Kedokteran Langman. Jakarta :EGC