Anda di halaman 1dari 21

1. http://www.blogdokter.

net/2007/03/09/dismenore-nyeri-haid/
Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi. Disebut
dismenore primer jika tidak ditemukan penyebab yang mendasarinya dan dismenore sekunder jika
penyebabnya adalah kelainan kandungan.
Penyebab
Dismenore sekunder lebih jarang ditemukan dan terjadi pada 25% wanita yang mengalami dismenore.
Penyebab dari dismenore sekunder adalah: endometriosis, fibroid, adenomiosis, peradangan tuba
falopii, perlengketan abnormal antara organ di dalam perut, dan pemakaian IUD.
Faktor Risiko
Biasanya dismenore primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi
pertama. Sedangkan dismenore sekunder seringkali mulai timbul pada usia 20 tahun. Faktor lainnya
yang bisa memperburuk dismenore adalah:
-rahim yang menghadap ke belakang (retroversi)
-kurang berolah raga
-stres psikis atau stres sosial.
Gejala dan Tanda
Nyeri pada perut bagian bawah, yang bisa menjalar ke punggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri
dirasakan sebagai kram yang hilang-timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada.
Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum atau selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam waktu
24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang. Dismenore juga sering disertai oleh sakit kepala, mual,
sembelit atau diare dan sering berkemih. Kadang sampai terjadi muntah.
Penatalaksanaan
Pertambahan umur dan kehamilan akan menyebabkan menghilangnya dismenore primer. Hal ini diduga
terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim akibat penuaan dan hilangnya sebagian saraf pada akhir
kehamilan.
Untuk mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen,
naproksen dan asam mefenamat). Obat ini akan sangat efektif jika mulai diminum 2 hari sebelum
menstruasi dan dilanjutkan sampai hari 1-2 menstruasi.
Selain dengan obat-obatan, rasa nyeri juga bisa dikurangi dengan:
– istirahat yang cukup
– olah raga yang teratur (terutama berjalan)
– pemijatan
– yoga
– orgasme pada aktivitas seksual
– kompres hangat di daerah perut.
Untuk mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti mual, tetapi mual dan muntah biasanya
menghilang jika kramnya telah teratasi.
Gejala juga bisa dikurangi dengan istirahat yang cukup serta olah raga secara teratur. Jika nyeri terus
dirasakan dan mengganggu kegiatan sehari-hari, maka diberikan pil KB dosis rendah yang
mengandung estrogen dan progesteron atau diberikan medroksiprogesteron.
Pemberian kedua obat tersebut dimaksudkan untuk mencegah ovulasi (pelepasan sel telur) dan
mengurangi pembentukan prostaglandin, yang selanjutnya akan mengurangi beratnya dismenore. Jika
obat ini juga tidak efektif, maka dilakukan pemeriksaan tambahan (misalnya laparoskopi).
Jika dismenore sangat berat bisa dilakukan ablasio endometrium, yaitu suatu prosedur dimana lapisan
rahim dibakar atau diuapkan dengan alat pemanas.
Pengobatan untuk dismenore sekunder tergantung kepada penyebabnya.
2. http://www.susukolostrum.com/masalah-kesehatan-wanita/dismenore.html
DEFINISI
Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi.
PENYEBAB
Disebut dismenore primer jika tidak ditemukan penyebab yang mendasarinya dan dismenore
sekunder jika penyebabnya adalah kelainan kandungan.

Dismenore primer sering terjadi, kemungkinan lebih dari 50% wanita mengalaminya dan 15%
diantaranya mengalami nyeri yang hebat.
Biasanya dismenore primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi
pertama.

Nyeri pada dismenore primer diduga berasal dari kontraksi rahim yang dirangsang oleh prostaglandin.
Nyeri dirasakan semakin hebat ketika bekuan atau potongan jaringan dari lapisan rahim melewati
serviks (leher rahim), terutama jika saluran serviksnya sempit. Faktor lainnya yang bisa memperburuk
dismenore adalah:
- rahim yang menghadap ke belakang (retroversi)
- kurang berolah raga
- stres psikis atau stres sosial.

Pertambahan umur dan kehamilan akan menyebabkan menghilangnya dismenore primer.


Hal ini diduga terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim akibat penuaan dan hilangnya sebagian
saraf pada akhir kehamilan.

Perbedaan beratnya nyeri tergantung kepada kadar prostaglandin. Wanita yang mengalami dismenore
memiliki kadar prostaglandin yang 5-13 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak
mengalami dismenore.
Dismenore sangat mirip dengan nyeri yang dirasakan oleh wanita hamil yang mendapatkan suntikan
prostaglandin untuk merangsang persalinan.

Dismenore sekunder lebih jarang ditemukan dan terjadi pada 25% wanita yang mengalami dismenore.
Penyebab dari dismenore sekunder adalah:
• Endometriosis
• Fibroid
• Adenomiosis
• Peradangan tuba falopii
• Perlengketan abnormal antara organ di dalam perut.
• Pemakaian IUD.
Dismenore sekunder seringkali mulai timbul pada usia 20 tahun.
GEJALA
Dismenore menyebabkan nyeri pada perut bagian bawah, yang bisa menjalar ke punggung bagian
bawah dan tungkai.
Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang-timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada.
Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum atau selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam
waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang.
Dismenore juga sering disertai oleh sakit kepala, mual, sembelit atau diare dan sering berkemih.
Kadang sampai terjadi muntah.
DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
PENGOBATAN
Untuk mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen,
naproxen dan asam mefenamat). Obat ini akan sangat efektif jika mulai diminum 2 hari sebelum
menstruasi dan dilanjutkan sampai hari 1-2 menstruasi.
Selain dengan obat-obatan, rasa nyeri juga bisa dikurangi dengan:
- istirahat yang cukup
- olah raga yang teratur (terutama berjalan)
- pemijatan
- yoga
- orgasme pada aktivitas seksual
- kompres hangat di daerah perut.

Untuk mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti mual, tetapi mual dan muntah biasanya
menghilang jika kramnya telah teratasi.
Gejala juga bisa dikurangi dengan istirahat yang cukup serta olah raga secara teratur.

Jika nyeri terus dirasakan dan mengganggu kegiatan sehari-hari, maka diberikan pil KB dosis rendah
yang mengandung estrogen dan progesteron atau diberikan medroxiprogesteron.
Pemberian kedua obat tersebut dimaksudkan untuk mencegah ovulasi (pelepasan sel telur) dan
mengurangi pembentukan prostaglandin, yang selanjutnya akan mengurangi beratnya dismenore.
Jika obat ini juga tidak efektif, maka dilakukan pemeriksaan tambahan (misalnya laparoskopi).

Jika dismenore sangat berat bisa dilakukan ablasio endometrium, yaitu suatu prosedur dimana lapisan
rahim dibakar atau diuapkan dengan alat pemanas.

Pengobatan untuk dismenore sekunder tergantung kepada penyebabnya.

3.http://www.kesrepro.info/?q=node/107
Nyeri Menstruasi (Dismenore)
Oleh redaksi pada Sen, 12/10/2007 - 15:53.
• Artikel
Definisi
Kram, nyeri dan ketidaknyamanan lainnya yang dihubungkan dengan menstruasi disebut juga
dismenore. Kebanyakan wanita mengalami tingkat kram yang bervariasi; pada beberapa wanita, hal itu
muncul dalam bentuk rasa tidak nyaman ringan dan letih, dimana beberapa yang lain menderita rasa
sakit yang mampu menghentikan aktifitas sehari-hari. Dismenore dikelompokkan sebagai dismenore
primer saat tidak ada sebab yang dapat dikenali dan dismenore sekunder saat ada kelainan jelas yang
menyebabkannya.
Wanita yang tidak berovulasi cenderung untuk tidak menderita kram menstruasi; hal ini sering terjadi
pada mereka yang baru saja mulai menstruasi atau mereka yang menggunakan pil KB. Kelahiran bayi
sering merubah gejala-gejala menstruasi seorang wanita, dan sering menjadi lebih baik.
Sebab
Hingga baru-baru ini, dismenore disisihkan sebagai masalah psikologis atau aspek kewanitaan yang
tidak dapat dihindari. Sekarang, para dokter tahu bahwa dismenore merupakan kondisi medis yang
nyata, walaupun penyebabnya yang jelas masih kurang dimengerti. Kerja prostaglandin, zat seperti
hormon yang menyebabkan otot-otot rahim berkontraksi, merupakan instrumen utama dismenore.
Kadar prostaglandin sepertinya tidak berhubungan dengan tingkat dismenore; beberapa wanita terlihat
memiliki kadar prostaglandin tinggi tanpa efek-efek sampingan, dimana yang lain dengan kadar normal
menderita gejala yang berat. Faktor-faktor lain, termasuk perbedaan anatomi, kecenderungan genetik,
dan stres, juga dapat memainkan peran.
Sebab-sebab yang bervariasi dari dismenore sekunder termasuk endometriosis (pertumbuhan jaringan
lapisan rahim di tempat lain dalam ruang panggul), fibroid atau tumor lain, dan infeksi pelvis.
Diagnosa
Diagnosa dismenore didasari atas ketidaknyamanan saat menstruasi. Perubahan apapun pada kesehatan
reproduksi, termasuk hubungan badan yang sakit dan perubahan pada jumlah dan lama menstruasi,
membutuhkan pemeriksaan ginekologis; perubahan-perubahan seperti itu dapat menandakan sebab dari
dismenore sekunder.
Pengobatan
Kebanyakan wanita dengan dismenore primer dibantu dengan mengkonsumsi obat-obat anti-
peradangan bukan steroid (NSAID), yang menghambat produksi dan kerja prostaglandin. Obat-obat ini
termasuk aspirin dan formula-formula ibuprofen yang dijual bebas serta naproksen. Untuk kram yang
lebih berat, pemberian NSAID seperti naproksen atau piroksikam dapat membantu. Walaupun tidak ada
NSAID satupun yang superior, orang-orang menanggapi setiap obat dengan berbeda. Sehingga,
mungkin perlu mencoba beberapa jenis hingga menemukan satu yang bekerja dengan baik.
Beberapa dokter meresepkan pil KB untuk meredakan dismenore, namun hal ini tidak dianggap sebagai
penggunaan yang tepat. Namun, hal ini dapat menjadi pengobatan yang pas bagi wanita yang ingin
menggunakan alat KB berupa pil. Dismenore sekunder ditangani dengan mengidentifikasi dan
kemudian mengobati sebab dasarnya. Hal ini dapat memerlukan konsumsi antibiotik atau obat-obat
lain, tergantung pada kondisi-kondisi tertentu, atau prosedur-prosedur lain termasuk pelebaran dan
penguretan.
Ramuan Buatan dan Terapi Alternatif
Sebagai tambahan pemakaian obat penawar sakit tanpa resep, ada banyak yang dapat anda lakukan
sendiri untuk membantu mengurangi kram menstruasi, dan dengan sedikit percobaan, anda pasti dapat
menemukan cara yang membawa - paling sedikit - beberapa kelegaan. Suhu panas merupakan ramuan
tua; dapat dilakukan dengan kompres handuk panas atau botol air panas pada perut atau punggung
bawah. Mandi air hangat juga dapat membantu.
Beberapa wanita mencapai keringanan melalui olahraga, yang tidak hanya mengurangi stres tapi juga
meningkatkan produksi endorfin otak, penawar sakit alami tubuh. Orgasme juga dapat membantu
dengan mengurangi tegangan pada otot-otot pelvis sehingga membawa kekenduran dan rasa nyaman.
Beberapa posisi yoga dipercaya dapat menghilangkan kram menstruasi. Salah satunya adalah
peregangan kucing, yang meliputi berada pada posisi merangkak kemudian secara perlahan menaikkan
punggung anda ke atas setinggi-tingginya. Yang lain adalah mengangkat panggul, anda berbaring
dengan lutut tertekuk dan kemudian mengangkat panggul dan bokong anda. Hanya dengan melakukan
posisi janin, menarik lutut anda kearah dada sambil memeluk bantal atau botol air panas ke perut anda,
juga dapat membantu.
Sebuah terapi alternatif yang membantu beberapa wanita meliputi visualisasi dimana anda
berkonsentrasi pada warna sakit anda sampai anda mencapai penguasaan atasnya. Sebagai tambahan,
aroma terapi dan pemijatan dapat mengurangi rasa tidak nyaman. Mendengarkan musik, membaca
buku, atau menonton film juga dapat menolong.
sumber: Satumed.com
4. http://etd.eprints.ums.ac.id/2737/1/J410040002.pdf (lihat di adobe reader dg alamat yang
sama seperti)

5. Tentang dismenore sekunder


sedikit tulisan tentang dismenore sekunder yang aku kutip dari beberapa sumber....sebenarnya ini tugas
kuliah yang kemarin aku kumpulin, tapi daripada cuma tersimpan di laptop jadi aku posting aja,
sekalian bagi-bagi informasi

DISMENORE SEKUNDER
1. Definisi
Dismenore sekunder adalah adalah nyeri haid yang disebabkan oleh patologi pelvis secara anatomis
atau makroskopis dan terutama terjadi pada wanita berusia 30-45 tahun (Widjanarko, 2006). Pengertian
yang lain menyebutkan definisi dismenore sekunder sebagai nyeri yang muncul saat menstruasi namun
disebabkan oleh adanya penyakit lain. Penyakit lain yang sering menyebabkan dismenore sekunder
anatara lain endometriosis, fibroid uterin, adenomyosis uterin, dan inflamasi pelvis kronis.
2. Etiologi
Dismenore sekunder disebabkan oleh kondisi iatrogenik dan patologis yang beraksi di uterus, tuba
falopi, ovarium, atau pelvis peritoneum. Secara umum, nyeri datang ketika terjadi proses yang
mengubah tekanan di dalam atau di sekitar pelvis, perubahan atau terbatasnya aliran darah, atau karena
iritasi peritoneum pelvis. Proses ini berkombinasi dengan fisiologi normal dari menstruasi sehingga
menimbulkan ketidaknyamanan. Ketika gejala ini terjadi pada saat menstruasi, proses ini menjadi
sumber rasa nyeri. Penyebab dismenore sekunder dapat diklasifikasikan dalam 2 golongan, yaitu
penyebab intrauterin dan penyebab ekstrauterin (Smith, 2003).
Beberapa penyebab dismenore sekunder yang besifat intrauterin adalah :
a. Adenomyosis
Adenomyosis merupakan suatu kondisi yang dikarakterisasi oleh adanya invasi benign dari
endometrium ke perototan uterus, hal tersebut sering berhubungan dengan pertumbuhan abnormal yang
menyebar dari perototan. Kondisi ini dilaporkan terjadi pada 25-40% spesimen histerektomi. Nyeri
akibat adenomyosis seringkali berhubungan dengan rektum atau sakrum. Endometriosis diketahui
dapat terjadi bersamaan pada 15% kasus. Diagnosis akhir adenomyosis ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan mikroskopik.
b. Myomas
Myomas atau uterine fibroids merupakan kejadian yang paling sering terjadi dan dilaporkan sebanyak
20% wanita berusia lebih dari 30 tahun, dan 30% wanita usia di atas 40 tahun. Ada beberapa ukuran
tumor, dari yang paling kecil hingga yang memiliki berat lebih dari 100 pon. Walaupun tumor ini dapat
terjadi pada beberapa bagian dari uterus, serviks, atau ligamen, dan hal tersebut yang lebih sering
menyebabkan dismenore sekunder. Hal tersebut pula yang menyebabkan distorsi pada uterus dan
cavum uterus. Nyeri dirasa meningkat karena disrupsi aktivitas normal otot uterus atau diperngaruhi
oleh tekanan intrauterus.
c. Polyps
Meskipun polip bukan penyebab yang sering pada dismenore, massa di dalam rongga uterus dapat
menyebabkan nyeri saat menstruasi. Ketika gejala cukup meluas, pertumbuhan massa ini umumnya
dapat dideteksi menggunakan virtue of uterine enlargement atau hernia melalui serviks.
d. Penggunaan Intrauterine Devices (IUD)
Penyebab iatrogenik yang umum pada disemenore sekunder adalah penggunaan IUD. Adanya benda
asing dapat meningkatkan aktivitas uterus yang dapat menimbulkan nyeri, terutama terjadi pada wanita
yang belum memiliki anak. Riwayat dan adanya string IUD pada pemeriksaan fisik memberikan
petunjuk yang cukup.
e. Infeksi
Dismenore sekunder merupakan konsekuensi dari adanya infeksi. Ketika infeksi aktif muncul,
seringnya muncul secara akut, dan akan terdiagnosa lebih awal. Bekas luka dan adhesi dapat
menyebabkan pergerakan serviks visera terbatas dan rasa nyeri. Nyeri ini hanya timbul selama
menstruasi, intercourse, gerakan makanan, dan aktivitas fisik, serta akan menetap pada kondisi yang
kronis. Riwayat infeksi pelvis, khususnya yang berulang, dengan pemeriksaan nyeri pelvis, penebalan
adnexal, perpindahan yang terbatas, dapat menjadi dugaan.
Sedangkan beberapa penyebab yang bersifat ekstrauterin diantaranya adalah :
a. Endometriosis
Endometriosis merupakan kondisi adanya jaringan yang menyerupai membran mukosa uterus yang
normal yang terdapat di luar uterus. Lokasi utamanya ditemukannya implan endometrium adalah di
ovarium, ligamen uterus, rectovaginal septum, pelvis peritoneum, tuba falopi, rektum, sigmoid, dan
kandung kemih, serta lokasi yang jauh dari uterus seperti plasenta dan vagina. Walaupun 8-10% pasien
mengalami gejala akut, sebagian besar pasien mengeluhkan dismenore yang berat dengan gejala pada
punggung dan rektum. Adanya nodul pada daerah uterosacral, pada pasien yang memiliki gejala
menyerupai inflamasi kronis pada pelvis dapat ditentukan kemungkinan adanya endometriosis.
b. Tumor
Tumor yang jinak maupun ganas dapat menyebar pada uterus atau struktur adnexal, dan kemungkinan
dapat menyebabkan dismenore atau nyeri pelvis. Walaupun tumor secara tunggal tidak menyebabkan
nyeri, adanya massa pada pemeriksaan fisik menjadikan dokter mendiagnosa kemungkinan adanya
massa, dan bukan hanya fibroid.
c. Inflamasi
Inflamasi kronis dapat menjadi sumber nyeri pelvis dan dismenore, hal ini dapat terjadi karena efek
aktif dari inflamasi atau adanya bekas luka dan kerusakan yang disebabkan sebelumnya.
d. Adhesions
Adhesi muncul dari proses inflamasi sebelumnya atau pembedahan yang dapat menjadi sumber nyeri
pelvis kronis, namun jarang menyebabkan dismenore. Meskipun secara umum tidak tampak pada
pemeriksaan fisik, riwayat pasien dapat membantu dalam evaluasi kemungkinan penyebabnya.
e. Psikogenik
Dismenore akibat faktor psikologis relatif umum terjadi. Karena seringnya dismenore terjadi dan tidak
adanya penjelasan untuk keluhan yang dirasakan pasien, maka dengan mudah dapat dikatakan bahwa
rsa nyeri yang ada merupakan salah satu perasaan yang berhubungan dengan kondisi psikologis. Telah
banyak laporan mengenai berbagai tipe personal yang diyakini memiliki hubungan dengan dismenore
dan nyeri pelvis kronis. Hanya sedikit pasien yang menganggap bahwa nyeri atau dismenore yang
dialaminya merupakan nyeri karena pengaruh psikologis.
f. Pelvic congestive syndrome
Istilah dari pelvic congestive syndrome umumnya digunakan untuk pasien dengan keluhan nyeri pelvis
yang bersifat kronis atau dismenore yang kambuh dan tidak ditemukan tanda-tanda klinik. Beberapa
studi melaporkan bahwa pada pasien dengan gejala ini ditemukan adanya pelebaran pembuluh vena
pada pelvis ketika dilakukan laparoskopi. Hal ini menjelaskan bahwa pelebaran vena ini menyebabkan
keluhan nyeri dan penebalan pelvis.
g. Non–gynecology
Seperti pada kasus nyeri nyeri pelvis akut, dinding abdominal, kandung kemih, rektum, sigmoid, dan
elemen skeletal dari pelvis dapat menjadi sumber penyebab nyeri pelvis kronis. Semua faktor penyebab
itu harus didiagnosa melalui pemeriksaan fisik dan riwayat pasien dengan keluhan nyeri pelvis kronis.
(Smith, 2003)
3. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala pada dismenore sekunder dan nyeri pelvis dapat beragam dan banyak. Umumnya
gejala tersebut sesuai dengan penyebabnya. Keluhan yang biasa muncul adalah gejala pada
gastrointestinal, kesulitan berkemih, dan masalah pada punggung. Keluhan menstruasi berat yang
disertai nyeri menandakan adanya perubahan kondisi uterus seperti adenomyosis, myomas, atau polip.
Keluhan nyeri pelvis yang berat atau perubahan kontur abdomen meningkatkan neoplasi intra-
abdominal. Demam, menggigil, dan malaise menandakan adanya proses inflamasi. Keluhan yang
menyertai infertilitas menandakan kemungkinan terjadinya endometriosis. Ketika pasien mengeluhkan
bahwa gejala mucul setelah penggunaan IUD, tidak tepat jika mengatakan bahwa penggunaan IUD
sebagai penyebabnya (Smith, 2003).
4. Diagnosis
a. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik umumnya akan memberikan petunjuk untuk penegakan diagnosis atau diagnosis itu
sendiri pada pasien yang memiliki keluhan dismenore atau nyeri pelvis yang sifatnya kronis. Adanya
pembesaran uterus yang asimetris atau tidak teratur menandakan suatu myoma atau tumor lainnya.
Pembesaran uterus yang simetris kadang muncul pada kasus adenomyosis dan kadang terjadi pada
kasus polyps intrauterin. Adanya nodul yang menyebabkan rasa nyeri pada bagian posterior dan
keterbatasan gerakan uterus menandakan endometriosis. Gerakan uterus yang terbatas juga ditemukan
pada kasus luka pelvis akibat adhesion atau inflamasi. Proses inflamasi kadang menyebabkan
penebalan struktur adnexal. Penebalan ini terlihat jelas pada pemeriksaan fisik. Namun, pada beberapa
kasus nyeri pelvis, pemeriksaan laparoskopi pada organ pelvis tetap dibutuhkan untuk melengkapi
proses diagnosa (Smith, 2003).
b. Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi
Tes laboratorium pada pasien dismenore sekunder atau nyeri pelvis kronis sangat terbatas. Hitung jenis
darah dapat membantu mengevaluasi akibat adanya pendarahan yang terus menerus. Laju enap darah
dapat membantu mengidentifikasi adanya proses inflamasi, namun tidak spesifik. Tes radiologi
umumnya terbatas untuk etiologi yang tidak berhubungan dengan gynecology, seperti pemeriksaan
pada saluran pencernaan dan saluran kemih. Tes ultrasonografi pada pelvis memberikan manfaat yang
besar karena memberikan gambaran adanya myoma, tumor adnexal atau tumor lainnya, dan lokasi
pemakaian IUD(Smith, 2003).
5. Manajemen terapi
Pengobatan untuk dismenore sekunder maupun nyeri pelvis kronis diarahkan untuk mengurangi dan
menghilangkan faktor penyebabnya. Meskipun penggunaan analgetik, antispasmodik, dan pil KB dapat
memberikan efek yang bermanfaat namun sifatnya hanya sementara. Hanya terapi spesifik yang
bertujuan untuk menghilangkan penyebab yang pada akhirnya akan memberikan keberhasilan terapi.
Terapi yang bersifat spesifik ini dapat berupa dari penghentian penggunaan IUD sampai dengan terapi
menggunakan anti estrogen pada kasus endometriosis. Dapat juga terapi dengan pemindahan polip
sampai dengan hysterectomy. Pada beberapa pasien dengan diagnosa tidak spesifik dimana pemberian
terapi untuk meredakan keluhan nyeri tidak dapat mengurangi keluhan dan gejalanya, presacral
neuroctomy dapat bermanfaat (Smith, 2003).
Diposkan oleh DEBRYTHA AYU DEWI P
6. Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi. Disebut
dismenore primer jika tidak ditemukan penyebab yang mendasarinya dan dismenore sekunder jika
penyebabnya adalah kelainan kandungan.
Penyebab
Dismenore sekunder lebih jarang ditemukan dan terjadi pada 25% wanita yang mengalami dismenore.
Penyebab dari dismenore sekunder adalah: endometriosis, fibroid, adenomiosis, peradangan tuba
falopii, perlengketan abnormal antara organ di dalam perut, dan pemakaian IUD.
Faktor Risiko
Biasanya dismenore primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi
pertama. Sedangkan dismenore sekunder seringkali mulai timbul pada usia 20 tahun. Faktor lainnya
yang bisa memperburuk dismenore adalah:
-rahim yang menghadap ke belakang (retroversi)
-kurang berolah raga
-stres psikis atau stres sosial.
Gejala dan Tanda
Nyeri pada perut bagian bawah, yang bisa menjalar ke punggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri
dirasakan sebagai kram yang hilang-timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada.
Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum atau selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam waktu
24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang. Dismenore juga sering disertai oleh sakit kepala, mual,
sembelit atau diare dan sering berkemih. Kadang sampai terjadi muntah.
Penatalaksanaan
Pertambahan umur dan kehamilan akan menyebabkan menghilangnya dismenore primer. Hal ini diduga
terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim akibat penuaan dan hilangnya sebagian saraf pada akhir
kehamilan.
Untuk mengurangi rasa nyeri bisa diberikan obat anti peradangan non-steroid (misalnya ibuprofen,
naproksen dan asam mefenamat). Obat ini akan sangat efektif jika mulai diminum 2 hari sebelum
menstruasi dan dilanjutkan sampai hari 1-2 menstruasi.
Selain dengan obat-obatan, rasa nyeri juga bisa dikurangi dengan:
– istirahat yang cukup
– olah raga yang teratur (terutama berjalan)
– pemijatan
– yoga
– orgasme pada aktivitas seksual
– kompres hangat di daerah perut.
Untuk mengatasi mual dan muntah bisa diberikan obat anti mual, tetapi mual dan muntah biasanya
menghilang jika kramnya telah teratasi.
Gejala juga bisa dikurangi dengan istirahat yang cukup serta olah raga secara teratur. Jika nyeri terus
dirasakan dan mengganggu kegiatan sehari-hari, maka diberikan obat yang mengandung estrogen dan
progesteron atau diberikan medroksiprogesteron.
Pemberian kedua obat tersebut dimaksudkan untuk mencegah ovulasi (pelepasan sel telur) dan
mengurangi pembentukan prostaglandin, yang selanjutnya akan mengurangi beratnya dismenore. Jika
obat ini juga tidak efektif, maka dilakukan pemeriksaan tambahan (misalnya laparoskopi).
Jika dismenore sangat berat bisa dilakukan ablasio endometrium, yaitu suatu prosedur dimana lapisan
rahim dibakar atau diuapkan dengan alat pemanas.
Pengobatan untuk dismenore sekunder tergantung kepada penyebabnya.
Sumber: blog dokter
7. www.akbidnet.com

Dismenore
Selasa, 23 Desember 2008 22:44 Administrator

NYERI haid atau dismenore, nyeri yang bersifat cramping (dipuntir-puntir), di bagian bawah perut, punggung
bawah bahkan sampai paha. Nyeri ini timbul besamaan dengan haid, sebelum haid atau bisa juga segera
setelah haid.
Ada dua jenis nyeri haid, yaitu primer dan sekunder. Pembagian ini atas dasar sudah diketahui sebabnya dan
yang belum diketahui sebabnya. Pada yang primer biasanya terjadi pada umur kurang 20 tahun dan biasanya
bisa hilang bila yang bersangkutan hamil. Sebaliknya yang sekunder terjadi pada umur lebih 20 tahun dan
biasanya dijumpai adanya kelainan pada alat kelamin dalam, seperti infeksi, tumor atau perlekatan.
Kecenderungannya
Andersh dkk (1982) melakukan penelitian di Swedia yang menyatakan sekitar 72% dari 596 gadis umur 19
tahun menderita nyeri haid primer dan 15% diantaranya sangat berat sehingga memerlukan pengobatan
menghilangkan nyeri. Seiring dengan semakin canggihnya peralatan diagnostik, nyeri haid yang semula
termasuk primer (yang belum diketahui sebabnya) saat ini sudah semakin banyak diketahui sebabnya. Seperti
apa yang telah dilaporkan oleh Sundell dkk (1994), yakni sekitar 84% dari 1.278 gadis umur kurang 20 tahun
yang menderita nyeri haid sekunder alias sudah diketahui sebabnya.
Pengobatan
Pada prinsipnya pengobatan untuk nyeri haid adalah eliminasi penyebab patologis terjadinya nyeri terutama
pada kasus nyeri haid sekunder. Sedangkan pada nyeri haid primer cukup pemberian obat penghilang rasa
nyeri. Obat penghilang rasa nyeri sampat saat ini sangat banyak macamnya mulai dari yang betul-betul hanya
menekan rasa sakit sampai yang juga mempunyai pengaruh antiprostaglandin dan non steroid. Sayangnya,
berdasar kajian teoritik sampai saat ini obat penghilang rasa nyeri belum ada yang ”aman” terutama bila
diminum dalam waktu yang lama.
Padahal kebutuhan penggunaan obat ini tentunya jangka lama. Biasanya nyeri haid primer diderita ketika umur
kurang 20 tahun. Sebagai contoh seorang gadis umur 14 tahun sudah mendapatkan haid dan sangat nyeri
waktu haid. Penderitaan ini diperkirakan akan dialami selama 10 tahun. Bisa dibayangkan berapa tablet yang
harus diminum setiap haid selama 10 tahun? Betapa menderitanya? Juga berapa biaya yang diperlukan? Serta
kehilangan waktu berapa sewaktu haid sakit? Apakah benar-benar tidak ada efek yang merugikan?
Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 23 Desember 2008 22:45 )
8.http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/16_PengobatanDismenorescrAkupuntur.pdf/16_PengobatanDis
menorescrAkupuntur.html
Pengobatan Dismenore
secara Akupunktur
Galya Junizar, Sulianingsih, Dharma K. Widya
KSMF Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Ciptomangunkusumo
Jakarta
PENDAHULUAN
Nyeri saat haid merupakan keluhan yang sering dijumpai
di kalangan wanita usia subur, yang menyebabkan mereka
pergi ke dokter untuk berobat dan berkonsultasi. Dismenore
terdapat pada 30-75% dari populasi dan kira-kira separuhnya
memerlukan pengobatan
(1)
.
Etiologi dan patogenesis dismenore sampai sekarang
belum jelas, maka pengobatannya pun masih simpang siur
(2,3)
.
Pengobatan secara kedokteran barat yang akhir-akhir ini
banyak dipakai yaitu anti prostaglandin non steroid seperti:
asam mefenamat, naproksen dan ibuprofen, yang berefek
menurunkan konsentrasi prostaglandin di endometrium
(1,5)
.
Tetapi ternyata obat-obat ini mengakibatkan banyak kerugian
karena dapat menimbulkan iritasi lambung, kolik usus, diare,
lekopeni dan serangan asma bronkial.
Keberhasilan pengobatan secara barat belum diketahui
dengan pasti, sedangkan pengobatan secara akupunktur keber-
hasilannya sekitar 90,9%
(1)
.
TINJAUAN DARI SEGI ILMU KEDOKTERAN BARAT
Definisi
Dismenore adalah nyeri haid yang sedemikian hebatnya,
sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan
pekerjaan atau cara hidup sehari-hari untuk beberapa jam atau
beberapa hari
(5)
.
Patofisiologi
Patofisiologi dismenore sampai saat ini masih belum jelas;
tetapi akhir-akhir ini teori prostaglandin banyak digunakan;
dikatakan bahwa pada keadaan dismenore kadar prostaglandin
meningkat
(1)
.
Klasifikasi
(2,3,4)
1. Dismenore
primer
Sering juga disebut sebagai dismenore sejati, intrinsik,
esensial atau fungsional. Nyeri haid timbul sejak menars,
biasanya pada bulan-bulan atau tahun-tahun pertama haid.
Biasanya terjadi pada usia antara 15 sampai 25 tahun dan
kemudian hilang pada usia akhir 20-an atau awal 30-an. Tidak
dijumpai kelainan alat-alat kandungan.
2. Dismenore
sekunder
Dimulai pada usia dewasa, menyerang wanita yang semula
bebas dari dismenore. Disebabkan oleh adanya kelainan alat-
alat kandungan.
Etiologi dan Gejala
(4,5,6,7)
1. Dismenore
Primer
Rasa nyeri di perut bagian bawah, menjalar ke daerah
pinggang dan paha. Kadang-kadang disertai mual, muntah,
diare, sakit kepala dan emosi yang labil. Nyeri timbul sebelum
haid dan berangsur hilang setelah darah haid keluar.
Etiologinya belum jelas tetapi umumnya berhubungan
dengan siklus ovulatorik. Beberapa faktor yang diduga ber-
peran dalam timbulnya dismenore primer yaitu:
a) Prostaglandin
(2,3,7,8)
Penyelidikan dalam tahun-tahun terakhir menunjukkan
bahwa peningkatan kadar prostaglandin (PG) penting peranan-
nya sebagai penyebab terjadinya dismenore.
Jeffcoate
(2)
berpendapat bahwa terjadinya spasme mio-
metrium dipacu oleh zat dalam darah haid, mirip lemak
alamiah yang kemudian diketahui sebagai prostaglandin; kadar
zat ini meningkat pada keadaan dismenore dan ditemukan di
dalam otot uterus.
Pickles, dkk
(8)
mendapatkan bahwa kadar PGE
2
dan PGF
2
-
alfa sangat tinggi dalam endometrium, miometrium dan darah
haid wanita yang menderita dismenore primer. PG menyebab-
kan peningkatan aktivitas uterus dan serabut-serabut syaraf
terminal rangsang nyeri. Kombinasi antara peningkatan kadar
PG dan peningkatan kepekaan miometrium menimbulkan
tekanan intra uterus sampai 400 mm Hg dan menyebabkan
kontraksi miometrium yang hebat. Atas dasar itu disimpulkan
bahwa PS yang dihasilkan uterus berperan dalam menimbulkan
hiperaktivitas miometrium. Selanjutnya kontraksi miometrium
yang disebabkan oleh PG akan mengurangi aliran darah,
sehingga terjadi iskemia sel-sel miometrium yang mengakibat-
kan timbulnya nyeri spasmodik. Jika PG dilepaskan dalam
jumlah berlebihan ke dalam peredaran darah, maka selain
dismenore timbul pula pengaruh umum lainnya seperti diare,
mual, muntah.
b. Hormon steroid seks
Dismenore primer hanya terjadi pada siklus ovulatorik.
Artinya, dismenore hanya timbul bila uterus berada di bawah
pengaruh progesteron. Sedangkan sintesis PG berhubungan
dengan fungsi ovarium. Kadar progesteron yang rendah akan
menyebabkan terbentuknya PGF
2
-alfa dalam jumlah yang
banyak. Kadar progesteron yang rendah akibat regresi corpus
luteum menyebabkan terganggunya stabilitas membran lisosom
dan juga meningkatkan pelepasan enzim fosfolipase-A2 yang
berperan sebagai katalisator dalam sintesis PG melalui per-
ubahan fosfolipid menjadi asam arakhidonat.
Ylikorkala, dkk
(9)
pada penelitiannya menemukan bahwa
kadar estradiol lebih tinggi pada wanita yang menderita
dismenore dibandingkan wanita normal. Estradiol yang tinggi
dalam darah vena uterina dan vena ovarika disertai kadar
PGF
2
-alfa yang juga tinggi dalam endometrium. Hasil ter-
penting dari penelitian ini adalah ditemukannya perubahan
nisbah E2/P.
c. Sistim saraf (neurologik)
Uterus dipersarafi oleh sistim saraf otonom (SSO) yang
terdiri dari sistim saraf simpatis dan parasimpatis.
Jeffcoate mengemukakan bahwa dismenore ditimbulkan
oleh ketidakseimbangan pengendalian SSO terhadap mio-
metrium. Pada keadaan ini terjadi perangsangan yang berlebih-
an oleh saraf simpatik sehingga serabut-serabut sirkuler pada
istmus dan ostium uteri internum menjadi hipertonik.
d. Vasopresin
Akarluad, dkk
(10)
pada penelitiannya mendapatkan bahwa
wanita dengan dismenore primer ternyata memiliki kadar
vasopresin yang sangat tinggi, dan berbeda bermakna dari
wanita tanpa dismenore. Ini menunjukkan bahwa vasopresin
dapat merupakan faktor etiologi yang penting pada dismenore
primer. Pemberian vasopresin pada saat haid menyebabkan
meningkatnya kontraksi uterus dan berkurangnya darah haid.
Namun demikian peranan pasti vasopresin dalam mekanisme
dismenore sampai saat ini belum jelas.
e. Psikis
Semua nyeri tergantung pada hubungan susunan saraf
pusat, khususnya talamus dan korteks. Derajat penderitaan
yang dialami akibat rangsang nyeri tergantung pada latar
belakang pendidikan penderita. Pada dismenore, faktor pen-
didikan dan faktor psikis sangat berpengaruh; nyeri dapat
dibangkitkan atau diperberat oleh keadaan psikis penderita.
Seringkali segera setelah perkawinan dismenore hilang, dan
jarang masih menetap setelah melahirkan. Mungkin kedua
keadaan tersebut (perkawinan dan melahirkan) membawa per-
ubahan fisiologik pada genitalia maupun perubahan psikis.
2. Dismenore
Sekunder
Nyeri mulai pada saat haid dan meningkat bersamaan
dengan keluarnya darah haid.
Dapat disebabkan oleh antara lain:
a)
Endometriosis
b)
Stenosis kanalis servikalis
c)
Adanya AKDR
d)
Tumor ovarium
Perbandingan gejala Dismenore Primer dengan Dismenore
Sekunder
(11)
:
Dismenore Primer
Dismenore Sekunder
-
usia lebih muda
- usia lebih tua
-
timbul segera setelah
- tidak tentu
terjadinya
siklus
haid
yang
teratur
-
sering pada nulipara
- tidak berhubungan
dengan
paritas
-
nyeri sering terasa sebagai
- nyeri terus-menerus
kejang uterus dan spastik
-
nyeri timbul mendahului
- nyeri mulai pada saat haid
haid, meningkat pada
dan meningkat bersamaan
hari pertama dan kemudian dengan keluarnya darah
menghilang bersamaan
haid
dengan keluarnya darah haid.
-
sering memberikan respons - sering memerlukan tin-
terhadap pengobatan medika dakan operatif
mentosa
-
sering disertai mual, muntah, - tidak
diare, kelelahan dan nyeri
kepala.
PENATALAKSANAAN
1) Dismenore
Primer
a. Psikoterapi
b. Medikamentosa
-
Analgetika:
Nyeri ringan: aspirin, asetaminofen, propoksifen.
Nyeri berat: prometazin, oksikodon, butalbital
-
Sediaan hormonal: progestin, pil kontrasepsi (estrogen
rendah dan progesteron tinggi).
-
Antiprostaglandin
Jenis obat:
dosis:
frekuensi:
aspirin 650
mg
4-6
kali/hari
indometasin 25
mg 3-4
kali/hari
fenilbutazon 100
mg 4
kali/hari
ibuprofen 400-600
mg
3
kali/hari
naproksen 250
mg
2
kali/hari
asam mefenamat
250 mg
4 kali/hari
asam meklofenamat
50-100 mg
3 kali/hari
pemberian dilakukan 24-72 jam prahaid
2)
Dismenore Sekunder
Pengobatan terutama ditujukan mencari dan menghilang-
kan penyebabnya, di samping pemberian obat-obat bersifat
simtomatik.
TINJAUAN AKUPUNKTUR
Pengertian
Dismenore adalah nyeri haid akibat sumbatan Sie atau
dingin yang berlebihan sehingga menghambat sirkulasi Ci dan
menyumbat meridian
(12)
.
Klasifikasi
(12,13)
-
tipe Se
-
tipe Si
Etiologi dan Gejala
Tipe Se
Akibat sumbatan Ci dan penggumpalan Sie.
Gejala:
-
Nyeri perut timbul pada saat/sesudah darah haid keluar,
yang berkurang bila ditekan atau dipanaskan.
-
Muka pucat
-
Lesu
-
Takut dingin
-
Darah yang keluar sedikit dan berwarna merah muda.
-
Nadi halus lemah
PENATALAKSANAAN
Menurut Kim SS, penusukan akupunktur akan merangsang
target organ melalui jalur refleks saraf humoral dan otonom,
sehingga siklik AMP meningkat, akibatnya pelepasan mediator
dari mast cell dihambat (salah satu mediator tersebut adalah
PG)
(14)
.
Pengobatan dismenore secara ilmu akupunktur dan moksi-
busi banyak disebut dalam berbagai macam buku, dengan
berbagai macam resep. Titik akupunktur yang selalu dipakai
(utama) dalam pengobatan dismenore adalah Kuan Yen
(XIII,4) dan San Yin Ciau (IV,6). Titik-titik lain dipergunakan
secara bervariasi. Pengobatan diberikan 3-5 hari sebelum
haid
(13)
Titik-titik yang digunakan:
1.
Tipe Se:
-
Kuan Yen (XIII, 4)
-
San Yin Ciao (IV, 6)
-
Kui Lai (III, 29)
-
Ci Hai (XIII, 6)
Metode pelemahan
2.
Tipe Si
-
Kuan Yen (XIII, 4) diberi moksa
-
Cu San Li (III, 36)
-
Sen Cie (XIII, 8)
-
Sui Tao (III, 28)
Metode penguatan
Angka keberhasilan pengobatan dismenore primer dengan
jarum akupunktur pada titik-titik tersebut di atas 90,9%.
Menurut Nan Jing Seminar penatalaksanaan tipe Se dibagi
menjadi:
Tipe Se akibat stagnasi Ci
-
Sing Cien (XII, 2)
-
Ci Hai (XIII, 6)
-
Sie Hai (IV, 10)
-
San Yin Ciao (IV, 6)
-
Tai Cung (XII, 3)
Metode pelemahan
Tipe Se akibat penyumbatan Sie
-
Kui Lai (XIII,29)
-
Ci Hai (XIII,6)
-
Sie Hai (IV,10)
-
San Yin Ciao (IV,6)
-
Tai Cung (XII,3)
Metode pelemahan.
HASIL PENELITIAN
Galya Junizar
(15)
melakukan penelitian terhadap 22
penderita dismenore primer yang dibagi 11 orang kasus dengan
akupunktur dan 11 orang kontrol dengan plasebo. Didapatkan
perbedaan bermakna pada kelompok yang mendapat peng-
obatan akupunktur (p<0,01).
PEMBICARAAN
Dismenore meskipun bersifat temporer tetapi dirasakan
cukup mengganggu, terutama pada wanita yang bekerja.
Secara ilmu kedokteran timur dismenore adalah akibat
gangguan sirkulasi Ci dan Sie, sehingga terapinya bertujuan
melancarkan sirkulasi Ci dan Sie.
Secara ilmu kedokteran barat patofisiologi dismenore
masih belum jelas. Dari gejala klinik yang dijumpai ternyata
ada persamaan antara dismenore primer dengan dismenorea
tipe Se yaitu nyeri timbul sebelum haid dan berangsur hilang
setelah darah haid keluar. Lokasi nyeri pada perut bagian
bawah dapat menyebar ke pinggang dan paha, kadang-kadang
disertai mual, muntah dan sakit kepala.
Juga dalam pengobatan terdapat persamaan yaitu secara
barat bertujuan menghambat sintesa PG, sedang penusukan
jarum akupunktur mempunyai efek menghambat pengeluaran
PG.
KEPUSTAKAAN
1.
Helms JM. Acupuncture for the Management of Primary Dysmenorrhea.
Br J Obstet Gynecol 1987; 69: 51-6.
2.
Jeffcoate SN. Dysmenorrhea. In: Principles of Gynecology. 4
th
ed.
London, Boston, Durban, Singapore, Sydney, Toronto, Wellington:
Butterworth Scientific 1982; 537-46.
3.
Horowitz. Symptomatic relief for dysmenorrhoea. Paed J Obstet Ginecol
1987; 13: 39-44.
4.
Prawirahardjo S. Ilmu Kandungan. Jakarta: Bina Pustaka. Ed. 1, 1981;
178-80.
KESIMPULAN
5.
Dawood M. Nonsteroid anti inflammatory drugs and changing attitudes
towards dysmenorrhea. Am J Med 1988; 84: 23-9.
Dismenore primer diderita oleh sekitar 50% wanita usia
reproduksi dengan siklus ovulatorik. Titik tolak dismenore
primer menurut kedokteran barat adalah ketidakseimbangan
hormon seks steroid (E2/P) yang menimbulkan rangkaian
perubahan patologik sistemik dengan hasil akhir terjadinya
peningkatan kadar PG. Keberhasilan pengobatan secara barat
belum jelas, obat-obat antiprostaglandin yang banyak dipakai
ternyata memberi efek samping seperti menimbulkan iritasi
lambung, kolik usus, diare, leukopeni dan serangan asma
bronkhial.
6.
Jacoeb TZ, Judi JE, Ali Baziad: Aspek Patofisiologi dan Penatalaksanaan
Dismenorea. Subbagian Endokrinologi Reproduksi RSCM, 1990; 1-29.
7.
Speroff L. Current Obstetric and Gynecologic Diagnosis and Treatment.
4
th
ed. Singapore: Lange Med Publ Maruzen Asia (Pte) Ltd. 1982; 134-5.
8.
Pickles VR, Hall WJ, Best FA, Smith GN. Prostaglandin in endometrium
and menstrual fluid from normal and dysmenorrhoea subjects. J Obstet
Gynecol Br Comm 1975; 72: 185.
9.
Ylikorkala O et al. New Concepts in Dysmenorrhea. Am J Obstet
Gynecol 1978; 130: 833-47.
10.
Akerluad M., Forsling ML. Primary Dysmenorrhoea and Vasopressin. Br
J. Obstet Gynecol 1979; 86: 484-7.
Menurut Kim SS, penusukan akupunktur akan merangsang
target organ melalui jalur refleks saraf humoral dan otonom,
sehingga siklik AMP meningkat, akibatnya pelepasan mediator
dari mast cell dihambat (salah satu mediator tersebut adalah
PG). Kesembuhan dengan pengobatan cara akupunktur 90,9%
dan tidak terdapat efek samping (lebih aman).
11.
Connor JO et al. Acupuncture: a comprehensive text, Eastland Press
Chicago 1981; 671-2.
12.
Anonim. Essentials of Chinese Acupuncture. Am J Acup. 1976; 25-32.
13.
Kim SS. Mediators of Acupuncture, Pergamon Press Ltd. Beijing 1981;
375-6.
14.
Qiu ML, Su XM. The Nan Jing Seminars. London: Spring 1984; 3-8.
15.
Galya Junizar. Penanggulangan Nyeri pada Dismenore Primer dengan
Akupunktur.Jakarta, 1995