Anda di halaman 1dari 19

Michael Anthonius Lim / 07120100075

LAPORAN KASUS PASIEN RUMKITAL MARINIR CILANDAK


1. IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Pekerjaan
Pendidikan terakhir
Status
Agama
Kewarganegaraan
Tanggal masuk RS
Jam masuk RS
Cekat tangan
Nomor Rekam Medis

: Tn. I
: 17 tahun
: Laki-laki
: Gg. Cemara, Ragunan
: Pelajar SMA
: SMP
: Belum menikah
: Islam
: Indonesia
: 06 Agustus 2014
: 16.15
: Kanan
: 33 12 19

2. ANAMNESA
Anamnesis
: Autoanamnesis di bangsal Paviliun Cempaka Atas, pada tanggal
08 Agustus 2014.
a. Keluhan Utama
Batuk berdarah sejak 4 hari SMRS
b. Keluhan Tambahan
Demam sejak 11 hari SMRS.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluhkan batuk berdarah sejak 4 hari SMRS. Batuk
dialami pasien sejak 11 hari SMRS, awalnya batuk kering, kemudian
berdarah berwarna merah segar dan kental sejak 4 hari SMRS hingga
masuk dan dirawat di RS. Batuk yang diderita tidak berdahak, dan
tidak nyeri saat dibatukkan. Pasien juga mengalami demam sejak 11
hari SMRS. Demam berlangsung hilang timbul, namun tidak sempat
diukur berapa suhunya. Pasien merasa meriang seperti kedinginan,
tetapi tidak menggigil. Pasien sering berkeringat saat malam hari
sejak demam. Pasien juga merasa lemas dan tidak nafsu makan dan
minum. Pasien tidak mengeluhkan sesak nafas atau nyeri dada.
Pasien menjadi susah tidur karena batuknya ini. Pasien baru pertama
kali mengalami keluhan seperti ini. Pasien sudah sempat berobat 2
hari SMRS di klinik dekat rumahnya, diberi antibiotik dan antiradang
yang pasien tidak ingat nama obatnya, namun keluhan pasien tidak
membaik. Pasien tidak mengalami penurunan berat badan dalam
beberapa minggu-bulan terakhir. Sekitar 1 bulan yang lalu pasien

Michael Anthonius Lim / 07120100075

ingat berat badannya adalah 45 kg, dan saat ini ditimbang berat
badannya tetap 45 kg. Pasien menyangkal adanya nyeri tenggorokan,
pilek, mual, muntah, nyeri perut, pusing, atau pegal. Buang air kecil
dan buang air besar pasien normal. Pasien tidak memiliki riwayat
alergi.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami gejala serupa sebelumnya.
Pasien menyangkal riwayat menderita Tuberkulosis atau menerima
pengobatan jangka panjang >6 bulan.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang sedang atau pernah mengalami gejala
serupa dengan pasien.
Keluarga pasien tidak ada yang pernah menderita Tuberkulosis atau
menerima pengobatan jangka panjang >6 bulan.
f. Riwayat Sosial
Pasien tinggal bersama kedua orang tuanya. Ventilasi di tempat
tinggal pasien baik. Di lungkungan tempat tinggal pasien tidak ada
yang sedang atau pernah mengalami gejala serupa.
Pasien tidak merokok, tetapi sering terpapar asap rokok dari temanteman di sekolahnya.
g. Riwayat Kebiasaan
Pasien biasanya makan 2-3x sehari. Pasien menyangkal kebiasaan
minum alkohol, dan tidak pernah mengkonsumsi narkoba serta obatobatan terlarang.
h. Lainnya
Selama sakit, pasien tidak dapat bersekolah.
3. PEMERIKSAAN FISIK
(pada 08 Agustus 2014)
Keadaan umum : sakit ringan
Tingkat kesadaran : compos mentis (GCS 15, E4 M6 V5)
Tinggi badan
: 162 cm
Berat badan
: 45 kg
Indeks Massa Tubuh
: 17.1 (underweight)
Tanda vital
o Tekanan darah
: 110/80 mmHg
MAP = (2x80 + 110):3 = 90
o Denyut nadi
: 80x per menit
o Laju nafas
: 20x per menit

Michael Anthonius Lim / 07120100075

o Suhu tubuh
: 36.7 C
Kepala
o Bentuk & ukuran : normosefali
o Rambut
: warna hitam, tebal, distribusi merata,
kering, tidak mudah dicabut
o Wajah
: simetris, edema (-), luka (-), lesi kulit (-)
Mata
kedua mata simetris terletak di tengah, sklera ikterik (-/-),
konjungtiva pucat (-/-), refleks cahaya langsung dan tidak langsung
(+/+), pupil bulat dan isokor, diameter (2mm/2mm), funduskopi tidak
dilakukan
Telinga
bentuk normal, deformitas (-/-), cairan (-/-), serumen (+/+),
pemeriksaan membrane timpani tidak dilakukan
Hidung
bentuk normal, mukosa normal, concha normal, lendir (-), nyeri
tekan (-), septum deviasi (-)
Mulut & tenggorokan
o Bibir
: merah, mukosa basah, sariawan (-)
o Lidah
: atrofi (-), fasikulasi (-), tremor (-), papil
lidah kasar, deviasi (-)
o Gigi
: utuh, tidak terdapat karies
o Rongga Mulut
: uvula dan palatum simetris & deviasi (-),
tonsil tidak membesar T1-T1, faring hiperemis (-)
Leher
tidak teraba massa atau pembesaran kelenjar getah bening dan
kelenjar tiroid, tidak terdapat perbatasan gerak
Capillary Reffil Time
: <2 detik
Thoraks
o Umum
- Inspeksi
: bentuk normal, bekas luka (-)
- Palpasi
: krepitasi (-), ekspansi dada normal
- Perkusi
: batas paru hepar pada ICS 5-6
midclavicula dextra
o Jantung
- Inspeksi
: iktus kordis (-)
- Palpasi
: iktus kordis (-)
- Perkusi
: batas jantung kanan pada ICS 5
parasternal kanan, kiri pada ICS 5 midclavicula kiri, atas
pada ICS 3 midclavicula sinistra
- Auskultasi
: S1 dan S2 regular, tidak melemah, gallop
(-), murmur (-)
o Paru

Michael Anthonius Lim / 07120100075

Inspeksi
: gerak dada pada keadaan statis dan
dinamis simetris, tidak ada bagian yang tertinggal
Palpasi
: tactile vokal fremitus dan vokal resonan
simetris
Perkusi
: sonor

- - - Auskultasi
+ - +
- - +

: vesikular

ronki

wheezing

ronki pada ICS 3-4 dextra


(midclavicula - parasternal)

Abdomen
o Inspeksi
: bentuk perut datar, massa (-), bekas luka
(-), hiperpigmentasi (-), hipopigmentasi (-), kaput medusa (-)
o Auskultasi
: bising usus 10 kali per menit, bruit (-)
o Palpasi
: supel, tidak terdapat nyeri tekan dan lepas
di seluruh 9 regio abdomen, pembesaran hati (-), pembesaran
limpa (-)
o Perkusi
: timpani pada 9 regio abdomen
Ekstremitas Atas
tidak terdapat deformitas, akral teraba hangat, edema (-)
Ekstremitas Bawah
tidak terdapat deformitas, akral teraba hangat, edema (-)
4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
(06 Agustus 2014 jam 17.00 saat di UGD)
Test

Result

Unit

Reference Range

Darah Rutin
Hemoglobin

13.4

g/dL

13-17

Hematocrit

39

37-54

Leukosit

11.9

x 103/L

5-10

Michael Anthonius Lim / 07120100075

Trombosit

x 103/L

309

150-400

X-ray thoraks PA (06 Agustus 2014)


o Cor : besar dan bentuk normal
o Pulmo : tampak infiltrat dan kavitas di suprahilar kanan, corakan
bronkovaskular kasar
o Garis pleura, kedua sinus phrenicocostlis, dan diafragma baik
o Tulang dan soft tissue baik
o Kesan : abses paru, suspek proses spesifik

Saran pemeriksaan penunjang


o Pemeriksaan dahak/sputum BTA
o Tes mantoux/tuberkulin
o LED (laju endap darah)
o Fungsi liver SGOT, SGPT

5. RESUME

Michael Anthonius Lim / 07120100075

Pasien laki-laki, berusia 17 tahun, datang ke UGD Rumkital Cilandak


karena batuk berdarah sejak 4 hari SMRS. Pasien juga mengeluhkan demam
sejak 11 hari SMRS. Pasien sering berkeringat saat malam hari sejak demam.
Pasien juga merasa lemas dan tidak nafsu makan dan minum, namun tidak
didapatkan penurunan berat badan. Pasien menjadi susah tidur karena batuknya
ini. Pasien baru pertama kali mengalami keluhan seperti ini. Pasien sudah
sempat berobat 2 hari SMRS, diberi antibiotik dan antiradang (pasien tidak ingat
nama obatnya), namun tidak membaik. Pada keluarga pasien tidak merokok,
namun merupakan perokok pasif. Pada pemeriksaan fisik pasien tampak sakit
ringan, dengan kesadaran compos mentis, tergolong underweight, pada paru
didapatkan ronki pada ICS 3-4 dextra (MCL-PSL). Hasil lab menunjukkan
leukositosis. Foto thoraks PA kesan abses paru, suspek proses spesifik.
6. DIAGNOSIS
a. Diagnosis Kerja
Hemoptisis ec suspek tuberkulosis paru kasus baru + infeksi sekunder
Dari gejala klinis terdapat batuk akut, hemoptisis, demam, keringat malam,
lemas, dan anorexia. Pada TB paru yang khas mungkin dapat ditemukan
batuk kronik (>3 minggu), sesak nafas, nyeri dada, penurunan berat badan,
pembesaran kelenjar getah benng. Namun gejala klinis pada TB sangat
bervariasi, mulai dari tidak ada gejala sampai gejala yang cukup berat
tergantung luas lesi.
Pada pemeriksaan fisik pasien tergolong underweight, ditemukan ronki pada
ICS 3-4 dextra (MCL-PSL). Kelainan yang didapat dari pemeriksaan fisik
TB paru juga bervariasi, pada awal perkembangan penyakit sulit ditemukan
kelainan, selanjutnya bisa didapatkan bunyi nafas brokial, amorfik, suara
nafas melemah, ronki, dan tanda-tanda penarikan paru, diafragma, dan
mediastinum.
Pemeriksaan penunjang hasil laboratorium menujukkan leukositosis dan
foto thoraks PA tampak infiltrat dan kavitas di suprahilar kanan, corakan
bronkovaskular kasar. Hal ini mendukung ke arah diagnosis TB. Untuk
memastikan diagnosa dapat dilakukan pemeriksaan dahak/sputum BTA, tes
mantoux/tuberkulin, laju endap darah, dan sebelum dimulai pengobatan
OAT penting untuk memeriksa fungsi liver.
b. Diagnosis Banding
Pneumonia komuniti
Dipikirkan karena adamnya demam, batuk, hemoptisis, lalu ditemukan
leukositosis.
Disingkirkan karena batuk tidak berdahak, tidak ada dahak mukoid/purulen,
sesak nafas, nyeri dada, juga pada pneumonia suhu umumnya dapat
melebihi 40 C, disertai menggigil. Pada pemeriksaan fisik pneumonia
sering ditemukan tanda-tanda konsolidasi, inspeksi bisa didapatkan bagian

Michael Anthonius Lim / 07120100075

yang terginggal saat bernafas, palpasi vokal fremitus menurun, perkusi


pekak/redup, suara nafas menurun. Pada foto thoraks PA pneumonia
umumnya terlihat infiltrate sampai konsolidasi dengan air bronkogram. Pada
pemeriksaan laboratorium pneumonia ditemukan hitung jenis leukosit
pergeseran ke kiri.
Untuk memastikan dapat dilakukan pemeriksaan dahak, kultur darah, dan
serologi.
Bronkitis akut
Dipikirkan karena adanya demam, batuk, hemoptisis, dan merupakan
perokok pasif.
Disingkirkan karena batuk tidak berdahak, tidak ada dahak bening, kuning,
hijau, nyeri tenggorokan, pilek/hidung tersumbat, nyeri kepala, pegal-pegal,
dan umumnya sering dtiemukan gejala-gejala infeksi bakteri/virus. Infeksi
virus merupakan penyebab utama bronkitis akut, sedangkan merokok
merupakan faktor utuma terjadinya bronkitis kronik. Pada pemeriksaan fisik
bronkitis akut bervariasi, sering ditemukan faring yang eritem,
limfadenopati lokal, rinorea, wheezing dan ronki yang berpindah lokasi dan
intensitasnya setelah batuk dalam dan produktif. Pada foto thoraks PA
umumnya ditemukan corakan bronkovaskular meningkat dengan air
bronkogram.
Untuk mendukung diagnosa dapat dilakukan pemeriksaan dahak, kultur
darah, dan bronkoskopi.
Abses paru
Dipikrkan karena adanya demam, batuk, hemoptisis, keringat malam, dan
anorexia. Juga pada foto thoraks PA kesan abses paru.
Disingkirkan karena umumnya pasien dengan abses paru datang dengan
keluhan yang onsetnya lama (minggu-bulan). Gejala umumnya antara lain
demam derajat ringan, batuk berdahak, keringat malam, anorexia, dan
penurunan berat badan. Abses paru lebih sering ditemukan pada orang
dewasa, dengan meningkatnya insiden penyakit periodontal dan prevalensi
disfagia dan aspirasi. Pada pemeriksaan fisik abses paru perkusi
pekak/redup, suara nafas bronkial menurun, coarse inspiratory crackles, dan
tanda konsolidasi lain.
Untuk mendorong diagnosa dapat dilakukan CT thoraks.
7. RENCANA AWAL
Terapi/tatalaksana
IVFD NaCl 0.9% 20 tpm
Inj. Asam Tranexamat 3x500 mg (iv)
Inj. Vit K 3x1 amp (iv)
Codein 3x20 mg
Paracetamol 3x500 mg

Michael Anthonius Lim / 07120100075

O2 4 lpm
Posisi trendelenburg
(kepala, di bawah, kaki di atas, tidak boleh banyak bicara)
Cek sputum BTA setiap pagi 3x

Edukasi

Menggunakan masker
Pasien dianjurkan untuk tetap tidak merokok dan mengindari
pajanan asap rokok

8. FOLLOW-UP
Hari ke-2 (07 Agustus 2014)
S : batuk (+), batuk bedarah warna merah segar dan kental, dahak (-), demam
(+), sesak nafas (-), nyeri dada (-), keringat malam (+), lemas (+),
makan/minum normal, penurunan berat badan (-), BAK/BAB normal, tidak
bisa tidur karena batuk
O : Keadaan umum/kesadaran : sakit ringan/compos mentis, GCS E4M6V5
Tanda vital
Tekanan darah
: 100/60 mmHg
Denyut nadi
: 92x/m
Laju nafas
: 24x/m
Suhu tubuh
: 39.2 C
Kepala
: normosefali
Mata
: konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), refleks cahaya
(+/+)
THT
: faring hiperemis (-), T1-T1

Michael Anthonius Lim / 07120100075

Leher
: pembesaran KGB (-)
Thoraks
: bentuk normal
Jantung
: S1 S2 reguler, gallop (-), murmur (-)
Paru
:
I: gerak dada pada keadaan statis dan dinamis simetris, tidak ada
bagian yang tertinggal
P: tactile vokal fremitus dan vokal resonan simetris
P: sonor (+/+)
A: vesikular (+/+), ronki pada ICS 3-4 dextra, wheezing (-/-)
Abdomen : datar, bising usus (+) N, timpani, supel, nyeri tekan (-),
pembesaran hati (-), pembearan limpa (-)
Ekstremitas : akral hangat, capillary refill time <2 s
Pemeriksaan dahak/sputum BTA :
Tidak ada dahak
A : Hemoptisis ec suspek tuberkulosis paru kasus baru + infeksi sekunder
P:

IVFD NaCl 0.9% 20 tpm


Inj. Ceftriaxone 1x2 gr (iv)
Skin test dulu
Inj. Asam Tranexamat 3x500 mg (iv)
Inj. Vit K 3x1 amp (iv)
Codein 3x20 mg
Paracetamol 3x500 mg
O2 4 lpm
Posisi trendelenburg
(kepala, di bawah, kaki di atas, tidak boleh banyak bicara)
Cek sputum BTA setiap pagi 3x

Hari ke-3 (08 Agustus 2014)


S : batuk (+), batuk sudah tidak berdarah, dahak (-), demam (+), sesak nafas (-),
nyeri dada (-), keringat malam (-), lemas (+) tetapi membaik, sudah bisa
tidur semalam
O : Keadaan umum/kesadaran : sakit ringan/compos mentis, GCS E4M6V5
Tanda vital
Tekanan darah
: 110/80 mmHg
Denyut nadi
: 80x/m
Laju nafas
: 20x/m
Suhu tubuh
: 36.7 C
Kepala
: normosefali

Michael Anthonius Lim / 07120100075

Mata

: konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), refleks cahaya


(+/+)
THT
: faring hiperemis (-), T1-T1
Leher
: pembesaran KGB (-)
Thoraks
: bentuk normal
Jantung
: S1 S2 reguler, gallop (-), murmur (-)
Paru
:
I: gerak dada pada keadaan statis dan dinamis simetris, tidak ada
bagian yang tertinggal
P: tactile vokal fremitus dan vokal resonan simetris
P: sonor (+/+)
A: vesikular (+/+), ronki pada ICS 3-4 dextra, wheezing (-/-)
Abdomen : datar, bising usus (+) N, timpani, supel, nyeri tekan (-),
pembesaran hati (-), pembearan limpa (-)
Ekstremitas : akral hangat, capillary refill time <2 s
Pemeriksaan dahak/sputum BTA :
BTA 1 negatif, ditemukan bakteri gram (+) kokus

Lab (08 Agustus 2014 pagi)


Test

Result

Unit

Reference Range

Darah Rutin
Hemoglobin

12.8

g/dL

13-17

Hematocrit

38

37-54

Leukosit

11.3

x 103/L

5-10

Trombosit

267

x 103/L

150-400

SGOT

30

U/L

<50

SGPT

17

U/L

<50

Fungsi Liver

A : Hemoptisis membaik ec suspek tuberkulosis paru kasus baru + infeksi


sekunder
P:

IVFD NaCl 0.9% 20 tpm


Inj. Ceftriaxone 1x2 gr (iv)

10

Michael Anthonius Lim / 07120100075

Inj. Asam Tranexamat 3x500 mg (iv)


Inj. Vit K 3x1 amp (iv)
Codein 3x20 mg
Paracetamol 3x500 mg
Cek sputum BTA setiap pagi 2x lagi

Hari ke-4 (09 Agustus 2014)


S : batuk (+), batuk sudah tidak berdarah, dahak (-), demam (-), sesak nafas (-),
nyeri dada (-), keringat malam (-), lemas (-).
O : Keadaan umum/kesadaran : sakit ringan/compos mentis, GCS E4M6V5
Tanda vital
Tekanan darah
: 120/80 mmHg
Denyut nadi
: 80x/m
Laju nafas
: 24x/m
Suhu tubuh
: 37.5 C
Kepala
: normosefali
Mata
: konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), refleks cahaya
(+/+)
THT
: faring hiperemis (-), T1-T1
Leher
: pembesaran KGB (-)
Thoraks
: bentuk normal
Jantung
: S1 S2 reguler, gallop (-), murmur (-)
Paru
:
I: gerak dada pada keadaan statis dan dinamis simetris, tidak ada
bagian yang tertinggal
P: tactile vokal fremitus dan vokal resonan simetris
P: sonor (+/+)
A: vesikular (+/+), ronki pada ICS 3-4 dextra, wheezing (-/-)
Abdomen : datar, bising usus (+) N, timpani, supel, nyeri tekan (-),
pembesaran hati (-), pembearan limpa (-)
Ekstremitas : akral hangat, capillary refill time <2 s
Pemeriksaan dahak/sputum BTA :
Tidak ada dahak
A : Hemoptisis membaik ec tuberkulosis paru kasus baru + infeksi sekunder
P:

IVFD NaCl 0.9% 20 tpm


RHZE 450/300/1000/1000
Hepa Q 2x1
Rawat jalan Kontrol tanggal 12 Agustus 2014

11

Michael Anthonius Lim / 07120100075

9. REAKSI PASIEN TERHADAP PENYAKIT INI


F (feeling) pasien merasa terganggu dengan penyakitnya ini.
I (insight) pasien merasa keluhannya membaik.
F (function) pasien tidak dapat bersekolah.
E (expectation) pasien ingin sembuh dari penyakitnya.
10. REKOMENDASI KEPADA PASIEN
Menjelaskan tentang penyakit yang diderita pasien dan pentingnya
kepatuhan menjalani pengobatan yang diberikan.
Pasien dianjurkan untuk mengkonsumsi obat yang diberikan secara
teratur dan rutin kontrol ke dokter sesuai jadwal yang diberikan.
Menjelaskan efek-efek samping yang mungkin terjadi dari
penggunaan obat, dan menganjurkan untuk segera kembali ke dokter
bila terdapat gejala seperti sebelumnya atau efek samping yang
terjadi sangat mengganggu.
Pasien dianjurkan untuk banyak beristirahat dan mengkonsumsi
makanan bergizi.
Pasien diharapkan untuk menjauhkan diri dari pajanan asap rokok di
sekolah.
Pasien diharapkan untuk kontrol ke dokter tanggal 12 Agustus 2014.
11. PROGNOSIS
ad vitam
ad functionam
ad sanationam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: malam

12. TINJAUAN PUSTAKA


Hemoptysis didefinisikan sebagai membatukkan atau mengeluakan darah yang
berasal dari saluran pernafasan, mulai dari alveoli sampai ke glottis. Darah
berasal arteri bronkial atau arteri pulmonal. Hemoptisis dapat berkisar dari
bercak darah, sputum berdarah, darah berwarna merah segar, pink, atau, berbusa.
Hemoptisis harus dibedakan dari epistaxis (perdarahan nasofating),
pseudohemoptisis, dan hematemesis (muntah darah dari saluran pencernaan).
Pseudohemoptisis adalah reflex batuk yang distimulasi oleh darah yang tidak
berasal dari paru atau saluran bronkial, mungkin dari rongga mulut atau
nasofaring atau setelah aspirasi dari hematemesis ke paru.
Hemoptisis digolongkan ringan bila jumlah darah sedikit, atau bercampur darah.
Hemoptisis digolongkan masif bila jumlah darah banyak hingga mengganggu
nafas, antara 200-600 ml dalam 24 jam. Hemoptisis masif adalah keadaan

12

Michael Anthonius Lim / 07120100075

emergensi medis.
Beberapa penyebab hemoptisis dapat berasal dari :
Alveoli Diffuse Alveolar Hemorrhage (DAH)
o Inflamatorik : vaskulitis pembuluh darah kecil (Wegeners
granulomatosis, polyangitis), autoimun (SLE, Goodpastures
syndrome)
o Noninflamatorik : trauma inhalasi thermal (api), zat terlarang
(kokain), kimia toxik
o Iritasi alveoli diperparah dengan keadaan trombositopenia,
koagulopati, penggunaan antiplatelet atau antikoagulan
o Asal dari kapiler volume darah lebih sedikit
Bronkus
o Iritasi dan luka : Mukosa bronkial (volume darah sedikit),
mendekati bronkovaskular bundle (volume darah lebih banyak)
o Asal dari arteri bronkial volume darah lebih banyak
Parenkim paru
Beberapa penyebab hemoptisis antara lain :
Infeksi
o Bronkitis akut : infeksi virus
o Bronkitis kronik : superinfeksi bakteri (S.pneumoniae,
H.influenzae)
o Bronkiektasis & cystic fibrosis
o Pneumonia komuniti : bakteri, viral
o Tuberculosis : infeksi kaviti
o Abses paru
o Kista hidatid
o infeksi parasit, jamur, bakteri, virus
Kanker paru (jinak, ganas, metastasis)
Kelainan vaskular paru (tromboemboli paru, aneurisma Rasmusen,
aneurisma aorta, malformasi arterio-vena)
Penyakit jantung (mitral stenosis, penyakit jantung kongenital, penyakit
jantung kongestiv, trikuspid endokarditis)
Trauma
o inhalasi benda asing
o trauma dada
o biopsi bronkial, biopsi paru transthoracic, intubasi endotrakeal,
trakeostomi
Lain-lain
o Endometriosis paru
o Koagulopati (leukemia), penggunaan antikoagulan, trombolitik

13

Michael Anthonius Lim / 07120100075

o Factitous hemoptysis
Pada anak-anak, biasa disebabkan oleh infeksi saluran nafas bawah dan aspirasi
benda asing. Pada orang dewasa biasa disebabkan oleh bronkitis, karsinoma
bronkogen, dan pneumonia.
Penanganan pada hemoptisis nonmasif adalah menghentikan perdarahan,
mencegah aspirasi, dan terapi penyebab mendasar. Langkah awal yang dilakukan
adalah ABC (airway, breathing, circulation). Kebanyakan dengan mengatasi
infeksi, inflamasi, dan stimulus sudah bisa meredakan hemoptisis. Bila curiga
bronkitis, dapat diberi antibiotik oral dan stop merokok. Sarankan CT thorax dan
bronkoskopi bila :
Hemoptisis >2 minggu
Hemoptisis berulang
Volume hemoptisis >30ml/ hari
Perokok & lebih dari 40 tahun
Suspek bronkiektasis
Hemoptisis masif kebanyakan berasal dari lesi saluran nafas. Penanganan pada
hemoptisis masif terpenting adalah untuk menghentikan kejadian yang
mengancam nyawa. Yang harus dilakukan adalah :
Resusitasi berdasar ABC
Intubasi bila ada tanda gagal nafas akut
Pertahankan saturasi O2 : high flow O2 & suction
IVakses & fcairan/transfusi darah
Octreotide & Vasopressor lain kontrol perdarahan yang
mengancam nyawa
Lokalisasi asal perdarahan via radiologi & bronkoskopi awal
Spesifik terapi
Bronkoskopi
Angiografi & embolisasi
Reseksi surgikal : segmentomi, lobektomi, pneumonektomi
Radioterapi : asprgilloma, vaskular tumor

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri


Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyerang berbagai organ
tubuh, dan yang paling sering ialah paru-paru. Tuberkulosis ekstra paru adalah
TB yang menyerang organ tubuh selain paru seperti pleura, kelenjar getah
bening, selaput otak, pericardium, tulang, sendi, kulit, usus, ginjal, saluran
kencing, alat kelamin, dan lain-lain.
Patofisiologi :
Penularan dapat terjadi melalui inhalasi droplet nuclei yang mengandung
Mycobacterium tuberculosis. Droplet bisa berasal dari sentuhan maupun udara.
Kuman TB masuk melalui saluran napas, awalnya bersarang dalam paru

14

Michael Anthonius Lim / 07120100075

membentuk sarang pneumoni, yang disebut sarang primer yang mungkin timbul
di bagian mana saja dalam paru, lalu menginfeksi saluran getah bening menuju
hilus (limfangitis lokal), kemudian kelenjar getah bening di hilus membesar
(limfadenitis regional). Afek primer bersama dengan limfangitis regional disebut
kompleks primer, yang kemudian akan mengalami salah satu dari :
Sembuh tanpa meninggalkan cacat (restitution ad integrum)
Sembuh dengan meninggalkan bekas (sarang Ghon, garis fibrotik, sarang
perkapuran di hilus)
Menyebar secara perkontinuitatum (sekitar), secara bronkogen, atau
secara hematogen dan limfogen.
Dari tuberkulosis primer ini akan muncul bertahun-tahun kemudian tuberkulosis
post-primer, yang mana merupakan sumber penularan. Tuberkulosis post-primer
dimulai dengan sarang dini, umumnya terletak di segmen apikal lobus
superior/inferior, yang awalnya berbentuk sarang pneumonik kecil, yang
kemudian akan mengikuti salah satu dari :
Diresorpsi kembali, dan sembuh kembali tanpa cacat
Sarang tadi awalnya meluas, tapi segera jerjadi penyembuhan dengan
pembentukan jringan fibrosis, kemudian membungkus diri lebih keras
dan akan sembuh dalam bentuk perkapuran. Bila sarang tersebut aktif
kembali, membentuk jaringan keju dan menibulkan kaviti bila jaringan
keju dibatukkan keluar.
Sarang pneumonik meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa).
Kaviti akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kaviti
awalnya berdidnding tipis, kemudian menebal (kaviti sklerotik). Nasib
kaviti ini :
o Mungkin meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonik
baru, kemudian mengikuti pola perjalanan seperti di atas.
o Mungkin memadat dan membungkus diri (encapsulated), dan
disebut tuberkuloma, yang dapat mengapur dan menyembuh,
tetapi mungkin pula aktif kembali, mencair lagi dan menjadi
kaviti lagi
o Mungkin pula menjadi bersih dan menyembuh (open healed
cavity), atau menyembuh dengan membungkus diri, akhirnya
mengecil. Kemungkinan berakhir sebagai kaviti terbungkus, dan
menciut sehingga terlihat seperti bintang (stellate shaped)
Makrofag datang dan menyelubungi kuman tersebut sehingga terjadi struktur
seperti epiteloid. Makrofag terus datang dan semakin tebal, sehingga makrofag
yang di dalam tidak mendapatkan nutirisi, dan mengalami nekrosis perkejuan
(kaseosa). Struktur ini menjadi suatu tuberkel. Bila sistem imunitas baik,
tuberkel ini tidak akan pecah dan mengakibatkan kavitas. Namun bila sistem
imunitas tidak baik, tuberkel ini akan pecah dan kuman dapat menyebar ke

15

Michael Anthonius Lim / 07120100075

tempat lain. Bila menyebar ke pleura, dapat menyebabkan efusi pleura. Asap
rokok termasuk salah satu faktor yang dapat menurunkan sistem imunitas
sehingga progresi perkembangan kuman BTA dalam tubuh menjadi cepat.
Klasifikasi :
Klasifikasi berdasar hasil dahak (BTA) :
Tuberkulosis Paru BTA (+)
o Minimal 2 dari 3 spesimen dahak hasil BTA (+)
o Hasil 1 spesimen dahak BTA (+) dan kelainan radiologik
gambaran TB aktif
o Hasil 1 spesimen dahak BTA (+) dan biakan (+)
Tuberkulosis Paru BTA (-)
o Hasil 3 spesimen dahak BTA (-) , gambaran klinis dan radiologik
menunjukkan TB aktif serta tidak respon dengan pemberian
antibiotik spektrum luas
o Hasil 3 spesimen dahak BTA (-) dan biakan M.tuberculosis (+)
o Jika belum ada hasil pemeriksaan dahak, tulis BTA belum
diperiksa
Klasifikasi berdasarkan tipe penderita atau riwayat pengobatan sebelumnya :
Kasus baru : pasien belum pernah mendapat pengobatan OAT atau sudah
pernah mendapat pengobatan OAT kurang dari 1 bulan.
Kasus kambuh (relaps) : pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan OAT dan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian
kembali berobat dengan hasil sputum BTA positif, bila BTA negatif tetapi
gambaran radiologik dicurigai lesi aktif kembali dan terdapat gejala
klinis maka dipikirkan kemungkinan lain seperti infeksi sekunder, infeksi
jamur, dan TB paru kambuh.
Kasus pidahan (transfer in) : pasien yang sedang mendapat pengobatan
di suatu kabupaten kemudian pindah berobat ke kabupaten lain. Pasien
harus membawa surat rujukan/pindah.
Kasus lalai berobat : pasien yang sudah berobat minimal 1 bulan, dan
berhenti 2 minggu atau lebih, kemudian datang kembali berobat.
Umumnya pasien kembali dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif.
Kasus gagal :
o Pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi
positif sebulan sebelum akhit pengobatan
o Pasien BTA negatif, gambaran radiologik positif menjadi BTA
positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan dan atau gambaran
radiologic ulang hasilnya perburukan
Kasus kronik/persisten : pasien dengan tes sputum BTA masih positif
setelah selesai pengobatan ulang kategori 2 dengan pengawasan yang
baik.

16

Michael Anthonius Lim / 07120100075

Kasus bekas TB :
o Hasil pemeriksaan dahak mikroskopik negatif dan gambaran
radiologik paru menunjukkan lesi TB inaktif, terlebih gambaran
radiologik serial menunjukkan gambaran yang menetap. Riwayat
pengobatan OAT yang adekuat akan lebih mendukung.
o Pada kasus dengan gambaran radiologic meragukan lesi TB aktif,
namun setelah mendapat pengobatan OAT selama 2 bulan
ternyata tidak ada perubahan gambaran radiologik.
Tanda dan gejala : Gejala klinis yang khas antara lain batuk lebih dari 3 minggu,
biasanya produktif, hemoptisis, sesak napas, nyeri dada, demam, anorexia,
penurunan berat badan, keringat malam, dan limfadenitis. Pemeriksaan fisik
yang khas antara lain terdengar ronki. Pada foto X-ray thoraks, kemungkinan
muncul infiltrat pada kedua lapang paru, kavitas pada apex paru, sinus
phrenicocostalis menumpul (bila terjadi efusi pleura). Pemeriksaan laboratorium
darah bisa menunjukkan leukositosis dan peningkatan laju endap darah. Tes
sputum BTA positif dan tes tuberkulin/mantoux positif.
Tatalaksana : Pengobatan untuk tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase, yakni fase
intensif (2-3 bulan), dan fase lanjutan (4-7 bulan). Jenis obat anti tuberkulosis
(OAT) lini 1 adalah rifampisin (R), isoniazid/INH (H), pirazinamuid, (Z),
streptomisin (S), dan etambutol (E). Bila terdapat resistensi dari obat lini 1,
digunakan OAT lini 2 seperti kanamisin, amikasin, dan kuinolon. Penting untuk
menjelaskan kepada pasien menegenai jangka waktu pengobatan, pentingnya
kepatuhan pengobatan dan rutinitas kontrol, dan efek-efek samping yang
mungkin terjadi pada pasien. Pengobatan pasien berbeda-beda tergantung
kategori pasien.
Kategori 1 : kasus baru BTA (+) atau BTA (-) rontgen (+) sakit berat
2RHZE/4R3H3 intensif RHZE setiap hari selama 2 bulan, diteruskan
lanjutan RH 3 kali/minggu selama 4 bulan
Kategori 2 : kasus kambuh, kasus gagal, kasus lalai berobat
2RHZES/RHZE/5R3H3E3 intensif RHZE setiap hari selama 2 bulan,
diteruskan RHZE setiap hari selama 1 bulan, diteruskan lanjutan RHE 3
kali/minggu selama 5 bulan
Kategori 3 : kasus baru BTA (-) rontgen (+) sakit ringan
2RHZ/4R3H3 intensif RHZ setiap hari selama 2 bulan, diteruskan
lanjutan RH 3 kali/minggu selama 4 bulan
Evaluasi pasien meliputi evaluasi klinis, bakteriologi, radiologi, efek samping
obat, serta keteraturan berobat. Evaluasi klinis dilakukan setiap 2 minggu pada 2
bulan pertama pengobatan, kemudian setiap 1 bulan. Evaluasi bakteriologi dan
radiologi dilakukan sebelum pengobatan dimulai, 2 bulan setelah pengobatan,
dan pada akhir pengobatan.

17

Michael Anthonius Lim / 07120100075

DAFTAR PUSTAKA

1. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis &


Penatalaksanaan di Indonesia. Indonesia: PDPI; 2006.
2. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pneumonia Komuniti: Pedoman
Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia. Indonesia: PDPI; 2003.
3. Zulkifli A., Asril B. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi IV.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2007.
4. Fauci AS, Eugene B, Dennis LK, Stephen LH, Dan LL, James LJ, Joseph L.
Harrisons Principles of Internal Medicine, 17th Edition. United States:
McGraw-Hill Professional; 2008.
5. McCance, Kathryn L, Huether, SE. Pathophysiology: The Basic for Disease
in Adults and Children. United States of America: Elsevier Mosby; 2010.
6. Colledge NR, Walker BR, Ralston SH. Davidson;s Principles & Practice of
Medicine, 21st ed. London: Churchill Livingstone Elsevier; 2010.
7. McPhee SJ, Hammer GD. Pathophysiology of Disease An Introduction to
Clinical Medicine, 6th ed. United States: McGraw-Hill Medical; 2008.
8. Dorland. Dorlands Illustrated Medical Dictionary, 32e. United States of
America: Saunders; 2011

18

Michael Anthonius Lim / 07120100075

19