Anda di halaman 1dari 54

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Angka Kematian Ibu (AKI) pada nifas di dunia mencapai 500.000 jiwa
setiap tahun. kematian maternal paling banyak adalah pada waktu nifas
sebesar 49,125% dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama
(Saleha, 2009).
Pada masa nifas masih dapat terjadi perdarahan yang mengancam jiwa
ibu. Perdarahan yang masif berasal dari tempat implantasi plasenta, robekan
pada jalan lahir dan jaringan sekitarnya merupakan salah satu penyebab
kematian ibu disamping perdarahan karena hamil ektopik dan abortus.
Perdarahan yang menetes perlahan-lahan tetapi terus menerus ini juga
berbahaya. Perdarahan merupakan salah satu sebab utama kematian ibu
dalam masa perinatal yaitu berkisar 5-15% dari seluruh persalinan. Penyebab
terbanyak dari perdarahan post partum tersebut yakni 50-60% karena
kelemahan atau tidak adanya kontraksi uterus (Manuaba, 2009).
Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi,
plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ
kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu.
Proses pemulihan kesehatan ibu pada masa nifas merupakan suatu hal yang
sangat penting dan ikut menentukan berhasil tidaknya peran dan fungsi
keluarga, dimana keluarga mendukung proses pemulihan ibu post partum.
Pada masa nifas akan mengalami perubahan baik fisik maupun psikis.
Perubahan fisik meliputi ligamen-ligamen bersifat lembut dan kendor otot-otot
tegang, uterus membesar postur tubuh berubah sebagai kompensasi terhadap
perubahan berat badan pada masa hamil. Berat badan akan bertambah menjadi
10-15 kg sehingga proses persalinan berlangsung (Saleha, 2009).

Pelayanan atau asuhan merupakan cara penting untuk memonitor dan


mendukung keselamatan ibu pada masa nifas serta mengetahui secara dini bila
ada penyimpangan yang ditemukan agar bisa ditangani dengan cepat dan
tepat. Ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu di Indonesia (Manuaba,
2010).
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan Umum
Mampu memberikan asuhan kebidanan dengan menggunakan manajemen
kebidanan yang tepat terkait pelaksanaan asuhan masa nifas
Tujuan Khusus
1. Mampu menguraikan konsep dasar dan managemen kebidanan pada
asuhan masa nifas
2. Mampu mengidentifikasi masalah, diagnosa, dan kebutuhan
3. Mampu mengantisipasi masalah potensial dan penatalaksanaan pada
pemeriksaan postnatal care
1.3 Manfaat Penulisan
1. Mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan ibu dalam
memberikan asuhan komprehensif pada masa nifas
2. Dokumentasi asuhan kebidanan pada persalinan normal
1.4 Ruang Lingkup
Ruang lingkup laporan pendahuluan ini adalah asuhan kebidanan pada masa
nifas fisiologis
1.5 Sistematika Penulisan
Dalam karya tulis ini susunan penulisan adalah sebagai berikut :
1. Pendahuluan
Bagian ini menerangkan keternalaran (kerasionalan) mengapa topik
yang dinyatakan pada judul karya tulis ilmiah itu dikaji.
2. Tinjauan Pustaka
Bagian ini berisi kajian teori dari topik kasus yang dinyatakan pada
judul karya tulis ilmiah itu dikaji
3. Kerangka konsep Asuhan Kebidanan

Bagian ini berisi pola pikir penulis dalam melakukan asuhan


kebidanan, yaitu asuhan kebidanan teoritis
Bagian ini berisi data-data dari keseluruhan manajemen asuhan
kebidanan melingkupi 7 langkah Varney
4. Pembahasan
Bagian ini berisi analisa dan pembahasan keterkaitan faktor-faktor
dari data yang diperoleh dari kasus di lahan, penyelesaian masalah
dari kasus, dan hasil penyelesaian masalah pada kasus
5. Kesimpulan dan Saran
Bagian ini berisi kesimpulan dan saran penulis terhadap masalah pada
kasus yang dinyatakan pada karya tulis ilmiah ini

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Asuhan pada Masa Nifas


2.1.1 Definisi Nifas Normal
Masa nifas

adalah masa dari kelahiran plasenta dan selaput janin

(menandakan akhir periode intrapartum) hingga kembalinya traktus reproduksi


wanita pada kondisi tidak hamil. Periode pemulihan pasca partum berlangsung
sekitar 6 minggu (Varney, 2007).

Masa nifas adalah periode selama dan tepat setelah kelahiran dan 6 minggu
berikutnya saat terjadi involusi kehamilan normal (Cunningham, 2010).
Masa nifas (puerperium) adalah masa dimulai saat kelahiran plasenta dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.Masa
nifas berlangsung selama kira-kira 6-8 minggu ( Prawirohardjo, 2007).
2.1.2 Tahapan pada Masa Nifas
Menurut Sitti Saleha (2009), tahapan yang terjadi pada masa nifas dibagi dalam 3
periode, yaitu:
1.

Periode immediate postpartum


Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini
sering terjadi banyak masalah, misalnya perdarahan karena atonia uteri.Oleh

karena itu, bidan dengan teratur harus melakukan pemeriksaan kontraksi


uterus, pengeluaran lokhea, tekanan darah, dan suhu.
2.

Periode early postpartum (24 jam-1 minggu)


Pada fase ini bidan memastikan involusi uteri dalam keadaan normal, tidak
ada perdarahan, lokhea tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup
mendapat makanan dan cairan, serta dapat menyusui dengan baik.

3.

Periode late postpartum (1minggu-5 minggu)


Pada tahap ini bidan tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan seharihari serta konseling KB.

2.1.3

Perubahan Fisiologis Tubuh pada Masa Nifas

1)Uterus

Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya


kembali seperti sebelum hamil dengan berat 60 gram.
Involusi
uteri

TFU

Berat

Diameter

Palpasi servik

Plasenta
lahir

Setinggi pusat

1000 gram

12,5 cm

Lembut/lunak

7 hari

Pertengahan pusat
simfisis

500 gram

7,5 cm

2 cm

Tidak teraba

350 gram

5 cm

1 cm

Normal

60 gram

2,5 cm

Menyempit

(1 minggu)
14 hari
(2 Minggu)
6 Minggu

Sumber: Mochtar, 2010


Proses involusi terjadi karena adanya: Autolysis yaitu penghancuran
jaringan otot-otot uterus yang tumbuh karena adanya hiperplasi, dan
jaringan otot yang membesar menjadi lebih panjang sepuluh kali dan
menjadi lima kali lebih tebal dari sewaktu masa hamil akan susut kembali
mencapai keadaan semula. Penghancuran jaringan tersebut akan diserap
oleh darah kemudian dikeluarkan oleh ginjal yang menyebabkan ibu
mengalami beser kencing setelah melahirkan (Manuaba, 2009).
Aktifitas otot-otot yaitu adanya kontrasi dan retraksi dari otot-otot setelah
anak lahir yang diperlukan untuk menjepit pembuluh darah yang pecah
karena adanya pelepasan plasenta dan berguna untuk mengeluarkan isi
uterus yang tidak berguna. Karena kontraksi dan retraksi menyebabkan
terganggunya peredaran darah uterus yang mengakibatkan jaringan otot
kurang zat yang diperlukan sehingga ukuran jaringan otot menjadi lebih
kecil (Manuaba, 2009). Rasa sakit yang disebut after pains ( meriang
atau mules-mules) disebabkan koktraksi rahim biasanya berlangsung 3
4 hari pasca persalinan. Perlu diberikan pengertian pada ibu mengenai hal
ini ( Cunningham, 2010).

Ischemia yaitu kekurangan darah pada uterus yang menyebabkan atropi


pada jaringan otot uterus.Involusi pada alat kandungan meliputi: Uterus.
Setelah plasenta lahir uterus merupakan alat yang keras, karena kontraksi
dan retraksi otot-ototnya (Manuaba, 2009).
2) Involusi Tempat Plasenta
Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah
besar yang tersumbat oleh trombus. Luka bekas implantasi plasenta tidak
meninggalkan parut karena dilepaskan dari dasarnya dengan pertumbuhan
endometrium baru dibawah permukaan luka. Endometrium ini tumbuh
dari pinggir luka dan juga sisa-sisa kelenjar pada dasar luka. Bekas luka
implantasi plasenta dengan cepat mengecil, pada minggu ke 2 sebesar 6-8
cm dan pada akhir masa nifas sebesar 2 cm (Prawirohardjo, 2009).
3) Perubahan pembuluh darah rahim
Dalam kehamilan, uterus mempunyai banyak pembuluh darah yang besar,
tetapi karena setelah persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah yang
banyak maka arteri harus mengecil lagi dalam masa nifas (Prawirohardjo,
2009).
4) Lochea
Menurut Waryana (2010), lochea dibagi menjadi :
a) Lochea rubra
Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua,
vornik kaseosa, lanugo dan meconium, selama 2 hari pasca persalinan.
b) Lochea sanguinolenta

Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir hari 3-7 hari
persalinan.
c) Lochea serosa
Berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14 hari
pasca persalinan.
d) Lochea alba

Cairan putih setelah 2 minggu.


e) Lochea purulenta
Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
f) Locheastasis
Lochea yang tidak lancar keluarnya.
5) Serviks
Setelah persalinan, bentuk serviks agak menganga seperti corong,
berwarna merah kehitaman, konsistennya lunak. Setelah bayi lahir tangan
masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui oleh 2-3 jari
dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari (Prawirohardjo, 2009)
Beberapa hari setelah persalinan ostium eksternum dapat dilalui oleh 2
jari, pada akhir minggu pertama dapat dilalui oleh 1 jari saja. Karena
hiperplasi ini dan karena karena retraksi dari cervix, robekan cervix jadi
sembuh. Vagina yang

sangat diregang waktu persalinan, lambat laun

mencapai ukuran yang normal. Pada minggu ke 3 post partum ruggae


mulai nampak kembali (Mochtar, 2010).
6) Ligamen-ligamen
Ligamen, vasia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu
persalinan dan persalinan, setelah bayi lahir secara berangsur-angsur
menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh
kebelakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum menjadi
kendur (Prawirohardjo, 2009).
7) Payudara (mamae)
Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara
alami. Proses menyusui mempunyai dua mekanisme fisiologis yakni
produksi ASI dan sekresi ASI (let down reflec). Selama smbilan bulan
kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk
menyediakan makanan bagi bayi baru lahir. Setelah melahirkan, ketika

hormon yang dihasilkan plasenta tidak lagi menghambat kerja kelenjar


pituitari akan mengeluarkan prolaktin. Sampai hari ketiga efek prolaktin
bisa dirasakan.Pembulu darah payudara menjadi bengkak terisi darah,
sehingga timbul rasa hangat, bengkak, dan sakit.
8) Sistem pencernaan
Mual dan muntah terjadi akibat produksi saliva meningkat pada kehamilan
trimester I, gejala ini terjadi 6 minggu setelah HPHT dan berlangsung
kurang lebih 10 minggu juga terjadi pada ibu nifas. Pada ibu nifas
terutama yang mengalami partus lama dan terlantar mudah terjadi ileus
paralitikus, yaitu adanya obstruksi usus akibat tidak adanya peristaltik
usus. Penyebabnya adalah penekanan, pengaruh psikis takut BAB akibat
jahitan pada perineum.
9) Sistem perkemihan
Aktifitas ginjal bertambah pada masa nifas karena reduksi dari volume
darah dan ekskresi produk sampah dari autolysis. Puncak dari aktifitas ini
terjadi pada hari pertama post partum (Cunningham, 2010).
Pelvis ginjal dan ureter yang teregang dan berdilatasi selama kehamilan
kembali

normal

pada

akhir

minggu

keempat

setelah

melahirkan.Pemeriksaan sistokopik segera setelah melahirkan menunjukan


tidak hanya edema dan hiperemia dinding kandung kemih, tetapi sering
kali terdapat ekstravasasi darah pada submukosa.Diuresis yang norml
dimulai segera setelah persalinan sampai hari kelima.Jumlah urin yang
keluar dapat melebihi 3000 ml per hari. Ureter dan pelvis renalis yag
mengalami distensi akan kembali normal pada 2-8 minggu setelah
persalinan.
10) Sistem muskulosketetal

Ligamen-ligamen, fasia, dan diafragma pelvis yang meregang sewaktu


kehamilan dan persalinan berangsur-angsur kembali seperti sedia
kala.Tidak jarang ligamentum rotundum mengendur, sehingga uterus jatuh
ke belakang.Fasia jaringan penunjang alat genetalia yang mengendur dapat
diatasi dengan latihan tertentu.Mobilitas sendi berkurang dan posisi
lordosis kembali secara perslahan-lahan.
11) Sistem endokrin
a. Oxytoxin
Oxytoxin disekresi oleh kelenjar hipofise posterior dan bereaksi
pada otot uterus dan jaringan payudara. Selama kala tiga persalinan
aksi oxytoxin menyebabkan pelepasan plasenta. Setelah itu
oxytoxin beraksi untuk kestabilan kontraksi uterus, memperkecil
bekas tempat perlekatan plasenta dan mencegah perdarahan. Pada
wanita yang memilih untuk menyusui bayinya, isapan bayi
menstimulasi ekskresi oxytoxin diamna keadaan ini membantu
kelanjutan involusi uterus dan pengeluaran susu. Setelah placenta
lahir, sirkulasi HCG, estrogen, progesteron dan hormon laktogen
placenta menurun cepat, keadaan ini menyebabkan perubahan
fisiologis pada ibu nifas (Cunningham, 2010).
b. Prolaktin
Penurunan estrogen menyebabkan prolaktin yang disekresi oleh
glandula hipofise anterior bereaksi pada alveolus payudara dan
merangsang produksi susu. Pada wanita yang menyusui kadar
prolaktin terus tinggi dan pengeluaran FSH di ovarium ditekan.
Pada wanita yang tidak menyusui kadar prolaktin turun pada hari
ke 14 sampai 21 post partum dan penurunan ini mengakibatkan
FSH disekresi kelenjar hipofise anterior
9

untuk bereaksi pada

ovarium yang menyebabkan pengeluaran estrogen dan progesteron


dalam kadar normal, perkembangan normal folikel de graaf,
ovulasi dan menstruasi (Cunningham, 2010).

c. Estrogen Progesteron
Laktasi dapat diartikan dengan pembentukan dan pengeluaran air
susu ibu. Air susu ibu ini merupakan makanan pokok , makanan
yang terbaik dan bersifat alamiah bagi bayi yang disediakan oleh
ibu yamg baru saja melahirkan bayi akan tersedia makanan bagi
bayinya dan ibunya sendiri.
Selama kehamilan hormon estrogen dan progestron merangsang
pertumbuhan kelenjar susu sedangkan progesteron merangsang
pertumbuhan saluran kelenjar , kedua hormon ini mengerem LTH.
Setelah plasenta lahir maka LTH dengan bebas dapat merangsang
laktasi (Cunningham, 2010).
Lobus prosterior hypofise mengeluarkan oxtoxin yang merangsang
pengeluaran air susu. Pengeluaran air susu adalah reflek yang
ditimbulkan oleh rangsangan penghisapan puting susu oleh bayi.
Rangsang ini menuju ke hypofise dan menghasilkan oxtocin yang
menyebabkan buah dada mengeluarkan air susunya (Cunningham,
2010).
Pada hari ke 3 postpartum, buah dada menjadi besar, keras dan
nyeri. Ini menandai permulaan sekresi air susu, dan kalau areola
mammae dipijat, keluarlah cairan puting dari puting susu. Air susu
ibu kurang lebih mengandung Protein 1-2 %, lemak 3-5 %, gula
6,5-8 %, garam 0,1 0,2 %. Hal yang mempengaruhi susunan air
susu adalah diit, gerak badan. Benyaknya air susu sangat

10

tergantung pada banyaknya cairan serta makanan yang dikonsumsi


ibu (Cunningham, 2010).

3. Perubahan tanda-tanda vital


a. Suhu.
Suhu tubuh wanita postpartum tidak lebih dari 37,2 0 C. Setelah
partus dapat naik kurang lebih 0,5 0 C dari keadaan normal. Setelah 2
jam pertama postpartum umumnya suhu akan kembali normal. Jika
suhu lebih dari 380 C kemungkinan terjadi infeksi.
b. Nadi dan pernapasan.
Nadi berkisar 60-80 kali permenit setelah partus dan dapat terjadi
brakikardi. Bila terjadi takikardi dan suhu tidak panas kemungkinan
terjadi perdarahan. Pernapasan akan meningkat setelah persalinan dan
akan normal kembali.
c. Tekanan darah.
Pada beberapa kasus akan ditemukan keadaan hipertensi postpartum
dan akan menghilang dengan sendirinya

apabila tidak terdapat

penyakit penyerta dalam bulan tanpa pengobatan.


4. Sistem Kardiovaskuler
Selama kehamilan secara normal volume darah untuk mengakomodasi
penambahan aliran darah yang diperlukan oleh placenta dan pembuluh
darah uterus. Penurunan dari estrogen mengakibatkan

diuresis yang

menyebabkan volume plasma menurun secara cepat pada kondisi normal.


Keadaan ini terjadi pada 24 sampai 48 jam pertama setelah kelahiran.
Selama ini ibu mengalami sering kencing. Penurunan progesteron
membantu mengurangi retensi cairan sehubungan dengan penambahan
vaskularisasi jaringan selama kehamilan (Prawirohardjo, 2010).
11

5. Sistem hematologi
Leukositosis adalah meningkatnya jumlah sel-sel darah putih sampai
sebanyak 15.000 selama persalinan. Leukosit akan tetap tinggi jumlahnya
selama beberapa hari pascapersalinan. Jumlah hemoglobion dan
hematokrit serta eritrosit akan sangat bervariasi pada awal masa nifas
sebagai akibat dari volume darah, plasma, dan sel darah yang berubah.
Jika hematokrit pada hari pertama atau kedua lebih rendah dari titik 2%
atau lebih tinggi dari pada saat persalinan awal, maka ibu dianggap
kehilangan darah yang cukup banyak. 2 % tersebut sama dengan 500 ml
darah.
2.1.4

Adaptasi Psikologis pada Masa Nifas


Perubahan psikologi masa nifas menurut Reva- Rubin terbagi menjadi
dalam 3 tahap (Myles, 2008), yaitu:
1) Fase Taking in (1-2 hari post partum)
Wanita menjadi pasif dan sangat tergantung serta berfokus pada diri
dan tubuhnya sendiri. Mengulang-ulang, menceritakan pengalaman
proses bersalin yang dialami. Wanita yang baru melahirkan ini perlu
istirahat atau tidur untuk mencegah gejala kurang tidur dengan
gejala lelah, cepat tersinggung, campur baur dengan proses
pemulihan (Anggraeni, 2010).
2) Fase hold period (3-4 hari post partum)
Ibu lebih berkonsentrasi pada kemampuan menerima tanggung
jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayi. Pada masa ini Ibu
menjadi sangat sensitif sehingga membutuhkan bimbingan dan
dorongan perawat untuk mengatasi kritikan yang dialami Ibu

12

3) Fase Letting go
Pada fase ini pada umumnya Ibu sudah pulang dari RS. Ibu
mengambil tanggung jawab untuk merawat bayinya, dia harus
menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayi, begitu juga adanya
grefing karena dirasakan dapat mengurangi interaksi sosial tertentu.
Depresi post partum sering terjadi pada masa ini
2.15

Kebutuhan Dasar pada Masa Nifas (Saleha, 2009)


1)

Kebutuhan Gizi Ibu Menyusui

Beberapa anjuran yang berhubungan dengan pemenuhan gizi Ibu


menyusui, antara lain :
a.
b.

Mengonsumsi tambah kalori tiap hari sebanyak 500 kalori


Makan dengan diet berimbang, cukup protein, mineral, dann

c.

vitamin
Minum sedikitntya 3 liter setiap hari, terutama setelah

d.
e.

menyusui
Mengonsumsi tablet zat besi selama masa nifas
Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar dapat
memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.

2) Ambulasi Dini
Ambulasi dini adalah kebijaksanaan untuk selekas mungkin
membimbing

pasien

keluar

dari

tempat

tidurnya

dan

membimbingnya untuk berjalan. Adapun keuntungan dari


ambulasi dini, antara lain :
a. Penderita merasa lebih sehat dan lebih kuat
b. Faal usus dan kandung kemih menjadi lebih baik
c. Memungkinkan bidan untuk memberikan bimbingan kepada
Ibu mengenai cara merawat bayinya
d. Lebih sesuai dengan keadaan Indonesia (lebih ekonomis)
Ambulasi awal dilakukan dengan melakukan gerakan dan jalanjalan ringan Sambil bidan melakukan observasi perkembangan
pasien dari jam demi jam sampai hitungan hari. Kegiatan ini
13

dilakukan secara meningkkat secara berangsur-angsur frekuensi


dan intensitas aktivitasnya sampai pasien dapat melakukannya
sendiri tanpa pendampingan sehingga tujuan memandirikan pasien
dapat terpenuhi.
3) Eliminasi
Buang Air Kecil (BAK)
Ibu diminta untuk BAB 6jam pasca persalinan. Jika dalam 8 jam ibu
belum berkemih atau sekali berkemih belum melebihi 100 cc, maka
lakukan katerisasi. Tetapi apabila kandung kemih penuh, tidak perlu
menunggu hingga 8 jam untuk melakukan katerisasi. Penyebab
retensio urin antara lain berkurangnya tekanan intraabdominal, otot
perut masih lemag, edema, dan dinding kandung kemih kurang
sensitif.
Buang Air Besar (BAB)
Ibu post partum diharapkan dapat berdefekasi setelah 2 hari pasca
melahirkan. Jika ibu belum BAB, berikan obat pencahar peroral atau
perrektal.
4)

Kebersihan Diri
Beberapa langkah penting dalam perawatan kebersihan diri Ibu post
partum, antara lain :
a. Jaga kebersihan seluruh tubuh untuk mencegah infeksi dan alergi
kulit pada bayi
b. Membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air
c. Mengganti pembalut setiap kali darah sudah penuh atau minimal
2 kali sehari

14

d. Mencuci tangan dengan sabun dan air setiap kali ia selesai


membersihkan daerah kemaluannya
e. Jika mempunyai luka episiotomy hindari untuk menyentuh daerah
luka.
5) Istirahat
Ibu post partum sangat membutuhkan istirahat yang berkualitas untuk
memulihkan kembali keadaan fisiknya, keluarga disarankan untuk
memberikan kesempatan kepada Ibu untuk beristirahat yang cukup
sebagai persiapan untuk energi menyusu bayinya lagi.
Kurang istirahat pada Ibu post partum akan mengakibatkan beberapa
kerugian, misalnya :
a. Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
b. Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak
perdarahan
c. Menyebabkan depresi dan ketidaknyamanan untuk merawat
bayi dan dirinya sendiri
6) Seksual
Secara fisik, aman untuk melakukan hubungan seksual begitu darah
merah berhenti dan Ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya ke
dalam vagina tanpa rasa nyeri. Namun keputusan bergantung pada
pasangan yang bersangkutan.
7) Latihan/Senam Nifas
Untuk mencapai hasil pemulihan otot yang maksimal, sebaiknya latihan
masa nifas dilakukan seawal mungkin dengan catatan Ibu menjalani
normal dan tidak ada penyulit post partum.
2.1.6 Peran Bidan

15

a. Memberi dukungan yang terus-menerus selama masa nifas yang baik


dan sesuai dengan kebutuhan ibu agar mengurangi ketegangan fisik
dan psikologis selama persalinan dan nifas.
b. Sebagai promotor hubungan yang erat antara ibu dan bayi secara fisik
dan psikologis.
c. Mengondisikan

ibu

untuk

menyusui

bayinya

dengan

cara

meningkatkan rasa nyaman.


2.1.7 Program dan Kebijakan pada Masa Nifas (JHPIEGO/MNH Program,
2007)
Tujuan kunjungan masa nifas:
1. Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi
2. Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan kemungkinan adanya
gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya.
3. Mendeteksi adanya komplikasi atau malah yang terjadi pada masa nifas
4. Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu
kesehatan ibu maupun bayinya.
Tabel Kunjungan pada Masa Nifas
Kunjungan
1

Waktu
6-8 jam
setelah
persalinan

Tujuan
-

Mencegah perdarahan masa nifas karena


atonia uteri.
Mendeteksi dan merawat penyebab lain
perdarahan, rujuk jika perdarahan
berlanjut.
Memberikan konseling pada Ibu atau salah
satu anggota keluarga bagaimana
mencegah perdarahan maa nifas karena
atonia uteri.
Pemberian ASI awal.
Melakukan hubungan antara Ibu dan bayi
baru lahir.
Menjaga bayi tetap sehat dengan cara
mencegah hipotermi.
Jika petugas kesehatan menolong
persalinan, ia harus tinggal dengan Ibu dan
bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah
kelahiran atau sampai Ibu dan bayi dalam

16

keadaan stabil.
2

6 hari setelah
persalinan

Memastikan involusi uterus berjalan


normal uterus berkontraksi, fundus
dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan
abnormal, tidak ada bau.
Menilai adanya tanda-tanda demam,
infeksi atau perdarahan abnormal.
Memastikan Ibu menyusui dengan baik
dan tak memperlihatkan tanda-tanda
penyulit.
Memberikan konseling pada Ibu mengenai
asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi
tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.

2 minggu
setelah
persalinan

6 minggu
setelah
persalinan

Sama seperti diatas (6 hari setelah persalinan).

- Menanyakan pada Ibu tentang penyulit


yang ia atau bayi alami.
- Memberikan konseling untuk KB secara
dini.

2.1.8 Patologi Dalam Masa Nifas (Saleha, 2009)


a. Infeksi masa nifas
Adalah infeksi pada traktus genetalia setelah persalinan, biasanya dari
endometrium bekas insersi plasenta.
b. Perdarahan dalam masa nifas
Penyebab perdarahan dalam masa nifas adalah sebagai berikut:
Sisa plasenta dan polip plasenta
Endometritis puerperalis
Sebab-sebab fungsional
Perdarahan luka
c. Infeksi saluran kemih

17

Kejadian infeksi saluran kemih pada masa nifas relative tinggi dan hal ini
dihubungkan dengan hipotoni kandung kemih akibat trauma kandung kemih
waktu persalinan, pemeriksaan dalam yang terlalu sering, kontaminasi kuman
dari perineum, atau kateterisasi yang sering.
d. Patologi menyusui
Masalah menyusui pada umumnya terjadi dalam dua minggu pertama masa
nifas. Berikut adalah masalah-masalah yang biasanya terjadi dalam pemberian
ASI:

Putting susu lecet


Payudara bengkak
Saluran susu tersumbat
Mastitis
Abses payudara

2.2 PATHWAY NIFAS FISIOLOGIS

18

BAB III
KERANGKA KONSEP ASUHAN KEBIDANAN PADA
MASA NIFAS FISIOLOGIS
No.Register

Untuk mengetahui no. Register pasien sehingga bila

Tanggal

suatu saat dIbutuhkan akan memudahkan pencarian


Untuk mengetahui tanggal pemeriksaan saat ini dan

:
:

untuk menentukan jadwal pemeriksaan berikutnya.


Untuk mengetahui waktu pemeriksaan
Untuk mengetahui tempat pemeriksaan

Pukul
Tempat
I.

Identifikasi Data Dasar


A. Data Subjektif
1.

Identitas

Ibu :
a.

Nama Ibu
Nama Ibu ditanyakan untuk mengenal dan memanggil penderita
dan mengantisipasi kesalahan pemberian asuhan jika nama Ibu

b.

sama.
Umur Ibu

19

Perlu

diketahui

untuk

mengantisipasi

diagnosa

masalah

kesehatan dan tindakan yang dilakukan. Pada nifas umur sangat


berpengaruh terhadap perubahan fisik, psikologi dan sosial yang
dialami ibu

c.

Suku/ ras / bangsa Ibu


Untuk

mengetahui

latar

belakang

sosial

budaya

yang

mempengaruhi dukungan keluarga kepada Ibu pada masa nifas


d.
e.

f.

Agama Ibu
Kepercayaan memiliki pengaruh terhadap masa nifas ibu.
Pekerjaan
Untuk mengetahui tingkat sosioekonomi ibu dan aktivitas
sehari-hari yang dilakukan ibu
Alamat
Untuk mengetahui Ibu tinggal dimana dan diperlukan bila
mengadakan kunjungan rumah (home care/home visit) ke Ibu,
mengetahui

lingkungan/tempat

berpengaruh

dengan

kesehatan,

tinggal
dan

Ibu
juga

yang

juga

sebagai

data

pendukung identitas Ibu sehingga asuhan kebidanan yang


dilakukan dapat tepat sasaran.

Suami
a.

Nama Suami
Nama Suami ditanyakan untuk mengenal dan mengetahui suami
yang bertanggung jawab atas Ibu, dan untuk memudahkan
dalam pemanggilan pada keperluan konseling dan persetujuan
tindakan medis

b. Umur Suami
Untuk mengetahui rentang usia Ibu dan suami sebagai gambaran
latar belakang sosial ekonomi Ibu.

20

c.

Suku/ ras / bangsa


Untuk

mengetahui

latar

belakang

sosial

budaya

yang

mempengaruhi dukungan suami kepada Ibu pada masa nifas

d. Agama
Untuk

mengetahui

kemungkinan

pengaruhnya

terhadap

kebiasaan kesehatan Ibu. Dengan diketahui agama suami pasien


akan

memudahkan

bidan

melakukan

pendekatan

dalam

melaksanakan asuhan kebidanan.


e.

Pekerjaan
Untuk mengetahui tingkat sosioekonomi keluarga

f.

Pendidikan
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan sehingga mudah dalam
pemberian informasi, serta gaya hidup dan pengetahuan yang
berkaitan dengan deteksi dini komplikasi nifas.

g.

Alamat
Untuk mengetahui apakah suami dan Ibu tinggal satu rumah,
serta mengetahui lingkungan tempat tinggal.

2.

Alasan Masuk Rumah Sakit


Untuk mengetahui alasan yang membuat Ibu masuk rumah sakit.
Sebagian besar kasus persalinan di rumah sakit adalah hasil rujukan dari
pelayanan kesehatan primer seperti puskesmas dan bidan praktik mandiri
yang memerlukan tindakan medis lanjut.

3.

Keluhan Utama
Merupakan keluhan yang diutarakan oleh ibu dan untuk
mengetahui alasan ibu datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kajian
ini diperlukan untuk mengidentifikasi patologi nifas. Keluhan yang
dirasakan pada ibu nifas biasanya nyeri pada luka jahitan, ASI yang
belum keluar, Peradarahan per vaginam, infeksi masa nifas, sakit kepala,
21

nyeri epigastric, pandangan kabur, demam, muntah, rasa sakit saat


berkemih.
4.

Riwayat menstruasi
Alasan : untuk mengetahui keadaan alat-alat reproduksi serta
gangguannya yang terjadi
HPHT : bila hari pertama haid terakhir diketahui maka dapat
HPL

memperhitungkan usia persalinan dan perkiraan persalinan.


: Untuk mengetahui hari perkiraan lahir. Perkiraan lahir pada
Ibu nifas berpengaruh pada pemberian konseling apabila bayi

5.

yang dilahirkan preterm, aterm atau post term.


Riwayat Obstetri Lalu

Persalinan
No

Persalinan

Bayi/Anak

Nifas

BB Hidup
Anak
Suami
UK Pnylt Penol. Jenis Tmpt Pnylt Seks
Pnylt ASI
ke
PB Mati

Alasan : untuk mengetahui ada tidaknya riwayat obstetri yang buruk


pada kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya.
6. Riwayat persalinan sekarang
Penolong

: Untuk mengetahui siapa yang membantu


proses persalinan Ibu dan keamanan proses

Tempat
Lama Persalinan
Lama Kala I

persalinan
: Untuk mengetahui tempat persalinan Ibu
: Pada primigravida kala 1 berlangsung 13
jam sedangkan pada multigravida 7 jam

Lama Kala II

: Pada primi berlangsung 1 jam dan pada


multi jam.

22

KB

K
et

Lama Kala III

: Proses

biasanya

berlangsung

selama

sampai 15 menit setelah bayi lahir dan keluar


spontan atau dengan tekanan.
Perdarahan Kala IV : Normalnya < 500 ml
BB Bayi
: Normalnya 2500 3500 gr
Jenis Kelamin
: untuk mengetahui jenis kelamin bayi sebagai
informasi untuk pemberian asuhan bayi baru
lahir
: 7-10 Normal

Apgar Score

4-6 Asfiksia Ringan


0-3 Asfiksia Berat
Untuk mengetahui ada tidaknya kondisi
gawat darurat pada bayi baru lahir, sebagai
informasi

untuk

memberikan

dukungan

psikologis pada Ibu post partum


7.

Riwayat Nifas Sekarang


Untuk mengetahui selama nifas apakah terjadi perdarahan, kontraksi
rahim, pengeluaran pervaginam (warna dan banyaknya), laktasi dan

penyulit laktasi.
8. Riwayat KB Terakhir
Untuk mengetahui apakah Ibu pernah mengikuti program KB, berapa lama
dan adakah keluhan selama menggunakan metode KB ataukah Ibu pernah
mengganti KB dan rencana KB selanjutnya.
9. Riwayat Kesehatan Ibu
Riwayat kesehatan memiliki pengaruh terhadap pemulihan pasca
persalinan.
10. Riwayat Kesehatan Keluarga
Untuk mengetahui apakah keluarga Ibu mempunyai penyakit atau riwayat
penyakit

yang

dapat

menjadi

penyulit

dalam

persalinannya/ada

kemungkinan menurun atau menular pada Ibu seperti jantung, hipertensi,


TBC, ginjal, hepatitis, asma, DM, gemelli.
11. Riwayat Sosial

23

a.

b.

Perkawinan :
Status perkawinan umur pertama kali menikah .... tahun Kawin ... kali
Lamanya .... tahun
Persalinan ini : Persalinan ini direncanakan atau tidak (berpengaruh

pada psikologis Ibu)


Respon keluarga: keluarga/suami apakah mendukung persalinan ini
(Berkaitan dengan kematangan fisik, psikologis, dan sosial Ibu)
12. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a. Pola Nutrisi
Berpengaruh terhadap masa nifas. Karena nutrisi merupakan
c.

kebutuhan dasar ibu nifas.


b. Pola Eliminasi
Berhubungan dengan ketidaknyaman yang dirasakan ibu.
Dalam 6 jam post partum ibu harus sudah dapat BAK, dan harus
c.

BAB dalam 24 jam post partum.


Pola menyusui
Normalnya menyusui setiap 2 jam siang dan malam hari
dengan lama menyusui 10-15 menit di setiap payudara.

d. Pola Istirahat Tidur


Istirahat memilki pengaruh terhadap pemulihan keadaan fisik ibu
e.

nifas
Pola Aktifitas
Menguraikan aktivitas yang dilakukan sehari-hari (berat
ringannya aktivitas) dan macam-macam aktivitas yang dilakukan.

f.

Pola Personal Hygiene

Merupakan kebutuhan dasar pada ibu nifas, terutama pada ibu


yang

memiliki

jahitan

laserasi,

kebersihan

diri

akan

mempengaruhi proses penyembuhan

g.

Pola Kebiasaan
Normalnya Ibu tidak merokok, mengkonsumsi alkohol, jamu
dan narkoba. Ibu tidak memelihara hewan peliharaan dan tidak
memiliki tradisi tertentu/dipijat.

24

B. Data Obyektif

1.

Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik, Cukup, Kurang.
Kesadaran
: Normalnya composmentis
TD
: Normalnya 100-130 / 60-80 mmHg. Untuk
melihat resiko tinggi ibu nifas.
: Normalnya 36,5 37,50C untuk mengetahui

Suhu

adanya tanda-tanda infeksi. 380C dianggap

2.

Nadi

tidak normal dan ada tanda infeksi.


: normalnya 60 100 kali/menit. (reguler/

RR

ireguler)
: Normalnya

12-24x/menit,

untuk

melihat

apakah ibu sesak nafas atau tidak


Pemeriksaan Fisik
Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk menilai kondisi kesehatan Ibu
dan bayinya serta tingkat kenyamanan fisik Ibu. Informasi dari hasil
pemeriksaan fisik dan anamnesis diolah untuk membuat keputusan
klinik, menegakkan diagnosis dan mengembangkan rencana asuhan
atau perawatan yang paling sesuai dengan kondisi Ibu.
Kepala dan Wajah
Normal = Rambut kesan bersih, tidak rontok; tidak ada
oedema
Mata
Normal = Conjunctiva Merah muda; Sclera Putih bersih
Hidung
Normal = bersih dan tidak ada secret
Telinga
Normal = bersih dan tidak ada serum
Mulut
Normal = Mulut/bibir: Tidak pucat dan tidak kering; Gigi:
tidak ada caries; tidak ada stomatitis

25

Leher
Normal =
Bendungan vena jugularis
: Tidak ada
Pembesaran kelenjar limfe : Tidak ada
Pembesaran kelenjar thyroid : Tidak ada
Payudara
Normal = payudara simetris, payudara membesar, puting
susu menonjol, kolostrum sudah keluar atau belum.
Umumnya pengeluaran kolustrum terjadi pada1-3 hari post
partum
Abdomen
Batas Normal :
Striae livide

: ada/tidak

Striae Albican

: ada/tidak

Linea Alba

: ada/tidak

Linea Nigra

: ada/tidak

Bekas luka operasi : ada/tidak


Diatasis Rekti

: normal = 1-2 jari

Kontraksi Uterus

: normal = uterus keras, kontraksi

baik

TFU

Involusi

: Normalnya

TFU

Berat

Diameter

Palpasi servik

Setinggi pusat

1000 gram

12,5 cm

Lembut/lunak

7,5 cm

2 cm

uteri
Plasenta
lahir
7 hari

Pertengahan

pusat 500 gram


26

(1 minggu)

simfisis

14 hari

Tidak teraba

350 gram

5 cm

1 cm

Normal

60 gram

2,5 cm

Menyempit

(2 Minggu)
6 Minggu

Sumber: Mochtar, 2010


Genetalia
-

Vulva dan Vagina


Keluaran

: jenis lochea

Lochea dibagi menjadi (Mochtar, 2010):


a) Lochea rubra
Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, vernik
kaseosa, lanugo dan meconium, selama 2 hari pasca persalinan.
b) Lochea sanguinolenta

Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir hari 3-7 hari
persalinan.
c) Lochea serosa
Berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14 hari
pasca persalinan.
d) Lochea alba
Cairan putih setelah 2 minggu.
e) Lochea purulenta
Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
f) Locheastasis
Lochea yang tidak lancar keluarnya.

Varises
: Tidak ada
Oedema
: Tidak ada
Kondiloma lata
: Tidak ada
Kondiloma akuminata : Tidak ada
Kebersihan
: Bersih
Inf. Kelenjar Bartholini : Tidak ada
Inf. Kelenjar Skene
: Tidak ada
Perineum
Ada
atau
tidaknya
bekas
episiotomy/robekan/sikatrik

27

luka

Anus
Hemoroid

: Tidak ada

Ekstrimitas
Batas normal :
Ekstremitas Atas

= tidak pucat, tidak sianosis, tidak ada

Ekstremitas bawah

edema
= tidak pucat, tidak sianosis, tidak ada
edema, tidak ada varises, tidak ada

3.

tromboflebitis (tanda Homan negatif)


Pemeriksaan Penunjang
a.Pemeriksaan laboratorium Darah

Kadar Hb
Hematokrit
Leukosit
Gol. darah

b.Pemeriksaan Urine Lengkap

II.

Identifikasi Diagnosa dan Masalah (Interpretasi Data Dasar)


Diagnosa

: P... Ab... Postpartum/Post SC Hari Ke - .... dengan ...

DS

:
Keluhan yang dirasakan pada ibu nifas biasanya nyeri
pada luka jahitan, ASI yang belum keluar, Peradarahan
per vaginam, infeksi masa nifas, sakit kepala, nyeri
epigastric, pandangan kabur, demam, muntah, rasa sakit
saat

DO

berkemih.

Kajian

ini

diperlukan

untuk

mengidentifikasi patologi nifas.


Riwayat persalinan dan nifas yang lalu
Riwayat persalinan dan nifas sekarang
: Data yang berasal dari hasil pemeriksaan sehingga dapat
mendukung / memperkuat diagnosa.
Keadaan Umum
Kesadaran
Pemeriksaan Abdomen

28

Pemeriksaan Genetalia
Pemeriksaan Anus
Masalah
: Masalah yang umunya terjadi =
A. Ketidakpercayaan diri untuk menyusui
B. Kelelahan dan stress sehingga menghambat kesembuhan dan
kelancaran ASI
C. Takut untuk bergerak karena ada luka operasi atau di jalan lahir
setelah persalinan
D. Takut untuk mandi dan cebok saat ada luka operasi atau di jalan lahir
setelah persalinan
E. Perubahan psikologi masa nifas

Kebutuhan : sesuai dengan masalah yang ada, antara lain:


Kebutuhan gizi ibu menyusui
Ambulasi dini
Eliminasi
Kebersihan diri
Istirahat
Latihan/senam nifas
III.

Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial


Infeksi, HPP, Mastitis, Abses Payudara
IV.
Identifikasi Kebutuhan Segera
infeksi (memberikan terapi, mengatasi penyebab infeksi), perdarahan (dicari
penyebab perdarahan dan ditangani sesuai penyebab), ketidaknyamanan
V.

( dukungan dan relaksasi)


Intervensi
Penyusunan rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional
berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah- langkah sebelumnya.
Pada langkah ini direncanakan usaha yang ditentukan oleh langkah-langkah
sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap
masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi (Varney,
2007).
Tujuan : setelah dilakukan asuhan kebidanan diharapkan ibu dalam kondisi
stabil dan dapat menyusui dengan baik
Kriteria Hasil :
- K/U baik
- TTV ibu dalam batas normal (TD 110/70-120/80 mmHg), N 60100x/menit, S 36,5-37,5C, RR 16-24x/menit
- Laktasi baik dan lancar
29

1.

Pemantauan dalam 4 jam pertama post partum (vital sign, tanda-tanda

perdarahan)
R/ untuk mengetahui perkembangan keadaan umum Ibu post partum
2.
Perawatan Ibu post partum
R/: pemenuhan kebutuhan dasar ibu post partum
3.
Memberikan motivasi pada ibu untuk menyusui bayinya/ ASI esklusif
R/: Informasi dari tenaga kesehatan akan memberikan pendidikan dan
motivasi kepada ibu untuk menyusui anaknya dengan cara yang benar
4.
Bimbingan pemantauan kontraksi uterus kepada pasien dan keluarga
R/: Diharapkan Ibu mengerti bagaimana cara melihat perkembangan
kontraksi uterusnya dan tanda-tanda bahaya perdarahan post partum
5.
Pemberian dukungan psikologis kepada Ibu dan suami
R/ :Dukungan dari keluarga dan orang lain sangat membantu dalam
6.

proses pemulihan kondisi Ibu


Pemberian KIE tentang :
Cara Perawatan Payudara
Cara Perawatan Diri
Kebutuhan gizi ibu menyusui
Ambulasi dini
Eliminasi
Istirahat
Latihan/senam nifas
R/ : Ibu memahami pentingnya perawatan payudara, perawatan
kebersihan diri, gizi ibu menyusui, ambulasi dini, istirahat dan latihan
nifas. Diharapkan Ibu semakin lama dapat semakin mandiri dalam
merawat dirinya pasca persalinan

VI.

Implementasi
Melaksanakan rencana asuhan yang telah direncanakan secara menyeluruh
dengan efisien dan aman sesuai perencanaan.

30

1. Pemantauan dalam 4 jam pertama post partum (vital sign, tanda-tanda


perdarahan)
E/TTV dalam batas normal
2. Perawatan Ibu post partum
E/kebutuhan nutrisi ibu terpenuhi dari makanan yang ia dapat di RS
sesuai kebutuhan ibu nifas (diet TKTP) dan perawatan luka perineum
3. Memberikan motivasi pada ibu untuk menyusui bayinya ASI esklusif
E/ ibu mengerti cara menyusui yang benar dan mau menyusui 2/jam
sekali
4. Bimbingan pemantauan kontraksi uterus kepada pasien dan keluarga
E/: Ibu mengerti bagaimana cara melihat perkembangan kontraksi
uterusnya dan tanda-tanda bahaya perdarahan post partum
5. Pemberian dukungan psikologis kepada Ibu dan suami
E/ibu mendapat dukungan suami dan keluarga dalam pemulihan pasca
melahirkan
6.Pemberian KIE tentang Cara Perawatan Payudara, Cara Perawatan
Diri, Kebutuhan gizi ibu menyusui, Ambulasi dini, Eliminasi,
Istirahat, Latihan/senam nifas
E/ : Ibu memahami pentingnya perawatan payudara, perawatan
kebersihan diri, gizi ibu menyusui, ambulasi dini, istirahat dan latihan
nifas. Diharapkan Ibu semakin lama dapat semakin mandiri dalam
merawat dirinya pasca persalinan
VII. Evaluasi
Tindakan pengukuran antara keberhasilan dalam melaksanakan tindakan
untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan tindakan yang dilakukan sesuai
kriteria hasil yang ditetapkan dan apakah perlu untuk melakukan asuhan
lanjutan atau tidak, pendokumentasian dengan 7 langkah Varney.

BAB IV
ASUHAN KEBIDANAN
PADA NY N USIA 38 TAHUN P1001Ab100 POST PARTUM HARI KE-0
DENGAN RIWAYAT PEB
Nama Mahasiswa

: Herdhika Ayu Retno

31

NIM
: 105070607111011
Waktu Pengkajian : 22 April 21.00
Tempat
: Ruang Brawijaya (Nifas) RSUD Kanjuruhan
No. Register
: 37.43.xx
A. Data Subjektif
1. Biodata
Nama Ibu : Ny.F
Nama Suami : Tn.E
Umur
: 20 tahun
Umur
: 26 tahun
Suku
: Jawa
Suku
: Jawa
Agama
: Islam
Agama
: Islam
Pendidikan : SD
Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT
Pekerjan
: Pedagang
Penghasilan : Penghasilan : 1 juta/bln
Alamat : Sempol RT 26 RW 6 Pagak
2. Alasan MRS
Ibu merupakan rujukan dari PKM Sumbermanjing Kulon karena
hamil dengan tekanan darah tinggi. Sebelum ke PKM, ibu datang
pada 21 April 2015 pukul 19.00 dengan keluhan kenceng-kenceng
tapi belum keluar lendir darah, lalu diperiksa oleh bidan tekanan
darah ibu tinggi, oleh bidan dirujuk ke PKM Sumbermanjing
Kulon pukul 19.30 dan diperiksa TD ibu 180/100, kemudian
dirujuk ke RSUD Kanjuruhan, pasien tiba di IGD pukul 22.30,
oleh IGD dibawa ke Kaber pukul 23.45 (TD 150/90 mmHg), ibu
melahirkan secara spontan di Kaber pukul 05.55 pada 22 April
2015 dan dipindah ke Ruang Brawijaya pukul 12.30 WIB.
3. Keluhan Utama
Ibu mengeluh capek dan nyeri di badan setelah melahirkan
4. Riwayat Pernikahan
Menikah
: 1 Kali.
Lama Pernikahan
: 2 tahun
Usia Pertama Kali Menikah : 18 tahun
5. Riwayat Obstetri
a. Riwayat Menstruasi
Menarche
: 14 Tahun.
Siklus
: 28 Hari, teratur.
Lama
: 5-7 Hari.
Banyaknya
: 2-4 pembalut per hari.
Bau atau Warna
: Bau anyir dan warna merah cerah.
Dysmenorrhea
: kadang-kadang
32

Fluor Albus

:Ibu

tidak

pernah

mengalami

keputihan yang berbau, berwarna,


dan terasa gatal.
b. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang Lalu
Ibu mengatakan belum pernah hamil dan melahirkan
sebelumya
c. Riwayat Kehamilan Sekarang
Hamil
: ibu mengatakan ini merupakan kehamilan ke-1 dan
ibu tidak pernah keguguran sebelumnya
HPHT
: 14-7-2014
HPL
: 21-4-2015
UK
: 40-41 minggu
Keluhan saat hamil :
TM I : tidak ada
TM II : sering kencing
TM III : nyeri punggung belakang
Mulai merasakan pergerakan janin : usia kehamilan 4 bulan
Riwayat ANC
: ke bidan sebulan sekali
Riwayat TT saat hamil

(9x)
: Ya dua kali, TT 1 (usia
kehamilan 4 bulan) dan TT
2 (usia kehamilan 5 bulan)
: tidak pernah
: tidak pernah
: tidak pernah

Pijat perut saat hamil


Jamu
Konsumsi obat selama hamil
d. Riwayat Persalinan Sekarang
Tanggal/Jam
: 22 April 2015 / Jam 05.55 WIB
Penolong
: Bidan
Tempat
: RSUD Kanjuruhan Kepanjen
Jenis Persalinan : normal
Masalah
: PEB
Jenis Kelamin
: Perempuan
BB/PB
: 2230 gram/49
LK/LD/LILA
: 31/29/9 cm
APGAR Score : 7-8
e. Riwayat Nifas Sekarang
Perdarahan
: Sedikit
Kontraksi rahim
: Baik
Pengeluaran pervaginam : (+), warna merah, sedikit
Laktasi
: kolostrum (+) keluar sedikit, tapi
belum menyusui
6. Riwayat Kesehatan

33

a. Riwayat Kesehatan yang Lalu


Ibu tidak pernah menderita penyakit menurun seperti asma,
penyakit jantung, darah tinggi, kencing manis maupun
penyakit menular seperti batuk darah, hepatitis, PMS. Ibu
tidak pernah menjalani operasi.
Selama hamil ibu mengeluh sering BAK dan nyeri
punggung saat perutnya semakin membesar.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengeluh perutnya kenceng-kenceng tapi belum keluar
lendir darah sejak 21 April 2015 pukul 19.00, datang ke
bidan, oleh bidan dirujuk ke PKM Sumbermanjing Kulon
karena tekanan darah tinggi
Pukul 19.30 di PKM

Sumbermanjing

dilakukan

pemeriksaan TD ibu 180/100


Ibu dirujuk ke RSUD Kanjuruhan dan tiba di IGD pukul :
22.30, ibu dipindahkan ke Kamar Bersalin pukul 23.35
Di Kamar bersalin ibu mengeluh kenceng, hasil
pemeriksaan K/U cukup, TD 150/90 mmHg, pusing (-),
edema (-), Palpasi TFU 4 jari bawah px (29cm), puki,
letkep sudah masuk PAP, auskultasi djj 141 x/menit, hasil
pemeriksaan daam v/v/u bersih, blood slym (+), pembukaan
2cm, ketuban (+), eff.25%, kepala di Hodge I, hasil Lab :
anemia ringan, leukositosis disertai albuminuria sedang
dengan PEB (proteinuria +2). Ibu direncanakan SC pukul
06.00, tapi telah melahirkan secara spontan pukul 05.55
WIB
Ibu dipindahkan ke ruang Brawijaya pukul 12.30 dengan
hasil pemeriksaan K/U cukup TD 170/110mmHg, pusing
(-), PPV (+), UC baik
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
- Kanker
: tidak ada
- Penyakit hati : tidak ada
- Hipertensi
: ada (almarhum Ayah)
- DM :
tidak ada
- Epilepsi
: tidak ada
- Penyakit jiwa : tidak ada

34

- Kelainan bawaan: tidak ada


- TBC : tidak ada
- Alergi : tidak ada
- Hamil kembar : tidak ada
7. Riwayat Kontrasepsi
KB yang lalu
: pil
Lama pemakaian & keluhan: kurang lebih 2 tahun, tidak ada
keluhan
Rencana KB selanjutnya
: suntik 3 bulanan
8. Keadaan Psiko Sosial Spiritual
Kelahiran ini
: diinginkan
Penerimaan ibu terhadap bayinya
: sangat senang
Tinggal serumah dengan
: suami dan ibu
Orang terdekat
: suami
Tanggapan keluarga terhadap bayi : senang dan sangat
menantikan kelahiran bayi
9. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a. Nutrisi (kebiasaan makan, gizi yang dikonsumsi, Vit.A)
Sebelum MRS
Sebelum hamil : makan 3x/hari, dengan menu nasi, lauk
tahu tempe,

dan sayur, kadang-kadang

ayam,

ibu

mengataka jarang makan sayur


Selama hamil : sama seperti sebelum hamil, ditambah
konsumsi susu hamil, tablet besi dan tablet kalsium dari
bidan
Selama MRS
Kaber : dipuasakan untuk persiapan SC
Setelah bersalin (Ruang brawijaya) : makan dari RS ,
makan terakhir pukul 18.00
b. Istirahat atau Tidur
Sebelum MRS
Sebelum hamil : tidur 8-10 jam/hari
Selama hamil : kurang tidur karena sering terbangun di
malam hari untuk pipis
Selama MRS :
Terakhir tidur tadi siang dengan frekuensi 2 jam
c. Aktivitas
Sebelum MRS
Sehari-hari ibu melakukan pekerjaan rumah tangga
Selama MRS
Ibu sudah bisa miring kanan kiri dan bisa duduk sendiri tanpa
dibantu
35

d. Eliminasi
Sebelum MRS :
BAB
: 1x sehari. Warna kuning, padat. Terakhir BAB
BAK

tanggal 21 April 2015 jam 06.00 WIB


: 7x sehari, warna kuning, jernih. Terakhir BAK

tanggal 21 April 2015 jam 18.00


Selama MRS
BAK melalui kateter, belum BAB sejak dirawat di RS
e. Personal Hygiene
Sebelum MRS
Selama hamil ibu mandi, gosok gigi dan ganti baju dua kali
sehari
Setelah mengeluh kenceng-kenceng tadi malam ibu belum
mandi
Selama MRS
ibu ganti jarit, pampers dan baju serta diseka dibantu
keluarga
f. Pola kebiasaan hidup sehat :
Merokok/Minum-minuman keras/Obat-obatan terlarang : tidak
pernah
B. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum
: cukup
Kesadaran
: compos mentis
Tanda-tanda Vital
TD
: 170/110 mmHg
N
: 86x/menit
S
: 36,3C
RR
: 20x/menit
Antropometri
LILA
: 23,5 cm
TB
: 151 cm
BB sebelum hamil
: 50 kg
BB setelah hamil
: 65 kg
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala
Rambut kesan bersih, warna hitam, tidak berminyak, tidak ada
edema
b. Wajah
Ekspresi kesakitan, agak pucat, tidak odema.
c. Mata
36

Konjunctiva anemis, sclera tidak ikterus.


d. Telinga
Tidak ada secret abnormal.
e. Hidung
Bersih dan tidak ada secret
f. Mulut
Bersih, mukosa bibir lembab, tidak ada stomatitis, tidak ada
caries gigi dan gigi palsu, lidah bersih tanpa bercak-bercak.
g. Leher
Tidak pembengkakan pada kelenjar limfe dan kelenjar tiroid,
tidak ada bendungan pada vena jugularis.
h. Payudara
Simetris, papilla mammae menonjol, tidak bengkak, tidak ada
benjolan abnormal kolostrum (+)
i. Pemeriksaan khusus
Abdomen
Striae livide

: tidak ada

Striae Albican

: ada

Linea Alba

: tidak ada

Linea Nigra

: ada

Bekas luka operasi : tidak ada


TFU

: 2 jari bawah pusat

Kotraksi Uterus

: baik

j. Ekstremitas :
Atas = kuku tidak sianosis, tidak ada edema, terpasang infus di
tangan kiri ibu, tidak ada flebitis, tidak ada edema
Bawah = kuku tidak sianosis, tidak ada edema, tanda Homan
(-),reflek patella (+)
k. Genetalia dan Anus
Terpasang Dower Catheter
Vulva dan Vagina
-

Keluaran
Varises

: lochea rubra
: Tidak ada

Oedema
Kondiloma lata

: Tidak ada
: Tidak ada

37

Kondiloma akuminata
Kebersihan
Inf. Kelenjar Bartholini
Inf. Kelenjar Skene

: Tidak ada
: Bersih
: Tidak ada
: Tidak ada

Perineum
ada bekas luka episiotomy dan robekan, heacting jelujur
Anus : hemorrhoid (-)
Terpasang DC, jumlah urine terakhir 500cc
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium Darah Lengkap (21 April 2015)
Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Nilai Rujukan

HEMATOLOGI
Hemoglobin

10.9

g/dl

L: 13.3-17,7
P: 11,7-15,7

Hematokrit

36,7

L: 40-54
P: 35-47

Hitung eritrosit

4,59

106cmm

L: 4,5-6,5
P: 3,0-6,0

Hitung leukosit

13.600

Cell/cmm

4000-11000

Hitung trombosit

220.000

Cell/cmm

150.000-450.000

Masa perdarahan

130

Menit/detik

Masa pembekuan

930

Menit

15

KIMIA KLINIK
Glukosa darah
sewaktu

62

mg/dl

< 140

SGOT

13

U/L

L<43, P <36

SGPT

U/L

L <43, P <36

Ureum

19

mg/dL

30-40

Kreatinin

0.39

mg/dL

L.0,6-1,1, P 0,50,9

IMUNO SEROLOGI
HbsAg

Non-reaktif

38

Negatif

Pemeriksaan Albumin Urine


Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Nilai Rujukan

URINALISIS KIMIAWI
Albumin

2+ (75)

mg/dl

Kesan/Kesimpulan : Anemia ringan

< 25

+ leukositosis disertai

albuminuria sedang
II. INTERPRETASI DATA DASAR (IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN
MASALAH)
Diagnosa : P1001 Ab000 Post partum hari ke-0 dengan riwayat PEB
Ds
:
Ibu mengatakan belum pernah hamil dan melahirkan
sebelumya dan ibu tidak pernah keguguran sebelumnya,
HPHT: 14-7-2014
Ibu mengatakan telah melahirkan secara normal pada 22 April
2015, jam 05.55 WIB di kamar bersalin RSUD Kanjuruhan
dan ibu mengatakan selama hamil punya darah tinggi
Ibu mengatakan setelah melahirkan sudah mencoba menyusui
dan ASI yang keluar sedikit
Do

:
Keadaan umum : cukup
Kesadaran : compos mentis
Pemeriksaan TTV
- TD
: 170/110 mmHg
- N
: 86x/menit
- S
: 36,3C
- RR
: 20x/menit
Abdomen
Striae livide

: tidak ada

Striae Albican

: ada

Linea Alba

: tidak ada

Linea Nigra

: ada

Bekas luka operasi : tidak ada

39

TFU

: 2 jari bawah pusat

Kotraksi Uterus
Genetalia dan Anus

: baik

Terpasang Dower Catheter


Vulva dan Vagina
-

Keluaran
Varises
Oedema
Kondiloma lata
Kondiloma akuminata
Kebersihan
Inf. Kelenjar Bartholini
Inf. Kelenjar Skene

: lochea rubra
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Bersih
: Tidak ada
: Tidak ada

Perineum
ada bekas luka episiotomy dan robekan
Anus : hemorrhoid (-)
Terpasang DC , jumlah urine terakhir 500cc
Ekstremitas :
Atas = kuku tidak sianosis, tidak ada edema, terpasang infus di tangan kiri
Bawah = kuku tidak sianosis, tidak ada edema, tanda Homan (-), reflek
patella (+)
Hasil pemeriksaan Lab Darah dan Urine (21 April 2015) : Anemia

II.
II.

III.

ringan + leukositosis disertai albuminuria sedang


Masalah
: ibu merasa capek dan nyeri setelah melahirkan
Kebutuhan
: KIE ketidaknyamanan pada masa nifas
IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
Tidak ada
IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA, KOLABORASI,

&

RUJUKAN
Kolaborasi : konsultasi dengan dokter SpOG dalam pemberian MgSO4
INTERVENSI
Diagnosa
: P1001 Ab000 Post partum hari ke-0 dengan riwayat PEB
Tujuan
: setelah dilakukan asuhan kebidanan diharapkan ibu dalam
kondisi stabil dan dapat menyusui dengan baik
Kriteria Hasil :
- K/U baik
- TTV ibu dalam batas normal (TD 110/70-120/80 mmHg, N 60-

100x/menit, S 36.5-37.5C, RR 16-24x/menit.


Laktasi baik dan lancar
40

INTERVENSI
:
22 April pukul 21.30
1. Lakukan pendekatan terapeutik pada klien
R/ untuk memudahkan pengkajian data sehingga ibu dengan senang
hati menceritakan keadaannya
2. Jelaskan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga
R/ibu dan keluarga perlu tahu tentang kondisi tubuhnya
3. Lakukan pemeriksaan dan observasi meliputi tekanan darah, frekuensi
nadi, frekuensi pernafasan, refleks patella dan jumlah urin
R/pemantauan TTV, refleks patella dan jumlah urin pada ibu hipertensi
perlu diobservasi secara ketat karena berhubungan dengan syarat
pemberian MGSO4 (Refleks patella (+), jumlah urin minimal 0,5 ml/kg
BB/jam, frekuensi nafas >16kali/menit
4. Melanjutkan terapi drip MgSO4 dosis pemeliharaan yaitu MgSO4
20% 6gr (30ml) dengan konsultasi dari dokter MgSO4
R/pemberian MgSO4 melanjutkan terapi dari Kaber
5. Siapkan terapi per oral hasil konsultasi dokter SpOG yaitu amoxilin
3x1/hari dan vitamin B complex 2x1/hari untuk diberikan jam 06.00
pagi (23 April 2015)
R/pemberian terapi hasil konsultasi dengan dokter untuk pemulihan
pada masa nifas dan antibiotik untuk pencegah infeksi pasca operasi
6. Berikan KIE untuk mengurangi ketidaknyaman pada masa nifas yang
sesuai keluhan ibu dan anjurkan ibu untuk cukup istirahat
R/KIE ketidaknyaman perlu diberikan pada semua ibu nifas agar
memberikan kenyaman pada masa nifas
7. Ajari pemantauan kontraksi uterus kepada ibu dan keluarga
R/agar ibu dan keluarga bisa mengetahui cara pemantauan kontraksi
uterus
8. Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet TKTP pada ibu
pasca melahirkan dengan memotivasi ibu untuk menghabiskan
makanan dari RS
R/nutrisi yang baik dibutuhkan pada masa nifas untuk masa pemulihan
tenaga dan persiapan laktasi
9. Berikan KIE tentang pentingnya pemberian ASI ekslusif pada bayi
R/ini merupakan anak pertama bagi klien sehingga klien perlu
diberikan edukasi tentang manfaat ASI eksklusif bagi bayi
10. Lakukan observasi puerperium
R/pemantauan untuk kewaspadaan tanda bahaya nifas

41

11. Ajari ibu menjaga kebersihan bekas luka jahitan


R/untuk mempercepat penyembuhan luka jahitan
VI. IMPLEMENTASI
1. Menyapa ibu dengan ramah, menjelaskan maksud pemeriksaan.
2. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa tekanan darah ibu
tinggi, sedangkan hasil pemeriksaan lain normal
3. Melakukan pemeriksaan dan observasi tekanan darah, frekuensi nadi,
frekuensi nafas, refleks patella dan jumlah urin ibu
4. Melanjutkan terapi drip MgSO4 dosis pemeliharaan yaitu 6g MgSO4
20% dilarutkan pada 500ml RL dengan kecepatan 28tpm sampai jam
23.30 melanjutkan terapi dari Kaber
5. Menyiapkan terapi oral ibu yaitu amoxilin 3x1/ hari dan vitamin B
complex 2x1/hari untuk besok pagi pukul 06.00
6. Memberikan KIE untuk mengurangi rasa nyeri setelah melahirkan
yaitu dengan memposisikan diri senyaman mungkin lalu diganjal
bantal atau selimut kecil untuk menahan bagian yang sakit dan
mengalihkan rasa sakit dengan mengajak ngobrol anggta keluarga lain,
dan anjurkan ibu untuk istirahat cukup.
7. Mengajari ibu dan keluarga cara memantau kontraksi rahim, yaitu jika
rahim teraba keras, maka kontraksi bagus dan dapat mencegah
perdarahan. Jika rahim teraba lembek, berarti kontraksi tidak baik dan
harus segera dimasase, dan segera laporkan pada petugas kesehatan
terutama saat ada perdarahan.
8. Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet TKTP pada ibu
pasca melahirkan dengan memotivasi ibu untuk menghabiskan
makanan dari RS
9. Memberikan KIE tentang ASI eksklusif bahwa makanan terbaik bagi
bayi adalah ASI yang sudah lengkap gizinya dan tidak perlu tambahan
makanan apapun hingga bayi berusia 6 bulan.
10. Melakukan observasi puerpurium ibu selama dirawat di rumah sakit
yaitu keluhan, TFU, kontraksi uterus, pengeluaran lochea, dan
eliminasi (BAB dan BAK)
11. Mengajari ibu menjaga kebersihan bekas luka jahitan yaitu dibasuh
dengan air bersih bila ibu sudah bisa ke kamar mandi sendiri

42

VIII. EVALUASI
Tanggal 22 April 2015
Pukul 23.30 WIB
S
: ibu mengatakan rasa sakit telah berkurang dan tidak ada keluhan
O
: TTV TD 150/100, N 80x/menit, RR 20x/menit, Suhu 36C
Reflek patella (+)
Jumlah urin terakhir 500cc
A
: P1001Ab000 Postpartum hari ke-0 dengan riwayat PEB
P
:
- Memberikan injeksi dosis pemeliharaam MgSO4 2gr 20% IV/4 jam
sampai 24 jam post partum
E/ sudah dilakukan injeksi injeksi dosis pemeliharaam MgSO4 2gr 20%
IV pukul 23.30

CATATAN PERKEMBANGAN I
Tanggal 23 April 2015

Pukul 06.00 WIB

43

: ibu mengeluh ASI yang keluar sedikit, dan ibu belum menyusui
karena bayi masih di ruang bayi
Ibu mengatakan sudah bisa duduk dan berjalan-jalan sendiri
:
K/U cukup
TTV TD 160/90, N 86x/menit, RR 22x menit, Suhu 36,5C
Abdomen : TFU 2 jari pusat, Kontraksi uterus baik,

A
P
-

Konsistensi keras
Vulva Genetalia =
Terpasang DC
Lochea rubra warna merah, konsitensi cair dan bau anyir

darah, bekas luka jahitan bersih


Ektremitas : masih terpasang infus, Refleks patella (+)
: P1001 Ab000 postpartum hari ke-1 dengan riwayat PEB
:
Memberikan terapi oral amoxilin 500mg untuk antibiotik 1 tablet
(dosis 3x1/hari) dan vitamin B complex 1 tablet (dosis 2x1/hari)
E/ sudah diberikan terapi oral pada pukul 06.00 saat ibu

mendapatkan makanan dari RS


Memberikan penjelasan pada ibu bahwa saat hari-hari pertama
pasca melahirkan ASI yang keluar belum banyak sehingga perlu
dirangsang dengan hisapan bayi dan kebutuhan ASI bayi saat harihari pertama lahir juga belum banyak, berikan motivasi dan
semangat pada ibu untuk tetap menyusui bayinya saat bayi sudah
dirawat gabung dengan ibu
E/ direncanakan bayi akan dirawat gabung dengan ibu dan
menunggu konfirmasi Ruang perinatology untuk RG bayi dengan

ibu
Akan melakukan pelepasan DC
E/DC dilepas pukul 10.00
Akan dilakukan pelepasan infus
E/sudah dilakukan pelepasan infus pukul 18.00 (TD terakhir
150/100, N 82x/menit, RR 20x/menit, Suhu 36,9C)

44

CATATAN PERKEMBANGAN II
Tanggal 24 April 2015
S

Pukul 06.00 WIB

: Ibu merasa lega setelah bisa menyusui bayinya


Ibu mengatakan sudah tidak capek dan nyeri lagi
Ibu mengatakan sudah bisa ke kamar mandi sendiri

45

: K/U cukup, TD 140/90 mmHg, N 78x/menit, S 36.9C, RR 20x/menit,


TFU 2 jari bawah pusat, kontraksi uterus baik, konsistensi keras, Genetalia
: lochea rubra, bekas luka jahitan baik

: P1001 Ab000 postpartum hari ke-2 dengan riwayat PEB

:
-

Melanjutkan terapi oral amoxilin dosis 3x1/hari dan vitamin B


complex 2x1/hari
E/ sudah diberikan masing-masing 1 tablet saat pembagian
makanan dari RS

Memberikan KIE tentang kontrasepsi pada masa nifas yaitu


metode MAL (metode amenorrhea laktasi) sebagai metode
kontrasepsi alami yang bisa digunakan ibu, jelaskan pada ibu
apabila ibu menyusui bayinya secara ekslusif dan selama ibu
belum haid lagi metode kontrasepsi dapat dilanjutkan, menjelaskan
berbagai macam metode kontrasepsi lain misalnya suntik, AKDR,
implant.
E/ibu mengerti dengan penjelasan bidan, dan bersedia kembali ke
bidan untuk penjelasan lebih lengkap tentang kontrasepsi yang
akan dipilihnya setelah metode MAL

BAB V
PEMBAHASAN
Pada pembahasan ini dibahas tentang kesenjangan ataupun kesesuaian antara teori
dan tinjauan kasus pada pelaksanaan manajemen Asuhan Kebidanan pada pada
Ny. F P1001 Ab000 postpartum hari ke-0 dengan riwayat PEB di Ruang Brawijaya
(Nifas) RSUD Kanjuruhan. Untuk memudahkan pembahasan maka penulis akan
menyajikannya dalam table sebagai berikut

46

1.

Pengkajian dan Analisa Data Dasar


Pengumpulan data merupakan proses manejemen asuhan kebidanan yang

ditujukan untuk pengumpulan informasi mengenai kesehatan baik fisik,


psikososial dan spiritual. Pengumpulan data dilakukan melalui anamnesis,
pemeriksaan fisik dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan asukultasi serta
pemeriksaan penunjang yaitu labolatorium dan pemeriksaan diagnostic, bila
memang dilakukan pemeriksaan penunjang.
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan baik karena adanya
kepercayaan yang terbangun antara ibu dengan bidan. Ibu bersikap kooperatif
ketika bidan melakukan pengkajian data. Pengkajian dilakukan berdasarkan datadata yang fokus untuk menegakkan diagnosa dan masalah pada ibu. Itu sebabnya,
pada saat pengumpulan data objektif tidak semua pemeriksaan fisik dilakukan,
sebab pemeriksaan lebih dikhususkan pada pemeriksaan obstetrik.
Pada pengkajian data dasar didapatkan ibu mengatakan telah melahirkan
secara normal pada tanggal 22 April 2015 pukul 05.55, dan ini merupakan
kelahiran anak pertamanya. Hasil pemeriksaan fisik : TTV TD 170/110 mmHg, N
86x/menit,Suhu 36,3C, RR 20xmenit. Abdomen : striae livide (+), linea nigra (+),
TFU 2 jari bawah pusat, UC baik. Genetalia : Lochea rubra, penyembuhan bekas
luka jahitan baik, ektremitas : edema (-), pucat (-), refleks patella (+). Hasil
pemeriksaan Lab : Anemia ringan, leukositosis + albuminaria sedang (proteinuria
+2).
Masa nifas adalah masa dari kelahiran plasenta dan selaput janin
(menandakan akhir periode intrapartum) hingga kembalinya traktus reproduksi
wanita pada kondisi tidak hamil. Periode pemulihan pasca partum berlangsung
sekitar 6 minggu (Varney, 2007).
Pada Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan
Rujukan terbitan Kemenkes RI tahun 2013 disebutkan Diagnosis Pre-eklampsia
berat yaitu bila TD >160/110mmHg pada usia kehamilan >20minggu, Proteinuri
2+ atau pemeriksaan kuantitatif >5g/24 jam, atau disertai keterlibatan organ lain:
Trombositopenia (<100.000 sel/uL), hemolisis mikroangiopati,

Peningkatan

SGOT/SGPT, nyeri abdomen kuadran kanan atas , Sakit kepala , skotoma


47

penglihatan, Pertumbuhan janin terhambat, oligohidramnion ,

Edema paru

dan/atau gagal jantung kongestif , Oliguria (< 500ml/24jam), kreatinin > 1,2
mg/dl
Dari analisa didapatkan bahwa terdapat kesesuaian kasus dan teori bahwa
ibu dalam masa nifas dengan riwayat PEB
2. Intrepretasi Data Dasar (Identifikasi Diagnosa dan Masalah)
Dari pengkajian data dasar didapatkan diagnosa P1001 Ab000 Postpartum hari
ke-0 dengan riwayat PEB.
Data yang mendukung penegakkan diagnosa terbagi menjadi data subjektf
dan data objektif. Data subjektif didapatkan ibu mengatakan ini merupakan
kelahiran anak pertamanya dan ibu mengatakan tidak pernah keguguran
sebelumnya,

ibu melahirkan secara normal pada pukul 05.55. Data objektif

didapatkan TTV TD 170/110 mmHg, N 86x/menit,Suhu 36,3C, RR 20xmenit.


Abdomen : striae livide (+), linea nigra (+), TFU 2 jari bawah pusat, UC baik.
Genetalia : Lochea rubra, penyembuhan bekas luka jahitan baik, ektremitas :
edema (-), pucat (-), refleks patella (+). Hasil pemeriksaan Lab : Anemia ringan,
leukositosis + albuminaria sedang (proteinuria 2+).
Pada Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar
dan Rujukan terbitan Kemenkes RI tahun 2013 disebutkan Diagnosis Preeklampsia berat yaitu bila TD >160/110mmHg pada usia kehamilan >20minggu,
Proteinuri 2+ atau pemeriksaan kuantitatif >5g/24 jam, atau disertai keterlibatan
organ lain:

Trombositopenia (<100.000 sel/uL), hemolisis mikroangiopati,

Peningkatan SGOT/SGPT, nyeri abdomen kuadran kanan atas , Sakit kepala ,


skotoma penglihatan, Pertumbuhan janin terhambat, oligohidramnion , Edema
paru dan/atau gagal jantung kongestif , Oliguria (< 500ml/24jam), kreatinin > 1,2
mg/dl
Dari penjelasan diatas disimpulkan terdapat kesesuaian antara diagnosa
dalam teori dan kasus
3. Identifikasi Kebutuhan Segera/Kolaborasi dan/atau Rujukan

48

Pada Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar


dan Rujukan terbitan Kemenkes RI tahun 2013 disebutkan bahwa penatalaksanaan
pada ibu dengan PEB yaitu berikan dosis awal 4 g MgSO4 sesuai prosedur untuk
mencegah kejang atau kejang berulang. Lanjutkan dengan dosis rumatan 6 g
MgSO4 dalam 6 jam sesuai prosedur. Pemberian MgSO4 dilakukan dengan
konsultasi dokter
Pada kasus diberikan tatalaksana MgSO4 20% dosis awalan yaitu 4gr dan
dosis pemeliharaan MgSO4 20% 6gr pada 22 April 2015 pukul 22.35 di kaber
dilarutkan pada 500 ml RL dihabiskan dalam 6 jam sampai 24 jam pasca
persalinan, dan saat di Brawijaya melanjutkan terapi drip MgSO4 20% 6gr, lalu
diberikan injeksi dosis pemeliharaam MgSO4 2gr 20% IV/4 jam sampai 24 jam
post partum pukul 23.30
Berdasarkan analisa diatas terdapat kesesuaian antara teori dan kasus
4. Rencana Asuhan (Intervensi)
Pada Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar
dan Rujukan terbitan Kemenkes RI tahun 2013 disebutkan bahwa
penatalaksanaan pada ibu dengan PEB yaitu
- Bila terjadi kejang, perhatikan jalan napas, pernapasan (oksigen), dan
sirkulasi (cairan intravena).
- MgSO4 diberikan secara intravena kepada ibu dengan eklampsia (sebagai
tatalaksana kejang) dan preeklampsia berat (sebagai pencegahan kejang).
Berikan dosis awal 4 g MgSO4 sesuai prosedur untuk mencegah kejang
atau kejang berulang. Lanjutkan dosis rumatan 6 g MgSO4 dalam 6 jam
sesuai prosedur (Ambil 6 g MgSO4 (15 ml larutan MgSO4 40%) dan
larutkan dalam 500 ml larutan Ringer Laktat/Ringer Asetat, lalu berikan
secara IV dengan kecepatan 28 tetes/menit selama 6 jam, dan diulang
hingga 24 jam setelah persalinan atau kejang berakhir (bila eklampsia)).
-

Pada kondisi di mana MgSO4 tidak dapat diberikan seluruhnya, berikan


dosis awal (loading dose) lalu rujuk ibu segera ke fasilitas kesehatan yang
memadai.

49

Lakukan intubasi jika terjadi kejang berulang dan segera kirim ibu ke
ruang ICU (bila tersedia) yang sudah siap dengan fasilitas ventilator
tekanan positif

Lakukan pemeriksaan fisik tiap jam, meliputi tekanan darah, frekuensi


nadi, frekuensi pernapasan, refleks patella, dan jumlah urin.

Bila frekuensi pernapasan < 16 x/menit, dan/atau tidak didapatkan refleks


tendon patella, dan/atau terdapat oliguria (produksi urin <0,5 ml/kg
BB/jam), segera hentikan pemberian MgSO4.

Jika terjadi depresi napas, berikan Ca glukonas 1 g IV (10 ml larutan 10%)


bolus dalam 10 menit.

Rencana intervensi Kasus :


Lakukan pemeriksaan dan observasi meliputi tekanan darah, frekuensi

nadi, frekuensi pernafasan, refleks patella dan jumlah urin


Lanjutkan terapi drip MgSO4 dosis pemeliharaan dengan konsultasi dari
dokter MgSO4

Siapkan terapi per oral hasil konsultasi dokter SpOG yaitu amoxilin
3x1/hari dan vitamin B complex 2x1/hari untuk diberikan jam 06.00 pagi
(23 April 2015)

Berikan KIE untuk mengurangi ketidaknyaman pada masa nifas yang


sesuai keluhan ibu dan anjurkan ibu untuk cukup istirahat

Ajari pemantauan kontraksi uterus kepada ibu dan keluarga

Berikan KIE nutrisi pada ibu nifas

Berikan KIE tentang ASI eksklusif

Lakukan observasi puerperium

Ajari ibu menjaga kebersihan bekas luka jahitan

Dari analisa diatas disimpulkan bahwa terdapat kesesuaian antara penatalaksanaan


kasus dengan teori

50

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Ibu merupakan rujukan dari PKM Sumbermanjing Kulon karena
hamil dengan tekanan darah tinggi. Sebelum ke PKM, ibu datang pada 21
April 2015 pukul 19.00 dengan keluhan kenceng-kenceng tapi belum keluar
lendir darah, lalu diperiksa oleh bidan tekanan darah ibu tinggi, oleh bidan
dirujuk ke PKM Sumbermanjing Kulon pukul 19.30 dan diperiksa TD ibu
180/100, kemudian dirujuk ke RSUD Kanjuruhan, pasien tiba di IGD pukul
22.30, oleh IGD dibawa ke Kaber pukul 23.45 (TD 150/90 mmHg), ibu
melahirkan secara spontan di Kaber pukul 05.55 pada 22 April 2015 dan
dipindah ke Ruang Brawijaya pukul 12.30 WIB Pada saat pengkajian Ibu
mengeluh capek dan nyeri di badan setelah melahirkan. Bidan melakukan
pengkajian data subjektif, antara lain: riwayat menstruasi; kehamilan,
persalinan, dan nifas yang lalu; riwayat persalinan sekarang; riwayat nifas
sekarang; riwayat kesehatan ibu dan keluarga; riwayat KB; riwayat

51

pernikahan; riwayat psikososial; dan pola kebiasaan sehari-hari. Kemudian


bidan melakukan pengkajian data objektif, yaitu pemeriksaan umum,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang laboratorium darah lengkap
dan albumin urine. Pada pengkajian data dasar didapatkan ibu mengatakan
telah melahirkan secara normal pada tanggal 22 April 2015 pukul 05.55, dan
ini merupakan kelahiran anak pertamanya. Hasil pemeriksaan fisik : TTV TD
170/110 mmHg, N 86x/menit,Suhu 36,3C, RR 20xmenit. Abdomen : striae
livide (+), linea nigra (+), TFU 2 jari bawah pusat, UC baik. Genetalia :
Lochea rubra, penyembuhan bekas luka jahitan baik, ektremitas : edema (-),
pucat (-), refleks patella (+). Hasil pemeriksaan Lab : Anemia ringan,
leukositosis + albuminaria sedang (proteinuria +2). Pada intrepretasi data
dasar diagnosa pada kasus ini adalah P1001 Ab000 Postpartum hari ke-0 dengan
riwayat PEB. Pada pembahasan telah disimpulkan bahwa terdapat kesesuaian
antara kasus dan teori baik pada proses pengkajian data disar, intrepretasi data
dasar dan rencana intervensi.
Asuhan Kebidanan pada Ny. N berjalan dengan baik. Hal ini
berdasarkan penatalaksanaan yang telah dilakukan, saat ibu dipindahkan ke
ruang nifas ibu di observasi TD ibu turun, ibu dalam kondisi stabil, dilakukan
pemeriksaan fisik head to toe yang mana didapatkan hasil kondisi ibu baik
dan normal. Pemberian terapi sesuai advice dokter. Setelah dilakukan
penatalaksanaan yang tepat, kondisi ibu baik dan ibu dapat menyusui
bayinya.
6.2 Saran
6.2.1 RSUD Kanjuruhan
Mempertahankan kualitas

pelayanan di ruang nifas RSUD

Kanjuruhan dalam memberikan pelayanan kepada pasien sehingga dapat


meningkatkan kesehatan masyarakat.
6.2.2

Bagi masyarakat
Diperlukan kerja sama yang baik antara klien, anggota keluarga, dan

petugas kesehatan dalam upaya peningkatan kesehatan ibu dan bayi.

52

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, F.G., Gant, N.F., Leveno, K.J., Gilstrap, L.C., Hauth, J.C.,
Wenstrom, K.D. 2010. Obstetri Williams Edisi 23. EGC, Jakarta.
Kemenkes RI, 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan
Dasar dan Rujukan, Pedoman Bagi Tenaga Kesehatan. Jakarta : Kemenkes
RI.
Magee L, Sadeghi S. Prevention and treatment of postpartum hypertension.
Cochrane Database Syst Rev 2005;1:CD004351.
Manuaba, Ida Bagus Gde dan Manuaba, Ida Bagus Gde Fajar. 2009. Pengantar
Kuliah Obstetric. EGC : Jakarta
Manuaba, IBG. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit

Kandungan, dan Keluarga

Berencana untuk Pendidikan Bidan. EGC, Jakarta.


Makris A, Thornton C, Hennessy A. Postpartum hypertension and nonsteroidal
analgesia. Am J Obstet Gynecol 2004;190:577-8.
Mochtar, Rustam. 2010. Sinopsis Obstetri. EGC, Jakarta.

53

Myles. 2008. Buku Ajar Bidan. EGC, Jakarta.


POGI, IDAI, PERINASIA, IBI, DEPKES RI dan Bantuan Teknis dari
JHPIE60/MNH Program. 2007. Buku Panduan Praktis Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal. YBPSP, Jakarta.
Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. YBPSP, Jakarta.
Saleha, Siti. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika
Sibai, BM. 2012.Etiology and Management of Postpartum hypertension-preeclampsia.American Journal of Obstetric and Gynecology June 2012
Singhal AB, Bernstein RA. Postpartum angiopathy and other cerebral
vasoconstriction syndromes. Neurocrit Care 2005;3:91-7.
Tan L, de Swiet M. The management of postpartum hypertension. BJOG
2002;109:733-6

54

Anda mungkin juga menyukai