Anda di halaman 1dari 6

Handling dan Restrain

Teknik dan cara menguasai hewan dapat dilakukan dengan restrain secara fisik (physical
restraint) dan restrain secara farmakologik/ medikamentosa (chemical restraint).
1.

Restraint Fisik

Pada umumnya, kucing dapat direstrain seperti anjing yang berukuran kecil, tetapi kucing
yang agresif dapat menyebabkan masalah karena mereka tidak hanya dapat menggigit tetapi
dapat juga menggunakan cakar mereka. Restraint dengan bahan kimia sering dibutuhkan untuk
menangani kucing yang agresif, namun terdapat teknik yang dapat digunakan untuk restrain
secara fisik, yaitu:
Sedangkan beberapa cara untuk merestrain maupun menghandling kucing antara lain,
Crush cage
Memudahkan untuk intramuscular injeksi. Dinding dalam kandang yang dapat digerakan
memudahkan untuk menahan pasien pada salah satu sisi kandang.
Cat restaining bag
Terdapat retsleting disepanjang kantung sehingga hanya kepala kucing yang dapat terlihat.
Cat muzzles
Cat grabbers (Rahardjo, 2009).

Hampir semua tindakan handling menggunakan kekuatan tangan, karena itu pelaksana harus
melindungi tangannya. Pelaksana harus tahu di mana harus mencekal bagian tubuh hewan yang
aman sekaligus melindungi tangannya sendiri dari cedera (Dharmonojo, 2002; Aspinall, 2006).
2.

Restraint Kimiawi

Dengan ditemukannya obat-obatan yang mempunyai efek sedasi, mauscle relaxant, transquilizer,
anasthesia, maka teknik menguasai hewan dengan menggunakan obat-obatan tersebut disebut
chemical restraint. (Dharmonojo, 2002). Restraint kimia (sedasi) dapat digunakan pada kucing.
Bahan kimia yang dapat digunakan untuk kucing dapat dikombinasikan yaitu xylazine dan
ketamine, atau midzolam dan ketamine (Rahardjo, 200 ).

Pemeriksaan Umum
A.

Inspeksi

Merupakan pemeriksaan dengan melihat, mendengar atau membau tanpa alat bantu. Inspeksi
jarak jauh dilihat dari tingkah laku, cara berjalan dan berdiri dan keadaan umum. Jarak dekat
dengan pemeriksaan lebih seksama seperti pemeriksaan konjungtiva, pulsus, rumen, dan lainnya.
Kapas dikasihkan didepan hidung pasien, dan dihitung berapa kali pasien melepaskan CO2.
Nafas Kucing normal adalah 26-48 kali/menit.
B.

Pulsus

Pulsus normal kucing adalah 95-150 kali/menit. Dihitung pada arteri femoralis setiap 15 detik
kemudian dikalikan 4.
Suhu Tubuh
Melakukan pemerikasaan suhu dengan menggunakan termometer pada bagian rektum selama 3
menit lalu dibaca skalanya. Nilai normalnya 37,6-39,4oC. Bila terdapat halangan untuk
melakukan pengukuran pada rektum misalnya karena ada radang pada anus, pengukuran dapat
dilakukan pada rongga mulut dengan kmpensasi hasil pengukuran ditambah 0, 5oC karena
adanya evaporasi pada mulut.
D.

Selaput Lendir atau mukosa

Melakukan pada conjungtiva palpebrarum dengan melihat warna, kelembapan, dan kemungkinan
adanya lesi lalu bandingkan antara mata kiri dan kanan. Pada kucing warna nomal conjungtiva
palpebrarum adalh pink pucat. Pemeriksaan juga dilakukan pada mukosa hidung, mulut dan
vulva dan periksa Capillary Refill Time (CRT) yaitu dengan menekan membran mukosa selama 5
detik dan melihat kecepatan daerah yang ditekan kembali memerah. Sebaiknya warna merah
dapat kembali dalam waktu kurang dari 2 detik. (McCurnin, 2005; Surono,2008).
E.

Pemeriksaan Per System


1.

Sistem Pencernaan

Pemeriksaan dilakukan dengan melihat nafsu makan, cara makannya apakah ada kesakitan
menelan, inspeksi pada mulut, kulit sekitar dubur dan kaki belakang, inspeksi abdomen dan
kesimetrisannya, inspeksi cara hewan membuang kotoran. Buka mulut hewan agar dapat
memeriksa bagian dalam mulut, perhatikan gigi, lidah, gusi, phayrnx dan pemeriksaan CRT.
Memeriksa oesophagus baik dengan palpasi maupun rontgen. Periksa turgor kulit, palapasi
daerah abdomen. Auskultasi umtuk memeriksa peristaltik usus, palpasi rektum dan anus serta
lakukan pengambilan feses.

2.

Sistem Pernafasan

Secara umum inspeksi/adspeksi kelainan yang timbul, periksa frekuensi dan bandingkan dengan
pulsus, menentukan tipe pernafasannya, periksa organ yang menunjang sistem penafasan. Pada
hidung, perhatikan leleran dan lesi serta perkusi sinus frontalis. Pada pharynx, larynx palpasi dari
luar dan periksa limfoglandula regional. Auskultasi daerah trakea dan rongga dada. Pada rongga
dada dilakukan juga perkusi dan perhatikan suara abnormal yang timbul, lalu palapasi daerah
intercostae. Rontgen bila perlu.

3.

Sistem Peredaran darah

Secara umum perhatikan kelainan-kelainan alat sirkulasi yang dapat diinspeksi. Periksa denyut
nadi dan tentukan pulsusnya. Periksa jantung secara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi dan
tentukan abnormalitas yang mungkin terjadi. Periksa vena jugularis, apa ada pulsus atau tidak
apakah desakan arteri carotis communis atau valvula trikuspidalis pada jantung. Periksa
pembuluh darah perifer, periksa CRT.
4.

Limfoglandula

Pemeriksaan berdasarkan suhu, simetriristas kanan dan kiri dan kebengkakan., macam-macam
dari glandula
Lgl parotidea (Bawah telinga)
1. Lgl submaxillaris (Bawah mandibula)
2. Lgl retroparingeal (faring)
3. Lgl cervicalis (leher) terdiri dari netrior, medius, dan caudalis.
4. Lgl praescapularis (scapula)
5. Lgl axillaris (ketiak)
6. Lgl inguinalis superficialis (pada jantan) mamaria (pada betina) (dalam)
7. Lgl Poplitea (Kaki belakang)

5.

Sistem Lokomotor

Memerhatikan cara jalan hewan, sukar berdiri, sukar jongkok dll, pincang, kekakuan. Pada
muskuli Inspeksi bandingkan ekstremitas kanan dan kiri apakah ada perbedaan besar otot,
perbedaan kontur. Palpasi perhatikan suhu, kontur adanya rasa nyeri dan pengerasan.
Pada tulang Lakukan permeriksaan apakah kaki bengkok, jendolan. Coba gerak-gerakkan apakah
ada rasa nyeri atau tidak.
Pada persendiani inspeksi apakah hewan pincang, pembengkakan pada persendian, kekakuan
pada persendian.
1. 6.

Sistem Uropoetika

Pemeriksaan umum mengingat gejala yang menunjukkan gangguan pada organa uropoetica
(kulit, bulu, selaput lendir mulut, pulsus, lumbar pain). Urinasi dengan memerhatikan pada
waktu hewan kencing dengan posisi normal. Perhatikan air seni yang keluar. Perhatikan warna,
bau, anomaly lain.
Ginjal melakukan palpalsi pada daerah lumbal palpasi ginjal. Vesica urinaria melakukan palpasi
rongga perut pada waktu isi. Kosongkan dengan kateter. Saat kosong palpasi adanya batu ginjal
dll.
Kateterisasi dengan mengambil kateter sesuai dengan kelamin dan besar hewan. Kateter
dimasukkan dengan lege artis. Pada kucing jantan mengukur kira-kira panjang kateter dair ujung
penis sampai vesica urinaria. Keluarkan panis dan masukkan kaktketer melalui oroficium uretra
eksternal ke dalam uretra pelan-pelan. Sapai kantung kemih, tampung air untuk pemeriksaan lab.

1. 7.

Sistem Saraf

Nervus

Tes

Respon Normal

Respon Abnormal

I. Olfaktori

Substansi berbau

Mengendus, mundur,
menjilat

Tak ada respon

II.Optik

Refleks pupil
terhadap cahaya,
mengancam

Berkedip

Refleks pupil
terhadap cahaya
III.Oculomotor

Ada respon mata secara


langsung

Tak ada respon

Ada respon pupil secara


langsung

Tak ada respon

Melihat kemampuan
mata mengikuti
Ada pergerakan mata
objek

Pergerakan yang tidak


sama dari kedua mata

IV.Trochlear

Observasi

Posisi mata normal

Rahang tak bisa


ditutup

Observasi
Palpasi temporalis
V.Trigeminal

Refleks kornea

Dapat menutup mulut, Tonus Atrofi otot


normal otot, Mata berkedip,
Kedipan mata
Tak ada kedipan

Refleks palpebra
VI. Abducens

VII.Facial

Dorsomedial
strabismus

Tak ada kedipan

Observasi

Posisi mata normal

Medial strabismus

Observasi

Wajah simetris

Bibir menggantung

Refleks kornea

Kedipan mata

Tak berkedip

Refleks palpebra

Kedipan mata

Tak berkedip

Ancaman

Kedipan mata

Tak berkedip

Respon terkejut

Tak ada respon

Menelan

Tak ada respon

Tepukan tangan
VIII.Akustik/
auditori

IX.Glossopharingeal

Gag refleks

Tak ada respon


Gag refleks

Menelan
Tak ada respon

Refleks oculocardiac Bradycardia

X.Vagus

Refleks laringeal

Batuk
Tak ada respon

XI.Accesorius

Palpasi otot leher

Tonus otot normal

Atrofi otot

XII.Hypoglosal

Tarikan lidah

Retraksi lidah

Tak ada respon

( McCurnin, 2005 )
1. 8.

Refleks

Pada refleks diperiksa

1. refleks superfisial yang terdiri atas reflek conjungtiva, cornea, pupil, perineal, dan pedal.
2. reflek superfisial diperiksa reflek patella dan reflek tarsal.
3. Sedangkan untuk reflek organik diperiksa reflek menelan, respirasi dan defekasi
(Surono,2008).
Setelah melakukan berbagai tahap pemeriksaan tersebut, diharapkan dokter hewan dapat
membuat diagnosa yaitu kesimpulan keadaan gangguan atau penyakit yang dialami pasien
setelah diperiksa. Lalu dapat membuat prognosis atau gambaran jalannya penyakit, kalau diobati
bagaimana, kalau tidak bagaimana. Ada 3 macam prognosis yaitu fausta (kearah baik/sehat/nilai
kesembuhan >50%) dubius (ragu-ragu/ nilai kesembuhan 50%), dan infausta (ke arah jelek/ nilai
kesembuhan <50%) (Surono,2008)