Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

ANALISA BAKTERI PEMECAH MINYAK TANAH

OLEH :
ERPIN FEBRIAN SYAHRONI
114132013

TEKNIK KIMIA
INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2015

ANALISA BAKTERI PEMECAH MINYAK TANAH

A. TUJUAN PRAKTIKUM
1 Dapat mengetahui dan memahami perhitungan jumlah bakteri pemecah minyak tanah
2

dengan metode MPN


Mengetahui prinsip kerja perhitungan jumlah bakteri pemecah minyak tanah.

B. TEORI
Bakteri pemecah minyak adalah salah satu kelompok bakteri heterostrofik yang untuk
pertumbuhanyya memerlukanadanya nutrisi minyak. Oleh karena itu banyaknya bakteri
pemecah minyak ini menunjukkan banyaknya minyak yang tersedia untuk pertumbuhannya.
Sedangkan bakteri heterostrofik merupakan bakteri yang untuk pertumbuhannya memerlukan
senyawa organik,

oleh karena itu banyaknya bakteri heterostrofik menunjukkan pula

banyaknya senyawa organik yang tersedia. Senyawa organik yang menjadi nutrisi bakteri
heterostrofik adalah senyawa organic yang mudah larut yaitu senyawa organic yang berasal
dari hasil ekskresi plankton dan plankton yang mati. (Reinheimer, 198).
Berbeda dengan metode cawan dimana digunakan medium padat (agar), dalam metode
Most Probable Number (MPN) digunakan medium cair di dalam tabung reaksi, dimana
perhitungan dilakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif, yaitu yang ditumbuhi oleh
mikroorganisme setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung yang
positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan atau terbentuknya gas di dalam
tabung Durham untuk mikroorganisme pembentuk gas. Cara melakukan metode MPN, pada
umumnya untuk setiap pengenceran digunakan 3 atau 5 seri tabung. Lebih banyak tabung
yang digunakan menunjukan ketelitian yang tinggi, tetapi alat gelas yang digunakan juga
lebih banyak.
Dalam metode MPN, pengenceran harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga
beberapa tabung yang berisi medium cair yang diinokulasi dengan larutan hasil pengenceran
tersebut mengandung satu sel mikrobia, beberapa tabung mungkin mengandung lebih dari
satu sel, sedang tabung lainnya tidak mengandung sel. Dengan demikian, setelah inkubasi
diharapkan terjadi pertumbuhan pada beberapa tabung yang dinyatakan sebagai tabung

positif, sedangkan tabung lainnya negatif. Untuk mendapatkan beberapa tabung negatif,
pengenceran yang dilakukan dalam metode MPN harus lebih tinggi dibandingkan
pengenceran dengan metode cawan.
Metode MPN biasanya untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh yang
berbentuk cair, meskipun dapat pula digunakan untuk contoh berbentuk padat dengan terlebih
dahulu membentuk suspensi 1:10 dari contoh tersebut. Grup mikroba yang dapat dihitung
dengan metode MPN juga bervariasi tergantung dari medium yang digunakan untuk
pertumbuhan.
Sebagai contoh misalnya terhadap suatu bahan dilakukan pengenceran secara desimal
kemudian dari masing-masing pengenceran dimasukkan 1 ml ke dalam tabung yang berisi
Laktosa broth dan tabung Durham. Untuk setiap pengenceran digunakan tiga seri tabung.
Setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu, dilihat tabung yang positif, yaitu tabung yang
ditumbuhi mikroba yang dapat ditandai dengan terbentuknya gas di dalam tabung Durham.
Misalnya pada tabung
pengenceran

10

pada pengenceran

10

ketiga tabung menghasilkan pertumbuhan positif, pada

dua tabung positif, pada pengenceran


105

10

satu tabung positif dan

tidak ada tabung yang positif (semua tabung negatif). Kombinasi

tabung yang positif menjadi 3,2,1,0 dan jika diambil tiga pengenceran yang pertama
kombinasinya adalah 3,2,1. Setelah dicocokkan dengan Tabel yang menunjukkan nilai MPN
(dilihat di lampran), hasilnya adalah sebagai berikut :
Kombinasi 3-2-1
Nilai MPN dari Tabel MPN 3 seri = 1,50
MPN mikroba

= nilai MPN
3
= 1,50 1/ 10

= 1,50 10

1
Pengenceran tabung yang ditengah

C. ALAT DAN BAHAN


Alat yang digunakan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tabung kaca
Pembakar spirtus
Spatel drygalski
Inkubator
Vortex
Pipet steril

Bahan yang digunakan :


1. Sampel Air
2. Aquadest steril
3. Minyak Tanah
4. Alkohol 70 %
5. K2HPO4

D. BAGAN KERJA

Dilakukan tiga macam pengenceran sampel air, yaitu


10 ml, 1 ml, 0.1 ml secara aseptis

Digoyangkan tabung berisi sampel air yang telah diencerkan.

Dibuka kapas penutup dan panaskan leher tabung.


Kapas penutup tetap dipegang dengan tangan

Ditambahkan minyak tanah ke dalam tabung

Dipanaskan kembali leher tabung

Ditutup kembali tabung dengan kapas penutup

Dilakukan inkubasi suhu kamar


Selama 7 hari

Dilakukan pengamatan

E. DATA PENGAMATAN

Tabung
1
2
3
4
5

Seri A (0.1 ml)


+
+
+
+
+
5

Tabel MPN seri 15 tabung


5 @0.1 ml
5 @1 ml
5
5

Seri B (1 ml)
+
+
+
+
+
5

Seri C (10 ml)


+
+
+
+
+
5

5 @10 ml
5

MPN/100ml
>1600

F. PEMBAHASAN
Mikroorganisme sebagai makhluk hidup sama dengan organisme hidup lainnya, sangat
membutuhkan energi dan bahan-bahan untuk membangun pertumbuhannya, seperti dalam
sintesa protoplasma dan bagian-bagisn sel yang lainnya. Bahan-bahan tersebut disebut
nutrien. Untuk memanfaatkan bahan-bahan tersebut, maka sel memerlukan sejumlah kegiatan,
sehingga menyebabkan perubahan kimia di dalam selnya. Semua reaksi yang terarah yang
berlangsung di dalam sel ini disebut metabolisme. Metabolisme yang melibatkan berbagai
macam reaksi di dalam sel tersebut, hanya dapat berlangsung atas bantuan dari suatu senyawa
organik yang disebut katalisator organik atau biasa disebut biokatalisator yang dinamakan
enzim. Untuk dapat memahami tentang nutrisi dan metabolisme ini, pengetahuan dasar
biokimia sangat dibutuhkan (Natsir dan Sartini, 2006).
Medium adalah substansi yang terdiri atas campuran zat-zat makanan (nutrien) yang
digunakan untuk pemeliharaan dan pertumbuhan mikroorganisme. Mikroorganisme juga
merupakan makhluk hidup, untuk memeliharanya dibutuhkan medium yang harus
mengandung semua zat yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya, yaitu senyawa-senyawa
organik yang terdiri atas protein, karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin. Medium digunakan
untuk melihat gerakan dari suatu mikrooranisme apakah bersifat motil atau nonmotil, medium
ini ditambahkan bahan pemadat 50% (Ratna, 1993).
Jenis Media
a.
Berdasarkan Bentuknya
Dengan ada tidaknya bahan tambahan berupa zat pemadat seperti agar-agar atau
gelatin, dikenal 3 bentuk media yaitu :
Media padat, media yang ditambahi tepung agar-agar sebanyak 12-15%. Media
ini umumnya digunakan untuk pertumbuhan bakteri atau kapang.

Media semi padat atau semi cair, media yang ditambahi tepung agaragarsebanyak 50% atau kurang dari yang seharusnya. Umumnya digunakan
untuk pertumbuhan mikroba yang banyak memerlukan air dan hidup anerobik
atau fakultatif.
Media cair, media yang tidak ditambahi bahan pemadat, umumnya digunakan
untuk pertumbuhan mikroalga.
b.
Berdasarkan Komposisi/susunannya
Berdasarkan komposisi media di bagi atas :
Media alami, yaitu media yang disusun dari bahan-bahan alami seperti
kentang, tepung, daging, telur, ikan sayur dsb.
Media semi sintesis, yaitu media yang disusun dari bahan-bahan alami dan
bahan-bahan sisntesis.contoh : Kaldu nutrisi disusun dari :Pepton 10,0
gramEkstrak daging 10,0 gramNaCl 5,0 gramAquadest 1000 ml
Media sintesis, yaitu media yang disusun dari senyawa kimia.
Peran utama nutrien adalah sebagai sumber energi, bahan pembangun sel dan sebagai
akseptor elektron dalam reaksi bioenergetik (reaksi yang menghasilkan energi). Oleh
karenanya bahan makanan yang diperlukan terdiri dari air, sumber energi, sumber karbon,
sumber akseptor elektron, sumber mineral, faktor pertumbuhan dan nitrogen. Selai itu, secara
umum nutrien dalam media pembenihan harus mengandung seluruh elemen yang penting
untuk sintesis biologik organisme baru (Arfiandi, 2009).
Praktikum Perhitungan jumlah bakteri pemecah minyak tanah ini adalah untuk
mempelajari jumlah bakteri pemecah minyak tanah dengan metode Most Probable Number
(MPN). Dalam praktikum ini dilakukan 3 macam pengenceran yaitu 0.1 ml, 1 ml dan 10 ml.
Tiap pengenceran diberi sampel air secara aseptis kemudian dilakukan pencampuran
menggunakan vortex agar bakteri tersebar merata. Kemudian diberikan minyak diatas sampel.
Jangan dicampur agar minyak tetap berada di atas dan dilakukan inkubasi suhu ruang selama
7 hari agar bakteri bisa memakan nutrisi minyak di atas medium.
Menurut Walker & Cowell (1976), jumlah bakteri pemecah hidrokarbon mempunyai
korelasi positif dengan kandungan hidrokarbon dari lingkungan hidupnya. Hubungan
semacam itu tidak tampak pada penelitian ini. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa
bakteri minyak memang ada dalam dalm sampel air dengan jumlah tertentu.

Berikut ini merupakan mekanisme reaksi degradasi aerob alkana oleh bakteri
Acinetobacter menggunakan enzim alkana monooksigenase untuk merubah hidrokarbon
menjadi alkohol.

Selain produksi enzim, produksi biosurfaktan juga mempunyai hubungan dengan


kemampuan yang tinggi dalam menguraikan senyawa hidrokarbon. Penambahan jumlah
inokulum bakteri penghasil biosurfaktan diketahui dapat menaikkan tingkat degradasi dan
menyebabkan terdegradasinya senyawa alifatik, senyawa aromatik dan sikloalkana yang
diketahui sulit terdegradasi. Hal lain mungkin disebabkan karena enzim yang dihasilkan lebih
bervariasi dalam jenis dan tingkat penguraian serta jumlah enzim yang lebih banyak
dibanding dengan biakan tunggal sehingga penguraian lebih cepat.
Selain 2 hal diatas, kondisi lingkungan fisik seperti temperatur dan aerasiserta faktor
mekanik seperti pengadukan juga sangat mempengaruhi besarnya persentase degradasi.
Menurut Nugroho (2006) senyawa hidrokarbon yang tertumpah di alam akan mengalami
degradasi secara alamiah karena faktor-faktorlingkungan, meskipun laju degradasinya
berlangsung lambat. Proses degradasitersebut meliputi penguapan, teremulsi dalam air,
teradsorpsi pada partikel padat,tenggelam dalam perairan serta mengalami biodegradasi oleh
mikroba pengguna hidrokarbon.

Hasil pengamatan yang diperoleh menunjukan bahwa tiap pengenceran menunjukan


terdapat jenis bakteri pemecah minyak karena di setiap tabung ada lapisan diantara air dengan
minyak.
G. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa jumlah bakteri pemecah
minyak yang terkandung dalam sampel air dengan metode MPN adalah >1600 MPN/100 ml.

H. DAFTAR PUSTAKA
Arfiandi, Media Pertumbuhan Bakteri, http://freebussines.blogspot.com, diakses pada 10
Desember 2013, Palu.
Natsir, Djide dan Sartini, 2006, Mikrobiologi Farmasi Dasar, Universitas Hasanuddin,
Makassar.
Ratna, 1993, Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek, PT Gramedia, Jakarta.
Ruyitno, dkk.1994. Hasil-hasil Penelitian Oseanologi Tahun 1992/1993 Proyek Penelitian dan
Pengembangan

Sumberdaya

Laut

Jakarta.

Jakarta:

Pusat

Penelitian

dan

Pengembangan Ilmu Pengetahuan Indonesia.


Thayib, S.S.,1978. Beberapa Catatn Mengenai Mikroba Hidrokarboniklastik dari Perairan
Pantai dan Lepas Pantai di Teluk Jakarta. Oseanologi Di Indonesia.
Thayib, Soeminarti, dkk.1997. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Teknik. Serpong:
Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Teknologi Pertanian Institut Teknologi
Indonesia.
http://catatanenyrahayu.blogspot.co.id/2012/03/definisi-syarat-dan-jenis-media-pada.html