Anda di halaman 1dari 9

Infeksi sistem saraf

dr. Sekar Satiti


Guest editor: Clara
Assalamuallaikum Wr. Wb.

Bismillahirrohmanirrohim

I.

SISTEM SARAF, sistem saraf terbagi atas 2 bagian besar:


a. SISTEM SARAF PUSAT (SSP)
- Serebrum
- Serebellum
- Batang otak
- Medula spinalis
Penyakit pada SSP: Meningitis, Ensefalitis, ME, Myelitis, Abses
serebri/spinal
b. SISTEM SARAF TEPI (SST)
- Saraf kranial
- Saraf spinal
- Saraf otonom
Penyakit pada SST: Neuritis

II.

Lokasi infeksi pada sistem saraf


-

III.

Meningitis
: inflamasi pada menings
Meningens adalah selaput pelindung otak yang terdiri
dari lapisan durameter, arachnoid, dan piameter.
Bagian Meningens yang paling sering terkena infeksi
adalah ARACHNOID dan PIAMETER.
Ensefalitis
:
inflamasi
pada
parenkhim
otak/serebrum
Myelitis
: inflamasi pada medula spinalis/myellum
Abses serebri/ spinal cord : akumulasi material infeksius
Neuritis
: inflamasi pada neuron (sistem saraf tepi)

Etiologi infeksi pada sistem saraf


-

Organisme penyebab: bakteri, virus, parasit dan jamur


Biasanya, viral meningitis: simtomnya ringan, bisa sembuh
tanpa komplikasi, muncul 2-3x lebih sering
Bakterial meningitis: lebih serius, dan menyebabkan gangguan
belajar, deafness, atau juga kerusakan otak permanen, bahkan
sampai meninggal

a. VIRUS
RNA VIRUS

DNA virus
- Herpes
simplex
type 1, 2
- Cytomegalovirus
- Ebstein-Barr
- Varicella Zoster

Japanese
encephalitis
Poliovirus
Measles virus
Mumps virus
Influenza virus
Rabies virus
Human
immunodeficiency
virus type 1

b. BAKTERI
Gram negative

Gram positif

Neisseria
meningitides
Escherichia coli
Salmonella
typhosa
Haemophilus
influenza
Rickettsia

Streptococcu
s
Staphylococc
us
Clostridium
tetani

c. PARASIT
-

Treponema pallidum /spirochete


Toxoplasma gondii
Malaria
Leptospira
Taenia solium

Cryptococcus neoformans
Coccidioides
Candida
Aspergillus

d. FUNGI

Mycobacterium
TB
Non MTB
- Mycobact avium
complex
- Mycobact kansasii

IV.

Pathogenesis infeksi sistem saraf


1. INFEKSI YANG TERJADI SECARA LANGSUNG / Percontinuitatum /
direct spread /
- Terjadi perluasan langsung pus ke SSP
- Terjadi destruksi tulang akibat pustulasi
Terjadi pada organ-organ yang letaknya di dekat kepala
Contoh:
a.
b.
c.
d.
e.

Trauma kepala terbuka


Osteomyelitis di cranium
Otitis media purulenta
Mastoiditis purulenta
Sinusitis purulenta : --Sinus frontalis
--Sinus ethmoidalis
--Sinus sphenoidalis

2. INFEKSI YANG TERJADI SECARA TIDAK LANGSUNG


Terjadi pada organ yang letaknya lebih jauh dari otak
sehingga perlu media untuk mengalirkan bakteri atau virus
ke dalam SSP
-

A. Hematogenous spread
Bakteremia / viremia yang persisten, maksudnya
menyebar melalui peredaran darah
Menembus BBB di plexus choroideus dan kapiler

Contoh:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

TBC pulmoner/ekstra pulmoner


Pneumonia
Pharyngitis
Abses ginggiva
Endokarditis
Typhoid
Gastroenteritis
Infeksi CMV
Malaria
Infeksi HIV

B. Neuronal
Virus berjalan asenderens

Contoh:
a. Herpes Simplex Virus
b. Rabies Virus
c. Herpes Zoster Virus

dalah

3. Cara lain:
a. Penyebaran bakteri melalui:
- Pada Flu: kontak langsung atau bernafas di udara dlm
ruangan yang sama, bersama dg penderita yg terinfeksi.
- Bisa juga: sekret dari respirasi, melalui batuk, bersin, ciuman
b. Lingkungan:
- Pekerja harian, kamp tentara, penjara, dan siapapun yg
langsung terekspose sekret mulut atau hidung penderita
c. Risiko lain: orang dg sistem imun yg jelek, diabetes, alkoholik, IV
drug abusers, dan usia > 60 tahun

V.

Penyakit-penyakit infeksi sistem saraf


A. Meningitis
1. Infeksi pada menings (arachnoid, piamater)
2. Klinis:
- Nyeri kepala
- Demam
- Fotopobia
- Meningeal signs +
3. Meningeal signs
- Neck rigidity / kaku kuduk
- Brudzinski 1, 2, 3, 4
- Kernig sign
- Lasegue sign bilateral
- Guillain
- Edelmann
- Bikeles sign
- Amoss sign

B. Ensefalitis
1. Infeksi yang melibatkan jaringan parenkhim otak
2. Bisa secara difus maupun terlokalisir
Satu hemisfer
Satu lobus, atau beberapa lobus
3. Tersering: sekunder
4. Pemeriksaan Fisik
a. 3 tanda spesifik: (demam)+penurunan kesadaran-kejangdefisit neurologis fokal
b. Penurunan kesadaran
- Gangguan perilaku (gangg. kognitif)
- Gaduh gelisah (delirium)
- Banyak tidur, kontak bisa baik (somnolent)
- Banyak tidur, kontak sulit (stupor)
- Coma

- Paresis saraf kranial, misalnya,


a. Paresis n. XII: disartria
b. Paresis n. II: gangguan visus
c. Paresis n. X: disfagia
- Gangguan lain:
a. Area talamus: hemihipestesi
b. Area motorik: hemiparesis
c. Area ganglia basalis: gerakan involunter

5. Diagnosis Penunjang
-

Gold standard: analisis cairan serebrospinal dan


kultur
Head ct scan dengan kontras
MRI dengan/tanpa kontras
Darah lengkap dan kultur
Foto thorax
Konsultasi ahli yang terkait: Gigi, THT, Internist, Bedah,
dll.

6. Gambaran CSS

Nor
mal

Fun
gal/

Paramen
ingeal
Focus/Ab
scess

Bact
erial

Vir
al
10
01,
00
0

100
500

10-1,000

TB

WBC

0-5

>1,0
00

%PM
Ns

015

90

<5
0

<50

<50

Gluco
se

4565

<40

45
65

3045

45-65

CSF:B
lood
gluco
se

0.6

<0.4

0.
6

<0.
4

0.6

>15
0

50
10
0

100
500

50->150

Prote
in

2045

C. Cerebral abscess
1. Paling sering komplikasi dari: sinusitis kronis/purulenta, otitis
media kronis/purulenta
2. Dapat juga dari abses paru atau pneumonia
3. Akibat trauma kepala atau operasi otak
4. Gejala tgt lokasi abses
5. Gejala umum: nyeri kepala berat, demam, kelemahan umum
6. Terapi: IV antibiotika, surgical drainage
D. Spinal abscess
1.
2.
3.
4.

VI.

Biasanya muncul tiba2


Demam, backpain, kemerahan, udem di area abses
Berat: paralisis
Terapi: surgical drainage dan IV antibiotika

Medical Treatment

1. Antibiotika intravena, sesegera mungkin (30 menit awal), pilih


broad spectrum
2. Setelah hasil kultur ada, berikan AB sesuai bakteri yang
ditemukan
3. Analgetika
4. Anticonvulsant: utk prevensi atau mengatasi kejang
5. Bila gelisah: berikan sedatif
6. Bila ada udem otak: beri steroid
7. Pada abses otak, tgt lokasi
Superfisial: eksisi abses
8. Antibiotika massive

VII.

Prevention
1. ME seringkali tdk bisa diprediksi dan tdk dpt dicegah
2. Vaksin Hib terbukti aman dan sangat efektif, biasa diberikan
pada bayi dan anak2
3. Vaksin utk mencegah pneumococcal meningitis, tdk efektif
utk anak2 di bwh 2 tahun. Direkomendasikan utk usia > 65
th
Alhamdulillahirobbilallamin

SOURCE: slide kuliah dr. Sekar, MISC 2009


Wassalamualaikum Wr. Wb.