Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FARMASI ANALISIS II


GOLONGAN ANTIBIOTIK (AMOKSISILIN)
Ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah kimia farmasi analisis II.
Tanggal Praktikum 17 Maret 2015

Disusun Oleh :
Ayu Rahayu

(31112119)

Farida Sonya

(31112132)

Muhammad Gilang Ramadhan (31112148)


Farmasi 3 C

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BAKTI TUNAS HUSADA
KOTA TASIKMALAYA
2015

A. Dasar Teori
Antibiotika adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme
(khususnya dihasilkan oleh fungi) atau dihasilkan secara sintetik yang dapat
membunuh atau menghambat perkembangan bakteri dan organisme lain
sedangkan Antimikroba adalah obat yang digunakan untuk memberantas infeksi
mikroba pada manusia. Antibiotika merupakan segolongan senyawa, baik alami
maupun sintetik, yamg mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses
suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh
bakteri. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit
infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan
sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transporman. Antibiotika bekerja seperti
pestisida dengan menekan atau memutuskan satu mata rantai metabolisme, hanya
saja targetnya adalah bakteri. Antibiotika berbeda dengan desinfektan karena cara
kerjanya. Desinfektan membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan yang
tidak wajar bagi kuman untuk hidup.
Antibiotika tidak efektif menangani infeksi akibat virus, jamur, atau
nonbakteri lainnya, dan setiap antibiotika sangat beragam keefektifannya dalam
melawan berbagai jenis bakteri. Ada antibiotika yang membidik bakteri gram
negative atau gram positif, ada pula yang spektrumnya lebih luas. Keefektifannya
juga bergantung pada lokasi infeksi dan kemampuan antibiotik mencapai lokasi
tersebut .
Ada banyak cara untuk menggolongkan antibiotik, salah satunya
berdasarkan struktur kimianya. Berdasarkan struktur kimianya, antibitik
dikelompokkan sebagai berikut:
1. Golongan Aminoglikosida
Diantaranya adalah amikasin, gentamisin, kanakmisin, neomisin, paromisin,
sisomisin, streptomisin, dan tobramisin.
2. Golongan Beta-Laktam
Diantaranya golongan karbapenem(ertapenem, imipenem, meropenem),
golongan sefalosporin (sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil,
seftazidim), golongan beta-laktam monosiklik, dan golongan penisilin
(penisilin, amoksisilin).

Salah satu contoh dari golongan beta-laktam ini adalah golongan


sefalosporin dan golongan sefalosporin ini ada hingga generasi ketiga dan
seftriakson merupakan generasi ketika dari golongan sefalosporin.
a. Seftriakson
Obat ini umumnya aktif terhadap kuman gram-positif, tetapi kurang aktif
dibandingkan dengan sefalosporin generasi pertama. Untuk meningitis
obat ini diberikan dua kali sehari sedangkan untuk infeksi lain umumnya
cukup satu kali dalam sehari.
Dosis lazim obat ini ialah 1-2 g/hari IM atau IV dalam dosis tunggal atau
dibagi dalam 2 dosis. Seftriakson tersedia dalam bentuk bubuk obat
suntik 0.25 ; 0.5 ; dan 1 g. apabila obat ini diberikan sebanyak 250mg
akan sangat ampuh dan tanpa komplikasi oleh karena itu menjadi pilihan
utama untuk uretritis oleh gonokokus.
3. Golongan Glikopeptida
Diantaranya vankomisin, teikoplanin, ramoplanin dan dekaplanin.
4. Kloramfenikol contohnya tiamfenikol
5. Quinolon ontohnya asam nalidiksat, fluroquinolon
Berdasarkan sifat (daya hancurnya) antibiotik dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Antibiotik yang bersifat bakterisidal, yaitu antibiotik

yang bersifat

destruktif terhadap bakteri.


2. Antibiotik yang bersifat bakteriostatik, yaitu antibiotik yang bekerja
menghambat pertumbuhan atau multiplikasi bakteri.
Amoxicillin adalah antibiotik dalam kelompok obat penisilin. Memerangi
bakteri dalam tubuh. amoxicillin digunakan untuk mengobati berbagai jenis
infeksi yang disebabkan oleh bakteri seperti inveksi telinga, infeksi kantong
kemih, pneumonia, gonoreae dan infeksi coli/salmonella. Amoxicillin juga
kadang-kadang digunakan bersama dengan yang lain. Plaritromisin disebut
antibiotik (biaxin) untuk mengobati bisul perut yang disebabkan oleh infeksi
belicobacterphilory. Kombinasi ini kadang-kadang digunakan dengan peredam
asam lambung disebut tansopiazole (prevacid).

Analisis kimia farmasi kuantitatif biasanya dibagi menjadi beberapa analisis


berdasarkan metode dan teknik kerjanya :
1. Analisis gravimetri.
2. Analisis volumetri yang biasa desebut juga analisis titrimetri.
3. Analisis dengan metode fisika dan kimia.
Analisis titrimetri umumnya dapat dibagi dalam 4 bentuk, yaitu (5):
1. Reaksi netralisasi atau disebut asidimetri/alkalimetri
2. Reaksi pembentukan kompleks
3. Reaksi pengendapan
4. Reaksi oksidasi-reduksi.
Titrasi-titrasi redoks berdasarkan pada perpindahan elektron antara titran
dan analit. Jenis titrasi ini biasanya menggunakan potensiometri untuk mendeteksi
titik akhir, meskipun demikian penggunaan indikator yang dapat berubah
warnanya dengan adanya kelebihan titran juga sering digunakan.
B. Alat dan bahan
1. Alat
a. Botol semprot
b. Gelas ukur
c. Balp
d. Kertas perkamen
e. Pipet volume
f. Timbangan analitik
g. Spektrofotometer UV-Vis
2. Bahan
a.

Sampel amoxicillin.

b.

Pelarut etanol

c.

HCl

d.

H2SO4

C. Cara kerja
Isolasi

Analsisi kuantitatif

D. Perhitunga.
a. Larutan baku standar amoksilin 500 ppm dalam 100 mL

b. Perhitungan pengenceran variasi amoksilin.

Konsentrtasi
(ppm)
5
10
15
20
25
30

Absorban
0.305
0.482
0.535
0.601
0.668
0.765

Y = ax + b
0,212 = 0.0835x + 0.2669
X =
X =
= 0,657 x 4000 kali pengenceran
= 2628 ppm/10ml
%=

E. Pembahasan
Analisis suatu kadar dari sediaan obat dapat dilakukan secara kualitatif
ataupun kuantitatif, hal tersebut dapat ditentukan berdasarkan struktur kimia yang
dimiliki oleh suatu senyawa. Dalam praktikum kali ini dilakukan penetapan kadar

dari

amoksisilin

pada

sediaan

suspensi

dengan

menggunakan

metode

spektrofotometri Uv-Vis. Tujuan dalam praktikum kali ini adalah melakukan


prinsip analisis kuantitatif senyawa obat dengan metode spektrofotometri UV-Vis.
Berdasarkan strukturnya amoksisilin ini memiliki suatu ikatan rangkap
terkonjugasi, sehingga dapat di analisis dengan metode spektrofotometri Uv-Vis.
Dimana akan terjadi interaksi antara reaksi elektromagnetik dengan elektron dari
molekul yang berada pada ikatan rangkap terkonjugasi, sehingga akan
menghasilkan nilai panjang gelombang dan nilai absorbansi.
Tahapan penerjaan analisis kuantitatif untuk amoksisilin ini yaitu dengan
melakukan isolasi terlebih dahulu menggunakan metode sentrifugasi dan
dekantasi. Isolasi amoksisilin dari sediaan suspensi yaitu menggunakan etanol,
penggunaan etanol ini sebagai penarik senyawa amoksisilin dan dapat juga untuk
merusak sistem pensuspensi atau suspending agent dalam sediaan amoksisilin
tersebut. Untuk mengetahui telah terjadinya kerusakan pada sistem pensusensi
yaitu ditandai dengan terbentuknya awan putih semi padat yang memisah diantara
fase cairan atau fase etanolnya.
Tahapan isolasi telah berakhir atau telah terekstraksinya seluruh kandungan
amoksisilin yang terkandung dalam sampel dapat di uji secara kualitatif, perekasi
yang digunakan untuk menguji adanya amoksisilin pada filtrat yaitu dengan asam
sulfat yang akan bereaksi menghasilkan warna kuning. Isolasi atau ekstraksi
berakhir ketika pengujian filtrat dengan asam sulfat menghasilkan reaksi yang
negatif, maka diduga seluruh amoksisilin yang terkandung dalam sediaan suspensi
telah terekstrak seluruhnya.
Selanjutnya dilakukan pengenceran amoksisilin dengan konsentrasi ppm,
dimana pengenceran ini dilakukan dengan tujuan untuk mendaatkan nilai
absorbansi dalam rentang 0,2-0,8. Sebelum menganalisis amoksisilin dilakukan
terlebih dahulu pengukuran absorbansi dari larutan blanko yaitu etanol. Selain itu
dibuat pula larutan standar amoksisilin sebagai pembanding standar untuk
mengetahui nilai panjang gelombang amoksisilin proanalisis.
Selanjutnya dilakukan penetapan kadar sampel yang dilarutkan dengan etanol
10 ml yang menghasilkan nilai absorbansi 0,212 dengan nilai panjang gelombang

221,0nm. Nilai absorbansi demikian didapat dari hasil pengenceran bertingkat,


hingga didapat nilai absorbansi dalam rentang 0,2-0,8.
Dari persamaan y =0.0835x + 0.2669, yang diperoleh dari kurva kalibrasi
maka dapat ditentukan penetapan kadar sampel dengan memasukkan nilai
absorbansi sampel 0,212 sebagai y, maka didapat konsentrasi sampel (x) yaitu
131,4%.

F. KESIMPULAN
Pada penetapan kadar sampel amoksisilin dari sediaan suspensi, digunakan
metode analisis kuantitatif spektrofotometri UV-Vis yang diperoleh persamaan y

= 0.0835x + 0.2669 dari kurva kalibrasi. Dengan absorbansi sampel 0,212 dan
panjang gelombang 221,0 nm maka diperoleh kadar sampel amoksisilin sebesar
131,4%.

DAFTAR PUSTAKA

Ganiswara, Sulistia G. Farmakologi dan Terapi Edisi IV. Universitas


Indonesia: Jakarta. 1995.

Sudjadi. Analisis Kuantitatif Obat. Universitas Gajah Mada: Yogyakarta.


2008.

DepKes RI. Farmakope Indonesia Edisi IV. DEPKES RI: Jakarta. 1995.