Anda di halaman 1dari 6

A.

Definisi dan Tujuan Usaha Tani


Pertanian merupakan suatu kegiatan menghasilkan produk yang dihasilkan dari
kegiatan budidaya yang kegiatannya bergantung dengan alam. Kegiatan pertanian juga
dilakukan atas dasar ekonomi, yang dimana tujuannya adalah untuk mencukupi
kebutuhan para pelakunya. Suatu kegiatan yang dilakukan dalam bidang pertanian guna
memenuhi kebutuhan pelakunya biasa disebut dengan usahatani.
Kadarsan (1993) dalam Isaskar (2012) mengemukakan bahwa usahatani adalah
suatu tempat dimana seseorang atau sekumpulan orang berusaha mengelola unsur-unsur
produksi seperti alam, tenaga kerja, modal dan keterampilan dengan tujuan berproduksi
untuk menghasilkan sesuatu di lapangan pertanian.
Setiap kegiatan yang dilakukan pastilah memiliki tujuan, termasuk kegiatan
usahatani. Tujuan kegiatan usahatani adalah untuk memperbesar penghasilan pelaku
usaha tani guna memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya. Petani selalu
memperhitungkan untung-ruginya dari setiap kegiatan usahataninya meskipun tidak
secara tertulis. Hal tersebut dilakukan guna mencapai tujuan dari usahatani yang
dilakukannya. Dalam ilmu ekonomi dikatakan bahwa petani membandingkan antara hasil
yang diharapkan akan diterima pada waktu panen (penerimaan, revenue) dengan biaya
(pengorbanan, cost) yang harus dikeluarkan.
Kegiatan usaha tani terbagi berdasarkan pola dan tipenya. Terdapat dua macam
pola usahatani, yaitu lahan basah dan lahan kering. Sedangkan tipe usahatani
menunjukkan klasifikasi tanaman yang didasarkan pada macam dan cara penyusunan
tanaman yang diusahakan. Contohnya usahatani padi dan usahatani palawija (cerealia,
umbi-umbian, jagung).
Bentuk usahatani dapat dibedakan atas penguasaan faktor produksi oleh petani.
Terdapat 2 faktor pembeda, yaitu:

Perorangan
Faktor produksi dimiliki atau dikuasai oleh seseorang, maka hasilnya juga akan
ditentukan oleh seseorang

Kooperatif
Faktor produksi dimiliki secara bersama, maka hasilnya digunakan dibagi
berdasar kontribusi dari pencurahan faktor yang lain.

Kegiatan usahatani memiliki struktur yang menunjukkan bagaimana suatu


komoditi diusahakan. Cara pengusahaan dapat dilakukan secara khusus (1 lokasi), tidak
khusus (berganti-ganti lahan atau varietas tanaman) dan campuran (2 jenis atau lebih
varietas tanaman, misal tumpangsari dan tumpang gilir). Ada pula yang disebut dengan
Mix Farming yaitu manakala pilihannya antara dua komoditi yang berbeda polanya,
misalnya hortikultura dan sapi perah. Pemilihan khusus atau tidak khusus ditentukan oleh

Kondisi lahan

Musim/iklim setempat

Pengairan

Kemiringan lahan

Kedalaman lahan

B. Sejarah Usaha Tani


Kegiatan usahatani di Indonesia memiliki sejarah dan perkembangannya. Pada
awalnya, pertanian di Indonesia menganut sistem berpindah-pindah. Masyarakat
menanam apa saja dan orientasinya hanya untuk memenuhi kebutuhan pangannya
sendiri. Kemudian muncul sistem persawahan, orang mulai tinggal tetap disuatu lokasi
yang dikenal dengan nama kampong walaupun usaha tani persawahan sudah dimulai,
namun usaha tani secara berladang yang berpindah-pindah belum ditinggalkan
Indonesia yang dikenal akan tanahnya yang subur mulai dijajah oleh bangsa Belanda
yang biasa disebut dengan VOC. Sejak VOC menguasai di Batavia, mulailah dilakukan
penjualan atau pemberian tanah yang luas oleh VOC kepada pihak-pihak yang berjasa
kepada Belanda. Pada pemerintahan Belanda, kebijakan pertanian bukan untuk tujuan
memajukan pertanian di Indonesia, melainkan hanya untuk memperoleh keuntungan
sebesar-besarnya bagi VOC. VOC menentukan perdagangan monopoli, hanya dengan
VOC-lah rakyat boleh berdagang. Apalagi pada saat ada gerakan tanaman kopi paksa
oleh VOC terhadap penduduk, di Jawa Barat hingga tahun 1921.
Para penjajah disini mengincar sumberdaya alam yang melimpah di Indonesia,
terutama pada bagian komoditas ekspor. Tanam paksa yang diterapkan oleh VOC
menimbulkan berbagai kerugian dan kemiskinan bagi rakyat pribumi. Tanah pertanian

ditinggalkan karena paksaan menjadi kuli kontrak. Tidak hanya itu, demi menutupi
kejahatannya, perusahaan swasta pun diikutsertakan sebagai dalih untuk meningkatkan
daya beli penduduk pribumi. Maka tidaklah mengherankan, bahwa perusahaan
perkebunan ini memperoleh keuntungan yang luar biasa besarnya. Petani-petani
Indonesia hanyalah buruh dengan upah yang sangat rendah. Hal berlangsung terus hingga
zaman penjajahan berakhir.
Setelah Indonesia merdeka, maka kebijakan pemerintah terhadap pertanian tidak
banyak mengalami perubahan. Petani penggarap atau petani bagi hasil tidak dengan
mudah menentukan tanaman yang akan ditanam dan budidaya terhadap tanamannya pun
tak berkembang. Hingga pada tahun 1970-an pemerintah Indonesia meluncurkan suatu
program pembangunan pertanian yang dikenal secara luas dengan program Revolusi
Hijau. Tujuan utama dari program tersebut adalah meningkatkan produktivitas sektor
pertanian. Dampak dari revolusi hijau ini sangatlah berpengaruh terhadap petani karena
diterapkan kurang lebih 20 tahun. Perubahan sikap petani sangat berpengaruh terhadap
kenaikan produktivitas sub sektor pangan sehingga Indonesia mampu mencapai
swasembada pangan.
Meski swasembada pangan merupakan pencapaian yang baik di Indonesia, namun
menimbulkan banyak dampak negatif bagi lingkungan yang hingga saat ini masih kurang
dalam penanganannya. Hal ini dapat disebabkan oleh prinsip revolusi hijau yang telah
tertanam di benak petani yang mengaruskan penggunaan varietas unggul, pemberian
pupuk anorganik dan pemberian pestisida yang tidak sesuai dosis. Tak hanya itu,
pengolahan yang berhubungan dengan lingkungan pun kerap dilupakan oleh petani
dikarenakan hanya berfokus pada hasil produksi saja.
Pada tahun 1998 usahatani di Indonesia mengalami keterpurukan karena adanya
krisis multi-dimensi. Pada waktu itu telah terjadi perubahan yang mendadak bahkan
kacau balau dalam pertanian kita. Subsidi pertanian juga dicabut dan tarif impor komoditi
khususnya pangan dipatok maksimum 5%. Infrastruktur pertanian pedesaan khususnya
irigasi banyak yang rusak karena biaya pemeliharaan tidak ada. Tidak hanya itu, akibat
kerusuhan, jaringan distribusi bahan pangan dan sarana produksi pertanian lumpuh.
Kredit untuk petani ditiadakan, harga pupuk melambung dikarenakan pencabutan subsidi.
Perubahan mendadak waktu itu, tidak memberi waktu bagi para petani untuk

menyesuaikan diri. Sehingga PDB pertanian mengalami pertumbuhan rendah, yaitu


hanya sebesar 0,88 persen (terendah sepanjang sejarah) (Saragih, 2004). Hal tersebut
membuat departemen pertanian mengambil keputusan untuk melindungi sektor agribisnis
yaitu pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan,
berkelanjutan dan terdesentralisasi. Akibat dari kondisi dan perubahan yang ada adalah
persoalan sistem, maka untuk melakukan pembangunan kembali landasan pertanian harus
dilakukan melalui sistem agribisnis. Sistem agribisnis ini menerapkan suatu prinsip
kebijakan dimana pemerintah memfasilitasi dan membantu tumbuh kembangnya usaha
agribisnis khususnya petani di seluruh daerah dan sekaligus melindungi agribisnis
domestic dari praktek unfair-trade (dumping) dari negara lain.
C. Peran Lembaga Joglo Tani dalam Pengembangan Padi Organik
Banyak kemudahan yang dicapai oleh pertanian modern ternyata berpengaruh
pada sikap dan mental petani yang dapat menciptakan budaya instan. Para petani
konvensional beranggapan apabila melakukan budidaya secara organic ada banyak
kesulitan yang dihadapi, petani belum memiliki pengetahuan untuk memahami
permasalahan mereka dan memilih pemecahan masalah paling tepat untuk mencapai
tujuan yang dituju. Terbatasnya pengetahuan, sikap dan keterampilan petani sangat
berpengaruh terhadap kemampuan berusaha tani yang lebih baik.
Kehadiran lembaga swadaya pertanian dan peranan penyuluh pertanian ditengah
masyarkat tani sangat dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan petani hingga
secara menyeluruh mereka dapat mengubah unit usaha taninya menjadi lebih produktif.
Kegiatan yang dilakukan petani dalam rangka mengembangkan usaha tani padi usaha tani
organic di desa Grogol, tidak lepas dari peranan lembaga joglo tani. Lembaga joglo tani
merupakan lembaga pemberdayaan masyarakat non-pemerintah yang bergerak dalam
bidang pertanian. Peran lembaga joglo tani dalam mengembangkan pertanian organic
menarik untuk dikaji karena (Susanto, 2002) mendefinisikan pertanian organic sebagai
suatu system produksi pertanian yang berdasarkan daur ulang hayati. Daur ulang hara
dapat melalui limbah tanaman yang mampu mempengaruhi status kesuburan tanaman.
Lembaga swadaya masyarakat pertanian disini juga bersifat sebagai fasilitator
pengorganisasi

masyarakat

yang

mampu

mengembangkan

kebersamaan

dalam

masyarakat untuk dapat mengatasi masalah yang terjadi, merencanakan dan melakukan

tindakan bersama dalam mengatasi atau mengubah masalah-masalah yang sering terjadi
dalam pertanian di desa tersebut. Pengorganisasian tersebut tidak hanya bersifat jangka
pendek tetapi dalam jangka panjang dan berkelanjutan (Budiharga dkk, 2007).
Joglo tani menjadi wadah bagi setiap pemangku kepentingan dalam pertanian
untuk berdiskusi, belajar bersama, berlatih bersama mengenai pertanian, dan segala
sesuatu yang terkait dengan pertanian. Joglo tani dalam kesehariannya mempunyai tujuan
yang sama yaitu menjaga kesehatan lingkungan dalam mewujudkan pertanian yang
berteknologi. Joglo tani berdiri secara konseptual yang digagas oleh sang penggagas
joglo tani adalah pembelajaran secara terpusat untuk mendidik dan membina secara
terstruktur dan berkelanjutan yang berasal dari, dikelola, dan untuk petani. Dalam
pengembangan usaha taninya, joglo tani mempunyai berbagai pihak pendukung yang
dapat mendukung perkembangannya. Pihak tersebut adalah PPL, media massa, dan pasar
tradisional sebagai pelaku bisnis bidang pertanian. Peaku bisnis yang berperan dalam
pertanian organic tersebut adalah pihak pemasar produk organic yaitu pasar tradisionall,
koperasi tamu, dan tokoh saprodi. Lembaga pendukung lain yang sangat mendukung
joglo tani adalah media massa. Media massa yang digunakan adalah radio komunitas.
Akan tetapi, radio tersebut belum dapat digunakan dalam menyebarkan informasi
mengenai pertanian organic khususnya dalam menyebarkan informasi mengenai
pertanian organic.

DAFTAR PUSTAKA
Budiharga, dkk. 2007. Menguatkan Organisasi Masyarakat Sipil. Remdec Swaprakarsa:
Jakarta.
Dias, Totok Mardikanto, dan Erlyna Wida R. 2011. Peran Lembaga Joglo Tani dalam
Pengembangan Usahatani Padi Organik. Program Studi Agribisnis Fakultas
Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Isaskar, Riyanti. 2012. Modul Pengantar Usaha Tani: Pendahuluan. Program Studi
Agribisnis FP UB: Malang.
Saragih, Juli Panglima. 2003. Desentralisasi Fiskal dan Keuangan Daerah dalam
Otonomi. Cetakan Pertama. Penerbit Ghalia Indonesia: Jakarta.
Susanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius: Yogyakarta.