Anda di halaman 1dari 16

Makalah Sejarah Peradaban Islam

PERADABAN ISLAM PADA MASA KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN

Oleh :

Hajrah (70400113051)
Kelompok 3 Kebidanan B
PRODI D3 KEBIDANAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
2015

Syukur alhamdulillah, penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt, karena atas


rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, maka makalah yang berjudul Peradaban Islam
pada Masa Khalifah Utsman bin Affan ini dapat penulis rampungkan dengan baik.
Salawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad
Saw yang telah membawa umat manusia pada kehidupan terang benderang di
bawah sinaran ilmu pengetahuan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selesainya penulisan makalah ini


tidak lepas dari bantuan dan partisipasi berbagai pihak, baik dukungan moril
maupun

materil.

Oleh

karena

itu,

penulis

merasa

berkewajiban

untuk

menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih


yang setulus-tulusnya kepada seluruh pihak yang turut membantu penyelesaian
Makalah ini.
Akhirnya, kepada Allah Swt semata penulis memohon, semoga segala
partisipasi dan konstribusi yang diberikan kepada penulis, memberi nilai ibadah
dan mendapat imbalan pahala di sisi-Nya. Amin.

Makassar, 04 Mei 2015


Penulis,

HAJRAH

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan

2
3
3

BAB II PEMBAHASAN
A. Riwayat Singkat Utsman bin Affan
B. Pengangkatan Utsman bin Affan Menjadi Khalifah
C. Kemajuan-kemajuan yang Dicapai Khalifah Utsman bin Affan

6
7
8

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan

11

B. Saran

11

A. Biografi Utsman Bin Affan


Utsman Bin Affan adalah khalifah ketiga yang memerintah dari tahun 644 (umur 69-70
tahun) hingga 656 selama (11-12 tahun). Selain itu sahabat nabi yang satu ini memiliki sifat yang
sangat pemalu.
Utsman bin Affan adalah sahabat nabi dan juga khalifah ketiga dalam Khulafaur Rasyidin.
Beliau dikenal sebagai pedagang kaya raya dan ekonomi yang handal namun sangat dermawan.
Banyak bantuan ekonomi yang diberikannya kepada umat Islam di awal dakwah Islam. Ia mendapat
julukan Dzun Nurain yang berarti yang memiliki dua cahaya. Julukan ini didapat karena Utsman
telah menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasullah yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum.
Utsman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan Bani Umayyah. Nama ibunya adalah
Arwa binti Kuriz bin Rabiah. Ia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan AsSabiqun al-Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam). Rasulullah
sendiri
menggambarkan Utsman bin Affan sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati di antara kaum
muslimin. Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah , "Abu Bakar
masuk tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun
biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus
duduk dan membetulkan pakaian, mengapa?" Rasullullah menjawab, Apakah aku tidak malu
terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?.
Pada saat seruan hijrah pertama oleh Rasullullah ke Habbasyiah karena meningkatnya
tekanan kaum Quraisy terhadap umat Islam, Utsman bersama istri dan kaum muslimin lainnya
memenuhi seruan tersebut dan hijrah ke Habbasyiah hingga tekanan dari kaum Quraisy reda. Tak
lama tinggal di Mekah, Utsman mengikuti Nabi Muhammad untuk hijrah ke Madinah. Pada
peristiwa Hudaibiyah, Utsman dikirim oleh Rasullah untuk menemui Abu Sofyan di Mekkah.

Utsman diperintahkan nabi untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah hanya akan
beribadah di Ka'bah, lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Mekkah.
Pada saat Perang Dzatirriqa dan Perang Ghatfahan berkecamuk, dimana Rasullullah
memimpin perang, Utsman dipercaya menjabat walikota Madinah. Saat Perang Tabuk, Utsman
mendermakan 950 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk
perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya perang tersebut. Utsman bin Affan juga
menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli mata air yang bernama Rumah dari seorang lelaki
suku Ghifar seharga 35.000 dirham. Mata air itu ia wakafkan untuk kepentingan rakyat umum. Pada
masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan
1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.
Setelah wafatnya Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua, diadakanlah musyawarah untuk
memilih khalifah selanjutnya. Ada enam orang kandidat khalifah yang diusulkan yaitu Ali bin Abi
Thalib, Utsman bin Affan, Abdul Rahman bin Auf, Saad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan
Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya Abdul Rahman bin Auff, Saad bin Abi Waqas, Zubair bin
Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang
tertinggal. Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih Utsman menjadi khalifah ketiga.
Maka diangkatlah Utsman yang berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga dan yang tertua, serta
yang pertama dipilih dari beberapa calon. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24 H. Utsman
menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah betul-betul mapan dan terstruktur.
Ia adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan Masjid al-Haram Mekkah dan
Masjid Nabawi Madinah karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima
(haji). Ia mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya, membuat bangunan khusus untuk
mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid, membangun pertanian,
menaklukan beberapa daerah kecil yang berada disekitar perbatasan seperti Syiria, Afrika Utara,
Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya
yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu
mushaf.
Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti gubernur wilayah yang tidak cocok atau
kurang cakap dan menggantikaannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Namun hal ini
banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk
membunuh khalifah.
Orang yang paling penyayang di antara umatku adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam
menegakkan agama Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling
mengetahui tentang halal dan haram adalah Muadz bin Jabal, yang paling hafal tentang Alquran
adalah Ubay (bin Kaab), dan yang paling mengetahui ilmu waris adalah Zaid bin Tsabit. Setiap
umat mempunyai seorang yang terpercaya, dan orang yang terpercaya di kalangan umatku adalah
Abu Ubaidah bin al-Jarrah. (HR. Ahmad dalam Musnad-nya 3:184).

Utsman Bin Affan, khalifah rasyid yang ketiga. Ia dianggap sosok paling
kontroversial dibanding tiga khalifah rasyid yang lain. Mengapa dianggap kontroversial?
Karena ia dituduh seorang yang nepotisme, mengedepankan nasab dalam politiknya
bukan kapasitas dan kapabilitas. Tentu saja hal itu tuduhan yang keji terhadap dzu nurain,
pemiliki dua cahaya, orang yang dinikahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
dengan dua orang putrinya.
Pada kesempatan kali ini penulis tidak sedang menanggapi tuduhan-tuduhan terhadap
beliau. Penulis akan memaparkan keutamaan-keutamaan beliau yang bersumber dari
ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Tujuannya agar kita berhati-hati dan
mawas diri ketika mendengar hal-hal negatif tentang Utsman, kita lebih bisa mengontrol
lisan kita dan berprasangka baik di hati kita.
B. Nasab dan Sifat Fisikinya
Beliau adalah Utsman Bin Affan bin Abi al-Ash bin Ummayyah bin Abdu asy-syam
bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Kaab bin Luwai bin Ghalib bin
Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin
Mudhar bin Nizar bin Maaddu bin Adnan (ath-Thabaqat al-kibra, 3 : 53).
Mirul Mukminin, Dzu nurain, telah berhijrah dua kali, dan suami dari dua orang putri
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ibunya bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabiah
bin Hubaib bin Abdu asy-Syams dan neneknya bernama Ummu Hakim, Bidha binti
Abdul Muthalib, bibi Rasulullah. Dari sisi nasab, orang Quraisy satu ini memiliki
kekerabatan yang sangat dekat dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Selain sebagai
keponakan Rasulullah, Utsman juga menjadi menantu Rasulullah dengan menikahi dua
orang putri beliau shallallahu alaihi wa sallam. Dengan keutamaan ini saja, sulit bagi
seseorang untuk mencelanya, kecuali bagi mereka yang memiliki kedengkian di hatinya.
Seorang tokoh di masyarakat kita saja akan mencarikan orang yang terbaik menjadi
suami anaknya, apalagi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentulah beliau akan
memilih orang yang terbaik untuk menjadi suami putrinya.
Utsman bin Affan termasuk di antara sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk
surga, beliau juga menjadi enam orang anggota syura, dan salah seorang khalifah almahdiyin, yang diperintahkan untuk mengikuti sunnahnya.
Utsman adalah seorang yang rupawan, lembut, mempunyai janggut yang lebat,
berperawakan sedang, mempunyai tulang persendian yang besar, berbahu bidang,
rambutnya lebat, dan bentuk mulutnya bagus.
Az-Zuhri mengatakan, Beliau berwajah rupawan, bentuk mulut bagus, berbahu
bidang, berdahi lebar, dan mempunyai telapak kaki yang lebar.
Amirul mukminin Utsman bin Affan terkenal dengan akhlaknya yang mulia, sangat
pemalu, dermawan, dan terhormat. Terlalu panjang untuk mengisahkan kedermawanan
beliau pada kesempatan yang sempit ini. Untuk kehidupan akhirat, menolong orang lain,
dan berderma seolah-olah hartanya seringan buah-buah kapuk yang terpecah lalu
kapuknya terhembus angin yang kencang.
C. Kedudukan Utsman Dibanding Umat Islam Lainnya

Muadz bin Jabal radhiallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, Sesungguhnya aku melihat bahwa aku di letakkan di sebuah daun timbangan
dan umatku diletakkan di sisi daun timbangan lainnya, ternyata aku lebih berat dari
mereka. Kemudian diletakkan Abu Bakar di satu daun timbangan dan umatku diletakkan
di sisi yang lainnya, ternyata Abu Bakar lebih berat dari umatku. Setelah itu diletakkan
Umar di sebuah daun timbangan dan umatku diletakkan di sisi yang lainnya, ternyata dia
lebih berat dari mereka. Lalu diletakkan Utsman di sebuah daun timbangan dan umatku
diletakkan di sisi lainnya, ternyata dia lebih berat dari mereka. (al-Marifatu wa atTarikh, 3: 357).
Hadis yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalur Umar bin alKhattab.
Hadis ini menunjukkan kedudukan Abu Bakar, Umar, dan Utsman dibandingkan
seluruh umat Nabi Muhammad yang lain. Seandainya orang-orang terbaik dari umat ini
dikumpulkan, lalu ditimbang dengan salah seorang dari tiga orang sahabat Nabi ini,
niscaya timbangan mereka lebih berat dibanding seluruh orang-orang terbaik tersebut.

D. Kabar Tentang Kekhalifahan dan Orang-orang Yang Akan Memberontaknya


Dari Aisyah radhiallahu anha, ia berkata, Rasulullah pernah mengutus seseorang
untuk memanggil Utsman. Ketika Utsman sudah datang, Rasulullah menyambut
kedatangannya. Setelah kami melihat Rasulullah menyambutnya, maka salah seorang
dari kami menyambut kedatangan yang lain. Dan ucapan terakhir yang disampaikan
Rasulullah sambil menepuk pundak Utsman adalah Wahai Utsman, mudah-mudahan
Allah akan memakaikanmu sebuah pakaian (mengamanahimu jabatan khalifah), dan jika
orang-orang munafik ingin melepaskan pakaian tersebut, jangalah engkau lepaskan
sampai engkau bertemu denganku (meninggal). Beliau mengulangi ucapan ini tiga kali.
(HR. Ahmad).
Dan akhirnya perjumpaan yang disabdakan Rasulullah pun terjadi. Dari Abdullah bin
Umar bahwa Utsman bin Affan berbicara di hadapan khalayak, Aku berjumpa dengan
Nabi shallallahu alahi wa sallam di dalam mimpi, lalu beliau mengatakan, Wahai
Utsman, berbukalah bersama kami. Maka pada pagi harinya beliau berpuasa dan di hari
itulah beliau terbunuh. (HR. Hakim dalam Mustadrak, 3: 103).
Katsir bin ash-Shalat mendatangi Utsman bin Affan dan berkata, Amirul mukminin,
keluarlah dan duduklah di teras depan agar masyarakat melihatmu. Jika engkau lakukan
itu masyarakat akan membelamu. Utsman tertawa lalu berkata, Wahai Katsir, semalam
aku bermimpi seakan-akan aku berjumpa dengan Nabi Allah, Abu Bakar, dan Umar, lalu
beliau bersabda, Kembalilah, karena besok engkau akan berbuka bersama kami.
Kemudian Utsman berkata, Demi Allah, tidaklah matahari terbenam esok hari, kecuali
aku sudah menjadi penghuni akhirat. (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat, 3: 75).
Demikianlah sedikit cuplikkan tentang keutamaan Utsman bin Affan yang mungkin
tertutupi oleh orang-orang yang lebih senang memperhatikan aib-aibnya. Padahal aib itu

sendiri adalah fitnah yang dituduhkan kepadanya. Semoga Allah meridhai Utsman bin
Affan dan memasukkannya ke dalam surga yang penuh kedamaian.
E. Kisah Pembunuhan Utsman Bin Affan
Abu Hurairah menangis mengingat wafatnya Utsman bin Affan. Terbayang di
hadapannya apa yang diperbuat bughat terhadap khalifah. Sebuah tragedi tercatat dalam
lembaran tarikh Islam, menorehkan peristiwa kelabu atas umat ummiyah.Dengan keji,
pembunuh-pembunuh itu menumpahkan darah. Tangan menantu Rasulullah ditebas,
padahal jari-jemari itulah yang dahulu dipercaya Rasul dalam mencatat wahyu Allah
SWT. Darah pun mengalir membasahi Thaybah. Dengan penuh cinta dan ridha kepada
Allah, Amirul Mukminin mengembuskan nafas terakhir, meraih syahadah dengan
membawa hujjah dan kemenangan yang nyata. Ya Allah, tanamkan cinta dan ridha di hati
kami pada sahabat-sahabat Nabi-Mu. Selamatkan hati kami dari kedengkian kepada
mereka. Selamatkan pula lisan kami dari cercaan kepada mereka sebagaimana Engkau
telah selamatkan tangan kami dari darah-darah mereka.
-

Utsman bin Affan, sahabat yang mulia

Beliau adalah Utsman bin Affan bin Abil Ash bin Umayyah bin Abdisy-Syams
bin Abdi Manaf. Pada kakeknya, Abdu Manaf, nasabnya bertemu dengan nasab
Rasulullah. Lahir enam tahun setelah tahun gajah. Beriman melalui tangan Abu Bakr
Ash-Shiddiq Abdullah bin Abi Quhafah, dan termasuk as-sabiqunal awwalun. Tampan
wajahnya, lembut kulitnya, dan lebat jenggotnya. Sosok sahabat mulia ini sangat pemalu
hingga malaikat pun malu kepadanya. Demikian Rasulullah menyanjung: Tidakkah
sepatutnya aku malu kepada seorang (yakni Utsman) yang para malaikat malu
kepadanya? Mudah menangis kala mengingat akhirat. Jiwanya khusyu dan penuh
tawadhu di hadapan Allah Rabbul alamin. Beliau adalah menantu Rasulullah yang
sangat dikasihi. Memperoleh kemuliaan dengan menikahi dua putri Nabi, Ruqayyah
kemudian Ummu Kultsum hingga mendapat julukan Dzunurain (pemilik dua cahaya).
Bahkan Rasulullah bersabda: Seandainya aku masih memiliki putri yang lain sungguh
akan kunikahkan dia dengan Utsman. Utsman bin Affan adalah figur sahabat yang
memiliki kedermawanan luar biasa. Sebelum datangnya risalah Nabi Muhammad, beliau
telah menekuni perdagangan hingga memiliki kekayaan. Setelah cahaya Islam terpancar
di muka bumi, harta tersebut beliau infakkan untuk menegakkan kalimat Allah.
-

Sumur Ar-Rumah

Tahukah Anda, apa itu sumur Ar-Rumah? Sumber air Madinah yang beliau beli
dengan harga sangat mahal sebagai wakaf untuk muslimin di saat mereka kehausan dan
membutuhkan tetes-tetes air. Rasulullah menawarkan jannah bagi siapa yang
membelinya. Utsman pun bersegera meraih janji itu. Demi Allah! Beliau telah meraih
jannah yang dijanjikan. Sosok yang mulia ini, tidak pernah berat untuk berinfak di jalan
Allah, berapapun besarnya harta yang diinfakkan. Beliau keluarkan seribu dinar (emas)
guna menyiapkan Jaisyul Usrah, pasukan perang ke Tabuk, yang berjumlah tidak kurang

dari 30.000 pasukan. Seraya membolak-balikan emas yang Utsman infakkan, Rasulullah
bersabda: Tidaklah membahayakan bagi Utsman apapun yang dia lakukan sesudah hari
ini. (Karena sesungguhnya dia telah diampuni). Allahu Akbar! Betapa indah sabda
Rasulullah mengiringi pengorbanan Utsman bin Affan. Allah l terima infak itu, Allah
pelihara dengan tangan kanan-Nya yang mulia dan Dia lipat gandakan pahala untuknya.
Di antara keutamaan Utsman bin Affan, Allah jamin jannah atasnya bersama
sembilan orang lainnya. Rasulullah bersabda: Dan Utsman di jannah. (AlHadits) Sebagian kecil keutamaan di atas cukup sebagai dalil yang muhkam pasti atas
keutamaan Utsman bin Affan. Di atas keyakinan inilah Ahlus Sunnah wal Jamaah
beragama.
- Fitnah itu akan terjadi
Wafatnya Umar bin Al-Khaththab adalah awal kemunculan fitnah. Umar adalah pintu
yang menutup fitnah. Begitu pintu dipatahkan, gelombang fitnah akan terus menimpa
umat ini, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Hudzaifah bin Al-Yaman dalam
Shahihain. Pernahkah terbayang bahwa Utsman akan dibunuh dalam keadaan terzalimi?
Mungkin kita tidak membayangkannya. Tetapi demi Allah, Utsman bin Affan telah
mengetahui dirinya akan terbunuh, dengan kabar yang diperolehnya dari kekasih Allah,
Nabi Muhammad. Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya meriwayatkan dari Abdullah
bin Umar, beliau berkata: Rasulullah pernah menyebutkan sebuah fitnah, lalu lewatlah
seseorang. Beliau bersabda: Pada fitnah itu, orang yang bertutup kepala ini akan
terbunuh. Berkata Ibnu Umar: Akupun melihat (orang itu), ternyata ia adalah Utsman
bin Affan. Segala yang terjadi di muka bumi ini telah Allah tetapkan dan catat dalam
Lauhul Mahfuzh. Sebagian dari takdir, Allah beritahukan kepada Rasul-Nya, termasuk
berita terbunuhnya Utsman bin Affan dalam keadaan syahid. Utsman menunggu saatsaat itu dengan penuh ridha dan keyakinan.
Rasulullah mengiringi berita tersebut dengan wasiat tentang apa yang harus
dilakukan saat fitnah menerpa, sebagaimana akan kita lalui bersama sebagian riwayat
tersebut. Maka berjalanlah Utsman dalam menghadapi fitnah tersebut dengan memegang
teguh wasiat Rasulullah.
-

Abdullah bin Saba di balik wafatnya Utsman bin Affan

Abdullah bin Saba atau Ibnu As-Sauda adalah seorang Yahudi yang menampakkan
keislaman di masa Utsman bin Affan. Dia muncul di tengah-tengah muslimin dengan
membawa makar yang sangat membahayakan, menebar bara fitnah untuk memecahbelah barisan kaum muslimin. Tidak mudah memang bagi Ibnu Saba menyalakan api di
tengah kejayaan Islam, di tengah kekuasaan Islam yang telah meluas ke seluruh penjuru
timur dan barat, di saat muslimin memiliki kewibawaan di mata musuh-musuhnya kala
itu. Namun setan tak pernah henti mengajak manusia menuju jalan-jalan kesesatan,
sebagaimana Iblis telah berkata di hadapan Allah: Iblis menjawab: Karena Engkau telah
menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari
jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari
belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati
kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Al-Araf: 16-17).

Ibnu Saba memulai makarnya bersama para pendukungnya dengan menanamkan


kebencian pada khalifah Utsman bin Affan di tengah kaum yang dungu lagi bodoh.
Tujuannya pasti: Memudarkan kemulian-kemuliaan Utsman bin Affan di hadapan
manusia dan menjatuhkan kewibawaan khalifah. Kenapa orang-orang bodoh yang
dituju? Karena mereka itulah kaum yang tidak mengerti siapa Utsman. Mereka pula
kelompok yang mudah disetir hawa nafsunya. Demikianlah gaya dan model
pemberontak. Sebelum menggulingkan penguasa, mereka sebarkan kejelekan di tengah
orang-orang bodoh, membuat arus bawah yang sukar untuk dibendung.
Kaki Ibnu Sauda yang penuh kebengisan dan kedengkian pada syariat Allah
menjelajah negeri. Fitnahnya dia mulai dari Hijaz; Makkah, Madinah, Thaif, lalu
Bashrah, lalu Kufah. Kemudian masuklah ia ke wilayah Damaskus (Syam). Usaha demi
usaha dia tempuh di sana, namun impian belum mampu ia wujudkan. Dia tidak kuasa
menyalakan api kebencian terhadap khalifah Utsman di tengah-tengah kaum muslimin
di negeri-negeri tersebut, hingga penduduk Syam mengusirnya. Dengan segala
kebusukan, pergilah Ibnu Saba ke Mesir. Di sanalah dia dapatkan tempat berdiam. Di
tempat baru inilah dia dapatkan lahan subur untuk membangun makar besarnya,
menggulingkan khalifah Utsman dan merusak agama Islam.
Mulai Ibnu Saba leluasa menghubungi munafiqin dan orang-orang yang berpenyakit,
hingga terkumpul massa dari penduduk Mesir dan Irak guna membantu makarnya.
Bersama pembantu-pembantunya, dia sebarkan keyakinan-keyakinan
menyimpang serta tuduhan-tuduhan dusta atas khalifah di tengah-tengah kaum yang
bodoh lagi menyimpan kemunafikan. Hingga suatu saat nanti, terwujudlah cita-citanya:
menumpahkan darah khalifah dan memecah-belah barisan muslimin.
-

Syubhat-syubhat Ibnu Saba untuk menjatuhkan kehormatan Utsman bin Affan

Mereka yang mengetahui kemuliaan Utsman dari sabda Rasulullah tidak akan
terpengaruh hasutan Ibnu Saba, sehingga tidaklah mengherankan kalau dia tidak
berhasil melakukan makarnya di tengah-tengah ahli Madinah atau Makkah. Berbeda
keadaannya di Mesir, ia berhasil menebar syubhat-syubhat berisi celaan kepada Utsman
bin Affan, yang seandainya diketahui hakikatnya justru merupakan keutamaan dan
pujian atas Utsman bin Affan. Namun ketika gelombang fitnah telah menggulung dan
sabda Rasulullah tidak lagi dihiraukan, banyak di antara juhhal (orang-orang bodoh)
berjatuhan menjadi korban. Pada kesempatan yang sangat terbatas ini, kita cukupkan dua
syubhat beserta jawabannya sebagai gambaran atas kebodohan dan jauhnya kaum
pemberontak dari ilmu.
Syubhat pertama: Utsman tidak mengikuti perang Badr. Ini merupakan aib (cela)
bagi Utsman, maka tidak pantas ia menjadi khalifah.
Utsman bin Affan memang tidak mengikuti perang Badr, Ramadhan 2 H. Akan
tetapi tidak ikutnya beliau dalam perang Badr bukanlah aib sebagaimana sahabat-sahabat
lain yang tidak mengikutinya juga tidak mendapat celaan. Karena pada perang Badr
Rasulullah tidak mengharuskan sahabat untuk menyertai beliau. Terlebih lagi jika kita
mengetahui sebab tidak ikutnya Utsman dalam perang Badr. Dalam perang Badr,

Rasulullah memerintahkan Utsman untuk tetap di rumah merawat istrinya, Ruqayyah,


yang merupakan putri Rasulullah. Maka jawablah dengan jujur: Pantaskah seorang yang
melaksanakan perintah Rasul kemudian dicela dengan sebab itu?. Bahkan sebaliknya,
dengan melaksanakan perintah Rasul beliau mendapat keutamaan taat di samping beliau
juga mendapatkan keutamaan ahlu Badr dan pahala mereka. Oleh karena itu, Rasulullah
mengikutsertakan Utsman dalam ghanimah Badr.
Suatu saat, seorang Khawarij bertanya kepada Abdullah bin Umar di Masjidil
Haram: Wahai Ibnu Umar, apakah Utsman mengikuti perang Badr? Ibnu Umar
menjawab: Tidak. Maka dengan girangnya dia berseru: Allahu Akbar! seolah-olah
dia dapatkan kebenaran celaan atas Utsman bin Affan. Dengan segera Ibnu Umar
berkata kepadanya: Adapun ketidakhadiran Utsman dalam perang Badr karena putri
Rasulullah istrinya sakit, (Rasul perintahkan untuk merawatnya) dan beliau bersabda:
Sesungguhnya bagimu pahala mereka yang mengikuti perang Badr dan bagimu pula
bagian ghanimah. Atas dasar ini, ulama tarikh seperti Az-Zuhri, Urwah bin Az-Zubair,
Musa bin Uqbah, Ibnu Ishaq, dan lainnya memasukkan Utsman bin Affan dalam barisan
ahlu Badr (orang-orang yang mengikuti perang Badr).
Syubhat kedua: Utsman membuat ladang khusus untuk unta-unta sedekah.
Ladang tersebut terlarang untuk selain unta sedekah. Kaum Khawarij menuduh perbuatan
ini sebagai kezaliman, kebidahan, dan kedustaan atas nama Allah. Ketika ahlu Mesir
para pemberontak mendatangi Utsman bin Affan mereka berkata: Bukalah surat Yunus
dan bacalah. Lalu mereka hentikan bacaan Utsman ketika sampai pada ayat:
Katakanlah: Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu,
lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. Katakanlah: Apakah
Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja
terhadap Allah? (Yunus: 59). Mereka berkata: Berhenti kamu! Lihatlah apa yang telah
kau perbuat. Engkau membuat tanah terlarang yang dibatasi. Apakah Allah telah
memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah
l? Utsman menjawab: Bukan dalam masalah tersebut ayat ini diturunkan! Sungguh
Umar bin Al-Khaththab telah melakukannya sebelumku, membatasi tanah khusus untuk
unta-unta zakat, lalu aku menambahnya karena unta sedekah semakin bertambah
banyak.

Bantahan Utsman ibarat batu yang dilemparkan ke dalam mulut-mulut


pemberontak. Mereka tidak mampu membalas jawaban Utsman karena ternyata
beliau tidak melakukan kebidahan. Bahkan hal itu telah dilakukan Nabi dan Umar
bin Al-Khaththab sebelumnya, yang semua itu tidak lain untuk kepentingan kaum
muslimin, menjaga unta-unta zakat.
-

Ahlu Mesir dan Irak terprovokasi untuk memberontak Khalifah


Massa yang besar dari penduduk Mesir dan Irak terkumpul, terbawa arus
syubhat Ibnu Saba. Mereka menuju Madinah dalam keadaan membenci khalifah,

bahkan bertekad menggulingkan kekhilafahannya karena menurut mereka khalifah


telah berkhianat. Dalam perjalanan menuju Madinah, mereka mendengar bahwa
Utsman bin Affan berada di luar Madinah, maka mereka bersegera menemui
Utsman bin Affan, di awal-awal bulan Dzulqadah 35 H.
Dengan penuh kearifan, keteduhan, dan kasih sayang, Utsman menemui
mereka, dan terjadilah dialog ilmiah, membantah syubhat-syubhat juhhal. Dengan
taufik Allah, Utsman mendinginkan hati-hati mereka yang membara. Beliau juga
membuat kesepakatan-kesepakatan dan perdamaian yang menentramkan jiwa
mereka. Mereka pun ridha untuk kembali ke negeri mereka.
-

Meninggalkan Utsman dan kisah surat palsu


Masa yang tadinya penuh kebencian, merasa puas dengan jawaban-jawaban
Utsman dan kesepakatan tersebut. Mereka pun pergi untuk kembali ke negeri
mereka. Kenyataan ini membuat geram para penyulut fitnah. Mereka memutar otak
dan mencari-cari jalan menyalakan kembali api kebencian yang sempat padam yang
sudah sangat lama mereka nanti. Dalam keadaan itu, segera mereka munculkan
makar berikutnya yang demikian keji, yaitu: Surat palsu berisi kedustaan atas
Utsman bin Affan. Dalam perjalanan kembali ke Mesir, mereka berpapasan dengan
seorang penunggang unta. Dia menampakkan bahwa dirinya melarikan diri, seolaholah berkata: Tangkaplah aku. Mereka pun menangkapnya dan bertanya: Ada apa
dengan engkau? Dia katakan: Aku utusan Amirul Mukminin kepada amir Mesir.
Segera mereka periksa orang ini hingga didapatkan padanya sebuah surat atas nama
Utsman bin Affan, berisi perintah kepada amir Mesir agar menyalib, membunuh, dan
memotong-motong tangan orang-orang Mesir setibanya mereka dari Madinah.

Kembali ke Madinah melakukan pengepungan


Dengan adanya surat palsu tersebut, api kebencian kepada khalifah kembali
berkobar dalam dada-dada kaum yang bodoh. Mereka kembali menuju Madinah
kemudian mereka kepung kediaman khalifah Ar-Rasyid Utsman bin Affan. Mereka
tidak lagi memercayai Utsman meskipun telah bersumpah bahwasanya beliau tidak
pernah mengetahui apalagi menulis surat tersebut. Tahukah kita apa yang diperbuat
bughat pada orang termulia di muka bumi saat itu dan ahli jannah yang masih
bernafas di dunia? Mereka paksa Utsman untuk melepaskan kekhilafahannya.
Terwujudlah apa yang disabdakan Rasulullah puluhan tahun silam akan datangnya
masa di mana Utsman bin Affan dipaksa melepas kekhilafahan.
Dengan tanpa kasih sayang, mereka halangi Utsman untuk shalat di Masjid
Nabawi padahal beliaulah yang memperluas masjid di masa Rasulullah. Mereka
halangi Utsman untuk minum dari air segar sumur Ar-Rumah yang beliau wakafkan
untuk kaum muslimin. Caci-maki dan cercaan tertuju kepada beliau. Seperti inikah
Islam mengajarkan untuk berbuat kepada seorang sahabat mulia, yang menghabiskan

masa hidupnya untuk membela Rasulullah, meninggikan kalimat Allah? Seperti


inikah balasan kepada seorang sahabat yang matanya tak pernah kering dari air mata
karena takutnya kepada Allah? Seperti inikah Islam mengajarkan untuk bersikap
kepada seorang yang telah senja, di umurnya yang ke-83? Itukah kasih sayang?
Seperti inikah jihad? Laa haula wala quwwata illa billah! Tidak ada yang mampu kita
ucapkan melainkan: Hasbunallahu wa nimal wakil.
-

Pembelaan sahabat
Sejatinya para sahabat hendak membela Utsman bin Affan. Bahkan banyak di
antara mereka menemani khalifah di rumahnya hingga hari terakhir pengepungan.
Riwayat-riwayat yang shahih menunjukkan kedatangan banyak sahabat mengusulkan
pembelaan dari kaum bughat. Di antara mereka adalah: Haritsah bin Numan, AlMughirah bin Syubah, Abdullah bin Az-Zubair, Zaid bin Tsabit, Al-Hasan bin Ali,
Abu Hurairah, dan lainnya. Namun Utsman bin Affan telah mengambil sebuah
keputusan dan sikap yang merupakan wasiat Rasulullah untuk bersabar dan tidak
melepaskan kekhilafahan. Beliau tetap kokoh memegang sunnah (wasiat) Rasulullah
saat api fitnah telah berkobar di hadapannya. Abu Hurairah sempat datang dengan
pedangnya untuk melakukan pembelaan. Namun Utsman berkata: Wahai Abu
Hurairah, sukakah engkau jika banyak manusia terbunuh dan aku juga terbunuh?
Sungguh demi Allah, seandainya engkau membunuh seorang manusia, seakan-akan
engkau membunuh manusia seluruhnya. Pergilah Abu Hurairah melaksanakan
nasihat Utsman.
Dari Rasulullah, Utsman mengetahui syahadah yang akan diperolehnya.
Suatu hari Rasulullah memanggil Utsman. Beliau bisikkan rahasia akan apa yang
akan menimpanya dan apa yang seharusnya dilakukan saat fitnah menimpa. Rahasia
itu memang tidak banyak tersingkap, melainkan beberapa yang dikabarkan Utsman
bin Affan di hari pengepungan. Al-Imam Ahmad dalam Al-Musnad (6/51-52)
meriwayatkan bahwa saat sahabat menawarkan Utsman bin Affan untuk memerangi
pemberontak, mereka berkata: Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau perangi
mereka? Dengan penuh keyakinan beliau katakan:
Tidak (aku tidak akan perangi mereka), karena sesungguhnya Rasulullah
telah mengambil janji dariku, dan aku sabar di atas janji itu. Berkali-kali sahabat
Rasulullah menawarkan perang melawan pemberontak. Dengan penuh kearifan
Utsman menolak, dan mengingatkan mereka untuk taat kepadanya sebagai khalifah.
Suatu ketaatan yang telah Allah perintahkan atas mereka.
Saudaraku, rahimakumullah. Sekali lagi kita ingatkan, bahwasanya keputusan
Utsman bin Affan, bukanlah kelemahan beliau. Bukan pula ketidakberanian sahabat
untuk melakukan peperangan. Tetapi, semua keputusan dan sikap Utsman
sesungguhnya adalah bagian dari wasiat Rasulullah kepadanya. Mungkin ada di
antara kita bertanya, kenapa Utsman tidak melepaskan kekhilafahan agar terhindar

dari fitnah ini? Bukankah kaum pemberontak hanya ingin menggulingkan Utsman
dari kekhilafahan?. Ketahuilah, hal ini pun telah Rasulullah n wasiatkan dalam hadits
yang shahih. Rasul bersabda: Dan jika mereka (pemberontak) memaksamu untuk
melepaskan pakaian yang Allah l pakaikan kepadamu (yakni kekhilafahan),
janganlah engkau lakukan. Dari riwayat-riwayat shahih terkait dengan fitnah
pembunuhan Utsman bin Affan, disimpulkan bahwa sikap yang beliau pilih
sesungguhnya kembali pada beberapa alasan. Di antaranya: Wasiat Rasulullah kepada
Utsman untuk tidak melepaskan kekhilafahan dan menghadapi fitnah dengan
kesabaran.
Beliau tidak ingin menjadi orang yang pertama kali menumpahkan darah
kaum muslimin, dan menjadi penyebab peperangan di antara mereka. Sebagaimana
tampak dalam riwayat Ahmad dalam Al-Musnad, beliau berkata: Aku tidak ingin
menjadi orang pertama sesudah Rasulullah yang menyebabkan pertumpahan darah di
tengah umatnya. Utsman yakin bahwa yang diinginkan pemberontak adalah dirinya,
maka beliau tidak ingin menjadikan kaum muslimin sebagai tameng. Sebaliknya,
beliau ingin menjadi tameng untuk kaum muslimin agar tidak terjadi pertumpahan
darah di tengah mereka.
Utsman yakin bahwa fitnah akan redam dengan wafatnya beliau, sebagaimana
kabar yang Rasulullah sabdakan. Beliau juga merasa waktunya telah dekat di saat
beliau berumur 83 tahun, diperkuat dengan mimpinya bertemu Rasulullah n di hari
pengepungan. Nasihat Abdullah bin Salam kepada beliau. Abdullah berkata:
Tahanlah, tahanlah (dari peperangan) karena dengan itu hujjahmu lebih mendalam.
-

Syahadah yang Rasulullah kabarkan itu diraih Utsman bin Affan


Pagi, Jumat 12 Dzulhijjah, 35 H, di saat sebagian besar sahabat menunaikan
ibadah haji, pengepungan berlanjut. Hari itu Utsman berpuasa, setelah di malam
harinya bertemu Rasulullah, dan dua sahabatnya: Abu Bakar serta Umar, dalam
mimpi yang membahagiakan. Di mimpi itu Rasulullah bersabda: Wahai Utsman,
berbukalah bersama kami. Utsman pun terbangun dengan merasa bahagia dan
berpuasa. Pagi itu Utsman berada di rumah bersama sejumlah sahabat yang terus
bersikukuh hendak membela beliau dari kezaliman bughat. Di antara mereka adalah
Al-Hasan bin Ali, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Az-Zubair, Abdullah bin Amir
bin Rabiah, dan sejumlah sahabat lainnya.
Dengan sangat, Utsman bin Affan meminta mereka untuk keluar dari rumah,
menjauhkan diri dari fitnah. Amirul Mukminin melarang para sahabat melakukan
pembelaan dengan peperangan. Beliau tidak ingin terjadi pertumpahan darah di
tengah-tengah kaum muslimin hanya dengan sebab beliau. Beliau tidak ingin ada
sahabat-sahabat lain terbunuh dalam fitnah ini. Setelah permintaan Utsman yang
sangat kepada para sahabat, akhirnya mereka meninggalkan rumah Amirul Mukminin
hingga tidak ada yang tersisa kecuali keluarga Utsman termasuk istri beliau, Nailah
bintu Furafishah.

Amirul Mukminin, Utsman bin Affan tetap di atas wasiat Rasul untuk tidak
melepaskan kekhilafahan, baju yang telah Allah pakaikan untuknya. Beliau pun tetap
meminta sahabat untuk tidak melakukan perlawanan, mengingat besarnya fitnah dan
khawatir darah kaum muslimin tertumpah. Inilah sikap yang terbaik: kesabaran,
keyakinan, dan keteguhan di atas petunjuk Rasulullah. Utsman, beliau duduk
bersimpuh di hadapan mushaf. Beliau membacanya dalam keadaan berpuasa di hari
itu. Tubuh yang telah tua, rambut yang telah memutih, kulit yang telah mengeriput,
usia yang telah dihabiskan untuk Allah, berjihad menegakkan kalimat Allah di muka
bumi, kini duduk mentadaburi kalam Rabbul Alamin. Beliau perintahkan untuk
membuka pintu rumah dengan harapan para pengepung tidak berbuat sekehendak
hati mereka ketika menyaksikan beliau beribadah kepada Allah, membaca Al-Quran.
Tetapi mereka ternyata orang yang telah keras hatinya. Dalam suasana pengepungan
dan kekacauan, masuklah seseorang hendak membunuh khalifah. Orang ini datang
dan menarik jenggot Ustman. Ustman dengan tenang berkata
"Jangan sentuh jenggotku karena sesungguhnya ayahmu dulu menghormati
jenggot ini." Kemudian pemberontak itu melepaskannya karena dia ingat bahwa
bukan hanya ayahnya yang menghormati, tapi juga Rasulullah S.A.W. dan setiap
orang menghormati Ustman. Utsman pun berkata mengingatkan: Wahai fulan, di
antara aku dan dirimu ada Kitabullah! Diapun pergi meninggalkan Utsman, hingga
datang orang lain dari bani Sadus. Dan ketika Ustman R.A. melihat nya datang, dia
segera mengencangkan tali pengikat celananya, karena dia tidak ingin auratnya
terlihat di saat-saat terakhirnya. Dengan penuh keberingasan, dia cekik leher khalifah
yang telah rapuh hingga sesak dada beliau dan terengah-engah nafas beliau, lalu dia
tebaskan pedang ke arah Utsman bin Affan. Amirul Mukminin menlindungi diri dari
pedang dengan tangannya yang mulia, hingga terputus bercucuran darah. Saat itu
Utsman berkata: Demi Allah, tangan (yang kau potong ini) adalah tangan pertama
yang mencatat surat-surat mufashshal. Ya beliau adalah pencatat wahyu Allah dari
lisan Rasulullah. Namun ucapan Utsman yang sesungguhnya nasihat bagi orang
yang memiliki hati tidak lagi dihiraukan. Darah mengalir pada mushaf tepat
mengenai firman Allah:
Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha
mendengar lagi Maha mengetahui. (Al-Baqarah: 137)
Kemudian istrinya, Na'ilah berlari untuk melindungi Utsman. Bukan hanya
itu, jari jemari Nailah bintu Furafishah terpotong saat melindungi suaminya dari
tebasan pedang kaum bughat. Subhanallah, cermin kesetiaan istri shalihah menghiasi
tragedi berdarah di negeri Rasulullah. Kemudian mereka menghujam dalam perut
Ustman R.A. dengan pedang! Lalu salah satu pemberontak menerjang dada Ustman
R.A. dan menusuknya 6 KALI! Dengan demikian wafatlah Ustman R.A. pada umur
83 tahun.
Terwujudlah sabda Rasulullah puluhan tahun silam. Ketika itu, Rasulullah
bersama dengan Abu Bakr, Umar, dan Utsman di atas Uhud, tiba-tiba Uhud
bergoncang. Rasul pun bersabda: Diamlah wahai Uhud, yang berada di atasmu
adalah seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.

Allahu Akbar! Berbukalah Utsman bin Affan bersama Rasulullah


sebagaimana mimpinya di malam itu. Tabir mimpi pun tersingkap sudah. Wafatlah
khalifah Ar-Rasyid, di hari Jumat, dalam usia 83 tahun. Pergilah manusia termulia
saat itu menemui ridha Allah dan ampunan-Nya. Menuju jannah-Nya. Seusai
pembunuhan, berteriaklah laki-laki hitam pembunuh Utsman, mengangkat dan
membentangkan dua tangannya seraya berkata Akulah yang membunuh Natsal!
Beberapa lama setelah Utsman dibunuh, para pemberontak tidak memperbolehkan
seorang pun untuk menguburkan jenazahnya. Pada akhirnya, istri Rasulullah,
Umayya Habiba menaiki tangga masjid Rasulullah dan berkata "Wahai pemberontak!
Jika kalian tidak mengizinkan kami untuk mengubur Ustman R.A., maka AKU ISTRI
RASULULLAH S.A.W., AKU KEHENDAK RASULULLAH S.A.W., AKU
KEKASIH RASULULLAH S.A.W., AKU IBU ORANG-ORANG BERIMAN, akan
turun ke jalan Madinah tanpa menutupi rambutku dan AKU SENDIRI yang akan
menguburkan Ustman!"
Dia tahu bahwa tidak ada satu pemberontak pun yang berani terhadap istri
Rasulullah S.A.W. Ka'ab ibn Malik R.A. meriwayatkan:
"Demi Allah, jika Umayya ibn Habiba R.A. turun ke jalanan Madinah tanpa
menutupi rambutnya, maka Allah akan MENURUNKAN HUJAN BATU DARI
LANGIT!"
Dan ketika para pemberontak mendengar ancaman dari istri Rasulullah
S.A.W., mereka membolehkan jenazah Ustman dikuburkan oleh empat orang: Hasan
R.A., Hussain R.A., Ali R.A., dan Muhammad ibn Talha R.A. Dan ketika mereka
membawa jenazah Ustman untuk dikuburkan, para pemberontak mulai melempari
batu ke jenazah Ustman R.A. Amrita bin Arta meriwayatkan "Ketika aku dan Aisyah
R.A. pulang dari berhaji, kami melihat Al-Qur'an dimana darah Ustman terjatuh ke
atasnya pada ayat 'Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang
Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Al-Baqarah: 137).'
Akibat dari kematian Ustman begitu besar, sampai-sampai Hasan (cucu
Rasulullah) meriwayatkan: "Aku melihat kakekku (Rasulullah) di dalam mimpi, dan
dia berdiri di hadapan Arsy Allah S.W.T. Dan inilah pertama kalinya aku melihatnya
dalam mimpi dimana dia terlihat khawatir. Kemudian Abu Bakar R.A. datang dari
belakangnya dan dia menempatkan tangannya di bahu Rasulullah S.A.W. Kemudian
Umar R.A. datang dari belakangnya dan dia menempatkan tangannya di bahu Abu
Bakar R.A. Tidak lama setelahnya, Ustman R.A. datang dan wajahnya yang
berlumuran darah. Tangannya menggenggam kepalanya dan dia berkata 'Wahai
Rasulullah, tanyakan kepada mereka karena dosa apakah mereka menjagalku seperti
seekor sapi?' Ketika Ustman R.A. berkata seperti ini, Arsy Allah mulai bergetar!
Kemudian dua sungai darah mengalir dari Arsy Allah S.W.T."Pada hari kiamat, ada
banyak orang yang gugur sebagai syuhada. Untuk para syuhada itu, tanah tempatnya
meninggal dunia akan bersaksi, namun untuk Ustman ibn Affan, Al-Qur'an yang akan
menjadi saksinya, karena dia meninggal dunia tepat di hadapan sebuah Al-Qur'an!
Asyhadu an-La ilaha illallah, wa anna Muhammadan Rasulullah! Sabda
Rasulullah bahwa Utsman akan meraih jannah dengan cobaan yang menimpanya

benar-benar terjadi. Abu Musa Al-Asyari mengatakan bahwa: Rasulullah


memerintahkan Abu Musa untuk memberi kabar gembira kepada Utsman dengan
jannah, dengan ujian yang akan menimpanya.
-

Akhir kehidupan pembunuh-pembunuh Utsman bin Affan R.A


Orang-orang yang memberontak Utsman R.A dan memiliki andil dalam
pembunuhan khalifah yang terzalimi mendapat hukuman pedih dari Allah.
Demikianlah akibat bagi mereka yang memusuhi wali-wali Allah. Benarlah firman
Allah dalam sebuah hadits Qudsi: Barangsiapa menyakiti wali-Ku, sungguh Aku
umumkan perang dengannya Khurqush bin Zuhair As-Sadi dibunuh oleh Ali bin
Abi Thalib pada perang Nahrawan tahun 39 H. Alba bin Haitsam As-Sadusi
dibunuh pada perang Jamal. Amr bin Al-Hamaq Al-Khuzai hidup hingga tahun 51
H, ia ditikam. Umair bin Dhabi yang mematahkan tulang rusuk Utsman z, hidup
hingga zaman Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, dia pun dibunuh. Demikian pula para
pembunuh Utsman z yang selain mereka. Wallahu alam.
Khalifah Utsman kemudian dikepung oleh pemberontak selama 40 hari
dimulai dari bulan Ramadhan hingga Dzulhijah. Dia diberi 2 ulimatum oleh
pemberontak (Ghafiki dan Sudan), yaitu mengundurkan diri atau dibunuh. Meski
Utsman mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak, namun ia
berprinsip untuk tidak menumpahkan darah umat Islam. Utsman akhirnya wafat
sebagai syahid pada bulan Dzulhijah 35 H ketika para pemberontak berhasil
memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran. Persis
seperti apa yang disampaikan Rasullullah perihal kematian Utsman yang syahid
nantinya, peristiwa pembunuhan usman berawal dari pengepungan rumah Utsman
oleh para pemberontak selama 40 hari. Utsman wafat pada hari Jumat 18 Dzulhijjah
35 H.[2] Ia dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.