Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah kedokteran gigi dewasa ini tidak hanya membahas tentang gigi geligi
saja, tetapi telah meluas ke rongga mulut yang terdiri dari jaringan keras maupun
jaringan lunak. Penyakit-penyakit jaringan lunak rongga mulut telah menjadi
perhatian serius oleh para ahli terutama dengan meningkatnya kasus kematian yang
diakibatkan oleh kanker yang ada di rongga mulut terutama sekali pada negara-negara
yang sedang berkembang.
Tumor ganas rongga mulut adalah tumor yang tumbuhnya cepat, infiltrasi ke
jaringan sekitarnya, dan dapat menyebar ke organ-organ lain (metastasis). Metastasis
tumor ganas ke organ lainnya dapat melalui pembuluh darah (hematogen) atau
melalui kelenjar getah bening (limfogen). Berdasarkan asalnya tumor-tumor ganas di
rongga mulut dapat berasal dari jaringan epitel mukosa dan sel jaringan ikat
mesenkim.
Kanker pada rongga mulut berdasarkan asalnya terbagi menjadi Sarkoma dan
Karsinoma. Sarkoma adalah tumor ganas (kanker) yang tumbuh dari jaringan ikat,
seperti tulang rawan, lemak, otot, atau tulang. Sedangkan karsinoma adalah jenis
kanker yang berasal dari sel yang melapisi permukaan tubuh atau permukaan saluran
tubuh, misalnya jaringan seperti sel kulit, testis, ovarium, kelenjar mucus, sel
melanin, payudara, leher rahim, kolon, rectum, lambung, pancreas, dan esofagus.
Pada makalah ini, penulis akan membahas tentang Sarkoma pada rongga mulut.
Dimana sarkoma pada rongga mulut ini terdapat berbagai macam. Antara lain :

Fibrosarcoma
Neurosarcoma
Liposarcoma

: berasal dari fibroblast


: berasal dari sel syaraf
: berasal dari sel lemak
1

Osteogenic sarcoma
Chondro sarcoma
Angiosarcoma
Sarkoma kaposi

: berasal dari sel tulang


: berasal dari sel tulang rawan
: berasal dari sel endothel
: berasal dari jaringan ikat (virus HHV-8)

Pada makalah ini, kelompok kami menitik beratkan pembahasan kepada sarkoma
kaposi.
Sarkoma kaposi pada awalnya dikenal sebagai penyakit yang mempengaruhi lakilaki usia lanjut dari daerah Eropa Timur dan Laut Tengah. Sarkoma kaposi juga
terjadi pada laki-laki Afrika dan orang dengan system kekebalan tubuh yang lemah.
Penyakit ini paling banyak terdapat pada orang-orang kulit hitam dari Afrika Tengah,
tetapi dalam beberapa tahun belakang ini penyakit ini dilaporkan sebagai bagian dari
AIDS dan sebagai komplikasi pada terapi imunosupresif. Di Amerika Serikat ada
delapan kali lebih banyak laki-laki dengan sarkoma kaposisi dibandingkn dengan
perempuan.
Dalam beberapa penelitian, terjadi kira-kira ada 20% pasien AIDS, prevalensinya
30% pada pria homo seksual yang terinfeksi HIV. Penyebaran AIDS dimasyarakat
homoseksual dengan cepat menimbulkan dugaan terhadap zat yang menyebabkan
infeksi yang dikatakan seperti virus.
Namun sarkoma kaposi tidak hanya terdapat pada mulut, tapi juga dapat dilihat
pada kulit, hidung, mata bahkan dapat menyebar ke organ dalam tubuh lain. Pada
perut dan usus sarkoma kaposi menyebabkan pendarahan dalam. Pada paru-paru
dapat menyebabkan batuk parah atau sesak nafas. Jika mengenai kelenjer getah
bening, ini dapat menyebabkan bengkak yang parah pada lengan, kaki, wajah, dan
kantong kemaluan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Analisa kasus yang didapatkan pada artikel !


2. Apa saja pemeriksaan yang dilakukan terhadap pasien dengan sarkoma kaposi
?
3. Bagaimana bentuk surat rujukan dari dokter gigi ke dokter gigi spesialis
bedah mulut ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui kaitan antara sarkoma kaposi pada pasien HIV dalam studi
kasus pada artikel yang didapatkan.
2. Untuk mengetahui bentuk surat rujukan dari dokter gigi ke dokter gigi
spesialis bedah mulut.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Sarkoma Kaposi
Sarkoma Kaposi adalah tumor yang disebabkan oleh Human herpesvirus 8
( HHV8 ) yang dikenal dengan istilah sarkoma kaposi - dikaitkan dengan herpesvirus
( KSHV ). Penyakit ini ditemukan pada tahun 1872 oleh dermatologist Hongaria
bernama Moriz Kaposi yang menjelaskan tentang 5 pasien dengan agresif idiopatik
multiple pigmen sarcoma pada kulitnya. Dan seorang pasien meninggal dengan
perdarahan gastrointestinal 15 bulan setelah ditemukannya lesi pada kulit. Dan pada
autopsy tampak lesi visceral di paru paru dan traktus pencernaannya.
Virus penyebab tumor ini ditemukan pada tahun 1994. HHV8 dapat ditularkan
melalui kontak seksual sehingga risiko untuk tertular juga ada. Bahkan, penyakit ini
telah diidentifikasi pada pasien transplantasi organ dengan HIV negative yang
menerima terapi immunosupresif. Sejak tahun 1990-an sarkoma kaposi semakin
diteliti hingga didapatkan 4 jenis sarkoma kaposi dengan manifestasi klinis yang
berbeda namun patofisiologinya sama, diantaranya : SK klasik, SK endemik pada
orang Afrika, SK pada pasien dengan terapi immunosupresan, dan SK terkait AIDS.
Sarkoma kaposi ini mengakibatkan beberapa gejala klinik mulai dari gangguan kulit
ringan sampai mempengaruhi organ tubuh.
Sarkoma Kaposi tipe klasik biasanya menyerang orang tua dari wilayah Laut
Tengah atau keturunan Eropa Timur. SK endemik pada orang Afrika yang masih
muda terutama dari daerah Afrika Sub-Sahara sebagai penyakit yang lebih agresif
menyerang kulit terutama anggota badan bagian bawah dengan prevalensi pria dan
wanita 3:1. 10% laki-laki yang menderita kanker di Afrika penyebabnya adalah
Sarkoma Kaposi. Sarkoma Kaposi pada pasien dengan terapi immunosupresan
termasuk didalamnya pasien post transplantasi organ dan terbanyak pada pasien

dengan penyakit autoimun. Lebih dari 20 % penderita AIDS di Eropa menderita


Sarkoma Kaposi dan Sarkoma Kaposi ini didapat pada pasangan muda homoseksual.
2.2 Etiologi dan Epidemiologi Sarkoma Kaposi
Etiologi dari sarkoma kaposi tidak jelas. Neoplasma endothelial ganas sering
berhubungan dengan AIDS dan mungkin juga dengan infeksi sitomegalovirus
(CMV). Terkadang sarkoma kaposi adalah bentuk pertama dari infeksi HIV. Human
Herpes Virus 8 (HHV-8) DNA bisa ditemukan dalam sel-sel sarkoma, dan pasien
dengan infeksi HIV dan HHV-8 mempunyai resiko tinggi mengembangkan sarkoma
kaposi.
Adanya peranan faktor-faktor virus (mungkin CMV) yang berkaitan dengan
angiogenesis juga diduga sebagai penyebab sarkoma kaposi. Dalam suatu penelitian
baru lelaki dengan virus herpes manusia 8 (HHV-8) hampir 12 kali lipat lebih
mungkin didiagnosa sarkoma kaposi dibandingkan lelaki yang tidak terinfeksi HHV8.
Sarkoma kaposi pada awalnya dikenal sebagai penyakit yang mempengaruhi lakilaki usia lanjut dari daerah Eropa Timur dan Laut Tengah. Sarkoma kaposi juga
terjadi pada laki-laki Afrika dan orang dengan system kekebalan tubuh yang lemah.
Penyakit ini paling banyak terdapat pada orang-orang kulit hitam dari Afrika Tengah,
tetapi dalam beberapa tahun belakang ini penyakit ini dilaporkan sebagai bagian dari
AIDS dan sebagai komplikasi pada terapi imunosupresif. Di Amerika Serikat ada
delapan kali lebih banyak laki-laki dengan sarkoma kaposisi dibandingkan dengan
perempuan.
Dalam beberapa penelitian, terjadi kira-kira ada 20% pasien AIDS, prevalensinya
30% pada pria homo seksual yang terinfeksi HIV. Penyebaran AIDS dimasyarakat
homoseksual dengan cepat menimbulkan dugaan terhadap zat yang menyebabkan
infeksi yang dikatakan seperti virus.

Namun sarkoma kaposi tidak hanya terdapat pada mulut, tapi juga dapat dilihat pada
kulit, hidung, mata bahkan dapat menyebar ke organ dalam tubuh lain. Pada perut dan
usus sarkoma kaposi menyebabkan pendarahan dalam. Pada paru-paru dapat
menyebabkan batuk parah atau sesak nafas. Jika mengenai kelenjer getah bening, ini
dapat menyebabkan bengkak yang parah pada lengan, kaki, wajah, dan kantong
kemaluan.
2.3 Gambaran Klinis Sarkoma Kaposi
Orang dengan HIV-AIDS yang memiliki sarkoma kaposi ditandai oleh 3 tahap.
Pada awalnya keganasan tersebut merupakan macula merah tanpa gejala. Selanjutnya
membesar menjadi plak merah-biru. Lesi-lesi yang lanjut tampak sebagai nodulanodula biru-ungu, berlobus, berulserasi dan menyebabkan sakit. Besarnya (pada
palatum) beberapa millimeter sampai beberapa sentimeter. Memiliki bentuk tidak
teratur, bisa tunggal atau multiple dan asimptomatik dan seringnya baru disadari oleh
sipenderita jika lesi agak besar.
Palatum adalah tempat yang paling sering dan tumor terlihat berupa area keunguan
atau nodula yang mudah berdarah. Lokasi sarkoma kaposi berkemungkinan dimana
saja di rongga mulut. Palatum keras menempati kedudukan yang paling utama. Lesi
ini juga dapat terjadi pada palatum lunak, gusi, lidah, bibir, mukosa pipi dan
oropharing. Jika lesi tersebut meliputi ginggiva maka lesi bisa menjadi hyperplastik
dan tumbuh melampaui mahkota gigi. Kemungkinan lain, lesi sarkoma kaposi yang
terlihat tulang bisa menimbulkan bengkak dilapisan atas mukosa normal.
Seringkali lesi tersebut multifokal, tidak nyaman dan memprihatinkan secara
estetika. Pada lapisan mulut, sarkoma kaposi dapat menyebabkan kesulitan untuk
makan atau menelan.
Adanya klinis atau para professional yang terlibat seperti dokter gigi mengetahui
diagnosa awal dari manifestasi HIV-AIDS di rongga mulut (terutama sarkoma kaposi)

yang berhubungan dengan oportunistik atau keganasan maka penyebaran infeksi dari
penderita kepada operator atau dari penderita ke penderita lainnya dapat
ditanggulangi dan dikendalikan. Hal ini karena tidak dapat dipungkiri bahwa
penderita HIV-AIDS semakin meningkat dan berada di lingkungan sekitar kita.

2.4 Histopatologi Sarkoma Kaposi


Histopatologi tergantung pada stadium dari sarkoma kaposi. Terdapat perubahan
histopatologi dan peningkatan pada dermal dari pembuluh darah yang terlihat pada
sel endothelial. Pada beberapa pembuluh darah, lokasi di lapisan dermis
superfisialisnya yang berhubungan dengan kulit luar sehingga tampak ireguler. Pada
lesi di dapatkan hemosiderin, deposit dan ekstravasasi dari eritrosit yang biasa
ditemukan pada infiltrat dari radang yang sedang. Patologi drai plak sarkoma kaposi
yaitu proliferasi pembuluh darah pada setiap tingkat dermis atau kulit dengan dilatasi
multiple dan angulasi pembuluh darah yang menyebabkan kekenyalan pada jaringan
kolagen.
Papul dari jaringan keras dan fascicles dari sel spindel, nodul dari sel spindel yang
berkelompok, ireguler pada garis endothelial. Pada semua stadium dari sarkoma
kaposi terdapat peradangan yang umumnya berisi limfosit, histiosit, sel plasma,
sporadic dan neutrofil.

2.5 Klasifikasi Sarkoma Kaposi

Klasik (sporadic) sarkoma kaposi


Jenis sarkoma kaposi ini sering terjadi pada pasien manula pada suku
Mediterania dan Eropa Timur. Dengan ratio pria banding wanita 10-15 : 1.
Dengan usia berkisar 50-70 tahun. Penyakit ini jarang terdapat adanya
benjolan limfe, membrane mukosa, atau keterlibatan organ viseral.
Kekambuhan bisa terjadi karena imunosupresi oleh karena faktor umur,
genetic, sejarah pernah terkena keganasan, dan kemungkinan karena infeksi
malaria. Tingkat kebersihan juga berpengaruh dalam resiko terjadinya
sarkoma kaposi tipe klasik.
Tumor ini selalu dimulai pada kulit bagian distal dari ekstremitas bawah baik
unilateral maupun bilateral berbentuk makula berwarna merah sehingga
terlihat seperti hematom. Lesi ini perjalanannya perlahan bisa vertikal maupun
horizontal dan berkembang sampai menjadi plak atau kadang kadang nodul.
Awalnya tumor berwarna coklat dan hiperkeratosis dan pada ekstremitas
bawah bisa terjadi ulserasi. Tumor ini bisa menimbulkan pitting edema
sampai terjadi fibrosis.
8

Klasik Sarkoma Kaposi bermanifestasi pada nodus limfatikus di membrane


mukosa dan organ dalam seperti traktus pencernaan yang seringnya jarang
bergejala karena sarkoma kaposi tipe ini banyak mengenai orang usia tua dan
meninggal karena penyakit lainnya.

Sarkoma kaposi berkaitan dengan AIDS ( AIDS SK )


Sebelum dekade pertama pandemi AIDS, Sarkoma Kaposi didiagnosis > 20%
pada pasien HIV-1 di Eropa. Frekuensinya pada pria dan wanita yang
berhubungan seks, pada pengguna narkoba suntik, hemofilia, resipien
transfusi darah dan bayi yang lahir dari ibu positif HIV di kota industri. Hal
inilah yang menyebabkan sarkoma kaposi merupakan keganasan yang paling
sering dijumpai pada pasien terinfeksi HIV, khususnya pada daerah yang
terbatas ketersediaan HAART (highly active antiretroviral therapy).
Di Amerika Serikat, sarkoma kaposi terdapat pada 2-3% pasien homoseksual
yang

terinfeksi HIV. Pada pertengahan tahun 1990, sarkoma kaposi

merupakan gejala yang jelas didapat pada 15% homoseksual. Di Afrika dan
negara berkembang, epidemic sarkoma kaposi terkait AIDS umum didapat
pada heteroseksual dewasa dan sedikit pada anak-anak. Kaposi sarcoma
terkait AIDS merupakan bentuk kaposi sarcoma yang paling agresif.
Serokonversi dari human herpevirus 8 (HHV-8) secara positif meningkatkan
epidemic kaposi sarcoma dalam 5-10 tahun. Adanya penurunan CD4 dan
peningkatan jumlah virus HIV-1 merupakan ukuran prognosa dari epidemic
sarkoma kaposi. Kurang dari 1/6 penderita HIV memiliki jumlah CD4 diatas
500 per mikroliter. Penyakit ini biasanya berkembang pada pasien dengan
imunodefisiensi yang parah.
AIDS SK memiliki lesi berupa makula bentuk oval kecil yang akan
berkembang menjadi plak dan nodul kecil. Lesi biasanya di wajah khususnya
di hidung, alis, telinga dan bisa juga di tenggorokan. Lesi bisa menjadi plak
yang besar di area yang luas pada wajah, tenggorokan atau ekstremitas dan

menyebabkan gangguan fungsi. Mukosa mulut bisa terkena sarkoma kaposi


juga pada 10 15% pada kasus ini. Dan lesi pada faring menyebabkan
sulitnya menelan, berbicara dan bernafas. Lesi pada lambung dan duodenum
merupakan lesi yang paling sering menyebabkan perdarahan dan ileus.
Walaupun mungkin terlihat di gastroskopi, beberapa lesi tidak terdiagnosa
histologisnya karena lokasi lesinya di submukosa dan bisa diambil dengan
forsep biopsi. Sarkoma kaposi pulmonal dapat menyebabkan gejala tertentu
seperti spasmebronkus, batuk, penurunan fungsi respirasi. Bronkoskopi
dengan transbronkhial biopsi penting untuk diagnosa sarkoma kaposi
pulmonal.

Sarkoma kaposi pada pasien terapi immunosupresan


Kejadian ini dapat terjadi pada pasien yang menjalani transplantasi organ atau
pasien yang mendapatkan terapi immunosupresor seperti penderita penyakit
autoimun. Insiden sarkoma kaposi meningkat 100x lipat pada pasien yang
menjalani transplantasi. Pada pasien dengan penyakit kongenital yang
menyebabkan imunodefisiensi tidak terjadi peningkatan resiko. Rata-rata
peningkatan terjadinya sarkoma kaposi pada pasien transplantasi di waktu 1
sampai 10 tahun setelah transplantasi. Penanganan agresif perlu dilakukan bila
ada keterlibatan organ viseral.
Pada pasien yang menjalani penanganan immunosupresi kemungkinan
terjadinya penyakit ini meningkat. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa
keterlibatan immunosupresi memegang peran penting dalam perkembangan
sarkoma kaposi. Aktivasi sistem imun dan immunosupresi memegang peran
dalam perubahan komplek HHV-8.
Tipe ini memiliki manifestasi klinis yang perjalanannya perlahan seperti SK
tipe klasik tetapi dapat juga cepat seperti SK pada AIDS. Dosis, tipe obat serta
onset yang lebih awal pada pemberian immunosupresan sangatlah penting

10

pengaruhnya terhadap perkembangan SK yang dihubungkan dengan


siklosporin A yang tinggi pada beberapa obat seperti glukokortikoid dan
azatriopine. Tumor akan lebih progresif bila dosis dinaikkan. Lesi pada tipe
ini sama dengan tipe klasik dan AIDS berkaitan dengan sarkoma kaposi. Dan
lesi ini ditemukan pada > 85% pasien dengan transplantasi dan < 15%
memiliki kelainan pada organ viseralnya ( gastrointestinal, paru ataupun
nodus limfatikus ) tanpa gejala kulit yang terlihat.

Sarkoma kaposi pada daerah endemik di Afrika


Penyakit ini utama terjadi pada pria juga pada wanita dan anak-anak dengan
seronegative HIV di Afrika. Sejak terjadi penyebaran penyakit AIDS, kejadian
ini meningkat sampai 20x lipat. Jarangnya pemakaian alas kaki berkaitan
dengan endemik sarkoma kaposi. Lesi sarkoma kaposi yang tampak yaitu
berupa nodul, vegetatif atau infiltrat dan tipe limfadenopati. Tipe vegetatif
atau infiltrat ini memiliki karakteristik lebih agresif pada proses biologis dan
lesi bisa lebih dalam sampai ke dermis, subkutis, otot dan tulang. Tipe
limfadenopati dominan menyerang anak anak dan usia muda.

2.6 Diagnosis dan Diagnosis Banding Sarkoma Kaposi


Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan sarkoma kaposi selain dari
gejala yang muncul pada penderita. Untuk menunjang penegakan diagnosa
diperlukan biopsi.
a. Diagnosa
Sarkoma kaposi sering dapat didiagnosa dengan melihat lesi pada kulit. Biasanya
datar, tanpa rasa sakit, dan tidak gatal atau berisi cairan. Lesi sarkoma kaposi dapat
tumbuh menjadi benjolan atau tempelan dan bergabung. Penyakit ini biasanya dilihat
pada kulit, atau dalam lapisan mulut, hidung, dan mata.

11

Diagnosis dapat didirikan dari biopsi, pemeriksaan mikroskop yang menunjukkan


adanya spindle. Dan deterksi protein viral LANA pada sel mengkonfirmasi diagnosis.
Di Amerika Serikat, sarkoma kaposi terdapat pada 2-3% pasien homoseksual yang
terinfeksi HIV. Pada pertengahan tahun 1990, sarkoma kaposi merupakan gejala yang
jelas didapat pada 15% homoseksual. Di Afrika dan negara berkembang, epidemic
sarkoma kaposi terkait AIDS umum didapat pada heteroseksual dewasa dan sedikit
pada anak-anak.
Sarkoma kaposi sering terjadi pada laki-laki dengan latar belakang homoseksual.
Penderita berumur antara 40-70 tahun dengan terinfeksi HIV-AIDS. Pemeriksaan
biopsi jaringan yang terinfeksi diperlukan untuk mempertegas diagnosa. Apabila lesi
besar, maka cukup dilakukan biopsi irisan. Jaringan tersebut kekentalannya sering
menyerupai daging ikan.
b. Diagnosa Banding
Diagnosa sarkoma kaposi mempunyai bentuk-bentuk klinis yang mirip dengan lesi
pigmentasi lain seperti haemangioma dan purpura. Namun, untuk purpura terlihat
lebih awal dan bisa dibedakan dengan pengujian haematologis.
Lesi sarkoma kaposi yang lebih agresif bisa terjadi jika tumor melibatkan gingival,
lesi bisa menjadi hyperplasia dan melebihi mahkota gigi. Secara alternative, lesi
tulang dari sarkoma kaposi bisa menghasilkan pembengkakan diatas mukosa normal,
sehingga bentuk klinisnya membinggungkan dengan abses periapikal.

2.7 Pencegahan Sarkoma Kaposi


Cara penularan HHV-8 belum jelas. Mungkin virus ini menular melalui hubungan
seks dan ciuman. Seperti infeksi opotunistik lain, sistem kekebalan tubuh yang sehat
dapat mengambalikan infeksi HHV-8. Cara terbaik mencegah sarkoma kaposi adalah

12

dengan memakai antiretroviral (ART) untuk menjaga kekuatan sistem kekebalan dan
menghindari seks bebas.
2.8 Terapi Sarkoma Kaposi
Perawatan sarkoma kaposi ditetapkan berdasarkan jumlah, ukuran dan lokasi lesi
sarkoma kaposi di mulut. Penting untuk melakukan profilaksis gigi sebelum memulai
terapi untuk lesi yang mengenai gingival. Terapi plak lokal dan kalkulus juga dapat
meningkatkan respon terapi yang dilakukan.
Sarkoma kaposi bisa dirawat secara bedah atau dengan kemotherapi lesi intra yang
terbatas. Pengangkatan bedah dilakukan untuk luka kecil seperti pada gingival atau
lidah. Bedah ini dilakukan dengan anastesi local menggunakan pisau atau laser
karbondioksida.
Infliltrasi lesi lokal dengan vinblastine, kemotherapi agen alkaloid memperlihatkan
kemajuan. Vinblastine bermanfaat untuk merawat lesi yang kecil khususnya pada
palatum dan gingival. Terapi radiasi bisa diindikasikan untuk lesi yang besar yang
berlipat ganda. Sering digunakan dan menghasilkan respon yang bagus. Terapi radiasi
ini memberikan efek samping xerostomia dan mukositis, namun dapat berhenti
apabila radiasi dihentikan.
Terapi antiretroviral (ART) adalah pengobatan terbaik untuk sarkoma kaposi yang
aktif. Obat ini sangat berguna untuk menjaga kekuatan system kekebalan tubuh. Juga
dapat menghentikan tumbuhnya atau bahkan memulihkan lesi kulit. Apabila sarkoma
kaposi telah menyebar pada organ dalam, pengobatan sistemik (seluruh tubuh)
dipakai, diantaranya gunakan obat anti kanker seperti Daunorubisin dan Paklitaksel.
Berbagai manifestasi klinis orang dengan HIV-AIDS (ODHA) dirongga mulut dapat
membantu klinisi pelayanan kesehatan gigi dan mulut terhadap penderita HIV
(Human Immunodefiency Virus) dan AIDS (Acquired Immuno Deficiency
Syndrome).

13

Pengobatan lain yang telah diteliti untuk sarkoma kaposi


Pendekatan antisitokin : Ada banyak penelitian terhadap sitokin, protein yang
dipakai oleh sistem kekebalan untuk merangsang sel agar tumbuh. Para peneliti
menganggap bahwa zat yang menghambat faktor pertumbuhan ini juga dapat
melambatkan pertumbuhan sarkoma kaposi.
Antibodi monoklonal : Obat ini dibuat melalui rekayasa genetis. Nama obat ini
mempunyai -mab di belakang, misalnya bevacizumab.
2.9 Komplikasi Sarkoma Kaposi
Komplikasi yang umum pada sarkoma kaposi tipe klasik adalah vena statis dan
lymphedema. Sebanyak 30 % pasien dengan sarkoma kaposi tipe klasik akan berisiko
terjadi keganasan kedua, dan yang paling sering terkena limfoma non-hodgkin.
Kekambuhan bisa terjadi karena imunosupresi oleh karena faktor umur, genetik,
sejarah pernah terkena keganasan, dan kemungkinan karena infeksi malaria. Tingkat
kebersihan juga berpengaruh dalam resiko terjadinya klasik Kaposi sarcoma.
Sarkoma kaposi terkait AIDS, tidak seperti jenis sarkoma kaposi yang lain karena
jenis ini lebih agresif. Morbiditas bisa terjadi karena terkaitnya gangguan kutaneus,
mukosa dan organ visceral secara luas. Lesi pada lambung dan duodenum merupakan
lesi yang paling sering menyebabkan perdarahan dan ileus dan bisa menyebabkan
kematian apabila tidak diatasi dengan baik. Sarkoma kaposi pulmonal dapat
menyebabkan gejala tertentu seperti spasmebronkus, batuk, penurunan fungsi
respirasi. Penyebab umum terjadinya kematian untuk lesi di paru dikarenakan adanya
pendarahan paru.
Tipe vegetatif atau infiltrat pada sarkoma kaposi terkaid AIDS memiliki
karakteristik lebih agresif pada proses biologis dan lesi bisa lebih dalam sampai ke
dermis, subkutis, otot dan tulang. Lesi pada mulut yang mudah rusak dengan digigit

14

dan berdarah atau menderita infeksi sekunder, dan bahkan mengganggu penderita
untuk makan dan berbicara.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Kasus
Kasus 1
Seorang pasien laki-laki kulit putih, berusia 24 tahun, dirujuk oleh dokter
mata ke Rumah Sakit Oswaldo (Curitiba / PR / Brazil) dengan indikasi pengobatan
untuk uveitis oleh sitomegalovirus. Keluhan utama pasien adalah hilangnya
ketajaman visual dengan intensitas yang lebih besar di mata kiri. Pasien HIV positif
sejak tahun 2008 dan pada awalnya didiagnosis dengan sifilis tersier. Namun,
kemudian, temuan klinis dan laboratorium mengungkapkan bahwa itu adalah
toksoplasmosis.
Tes laboratorium mengungkapkan jumlah CD4 sama dengan 324 / mm3
(18,39%) dan ESR dari 15 mm. Tes fungsi ginjal memiliki hasil sebagai berikut: GOT
= 15, GPT = 40, kreatinin = 1,0 mg / dL dan urea = 22,2 mg / dL. Hasil hitung darah
adalah sebagai berikut: eritrosit = 4,77 M / uL, hemoglobin = 13,4 mg / dL,
hematokrit = 41,2%, leukosit = 5.400 dan limfosit = 25. platelet Hitungan itu sama
dengan 269,000 dan penentuan glukosa = 70 mg / dL. Pemeriksaan gigi
mengungkapkan adanya beberapa gigi dan penggelapan mahkota klinis di gigi seri
sentral atas. Menurut pasien, pigmentasi gigi terjadi setelah perawatan endodontik.
Gigi # 14, # 24 dan # 25 memiliki karies dan diindikasikan untuk perawatan
endodontik. Pemeriksaan klinis juga mengungkapkan adanya kandidiasis eritematosa
di langit-langit lunak dan lesi keunguan sugestif sarkoma Kaposi di langit-langit keras
(Gambar 1). Selain itu, pasien memiliki antibodi untuk herpes virus tipe 1 dan 2.

15

Kandidiasis Oral pada awalnya diobati dengan sukses oleh Fluconazole (200 mg /
hari selama 14 hari). Biopsi insisi dilakukan di wilayah palatal dekat dengan gigi # 17
dan # 18. Kemudian, sampel jaringan dikirim untuk pemeriksaan patologis di Rumah
Sakit Klinik UFPR. Hasil penelitian menunjukkan proliferasi kaposiform vaskular
yang menegaskan hipotesis klinis Kaposi sarcoma (gambar 2A dan 2B). Kemudian,
pasien diserahkan kepada endoskopi atas untuk diagnosa sarkoma Kaposi dan tidak
ada lesi ditemukan pada saluran pencernaan bagian atas. Pasien diklasifikasikan
sebagai risiko yang buruk menurut sistem klasifikasi untuk AIDS Kaposi diusulkan
oleh Kelompok Clinical Trial AIDS. Pasien menerima rujukan untuk penyakit
menular konsultasi untuk memulai pengobatan antiretroviral (ART).

Gambar 1

Gambar 2

Kasus 2
Seorang pasien laki-laki kulit putih, berusia 47 tahun, dibawa ke Rumah Sakit
Cruz Oswaldo (Curitiba / PR / Brazil) dengan demam, diare, asthenia, anemia,
trombositopenia, dan edema tungkai bawah. Pasien didiagnosa dengan infeksi HIV
dan memiliki riwayat kecanduan alkohol.
16

Tes laboratorium menunjukkan jumlah CD4 = 324 (18,39%) dan ESR dari 135
mm. Tes fungsi ginjal memiliki hasil sebagai berikut: GOT = 19, GPT = 7, kreatinin =
0,80 mg / dL dan urea = 29 mg / dL. Hasil hitung darah adalah sebagai berikut:
eritrosit = 2.97M / uL, hemoglobin = 9.0 mg / dL, hematokrit = 26,3%, leukosit = 7,4
dan limfosit = 25. platelet Hitungan sama dengan 64 k / uL dan glukosa = 70 mg / dL.
Pemeriksaan fisik mengungkapkan adanya melanosis perokok, karies serviks dan
keausan insisal dan oklusal permukaan gigi karena bruxism. Beberapa lesi ungu,
tanpa rasa sakit dan sedikit lebih tinggi diamati di wilayah posterior langit-langit
keras (gambar 3). Pasien tidak menyadari adanya lesi. Dengan demikian, ia tidak bisa
menentukan periode dari lesi tersebut.
Pasien menjalani biopsi insisi. Fragmen lesi diperiksa di Rumah Sakit Klinik
UFPR. Bagian histologis menunjukkan proliferasi sel spindle atipikal konsisten
dengan hipotesis klinis Kaposi sarcoma (gambar 4A dan 4B). Pasien diklasifikasikan
sebagai risiko yang buruk menurut sistem klasifikasi pementasan untuk AIDS Kaposi
sarcoma karena ia dipamerkan perubahan berikut: edema (pembengkakan) karena
tumor, dan luas lisan Sarkoma kaposi di organ lain (paru-paru). Pasien dirujuk untuk
pengobatan sarkoma Kaposi di rumah sakit lain yang mengkhususkan diri dalam
pengobatan kanker, tetapi dia meninggal karena komplikasi pernapasan pleomorfik.

Gambar 3

Gambar 4

17

3.2 Pemeriksaan Pada Pasien


Pemeriksaan yang dilakukan pada pasien diatas meliputi :
1. Pemeriksaan subjektif
Identitas pasien (Nama, Alamat, Umur, Jenis kelamin, Pekerjaan)
Keluhan utama
Keluhan tambahan
Riwayat kesehatan umum
Riwayat penyakit lalu
Riwayat sosial pekerjaan
2. Pemeriksaan Objektif
Extra oral
Intra oral (lidah, mukosa, dasar mulut, palatum, gingiva, dan gigi)
3. Pemeriksaan penunjang (laboratorium)

3.3 Analisa Kasus


Sarkoma kaposi adalah neoplasma vaskuler terdiri dari ruang vaskuler
endothelium berlapis dan sel berbentul spindle. Sarkoma kaposi ini sering
memanifestasikan dengan beberapa nodul vaskular pada kulit dan organ lainnya.
Sarkoma kaposi jarang terjadi pada pasien dengan HIV negatif dan hal ini terkait
dengan infeksi dari virus HHV-8. Ada empat jenis sarkoma kaposi : klasik, endemik,
iatrogenik dan terkait HIV. Pasien dengan HIV / AIDS juga berisiko mengalami
peningkatan perkembangan sarkoma Kaposi.
Laporan kasus dan Kesimpulan :
Sarkoma Kaposi dalam diagnosis harus dipertimbangkan dari setiap pasien AIDS
yang datang dengan ciri lesi ungu kebiruan, halus, tegas, makula atau nodul di
wilayah langit-langit keras. Pengembangan Sarkoma kaposi di rongga mulut juga
memiliki implikasi prognostik untuk pasien HIV yang tidak diobati, yang ditemukan
memiliki tingkat kematian lebih tinggi daripada pasien yang terkena hanya pada kulit.
18

Bentuk klinis ini ditandai dengan lesi tunggal atau beberapa yang biasanya terletak
di ekstremitas bawah dan mempengaruhi orang-orang tua. Bentuk endemik sarkoma
Kaposi, terdapat di Afrika (terutama di selatan Gurun Sahara), relatif jarang terjadi,
tapi lebih agresif. Mempengaruhi orang dewasa muda dan anak-anak berkulit hitam.
Bentuk iatrogenik muncul dengan faktor transplantasi organ dan terapi
imunosupresif, serta kemoterapi. Selain itu, ada bentuk epidemi yang berhubungan
dengan acquired immunodeficiency syndrome.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi bahwa HIV / AIDS sebagai
tantangan kesehatan masyarakat di dunia, karena AIDS merupakan epidemi yang
mematikan terbesar di sejarah. Pada individu yang terinfeksi HIV, infeksi virus
oportunistik adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Agen ini
menyebabkan infeksi yang bisa tanpa gejala atau gejala ringan pada individu
imunokompeten, dan sering membatasi diri. Namun, pada orang imunosupresi dan
individu dengan keganasan, infeksi agen ini menyebabkan penyakit yang dapat
mengancam jiwa.
Frekuensi dan tingkat keparahan penyakit yang disebabkan oleh virus ini pada
orang yang terinfeksi HIV terutama karena disfungsi dari kedua adaptif dan respon
imun bawaan untuk patogen virus.
Salah satu kasus HIV yang terkait Sarkoma Kaposi dijumpai di Rumah Sakit
Umum San Francisco pada tahun 1981.
Empat kelompok beresiko untuk mengembangkan Kaposi

Laki-laki tua dari

Mediterania dan keturunan Eropa Timur; anak-anak dan orang dewasa dari Afrika
Tengah; orang-orang dengan terapi immunosupresif, dan pria homoseksual yang
terinfeksi human immunodeficiency virus. Dalam kasus yang dilaporkan dalam
artikel ini, sarkoma Kaposi terlihat pada pasien dengan imunosupresi terkait HIV.
Tampaknya bahwa rute dari HHV- 8 bertransmisi mungkin baik secara seksual dan
non seksual. Selanjutnya, patogenesis Sarkoma kaposi tidak pasti. Studi terbaru
menunjukkan hubungan antara semua jenis sarkoma Kaposi dan infeksi HHV-8, yang
dikenal sebagai KS terkait virus herpes (KSHV).
19

Sarkoma kaposi pada pasien HIV / AIDS, muncul sebagai makula ungu atau
nodul. Lesi ini menyakitkan dan paling sering terjadi pada palatum durum rongga
mulut. Dua pasien yang dijelaskan dalam artikel ini beberapa lesi ungu di langitlangit keras telah berkembang. Anehnya, tidak ada lesi yang diamati pada kulit.
Namun, rongga mulut adalah tempat awal munculnya penyakit di 22% dari pasien
dengan sarkoma Kaposi, dan sampai 71% dari pasien HIV dapat memiliki Sarkoma
kaposi rongga mulut bersamaan dengan kulit dan visceral keterlibatan
Penampilan klinis oral Sarkoma kaposi dapat menghasilkan keraguan tentang
diagnosis, karena ada lesi lain yang serupa. Diagnosis banding untuk lesi oral
termasuk

granuloma

piogenik,

histiocytoma,

hemangioma,

angiosarcoma,

angiomatosis basiler, limfoma kulit, linfangioendotelioma acroangiodermatitis jinak,


hemangioendothelioma

sel

spindle,

angiolipoma

dan

aneurisma

histiocytoma. Dengan demikian, biopsi dan histopatologi sangat penting

berserat
untuk

diagnosa.

3.4 Surat Rujukan


Dari keterangan kasus diatas, dokter gigi yang menangani pasien HIV dengan
sarkoma kaposi harus melakukan rujukan ke dokter gigi spesialis Bedah Mulut atau
spesialis Onkologimedik untuk melakukan perawatan lebih lanjut terhadap pasien
HIV dengan sarkoma kaposi tersebut.
Berikut adalah bentuk surat rujukan yang akan dikirimkan:

Yth. TS Bagian Bedah Mulut


Bersama ini kami kirimkan os:

20

Nama

Umur

: .

Sex

: .

Penyakit

: .

Dengan kelainan

: ..

Dengan diagnosa

:.

Dibagian kami akan/telah dilakukan prwt, mohon pmrk dan prwt lebih lanjut
di bagian TS
Terima kasih
Wassalam,
( Nama drg )

BAB IV
PENUTUP
21

4.1 Kesimpulan
Dari kasus diatas, dapat disimpulkan bahwa pasien dengan HIV dapat beresiko
terkena penyakit sarkoma kaposi. Dalam artikel ini, sarkoma Kaposi terlihat pada
pasien dengan imunosupresi terkait HIV. Sarkoma Kaposi menunjukkan hubungan
antara semua jenis sarkoma Kaposi dan infeksi HHV-8, yang dikenal sebagai KS
terkait virus herpes (KSHV).
Pada kasus diatas, ditemukan bahwa pasien sarkoma kaposi dengan HIV juga
mengalami

berbagai

infeksi

lainnya,

seperti

infeksi

Cythomegallo

virus,

toksoplasmosis, dan candidiasis.


Pasien pada kasus 1 dirujuk ke endoskopi untuk mendapatkan perawatan Anti
Retroviral Virus (ART). Sedangkan pasien kedua meninggal karena mengalami
komplikasi pada bagian saluran pernafasan.

4.2 Saran
Kesempurnaan makalah ini tergantung pada motivasi dan saran yang membangun
dari para pembaca. Maka dari itu, penulis mengharapkan masukan ataupun saran
yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

22

Antman K, Chang Y. Kaposis Sarcoma. The New England Journal of Medicine.


2000. 14. 1027 1038.
Arma, Utmi. 2009. Ilmu Penyakit Mulut. Universitas Baiturrahmah. Padang. Hlm
127-135
James WD, Berger TG, Elston DM. Kaposi Sarcoma. In : Andrews Disease of The
Skin Clinical Dermatology. Tenth Edition. Philadelphia : WB Saunders
Company ; 2006. Pg. 418 419, 599 601.
National Cancer Institute. 30 May 2015. Kaposi Sarcoma Treatment. Available at
http://www.usa.gov/kaposi-sarcoma.
Pivovar, Allana. Et al. 2012. Oral Kaposis Sarcoma in Immunosupressed Patients
Report of Cases. Brasil: Universidade Federal do Parana
Rose LJ. Sarkoma Kaposi. Available at http://www.medscape.com/sarkoma-kaposi.
Yayasan Spiritia. 30 May 2015. Sarkoma Kaposi (KS). Available at
http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=508
Nana.

30

May

2015.

Tumor

Ganas

http://blogmyworldduniaku.blogspot.com/

23

Rongga

Mulut.

Available

at