Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perubahan pola perilaku dan gaya hidup masyarakat saat ini menjadi tantangan tersendiri
bagi tenaga kesehatan terutama perawat sebagai bagian yang berkewajiban melayani masyarakat
melalui layanan kesehatan. Perubahan ini membawa dampak positif yang signifikan terhadap
kesehatan, tetapi juga terdapat dampak negative terhadap kesehatan masyarakat itu sendiri.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan masyarakat saat ini jauh mengalami
perubahan dibandingkan dengan kebiasaan masyarakat 10- 20 tahun yang lalu, terutama hal ini
berdampak pada kebutuhan kesehatan.
Pola konsumsi menjadi titik berat perubahan yang terjadi. Masyarakat saat ini cenderung
mengabaikan kebutuhan makan makanan sehat mereka. Mereka lebih suka mengkonsumsi
makanan yang tidak seimbang. Dilihat dari sudut pandang kesehatan, jelas semua ini akan
berdampak pada organ tubuh manusia, terutama ginjal. Ginjal menjadialat yang bertugas sebagai
penyaring dari darah yang mengalir di seluruh tubuh. Banyak masalah yang akan timbul. Yang
paling sering terjadi adalah nefrolitiasis atau batu ginjal. Batu ginjal ini menjadi salah satu
gangguan yang disebabkan oleh pola perilaku masyarakat yang saat ini menghiraukan pola hidup
sehat. Contohnya saja, masyarakat sekarang sangat jarang mengkonsumsi air minum yang
seharusnya mereka butuhkan dan masih banyak masalah yang lain.
Dengan timbulnya penyakit seperti nefrolitiasis di atas, dibutuhkan penanganan yang tidak
mudah. Pada pasien dengan batu saluran kencing, tumor, kanker ataupun pendesakan dari luar
saluran kencing biasanya dilakukan tindakan nefrostomi. Menurut Robert R. Cirillo, Tahun 2008
Nefrostomi merupakan suatu tindakan diversi urine menggunakan tube, stent, atau kateter
melalui insisi kulit, masuk ke parenkim ginjal dan berakhir di bagian pelvis renalis atau kaliks.
Nefrostomi adalah suatu tindakan medis yang dilakukan untuk membuat saluran (air
kencing) dari ginjal menuju ke permukaan kulit. Tindakan ini pada umumnya dilakukan untuk
mengalirkan kencing oleh karena adanya sumbatan dibawah ginjal yang mungkin karena batu
saluran kencing, tumor, kanker ataupun pendesakan dari luar saluran kencing. Perlu diingat, jika
seseorang dipasang nefrostomi harus menjaga kondisi nefrostomi tetap steril dan mengganti
secara periodic karena akan beresiko mengalami infeksi di kulit sekitar kateter. Oleh karena itu
disini sangat penting peran perawat untuk memberikan perawatan pada klien dengan

pemasangan nefrostomi agar area tersebut tetap kering dan bersih serta selalu mengamati ada
tidaknya iritasi sehingga tidak terjadinya komplikasi pada klien.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan nefrostomi?
2. Apa fungsi dari pemasangan nefrostomi?
3. Apa saja jenis dari nefrostomi?
4. Apa saja indikasi dan kontraindikasi dari pemasangan nefrostomi?
5. Apa saja komplikasi dari pemasangan nefrostomi?
6. Bagaimana cara perawatan pada nefrostomi?
7. Apa saja monitoring dan follow up pasien setelah pemasangan nefrostomi?
8. Apa saja diagnose dan intervensi pada pasien yang terpasang nefrostomi?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah agar mahasiswa dapat mengaplikasikan perawatan pada
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

klien yang terpasang nefrostomi dan mengetahui:


Apa yang dimaksud dengan nefrostomi?
Apa fungsi dari pemasangan nefrostomi?
Apa saja jenis dari nefrostomi?
Apa saja indikasi dan kontraindikasi dari pemasangan nefrostomi?
Apa saja komplikasi dari pemasangan nefrostomi?
Bagaimana cara perawatan pada nefrostomi?
Apa saja monitoring dan follow up pasien setelah pemasangan nefrostomi?
Apa saja diagnose dan intervensi pada pasien yang terpasang nefrostomi?

BAB II
ISI
2.1 Pengertian Nefrostomi

Nefrostomi merupakan suatu tindakan diversi urine


menggunakan tube, stent, atau kateter melalui insisi kulit, masuk ke parenkim ginjal dan berakhir
di bagian pelvis renalis atau kaliks. Nefrostomi biasanya dilakukan pada keadaan obstruksi urine
akut yang terjadi pada sistem saluran kemih bagian atas, yaitu ketika terjadi obstruksi ureter atau
ginjal. Nefrostomi dapat pula digunakan sebagai prosedur endourologi, yaitu intracorporeal
lithotripsy, pelarutan batu kimia, pemeriksaan radiologi antegrade ureter, dan pemasangan double
J stent (DJ stent) (Robert R. Cirillo, 2008).
Imam Rasjidi, 2008, menyatakan nefrostomi adalah suatu tindakan membuat fistula yang
menghubungkan system pelviokalesis ginjal dengan luar tubuh melalui kulit. Nefrostomi adalah
suatu tindakan medis yang dilakukan untuk membuat saluran (air kencing) dari ginjal menuju ke
permukaan kulit. Tindakan ini pada umumnya dilakukan untuk mengalirkan kencing oleh karena
adanya sumbatan dibawah ginjal yang mungkin karena batu saluran kencing, tumor, kanker
ataupun pendesakan dari luar saluran kencing.
Tindakan nefrostomi dapat dilakukan dengan kondisi terbius umum ataupun dibius lokal
saja. Pemilihan keduanya didasarkan pada kondisi klinis pasien. Contohnya : pada pasien anak
anak kita tidak dapat memerintahkan untuk diam, oleh karena itu perlu dilakukan pembiusan
umum. Contoh sebaliknya adalah pada pasien dewasa dengan kondisi yang baik dan koperatif
maka dapat dilakukan dengan bius lokal.

Nefrostomi mungkin mungkin permanen


ataupun temporer. Nefrostomi permanen mungkin dilakukan pada pasien dengan kanker di
kandung kencing ataupun kanker leher rahim yang telah menyebar. untuk melakukan nefrostomi
permanen ini dilakukan dengan bius umum. Pasien dengan batu ureter dan mengalami
pembengkakan ginjal yang disertai berkumpulnya nanah harus dilakukan nefrostomi segera.
Nefrostomi dalam kondisi ini dengan anestesi lokal.
Perlu diingat, jika seseorang dipasang nefrostomi harus menjaga kondisi nefrostomi tetap
steril dan mengganti secara periodik. penggantian secara periodik mungkin 2 mingguan, bulanan
atau 2 bulanan tergantung bahan nefrostomi dan temuan klinis.
2.2 Fungsi Nefrostomi
Beberapa fungsi nefrostomi, sebagai berikut :
a. Melarutkan dan mengeluarkan batu ginjal
b. Membantu prosedur endourologi, yaitu pemeriksaan saluran kemih atas.
c. Membantu penegakkan diagnosa obstruksi ureter, filling defects, dan kelainan lainnya melalui
radigrafi antegrad.
d. Memasukkan obat-obatan kemoterapi ke dalam sistem pengumpul ginjal.
e. Memberikan terapi profilaksis kemoterapi setelah reseksi pada tumor ginjal.
2.3 Jenis Nefrostomi
Nefrostomi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
1. Nefrostomi terbuka
Cara ini merupakan cara klasik, terdapat dua macam teknik, yaitu bila korteks masih tebal
dan korteks sudah tipis. Bila kortek masih tebal ginjal dibebaskan sampai terlihat pelvis dan
Folley kateter no 20 dimasukkan kedalam pyelum melalui pelvis renalis. Bila kortek sudah tipis
Folley kateter langsung dimasukkan melalui sayatan pada kortek.
2. Nefrostomi perkutan

Nefrostomi perkutan adalah pemasangan sebuah selang melalui kulit ke dalam pelvis ginjal
dengan bantuan fluoroskopi. Syarat dilakukannya nefrostomi perkutan sebagai berikut, ginjal
teraba dari luar, kortek tipis dan tidak gemuk.

2.4 Indikasi dan Kontraindikasi


Indikasi dilakukannya nefrostomi:

Pengalihan urine sementara yang berhubungan dengan adanya obstruksi urin sekunder
terhadap kalkuli

Pengalihan urine dari sistem pengumpul ginjal sebagai upaya penyembuhan fistula atau
kebocoran akibat cedera traumatik atau iatrogenik, fistula ganas atau inflamasi, atau
sistitis hemoragik.

Pengobatan uropathy obstruktif nondilated

Pengobatan komplikasi yang berhubungan dengan transplantasi ginjal.

Pengobatan obstruksi saluran kemih yang berhubungan dengan kehamilan.

Memberikan akses untuk intervensi seperti pemberian substansi melalui infus secara
langsung untuk melarutkan batu, kemoterapi, dan terapi antibiotik atau antifungi.

Memberikan akses untuk prosedur lain (misalnya penempatan stent ureter antegrade,
pengambilan batu, pyeloureteroscopy, atau endopyelotomy)

Dekompresi kumpulan cairan nephric atau perinephric (misalnya abses atau urinomas)

(Robert R. Cirillo, 2012)


Kontraindikasi dilakukannya nefrostomi:

Penggunaan antikoagulan (aspirin, heparin, warfarin)

Gangguan pembekuan darah (heofilia, trombositopeni) dan hipertensi tidak terkontrol


(dapat menyebabkan terjadinya hematom perirenal dan perdarahan berat renal).

Terdapat nyeri yang tidak dapat diatasi pada saat tindakan nefrostomi.

Terjadi asidosis metabolik berat.

Terjadi hiperkalemia.

(Aziz et.al, 2008)


Sedangkan kontraindikasi dilakukannya nefrostomi menurut Imam Rasjidi:

Penyakit yang progresif meskipun sedang dalam terapi

Memiliki masalah/komorbiditas yang potensial membahayakan jiwa

Status performance dengan scoring ecog/zubord >2, atau karlnofsky <60

Tidak ada terapi yang efektif

Pasien tidak mau diobati

Terdapat nyeri yang tidak dapat diatasi pada saat tindakan nefrostomi

Terdapat tanda overload, seperti oedema paru dan sesak nafas

Terdapat asidosis metabolic yang berat

Terdapat hiperkalemia

Keadaan-keadaan lain yang menyebabkan pasien tidak bisa diposisikan tengkurap

2.5 Komplikasi Nefrostomi


Nefrostomi adalah prosedur tindakan pembedahan untuk mengalirkan urin umumnya
aman. Seperti semua operasi, selalu ada risiko reaksi alergi terhadap anestesi, perdarahan dan
infeksi, dan memar di lokasi pemasangan kateter terjadi pada sekitar setengah dari orang yang
dilakukan nefrostomi. Ini adalah komplikasi minor.
Komplikasi utama meliputi:

Perforasi sistem pengumpul (30%) terjadi biasanya selama 48 jam setelah pemasangan
tube nefrostomi

Efusi pleura, hidrothorax, pneumothorax (<13%)

Perdarahan akut (5%)

Ekstravasasi

Trauma periorgan, seperti perforasi usus besar, trauma hepar, limpa (<1%).

Menurut Robert R. Cillio tahun 2012, komplikasi utama akibat penempatan tabung nefrostomi
perkutan adalah sebagai berikut:

Perdarahan

Sepsis

Cedera pada organ yang berdekatan

Komplikasi utama lainnya, meskipun agak jarang, telah dilaporkan terjadi pada 5% pasien.
Komplikasi dari neftostomi perkutan beserta frekuensi terjadinya adalah sebagai berikut:

Perdarahan masiv yang membutuhkan transfusi, operasi, atau embolisasi (1-3%)

Pneumothoraks (<1%)

Hematuria mikroskopis (umum)

Nyeri (umum)

Ekstravasasi urine (<2%)

Ketidakmampuan untuk melepas tabung nefrostomi karena terjadi kristalisasi disekitar


tabung

Kematian (0.2%)

Sepsis (1.3%)

Catheter dislodgement selama satu bulan pertama (<1%)

2.6 Perawatan Nefrostomi


Perawatan nefrostomi adalah pemeliharaan eliminasi melalui stoma dan perawatan jaringan di
sekitarnya. Adapun tujuan dilakukannya perawatan nefrostomi adalah:
Menjaga kebersihan stoma
Mencegah infeksi
Mencegah kebocoran

Melindungi kulit
Mengontrol bau
Memberikan kenyamanan dan keamanan
Adapun perawatan pada nefrostomi meliputi:
a.

Monitor tanda vital secara berkala untuk mengevaluasi terjadinya kehilangan darah yang terus
berlangsung atau untuk menilai timbulnya komplikasi sepsis pada pasien beresiko

b. Untuk nefrostomi dengan indikasi pionefrosis, abses (infeksi), maka pemberian antibiotika sejak
sebelum tindakan , diteruskan dengan pedoman:
1. Jenis antibiotika berdasarkan hasil kultur dan antibiogram
2. Bila belum ada kultur dan antibiogram :

Kombinasi ampisilin atau derivatnya dan aminoglikosida

Cefalosforin generasi III untuk kasus gagal ginjal Bila tidak ada infeksi, cukup diberikan obat
golongan nitrofurantoin atau asam nalidisat perioperatif

c.

Observasi tanda-tanda infeksi

d. Perhatikan selang neprostomi jangan sampai tersumbat


e.

Spool neprostomi dengan cairan (Aqua steril, NaCl, Revanol, betadin 1 %), cairan maksimal 20
cc. Spool dilakukan secara pelan-pelan. Bila lancar urin akan menetes secara terusmenerus/konstan

f.

Perhatikan kateter / pipa drainage, jangan sampai buntu karena terlipat, dll.

g. Perhatikan dan catat secara terpisah produksi cairan dari nefrostomi.


h. Usahakan diuresis yang cukup.
i.

Periksa kultur urin dari nefrostomi secara berkala.

j.

Hematuria, yang umumnya terjadi pada pasien yang dilakukan nefrostomi, harus berkurang
secara bertahap setelah 24 jam

k. Bila ada boleh spoelling dengan larutan asam asetat 1% seminggu 2x


l.

Kateter diganti setiap lebih kurang 2 minggu. Bila nefrostomi untuk jangka lama pertimbangkan
memakai kateter silikon.

m. Pelepasan kateter sesuai indikasi.


n. Pelepasan drain bila dalam 2 hari berturut-turut setelah pelepasan kateter produksinya <20 cc/24
jam.
o. Pelepasan benang jahitan keseluruhan 10 hari pasca operasi.

2.7 Monitoring dan Follow Up Pasien Nefrostomi


Managemen postprosedural dan tinjak lanjut yang bisa dilakukan:
Bed rest selama 4 jam
Melanjutkan diet yang disarankan untuk postprosedural
Pemeriksaan tanda-tanda vital setiap 30 menit selama 4 jam pertama postrosedural dan kemudian
dilakukan setiap shift
Terapi antibiotik jika diidentifikasi ataupun diduga terjadi infeksi
Pembilasan kateter dengan 5 ml larutan NaCl isotonik bakteriostatik kemudian diaspirasi setiap 612 jam
Pantau output urine
2.8 Diagnosa dan Intervensi
1. Gangguan citra diri
Dapat dihubungkan dengan:

Biofisikal: adanya stoma; hilangnya control eliminasi urine


Psikososial: Perubahan struktur tubuh
Proses penyakit dan berhubungan dengan program pengobatan contoh, kanker
Kemungkinan dibuktikan oleh:

Menyatakan perubahan gambaran diri, takut penolakan/reaksi orang lain, dan perasaan negative
tentang tubuh
Perubahan actual pada struktur tubuh dan atau fungsi
Tidak menyentuh/melihat stoma, menolak untuk berpartisipasi dalam perawatan
Hasil yang diharapkan:

Menunjukkan mulai menerima dengan memandang/menyentuh stoma dan berpartisipasi pada

perawatan diri.
Menyatakan perasaan tentang stoma/penyakit; mulai menerima situasi secara konstruktif
Menyatakan penerimaan diri dalam situasi bekerja sama dalam perubahan konsep diri tanpa
pandangan negatif harga diri
Intervensi :

1. Kaji ulang alasan bedah dan harapan yang akan datang

Rasional: Pasien menerimanya dengan lebih mudah bahwa ostomi dilakukan untuk penyakit
kronis/lama daripada cedera trauma
2. Yakinkan apakah konseling dilakukan dan perlu pada diversi urinaria, didiskusikan pada saat
pertama
Rasional: Memberikan informasi tentang tingkat pengetahuan pasien/orang terdekat tentang
situasi individu dan proses penerimaan
3. Jawab semua pertanyaan masalah nefrostomi dan fungsinya
Rasional: Membuat catatan dan menunjukkan minat/masalah pemberi perawatan. Memberikan
informasi tambahan pada pasien untuk dipertimbangkan
4. Dorong pasien/orang terdekat untuk menyatakan perasaan
Rasional: Memberikan kesempatan untuk menerima isu/salah konsep. Membatu pasien/orang
terdekat menyadari bahwa perasaan yang dialami tidak biasa dan bahwa perasaan bersalah pada
mereka tidak perlu. Pasien perlu mengenali perasaan sebelum mereka dapat menerimanya secara
selektif.
5. Perhatikan perilaku menarik diri, peningkatan ketergantungan, manipulasi, atau tidak terlibat
pada asuhan
Rasional: Dugaan masalah pada penyesuaian yang memerlukan evaluasi lanjut dan terapi lebih
ekstensif. Dapat menunjukkan respons kedukaan terhadap kehilangan bagian/fungsi tubuh dan
kuatir terhadap penerimaan orang lain juga rasa takut akan ketidakmampuan yang akan
6.

datang/kehilangan selanjutnya pada hidup karena kanker


Berikan kesempatan untuk pasien/orang terdekat untuk memandang dan menyentuh stoma,
gunakan kesempatan untuk memberikan tanda positif penyembuhan, penampilan normal dan
sebagainya
Rasional: Meskipun integrasi stoma kedalam citra tubuh memerlukan waktu berbulan-bulan atau
tahunan, melihat stoma dan mendengar komentar (dibuat dengan cara normal,nyata) dapat

membantu pasien dalam penerimaan.


7. Berikan kesempatan pada pasien untuk menerima ostomi melalui partisipasi dalam perawatan
diri
Rasional: Kemandirian dalam perawatan memperbaiki harga diri
8. Pertahankan pendekatan positif selama aktivitas perawatan,menghindari ekspresi menghina atau
reaksi mendadak.
Rasional: Membantu pasien/orang terdekat menerima perubahan tubuh dan menerima akan diri
sendiri,marah paling sering ditujukan pada situasi dan kurang kontrol terhadap apa yang terjadi
(takberdaya), bukan pada pemberi asuhan
9. Rencanakan jadwal/aktivitas asuhan dengan pasien

Rasional: Meningkatkan rasa kontrol dan memberikan pesan bahwa pasien dapat mengatasinya,
meningkatkan harga diri
10. Diskusikan kemungkinan kontak dengan pengunjung nefrostomi dan atur kunjungan bila
diinginkan
Rasional: Memberikan sistem pendukung yang baik, membantu menguatkan pendidikan (berbagi
pengalaman) dan memudahkan penerimaan perubahan sesuai kesadaran pasien tentang hidup
terus berjalan dan secara relatif normal
2. Nyeri akut
Dapat dihubungkan dengan:

Faktor fisik, contoh gangguan kulit/jaringan (insisi/drein)


Biologis: aktivitas proses penyakit (kanker, trauma)
Psikologis, contoh takut, ansietas
Kemungkinan dibuktikan oleh :

Keluhan nyeri, fokus pada diri sendiri


Perilaku melindungi/distraksi, gelisah
Respon otonomik, contoh perubahan tanda vital
Hasil yang diharapkan :

Menyatakan atau menunjukkan nyeri hilang


Menunjukkan kemampuian untuk membantu dalam tindakan kenyaman umum dan mampu
untuk tidur/istirahat dengan tepat
Intervensi

1. Kaji nyeri,perhatikan lokasi, karakteristik,intensitas ( skala 0-10)


Rasional: Membantu evaluasi derajat ketidaknyaman dan keefektifan analgesik atau menyatakan
terjadinya komplikasi contoh karena nyeri abdomen biasanya ada secara bertahap pada hari
ketiga atau keempat pasca operasi. Berlanjut atau meningkat nyeri dapat menunjukkan
perlambatan penyembuhan, iritasi kulit periostomal,infeksi obstruksi usus.
2. Perhatikan aliran dan karateristik urine
Rasional: Penurunan aliran menunjukkan retensi urine ( sehubungan dengan edema) dengan
peningkatan tekanan pada saluran perkemihan atas atau kebocoran pada rongga peritoneal
(kegagalan anastomosis) urine keruh mungkin normal (adanya mukus) atau mengindikasikan
3.

prises infeksi
Dorong pasien menyatakan masalah, mendengar dengan aktif pada masalah ini dan berikan
dukungan dengan menerima tinggal dengan pasien dan memberikan informasi yang tepat
Rasional: Penurunan ansietas/takut meningkatkan relaksasi/kenyamanan

4. Dorong penggunaan teknik relaksasi, contoh pedoman imajinasi,visualisasi, aktivitas terapeutik


Rasional: Membantu pasien untuk istirahat lebih efektif dan memfokuskan kembali perhatian
dapat meningkatkan kemampuan koping,menurunkan nyeri dan ketidaknyamanan
5. Bantu dalam latihan rentang gerak dan dorong ambulasi dengan mudah
Rasional: Menurunkan kekakuan otot/sendi. Ambulasi mengembalikan organ untuk posisi
normal dan meningkatkan kembali peristaltik/pasase flatus dan perasaan sehat umum
6. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain tentang pemberian obat
Rasional: Menghilangkan nyeri, meningkatkan kenyamanan dan meningkatkan istirahat, ADP
dapat lebih menguntungkan daripada analgesik intermiten, khususnya setelah reseksi radikal
3. Resiko tinggi terhadap infeksi
Faktor resiko meliputi:

Pertahanan primer tidak adekuat ( contoh kerusakan kulit/insisi, refleks urine kedalam saluran
perkemihan)
Kemungkinan dibuktikan oleh :

Tidak dapat diterapkan adanya tanda-tanda dan gejala gejala membuat diagnosa actual
Hasil yang diharapkan

Menunjukkan teknik,perubahan pola hidup untuk menurunkan risiko


Meningkatkan waktu penyembuhan dengan tepat,bebas dari drainase purulen atau eritema dan

tidak demam
Menyatakan pemahaman tentang penyakit individual/faktor risiko
Intervensi

1. Kosongkan kantong ostomi bila menjadi penuh sepertiganya saat cairan IV dan drainase kantung
dan kontinu dilepaskan
Rasional: Menurunkan risiko refluks urine dan mempertahankan integritas alat. Catatan: kantung
urine tersedia dengan katup antirefluks
2. Catat karakterisitik urine dan perhatikan apakah perubahan berhubungan dengan keluhan nyeri
panggul
Rasional: Urine keruh dan bau menunjukkan infeksi ( kemungkinan pielonefritis ) namun secara
normal mengandung mukus setelah prosedur pembuatan saluran
3. Tes ph urine dengan kertas nitrazin ( gunakan urine baru,bukan dari kantung) beritahu dokter
bila lebih dari 6,4

Rasional : Urine secara normal asam, yang menghambat pertumbuhan berkemih/ISK, Catatan:
adanya urine alkalin juga menciptakan lingkungan yang memungkinkan pembentukan batu pada
adanya hiperkalsuria
4. Laporkan penghentian urine tiba tiba
Rasional: Drainase konstans biasanya berlangsung dalam 10 hari namun penghentian tiba tiba
dapat mengindikasikan pembentukan plag dan menimbulkan pembentukan abses
5. Perhatikan kemerahan disekitar stoma
Rasional: Kemerahan paling umum disebabkan oleh jamur, kebocoran urine atau alergi pada alat
atau produk dapat juga menyebabkan kemerahan, area iritasi
6. Awasi tanda vital
Rasional: Peninggian suhu menunjukkan komplikasi insisi atau ISK dan atau pernafasan
7. Auskultasi bunyi nafas
Rasional: Pasien berisiko untuk terjadi komplikasi pernapasan karena lama waktu anestesia,
seringali pasien ini lansia dan sudah mengalami gangguan sistem imun, juga nyeri insisi
abdomen menyebabkan pasien bernapas lebih dangkal dari normal dan membatasi batuk
8. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain tentang pemberian obat seperti obat sefalosporin contoh
sefoksitin (mefoxin) sefazolin
Rasional: Untuk mengobati infeksi yang teridentifikasi atau secara profilaktik, khususnya pada
riwayat pielonefritis berulang
4. Risiko tinggi terhadap disfungsi seksual
Faktor resiko meliputi:

Perubahan struktur tubuh/fungsi; reseksi radikal/prosedur pengobatan


Kecenderungan/masalah psikologis tentang respons terhadap orang dekat
Penghentian pola respons seksual
Kemungkinan dibuktikan oleh:

Tidak dapat diterapkan, adanya tanda tanda dan gejala gejala membuat diagnosa aktual
Hasil yang diharapkan :

Menyatakan pemahaman hubungan antara kondisi fisik terhadap masalah seksual


Mengidentifikasikan kepuasaan/praktik yang diterima dan mengemukakan metode alternative
Melakukan hubungan seksual sesuai kebutuhan
Intervensi

1. Yakinkan hubungan seksual pasien/orang terdekat sebelumnya pada penyakit dan/atau


pembedahan. Identifikasi harapan dan keinginan masa depan
Rasional: Mutilasi dan kehilangan privasi/control fungsi tubuh dapat mempengaruhi gambaran
seksual pribadi pasien. Bila pasangan dengan rasa takut akan penolakan oleh orang terdekat,

tingkat hasrat keintiman dapat sangat terganggu. Kebutuhan seksual sangat dasar, dan pasien
akan direhabilitasi lebih berhasil bila kepuasan hubungan seksual dilanjutkan/dikembangkan
2. Kaji ulang anatomi fisiologi fungsi seksual pasien dan orang terdekat dalam hubungannya
dengan situasi
Rasional: Pemahaman fisiologi normal membantu pasien/orang terdekat memahami mekanisme
kerusakan syaraf dan perlu mengkaji metode kepuasan pilihan
3. Beri penguatan informasi yang diberikan oleh dokter. Dorong mengajukan pertanyaan. Berikan
informasi tambahan sesuai kebutuhan
Rasional: Pengulangan informasi yang diberikan sebelumnya membantu pasien/orang terddekat
untuk mendengar dan memproses lagi pengetahuan, bergerak ke arah penerimaan keterbatasan
dan prognosis individu.
4. Diskusikan pelaksanaan aktivitas seksual kira-kira 6 minggu setelah pulang, dimulai dengan
perlahan dan progresif (contoh membelai/menyayang sampai keuda pasangan nyaman dengan
gambaran diri/perubahan fungsi). Termasuk metode pilihan merangsang yang tepat
Rasional: Mengetahui apa yang diharapkan pada kemajuan penyembuhan membantu pasien
menghindari menunjukkan ansietas/menurunkan resiko gagal. Bila pasangan menginginkan
untuk mencoba ide baru, ini dapat membantu penilaian dan mungkin membantu mencapai
pemenuhan seksual.
5. Tekankan kesadaran akan factor yang dapat mengalihkan perhatian (mis. Bau tak enak dan
kebocoran kantung)
Rasional: Meningkatkan resolusi masalah yang dapat diatasi
6. Dorong penggunan rasa humor
Rasional: Humor dapat membantu individu menerima situasi sulit lebih efektif dan
meningktakan pengalaman seksual positif
7. Atur pertemuan dengan pengunjung bila tepat
Rasional: Saling berbagi tentang bagaimanamasalah ini telah diatasi orang lain dapat membantu
dan menurunkan rasa terisolasi
8. Rujuk ke konseling/terapeutik sesuai indikasi
Rasional: Bila masalah menetap lebih lama dari beberapa bulan setelah pembedahan, ahli terapi
terlatih mungkin diperlukan untuk membantu komunikasi antara pasien dan orang terdekat
5. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
Dapat dihubungkan dengan:

Kurang terpajan/mengingat; salah interpretasi informasi


Tidak mengenal sumber informasi
Kemungkinan dibuktikan oleh:

Pertanyaan; pertanyaan salah konsepsi/salah informasi


Tidak akurat mengikuti intruksi/melakukan perawatan nefrostomi
Perilaku tidak tepat atau berlebihan (contoh: marah, agitasi, apatis, menarik diri)
Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi-pasien akan:

Menyatakan pemahaman tentang kondisi/proses penyakit, pengobatan dan prognosis


Melakukan dengan benar prosedur yang perlu, menjelaskan alasan tindakan
Melakukan perubahan pola hidup yang perlu
Intervensi

1. Evaluasi emosi pasien dan kemampuan fisik


Rasional: Faktor ini mempengaruhi kemampuan pasien untuk melakukan tugas dan keinginan
2.

untuk melakukan tanggung jawab terhadap perawatan nefrostomi


Kaji ulang anatomi, fisiologi dan implikasi intervensi pembedahan. Diskusikan harapan masa
depan
Rasional: Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan

informasi dan kesempatan untuk menjelaskan kesalahan konsep mengenai situasi individu
3. Masukkan sumber-sumber tertulis/gambar
Rasional: Memberikan referensi pascapulang untuk mendukung upaya pasien untuk mandiri
4.

pada perawatan diri


Intruksikan pasien/orang terdekat tentang perawatan nefrostomi. Berikan waktu untuk
menunjukkan kembali dan memberikan umpan balik positif terhadap upaya-upaya
Rasional: Meningkatkan manajemen positif dan menurunkan resiko perawatan nefrostomi yang

tidak tepat
5. Dorong nutrisi optimal
Rasional: Meningkatkan penyembuhan luka, meningkatkan penggunaan energy untuk membantu
memperbaiki jaringan. Anoreksia dapat terjadi selama beberapa bulan pascaoperasi
membutuhkan kesadaran upaya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
6. Diskusikan penggunaan diet asam (contoh beri sereal, nasi, kacang, keju, unggas, ikan). Hindari
tambahan natrium bikarbonat dan antasida dan pencegahan penggunaan produk mengandung
kalsium
Rasional: Mungkin berguna dalam pengasaman urine untuk menurunkan resiko infeksi dan
pembentukan kristal/batu. Produk mengandung bikarbonat/kalsium beresiko memmntuk
kristal/batu mempengaruhi aliran urine dan integritas jaringan. Catatan: penggunaan obat sulfa
memerlukan urine alkali intuk absorpsi optimal; sehingga diet asam/vitamin C tambahan harus
diberikan
7. Tekankan pentingnya meningkatkan pemasukan cairan sedikitnya 2-3L/hari atau beri
tablet/vitamin C/asam askorbat; menghindari buah sitru sebagai indikasi

Rasional: Mempertahankan haluaran urine dan meningkatkan keasaman urine untuk menurunkan
resiko infeksi dan pembentukan batu. Catatan: buah jeruk/sitrun membuat urine alkalin maka
dikontraindikasikan. Dosis besar vitamin C dapat menghambat absorpsi B12 yang memerlukan
8.

pengawasan periodic pada kadar B12


Diskusikan tentang pelaksanaan aktivitas pada tingkat prapembedahan dan kemungkinan
gangguan tidur, anoreksia, kehilangan minat aktivitas biasanya.
Rasional: Pasien harus mampu mengatur derajat aktivitas yang sama dengan yang sebelumnya
dinikmati dan pada beberapa kasus peningkatan aktivitas kecuali olahraga kontak. Depresi
pulang ke rumah dapat terjadi, berakhir selama 3 bulan setelah pembedahan, memerlukan

kesabaran/dukungan dan evaluasi terus menerus


9. Dorong aktivitas regular/program latihan
Rasional: Immobilisasi/tidak aktif meningkatkan stasis urine dan perpindahan kalsium dari
tulang, potensial resiko pembentukan batu, obstruksi urine dan infeksi
10. Tekankan pentingnya perjanjian untuk evaluasi
Rasional: Pengawasan penyembuhan, proses penyakiit; memberikan kesempatan untuk diskusi
masalah pemakaian alat, kesehatan umum dan adaptasi terhadap kondisi.
11. Identifikasi sumber komunitas.
Rasional: Dukungan kontinu setelah pulang penting untuk membantu proses perbaikan dan
kemandirian pasien dalam perawatan

BAB III
KESIMPULAN
Nefrostomi adalah suatu tindakan medis yang dilakukan untuk membuat saluran (air
kencing) dari ginjal menuju ke permukaan kulit. Tindakan ini pada umumnya dilakukan untuk
mengalirkan kencing oleh karena adanya sumbatan dibawah ginjal yang mungkin karena batu
saluran kencing, tumor, kanker ataupun pendesakan dari luar saluran kencing.
Perlu diingat, jika seseorang dipasang nefrostomi harus menjaga kondisi nefrostomi tetap
steril dan mengganti secara periodic karena akan beresiko mengalami infeksi di kulit sekitar
kateter. Oleh karena itu disini sangat penting peran perawat untuk memberikan perawatan pada
klien dengan pemasangan nefrostomi agar area tersebut tetap kering dan bersih serta selalu
mengamati ada tidaknya iritasi sehingga tidak terjadinya komplikasi pada klien.
Perawatan nefrostomi adalah pemeliharaan eliminasi melalui stoma dan perawatan jaringan di
sekitarnya. Adapun tujuan dilakukannya perawatan nefrostomi adalah:
- Menjaga kebersihan stoma
- Mencegah infeksi
- Mencegah kebocoran
- Melindungi kulit
- Mengontrol bau
- Memberikan kenyamanan dan keamanan