Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hipersentivitas gigi, sensitivitas dentin atau hipersensitivitas sering digunakan untuk
mendeskripsikan kondisi klinis dari respon berlebihan dari stimulus exogen. Stimulus exogen
termasuk thermal, taktil, atau perubahan osmotik. Yang mana stimulus ekstrim dapat
membuat semua gigi sakit. Kata hipersensitivitas berarti respon sakit pada stimulus tidak
normal yang berhubungan dengan nyeri (Garg,2010). Nyeri sering di deskripsikan sebagai
sensori tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang berhubungan dengan
kerusakan jaringan yang sebenarnya atau berpotensi terjadi kerusakan jaringan (Garg,2010).
Pada tahun 1982, hipersensitif dentin dianggap sebagai suatu kondisi gigi yang
membingungkan, karena seringnya kondisi gigi tersebut ditemukan, tetapi kurangnya
penjelasan tentang cara perawatannya. Namun, sekitar 20 tahun kemudian, telah banyak
artikel-artikel yang membahas hipersensitif dentin secara jelas. Hipersensitif dentin
merupakan masalah yang sering terjadi dan sulit untuk diatasi. Masalah hipersensitif dentin
telah dikenal sejak lama, namun sampai saat ini belum teratasi dengan sempurna. Banyak
dokter gigi yang masih bingung mengenai etiologi dan penentuan diagnosa serta penanganan
kasus tersebut. Walaupun gejala yang timbul hanya berupa rasa sakit dalam jangka waktu
pendek, tapi rasa sakit tersebut bersifat tajam dan spontan. Sehingga mengganggu
kenyamanan pasien. Saat ini, sekitar 30 % penduduk dunia mengalami hipersensitif dentin.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud Hipersensitivitas gigi?
2. Apakah etiologi Hipersensitivitas gigi?
1

3. Apakah faktor pemicu Hipersensitivitas gigi?


4. Bagaimana mekanisme terjadinya Hipersensitivitas gigi?
5. Bagaimana perawatan Hipersensitivitas gigi?

1.3 Tujuan
1. Unutk mengetahui definisi Hipersensitivitas gigi
2. Untuk mengetahui etiologi Hipersensitivtas gigi
3. Untuk mengetahui faktor pemicu Hipersensitivitas gigi
4. Untuk mengetahui mekanisme terjadinya Hipersensitivtas gigi
5. Untuk mengetahui perawatan Hipersensitivitas gigi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Hipersensitif dentin dapat digambarkan sebagai rasa sakit yang berlangsung pendek
dan tajam yang terjadi secara tiba-tiba akibat adanya rangsangan terhadap dentin yang
terpapar. Rangsangan tersebut antara lain taktil atau sentuhan, uap, kimiawi dan rangsangan
panas atau dingin. Selain itu, hipersensitif dentin tidak dihubungkan dengan kerusakan atau
keadaan patologis gigi.Walaupun rasa sakit yang timbul hanya dalam jangka waktu pendek,
namun dapat membuat makan menjadi sulit dan akhirnya mempengaruhi kesehatan rongga
mulut jika tidak dirawat.
2.2 Etiologi
Hipersensitivitas dentin terjadi karena terbukanya dentin yang pada umumnya
disebabkan karena resesi gingiva akibat kesalahan menyikat gigi sehingga terjadi abrasi dan
erosi. Pada umumnya terjadi di bagian servikal gigi dengan gejala sakit atau ngilu apabila
terjadi kontak dengan rangsangan dari luar seperti panas dingin, dehidrasi (hembusan udara),
asam, maupun alat alat kedokteran gigi misalnya sonde, pinset, dan lain-lain. Bagi penderita
rasa ngilu itu merupakan suatu gangguan, dimana secara tidak langsung akan menimbulkan
masalah lain seperti terganggunya pembersihan gigi dan mulut, sehingga kebersihan mulut
kurang sempurna yang akhirnya akan menyebabkan kelainan periodontal. Untuk mencegah
terjadinya kelainan lebih lanjut maka hipersensitivitas dentin perlu dirawat.(Prijantijo, 1996).
2.3 Faktor Pemicu
Hipersensitif dentin terjadi ketika terpaparnya dentin ke lingkungan rongga mulut
akibat hilangnya enamel dan/atau sementum. Hal tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman
pada pasien, baik secara fisik maupun psikologis, dan didefinisikan sebagai rasa nyeri akut

berdurasi pendek yang disebabkan oleh terbukanya tubulus dentin pada permukaan dentin
yang terpapar tadi.
2.4 Mekanisme Terjadinya Hipersensitivitas Gigi
Reaksi hipersensitifitas pada gigi sering dikaitkan dengan teori hidrodinamik. Teori
hidrodinamik pada sensitifitas dentin adalah proses penerusan perpindahan cairan dentin ke
tubulus dentin, yang mana merupakan perpindahan ke salah satu arah yaitu ke arah luar
(permukaan) atau ke arah dalam (pulpa) dan menstimulasi nervus sensoris pada dentin atau
pulpa. Gerakan cairan sangat cepat dan terjadi sebagai respon terhadap perubahan temperatur,
tekanan, atau mekanik yang menghasilkan deformasi mekanis pada odontoblas dan saraf di
dekatnya (Ingle, 2002) . Teori hidrodinamik menjelaskan reaksi rasa sakit pulpa terhadap
panas, dingin, pemotongan dentin, dan probing dentin. Panas mengembangkan cairan dentin,
sedang dingin mengerutkan cairan dentin, memotong tubuli dentin memungkinkan cairan
dentin keluar, dan melakukan probing pada permukaan dentin yang dipotong atau terbuka
dapat merusak bentuk tubuli dan menyebabkan gerakan cairan. Semua rangsangan ini
mengakibatkan gerakan cairan dentin dan menggiatkan ujung saraf.(Grossman, 1988).
2.5 Perawatan Hipersensitivitas Gigi
Hipersensitif dentin mempunyai beberapa gejala yang sama dengan penyakit gingiva
dan karies gigi. Oleh karena itu, diagnosa dan penyebab hipersensitif dentin harus ditegakkan
dengan tepat agar perawatan yang diberikan memberikan efek yang tepat pula. Ada dua cara
utama perawatan hipersensitif dentin yaitu pertama menghalangi syaraf merespon rasa nyeri
(Gambar 10) dan yang kedua menutup tubulus dentin untuk mencegah terjadinya mekanisme
hidrodinamik (Gambar 11). Perawatan tersebut juga harus dapat menghilangkan faktor-faktor
predisposisi penyebab hipersensitif dentin, sekaligus mencegah terjadinya rekurensi.
Perawatan hipersensitif dentin bisa bersifat invasif dan non-invasif.
4

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Definisi
Hipersensitif dentin merupakan suatu kondisi gigi yang umum terjadi dan
menyakitkan. Hipersensitif dentin digambarkan sebagai rasa nyeri yang berlangsung singkat
dan tajam yang timbul akibat dentin yang terpapar terkena rangsangan seperti panas, dingin,
uap, sentuhan, atau kimiawi, yang tidak dapat dianggap berasal dari kerusakan gigi atau
keadaan patologis gigi lainnya (Karies, fraktur, atau trauma karena oklusi). Secara klinis,
didefinisikan sebagai rasa nyeri yang akut, terlokaliser, cepat menyebar, dan berdurasi
singkat. Walaupun rangsangan yang memicu rasa nyeri tersebut bisa bermacam-macam,
tetapi rangsangan dingin merupakan pemicu yang paling sering dikeluhkan. Hipersensitif
dentin bisa terjadi pada daerah gigi manapun, tetapi daerah yang paling sensitif adalah daerah
servikal dan permukaan akar gigi. Secara makroskopis tidak terlihat adanya perbedaan antara
dentin yang hipersensitif dengan dentin yang tidak sensitif. Secara histologis, dentin yang
sensitif menunjukkan adanya pelebaran tubulus dentin dua kali lebih lebar dibandingkan
tubulus pada dentin normal (Gambar 1).

3.2 Etiologi
Etiologi hipersensitif dentin adalah adanya pergerakan cairan tubulus dentin akibat
adanya rangsangan terhadap dentin yang terpapar atau terbuka (Gambar 1). Hal ini sesuai
dengan teori hidrodinamik yang dikemukakan oleh Brannstrm. Berbagai teori telah dibuat
untuk menjelaskan mengenai etiologi dan mekanisme terjadinya hipersensitif dentin, antara
lain teori transducer, teori modulasi, teori gate control dan vibration dan teori hidrodinamik.
Namun, sampai saat ini hanya teori hidrodinamik yang paling sering dipakai untuk
menjelaskan etiologi dan mekanisme terjadinya hipersensitif dentin (Gambar 2 dan 3).
Teori hidrodinamik mulai dikembangkan pada tahun 1960-an oleh Brannstrm dan
tahun 1989 teori ini diterima dan dipakai untuk menjelaskan mekanisme terjadinya
hipersensitif dentin. Teori ini menyimpulkan bahwa hipersensitif dentin dimulai dari dentin
yang terpapar mengalami rangsangan, lalu cairan tubulus bergerak menuju reseptor syaraf
perifer pada pulpa yang kemudian melakukan pengiriman rangsangan ke otak dan akhirnya
timbul persepsi rasa sakit. Rangsangan terhadap tubulus dentin yang terbuka dapat berupa
taktil atau sentuhan, uap, kimiawi dan rangsangan panas atau dingin. Namun, dingin
merupakan rangsangan yang paling sering menyebabkan hipersensitif dentin. Pergerakan
cairan tubulus dentin dipengaruhi oleh konfigurasi tubulus, diameter tubulus dan jumlah
tubulus yang terbuka.

Dentin merupakan lapisan sensitif yang menutupi struktur jaringan pulpa dan
memiliki hubungan fungsional dengan jaringan pulpa. Dentin terdiri dari ribuan struktur
tubulus mikroskopis yang menghubungkan dentin dengan jaringan pulpa. Diameter tubulus
dentin sekitar 0,5-2 mikron. Pemeriksaan mikroskopis pada pasien hipersensitif dentin
menunjukkan bahwa tubulus dentin pada pasien hipersensitif dentin lebih besar dan banyak
dibandingkan pada pasien yang tidak mengalami hipersensitif dentin. Terbukanya dentin
disebabkan hilangnya enamel akibat dari proses atrisi, abrasi, erosi, atau abfraksi serta
rangsangan terhadap permukaan akar yang tersingkap akibat dari resesi gingiva atau
perawatan periodontal. Semua proses di atas merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya hipersensitif dentin.

Terkikisnya lapisan enamel yang menutupi gigi dan tersingkapnya permukaan akar
merupakan awal dari terjadinya hipersensitif dentin. Penyebab terkikisnya lapisan enamel
antara lain erosi, abrasi, atrisi dan abfraksi. Bentuk-bentuk kerusakan gigi tersebut memiliki
gambaran klinis dan etiologi yang berbeda-beda. Erosi adalah kerusakan yang parah pada
jaringan keras gigi akibat dari proses kimia tetapi tidak disebabkan oleh aktivitas bakteri
(Gambar 4 dan 5).
Gambaran klinis erosi, sebagai berikut:
a. Bentuk lesi cekung yang luas dan permukaan enamel yang licin.
b. Permukaan oklusal yang melekuk (insisal yang beralur) dengan permukaan dentin
yang terbuka.
c. Meningkatnya translusensi pada insisal (Gambar 4).
d. Permukaan restorasi amalgam yang bersih dan tidak terdapat tarnish (Gambar 5).
e. Rusaknya karakteristik enamel pada gigi anak- anak.
f. Sering ditemui enamel cuff atau ceruk pada permukaan servikal.
g. Terbukanya pulpa pada gigi desidui.

Bentuk kerusakan gigi yang lainnya adalah atrisi. Atrisi merupakan kerusakan pada
permukaan gigi atau restorasi akibat kontak antar gigi selama pengunyahan atau karena
adanya parafungsi/kelainan fungsi, seperti bruksism (Gambar 6).
Gambaran klinis atrisi, sebagai berikut:
a. Kerusakan yang terjadi sesuai dengan permukaan gigi yang berkontak saat
pemakaian.
b. Permukaan enamel yang rata dengan dentin.
c. Kemungkinan terjadinya fraktur pada tonjol gigi atau restorasi.

10

Abrasi juga penyebab terkikisnya enamel dan akhirnya menyebabkan terpaparnya


dentin. Abrasi adalah kerusakan pada jaringan gigi akibat benda asing, seperti sikat gigi dan
pasta gigi (Gambar 7).
Gambaran klinis abrasi, sebagai berikut:
a. Biasanya terdapat pada daerah servikal gigi.
b. Lesi cenderung melebar daripada dalam.
c. Gigi yang sering terkena P dan C.

11

Abfraksi juga dapat menyebabkan terkikisnya enamel (Gambar 8). Beda dengan
kerusakan gigi lainnya, abfraksi merupakan kerusakan permukaan gigi pada daerah servikal
akibat tekanan tensile dan kompresif selama gigi mengalami flexure atau melengkung.
Gambaran klinis abfraksi, sebagai berikut:
a. Kelainan ditemukan pada daerah servikal labial/bukal gigi.
b. Berupa parit yang dalam dan sempit berbentuk huruf V.
c. Pada umumnya hanya terjadi pada satu gigi yang mengalami tekanan eksentrik
pada oklusal yang berlebihan atau adanya halangan yang mengganggu oklusi.

Tersingkapnya permukaan akar akibat dari resesi gingiva juga merupakan penyebab
hipersensitif

dentin

(Gambar

9).

Resesi

gingiva

adalah

penurunan

tinggi

tepi

gingiva/marginal gingiva ke arah apikal hingga ke bawah Batas Sementum Enamel (BSE).
Resesi gingiva merupakan penyebab hipersensitif dentin yang paling sering terjadi. Resesi
gingiva bisa bersifat lokalisata ataupun generalisata. Prevalensi terjadinya resesi gingiva pada
usia tua lebih besar dibandingkan dengan usia muda. Jika dihubungkan dengan jenis kelamin,
maka frekuensi terjadinya resesi gingiva lebih sering pada pria dibandingkan pada wanita.
Permukaan akar gigi yang mengalami resesi gingiva bisa menjadi sensitif dikarenakan
hilangnya lapisan sementum. Sementum merupakan lapisan yang menutupi dan melindungi

12

lapisan dentin akar dari berbagai rangsangan. Resesi gingiva yang terjadi bisa disertai
kehilangan tulang alveolar ataupun tidak. Jika terjadi kehilangan tulang, maka jumlah tubulus
dentin yang terbuka akan lebih banyak lagi. Penyebab terjadinya resesi gingiva antara lain
erupsi pasif akibat aging, ukuran dan lokasi gigi di dalam alveolus, pengaruh genetik dan cara
penyikatan yang salah.

Selain resesi gingiva, tersingkapnya permukaan dentin akar juga dapat disebabkan
oleh prosedur perawatan periodontal, seperti skeling dan penyerutan akar. Prosedur skeling
dan penyerutan akar dapat menyebabkan hilangnya perlekatan jaringan periodontal dan
terkikisnya sementum. Oleh karena itu, dokter gigi harus hati-hati dalam melakukan prosedur
perawatan periodontal. Hipersensitif dentin juga dapat disebabkan oleh efek samping dari
prosedur bleaching. Walaupun bersifat ringan, namun sering terjadi dan mengganggu pasien.
Belakangan ini, sebuah penelitian klinis pada pasien yang melakukan bleaching menyatakan
bahwa 54 % pasien mengalami sensitif ringan, 10 % pasien mengalami sensitif sedang dan 5
% pasien mengalami sensitif parah serta sisanya tidak mengalami sensitif. Bleaching juga
memiliki efek samping yang lain diantaranya resesi gingiva, rasa gatal pada mukosa dan sakit
pada kerongkongan. Hipersensitif dentin pada pasien yang melakukan perawatan bleaching
13

dipengaruhi oleh faktor pasien, lamanya menerima perawatan, konsentrasi dan pH bahan
bleaching. Konsentrasi bahan bleaching yang tinggi merupakan faktor resiko terbesar
terjadinya hipersensitif dentin.

3.3 Faktor Pemicu


Hipersensitif dentin terjadi ketika terpaparnya dentin ke lingkungan rongga mulut
akibat hilangnya enamel dan/atau sementum. Hal tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman
pada pasien, baik secara fisik maupun psikologis, dan didefinisikan sebagai rasa nyeri akut
berdurasi pendek yang disebabkan oleh terbukanya tubulus dentin pada permukaan dentin
yang terpapar tadi.
Rangsangan yang memicu timbulnya rasa nyeri dapat berupa rangsangan panas atau
dingin, kimiawi, taktil atau sentuhan, serta rangsangan udara atau uap.
1. Rangsangan dingin
Rangsangan dingin merupakan pemicu utama terjadinya hipersensitivitas dentin
(Gambar 4). Berdasarkan teori hidrodinamik, aliran cairan tubulus dentin akan meningkat
keluar menjauhi pulpa sebagai respon dari rangsangan dingin dan menstimulus rasa nyeri
(Gambar 5). Perangsangan tersebut terjadi melalui respon mekanoreseptor yang mengubah
syaraf pulpa.

14

2. Rangsangan panas
Selain rangsangan dingin, hipersensitif dentin juga dipicu oleh rangsangan panas (Gambar 6).
Rangsangan panas akan menyebabkan pergerakan cairan ke dalam menuju pulpa. Meskipun
demikian, rangsangan panas sebagai pemicu hipersensitif dentin lebih jarang dilaporkan,
kemungkinan karena pergerakan cairan tubulus dentin akibat rangsangan panas relatif lebih
lambat dibandingkan dengan rangsangan dingin (Gambar 7).

15

3. Rangsangan kimiawi
Rasa nyeri juga dapat dipicu oleh rangsangan kimiawi seperti mengkonsumsi
makanan yang mengandung asam yaitu buah-buahan terutama buah jeruk; minuman bersoda
yang mengandung asam karbonat dan asam sitrat; saus salad; teh herbal; dan alkohol
(Gambar 8). Bahan-bahan dengan pH rendah tersebut dapat menyebabkan hilangnya jaringan
keras gigi (enamel dan dentin) melalui reaksi kimia tanpa melibatkan aktivitas bakteri, yang
disebut erosi (Gambar 9). Lingkungan rongga mulut yang asam juga akan menyebabkan
terbukanya tubulus dentin lebih banyak lagi yang mengakibatkan terjadinya peningkatan
sensitivitas gigi.

4. Rangsangan taktil atau sentuhan


Rasa nyeri biasanya terjadi ketika pasien menyentuh daerah sensitif dengan kuku jari atau
bulu sikat selama penyikatan gigi. Selain itu, pemeriksaan gigi dengan alat-alat tertentu yang
terbuat dari logam, seperti sonde dan eksplorer, juga dapat meningkatkan sensitivitas pada
gigi.
5. Rangsangan udara
Terhirupnya udara bebas pada pasien dengan kebiasaan bernapas melalui mulut, terutama
pada cuaca dingin, atau semprotan udara dari syringe atau kompresor ketika prosedur

16

pengeringan permukaan gigi, juga dapat memicu timbulnya rasa nyeri pada kasus
hipersensitif dentin.
Resesi gingiva merupakan salah satu etiologi terjadinya hipersensitif dentin. Resesi
gingiva adalah terpaparnya permukaan akar gigi oleh karena hilangnya jaringan gingiva
dan/atau penyusutan margin gingiva dari mahkota gigi. Resesi gingiva umumnya terjadi pada
orang dewasa berumur lebih dari 40 tahun, tetapi bisa juga mulai terjadi dari masa remaja.
Resesi gingiva bisa diikuti oleh resesi tulang alveolar ataupun tidak.
Hipersensitif dentin juga dilaporkan sebagai efek dari pemutihan gigi (tooth
bleaching). Mekanisme yang menyebabkan terjadinya hipersensitif dentin setelah bleaching
belum dapat ditentukan secara pasti. Diperkirakan mediator inflamasi menjadi faktor penting
terkait masalah tersebut.
3.4 Mekanisme Terjadinya Hipersensitivitas Gigi
Beberapa hipotesa telah dipaparkan untuk menjelaskan mekanisme terjadinya
hipersensitif dentin. Namun, teori hidrodinamik yang disampaikan Brnnstrm dan Astron
pada tahun 1964 merupakan teori yang paling sering dipakai untuk menjelaskan mekanisme
terjadinya hipersensitif dentin.
Berdasarkan teori hidrodinamik tersebut, rasa nyeri terjadi akibat pergerakan cairan di
dalam tubulus dentin (Gambar 2). Pergerakan cairan di dalam tubulus dentin diakibatkan
adanya rangsangan yang mengakibatkan perubahan tekanan di dalam dentin dan
mengaktifkan serabut syaraf tipe A yang ada disekeliling odontoblas atau syaraf di dalam
tubulus dentin, yang kemudian direspon sebagai rasa nyeri (Gambar 3). Aliran hidrodinamik
ini akan meningkat bila ada pemicu seperti perubahan temperatur (panas atau dingin),
kelembaban, tekanan udara dan tekanan osmotik atau tekanan yang terjadi di gigi.

17

3.5 Perawatan Hipersensitivitas Gigi


Hipersensitif dentin mempunyai beberapa gejala yang sama dengan penyakit gingiva
dan karies gigi. Oleh karena itu, diagnosa dan penyebab hipersensitif dentin harus ditegakkan
dengan tepat agar perawatan yang diberikan memberikan efek yang tepat pula.
Ada dua cara utama perawatan hipersensitif dentin yaitu pertama menghalangi syaraf
merespon rasa nyeri (Gambar 10) dan yang kedua menutup tubulus dentin untuk mencegah
terjadinya mekanisme hidrodinamik (Gambar 11). Perawatan tersebut juga harus dapat
menghilangkan faktor-faktor predisposisi penyebab hipersensitif dentin, sekaligus mencegah
terjadinya rekurensi. Perawatan hipersensitif dentin bisa bersifat invasif dan non-invasif.
18

3.5.1 Perawatan yang Bersifat Non-Invasif


Berdasarkan teori hidrodinamik yang telah dipaparkan di atas, rata-rata kasus
hipersensitif dentin bersifat reversible dan dapat ditangani dengan perawatan non-invasif
yang sederhana.Perawatan non-invasif tersebut bisa dilakukan sendiri oleh pasien di rumah,
dan bisa pula dilakukan oleh dokter gigi. Perawatan yang dilakukan yang dirumah meliputi
penggunaan pasta gigi desensitisasi, obat kumur dan permen karet. Pasta gigi desensitisasi
mengandung potassium nitrate, potassium chloride atau potassium citrate. Ion potassium
dipercaya dapat berdifusi sepanjang tubulus dentin dan akan mengurangi rangsangan

19

terhadap syaraf-syaraf intradental dengan cara mengubah potensial membran syaraf-syaraf


tersebut.
Perawatan hipersensitif dentin yang dilakukan di klinik dokter gigi meliputi topikal
aplikasi bahan desensitisasi seperti fluoride, potassium nitrate, calcium phosphates, dan
oxalate, penambalan permukaan akar yang menyebabkan sensitivitas serta memberikan
rekomendasi untuk menggunakan night guard atau retainer jika pasien mempunyai kebiasaan
buruk seperti bruksism. Saat ini telah dikembangkan pula bahan desensitisasi terbaru yaitu
Pro-Argin yang mengandung arginine dan calcium carbonate, dan terbukti lebih efektif untuk
menutup tubulus dentin yang terbuka pada pasien hipersensitif dentin. Penjelasan lebih lanjut
tentang mekanisme kerja dan cara pengaplikasian Pro-Argin akan dibahas pada bab
berikutnya.
3.5.2 Perawatan yang Bersifat Invasif
Karena resesi gingiva dan terpaparnya permukaan akar gigi merupakan faktor utama
terjadinya hipersensitif dentin, maka perlu dilakukan cangkok gingiva sebagai rencana
perawatan, terutama pada resesi yang progresif. Ketika terpaparnya permukaan akar yang
sensitif juga diikuti dengan kehilangan permukaan akibat abrasi, erosi, dan abfraksi, maka
dipertimbangkan pula pemberian bahan restorasi resin atau ionomer kaca (glass ionomer).
Restorasi tersebut akan mengembalikan kontur gigi dan menutup tubulus dentin yang
terbuka.
Perawatan invasif lainnya adalah dengan laser. Terapi laser direkomendasikan oleh
Kimura dkk untuk mengatasi hipersensitif dentin dengan tingkat keefektifan antara 5,2% dan
100%, tergantung pada tipe laser yang digunakan.2 Salah satunya adalah perawatan dengan
menggunakan

Neodymium:Yttrium-Aluminium-Garnet

Laser

atau

laser

Nd:YAG.

Penyinaran dengan laser Nd:YAG akan menyatukan dentin dan mengurangi hipersensitif
pada permukaan akar tanpa merusak permukaan dentin.

20

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Pada dasarnya dentin bersifat sensitif karena secara struktural mengandung serabut
saraf yang berjalan dalam tubulus dari arah pulpa. Namun kesensitifan ini tidak menimbulkan
masalah karena adanya jaringan lain yang melindungi dentin yaitu tubulus, enamel, dan
ginggiva. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan bahwa tubulus dentin pada pesien dengan
dentin hypersensitivity ditemukan lebih banyak dan berkembang dibandingkan dengan orang
normal.Hasil ini selaras dengan hipotesis bahwa rasa nyeri dimediasi oleh mekanisme
hidrodinamik. (Orchardson and Gillam, 2006).
Gigi sensitif diakibatkan oleh terbukanya lapisan dentin. Ketika lapisan dentin
terbuka, rangsang termal akan mudah terdeteksi, sehingga akan membuat gigi terasa linu
ketika makan/ minum dengan suhu yang dingin. Beberapa perawatan gigi ada juga yang
mengakhibatkan gigi sensitif. Di antaranya pemutihan gigi, pembersihan karang gigi /
skeling, perawatan kawat gigi, dan penambalan gigi (Ardyan, 2010). Penambalan gigi harus
dilakukan dengan prosedur yang tepat, selain itu menjaga kebersihan mulut tetaplah penting.
Gigi yang telah ditambal dan tidak dijaga kebersihannya memungkinkan terjadinya karies
sekunder. Karies sekunder ini merupakan karies kompleks yang terbentuk setelah karies
primer. Karies sekunder akan berakhibat terbukanya lapisan dentin lebih dalam menuju
pulpa, sehingga rangsang termal akan lebih mudah masuk ke ujung saraf di pulpa, akhibatnya
sensitifitas gigi akan meningkat. ( David, 2008 ).

21

DAFTAR PUSTAKA

Daniel, S.J., and Harfst, S.A., 2004, Dental Hygiene : Concepts, Cases and
Competencies. Mosby, St. Louis Missouri, p. 429-437.
Saylor, C. D., dan Overman, P. R., 2011, Dentinal Hypersensitivity: A Review, The
Academy of Dental Therapeutica and Stomatology, 1-16.

22