Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI DAN VIROLOGI


ENUMERASI

Nama

: I Gusti Ayu Nyoman Suastini

NIM

: 1208505061

Kelompok

: V

Golongan

Tanggal Praktikum

: 25 Maret 2014

Asisten

: Siti Didah Alawiah

II

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui metode-metode yang digunakan untuk enumerasi, salah
satunya metode pengenceran
2. Untuk mengetahui jumlah koloni pada setiap sampel akibat pengaruh dari
faktor pengenceran terhadap jumlah mikroba yang terdapat pada sampel.
3. Untuk mengetahui tenik mengisolasi mikroba sehingga mendapat biakan murni
BAB II
MATERI DAN METODE
Enumerasi dilakukan dengan menggunakan metode pengenceran. Sampel yang
digunakan antara lain kuah gulai kambing dari pedagang di lingkungan Bukit Jimbaran.
Metode pengenceran ini memerlukan 3 buah cawan petri, media agar, bunsen, tabung reaksi,
air steril dan pipet mikro. Sampel kuah gulai kambing dipipet sebanyak 1 mL dan
dimasukkan ke dalam tabung reaksi pertama yang berisi 9 mL air steril untuk mendapatkan
faktor pengenceran 10 kali atau 10-1 . Larutan dikocok homogen dengan menggunakan

alat vortex. Campuran pada tabung reaksi pertama selanjutnya dipipet sebanyak 1 mL
dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi kedua yang berisi 9 mL air steril untuk
mendapatkan faktor pengenceran 10-2 . Prosedur yang sama diulangi hingga
didapatkan faktor pengenceran sebesar 10-4 .
Sampel dengan faktor pengenceran 10-3 dan 10-4 masing-masing dipipet
sebanyak 1 mL dan dimasukkan ked ala cawan petri yang berbeda yang telah ditandai
10-3 dan 10-4 . masing-masing cawan petri ditambahkan media NA tegak lalu
digoyang hingga merata dan dibiarkan memadat pada suhu kamar. Media tersebut
kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Kemudian dihitung jumlah
koloni yang tumbuh pada masing-masing cawan.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
(Terlampir)
3.2 Pembahasan
Pada praktikum enumerasi ini, dilakukan dengan menggunakan enam sampel
cair yang berbeda, antara lain kuah bakso (depot), kuah bakso (pkl), kuah soto, kuah
pindang, kuah gulai kambing, dan rawon. Sampel kuah bakso dan soto dilakukan
pengenceran hingga 1000 kali, sedangkan pada sampel kuah pindang, gulai dan
rawon diencerkan hingga 10.000 kali. Hal ini dilakukan karena pada seri pengenceran
yang lebih tinggi, jumlah populasi mikroba yang didapat akan membentuk koloni
yang terpisah-pisah saat dibiakkan. Pada seri pengenceran 10-1 jumlah bakteri yang ad
dianggap masih terlalu padat, sehingga sulit untuk didapatkan biakan murni, sehingga
suspensi mikroba pada seri pengenceran 10-3 dan 10-4 yang dipilih (Prescott, et al.,
2002).
Pada sampel kuah bakso (depot) didapatkan koloni bakteri pada pengenceran
10-2 sebanyak 12 koloni dan 9 koloni pada pengenceran seri 10-3. Total jumlah
mikroba yang diperoleh dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:
x =

x(102 ) x(103 ) 12(10 2 ) 9(10 3 )


=
5,1x10 3 CFU / mL
nx
2

Cara yang sama dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba yang terdapat
pada sampel kuah bakso (pkl) dimana pada sampel ini didapatkan 3 koloni bakteri
pada pengenceran seri 10-2 dan pada pengenceran 10-3 didapat 8 koloni. Sehingga
total jumlah mikroba yang didapat adalah 4,15 10-3. Faktor pengenceran 10-2 dan
10-3 pada sampel kuah soto secara berturut-turut didapatkan jumlah koloni sebanyak
tidak terhingga dan 6 koloni. Total jumlah mikroba pada sampel kuah soto ini tidak
dapat ditentukan karena jumlahnya yang tidak terhingga. Hal yang sama juga
dijumpai pada sampel rawon, dimana jumlah koloni yang didapatkan tidak terhingga.

Pada sampel kuah pindang diperoleh 26 koloni pada seri pengenceran 10-3 dan
13 koloni pada seri pengenceran 10-4, dengan jumlah total mikroba yang diperoleh
7,8 10-4. Pada sampel kuah gulai kambing diperoleh 85 koloni pada pengenceran
seri 10-3 dan 80 koloni pada pengenceran seri 10-4, dengan jumlah total mikroba
44,25 10-4.
Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat dilihat bahwa semakin tinggi seri
pengenceran maka jumlah mikroba yang tumbuh akan semakin sedikit (Fardiaz,
1992). Jumlah total mikroba terbanyak ditemukan pada sampel kuah soto dan rawon,
dimana jumlahnya tidak terhingga. Banyaknya jumlah mikroba yang tumbuh dapat
disebabkan oleh beberapa faktor seperti suhu, kelembaban, pH, dan oksigen yang
sesuai untuk pertumbuhannya (Arisman, 2009). Selain itu, pada sampel gulai
kambing juga terdapat banyak koloni bakteri, hal ini dapat disebabkan karena pada
sampel gulai kambing sebelumnya telah didiamkan selama 1 malam tanpa diletakkan
pada kulkas, sehingga dapat memicu pertumbuhan bakteri lebih banyak lagi. Faktor
lain juga dapat disebabkan oleh kontaminan dari lingkungan sekitar pada saat
memberikan perlakuan terhadap sampel saat pengenceran akibat kurang terampilnya
praktikan saat melakukan pengenceran. Pemipetan pengenceran yang dekat dengan
nyala api untuk perlakuan aseptik dapat mencegah masuknya kontaminan dari
lingkungan luar yang dapat mengkontaminasi sampel.

BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Metode yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah mikroba adalah dengan
metode pengenceran.
4.2 Jumlah koloni pada sampel dapat dihitung dengan cara mengalikan jumlah koloni
yang tumbuh dengan faktor pengenceran. Jumlah mikroba terbanyak terdapat
pada sampel kuah soto dan rawon yaitu tidak terhingga. Jumlah mikroba yang
kurang dari 30 terdapat pada sampel kuah bakso depot dan pkl serta kuah
4

pindang. Pada sampel gulai kambing didapat jumlah mikroba sebanyak 44,25 x
10-4
4.3 Hubungan antara faktor pengenceran dengan jumlah pertumbuhan koloni adalah
semakin tinggi faktor pengenceran, maka semakin sedikit jumlah pertumbuhan
koloni dalam suatu medium.

DAFTAR PUSTAKA

Arisman. 2009. Keracunan Makanan: Buku Ajar Ilmu Gizi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Harmita dan M. Radji. 2008. Analisis Hayati. Edisi 3. Penerbit Buku Kedoketeran
EGC. Jakarta
Kawuri, R. dan I. B. G. Darmayasa. 2007. Penuntun Praktikum Mikrobiolgi Umum
Progam Studi Farmasi. Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi F.MIPA
UNUD. Bukt JImbaran
Madigan, M.T., J. M. Martinka dan J. Parker. 1997. Biology of Microorganisme 8th
Edition. Prentice Hall International, Inc. New Jersey
Prescott, L. M., J. P. Harley dan D. A. Klein. 2003. Microbiology 5th Edition.
McGraw Hill. Singapore