Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH GEOHIDROLOGI

PENURAPAN AIR TANAH

Oleh :
ANDHYKA CHRISTIAN A.N
121.10.1129

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND
YOGYAKARTA
2014
PENURAPAN AIR TANAH

Penurapan airtanah adalah suatu kegiatan membangun sarana untuk


memanfaatkan mata air, di lokasi munculnya mata air. Metode penurapan airtanah
pada prinsipnya membuat lubang di tanah sampai ke dalam di bawah muka
airtanah. Apabila dirasa kapasitasnya tidak mencukupi yang diperlukan, maka luas
kontak akuifer yang diturap ditambah. Penambahan tersebut bisa secara mendatar,
tegak atau kombinasi keduanya. Adapun factor factor yang mempengaruhi
pemilihan metode penurapan antara lain didasarkan atas:
1.

Kondisi geohidrologi

2.

Kuantitas dan kualitas air tanah yang diperlukan

3.

Peralatan dan tenaga yang tersedia

4.

Biaya
Atas dasar itu maka metode penurapan antara lain dibedakan,

menjadi:
1.

Penurapan secara mendatar

Penurapan ini dibedakan menjadi 4 macam:


a. Liang pengumpul (infiltration ditch)
Adalah penurapan airtanah secara mendatar dengan menggunakan
saluran terbuka memotong muka airtanah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
Karena liang pengumpul ini terbuka di bagian atasnya dan
berhubungan langsung dengan atmosfer maupun tanah di sekitarnya,
maka kemungkinan ada pencemaran lewat udara atau tanah di
sekelilingnya. Sehingga sebaiknya liang pengumpul dibuat di daerah
yang jauh dari industri atau pemukiman padat.
Biasanya sangat baik dikembangkan di daerah pedesaan.
Penurapan ini telah dikembangkan di Klaten yang dikenal sebagai bak
air dengan lebar 10-20 m, panjang 30-100 m, selain itu juga
dikembangkan di daerah Nganjuk, di sini pada liang pengumpul
ditambah dengan sejumlah bambu yang dimasukkan ke dalam tanah
yang dimaksudkan untuk mendapatkan tambahan dari akuifer.

(Kedalaman permukaan tanah > 1-1,5 m, hal ini untuk menjaga


turunnya muka airtanah pada musim kemarau.)
Liang pengumpul dibuat dengan posisi arah memanjang yang tegak
lurus dengan arah aliran airtanah. Pada umumnya pembuatan liang
pengumpul terletak di bawah deretan rembesan atau mataair atau dibuat
sejajar dengan aliran sungai. Bentuk yang baik adalah bertangga dan
umumnya dilakukan pada daerah yang air tanahnya dangkal.

Gambar 1. Penampang secara vertikal liang pengumpul (Infiltration Ditch)

b.

Parit pengumpul
Metode Penurapan ini hampir sama dengan liang
pengumpul, hanya tertutup dan dilakukan melalui saluran yang lulus
air. Di sini airtanah akan masuk ke dalam saluran melalui lubang
atau celah pipa saluran.
Keuntungan

parit

pengumpul

dibandingkan

liang

pengumpul adalah tidak menggunakan tempat yang luas dan


tertutup sehingga tanah di bagian atas masih bisa dipergunakan
untuk keperluan lain dan kemungkinan pengotoran lebih kecil.
Untuk memperkecil pengotoran dapat dilakukan dengan membuat
lapisan pelindung dari lempung atau beton di atas pipa.
c.

Terowongan pengumpul

Penurapan dengan metode ini diperlukan penyelidikan geologi yang


lebih teliti untuk menghindari kegagalan, baik yang disebabkan cara
pembuatannya maupun hasil yang didapat. Terowongan dibuat
dengan kemiringan yang relatif kecil dengan menembus retakan
batuan di bawah kedudukan muka airtanahnya. Kemudian agar
dinding terowongan tidak runtuh, maka bisa dibuat penyangga dari
baja atau kayu.
Cara ini baik dilaksanakan pada:
Akuifer yang retak2 atau rekah2
Endapan kipas aluvial di kaki perbukitan
Batuan vulkanik di kaki atau tubuh gunungapi yang tersusun
dari batuan kompak dan keras.
Pulau kecil sehingga terhindar dari penyusupan air asin/laut
Sumur ini sangat baik diterapkan pada akuifer lepas yang berukuran
butir pasirkerikil dan bisa digunakan pada akuifer yang relatif tipis.
Sangat produktif pada endapan sungai Q>40 l/det. Penurunan muka
airtanah lokal yang dalam dapat dihindari dengan pembuatan sumur
pengumpul (dalam hal ini adalah sumur galinya), sehingga cara ini
sangat baik dilaksanakan pada suatu pulau kecil atau pantai yang
sangat mudah disusupi air laut. Di sini pipa saringan bisa dibuat
bertingkat dengan maksud tidak hanya pada satu akuifer saja
melainkan dari beberapa lapisan akuifer. Menurut pengalaman: satu
sumur pengumpul ini debitnya sama dengan sumur gali yang garis
tengahnya 75-80 % dari panjang saringan.
2.

Penurapan secara tegak

Sesuai dengan namanya metode ini dilakukan secara vertikal atau tegak
lurus. Adapun dengan metode ini bisa dilakukan beberapa macam cara,
yaitu :

a. Sumur dangkal

Sumur Gali
Cara ini adalah yang paling banyak dilaksanakan di Indonesia.
Pembuatan sumur sebaiknya dilaksanakan pada akhir musim
kemarau atau awal musin penghujan yaitu pada bulan September
sampai awal November (Jawa). Pada bagian dasar sumur terbuka
dan bila memungkinkan pada dinding sumur bagian bawah diberi
lubang agar airtanah yang masuk ke dalam sumur semakin besar.

Gambar 2. Sumur dangkal

Sumur dalam
Ini untuk menurap airtanah dari akuifer yang letaknya dalam,
terutama untuk akuifer tertekan-setengah tertekan dalam jumlah
yang besar. Pengambilan airtanah secara besar2an pada kuifer yang
dangkal (akuifer bebas) sangat berbahaya karena bisa mengganggu
kesetimbangan

lingkungan.

Dalam

pembuatan

sumur

ini

diperlukan penyelidikan yang teliti dengan memperhitungkan


dampaknya baik pada saat ini maupun pada masa yang akan
datang. Dari hasil penyelidikan ini bisa untuk menentukan atau
merencanakan cara pemboran atau konstruksi sumur tersebut.
3.
Sumur Bor
a. Bisa dengan bor tangan sampai pada kedalaman bisa 60 m ataupun
dengan bor teknik.
b. Dengan bor driven well (pemukul), yaitu dengan memukul rangkaian
pipa yang bagian bawahnya sudah diberi saringan. Kedalaman 10-15
ft.
c. Jetted well, cara ini dikerjakan pada material yang lepas dan tidak
kasar. Bila sudah mencapai airtanah sebaiknya ditutup dengan casing
Ada 2 cara melakukan hal demikian yaitu, pipa dicabut lebih dulu atau
nozzlenya ditinggal.
Gambar 3. Driven well (kiri) dan jetted well (kanan)

d. Dengan mesin bor


Dibagi 2 menjadi :
Bor tumbuk (cable tool drill) Cara ini baik untuk material yang
consolidated tetap tidak begitu keras sekali. Untuk consolidated

bisa terjadi keruntuhan.


Bor putar (Rotary drill)
Berputarnya digerakkan dengan mesin dan

sistim putaran

(fungsinya untuk mengangkat tali/kotoran bor dan mendinginkan


cutting) bila litologi batuan gamping digunakan kompresor, bila
pada daerah basah dibantu dengan air / lumpur.

Tata Cara Kegiatan Pengawasan Penurapaan Mata Air


Kegiatan pengawasan penurapan mata air meliputi beberapa hal sebagai berikut.

A. Umum
1. Setiap kegiatan penurapan mata air harus mematuhi ketentuan yang
tercantum dalam peraturan perundangan yang berlaku. Setiap
pelanggaran yang terjadi setelah peraturan perundang-undangan
ditetapkan harus dikenakan sanksi.
2. Lingkup kegiatan pengawasan penurapan mata air meliputi
pengawasan terhadap hal hal berikut.
a.

Perencanaan penurapan meliputi keterandalan data dan


informasi pendukung mengenai mata air, rancang bangun
bangunan penurap, jumlah dan waktu pengambilan air, mutu
air yang dikehendaki, kegiatan fisik penurapan, dan
pemantauan terhadap pengambilan air.
b. Pelaksanaan penurapan meliputi kegiatan fisik pembangunan
bangunan penurap, serta kegiatan pelaksanaan pengambilan air.
c. Pemantauan meliputi laporan berkala jumlah dan mutu
pengambilan air maupun kemungkinan terjadinya dampak
negatif atas kegiatan penurapan dan pengambilan air.
3.

Setiap kegiatan penurapan mata air harus didasarkan pada data dan
informasi yang berkaitan dengan mata air yang bersangkutan,
seperti diuraikan pada butir III B, yakni jenis dan genesa mata air,
pencatatan debit sepanjang waktu tertentu, pemanfaatan mata air saat
ini, luasan dan peruntukan lahan daerah imbuh mata air, kondisi air
permukaan, rencana umum tata ruang, kondisi sosial, ekonomi, dan
budaya masyarakat yang terkait dengan keberadaan mata air yang
bersangkutan, serta kondisi geologi/hidrogeologi yang berpengaruh
terhadap pemunculan mata air.

4. Apabila dari telaahan data dan informasi menunjukkan bahwa


pemunculan mata air berasal dari akuifer lintas batas, pengawasan
harus melibatkan daerah yang tercakup dalam sebaran akuifer
tersebut. Jika terjadi pertentangan kepentingan antardaerah tersebut
dan tidak terselesaikan, daerah yang bersangkutan harus melibatkan
pemerintah provinsi dan/atau pemerintah pusat untuk menyelesaikan
pertentangan tersebut.

5. Pemerintah daerah untuk keperluan pengawasan perlu menetapkan


penataan daerah imbuh untuk perlindungan mata air berdasarkan atas
data dan informasi yang tersedia, serta sanksi atas pelanggaran
terhadap penetapan tersebut dalam suatu peraturan daerah. Dalam
hal akuifer lintas batas seperti tersebut pada butir 2, maka penetapan
peraturan daerah perlu dikoordinasikan dengan daerah otonom yang
terkait.
6. Jumlah pengambilan air harus tidak mengganggu pemanfaatan yang
telah ada.
7. Pengawasan harus menjamin terselenggaranya pemanfaatan air yang
saling menunjang (conjunctive use) antara air dari mata air yang
akan diturap dan air permukaan yang tersedia.
8. Pelaksanaan penurapan harus melibatkan peran serta masyarakat di
sekitar lokasi pemunculan mata air.
9. Jika pelaksanaan kegiatan penurapan dan pengambilan air dari mata
air terjadi konflik kepentingan dengan masyarakat, pengguna air
lainnya atau pihak terkait, yang tidak dapat terselesaikan oleh
pengguna, pemerintah daerah wajib membantu dalam penyelesaian
konflik tersebut.
10. Apabila telah dilakukan pemanfaatan mata air dengan tidak
mengikuti prosedur yang telah ditentukan harus dilakukan penertiban
dengan

kewajiban

bagi

pengguna

untuk

melakukan

kajian

hidrogeologi dan aspek lingkungan lainnya, sedangkan perizinan


disesuaikan dengan hasil kajian tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
https://id.scribd.com/doc/232312939/MAKALAH-GEOHIDROLOGI
Soetrisno S. Pedoman Penurapan Mata Air

Anda mungkin juga menyukai