Anda di halaman 1dari 89

BALAI PENELITIAN TEKNOLOGI PERBENIHAN TANAMAN HUTAN

Jl.Pakuan Ciheuleut PO.Box 105 Bogor 16001


Telp./Fax : (0251)8327768
Website : www.bptpbogor.litbang.dephut.go.id

BALAI PENELITIAN TEKNOLOGI PERBENIHAN TANAMAN HUTAN


BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN
KEMENTERIAN KEHUTANAN
Tahun 2012

Oleh :
Rina Kurniaty
Danu

TEKNIK PERSEMAIAN
BALAI PENELITIAN TEKNOLOGI PERBENIHAN TANAMAN
HUTAN

Penanggung Jawab
Kepala Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan

Koordinator
Kepala Seksi Data Informasi dan Sarana Penelitian
Penyusun
Rina Kurniaty
Danu
Desain Cover dan Tata Letak
Ida Saidah

Dipublikasikan
Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan
Jl.Pakuan Ciheuleut PO. Box 105 Bogor.
Telp./Fax.0251-8327768
Website : www.bptp.litbang.dephut.go.id

Publikasi Khusus
Desember 2012

KATA PENGANTAR

Persemaian merupakan tempat atau areal untuk kegiatan


memproses benih atau bagian tanaman lain menjadi bibit siap ditanam ke
lapangan. Benih yang baik apabila diproses dengan teknik persemaian
yang baik akan menghasilkan bibit yang baik pula, tetapi benih yang baik
akan menghasilkan bibit yang kurang baik apabila diproses dengan teknik
persemaian yang tidak sesuai. Bibit yang berkualitas dalam jumlah yang
cukup dan tepat waktu akan diperoleh apabila teknik persemaian yang
dilakukan sesuai dengan prosedur yang sudah baku.
Booklet Teknik Persemaian berisi informasi mengenai tentang
pembuatan persemaian, teknik pengadaan bibit dan analisis biayanya.
Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak yang
telah membantu sehingga booklet ini dapat diterbitkan. Semoga booklet ini
bermanfaat.

Bogor, Desember 2012


Kepala Balai

Ir. Suhariyanto, M.M


NIP. 195804251987031002

KATA PENGANTAR
Persemaian merupakan tempat atau areal untuk kegiatan
memproses benih atau bagian tanaman lain menjadi bibit
siap ditanam ke lapangan. Benih yang baik apabila diproses
dengan teknik persemaian yang baik akan menghasilkan bibit
yang baik pula, tetapi benih yang baik akan menghasilkan
bibit yang kurang baik apabila diproses dengan teknik
persemaian yang tidak sesuai. Bibit yang berkualitas dalam
jumlah yang cukup dan tepat waktu akan diperoleh apabila
teknik persemaian yang dilakukan sesuai dengan prosedur
yang sudah baku.
Booklet Teknik Persemaian berisi informasi mengenai
tentang pembuatan persemaian, teknik pengadaan bibit dan
analisis biayanya.
Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak
yang telah membantu sehingga booklet ini dapat diterbitkan.
Semoga booklet ini bermanfaat.
Bogor, Desember 2012
Kepala Balai

Ir.Suhariyanto, M.M
NIP.195804251987031002
i

DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR......................................................... i
DAFTAR ISI ............................................................... ..... ii
DAFTAR TABEL ............................................................. iv
DAFTAR GAMBAR ......................................................... v
I. PENDAHULUAN............................. 1
II. PEMBUATAN PERSEMAIAN................. 2
A. PERENCANAAN PEMBUATAN PERSEMAIAN. 2
B. PEMILIHAN LOKASI PERSEMAIAN....................... 5
III. TEKNIK PEMBIBITAN..................... 10
A. SECARA GENERATIF..................... 10
1. ASAL BENIH............................ 11
2. ASAL ANAKAN ALAM...................... 13
B. SECARA VEGETATIF..................... 17
IV. PEMELIHARAAN........................ 49
A. PENYIRAMAN.................. 49
B. PENYIANGAN.................. 49
C. PEMUPUKAN......................... 50
D. PEWIWILAN DAN PEMOTONGAN AKAR..... 50
E. PENYULAMAN................ 50
F. PEMBERANTASAN HAMA DAN PENYAKIT.... 51
V. AKLIMATISASI DAN PENGANGKUTAN........ 59
A. AKLIMATISASI .............. 59
B. PENGANGKUTAN............... 60
C. CIRI BIBIT YANG BAIK........... 61
VI. ANALISA BIAYA. ....................... 64
ii

Hal
A. BIAYA PRODUKSI BIBIT........................ 64
B. CONTOH ANALISIS BIAYA PERSEMAIAN. 71
1.PERSEMAIAN PERMANEN........ 71
2.PERSEMAIAN SEMENTARA........... 75

iii

DAFTAR TABEL
Hal
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Keuntungan dan kerugian persemaian sementara


dan permanen...............................................................
Keunggulan dan Kelemahan Polybag dan Polytube.........
Jadwal Pembuatan Persemaian.......................................
Kelas Kekompakan Media.............................................
Kandungan Hara Beberapa Jenis Bahan Organik.............
Biaya dan Berat Media Beberapa Macam Bahan
Organik........................................................................
Biaya Bangunan............................................................
Biaya Operasional Tetap................................................
Biaya Operasional Tidak Tetap.......................................
Biaya Produksi Bibit untuk Polytube Ukuran
5x5 cm........................................................................
Biaya Produksi Bibit untuk Polytube Ukuran
3,5x3,5 cm...................................................................
Biaya Produksi Bibit untuk Polytube Ukuran
9x9 cm.........................................................................
Biaya Produksi Bibit pada persemaian Sementara...........

2
6
9
62
68
69
71
72
73
74
75
75
76

iv

DAFTAR GAMBAR
Hal
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Persemaian Sementara.................................................
Persemaian Permanen..................................................
Semai Nyamplung yang Siap Disapih.............................
Cabutan Nyamplung.......................................................
Kemasan untuk Pengangkutan Cabutan..........................
Hasil Penyapihan Semai dari Cabutan dengan 2/3 Daun
yang sudah dipotong....................................................
7. Rumah Tumbuh Sistim KOFCO.....................................
8. Ruang Pengakaran Stek Model Sungkup.........................
9. Ruang Pengakaran Stek Model Sungkup.........................
10. Teknik Okulasi.............................................................
11. Teknik Penyambungan Tanaman Meranti dengan
Sambung Baji..............................................................
12. Teknik Cangkok...........................................................
13. Serangan Hama Penggulung Daun.................................
14. Bentuk Kutu Putih pada Daun.......................................
15. Penyakit Embun Tepung...............................................
16. Gejala Penyakit Bercak Daun Cylindrocladiium sp.........
17. Gejala Penyakit yang Disebabkan oleh Virus Penggulung
Daun............................................................................
18. Bibit Jati yang Belum dan Sudah Diaklimatisasi............
19. Contoh Bibit yang Baik................................................

3
4
13
14
15
16
24
25
26
32
35
41
52
53
54
56
58
60
63

I. PENDAHULUAN
Bibit tanaman bermutu merupakan salah satu
faktor produksi dari suatu indutri hutan tanaman. Bibit
bermutu dengan harga murah sangat menentukan
keberhasilan dan keuntungan suatu usaha penanaman
hutan. Untuk menyediaakan bibit tersebut diperlukan
persemaian yang memadai.
Persemaian merupakan tempat atau areal untuk
kegiatan memproses benih atau bagian tanaman lain
menjadi bibit siap ditanam ke lapangan. Benih yang
baik apabila diproses dengan teknik persemaian yang
baik akan menghasilkan bibit yang baik pula, tetapi
benih yang baik akan menghasilkan bibit yang kurang
baik apabila diproses dengan teknik persemaian yang
tidak sesuai. Bibit yang berkualitas dalam jumlah yang
cukup dan tepat waktu akan diperoleh apabila teknik
persemaian yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang
sudah baku.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pembuatan

persemaian adalah sebagai berikut :

pemilihan lokasi persemaian meliputi luas persemaian,


1

kebutuhan air, tenaga kerja, bahan persemaian, benih


bermutu, pelaksanaan persemaian termasuk tata waktu
penyelenggaraan persemaian dan pemeliharaan. Buku ini
menguraikan tentang pembuatan persemaian, teknik
pengadaan bibit dan analisis biayanya.

II. PEMBUATAN PERSEMAIAN


A. Perencanaan Pembuatan Persemaian
Sebelum memulai pembuatan persemaian perlu
ditentukan dulu persemaian apa yang akan dibuat
apakah

persemaian

Persemaian

sementara

sementara
dibuat

atau

permanen.

apabila

kegiatan

persemaian dilakukan paling lama 5 tahun sedangkan


persemaian permanen untuk memproduksi bibit dalam
jangka waktu yang lama dan biasanya melayani areal
penanaman yang luas. Keuntungan dan kerugian dari ke
dua persemaian tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.Keuntungan dan kerugian persemaian sementara
dan permanen
Jenis
Persemaian
Persemaian
sementara

Keuntungan
- dekat lokasi penanaman
- ongkos pengangkutan bibit
murah
- tenaga kerja yang
dibutuhkan sedikit

Kerugian
- lokasi persemaian
tersebar sehingga
pengawasan sulit
- biaya pembuatan tinggi
karena pekerjaannya
tersebar
- sering gagal karena
tenaga kurang terlatih
dan selalu berganti

Jenis
Persemaian
Persemaian
permanen

Keuntungan
- dapat dikerjakan secara
mekanis
- tenaga tetap dan terpilih
sehingga bibit yang
dihasilkan lebih baik
- Produktifitas tinggi
- pengawasan dan
pemeliharaan lebih efisien

Kerugian
- jauh dari lokasi
penanaman
- selama pengangkutan,
bibit beresiko tinggi
- ongkos pengangkutan
bibit mahal
- biaya investasi tinggi

(Foto : Rina, 2009)

Gambar 1.Persemaian Sementara


4

(Foto : Rina, 2012)

Gambar 2. Persemaian Permanen


5

B. Pemilihan Lokasi Persemaian


Lokasi persemaian harus memenuhi persyaratan teknis
dan fisik :
1. Aspek Teknis
Aspek teknis adalah kondisi lapangan yang secara
teknis

akan

persemaian.

berpengaruh
Beberapa

terhadap

aspek

teknis

pembuatan
yang

perlu

diperhatikan adalah :
a. Lokasi dekat dengan areal penanaman, mudah
dijangkau,

terlindung

dari

angin

kencang,

terbuka/kena sinar matahari secara langsung.


b. Ada jalan angkutan sesuai kebutuhan (jalan darat atau
sungai).
c. Luas lokasi disesuaikan dengan jumlah bibit yang
akan

dihasilkan

dan

cara

pembibitan

apakah

menggunakan polybag atau polytube. Masing-masing


wadah memiliki keunggulan dan kelemahannya
seperti tercantum dalam Tabel 2.

Tabel 2. Keunggulan dan Kelemahan Polybag dan


Polytube
Jenis Wadah
Polybag

Keunggulan
- Murah
- Mudah diperoleh
- Memerlukan ruang sedikit
untuk penyimpananya
- Ukuran dari kecil sampai
besar
- Tidak memerlukan
pendukung tambahan
dalam persemaian

Polytube

- Dapat digunakan
berulang
- Sistem perakaran
tersebar
- Pruning akar secara
alami
- Kokoh dan kuat
- Bibit relatif kecil dan
ringan sehingga
memudahkan dalam
transportasinya
- Mudah diisi dan ekonomis
dalam pengisian dan
penyiraman
- Bibit telah bermikroba
- Bentuk dapat
disesuaikan keinginan
- Bibit bisa langsung
ditanam dengan
wadahnya

Biopotting

Kelemahan
- Sekali pakai
- Mudah rusak
- Akar menembus polybag
- Membutuhkan media lebih
banyak
- Waktu dan tenaga untuk
pengisian diperlukan lebih
banyak
- Pertumbuhan akar kurang
baik
- Bibit lebih berat sehingga
menyulitkan dalam
transportasinya
- Relatif mahal
- Pemasarannya masih
terbatas
- Membutuhkan ruang lebih
luas dalam
penyimpanannya
- Memerlukan rak atau
bangunan untuk
menyokong bibit

- Belum banyak yang tahu


teknologinya
- Pemasarannya masih
terbatas

d. Pada umumnya luas persemaian efektif (bedeng tabur,


bedeng semai dan bedeng sapih) adalah 60 % dari
luas areal persemaian dan 40 % digunakan untuk
bangunan lainnya seperti kantor, barak kerja, rumah
jaga, saluran irigasi dan jalan inspeksi.
e. Bedeng tabur dibuat 5 x 1m dengan tinggi/tebal tanah
bedengan 15 cm
f. Ukuran bedeng semai umumnya 5 x 1m, dengan
ukuran ini akan memudahkan menghitung jumlah
bibit yang ada.
g. Arah bedeng semai utara-selatan.Tinggi naungan
sebelah barat 150 cm dan sebelah timur 175 cm
h. Untuk persemaian sementara naungan dapat dibuat
dari kasa plastik, daun kelapa, jerami dan alang-alang.
2. Aspek Fisik
Aspek fisik adalah kondisi lapangan yang secara fisik
akan mempengaruhi pembuatan persemaian, diantaranya
adalah :
a. Tersedia sumber air (sungai, air tanah )
b. Lokasi datar (kemiringan kurang dari 10 %)
8

c. Tersedia tenaga kerja (dekat perkampungan)


d. Tersedia bahan (benih, media tumbuh, kantong
plastik/polybag, fungisida, pestisida dan pupuk)
e. Tersedia peralatan (cangkul dan peralatan kerja
lainnya, barak kerja, rumah jaga, pagar, naungan dsb)

3. Pelaksanaan Persemaian
Penanaman di lapangan umumnya dilakukan pada
musim hujan sedangkan musim hujan untuk setiap
daerah

berbeda

sehingga

permulaan

pembuatan

persemaian disesuaikan dengan kondisi setempat. Selain


itu umur bibit siap tanam dari setiap jenis berbeda-beda,
ada yang 5 bulan, 6 bulan bahkan ada yang 12 bulan.
Oleh karena itu permulaan pembuatan persemaian juga
disesuaikan dengan jenis bibit yang akan dihasilkan.
Contoh jadwal pembuatan persemaian dengan usia bibit
siap tanam di lapangan 6 bulan tercantum dalam Tabel 3.

Tabel 3. Jadwal Pembuatan Persemaian


Kegiatan
Persiapan
lapangan
Penaburan
benih
Penyapihan
semai
Pemeliharaan
semai
Aklimatisasi
Penanaman

2
*

3
*

Bulan
8 9

10

11

12

*
*
*

*
*

10

III. TEKNIK PEMBIBITAN


Pengadaan bibit dapat dilakukan dengan 2 cara
yaitu secara generatif dan vegetatif. Pengadaan bibit
secara generatif yaitu perbanyakan bibit tanaman
dilakukan melalui benih, kemudian dikecambahkan pada
media tabur selanjutnya disapih pada media sapih
sehingga bibit siap tanam dilapangan. Selain itu dapat
juga dilakukan dengan menggunakan anakan alam.
Pengadaan bibit secara vegetatif yaitu pengadaan bibit
dilakukan

melalui

perbanyakan

bagian

tanaman

induknya, seperti stek, cangkok, okulasi dan kultur


jaringan.
A. Pengadaan bibit secara generatif
Pembibitan secara generatif dapat dilakukan dengan 2
cara yaitu berasal dari benih dan cabutan alam.
Pengadaan bibit asal benih diperuntukan bagi tanaman
hutan yang menghasilkan benih yang dapat disimpan
lama (ortodok). Sedangkan teknik cabutan digunakan
untuk memperbanyak tanaman yang menghasilkan benih
yang tidak bisa disimpan lama (rekalsitran).

11

1. Pembuatan bibit asal benih


Ada dua hal

yang harus diperhatikan dalam

pembuatan bibit asal benih yaitu teknik penaburan benih


dan penyapihan semai.
a. Teknik penaburan
a.1. Skarifikasi
Sebelum penaburan dilakukan, beberapa jenis benih
perlu diberi perlakuan pendahuluan (skarifikasi)
terlebih dahulu yaitu perlakuan yang diberikan kepada
benih untuk mempercepat mulai berkecambah dan
perkecambahan yang serempak.
skarifikasi

yang

biasa

dilakukan

Beberapa cara
:

meretakan

tempurung benih, merendam benih sampai kulit benih


lunak, merendam-jemur sampai kulit benih retak .
a.2. Teknik penaburan:
- Penyiapan media tabur yaitu campuran pasir dan
tanah yang

disterilkan terlebih dahulu

cara dijemur sampai

dengan

kering dan dicampur

nematisida.
- Penaburan benih yaitu benih ditanam dengan
membenamkan

2/3 badan benih kedalam media


12

yang sudah disiram air dengan posisi bagian


pangkal dimana tangkai buah melekat dibenamkan.
- Penempatan bedeng tabur dilakukan pada kondisi
ruang atau tempat dengan suhu cukup tinggi (29
32 OC) dan kelembaban tinggi (>75%). Apabila
suhu udara terlalu rendah, bedeng/bak tabur
ditutup sungkup plastik.
- Pemeliharaan bedeng tabur dilakukan dengan
selalu membersihkan bedeng dari gulma dan
disiram setiap hari agar media tidak sampai kering.
b. Teknik penyapihan:
- Penyiapan media dalam polybag
- Pemindahan semai dari bak /bedeng tabor

ke

polybag, dengan cara mencungkil media disekitar


dan di bawah semai beserta akar-akarnya. semai
yang siap disapih adalah yang telah memiliki
minimal sepasang daun muda yang telah membuka
penuh.

13

(Foto : Rina, 2009)

Gambar 3. Semai nyamplung yang siap disapih

2. Pembuatan bibit asal cabutan anakan alam


Anakan alam yang digunakan sebagai bahan pembuat
bibit diambil dari lapangan dengan cara dicabut sehingga
sering disebut dengan cabutan. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pembuatan bibit asal cabutan, yaitu :
- Bahan cabutan berupa anakan alam yang tumbuh di
areal tanaman yang memiliki tinggi 10-20 cm atau
memiliki 2-3 pasang daun (Gambar 4).
14

(Foto : Rina, 2009)

Gambar 4. Cabutan nyamplung

- Anakan sebaiknya dicabut pada musim hujan


- Untuk mengurangi penguapan dalam perjalanan,
bagian akar diberi bahan pelembab seperti lumut,
serbuk sabut kelapa atau arang sekam padi basah
kemudian dibungkus dengan pelepah pisang atau
karung (Gambar 5).
15

(Foto : Rina, 2009)

Gambar 5. Kemasan untuk pengangkutan cabutan

- Sebelum disapih ke dalam polybag, akar dan


daunnya dipotong dan disisakan sepertiga bagian
(Gambar 6).

16

(Foto : Rina, 2009)

Gambar 6. Hasil penyapihan semai dari cabutan dengan


2/3 daun yang sudah dipotong
17

- Letakkan pada tempat yang teduh.


- Setelah satu minggu, pindahkan ke bedeng semai
yang telah disiapkan dengan naungan 50 %.
- Setelah berumur 3-4 bulan di persemaian bibit siap
ditanam.
B. Pengadaan bibit secara vegetatif
Teknik pengadaan bibit secara vegetatif umumnya
digunakan untuk memperbanyak tanaman yang sulit
berbuah, musim buah tidak menentu, dan klon-klon
unggul hasil pemuliaan maupun seleksi alam. Teknik
perbanyakan

vegetatif

meliputi:

stek,

okulasi,

penyambungan, cangkok dan kultur jaringan.


1. Teknik perakaran stek
Stek merupakan teknik pembiakan vegatatif dengan
cara perlakuan pemotongan pada bagian vegatatif untuk
ditumbuhkan menjadi tanaman dewasa secara mandiri
dan terlepas dari tanaman induknya. Penggolongan stek
berdasarkan bahan tanaman terdiri dari: stek pucuk, stek
batang, dan stek akar. Faktor yang mempengaruhi
perbanyakan stek diantaranya:

18

a.

Sumber bahan stek

- Asal bahan stek


Bahan stek yang masih juvenil (muda secara
fisiologis) memiliki kemampuan berakar yang lebih
baik dari pada biakan stek yang telah tua ). Bahan
tanaman yang berasal dari bagian tanaman dekat
dengan akar lebih juvenil dari pada bahan tanaman
yang berada pada tajuk yang lebih tinggi. Hartman
et al (1990)
- Tipe tunas dari bahan stek .
Bahan stek berasal dari batang atau tunas orthotrop
dari pohon donor yang berkualitas baik sehingga
bibit stek dapat tumbuh tegak dan cepat di lapang.
Biakan stek yang berasal dari tunas plagiothrop
(tumbuh menyamping) ketika ditumbuhkan di
lapang tumbuhnya juga menyamping.
- Kebun pangkas
Untuk menghasilkan bahan stek yang juveni dengan
jumlah banyak dan berkesinambungan diperlukan
kebun pangkas yang dikelola dengan teknik tertentu
(Irsyal & Smits, 1988). Lokasi kebun pangkas
19

sebaiknya dekat atau dalam areal persemaian. Untuk


jenis Dipterocarpaceae diusahakan dipilih lahan
yang kondisi tanahnya mengandung mikoriza atau
dibawah tegakan yang tajuknya terbuka (intensitas
cahaya 50%) (Tolkamp & Leppe, 2002). Untuk
jenis-jenis pioner seperti Benuang (Octomeles
sumatrana) kebun pangkas memerlukan lahan yang
terbuka. Bahan tanaman untuk kebun pangkas dapat
berupa biji/buah atau cabutan dari alam yang
induknya

teridentifikasi

atau

okulasi

dimana

entrisnya berasal dari pohon plus (Pramono, 2003).


b. Media
- Media padat.
Syarat utama media pengakaran harus porus,
drainase dan aerasi baik, serta steril.
pengakaran

stek

dapat

menggunakan

Media
pasir,

cocopeat, vermikulit (Hartmann at al. 1990)


- Media cair.
Pembiakan stek juga dapat dilakukan dengan
menggunakan media air, yang dikenal dengan
sistem water rooting. Sistem ini dikembangkan oleh
20

Wanariset I Samboja (Balai Penelitian Kehutanan


Samarinda), Kalimantan Timur untuk jenis-jenis
Dipterocarpaceae.

Untuk memberikan oksigen

yang diperlukan dalam proses pembentukan akar ke


dalam air digunakan kompresor sebagai sistem
aerasinya. Sedangkan bak airnya dapat digunakan
bak yang terbuat dari semen. Tempat untuk
menyimpan stek (standar) digunakan ijuk yang
disusun sedemikian rupa (susunan ijuk dapat dibuka
dan tutup) sehingga stek dapat dengan mudah
dikeluarkan tanpa menggangu sistem perakarannya.
Suhu air selama pengakaran berkisar 27 - 30 C.
Untuk sistem ini diperlukan air yang semi steril
agar stek tidak terganggu oleh serangan jamur atau
bakteri. Untuk itu air perlu diganti setiap 2 minggu
sekali.

Selang-selang yang digunakan perlu

disterilkan dengan cara membuka selang tersebut


dan kemudian di jemur dibawah sinar matahari.

21

c. Kondisi lingkungan
Keberhasilan pembibitan secara vegetatif salah
satunya ditentukan oleh kondisi lingkungan / iklim
mikro tempat pengakaran stek. Untuk itu pengakaran
stek dilakukan pada ruangan (rumah tumbuh atau ruang
pengakaran) yang dapat menjaga kondisi lingkungan
agar tetap optimal. Ruang pengakaran stek yang secara
operasional sudah digunakan oleh beberapa perusahaan
dan lembaga penelitian antara lain adalah Rumah
Tumbuh ADH-1, Sistem KOFFCO,

MS

( Model

Sungkup ).
1) Rumah Tumbuh ADH-1
Rumah

tumbuh

ini

dikembangkan

oleh

Balai

Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan


(BP2TP) di Kebun Percobaan Nagrak. Model ini
merupakan ruang pengakaran stek sistem penyinaran
matahari. Model ini dibagun menggunakan atap
permanen dari genteng tanah merah yang dikombinasi
dengan genteng kaca. Genteng kaca ini dapat
dipindah-pindahkan sesuai dengan fungsinya yaitu
mengatur pencahayaan sinar matahari pagi maupun
22

sore yang masuk

sesuai dengan kebutuhan.

Di

bawah atap ini terdapat bak-bak tumbuh yang dibuat


dari batako dan dilapisi semen berukuran ( 1,5 m x 1
m x 60 cm ) dengan alas lantai semen. Di dalam bakbak tersebut dapat terdapat pengakaran yang dapat
dimodifikasi kondisinya, seperti dapat diberi kerikil
atau air ( sesuai dengan sifat dari bahan stek ) di dasar
bak-bak tersebut kemudian ditutup dengan fiberglass
transparan. Rumah Tumbuh ADH-1 memiliki kondisi
pada siang hari (jam 08.00 16.00) suhu 25 oC 30
o

C, kelembaban nisbi udara 85%-90% dan intensitas

cahaya 300 10.000 lux (Pramono et.al. 1999).


2) Sistem KOFFCO
Sistem ini dikembangkan oleh Pusat Litbang Hutan
dan

Konservasi,

terutama

digunakan

untuk

pembibitan jenis-jenis Dipterocarpaceae. Sistem ini


memanfaatkan rumah kaca yang dilengkapi dengan
sensor pengatur suhu. Pada saat suhu tidak sesuai
dengan keadaan yang diinginkan maka akan terjadi
pengkabutan secara otomatis. Pengkabutan ini
terjadi dengan cara penyemprotan air melalui nozel23

nozel yang mempunyai lubang-lubang yang sangat


halus. Sistem KOFFCO memiliki suhu < 30 oC ,
kelembaban > 95% dan intensitas cahaya 5.000
20.000 lux (Shakai, et al. 1995). Dalam sistem ini
bahan

stek

ditanam

di

polypot

kemudian

dimasukkan ke dalam sungkup plastik transparan


dan dibawahnya diberi batu-batu kerikil. Hal ini
dimaksudkan

untuk

menstabilkan

kelembaban

maupun suhu di dalam sungkup.

24

(Foto : Danu, 2009)

Gambar 7. Rumah Tumbuh Sistim KOFCO Model


Sungkup
Model Sungkup (MS) ini dikembangkan oleh Balai
Penelitian

dan

Pengembangan

Tanaman

Hutan

Palembang. Untuk pembuatan MS ini diperlukan plastik


transparan sebagai sungkup, yang dapat dibuka dan
ditutup. Bak tempat media atau polibag ditempatkan
dalam wadah terbuat dari papan dan diberi batu kerikil
25

yang diberi air. Untuk menopang sungkup digunakan


rangka kayu atau besi berbentuk persegi setinggi 100 cm
(Longman, 1993), atau berbentuk setengah lingkaran
setinggi 60 cm (Djaman et al , 2003).

Gambar 8. Ruang pengakaran stek model sungkup (Longman , 1993)

26

(Foto : Rina ,2009)

Gambar 9. Ruang Pengakaran Stek Model Sungkup Zat


pengatur tumbuh

Untuk menstimulir pertumbuhan akar dan tunas,


bagian pangkal stek diberi zat pengatur tumbuh dari
kelompok auxin (IBA, IAA, NAA) dan yang banyak
digunakan untuk pembuatan stek atau cangkok yang
dikenal dengan nama dagang Rootone-F maupun Atonik,
sedang dari kelompok

sitokinin terutama Kinetin,

Adenin, zeatin.

27

Cara pemberian Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dapat


mengunakan cara oles, celup, dan perendaman.
1) Cara Oles
ZPT berbentuk tepung atau pasta, dioleskan pada
pangkal atau bagian bawah dari stek.
2) Cara celup
ZPT berbentuk cair atau ZPT berbentuk tepung dan
pasta kemudian dicairkan. Cara celup dipakai apabila
dosis/konsentrasi yang digunakan tinggi. Stek diikat,
kemudian bagian pangkal atau bawah stek dicelupkan
selama beberapa detik atau menit.
3) Cara perendaman
ZPT berbentuk cair atau ZPT berbentuk tepung dan
pasta kemudian dicairkan. Cara perendaman dipakai
apabila dosis/konsentrasi yang digunakan lebih
rendah. Stek diikat, kemudian bagian pangkal atau
bawah stek direndam selama beberapa menit atau
jam.

28

d. Prosedur penyetekan
- Bahan stek dipotong dengan ukuran minimal 2 ruas
daun (3 nodul). Daun-daun bahan stek dipotong
separuhnya dan tunas atau daun muda (Shoot tip)
dibuang.
- Siapkan media stek seperti campuran sabut kelapa dan
sekam padi steril dengan perbandingan 2:1 (v/v).
- Media tanam dalam pot-tray terlebih dahulu dibuat
lubang tanam dengan menggunakan potongan batang
kayu atau bahan lainnya yang telah ditajamkan
ujungnya dengan cara menusukkannya ke dalam
media.

Pembuatan lubang tanam ini dimaksudkan

untuk menghindari kulit dan ujung stek terluka.


- Stek yang telah diberi perlakuan hormon tumbuh
ditanam di media pot-tray dan kemudian ditekan
dengan menggunakan dua jari untuk memadatkan
media agar stek tidak bergoyang akibat percikan air
saat penyiraman.
- Selesai penanaman kemudian dilakukan penyiraman
dengan percikan air yang halus, hindari menggunakan

29

siraman air secara langsung dari tekanan pompa air


maupun ledeng.
- Pot-tray yang berisi stek diletakan pada ruang
pengakaran.
- Penyiraman minggu pertama sampai minggu kedua
dilakukan setiap 2 hari sekali, kemudian seminggu 2
kali sampai stek berakar. Stek tanaman yang
tergolong cepat tumbuh mulai berakar antara 2 3
minggu, tergantung jenis tanaman.
e. Penyapihan stek
Setelah stek berakar, sungkup stek dapat dibuka
secara bertahap. Pembukaan sungkup dimulai pada
sore hari sekirat jam 4 sore sampai esok hari sekitar
jam 8, setelah itu sungkup ditutup kembali sampai
jam 4 sore. Tahapan ini dilakukan selama 2 minggu,
selanjutnya sungkup dapat dibuka. Stek ini siap
disapih ke media persemaian. Media persemaian dan
tahapan kegiatan sesuai dengan teknik perbanyakan
tanaman secara generatif.

30

2. Okulasi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan
okulasi adalah :
a. Bahan tanaman
- Batang pokok (Root stocks ) di dalam polybag
- Mata tunas yang berasal dari tanaman lain yang
sudah diketahui keunggulannya seperti produksi
biji yang banyak atau bentuk batang yang baik.
Pada metode ini dilakukan beberapa tahapan
okulasi yaitu mulai dari penyediaan kemudian. Di
lain sisi, disiapkan pula bahan mata tunas
b. Teknik penempelan okulasi
- Iris batang pokok (root stock) untuk menyisipkan
mata tunas
- Sisipkan atau tempelkan mata tunas pada root
stocks kemudian diikat, bagian atas (pucuk) dari
root stock dibiarkan tumbuh.
- Ada beberapa jenis yang membutuhkan sungkup
untuk menjaga kelembaban
- Beri

sungkup

untuk

setiap

tanaman,

bisa

menggunakan kantong plastik putih transparan


31

agar dapat dikontrol tanpa harus membuka


sungkupnya.
c. Penyapihan dan pemeliharaan okulasi
Setelah beberapa minggu, apabila mata tunas sudah
terlihat menempel dengan ditandai pecahnya mata
tunas atau paling tidak masih berwarna hijau dan
segar maka batang bagian atas dari root stocks
dipotong

guna memberi kesempatan kepada tunas

baru untuk tumbuh sempurna.

Apabila mata tunas

sudah terlihat tumbuh sempurna sungkup dapat


dibuka untuk memberi kesempatan beradaptasi
dengan lingkungan. Setelah tunas-tunas baru tumbuh
dengan baik dan berkayu, maka tanaman ini sudah
siap untuk di tanam di lapangan.

32

(Foto, Danu, )

Gambar 10. Teknik okulasi

3.

Penyambungan
Pengertian menyambung atau lebih dikenal dengan

istilah adalah menyambungkan batang bawah dan batang


atas dari tanaman yang berbeda sehingga tercapai
persenyawaan

sehingga

(Widarto, 1996).

terbentuk

tanaman

baru

Batang bawah disebut root stock


33

dimana berfungsi sebagai pohon pangkal yang sebaiknya


memiliki perakaran yang kuat dan tahan terhadap
serangan hama/penyakit akar dan batang atas disebut
dengan scion.
Menurut Hartman et al (1990), ada beberapa tahap
proses pertumbuhan pada sambungan, yaitu pada
kambium batang atas dan batang bawah pada sambungan
akan terbentuk kalus (sel parenchyma). Kalus tersebut
bersatu membentuk kesatuan yang saling mengikat
(compatibility).

Kemudian

kalus

mengalami

differensiasi sel menjadi sel kambium baru, yang


menggabungkan kambium batang bawah dan batang
atas. Terbentuk jaringan vaskuler baru, dimana jaringan
xylem berada di dalam dan jaringan floem berada di
bagian luar
a.

Teknik penyambungan
Teknik penyambungan yang umum digunakan

adalah sambung pucuk dimana dapat dilakukan dengan


cara (a) sambung baji dan (b) sambung pelana.

34

a
b

c
d

35

(Foto : Danu, 2010)

Gambar 11. Teknik Penyambungan tanaman meranti


dengan sambung baji
Keterangan: a. tanaman bawah dipotong setinggi 10 cm, b. tanaman
bawah dibelah (celah) sepanjang 1 2 cm, c. penyiapan scion dari
pohon unggul, d. scion diselipkan pada tanaman bawah, e.
sambungan diikat dengan plastik, f. sambungan ditempatkan di
ruang tumbuh (Rh: 90% , suhu < 30oC)

Penyambungan

dilakukan

dengan

cara

menggabungkan cabang orthotrop dari tanaman tua yang


sudah diketahui keunggulannya dengan tanaman bawah
yang berumur muda dengan menggunakan sambung baji
atau sambung pelana.

Scion pucuk (batang atas)

dipotong sepanjang 3-4 nodus, daun dipotong dan


36

disisakan bagian. Kemudian sambungan diikat dan


ditutup dengan plastik yang lentur (plastic kemasan es)
supaya ikatan bisa semakin kuat dan rapat.

Dalam

proses pengikatan dan pembugkusan sayatan diusahakan


jangan sampai ada yang terbuka, karena akan busuk bila
terkena air. Penyambungan kambium batang atas dan
kambium batang bawah harus betul-betul menempel
pada kedua bagian tersebut. Bila diameter batang bawah
lebih besar dari diameter batang atas, penyambungan
dapat dilakukan pada salah satu kambium batang bawah
harus menempel dengan kambium batang atas.
Sambungan kemudian disimpan dalam sungkup
khusus yang ditempatkan ditempat yang teduh atau
ruang pengkabutan yang memiliki kondisi lingkungan
yang baik selama 20 hari.
b. Penyapihan dan pemeliharaan bibit sambungan
Tahapan yang dilakukan sebelum dilakukan
penyapihan:
- Pengecekan sambungan
Bila sambungan telah menyatu secara baik, yaitu
sekitar 20 hari setelah penyambungan, sungkup
37

dapat dibuka untuk pengecekan dan kegiatan


pewiwilan tunas-tunas yang tumbuh pada batang
bawah. Pengecekan selanjutnya dapat dilakukan
seminggu sekali dengan cara membuka sungkup
selama 1 jam pada pagi hari kemudian sungkup
plastik ditutup dengan rapat kembali.
- Aklimatisasi.
Proses aklimatisasi sangat menentukan terhadap
keberhasilan penyambungan. Kesalahan proses
aklimatisasi akan mematikan tanaman yang baru
tumbuh.

Aklimatisasi

dilakukan

terhadap

sambungan yang telah tumbuh yang ditandai


dengan terjadinya kompaktibilitas dan munculnya
tunas baru.
Tahap pertama aklimatisasi dilakukan dengan cara
sungkup dibuka pada pagi hari (jam 8 10)
seminggu sekali, kemudian seminggu dua kali, dua
hari sekali, dan setiap hari.
Tahap kedua sungkup dibuka dari sore hari sampai
pagi selama satu bulan.
Tahap ketiga sungkup dibuka sepanjang hari.
38

Tahap keempat bibit dipindahkan ke tempat


persemaian terbuka tapi masih memiliki naungan
berat (80%) selama 1 bulan kemudian naungan
dikurangi menjadi intensitas 50%.
Untuk menambah hara dapat disemprot dengan
pupuk daun dan bila ada serangan hama dapat
dilakukan penyemprotan dengan insektisida.
4. Cangkok
a. Bahan dan media
Bahan cangkok sebaiknya dari pohon induk yang
terpilih: unggul yang nampak kuat, subur, memiliki
penampilan fenotipa bagus, tidak terserang hama
penyakit, dan cukup umur. Pohon induk sebaiknya
tidak terlau muda dan juga tidak terlalu tua. Pada
pohon yang terlalu tua, relatif sulit untuk didapatkan
bahan cangkok yang memenuhi syarat, sedangkan
pohon yang terlalu muda belum diketahui kualitas
pohonnya dengan jelas (Wudianto,1999). Berbuah
(jika menginginkan buah yang cepat).

39

Cabang yang ortotrop yang berukuran diameter 2-5


cm, sehat, segar dan telah berkayu merupakan
cabang yang cukup ideal untuk dicangkok (Kartiko
dan Danu, 2000). Cabang yang terlalu muda, hanya
mempunyai sedikit persediaan makanan, sehingga
pertumbuhan akar cangkok kurang optimal.
Media cangkok digunakan media porus, cukup air
dan hara, sperti mos, serbuk sabut kelapa, pupuk
kandang,

kompos.

Hindari

penggunaan

tanah,

terutama tanah mentah karena jika kering tanah akan


mengeras dan berat sehingga dapat mematahkan
cabang cangkokan (Wudianto, 1999).
b. Teknik pencangkokan
Teknik

mencangkok

dapat

menggunakan

cara

cangkok sayat atau cangkok belah. Prinsip utama


pembuatan cangkok adalah merangsang bagian
batang tanaman untuk berakar dengan cara memutus
sistem kambiumnya.
Pencangkokan sebaiknya dilaksanakan pada musim
penghujan

agar

medianya

tidak

mengalami

kekeringan. Apabila dilakukan pada musim panas


40

atau di daerah yang curah hujannya rendah perlu


penyiraman langsung atau sistem infus.

Bahan

pembungkus cangkok dapat menggunakan plastik


transparan yang tidak dilobangi agar tidak terjadi
penguapan, sehingga media tetap memiliki cadangan
air sampai cangkok berakar.
c. Hormon dan pupuk
Untuk mempercepat terbentuknya akar, biasanya
pada luka yang akan tumbuh akar diolesi dengan zat
pengatur tumbuh dari kelompok auxin. Pupuk juga
perlu diberikan pada media cangkok agar dapat
mempercepat pembentukan akar. Jenis pupuk dapat
menggukanan NPK dengan perbandingan 15:15:15
atau 13:13:21 sebanyak 5 gram pupuk dalam satu
kilogram media (Wudianto, 1999).
d. Penyapihan dan pemeliharaan
Apabila

perakarannya

telah

sempurna,

batang

cangkok dapat disapih dari pohon induknya dengan


cara memotong batang pada arah batang induknya.
Setelah itu ditanam pada polybag dengan ukuran
yang sudah disesuaikan dengan ukuran cangkoknya,
41

biasanya polybag berukuran diameter lebih dari 30


cm dan disimpan dibawah naungan untuk mencegah
respirasi berlebihan.

Cangkok dapat ditanam di

lapangan apabila tunas-tunas baru sudah tumbuh


dengan baik dan penampakan tanaman sudah sehat
(vigor).

(Foto : Danu, 2010)

Gambar 12. Teknik Cangkok

42

5. Kultur Jaringan
Kultur jaringan dikenal dengan sebutan Tissue
Culture. Sistem perbanyakan

dengan metoda kultur

jaringan ini menggunakan bagian jaringan atau organ


dari suatu tanaman yang ditanam secara suci hama (
steril ) di dalam ruangan maupun media khusus (in vitro)
dan akan menghasilkan tanaman dalam jumlah banyak
sampai ribuan dengan sifat yang sama dengan induknya.
Prinsip kerja kultur jaringan ini adalah prinsip totipotensi
yaitu sebuah sel atau jaringan dapat tumbuh menjadi
tumbuhan sempurna apabila ditanam pada media yang
tepat.
Dalam kegiatan kultur jaringan ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan yaitu pemilihan bahan tanaman
yang juvenil (muda), pH media, konsentrasi dan jenis zat
pengatur tumbuh yang akan digunakan, dan yang utama
adalah sterilisasi dari keseluruhan tahapan kerja.
a. Bahan tanaman (explant)
Pengaruh dari bahan tanaman terhadap keberhasilan
perbanyakan kultur jaringan antara lain adalah (Pierik,
1987):
43

1) Genotif. Ada perbedaan yang sangat luas dalam hal


kapasitas

regenerasi

Tanaman

dikotil

dari

secara

jenis-jenis
umum

lebih

tanaman.
mudah

beregenerasi dari pada tanaman monokotil, sedangkan


tanaman

gymnospermae

mempunyai

kapasitas

regenerasi yang sangat terbatas.


2) Umur tanaman. Jaringan embrionik mempunyai
kapasitas regerasi yang tingggi. Misalnya pada jenisjenis sereal, embrio dan benih seringkali dipakai
sebagai materi kultur jaringan. Untuk itu bahan kultur
jaringan yang digunakan adalah bahan yang juvenil.
3) Umur jaringan atau organ. Jaringan yang masih muda
dan lunak (tidak berkayu) biasanya lebih baik untuk
dikulturkan dari pada jaringan berkayu yang lebih tua.
4) Status fisiologis. Secara umum organ vegetatif
tanaman lebih mudah beregenerasi secara in vitro
daripada bagian generatif tanaman. Bagian tanaman
yang masih muda (juvenil) lebih mudah beregerasi
dari pada tanaman yang sudah tua.

44

5) Kondisi kesehatan jaringan. Jika tanaman dalam


kondisi sehat ketika proses isolasi, maka cenderung
akan lebih berhasil ketika jaringannya dikulturkan.
6) Posisi explant pada tanaman induk. Pucuk yang
berasal dari bagian atas tajuk tanaman memiliki
kemungkinan lebih kecil dalam pembentukan akarnya
daripada potongan yang berasal dari bagian bawah
tanaman.
Selain itu Pierik (1987) juga menyebutkan bahwa ada
faktor-faktor

lain

yang

berpengaruh

terhadap

keberhasilan kultur jaringan,antara lain: ukuran dari


eksplan,

pengaruh

perbedaan

tahun,

kondisi

pertumbuhan, dan luas pelukaan.


b. Media
Media yang digunakan mengandung garam mineral,
asam amino, gula, vitamin dan hormon tumbuh dan
biasanya ditambahkan agar-agar supaya bahan tanaman
(eksplan) dapat berdiri. Ada pula media cair tanpa
penambahan agar-agar, hal ini dibedakan sesuai dengan
tujuan produk yang akan dicapai.
45

c. Zat pengatur tumbuh (Hormon Tumbuh)


Hormon tumbuh (fitohormon) bermanfaat untuk
memacu terbentuknya jaringan tertentu dari sel-sel kalus
yang

belum

terdifferensiasi.

Dewasa

ini

dikenal

beberapa golongan zat yang temasuk hormon tumbuh,


yaitu auksin, giberelin, sitokinin, dan inhibitor serta
etilin. Efektifitas hormon tumbuh tergantung jenis dan
konsentrasi yang digunakan. Untuk pembentukan akar
dan perpanjangan tunas dapat digunakan hormon tumbuh
golongan auksin diantaranyan: Indole acetic acid (IAA),
Indole butryric acid (IBA), dan Naphthalena acetic acid
(NAA),

2,4-Dichorophenoxyacetic

acid

(2,4-D).

Sitokinin termasuk hormon yang dapat menyebabkan


pembelahan sel dan pertumbuhan tunas. Beberapa
senyawa yang termasuk golongan sitokinin diantaranya
adalah: purine, adenine, kinetin, 6-Benzylamino purine
(BA), Zeatin.

46

d. Sarana dan Kondisi lingkungan


Faktor-faktor
fisik
yang
berpengaruh
keberhasilan kultur jaringan adalah:

terhadap

1) Cahaya (komposisi dan lama pencahayaan).


setelah proses penanaman di dalam laminar air flow
selesai, seluruh botol kultur ditutup dengan rapat
dengan

menggunakan

alumunium

foil

dan

dipindahkan ke ruang kultur dimana suhu dan


pencahayaan harus diatur sedemikian rupa agar
prosesnya

pertumbuhan

berlangsung

dengan

optimum.
2) Temperatur biasanya pada jenis-jenis tropis suhu
dijaga pada 28-29 oc,
3) Kelembaban

udara

harus

dijaga

pada

ruang

pertumbuhan in vitro.
4) Ketersediaan air, oksigen, carbn dioksida,
5) Semua alat dan bahan yang digunakan harus steril
Sarana

harus

disterilisasi

untuk

mematikan

mikroorganisma yang menggangu, media disterilkan


dengan menggunakan autoclaf pada suhu 100 oc dan
tekanan 1 atmosfir selama 1 jam. Sterilisasi eksplan
47

dilakukan dengan cara merendam dengan alkohol,


natrium hypoclorit. Tempat penanaman (laminar air
flow) dilakukan dengan cara menyemprotkan alkohol
70% dan penyinaran dengan lampu uv selama 1 jam.
e. Tahapan pelaksanaan
Bahan tanaman dapat berupa bakal tunas, potongan
daun muda, batang muda disterilisasi menggunakan
alkohol atau larutan NaCl. Kemudian ditanam dalam
media agar-agar. Bakal tunas akan tumbuh beberapa
tunas baru, kemudian disubkultur sebagai

bahan

perbanyakan atau disubkultur ke media perakaran.


Sedangkan potongan daun muda atau potongan jaringan
lainnya akan tumbuh kalus, kemudian disub kultur ke
media pembentukan tunas, selanjutnya disubkultur lagi
ke media perakaran.
Media perakan dapat menggunakan media agar-agar
atau media pasir. Tahapan pengakaran tanaman hasil
kultur jaringan pada media pasir dapat dilakukan sesuai
dengan teknik pengakaran stek berukuran kecil (stek
mini).

48

f. Penyapihan dan pemeliharaan


Penyapihan bibit hasil kultur jaringan yang diakarkan
pada media pasir dapat dilakukan sesuai dengan teknik
penyapihan stek.
Penyapihan bibit hasil kultur jaringan yang diakarkan
pada media agar dapat dilakukan dengan cara: bibit
dibersihkan dari media agar dengan air mengalir,
kemudian disapih pada media pasir yang diberi sungkup
selama satu bulan. Selanjutnya sungkup dibuka secara
bertahap. Bila bibit sudah dapat menyesuaikan dengan
lingkungan kemudian disapih ke media persemaian.
Tahapan penyapihan dapat dilakukan sesuai dengan
teknik penyapihan stek.

49

IV. PEMELIHARAAN
A. Pemeliharaan
Pemeliharaan persemaian terdiri dari beberapa kegiatan :
1. Penyiraman
Cara penyiraman

yang biasa dikerjakan ialah

penyiraman dengan tangan, yaitu


menggunakan gembor, dilakukan 2 kali setiap hari,
pada pagi hari (sekitar pukul 06-08) dan sore hari
(sekitar pukul 15.00-17.00) . Penyiraman harus
dilakukan hati-hati, terutama di bedengan/bak untuk
menghindari agar kecambah yang masih lemah tidak
rusak.
2. Penyiangan
Penyiangan

ialah

menghilangkan

rumput

atau

tumbuh-tumbuhanlain (liar) yang tidak diinginkan


tumbuh bersama semai maupun di sela sela polybag.
Tujuannya ialah membebaskan semai dari persaingan
dengan tumbuhan liar dalam hal memperoleh cahaya,
udara, airdan unsur-unsur hara.

50

3. Pemupukan
Pemupukan dilakukan pada umur 1 bulan setelah
penyapihan dengan menggunakan pupuk NPK, dan
diulang pada umur 2 bulan, dengan dosis 2 gr per
bibit.
4. Pewiwilan
Pewiwilan dilakukan setelah tinggi bibit minimal 20
cm dengan membuang daun-daun tua, kering, busuk,
atau berpenyakit, dan sisakan 3 pasang daun teratas.
5. Pemotongan
Pemotongan akar rutin dilakukan agar akar tidak
keluar dari polybag dan menembus ke

dalam tanah.

Pemotongan terakhir minimal 1-2 minggu sebelum


bibit didistribusikan.
6. Jarak
Jarak antar bibit perlu dijarangkan apabila antar bibit
sudah saling bersinggungan atau daunnya saling
menutupi.
7. Penyulaman
Penyulaman apabila ada bibit yang mati atau hampir
seluruh bagian tanaman terserang hama, penyakit.
51

8. Pemberantasan hama dan penyakit


Beberapa jenis hama dan penyakit yang biasa
menyerang bibit di persemaian adalah sebagai berikut :
a. Ulat penggulung daun,
-

Disebut

demikian

karena

ulat

dewasa

menghubungkan dua sisi daun sehingga daun


menggulung seperti

tabung

panjang. Tabung

tersebut digunakan untuk tempat tinggalnya


sambil memakan jaringan daun bagian bawah.
Pada gulungan daun tersebut ulat terlindungi oleh
benang-benang sutera serta kotoran.
-

Pengendalian menggunakan insektisida berbahan


aktif permetrin dan BPMC atau insektisda hayati
berbahan aktif Bacillus thuringiensis.

52

(Foto : Illa A, 2009)

Gambar 13. Serangan hama penggulung daun

b. Kutu putih
-

Dapat menarik fungi embun jelaga yang tumbuh


pada embun madu yang dihasilkannya. Hama ini
pemakan segala tanaman (polifag).

Kutu mengisap cairan tanaman sehingga tanaman


menjadi lemah dan pertumbuhannya terhambat.
Bahkan kutu daun ini sebagai perantara dari virus
yang

menyebabkan

daun

mengeriting

dan

menggulung.
53

Pengendalian kutu daun dapat menggunakan


insektisida sistemik yang mengandung senyawa
organophospor. Dapat juga menggunakan cuka
kayu (wood venegar) yang dicampur dengan
insektisida

hayati

berbahan

aktif

Bacillus

thuringiensis dengan perbandingan (80 : 20),


untuk membuat volume 10 liter diperlukan cuka
kayu 8 x 40 cc = 320 cc sedangkan .
thuringiensisnya 2 x 4 gram = 8 gram.

(Foto : Illa A, 2009)

Gambar 14. Bentuk kutu putih pada daun


54

c. Penyakit embun tepung


-

Sangat mudah diketahui karena adanya lapisan


putih seperti tepung di atas permukaan daun atau
bagian tanaman lain yang terserang. Daun-daun
yang terserang hebat mengalami perubahan
bentuk (malformasi) menjadi mengkerut, keriting
atau bergelombang, daun menjadi kering dan
akhirnya rontok sebelum waktunya. Penyebab
penyakit embun tepung adalah fungi Oidium sp.

Pengendalian

dapat

dilakukan

dengan

menggunakan fungisida berbahan aktif benomil


dan triadimenol.

(Foto : Illa A, 2009)

Gambar 15. Penyakit embun tepung


55

d. Penyakit bercak daun


-

gejala diawali dengan munculnya bercak nekrosis


di tepi daun. Penyebab penyakit bercak adalah
fungi

Cylindrocladium sp. Fungi mempunyai

hifa bersekat. Hifa membentuk konidiofor yang


pada ujungnya bercabang dan menghasilkan
konidia
berbentuk

sebagai

spora

vegetatif.

Konidia

silindris dan bersekat. Fungi dapat

membentuk spora yang berdinding tebal

yang

disebut klamidospora.
-

Pengendalian

penyakit

dapat

menggunakan

fungisida berbahan aktif mankozeb, benomil,


dan belerang atau dapat langsung menggunakan
tepung belerang

yang dihembuskan pada

permukaan tanaman yang terserang.

56

(Foto : Illa A, 2009)

Gambar 16.Gejala penyakit bercak daun Cylindrocladiium sp.

57

e. Penyakit virus penggulung daun


-

Penyakit ini umumnya menyerang pucuk daun


muda. Gejala dan tanda penyakit sangat jelas
terlihat karena daun yang terserang menggulung
dan memutar atau memilin. Penyakit virus ini
mengakibatkan

tanaman

pertumbuhannya

terhambat bahkan kerdil. Penyebaran penyakit ini


umumnya oleh kutu daun, bila kutu tersebut
memakan/mingsap tanaman maka virus akan
terbawa dan keluar lagi apabila kutu tersebut
menisap tanaman yang sehat.
-

Pengendalian

penyakit

adalah

dengan

cara

mengendalikan vektornya (kutu) terlebih dahulu


dengan inseksida. Bila terlihat gejala daun
mengeriting dan

menggulung maka segeralah

bagian tersebut dipotong dan dimusnahkan agar


tidak menular.

58

(Foto : lla A, 2009).

Gambar 17. Gejala penyakit yang disebabkan oleh virus


penggulung daun
59

V. AKLIMATISASI DAN PENGANGKUTAN BIBIT


A. Aklimatisasi
Sebelum dipindah ke lapangan, bibit perlu diadaptasi
selama 3-4 minggu untuk menyesuaikan dengan kondisi
di lapangan dengan cara membuka naungan secara
bertahap dari 50 % , 30 % sampai terbuka, mengurangi
penyiraman serta menjarangkan jarak antar bibit.

60

(Foto, Rina dan Dede, 2009)

Gambar 18. Bibit jati yang belum diaklimatisasi (kiri) dan


sudah diaklimatisasi (kanan)

B. Pengangkutan Bibit
Pengangkutan bibit merupakan pekerjaan pemindahan
bibit dari persemaian ke lokasi penanaman.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengangkutan
bibit:
Bibit yang akan diangkut terlebih dahulu harus disiram
Jumlahnya harus sesuai dengan tata waktu penanaman
61

Pengangkutan hendaknya dilakukan pagi hari atau sore


hari
Bila perjalanan terlalu lama agar tetap dijaga
kelembabannya
Untuk pengangkutan dalam jumlah banyak dianjurkan
memakai rak
C. Ciri Bibit Yang Baik
Kegiatan terahir dari pembuatan bibit adalah seleksi
bibit sebelum diangkut ke lapangan. Seleksi ini bertujuan
untuk memilih bibit yang baik dan memenuhi syarat untuk
ditanam di lapangan. Ciri bibit yang baik adalah :
- Batang kokoh, berkayu berwarna kecoklatan
- Batang tunggal, tumbuh tegak, antara diameter dan
tinggi tampak seimbang.
- Pucuk sehat, daun segar dan tidak terserang hama atau
penyakit.
- Media porus dan akarnya kuat mengikat media. Jika
bibit dicabut dari polybag maka media dan akar akan
membentuk gumpalan yang utuh (kompak).

62

Supriadi & Valii, (1988) membagi kekompakan media


menjadi 4 kelas seperti yg tercantum dalam Tabel 4.
Tabel 4. Kelas kekompakan media
Kelas kekompakan
media
Utuh

Retak

Patah

Lepas

Uraian/pengertian
Bila bibit dicabut dari potnya/
polybag, media dan akar
membentuk gumpalan yang
kompak, padat dan utuh 100%
Bila bibit dicabut dari potnya/
polybag, terdapat bagian media
yang retak dan media yang
terikat/menempel pada akar bibit
> 70%.
Bila bibit dicabut dari potnya/
polybag, terdapat bagian media
yang retak dan patah mengelilingi
media terbelah dua media yang
menempel pada akar 50% - 70%.
Bila bibit dicabut dari potnya/
polybag, terdapat bagian media
yang menempel pada akar <
30%.

Keterangan
Pilihan utama

Pilihan kedua

Belum siap tanam


dan perlu pemeliharaan lagi di persemaian
Belum siap tanam
dan perlu pemeliharaan lagi di persemaian

63

(Foto : Rina, 2009)

Gambar 19. Contoh Bibit yang Baik

64

IV. ANALISIS BIAYA


A. Biaya Produksi bibit
Bibit tanaman bermutu merupakan salah satu faktor
produksi dari suatu indutri hutan tanaman. Bibit bermutu
dengan harga murah sangat menentukan keberhasilan
dan keutungan suatu usaha penanaman hutan. Untuk
menyediaakan bibit tersebut diperlukan persemaian yang
memadai dan memerlukan biaya cukup besar. Pengadaan
bibit dapat dilakukan melalui persemaian permanen dan
persemaian sementara. Persemaian permanen umumnya
secara fisik berbentuk persemaian modern. Persemaian
ini dapat memproduksi bibit dalam jumlah besar dan
seragam secara serentak, sehingga persemaian ini
bekerja secara mekanis menggunakan peralatan yang
modern. Persemaian sementara biasanya dibangun
dilokasi

penanaman.

Jangka

waktu

penggunaan

persemaian ini paling lama 5 tahun, bibit yang dihasilkan


relatif sedikit, banyak menggunakan tenaga kerja
manusia.

65

Kebutuhan biaya persemaian meliputi 1) biaya


bangunan, 2) tenaga kerja, 3) sarana pengairan, 4) benih,
5) media, 6) wadah bibit, dan 7) peralatan lainnya.
1. Bangunan
Pengadaan bangunan persemaian membutuhkan biaya
yang paling besar (Tabel 7). Bangunan persemaian
terdiri atas: lahan, shading house, Kantor, workshop,
gudang, area jemur benih, resovoir air, meja
kecambah, bedengan, meja bibit, pot-tray, peralatan
system irigasi, dan peralatan operasional lainnya.
2. Tenaga Kerja
Kebutuhan tenaga kerja tergantung pada volume dan
tahapan

pekerjaan.

Jumlah

tenaga

kerja

yang

dibutuhkan dihitung dari kemampuan seseorang untuk


mengerjakan pekerjaan tersebut, misalnya pengisian
polybag :
- Jumlah polybag yang harus diisi 500.000 buah.
- Kemampuan orang mengisi polybag 500 buah/ hari /
orang
- Untuk menyelesaikan 500.000 polybag dibutuhkan
500.000 : 500 =1000 HOK
66

- Apabila pengisian polybag itu harus selesai dalam


25 hari, maka tenaga yang

dibutuhkan adalah

1000 : 25 = 50 orang
- Biaya yang dibutuhkan untuk pengisian polybag :
50 orang x 25 hr x upah setempat
3. Sarana pengairan
Penyiraman persemaian sementara (jumlah bibit
kurang dari 50.000) dapat dilakukan dengan gembor.
Sedangkan pada persemaian permanen (jumlah bibit
lebih

dari

50.000)

dapat

digunakan

pompa

penyiraman otomatis atau dengan cara sprinkle


(penyiraman lewat sprayer yang dapat berputar seperti
air mancur).
4. Benih
Kebutuhan benih untuk suatu persemaian tergantung
pada beberapa faktor :
a. Jumlah bibit yang akan dihasilkan
b. Persen kecambah benih
c. Persen tumbuh semai
d. Jumlah benih per kg

67

Jumlah benih yang dibutuhkan = -------------- x kg


axbxcxd
Misal : Bibit yang akan dihasilkan 500.000 bibit
Persen kecambah 80 %
Persen tumbuh 70 %
Jumlah benih per kg 50.000 butir
500.000
Jumlah benih yang dibutuhkan = -------x kg= 17,85 kg
80/100 x 70/100 x 50.000
Biaya untuk pengadaan benih sama dengan jumlah
benih yang dibutuhkan dikalikan dengan harga benih.

5. Media
Umumnya media yang digunakan adalah tanah.
Namun penggunaan tanah yang terus menerus dan
dalam jumlah yang besar akan merusak lingkungan.
Oleh karena itu penggunaan bahan organik sebagai
bahan pencampur tanah sangat dianjurkan. Beberapa
bahan organik yang dapat digunakan sebagai media
pembibitan diantaranya arang sekam padi, serbuk
sabut kelapa,serbuk gergaji dsb. Kandungan hara
beberapa bahan organik yang dapat dijadikan media
persemaian tercantum pada Tabel 5.
68

Tabel 5. Kandungan hara beberapa jenis bahan organik


Media
Tanah
Sabut kelapa
Arang sekam padi
Sabut kelapa + Arang
sekam padi
Tanah + Sabut kelapa
Tanah + Arang sekam
padi
Tanah + Sabut kelapa
+ Arang sekam padi
Sabut kelapa sawit
Sekam padi
Sabut kelapa sawit +
Sekam padi
Tanah + Sabut kelapa
Sawit + Sekam padi
Serbuk gergaji
Serbuk gergaji +
Sabut Kelapa
Gambut
Gambut + Sabut
Kelapa
Gambut + Serbuk
gergaji

PH
(H2O)
5,6
5,9
7,73

C
%
3,36
35,03
1,5

N
%
0,33
1,93
0,11

K
C/N
mg/100gr
%
19
10,18
182
18,15
0,24
13,64

0,91

P
mg/100gr
137
41
26,97
ppm
184

6,4

17,7

39

19,45

5,1
5,8

4,71
4,69

0,24
0,34

129
136

31
78

19,63
13,79

5,9

5,11

0,73

209

106

7,00

5,1
5,3
4,56

26,55
19,27
34,95

2,32
1,82
1,78

1313,4
1558,56
1418,07

384,4
1007,7
422,2

11,44
10,59
19,63

4,57

19,17

1,28

1171,35

170,76

14,98

5,23
5,07

3,99
32,1

0,42
0,58

19,71
-

5,09
-

9,50
55,34

5,04
4,97

4,72
9,27

0,5
1,03

10,54
24,75

10,88
21,76

9,44
9,00

6,61

5,64

0,48

29,8

18,52

11,75

Sumber : Hendromono, 1994; Durahim dan Hendromino,


2001; Kurniaty et al, 2006

69

Biaya pembuatan media dari beberapa bahan organik


tersebut dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Biaya dan berat media dari beberapa macam
bahan organik
Media
Tanah
Sabut kalapa
Arang sekam padi + sabut kalapa
(1:1,v/v)
Tanah+sabut kalapa (1:1,v/v)
Tanah + arang skm padi (1:1,v/v)
Tanah+sabut kelapa+arang sekam padi
( 1:1:1, v/v)

Ukuran 14 x 20
cm
Biaya Berat
(Rp)
(gr)
223,5
807
274
435
303
426

Biaya
(Rp)
82
92
87,5

296
146
123

367,5
272
206,5

95
82
68,5

187
196
191

724
650
576

Ukuran 10 x 15 cm
Berat
(gr)

Sumber : Kurniaty dkk, 2006

6. Wadah bibit
Ada beberpa macam wadah bibit

yang dapat

digunakan, diantaranya adalah polybag dan polytube.


Jumlah dan biaya

yang dibutuhkan dari masing

masing wadah bibit dapat dihitung sebagai berikut :


a. Kantong plastik/polybag
N + (N x Ns)
Jumlah polybag yang dibutuhkan =--------x kg
Jumlah polybag/kg
70

N = Jumlah bibit yang harus dihasilkan


Ns = persen kerusakan polybag
Misal : Jumlah bibit yang harus dihasilkan 500.000 bibit
Persen kerusakan polybag 10 %
Jumlah polybag per kg 500 lembar
500.000 + (500.000x10/100)
Jumlah polybag yang dibutuhkan = -----x kg = 1100 kg
500
Biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan polybag =
1100 x harga polybag
b. Polytube
Harga Polytube ukuran 5 x 5 cm (45 tube per tray) :
Rp 135.000
Apabila bibit yang harus dihasilkan 500.000 batang,
Diperlukan 500.000/45 = 11.111 tray,
Biaya yang dibutuhkan untuk 500.000 bibit adalah
11.111 x Rp 135.000= Rp 1.499.985.000
7. Peralatan lainnya
Biaya pengadaan peralatan berupa cangkul, sabit,
ayakan, ember, gerobak, sapu lidi, gembor, sprayer
dan sebagainya tergantung lokasi persemaian tersebut.
71

B. Contoh Analisis biaya persemaian


1. Persemaian permanen
Biaya persemaian permanen seluas satu hektar
memerlukan biaya bangunan Rp. 7,326,700,000,
dengan waktu penggunaan selama 10 tahun (Tabel
7), sehingga setiap tahun terhitung sebesar Rp.
1,427,290,000,-.

Biaya

operasional

tetap

Rp.

209,300,000 per tahun (Tabel 8), dan biaya


opreasional tidak tetap Rp. 85,100,000,- per tahun
(Tabel 9). Dengan demikian biaya per tahun sebesar
Rp. 1,721,690,000,-. Jumlah ini berdasarkan satuan
harga tahun 2010 (Subiakto, 2010).
Tabel 7. Biaya bangunan
1
2
3
4
5
6
7
8

Kelompok Biaya
Investasi
Pengadaan
lahan
Shading house
(15 x 10 m)
Kantor (5 x 10
m)
Workshop (5 x
10 m)
Gudang (5 x 10
m)
Area jemur biji
(15 x 20 m)
Reservoir air (15
x 20 m)
Meja kecambah

Unit

Jumlah

Harga/unit

Biaya (Rp)

Biaya/Tahun

Umur
(TH)
-

Ha

Unit

Unit

135.000.000

135.000.000

10

13.500.000

Unit

45.000.000

45.000.000

10

4.500.000

Unit

45.000.000

45.000.000

10

4.500.000

Unit

45.000.000

45.000.000

10

4.500.000

Unit

18.000.000

18.000.000

10

1.800.000

Buah

30

60.000.000

60.000.000

10

6.000.000

72

Kelompok Biaya
Investasi

Unit

Jumlah

Bak kecambah

Buah

360

10

m2

7500

m2

7500

12

Bahan
konstruksi
persemaian
Upah konstruksi
persemaian
Batu split

Truk

190

13

Meja bibit

Buah

1176

14

Pot-tray isi 45
tube
Peralatan sistim
irigasi
Upah
pemasangan
sistim irigasi
Konstruksi jalan
& parkir
Shading net

Set

Peralatan
operasional
Jumlah biaya
Investasi

11

15
16
17
18
19

Unit

23,520
1

Unit/ha

m2

2000

meter

7500

Unit

Harga/unit

Biaya (Rp)

Biaya/Tahun

21.000.000

Umur
(TH)
5

700.000
30.000

10.800.000

5.400.000

300.000

2.250.000.000

10

225.000.000

30.000

65.000.000

10

6.500.000

900.000

171.000.000

34.200.000

700.000

823.200.000

164.640.000

135.000

3.175.200.000

793.800.000

80.000.000

80.000.000

20.000.000

25.000.000

25.000.000

6.250.000

150.000

300.000.000

100.000.000

5.000

37.500.000

12.500.000

20.000.000

20.000.000
7.326.700.000

20.000.000
1.427.290.000

bulan

total
gaji/upah

4.200.000

Tabel 8. Biaya operasional tetap


No.
1

Jenis

Unit

Jumlah

upah/bulan

- Supervisor

Orang

2.500.000

12

30.000.000

- Staf adminisrasi

Orang

800.000

12

9.600.000

- Teknisi

Orang

16

800.000

12

53.600.000

Gaji

Kesejahteraan
- Supervisor

Orang

2.500.000

73

No.

Jenis

Unit

Jumlah

upah/bulan

bulan

- Staf administrasi

Orang

800.000

- Teknisi

Orang

16

800.000

total
gaji/upah
2.500.000
800.000
12.800.000

Jumlah biaya tetap

209.300.000

Tabel 9. Biaya operasional tidak tetap


No.

Jenis

satuan

Volume

Harga

Total

Biaya per

harga

tahun

Kompos (optional)

ton

40

1.000.000

40.000.000

40.000.000

Benih

paket

2.000.000

4.000.000

4.000.000

Pupuk (3 gr/bibit)

Kg

1100

5.000

5.500.000

5.500.000

Listrik

Kwatt

Sekam padi

ton

Air

M3

Administrasi

top-soil

Transportasi

6.000.000

Jumlah biaya tidak tetap

85.100.000

2.400.000
40

200.000

8.000.000

8.000.000
9.000.000
7.200.000

Ton

20

150.000

3.000.000

74

3.000.000

Besarnya harga dasar bibit setiap satuan bibit dapat


ditentukan oleh banyaknya bibit yang diproduksi.
Besarnya jumlah bibit yang dihasilkan tergantung pada
ukuran bibit yang dihasilkan. Satuan harga bibit
ditentukan oleh ukuran wadah media semai. Contoh
biaya investasi pembibitan seluas satu hektar (Subiakto,
2010) :
a. Wadah bibit : Polytube ukuran 5 x 5 cm (45 tube/tray)
Jumlah bibit : 1176 meja x 20 tray x 45 tube =
1.058.400 bibit
Tabel 10. Biaya produksi bibit untuk polytube ukuran
5 x 5 cm
1

Biaya Investasi

Rp

1.427.290.000

Biaya operasional tetap

Rp

209.300.000

Biaya opersional tidak tetap

Rp

85.100.000

Total biaya

Rp

1.721.690.000

Produksi bibit

Bibit

1.058.400

Biaya produksi per satuan bibit

Rp

1.626,69

b. Wadah bibit : Polytube ukuran 3,5 x 3,5 cm (80


tube/tray)
Jumlah bibit per Ha : 1.176 meja x 20 tray x 80 tubes
= 1.881.600 bibit
75

Tabel 11. Biaya produksi bibit untuk polytube ukuran


3,5 x 3,5 cm
1

Biaya Investasi

Rp

1.809.490.000

Biaya operasional tetap

Rp

302.900.000

Biaya opersional tidak tetap

Rp

158.800.000

Total biaya

Rp

2.271.190.000

Produksi bibit

Bibit

1.881.600

Biaya produksi per satuan bibit

Rp

1.207,05

c. Wadah bibit : Polytube ukuran 9 x 9 cm (15 tube/tray)


Jumlah bibit : 1176 meja x 20 tray x 15 tube =
352.800 bibit
Tabel 12. Biaya produksi bibit untuk ukuran polytube
9 x 9 cm
1

Biaya Investasi

Rp

1.068.610.000

Biaya operasional tetap

Rp

146.900.000

Biaya opersional tidak tetap

Rp

98.340.000

Total biaya

Rp

1.313.850.000

Produksi bibit

Bibit

52.800

Biaya produksi per satuan bibit

Rp

3.724,06

2. Persemaian Sementara
Persemaian sementara umumnya dibangun di lokasi
penanaman.

Persemaian

sementara

dibangun

menggunakan bahan-bahan yang terdapat di lokasi.


76

Setiap

hektar

dapat

dibuat

1.176

bedeng.

Bila

menggunakan wadah bibit dengan polybag ukuran 15 x


20 cm dapat menghasilkan 300 bibit/bedeng. Dengan
demikian jumlah produksi bibit per hektar sebanyak :
1176 bedeng x 300 kantong = 352.800 bibit.

Biaya

persemaian sementara hanya terdiri atas biaya tidak tetap


(Tabel 13).
Tabel 13. Biaya produksi bibit pada persemaian
sementara
No.
1
2
3
4
5

Jenis

Satuan Vol

Kompos
(optional)
Benih

Ton

36

paket

Pupuk
(3 gr/
bibit)
Polybag

Kg

110
0

Kg

117
6
36

Sekam
padi
6
Top-soil
7
Shading
net
8
Bambu
9
Lain2
Jumlah
Biaya per Bibit

Ton
Ton
Meter

36
750
0
Batang 500

Harga

Total harga

2.000.000

Umur Biaya per


tahun
(Rp)
36.000.00
0
2.000.000

1.000.0
00
2.000.0
00
5.000

36.000.000

5.500.000

5.500.000

15.000

17.640.000

200.000

7.200.000

17.640.00
0
7.200.000

150.000
5.000

5.400.000
37.500.000

10.000

5.000.000

5.400.000
12.500.00
0
5.000.000
2.000.000
93.240.000
264.29

77

DAFTAR PUSTAKA
Anonimus.
2008.
Nyamplung
(Calophyllum
inophyllum). Sumber Energi Biofuel Yang
Potensial. Badan Penelitian Dan Pengembangan
Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.
Djaman, F.D.; Danu, A.A. Pramono. 2003. Kajian
Kriteria perbanyakan tanaman hutan secara
vegetatif. Balai Litbang Teknologi Perbenihan.
Bogor.
Durahim dan Hendromono. 2001. Kemungkinan
Penggunaan Limbah Organik Sabut Kelapa Sawit
dan Sekam Padi Sebagai Campuran Top Soil
Untuk Mikoriza Pertumbuhan Bibit Mahoni
(Swietenia macrophylla King). Buletin Penelitian
Hutan no.628.Hal.13-26.
Hartmann, H.T., Kester, D.E. and Davies, Jr.F.T. 1990.
Plant Propagation, Principles and Practices. Fifth
edition. Prentice-Hall Inc. New Jersey.
Hendromono.1994. Pengaruh Media Organik dan
Tanah Mineral Terhadap Mutu Bibit Pterygota
alata Roxb. Buletin Penelitian Hutan no.617 : 5564.
Kurniaty, R. Budi Budiman dan Made Suartana. 2006.
Teknik Pembibitan
Tanaman Hutan Secara
Generatif. Laporan Hasil Penelitian (LHP). Balai
Penelitian
dan
Pengembangan
Teknologi
Perbenihan Bogor.
Longman, K. A. 1993. Rooting Cuttings of Tropical
Trees. Tropical Trees: Propagation and Planting
78

Manuals. Vol I. Commonwealth Science Council.


London.
Nugroho A. dan H. Sugito. 2002. Pedoman Pelaksanan
Teknik Kultur Jaringan. Penebar Swadaya.
Cetakan IV. Jakarta.
Pierik. R.L.M. 1987. In Vitro Culture of Higher Plants.
Martinus
Nijhoff
Publisher.
Dordrecht.
Netherlands.
Pramono, A. A. 2003. Produksi Bibit Benuang
(Octomeles Sumatrana ) dari Stek. Leaflet. Balai
Litbang Teknologi Perbenihan. Bogor.
Pramono, A.A., Danu, H.D.P. Kartiko. 2002. Rumah
Perakaran Stek ADH-1: Teknik Pembuatan,
Kondisi Lingkungan dan Perakaran Stek Yang
Dihasilkan. Tekno Benih Vol 7 (1): 46-52. balai
Penelitian
dan
Pengembangan
Teknologi
Perbemihan. Bogor.
Rahardja, P.C. 1988. Kultur Jaringan: Teknik
Perbanyakan Tanaman Secara Moderen. Penebar
Swadaya. Cetakan II. Jakarta.
Rusmana dan Danu, 2012. Teknik Produksi Bibit
Tanaman Kehutanan. Materi Pelatihan Persemaian.
Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru.
Shakai, C. Y Yamamoto, Hendromono, D Prameswari,
A Subiakto. 1995. Sistem Pendingin Dengan
Pengkabutan
Pada
Pembiakan
Vegetatif
Dipterocarpaceae. Buletin Penelitian Hutan No.
588. Bogor
Subiakto, A. 2010. Analisa biaya Pembuatan Persemaian
Modern. Bahan Rapat Persemaian Modern.
79

Supriadi G & Vall, I. 1988. Manual Persemaian


ATA267.
Balai
Teknologi
Reboisasi
Banjarbaru. Penerbitan No. 52.
Tolkamp dan Leppe, 2002. Pembangunan Kebun
Pangkas. Manual Persemaian Dipterocarpaceae.
Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen
Kehutanan - Tropenbos International SFMF
(GTZ) APHI - IFSP (Danida). Jakarta.
Wudianto, R. 1999. Membuat Setek, Cangkok dan
Okulasi. Penebar Swadaya. Cetakan XIII. Jakarta.
Yasman, I. dan W.T.M. Smits, 1988. Metoda Pembuatan
Stek Dipterocarpaceae. Edisi Khusus (03). Balai
Penelitian Kehutanan. Samarinda.

80