Anda di halaman 1dari 34

SCREENING FITOKIMIA DAN PEMBUATAN SEDIAAN SABUN CAIR

DAUN PEPAYA (Caricae folium)

OLEH :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Diana Arum Sari (13.090)


Lya Fitriana
(13. 097)
Ni Made Dwi Ratna Heriyanti (13.119)
Maulana hafidz (13.109)
Monica Erma (13.115)
Mulson Kase (13.116)

AKADEMI FARMASI PUTRA INDONESIA MALANG


Desember 2014

Ringkasan

Kulit merupakan lapisan terluar pada tubuh manusia yang sensitif dan melindungi
bagian dalam tubuh manusia terhadap gangguan fisik maupun mekanik, misalnya tekanan,
gesekan, tarikan, gangguan kimiawi seperti zat-zat kimia iritan (lisol, karbol, asam atau
basa kuat lainnya), gangguan panas atau dingin, gangguan sinar radiasi atau sinar
ultraviolet, gangguan kuman, jamur, bakteri (Wasitaatmadja, 1997).
Salah satu bahan alam yang dapat dijadikan sebagai bahan baku alternatif dalam
formulasi sabun yaitu pepaya. Dalam penggunaan tradisional, Papaya dikenal disamping
dapat membantu proses penyembuhan dari berbagai macam penyakit ternyata dapat pula
dan sering digunakan untuk pemakaian luar yakni dapat menghaluskan kulit,
melembabkan kulit, dan membantu menghilangkan noda hitam di kulit, daun papaya
memiliki banyak kandungan kimia dan diantaranya adalaha kandungan kimia yang bersifat
antibakteri yaitu golongan alkaloid, papain dan damar (Puspito, H., 2008).
Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit
sekunder dan membuat sediaan sabun cair dari ekstrak daun pepaya. Saat melakukan
pengujian pada simplisia, kami melakukan uji histokimia dan pada simplisisa daun pepaya
mengandung lignin, suberin, kitin, minyak atsiri, minysk lemak, getah, resin, tanin,
alkaloid dan flavonoid. Sedangkan pada uji screening fitokimia ditemukan senyawa
metabolit sekunder pada daun pepaya yaitu alkaloid, flavonoid, dan steroid. Untuk uji
KLT (Kromatografi Lapis Tipis) kami menguji senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid.
Kemudian pada saat ekstraksi kami menggunakan metode soxhletasi dengan pelarut etanol
70%. Dan sediaan yang akan kami buat yaitu sabun cair. Dimana pada penelitian
sebelumnya telah terbukti bahwa daun pepaya dapat menghaluskan kulit, melembabkan
kulit, mampu menghilangkan dan membantu menghilangkan noda hitam di kulit.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Kehidupan alam dengan berbagai keaneka ragaman hayatinya menyimpan banyak
manfaat bagi kehidupan manusia. Dari dulu hingga kini, pengobatan dengan tumbuhan
(Herbal Medicine) masih sering digunakan sebagai alternatif penyembuhan. Posisinya
tidak mampu disingkirkan begitu saja meskipun pengobatan dengan cara moderen
tumbuh pesat seiring dengan kemajuan peradaban (Gunawan, D. 1999).
Berbagai hal menunjukkan, bahwa sejak zaman purbakala umat manusia sanggup
membasmi berbagai penyakit dengan obat yang ditemukannya terutama dalam dunia
tumbuh-tumbuhan khususnya dalam alam raya umumnya (Sastroamidjojo, 2001).
Maraknya pemakaian kosmetika dalam berbagai bentuk sediaan yang mengandung
bahan-bahan sintetis mengundang berbagai kekhawatiran bagi para pemakai akan efek
sampingnya yang akhirnya menyebabkan kulit terutama bagian wajah menjadi iritasi.
Pada zaman dahulu hingga saat ini, para ahli mengembangkan bahan-bahan alamiah
untuk dijadikan sebagai bahan baku sabun (Wasitaatmadja,1997).
Kulit merupakan lapisan terluar pada tubuh manusia yang sensitif dan melindungi
bagian dalam tubuh manusia terhadap gangguan fisik maupun mekanik, misalnya
tekanan, gesekan, tarikan, gangguan kimiawi seperti zat-zat kimia iritan (lisol, karbol,
asam atau basa kuat lainnya), gangguan panas atau dingin, gangguan sinar radiasi atau
sinar ultraviolet, gangguan kuman, jamur, bakteri (Wasitaatmadja, 1997).
Salah satu bahan alam yang dapat dijadikan sebagai bahan baku alternatif dalam
formulasi sabun yaitu pepaya. Dalam penggunaan tradisional, Papaya dikenal
disamping dapat membantu proses penyembuhan dari berbagai macam penyakit
ternyata dapat pula dan sering digunakan untuk pemakaian luar yakni dapat
menghaluskan kulit, melembabkan kulit, dan membantu menghilangkan noda hitam di
kulit, daun papaya memiliki banyak kandungan kimia dan diantaranya adalaha
kandungan kimia yang bersifat antibakteri yaitu golongan alkaloid, papain dan damar
(Puspito, H., 2008).
Melihat kandungan bahan aktif di dalamnya, pemanfaatan pepaya dalam sediaan
sabun sudah tidak diragukan lagi, karena diperkirakan mampu menghambat bakteri dan
jamur sebagai penyakit kulit. Sabun adalah salah satu sediaan emulsi yang difungsikan

sebagai penghantar obat pada bagian yang terkena penyakit. Sabun adalah garam alkali
karboksilat (RCOONa). Ada 2 jenis sabun yang dikenal, yaitu sabun padat (batangan)
dan sabun cair (Hambali et al. 2005).
Pada penelitian ini digunakan daun pepaya karena berdasarkan literatur dan
penelitian sebelumnya bahwa diantara tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai
obat jerawat adalah daun papaya (Carica papaya L.). Pepaya sangat dikenal oleh
hampir seluruh penduduk di belahan bumi, karena semua bagian tanamannya dapat
dimanfaatkan mulai dari akar, batang, daun, bunga, buah dan juga getahnya. daun
papaya mengandung papain, chymopapain A, chymopapain B, protease, papain
peptidase A dan damar. Keterangan yang didapat dari masyarakat dan beberapa buku
obat tradisional, daun kering dari tanaman papaya dapat digunakan dalam bidang
kosmetik untuk mengobati jerawat, luka bakar, ketombe, jamur dan kutil. Daun ekstrak
daun papaya yang digunakan untuk kosmetik adalah 3 % (Baga, 1996; Muhidin, 2004).

1.2 Tujuan
Untuk mengetahui determinasi, pembuatan simplisia dan standarisasi dari
tanaman daun pepaya.
Untuk mengetahui ekstraksi dari daun pepaya.
Untuk mengetahui formula sediaan dari ekstraksi daun pepaya.
Untuk membuat formula sediaan sabun ekstrak daun pepaya dengan beberapa
konsentrasi
1.3 Manfaat
Mampu melakukan determinasi, pembuatan simplisia, dan standarisasi simplisia
dari daun pepaya
Untuk tenaga farmasi dapat melakukan cara ekstraksi dan membuat sediaan
kosmetik dari bahan alam agar dapat diaplikasikan pada dunia kerja kelak.
Mampu menghasilkan sediaan kosmetik dari ekstrak daun pepaya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Tentang Tumbuhan
a. Klasifikasi tanaman Pepaya

Regnum

: plantae

Devisio

: Spermatophyta

Sub devisio

: Angiospermae

Klassis

: Dicotyledonae

Ordo

: Cistales

Familia

: Caricacecae

Genus

: Carica

Species

: Carica papaya L.

b. Nama Lain
Pepaya disebut juga gedang (Sunda), kates (Jawa), peute, betik, ralempaya,
punti kayu (Sumatra), pisang malaka, bandas, manjan (Kalimantan), kalujawa
(Kalimantan) serta kapalaya kaliki dan uti jawa (Sulawesi). Selain nama daerah
pepaya juga mempunyai nama asing yaitu : papaw tree, papaya,

papayer,

melonenbaum, fan mu gua (Tjitrosoepomo, Gembong. 2005).


c. Ekologi dan Penyebaran
Pepaya berasal dari negara Amerika Tengah. Tanaman pepaya tumbuh di
daratan rendah hingga ketinggian 1000 m dpl, tumbuh subur di tanah yang kaya
bahan organik dan tidak menyukai tempat tergenang. Syarat pepaya tumbuh di
daerah tropis dengan suhu udara 22 C 26 C, kelembaban sedang sampai tinggi.
Pepaya juga mentoleransi pH tanah sebasar 6,5 7 (Tjitrosoepomo, Gembong.
2005).

d. Morfologi Tanaman
Pohon biasanya tidak bercabang, batang bulat berongga, tidak berkayu,
terdapat benjolan bekas tangkai daun yang sudah rontok. Daun terkumpul di ujung
batang, berbagi menjari. Buah berbentuk bulat hingga memanjang tergantung
jenisnya, buah muda berwarna hijau dan buah tua kekuningan / jingga, berongga

besar di tengahnya; tangkai buah pendek. Biji berwarna hitam dan diselimuti
lapisan tipis.
e. Kandungan Kimia
Daun pepaya mengandung enzim papain, alkaloid karpain, pseudo karpain,
glikosida, karposid, dan saponin. Buah mengandung beta karoten, pektindgalaktosa,

I-arabinosa,

papain,

kemopapain,

lisosim,

lipase,

glutamine,

siklotransferase. Daun, akar, dan kulit batang Carica papaya mengandung alkaloid,
saponin dan flavonoid, disamping itu daun dan akar juga mengandung polifenol
dan bijinya mengandung saponin (Tjitrosoepomo, Gembong. 2005).
Polifenol dan flavonoid merupakan golongan fenol yang telah diketahui
memiliki aktivitas antiseptik. Senyawa flavonoid menurut strukturnya merupakan
turunan senyawa flavon golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan C6
C3 C6 (cincin benzen tersubstitusi) disambung oleh rantai alifatik 3
karbonsenyawa ini merupakan senyawa flavonoid larut dalam air serta dapat
diekskresikan menggunakan etanol 70 % (Harborne, 1987).
f. Khasiat Tanaman
Daun pepaya berguna untuk obat panas yang memiliki khasiat menurunkan
panas, obat malaria, menambah nafsu makan, meluruhkan haid dan menghilangkan
sakit. Juga berguna untuk penyembuhan luka bakar. Selain itu dapat sebagai obat
cacing kremi, desentri amoba, kaki gajah (elephantois), ke Pepayaan, perut mulas,
kanker dan masuk angin.

2.2 Kenggunaan dari khasiat daun pepaya sebagai berikut :


1. Sebagai Obat jerawat.
Daun pepaya dapat mengobatinya yaitu dengan membuatnya menjadi
masker. Cara membuat maskernya : ambil 2-3 lembar daun pepaya yang sudah

tua.Kemudian jemur dan tumbuk sampai halus. Tambahkan satu setenagh sendok
air, baru deh dapat di manfaatkan untuk muka penuh jerawatmu.
2. Manfaat Memperlancar pencernaan
Daun dari tumbuhan pepaya memiliki kandungan kimia senyawa karpain.
Zat itu dapat membunuh mikroorganisme yang sering mengganggu fungsi
pencernaan.
3. Menambah nafsu makan
Manfaat ini terutama untuk anak-anak yang sulit untuk makan. Ambil daun
pepaya yang segar dan memiliki ukuran sebesar telapak tangan. Kalau sudah
ketemu tambahkan sedikit garam dan air hangat setengah cangkir. Campur semua
lalu diblender. Kemudian saring airnya, nah air itulah yang dapat dimanfaatkan
untuk menambah nafsu makan.
4. Demam berdarah
Daun pepaya juga dapat digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan
demam berdarah. Cara menggunakannya adalah dengan mengambil 5 lembar daun.
Tambahkan setengah liter air lalu direbus. Ambil air tersebut jika sudah tertinggal
tiga perempatnya saja kemudian di minum 1x3 sehari.
5. Nyeri haid
Wanita jawa zaman dulu sering memanfaatkan daun pepaya untuk
mengobati nyeri haid. Cukup Ambil 1 lembar daun saja, Tambahkan asam jawa dan
garam. Lalu campur dengan segelas air dan rebus. Dinginkan sebelum meminum
ramuan pepaya tersebut.
6. Anti kanker
Hal ini masih belum pasti, tapi dari beberapa penelitian bahwa manfaat
daun pepaya juga dapat dikembangkan sebagai anti kanker. Sebenarnya bukan

hanya daunnya saja melainkan batang pepaya juga dapat digunakan. Karena
getahnya memiliki milky latex (getah putih seperti susu).
3.1 Ekstraksi
a. Pengertian Ekstraksi
Ekstraksi (penyarian) adalah suatu cara yang dilakukan untuk mengeluarkan atau
menarik zat aktif yang terdapat di dalam sel bahan alam dengan menggunakan metode
ekstraksi dan pelarut pengekstraksi yang sesuai. Bahan alam dapat berupa tumbuhtumbuhan, hewan, mineral dan biota laut adalah merupakan sumber bahan baku obat
khususnya obat tradisional. Faktor yang mempengaruhi kecepatan penyarian adalah
kecepatan difusi zat yang terlarut melalui lapisan-lapisan batas antara cairan penyari
dengan bahan yang mengandung zat tersebut. Secara umum metode ekstraksi dapat
dibedakan menjadi infudasi, maserasi, perkolasi, soxlethasi, refluks dan destilasi uap air.
Ekstraksi bertujuan untuk menarik komponen-komponen kimia yang terdapat dalam bahan
alam. Pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk kedalam rongga sel yang
mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut organik sehingga terjadi
perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif didalam sel dan pelarut organik diluar sel.
Proses ini berulang terus sampai terjadi keadaan seimbang antara konsentrasi cairan zat
aktif didalam dan diluar sel.
b. Jenis jenis ekstraksi ( Depkes RI, 1986)
1. Ekstraksi secara Maserasi
Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana, yaitu dengan cara
merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus
dinding sel dan masuk kedalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif
akan larut karena adanya perubahan konsentrasi antara larutan zat aktif didalam sel
dengan di luar sel, maka larutan terpekat didesak ke luar. Peristiwa ini berulang
sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam
sel. Simplisia yang akan diekstraksi diserbukkan lalu dimasukkan kedalam bejana
maserasi. Simplisia tersebut direndam dengan cairan penyari, setelah dalam waktu
tertentu sekali-kali diaduk. Hal ini dilakukan selama 5 hari.
2. Ekstraksi secara Perkolasi

Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan


penyari melalui serbuk simplisia yang dibasahi. Pada metode ini simplisia yang
akan diekstraksi ditempatkan dalam suatu bejana silinder yang bagian bawahnya
diberi sekat berpori. Cairan penyari dialirkan dari atas kebawah melalui serbuk
tersebut. Cairan penyari akan melarutkan zat aktif sel-sel yang dilalui sampai
keadaan jenuh. Gerakan kebawah disebabkan oleh kekuatan beratnya sendiri dan
cairan diatasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cendrung untuk menahannya.
3. Ekstraksi secara Soxhletasi
Ekstraksi

dengan

cara

ini

pada

dasarnya

adalah

penyarian

berkesinambungan secara dingin. Alat soxhletasi dibuat dari bahan gelas yang
terbagi atas tiga bagian : bagian tengah untuk menampung serbuk simplisia yang
akan diekstraksi yang dilengkapi dengan pipa pada bagian kiri dan kanan, satu
untuk jalannya uap air dan yang lain untuk jalannya larutan yang berkondensasi
uap menjadi cairan, agar cairan penyari yang dipakai tidak terlalu banyak .
sedangkan bagian bawah terdapat labu alas bulat yang berisi cairan penyari dan
ekstrak.
4. Ekstraksi secara Refluks
Cara ini termasuk cara ekstraksi yang berkesinambungan. Bahan yang akan
diekstraksi direndam dengan cairan penyari dalam labu alas bulat yang dilengkapi
dengan alat pendingin tegak, kemudian dipanasi sampai mendidih, cairan penyari
akan menguap kemudian terkondensasi oleh pendingin tegak dan akan turun
kembali menyari zat aktif dalam simplisia tersebut, hingga tersari dengan
sempurna.
5. Ekstraksi secara Infundasi
Infundasi adalah proses penyarian yang umumnya digunakan untuk
menyari zat aktif yang larut dalam air dari bahan nabati, yang dilakukan dengan
cara membasahi dengan air, biasanya dua kali bobot bahan, kemudian ditambah
dengan air secukupnya dan dipanaskan dalam tangas air selama 15 menit suhu 90980 C sambil sesekali diaduk. Infuse diserkai selagi masih panas melalui kain
flanel. Untuk mencukupi kekurangan air, ditambahkan air melalui ampasnya.
Umumnya 100 bagian sari diperlukan 10 bagian bahan.
6. Ekstraksi secara Destilasi uap air
Ekstraksi destilasi uap air dipertimbangkan menyari serbuk simplisia yang
mengandung komponen yang mempunyai titik didih tinggi pada tekanan normal.

Pada pemanasan biasanya kemungkinan akan terjadi kerusakan zat aktifnya. Untuk
mencegah hal tersebut maka penyarian dilakukan dengan destilasi uap air.
c. Proses yang terjadi selama proses ekstraksi :

Pembilasan senyawa-senyawa dalam simplisia keluar dari simplisia

Melarutnya kandungan senyawa kimia oleh pelarut keluar dari sel tanaman melalui
proses difusi dengan 3 tahapan :
1. Penentrasi pelarut kedalam sel tanaman sehingga terjadi pengembangan
(swelling) sel tanaman.
2. Proses disolusi yaitu melarutnya kandungan senyawa didalam pelarut.
3. Difusi dari senyawa tanaman, keluar dari sel tanaman (simplisia).

d. Pertimbangan pemilihan metode ekstraksi didasarkan pada :

Bentuk/tekstur bahan yang digunakan

Kandungan air dari bahan yang diekstrasi

Jenis senyawa yang akan diekstraksi

Sifat senyawa yang akan diekstraksi


Pemilihan metode ekstraksi tergantung bahan yang digunakan, bahan yang
mengandung mucilago dan bersifat mengembang kuat hanya boleh dengan cara
maserasi. Sedangkan kulit dan akar sebaiknya di perkolasi. Untuk bahan yang
tahan panas sebaiknya diekstrasi dengan cara refluks sedangkan simplisia yang
mudah rusak karna pemanasan dapat diekstrasi dengan metode soxhlet.

e. Hal Yang Penting Diperhatikan Dalam Ekstraksi


Pada umumnya untuk menghindari reaksi enzimatik dan hidrolisis, maka dilakukan
perendaman simplisia dalam alkohol yang mendidih untuk mematikan jaringan simplisia.
Alkohol secara umum sangat baik untuk proses ekstraksi awal simplisia. Proses ekstraksi
dalam simplisia berdasarkan prinsip kesetimbangan konsentrasi, apabila konsentrasi antara

pelarut dan simplisia telah setimbang maka pelarut akan jenuh dan tidak bisa menarik
kandungan kimia dalam simplisia oleh sebab itu dilakukan penambahan pelarut baru dalam
metode ekstrasi jenis tertentu. Ekstraksi pada simplisia jaringan hijau (berklorofil), bila
diekstrasi ulang warna hijau hilang sempurna, maka diasumsikan seluruh klorofil dan
senyawa yang berbobot rendah lainnya sudah terekstraksi seluruhnya.
f. Faktor Yang mempengaruhi Kesetimbangan Konsentrasi Dalam Ekstraksi :

Perbandingan jumlah simplisia dan pelarut

Proses difusi sel yang utuh

Lama perendaman dan pengembangan simplisia

Kecepatan proses disolusi simplisia yang terintegrasi

Kecepatan terjadinya kesetimbangan

Suhu dan pH interaksi senyawa terlarut dan tidak larut

Tingkat lipopilitas (kepolaran)

3.2 Sabun cair


a. Pengertian sabun
Sabun adalah garam alkali dari asam lemak dan dihasilkan menurut reaksi
asam basa biasa. Basa alkali yang umum digunakan untuk membuat sabun adalah
Kalium Hidroksida (KOH), Natrium Hidroksida (NaOH), dan Amonium
Hidroksida (NH4OH), sehingga rumus molekul sabun selalu dinyatakan sebagai
RCOOK atau RCOONa atau RCOONH4. Sabun kalium ROOCK disebut juga
sabun lunak dan umumnya digunakan untuk sabun mandi cair, sabun cuci pakaian
dan perlengkapan rumah tangga. Sedangkan sabun natrium, RCOONa, disebut
sabun keras dan umumnya digunakan sebagai sabun cuci, dalam industri logam dan
untuk mengatur kekerasan sabun kalium. Didalam air, sabun bersifat sedikit basa
(Petrucci, 1966).
b. Sifat-sifat sabun

1.

Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga akan
dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa.
CH3(CH2)16COONa + H2O CH3(CH2)16COOH + OH

2.

Jika larutan sabun dalam air diaduk, maka akan menghasilkan buih, peristiwa
ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan
buih

setelah

garam-garam

Mg

atau

Ca

dalam

air

mengendap.

CH3(CH2)16COONa + CaSO4 Na2SO4 + Ca (CH3 (CH2) 16COO)2


3.

Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses kimia


koloid, sabun (garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci
kotoran yang bersifat polar maupun non polar, karena sabun mempunyai gugus
polar dan non polar (Petrucci, 1966).

c. Macam - macam sabun


1. Shaving Cream disebut juga dengan sabun Kalium. Bahan dasarnya adalah
campuran minyak kelapa dengan asam stearat dengan perbandingan 2 :1.
2. Sabun Cair dibuat melalui proses saponifikasi denganm menggunakan minyak
jarak serta menggunakan alkali (KOH). Untuk meningkatkan kejernihan sabun,
dapat ditambahkan gliserin atau alkohol.
3. Sabun kesehatan pada dasarnya merupakan sabun mandi dengan kadar parfum
yang rendah, tetapi mengandung bahan-bahan antiseptik dan bebas dari bakteri
adiktif. Bahan-bahan yang digunakan dalam sabun ini adalah tri-salisil anilida,
tri-klorkarbanilida, irgassan Dp 300 dan sulfur.
4. Pembutan sabun chip tergantung pada tujuan konsumen didalam menggunakan
sabun yaitu sebagai sabun cuci atau sabun mandi dengan beberapa pilihan
komposisi tertentu. Sabun chip dapat dibuat dengan berbagai cara yaitu melalui
pengeringan atau menggiling, atau juga dengan menghancurkan sabun yang
berbentuk batangan.
5. Sabun Bubuk untuk mecuci, dapat diproduksi melalui drymixing. Sabun bubuk
mengandung bermacam-macam komponen.
3.3

Screening fitokimia

Skrining fitokimia adalah metode analisis untuk menentukan jenis metabolit


sekunder yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan karena sifatnya yang dapat bereaksi
secara khas dengan pereaksi tertentu. Skrining fitokimia dilakukan melalui serangkaian
pengujian dengan menggunakan pereaksi tertentu.
Beberapa jenis pereaksi yang dapat digunakan untuk skrining fitokimia antara lain :
a. Uji Senyawa Fenol dan Flavonoid
Fenol dan flavonoid dapat dideteksi menggunakan larutan FeCl3 1% dalam
etanol. Hasil uji dianggap positif apabila dihasilkan warna hijau, merah, ungu,
biru atau hitam. Uji shinoda (Mg dan HCl pekat) dapat juga digunakan untuk
mendeteksi flavonoid. Flavonoid akan menunjukkan warna merah ceri yang
sangat kuat jika disemprot dengan pereaksi ini (Harborne, 1987).
b. Uji Kumarin dan Antrakuinon
Kumarin dan antrakuinon dapat dideteksi menggunakan pereaksi semprot
NaOH dan KOH 5% dalam alkohol. Setelah penyemprotan, kumarin akan
berfluorosensi hijau-kuning yang terlihat bila plat KLT yang sudah kering
disinari dengan sinar UV. Antrakuinon dapat dideteksi bila senyawa pada plat
KLT yang semula kuning dan coklat kuning berubah menjadi merah, ungu,
hijau, atau lembayung setelah disemprot (Harborne, 1987).
c. Terpenoid
Pereaksi Lieberman-Burchard adalah pereaksi yang sering digunakan untuk
uji senyawa terpenoida. Pereaksi ini dibuat dari campuran anhidrid asetat dan
H2SO4 pekat. Kebanyakan triterpena dan sterol memberikan warna hijau biru
dengan pereaksi ini. Cara lain untuk mendeteksi terpena adalah menyemprot
plat KLT dengan larutan KMnO4 0,2% dalam air, antimon dalam kloroform,
H2SO4 pekat atau vanillin-H2SO4. Setelah penyemprotan, senyawa yang
positif mengandung terpenoid akan menunjukkan perubahan warna (Harborne,
1987).
d. Uji Alkaloid
Alkaloid dapat dideteksi dengan beberapa pereaksi pengendapan. Pereaksi
Mayer mengandung kalium iodida dan merkuri klorida, dengan pereaksi ini
alkaloid akan memberikan endapan berwarna putih. Peraksi Dragendorf
mengandung bismuth nitrat dan merkuri klorida dalam asam nitrit berair.
Senyawa positif mengandung alkaloid jika setelah penyemprotan dengan
pereaksi Dragendrof membentuk warna jingga (Sastrohamidjojo, 1996).

3.4

Kromatologi Lapis Tipis


Kromatologi Lapis Tipis adalah cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa

murninya dan mengetahui kuantitasnya yang digunakan. Kromatologi Lapis Tipis


digunakan untuk memisahkan senyawa-senyawa yang sifatnya hidrofobik seperti lipidalipida dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan

dengan kromatografi kertas. Untuk

mendeteksi apakah hasil kromatogram sesuai sampel dapat dengan dua cara :
1.

Visual, yaitu dengan menggunakan mata telanjang, lampu UV 254 nm atau


365 nm.

2.

Penampak bercak, yaitu dengan menyemprotkan pereaksi tertentu, sehingga


membentuk komplek warna tertentu anatara sampel pereaksi.

Prinsip kerja KLT :

KLT menggunakan sebuah lapisan tipis silika atau alumina yang seragam
pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras.

Jel sikila ( atau alumina ) merupakan fase diam.

Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai.

Pelaksanaan ini biasanya dalam pemisahanwarna yang merupakan


gabungan dari beberapa zat pewarna.

3.5

Uji histokimia
Uji histokimia bertujuan untuk mengetahui berbagai macam zat kandungan yang
terdapat dalam jaringan tanaman. Dengan pereaksi spesifik, zat zat kandungan
tersebut akan memberikan warna yang spesifik pula sehingga mudah dideteksi.
(Anonim,1987).
No Golongan

Pereaksi

Senyawa
1. Lignin

Larutan floroglusin LP danMerah


asam klorida P

Warna

2. Suberin

Larutan sudan III LP

Merah

Kutin
Minyak atsiri
Minyak lemak
Getah
Resin
3. Tanin (zat samak)

Larutan

4. 1,8-

sulfat LP
Kalium

Merah

dioksiantrakinon
5. Pati

hidroksida etanol 90% P


Larutan yodium 0,1 N

Pati berwarna biru.

besi III ammoniumHijau, biru, dan hitam

Aleuron

Aleuron

berwarna

kuning coklat, sampai


coklat.
Endapan coklat

6. Alkaloid

Larutan bouchardat LP

7. Flafon

Larutan natrium hidroksida 5%Kuning


LP

3.6

Monografi Bahan
1. Aquadest (Departemen Kesehatan RI,1979)
Nama Resmi : AQUA DESTILLATA
Nama Lain

: Air suling

BM

: 18,02

RM

: H2O

Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa

K/P

: Sebagai pelarut/ zat tambahan

2. CMC-Na
Pemerian

: Putih, serbuk halus, bersifat asam, higroskopik, dengan sedikit


karakteristik bau.

Kelarutan

: Larut di dalam air, di dalam etanol (95%) dan gliserin, dapat


terdispersi di dalam air untuk membentuk larutan koloidal bersifat
asam.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

Kegunaan

: Bahan pengental yang baik, viskositasnya

tinggi, menghasilkan

gel yang bening.


Range

: 0,25% - 1 % untuk emulsifying agent ( hanndbook hal 87 )

3. TEA (Depkes, 1995)


Nama resmi

: TRIAETHANOLAMINUM

Nama lain

: Trietanolamina

Pemerian

: Cairan kental, tidak berwarna hingga kuning pucat, bau lemah


mirip amoniak, higroskopik.

Kelarutan

: Mudah larut dalam air dan etanol (95%) P, larut dalam kloroform P

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat


Kegunaan

: Zat tambahan dan membantu stabilitas gel

4. Methylparaben (Depkes, 1979)


Nama resmi

: METHYLIS PARABENUM

Nama lain

: Metil paraben, Nipagin M.

Pemerian

: Serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak mempunyai


rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa tebal.

Kelarutan

: Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam
3,5 bagian etanol (95%) P dan dalam 3 bagian aseton P; mudah larut
dalam eter P dan dalam larutan alkali hidroksida; larut dalam 60
bagian gliserol P panas dan dalam 40 bagian minyak lemak nabati
panas, jika didinginkan larutan tetap jernih.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik


Kegunaan

: Zat pengawet

Range

: 0,02% - 0,3% (Rowe, 2009)

5. Natrium Lauril Sulfat (Setia J. 2007)

Rumus molekul : CH3(CH2)10CH2OSO3Na


Pemerian

: Natrium laurel sulfat terdiri dari Kristal putihn atau putih


kekuningan, serpihan atau serbuk yanghalus, sebuah zat lemak yang
bersabun, terasa pahit, dan berwarna redup.

Kelarutan

: Larut bebas dalam air, membentuk larutan berpendapar, praktis


tidak larut dalam klororm dan eter.

Kegunaan

: Sebagai detergen

6. Propilenglikol (Depkes, 1979)


Nama resmi

: PROPYLENGLYCOLUM

Nama lain

: Propilenglikol

Pemerian

: Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa agak


manis, higroskopik

Kelarutan

: Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P dan dengan


kloroform P, larut dalam 6 bagian eter P, tidak dapat campur dengan
eter minyak tanah P.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.


Kegunaan

: Zat tambahan, pelarut, humectan.

Range

: 15% (Rowe, 2009).

7. Minyak kelapa (Departemen Kesehatan RI,1979)


Nama resmi

: OLEUM COCOS

Nama lain

: Minyak kelapa.

Pemerian

: Cairan jernih tidak berwarna, atau kuning pucat, bau khas, tidak
tengik.

Kelarutan

: Larut dalam 2 bagian etanol (95%) P, pada suhu 60 0 , sangat mudah


larut dalam klorofrm P dan eter P.

K/P

: Zat tambahan

8. Gliserin (Farmakope Indonesia IV hal 413, Handbook of Pharmaceutical Excipient


Edisi 3 hal 220)
Pemerian

: Cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna, rasa manis; hanya


boleh berbau khas hal 283)

lemah higroskopis, netral terhadap

lakmus, 0,6x lebih manis dari sukrosa.


Kelarutan

: Dapat bercampur dengan air, dan dengan etanol; tidak larut dalam
minyak lemak dan minyak menguap.

Khasiat

: Antimicrobial preservative : >20%


Sweetening agent in alcoholic elixirs : up to 20%
Emollient : Up to 30%
Solvent parenteral formulations : Up to 50%

BAB III
METODE PENGUJIAN
4.1

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan:

Timbangan dan anak timbangan

Bahan yang dibutuhkan :


- Ekstrak daun pepaya

4.2

Batang Pengaduk

- CMC Na

Mortir dan stemper

- Metil paraben dan propil paraben

Cawan Porselin

- Na. lauril Sulfat

Beaker glass

- Oleum cocos

Serbet

- Oleum rosae

Botol sabun cair

- Propilenglikol

Bunsen dan kaki tiga

- TEA

Blender

- Aquadest

Oven

- Daun pepaya

Pisau

- Gliserin

Pengayak

Nampan

Ekstraktor Soxhlet

Cammber

Lempeng silikagel254P

Gunting, pensil, penggaris

Pinset

Pembuatan Simplisia
a. Panen
-

Daun pepaya diperoleh dari kebun daerah Tidar, Malang 1 kg basah.

b. Penyortiran bahan baku


-

Dipilih daun pepaya muda karena diketahui banyak mengandung zat bernama
alkaloid juga enzim papain, dipilih daun yang dianggap bagus (tidak ada
bolongan atau cacat pada permukaan daun).

c. Pencucian
-

Disiapkan alat dan bahan, meliputi : wadah, daun pepaya dan air (air mengalir
untuk mendapatkan kebersihan yang maksimal).

Diambil satu per satu daun pepaya, dicuci dibawah aliran air hingga bersih.

Bilas sekali lagi semua daun pepaya yang telah dicuci untuk memastikan
kebersihannya.

d. Penirisan
-

Disiapkan wadah atau nampan berlubang kecil.

Diletakkan daun pepaya dalam wadah.

Digoyang-goyangkan wadah hingga daun pepaya dirasa cukup tiris.

e. Perajangan
-

Disiapkan alat dan bahan, meliputi pisau, papan untuk mengiris, wadah dan
daun pepaya yang telah bersih.

Kemudian dirajang melintang dengan ukuran 0,25 0,06 cm.

Lakukan seterusnya hingga semua daun terajang.

f. Penimbangan awal
-

Disiapkan alat dan bahan meliputi timbangan dan daun pepaya.

Ditimbang bobot rajangan daun pepaya.

Catat hasil.

g. Pengeringan
-

Disiapkan tampah / nampan (dipilih wadah dengan permukaan yang datar,


dimaksudkan agar bahan terkena sinar matahari dengan merata misal anyaman
bambu atau tikar).

Ditata rajangan daun pepaya dalam wadah secara merata dan tidak saling
bertumpukkan.

Dijemur daun pepaya tersebut tidak boleh terkena langsung dengan sinar
matahari (ditutup kain hitam).

h. Penimbangan simplisia
-

Disiapkan timbangan dan simplisia daun pepaya.

Ditimbang bobot simplisia setelah kering.

Catat hasil.

i. Penyortiran hasil pengeringan


-

Dipisahkan antara simplisia yang bentuknya bagus (bentuknya sama besar,


warna yang sama tidak terlalu gosong).

j. Penghalusan
-

Masukkan simplisia yang telah kering kedalam blender, kemudian blender


hingga halus.

k. Pengayakan
4.3

Screening Fitokimia
a. Uji Skrining fitokimia alkaloid
Uji skrining fitokimia senyawa golongan alkaloid dilakukan dengan menggunakan
metode Culvenor dan Fitzgerald.
Bahan tanaman segar sebanyak 5-10 g diekstraksi dengan kloroform
beramonia lalu disaring.
Selanjutnya kedalam fitrat ditambahkan 0,5-1 mL asam sulfat 2 N dan
dikocok sampai membentuk dua lapisan.
Lapisan asam (atas) dipipet dan dimasukkan kedalam tiga buah tabung
reaksi.
Kedalam tabung reaksi yang pertama ditambahkan dua tetes pereaksi
meyer.
Kedalam tabung reaksi kedua tetes pereaksi dragendorf dan kedalam
tabung reaksi yang ketiga dimasukkan dua tetes pereaksi wagner.
Adanya seyawa alkaloid ditandai dengan terbentuknya endapan putih pada
pereaksi yang pertama dan timbulnya endapan coklat kemerahan pada
tabung reaksi kedua dan ketiga.
b. Uji Skrining Skrining Flavonoid
Uji senyawa ini dilakukan dengan menggunakan pereaksi willstater atau sianidin.
Bahan sampel (5 gram) diekstraksi dengan pelarut n-heksana atau
petroleum eter sebanyak 15 ml kemudian disaring.
Ekstrak yang diperoleh selanjutnya diekstraksi lebih lanjut menggunakan
methanol (CH3OH) atau etanol (C2H5OH) sebanyak 30 ml.
2 ml ekstrak etanol atau metanol yang diperoleh kemudian dimasukkan ke
dalam tabung reaksi dan ditambah dengan 0,5 ml asam klorida P (HCL P)
dan 3-4 pitalogam Mg.
Adanya flavonoid ditandai dengan warna merah, orange dan hijau
tergantung pada struktur flavonoid yang terkandung dalam sampel tersebut.
c. Skrining Fitokimia Terpenoid dan Steroid Tak Jenuh

Uji skrining senyawa-senyawa golongan terpenoid dan steroid tak jenuh dilakukan
dengan menggunakan pereaksi Liebemann-bourchard.
Bahan sampel tanaman sebanyak 5 gram diekstrasi dengan pelarut n
heksana atau petroleum eter ( 10 ml), kemudian disaring.
Ekstrak yang diperoleh diambil sedikit dan dikeringkan diatas papan spot
test, ditambahkan 3 tetes unhidrida asetat atau (Ac2O) dan kemudian 1 tetes
asam sulfat pekat atau (H2SO4 P).
Adanya senyawa golongan terpenoid akan ditandai dengan timbulnya
warna merah sedangkan adanya senyawa steroid ditandai dengan
munculnya warna biru.
d. Srining Fitokimia Antrakuionon
Modifikasi Uji Borntrager dapat digunakan untuk menguji adanya senyawa
golongan antrakuinon.
Bahan tanaman sebanyak 5 gram diuapkan diatas penangas air sampai
kering.
Bahan kering yang sudah dingin tersebut kemudian dimasukkan ke dalam
campuran larutan 10 ml KOH 5 N dan 1 ml H 2O2 3 % dan dipanaskan
diatas penangas air selama 10 menit, kemudian disaring.
Kedalam filtrat yang diperoleh setelah penyaringan, ditambahkan asam
asetat glasial sampai larutan bersifat asam, kemudian diekstraksi dengan
benzena.
Ekstrak benzena yang diperoleh lalu diambil sedikit (5 ml) dan ditambah 5
ml amonia, lalu dikocok.
Jika terbentuk warna merah pada lapisan amonia, maka bahan tanaman
tersebut mengandung senyawa golongan antrakuinon.
4.4

Kromatografi Lapis Tipis


KLT berguna untuk mengetahui jumlah komponen dalam sampel. Peralatan yang

digunakan untuk KLT adalah chamber, pinset, lempeng silikagel254P , dan eluen ( Toluena
P-etil asetat P-dietilamina P ).

Preparasi sampel : ditimbang 1 gram serbuk simplisia, kemudian dibasahi dengan 1 mL


amonia encer P. Bahan disari dengan 5 mL metanol P dilakukan dengan cara dikocok pada
suhu 60oC selama 15 menit. Inilah langkah-langkah memakai KLT:
1. Potong plat sesuai ukuran. Biasanya, untuk satu spot menggunakan plat selebar 1
cm. Berarti jika menguji 3 sampel (3 spot) berarti menggunakan plat selebar 4 cm.
2. Buat garis dasar (base line) di bagian bawah, sekitar 2 cm dari ujung bawah plat,
dan garis akhir di bagian atas.
3. Menggunakan pipa kapiler, totolkan sampel cairan yang telah disiapkan sejajar,
tepat di atas base line. Jika sampel padat, larutkan pada pelarut tertentu. Keringkan
totolan.
4. Dengan pipet yang berbeda, masukkan masing-masing eluen ke dalam chamber
dan campurkan.
5. Tempatkan plat pada chamber berisi eluen. Base line jangan sampai tercelup oleh
eluen. Tutuplah chamber.
6. Tunggu eluen mengelusi sampel sampai mencapai garis akhir, di sana pemisahan
akan terlihat.
7. Setelah mencapai garis akhir, angkat plat dengan pinset, keringkan dan ukur jarak
spot. Jika spot tidak kelihatan, amati pada lampu UV. Jika masih tak terlihat,
semprot dengan pewarna tertentu.

4.5

Ekstraksi
Sebanyak 40 gram simplisia diekstrak menggunakan pelarut etanol 70% sebanyak

500 mL dengan metode ekstraksi soxhlet.

Pasang alat seperti gambar di atas

Masukkan simplisia ke dalam tabung soxhlet


Basahi simplisia dengan etanol 70% hingga batas permukaan sifon ( satu sirkulasi )
Catat pelarut yang digunakan dalam satu sirkulasi, kemudian masukkan sisa pelarut
ke dalam labu untuk satu sirkulasi selanjutnya.
Panaskan labu, kemudian pelarut akan naik melalui pipa uap dan membasahi
simplisia. Cairan akan diembunkan.
4.6

Pembuatan Sediaan
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Ditimbang semua bahan yang digunakan.
3. Metil paraben dilarutkan dalam air panas kemudian CMC Na ditaburkan diatas
larutan metil paraben kemudian didiamkan hingga mengembang, setelah itu diaduk
ad homogen didalam mortir.
4. Tambahkan ekstrak daun pepaya dalam mucilago aduk hingga homogen.
5. Tambahkan propil paraben dan oleum cocos kedalam (no. 4) aduk hingga
homogen.
6. Tambahkan propilenglicol, TEA, gliserin kedalam campuran tersebut gerus sampai
homogen.
7. Larutkan natrium lauiril sulfat didalam beaker glass lalu masukan kedalam mortir
kemudian tambahkan oleum rosae aduk sampai homogeny.

4.7

Pengujian Sediaan
a.
b.

c.

Uji Organoleptis meliputi bau, warna dan bentuk.


Uji pH
Tuang sabun cair ke dalam beker gelas.
Kenakan pada bagian sensor dari pH meter lalu catat nilai yang muncul.
Uji Homogenitas
Ambil sedikit sabun cair.
Letakkan pada kaca objek tutup dengan kaca objek lainnya.
Amati sabun cair tersebut, apakah ada partikel-partikel yang menggumpal

atau tidak homogen.


d. Bobot Jenis Zat Cair
Siapkan alat dan bahan.
Disamakan suhu antara air dengan sabun cair.
Cuci piknometer lalu dikeringkan.
Timbang bobot piknometer kosong, kemudian catat hasilnya.
Timbang piknometer + aquades, kemudian catat hasilnya.
Timbang piknometer + sabun cair, catat hasilnya.
Hitung bobot jenisnya.
e. Uji Viskositas
Siapkan alat dan bahan.
Sabun cair diletakkan pada pengolah, didiamkan beberapa menit.

f.

Kemudian spindel dicelupkan pada sabun cair.


Putar spindel minimal 5 putaran.
Baca skala dan koefisiennya.
Hitung viskositasnya dalam d Pas ( skalanya dan koefisiennya).
Lakukan dengan 3 ukuran spindel (1 d Pas = 100 Cp).
Uji Daya busa
Uji daya busa terhadap air suling dilakukan dengan cara yaitu larutan sabun
1 % sebanyak 50 ml dimasukkan ke dalam gelas ukur 1L kemudian
tingginya diukur. Teteskan 200 ml larutan yang sama dengan bantuan buret
dengan ketinggian 90 cm di atas permukaan sabun, pada menit 0, 0,5, 3, 5,
dan 7 tinggi busa yang terbentuk diukur (Kurniawati, 2004).

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Pengujian Simplisia


No Golongan SenyawaPereaksi
1.

Lignin

Warna

Hasil Uji

Larutan floroglusin LP dan asamMerah


klorida P

Positif
Perbesaran 450 X

2.

Suberin

Larutan sudan III LP

Merah

Kutin
Minyak atsiri
Minyak lemak
Getah
Resin

Positif
Perbesaran 450 X
Hijau, biru atau hitam

3.

Larutan
Tanin (zat samak)

besi III ammonium

sulfat LP
Positif hijau
Perbesaran 100 X

4.

Katekol

Larutan vanilin P 10% b/v

Merah intensif

Dalam etanol (90%) dan asam


klorida pekat

Negatif
Perbesaran 450 X
5.

Pati

Larutan yodium 0,1 N

Aleuron

Pati

berwarna

aleuron

biru,

berwarna

kuning coklat

Negatif
Perbesaran 100 X
6.

Alkaloid

Larutan bouchardat LP

Endapan coklat

Positif
Endapan coklat
Perbesaran 100 X

7.

Flafon

Larutan natrium hidroksida 5%Kuning


LP

Positif
Perbesaran 450X
5.2 Screening Fitokimia
Alkaloid

Flavonoid

Terpenoid
steroid

Endapan
dengan

putih
pereaksi

Mayer

Endapan
dengan
Dragendorf

merah
pereaksi

dan Antrakuinon

Endapan
dengan

Merah
pereaksi

Bourchadat

5.3 Kromatografi Lapis Tipis

5.4 Ekstraksi
Simplisia

= 60 gram

Ekstrak cair

Ekstrak kental

Rendeman ekstrak

5.5 Mutu Fisik Sediaan


a. Organoleptis
Bentuk
: cair
Warna
: hijau pekat
Bau
: bunga mawar
b. Uji pH
:7
Karena kulit memiliki pH yang asam ( 5,0 6,5 ) sehingga sabun dibuat netral atau
sedikit alkali. (Wasitaatmadja, 1997).
c. Uji homogenitas : homogen
d. Uji Daya Busa
Dalam Cm

Dalam Menit

BAB V
PEMBAHASAN

Dalam pratikum kali ini kami membuat sediaan sabun cair dari ekstrak daun
pepaya (Caricae folium). Daun pepaya yang digunakan kami ambil di daerah Tidar,
Malang. Daun pepaya yang digunakan sebanyak 3 kg, setelah dijadikan simplisia menjadi
310 gram. Hasil uji skrining yang kami lakukan diperoleh kandungan alkaloid, flavonoid,
dan steroid. Untuk uji KLT diperoleh warna biru pada sinar UV dan menggunakan
pereaksi penyemprotan Kalium kromat. Pada uji KLT kami telah melakukan pengujiannya
sebanyak dua kali. Pada pengujian yang pertama yaitu kesalahan

pada pereaksi

penyemprotan,

penyemprotan

yang

dimana

seharusnya

menggunakan

pereaksi

Dragendroff yang nantinya akan menghasilkan endapan coklat. Dan pengujian KLT yang
kedua yaitu karena sedikitnya eluen yang digunakan sehingga eluen tidak mampu
mendorong sampel untuk naik keatas. Disamping itu eluen yang digunakan berulang kali
menyebabkan sisa gas yang tersisa didalam cummber sedikit, padahal yang digunakan
pada saat uji KLT adalah gas dari eluen tersebut. Dan untuk uji mutu fisik sediaan yang
meliputi uji organoleptis, uji pH, dan uji homogenitas memenuhi syarat. Sedangkan untuk
uji daya busa diperoleh busa yang sangat sedikit dikarenakan dalam formulasi penggunaan
Ol cocos, gliserin, propilenglikol sangat tinggi sehingga tidak terjadi reaksi penyabunan

yang sempurna. Selain itu dalam formulasi tidak adanya penambahan garam sehingga
reaksi penyabunan antara garam dengan lemak tidak terjadi sehingga busa yang dihasilkan
sedikit. Kesalahan cara pembuatan sediaan terjadi kesalahan, yaitu seharusnya
mencampurkan Ol. Cocos, TEA dan Natrium lauril sulfat terlebih dahulu agar reaksi
penyabunan terjadi. selain itu dalam formulasi kami tidak menggunakan basa yaitu KOH,
oleh karena busa yang dihasilkan tidak banyak.

BAB VI
PENUTUP

Kesimpulan :
Diperoleh simplisia sebanyak 310 gram, mengandung alkaloid, flavonoid, dan
steroid. Pada uji KLT diperoleh warna kebiru-biruan dengan menggunakan pereaksi
penyemprot K2CrO4, sediaan berbentuk cair, baunya seperti bunga mawar, dan berwarna
hijau pekat, kemudian untuk daya busa yang dihasilkan sangat sedikit dalam setiap
0,1,3,5,dan 7 menit.
Saran :
Diharapkan dalam pembuatan sediaan dengan menggunkan bahan alam perlu
memperhatikan formulasi bahan apa saja yang akan digunakan agar sediaan sabun yang
akan anda buat sesuai dengan yang diharapkan, selain itu untuk pemilihan ekstraksi yang
digunakan juga perlu diperhatikan karena pemilihan ekstraksi yang tidak tepat akan
mengakibatkan kerusakan pada senyawa yang akan anda gunakan. Terlebih lagi pada saat
uji KLT diusahakan menggunakan eluen yang sekali pakai atau penggunaan eluen secara

bersamaan maksimal eluen digunakan selama dua hari. pemilihan pereaksi penyemprot
yang sesuai juga harus lebih diperhatikan agar hasil yang diperoleh sesuai yang diinginkan.
Dalam pembuatan makalah ini, Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari kata sempurna oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang
sifatnya membangun agar dalam pembuatan makalah selanjutnya bias lebih baik lagi, atas
perhatiannya penulis ucapkan terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

Admin. 2009. pepaya.sumber.serat.pangan . diakses 15 Oktober 2014


Baeda Madjid, 2003, Mikologi Medik. Hassanuddin University Press. Makassar
Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI, 2003, Peraturan Perundang-Undangan
Dibidang Kosmetik. Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan
Produk Komplemen. Jakarta
Depertemen Kesehatan R.I., 1979, Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta
Depertemen Kesehatan R.I., 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta
Departemen kesehatan R.I., 1986, Sediaan galenika, departemen kesehatan RI, Jakarta
Gunawan, D., 1999. Ramuan Tradisional untuk Keharmonisan SuamiIstri.Seri Agrisehat.
Jakarta
Keithler, W. M.R.,1986,The Formulation of Cosmetics and cosmetics Specialitias. Drugs
and cosmetic industry, New York

Mitsui, T., 1997, New Cosmetics Science. Tokyo : Shiseido Co., Ltd.
Parrot E.L., 1971, Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutical, Burgess
Publishing Company Minneapois.
Puspito,

H.,

2008,

Bagaimana

Caranya

Membuat

Sabun.

http://

javanaturalsoap.wordpress.com(18April 2013)
Petrucci, R.H., 1966, General chimetry (Edisi ketiga), Mac Millan, Publishing Co, INC,
New York
Perry, R.H., Green, D,.1997. Chemical Engineering HandBook. McGraw-Hill Book
Company. New York.
Reklaitis,G.V., 1942, Introduction to Material and Energy Balance, McGraw-Hill Book
Company, New York.
Setyawan, B.A. 2007. Serat Makanan dan Kesehatan. Majalah Kesehatan. Jakarta.
Spitz, L., 1996, Soap and Detergents, A Theoretical and Practical Review. Illinois : AOCS
Press
Shrivastava, S. B., 1982, Soap, Detergent, and Parfume Industry. New Delhi : Small
Industry Research Institute
SNI 06-3532., 1994, Sabun Mandi. Jakarta : Badan Standarisasi Nasional
Suryani, A. , I. Sailah dan E. Hambali., 2002, Teknologi Emulsi. Bogor : Jurusan Teknologi
Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian IPB
Wasitaatmadja, S.M., 1997, Penuntun Ilmu Kosmetik Medik, UI-Press, Jakarta.
Williams, D. F.dan Schimtt. W. H., 1992, Chemistry and Technology of the Cosmetics and
Toiletries Industry. Second Edition. USA : Chesebrough Ponds, Inc

LAMPIRAN