Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Obat adalah suatu bahan atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan
untuk diagnosis, mencegah, mengurangkan, menghilangkan, menyembuhkan
penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah pada manusia atau
hewan dan untuk memperelok atau memperindah badan atau bagian badan
manusia. Menurut WHO, Obat adalah substansi yang digunakan untuk
merubah atau menyelidiki sistem fisiologi atau patologi untuk keuntungan si
penerimanya (WHO,1966). Obat dalam arti yang lebih spesifik setiap zat
kimia selain makanan yang mempunyai pengaruh terhadap atau dapat
menimbulkan

efek

pada

organisme

hidup.

Meskipun

obat

dapat

menyembuhkan tapi banyak kejadian bahwa seseorang telah menderita akibat


keracunan obat. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa obat dapat bersifat
sebagai obat jika obat dapat digunakan dalam pengobatan suatu penyakit
dengan dosis dan waktu yang tepat.
Obat Anti Ulkus adalah obat yang digunakan untuk menetralisir atau
mengikat asam lambung atau mengurangi produksi asam lambung yang dapat
menyebabkan timbulnya tukak lambung atau sakit maag. Obat-obat ini
digunakan pada penyakit Ulkus Peptikum. Ulkus peptikum (Peptic ulcer)
atau biasa disebut dengan borok perut merupakan lubang dalam lapisan dari
lambung berupa duodenum (usus dua belas jari) atau esophagus
(kerongkongan). Borok-borok terjadi ketika lapisan organ-organ ini
dikorosikan oleh getah lambung yang asam yang disekresikan oleh sel-sel
lambung. Dalam perkembangannya bakteri bisa berubah menjadi kanker
perut. Saat ini dipercaya bahwa penyebab utama borok adalah infeksi dari
lambung oleh bakteri yang disebut Helicobacter pylori. Helicobacter pylori
adalah suatu bakteri yang menyebabkan peradangan lapisan lambung yang
kronis pada manusia. Bakteri ini bertahan hidup di tubuh manusia dengan
memanipulasi sistem sel imun yang penting.
1

B. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.

Untuk mengetahui penyakit ulkus peptikum (peptic ulcer).

2.

Untuk mengetahui obat-obat anti ulkus.

3.

Untuk mengetahui cara pengobatan penyakit ulkus peptikum dengan


menggunakan obat-obatan anti ulkus dalam proses keperawatan .

C. METODE PENULISAN
Metode Penulisan yang digunakan dalam menyusun Makalah ini adalah
metode deskriptif yaitu metode yang bersifat menggambarkan suatu keadaan
dengan objektif .
Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penyusunan makalah
ini

Penulis menggunakan metode pengumpulan data secara: Studi

Dokumentasi (Penulis dalam menyusun makalah ini dari beberapa buku


sumber).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. ULKUS PEPTIKUM
A.1. Definisi
Ulkus peptikum adalah ekskavasasi (area berlubang) yang terbentuk
dalam dinding mukosal lambung, pilorus, duodenum atau esofagus. Ulkus
peptikum disbut juga sebagai ulkus lambung, duodenal atau esofageal,
tergantung pada lokasinya. (Bruner and Suddart, 2001).
Ulkus peptikum merupakan putusnya kontinuitas mukosa lambung
yang meluas sampai di bawah epitel. Kerusakan mukosa yang tidak meluas
sampai ke bawah epitel disebut sebagai erosi, walaupun sering dianggap
sebagai ulkus (misalnya ulkus karena stres). Menurut definisi, ulkus
peptikum dapat terletak pada setiap bagian saluran cerna yang terkena getah
asam

lambung,

yaitu

esofagus,

lambung,

duodenum,

dan

setelah

gastroenterostomi, juga jejenum (Sylvia A. Price, 2006).


Ulkus peptikum atau tukak peptic adalah ulkus yang terjadi pada
mukosa, submukosa dan kadang-kadang sampai lapisan muskularis dari
traktus gastrointestinalis yang selalu berhubungan dengan asam lambung
yang cukup mengandung HCL. Termasuk ini ialah ulkus (tukak) yang
terdapat pada bagian bawah dari oesofagus, lambung dan duodenum bagian
atas. Obat-obat yang digunakan dalam pengobatan Ulkus Peptikum adalah
Obat Anti Ulkus.
A.2. Klasifikasi
Klasifikasi ulkus berdasarkan lokasi:
Ulkus duodenal

Ulkus Lambung

Insiden

Insiden

Usia 30-60 tahun

Biasanya 50 tahun lebih

Pria: wanita 3:1

Pria:wanita 2:1

Terjadi lebih sering daripada ulkus lambung


Tanda dan gejala

Tanda dan gejala

Hipersekresi asam lambung

Normal sampai hiposekresi asam lambung

Dapat mengalami penambahan berat badan

Penurunan berat badan dapat terjadi

Nyeri terjadi 2-3 jam setelah makan; sering

Nyeri terjadi sampai 1 jam setelah

terbangun dari tidur antara jam 1 dan 2 pagi.

makan; jarang terbangun pada malam

Makan makanan menghilangkan nyeri

hari; dapat hilang dengan muntah.

Muntah tidak umum

Makan makanan tidak membantu dan

Hemoragi jarang terjadi dibandingkan ulkus

kadang meningkatkan nyeri.

lambung tetapi bila ada milena lebih umum

Muntah umum terjadi

daripada hematemesis.

Hemoragi lebih umum terjadi daripada

Lebih mungkin terjadi perforasi daripada

ulkus duodenal, hematemesis lebih umum

ulkus lambung.
Kemungkinan Malignansi

terjadi daripada milena.


Kemungkinan malignansi

Jarang
Faktor Risiko

Kadang-kadang
Faktor Risiko

Golongan darah O, PPOM, gagal ginjalGastritis, alkohol, merokok, NSAID, stres


kronis, alkohol, merokok, sirosis, stress.
B. OBAT ANTI ULKUS
Obat Anti Ulkus adalah Obat yang digunakan untuk menetralisir atau
mengikat asam lambung atau mengurangi produksi asam lambung yang dapat
VAGUS
menyebabkan timbulnya tukak lambung atauSARAF
sakit maag.

Trankuiliser
Terdapat enam golongan agen anti ulkus:

1. Penenang (trankuiliser), yang mengurangi aktivitas vagal.


2. Obat
Antikolinergik,
Antikolinergik
(menurunkan asetilkolin)

yang mengurangi asetilkolin dengan menghambat

reseptor kolinergik.

3. Antasid, yang menetralkan asam lambung. Asetilkolin


4. Penghambat histamin H2, yang memblok reseptor histamin
Penghambat histamin H
(menghambat
5. Sekresireseptor
asam
histamin)

Reseptor histamin

6. Inhibitor pepsin sukralfat.


Menekan sekresi
lambung

Penghambat pepsin

pelepasan
histamin)

lambung omeprasol, yang menghambat sekresi asam

lambung walaupun ada pelepasan histami atau asetilkolin, dan

Antasid
(menetralkan asam
lambung)

(mengaktifkan

4
Asam hidroklorida

Melapisi ulkus

Gambar Kerja Keenam kelompok anti ulkus.

C. ANTASIDA
Antasida adalah obat yang bekerja lokal pada lambung untuk menetralkan
asam lambung. Karena antasida menetralkan asam lambung, maka pemberian
antasida akan meningkatkan pH lambung sehingga kemampuan proteolitik
(penguraian protein) enzim pesin (yang aktif pada pH 2) serta sifat korosf asam
dapat dimnimalkan. Peningkatan pH lebih dari 5 dapat meinmbulkan efek acid
rebound. Acid rebound adalah

hipersekresi dari asam lambung untuk

mempertahankan pH lambung yang normal (3 - 4). Dilihat dari sudut efek yang
merusak dari asam dan pepsin maka pencapaian pH yang ideal adalah pH 5
dimana kapasitas proteolitik pepsin dapat dihilangkan dan efek korosif dari asam
dapat diminimalkan.
Ada bermacam-macam antasida yang beredar di pasaran, baik jenis dan
merk dagang. Antasid merupakan senyawa basa yang dapat menetralkan asam
secara kimiawi misalnya kalsium karbonat, alumunium hidroksida, magnesium
hidroksida dalam kombinasi.
Indikasi Antasida adalah pengobatan simptomatik nyeri epigastrum, nyeri
lambung dan rasa kembung yang menyertai hipersiditas lambung, gastritis, ulkus
lambung dan ulkus duodenum.
Antasida diberikan bersama simetidin

atau tetrasiklin oral dapat

mempengaruhi penyerapan obat-obat tersebut. Karena itu diberikan dengan


interval 2 jam. Antasida sampai sekarang masih tetap digunakan secara luas dalam
kombinasi dengan obat-obat antiulkus karena memberikan pengurangan rasa nyeri
di ulu hati dengan cepat dan efektif walaupun bersifat sementara. Nyeri dapat
diatasi dengan meningkatkan pH isi lambung diatas 2 dan keadaan ini mudah
dapat dicapai dengan pemberian antasida, tetapi untuk menyembuhkan ulkus
diperlukan pemberian antasida yang sering dengan dosis yang mencukupi.
Pemberian dosis tinggi yang menyebabkan peningkatan pH yang tinggi
disertai acid rebound yang akan menurunkan pH kembali, sehingga diperlukan
pemberian antasida dengan interval yang makin pendek (makin sering) agar pH
tetap tinggi secara kontinue.
Dikenal 2 regimen dosis yaitu:
a. Pengobatan antasida yang intensif
Pengobatan ini bertujuan menyembuhkan
6

ulkus, antasida

diberikan 1 dan 3 jam setelah makan dan sebelum tidur (dibagi dalam 7
kali pemberian).
b. Pengobatan antasida yang tidak intensif
Termasuk disini pengobatan untuk menghilangkan ras nyeri.
Untuk keperluan ini antasida cukup diminum sesuai kebutuhan. Makanan
dan minuman juga mempunyai kemmpuan untuk menetralkan asam
lambung, sehingga dikenal istilah pain food reliefe, tetapi netralusasi ini
hanya bersifat sementara, oleh karena 1 jam kemudian sekresi asam
mencapai puncaknya. Karena

itu rasa nyeri akan timbul kembali,

biasanya mulai kurang lebih 90 menit setelah makan. Adanya makanan


akan memperlambat pengosongan lambung sehing daya kerja antasida
lebih panjang, yaitu sekitar 2 jam.
Pada lambung yang kosong, daya kerja antasida hanya 20 - 40 menit,
karena antasida dengan cepat masuk ke duodenum. Satu jam sesudah
makan sekresi asam lambung mencapai maksimal, karena itu pemberian
antasida yang tepat adalah 1 jam sesudah makan dan daya kerja antasida
akan bertahan lebih lama karena makanan akan memperlambat
pengosongan lambung. Antasida diberikan lagi 3 jam sesudah makan
dengan maksud untuk memperpanjang daya kerja antasida kira-kira 1
jam lagi.
Pada keadaan yang lebih parah misalnya pada ulkus berat atau
terjadi perdarahan, dianjurkan pemberian antasida tiap jam. Antsida
adakalanya diberikan sebelum tidur maksudnya untuk menetralkan asam
lambung yang disekresi pada malam hari. Tetapi daya kerja ini terbatas
karena lambung dalam keadaaan kosong sehingga untuk menghilangkan
nyeri pada malam hari sebaiknya digunakan obat antisekresi asam.
Farmakokinetik
Aluminium hidroksida (Amphojel) merupakan salah satu antasida yang
pertama kali dipakai untuk meneralkan asam hidroklorida. Produk-produk
alumnium sering dipakai untuk menurunkan fosfat serum yang tinggi
hiperfosfatemia). Karena aluminium hidroksida sendiri dapat menyebabkan
sembelit dan produk magnesium sendiri dapat menyebabkan sembelit dan
produk magnesium sendiri dapat menyebabkan diare, kombinasi obat,
seperti aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida (Maalox) menjadi
7

semakin populer.
Hanya sejumlah kecil Amphojel dan Maalox diserap melalui
saluran gastrointestinal. Obat-obat ini terutama terikat pada fosfat dan
dikeluarkan melalui tinja. Sejumlah kecil yang diserap diekskresikan
melalui urin.
Farmakodinamika
Aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida menetralkan asam
lambung, termasuk asam hidroklorida, dan meningkatkan pH dari sekresi
lambung (pH yang tinggi membuat pepsin tidak aktif). Kerja kedua obat ini
cukup cepat, tetapi lama kerjanya bervariasi tergantung apakah antasida
dipakai bersama atau tanpa makan. Jika Antasida dimakan setelah makan,
maka kerjanya bisa mencapai 3 jam karena makanan memperlambat
penggosongan lambung. Dosis yang lebih kerap mungkin diperlukan apabila
antasida diberikan dalam suatu periode berpuasa atau pada awal pengobatan.
Interval dosis yang ideal untuk antasida adalah 1-3 jam sesudah
makan dan pada waktu tidur. Antasida yang diminum sewaktu perut kosong
efektif untuk 30-60 menit sebelum obat ini akan berjalan ke duodenum.
Dosis antasida ditentukan menurut perintah dokter atau sesuai
aturan pakai obat pada label. Kelebihan dosis akan menyebabkan
timbulnyaa efek samping dan absorpsi sistemik.
Antasid yang mengandung garam

magnesium

merupakan

kontraindikasi unutk klien yang mengalami gangguan fungsi ginjalkarena


adanya risiko hipermagnesemia. Pemakaian aluminium hidroksida yang
lama dapat menyebabkan hipofosfatemia (fosfat serum rendah). Jika timbul
hiposfosfatemia karena fungsi ginjal yang buruk, dapat diberikan aluminium
hidroksida untuk menurunkan kadar fosfat.
ANTASIDA DOEN (Medipharma)
Komposisi :
Tiap tablet kunyah atau tiap 5 ml suspensi mengandung :
Gel Aluminium Hidroksida kering 258,7 mg (setara dengan Aluminium Hidroksida)
200 mg
Magnesium Hidroksida 200 mg

Cara Kerja Obat :


Kombinasi Aluminium Hidroksida dan Magnesium hidroksida merupakan antasid
yang bekerja menetralkan asam lambung dan menginaktifkan pepsin sehingga
rasa nyeri ulu hati akibat iritasi oleh asam lambung dan pepsin berkurang. Di
samping itu efek laksatif dari Magnesium hidroksida akan mengurangi efek
konstipasi dari Aluminium Hidroksida.
Indikasi :
Untuk mengurangi gejala-gejala yang berhubungan dengan kelebihan asam
lambung, gastritis, tukak lambung, tukak pada duodenum dengan gejala-gejala
seperti mual, nyeri lambung, nyeri ulu hati, kembung dan perasaan penuh pada
lambung.
Kontra Indikasi :
Penderita yang hipersensitif terhadap salah satu komponen obat.
Dosis :
Tablet :
- Anak-anak 6-12 tahun :sehari 3-4 kali 1/2 tablet.
- Dewasa :sehari 3-4 kali 1-2 tablet. Diminum 1-2 jam setelah makan dan
menjelang tidur.
Syrup :
- Anak-anak 6-12 tahun : sehari 3-4 kali 1/2 sendok teh
- Dewasa : sehari 3-4 kali 1-2 sendok teh. Diminum 1 - 2 jam setelah makan dan
menjelang tidur.
Efek Samping :
Efek samping yang umum adalah sembelit, diare, mual, muntah dan gejala-gejala
tersebut akan hilang bila pemakaian obat dihentikan.
Peringatan dan Perhatian :
- Jangan diberikan pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal yang berat
karena dapat menimbulkan hipermagnesia.
- Tidak dianjurkan digunakan terus menerus lebih dari 2 minggu kecuali atas
petunjuk dokter.
- Bila sedang menggunakan obat tukak lambung lain seperti Simetidin atau
antibiotika Tetrasiklin harap diberikan dengan selang waktu 1-2 jam.
9

- Tidak dianjurkan pemberian pada anak-anak di bawah 6 tahun kecuali atas


petunjuk dokter karena biasanya kurang jelas penyebabnya.
- Hati-hati pemberian pada penderita diet fosforrendah dan pemakaian lama
karena dapat mengurangi kadar fosfor dalam darah.
Interaksi Obat :
Pemberian bersama Simetidin atau Tetrasiklin dapat mengurangi absorpsi obat
tersebut.
Cara Penyimpanan :
Simpan di tempat sejuk dan kering, terlindung dari cahaya.
Kemasan :
Dus 10 strip

@ 10 tablet

Botol plastik @ 1000 tablet


Botol

@ 60 ml

D. PROSES KEPERAWATAN PADA ULKUS PEPTIKUM


PENGKAJIAN

Kaji nyeri yang dialami klien, termasuk tipe, lama, berat, dan
frekuensinya. Nyeri tukak biasanya timbul setelah makan dan pada malam
hari (nyeri nokturnal).

Kaji fungsi ginjal klien. Laporkan jumlah urin bila kurang dari 600
ml/hari, atau kurang dari 25 ml/jam. Gangguan ginjal dapat mempengaruhi
antasida yang mengandung magnesium dan kalsium (hipermagnesimia dan
hiperkalsemia) dan penghambat H2.

Kaji cairan dan ketidakseimbangan elektrolit jika terjadi hipermagnesemia,


atau diare (akibat garam magnesium dari antasida).

PERENCANAAN

Klien tidak lagi mengalami sakit perut setelah


memakai obat anti ulkus.

1 sampai 2 minggu

INTERVENSI KEPERAWATAN

Berikan anatasida yang mengandung magneasium secara hati-hati kepada


orang yang sudah tua dan kepada mereka yang menderita insufisiensi
10

ginjal. Dengan berkurangnya jumlah urin yang dikeluarkan tubuh,


magnesium yang dikeluarkan berkurang kemungkinan akan terjadi
hipermagnesemia.

Hindari pemberian antasida bersama dengan obat-obat oral lain, karena


antasida dapat memperlambat absorpsi obat. Suatu anatasida tidak boleh
diberikan bersama-sama tertrasiklin, digoskin, atau quinidin karena
anatasida akan mengikat dan menginaktifkan kebanyakan obat tersebut.
Antasid diberikan 1-2 jam sesudah memberikan obat lain.

Berikan dosis penghambat H2 seperti simetidin (Tagamet) yang lebih kecil


pada lansia, yang memiliki lebih sedkit asam lambung, untuk mencegah
alkolisis metabolik.

Berikan penghambat H2 dan antikolinergik sebelum makan unutk


mengurangi sekresi asam lambung yang diinduksikan oleh makanan.

Berikan penghambat H2 secara intravena 20 sampai 100 ml dari larutan


IV.

PENGAJARAN KEPADA KLIEN

Beritahukan klien untuk melaporkan rasa sakit, batuk, atau muntah darah
(hematemesis).

Nasehati untuk tidak memakan makanan atau minuman cairan yang dapat
menyebabkan iritasi lambung, seperti minuman yang mengandung kafein,
alkohol, dan bumbu (misalnya yang pedas).

Beritahukan klien untuk melakukan teknik relaksasi untuk mengurangi


kecemasan.

Antasida

Nasihati klien untuk tidak membeli antasid bebas tanpa pemberitahuan


dokter. Dosis obat yang tidak memadai ( terlalu sedikit, terlalu sering, atau
terlalu banyak) dapat menimbulkan komplikasi.

Beritahukan klien cara yang benar untuk memakai antasida. Tablet kunyah
harus dikunyah dengan baik diikuti dengan air. Antasida cair harus
diminum dengan 2-4 oz air untuk memastikan obat ini dapat mencapai
lambung.

Nasehati klien untuk memakai antasida 1-3 jam setelah makan dan waktu
akan tidur. Jangan memakai antasida pada waktu makan; obat ini akan
11

memperlambat pengosongan lambung, menyebabkan


aktivitas saluran gastrointestinal dan sekresi lambung.

peningkatan

Nasehati klien untuk memberitahukan dokter jika timbul konstipasi atau


diare; antasida mungkin perlu diganti. Jangan mengobati diri sendiri.

Tekankan bahwa antasid tidak sama dengan permen dan minum antasida
secara berlebihan adalah kontraindikasi.

Nasehatikan klien untuk tidak memakai antasida bersama-sam susu atau


makanan yang banyak mengandung vitamin D, kecuali jika pasti tidak ada
kontraindikasi.

Beritahukan klien untuk menghindari aantasida 1-2 jam sesudah memakai


obat oral lain karena ada kemungkinan gaaangguan absorpsi.

Nasehati klien untuk memeriksa label antasida untuk mengetahui


kandungan natrium, jika klien sedang menjalankan diet natrium terbatas.

Antikolinergik

Untuk menghindari sembelit, klien harus meningkatkan masukan cairan,


makanan yang berserat, dan olahraga jika tidak ada konatraaindikasi.

Laporkan takikardia atau retensi urin.

Penghambat H2

Nasehatkan klien untuk tidak merokok, yang dapat menghambat


efektivitas penghambat H2.

EVALUASI

Tentukan efektivitas pengobatan anti ulkus dan timbulnya efek samping.


Klien harus bebas rasa sakit dan harus berangsur-angsur menjadi sembuh.

12

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN
Antasida adalah obat yang bekerja lokal pada lambung untuk menetralkan
asam lambung. Karena antasida menetralkan asam lambung, maka pemberian
antasida akan meningkatkan pH lambung sehingga kemampuan proteolitik
(penguraian protein) enzim pesin (yang aktif pada pH 2) serta sifat korosf asam
dapat dimnimalkan. Peningkatan pH lebih dari 5 dapat meinmbulkan efek acid
rebound. Acid rebound adalah
hipersekresi dari asam lambung untuk
mempertahankan pH lambung yang normal (3 - 4). Dilihat dari sudut efek yang
merusak dari asam dan pepsin maka pencapaian pH yang ideal adalah pH 5
dimana kapasitas proteolitik pepsin dapat dihilangkan dan efek korosif dari asam
dapat diminimalkan

B. SARAN
Ulkus peptikum merupakan putusnya kontinuitas mukosa lambung yang
meluas sampai di bawah epitel.
Dosis antasida ditentukan menurut perintah dokter atau sesuai aturan pakai
obat pada label. Kelebihan dosis akan menyebabkan timbulnyaa efek samping dan
absorpsi sistemik.

13

DAFTAR PUSTAKA
Tan, Hoan Tjay. 2003. Obat-Obat Penting. PT Elex Media Komputindo: Jakarta.
Kee, Joyce L. 1996. Farmakologi: Pendekatan Proses Keperawatan. EGC:
Jakarta.
Hardjosaputra, Dr. S. L. Purwanto, dkk. 2008. DOI: Data Obat di Indonesia Edisi
11. PT. Muliapurna Jayaterbit: Jakarta.
Olson, James. 2003. Belajar Mudah Farmakologi. EGC: Jakarta.
Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologis : Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. EGC: Jakarta.
Harnawatiaj. 2008. Ulkus Peptikum.
http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/02/21/ulkus-peptikum/ diakses 10
Oktober 2010 jam 09:30 WITA.

14