Anda di halaman 1dari 11

Minanda Fachladelcada Primara

240210130056
Kelompok 12A
IV.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Analisis volumetri atau analisis titrimetri adalah teknis analisis yang

berdasarkan pada jumlah (volume) suatu larutan yang sudah diketahui


konsentrasinya yang diperlukan untuk bereaksi sempurna dengan suatu zat yang
akan ditentukan konsentrasinya. Prosesnya disebut titrasi, larutan yang diketahui
konsentrasinya disebut larutan standar atau larutan baku. (Sukarti, 2010)
Titrasi asam basa sering juga disebut asidimetri-alkalimetri. Titrasi yang
melibatkan asam dan basa digunakan secara luas dalam pengendalian analitik
banyak produk komersial, dan penguraian asam basa mempunyai pengaruh yang
penting atas proses metabolisme dalam sel. (Harjadi, 1993)
Titrasi adalah proses mengukur volume larutan yang terdapat dalam buret
yang ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui volumenya sampai terjadi
reaksi sempurna atau dengan kata lain untuk mengukur volume titran yang
diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Titik ekivalen adalah saat yang
menunjukkan bahwa ekivalen perekasi-pereaksi sama. Di dalam prakteknya titik
ekivalen sukar diamati, karena hanya meruapakan titik akhir teoritis atau titik
akhir stoikometri. Titik akhir titrasi merupakan keadaan di mana penambahan satu
tetes zat penitrasi (titran) akan menyebabkan perubahan warna indikator. Kedua
cara di atas termasuk analisis titrimetri atau volumetri. Istilah analisis volumetri
lebih sering digunakan dari pada titrimetri.
Rekasi-reaksi kimia yang dapat terjadi pada penentuan titrimetri asambasa adalah sebagai berikut :
o Jika HA merupakan asam yang akan ditentukan dan BOH sebabagi basa,
maka reksinya adalah : HA + OHA- + H2O
o Jika BOH merupakan basa yang akan ditentukan dan HA sebagi asam,
maka reaksinya adalah ; BOH + H+ B+ = H2O
Dari kedua reaksi di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip reaksi titrasi
asam basa adalah reaksi penetralan, yakni ; H + + OH - H2O dan terdiri dari
beberapa kemungkinan yaitu reaksi-rekasi antara asam kuat dengan basa kuat,
asam kuat dan basa lemah, asam lemah dan basa kuat, serta asam lemah dan basa
lemah.

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Kelompok 12A
Khusus reaksi antara asam lemah dan basa lemah tidak dapat digunakan
dalam analisis kuantitatif, karena pada titik ekivalen yang terbentuk akan
terhidrolisis kembali sehingga titik akhir titrasi tidak dapat diamati. Hal ini yang
menyebabkan bahwa titran biasanya merupakan larutan baku elektrolit kuat
seperti NaOH dan HCl.
Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai titrant dan biasanya
diletakkan di dalam buret, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya
disebut sebagai analit dan biasanya diletakkan di dalam labu erlenmeyer. Baik
titrant maupun analit biasanya berupa larutan. Larutan yang digunakan dalam
titrasi merupakan larutan baku. Larutan baku adalah suatu larutan yang
konsentrasinya diketahui dengan tepat, dapat digunakan untuk menetapkan kadar
suatu larutan lain yang belum diketahui konsentrasinya. Larutan baku dapat
dibedakan menjadi:
1. Larutan baku pertama, yaitu larutan yang mengandung zat padat murni yang
konsentrasinya diketahui dengan tepat, dapat digunakan untuk menentukan
konsentrasi larutan lain yang belum diketahui. Karakteristik larutan baku
pertama:
a. Harus tersedia dengan mudah dalam bentuk murni
b. Zat harus stabil, mudah dikeringkan dan tidak boleh higroskopis
c. Mempunyai berat molekul yang cukup besar
Contoh larutan baku pertama adalah asam oksalat, kalium bromat, kalium
iodidat.
2. Larutan baku kedua, yaitu larutan suatu zat yang konsentrasinya tisak dapat
diketahui dengan tepat, sebab diketahui dari zat yang tidak pernah murni
(bersifat higroskopis atau sangat mudah bereaksi dengan udara). Karakteristik
larutan baku ke dua:
a. Tidak tersedia dalam keadaan murni

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Kelompok 12A
b. Tidak stabil, sangat higroskopis, mudah bereaksi dengan udara
c. Mempunyai berat molekul relatif kecil.
d. Sebelum digunakan, larutan baku kedua harus distandardisasi/dibakukan
dengan larutan baku pertama. Contoh larutan baku kedua adalah iodium
(I2), KMnO4.
Titrasi asam basa melibatkan reaksi antara asam dengan basa, sehingga
akan terjadi perubahan pH larutan yang akan dititrasi. Ada beberapa jenis titrasi
asam basa, diantaranya adalah :
1 Titrasi asam kuat dengan basa kuat.
2 Titrasi asam lemah dengan basa kuat.
3 Titrasi basa lemah dengan asam kuat.
4 Titrasi basa lemah dengan asam lemah.
5 Kurva titrasi asam lemah dengan basa kuat
Kurva titrasi asam lemah dengan basa kuat

Gambar 1. Kurva titrasi asam lemah dengan basa kuat


Sumber : Wijayanti (2010)
Kurva tersebut menunjukkan bahwa titik ekivalen berada pada pH di atas
7. Lonjakan perubahan pH pada sekitar titik ekivalen lebih sempit, yaitu hanya
sekitar 3 satuan (dari pH 7 hingga pH 10) (Wijayanti, 2010).

Kurva titrasi asam kuat dengan basa lemah

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Kelompok 12A

Gambar 2. Kurva titrasi asam kuat dengan basa lemah


Sumber : Wijayanti (2010)
Berdasarkan kurva tersebut, titik ekivalen, pH larutan pada penetralan basa
lemah oleh asam kuat berada di bawah 7. Lonjakan pH disekitar titik ekivalen
juga lebih sempit (Wijayanti, 2010).

Kurva titrasi asam kuat dengan basa kuat

Gambar 3. Kurva titrasi asam kuat dengan basa kuat


Sumber : Wijayanti (2010)
Berdasarkan kurva tersebut, mula-mula pH larutan mengalami kenaikan
sedikit demi sedikit, tetapi perubahan yang cukup drastis terjadi di sekitar titik
ekivalen. Titik ekivalen dicapai pada pH 7 (larutan asam dan basa tepat habis
bereaksi) (Wijayanti, 2010).
Kurva titrasi dibuat untuk menguji suatu reaksi, yaitu menentukan bisa
atau tidaknya reaksi tersebut digunakan untuk titrasi. Kurva titrasi asam-basa
terdiri dari suatu plot pH atau pOH dengan milimeter titran. Kurva tersebut
berfungsi dalam menentukan kelayakan suatu titrasi dan dalam memilih indikator
yang sesuai (Day dan Underwood, 2002).

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Kelompok 12A
Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan yang melibatkan asam
maupun basa sebagai analit ataupun titrant. Titran dapat berupa larutan yang
diketahui konsentrasinya atau tidak diketahui. Analit dapat berupa larutan yang
volumenya diukur dengan pipet atau zat padat yang diarutkan dengan ditimbang
beratnya secara akurat. Suatu reaksi berjalan sempurna jika jumlahnya secara
stoikhiometri dari zat yang direaksikan bergabung. Hal ini disebut titik
ekivalen/titik stoikhiometri dalam titrasi. Terdapat dua cara umum untuk
menentukan titik ekivalen pada titrasi asam basa, yaitu :
1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan,
kemudian membuat plot antara pH dengan volume titrant untuk memperoleh
kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah titik ekuivalent.
2. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum
proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik
ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.
Umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak
diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis, seperti percobaan yang dilakukan
pada percobaan ini. Penambahan indikator adalah supaya terjadi perubahan warna
pada erlenmeyer yang ditetesi larutan dari buret. Indikator yang dipakai dalam
titrasi asam basa adalah indikator yang perubahan warnanya dipengaruhi oleh pH.
Penambahan indikator diusahakan sesedikit mungkin ( 3 tetes), untuk
memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin
dengan titik ekivalen, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indikator yang tepat
dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan.
Percobaan titik stoikhiometri dari titrasi asam-basa dapat dideteksi dengan
menggunakan indikator metil orange berwarna orange dalam larutan bersifat asam
tetapi akan berwarna merah larutan basa. Keadaan titrasi pada saat metil orange
berubah warna disebut titik akhir titrasi dari indikator.
Indikator adalah variabel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi
keadaan atau status dan memungkinkan dilakukannya pengukuran terhadap

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Kelompok 12A
perubahan- perubahan yang terjadi dan waktu ke waktu, sedangkan indikator
asam-basa merupakan suatu zat yang mempunyai warna berbeda pada struktur
bersifat asam dan bersifat basa. Indikator yang akan digunakan ketika akan
melakukan titrasi sebaiknya indikator yang memiliki perbedaan warna yang jelas
atau memiliki rentang yang jauh ketika di akhir titrasi, misalnya dari tidak
berwarna menjadi pink agar titik akhir titrasi diketahui dengan pasti. Indikator
lain yang dapat digunakan dalam titrasi asam basa dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Indikator asam-basa
Warna dalam lingkungan
Asam
Basa
Kuning
Biru

No

Nama

Target pH/rentang pH

1.

Hijau bromkresol

3,8-5,4

2.
3.

Biru bromtimol
Merah metil

6,2-7,6
4,2-6,3

Kuning
Merah

Biru
Kuning

4.

Merah fenol

6,8-8,4

Kuning

Merah

5.

Ungu bromkresol

5,2-6,8

Kuning

Ungu

6.

Fenolftalein

8,3-10,0

Tak berwarna

Merah

7.

Ungu kresol

7,9-9,2

Kuning

Ungu

8.

Timol biru

1,2-2,8

Merah

Kuning

9.

Metil jingga

3,1 4,4

Merah

Jingga

10

Metil kuning

2,9-4,0

Merah

Kuning

.
Sumber : (Svehla, 1979)
Mol-ekivalen asam akan sama dengan mol-ekuivalen basa pada saat titik
ekuivalen maka, maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut:
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa
Mol-ekivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas dengan
volume maka rumus diatas dapat kita tulis sebagai:
Nasam xVasam = Nbasa xVbasa

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Kelompok 12A
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan
jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH pada basa, sehingga rumus diatas
menjadi:
nxMxV asam = nxVxM basa
keterangan:
N

= Normalitas

= Volume

= Molaritas

= jumlah ion H+ (pada asam) atau OH- (pada basa)


Praktikum kali ini, titrasi yang dilakukan untuk menentukan konsentrasi

HCl, sebelum menentukan konsentrasi HCl praktikan melakukan pembuatan


larutan HCL 0,1 N dan pembuatan larutan Na 2CO3 anhidrous 0,1 N kemudian
melakukan standarisasi HCL 0,1 N terhadap Na2CO3 anhidrous 0,1 N, untuk
membuat larutan 250 ml HCl 0,1 N dengan cara 2,08 ml HCl pekat dipipet dan
dimasukkan ke dalam labu ukur yang telah berisi aquades kemudian ditambahkan
akuades sampai tanda batas pada labu ukur 250 ml, berikut ini merupakan
perhitungannya :
8.33
x
=
1000 250
Maka x =

8,33. 250
=2,08 ml
1000

Larutan Na2CO3 0,1 N sebanyak 100 ml dibuat dengan 0,53 gram Na2CO3.
Berdasarkan praktikum, Na2CO3, Na2CO3 yang ditimbang sebanyak 0,5335 gram.
Berikut ini cara perhitungan untuk menentukan normalitas Na2CO3 :
N Na2 CO3 =

massa
BE .V

N Na 2 CO3 =

0,5345
=0,1008 N
53 x 0,1

Langkah-langkah yang dilakukan dalam menentukan konsentrasi HCl


diantaranya buret dibilas terlebih dahulu dengan larutan HCl yang telah dibuat

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Kelompok 12A
sebelumnya kemudian buret dipasang pada statif, setelah itu larutan HCl
dimasukkan ke dalam buret 100 ml Na2CO3 dimasukkan ke dalam labu
erlenmeyer dan ditambahkan 3 tetes Metil orange. Fungsi penambahan metil
orange ini adalah sebagai indikator untuk menentukan titik akhir titrasi, kemudian
dilakukan titrasi hingga akhir titrasi yang ditandai dengan Na 2CO3 di dalam
erlenmeyer berubah warna dari orange menjadi merah. Hasil titrasi asam-basa
antara Na2CO3 dengan HCl dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Hasil Pengamatan Titrasi Asam-Basa
Kelompok
NNa2CO3 (N)
VHCl (ml)
NHCl (N)
Rata-Rata N HCl
6
0,1002
9,2
0,1089
7
0,1002
9,4
0,1065
8
0,1008
9
0,112
0,10828 N
9
0,1008
9,2
0,109
10
0,1008
9,6
0,105
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2014)
Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat bahwa dalam menentukan
konsentrasi NaCl dilakukan titrasi sebanyak 5 kali, dengan menggunakan rumus:
Nasam xVasam = Nbasa xVbasa
diperoleh konsentrasi NaCl sebesar Normalitas berdasarkan perhitungan berikut
ini:
a. Kelompok 6
Vasam xNasam = Vbasa x Nbasa
9.2 x NHCL= 10 x 0,1002
1,002
NHCL =
9,2
NHCL = 0,108 N
b. Kelompok 7
Vasam x Nasam = Vbasa xNbasa
9,4 x NHCL = 10 x 0,1002
1,002
NHCL =
9,4
NHCL = 0,106 N
c. Kelompok 8
Vasam xNasam = Vbasa xNbasa
9 x NHCL
= 10 x 0,1008
1,008
NHCL =
9
NHCL = 0,112 N
d. Kelompok 9
Vasam xNasam = Vbasa x Nbasa
9,2 x NHCL = 10 x 0,1008

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Kelompok 12A
NHCL

1,008
9,2

NHCL = 0,109 N
e. Kelompok 10
Vasam x Nasam
= Vbasa x Nbasa
9,6 x NHCL
= 10 x 0,1008
1,008
NHCL =
9,6
NHCL

= 0,105 N

Hasil pengamatan yang tertera di atas, didapat Normalitas HCL yang telah
dirata-ratakan adalah 0,10828 N, padahal Normalitas yang seharusnya adalah 0,1.
Hal ini jelas menyimpang dari literatur atau yang seharusnya. Hal ini mungkin
dikarenakan karena kesalahan inten atau kesalahan pengamatan dari tiap
kelompok. Hasil dari tiap kelompok itu sendiri sudah menunjukan penyimpangan
hasil, dari yang seharusnya adalah 0,1 N.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi ketidaktepatan data seperti
diatas. Pengamatan terhadap ml HCL dalam buret misalnya. Pengamatan tersebut
harus dilakukan dengan cara mata kita sejajar dengan skala yang akan di amati,
apabila kita mengamati dengan posisi mata berada di atas maka akan terjadi
penyimpangan atau kesalahan dalam pembacaaan data.
Faktor yang paling sering menyebabkan ketidak tepatan data pada proses
titrasi adalah dalam melihat larutan yang berada di erlenmeyer sudah mencapai
titik ekivalen atau belum. Titik ekivalen pada percobaan ini dicapai ketika NaCO 3
sudah mulai berwarna merah dan tidak kembali orange. Seringkali penetesan HCL
kurang terkontrol dan kurang hati hati sehingga NaCO 3 menjadi berwarna sangat
merah, sedangkan titik ekivalen dicapai pada saat NaCO 3 tepat berwarna merah.
Hal tersebut dapat menyebabkan volume HCl yang didapat akan berlebih seperti
yang terjadi dan mungkin diakibatkan karena pengamat terlalu cepat memutuskan
bahwa larutan NaCO3 sudah berwarna merah (sudah mencapai titik ekivalen).
Perlu ditekankan kembali bahwa dalam pengamatan perubahan NaCO 3 menjadi
merah haruslah hati-hati, karena apabila NaCO3 tersebut sudah berwarna merah
dan setelah di kocok kembali lagi menjadi orange, maka belum mencapai titik
ekivalen.

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Kelompok 12A
Dari ke 5 praktikum titrasi tersebut diperoleh konsentrasi N HCl yang
berbeda-beda, hal ini disebabkan karena volume HCl yang digunakan pun
berbeda-beda. Perbedaan volume HCl yang digunakan oleh setiap kelompok dapat
disebabkan karena perubahan warna yang diamati mungkin bukan perubahan
warna dari orange menjadi berwarna merah yang terjadi saat pertama kalinya dari
larutan tersebut.

V.

KESIMPULAN
Konsentrasi HCl yang diperoleh dari hasil titrasi kelompok 6 sebesar

0,1089N.
Konsentrasi HCl yang diperoleh dari hasil titrasi kelompok 7 sebesar

0,1065N.
Konsentrasi HCl yang diperoleh dari hasil titrasi kelompok 8 sebesar

0,112N.
Konsentrasi HCl yang diperoleh dari hasil titrasi kelompok 9 sebesar

0,109N.
Konsentrasi HCl yang diperoleh dari hasil titrasi kelompok 10 sebesar

0,105N.
Perbedaan konsentrasi NaOH terjadi karena volume HCl yang digunakan

berbeda-beda, namun perbedaan angka yang didapat tidak signifikan.


Titik ekivalen titrasi HCl dan Na2CO3 cenderung asam karena HCl
merupakan asam kuat sedangkan Na2CO3 merupakan basa lemah sehingga

indikator yang digunakan metil orange dengan kisaran pH 3,1 hingga 4,4.
Persamaan reaksi berdasarkan praktikum : 2 HCl + Na2CO3 2 NaCl +
H2O + CO2

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Kelompok 12A

DAFTAR PUSTAKA
Day R.A dan A.L. Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam.
Penerbit Erlangga. Jakarta
Harjadi, W. 1993. Ilmu Analitik Dasar. PT. Gramedia pustaka: Jakarta
N. N. Greenwood, A. Earnshaw, Chemistry of the Elements, 2nd ed., ButterworthHeinemann, Oxford, UK, 1997.
Sukarti,Tati. 2009. Kimia Analitik. Widya Padjadjaran : Bandung.
Svehla, G. 1979. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro.
Edisi Kelima. PT Kalman Media Pustaka. Jakarta
Wijayanti. 2010. Kurva Titrasi Asam Basa. Available at: http://kimiaasyik.wordpress.com. (diakses pada tanggal 15 September 2014 pukul
23.30)

Anda mungkin juga menyukai