Anda di halaman 1dari 12

PORIFERA DAN COELENTERATA

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH KEANEKARAGAMAN HEWAN
Yang diampu olehI bu Sofia Ery Rahayu, S.Pd, M.Si

Oleh kelompok 1:
1.
2.
3.
4.

Isfatun Chasanah
Patricia Karin H. P
Siti Hartinah Pratiwi
Yunita Nur Agustiningsih

(140342603465)
(140342604104)
(140342603933)
(140342601774 )

Off : H

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Agustus 2015

A. Latar Belakang

Porifera atau biasa disebut sebagai hewan berpori berasal dari kata pori yang berarti
lubang atau fero yang berarti membawa atau mengandung. Contoh dari porifera adalah
sponsa. Sponsa merupakan hewan yang hidup menempel pada suatu subrat di laut. Telah
diketahuin kira-kira 2500 spesies, ada beberapa yang hidup di air tawar dan sebagian besar
hidup di laut. Filum ini tubuhnya mempunyai banyak pori. Air beserta makanan masuk
melalui pori ke dalam rongga di dalam tubuh dari hewan dan akhirnya keluar melalui
oskulum. Air yang telah disaring ini akan dibuang melalui oskulum. Tubuh sponsa terdiri dari
dua lapisan sel, diantara ke dua sel terdapat bagian yang tersusun dari bahan yang lunak
disebut mesoglea. Sel-sel yang membentuk lapisan dalam mempunyai flagea, yang mengatur
aliran sel-sel ini dapat menangkap partikel makanan.
Bentuk sponsa ditentukan oleh kerangka tubuh. Kerangka tersusun dari spikulata.
Spikula tersebut dari sel-sel yang terdapat dalam mesoglea. Spikula tersusun dari silica atau
kapur (kalsium karbonat). Beberapa sponsa tidak memiliki serabut-serabut yang lentur dari
zat yang disebut sponging. Sponsa terdapat di perairan yang dangkal di daerah tropis. Bila
sponsa diolah dapat digunakan untuk bahan atau alat pembersih.
Seperti yang kita ketahui suatu orgfanisme yang melekat pada subtract harus
mempunyai cara untuk menyebar keturunanya ketempat lain. Untuk tujuan itu sponsa
menghasilkan larva kecil yang dapat berenang dengan bebas. Larva tersebut memisahka
diri dari induknya dan setelah menemukan tempat hidup yang sesuai larva akan melekat
disitu dan berkembang menjadi hewan dewasa.
Berdasarkan fosil porifera yang dapat ditemukan menunjukan bahwa sponsa adalah
salah satu hewan yang pertama kali muncul di bumi. Tetapi tidak ada bukti bahwa ada hewan
yang berkembang dari sponsa. Sponsa menempati suatu tempat yang agak unik dalam dunia
hewan, oleh karena itu beberapa ahli taksonomi, porifera dimasukan dalam suatu kelompok
yang disebut parasoa.
Coelenterata atau yang juga biasa disebut dengan Cnidaria adalah filum hewan yang
memiliki tubuh sangat sederhana. Kata Coelenterata berasal dari kata coelos yang berarti
rongga dan enteron yang berarti usus. Jadi, Coelenterata adalah hewan yang memiliki rongga
di dalam tubuhnya yang sekaligus berfungsi sebagai organ pencernaan makanan. Coelenterata
disebut sebagai hewan sederhana karena jaringan tubuhnya hanya terdiri dari dua lapis sel,
yaitu sel internal dan eksternal. Terdapat sekitar 10.000 spesies Coelenterata yang sebagian
besar hidup di laut.
Sebagian hidup secara soliter, sedangkan sebagian lain hidup berkoloni. Tubuhnya
simetri radial. Jika dipotong tubuhnya melalui sumbu tubuh maka akan mendapatkan

beberapa bagian yang sama. Memiliki rongga gastrovaskuler yang berfungsi untuk mencerna
makanan. Tubuhnya hanya memiliki satu lubang yang berfungsi sebagai mulut sekaligus
anus. Merupakan hewan diploblastik. : ektodermis

(epidermis) dan endodermis

(gastrodermis). Mempunyai tentakel yang berfungsi untuk memasukkan makanan ke dalam


mulut. Tentakel dilengkapi dengan sel penyengat yang disebut dengan knidosit (cnidoblast).
Memiliki dua bentuk tubuh, yaitu polip dan medusa. Hidupnya : kebanyakan di laut,
beberapa di air tawar.
Coelenterata merupakan diploblastik, hewan ini mempunyai dua lapis sel yaitu
ektoderm yang merupakan lapisan sel luar dan endoderm yang merupakan lapisan dalam.
Coelenterata memiliki dua bentuk tubuh, yaitu polip dan medusa. Pada bentuk polip (seperti
tabung), coelenterata memiliki mulut di bagian dorsal yang dikelilingi oleh tentakel.
Sedangkan pada bentuk medusa yang berbentuk seperti cakram, mulut coelenterata terletak di
bagian bawah (oral) dan tubuhnya dikelilingi oleh tentakel.
Coelenterata dapat bereproduksi baik dengan cara generatif (seksual) maupun vegetatif
(aseksual). Reproduksi secara generatif terjadi saat sel sperma jantan membuahi sel telur
(ovum) betina. Sedangkan perkembangbiakan secara aseksual berlangsung dengan cara
pembentukan tunas pada sisi tubuh coelenterata yang akan tumbuh menjadi individu baru
setelah lepas dari tubuh induknya.
Beberapa jenis coelenterata juga mengalami metagenesis (pergiliran keturunan), yaitu
perkembangbiakan seksual yang diikuti oleh perkembangbiakan aseksual pada satu generasi.
Pada coelenterata jenis ini, tubuh akan memiliki bentuk polip pada satu fase hidupnya,
kemudian berbentuk medusa pada tahap selanjutnya.
Beberapa jenis cerlenterata dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kosmetik bahkan
bisa diolah menjadi agar-agar. Sebagian lain membentuk terumbu karang yang bisa menahan
gelombang. Beberapa spesies coelenterata juga memberikan pemandangan indah di dasar
lautan dengan warna dan bentu mereka yang unik.

B. Pengertian Coelenterata
Istilah Coelenterata diambil dari bahasa Yunani (Greek); coilos = rongga, enteron
= usus. Gabungan istilah tersebut tidak diartikan sebagai hewan yang ususnya berongga,
tetapi cukup disebut hewan berongga. Istilah tersebut juga mengindikasikan bahwa hewan
Coelenterata tidak memiliki rongga tubuh sebenarnya, melainkan hanya berupa rongga

sentral yang disebut Coelenteron. Rongga tersebut berfungsi sebagai rongga pencernaan
dan sekaligus berfungsi sebagai pengedar sari makanan. Oleh karena itu rongga tersebut
disebut juga sebagai rongga gastrovaskuler. Colenterata tubuhnya tersusun oleh banyak
sel dan sudah membentuk jaringan, dan perkembangan organ tubuhnya masih terbatas.
C. Ciri Ciri Umum Dan Khusus Coelenterata
Secara Umum tubuh hewan-hewan Coelenterata tersusun oleh dua lapis jaringan
dan satu lapis non seluler . bagian luar berupa lapisan epidermis dan bagian dalam lapisan
endodermis atau gastrodermis, sedangkan di antara kedua lapisan tersebut ada lapisan non
seluler yang disebut mesoglea. Bentuk tubuh Coelenterata memiliki dua tipe dasar yakni
sebagai polip yang sesil atau menempel dan sebagai medusa yang dapat berenang bebas.
Secara umum Coelenterata memiliki ciri ciri khusus yaitu :
1. Tubuh radial simetris ( silindris, globular, atau spherical )
2. Dinding tubuh diploblastik ( dua lapis jaringan ) yang memiliki sel jelatang atau
penyengat.
3. Tubuh tidak beranus tetapi hanya bermulut yang dilengkapi dengan tentakeltentakel disekelilingnya
4. Sistem pencernaan makanan tidak komplit, hanya berupa rongga gastrovaskuler
5. Belum memiliki alat pernafasan, sirkulasi maupun eksresi yang khusus.
D. Kelas Coelenterata
1. Kelas Hydrozoa
Secara umum hewan hewan anggota kelas Hydrozoa dapat diseskrepsikan
sebagi berikut : 1) ada yang hidup soliter ada yang berkoloni. 2) siklus hidupnya terdiri
dari dua fase yaitu fase polip dan fase medusa. 3) rongga gastrovaskuler tidak dilengkapi
stomodeum dan mesentrium maupun sel sel jelatang. Contoh dari kelas Hydrozoa yaitu
Hydra dan Obelia.
a. Hydra (Hydrozoa Air Tawar)
Habitat :
Hydra banyak hidup di kolam atau di sungai yang airnya mengalir.
Tubuh Hydra berbentuk polip yang hidup soliter dalam arti tidak berkoloni,
dapat berpindah tempat, tetapi biasanya melekat pada objek, misalnya pada
batu-batuan.
Ciri-Ciri Luar dan Bagian Bagian Tubuhnya :

Tubuh Hydra berbentuk tabung elastic yang bervariasi ukuran panjang


dan ketebalannya. Ujung bawah dari tubuhnya merupakan bagian tertutup dan
disebut cakram basal yang berfungsi sebagai alat pelekat dan alat gerak. Ujung
atas membentuk konus yang disebut hypostome, ujungnya terbuka sebagai
mulut. Disekitar mulut dikelilingi oleh 4-12 buah tentakel yang ramping.
Bagian tubuh yang terletak di antara mulut dan cakram basal disebut tangkai
tubuh. Mulutnya bermuara ke dalam suatu rongga yang disebut rongga
gastrovaskular yang berfungsi utnuk mencerna makanan dan sekaligus
mengedarkan sari-sari makanan ke seluruh tubuh. Rongga gastrovaskuler ini
juga berhubungan dengan rongga yang terdapat di dalam tentakel.
Tentakel pada Hydra dapat dijulurkan memanjang secara ekstrim
mencapai 7 cm. Dalam kondisi ini tentakel tampak sangat tipis sehingga sulit
dilihat dengan lensa. Tentakel dapat bergerak bebas menangkap mangsa dan
memasukkannnya ke dalam mulut.
Organ reproduksi, ovarium dan testis, sering ditemukan pada musim
gugur dan dingin. Dua organ reproduksi tersebut dapat ditemukan dalam satu
individu. Ovarium biasanya ditemukan pada posisi sepertiga dari bagian basal,
sedangkan testis ditemukan dua buah atau lebih di bagian yang lebih atas atau
dekat hipostom.
Pada sisi samping tubuh Hydra biasanya ditemukan kuncup yang
nantinya akan tumbuh membesar menjadi individu baru. Pembentukan individu
baru secara demikian disebut erkembangbiakan secara seksual.
Struktur Anatomi dari Tubuh Hydra :
Hydra merupakan hewan yang bersifat diploblastik, artinya tubuhnya
hanya terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan epidermis dan lapisan gastrodermis.
Diantara kedua lapisan itu terdapat lapisan nonselular yang disebut dengan
mesoglea.
Lapisan epidermis merupakan lapisan paling luar tubuh Hydra. Lapisan
ini berfungsi sebagai peindung tubuh dan sebagai penerima rangsangan dari
luar. Bagian luar epidermis dilapisi dengan kutikula yang tipis dan transparan
kecuali pada bagian diskus basal.
Lapisan gastrodermis merupakan lapisan dalam dari tubuh Hydra yang
membatasi rongga gastrovaskular. Lapisan gastrodermis lebih tebal daripada
lapisan epidermis. Lapisan ini merupakan lapisan yang berfungsi sebagai alat

pencerna makanan, penyerap sari-sari makanan, dan sekaligus pengedar sarisari makanan.
Lapisan mesoglea merupakan lapisan nonseluler yang membatasi antara
epidermis dan gastrodermis. Lapisan ini bersifat elastic dan berfungsi sebagai
alat penunjang tubuh. Karena lapisan ini terletak diantara epidermis dan
gastrodermis maka sering disebut juga dengan lapisan mesolamella.
Cara Makan dan Pencernaan Hydra :
Pada prinsipnya makanan Hydra terutama berupa hewan hewan yang
berukuran kecil, seperti microcrustecea, Annelida atau larva larva insecta
yang hidup di dalam air. Proses pencernaan dalam tubuh Hydra berlangsung
secara ekstraseluler dan dilanjutkan secara intraseluler Hydra yang sedang
kelaparan mempunyai kebiasaan berdiri tegak di atas cakram basalnya dengan
tentakeltentakel yang digapai-gapaikan seolah olah akan meraih tubuh
mengsanya.
Sarisari makanan tersebut akan diedarkan keseluruh bagian tubuh
oleh dinding gastrodermis. Partikel-partikel makanan yang tidak tercerna
misalnya kutikula dan lainnya akan dikeluarkan dari tubuh dengan jalan
dimuntahkan kembali melalui mulut. Cadangan makanan Hydra akan disimpan
dalam bentuk glikogen.

Respirasi dan Eksresi :


Pertukaran gas pada Hydra terjadi secara langsung pada permukaan
tubuhnya. Hal ini dikarenakan Hydra tidak mempunyai organ khusus untuk
bernafas, pembuangan hasil eksresi dan juga tidak mempunyai darah serta
sistem peredaran darah. Pertukaran gas berlangsung secara langsung dengan
dunia luar secara difusi dan osmosis melalui membrane dari masing-masing sel.
Dengan kata lain proses pernafasan maupun pembuangan sisa metabolisme
dilakukan secara mandiri oleh masing-masing sel yang bersangkutan.
Cara Bergerak :
Tangkai tubuh dapat digerakkan dikarenakan adanya kontraksi dari
fibril-fibril otot dan disebabkan oleh rangsangan dari luar atau gerak spontan.

Gerak pada Hydra dapat dibedakan menjadi gerak spontan, gerak seperti ulat
kilan, gerak merayap, gerak salto, gerak memanjat, gerak mengapung, gerak
melayang, dan gerak meluncur.
Sistem Reproduksi :
Hydra dapat bereproduksi dengan cara aseksual dan seksual. Reproduksi
secara aseksual Hydra yaitu dengan membentuk kuncup dan membelah diri.
Bila keadaan dan kondisi tubuh Hydra telah memadai di tengah-tengah bagian
tubuhnya yang disebut zona pembentukan kuncup, sel-sel interstitial akan
membelah diri dan membentuk tonjolan. Tonjolan tersebut akan bertambah
besar dan disebut dengan kuncup tersebut akan membentuk mulut dan tentakeltentakel. Bila kuncup tersebut telah terbentuk secara sempurna maka akan
memisahkan diri dari tubuh induk untuk berkembang menjadi Hydra baru.
Reproduksi secara seksual pada Hydra yaitu dengan generative. Pada
umumnya Hydra bersifat hermaprodit, tetapi ada juga yang tidak. Ovarium
Hydra berbentuk bulat, sedangkan testisnya berbentuk seperti konus.

Sifat Sifat lain dari Hydra :


a. Sifat Regenerasi
Hydra mempunyai daya regenerasi sangat besar , bila karena suatu sebab tubuh
Hydra putus menjadi dua bagian, maka masing-masing bagian akan tumbuh
menjadi Hydra baru .
b. Sifat Imortalitas
Pada tubuh Hydra ada suatu daerah yang disebut zona pertumbuhan, yang
terletak di sekitar hypostome. Daerah daerah itu senantiasa mengadakan
pertumbuhan dan perkembangan untuk menggantikan sel-sel yang lain yang
c.

telah tua.
Proses Enten atau Menyambung
Enten pada Hydra merupakan proses penyambungan antara pokok suatu
spesies dengan pokok spesies yang lain. Bila tubuh Hydra yang satu dipotong
kemudian ditempelkan pada berkas potongan dari tubuh Hydra yang lain, maka

antara kedua potongan yang ditempel tersebut dapat bersambung dan tumbuh
menjadi Hydra baru.

b. Obelia (Hydrozoa Laut)


Habitat
Obelia merupakan contoh anggota dari kelas Hydrozoa yang hidup di
perairan laut. Obelia mengalami pergiliran keturunan antara fase polip dan
medusa.
Fase Polip
Pada fase polip, Obelia hidup secara berkoloni. Koloni Obelia bersifat
polimorfi. Biasanya tumbuh dari suatu individu yang menyerupai Hydra. Dari
tubuhnya tersebut muncul kuncup-kuncupnya. Kuncup pada Obelia tetap
melekat pada tubuh induk dan tumbuh menjadi menjadi dewasa bersama-sama
induknya. Mulut pada Obelia muncul dari bagian yang disebut hydrotheca yang
dikelilingi oleh 20 tentakel. Koloni hydroid melekat pada substrat bagian
hydrorhiza. Hydroriza mendukung bagian tubuh seperti batang yang disebut
hydrocauilis yang akan tumbuh beratus-ratus cabang. Medusa merupakan salah
satu dari fase hidup Obelia. Di bagian tengan gonangium ditemukan poros
yang disebut blastostyle yag bertugas untuk membentuk kuncup-kuncup yang
kelak akan berkembang menjadi medusa.
Fase Medusa
Pada Obelia, fase medusa merupakan fase generative yang dibentuk
secara vegetative oleh fase hydroid. Medusa berbentuk seperti payung.
Hidupnya tidak secara berkoloni namun secara soliter. Pada bagian tengah dari
permukaan oral terdapat lubang mulut yang bergelambir empat. Mulut tersebut
merupakan saluran manubrium yang bermuara ke dalam rongga gastrovaskular.
Medusa merupakan hewan yang berkelamin terpisah, artinya ada medusa
jantan dan medusa betina, medusa Obelia mempunyai 4 buah gonad. Bila
gonad telah masak maka dinding epidermis yang menyelubunginya akan pecah
dari tempat dan ovum ataupun spermazoid akan keluar masuk ke dalam air.
Makanan dan Pencernaannya
Makanan Obelia berupa hewan-hewan kecil yang hidup di dalam laut.
Baik cara menangkapnya, cara mencernanya dan cara peredaran sari makanan
polanya serupa seperti yang terjadi pada Hydra. Perbedaan antara dua
kelompok tersebut adalah tidak semua cabang membenruk polip. Obelia

mengurus makanan. Makanannya hanya diurus oleh cabang-cabang polip


tertentu yang disebut Hydranth.
Proses pencernaan Obelia secara ekstra seluler maupun secara intra
seluler. Pada dasarnya proses pencernaan secara intraseluler itu merupakan
lanjutan dari proses pencernaan secara ekstra seluler yang terjadi di dalam selsel pencerna dalam vakuola-vakuola makanan.
Pergerakannya :
Koloni Hydroziod merupakan hewan yang digolongkan pada kelompok
Zoophyta, artinya hewan yang menyerupai tumbuhan. Hewan ini tidak dapat
bergerak dalam arti berpindah tempat.hidupnya menetap pada suatu tempat
dengan jalan mengikatkan diri pada suatu objek atau substrat tertentu.
Medusa merupakan hewan yang dapat bergerak atau berenang secara
aktif yaitu dengan jalan mengembangkempiskan tubuhnya yang berbentuk
seperti payung.

Respirasi dan Eksresi :


Baik pada fase hydroid maupun fase medusa, Obelia tidak mempunyai
alat khusus untuk respirasi maupun untuk mengeluarkan hasil eksresi.
Pengambilan oksigen dan pengeluaran zat-zat sampah dilakukan dengan jalan
difusi osmosis secara langsung.
Sistem Saraf dan Alat Indera
Pada kolohi hydroid hanya di temukan sistem susunan syaraf,
sedangkan alat indera tidak ditemukan. Susunan syaraf pada Obelia masih
primitive dalam arti belum ditemukannya sistem koordinasi sehingga banyak
setiap sel saraf bekerja secara mandiri. Susunan sel saraf demikian disebut
difus.
Sistem Reproduksi :
Medusa yang dihasilkan oleh polip dari koloni hydroid itu ada yang
jantan dan ada yang betina. Setelah hidup bebas dan mandiri , medusa jantan
akan mengeluarkan spermatozoid sedangkan medusa betina menghasilkan
ovum. Medusa-medusa yang telah mengeluarkan ovum dan sperma akan mati

perkawinan atau pembuahan terjadi di dalam laut. Setelah terjadi perkawinan


planula akan melekatkan diri pada suatu objek dengan perantara blastopornya.
Planula yang telah melekatkan diri akan tumbuh menjadi koloni hydroid muda.
Obelia dalam siklus hidupnya mengalami peristiwa metagenesis atau
pergiliran keturunanatau reproduksi secara vegetative ( pada fase polip) dengan
reproduksi secara generative ( pada fase medusa ).
2. Kelas Scyphozoa
Scyphozoa berasal dari bahasa Yunani; skyphos-zoon (skyphos = mangkok ; zoon =
hewan ), jadi skyphozoa berarti hewan yang bentuk tubuhnya menyerupai mangkok. Pada
kelompok ini yang lebih menonjol dalam penampilan selama siklus hidupnya adalah fase
medusa atau ubur ubur, sedangkan fase polipnya berukuran kecil juga sukar dijumpai.
Contoh yang amat popular dari anggota Kelas Scyphozoa ini adalah Aurelia aurita atau
ubur ubur.
a.

Aurelia aurita ( Ubur Ubur )


Habitat
Ubur ubur merupakan anggota kelas Scyphozoa yang mudah dikenal, karena
ubur-ubur yang unik yakni seperti payung dengan warna putih / bening, ukurannya
relative besar, banyak dijumpai pada tepi pantai, dan banyak dimanfaatkan untuk
kerupuk ubur ubur. Penyebaran ubur-ubur bersifat kosmopolitan atau banyak
ditemukan hampir disetiap daerah pantai / laut. Tubuh ubur-ubur yang jernih
transparan sampai-sampai terbentuk Kristal. Walaupun begitu tubuh tertentu tampak
berwarna putih kebiru-biruan. Karena tubuh ubur ubur jernih dan transparan maka
gonad yang ada di dalam tubuhnya Nampak jelas dari permukaan tubuhnya.
Makanan dan Pencernaan Makanan
Saluran pencernaan pada ubur-ubur berupa gastrovaskuler. Diujung distal
manubrium pada ubur-ubur terdapat lubang mulut yang berisi empat, setiap sisi
dilengkapi lengan lengan mulut. Ubur ubur makanannya berupa hewan hewan
kecil yang merupakan pakan anggota zooplankton, misalnya udang-udang kecil,
cacing, larva-larva insekta ataupun telur-telur hewan lain yang bergerombol bersama
sama. Zat lendir atau mukosa yang menutupi tubuhnya, sangat membantu dalam hal
pengumpulan hewan hewan yang akan menjadi mangsanya. Bulu getar pada rumbai
rumbai sangat selektif terhadap makanan yang disukainya. Setelah makanan masuk
ke dalam mulut, kemudian di tampung di dalam rongga gastrovaskuler. Pada

gastrovaskuler makanan- makanan akan dicampur dengan bantuan enzin untuk


menghasilkan sel - sel kelenjar. Enzin tersebut mampu mencernakan zat makanan
berupa protein, karbohidrat, lemak, dll. Pencernaan ini dinamakan pencernaan
ekstraseluler.
Sedangkan pencernaan intraseluler pada ubur-ubur yaitu partikel partikel
yang telah tercerna akan disaluran keseluruh cabang sistem gastrovaskuler. Ubur-ubur
biasanya menyimpan cadangan makanan berupa tetes glikogen.
Respirasi dan Eksresi :
Ubur ubur tidak mempunyai alat respirasi maupun eksresi yang khusus.
Kedua proses tersebut dilakukan secara langsung melalui seluruh permukaan
tubuhnya. Sehingga sistem gastrovaskuler sangat membantu dalam memperlancar
proses respirasi maupun eksresi. Gas oksigen dan karbondioksida pada ubur-ubur
dilakukan dengan cara difusi.
Sistem Susunan Saraf
Susunan syaraf pada ubur ubur lebih kompleks bila dibandingkan dengan
susunan syaraf Hydra. Susunan syaraf ubur ubur terdiri dari jaringan syaraf utama
yang berada dibagian permukaan sub-umbrella, susunan syaraf difus yang meliputi
badan badan sel syaraf yang kecil kecil, dan ganglion rhopalial yang merupakan
kumpulan dari neuron.
Alat Indra
Ubur ubur mempunyai tiga macam alat indera, yaitu tentakulokist, osseli dan
celah olfaktori. Tentakulokist merupakan indera yang berfungsi sebagai keseimbangan
ubur ubur untuk mengontrol irama gerak mengembang kempisnya badan paying.
Oselli merupakan badan berpigmen yang sensitive terhadap rangsangan cahaya. Celah
olfaktori merupakan indera pembau yang berfungsi untuk mengenali zat makanan
yang akan dimasukkan ke mulutnya.
Siklus Hidup :
Ubur ubur bersifat dioecious atau berkelamin terpisah. Artinya ada ubur
ubur jantan dan ada ubur-ubur betina. Spermatozoid dari ubur-ubur yang jantan
setelah dipancarkan masuk ke dalam air lalu berenang mancari tubuh ubur-ubur

betina. Setelah terjadi peleburan antara sel telur dan spermatozoid membentuk zygot.
Zygot akan didukung oleh tangan tangan mulut dan di tempat tersebut akan
berkembang menjadi larva dengan rambut getar yang disebut planula. Planula
kemudian akan mengikatkan diri pada suatu substrat yang berada di dasar laut. Di
tempat tersebut planula akan melepaskan bulu getarnya dan akan menjadi polip. Yang
disebut skifistoma. Skifistoma akan membelah secara transversal membentuk ruas
ruas yang disebut strobila. Bentuk cakram sebagai hasil pembelahan akan menjadi
ubur-ubur muda yang dinamakan efira. Selanjutnya efira yang telah tua akan
melepaskan diri dan berenang renang menjadi ubur ubur dewasa.
3. Kelas Anthozoa