Anda di halaman 1dari 33

PENENTUAN TINGKAT KEKERASAN LAPISAN BATUAN BAWAH PERMUKAAN

MENGGUNAKAN METODE SEISMIK REFRAKSI

DISUSUN OLEH
MARENDA DWI JATMIKO
G1B010010

PROGRAM STUDI FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS MATARAM
2013

ABSTRAK
Lapisan batuan bawah permukaan bumi memiliki sifat fisis yang variatif. Salah
satu sifat fisis yang terdapat di bawah permukaan adalah tingkat kekerasan batuan.
Tingkat kekerasan batuan merupakan istilah geologi yang digunakan untuk
menandakan kekompakan (cohesiveness) suatu batuan dan biasanya dinyatakan dalam
bentuk compressive fracture strength. Compressive fracture strenght merupakan
tekanan maksimum yang mampu ditahan oleh batuan untuk mempertahankan diri dari
terjadinya rekahan (fracture). Besarnya fracture strength dipengaruhi oleh densitas dan
kekompakan batuan, sedangkan besarnya densitas dan kekompakan batuan dipengaruhi
oleh elastisitas batuan (Rosid, 2008). Salah satu metode geofisika yang bisa digunakan
untuk mengetahui elastisitas batuan adalah metode seismik refraksi. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui litologi batuan bawah permukaan, sehingga dari litologi
batuan ini dapat diketahui ketebalan dan tingkat kekerasan lapisan batuan. Penelitian ini
telah dilakukan di lapangan Universitas Mataram. Survei seismik refraksi dilakukan
sebanyak 4 lintasan dengan konfigurasi sumber gelombang seismik dan geophone
diletakkan pada satu garis lurus, spasi geophone 2 m, jumlah shot pada lintasan 1 dan 2
adalah 5 shot (2 offset shot, 2 end shot dan 1 center shot) dengan panjang bentangan 96
m, jumlah shot pada lintasan 3 dan 4 adalah 7 shot (2 offset shot, 4 end shot dan 1
center shot) dengan panjang bentangan 72 m. Pengolahan data seismik refraksi
menggunakan software Winsism V.12 dengan metode interpretasi intercept time. Hasil
penelitian menunjukkan litologi batuan daerah penelitian yaitu pada kedalaman 0 7,3
m dari permukaan diinterpretasikan sebagai lapisan batuan lapuk (soil), pasir dan
kerikil tak jenuh dengan densitas 1 1,29 gr/cc.. Lapisan batuan keras diperkirakan
berada pada kedalaman di bawah 7,3 m
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lapisan batuan bawah permukaan bumi memiliki sifat fisis yang variatif. Salah
satu sifat fisis yang terdapat di bawah permukaan adalah tingkat kekerasan batuan.
Tingkat kekerasan batuan merupakan istilah geologi yang digunakan untuk
menandakan kekompakan (cohesiveness) suatu batuan dan biasanya dinyatakan dalam
bentuk compressive fracture strength. Compressive fracture strenght merupakan

tekanan maksimum yang mampu ditahan oleh batuan untuk mempertahankan diri dari
terjadinya rekahan (fracture). Besarnya fracture strength dipengaruhi oleh densitas dan
kekompakan batuan, sedangkan besarnya densitas dan kekompakan batuan dipengaruhi
oleh elastisitas batuan (Rosid, 2008). Salah satu metode geofisika yang bisa digunakan
untuk mengetahui elastisitas batuan adalah metode seismik refraksi.
Metode ini memanfaatkan perambatan gelombang seismik yang merambat
kedalam bumi. Pada dasarnya dalam metoda ini diberikan suatu gangguan berupa
gelombang seismik pada suatu sistem kemudian gejala fisisnya diamati dengan
menangkap gelombang tersebut melalui geophone. Hal tersebut akan menghasilkan
gambaran tentang kecepatan dan kedalaman lapisan berdasarkan penghitungan waktu
tempuh gelombang antara sumber getaran (shot) dan penerima (geophone). Waktu yang
diperlukan oleh gelombang seismik untuk merambat pada lapisan batuan bergantung
pada besar kecepatan penjalaran gelombang pada medium yang dilaluinya tersebut.
metode seismik refraksi digunakan untuk mengetahui kecepatan rambat serta densitas
tanah dan batuan tempat tumpuan suatu bangunan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian
ini
1.
2.
3.

yaitu :
Apa saja jenis lapisan batuan bawah permukaan di daerah penelitian ?
Berapa kedalaman lapisan batuan keras di daerah penelitian dari permukaan ?
Lapisan batuan apa yeng tergolong batuan keras di daerah penelitian ?

1.3 Tujuan Penelitian


Dari permasalahan yang diangkat pada penelitian ini, maka tujuan dari penelitian ini
antara lain :
1. Mengetahui litologi batuan bawah permukaan di daerah penelitian dengan
menggunakan metode seismik refraksi.
2. Mengetahui kedalaman lapisan batuan keras di daerah penelitian dari permukaan
dengan menggunakan metode seismik refraksi.
3. Mengetahui tingkat kekerasan batuan dari hubungan kecepatan perambatan
gelombang primer pada lapisan batuan di daerah penelitian.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Meningkatkan pemahaman konsep tentang salah satu metode eksplorasi geofisika,
yaitu metode seismik refraksi.

2. Memberikan informasi mengenai litologi batuan bawah permukaan di daerah


penelitian.
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya
yang berkaitan dengan metode seismik refraksi.
1.5 Batasan Masalah
Penelitian ini hanya menentukan litologi batuan di daerah penelitian, kedalaman
lapisan batuan keras serta tingkat kekerasan lapisan batuan secara kualitatif. Penelitian
ini tidak membahas tingkat kekerasan batuan secara kuantitatif.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Metode Seismik
Metode seismik merupakan salah satu metode yang sangat penting dan banyak
digunakan di dalam teknik geofisika. Hal ini disebabkan metode seismik mempunyai
ketepatan serta resolusi yang tinggi di dalam memodelkan struktur geologi di bawah
permukaan bumi. Dalam menentukan struktur geologi, metode seismik dikategorikan
ke dalam dua bagian yaitu seismik bias dangkal (head wave or refrected seismic) dan
seismik refleksi (reflected seismic). Seismik refraksi efektif digunakan untuk penentuan
struktur geologi yang dangkal sedangkan seismik refleksi untuk struktur geologi yang
dalam.
Metode seismik pada dasarnya dapat digambarkan yaitu suatu sumber gelombang
dibangkitkan di permukaan bumi. Karena material bumi bersifat elastik maka
gelombang seismik yang terjadi akan dijalarkan ke dalam bumi dalam berbagai arah.
Pada bidang batas antar lapisan, gelombang ini sebagian dipantulkan dan sebagian lagi
dibiaskan untuk diteruskan ke permukaan bumi. Di permukaan bumi gelombang

tersebut diterima oleh serangkaian detektor (geophone) yang umumnya disusun


membentuk garis lurus dengan sumber ledakan (profil line), kemudian dicatat/direkam
oleh seismograph. Dengan mengetahui waktu tempuh gelombang dan jarak antar
geophone dengan sumber ledakan, struktur lapisan geologi di bawah permukaan bumi
dapat diperkirakan berdasarkan variasi besarnya kecepatan penjalaran gelombang
seismik (Susilawati, 2004).
2.1.1

Pemantulan dan Pembiasan Gelombang Seismik


Gelombang seismik yang menjalar ke bawah permukaan bumi memiliki sifat
dan karakteristik yang memenuhi konsep fisika hukum pembiasan dan
pemantulan. Adapun beberapa hal yang menjadi dasar pada pemantulan dan
pembiasan gelombang seismik adalah :
a. Asas Fermat
Gelombang menjalar dari satu titik ke titik lain melalui jalan tersingkat waktu
penjalarannya, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Asas Fermat (Akyas, 2007)


Gambar 2.2 memperlihatkan sumber gelombang yang ditunjukkan dengan
simbol bintang menghasilkan gelombang yang menjalar ke segala arah. Jika
gelombang tersebut melewati sebuah medium yang memiliki variasi kecepatan
gelombang seismik, maka gelombang tersebut akan cenderung melalui zonazona kecepatan tinggi dan menghindari zona-zona kecepatan rendah.
b. Prinsip Huygens

Titik-titik yang dilewati gelombang akan menjadi sumber gelombang baru.


Muka gelombang yang menjalar menjauhi sumber adalah superposisi muka
gelombang-muka gelombang yang dihasilkan oleh sumber gelombang baru
tersebut, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Prinsip Huygens (Akyas, 2007)


Gambar 2.3 menerangkan fenomena fisik pada pergerakan partikel yang terjadi
pada muka gelombang. Partikelpartikel tersebut bergerak dari keadaan
setimbang, sehingga akan terjadi gaya elastik di daerah sekelilingnya yang
menggerakkan partikel lainnya menyebabkan timbul muka gelombang baru.
Penjalaran gelombang yang terjadi di medium merupakan interaksi antara
gangguan dan reaksi sifat elastik (Akyas, 2007).
c. Hukum Snellius
Pada bidang batas antara dua medium gelombang seismik akan dipantulkan
dan sebagian lagi dibiaskan, memenuhi persamaan snellius sebagai berikut :
sin i V 1
=
sinr V 2

(2.1)

Gambar 2.4 Hukum Snellius (Suswandi, 1997)


Dimana i adalah sudut datang, r adalah sudut bias, V1 dan V2 adalah kecepatan
gelombang pada medium 1 dan medium 2.

d. Sudut Kritis
Sudut datang yang menghasilkan gelombang bias sejajar dengan bidang batas
lapisan dan tegak lurus terhadap garis normal (r = 90o).

Gambar 2.5 Sudut kritis (Suswandi, 1997)


2.1.2

Gelombang Seismik
Gelombang seismik secara umum dibagi menjadi dua jenis yaitu gelombang
badan dan gelombang permukaan. Gelombang badan yaitu gelombang seismik
yang merambat ke seluruh bagian di dalam bumi (Telford, 1990). Gelombang
badan dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
1. Gelombang P (primer/longitudinal) yaitu gelombang badan yang dalam
penjalarannya berosilasi sejajar dengan arah rambatan gelombang.
2. Gelombang S (skunder/transversal) yaitu gelombang badan yang dalam
penjalarannya berosilasi tegak lurus dengan arah rambatan gelombang
(Halliday ,dkk. , 2009).
Berbeda dengan gelombang badan, gelombang permukaan merupakan gelombang
seismik yang merambat di permukaan bumi. Gelombang permukaan dibedakan
menjadi dua jenis yaitu :
3. Gelombang Rayleigh yaitu gelombang permukaan yang gerakan partikel
medianya merupakan kombinasi yang disebabkan oleh gelombang P dan S.
4. Gelombang Love yaitu gelombang permukaan yang menjalar dalam bentuk
gelombang transversal yaitu gelombang SH yang penjalarannya paralel
dengan permukaan.
Namun dari semua tipe gelombang seismik tersebut, gelombang P merupakan
gelombang seismik tercepat waktu penjalarannya (Telford, 1990). Beberapa tipe
gelombang seismik tersebut ditunjukkan pada Gambar 2.6 sebagai berikut :

Gambar 2.6 Beberapa tipe gelombang seismik : (a) Gelombang Love,


(b) Gelombang Rayleigh, (c) Gelombang P, (d) Gelombang S
(Suswandi, 1997)
2.1.3

Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Cepat Rambat Gelombang Seismik


Pada Batuan
Kecepatan penjalaran gelombang seismik pada lapisan batuan bawah
permukaan berbeda-beda, perbedaan ini dipengaruhi oleh beberapa sifat fisis
yang dimiliki lapisan batuan tersebut. Adapun beberapa faktor yang
mempengaruhi kecepatan penjalaran gelombang seismik pada lapisan batuan
bawah permukaan antara lain :

1. Litologi Batuan
Setiap lapisan batuan memiliki tingkat kekerasan yang berbeda-beda. Tingkat
kekerasan yang berbeda-beda ini yang menyebabkan perbedaan kemampuan
suatu batuan untuk mengembalikan bentuk dan ukuran seperti semula ketika
diberikan gaya padanya. Elastisitas batuan yang berbeda-beda inilah yang
menyebabkan gelombang seismik merambat melalui lapisan batuan dengan
kecepatan yang berbeda-beda (Sheriff, 1995).
2. Densitas
Densitas umumnya bertambah dengan bertambahnya kedalaman karena
dengan bertambahnya kedalaman tekanan hidrostatik juga semakin bertambah
besar. Semakin besarnya tekanan pada batuan menyebabkan semakin besarnya
densitas dari batuan tersebut. Hubungan antara densitas dengan kecepatan
perambatan gelombang seismik dalam batuan dirumuskan oleh Hukum
Gardner sebagai berikut :

= V

1
4

(2.2)

Dimana adalah densitas batuan, adalah konstanta Gardner ( 0,31 ) dan V


adalah kecepatan rambat gelombang seismik. Dengan menggunakan Hukum
Gardner ini dapat diketahui bahwa semakin besar densitas suatu lapisan batuan
maka semakin besar cepat rambat gelombang seismik pada lapisan batuan
tersebut (Sheriff, 1995).
3. Porositas
Semakin besar porositas suatu batuan maka semakin kecil nilai densitas suatu
batuan sehingga menyebabkan gelombang seismik akan merambat dengan
kecepatan yang lebih lambat juga. Suatu zat yang mengisi pori juga dapat
memberikan pengaruh terhadap cepat rambat gelombang seismik pada formasi
batuan tersebut. Pori-pori batuan yang terisi oleh air lebih besar densitasnya
dibandingkan dengan pori-pori batuan yang terisi minyak. Pori-pori batuan
yang terisi minyak lebih besar densitasnya dibandingkan dengan pori batuan
yang terisi dengan udara. Hal ini disebabkan karena densitas dari air lebih
besar dibandingkan dengan minyak dan densitas minyak lebih besar
dibandingkan dengan densitas udara (gas). Oleh karena itu, besar cepat rambat
gelombang seismik pada batuan berpori yang terisi air lebih besar
dibandingkan dengan cepat rambat gelombang seismik pada batuan yang terisi
minyak ataupun gas (Sheriff, 1995).
4. Kedalaman dan Tekanan
Secara umum, porositas berkurang dengan bertambahnya kedalaman. Batuan
yang berada pada lapisan bawah akan mengalami tekanan dari lapisan
diatasnya sehingga batuan yang berada paling bawah akan mengalami tekanan
paling besar dari lapisan diatasnya. Dengan kata lain, semakin dalam posisi
lapisan batuan maka semakin besar tekanan yang akan dialaminya. Akibat
adanya tekanan yang semakin besar menyebabkan semakin rapatnya suatu
batuan yang ditandai dengan semakin kecilnya porositas suatu batuan. Hal ini
berarti besarnya kecepatan gelombang seismik akan bertambah seiring dengan
bertambahnya kedalaman dan tekanan (Sheriff, 1995).
5. Umur, frekuensi dan temperatur
Batuan yang lebih tua umumnya berada pada lapisan bawah. Semakin tua usia
suatu batuan maka semakin dalam pula posisi lapisan batuan tersebut dari
permukaan bumi. Dengan bertambahnya usia suatu batuan, maka batuan
tersebut memiliki waktu yang lebih lama dalam cementation, lapisan tersebut

juga memiliki waktu yang lebih lama dalam mengalami tekanan tektonik
sehingga memiliki densitas yang semakin besar. Kondisi seperti ini
menyebabkan semakin cepat gelombang seismik merambat pada batuan yang
memiliki umur semakin tua (Sheriff, 1995).
Kecepatan gelombang seismik berubah terhadap frekuensi karena mekanisme
absorpsi (penyerapan). Absorpsi terjadi pada batuan yang mengandung fluida
tersaturasi, tetapi tidak pada dry rock. Dispersi berkurang dengan
meningkatnya porositas, viskositas fluida dan berkurangnya tekanan pada
batuan. Kecepatan gelombang P meningkat 15% pada frekuensi antara 2 200
KHz (Sheriff, 1995).
Semakin besar temperatur suatu lapisan batuan menyebabkan pada lapisan
tersebut terjadi pemuaian. Pemuaian ini menyebabkan porositas batuan
semakin besar sehingga densitas batuan semakin kecil. Sehingga dapat
disimpulkan semakin besar temperatur suatu lapisan batuan maka semakin
kecil cepat rambat gelombang seismik pada lapisan batuan tersebut. Semakin
besar kedalaman suatu lapisan maka semakin besar temperaturnya akan tetapi
kecepatan seismik akan semakin besar. Hal ini terjadi karena berkurangnya
kecepatan akibat bertambahnya temperatur jauh lebih kecil dibandingkan
bertambahnya kecepatan akibat bertambahnya densitas suatu lapisan akibat
tekanan, sementasi, dan lain-lain. Kecepatan gelombang seismik berkurang 5 6 % dengan peningkatan temperatur 100 C (Sheriff, 1995).
Dari penjelasan di atas, perbandingan hubungan antara beberapa sifat fisis
batuan terhadap kecepatan penjalaran gelombang seismik body yaitu
gelombang P dan S ditunjukkan pada Gambar 2.7 berikut :

Gambar 2.7 Hubungan antara sifat fisis batuan dengan kecepatan penjalaran
gelombang seismik (Sheriff, 1995)
2.1.4

Asumsi Dasar Metode Seismik


Lapisan bawah permukaan bumi sebagai medium dari penjalaran gelombang
seismik memenuhi beberapa asumsi dasar. Beberapa asumsi dasar yang
digunakan untuk medium bawah permukaan bumi antara lain :
a. Medium bumi dianggap berlapis-lapis dan tiap lapisan menjalarkan gelombang
seismik dengan kecepatan yang berbeda.
b. Makin bertambahnya kedalaman batuan lapisan bumi makin kompak.
Sedangkan beberapa asumsi dasar yang digunakan untuk penjalaran
gelombang seismik antara lain :
a. Panjang gelombang seismik jauh lebih kecil dari ketebalan lapisan bumi,
hal ini memungkinkan setiap lapisan bumi dapat terdeteksi.
b. Gelombang seismik dipandang sebagai sinar seismik yang memenuhi
Hukum Snellius dan Prinsip Huygens.
c. Pada bidang batas antar lapisan, gelombang seismik menjalar dengan
kecepatan gelombang pada lapisan di bawahnya.
d. Kecepatan gelombang bertambah dengan bertambahnya kedalaman
(Susilawati, 2004).

2.2 Metode Seismik Refraksi


Bila gelombang elastik yang menjalar dalam medium bumi menemui bidang
batas perlapisan dengan elastisitas dan densitas yang berbeda, maka akan terjadi

pemantulan dan pembiasan gelombang tersebut. Bila kasusnya adalah gelombang


kompresi (gelombang P) maka terjadi empat gelombang yang berbeda yaitu,
gelombang P-refleksi (PP1), gelombang S-refleksi (PS1), gelombang P-refraksi (PP2),
gelombang S-refraksi (PS2). Dari Hukum Snellius yang diterapkan pada kasus tersebut
diperoleh :
V P1 V P1
V
V
V
=
= S1 = P2 = S2
sini sin P sin S sin r P sin r S

(2.3)

dimana :
VP1 = Kecepatan gelombang-P di medium 1
VP2 = Kecepatan gelombang-P di medium 2
VS1 = Kecepatan gelombang-S di medium 1
VS2 = Kecepatan gelombang-S di medium 2

Gambar 2.8 Pemantulan dan pembiasan gelombang (Telford, 1990)


Prinsip utama metode seismik refraksi adalah penerapan waktu tiba pertama gelombang
P, baik gelombang langsung maupun gelombang refraksi. Mengingat kecepatan
gelombang P lebih besar daripada gelombang seismik lainnya maka kita hanya
memperhatikan gelombang P.
Dengan demikian antara sudut datang dan sudut bias menjadi :
sin i V 1
=
sinr V 2

(2.4)

Pada pembiasan sudut kritis r = 90o sehingga persamaan menjadi :


sin i=

V1
V2

(2.5)

Hubungan ini digunakan untuk menjelaskan metode pembiasan dengan sudut datang
kritis. Gambar 2.8 memperlihatkan gelombang dari sumber S menjalar pada medium
V1, dibiaskan kritis pada titik A sehingga menjalar pada bidang batas lapisan. Dengan
menggunakan Prinsip Huygens pada bidang batas lapisan, gelombang ini dibiaskan ke
atas setiap titik pada bidang batas itu sehingga sampai ke detektor P yang ada di
permukaan. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.9 sebagai berikut :

Gambar 2.9 Pembiasan dengan sudut kritis (Susilawati, 2004)


Jadi gelombang yang dibiaskan di bidang batas yang datang pertama kali di titik P pada
bidang batas di atasnya adalah gelombang yang dibiaskan dengan sudut datang kritis
(Susilawati, 2004).
2.2.1 Interpretasi Data Seismik Refraksi
Secara umum metode interpretasi data seismik refraksi dapat dikelompokkan
menjadi tiga kelompok utama, yaitu intercept time, delay time method dan wave
front method. Metode interpretasi yang paling mendasar dalam analisis data
seismik refraksi adalah intercept time.
Metode intercept time adalah metode T-X (waktu terhadap jarak) yang
merupakan metode yang paling sederhana dan hasilnya cukup kasar, seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.10 sebagai berikut :

Gambar 2.10 Kurva travel time pada dua lapis sederhana dengan bidang batas
paralel (Sismanto,1999)

Pada bidang batas antar lapisan, gelombang menjalar dengan kecepatan lapisan di
bawahnya V2. Skema penjalaran gelombang pada bidang batas antar lapisan
ditunjukkan pada Gambar 2.11 sebagai berikut :

Gambar 2.11 Sistem dua lapis sederhana dengan bidang batas paralel
(Sismanto,1999).
Waktu rambat gelombang bias pada Gambar 2.11 dapat diperoleh dari persamaan
2.6 sebagai berikut :
T=

AB+CD BC
+
V1
V2

(2.6)

dengan T adalah waktu yang ditempuh gelombang seismik dari titik tembak (A)
sampai ke geophone (D), AB adalah jarak dari titk A ke titik B, CD merupakan
jarak dari titik C ke titik D, BC adalah jarak dari titik B ke titik C, V1 adalah
kecepatan gelombang pada lapisan 1 dan V2 adalah kecepatan gelombang pada
lapisan 2. Dari persamaan 2.6 dapat diperoleh persamaan 2.7 sampai dengan
persamaan 2.9 sebagai berikut :
T=

2 Z1
x2 Z 1 tan
+
V 1 cos
V2

(2.7)

T =2 Z 1

1
sin
x

+
V 1 cos V 2 cos V 2

T =2 Z 1

V 2V 1 sin
x
+
V 1 V 2 cos
V2

(2.8)

Pada Gambar 2.11 memperlihatkan

(2.9)
Z1

adalah kedalaman pada lapisan 1,

adalah sudut antara garis gelombang datang dengan garis normal serta dapat

diartikan sudut antara garis gelombang bias dengan garis normal dan variabel x
adalah jarak antara titik tembak (A) dengan geophone (D).
Berdasarkan Hukum Snellius bahwa pada sudut kritis berlaku

sin =

V1
V2

sehingga persamaan 2.9 dapat dituliskan menjadi persamaan 2.10 sampai dengan
persamaan 2.13 sebagai berikut :

T =2 Z 1 V 1

T =2 Z 1 V 1

1
sin
sin
x
+
V 1 V 2 cos
V2

1sin2
x
+
V 1 V 2 sin cos V 2

(2.10)

(2.11)

T=

2 Z 1 cos
x
+
V 2 sin cos V 2

(2.12)

T=

2 Z1 cos x
+
V1
V2

(2.13)

Bila x = 0 maka akan diperoleh Ti dan nilai tersebut dapat diketahui pada kurva
waktu terhadap jarak yang disebut sebagai intercept time. Kedalaman lapisan
pertama ditentukan dengan menuliskan persamaan di atas menjadi persamaan
2.14 sebagai berikut :
Z 1=

T iV 1
2 cos

(2.14)

dengan Ti disebut dengan intercept time. Apabila

=sin 1

[ ]
V1
V2

, maka

persamaan 2.14 dapat dituliskan kembali menjadi persamaan 2.15 :


Z 1=

T iV 1

2 cos sin

Jika ,

V1
V2

(( V
cos =

(2.15)

1
2
2

V 12 ) 2
V2

, maka kedalaman atau ketebalan lapisan batuan

pertama dapat dihitung melalui persamaan 2.16 :

Z 1=

Ti V 1V 2
(2.16)

2 V 2 V 1
2

Gambar 2.12 Kurva travel time pada sistem tiga lapis dengan V1 adalah
kecepatan gelombang pada lapisan pertama dan V2 adalah
kecepatan gelombang pada lapisan kedua (Sismanto,1999).
Pada Gambar 2.12, Ti1 dan Ti2 berurut-urut merupakan intercept time pada
gelombang bias yang pertama dan kedua. Untuk kedalaman lapisan kedua akan
diperoleh suatu persamaan 2.17.

Z 2= T i 2

2 Z1
V 2V 3
2
2
V 2) ( V 1 )
(
2
2
V 1V 3
2 (V 3 ) +(V 2 )

(2.17)

dengan Ti2 adalah intercept time pada gelombang bias yang kedua. Dari
persamaan 2.16 dan persamaan 2.17, dapat digambarkan penampang struktur
lapisan bawah permukaan seperti pada Gambar 2.13 sebagai berikut :

Gambar 2.13 Skema sistem tiga lapis, dengan V1, V2 dan V3 berturut-urut adalah
kecepatan gelombang pada lapisan pertama, kedua dan ketiga, Z1

adalah kedalaman pada lapisan pertama, dan Z2 adalah kedalaman


pada lapisan kedua (Sismanto, 1999).
Kecepatan penjalaran gelombang seismik pada lapisan batuan bawah permukaan
berbeda-beda, tergantung sifat fisis yang dimiliki oleh tiap lapisan batuan. Variasi
kecepatan penjalaran gelombang P pada beberapa lapisan batuan bawah
permukaan ditunjukkan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Kecepatan gelombang P pada beberapa lapisan batuan (Burger, 1992)
Material

Kecepatan

Weathered

gelombang P (m/s)
200 900

layered
Soil
Clay
Sandstone
Limestone
Granite

250 600
1000 2500
3000 4500
5500 6000
5000 5100

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian skala lapangan, yakni dengan
mengambil data langsung di daerah penelitian

untuk kemudian dianalisis dan

dinterpretasikan sehingga diperoleh informasi mengenai daerah penelitian tersebut.


3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan selama 2 bulan, mulai dari bulan Mei 2013 sampai
dengan bulan Juni 2013. Akuisisi data seismik refraksi di lapangan akan dilakukan pada
hari Senin. Penelitian akan dilakukan di lapangan sepak bola Universitas Mataram Jl.
Majapahit No. 62. Lokasi penelitian lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Lokasi Penelitian

(a)

Lokasi

(b)
Gambar 3.1 Lokasi penelitian dilihat dari :
(a) Peta Lombok (www.google.co.id)
(b) Pencitraan satelit (www.maps.google.co.id)
3.3 Alat dan Bahan Penelitian
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain :
1. Satu set alat seismik refraksi Seismograph PASI 24 Channel, seperti pada Gambar
3.2 berikut :

Gambar 3.2 Seismograph PASI 24 channel


2. Satu set alat GPS Garmin Map 60 CSX sebagai penentu koordinat.
3. Satu unit komputer lengkap dengan perangkat lunak (software) akuisisi dan
interpretasi data seismik refraksi.
4. Satu set roll meter sebagai pengukur jarak geophone dengan sumber gelombang
seismik.
5. Geophone sebanyak 24 buah.
6. Palu hammer dan plat baja.
7. HT sebagai alat komunikasi jarak jauh 2 buah.

Gambar 3.3 Satu set alat seismik refraksi


3.4 Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian secara garis besar dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu tahap akuisisi
data seismik refraksi di lapangan, pengolahan data seismik refraksi dan interpretasi data
seismik refraksi.
3.4.1 Akuisisi Data Seismik Refraksi
Pada survei seismik refraksi ini pengambilan data dilakukan dengan susunan
konfigurasi peralatan geophone dan sumber gelombang diletakkan pada satu garis
lurus (line seismic) dan dibagi menjadi 4 lintasan. Tujuan dilakukan pengukuran
sebanyak 4 lintasan yaitu sebagai data pembanding/korelasi antara lintasan satu
dengan lintasan lainnya, sehingga hasil penelitian yang diperoleh lebih akurat. 2
lintasan (L1 dan L2) panjangnya 96 m dengan jarak spasi geophone 2 m dan 2
lintasan (L3 dan L4) panjangnya 72 m dengan spasi geophone 2 m. Skema
pengukuran dan konfigurasi akuisisi data seismik refraksi di lapangan
ditunjukkan pada Gambar 3.4, 3.5 dan 3.6 sebagai berikut :

L3
L2

L1
L4

Gambar 3.4 Skema lintasan pengukuran di lapangan

Gambar 3.5 Konfigurasi akuisisi data seismik refraksi di lapangan untuk L1 dan L2

Gambar 3.6 Konfigurasi akuisisi data seismik refraksi di lapangan untuk L3 dan L4

Hasil akuisisi data seismik refraksi di lapangan berupa data rekaman penjalaran
gelombang seismik pada setiap geophone yang tersimpan secara otomatis dalam
bentuk file seismograph SEG2.
3.4.2

Pengolahan Data Seismik Refraksi


Pengolahan data seismik refraksi ini dilakukan dengan menggunakan software
Winsism V.12. Pengolahan data seismik refraksi ini diawali dengan mengkonversi
file seismograph SEG2 yang merupakan data hasil rekaman akuisisi data seismik
refraksi di lapangan menjadi file seismik unix. Selanjutnya dilakukan tahap
picking pada data rekaman seismik refraksi yang sudah dikonversi menjadi file
seismik unix, seperti yang ditunjukkkan pada Gambar 3.7

Gambar 3.7 Proses picking untuk menentukan waktu tiba gelombang pertama
Tujuan dari proses picking ini adalah untuk menentukan waktu tiba gelombang P
pertama (first break) yang sampai pada setiap geophone. Picking dilakukan secara
manual dengan memperbesar tampilan gelombang pertama terlebih dahulu secara
lebih detail kemudian ditentukan waktu tiba gelombang pertama tersebut. Setelah
waktu tiba gelombang pertama pada setiap geophone diketahui, selanjutnya
dibuat kurva travel time yaitu kurva hubungan jarak setiap geophone dari sumber
gelombang seismik terhadap waktu tiba gelombang pertama pada setiap
geophone, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.8
Hubungan Posisi Geophone Terhadap Waktu Tiba Gelombang

Posisi Geophone
Gambar 3.8 Kurva travel time
Pada kurva travel time, sudah dapat terlihat banyaknya lapisan batuan yang
dapat teridentifikasi dari hasil survei seismik refraksi. Ini dapat terlihat dari
banyaknya perbedaan slope pada kurva travel time. Karena perbedaan slope pada
kurva travel time mengindikasikan bahwa kecepatan penjalaran gelombang
seismik pada suatu lapisan telah mengalami perubahan seiring dengan perbedaan
kerapatan antar lapisan batuan.
Untuk menentukan kecepatan penjalaran gelombang seismik pada setiap
lapisan batuan dihitung dengan menggunakan metode regresi linear setiap slope
pada kurva travel time. Metode regresi linear adalah sebuah metode statistika
yang memberikan penjelasan tentang pola hubungan (model) linear antara dua
variabel atau lebih. Pada kurva travel time, kecepatan penjalaran gelombang P
merupakan variabel terikat sedangkan posisi geophone dan waktu tiba merupakan
variabel bebas.
Untuk mengetahui apakah bidang batas antar lapisan datar atau miring,
akuisisi data seismik refraksi di lapangan dilakukan dengan forward and reverse
(bolak balik). Jika kurva travel time forward and reverse simetris seperti Gambar
3.8 mengindikasikan bidang batas lapisan batuan datar/horizontal. Sebaliknya jika
kurva travel time forward and reverse tidak simetris dapat mengindikasikan
bahwa bidang batas lapisan batuan tidak datar (miring), dengan bidang yang
memiliki sudut kemiringan lebih besar menjadi bidang yang lebih tinggi.

3.4.3

Interpretasi dan Analisa Data Seismik Refraksi


Tujuan dari interpretasi dan analisa data ini adalah untuk mengetahui litologi
batuan pada daerah penelitian. Dari litologi batuan ini, selanjutnya dapat
diketahui berapa ketebalan lapisan batuan keras pada daerah penelitian. Metode
interpretasi data yang digunakan untuk mengetahui kedalaman bidang batas antar
lapisan batuan (Zi) yaitu dengan metode intercept time. Tahapan interpretasi data
ini diawali dengan menentukan intercept time setiap slope pada kurva travel time.
Kemudian dilanjutkan dengan menghitung kedalaman lapisan 1 dan lapisan 2
berturut-urut dengan persamaan 3.1 dan 3.2 di bawah ini :
Ti V 1V 2
Z 1=
2 V 22V 12

Z 2= T i 2

(3.1)

2 Z1
V 2V 3
V 2 ) 2 ( V 1 )2
(
V 1V 3
2 ( V 3 )2 + ( V 2 )2

(3.2)

Penentuan intercept time, perhitungan ketebalan tiap lapisan batuan dan


penentuan kecepatan penjalaran gelombang seismik pada setiap lapisan batuan
secara otomatis dapat diproses menggunakan software Winsism V.12. Dengan
mengetahui kedalaman bidang batas antar lapisan dan kecepatan penjalaran
gelombang seismik pada setiap lapisan batuan, maka penampang struktur bawah
permukaan dapat digambarkan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.9
sebagai berikut :

Gambar 3.9 Penampang struktur bawah permukaan


berdasarkan kecepatan gelombang P

Berdasarkan tabel referensi kecepatan penjalaran gelombang seismik pada lapisan


batuan, dilakukan analisa untuk mengetahui jenis lapisan batuan (litologi batuan)
bawah permukaan pada daerah penelitian.
Secara umum hasil pengolahan data seismik refraksi berupa penampang
litologi batuan berdasarkan variasi kecepatan penjalaran gelombang seismik pada
setiap lapisan batuan. Dari litologi batuan ini dapat diidentifikasi berapa
Mulai
kedalaman lapisan batuan keras di daerah penelitian. Secara garis besar tahapan
penelitian ini ditunjukkan pada gambar diagram alir penelitian Gambar 3.10
sebagai berikut :

Penentuan lokasi penelitian

Survei lapangan

Akuisisi data seismik refraksi

Data seismik refraksi

(Seismograph PASI 24 Channel)

(File seismograph

Pengolahan data (Software Winsism V.12)

Interpretasi data (Metode intercept time)

Analisa jenis lapisan batuan (Penampang litologi batuan)

Penarikan kesimpulan (Kedalaman lapisan batuan keras)

Selesai

seg 2 *.dat)

Gambar 3.10 Diagram alir penelitian


BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
Metode seismik refraksi merupakan salah satu metode geofisika yang digunakan
untuk menyelidiki karakteristik lapisan bawah permukaan dengan konsep fisika tentang
gelombang khususnya hukum pembiasan. Besarnya kecepatan penjalaran gelombang seismik
pada setiap lapisan bawah permukaan dipengaruhi oleh karakteristik dari lapisan batuan
tersebut, artinya semakin besar rapat massa (padat) lapisan batuan maka semakin besar
kecepatan penjalaran gelombang seismik pada lapisan batuan tersebut, begitu juga
sebaliknya.
Hasil survei seismik refraksi di lapangan berupa kurva travel time yang diperoleh
setelah melakukan picking pada rekaman penjalaran gelombang seismik. Hasil picking
rekaman penjalaran gelombang seismik pada hasil survei seismik refraksi di lapangan
ditunjukkan pada Lampiran 2. Picking bertujuan untuk menentukan waktu tiba gelombang
pertama yang sampai pada setiap geophone. Kurva travel time dari hasil picking rekaman
penjalaran gelombang seismik pada lintasan 1 ditunjukkkan pada Gambar 4.1 berikut :
Hubungan posisi geophone dan waktu tiba gelombang

Time (ms)

Posisi geophone
Gambar 4.1 Kurva travel time lintasan 1
Dari kurva travel time lintasan 1, terlihat ada lima grafik yang saling memotong
dengan warna yang berbeda-beda. Shot 1 dan shot 5 merupakan offset shot yang ditunjukkan
dengan grafik berwarna hijau. Offset shot menentukan kedalaman penetrasi geombang
seismik atau dalam hal ini lapisan paling bawah (lapisan kedua). Shot

2 dan shot 4

merupakan end shot yang ditunjukkan dengan grafik berwarna merah muda. Shot 3
merupakan center shot yang ditunjukkan dengan grafik berwarna merah. Target dari center
shot adalah lapisan yang paling atas (lapisan pertama). Dalam penentuan kecepatan
penjalaran gelombang P pada lapisan batuan, kelima grafik dari tiap shot saling
dikorelasikan/dibandingkan sehingga menghasilkan kecepatan gelombang P yang lebih
akurat. Pada kurva travel time lintasan 1 Gambar 4.1, sudah dapat terlihat banyaknya jumlah
lapisan batuan yang dapat teridentifikasi dari hasil survei seismik refraksi. Ini dapat terlihat
dari banyaknya slope (kemiringan) pada kurva travel time. Perbedaan slope penjalaran
gelombang P pada kurva travel time mengindikasikan adanya perbedaan lapisan batuan
seiring dengan perbedaan rapat massa antar lapisan batuan. Kurva travel time untuk lintasan
lainnya dapat dilihat pada Lampiran 2. Selanjutnya dari kurva travel time tersebut dilakukan
penentuan kecepatan penjalaran gelombang P setiap lapisan batuan dengan menggunakan
metode regresi linear. Metode regresi linear adalah sebuah metode statistika yang memberikan
penjelasan tentang pola hubungan (model) linear antara dua variabel atau lebih. Penentuan

kecepatan gelombang P pada kurva travel time dihitung berdasarkan slope (slope =
untuk lintasan 1 ditunjukkan pada Gambar 4.2 berikut :

1
V ),

Time (ms)

Hubungan posisi geophone dan waktu tiba gelombang

Ti

Posisi geophone
Gambar 4.2 Penentuan kecepatan penjalaran gelombang P pada setiap
lapisan batuan menggunakan metode regresi linear
Setelah kecepatan gelombang P pada setiap lapisan batuan diketahui, kemudian dilanjutkan
dengan menghitung kedalaman lapisan batuan dengan menggunakan waktu intercept time
(Ti) yang diperoleh dari kurva travel time. Intercept time yaitu titik potong perpanjangan garis
singgung kurva travel time dengan sumbu waktu tiba, seperti yang ditunjukkan pada Gambar
4.2. Dengan menggunakan waktu intercept time (Ti) dapat diketahui kedalaman bidang batas
lapisan 1 dengan menggunakan persamaan 3.1. Selanjutnya dengan mengetahui kedalaman
bidang batas lapisan batuan tersebut, diperoleh penampang litologi batuan pada setiap
lintasan, seperti hasil penampang litologi batuan untuk lintasan 1 yang ditunjukkan pada
Gambar 4.3 sebagai berikut :

Gambar 4.3 Penampang litologi batuan lintasan 1


Pada penampang litologi batuan hasil survei seismik refraksi pada lintasan 1, warna
biru tua-biru muda menunjukkan kecepatan penjalaran gelombang P rendah berkisar antara
300 900 m/s, warna hijau kekuning-kuningan menunjukkan kecepatan penjalaran
gelombang P sedang berkisar antara 900 m/s 2200 m/s dan warna orange kemerah-merahan
menunjukkan kecepatan penjalaran gelombang P tinggi berkisar antara 2200 m/s 3000 m/s.
Pada penampang litologi batuan lintasan 1 Gambar 4.3, memperlihatkan hanya ada 1 jenis
lapisan batuan yang dapat teridentifikasi. Lapisan tersebut ditunjukkan dengan warna biru
dengan kecepatan penjalaran gelombang P berkisar antara 99m/s 258m/s dan terletak pada
kedalaman 2,42 3,63 m dengan ketebalan lapisan 3,63 m. Penampang litologi batuan untuk
lintasan lainnya dapat dilihat pada Lampiran 1. Berikut merupakan variasi kecepatan
gelombang P, kedalaman dan ketebalan lapisan batuan berdasarkan hasil penampang litologi
batuan survei seismik refraksi pada semua lintasan, yang ditunjukkan pada Tabel 4.1 dan 4.2.
Tabel 4.1
Variasi kecepatan gelombang P pada setiap lapisan batuan
berdasarkan hasil survei seismik refraksi pada semua lintasan
Lintasan

Vp Lapisan Pertama
(m/s)

Vp Lapisan Kedua
(m/s)

99 127
119 163
111 136
87 130

245 258
232 252
227 300
228 305

2
3
4

Tabel 4.2
Variasi kedalaman dan ketebalan lapisan batuan
berdasarkan hasil survei seismik refraksi pada semua lintasan
Lintasan
1
2
3
4

Kedalaman Lapisan (m)


I
II
0 3,63
3,63 ke bawah
0 7,3
7,3 ke bawah
0 6,13
6,13 ke bawah
0 4,75
4,75 ke bawah

Ketebalan Lapisan (m)


I
2,42 3,63
1,97 7,3
1,51 6,13
2,6 4,75

Hasil penampang litologi batuan untuk semua lintasan pengukuran L1, L2, L3 dan L4 seperti
terlihat pada gambar 4.4 berikut :

Gambar 4.4 Perbandingan penampang litologi batuan pada semua lintasan

Secara umum hasil penampang litologi batuan dari semua lintasan pengukuran hanya
memperlihatkan 1 macam lapisan, namun dengan perhitungan manual dapat diperoleh 2
lapisan batuan dengan ketebalan dan kedalaman yang dapat dilihat pada tabel 4.2.
Untuk menganalisa jenis litologi densitas batuan di daerah penelitian, dilakukan
dengan mengkorelasikan/membandingkan kecepatan gelombang P pada setiap lapisan batuan
berdasarkan hasil survei seismik refraksi di lapangan dengan tabel referensi kecepatan
penjalaran gelombang P pada beberapa lapisan batuan, seperti yang ditunjukkan pada Tabel
2.1. Berdasarkan hasil korelasi antara kecepatan penjalaran gelombang P dari hasil survei
seismik refraksi di lapangan dengan tabel referensi kecepatan penjalaran gelombang P pada
beberapa lapisan batuan pada Tabel 2.1, secara umum hanya ada 1 jenis lapisan batuan bawah

permukaan yang dapat teridentifikasi dari hasil survei seismik refraksi pada daerah penelitian,
seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.3 berikut :
Tabel 4.3
Litologi batuan daerah penelitian
berdasarkan kecepatan gelombang P hasil survei seismik refraksi
Vp

Kedalaman

Ketebalan

Densitas

(m/s)

(m)

(m)

(gr/cc)

99 305

0 7,3

1,97 7,3

1 1,29

Litologi
Top soil, pasir dan kerikil
tak jenuh

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, analisa dan pembahasan mengenai penelitian tingkat
kekerasan batuan menggunakan metode seismik refraksi di lapangan sepak bola
Universitas Mataram , maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Litologi batuan daerah penelitian berdasarkan hasil pengukuran dengan
menggunakan metode seismik refraksi yaitu pada kedalaman 0 7,3 m dari
permukaan diinterpretasikan sebagai lapisan batuan lapuk (soil), pasir dan kerikil tak
jenuh.
2. Batuan keras berada pada kedalaman 7,3 meter ke bawah dari permukaan.
3. Batuan lapuk sebagai lapisan batuan teratas memiliki densitas 1 1,29 gr/cc.
5.2 Saran
Bagi mahasiswa geofisika perlu dilakukan penelitian pada lokasi yang sama dengan
metode geofisika lainnya sehingga dapat dilakukan perbandingan dengan hasil penelitian
sebelumnya menggunakan metode seismik refraksi, agar hasil yang diperoleh lebih
akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Akyas, 2007. Pemodelan Gelombang Seismik Untuk Memvalidasi Interpretasi Data Seismik
Refraksi, Skripsi, Program Studi Teknik Geofisika Fakultas Teknik Pertambangan
dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung.
Burger, Robert, 1992. Exploration Geophysics Of The Shallow Subsurface. New Jersey :
Prentice Hall.
Halliday, David, Resnick, Robert dan Walker, Jearl, 2009. Dasar Dasar Fisika Jilid I Versi
Diperluas, Terjemahan Syarifudin, S.T. , Tangerang : Binarupa Aksara.
Rosid, S., & Setiawan, B. (2008). Pemetaan tingkat kekerasan batuan menggunakan metode
seismik refraksi. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008. Lampung:
Universitas Lampung.
Sheriff dan Gildart, 1995. Exploration Seismology. United States Of America : Cambridge
University Press.
Sismanto, 1999. Eksplorasi dengan Menggunakan Seismik Refraksi. Yogyakarta : Gajah
Mada University Press.
Susilawati,

2004.

Seismik

Refraksi

(Dasar

Teori

dan

Akuisisi

Data)

(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1886/1/fisika-susilawati.pdf)
diunduh Jam 09:59 WITA, tanggal 21/04/2013.
Suswandi, Iwan, 1997. Pendugaan Struktur Lapisan Bumi Dengan Metode Seismik Bias,
Jurnal Aneka Widya STKIP Singaraja No.4 TH.XXX Juli 1997.
Telford, Geldart dan Sheriff, 1990. Applied Geophysics Second Edition. United States Of
America : Cambridge University Press.

Www.maps.google.co.id

(http://maps.google.co.id/maps?hl=id&tab=wlM)

diunduh

Jam

20:00 WITA, tanggal 26/05/2013.


Www.google.co.id (http://depz.blogdetik.com/peta-lombok/lombokpeta.jpg) diunduh Jam
21:00 WITA, tanggal 16/05/2013.