Anda di halaman 1dari 27

TUGAS PROSES INDUSTRI PETRO & OLEOKIMIA

SURFAKTAN

Disusun oleh:
Kelompok 1:
ANGELINA DEBBIE F S (1007135353)
BAYU HIDAYATULLAH(0607113779)
NIRMALA SARI (1007121611)
ROY RONALD S (

PROGRAM STUDI S-1


JURUSAN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2012

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini dibuat
untuk memenuhi tugas semester IV mata kuliah pengolahan industri oleokimia. Makalah
yang ditulis oleh penulis berjudul SURFAKTAN. Dalam makalah ini dijelaskan secara
rinci tentang pengolahan berbagai surfaktan, fungsi dari surfaktan, serta jenis-jenis
surfaktan. Penulis juga melengkapi materi dengan beberapa flow chart dengan harapan
agar pembaca lebih memahami bagaimanan proses terjadi.
Pada kesempatan ini penulis tak lupa mengucapkan terima kasih kepada ibu
Nirwana sebagai dosen pembimbing yang telah membimbing pembuatan makalah ini
serta keluarga dan teman-teman yang memberi dorongan semangat untuk menyelesaikan
makalah ini.
Akan tetapi, penulis menyadari keterbatasan dalam menyusun makalah ini. Untuk
itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Akhir kata, penulis
mengucapakan terima kasih.

Pekanbaru, 4 Maret 2008

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Surfaktan adalah senyawa organik yang molekul-molekulnya mempunyai dua
ujung yang berbeda interaksinya dengan air, yakni ujung satu (biasa disebut kepala) yang
suka air (gugus hidrofilik) dan ujung satunya (yang disebut ekor) yang tidak suka air
(hidrofobik). Apabila ditambahkan ke suatu cairan pada konsentrasi rendah, maka dapat
mengubah karakteristik tegangan permukaan dan antarmuka cairan tersebut.
Surfaktan adalah zat aktif yang berperan sebagai pengemulasi minyak dan air,
sehingga surfaktan adalah senyawa yang memegang peranan penting dalam proses
penghilangan kotoran. Namun selama ini surfaktan bersumber dari bahan baku minyak
bumi. Surfaktan yang disintesis dari turunan minyak bumi dan gas alam sukar
terdegradasi oleh alam, di samping itu proses pembuatan surfaktan dari bahan baku ini
menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Oleh karena itu, saat ini telah
dikembangkan produksi surfaktan dari sumber nabati, yaitu kelapa sawit. Sedikitnya ada
13 jenis surfaktan yang dapat dihasilkan dari minyak kelapa sawit. Dari berbagai jenis
surfaktan itu, lebih lanjut dapat dihasilkan beraneka produk komersial, seperti bahan baku
pembersih berupa detergen dan pelembut pakaian, kosmetika yang meliputi sabun,
sampo, perawatan kulit, hingga pasta gigi. Dari Surfaktan juga dapat dihasilkan bahan
pewarna tekstil, pelumas, bahan baku farmasi untuk obat dan pembuatan vaksin, serta
aditif bagi bahan bakar minyak.
Pengembangan surfaktan berbasis minyak sawit dapat dilakukan di Indonesia
mengingat produksi minyak sawit Indonesia yang mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun dan Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Produksi
surfaktan dari kelapa sawit bila dibandingkan dengan harga CPO (crude palm oil),
surfaktan memiliki harga jual 20 kali lipat lebih tinggi. Surfaktan merupakan senyawa
aktif penurun tegangan permukaan (surface active agent) yang dapat diproduksi secara
sintesis kimiawi atau biokimiawi. Salah satu jenis surfaktan yang banyak diperlukan di
industri, khususnya industri deterjen adalah surfaktan metil ester sulfonat (MES).

BAB II
ISI
Surfaktan merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai dua ujung yang
berbeda yaitu ujung hidrofilik (suka air) dan hidrofobik (tidak suka air). Bahan aktif ini
berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang
menempel pada permukaan bahan. Apabila ditambahkan ke suatu cairan pada konsentrasi
rendah, maka dapat mengubah karakteristik tegangan permukaan dan antarmuka cairan
tersebut. Antarmuka adalah bagian dimana dua fasa saling bertemu/kontak.
Surfaktan memiliki kemampuan beradaptasi pada lingkungan dimana dia berada,
misalnya surfaktan yang memiliki sifat anti air atau minyak atau dua-duanya tetapi bisa
sebaliknya, dan kandungan ion yang dibawa bisa positif bisa negatif atau netral.
Umumnya surfaktan mempunyai 2 sifat struktur yang lazim yaitu gugusan kepala larut air
dan gugusan hidrokarbon ekor yang tak larut air. Bagi kebanyakan surfaktan, ekor atau
rantai hidrokarbon lebih dari separuh berat molekul
Struktur Umum Surfaktan

Surfaktan banyak digunakan dalam berbagai bidang seperti industri, farmasi,


eksplorasi minyak bumi dan juga rumah tangga. Surfaktan dapat dihasilkan beraneka
produk komersial, seperti bahan baku pembersih berupa detergen dan pelembut pakaian,
kosmetika yang meliputi sabun, sampo, perawatan kulit, pasta gigi, bahan pewarna
tekstil, pelumas, bahan baku farmasi untuk obat dan pembuatan vaksin, serta aditif bagi
bahan bakar minyak.

2.1 PROSES PRODUKSI SURFAKTAN


2.1.1 Bahan Mentah Surfaktan
Surfaktan dapat berasal dari surfaktan oleokimia maupun surfaktan petrokimia.
Secara umum, kebanyakan rantai hidrokarbon dalam sebagian besar surfaktan dan lainlain surfaktan istimewa dihasilkan dari bahan mentah berikut:
1. Lemak dan minyak biasa
2. Petroleum
3. Etilena
4. Propilena
1. Bahan Surfaktan Dari Lemak Dan Minyak
Dalam minyak dan lemak, rantai hidrokarbon di bentuk di dalam bahan mentah
menjadi trasilgliserol (TAG). TAG yang berasal dari sumber hewan dan tumbuhan ini
dipisahkan dan direaksikan secara kimia menjadi bahan penting surfaktan. Minyak kelapa
dan minyak inti sawit penghasil rantai C12-C14. Bahan ini terdiri dari berbagai unsur
yang akan diubah menjadi surfaktan antara lain:
a. Asam Lemak
b. Metil Ester Lemak
c. Alkohol Lemak
2. Bahan Surfaktan Dari Petroleum

Rantai hidrokarbon linear atau n-parafin dapat diekstrak dari fraksi petroleum

Kerosen adalah faraksi petroleum yang mengandung hidrokarbon C10-C16

Bahan ini terdiri dari:


a. N-parafin
b. Alkil Benzen Linear (LAB)
3. Bahan Surfaktan Dari Etilena
a. Proses Pemanjangan Etilena Ziegler
b. Alkohol Ziegler
c. Alkil Fenol, Deodesil Benzena, dan Isotridesil Alkohol

2.1.2 Proses Produksi Surfaktan


A. Produksi surfaktan alkohol lemak sulfat
Alkohol lemak yang memiliki

panjang rantai C12-C18 memiliki formulasi

produk detergen sebab memiliki kualitas deterjen yang bagus, sifat pembasahan dan
pembusaan, dan biodegradabilitas. Rantai C12-C14 dikenal dengan nama sodium lauryl
sulfat (SLS) yang memiliki pembusaan optimum dan sebagai foaming agent dalam
produksi pasta gigi. Sedangkan rantai C12-C14 dan C12-C16 digunakan dalam produksi
shampoo.

Reaksi Kimia
Alkohol lemak sulfat menetralkan garam sebagai sodium coco alkohol lemak

sulfat. Produk ini dihasilkan dengan mereaksikan alkohol lemak dengan sulfur trioksida
dan kemudian dinetralisai dengan menggunakan soda kaustik :
RCH2OH

alkohol lemak

SO3

sulfur trioksida

RCH2OSO3H
fatty alcohol sulfuric acid

RCH2OSO3H
fatty alcohol sulfuric acid

NaOH
soda kaustik

RCH2OSO3Na

sodium fatty alcohol sulfate

H2O
air

Tingkatan produk adalah setengah ester asam sulfur dan harus segera dinetralisasi.
Produk akhir mengandung sekitar 1.5% sodium sulfat, 1.0-1.5% alkohol nonreaksi, dan
0.5% alkali bebas.Pada proses akhir reaksi pembentukan alkohol lemak sulfat adalah
dengan menambahkan gas SO3 sebagai agen sulfasi. Proses ini bukan saja menghasilkan
produk murni yang tinggi namun juga sangat ekonomis dan ramah lingkungan.

Proses
Hal yang utama dalam proses produksi surfaktan adalah reaktor. Reaktor yang

digunakan adalah batch, cascade, atau tipe falling film. Kebanyakan industri-industri
menggunakan reaktor tipe falling film karena reaksi dapat terkontrol dan lebih efisien.
Reaktor Falling-film terdiri dari multitube, monotube, atau annular.

Multitube film reactor

Produksi alkohol lemak sulfat atau sulfat lainnya terdiri atas lima tahap, yaitu:
1. Proses persiapan udara (Process Air Preparation)
2. Sulfur Trioxide Generation
3. Sulfasi
4. Netaralisasi
5. Perawatan gas lemah (exhaust gas treatment)
1. Process Air Preparation
Proses udara harus benar-benar kering dengan titik embun(dewpoint) sekitar 50
C. Dengan adanya embun akan terjadi korosif (sebab reaksi ini ditambah gas SO 3) dan
juga meningkatkan warna produk.
Udara dialirkan ke dalam kompresor besar untuk sistem pendinginan, di mana
suhu yang digunakan sekitar 3-5 C dan uap-uap di kondensasikan. Selanjutnya udara di
dikeluarkan melalui sebuah dehumdifier (pengering udara), seperti silika gel dimana sisasisa uap terakhir di tahan/di simpan.
Ballestras air drying system

2. Sulfur Trioxide Generation


Dalam proses ini, sulfur dengan kemurnian yang tinggi (kemurnian 99,5%) di
larutkan dalam sebuah tanki dan suhu dijaga sekitar 145-150 C untuk mempertahankan
viskositas minimum dan nilai konstan. Sulfur cair dimasukkan ke dalam sulfur burner
(pembakar sulfur) dengan pompa meter khusus dan kemudian dibakar dengan SO 2
menggunakan udara kering. Gas SO2 cair (6-7%) meninggalkan burner pada suhu 650 C
dan didinginkan pada suhu 430 C sebelum diumpankan ke dalam konverter.
Katalitik konverter dengan tiga sampai empat katalis vanadium pentoksida
mengkonversi SO2 menjdai SO3 dengan efisiensi konversi 98%. Gas SO3 didinginkan di
bawah suhu 60 C, dicairkan hingga 4% volume, dan dikeluarkan melalui mist eliminator
untuk memindahkan sisa oleum sebelum diumpankan ke dalam reaktor.
Typical System For Generation SO3 Gas.

3. Sulfasi
Sulfasi dilakukan di reaktor film multitude untuk mengontrol keakurasian rasio
mol antara SO3 dengan umpan organik dalam berbagai pipa. Umpan di masukkan di
bagian atas dan mengalir ke bawah di samping pipa. Ketika reaksi berlangsung
eksotermis, air dingin pada aliran kontrol dimasukkan ke dalam jaket untuk menjaga
temperatur pada 45-50 C maksimum. Yield reaksi sebesar 97% dapat dicapai. Proses ini
ditunjukkan pada gambar reaktor multitube film.
4. Netralisasi
Tingkatan produk dari reaktor harus dinetralisasi segera, dengan hidrolisis bisa
menghindari pengaruh buruk bagi proses dan kualitas produk. Proses ini akan lebih
berhasil jika langkah ini dilakukan duakali terhadap unit netralisasi. Dengan
pencampuran multibladed maka dihasilkan campuran yang homogen.
Perlu diperhatikan bahwa netralisasi akan memelihara sifat-sifat alkali sekecil
apapun untuk menjaga kelancaran dan stabilitas proses. Konsentrasi rata-rata zat aktif
sebesar 72% dapat digunakan. Konsentrasi yang terlalu tinggi tidak baik digunakan
karena akan menimbulkan kesulitan dalam proses. Jika menginginkan sebuah produk
kering, maka proses selanjutnya dengan melewati sebuah wiped film evaporator.
Ballestras Double Step Neutralization.

5. Exhaust gas treatment


Komposisi gas harus di hilangkan dengan meregulasi lingkungan. Gas lemah
terdiri dari zat-zat organik sisa, SO3 nonreaksi dan gas SO2. Pertama kedua kotoran
dipindahkan dari electrostatic presipitator. Sisa gas SO2 dipindahkan dari reaksi dengan
menambahkan soda kaustik yang mengalir dengan arus berlawanan sepanjang scrubbing
coloumn. Konsentrasi gas sisa dalam gas lemah SO2 dilepaskan ke dalam atmosfir dengan
tekanan maksimum 5 ppm.
Ballestras Gas Scrubbing System

B. Sulfonasi metil ester asam lemak


Salah satu jenis surfaktan yang banyak diperlukan di industri, khususnya industri
deterjen adalah surfaktan metil ester sulfonat (MES).

Keunggulannya dalam

menghilangkan sifat kekerasan air menjadikannya lebih baik daripada alkohol lemak
sulfat. Dengan memproduksi MES dari minyak sawit maka diharapkan kecenderungan
penggunaan bahan baku minyak bumi dapat ditekan.

Reaksi

Sulfonasi metil ester asam lemak berbeda dari alkohol lemak. Mekanisme reaksi
terdiri dari dua tahap. Pada reaksi pertama, gas SO3 bereaksi cepat dengan
sulfoanhydride. Langkah kedua (dengan waktu 40-90 menit), sulfoanhydride berubah
menjadi agen sulfonasi yang bereaksi dengan still-unreacted ester.
Reaksi membutuhkan SO3 excess sebesar 20-30 mol % untuk diinisiasikan.
Dengan adanya excess, formasi dari disalt selama proses netralisasi dapat dihindari. Cara
ini dilakukan untuk meminimalisasikan proses esterifikasi kembali setelah langkah
kedua.
Langkah netralisasi ini memiliki kesamaan dengan langkah netralisasi dalam
produksi alkohol lemak sulfat. Karena adanya reaksi awal dan kondisi selama proses
sulfonasi, dihasilkan warna gelap pada produk yang dapat dihilangkan dengan proses
bleaching. Postreaction treatment dengan H2O2 dan NaOCl menghasilkan sebuah produk
dengan warna yang baik.

Proses
Proses pembuatan surfaktan metil ester sulfonat anionik dari CPO dilakukan

melalui tiga tahap. Tahap pertama berupa proses saponifikasi CPO dengan larutan NaOH
dilanjutkan netralisasi dengan menghasilkan asam lemak. Tahap kedua berupa
prosesesterifikasi asam lemak dengan metanol menghasilkan metil ester. Tahap ketiga
adalah sulfonasi metil ester dengan asam sulfat menjadi metil ester sulfonat, yang
merupakan bahan kimia surfaktan
Proses saponifikasi CPO dilakukan dalam reaktor kapasitas 500 mL yang
dilengkapi pengaduk dan alat pengendali suhu. Reaksi dijalankan pada perbandingan
pereaksi antara CPO dengan larutan NaOH dibuat tetap stoikhiometrik. Konsentrasi
larutan NaOH dibuat bervariasi antara 0,4 N sampai 1N dan suhu reaksi 80 oC. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan larutan NaOH encer sekitar 0,5 N
atau kurang, nilai konversinya rendah. Penggunaan larutan NaOH yang pekat sekitar 0,95
N atau lebih, campuran bahan pereaksi menggumpal dan konversinya juga rendah. Nilai
konversi pada suhu reaksi 60oC atau dibawahnya relatif rendah dibanding dengan
konversi pada suhu 70 oC. Konversi saponifikasi mencapai nilai yang tinggi pada
pemakaian larutan NaOH sekitar 0,7 N dan suhu reaksi 70 oC. Pada kondisi itu konversi
mencapai 80% dalam waktu 150 menit.
C. Produksi Surfaktan Dari Monoalkil Fosfat
Monoalkil sulfat dan ester fosfat merupakan suatu tipe khusus fosfat yang
merupakan suatu surfaktan anionik . Fungsinya yang menekan busa digunakan sebagai
komponen surfaktan untuk alkalin, dan sebagai pembersih dan pembuatan kosmetik
khusus.
Reaksi:
Fosfat ester direaksikan dengan phosphosporus oxychloride dengan proses
hidrolisis. Proses ini menghasilkan monoalkil, dialkil, dan triakil fosfat. Cara lain adalah
dengan mereaksikan dengan alkohol lemak salah satunya dengan fosfor pentoksida atau
asam polifosforik. Dalam proses dihasilkan produk asam alkil fosfat yang siknifikan yang

menggunakan

dua unsur fosfat agent.

Dengan menggunakan asam polifosforik

dihasilkan ratio yang besar antara monoester : diester daripada dengan menggunakan
fosfor pentoksida.

Proses:
Fosfat ester direaksikan pada temperatur 80-120 C pada tekanan atmosfir.
Temperatur juga bisa digunakan pada 30-80 C. Temperatur yang rendah akan berakibat
pada warna produk. Fosforus pentoksida ditambahkan ke dalam alkohol dengan rasio
yang disesuaikan seperti larutan pentoksida dan reaksi terjadi tanpa penggumpalan
(lumping). Penggumpalan dapat menyebabkan P2O5 tidak reaktif. Reaksi antara alkohol
dengan P2O5 berada pada fasa liquid dan eksotermis serta tidak menggunakan katalis.
Penambahan sedikit asam hyphosporus atau garamnya akan menghasilkan warna pucat,
yaitu warna stabil pada produk.
D. Produksi Surfaktan Gliserol Monooleat
Dalam pembuatan surfaktan cair gliserol monooleat skala komersial yang produk
atau teknologinya teraplikasi di industri pengguna (industri tekstil) digunakan sistem
proses batch. Pembuatan surfaktan gliserol monooleat sistem batch dilakukan dalam
skala 500 mL pada kondisi operasi suhu 180 C, waktu 7 jam , tekanan atmosferik,
pengadukan 450 rpm melalui reaksi esterifikasi antara gliserol dan asam oleat dengan
katalis asam.
Produk surfaktan gliserol monooleat banyak digunakan di industri tekstil,
kosmetik, dan lain-lain sebagai emulsifier. Pengembangan penelitian dari sistem batch
menjadi sistem kontinyu dilakukan untuk mengefisienkan proses produksi yang meliputi
ongkos produksi, waktu proses dan kapasitas produk.

E. Produksi Surfaktan N-parafin


Untuk menghasilkan surfaktan, kerosen adalah sumber hidrokarbon yang paling
penting. Parafin linear atau normal dapat dipisahkan dari yang bercabang dan siklik
menggunakan proses MOLE X atau ISOSIV
Sintesis N-Parafin

Biasanya 20-25% kerosen mengandung parafin normal denagn panjang rantai


C10-C16. Parafin normal disuling dalam pembuatan surfaktan. Bagian hidrokarbon
bercabang/siklik atau rafinat dijual sebagai bahan bakar (upgraded fuel)
F. Produksi Surfaktan Alkil Benzen Linear (LAB)
Alkil benzene linear (linear alkyl benzene, LAB) adalah bahan antara surfaktan
terbesar saat ini. Proses utama pembuatan LAB adalah proses UOP PACOL/HF. Proses
ini melibatkan penghidrogenan berkatalis (proses PACOL) n-parafin untuk merubah kirakira 12 % parafin menjadi olefin. Kemudian olefin direaksikan dengan benzena
menggunakan HF cair sebagai katalis. HF dipisahkan dari campuran organik benzena,

paraffin, LAB dan alkilat berat yang tertinggal dipisahkan melalui penyulingan. Proses
ini menghasilkan LAB jenis 2-fenil.
Proses PACOL n-parafin

G. Produksi Surfaktan Dengan Proses Pemanjangan Etilena Ziegler


Dalam pembuatan surfaktan, etilena digunakan untuk membentuk hidrokarbon
berantai panjang. Proses yang digunakan adalah reaksi pemanjangan (growth reaction)
untuk menghasilkan rantai hidrokarbon panjangnya C2 ke C20. Rantai hidrokarbon
dipanjangkan melalui penambahan unit etilena ke organo-logam seperti trietil
alumunium. Unit etilena diselipkan di antara rantai alkil yang memanjang dengan
alumunium menjadi triakil alumunium atau produk perpanjangan.
Reaksi:

H. Produksi Surfaktan Alkohol Ziegler


Dalam proses alkohol ziegler, alkohol lemak berantai karbon genap linear
dihasilkan dari produk pemanjangan melalui pengoksidaan diikuti oleh hidrolisis.

Perbandingan proses-proses produksi surfaktan :


a. Produksi surfaktan alkohol lemak:

surfaktan hasil proses ini memiliki kualitas deterjen yang bagus karena memiliki
sifat pembasahan dan pembusaan yang optimum (sodium lauryl sulfat (SLS) )
serta adanya sifat biodegradabilitas.

Terdiri dari lima tahap proses yaitu: proses persiapan udara (process air
preparation), sulfur trioxide generation, sulfasi, netaralisasi, perawatan gas lemah
(exhaust gas treatment).

Adanya penambahan gas SO3 sebagai agen sulfasi pada proses akhir reaksi
pembentukan alkohol lemak sulfat, sehingga menghasilkan produk murni yang
tinggi. Namun penambahan gas SO3 menyebabkan terjadi korosi.

Pada Process Air Preparation digunakan dewpoint sebesar 50 C agar udara yang
digunakan benar-benar kering.

Adanya proses netralisasi menghindari pengaruh buruk bagi proses dan kualitas
produk. Proses netralisasi dilakukan sebanyak duakali sehinga dihasilkan
campuran larutan yang homogen. Netralisasi akan memelihara sifat-sifat alkali
sekecil apapun untuk menjaga kelancaran dan stabilitas proses.

Komposisi gas harus di hilangkan dengan meregulasi lingkungan dengan tekanan


maksimum 5 ppm.

b. Produksi surfaktan metil ester sulfat:


Surfaktan ini memiliki keunggulan dalam menghilangkan sifat kekerasan air
daripada alkohol lemak sulfat. Produksi MES dari minyak kelapa sawit
diharapkan dapat menekan kecenderungan penggunaan bahan baku minyak bumi

Proses pembuatan surfaktan metil ester sulfonat anionik dari CPO dilakukan
melalui tiga tahap yaitu: saponifikasi CPO dengan larutan NaOH, proses
esterifikasi yang dilanjutkan netralisasi, dan sulfonasi metil ester. Reaktor yang
digunakan berkapasitas 500 mL.

Sulfonasi metil ester asam lemak berbeda dari alkohol lemak dimana mekanisme
reaksi terdiri dari dua tahap yaitu: pertama, gas SO 3 bereaksi cepat dengan
sulfoanhydride, kedua, (dengan waktu 40-90 menit), sulfoanhydride berubah
menjadi agen sulfonasi yang bereaksi dengan still-unreacted ester.

Langkah netralisasinya memiliki kesamaan dengan langkah netralisasi dalam


produksi alkohol lemak sulfat, namun karena adanya reaksi awal dan kondisi
selama proses sulfonasi, maka dihasilkan warna gelap pada produk yang dapat
dihilangkan dengan proses bleaching. Adanya proses postreaction treatment
dengan H2O2 dan NaOCl menghasilkan sebuah produk dengan warna yang baik.

Penggunaan konsentrasi NaOH yang berbeda-beda harus diperhatikan karena


memiliki kelemahan masing-masing. Konversi saponifikasi mencapai nilai yang
tinggi pada pemakaian larutan NaOH sekitar 0,7 N dan suhu reaksi 70 oC. Pada
kondisi itu konversi mencapai 80% dalam waktu 150 menit.

c. Produksi surfaktan Dari Monoalkil Fosfat

Monoalkil sulfat dan ester fosfat yang merupakan suatu surfaktan anionik
memiliki fungsi yang dapat menekan busa sehingga digunakan sebagai komponen
surfaktan untuk alkalin, dan sebagai pembersih serta pembuatan kosmetik khusus.

Fosfat ester direaksikan dengan phosphosporus oxychloride dengan proses


hidrolisis atau mereaksikan dengan alkohol lemak, salah satunya dengan fosfor
pentoksida atau asam polifosforik

Fosfat ester direaksikan pada temperatur 80-120 C pada tekanan atmosfir.


Temperatur yang rendah akan berakibat pada warna produk.

Reaksi terjadi tanpa penggumpalan (lumping). Penggumpalan dapat menyebabkan


P2O5 tidak reaktif. Reaksi antara alkohol dengan P2O5 berada pada fasa liquid dan
eksotermis serta tidak menggunakan katalis.

Menghasilkan warna pucat, yaitu warna stabil pada produk.

d. Produksi surfaktan gliserol monooleat:

Surfaktan ini digunakan pada industri tekstil, kosmetik, dan juga sebagai
emulsifier.

Proses menggunakan sistem proses batch yang dilakukan dalam skala 500 mL
pada kondisi operasi suhu 180 C, waktu 7 jam , tekanan atmosferik, pengadukan
450 rpm melalui reaksi esterifikasi antara gliserol dan asam oleat dengan katalis
asam.

e. Produksi surfaktan N-parafin:

Menggunakan proses MOLE X atau ISOSIV

Biasanya 20-25% kerosen mengandung parafin normal denagn panjang rantai


C10-C16. dan parafin normal disuling dalam pembuatan surfaktan.

f. Produksi surfaktan Alkil Benzen Linear (LAB):

Proses utama pembuatan LAB adalah proses UOP PACOL/HF. Proses ini
melibatkan penghidrogenan berkatalis (proses PACOL) n-parafin untuk merubah
kira-kira 12 % parafin menjadi olefin

Proses ini menghasilkan LAB jenis 2-fenil.

g. Produksi surfaktan dengan Proses Pemanjangan Etilena Ziegler:

Proses yang digunakan adalah reaksi pemanjangan (growth reaction) untuk


menghasilkan rantai hidrokarbon panjangnya C2 ke C20 melalui penambahan unit
etilena ke organo-logam seperti trietil alumunium

Unit etilena diselipkan di antara rantai alkil yang memanjang dengan alumunium
menjadi triakil alumunium atau produk perpanjangan

h. Produksi surfaktan Alkohol Ziegler

Dalam proses alkohol ziegler, alkohol lemak berantai karbon genap linear
dihasilkan dari produk pemanjangan melalui pengoksidaan diikuti oleh hidrolisis.
Meningkatnya harga minyak dunia yang sangat dirasakan akibatnya bagi

perekonomian masyarakat juga akan meningkatkan harga komoditi turunan minyak bumi,
termasuk surfaktan. Oleh karena itu pengembangan produk turunan minyak nabati, yaitu
kelapa sawit, sebagai bahan baku surfaktan merupakan langkah strategis yang harus
dilakukan untuk mengatasi permasalahan negara dan masyarakat karena tingginya
ketergantungan terhadap minyak bumi.
Dilihat dari kinerja, baik surfaktan oleokimia maupun surfaktan petrokimia adalah
bersifat komplementer. Sifat fisiko-kimia dalam setiap surfaktan menyebabkan keduanya
tidak bisa saling mensubstitusi secara penuh. Linear Alkylbenzene Sulfonat (LAS) yang
merupakan surfaktan petrokimia memiliki kinerja yang jauh lebih efektif sebagai zat

pembersih bila dalam bentuk bubuk. Sementara, surfaktan oleokimia memiliki kinerja
yang jauh lebih efektif sebagai zat pembersih bila dalam bentuk cair.
LAS sangat efektif di berbagai kondisi air, baik air dengan kadar logam
(hardness) tinggi maupun rendah. Sementara surfaktan oleokimia tidak begitu efektif
kinerjanya dalam membersihkan larutan berkadar logam tinggi. Dengan kata lain, unsur
kimia dalam surfaktan oleokimia tidak efektif mengendapkan zat logam kecuali kotoran
yang mengandung protein dan lemak.
Dari segi bisnis, pembuatan surfaktan LAS tidaklah serumit dan sekompleks
pembuatan surfaktan lainnya yang lebih banyak tahapan produksinya. LAS dibuat dari
alkilasi benzene yang merupakan turunan kedua dari minyak mentah setelah naptha. Oleh
karena itu, sebagai salah satu negara produsen alkyl benzene terkemuka di dunia,
Indonesia memiliki nilai tambah dalam hal harga domestik yang jauh lebih murah dari
pasaran dunia.
Walaupun surfaktan alcohol ethoxylate bisa diproduksi dari petrokimia, rute
produksi dari oleokimia jauh lebih singkat dan lebih pendek. Penurunan harga ekspor
surfaktan alcohol ethoxylate asal Indonesia bisa berasal dari adanya peningkatan efisiensi
produksi dan peningkatan produktivitas. Di sisi lain, kala itu produksi tallow dunia
(produk substitut oleokimia dari kelapa sawit) yang meningkat tajam seiring merebaknya
wabah mad cow disease di benua Eropa dan Amerika. Sifatnya yang lebih ramah
lingkungan ditunjang dengan luasnya aplikasi surfaktan oleokimia menyebabkan
produsen kelapa sawit di Indonesia berlomba-lomba melakukan ekspansi ke industri
oleokimia yang merupakan industri hilir dari industri minyak kelapa sawit. Beberapa
produsen deterjen tingkat dunia menyikapi hal ini dengan dua gambaran yang saling
membayangi dalam beberapa tahun mendatang, yakni melonjaknya harga oleokimia dan
oversupply.
2.2 TIPE-TIPE SURFAKTAN
Secara garis besar terdapat empat kategori surfaktan berdasarkan sifat-sifat
ioniknya dalam air,yaitu:

1. Surfaktan Anionik (negatif)


Surfaktan ini memiliki bagian hidrofobik yang memiliki ion negatif. Dalam medium
air berpisah dengan kation positif menjadi ion negatif.
contoh:

Alkil sulfat

Alkilester sulfat

Alkohol sulfat

Ester sulfonat

Kegunaan: produk deterjen,produk perawatan diri dan pencucian industri


2. Surfaktan Kation (positif)
Sama halnya dengan surfaktan anion yang memisahkan diri dalam medium air.
Kepala(bagian hidrofilik) sebagai kation memiliki sifat surface active.
contoh:

Amina lemak

Amidoamina

Imidazolin

Esteramina

Eteramina

Kegunaan: sebgai kondisioner


3. Surfaktan Non ionik (tak bermuatan)
Surfaktan non ionik tidak memisahkan diri pada medium air. Surfaktan ini memiliki
kutub polar seperti polyglycol eter atau sebuah polyol.
contoh:

Alkohol lemak

Asam lemak

Amina

Amida

Keuntungan: detergen dan pencuci, tekstil, makanan, polimer

4. Surfaktan Amfoterik (positif atau negatif)


Surfaktan ini memiliki ion positif dan negatif. Rantai hidrofobik mengikat rantai
hidrofilik sehingga tersusun dari ion positif dan negatif.
Contoh:

Alkil betain

Kegunaan: pencuci sehingga menjadi produk perawatan diri tanpa warna, penguat dan
penstabil busa, detergen sekunder.
2.3 EFEKTIVITAS AGEN PEMBUSAAN
Efektifitas suatu surfaktan sebagai agen pembusaan akan tampak tergantung pada
efektivitasnya dalam mengurangi tegangan permukaan dari larutan busa yang bergantung
pada gaya kohesi intermolekul. Sebagai agen aktif permukaan, surfaktan memiliki sifat
khusus yang mampu meningkatkan daya cuci air karena adanya penggabungan adsorpsi
pada anatarmuka, solubilisasi (pengendapan), emulsifikasi dan pembentukan serta
pelepasan muatan permukaan. Adapun faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam
memilih surfaktan sebagai emulsifying:
1. memberikan surface activity yang bagus dan menghasilkan tegangan interfacial yang
rendah.
2. harus ada kecendrungan untuk pindah kepada interface, harus ada keseimbangan
antara liofil dan liofob
3. membentuk lapisan interface yang baik antara surfaktan dengan molekul yang
teradsorbsi pada sistem tersebut.
4. dapat bergerak bebas ke interface lainnya.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Surfaktan merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai dua ujung
yang berbeda yaitu ujung hidrofilik (suka air) dan hidrofobik (tidak suka air). Bahan aktif
ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran
yang menempel pada permukaan bahan.
Surfaktan memiliki berbagai jenis sehingga dapat dibuat dari bahan oleokimia
aupun bahan petrokimia. Produksi surfaktan tergantung dari bahan mentah yang
digunakan baik itu dari alkohol lemak, metil ester sulfonat, monoalkil fosfat, dll. Setiap
umpan memiliki proses yang berbeda-beda. Proses bergantung dari reaktor yang
digunakan, kapasitas yang diperlukan, temperatur, tekanan, dan lamanya proses. Secara
umum proses produksi sufaktan menggunakan sistem batch.
Berdasarkan berbagai macam proses produksi surfaktan yang telah dijelaskan
sebelumnya, maka disimpulkan bahwa produksi surfaktan oleokimia memiliki
keunggulan dibandingkan produksi surfaktan lainnya. Surfaktan ini memiliki rute
produksi yang lebih singkat dan lebih pendek. Sifatnya yang lebih ramah lingkungan
ditunjang dengan luasnya aplikasi surfaktan oleokimia sehingga dapat menekan
ketergantungan penggunaan bahan baku minyak bumi yang tinggi. Surfaktan oleokimia
memiliki kinerja yang jauh lebih efektif sebagai zat pembersih bila dalam bentuk cair.
Dari berbagai produksi surfaktan oleokima maka surfaktan metil ester sulfonat
lebih baik daripada surfaktan alkohol sulfat. Surfaktan ini memiliki keunggulan dalam
menghilangkan sifat kekerasan air daripada alkohol lemak sulfat. Lamanya proses lebih
cepat sekitar 150 menit, berkapasitas 500 ml, tekanan atmosferik, dan pada suhu 70 C.

Surfaktan ini tidak menimbulkan korosif dan menghasilkan warna kualitas baik karena
adanya penggunaan proses bleaching.
Efektifitas suatu surfaktan sebagai agen pembusaan akan tampak tergantung pada
efektivitasnya dalam mengurangi tegangan permukaan dari larutan busa yang bergantung

pada gaya kohesi intermolekul. Sebagai agen aktif permukaan, surfaktan memiliki sifat
khusus yang mampu meningkatkan daya cuci air karena adanya penggabungan adsorpsi
pada anatarmuka, solubilisasi (pengendapan), emulsifikasi dan pembentukan serta
pelepasan muatan permukaan.

DAFTAR PUSTAKA
Hui, Y.H. 1996. Baileys Industrial Oil & Fat Products. NY: Jw&Sons
Internet :
http://72.14.235.104/search?
q=cache:4eE_s5UCTSYJ:www.kapanlagi.com/h/0000076314.html+surfaktan&hl=id&ct
=clnk&cd=3&gl=id
http://72.14.235.104/search?
q=cache:yC7M2fNAsXkJ:seafast.ipb.ac.id/seafast.info/Seafast.info0/produk_detail.php
%3FcategoryID%3D3%26produkID
%3D57+proses+pembuatan+surfaktan&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id
http://72.14.235.104/search?q=cache:5G3WEBKe5lwJ:digilib.che.itb.ac.id/gdl.php
%3Fmod%3Dbrowse%26op%3Dread%26id%3Djbptitbche-gdl-proc-2003-sofiyahdan1715+proses+pembuatan+surfaktan&hl=id&ct=clnk&cd=4&gl=id
http://72.14.235.104/search?q=cache:kiYEe9paklIJ:www.infosawit.com/teknologi
%25201.php+Produksi+surfaktan+dari+bahan+baku+turunan+sawit&hl=id&ct=clnk&cd
=7&gl=id
http://72.14.235.104/search?
q=cache:yan1kpZKZzcJ:visdatin.com/htm/aturan_diterjen_ind.htm+Produksi+surfaktan+
dari+bahan+baku+turunan+sawit&hl=id&ct=clnk&cd=13&gl=id